Tampilkan postingan dengan label Bendungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bendungan. Tampilkan semua postingan

Bendungan Kerenceng di Cllegon


Membahagiakan bagi sebagian orang. Betapa tidak, biasanya pada jam segitu orang-orang yang memiliki rutinitas pekerjaan, menyelesaikan rutinitasnya. Tak terkecuali bagi sebagian pegawai dan karyawan yang ada di kota Cilegon. Kata mereka para pekerja, waktu yang paling membahagiakan ialah ketika pulang kerja dan menerima gaji! Memang demikian karena ketika waktu menunjukan jam pulang, rasanya semangat yang hilang selama bekerja kembali muncul, tentu dengan semangat ingin pulang dan bertemu kawan, kerabat, sodara dll. Apalagi kalau jam pulang setelah bekerja sebelum matahari menenggelamkan dirinya. Alangkah beruntungnya mereka yang dapat melihat matahari ketika berangkat kerja dan pulangnya.

Mengobrol dengan teman sejawat, kawan atau saudara merupakan kegiatan yang menyenangkan selagi ada tempat yang kondusif menarik dan tentu saja murah meriah. Ada satu tempat yang sangat menarik di Cilegon, yang dapat dijadikan referensi untuk sekedar diskusi melepas kepenatan sehabis bekerja atau sekedar lewat dan melihat-lihat pemandangannya.

Suatu tempat yang sedikit banyak bisa mengendurkan saraf-saraf kita yang tegang selama beraktifitas.. Satu tempat yang sangat menarik itu adalah bendungan kerenceng. Yaa sebuah bendungan yang kira-kira luasnya 10 hektar, mungkin lebih. Bagi sebagian warga cilegon mungkin tak asing lagi mendengar nama itu, karena waduk itu sudah dibangun sejak lama untuk mengairi sawah dan irigasi warga Cilegon pada waktu itu. Hanya saja saat ini fungsi itu sedikit bergeser menjadi waduk untuk memenuhi segala kebutuhan air bersih bagi warga Cilegon. Kalau dulu luasnya tidak sebesar ini dan belum dibangun jalan aspal yang menghubungkan pintu barat dan timur, maka saat ini ketika sudah dibangun jalan yang menarik waduk tersebut pun dijadikan jalan alternatif bagi warga Cilegon yang tinggal di sebelah barat kota Cilegon. Apalagi dengan pemandangan yang indah, tentu menjadi pilahan yang menarik.

Banyak cerita menyertai pembangunan bendungan atau waduk dari waktu ke waktu. Lokasinya yang tak jauh dari pusat kota, menjadikan waduk ini sering dikunjungi anak-anak muda, pekerja kantoran, buruh, pedagang hingga orang tua yang sekedar melepas penat. Dengan bentuk seperti setengah lingkaran yang membentang dari barat hingga ke timur, membuat waduk ini terasa menarik saat kita baru memasuki areanya. Hawa sejuk udara pegunungan di tambah dengan aroma air yang menyejukkan mata menambah keeksotisan dan kesempurnaan ciptaan Allah SWT. Bayangkan kawan saat kita melihat waduk ini, kita sudah dimanjakan dengan pemandangan waduk yang menyejukkan mata. Air putih jernih ditambah dengan bias mentari sore, memancarkan sebuah paduan warna yang sangat menarik. Apalagi sepanjang jalan kira-kira 5 km yang membentang waduk ini menyajikan pemandangan yang sangat indah. Panorama alam pegunungan, sawah dan bukit Mancak yang asri menjadikan latar belakang alami waduk ini sangat indah. Apalagi jika kita berdiri persis ditengah-tengah jalan menuju pintu timur waduk, maka kita dapat merasakan keindahan dan keunikan dari waduk kerenceng secara utuh.

Jika kita menghabiskan waktu di situ dan menyeruput secangkir kopi atau teh yang hangat dan ditemani cemilan, seraya mendengarkan lagu sendu, tentu nuansanya sangat luar biasa. Atau jika ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol dan berdiskusi dengan teman-teman sejawat atau kawan lainnya, saya rekomendasikan tempat ini untuk dijadikan referensi utama selain tempat menarik lainnya di Cilegon.

Sumber : http://cilegon-area.blogspot.com

Bendungan Wonorejo Tulungagung


Bendungan/waduk WONOREJO berada di sebelah barat kota Tulungagung.Waduk terbesar di Asia Tenggara dengan debit 15.000 m3 per detik, berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga air dan tempat rekreasi, yang dilengkapi dengan Gazebo, Home stay, Taman, area pemancingan, speed boad penginapan dan tempat pementasan seni tradisional.

HAMPARAN air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya, serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia pariwisata Tulungagung. Sarana pemasok air PDAM Surabaya itu baru diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soe-karnoputri, 21 Juni 2001.

Beberapa petugas pengelola bendungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung menuturkan, pengunjung waduk pada hari Minggu selalu banyak. Jika tidak ada acara khusus semacam pentas dangdut, penghasilan dari karcis masuk rata-rata Rp 1 juta. Angka pemasukan itu bisa melonjak menjadi sekitar Rp 2 juta jika ada pergelaran khusus.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Tulungagung Ahmad Pitoyo menuturkan, perkembangan Waduk Wonorejo sebagai daerah tujuan wisata baru memang cukup menggembirakan. “Kehadiran Bendungan Wonorejo bisa menjadi kekuatan pelapis bagi obyek andalan Pantai Popoh,” katanya.

Dari data kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata di Tulungagung tergambar, angka kunjungan wisatawan ke waduk ini pada tahun 2001 menempati urutan ketiga, di bawah Pantai Indah Popoh dan Pantai Sine. Yang cukup menggembirakan, meski baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2001, angka kunjungan selama setahun lalu sudah mencapai 5.340 orang, menembus tiga besar.

PEMBANGUNAN Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan.

Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang.

Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain, menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479 hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.

Manfaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta pariwisata. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan Sungai Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan per tahun.

Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2.000 per orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai bendungan.

Sebagai primadona baru, tentu saja penampilan bendungan ini harus dipertahankan. Ini penting agar tak terjadi penyusutan jumlah pengunjung pada tahun-tahun mendatang, misalnya akibat perwajahannya yang sudah “tak seindah warna aslinya”.

Dalam tabel kunjungan wisata Tulungagung dari tahun ke tahun juga tercatat, jumlah wisatawan sejak tahun 1999 terus menurun. Dari 323.201 orang pada tahun 1999, turun menjadi 292.039 orang pada tahun 2000, dan anjlok lagi menjadi 270.535 orang pada tahun 2001.

Penurunan itu tergambar dari anjloknya jumlah wisatawan di obyek-obyek wisata tertentu, seperti di Goa Tritis (dari 1.084 di tahun 2000 menjadi 887 orang pada tahun 2001), Goa Pasir (dari 2.316 menjadi 2.253 orang), dan Can-di Ngampel (dari 541 orang menjadi hanya sembilan orang).

