Tampilkan postingan dengan label Human. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human. Tampilkan semua postingan

Amir Hamzah: Pahlawan Romantis Tragis

Biarlah daku tinggal disini. Sentosa diriku disunyi sepi.
Tiada berharap tiada meminta. Jauh dunia disisi dewa.

Puisi itulah yang terukir pada nisan orang terkenal bernama Amir Hamzah. Serorang pujangga yang namanya terus disebut dalam sejarah, khususnya sejarah sastra di Indonesia. Pujangga Amir Hamzah telah memberikan sumbangan besarnya dalam dunia sastra Indonesia.

Amir Hamzah adalah pahlawan yang bernasib malang—seperti halnya Oto Iskandardinata—yang menemui ajal ditangan segelintir revolusioner buta diawal kemerdekaan sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sentimen terhadap feodalisme diawal kemerdekaan Indonesia sangatlah wajar. Kebencian kaum kromo kepada kaum feodal yang bebrabad-abad menjadi sumber penderitaan kaum kromo. Bagaimanapun kematian Amir Hamzah di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946—seperti juga Oto Iskandardinata—menjadi titik noda dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Amir Hamzah yang pahlawan Nasional itu tidak hanya hanya dikenal sebagai seorang pujangga besar di zamannya. Amir Hamzah, semasa belajar di Jawa pernah melibatkan diri dalam dunia pergerakan nasional Indonesia.

Sajak dan hidup Amir Hamzah
Amir Hamzah telah digolongkan dalam deretan penyair angkatan pujangga baru—Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane juga Sanusi Pane—yang paling berpengaruh. Sebagai penyair—seperti judul buku H.B. Yassin—Amir Hamzah dinobatkan sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” yang menjadi bahan pembicaraan menarik bagi penikmat sastra Indonesia. Amir Hamzah dianggap sebagai simbol peralihan kebudayaan dan masyarakat aristokrat feodal ke aspirasi-aspirasi persamaan derajat dalam kehidupan Indonesia modern; ketegangan ini nampak pada konflik pribadi sekitar pernikahannya.

Tema dan sikap yang diusung Amir Hamzah dalam sajak-sajaknya, agak bersifat romantik. Sajak-sajak dalam kumpulan pertamanya, Buah Rindu, adalah kemurungan dan kerinduan seorang pemuda rantau dari Sumatra yang merindukan kampung halamannya. Nyanyian Sunyi, kumpulan sajaknya yang lain, adalah pergulatan seorang pemuda yang meninggalkan kesetiaannya dari dunia baru menuju sebuah dunia yang relijius.

Menurut buku Amir Hamzah: Radja Penjair Pujangga Baru, Yassin menulis, Buah Rindu memuat 25 sajak, satu diantaranya terdiri dari 4 bagian dan satu dari dua bagian. Kumpulan ini ditandai oleh kata-kata: iba, menangis, duka, sendu, merana, rindu, air mata dan lainnya yang menyatakan kesedihan. Juga kata-kata yang menggambarkan suasana jiwanya seperti: kelana, merantau, cinta, asmara, ratap. Kata-kata seperti: duhai dan wahai dipakai sebagai seruan. Yassin menangkap ketidakimbangan jiwa sang penyair—Amir Hamzah—dalam sajak Berdiri Aku:

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mengetjap hidup bertentu tudju.

Tertangkap dari sajak diatas penyair merindukan kehidupan yang bahagia dimasa depannya. Dalam sajak lainnya, Nyanyi Sunyi, Amir menggambarkannya kegoncangan jiwanya ketika dirinya terpaksa menikah dengan putri Sultan Langkat.

Amir yang dibiayai Sultan Langkat itu pernah jatuh cinta pada seorang gadis lain—Elik Sundari—dalam perantauannya hingga dengan paksa dinikahkan dengan putri yang mungkin tida dia cintai sepenuh hati itu. Amir yang sedang kuliah hukum di Recht Hoge School, Jakarta dipanggil pulang untuk menikah dan menggantikan ayahnya sebagai datuk bendahara di Langkat. Dalam sajak Selalu Sedih yang dimuat dalam Pujangga Baru edisi 7 Januari 1937 Amir menuliskan sajak—mungkin untuk Elik Sudari, kekasih yang ditinggalkannya—yang melukiskan dirinya yang tidakberdaya:

Hatiku sajang selalu sedih
Selalu sendu semata salah
Sekedjap mengetjap kasih
Paksa datang menjuruh lepas
Hidup badan tiada berdaja
Dalam genggaman orang lain
Kemana kata kesana mara
Boneka daging tiada berasa

Dalam pergolakannya dia menikmati kesunyiannya itu, Amir menuliskan: “Sunyi itu duka. Sunyi itu kudus, Sunyi itu lupa, sunyi itu lampas.” Dalam sunyi Amir berhubungan dengan Tuhan-nya, menyelami rahasia hidup sampai akhirnya ia terperosok dalam filsafat mistik.

Kumpulan sajak Nyanyi Sunyi kemungkinan ditulis di Jakarta semasa menjadi mahasiswa sekolah tinggi hukum (1934-1936). Masa-masa dimana Amir dianggap sedang mempersiapkan diri menjadi seorang pegawai sebagai persiapan pualang ke Langkat setelah kematian ayahnya. Banyak yang menyebut: saat itu Amir sedangan mengalami krisis diri teramat dalam. Hal ini berpengaruh dalam puisi-puisinya. Tema utama Nyanyi Sunyi adalah pencarian penyelesaian masalah pribadi melalui pengalaman relijius; usaha mencapai kesatuan mistik dengan Tuhan—manunggaling kawulo Gusti—disela-sela ketidakmampuannya mengatasi kontradiksi antara cinta dan kekejaman. Keduanya merupakan sifat Tuhan dalam hubungannya dengan manusia.

Persatuan dengan hakikat ketuhanan terhalang oleh perasaan duniawi yang tidak bisa ditiadakan. Sifat-sifat Tuhan yang samar-samar itu tidak jarang berubah menjadi kekejaman yang angkuh. Seperti dalam “Padamu Jua” yang sering mendapat pujian, setidaknya pada generasi Pujangga Baru:

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau rupa tiada
Suara sayup
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila dasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku….

Amir Hamzah pernah diangggap destruktif terhadap bahasa-bahasa lama disatu sisi dan secara gemilang dalam kemunculan bahasa-bahasa baru. Puisi Nyanyi Sunyi juga dianggap duistere poezie (puisi gelap). Menurut H.B. Yassin, sangat tidak mukngkin kita mengerti Amir Hamzah, jika kita membaca Nyanyi Sunyi tanpa membekali diri dengan pengetahuan sejarah dan agama (Islam).

Ada pengaruh-pengaruh Melayu dalam sajak-sajak Amir Hamzah. Ini bukan hal aneh, Amir Hamzah—yang terlahir di tanah Melayu—didalam tubuhnya memang mengalir darah Melayu. Dalam penggunaan metafora terdapat pengaruh Persia dan India tanpa harus menghilangkan kemelayuannya. Contoh puisi Amir Hamzah yang memiliki corak Hinduisme terdapat dalam akhir puisi “Naik-naik.” Puisi itu terukir indah pada nisan makam penyairnya. Bagian dari puisi itu telah saya tulis diawal tulisan ini.

Riwayat Amir Hamzah Dalam pergerakan Nasional
Amir Hamzah alias Amir Hamzah Pangeran Indera Putra, terlahir—tanggal 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat—sebagai putra Tengku Bendahara Paduka Radja Kerajaan Langkat. Langkat adalah Kesultanan kecil di pesisir timur Sumatra Utara. Keluarganya yang bangsawan telah memberinya kesempatan mempelajari banyak hal; mulai dari perdababn Islam di Melayu; juga peradaban barat.

Ayahnya, adalah penggemar sejarah dan sastra Melayu—seperti halnya orang-orang tua pada masa itu. hal ini kelak mempengaruhi Amir Hamzah. Sering kali ayahnya mengadakan malam-malam pertemuan dimana orang-orang membaca hikayat-hikayat Melayu lama seperti Hikayat Amir Hamzah, Bustanus-salatun dan lain sebagainya. Cerita yang paling diminati disana adalah cerita nabi-nabi, Qususul Anbia, namun dibacakan dalam bahasa Melayu. Tidak jarang Amir Hamzah juga disuruh membacakan hikayat-hikayat itu oleh ayahnya.

Amir Hamzah yang masih kecil ketika itu suka sekali dengan sastra-sastra Melayu, kendati hanya mendengarkan saja. Membacakannya mungkin sebuah kesenangan tersendiri bagi Amir Hamzah kecil.

Amir mulai menikmati pendidikan sekulernya di Hollandsche Inlandsche School Tanjung Pura—sekolah dasar pribumi untuk anak-anak orang terpandang—lantaran ayahnya orang penting di kesultanan Langkat. Setamat dari sana Amir melanjutkan ke sekolah menengah pertamanya—Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—di Medan. Amir hanya menjalani sekolah menengahnya ditahun pertama saja. Di tahun kedua sampai tamat dia jalani di Christelijke MULO Mendjangan.

Bakat menulis Amir makin terasah ketika dia mengambil jurusan sastra timur di Algemene Middelbare School (AMS)—di Solo. Pendidikan tertinggi yang pernah diraihnya adalah di Recht Hoge School—sekolah tinggi Hukum zaman Belanda—di Jakarta, walau hanya samapai kandidat II.

Selama disekolah menengah-lah Amir Hamzah menerima pengaruh dari berbagai aliran sastra-sastra dunia. Amir Hamzah menerima semuanya tanpa harus kehilangan akarnya: kebudayaan Melayu. Tidak hanya Amir Hamzah saja yang menerima pengaruh kesusastraan dari luar ketika duduk di bangku sekolah-sekolah sekuler Belanda tingkat menengah seperti MULO atau AMS; Sutan Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane. Hampir semua penyair yang pernah muda atau belajar di sekolah menengah Belanda model MULO atau AMS pada dekade 1930an, mulai mengenal sastra-sastra dunia dari sekolah menengahnya. Chairil Anwar yang bukan angkatan Pujangga Baru juga mengenal kesusastraan—modern barat—dari sekolah Belanda, kendati sekolahnya hanya sampai kelas II MULO.

Ketika belajar di RHS—bersama Sutan Takdir dan Armin Pane—ditahun 1933 mendirikan Majalah Pudjangga Baru. Majalah ini terbit teratur sampai masuknya Tentara Pendudukan Jepang di Indonesia. Tulisan Amir Hamzah yang pernah dimuat diantaranya terdapat terjemahan Setanggi Air dan Bhagawad Gita.

Kendati seorang bangsawan (Langkat) Sumatra, dirinya mau bergabung dengan Jong Java—Perkumpulan pemuda Jawa—yang tentu saja anggotanya pemuda dari Jawa. Amir Hamzah terbukti telah meninggalkan sifat kedaerahannya; jadi Amir layak dicap sebagai Nasionalis. Sebagai orang Melayu dirinya menganut: “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.” Terbukti dia berhasil menyesuaikan diri dan bergaul dengan tokoh-tokoh Jawa macam: Raden Panji Singgih atau Kanjeng Raden Tumenggung Wedyodi. Di Solo, ketika masih belajar di AMS, Amir tergabung dalam Indonesia Muda bersama Armin Pane. Amir pernah mewakili Indonesia Muda cabang solo dalam Kongres Indonesia Muda yang diadakan di Solo dari tanggal 29 Desember 1930 sampai 2 Januari 1931.

Keterlibatannya pada dunia pergerakan tidak lepas dari pergaulannya dengan kawan-kawannya di sekolah. Solo, yang merupakan kota dengan masyarakat feodal, juga menerima pengaruh pergerakannya sendiri. Riwayat pergerakan Amir Hamzah dalam organisasi politik, tidaklah terlalu menonjol. Amir Hamzah lebih dikenal dalam keterlibatannya di majalah sastra Pujangga Baru maupun puisi-puisinya. Keterlibatan Amir Hamzah dalam dunia pergerakan nasinal tidak banyak yang mencatat. Nama Amir Hamzah sendiri lebih sering dicatat dalam buku-buku sastra atau pelajaran bahasa atau sastra Indonesia dari pada dalam buku yang mengulas dunia pergerakan nasional selama dekade 1930an.

Dunia pergerakan secara tidak langsung ditinggalkan ketika dirinya dipanggil pulang pada tahun 1936, sebelum kuliah hukumnya di RHS selesai. Sepulangnya di Langkat, Amir menikah dengan Putri Tuhara, anak perempuan dari Sultan Langkat waktu itu. Latar belakang-nya yang pernah kuliah di RHS, juga mempengaruhi kedudukan-nya di masyrakat. Dia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai datuk bendahara kesultanan Langkat yang telah meninggal sebelum dipanggil pulangnya Amir. Tahap kehidupan Amir Hamzah di RHS, adalah tahap diri mempersiapkan diri menjadi pegawai dengan belajar ilmu hukum—termasuk hukum modern dan adat.

Kepulangannya ke Langkat—yang mungkin tidak dia inginkan itu—telah memisahkan dirinya dengan dunia pergerakan juga dengan gadis yang dia cintai. Dia harus menanggung hidup yang tidak dia ingini: menikahi putri Sultan Langkat—yang membiayai membiayai pendidikannya di Jawa, termasuk menemukan jati dirinya sebagai penyair.

Raja Penyair Pujangga Baru
Semula Amir berkenalan dengan sastra Belanda melalui penguasaan bahasa Belanda-nya yang dipelajarinya di HIS dan MULO. Amir mengenal sastra Belanda sejak duduk di MULO Jakarta. Di AMS semakin mengasah kemampuan menulisnya. Amir juga mulai mengenal sastra-sastra timur (Asia). Penulisan Amir lebih kearah sastra. Beberapa karangannya tentang kesusastraan India, Arab dan Persia kemudian dimuat di Pudjangga Baru pada tahun 1934.

Kendati berkenalan dengan sastra Belanda, tidak ada bukti langsung yang mempengaruhi karya-karya Amir Hamzah. Walau demikian diantara penyair Pujangga Baru lainnya, hanya Amir yang saja yang mendekati hakekat romantik Eropa, yang menjadi tonggak budaya pada zaman itu. Namun atas dasar ini pula puisinya mengakui sepenuhnya tonggak budaya tradisonal. Dibanding yang lainnya pula puisi Amir Hamzah dianggap mampu menggabungkan dengan sempurna individualisme barat dengan persajakan Melayu tradisional. Amir gemar menggunakan metafora, namun untuk tujuan pembaharuannya. Dirinya juga menggunakan pola-pola penggubahan puisi tradisional, namun dia memfungsikannya untuk tujuan individualisme yang terdapat dalam tonggak budaya modern. Disatu sisi Amir menggunakan menggali kebudayaan melayu dimana dia berasal; kebudayaan modern barat yang diperolahnya disekolah-sekolah Belanda yang dia jalani dimasa perkembangannya; juga nasionalisme yang dia wakili dalam Indonesia Muda. Ketiganya adalah sebuah dialektika dalam kehidupan penyair Amir Hamzah. Puisinya menunjukan dinamisme budaya dan potensi kreatif yang terkandung dalam gerakan kebangsaan Indonesia masa pergerakan.

Amir Hamzah ,selain memberi sumbangan untuk dunia sastra Indonesia, juga kepada dunia sastra Melayu. Dari Amir Hamzah, bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik sampai saatb sekarang ini. Diakui dalam puisi Buah Rindu, terlihat bahwa Amir Hamzah telah memberikan warna modern dalam suara dan lagu pantun-pantun Melayu.

Judul buku H.B. Yassin: Amir Hamzah: Radja Penjair Pujangga Baru (1962) telah menobatkan Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Dalam dunia pergerakan nasional sendiri Amir Hamzah bukanlah orator handal seperti Sukarno. Belum ada bukti yang menyatakan Amir Hamzah adalah daftar incaran PID Belanda yang selalu menghantui kaum pergerakan. Amir Hamzah bukan pembuat petisi seperti Soetardjo. Amir Hamzah hanya seorang penyair pada zamannya yang memberi warna dalam dunia sastra Indonesia. Lebih bijak jika kita menyebut bahwa Amir Hamzah adalah pejuang kesusastraan di Indonesia—kala itu bernama Hindia Belanda—pada lapangan kesusastraan dengan karya-karyanya yang Indonesiasentris. Bersama penyair-penyair pada zamannya, Amir Hamzah telah memberi identitas baru bagi sastra Indonesia asli setelah pengembaraannya mereduksi pengaruh-pengarus sastra dunia, baik barat maupun timur.