Pariwisata memang menyangkut soal bagaimana si pengelola kawasan wisata menyediakan kenyamanan kepada mereka yang datang sehingga pengunjung dapat betul-betul merasa rileks. Jika suasana rileks itu telah sirna, wajar pulalah jika makin sedikit wisatawan yang datang. (ADI PRINANTYO)

Sumber: Pemkab Tulungagung & Kompas

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

Bendungan-bendungan tua mengepung Jakarta

Korban jiwa terakhir akibat ambrolnya bendungan Situ Gintung di Ciputat tercatat telah melewati angka 50. Musibah yang cukup dahsyat ini bahkan kabarnya hampir-hampir seperti tsunami kecil di pinggiran kota Jakarta. Derasnya air yang juga menghanyutkan ratusan rumah dan kendaraan roda empat warga mengejutkan kebanyakan warga sekitar yang saat dini hari ketika bendungan pecah sedang lelap dalam mimpinya masing-masing. Karena kondisi kontur tanah disekitar Situ Gintung yang tidak rata maka air menenggelamkan rumah wargapun beragam dari satu hingga tiga meter.

Situ Gintung, seperti juga beberapa situ yang yang terletak disekitar Jakarta kerap kali disangka oleh warga sekitar sebagai danau alami. Namun kenyataannya setelah kejadian musibah ini diketahu bahwa Situ Gintung adalah bendungan buatan Belanda yang pengerjaannya dimulai pada 1932 dan selesai 1933, artinya sampai dengan kemarin usianya adalah sekitar 76 tahun.

Kenapa ada benduangan di sekitar Jakarta, termasuk salah satunya Situ Gintung itu, adalah karena seperti kita saat ini sejak zaman Kolonial dulu ternyata banjir menjadi masalah yang kerap kali terjadi dan mendesak untuk ditangani. Dan Belanda yang terkenal ahli menangani air, membangun kanal-kanal yang akhirnya membuat Jakarta (Batavia) lebih nyaman

Dulu Batavia dan kanalnya dipuja puji di Eropa dengan berbagai julukan: Kota Surga Abadi; Kota Paling Nikmat di Hindia; Sang Ratu Timur. Banjir besar tercatat pada tahun-tahun 1671, 1699, 1711, 1714, dan 1854. Pada 1728 – 1778 dibangun sistem drainase dengan pintu air (kini sudah hilang) dan bendungan (Katulampa dan Empang) untuk mengendalikan air ke Batavia melalui kanal Kali Baru Timur dan Barat.

Namun ketika populasi meningkat, kanal menjadi sumber polusi dan malaria, Batavia pun mulai tak nyaman, dan mendapat julukan baru: Kuburan Belanda. Hingga akhirnya setelah menyerah dengan wabah yang menyerang Daendels merintis exodus ke Weltevreden (Departemen Keuangan, Lapangan Banteng) pada 1809. Kastil Batavia dan tembok kota dihancurkan untuk bahan bangunan istana baru. Akibatnya, daerah Kota pun bebas dihuni Indo, Cina, dan Mardijkers (budak-budak merdeka).

Pada 1845 dibangun kanal di Grogol, Kali Karang, Ciliwung dan Gunung Sahari. Beberapa area persawahan diubah menjadi situ, seperti Situ Gintung di Ciputat. Untuk penggelontoran air di musim kemarau, dibangun Banjir Kanal Barat dan Pintu Air Manggarai pada 1918 – 1922. [Batavia Nouveles]

Bendungan Katulampa, juga buatan Belanda

Bendungan satu ini sering disebut-sebut apalagi saat musim penghujan tiba. Menjadi patokan utama warga Jakarta terutama yang tinggal disekitar pinggir kali Ciliwung, dan tentunya penjaga pintu air Manggarai. Bila ketinggian air di Bendungan Katulampa sudah menyentuh angka 200cm maka, Jakarta sudah ketar-ketir.

Bila Situ Gintung dibangun sekitar tahun 1930an maka Bendungan Katulampa sudah ada lebih dahulu yakni sekitar tahun 1911 atau 19 tahun lebih tua. Seperti juga Situ Gintung sebenarnya Katulampa diperuntukkan lebih sebagai sebagai fungsi irigasi daripada bendungan semata

Ada yang mengira Bendung Katulampa merupakan bendungan pengendali banjir sehingga kerap ada permintaan kepada petugas Pos Bendung Katulampa agar volume air Sungai Ciliwung yang mengalir ke Jakarta dikurangi.

Menurut Andi Sudirman, petugas yang sudah 17 tahun bertugas di Pos Bendung Katulampa, permintaan itu jelas tidak pada tempatnya. Sebab Bendung Katulampa bukan bendungan pengendali banjir. Tapi fungsi utamanya adalah untuk mengatur air irigasi. Sedangkan untuk aliran sungai Ciliwung, petugas Pos Bendung Katulampa hanya sebatas mengawasi. Jika terjadi kenaikan permukaan air sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, petugas melaporkannya ke Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane di Jakarta dan Jawa Barat. (Sinar Harapan, Sabtu, 22 Januari 2005)

Bendungan dan masalah-masalahnya

Bendungan (atau bukan bendungan) tua seperti Situ Gintung dan Katulampa tentunya membutuhkan banyak dana untuk perawatan. Belum lagi akibat usia yang memang membuat fisik bangunan semakin lama bukannya semakin kokoh. Juga masalah dari alam itu sendiri yang tentu saja sedimentasi, atau pendangkalan, membuat kedalaman semakin berkurang dan akibatnya debit air yang dapat ditampung akan semakin sedikit.

Menurut Ir. M. Donny Azdan, MA, MS, PhD dan Candra R. Samekto, MSc dalam makalahnya "Kritisnya Kondisi Bendungan di Indonesia" : Untuk menangani bendungan yang telah ada, pertama-tama diperlukan penanganan yang cukup mendesak untuk mengembalikan kapasitas tampungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan fungsi bendungan itu sendiri. Pembilasan kembali waduk – waduk dengan tingkat sedimen tinggi bisa menjadi salah satu alternatif selain upaya pengerukan (dredging). Dalam hal ini perlu adanya perancangan desain terhadap low level outlet sehingga waktu pengurasan sedimen dapat dilakukan lebih cepat. Pengerukan kembali waduk – waduk yang memiliki tumpukan sedimen besar perlu disertai analisis mendalam terhadap dampak lingkungan hidup terkait dengan adanya kandungan contaminated sludge.

Selain itu, pemerintah perlu merevisi kembali manual prosedur operasi dan pemeliharaan dari bendungan yang ada di Indonesia, terutama yang memiliki tingkat resiko sedimen dan kerusakan tinggi. Dengan menerapkan sistem ini maka upaya yang dilaksanakan tidak hanya menyentuh sektor fisik semata, namun juga akan menyentuh sektor sosial yang turut menentukan dalam keberlangsungan fungsi bendungan kedepan.

Sumber : http://abhicom2001.multiply.com

Wisata Malang : Bendungan Selorejo

Wisata Malang – Bicara soal jalan-jalan, Malang merupakan salah satu kota yang memiliki banyak lokasi wisata yang unik nan indah. Salah satunya adalah Bendungan Selorejo, di Desa Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Bagaimana keindahan Bendungan Selorejo, yang merupakan salah satu bendungan di Jawa Timur yang dikelola oleh Jasa Tirta I .

BAGI Anda yang belum pernah berwisata ke Bendungan Selorejo, mungkin dalam pikiran Anda muncul bahwa Bendungan Selorejo hanya sekadar bendungan biasa. Namun tafsiran itu salah besar. Bendungan Selorejo adalah salah satu wisata yang masih alami. Suhu udara yang sejuk serta dingin, terlebih ditambah dengan keindahan paronama semakin menambah daya tarik tersendiri sebagai tempat wisata. Baik wisata bersama keluarga ataupun teman.
Bendungan Selorejo, adalah satu diantaranya banyak bendungan di Malang yang dikeliling pepohonan. Selain itu, bendungan yang berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut dan terletak di sebelah barat sekitar 48 kilometer dari Kota Malang ini juga dikeliling gunung, sehingga menambah kesejukan udara yang dapat dirasakan.

Tidak itu, untuk menambagh daya tarik para wisatawan agar betah, Bendungan Selorejo juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang mungkin tak kalah menariknya dengan tempat wisata lain. Mulai dari taman bermain anak, kolam renang anak dan dewasa, jembatan gantung, motor boat, dayung, kolam pemancingan, flying fox hingga arena olah raga. Seperti lapangan sepak bola, lapangan volly, lapangan tenis sampai olah raga sepeda.

Bukan hanya sekedar tempat rekreasi saja. Bagi Anda yang gila makan ikan laut, Bendungan Selorejo ini juga bisa digunakan sebagai tempat kuliner dengan berbagai makanan ikan bakar atau goreng yang sedap dan maknyus. Mulai dari ikan bakar atau goreng gurami, mujaer, nila, tombro, udang dan beberapa ikan lainnya. Semua makanan itu dapat diperoleh di Food Center Bendungan Selorejo, yang berada persis di pinggir bendungan.

“Food Center itu sengaja ditempatkan di pinggir bendungan sehingga untuk nikmatinya bisa sambil menikmati bendungan,” ungkap Henky Mustafa, Sales and Marketing Bendungan Selorejo. Bahkan, bagi Anda yang gila memancing, di Bendungan Selorejo juga bisa dijadikan tempat mengail ikan dengan jumlah banyak sepuasnya. Baik ikan mujaer, nila ataupun ikan tombro. Alat untuk mancing pun juga disediakan. Hanya merogoh kocek sebesar Rp 5000, Anda sudah bisa mendapat alat pancing beserta umpan yang juga bisa dibawa pulang.

Pernak-pernik sovenir untuk oleh-oleh, mulai dari tas, gantungan kunci, kaos, pot bunga, peralatan dapur dan beberapa sovenir lainnya juga tersedia di Bendungan Selorejo. Hanya mendatangi kios sovenir milik Banjar, Anda bisa mendapat semua oleh-oleh yang Anda inginkan dengan harga yang sangat terjangkau.

Akses jalan untuk menuju lokasi wisata Bendungan Selorejo inipun juga sangat mudah. Baik menggunakan kendaraan pribadi ataupun umum. Bagi Anda yang naik kendaraan umum dari Kota Malang, hanya naik bus jurusan Kediri dari Terminal Landungsari, kemudian turun di jalan raya menuju lokasi Bendungan Selorejo. Dari situ hanya tinggal naik ojek Rp 10.000, lima menit Anda sudah sampai lokasi. Untuk pulangnya pun juga tak perlu takut, sebab jasa ojek diBendungan Selorejo ini tersedia sampai 24 jam.

Untuk kemanan sendiri, Bendungan Selorejo ini seratus persen dijamin Anda, sehingga tidak perlu khawatir adanya pelaku kejahatan. Sebab di setiap sudut dan lokasi wisata ini selalu dijaga oleh petugas kemananan. Bahkan, petugas parkir serta anggota payuban perahu dayung di Bendungan Selorejo, disiagakan untuk membantu kemanan pengunjung. Tarif masuk pengunjung Bendungan Selorejo, Rp 7500 per orang, sepeda motor Rp 1000, mobil Rp 3000 dan bus serta truk Rp 4000. (agp/mar)

Tempat Bermalam Outbond dan Training

SELAIN dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang menambah pengunjung betah berlama-lama, untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, Bendungan Selorejo ini juga disediakan Cottage dan Wisma (tempat penginapan). Jumlahnya ada 53 kamar dengan kapasitas sampai dengan 250 orang.

Lokasi tempat penginapan itu sendiri berada di pinggir Bendungan Selorejo sehingga jika bermalam bisa langsung menikmati keindihan Bendungan Selorejo pada saat malam hari. Fasilitas yang disediakan dalam tempat penginapan ini diantaranya welcome drink, telepon, televisi, lemari es, air panas dan lain-lain.

Tarif tempat penginapan yang disediakan ini bervariatif. Mulai dari tarif Rp 200.000 sampai Rp 750.000.

Untuk tarif Rp 200.000, terdiri dari satu kamar double dan dua kamar twin, dengan beberapa fasilitas lainnya, seperti Wisma Dahlia dan Wisma Flamboyan. Begitu juga dengan tarif Wisma Tirta sebesar Rp 750.000, terdiri dari empat kamar double dengan beberapa fasilitas.

Disisi lain, selain untuk berwisata bersama keluarga, teman dan rombongan, Bendungan Selorejo ini juga cocok untuk penyelengaraan beberapa kegiatan atau aktivitas. Seperti rapat (metting), seminar, lokakarya, out bond dan beberapa acara lainnya. “Untuk rapat kami menyediakan gedung pertemuan yang kapasitasnya 50 orang dan 70 orang, dengan tarif Rp 650.000 dan Rp 750.000,” terang Henky Mustafa.

Dari serangkaian kegiatan tersebut, Out Bond adalah kegiatan yang paling sering diadakan di Bendungan Selorejo, pada hari Sabtu dan Minggu. Bahkan tak tanggung-tanggung, dari Surabaya dan Jakarta pun tercatat paling sering melakukan kegiatan Out Bond di Bendungan Selorejo.

Bahkan, Bendungan Selorejo yang mempunyai lahan kosong berumput yang sangat luas ini juga sering digunakan untuk acara perkemahan. Hanya untuk tarif perkemahan, setiap orangnya dikenakan cash sebesar Rp 15.000. “Paling sering adalah kegiatan Out Bond yang satu paket dengan Flying Fox, karena hanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu,” jelas Henky. (agp/mar)

Sumber : http://malangsite.net

Photo : http://images.google.co.id

Melaju Beriring Irigasi Komering

Oleh : SUDARMONO

Perjalanan jauh dengan kendaraan bermotor identik dengan lelah dan pemandangan yang menjemukan. Namun, Anda akan menemukan nuansa lain jika melakukan trip dari Martapura, OKU Timur menuju Belitang dan seterusnya. Sejauh lebih 50 kilometer, Anda akan ditemani air irigasi yang menyegarkan.

Adalah Sungai Komering, sungai terbesar kedua di wilayah Sumatera Selatan yang berhulu di daerah Ranau, OKU Selatan. Sungai itu terus menggelontorkan miliaran meter kubik air yang dikumpulkan dari sungai-sungai kecil yang bermuara di kali itu, juga dari akar pepohonan yang masih lestari.

Di bagian hilir, yakni di sekitar Kabupaten OKU Timur, wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Lampung, air sungai sudah sangat besar. Apalagi saat musim hujan tiba.

Adalah "mata" Belanda, yang membuka pintu-pintu rahmat bagi bangsa ini yang kemudian menciptakan koloni sebagai transmigran di daerah Belitang, Sumatera Selatan. Londo penjajah itu membangun bendungan komering (BK) di sungai itu (saat ini berlokasi di BK 0) pada masa penjajahan.