Sumber : http://sejarah.kompasiana.com

Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan


Oleh : Aimdbest

1.Siapa Raden Saleh sebenarnya ?

Sosok Raden Saleh tidak asing lagi dikenal kalangan penduduk negeri ini. Seorang Raden Saleh semasa hidupnya dianggap sebagai salah seorang manusia yang ikut merintis lahirnya seni lukis modern Indonesia. Nyaris, sepertiga dari umur pelukis kelahiran Terboyo dekat Semarang ini dihabiskannya dengan merantau, belajar dan berkarya di luar negeri, antara lain di Negeri Belanda, Jerman , Austria , Italia dan Perancis. Karyanya dihargai oleh pelukis-pelukis terkenal maupun penguasa-penguasa negara-negara tersebut.

2. Ia berbakat sekali
Bakat seni Raden Saleh pertama kali dilihat AA Payen, seorang pelukis Belgia yang menjadi guru gambar resmi pada s'lands plantentuin, kini Kebun Raya Bogor tahun 1817. Payen yang salut dengan bakat melukis Saleh memasukkannya ke sekolah untuk anak-anak bumi putra di Cianjur. Setelah Salehtaman dari sekolah lanjutannya yang dibogor dan Payen kembali ke Eropa tahun 1815, Sarip Saleh dibawa Payenikut keluarga Belgia lain, Jean Baptiste de Linge. Tahun 1829 Sarip Saleh mengikuti Jean Baptiste de Linge yang ditugaskan ke Negeri Belanda yang pada waktu itu berada di bawah pemerintahan Raja Willi cm I, Saleh diberi kesempatan belajar selama 2 tahun. Di Den Haag negeri Belanda, sebelum menjadi seniman yang berdikari Saleh belajar sambil bekerja pada pelukis potret, pembuat sketsa dan ahli Litografi Cornel is Cruscman. Pada waktu itu juga ia belajar mengkopi lukisan terkenal karya Rembrandt dan van Dijk. Lukisan Pemandangan alam dipelajarinya dari pelukis Andreas Schelfhout.

3. Perjalanan menuju sukses
Keahliannya melukis membuat Saleh dapat bergaul di kalangan ningrat dan orang-orang terkemuka pribumi maupun Belanda, dan di Negeri Belanda pergaulan itu dikembangkan lebih lanjut, ia melukis potret-potret tokoh-tokoh atau keluarganya alas permintaan atau kemauan sendiri sebagai tanda terima kasih atau persahabatan. Dalam tahun 1839 ia mendapat kesempatan untuk mengadakan perjalanan di pelbagai negara Eropa, seperti Jerman , Austria , Italia dan Perancis. Kemudian ia menetap di Dresden , dan di kota ini ia berhubungan dengan Raja Riendrich August II dari Sachsen. Akhir tahun 1844 Saleh pergi ke Negeri Belanda lagi (Raja William II) untuk mcmperpanjang beasiswanya yang sebelumnya sudah berkali-kali diperpanjang. Kemudian ia tinggal di Paris, mcmpelajari karya-karya seni terkemuka dan bahasa Perancis. Pembawaanya konon yang menyebabkan penulis Perancis Eugene Sue mengambilnya sebagai model tokoh Prince Djalma dalam karyanya "Juif Errant".

4. Kembali ke Tanah Air
Raden Saleh kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1851; menikah dengan Winkelman, seorang nona Indo Belanda dan mendirikan sebuah rumah besar yang mirip Istana di Cikini. Rumah itu masih tegak pada hari ini, hanya fungsinya telah berubah menjadi rumah sakit, yakni Rumah Sakit DGI Cikini. Sebagian dari halaman rumahnya yang sangat luas menjadi Komplek Taman Ismail Marzuki. Perkawinannya dengan istri pertamanya tidak kekal. Setelah bercerai ia menikah lagi dengan seorang putri Yogya yang masih kerabat Sultan Hamengku Buwono VI. Mereka mcmilih tinggal di Bogor , di sebuah rumah bekas kediaman Sultan Tamijidilah dari Banjarmasin yang diasingkan ke Bogor dalam tahun 1859. Letaknya di belakang Hotel Bellevue yang sekarang ditempati oleh bangunan Ramayana Theatre. Di sini ia tetap menghasilkan karya-karya lukisannya. Raden Saleh meninggal dunia lepas tengah hari pukul 13.00 pada tanggal 23 April 1880 akibat serangan trombasis; gumpalan darah menyumbat peredaran darahnya, ia dimakamkan di tanah yang dipilihnya sendiri, yang sebenarnya diperuntukkan bagi istrinya tercinta yang sakit parah.

5.Gelar-gelar Kehormatan dan Keanggotaannya Dalam Perhimpunan- Perhimpunan IImiah
Gelar-gelar kehormatan yang diterimanya sebelum pulang ke Tanah Air yaitu "Ridder der Orde van de Eikenkroon" (Kesatria dari Orde van de Eikenkroon) dari raja Belanda II yang diberikan lukisan seekor singa yang berkelahi mati-matian melawan dua ekor banteng. Kemudian gelar "Pelukis Sri Paduka Raja" dari William II yang diterimanya pada tahun 1850. Dari kaisar Austria Frans Joseph ia menerima gelar "Commandeur met de ster de Franz Joseph Orde" (Panglima dengan bintang Orde Franz Joseph). Kemudian "Ridder der Kroon van Pruisen" (Ksatria dan Orde Mahkota) dari raja Prusia Wilheim I yang diberinya sebuah Iukisan berjudul "Perkelahian Singa"; dan gelar terakhir adalah "Ridder van de Witten Valk". Ketiga gelar terakhir diperolehnya ketika sudah kembali ke Indonesia . la juga menjadi anggota kehormatan Perhimpunan untuk Kebun Binatang dan Tumbuh-tumbuhan di Batavia; anggota kehormatan Perhimpunan Betawi untuk seni dan IImu Pengetahuan (Bataviaasch Gennotschap voor Kunsten en Wetenschhappen); dan keanggotaannya untuk Koninkijk Instituut voor de Taal, Land-en Volkenkunde di negeri Belanda; dan Natuurkundig Verreninging in Nederlandsch India (Perhimpunan IImu Pengetahuan Alam di Hindia Belanda).

6. Mengenal Pribadinya Lewat Lukisannya
Raden Saleh seorang pelukis naturalis, dan ia adalah seorang pribadi yang mendambakan kebebasan tanpa hambatan apapun untuk mengerjakan ilham-ilham yang terbit dari jiwanya. Seorang guru besar Belanda Prof. P. J. Veth memuji tentang dua lukisannya "Kebakaran di Hutan" dan "Perburuan Kijang" sebagai berikut : "Orang hanya perlu memandang sekilas pada kedua lukisan untuk dapat meyakinkan diri bahwa pelukis yang paling kenial diantara orang kulit putih harus mengakui orang berkulit sawo matang ini sebagai orang yang setaraf mereka. Maaf kepada mereka yang atas dasar ethnologi mencap orang Jawa sebagai tanggung-tanggung untuk selamanya. Lukisan-Iukisan Raden Saleh lebih bersifat studi hewan dan pada Pemandangan alam. Tetap! studi hewan yang bagaimana? Bukan ternak yang tenang merumput di padang rumput, bukan kerbau lamban di depan bajak atau gerobak yang menarik perhatiannya, tetapi kijang yang lincah, kuda yang gagah, banteng yang tinggl hati, harimau yang haus darah, dalam detik-detik waktu mereka sedang terbakar oleh semangat perburuan atau oleh ketakutan bahaya yang tak dapat dihindari, dilecut dengan luapan scmangat tinggi. Hanya sedlklt pelukis yang leblh berhasll melukis dunia hewan, hanya sedikit yang berhasil melukiskan kcmarahan, kegeraman, ketakutan penghuni hutan, yang lebih balk untuk dinikmati".

Sebuah lukisannya yang menimbulkan tanda tanya adalah yang menggambarkan Pangeran Diponegoro yang disebutnya sendiri "Suatu adegan bersejarah, penangkapan pemimpin Jawa Diponegoro" yang dlbuatnya untuk raja Belanda. Yang aneh adalah, mengapa justru saat penangkapannya yang dilukiskan.

Beberapa diantara hasil-hasil karya Raden Saleh yang masih dapat kita lihat dalam Museum Puri Lukisan di Taman Fatahillah, Jakarta , membuktikan bahwa Raden Saleh adalah seorang pelukis gemilang yang berbakat, seorang seniman yang kreatif dan sangat ahli.

Sumber : http://www.smk4-padang.sch.id
Foto : http://mbahbuyutfirstperson.blogdrive.com

Tuanku Hasyim Bangta Muda Pahlawa Asal Aceh

Pendahuluan
Tuanku Hasyim Bangta Muda yang diperkirakan lahir antara tahun 1834 dan tahun 1840 merupakan keturunan kaum keluarga sultan Aceh. Dia adalah putra dari Tuanku Abdul Kadir bin Tuanku Cut Zainal Abidin bin Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Sultan Aceh yang memerintah antara tahun 1781 hingga tahun I 795.Semenjak kecil beliau diasuh oleh Sultan Alaiddin Ibrahim Mansursyah, berkat usahanya Tuanku Hasyim Bangta Muda menjadi seorang pemuda yang gagah berani, cerdas dan bijaksana. Dari pernikahannya dengan Cut Nyak Puan, ia memperoleh dua orang anak yaitu Tuanku Musa yang bergelar Tuanku Raja Keumala dan Tengku Ratna Keumala. Dengan asuhan yang cukup bijaksana akhirnya Tuanku Raja Keumala menjadi tokoh besar yang turut mengusir penjajah Belanda di Aceh sedangkan Tengku Ratna Keumala menikah dengan Seri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Muhammad Daud.

Awal Perjuangan Tuanku Hasyim Bangta Muda
Perjuangan pertama yang diemban oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda adalah ketika Sultan Ibrahim Mansursyah, menugaskannya ke Sumatra Timur karena Belanda mulai mengganggu ketentraman wilayah kerajaan Aceh. Tugas yang diberikan oleh sultan tersebut mengandung ketentuan bahwa ia menjadi wakil Sultan Aceh untuk Sumatra Timur dengan wilayah wewenang Tamiang, Langkat, Deli dan Serdang seterusnya Asahan bahkan seluruh Sumatra Timur.
Tuanku Hasyim Bangta Muda ternyata sangat terampil dalam pemerintahan, politik dan kemiliteran. Dalam waktu yang tidak begitu lama Tuanku Hasyim Bangta Muda dapat menundukkan para penguasa di daerah yang kurang setia terhadap pemerintahan kesultanan Aceh. Hubungan baik Tuanku Hasyim Bangta Muda dengan Pangeran Musa di Langkat yang sudah memihak Sultan Aceh menyebabkan Pangeran Musa merelakan putrinya, Tengku Ubang menjadi isteri Tuanku Hasyim Bangta Muda.

Selanjutnya, ia membangun dan memperkuat benteng benteng yang bertujuan untuk menangkis serangan pasukan kolonial. Belanda di bawah pimpinan Netscher berulangkali menyerang benteng pertahanan Tuanku Hasyim Bangta Muda, pada bulan Agustus 1862 dan 1863 namun gagal. Baru pada tahun 1865, Belanda dapat menaklukkan benteng pertahanan Tuanku Hasyim Bangta Muda di Pulau Kampai. Ketika terjadi serangan Belanda kedua ke Aceh pada akhir 1873, Tuanku Hasyim Bangta Muda juga ikut mengorganisir dan mengkoordinir seluruh potensi yang ada, baik uleebalang, ulama, orang kaya (bangsawan), dan seluruh rakyat. Terutama untuk menjaga dua wilayah tanggung jawab keamanannya yaitu daerah Kuta Raja Pirak dan Benteng Pertahanan di Makam Syiah Kuala.

Dari Pertempuran Demi Pertempuran
Setelah melalui beberapa pertempuran, pada tahun 1874 pasukan Belanda menduduki Mesjid Raya yang sebelumnya terbakar pada ekspedisi pertama. Kehadiran kembali pasukan Belanda menyebabkan terjadi lagi pertempuran yang dahsyat dengan pasukan Aceh. Perang di Mesjid Raya, oleh Belanda diakui sebagai perang yang paling dahsyat. Perang itu dipimpin langsung oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda.

Setelah dalam (kraton) jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, Tuanku Hasyim Bangta Muda ber¬gerak ke daerah Sagi 26 Mukim untuk memantau situasi secara langsung. Tidak lama setelah itu, Tuanku Hasyim Bangta Muda kembali ke Mesjid Pagar Aye sebagai tempat markas sementara.Tuanku Hasyim Bangta Muda memanggil uleebalang untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah itu mengikrarkan suatu sumpah yang diucapkan bersama, yang menyatakan wajib perang sabil untuk mengusir kafir Belanda.

Setelah lama Tuanku Hasyim Bangta Muda terjun ke lapangan, kemudian dinobatkan sebagai panglima tertinggi Angkatan Perang dan sebagai Mangkubumi, Wali dan Pelaksanaan Urusan Kerajaan Aceh.

Pada akhir t-siun 1879, Tuanku Hasyim Bangta Muda bersama Sultan Muhammad Daud Syah yang masih berusia sekitar 10 tahun menempati Kuta Keumala Dalam sebagai ganti dalam atau Kutaraja yang sudah dikuasai oleh Belanda. Setelah Muhammad Daud Syah dewasa, Tuanku Hasyim Bangta Muda meninggalkan Keumala Dalam. Pada tahun 1894 kembali ke Reubee di rumah peninggalan leluhurnya. Tahun 1896, Tuanku Hasyim Bangta Muda kembali ke rumah yang dibuat oleh menantunya, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, di Padang Tiji, Wilayah XXII Mukim (sekarang masuk wilayah Kabupaten Pidie).

Perjuangan yang tidak kenal Ielah
Tuanku Hasyim Bangta Muda pun kemudian sudah mulai lanjut usia dan sudah terlalu letih dalam perjuangan. Sekitar 15 tahun dalam bentuk konfrontasi dengan Belanda di Sumatra Timur dan Aceh Timur (1858-1873) dan sekitar 25 tahun dalam bentuk perang resmi di Aceh Raya hingga di Keumala (1873-1897).Tuanku Hasyim Bangta Muda yang telah memimpin perlawanan terhadap kolonial dan menyumbangkan darma baktinya kepada agama, bangsa dan negara begitu lama, menghadap sang Ilahi di Padang Tiji pada tanggal 18 Syakban 1314 Hijriah bertepatan dengan 22 Januari 1897.

Kebesaran dan ketokohan Tuanku Hasyim Bangta Muda digambarkan oleh J.F.B Bruinsma dengan rangkaian kata kata sebagai berikut : "Andaikata dia (Tuanku Hasyim penulis) tidak pernah hidup barangkali sudah lama kita menduduki Aceh dengan tentram".

Teuku Muhammad Daud
Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, yang jelas dia berasal dari keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan nama Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXVI Mukim Aceh Besar. Sebutan Panglima Polem merupakan gelar kehormatan bagi sagoe pedalaman Sagoe XXII Mukim.

Setelah dewasa, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan Tengku Ratna Keumala salah seorang puteri Tuanku Hasyim Bangta Muda, tokoh Aceh yang seperjuangan dengan ayahnya. Panglima Polem mendapat gelar Teuku Panglima Polem Sri Muda Setia Perkasa Muhammad Daud.

Di penghujung bulan Maret 1896 Teuku Panglima Polem Muhammad Daud bersama 400 orang pasukannya bergabung dengan Teuku Umar untuk menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran besar-besaran yang berlang¬sung selama 14 hari, sejak tanggal 8 sampai 21 April 1896 di pihak Belanda jatuh korban 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka.

Gerilya ke Pegunung, XXII Mukim
Bersamaan dengan menyingkirnya Sultan Muhammad Daud Syah ke Pidie, maka demi menegakkan hak, martabat dan harga diri rakyat Aceh, Panglima Polem bersama pasukannya langsung menuju ke pegunungan XXII Mukim. Mereka berusaha memperkuat benteng pertahanan di wilayah itu. Menghadapi kenyataan itu Panglima Polem bersama pasukannya mulai membuat perhitungan dengan pasukan Belanda, terutama dengan cara bergerilya sambil mendiri¬kan kubu-kubu pertahanan di pegunungan Seulimeum, seperti di Gle Yeueng. Pada tahun 1897 Belanda berhasil menguasai wilayah Seulimeum dan Panglima Polem terpaksa hijrah ke Pidie.