Bersamaan dengan itu, para pekerja kasar yang didatangkan dari Jawa dipekerjakan untuk membangun saluran irigasi ke arah Belitang. Itu menjadi cikal bakal kisah kejayaan Belitang sebagai daerah lumbung padi Sumatera Selatan, bahkan Indonesia, dan menjadi daerah yang berkembang.

Zaman berubah. Masa kemerdekaan, daerah itu terus maju dengan pertaniannya. Dan pada masa Orde Baru, pemerintah melihat potensi yang lebih besar pada kali Komering itu. Maka, sejak 1989, satu bendungan besar dibangun sekitar 10 kilometer di atas bendungan lama yang dibangun Belanda. Bendungan Perjaya namanya.

Bendungan itu diresmikan pada 1991. Saat itu, bendungan yang didirikan tak jauh dari permukiman warga pribumi itu menjadi bendungan terbesar di Sumatera. Tak heran, proyek besar itu berfungsi ganda. Selain untuk pengairan sawah, juga menjadi tempat rekreasi bagi warga sekitar, bahkan dari luar daerah.

Kini, bendungan itu kokoh berdiri membentang sepanjang sekitar 100 meter memotong Kali Komering. Di atas pintu-pintu air yang dikendalikan dengan sistem hidrolik dan bangunannya dibuat dengan seperti pos-pos pengawasan itu, membentang jembatan yang dapat dilalui dua kendaraan roda empat bersimpangan.

Dari atas jembatan ini, gilar air Komering di waduk menjadi pemandangan seperti danau tak akan kering. Sedangkan di bawahnya, setara dengan seberapa besar pintu dibuka, sederas itulah gerojok air membentur permukaan sungai di di hilir yang bertumpuk batu-batu besar.

Pemandangan seperti itu adalah daya tarik. Tak heran jika sore menjelang, muda-mudi menikmati indahnya alam dan merasakan dinamisnya air menerjuni wahana. Beberapa sudut bendungan juga menjadi tempat bersantai dan bercengkerama.

Dari atas bendungan itu, para pemancing mengadu gapah "menipu" ikan jelabat yang sedang bermain di bawah air dengan umpan berduri. Juga warga yang menebar jalan untuk menjebak ikan-ikan seluang yang sedang bercanda ria dengan debur air. Ditambah lagi ibu-ibu muda yang menjajakan ikan hasil tangkapan para pemancing dan penjala kepada pelintas.

Jika musim buah durian dan duku, bendungan ini adalah lokasi transaksi yang ramai. Untuk diketahui, duku yang dikenal di seantero tempat sebagai duku palembang atau duku komering, yang dikenal sangat manis dan berbiji tipis, berasal dari daerah tak jauh dari sini. Yakni, daerah Rasuan. Demikian juga durian yang dikenal legit, berasal dari Rasuan.

Bangunan Bendungan Perjaya sudah cukup memukau dengan pintu-pintu pembagi air yang sedemikian rupa. Lebih dari itu, saluran irigasi yang dibangun membuntut ke bawah juga memberi suasana amat berbeda. Di atas tanggul irigasi itu, dibangun jalan hotmix mulus selebar dua kendaraan roda empat bisa berpapasan dengan mudah.

Panjang jalan yang langsung bersentuhan dengan saluran air ini lebih dari 13 kilometer. Jika saja ada speed boat yang beroperasi di air irigasi itu, boleh jadi ada adu balap dengan mobil di atasnya. Sayangnya, transportasi air itu tidak bisa sejauh jalan daratnya. Sebab, setiap beberapa kilometer, ada jembatan atau pintu air untuk membagi ke saluran sekunder.

Jika Anda melanjutkan perjalanan ke arah Kayuagung atau menuju jalan lintas timur, mulai dari Bendungan Perjaya hingga sejauh 50 kilometer akan didampingi irigasi ini di sisi kiri. Setiap beberapa kilometer, terdapat pintu pembagi air yang dikenal dengan sebutan BK. Ada beberapa versi tentang singkatan dari BK ini. Yakni, Bendungan Komering dan Bangunan Komering. Jumlahnya ada 35 BK, hingga hilir di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Irigasi Komering ini adalah pintu berkah bagi warga Belitang dan sekitarnya. Bahkan, pengembangan Bendungan Perjaya kini telah mengalirkan airnya ke wilayah Lampung. Yakni, di Kecamatan Bahuga, Way Kanan, dan sekitarnya. Pembangunan perluasan jangkauan ini dibiayai Japan Bank for International Cooperation (JBIC) senilai Rp1,5 triliun.

Secara keseluruhan, Bendungan Perjaya ini mengaliri sekitar 21 ribu hektare sawah. Daerah yang semula hanya panen sekali setahun, dengan irigasi ini bisa panen minmal dua kali, bahkan tiga kali. Dengan air irigasi ini, produktivitas pertanian, terutama padi juga tinggi. Belitang dicatat oleh Deptan dapat menghasilkan 314 ribu ton beras per tahun.

Limpahan air yang mengalir di wilayah ini sangat luar biasa. Sayangnya, belum ada event-event olah raga atau atraksi budaya daerah setempat yang memanfaatkan keunggulan ini. Memang, pada setiap bendungan dan saluran irigasi, selalu tertancap tulisan peringatan agar tidak melakukan aktivitas seperti berenang dan lainnya. Meskipun, warga sekitar saluran menggunakan air irigasi untuk berbagai keperluan.

Sumber : http://www.lampungpost.com


Pembangunan Bendungan Aswan Dimulai

9 Januari 1960, dimulailah proyek pembangunan bendungan rakasasa di sungai Nil, Mesir. Bendungan yang dinamakan “Bendungan Aswan” ini merupakan salah satu program ekonomi terpenting Presiden Mesir saat itu, Gamal Abdul Naser. Rencana pembangunan bendungan Aswan diumumkan tahun 1953 dan negara-negara Barat telah menyatakan kesiapan mereka untuk ikut serta dalam proyek ini. Namun, akibat nasionalisasi Terusan Suez oleh Gamal Abdul Naser pada tahun 1956 yang disusul dengan serangan dari Perancis, Inggris, dan Israel terhadap Mesir, pemerintah negara-negara Barat membatalkan bantuan mereka untuk menekan Mesir. Uni Soviet kemudian memanfaatkan kesempatan ini dengan memberikan bantuan dana dan teknologi kepada Mesir. Bendungan ini memiliki tinggi 114 meter, panjang 3600 meter, dan memproduksi listrik sebesar 2100 megawat. Selain itu, bendungan Aswan juga amat membantu dalam pengairan pertanaian Mesir.

Kerusuhan Anti AS di Panama

9 Januari 1964, menyusul dikibarkannya bendera Amerika Serikat di kawasan Terusan Panama, meletuslah kerusuhan besar menentang AS di negeri itu. Kerusuhan ini menewaskan dan melukai beberapa warga Panama akibat serangan dari tentara AS. Dalam Perang Dunia Kedua, AS mendirikan pangkalan militer di 134 daerah di Panama dan secara praktis negara ini telah diduduki oleh militer AS. Pada tahun 1947, akibat penentangan keras warga Panama, militer AS terpaksa angkat kaki dari negera ini. Namun, Panama dan AS masih terikat perjanjian pengelolaan bersama Terusan Panama. Akibat kerusuhan tahun 1964 itu, pada tahun 1967, Panama dan AS memberpaharui perjanjian mereka yang menyerahkan sepenuhnya pengurusan Terusan Panama kepada rakyat negeri ini.