Menyusun Strategi Baru
Pada bulan Nopember 1897 kedatangan Panglima Polem di Pidie diterima oleh Sultan Aceh (Muhammad Daud Syah) yang sejak beberapa bulan sebelumnya telah berada di Keumala.

Bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem dan para pejuang lainnya untuk memperkuat barisan pertahanan di sana. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para ulama serta uleebalang terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada Sultan Muhammad Daud Syah dengan tekad bulat bersama-sama meneruskan perjuangan melawan Belanda.

Menghadapi Serangan Belanda
Pada tanggal 1 Juni hingga pertengahan September 1898 Belanda melakukan serangan besar-besaran ke wilayah Pidie. Serangan ini berada di bawah komando van Heutsz. Dalam menyusun strategi, Heutsz didampingi oleh Snouck Hurgronje yang diangkat selaku Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputra.

Untuk menghadapi serangan tersebut pasukan pejuang Aceh dibagi menjadi beberapa kelompok. Untuk wilayah VII Mukim sepenuhnya dipercayakan kepada Panglima Polem bersama Tuanku Muhammad sedangkan dalam wilayah Pidie secara langsung berada dibawah komando Sultan bersama para pengikutnya.

Pada bulan November 1898, Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem sendiri akhirnya mengambil jalan pintas untuk mengundurkan din dan Pidie menuju Timur ke perbukitan hulu sungai Peusangan. Sementara Belanda terus mengejar mereka sampai akhirnya meletus perang di Buket Cot Phie. Dalam pertempuran ini pasukan Panglima Polem hanya berhasi I menewaskan pihak Belanda sebanyak 3 orang dan 8 orang luka¬luka, sedangkan korban pasukan di pihak Aceh seluruhnya mencapai 34 orang.

Keberhasilan Belanda dalam serangan ini memaksa Sultan menyingkir ke Bukit Keureutoe, Teuku Chik Peusangan ke Bukit Peu toe sedangkan Panglima Polem menuju ke pegunungan di bagian Selatan Lembah Pidie.

Menyingkir ke Daerah Gayo
Di awal tahun 1901, Sultan Muhammad Diad Syah bersama Panglima Polem mengambil inisiatif untuk sama-sama menyingkir ke daerah Gayo dan kemudian menjadikan daerah ini sebagai pusat pertahanan Aceh. Di daerah ini Sultan Aceh bersama Panglima Polem dan pasukannya kembali menyusun strategi baru untuk mempersiapkan penyerangan terhadap Belanda.

Setelah pihak Belanda mengetahui keberadaan Sultan dan Panglima Polem di daerah Gayo, Belanda semakin mengincar daerah tersebut. Melalui Pase Pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Van Daalen selama tiga bulan (sejak September hingga November 1901) melakukan gerakan pengejaran terhadap Sultan dan Panglima Polem yang telah berada di Gayo. Pada bulan Juni sampai September 1902 Penguasa Belanda memerintahkan Letnan satu W.B.J.A Scheepens bersama sejumlah pasukannya bergerak dari Meureudu ke Gayo. Namun kegagalan kembali ditelan oleh Belanda

Siasat Kelicikan Belanda
Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan dalam usahanya menangkap Sultan Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem, maka selama hampir satu bulan Belanda menghentikan penyerangannya ke daerah Gayo. Selama masa itu pula Belanda mengatur strategi baru dengan cara yang sangat licik, yakni dengan cara menangkap orang-orang dekat, ahli kerabat yang paling disayangi Sultan dan mengeluarkan ancaman bahwa kerabat Sultattakan dibuang.

Menerima berita ancaman itu, akhirnya pada tanggal 10 Januari 1903 Sultan Muhammad .Daud Syah terpaksa berdamai dengan Belanda. Sedangkan Teuku Panglima. Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud baru pada tanggal 7 September 1903 secara terpaksa juga berdamai dengan Belanda.

Secara khusus dengan berdamainya Sultan Muhammad Daud Syah dan Teuku Panglima Polem, pihak Belanda mengira bahwa secara keseluruhan wilayah dan rakyat Aceh telah berhasil mereka kuasai sepenuhnya. Perkiraan Belanda ternyata sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi kemudian, ternyata rakyat Aceh tidak pernah mau berdamai apa lagi menyerah kepada Belanda.

Perjuangan yang cukup gigih dan tidak mengenal lelah telah ditunjukkan oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda dan Teuku Panglima Polem. Sikap tersebut pantas untuk kita teladani dalam menghadapi perkembangan Aceh ke depan yang secara khusus melaksanakan syariat Islam dan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi

Sumber :
Waryanti Sri dkk, Biografi Sejarah Perjuangan, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh 2002

Keterangan Dalam tulisan ini nama tempat dan nama-nama orang telah disesuaikan dengan EYD

Jayakatwang

Oleh : Tim Wacana Nusantara

Jayakatwang adalah bupati Gelang-Gelang yang pada tahun 1292 memberontak dan meruntuhkan Kerajaan Singhasari. Ia kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan sampai tahun 1293.

Silsilah Jayakatwang
Jayakatwang juga sering kali disebut dengan nama Jayakatong, Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha-ji-ka-tang.

Nagarakretagama dan Kidung Harsawijaya menyebutkan Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri. Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya. Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singhasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Mungkin Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana). Prasasti itu juga menyebutkan nama istri Jayakatwang adalah Turukbali putri Seminingrat. Dari prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang menjadi menantu Kertanagara. Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

Negeri yang Dipimpin Jayakatwang
Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singhasari. Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang. Setelah Singhasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.

Sempat muncul pendapat bahwa Gelang-Gelang merupakan nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung (1255). Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas kalau Gelang-Gelang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda. Prasasti itu menyebutkan kalau saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja (raja muda), sedangkan Gelang-Gelang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang. Lagi pula lokasi Kadiri berada di daerah Kediri, sedangkan Gelang-Gelang ada di daerah Madiun. Kedua kota tersebut terpaut jarak puluhan kilometer.

Pemberontakan Jayakatwang
Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singhasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya, berisi anjuran supaya Jayakatwang segera memberontak karena saat itu Singhasari sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa. Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara.

Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singhasari dari utara. Mendengar hal itu, Kertanagara segera mengirim pasukan untuk menghadapi yang dipimpin oleh menantunya, bernama Raden Wijaya. Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong.

Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singhasari dari arah selatan dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang. Dalam serangan tak terduga ini, Kertanagara tewas di dalam istananya.

Menurut prasasti Kudadu, Ardharaja putra Jayakatwang yang tinggal di Singhasari bersama istrinya, ikut serta dalam pasukan Raden Wijaya. Tentu saja ia berada dlam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singhasari, Ardaraja berbalik meninggalkan Raden Wijaya dan memilih bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

Kekalahan Jayakatwang
Peristiwa kehancuran Singhasari terjadi tahun 1292. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Kadiri sebagai pusat pemerintahannya. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi Hutan Tarik untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

Sesungguhnya Aria Wiraraja telah berbalik melawan Jayakatwang. Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali takhta peninggalan mertuanya. Pada tahun 1293 pasukan Mongol datang untuk menghukum Kertanagara yang telah berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanagara bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang. Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.

Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Jayakatwang meninggal dunia di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.

Menurut kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Ia meninggal di dalam tahanan.

Kepustakaan
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan(terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS.
Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Sumber : http://www.wacananusantara.org/5/448/jayakatwang

Ike Mese

Oleh : Tim Wacana Nusantara

ke Mese atau Yikomusu adalah nama komandan pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan untuk menaklukkan Kertanagara raja Singhasari (1268-1292).

Latar Belakang
Pada perempat akhir abad ke-13, Kertanagara raja Singhasari terlibat persaingan melawan Kubilai Khan kaisar Mongol dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Pada tahun 1289 Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Khi untuk meminta Kertanagara supaya mengakui kekuasaan Kubilai Khan dan mengirim upeti ke Mongol setiap tahunnya. Kertanagara menolak permintaan itu, bahkan ia berani melukai wajah Meng Khi.

Penghinaan terhadap kekuasaan Mongol ini menyebabkan kemarahan Kubilai Khan. Pada tahun 1292 ia mengirim 20.000 orang tentara dipimpin Ike Mese, Kau Hsing, dan Shih Pi untuk menaklukkan Jawa.

Ejaan Cina untuk Nama-Nama Jawa
Kisah serangan Mongol terhadap Jawa tersebut tercantum dalam Catatan Sejarah Dinasti Yuan yang telah diterjemahkan oleh W.P. Groeneveldt, dalam bukunya, Notes on The Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources (1880).
Dalam kronik Cina tersebut, tentu saja nama-nama Jawa tertulis dalam ejaan Cina, antara lain:

• Kertanagara disebut Ka-ta-ma-ka-la
• Raden Wijaya disebut Tu-han-pi-ja-ya
• Jayakatwang disebut Ha-ji-ka-tang
• Gelang-Gelang disebut Ka-lang
• Daha disebut Ta-ha
• Tumapel disebut Tu-ma-pan
• Tuban disebut Tu-ping-suh

Kedatangan Pasukan Mongol
Pasukan Mongol mendarat di Jawa tanggal 1 Maret 1293. Ike Mese mendengar kalau Kertanagara telah tewas dan memiliki ahli waris bernama Raden Wijaya. Ia pun mengirim utusan menemui Raden Wijaya yang berkampung di Majapahit.

Raden Wijaya bersedia menyerah dan tunduk kepada Mongol asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang raja Kadiri. Ike Mese kemudian diundang ke desa Majapahit untuk dimintai bantuan mengusir pasukan Kadiri yang datang menyerang. Tentara Kadiri menyerang Majapahit dari tiga jurusan. Namun semuanya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mongol.

Penyerangan ke Kadiri
Pasukan Mongol dan Majapahit ganti menyerang ibu kota Kadiri dari berbagai arah. Ike Mese menyerang dari timur, Kau Hsing dari barat, Shih Pi menyusuri sungai, sedangkan pasukan Raden Wijaya sebagai barisan belakang.

Perang meletus tanggal 20 Maret 1293 pagi. Kota Daha digempur tiga kali meskipun sudah dijaga 100.000 orang prajurit. Lebih dari 5.000 orang mati terbunuh. Jayakatwang akhirnya menyerah pada sore harinya, dan ditawan di atas kapal Mongol.

Pengusiran Pasukan Mongol
Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya mohon diri kembali ke Majapahit. Ike Mese dan Shih Pi mengizinkan, bahkan memberikan 200 orang tentara Mongol sebagai pengawal. Kau Hsing curiga namun tidak kuasa menentang keputusan komandan.

Pada tanggal 19 April 1293 Raden Wijaya ganti menyerang pihak Mongol. Tentara Mongol yang berpesta di Daha dan Canggu diserbu. Ike Mese memutuskan mundur setelah kehilangan 3.000 orang tentaranya.

Pasukan Mongol akhirnya meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, dengan membawa pulang lebih dari 100 orang tawanan, peta, daftar penduduk, surat bertulis emas dari Bali, dan barang berharga lainnya yang bernilai sekitar 500.000 tahil perak. Mereka juga sempat menhukum mati Jayakatwang dan putranya, yaitu Ardharaja, di atas kapal.
Setelah sampai di negerinya, Ike Mese dan Shih Pi ganti dihukum mati karena dinilai gagal menjalankan tugas.

Pasukan Mongol dalam Karya Sastra Jawa
Nagarakretagama memberitakan kerja sama Raden Wijaya dan pasukan Mongol secara singkat. Dalam naskah itu, pasukan Mongol disebut sebagai bangsa Tartar. Sementara itu, Pararaton menyebut Mongol sebagai bangsa Tatar. Dikisahkan Arya Wiraraja meminta bantuan raja Tatar supaya membantu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang. Sebagai imbalan, kedua putri Tumapel, yaitu Tribhuwaneswari dan Gayatri ditawarkan sebagai hadiah.

Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton belaka, karena kedatangan pasukan Mongol bukan atas undangan Arya Wiraraja, melainkan karena diperintah oleh Kubilai Khan. Meskipun terkesan licik dan curang, namun Raden Wijaya telah berjasa menyelamatkan tanah Jawa dari penjajahan bangsa Mongol.

Referensi
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

Sumber : http://www.wacananusantara.org/5/52/ike-mese

Suryasim, Pelestari `Urige`

Oleh : Khaerul Anwar

Jangankan bepergian jauh. Mau pergi ke sawah saja Suryasim mengaku harus berpedoman pada urige atau warige. Dan tak hanya Suryasim (70). Umumnya warga Dusun Belencong, Desa Mumbulsari, Kecamatan Bayan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menjadikan urige atau kalender tradisional Lombok ini sebagai pedoman untuk segala aktivitas mereka.

Semua aktivitas yang dimaksud di antaranya adalah memulai kegiatan di sawah, berdagang, menagih utang, mencari barang yang hilang, menentukan acara perkawinan. Juga membangun rumah, kenduri, sehubungan dengan siklus hidup manusia.

Almanak tradisional itu berupa garis empat persegi yang digambar pada sebuah papan kayu. Gambar empat persegi itu dibagi menjadi enam kolom ke kiri-kanan serta lima kolom dari atas ke bawah. Kolom itu berisi simbol titik (naptu) yang jumlah dari satu sampai sembilan, tanda kali (X), namun ada pula kolom yang tidak terisi simbol/kosong (sung). Kolom dari kiri ke kanan berisi jumlah hari dalam seminggu, dibaca dari kanan mulai hari Jumat.

Sedangkan kolom dari atas ke bawah adalah penunjuk waktu. Penentuan baik-buruknya waktu dimulai atau dibaca dari bawah pada kolom penunjuk waktu yang terdiri sung (sepi—tidak terisi simbol), perang bakat (dilambangkan tanda X), kala (satu titik), lampan (mulai kerja, tiga titik) dan rame (ramai, enam titik).

Urige itu dilengkapi gambar penjuru mata angin. Fungsinya, suatu pekerjaan terpaksa harus dilakukan, maka agar pekerjaan tidak sia-sia, dicarikan strategi pelaksanaan melalui penjuru mata angin. Misalnya, memulai langkah pertama dari rumah diawali kaki kiri, atau melewati jalan tertentu yang tidak pernah dilalui orang banyak.

Mata angin itu dibaca berlawanan arah jarum jam dimulai arah kedatangan (barat, timur, dan seterusnya). Perhitungan dengan urige berpedoman pada tahun Hijriah, dan Penanggalan Sasak yang disebut Tahun Baluk seperti Tahun Alif, Ehe, Jimawal, Se, Dal, Be, Wau, dan Jimahir, yang masing-masing memiliki karakteristik iklim.

Tempat Bertanya
Sedikit sekali orang yang bisa membaca dan menerjemahkan simbol-simbol dalam urige itu, Suryasim di antaranya yang dianggap pakar. Lelaki yang tidak pernah sekolah tersebut kini menjadi tempat warga bertanya berbagai hal terkait dengan kehidupan komunal dusun itu, karena hasil "telaah"- nya nyaris tidak pernah meleset.

Suatu saat ada satu keluarga yang punya hajat kenduri perkawinan, namun hampir tidak ada tamu yang menghadiri undangan. Masakan lauk-pauk dan penganan bakal hidangan para tamu pun menjadi basi. Padahal, "Saran saya, acaranya hari ini, pukul sekian. Tapi epen gawe (yang berhajat) keliru mendengar saran saya," ucap suami Narsanom (41).

Kemampuan membaca urige didapat dari orangtuanya, Inarja (almarhum). Simbol-simbol dalam urige dipelajari puluhan tahun, apalagi dalam simbol urige --substansi dan pengamalannya-- ada muatan sistem budaya setempat, selain nilai keislaman, seperti tertulis dalam Kitab Tajul Muluk dan Betaljemur. Pesan dan isi kitab-kitab itu banyak ditulis dalam naskah lontar.

Oleh karenanya, urige selain "dikuasai" para tokoh agama dan sesepuh adat, juga simbol dalam urige berkaitan dengan daur-hidup manusia, hubungan Tuhan dengan manusia, antarmanusia dan makhluk hidup. "Wetu telu memang ada, bukan Islam wektu telu (mengerjakan tiga shalat dari lima yang diwajibkan), melainkan simbol bubur pute‘ (putih), bubur bea‘, dan maulid," Suryasim mengatakan persepsi yang keliru tentang tradisi wetu telu di wilayah Kecamatan Bayan.

Simbol bubur putih, bubur merah, dan maulid (dilambangkan naptu tiga dalam urige), adalah simbolisasi darah dan sperma yang melengkapi kehidupan manusia sebelum kelahirannya (maulid). Naptu empat dalam urige melambangkan asal-muasal manusia dari air, tanah, api, dan angin, dan naptu lima (rukun Islam).

Apa yang terjadi pada tahun 2007? Suryasim melihat urige, konsentrasi sejenak, kemudian mengatakan, tahun ini jatuh pada Tahun Be, hari Jumat, naptu-nya enam (aras kembang). Artinya, curah hujan cukup tinggi namun kurang merata, ada serangan hama pada tanaman dan palawija, meski hasil panen cukup baik.

Meski punya keahlian, namun ayah dari delapan anak (dari dua istri) ini tetap hidup bersahaja. Tinggal di rumah gubuk, menggarap ladang seluas dua hektar, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Keterbatasan akses informasi dan transportasi, itu membuat ilmu urige-nya lestari dan menjadi pedoman warga menjalani kehidupan bertani.

Atas jasanya itu, Suryasim tidak menentukan tarif. "Lamun arak sedekah, tiang terima, lamun ndek arak, tiang ikhlas tulung semeton jari (jika ada sedekah, saya terima, bila tidak ada, saya pun ikhlas membantu saudara-saudara)," ujarnya.

Sumber : Kompas

Soeman HS, Pioner Pengarang Detektif

Oleh : Aulia A Muhammad

1954, Soeman Hs mendirikan SMA Setia Dharma, SLTA pertama di Riau. Dan tak lama sesudah itu, Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan (PKK) Muhammad Yamin datang, berpidato di sekolah itu. Usai Yamin, Soeman pun naik panggung. Suaranya keras ketika berbicara.

"Kita di Riau ini, sebagai anak tiri dari pusat. Di Riau ini, tak ada satu pun SMA negeri. Beda dari Sumatera Utara, Aceh atau daerah lain. Karena itu, kepada Bapak Menteri, kami mohon diberilah SMA Setia Dharma ini guru pemerintah," pintanya.

Yamin naik pitam, dan tak mengatakan apa pun saat turun panggung, dan kembali ke Jakarta. Yamin kemudian mengirim surat ke Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, mengecam Soeman. "Sampaikan kepada Soeman Hs, ia itu pegawai. Nah, istilah anak tiri itu bukanlah ucapan yang pantas ke luar dari mulut pegawai, tapi dari DPR. Beritahu sama dia!" Tapi, meskipun marah, keinginan Soeman terkabul, Yamin membantu pemerintah daerah mendirikan SMA negeri pertama di Riau.

Adapun Soeman Hs, malah kemudian ikut mengajar di SMA negeri itu, karena memang kekurangan guru, dan ia tetap mengajar juga di Setia Dharma, sekaligus sebagai pemilik.

Putra Batak Penghulu Melayu
Soeman Hs atau lengkapnya Soeman Hasibuan lahir tahun 1904 di Bengkalis, Riau. Ayahnya, karena pandai mengaji dinamai Lebai Wahid, berasal dari Kotanopan, Tapanuli selatan, yang karena terlibat pertikaian suku, merantau dan menetap di Bengkalis. Soeman sendiri sengaja menyingkat marganya sebagai penghormatan pada puak Melayu, suku di tempat ia tinggal. "Di sini, marga itu jadi tak penting. Makanya, saya singkat saja, tak seperti AH Nasution, yang justru menyingkat namanya, hahaha...." ucapnya, sebagaimana yang dikutip Tempo.

1912, Soeman masuk SD, dan sejak itu ia punya kebiasaan, ikut nimbrung percakapan ayahnya dengan kaum saudagar, yang menceritakan kehidupan di Singapura. Dari sinilah kelak ia banyak berkhayal, dan melahirkan beberapa cerita. Inspirasi lain adalah kebiasaannya membaca buku. Soeman kecil terbiasa berlama-lama di perpustakaan Belanda. Dua buku yang dia minati adalah Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya M Kasim.

"Karena membaca Teman Duduk, saya kemudian menulis Kawan Bergelut," ingatnya.
Setelah taman sekolah guru, ia mengikuti ujian calon guru. Ia lulus dan dikirim ke Medan, ke Normaal Kursus, selama dua tahun, dan kemudian dikirim Pemerintahan Belanda ke Langsa Aceh, sekolah di Normaal School.

1923, ia diangkat menjadi guru bahasa Indonesia di Siak Indrapura. Tujuh tahun kemudian, datang seorang guru dari Jawa, dan memperdengarkan lagu Indonesia Raya di Siak. Soeman Hs sangat suka, dan semangat nasionalismenya bangkit. Kemudian, dengan berpindah-pindah, setiap malam mereka mengadakan pertemuan. Tapi, Belanda rupanya mengendus. Soeman Hs pun "dibuang" ke Pasirpangaraian.

"Jarak dari Siak ke Pasirpangaraian 10 hari perjalanan. Itu memang daerah buangan bagi guru yang membangkang," kenangnya.

Di Pasirpangaraian, ia melihat bagaimana adat Melayu masih begitu "merendahkan" perempuan. Maka, hasrat membela pun ia tumpahkan lewat karya, Kasih Tak Terlarai dan Mencari Pencuri Anak Perawan. Corak yang dibawa Soeman Hs adalah gaya baru, cerita dekektif. Tak heran, karyanya menjadi amat disukai.

1961, 7 tahun setelah mendirikan SMA Setia Dharma, Soeman mendirikan Universitas pertama di Riau, Iniversitas Islam Riau (UIR). Dan, berselang sepekan kemudian, pemerintah Riau pun mendirikan Universitas Riau. Sebelumnya, Soeman juga sudah mendirikan SMP Islam, SD Islam, SMA Islam, sampai TK Islam.

"Saya kira, saat itu Yayasan Pendidikan Islam, adalah yayasan yang paling maju se-Indonesia," kenangnya, bangga. Soeman Hs adalah orang yang percaya pada takdir. Dari pengalaman hidupnya, ia tahu, nasib seseorang memang sudah digariskan. Karena itu, ia terbiasa menerima apa adanya, tak pernah ngoyo. Waktu tuanya dia isi dengan lebih banyak berkeliling dengan kereta angin, membaca, mengunjungi Universitas Islam Riau dan Rumah sakit milik Yayasan, dan mengaji.

"Bagaimana saya tak percaya dengan takdir? Pernah suatu hari, saya ingin naik haji. Tapi saya sadar, uang tak punya, bagaimana mau pergi? Nah, entah kenapa, tiba-tiba saya dipanggil Gubernur Arifin Achmad, dan mengatakan akan membelanjakan uang negara untuk membiayai saya naik haji."

Lima tahun terakhir sebelum meninggal, 1998, hidup Soeman dihabiskannya dengan berjalan kaki setiap pagi, dan menjadi "juru terang" adat. Soeman mengakui, ia acap didatangi orang-orang untuk menjelaskan adat perkawinan.
"Kelihatannya memang sepele. Tapi, tetap saja perkawinan tak boleh menyimpang dari adat," katanya.

Selebihnya, ia menularkan kiat-kiat menulis. Menjelaskan kenapa memakai nama asing dalam tiap novelnya, dan mengapa selalu bercorak detektif.

"Roman saya selalu mendobrak adat yang kaku. Nah, untuk menggambarkan itu, sengaja saya pilih tokoh orang asing, yang lebih diterima jika memberontah adat. Itu hanya strategi kepengarangan, biar cerita kita diterima. Selain itu, secara judul pun, karya sudah harus menarik. Contohnya, Percobaan Setia. Menarik, kan Masa setia kok dicoba," jelasnya.

Namun, di ujung hidupnya, ada satu hal yang agak disesali Soeman Hs, romannya tak lagi dicetak, dan banyak orang yang tak lagi tahu bukunya.

"Padahal, dibandingkan novel-novel sekarang, secara bahasa, karya saya masih bisa dipersandingkan..." ucapnya, masgul. Tapi, sejarah memang telah mencatat namanya, sebagai pionir pengarang roman detektif Indonesia.

Aulia A Muhammad (http://auliamuhammad.blogspot.com/)

Sumber : http://layar.suaramerdeka.com

Rio Kasim, Kesetiaan pada Adat

Oleh : Irma Tambunan

Sudah 60 tahun Rio Kasim (81) memangku adat. Selama itu pula, pranata sosial dalam masyarakat keturunan Melayu Kuno di wilayahnya tetap kuat, bahkan pada saat semakin banyak pendatang menetap di sana.

Rio Kasim sudah tidak ingat lagi dirinya sebagai keturunan ke berapa dari kaum pemimpin adat. Yang pasti, tugas menjaga hukum adat adalah warisan dari kakeknya, yang juga pernah menjadi pemangku adat sebelum dirinya.

Dulu, tugas ini lebih ringan, karena wilayah kontrolnya lebih kecil, dan masyarakatnya lebih teratur, tidak macam- macam alias kompleks seperti sekarang. Persoalan yang terjadi pun cenderung lebih sederhana.

Di masa perang antarkerajaan pada zaman Sriwijaya, masyarakat leluhur Rio Kasim pernah tercerai-berai. Mereka harus eksodus ke desa lain demi menyelamatkan diri dari serangan dari luar.

Dari desa mereka semula, yaitu di Kuto Rayo, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, saat itu masih sebanyak 60 keluarga yang tinggal. Mereka kemudian berpindah dan berpencar ke lima desa yang dianggap aman. Sebanyak 19 keluarga merantau ke Desa Rantau Panjang, 14 keluarga di Desa Seling, 9 keluarga ke Desa Kapuk, 13 keluarga ke Desa Pulau Aro, dan 5 keluarga ke Desa Muara Jernih. Kebetulan, kelima desa ini sama-sama masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tabir.

Selain membangun rumah bersama-sama, para leluhur Rio Kasim juga membentuk hukum adat. Hukum inilah yang tetap berlaku hingga sekarang, meski warganya telah terpencar-pencar. Selama itu juga hukum adat dan hukum modern berlaku padu dalam kehidupan masyarakat setempat. "Jika ada warga yang melanggar aturan, sanksi dari hukum adat akan lebih dulu ia jalankan," tuturnya.

Bisa dibayangkan, ketika pergaulan bebas sudah menjadi lazim di kalangan remaja perkotaan, tetapi bagi remaja-remaja keturunan eksodan Kuto Rayo ini kesopanan dan etika bergaul merupakan hal prinsip dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, Rio Kasim masih menerapkan aturan bagi pemuda yang hendak bertandang ke rumah kekasihnya; hanya diperbolehkan masuk jika ada orangtua atau saudara sang gadis di sana.

Dengan demikian, sang gadis akan lebih dijaga. Bujang, demikian panggilan untuk pemuda melayu yang belum menikah, hanya boleh duduk dekat pintu masuk, tidak dapat lebih ke dalam lagi, atau lebih dekat ke tempat kekasihnya duduk. Ini dimaksudkan untuk menghindari pelanggaran susila.

Etika dan hukum adat itu juga ia berlakukan kepada keenam anaknya; Bakar, Jainam, Hassan, Rapiah, Sapiah dan Kamel, misalnya ketika mereka tengah bertandang ke rumah kekasihnya.

Selama menjadi pemangku adat, Rio Kasim yang hanya tamat sekolah rakyat (SR, sekarang SD), membagi hukum jadi dua, perdata adat dan pidana adat. Perdata adat berlaku apabila ada kasus-kasus sengketa atau perselisihan antara dua pihak. Di sini, ia tidak menerapkan hukuman, tetapi membuat penyelesaian masalah secara adil dan perbaikan hubungan antara dua belah pihak.

Pidana adat ia berlakukan apabila terjadi kasus pelanggaran susila, pemerkosaan, pembunuhan, penipuan, atau pencurian. Di sini, kain dan ternak merupakan alat pembayaran atas hukuman adat. Sedangkan yang terberat adalah dibuang dari desa. Namun, ini sangat jarang terjadi.
Ia mengutarakan, sebanyak 20 pasal secara tersirat merupakan hukum adat Melayu Kuno yang berlaku bagi masyarakat di lima desa tersebut. Ini bahkan berlaku pula bagi para pendatang di sana.

Penegakan aturan pada setiap pasal terbagi-bagi lagi menurut berat dan tidaknya kasus. Dari 20 pasal itu, empat pasal dinyatakan sebagai yang sangat berat dan empat pasal berat. Sebanyak 12 pasal lainnya terbilang ringan.

Empat pasal terberat adalah mengenai perzinaan dan pembunuhan, yaitu tikam bumi (berzina dengan saudara sendiri), nyerak telur (bapak berzina dengan anaknya), mandi pancuran gading (perzinaan oleh sesepuh adat), dan tikam bunuh (sengaja membunuh orang).

Sedangkan yang dinyatakan berat, seperti menutuh kepayang mudo (perbuatan zina terhadap anak di bawah umur), menyunting bunga setangkai yang bertampuk emas bergagang swasa (berzina dengan istri orang). Ada lagisiur baka (membakar rumah orang), dan samun sakai (melakukan pengeroyokan).

Delapan pelanggaran tersebut mendapat hukuman sangat berat. Misalnya, berbuat zina mendapat hukuman membayar berupa seekor kerbau dan 40 gulungan (satu gulung 40-an meter) kain mori. Ini terbilang sangat mahal, sehingga orang akan berpikir beribu kali kalau sampai berbuat zina.

Bahkan, anak-anak muda punakan berpikir panjang juga untuk berjalan bersama seorang gadis, apalagi sambil bergandengan tangan, karena akan mendapat sanksi membayar seekor kambing dan 20 gulungan kain.

Tidak Diubah
Sejak dulu sampai sekarang, tak sedikit pun aturan dan hukuman diubah, atau diperingan mengikuti perkembangan zaman. "Hukum adat tidak berubah. Masyarakat di sini boleh mematuhi hukum modern, namun adat tetap dipatuhi," ujar Rio Kasim menegaskan.

Terbukti, selama ia menjaga hukum adat, sangat jarang terjadi pelanggaran, seperti pemerkosaan, atau pembunuhan. Hanya dalam lima tahun terakhir saja persoalan sengketa tanah mulai tampak. Ini karena banyak tanah belum bersertifikat.

Sesungguhnya dalam pemberlakuan hukum adat, Rio Kasim berusaha menekankan satu model hidup bermasyarakat yang menjunjung etika dan kesopansantunan. Dalam penerapan hukuman, ia juga masih memasukkan nilai-nilai kebersamaan.

Ketika seorang yang melakukan kesalahan, atau menyakiti warga lain, pembayaran sanksi akan disampaikan ke rumah si korban. Di situ, pelaku yang dinyatakan salah menyampaikan permintaan maaf dan memberi kain serta kambing atau kerbau. Maka, perbaikan hubungan kembali berlangsung, ditandai makan bersama kedua pihak.

Selama menjaga hukum adat, suami Samsiyah (alm) ini menerima bagian satu gulung kain untuk tiap kasus. Namun, gulungan kain itu tidak menumpuk di rumahnya. "Kain-kain ini bukan untuk saya, namun untuk orang- orang yang membutuhkan dan untuk sosial," tuturnya.

Sumber: Kompas

Ngimbai, Pembawa Tari Rimba

Oleh : Irma Tambunan

Sebuah kehormatan bisa menyaksikan pergelaran tari rimba, seperti pengalaman Kompas. Pasalnya, tarian tersebut tak boleh ditampilkan di depan penonton yang bukan kalangan Suku Anak Dalam yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas atau TNBD Jambi. Namun, malam itu, Ngimbai perempuan penari rimba membawakannya untuk kami, dengan ketulusan, dan kenangan akan masa lalu.

Ia tak tahu kapan persis tanggal lahirnya. Dia cuma yakin usianya telah melampaui 70 tahun. Dengan khusuk ia membawakan tariannya. Setiap gerakan diiringi nyanyi-nyanyian berbahasa rimba yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh pihak luar.