Demonstrasi Besar di Kota Qom

9 Januari 1978, terjadi demostrasi menentang rezim Shah Pahlevi di kota Qom, Iran. Demonstrasi ini merupakan unjuk rasa besar-besaran pertama yang terjadi di Iran setelah 14 tahun berlalu sejak Kebangkitan 5 Januari 1964. Dengan demikian, jiwa perjuangan rakyat Iran untuk menentang rezim despotis yang berkuasa di negeri mereka, bangkit kembali. Demostrasi ini berlangsung akibat dimuatnya artikel yang menghina Imam Khomeini di sebuah surat kabar terbitan Teheran. Pada hari itu, para ulama dan rakyat kota Qom berkumpul di Masjid Besar dan menyerukan yel-yel anti rezim Shah. Tentara menghadapi demonstrasi ini dengan senjata sehingga banyak warga kota yang gugur syahid atau luka-luka. Kemudian, sebagian besar ulama kota inipun dibuang oleh pemerintah Shah ke kota-kota lain. Setahun kemudian, revolusi Islam meraih kemenangannya di Iran dan rezim Shah berhasil digulingkan.

Operasi Karbala Lima Dimulai

9 Januari 1987, dimulailah operasi militer Iran melawan agresor Irak yang diberi sandi Karbala Lima. Operasi Karbala Lima ini bertujuan untuk menaklukkan kota Basrah, kota terpenting kedua di Irak. Karena pentingnya kota ini, tentara Irak mendirikan barikade yang sangat kokoh sehingga hampir tidak mungkin ditembus. Namun, pejuang Iran yang berbekal semangat relijius yang amat besar, mampu menembus barikade kota ini. Dalam perang ini Irak kehilangan lebih dari 80 pesawat perang dan 700 tank militernya. Ribuan tentara Irak juga tewas atau luka-luka.

Operasi Karbala Lima ini merupakan serangan balik atas agresi Irak terhadap Iran yang dimulai tahun 1980. Saat itu, Rezim Saddam yang didukung oleh negara-negara Barat, Amerika, dan Uni Soviet berusaha menaklukkan Republik Islam yang baru saja berdiri. Namun, meskipun didukung oleh dua negara adidaya dunia, Irak tetap tidak berhasil mengalahkan Iran, bahkan tentara Iran berbalik masuk ke wilayah Irak, yaitu kota Basrah. Perang kedua negara ini berakhir setelah kedua pihak menerima rancangan gencatan sejata yang diajukan oleh PBB.

Ayatullah Mazandarani Meninggal

16 Dzulqa’dah 1309 Hijriah, Ayatullah Zainal Abidin Mazandarani, seorang ulama besar Iran, meninggal dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau pergi ke kota Najaf, Irak, untuk menuntut ilmu di hauzah ilmiah. Di Najaf, Ayatullah Mazandarani menimba ilmu dari ulama-ulama besar zaman itu, di antaranya Syaikh Murtadha Anshari. Selain berkecimpung di bidang ilmu, Ayatullah Zainal Abidin Mazandarani juga selalu memperhatikan kaum fakir miskin.

Sumber : http://www.al-hadj.com
Photo : http://chandrakantha.com

Kaum Saba Dan Banjir ‘Arim

Prasasti yang ditulis menggunakan bahasa kaum Saba.

Saba yang dibangun di selatan jazirah Arab pada abad ke-11 sebelum masehi, adalah sebuah peradaban besar. Al Qur’an memaparkan kisah Ratu Saba dan Nabi Sulaiman secara amat rinci. Namun, terdapat kisah lain dalam Al Qur’an tentang kaum ini, yakni perihal kehancuran dahsyat mereka.

Naskah tertua yang menyatakan keberadaan Kaum Saba adalah catatan tahunan peperangan dari zaman raja Assyria, Sargon II. Menurut prasasti ini, Sargon menyebut Saba sebagai salah satu negeri yang membayar upeti padanya. Ini adalah catatan tertua yang secara pasti memberitakan adanya negeri Saba. Catatan kuno yang memberitakan kaum Saba menyatakan bahwa, sama halnya dengan bangsa Phunisia, mereka adalah negeri yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaan mereka. Penduduk Saba terkenal dalam sejarah sebagai bangsa berperadaban. Prasasti dari para penguasa Saba seringkali berbicara tentang “perbaikan”, “pembiayaan”, “pembangunan”.

Bendungan Ma’rib, yang reruntuhannya masih tersisa hingga kini, adalah bukti penting kemajuan teknologi kaum Saba. Berkat bendungan ini, sebuah negeri hijau terhampar di tengah gurun pasir. Ibukotanya, Ma’rib, diuntungkan oleh bendungan ini, dan menjadi makmur karena berbagai keuntungan geografisnya. Kota ini terletak dekat sungai Adhanah. Kaum Saba memanfaatkan letak ini dengan mendirikan bendungan seiring dengan pembangunan peradaban mereka, dan mulai mengairi wilayah tersebut. Pertanian menjadi makmur dan mereka pun menikmati kesejahteraan hidup yang tinggi.

Ibukota Ma’rib adalah salah satu kota terindah di zamannya. Penulis Yunani, Pliny, yang berkunjung dan sangat memuji negeri ini, mengatakan dalam karyanya tentang hijaunya negeri tersebut. Bendungan di Ma’rib berketinggian 16 meter dengan lebar 60 meter, dan panjang 620 meter. Perhitungan menunjukkan; dua dataran luas di kedua sisi kota mampu diairi bendungan tersebut. Kedua dataran ini terkadang digambarkan dalam prasasti bangsa Saba sebagai “Ma’rib dan dataran kembar”.

Ungkapan “Dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri ” dalam Al Qur’an sangat mungkin merujuk pada perkebunan anggur dan kebun-kebun menawan di dua lembah ini. Berkat bendungan dan sarana pengairannya, daerah ini terkenal sebagai yang terbaik pengairan dan kesuburannya di Yaman.

Ketika kita mempelajari ayat-ayat Al Qur’an berdasarkan temuan sejarah ini, kita dapati kesesuaian besar di antara keduanya. Penemuan arkeologis dan bukti sejarah benar-benar cocok dengan yang tertulis dalam Al Qur’an. Kaum tersebut mengabaikan peringatan nabi yang diutus kepada mereka, dan tidak mensyukuri nikmat Allah, akhirnya mereka dihukum dengan bencana mengerikan. Al Qur’an mengisahkan:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba, 34:15-17)

Kaum Saba hidup di daerah sangat indah dengan perkebunan anggur dan kebun-kebun subur. Negeri Saba terletak di jalur perniagaan sehingga sangat makmur, dan menjadikannya salah satu kota terkemuka di zamannya. Yang hanya perlu dilakukan kaum Saba dalam kelapangan ini adalah “memakan rezki yang dianugerahkan Tuhan mereka dan bersyukur kepada-Nya.” Tapi mereka tidak melakukannya, malahan, seperti yang dikatakan dalam sebuah ayat, “mereka berpaling dari Allah…”

Reruntuhan bendungan Ma’rib di atas merupakan salah satu karya terpenting kaum Saba (kiri). Bendungin ini jebol oleh banjir ‘Aarim sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, dan semua lahan pertanian diterjang banjir ini. Wilayah Saba hancur karena jebolnya bendungan Ma’rib. Negeri Saba kehilangan pilar-pilar perekonomiannya dalam waktu singkat dan kemudian runtuh sama sekali. Di masa kini, bendungan terkenal kaum Saba tersebut dipergunakan lagi sebagai sarana pengairan. (kanan)

Keangkuhan atas kemakmuran mereka mengakibatkan mereka merugi. Seluruh negeri diratakan oleh banjir dahsyat. Perkebunan anggur dan kebun-kebun kaum Saba tiba-tiba lenyap terbenam air. Azab yang menimpa kaum Saba dilukiskan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, “Sailul ‘Arim,” atau Banjir ‘Arim. Istilah Al Qur’an ini juga mengisahkan pada kita bagaimana bencana ini terjadi. Kata “‘Arim” berarti “bendungan” atau “tanggul”. “Sailul ‘Arim” menjelaskan bagaimana banjir berlangsung setelah jebolnya bendungan.