Dengan tubuh yang sangat kurus dan menyusut, ia tetap lincah menggerakkan secara dinamis kedua kaki, pinggang, tangan, sampai kepala. Lanjut umurnya tak mampu mengekang gelora hidupnya. Dan, gelora itu tersirat jelas saat ia membawakan seluruh rangkaian tari. Mulai dari tari layang, tari elang, dan tari tao yang biasa dibawakan mengiringi prosesi ritual pernikahan, serta tari-tarian dalam upacara besale (pengobatan bagi orang sakit).

Apa emak tidak takut kena masalah karena membawakan tarian untuk orang luar suku? "Tidak," ujarnya. "Saya sudah memutuskan keluar dari rimba, 12 tahun yang lalu. Tarian tadi bukan saya bawakan untuk ritual adat."

Selama itu pula perempuan yang menjadi istri seorang tumenggung di salah satu kelompok yang bernaung pada Suku Anak Dalam (SAD) ini, tak pernah menari lagi. Bisa dibilang, inilah untuk pertama kalinya setelah 12 tahun Ngimbai melepas kerinduan menarinya.

Dulu, selama dalam rimba, dirinyalah yang kerap memimpin tari-tarian, khususnya pada upacara menyambut bayi yang baru lahir. Kesempatan itu diperoleh karena dirinya berasal dari keluarga terpandang di kelompoknya.

Kemudian dengan alasan perut, Ngimbai bersama suaminya, Tumenggung Renguak, memutuskan keluar dari rimba. Mereka membawa empat dari lima anaknya. Sementara satu anaknya sampai kini masih tinggal dalam rimba.

Menurut dia, dulu mereka dapat menggantungkan kelangsungan hidup dari alam, yaitu dari hewan-hewan hasil buruan, atau buah-buahan. Hutan di TNBD saat itu masih menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga suku pedalaman ini.

Namun, seiring maraknya penebangan pohon dalam taman nasional, ketidakseimbangan ekosistem telah mengakibatkan hewan-hewan buruan makin menghilang. Stok makanan semakin menipis. Dalam keadaan terjepit, keluarga Ngimbai, termasuk sejumlah keluarga lain suku SAD, memutuskan mengadu nasib keluar dari rimba.

Nasib baiklah yang membuat Ngimbai dan keluarganya kini telah memiliki rumah dari kayu, di Desa Sungai Keruh, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Salah satu lembaga swadaya masyarakat melakukan pendekatan agama dan pemberdayaan.

Ngimbai akhirnya memeluk agama Islam. Namanya berganti menjadi Umi Kalsum. Meski begitu, perempuan ini masih kerap dipanggil Ngimbai, atau emak sebagai sebutan untuk perempuan yang berusia tua.

Diajari Nenek Moyang
Usai menari malam itu, ia bercerita tentang pengalaman pertama kali diajari menari oleh nenek moyang, yaitu pada sekitar usia delapan tahun. Menjadi kebiasaan warga SAD untuk menari dan menyanyi bersama di tengah-tengah hutan, pada momen-momen tertentu. Pada perempuan yang telah menikah, kain hanya membalut tubuh bagian bawah, sedangkan bagian dada terbuka begitu saja.

Pada tari elang, Ngimbai mengartikan kalimat-kalimat berbahasa rimba yang ia nyanyikan, sebagai rangkaian pantun berbalas. Untuk tari memandikan anak yang baru lahir, nyanyian akan berupa mantra-mantra yang dimaksudkan doa supaya si bayi akan tumbuh menjadi anak yang baik kepada orangtuanya dan diterima di masyarakat. "Ada satu orang yang memimpin nyanyian, lainnya semua ramai-ramai menari," tuturnya.

Maka, akan menjadi riuhlah hutan oleh tarian-tarian itu. Malah pada tari tao, tak hanya nyanyian dan tarian, kemeriahan itu ditambah dengan tepuk-tepuk tangan mereka.

Menjadi Seni
Ngimbai sadar betul. Di dalam hutan rimba, tari-tarian ini menjadi ekspresi puji-pujian mereka kepada alam. Masyarakat SAD dalam hutan rimba di TNBD memang masih menganut animisme. Tarian dianggap sakral dan dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk melanggengkan penyampaian rasa syukur dan doa-doa.

Namun, bagi Ngimbai, ketika dirinya tak lagi menjadi warga rimba, maka tarian ini lebih dianggap sebagai ekspresi jiwa. Perempuan yang belum bisa membaca dan menulis ini mengatakan, tarian rimba yang dibawakan di luar rimba hanya menjadi sebuah karya seni.

Ia sendiri tidak lagi menari dengan selembar kain, dengan dada terbuka. Ngimbai sudah menggunakan jilbab sehingga tarian dibawakan dengan kain. Ia pun memanfaatkan selendang.

Di kalangan warga SAD yang telah keluar dari rimba, keterampilan menari ini tak lagi dimiliki. Di desa itu, tinggal Ngimbai yang masih fasih dengan nyanyi-nyanyian, lengkap dengan tariannya.

Sumber : Kompas

Meneladani Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani

Saya melangkah masuk dan tertegun melihat makam berpagar besi ukir, bertutup kain hijau. Di sini berkubur pada usia 73, seorang ilmuwan, sufi, pengarang, dan komandan pertempuran abad ke-17, sesudah 16 tahun menjalani pembuangan. Kampung halamannya terletak di seberang dua samudra, berjarak 12 ribu kilometer jauhnya. Saya tertunduk dan menggumamkan Al Fatihah untuk pejuang besar ini. Beliaulah Syekh Yusuf al-Makassari al-Bantani.

Demikianlah kata-kata indah Taufiq Ismail terukir indah di buku bertajuk Syekh Yusuf, seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang yang ditulis oleh Abu Hamid. Ia mengguratkan catatan usai mengunjungi sebuah bukit di kawasan Faure, Desa Macassar, Afrika Selatan, di musim gugur Bulan April 1993.

Suasana yang nyaris hampir sama, Republika temui pada 28 September 2005 lalu, saat Wapres M Jusuf Kalla beserta rombongan berkesempatan mengunjungi kompleks makam tersebut. Pada kesempatan itu, Wapres meresmikan Masjid Nurul Latief yang berjarak sekitar 200 meter di depan kompleks makam. Macassar Faure terletak sekitar 20 kilometer dari Cape Town.

Tidak hanya di Cape Town, makam Syekh Yusuf juga ada di Gowa, Banten, serta Kaap, Srilanka. Masih menjadi pertanyaan besar, di mana sesungguhnya jenazah Syekh Yusuf dimakamkan. Di masing-masing makam tersebut, masyarakat sekitar sangat meyakini jenazah Syekh Yusuf berada di makam setempat.

Awal bulan ini, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, kepada tiga ahli warisnya. Dua di antaranya adalah Andi Makmun, keturunan kesembilan Syekh Yusuf dan Syachib Sulton, keturunan kesepuluh.

Penyerahan penghargaan sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan itu disaksikan langsung oleh Wapres M Jusuf Kalla di Union Building, Pretoria, Afrika Selatan.

Syekh Yusuf dilahirkan di Makassar dengan nama kecil Muhammad Yusuf pada tahun 1626 Masehi dalam Kerajaan Gowa. Ada dua versi nama ayah Syekh Yusuf. yaitu Abdullah, versi Hamka. Sementara berdasarkan Lontarak RTSG versi Tallo, disebutkan ayah Syekh Yusuf adalah Gallarang MoncongloE. Sementara ibunya bernama Aminah.

Seperti diutarakan Abu Hamid, pengarang buku tersebut, sebagai seorang ulama syariat, sufi dan khalifah tarikat dan seorang musuh besar Kompeni Belanda, Syekh Yusuf dianggap sebagai `duri dalam daging` oleh pemerintah Kompeni di Hindia Timur. Ia diasingkan ke Srilanka, kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan, dan wafat di pengasingan Cape Town (Afrika Selatan) pada tahun 1699. Pada zamannya (abad ke-17), ia dikenal pada empat tempat, yaitu Banten dan Sulawesi Selatan (Indonesia), Srilanka, dan Afrika Selatan yang berjuang mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan kulit.

Murid-murid Syekh Yusuf yang menganut tarekat Khalwatiyah terdapat di Banten, Srilanka, Cape Town, dan beberapa negara di sekitarnya. Mayoritas orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan masih mengamalkan ajarannya sampai sekarang ini.

Putra seorang bangsawan
Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang mendirikan pengajian pada tahun 1640.

Syekh Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di Banten dan sempat belajar pada seorang guru di Banten. Saat ia mengenal ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri, melalui karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya.

Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.

Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.

Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji.

Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.

Melihat jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu seperti itu, disebut dalam lontara versi Gowa berupa ungkapan (dalam bahasa Makassar): tamparang tenaya sandakanna (langit yang tak dapat diduga), langik tenaya birinna (langit yang tak berpinggir), dan kappalak tenaya gulinna (kapal yang tak berkemudi).

Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.

Sumber : http://www.republika.co.id/

Kisah Panglima Awang

Terdapat banyak sejarawan melayu yang menyatakan bahawa seorang melayu, yang dikenali sebagai Panglima Awang, adalah orang pertama yang berjaya mengelilingi dunia. Betul ke cerita ni? Mari aku ulaskan dengan lebih lanjut.

Kita semua tahu dari apa yang tercatat dalam buku2 sejarah, orang yang first sekali keliling dunia ialah Ferdinand Magellan (bukan Luis Figo aa) ataupun dalam rekod tu tulis ekspedisi yang diketuai dia berjaya mengelilingi dunia, sebab si Magellan sendiri yang terbunuh kat Cebu, Filifina dan hanya satu kapal dia yang bernama Victoria (bukan Posh Spice) yang berjaya sampai balik kat Sepanyol pada tahun 1522.

Kita dulu pun belajar kat sekolah, orang Portugis yang bernama Lopez de Sequeira (sedapnya nama, ala2 Enrique Iglesias) ialah antara orang putih pertama yang menjejakkan kaki ke Tanah Melaka pada 1509. Orang gelar dia masa tu Benggali Putih (agaknya orang2 kampung pelik kot, hidung mancung ala2 benggali, tapi kulit putih melepak). Agaknya tak tahan kena kutuk kot, telinga panas je, so member dia, Alfonso de Albuquerque (ade orang pronounce "Albukaki", ada "albukerk") pun sampai dengan tentera laut Portugis nak tawan Melaka pada 1511. Acah mak enon, mane ade sebab kena kutuk, sebab nak tawan pelabuhan melaka masa tu, yang dikenali sebagai Emporium Rempah (Adek manis mau bili apa, kari ada, rumpah ada, summa ada). Rempah mase tu ditimbang beratnya sama macam emas. Kalau sekarang macam tu, kaya la Ameer Ali, takde le bankrap.

Tak banyak orang yang tahu bahawa Magellan ni terlibat dalam dua2 operasi tu. Lepas Melaka jatuh ke tangan Portugis (jingkling nona, jingkling nona) , Magellan ni ambik la satu hamba keturunan Melayu yang dia bagi nama "Enrique"(glamer mamat tu, name omputeh). Si Enrique ni la yang jadi penterjemah yang dipercayai Magellan dan dibawanya balik ke Portugal.

Enrique ni merupakan salah seorang anak kapal Magellan dalam ekspedisi magellan ke Pulau Rempah Maluku melalui jalan barat dari Sepanyol. Magellan berkhidmat untuk kerajaan Sepanyol setelah ditolak oleh negaranya sendiri. Christopher Columbus pun dulu pernah terniat nak ikut jalan barat, tapi bila dah tiba kat tanah baru Amerika yang dia jumpa, terus terpesong dah niat dia. Sama macam Columbus jugak, Magellan memandang rendah jarak yang diperlukan untuk sampai ke timur melalui jalan barat. Jauh tu, kena rentas dua lautan, Anlantik dan Pasifik.
Tetapi dengan usaha gigih Magellan ni, beliau berjaya gak merentasi Atlantik, pusing Cape of Horn dan merentasi Pasifik yang belum dikenali lagi pada masa tu, beliau berjaya gak mendarat kat Pulau Mactank at Cebu, Filifina. Enrique ialah orang yang mula2 dapat tahu yang penduduk kat situ boleh faham bahasa dia bahasa Melayu, dan dia fikir mestilah dia ni tak jauh daripada tanah kelahirannya.

Tapi Magellan ni pulak buat hal, dia gaduh dengan raja tempatan dan terjadilah perang antara mereka berdua. Sape menang? Mesti la raja tu ek, sebab awal2 aku dah cerita yang Magellan tu mati kena bunuh kat sini. Ada yang kata Enrique pun mati gak, ada yang kata dia tolong orang kampung bunuh anak2 kapal yang tinggal, sebab mereka tak menepati janji, yang dia akan dibebaskan setelah Magellan mati. Banyak lak ending, Mane satu ni,,pilih la yang mane sedap.

Tapi ramai orang yang percaya, yang Enrique ni berjaya menyelamatkan diri dan balik ke Melaka, naik Air Asia. Eh tak ah, mana la aku tau dia balik camne. Kalau betul maka dialah orang pertama mengelilingi dunia ni (Asal melaka- gi sepanyol-filifina -balik semula). Malangnya pak pandir, takde rekod nak pastikan benda ni. Pulak tu Filifina pun ngaku yang Enrique tu orang Filifina, sebab dia boleh cakap bahasa diorang. Dalam Pigapetta punya catatan (dia ni anak kapal Magellan jugak) menyatakan yang Enrique tu hamba Melaka yang berasal dari Sumatera. Jadi Indonesia, Malaysia da Filifina semua ade bukti yang kukuh nak dakwa Enrique tu kebanggaan diorang.

Nama Panglima Awang tu hanya wujud setelah ianya dijadikan novel oleh Harun Aminurrashid (aku rekemenkan bace buku ni, best, tapi aku baca separuh je, mase tu aku baru darjah berape ntah, tak larat bace buku cerita pepanjang). Filifina pun ade gak cerita pasal dia dengan nama lain. Seingat aku Tun Dr Mahathir pernah cerita pasal ni, tapi dia sebut sebagai "Henry the Black". Nama sebenar Enrique ni (bailamosss) takde sape pun yang tahu dan mungkin tak akan diketahui.

Teladan dari kejatuhan Melaka
Artikel ni aku petik dari tulisan Datuk Adam A Kadir. artikel dia banyak berunsur politik , so aku edit bagi sesuaikan dengan laman web ni. Artikel yang menarik untuk dibaca dan direnung bersama.

Masalah Melayu antaranya ialah yang ada kaitan dengan sejarah.Melayu tidak mempunyai sejarah yang konkrit kerana ia selalu bercampur aduk dengan dongengan dan sikap berharap-harap. Sesiapa yang lupa sejarah akan dilaknatkan dengan berulangnya sejarah, kata yang berwibawa.

Kita tidak tahu dengan jelas, apa yang berlaku di sekitar 1511 apabila Melaka jatuh ke tangan Portugis. Orang yang disalahkan antara lain ialah Raja Mundaliar, kononnya tali barut Portugis. Yang diwirakan ialah `Panglima Awang`, menurut imaginasi pengarang Harun Aminurrashid. Mungkin kalau dipastikan dengan jelas kesilapan dan kelemahan Melayu dan pemerintah Melayu ketika itu, ia boleh dijadikan teladan, dengan itu sejarah buruk itu tidak akan berulang.

Selepas penaklukan itu, Melayu bagaikan sudah padam di semenanjung ini. Timbul tak timbul ialah apabila Belanda mencatat dalam rekodnya bagaimana ia merampas Melaka dari Portugis 130 tahun kemudian. Dua ratus tahun selepas itu pula, British pula mengambil alih. Sejak itulah Melayu menumpang sejarah bertulis yang agak wajar.

Ahli-ahli sejarah kita pula, sudahlah kurang atau tiada menulis buku, mereka lebih cenderung membidas orang lain yang menulis tentang sejarah Melayu. Kononnya, yang ini tidak betul, yang itu terlalu eksentrik Eropah dan sebagainya. Kekurangan tradisi sejarah ini senang difahami. Pertama, Melayu dulu ketiadaan sistem pendidikan massa. Oleh itu penglahiran penulis sejarah adalah sesuatu yang amat sukar. Kedua, akibat dari ketiadaan itu, maka terdapat juga kekosongan khalayak pembaca. Akhirnya kedua-dua sebab ini hambat-menghambat dan hasilnya wujud keadaan yang dipanggil padang pasir sejarah. Kering dan kemarau.

Untuk itu elok juga kalau kita dapat mengingatkan semula kejatuhan Melayu di Melaka dalam tahun 1511. Sejak dulu lagi dunia ini diwarnakan oleh penjajahan. Amalan yang dianuti adalah globalisasi juga. Portugis datang ke dunia sebelah sini bukan semata-mata hendak mencari keuntungan dari perniagaan rempah, tetapi yang pentingnya mereka mengembangkan dasar menghancurkan Islam secara global dan digantikan dengan Kristian Roman Katolik.

Latar belakangnya menunjukkan Turki merupakan kuasa Islam yang sangat kuat dan telah menakluki sebahagian Eropah Timur, Semenanjung Balkan (di mana terletaknya Greece, Romania, Albania dan Yugoslavia kini) dan sebahagian bumi Arab. Sepanyol, sebagai jiran dan pesaing terdekat Portugis, sudah pun menjelajah dan menakluk beberapa tempat di Amerika Utara dan Selatan. Seorang pemuda yang bernama Colon atau Columbus, menurut sebutan Inggeris, sudah pun menjumpai Amerika Utara. Segala itu dilakukan berdasarkan serampang dua mata: menakluk dan mengembangkan Kristian mazhab Katolik.

Oleh itu Portugis mencari jalan lain ke dunia luas. Untuk mengelakkan pertempuran dengan Turki di sekitar Mediterranean dan Sepanyol di seberang Lautan Atlantik, Portugis menghala ke timur. Hasilnya, ia mendapat Goa di India, Melaka dan Macau di China. Portugis sedar akan kekurangannya. Itu sebabnya ia membataskan dirinya ke tempat-tempat itu. Sebelum abad ke-16 berakhir, Portugis sendiri ditakluki Sepanyol. Persoalannya ialah, bagaimana sebuah kuasa kecil Eropah boleh menakluk Melaka. Apa yang terbukti ialah kurangnya pengalaman Melayu dalam strategi hidup di sebuah bandar pelabuhan antarabangsa. Ia begitu terbuka.

Selain dari itu, Melayu juga tidak begitu faham tahap teknologi waktu itu dan tidak membuat sesuatu untuk meningkatkan pengetahuan teknologi ke tahap itu. Lebih dari segalanya, Melayu tidak terasa terancam dari segi keselamatan. Tidak ada bala tentera darat dan laut yang bersenjata canggih yang pernah dihadapi seperti yang dipamerkan oleh Portugis. Apa yang selalu mereka hadapi ialah alat-alat perang yang mengguna tangan, seperti lembing dan keris dan bukan senjata api yang boleh mematikan dari jauh seperti meriam dan senapang laras panjang. Bukan itu saja, teknologi membuat kapal yang berlayar bertingkat-tingkat untuk menjarah lautan luas dan jauh tidak terdapat di tangan Melayu Melaka. Yang ada hanyalah kapal-kapal kecil berlayar yang boleh sampai di pesisiran Sumatera, Jawa, Siam dan China Selatan.

Teknologi membuat tembok pun tidak didapati wujud. Rumah-rumah dibuat daripada buluh, nibung, daun nipah dan rembia. Dalam laporan King Emanuel yang panjang lebar kepada Pope dalam tahun 1513, beliau menyatakan 25,000 buah rumah di Melaka telah dimusnahkan. Penduduk `Moor` atau orang Islam sama ada dibunuh ataupun melarikan diri, sedangkan Raja Melaka melepaskan diri dengan menunggang gajah. Rampasan-rampasan dari istana dan rumah-rumah menghasilkan 60 tan emas dan 20 peti barang-barang kemas, selain dari rempah ratus.Portugis membina kota kebal dengan tembok setebal 15 kaki di atas tapak-tapak masjid yang diranapkan. Emanuel melahirkan kekagumannya kerana seorang panglima lautnya bernama Alfonso de Albuquerque mampu merampas `Aurea Chersonesus` atau Semenanjung Emas, seperti mana digelar untuk Melaka. Gelaran itu diberikan oleh Ptolemy, seorang astronomer dan pakar matematik dari Iskandariah, Mesir.

Apa yang tidak disebutkan oleh Raja Portugis dalam laporannya itu ialah segala emas dan intan berlian yang dirampas itu tenggelam bersama kapal utama Portugis, Mar de Flores, di Selat Melaka.Berapakah nilai emas dan intan berlian itu? Jawapan kepada soalan ini boleh memberikan asas untuk kita menentukan sama ada Melayu Melaka kaya atau sebaliknya pada zaman itu. Menurut harga pasaran dunia sekarang, satu auns emas bernilai 280 dolar. Oleh itu satu tan, nilainya 7.5 juta dolar. Maka 60 tan, nilainya ialah 450 juta dolar, sama juga RM1,710 juta atau RM1.7 bilion.Bagaimana pula nilai barang-barang kemas sebanyak 20 peti? Katalah RM100 juta. Jadi jumlah nilai semua sekali ialah RM1.8 bilion.

Penduduk Melaka dianggarkan 125,000 orang menurut kadar lima orang dalam sebuah rumah. Maka nilai per kapita Melaka ialah RM14,400. Ini bererti nilai rakyat Melaka waktu itu lebih tinggi daripada nilai orang Melayu hari ini. Kalau ada ilmu dan teknologi, kerajaan Melayu Melaka boleh membina tembok batu lapan kaki tinggi, tiga kaki tebal, empat kilometer panjang, dua kilometer lebar dengan harga 40 juta ringgit, dan semua penduduk Melaka tinggal di dalamnya. Masih lagi ada baki 1.76 bilion ringgit.Bayangkan berapa buah kapal layar bertingkat boleh didapati, berapa banyak meriam dan senapang panjang boleh dibeli, dan berapa ramai pula askar darat dan angkatan laut boleh dikerahkan. Tetapi semuanya itu tidak berlaku.

Kekayaan Melayu Melaka hanya dibekukan dalam istana dan untuk perhiasan diri dan rumah. Pemerintah hanya bijak menghukum rakyat sendiri, tetapi terlalu bebal untuk menyiapkan diri dari segi strategi pertahanan. Kebebalan inilah yang menggalakkan Portugis membuat penaklukan dengan hanya beberapa buah kapal.Dari gambaran Melaka itu, bolehlah dibuat kesimpulan bahawa kekayaan tidak menjamin keutuhan Melayu. Sebaliknya apa yang menjadi jaminan ialah pemikiran strategik.

Pemikiran begini harus menjadi pulur dalam semua tindakan Melayu demi keharmonian dan kestabilan negara ini. Bukan saja dalam hal perpaduan, malahan dalam pengagihan peluang dalam semua bidang.Dan kiranya pemikiran strategik wujud dalam diri pemimpin-pemimpin Melaka 500 tahun dulu, tentunya perjalanan sejarah amat berlainan sekali. Justeru kelaknatan berulangnya sejarah bukan menjadi satu ancaman.

Sumber : http://budakjohor.tripod.com/id10.html

Kesaktian Sang Kaki More

Oleh : Samuel Oktora

Setiap kali hendak makan, Kaki More tak mau jika air minumnya air putih. Dia hanya mau makan jika minumannya berupa tuak pilihan. Warga setempat menyebut tuak pilihan atau unggulan itu moke jengi jila, tuak yang jika dibakar akan menyala.

Jadi, tuak unggulan itu seperti spiritus, cairan alkohol yang mudah terbakar. Sebelum makan, Kaki More terlebih dahulu mencium tuak yang disuguhkan. Jika bukan tuak pilihan, dia tak mau menyentuh makanan yang dihidangkan. Demikianlah kebiasaan Kaki More.

Siang itu hawa terasa agak panas, namun langit mendung. Sesekali terdengar kicauan burung kecil yang melintas di atas tempat persemayaman jenazah Kaki More di Dusun Wolondopo. Kampung di lereng bukit dalam wilayah Desa Nuaone, Kecamatan Detusoko, itu jaraknya sekitar 45 kilometer timur Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat itu sejumlah rumah adat yang beratapkan alang-alang dan berdinding kayu lokal di dusun tersebut tampak senyap. Tak satu pun penghuninya terlihat. Rupanya warga, terutama laki-laki, banyak yang sedang pergi ke ladang atau kebun.

Di sudut lain, sejumlah gadis dan ibu muda terlihat menyuapi anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun. Mereka berkumpul sambil mengobrol di depan salah satu rumah dekat bale. Bale merupakan tempat menyimpan jenazah khusus orang-orang ternama atau pembesar yang telah meninggal.

Di bale itulah, rumah mungil berukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter yang beratapkan seng, disemayamkan jenazah Kaki More. Bentuk bale ini bak rumah panggung dengan dinding dan lantai sepenuhnya terbuat dari kayu.

Sang tokoh dahulu adalah seorang mosalaki, tetua adat ternama di dusun tersebut. Jenazah Kaki More disemayamkan dalam bale itu sejak tahun 1953.

Kompas bersama Sekretaris Camat Detusoko, Dionisius Raja, dan staf kecamatan yang total rombongan berjumlah lima orang tiba di dusun yang terletak di kaki Gunung Lepembusu itu akhir Januari lalu. Rombongan dipandu Paulus Modho (72), mosalaki penerus atau cucu dari garis keturunan Kaki More.

Segala urusan adat, terutama yang menyangkut jenazah Kaki More, berada dalam kewenangan Paulus Modho.

Salah seorang penerus Modho, Tobias Seda, yang juga staf Kecamatan Detusoko, turut pula bersama Kompas.

"Sebelum melihat mumi Kaki More, terlebih dahulu harus meminta izin dengan menyajikan sirih pinang, arak, sebungkus rokok, dan juga daging ayam kurban. Sesudah itu, untuk menghormati Kaki More, pengunjung perlu memberikan tanda ucapan terima kasih dengan mengisi tenong (semacam kotak amal yang terbuat dari anyaman daun lontar) secara sukarela. Boleh percaya atau tidak, kalau tak direstui atau bukan jodoh, pengunjung yang datang dan mengambil gambar Kaki More hasilnya rusak. Dulu pernah ada turis dari Jepang yang berkali-kali mencoba memotret, tapi tak berhasil," kata Paulus Modho.

Sebelum masuk ke dalam bale, di rumah adat, Modho mempersiapkan sesaji yang diperlukan. Sebotol tuak turut dibawanya. Laki-laki yang sudah berusia senja itu lebih dahulu masuk ke dalam bale untuk berdoa. Setelah itu, Modho membagikansirih pinang, tuak, dan rokok di dekat peti jenazah.

Di dalam bale terdapat dua peti dan satu kotak yang ukurannya lebih kecil dari peti. Satu peti yang berukuran sekitar 0,5 meter x 1,5 meter berisi jenazah Kaki More. Peti lainnya dengan ukuran serupa berisi tulang-tulang tetua adat yang lain, Wewa Jara. Satu kotak kecil lagi berisi tulang-tulang tetua adat bernama Renge Nunu.

Dibantu tiga warga setempat, Modho menurunkan peti Kaki More yang diletakkan di bagian atas bale. Peti diletakkan di atas topangan papan kayu. Peti Kaki More yang sekarang berwarna hijau muda dengan ukiran khas adat itu merupakan peti pelapis atau penguat karena peti lama yang terbuat dari kayu pohon kemiri sudah keropos. Jenazah dalam peti kayu kemiri tersebut langsung dilapis atau dimasukkan ke dalam peti baru dari bahan lokal, kayu oja.

Bagian penutup peti tak semuanya terbuat dari kayu. Sebagian diberi kaca sehingga jenazah Kaki More, dari bagian dada hingga kepala, bisa dilihat dari luar. Jenazah Kaki More tampak mengenakan destar, dengan badan ditutup kain tenun ikat panjang. Selain itu, ada selempang yang terbuat dari kain tenun ikat.

Jenazah Kaki More yang sudah dalam bentuk mumi itu masih terbungkus kulit meski sudah mengering dan susut dengan kulit berwarna coklat tua. Boleh dibilang kulit masih utuh.

Bagian hidung mumi Kaki More tampak berongga. Konon hal itu akibat digigit tikus, tak lama setelah ia disemayamkan.

Jenazah Kaki More dalam posisi berbaring miring atau kepala menghadap ke samping peti. Kedua kakinya menekuk ke atas dan kedua tangan bertumpu di dada.

Tak Diberi Pengawet
Menurut Modho, mumi Kaki More tak pernah diberi obat atau bahan pengawet. Bahkan sejak awal pihak keluarga tak ada niat untuk mengawetkan jenazah Kaki More.

Dari catatan keluarga yang dibuat Modho, diperkirakan Kaki More dilahirkan pada tahun 1868. Kaki More yang dulu menjabat sebagai hakim adat di Wolondopo wafat pada tahun 1948 atau saat berusia 80 tahun. Dengan demikian, usia mumi Kaki More tahun ini 59 tahun. Pihak keluarga dan masyarakat setempat di kampung tua itu meyakini, melihat kondisi muminya itu, Kaki More merupakan sosok yang semasa hidupnya amat jujur, pemberani, dan sakti.

"Kami tak menguburkan jenazahnya karena permintaan Kaki More sendiri bahwa jika meninggal jenazahnya jangan dikubur dalam tanah. Hingga keajaiban terjadi pada tahun 1953 dan diperkuat lagi pada tahun 1973 yang membuat kami semakin yakin bahwa amanat terakhir Kaki More harus dijalankan," ungkap Modho, laki-laki pensiunan pegawai negeri sipil yang terakhir sebagai Kepala SD Katolik Wolondopo II itu.

Ia menambahkan, pada tahun 1953 terjadi angin kencang yang menimbulkan kerusakan berat di Dusun Wolondopo. Ketika itu, peti Kaki More diletakkan di ujung kampung di dekat pohon beringin bersama peti kepala kampung, Pani Gebo.

Pohon beringin tersebut tumbang diterpa angin dan menimpa kedua peti itu hingga hancur berantakan. Akan tetapi, jenazah Kaki More yang sudah tanpa busana ternyata ditemukan masih dalam keadaan utuh. Jasadnya tergeletak di atas pohon beringin yang tumbang. Sejak saat itu jenazah Kaki More diletakkan dalam peti yang disimpan di bale.

Pada tahun 1973, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, H Kanalebe, meninjau Dusun Wolondopo untuk melihat secara langsung jenazah Kaki More. Saat itu santer terdengar desas-desus ada mumi di Wolondopo. "Begitu peti dibuka, kami sendiri tak menyangka jenazah Kaki More masih utuh. Sejak saat itu informasi keberadaan mumi Kaki More makin meluas. Begitu pula ketika terjadi gempa di Flores tahun 1992. Banyak bangunan rusak, termasuk dua tiang penyangga bale roboh, tetapi jenazah Kaki More 85 persen utuh. Tak ada kerusakan berarti. Hanya sendi pada lutut mengalami retak," ujar Modho.

Melawan penjajah Belanda
Semasa hidupnya, Kaki More menjabat sebagai mosalaki yang mengemban tanggung jawab untuk urusan ke luar maupun ke dalam Dusun Wolondopo, serta dusun tetangga di Wolojita. Selain itu, Kaki More juga berjuang melawan penjajah Belanda.

Kaki More memegang peran penting dalam melawan Belanda, yaitu sebagai intelijen untuk Mari Longa, yakni pahlawan kemerdekaan dari Desa Watunggere, kawasan Lio Utara, Ende.

Dalam buku berjudul Sejarah Kota Ende (2006) terbitan Pustaka Larasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende disebutkan, perlawanan Mari Longa terhadap pasukan Belanda berlangsung tahun 1893-1907. Mari Longa gugur di medan pertempuran yang terjadi di Benteng Watunggere tahun 1907, setelah terkena pukulan popor senjata Letnan Jeffry.

Namun, Belanda yang mulai masuk ke Ende sekitar tahun 1864 sering kesulitan menembus benteng pertahanan Mari Longa karena peran Kaki More.

Kaki More bersama Mari Longa disebutkan tak mau tunduk dan membayar pajak kepada Belanda. Keduanya juga begitu gigih mempertahankan kedaulatan adat istiadat yang sudah diwariskan berabad-abad.