Arkeolog Kristen, Werner Keller sepakat bahwa Banjir ‘Arim sesuai dengan gambaran Al Qur’an, ia menulis:

Selama 1500 tahun perkebunan rempah-rempah ini tumbuh subur di sekitar Ma’rib. Ini berlangsung sampai tahun 542 sebelum masehi—yakni saat bendungan itu jebol. Gurun pasir tandus perlahan menutupi negeri subur ini dan mengancurkan segalanya. Al Qur’an mengisahkan “Kaum Saba memiliki kebun-kebun indah dengan buah-buahan termahal yang ranum.” Namun kaum tersebut berpaling dari Tuhan, sehingga Dia menghukum mereka dengan jebolnya bendungan. Setelah itu tak ada yang tumbuh di kebun-kebun negeri Saba, kecuali pohon berbuah pahit. (Werner Keller, The Bible as History, William Morrow and Company, Inc., New York, 1981, hlm. 216)

Al Qur’an memberitakan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya menyembah matahari sebelum mereka tunduk dan mengikuti Nabi Sulaiman. Berita yang tertera pada prasasti menegaskan kebenaran ini. Dalam prasasti disebutkan bahwa mereka menyembah matahari dan bulan di tempat-tempat peribadatan mereka.

Bendungan, yang dapat dianggap sebagai sumber utama kemakmuran dan kesejahteraan Kaum Saba, juga menjadi jalan kehancuran kaum yang tak bersyukur itu. Setelah bencana Banjir ‘Arim, daerah ini berubah menjadi gurun pasir, dan bersamaan dengan lenyapnya lahan pertanian, kaum Saba kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Kaum Saba mendustakan seruan agar beriman dan bersyukur kepada Tuhan, dan mereka pun diazab. Setelah kerusakan parah akibat banjir, kaum Saba mulai bercerai-berai. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka dan mengungsi ke wilayah utara Arabia, Mekkah dan Syria. Ma’rib, yang dahulunya didiami Kaum Saba, kini hanyalah reruntuhan tak berpenghuni, dan sungguh menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan kesalahan serupa Kaum Saba.

(sumber Harun Yahya-Insight Magazine.com/indo)

http://www.fadhilza.com

Bendungan Jatiluhur sebuah Karya Luhur

Bendungan Jatiluhur, merupakan sebuah karya besar bangsa Indonesia.

Dibangun saat negeri ini baru merdeka dan belum bisa dikatakan mampu dalam segi finansial. Namun keberadaannya sangat diharapkan.

Bangunan monomental itu kini terus diandalkan sebagai tandon utama untuk kebutuhan air kota Jakarta dan sekitarnya. Berikut sejarah keberadaannya termasuk tokoh-tokoh yang berperan dalam pembangunannya;

BENDUNGAN Jatilubur yang dibangun pada sungai Citarum di daerah Kab. Purwakarta, Jawa Barat merupakan bangunan pengairan paling membanggakan bagi bangsa Indonesia. Bahkan bukan hanya membanggakan, melainkan juga luhur. Bendungan Jatiluhur dibangun tabun 1957 saat pemerintah RI belum bisa dikatakan mampu dalam segi financial. Bendungan ini mulai dioperasikan tahun 1967. Pemanfaatan utama mula-mula untuk pembangkit tenaga listrik, namun kemudian konsep pembangunannya diintegrasikan untuk pemanfaatan segala keperluan sektor-sektor yang menyangkut air.

Membanggakan, karena pada awal pembangunannya kondisi keuangan negara saat itu yang baru memasuki era kemerdekaan sudah berhasil memulai proyek besar dengan SDM di bidang teknik yang juga masih sangat minim. Jadi, Jatiluhur merupakan proyek pengairan terbesar yang pernah dikerjakan bangsa ini dan ditangani langsung oleh teknisi-teknisi bangsa sendiri. Luhur, karena di sana terdapat bangunan-bangunan yang disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-45. Ini merupakan kreasi seorang tokoh paling ber-peran dalam proyek ter-sebut, Prof. Dr. Ir. Sediyatmo.

Pompa hidrolik yang terkenal dengan paten atas namanya, untuk Saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah. Pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya, berjumlah 8 buah. Sedangkan angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur, agar lebih efisien dan efektif, dibuat miring 45 derajat.

Harus Jatiluhur

Sebenarnya, ide untuk pengembangan sungai Citarum, salah satu sungai terbesar di Jawa Barat itu ada sejak tahun 1948. Ketika itu, Prof. Ir. W.J. van Blommestein, Kepala Perencanaan Jawatan Pengairan Belanda sudah membuat rencana pembangunan tiga waduk besar di sepanjang aliran sungai Citarum; Saguling, Citara dan Jatilubur. Meski kedatangan Belanda kembali ke Indonesia waktu itu, Jawatan Pengairan pemerintahan RI sendiri sudah ada. Namun belum bisa berbuat banyak, karena Dep. PU waktu itu hanya memiliki 15 orang insinyur. Meski plan itu sudah ada, namun Belanda tidak sempat mengembangkannya, keburu Jepang datang menggantikan posisinya sebagai penjajah.

Gagasan untuk membangun sebuah bendungan di aliran sungai Citarum dirintis kembali pada era tahun 1950-an. Ir. Agus Prawiranatasebagai Kepala Jawatan Irigasi waktu itu mulai memikirkan pengembangan jaringan irigasi untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri. Ketika itu, Indonesia sudah menjadi negara – pengimport beras terbesar dunia. Namun untuk membangun bendungan dengan skala besar, ketika itu masih menjadi – bahan tertawaan -. “Wong duitnya saja belum ada, kok mau membangun bendungan besar, negara i’~i 1ca’~ baru saja merdelca,” kata Prof. DR. Ir. P.K. Haryasuclirja, orang yang dulunya banyak terlibat pembangunan bendungan Jatiluhur ini kepada Warta PERDESAAN belum lama ini. Dana PLN.