"Hingga suatu saat Belanda mencoba menyuap Kaki More dengan memberikan iming-iming uang logam penuh sekaleng besar. Belanda meminta Kaki More tak bekerja lagi untuk Mari Longa. Belanda juga meminta Kaki More membuat jalan tembus dari Ekoleta menuju benteng pertahanan Mari Longa di Kecamatan Detukeli. Tapi, keinginan Belanda itu ditolak. Belanda marah besar dan mencoba membakar rambut, kumis, dan bulu mata Kaki More dengan menggunakan kayu api. Tapi, anehnya Kaki More tak terbakar, malah dia melawan dan mengusir Belanda," ujar Modho.

Sumber : Kompas

Biografi Ir. H. Aburizal Bakrie


Nama : Ir. H. Aburizal Bakrie
Lahir : Jakarta, 15 November 1946
Agama: Islam
Profesi:Pengusaha, Politisi, Pejabat

Jabatan:
- Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat KIB 2005-2009
- Menteri Koordinator Perekonomian KIB 2004-2005

Isteri: Taty Murnitriati
Anak: Tiga orang
Ayah: Achmad Bakrie

Pendidikan:
- SD, SLTP, dan SMA di Jakarta (1958-1967)
- Fakultas Elektro, Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1973

Pekerjaan:
1992 - sekarang : Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
1989 – 1992 : Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation
1988 – 1992 : Direktur Utama PT Bakrie & Brothers
1982 – 1988 : Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers
1974 –1982 : Direktur PT. Bakrie & Brothers
1972 – 1974 : Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers

Alamat Rumah:
Jl. Ki Mangunsarkoro No.42, Menteng
Jakarta - 10310

Terkaya Se-Asia Tenggara
Pengusaha Aburizal Bakrie semakin kaya. Menko Kesra ini disebut sebagai orang terkaya se Asia Tenggara. Dia pengusaha yang terbilang paling gemilang pada sepuluh tahun reformasi di Indonesia. Selain bisa keluar dari krisis ekonomi yang mengancam perusahaannya Bakrie Grup, malah menduduki posisi penting di pemerintahan dan dalam tempo singkat semakin kaya.

Politisi Partai Golkar ini, sempat menjabat Menteri Koordinator Perekonomian sebelum menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Kabinet Indonesia Bersatu.

Mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (1999-2004) ini memang telah lama dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses, mewarisi kekayaan ayahnya. Tak heran, bila kini, Ical – demikian ia biasa disapa – disebut-sebut sebagai orang terkaya di Indonesia. Bahkan, Globe Asia, majalah ekonomi lokal berbahasa Inggris, menobatkan lelaki kelahiran Jakarta, 15 November 1946 itu sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Kabarnya, kekayaan Ical mencapai 9,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 84,6 triliun.

Melimpah ruahnya kekayaan Ical, tentu tidak dikaitkan karena dirinya sebagai pejabat negara (Menko Kesra). Melainkan, karena ia adalah seorang pengusaha. Walaupun memang, semenjak menjadi menteri, penikmat lagu romantis ini tidak lagi terjun langsung dalam mengelola bisnis-bisnisnya. Tapi, Ical sudah mempersiapkan penggantinya.

“Itu semua sudah ada yang ngurus,” katanya sebagaimana dikutip Indo Pos (8/11/08). Namun, bukankah kapasitasnya sebagai pejabat tinggi negara bisa berpengaruh dalam memuluskan target-target bisnis-bisnisnya? “Saya akan bersikap profesional. Kepentingan negara tetap saya utamakan,” tambah Ical.

Menurut Globe Asia, dengan jumlah kekayaan sebanyak itu, berarti kekayaan mantan anggota MPR RI (1993-1998) ini lebih “wah” dibandingkan dengan harta kekayaan Robert Kuok (orang terkaya di Malaysia - memiliki 7,6 miliar dolar AS), Teng Fong (terkaya di Singapura - memiliki 6,7 miliar dolar AS), Chaleo Yoovidya (terkaya di Thailand - memiliki 3,5 miliar dolar AS), dan Jaime Zobel de Ayala (terkaya di Filipina – memiliki 2 miliar dolar AS).Dari manakah Ical memiliki kekayaan yang melimpah ruah?

Di bawah grup perusahaan Bakrie yang dipimpinnya, Ical mempunyai beragam bidang usaha: pertambangan batubara, perkebunan, minyak, properti, telekomunikasi, dan media massa. Di tahun 2008 ini saja, kabarnya, perusahaannya mendulang keuntungan yang tidak sedikit dari melonjaknya harga energi dan komoditas.

Mantan Presiden of Asean Chamber of Commerce & Industry ini, memang masih menghadapi masalah dengan salah satu perusahaannya (PT Lapindo Brantas) terkait meluapnya lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, hal tersebut tidak membuat bisnis yang dijalankan keluarga Bakrie terhenti. Tampaknya, grup perusahaan Bakrie terlalu tangguh untuk bisa dilumpuhkan hanya dengan semburan lumpur panas. Dengan gagah, grup perusahaan Bakrie tetap melangkah, maju ke depan.

Menurut publisher Globe Asia Tanri Abeng, alumni ITB itu berhasil meraih kekayaan yang melimpah berkat strategi bisnis yang diterapkannya. Dengan kepiawaiannya mengelola aset yang dimiliki perusahaan, termasuk melalui modal pinjaman, Ical mampu membangun usaha demi usaha hingga bisnisnya menggurita.

"Jadi, kalau dia awalnya punya aset 100, dijadikan jaminan untuk meminjam 400. Tapi, hasil dari 400 itu untungnya sangat besar. Itu yang digunakan untuk membayar," ujarnya.


Tanri, mantan manejer satu milyar Bakrie Grup mengakui, dirinya sama sekali tidak merasa heran melihat keberhasilan Ical menjadi orang terkaya di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Pasalnya, mantan Menko Perekonomian itu sangat lihai dalam melihat peluang investasi di Indonesia dan pandai dalam itung-itungan bisnis. "Dia itu pintar sekali itung-itungannya," puji Tanri.

Boleh Berbangga
Aburizal Bakrie boleh berbangga dengan penobatan dirinya sebagai orang terkaya di Indonesia dan se-Asia Tenggara. Tapi, yang menjadi kebanggaan itu sejatinya bukanlah semata-mata terletak dari besarnya kekayaan yang dimiliki. Melainkan, lebih kepada prestasi dalam membangun serta memajukan beragam bidang usaha.

Sebab, dengan begitu, berarti ia dan keluarganya telah menunjukan peran yang cukup besar dalam memajukan roda perekonomian nasional, khususnya menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Kalaulah kebanggaan itu hanya karena banyaknya kekayaan yang dimiliki, barangkali, seorang koruptorlah yang paling “pantas” merasakan kebanggaan tersebut. Pasalnya, ia memang hanya memikirkan dirinya. Dia, bagai benalu yang sama sekali tidak memberi manfaat. Malah, menimbulkan mudharat.

Sungguh, tidak ada yang salah menjadi orang terkaya selama ditempuh dengan cara-cara yang elegan. Apalagi, kedudukan menjadi orang terkaya itu tercapai melalui upaya yang profesional, serta berdampak pada manfaat yang bisa dirasakan orang banyak. Bukan malah sebaliknya. (Spn)

Trade Mark Kadin, Masih Melekat
Sebelum menjabat menteri, Aburizal Bakrie atau Ical, adalah trade mark-nya Kadin. Sebutan itu bukan tidak beralasan. Pasalnya, selama sepuluh tahun (1994-2004) ia dipercaya memimpin induk organisasi industri dan perdagangan itu. Seiring dengan itu pula namanya kian dikenal sebagai salah seorang pengusaha nasional terkemuka.

Selama menduduki Ketua Umum Kadin, Ical telah berhasil menjadikan Kadin sebagai organisasi yang sangat penting dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Lebih dari itu, Kadin pun telah menunjukan kontribusi dan partisifasi konkret dan langsung menyentuh masyakat ketika misalnya terkait berbagai kasus penyelundupan gula, kayu, beras yang saat itu marak terjadi. Kadin, “menggandeng” pemerintah guna mengatasi masalah tersebut.

Reputasi Ical sebagai bos besar Kadin dan pengusaha yang cukup sukses, kiranya menjadi pertimbangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengangkatnya sebagai Menko Perekonimian. Namun, saat terjadi perombakan kabinet, Ical kemudian ditempatkan menjadi menteri yang tidak kalah pentingnya: Menko Kesra (sampai sekarang).

Ketika pertama kali dipanggil SBY terkait rencana pengangkatannya sebagai menteri, Ical, telah mengungkapkan berbagai langkah ekonomi yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat. Tujuannya, kata dia, agar dunia usaha sebagai penopang ekonomi bisa tumbuh dengan baik.

Pengangkatan Ical sebagai menteri waktu itu sempat menimbulkan pro dan kontra. Namun baginya, reaksi seperti itu adalah wajar dan demokratis. Penggiat olahraga ini sempat menegaskan, dirinya akan berjalan dan bertindak sesuai kapasitasnya sebagai seorang menteri.

Memang, kini Aburizal Bakrie atau Ical sudah tidak lagi menjadi Ketua Umum Kadin. Ia telah menjadi seorang menteri. Namun, rasa-rasanya, nama besarnya itu masih tidak terpisahkan dari sejarahnya di Kadin. Jadi, orang terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara itu adalah Aburizal Bakrie, mantan Ketua Umum Kadin itu lho

Pengusaha Politisi Jadi Menko Kesra
Jabatan Aburizal Bakrie, pengusaha yang politisi Partai Golkar, ini dirotasi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra pada resuffle Kabinet Indonesia Bersatu yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Agung Yogyakarta, Senin (5/12) pukul 21.00. Jabatan Menko Perekonomian dipercayakan kepada Boediono.

Kegagalan Kabinet Indonesia Bersatu yang dicoba diatasi dengan melakukan perombakan terbatas anggota kabinet itu, memasukkan tiga nama baru dalam kabinet, tiga menteri diberhentikan, dan tiga menteri dirotasi.

Mantan menteri keuangan pada kabinet Megawati Soekarnoputri, Boediono, dibujuk menjabat Menteri Koordinator Perekonomian, menggantikan Aburizal Bakrie yang digeser menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, yang sebelumnya dijabat Alwi Shihab.

Ketika serah terima jabatan dengan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (21/10/2004), Aburizal mengatakan, untuk menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah juga harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang.

Mengenai konsep untuk mengatasi penyelundupan, Aburizal mengatakan, saat masih di Kamar Dagang dan Industri (Kadin), ia sudah mencoba mengatasi penyelundupan dengan pemerintah, tetapi belum berhasil. Kali ini pemerintah akan fokus untuk memerangi penyelundupan.

"Penyelundupan sudah merusak produsen pertanian dan manufacturing, jadi harus ada gerakan untuk mengatasi hal itu. Saya sebenarnya mendapat pengarahan dari Bapak Presiden yang mengatakan beliau akan mengadakan inspeksi mendadak pada poin yang krusial dan berbahaya," ujar

Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini sebelum diangkat menjadi Meko Prekonomian Kabinet Indonesia Bersatu, sempat menjadi salah satu kandidat calon presiden yang memenangi lima besar dalam Konvensi Partai Golkar. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR).

Boss Bakrie Group ini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 hingga tahun depan, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.

Saat ini, perjalanan karier alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 sedang dalam proses menuju posisi orang nomor satu di negeri ini. Dia kini sangat sibuk menyosialisasikan visi dan misi sebagai salah seorang bakal calon presiden dari Partai Golkar.

Namun sesibuk apa pun dia, ternyata masih sempat menikmati hobinya, yaitu menyanyi dan olahraga. Sementara menari atau dansa, kurang disukainya. "Saya bisa cha-cha dan waltz, tetapi tidak begitu menikmati. Saya berdansa hanya untuk menyenangkan orang yang mengajak. Lain kalau menyanyi, saya senang sekali. Apa pun lagunya saya senang, terutama lagu-lagu romantis," katanya kepada Kompas.

Tentang olahraga, Ical mengaku dirinya benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok.
Makanya, Ical paling marah kalau melihat pegawainya merokok.

Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi,` ujarnya di Jakarta, Minggu.

Dikemukakan, pasar domestik yang kuat akan membantu pelaku usaha di dalam negeri untuk bersaing dan meningkatkan kinerja mereka yang secara signifikan akan berdampak pada perluasan kesempatan kerja.

Ical lahir di Jakarta, 15 November 1946, berkibar dengan perusahaan yang dirintis keluarganya, PT Bakrie & Brothers Tbk, sejak 1942. Ical adalah lulusan Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung 1973. Jabatan di Bakrie & Brothers yang pernah dipegang, antara lain, direktur utama PT Bakrie Nusantara Corporation pada 1989-1992, Dirut PT Bakrie & Brothers 1988-1992, dan komisaris utama Kelompok Usaha Bakrie pada 1999-2004.

Ical juga aktif di organisasi. Periode 2000-2005, dia menjadi anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia); 1999-2004, menjadi ketua umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II; 1996-1998, menjabat presiden Asean Chamber of Commerce & Industry; dan 1993-1998, anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)-periode II.

Mencoba Keberuntungan
Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini mencoba keberuntungan politik dengan ikut menjadi salah satu kandidat calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR). Kemudian ia pun masuk dalam tujuh besar pemenang prakonvensi yang akan bertanding pada Konvensi Capres Partai Golkar selepas Pemilu Legislatif.

Bos Bakrie Group ini hingga kini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 yang berakhir tahun 2004 ini, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.

Saat ini, perjalanan karier alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 sedang dalam proses menuju posisi orang nomor satu di negeri ini. Dia kini sangat sibuk menyosialisasikan visi dan misi sebagai salah seorang bakal calon presiden dari Partai Golkar.

Namun sesibuk apa pun dia, ternyata masih sempat menikmati hobinya, yaitu menyanyi dan olahraga. Sementara menari atau dansa, kurang disukainya. “Saya bisa cha-cha dan waltz, tetapi tidak begitu menikmati. Saya berdansa hanya untuk menyenangkan orang yang mengajak. Lain kalau menyanyi, saya senang sekali. Apa pun lagunya saya senang, terutama lagu-lagu romantis,” katanya kepada Kompas.

Tentang olahraga, Ical mengaku dirinya benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok. Makanya, Ical paling marah kalau melihat pegawainya merokok.

Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi,” katanya menjelaskan. Dikemukakan, pasar domestik yang kuat akan membantu pelaku usaha di dalam negeri untuk bersaing dan meningkatkan kinerja mereka yang secara signifikan akan berdampak pada perluasan kesempatan kerja.

Akan Memberantas Penyelundup
Sebelum menjabat menteri, tokoh yang satu ini adalah trade mark-nya Kadin (Kamar Dagang dan Industri). Sebutan itu bukan tidak beralasan. Selama sepuluh tahun (periode 1994-1999 dan 1999-2004) menukangi Kadin, Aburizal Bakrie berhasil membawa organisasi pengusaha itu sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

Kini Ical -sapaan Aburizal- pindah "kamar". Bila sebelumnya hanya sebatas mempengaruhi kebijakan pemerintah, kini dia menjadi penentu kebijakan. Ical dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menko Perekonomian. Sebagai mantan pejabat Kadin, apakah Ical akan membekingi kepentingan pengusaha? Meneruskan kepentingan Kadin? Bagaimana pula prospek bisnis Grup Bakrie? Berikut petikan wawancaranya dalam sebuah kesempatan.

Pada saat ditawari SBY jadi menteri, apa poin penting yang dibicarakan?
Pembicaraan itu berlangsung rileks dan terbuka. Sebagai orang yang terjun di dunia bisnis, saya berbicara dan berdiskusi mengenai berbagai langkah ekonomi yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat. Ini agar dunia usaha sebagai penopang ekonomi bisa tumbuh dengan baik.

Saya juga jelaskan mana yang harus menjadi prioritas pertama dan mana yang akan menjadi prioritas kedua dan seterusnya. Saya juga mengatakan kepada Pak Yudhoyono, semua konsep itu sudah saya siapkan dengan matang. Jika kemudian saya terpilih, saya sudah siap dan tinggal koordinasi saja antardepartemen. Oh ya, saya ketika dipanggil hari Sabtu 17 Oktober 2004, sore hari.

Awalnya, penunjukan Anda sempat menjadi pro-kontra publik. Bagaimana Anda menjawab keraguan itu saat ini?