Lalu ide ini dirembug bareng bersama Ir. Sedyatmo, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Direksi Konstruksi Badan PembangLit Listrik Negara, Direktorat Jenderal Kete-nagaan, Departemen PUT. Kebetulan waktu itu PLN punya anggaran dan memang sedang berupaya mencari mengganti sumber daya listrik yang masih menggunakan minyak, karena memang mahal.Lalu, Ir. Sediyatma, menugaskan Ir. PC. Harjosudirdjo (sekarang; Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja) ketika itu sebagai Asisten Kepala Direksi Konstruksi 13PLN, untuk merancang bendungan Jatiluhur ini. Mengapa harus Jatiluhur ? Padahal di aliran sungai Citarum kan ada plan untuk tiga buah bendungan (Saguling, Cirata dan Jatiluhur). Dipilihnya Jatilubur, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja, yang ditemui baru- baru ini, alasannya Jatiluhur lebih dulu dibangun punya banyak kelebihan. Baik dari segi keamanan, keperluan listrik, dan keperluan air lainnya. Aman, menurut Haryasudirja, karena sewakfu dilakukan pengL~-kuran di daerah Kiara Condong, Band~mg untuk rencana membangun bendungan di daerah paling hulu, yaitu Saguling banyak tenaga penguLuran yang tewas diserang gerombolan. Kemudian pengukural~ dilakukan pada daerah yang lebih hilir, yaitu untuk bendungan Cirata, hal sama juga dialami oleh para pelaksana lapangan. Kemudian, dipiliblah Jatilubur Selain lebih aman, bendungan ini juga dapat dimanfaatLan untuk memberi suplai air pada bendung Walahar yang sudah dibangun oleh Belanda untuk mengairi sawah seluas 80 ribu hektar, kbususnya untuk musim kemarau.

Suplai Air ke Pelabuhan Hal penting yang juga menjadi pertimbangan saat itu, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudilja, ketika itu sebagai Asisten Urusan Jatiluhur yang menanganai urusan perenca-naan maupun pelaksanaan pembangunannya, adalah pertimbangan suplai air ke Jakarta. Ketika itu pelabuhan Tanjung Priok tak pernah disinggahi kapal-kapal asing, karena tidak cukup air untuk perbekalan kapal-kapal dagang itu. Sehingga kegiatan ekspor-import dari Tanjung Priok tersendat. Haryasudirja yang membuat spesifikasi bendungan Jatilubur, mengaku meniru gaya bendungan terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir. Menggunakan konsultan dari Perancis yang sudah berpengalaman dalam membangun bendungan besar. Selain untuk pembangkit listrik dibangunnya Jatiluhur untuk mengairi irigasi persawahan daerah Jawa Barat seluas 240 ribu hektar. Namun kendala yang dihadapi ketika itu, harus meninggikan kembali air kucuran dari bendungan Jatiluhur bila digunakan untuk keperluan lain selain pembangkit listrik. Pasalnya Ir. P.C. Haryasudilja yang juga sebagai penentu desain dari waduk Jatiluhur, mencari tenaga yang sebesar-besarnya untuk membangkitkan turbin listrik. Listrik yang didapat memang cukup banyak, lalu bagaimana dengan air untuk pemanfaatan irigasi sawah ? Maka dibuat lagi bendung di daerah Curug. Untuk mengairi ke daerah timur terpaksa air dinaikkan dengan menggunakan pompa listrik. Namun untuk yang ke Barat, Prof.Ir. Sedyatmo telah merancang pompa yang juga menggunakan tenaga air, yang kemudian dikenal dengan nama “Pompa Sedyatmo” untuk menaikkan air ini ke saluran Tarum Barat, sepanjang 90 Km termasuk untuk air baku kota Jakarta dan sekitarnya. Integrasi.

Luas daerah aliran Waduk Jatiluhur mencakup 4.500 km2. Dalam segi jaringan irigasi, tentu sangat spektakuler, membentang dari daerah Bandung sampai pantai utara pulau Jawa. Proyek Jatilibur juga men demonstrasikan pengintegrasian beberapa sungai untuk suatu jaringan irigasi yang terpadu. Sungai-sungai penting itu diantaranya, Sungai Ciliwung, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Cibeet, Sungai Citarum sebagai sumber air utama, Sungai Cilamaya, Sungai Ciasem, Sungai Cipunegara. Ada dua cara pengintegrasian. Pertama; yang diterapkan pada sungai-sungai Ciliwung, Bekasi, Cikarang dan Cipunegara, adalah dengan memasukkan aliran air dari Jatiluhur ke dalam sungai-sungai tersebut melalui Saluran Induk Tarum. Kemudian aliran sungai-sungai yang sudah ditambah debitnya itu disadap oleh saluran induk di bagian hilir melalui ben-dung-bendung yang dibangun pada sungai-sungai bersangLutan. Ada juga pada tempat-tempat tertentu aliran sungai-sungai tersebut langsung disadap untuk di-manfaathan.

Cara kedua, seperti pada su-ngai-sungai Cibeet, Cilamaya dan Ci-asem, adalah dengan membuat bendung di hulu persilangan sungai-sungai itu dengan saluran induk dari Jatiluhur. Kemudian air dialirkan melalui saluran induk masing-masing untuk dimanfaatLall. Jaringan irigasi Jatilubur yang kemudian terbentuk meliputi delapan daerah irigasi. Yaitu Daera Irigasi (DI) Bekasi, DI Cikarang, Dl Cibeet, DI Tarum Tengall, Dl Cilamaya, DI Ciasem, DI Cipunegara, serta daerah irigasi yang langsung mendapat oncoran dari Saluran Induk Tarum Barat dan dari Saluran Induk Tarum Timur. Perlu dicatat untuk Daeral1 Irigasi Elekasi. Ini semula merupakan irigasi para tuan tanah. Sebuah bendung gerak yang dibangull di kota Elekasi dibangun untuk me-nyadap aliran Sungai Bekasi dan selanjutnya digunakan ulltuk m~-nyatukan jaringan irigasi tuan tanal1 tersebut menjadi satu jaringan irigasi teknis. Satu hal lagi yang s`~gat yerlting adalah, baLwa air baku untuk keperluan air minum bagi warga k~ ~ ~ Jakarta pun berasal dari jilri!l’,.U’ Waduk iatittlhUr, vaitt] ~i~latui sadapan di bendung gerak di kota Bekasi itu. Dari Komando Kembali ke Proyek.

Masa pembangunan Proyek Jatiluhur juga unik, sebab sempat mengalami sembilan kali pergantian kabinet dari Kabinet Karya tabun 1957 sampai Kabinet Ampera tahun 1967. Pada masa Kabinet Dwikora 100 Menteri, pembangunan jaringan pengairan Jatiluhur sempat ditangani oleh dua bnah Komando, yaitu Komando Proyek Pengairan Induk Jatiluhur (KOPPINJAT), dan Ko-mando Proyek Pengairan Pelengkap Jatilubur (KOPPELJAT). KOPPINJAT menangani pem-bangunan Saluran Induk Timur sepanjang 67 km dan Saluran Induk Barat 70 km, serta bangunan-bangunan yang berada pada kedua saluran induk baik berupa syphon, bendung, dan lainnya. Sedangkan KOPPELJAT menangani pemba-ngunan di luar yang dikerjakan KOPPINJAT. Adanya dua komando tersebut barangkali merupakan pengalaman yang kurang efektif. Apalagi keduanya berada di bawah depar-temen yang berbeda. KOPPINJAT di bawah Departemen Pengairan Dasar,sedangkan KOPPELJAT berada di bawah Departemen Pengairan Rakyat. Namun akhirnya, karena perkembangan politik den terjadi kesulitan pada Departemen Pe-ngairan Rakyat, make KOPPELJAT pun dilimpaLkan yaitu Proyek Iri-gasi Jatiluhur PROpTeUr~jAaTIII,nan ~DD I. I t”t ail A Juror 1lgus sebaga1 pe-melihara seluruh fasilitas bangunannya. Sebagai waduk serbaguna, penerima manfaat terbesar air Waduk Jatilubur adalah para petani yang memanfaatkannya untuk irigasi. Meski pada mulanya BPLN yang membiayai pembangunan ben-dungan serba guna ini, namun pemanfaatan airnya pihak PLN kini juga dikenakan iuran terhadap penggunaan air tersebut. Juga pihak pemanfaat lainnya seperti pihak perusahaan air minum PAM Jaya. Wajar bila kepada mereka dikenakan “iuran” yang propor-sional guna melaksanakan usaha Operasi dan Pemeliharaan bagi Waduk Jatiluhur. Seirama dengan perkem-bangan jaman, baLkan saat ini Perum Otorita Jatiluhur semakin dimatangkan kinerjanya. Dan dibentuk menjadi Jasa Tirta II, agar upayanya dalam mengelola air untuk berbagai keperluan semakin profesional.