Begini. Bagi saya, pro-kontra itu wajar. Itu demokratis. Tapi, yang perlu saya jelaskan adalah saya ini akan berjalan dan bertindak dalam kapasitas sebagai seorang menteri koordinator. Saya membuat prioritas-prioritas kebijakan ekonomi untuk mendorong kerja lima tahun ke depan. Itu sudah mencakup semua aspek perekonomian.

Ada lima prioritas yang saya susun untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Pertama, saya tegaskan, pemerintah akan menggunakan seluruh sumber pendanaan yang ada di dalam negeri untuk membiayai kebutuhan pembangunan sarana penunjang yang saat ini masih kurang.

Misalkan industri makanan dengan pertanian. Jika industri pertanian diproteksi, maka pada saat yang sama, industri makanan akan terpukul karena akan sulit untuk diekspor. Contoh lainnya adalah industri baja dengan makanan. Jika industri baja diproteksi, maka harga kaleng akan menjadi mahal sehingga makanan dalam kemasan kaleng tidak bisa ekspor akibat harga kemasan yang terlalu tinggi.

Kedua, pemerintah akan segera menetapkan jenis strategi industri yang akan diambil oleh Indonesia, yang diharapkan akan berjalan dalam tiga hingga lima tahun kemudian. Keputusan mengenai strategi industri ini harus dilakukan lebih awal.

Prioritas ketiga dalah pembangunan ekonomi domestik. Ini menyangkut pembangunan pasar, pelaku usaha, produksi, hingga pembiayaannya.

Khusus untuk masalah pembiayaan, pemerintah mendatang harus melihat loan to deposit ratio (LDR/rasio kredit) yang saat ini 53 persen. Dari Rp 450 triliun tabungan masyarakat di perbankan nasional, hanya Rp 190 triliun yang dikembalikan kepada masyarakat. Artinya, pemerintah akan secara hati-hati dan transparan menggunakan sumber-sumber dana yang ada di dalam negeri tadi untuk membiayai pembangunan ekonomi domestik.

Prioritas keempat, pemerintahan akan fokus membangun infrastruktur yang saat ini sudah sangat hancur. Berdasar studi yang dilakukan di Kadin, paling tidak perlu USD 150 miliar untuk membangun infrastruktur selama 10 tahun.

Dari USD 150 miliar tadi, USD 98 miliar atau sekitar Rp 900 triliun per tahun di antaranya dapat dibiayai oleh pihak swasta. Pemerintah harus menyediakan dana paling sedikit USD 52 miliar selama sepuluh tahun atau Rp 450 triliun per tahun.

Prioritas terakhir adalah kebijakan di bidang energi. Dalam jangka waktu enam bulan hingga satu tahun, kebijakan energi tersebut akan disusun lebih serius oleh pemerintah. Menurut saya, seluruh energi yang ada dapat disalurkan ke pusat-pusat konsentrasi penduduk, terutama ke Pulau Jawa.

Ini bisa menggunakan sistem pipanisasi dari daerah kaya energi, seperti Kalimantan. Jumlah dana yang diperlukan untuk melakukan pipanisasi itu hanya USD 2,5 miliar sampai USD 3 miliar atau sekitar Rp 30 triliun.

Program prioritas 100 hari?
Yang menjadi fokus utama kita, yakni menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang.

Dulu, Anda pernah bersuara keras soal penyelundupan. Bagaimana setelah Anda jadi pejabat?
Itu cita-cita saya yang belum kesampaian. Penyelundupan kini masih marak. Mulai gula, kayu, hingga beras. Saat saya masih aktif di Kadin, saya sudah mencoba mengatasi penyelundupan ini dengan pemerintah, tetapi masih belum berhasil. Kali ini saya tegaskan, pemerintah akan fokus untuk memerangi penyelundupan. Saya sudah duduk di pemerintahan.

Karena penyelundupan sudah merusak produsen pertanian dan manufacturing, jadi harus ada gerakan untuk mengatasi hal itu. Saya sebenarnya mendapat pengarahan dari Bapak Presiden yang mengatakan bahwa beliau akan mengadakan inspeksi mendadak pada poin yang krusial dan berbahaya. Jadi, cita-cita saya untuk memberantas penyelelundupan akan saya realisasikan sekarang.

Sekarang bagaimana kelangsungan bisnis Grup Bakrie?
Sejak saya memutuskan untuk mengikuti konvensi Partai Golkar, saya sudah melepaskan kegiatan bisnis saya. Itu semua sudah ada yang ngurus. Jadi, saya tetap akan berkonsentrasi untuk melaksanakan tugas yang diamanahkan kepada saya sebagai menteri koordinator bidang perekonomian. Artinya, saya akan bersikap profesional. Kepentingan negara tetap saya utamakan.

Setelah Anda menteri, ide dan usul Kadin akan terpakai terus?
Saya tegaskan, saya akan profesional. Saya ini menteri dari pos profesional. Jadi, setelah jadi menteri, saya tetap akan profesional. Tapi, ide-ide teman Kadin yang saya nilai baik dan bagus sebagai sebuah kontribusi ekonomi kepada negara tetap diakomodasi.

Sebagai menteri koordinator, bagaimana Anda mengendalikan para menteri teknis?
Insya Allah, dengan komitmen untuk memajukan bangsa dan negara ini, saya dan anggota kabinet lainnya akan bekerja sama seoptimal mungkin dan sebaik mungkin.

Kekayaan Meningkat Jadi Rp 1,329 T
Dibandingkan dengan tahun lalu (2004), kekayaan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie naik sebesar Rp 130 miliar, dari kekayaan pada tahun 2004 sebesar Rp 1,190 triliun menjadi Rp 1,329 triliun. Demikian pengumuman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (23/5/2006).

Harta Aburizal berupa tanah dan bangunan yang pada 29 Oktober 2004 sebesar Rp 22,257 miliar naik menjadi Rp 28,626 miliar pada 31 Desember 2005. Harta bergerak berupa alat transportasi dan mesin lainnya senilai Rp 4,458 miliar pada 2004 naik menjadi Rp 6,019 miliar pada 2005.

Sementara surat berharga pada tahun 2004 Rp 1,154 triliun naik menjadi Rp 1,286 triliun tahun 2005. Giro dan setara kas Rp 2,457 miliar tahun 2004 menjadi Rp 2,126 miliar dan 48.172 dollar AS tahun 2005. Harta bergerak lainnya dari Rp 6,2 miliar meningkat menjadi Rp 6,6 miliar.

Menurut Staf Khusus Menko Kesra Lalu Mara Satri Wangsa, kenaikan kekayaan Aburizal disebabkan harga nilai surat berharga yang dimilikinya naik RP 132 miliar, akibat membaiknya perekonomian Indonesia. Soal kerja sama Bakrie dan Bappenas, Lalu membenarkan PT Bakrie Swasta Utama bekerja sama dengan Bappenas, di mana Bappenas memiliki tanah dan Bakrie membangun gedung 20 tingkat senilai Rp 150 miliar. Pembangunan sempat terhenti karena krisis, tapi kini dilanjutkan dan diharapkan selesai Juni

Ketua Umum Partai Golkar 2009-2015
Aburizal Bakrie alias Ical terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar (2009-2015) dalam Munas VIII di Pekanbaru, Riau Kamis (8/10/2009) dini hari. Ical memenangkan secara aklamasi setelah dalam pemungutan suara penetapan calon telah meraih 296 suara (lebih 55 persen), sedangkan pesaingnya Surya Paloh memperoleh 240 suara, dan dua kandidat lainnya yakni Hutomo Mandala Putra (Tomy) dan Yuddy Chrisnandi tidak mendapat suara satupun.

Setelah itu dipilih Tim Formatur untuk menyusun komposisi dan personalia Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar periode 2009-2015. Tim formatur terdiri dari ketua umum terpilih Aburizal Bakrie, tiga orang perwakilan DPD yakni Mahyuddin (DPD Kaltim), Ridwan (Sultra) dan Rusli Zainal (Riau) serta satu orang dari unsur ormas yakni Fachri Andi Laluasa (AMPI).

Komposisi dan Personalia DPP Partai Golkar 2009-2015 susunan tim formatur tersebut sebagai berikut:

Ketua Dewan Pertimbangan:
Akbar Tandjung

Ketua Umum: Aburizal Bakrie
Wakil Ketua Umum: HR Agung Laksono dan Theo L Sambuaga
Ketua Bidang Kaderisasi: Hafiz Zawawi
Ketua Bidang Organisasi dan Daerah: Mahyudin
Ketua Bidang Hub Eksekutif dan Yudikatif: HM Rusli Zainal
Ketua Bidang Hubungan Legislatif: Priyo Budi Santoso
Ketua Bidang Informasi dan Penggalangan Opini: Fuad Mansyur
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sumatera: Andi Achmad Dara
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa & Bali: Sharif Cicip Sutarjo
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Maluku Papua: Freddy Latumahina
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Kalimantan: Ahmadi Nur Supit
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi: Fachri Andi Laluasa
Ketua Bidang Perempuan: Ratu Atut Chosyiah
Ketua Bidang Pemuda: Yorris Raweyay
Ketua Bidang Pekerja, Tani dan Nelayan: Yamin Tawari
Ketua Bidang Usaha dan Koperasi: Firman Subagyo
Ketua Bidang Keagamaan dan Kebudayaan: Hajriyanto Y Thohari
Ketua Bidang Kemahasiswaan dan LSM: Fadel Muhammad
Ketua Bidang Kerja Sama Internasional: Iris Indira Murti
Ketua Bidang Pemikiran dan Kajian Kebijakan: Rizal Mallarangeng
Ketua Bidang Pendidikan: Indra Bambang Utoyo
Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup: Ade Komaruddin
Ketua Bidang Bidang Penanganan Kerawanan Sosial: Pontjo Sutowo
Ketua Bidang Hukum dan HAM: Muladi
Ketua Bidang Umum: Rully Chairul Azwar
Ketua Bidang Khusus: Nurdin Halid

Sekjen: Idrus Marham
Wasekjen: Harry Azhar Azis, Musfihin Dahlan, Muhidin, Ahmad Dolly Kurnia, Titiek Soeharto, Mujib Rohmat, Nurul Arifin, Ricky Rachmadi, Happy Bone Zulkarnain, Hasanuddin Mochdar, I Made Sumarjaya Linggih, Immanuel Blegur, Oktaviano dan Leo Nababan.

Bendara Umum: Setya Novanto
Wakil Bendahara: Airlangga Hartarto,: Erwin Aksa, Hariara Tambunan, Agus G Kartasasmita, Azis Syamsuddin, Bobby Suhardiman, Melchias Mekeng, Tri Hanurita Sudwikatmono, Mustoko Weni, Bambang Atmanto Wiyogo, Watty Amir, Hamzah Sangaji dan Rahman Akil.

Empat Program
Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menjanjikan kemenangan Partai Golkar dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia. Aburizal juga berjanji akan memilih kader Partai Golkar terbaik dan paling populer untuk maju dalam setiap pilkada dan pemilu.

"Setiap tahun, ada 100 pilkada. Kita harus merebut satu per satu. Kita harus menguningkan Sabang sampai Merauke. Saya akan bekerja keras tujuh hari dalam seminggu, 24 jam sehari, membantu kader di provinsi dan kabupaten/kota. Perjuangan kader partai adalah perjuangan saya. Kekalahan kader Partai Golkar juga akan memukul saya," ujar

Aburizal Bakrie dalam pidato politiknya pada penutupan Munas VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, Kamis (8/10/2009) memaparkan empat hal yang akan dilakukannya untuk menjadikan Partai Golkar sebagai partai terbesar. "Pertama, akan melakukan konsolidasi. Konsolidasi ini harus bersifat vertikal dan horizontal. Kader serta pengurus di pusat dan daerah harus menyatu. Seluruh kader partai harus disiplin. Semuanya harus mengikuti garis partai dengan menghormati kesepakatan internal partai.

Kedua, akan melakukan kaderisasi. Saat ini, Golkar memang bukan partai terbesar. Tapi, kader terbaik Golkar masih banyak di seluruh Indonesia. Untuk merebut kejayaan itu, kader inilah yang menjadi andalan partai. Selain kader yang sudah ada, harus dicetak kader baru. Untuk itu perlu dijalankan kaderisasi.

Ketiga, melakukan kreativitas dan ketajaman ide serta gagasan. Golkar harus menjadi partai yang hidup dan dinamis. Begitu banyak isu strategis dan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Untuk menghadapi hal itu, harus diciptakan solusi yang kreatif melalui ide-ide yang cemerlang.

Keempat, memenangi pemilu, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah. "Kita harus menguningkan Indonesia. Setiap tahun banyak pilkada. Kita harus merebutnya satu per satu," katanya.

Sebagai Ketua Umum Golkar, Aburizal mengajak kadernya bekerja keras. Ia berjanji akan bekerja keras untuk membantu kader-kadernya, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga yang terbawah. "Saya akan membantu memenangkan kader kita dalam pilkada," ujarnya.

Dalam Pemilu 2014, Partai Golkar juga akan konsisten mencalonkan kader terbaik dan terpopuler. Bahkan, Aburizal siap apabila tidak menjadi calon presiden Partai Golkar di Pemilu 2014. "Capres Golkar tidak harus ketua umum," tuturnya.

Dalam pidato politiknya, Aburizal Bakrie juga mengajak tiga calon Ketua Umum Partai Golkar untuk bersatu. "Hari ini Golkar membuktikan biasa berdemokrasi, kita telah menunjukkan suatu pertarungan yang ketat. Kita tetap bersahabat," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar (2004-2009) Jusuf Kalla dalam sambutannya berpesan agar ke depan Partai Golkar melayani masyarakat dengan baik. Karena dengan kecintaan rakyat itu, Golkar bisa bangkit. "Golkar harus mampu menjadi partai yang memperjuangkan kepentingan masyarakat," katanya.

Jusuf Kalla mengingatkan kader Partai Golkar yang ada di pemerintahan, baik legislatif maupun eksekutif, supaya menjaga nama baik Partai Golkar. "Jangan sampai ada yang berurusan dengan polisi, kejaksaan atau bahkan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kader kita yang di pemerintahan akan dinilai rakyat. Kalau berurusan ke KPK terus, tentu akan dinilai rakyat," katanya.

Sebelumnya Jusuf Kalla menyarankan agar Partai Golkar bukan hanya ikut menjalankan pemerintahan, tapi sekaligus mengontrol pemerintahan. "Memang dua kemungkinan pilihan Golkar. Pertama, menjalankan pemerintahan; kedua, mengontrol pemerintahan. Tapi, seyogianya kalau memilih menjalankan pemerintahan, sebaiknya sekaligus mengontrol pemerintah," katanya

Melapor ke Presiden SBY
Jakarta, 9/10/2009: Ketua Umum Partai Golkar yang baru terpilih Aburizal Bakrie melapor ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat di Puri Cikeas, Bogor, Jumat (9/10/2009). Kedatangan Aburizal yang juga menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, itu menegaskan komitmen Aburizal membawa Partai Golkar bekerja sama dengan Partai Demokrat.

"Pak Ical melaporkan pada Presiden, bahwa ia telah terpilih sebagai Ketua Umum Golkar. Tentu saja Presiden menyampaikan selamat," kata Andi Mallarangeng, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat yang juga juru bicara Presiden Yudhoyono, kepada pers Jumat malam (9/10).

Andi menambahkan, Golkar dan Partai Demokrat selama lima tahun ini sudah terbiasa bekerja sama di pemerintahan. Dia berharap dengan kepemimpinan yang baru ini mudah-mudahan kerja sama bisa dilanjutkan dengan baik.

Tidak diungkapkan bagaimana bentuk laporan Ketua Umum Golkar tersebut kepada Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut. Walaupun, Andi mengatakan bahwa hal ini merupakan tradisi partai politik di Indonesia.

Namun, sumber TokohIndonesia.com memperkirakan Aburizal Bakrie kemungkinan menyampaikan kesediaan Partai Golkar di bawah pimpinannya bekerjasama dengan pemerintah dan Partai Demokrat.

Sumber TokohIndonesia.com di Slipi menyebut kemungkinan Partai Golkar akan mendapat jatah tiga kursi menteri dalam Kabinet SBY 2009-10014. Yakni Agung Laksono menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Theo Sambuaga menjadi Menteri Pertahanan dan Andi Mattalatta tetap menjabat Menteri Hukum dan HAM.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Foto :http://202.146.5.33