Sumber : http://taufiqsuryo.wordpress.com


Bendung Pasar Baru

Bendung Pasar baru nampak masih kokoh meski dibangun tahun 1937, bendung yang mengatur laju sungai Cisadane ini memberi kemampuan meng iragasi hektaran lahan di Tangerang.

Bendung ini juga dikenal dengan nama Bendung Pintu sepuluh,lokasinya tak terlalu jauh dari Bandara Soekarno – Hatta, dari pintu belakang bandara (Pintu M1) berkendara tak lebih dari 5 menit.




Sore hari, berdirilah tepat di tengah Bendung dan hadaplah ke Barat, maka cahaya matahari sore akan menghangatkan badan dan terpaan angin sore menyentuh menyegarkan, Cisadane yang lebar, seperti memanjakan sapuan mata, dengan aktifitas warga sekitar bermain di sungai, menjala ikan, memancing atau sekedar bertelanjang dan bermadi riang bagi anak-anak bersuka cita.






Sumber : http://juanda-matahati.blogspot.com


Awal Kemarau Debit Air Bendungan Dam Jati Magetan Turun 50 persen

Magetan – Memasuki awal musim kemarau saat ini debit air di saluran irigasi Dam Jati Magetan mengalami penurunan debit air hingga 50%. Jika sebelum kemarau lalu biasanya dapat mengeluarkan air perdetik 6 ribu liter saat ini tinggal 3 ribu liter per detiknya.

Tukiman (45) penjaga bendungan Dam Jati kepada moderatofm.com Kamis (7/5/2009) mengatakan meski debit air telah menurun hingga separo dari biasanya namun belum ada laporan petani yang kengeluh kekurangan air.

“Memang 2 minggu ini sudah tidak hujan sehingga debit juga mulai turun separo, kalau biasanya sampai 6 ribu liter per detik ini tinggal 3 ribu saja,” jelas Tukiman lokasi.

Tukiman menambahkan bendungan irigasi damjati yang ada di Desa Gorang gareng Kecamatan Nguntoronadi Magetan yang diambil dari sungai Madiun untuk mengairi lebih dari 11 ribu hektar persawahan di 4 wilayah yakni Kabupaten Magetan, Kota dan Kabupaten Madiun serta Kabupaten Ngawi.

“Puncak kekeringan biasanya bulan agustus dan September debit pernah hanya 2000 liter per detiknya,” tambah Tukiman.

Pantauan moderatofm.com dilokasi bendungan damjati yang terletak di perbatasan Kabupaten Magetan dan Madiun tersebut tampak beberapa warga yang memanfaatkan surutnya debit air dengan memancing ikan.

Sumber : http://moderatofm.com

Photo : http://images.google.co.id

Bendung Manganti, Tempat Menarik Mengisi Waktu Liburan

Oleh Wagino

KEDUNGREJA, (Cimed) – Sinar matahari siang di sekitar Bendung Manganti terlihat cerah, itu ditandai dengan birunya langit yang menghiasi kawasan bangunan air itu. Angin berhembus menerpa pepohonan, sedang tanaman padi juga tampak mulai menguning. Suasana damai tampak menghiasi ditepi aliran Sungai Citanduy.

Keindahan kawasan Bendung Manganti tidak hanya tampak dari bangunan megah dengan suara gemericiknya air saja. Menyusuri jalan yang melingkar dengan kombinasi deretan pepohonan di kiri-kanan menggunakan sepeda motor terasa sangat mengasyikan.

Menghabiskan liburan sekolah atau pun akhir pekan dengan berekreasi bersama keluarga tentu menyenangkan. Bendung Manganti bisa menjadi salah satu alternatif tempat kunjungan wisata dengan kombinasi alam pedesaan.

Letak geografis bendung tersebut berada di bagian utara wilayah Kecamatan Kedungreja, tepatnya di Desa Bojongsari. Untuk tiba disana bila dari arah Cilacap melalui Sidareja bisa melalui pertigaan Tinggarjaya atau terus melanjutkan ke arah Cipari.

Dari Cipari, masuk melalui pertigaan yang berada di sebelah Stasiun KA Cipari, terus menyusuri Desa Mulyodadi hingga Desa Bojongsari. Pantauan CilacapMedia.com, secara umum kondisi ruas jalan dari Cipari menuju Bojongsari bagus karena sudah dihotmix, hanya saja mulai rel KA Cipari hingga sekitar satu kilometer jalan rusak, begitu juga beberapa ratus meter jelang masuk kawasan itu juga mengalami kondisi serupa.

Pemandangan selama perjalanan dari Cipari menuju bangunan air itu banyak dihiasi hamparan sawah dengan padi yang telah menguning. Saluran tersier yang membentang di areal persawahan menyerupai talang beton juga melengkapi suasana.

Bendung Manganti merupakan bangunan bendung gerak yang dilengkapi dengan pintu angkat kerangka baja dengan sistem pengangkatan menggunakan mesin. Dibangun sejak tahun 1972 dan diresmikan pada tahun 1990.

Bangunan air itu mengairi sawah di kawasan Cilacap Barat dan sebagian Kabupaten Ciamis. Air dari bendung ini disalurkan melalui jaringan irigasi Sidareja-Cihaur. Terdiri atas saluran utama, primair, sekunder dan lateral.

Irigasi tersebut dinikmati oleh puluhan ribu petani yang tersebar di 27 desa di Kecamatan Sidareja, Kedungreja, Patimuan, Wanareja, Gandrungmangu, Bantarsari dan Kawunganten. Para petani di kawasan ini merupakan penyumbang terbesar stok pangan nasional di Jateng Selatan.

Yang menarik dari Bendung Manganti yakni menikmati pemandangan bangunan air dengan duduk-duduk di bangku taman yang tersedia atau menggelar tikar diatas rumput dibawah deretan pohon. Sementara di bawah tampak sejumlah pemancing yang tengah memancing diatas batu-batu pemecah limpasan air bendungan.

Tidak heran masyarakat sekitar bangunan air itu terutama kalangan muda-mudi banyak menghabiskan waktu akhir pekan disini. Bagaimana dengan anda? Bila menginginkan suasana baru atau mengambil foto preweding, tidak ada salahnya untuk mencoba.

Sumber : http://cilacapmedia.com