Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan

Pesona Dieng Wonosobo


Dataran Tinggi DiengCandi Dieng Wonosobo, merupakan kompleks percandian yang sangat luas yang terletak di sebuah dataran tinggi bernama Dieng. Dataran tinggi Dieng sendiri sebenarnya merupakan sebuah dataran vulkanik aktif yang sangat luas, dan bisa dikatakan sebagai gunung berapi raksasa. Sebagian orang menyebut tempat ini dengan Dieng Plateu, ada juga yang menyebut Gunung Dieng.

Daratan tinggi Dieng teletak di sekitar Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, dan berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng terletak pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebagai gunung vulkanik aktif, dataran tinggi ini juga memiliki beberapa kawah yang masih sangat aktif yang tersebar di beberapa tempat dengan jarak yang cukup berjauhan.

Posisinya yang cukup tinggi membuat suhu udara di kawasan ini sangat dingin bagi orang Indonesia. Pada siang hari suhu udara pada kisaran 15°-20° Celsius, dan 10°Celcius pada malam hari. Sedangkan pada bulan-bulan tertentu suhu bisa mencapai 0° Celsius.

Sejarah Candi Dieng Wonosobo - Penemuan Candi Dieng

Candi Dieng adalah sebuah kompleks candi Hindu. Awal ditemukannya kompleks Candi Dieng Wonosobo terjadi pada sekitar tahun 1814. Diawali ketika seorang tentara Inggris yang pada waktu itu bermaksud berwisata di kawasan dataran tinggi Dieng. Secara tidak sengaja dia melihat beberapa bagian atas candi yang terendam di dalam kubangan air.

Lalu akhirnya pada tahun 1856 dimualilah upaya pengeringan dan pengerukan areal sekitar kompleks candi. Upaya ini dipimpin oleh seorang Belanda bernama Van Kinsbergen. Dan berawal dari situlah lalu ditemukan beberapa bangunan candi yang tersebat di beberapa tempat yang tidak terlalu jauh. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan proses pencatatan dan pengambilan gambar pada tahun 1864.

Sejarah Candi Dieng Wonosobo

Sejarah candi dieng sampai dengan saat ini memang tidak begitu jelas, karena tidak ada satupun ditemukan bukti tertulis yang menyebutkan mengenai kapan tepatnya Candi Dieng dibangun. Hanya sebuah prasasti yang ditemukan di kawasan itu, yang memiliki angka tahun 808 Masehi.

Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa kompleks Candi Dieng dibangun sekitar abad 8 – 9 Masehi berdasarkan perintah dari para raja pada masa dinasti Sanjaya. Namun menurut penelitian lanjut, kompleks Candi Dieng diperkirakan dibangun melalui 2 tahap pembangunan. Tahap pertama diperkirakan dimulai pada akhir abad ke-7 dan diakhiri pada awal abad ke-8. Sedangkan pembangunan tahap kedua berlangsung pada pertengahan abad ke-8 sampai sekitar tahun 780 Masehi.

Sejarah Candi Dieng Wonosobo - Kompleks Candi Dieng

Candi Dieng Wonosobo sendiri merupakan sebuah kompleks percandian. Artinya tidak hanya terdiri dari satu bangunan candi, melainkan terdiri dari banyak gugusan candi yang tersebar di beberapa lokasi yang agak berjauhan. Kompleks Candi Dieng Wonosobo secara keseluruhan menempati areal seluas 1.9 x 0,8 kilometer persegi.

Kompleks candi ini terdiri dari 3 kelompok gugusan candi dan 1 buah candi yang berdiri sendiri. Uniknya semua kelompok candi ini dinamai berdasarkan tokoh-tokoh pewayangan seperti yang dalam kitab Mahabharata yaitu Kompleks Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Kompleks Candi Dwarawati, dan satu lagi adalah Candi Bima yang bukan merupakan kelompok candi (berdiri sendiri).
 
Dengan mengunjungi Candi Dieng kita akan mendapat sebuah paket wisata yang sangat komplit. Karena hanya dengan mengunjungi satu daerah saja kita bisa melihat berbagai obyek wisata sekaligus. Di dataran Dieng ini kita akan disuguhi wisata sejarah candi dieng nan indah lengkap dengan sebuah museum.

Ada pula wisata alam yang menyajikan puluhan danau dan telaga yang tersebar di area ini. Ada juga puluhan kawah vulkanik aktif yang bisa kita datangi dan lihat secara langsung. Terdapat pula wisata pegunungan yang menyuguhkan pemandangan elok dataran tinggi Dieng dengan perkebunan dan taman bunganya. Dan yang tidak kalah menarik adalah wisata budaya, yang sering kali menyuguhkan upacara adat Dieng yang sangat langka dan menarik. Semua itu dibalut dalam sebuah keindahan yang mengiringi sebuah peninggalan bersejarah yaitu Candi Dieng.



Komplek Candi Prambanan


Dalam Daftar Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage List) yang dikeluarkan tanggal 13 Desember 1991 oleh UNESCO, nama Kompleks Candi Prambanan dipergunakan untuk menyebut dua candi sekaligus yaitu Lorojonggrang dan Sewu dengan nomor registrasi 349. Candi Lorojonggrang berlatar agama Hindu sedangkan Candi Sewu adalah Buddha Mahayana.

Laporan pertama yang menyebutkan Candi Lorojonggrang atau Prambanan antara lain oleh C.A. Lons, seorang pegawai VOC di Semarang ketika mengunjungi Jawa Tengah pada tahun 1733. Kala itu candi ini masih tertimbun tanah dan dipenuhi tumbuhan. Usaha pembersihannya baru mulai dilakukan tahun 1885, sedikit demi sedikit bentuknya yang masih berupa reruntuhan terlihat lebih nyata. Untuk kepentingan pendokumentasian, pada tahun 1885 dilakukan pembersihan besar-besaran atas Candi Lorojonggrang dengan menyingkirkan batu-batu yang lepas dan dijadikan pagar keliling. Namun pembersihan yang kurang hati- hati ini menyebabkan bercampurnya batu-batu bangunan candi menjadi satu sehingga menyulitkan pemugarannya di tahun 1918 s.d. sekarang. Hal serupa juga dialami oleh Candi Sewu yang pemugarannya masih berlangsung hingga sekarang mulai tahun 1901.

Tahun pendirian Candi Lorojonggrang dapat diketahui dari prasasti Siwagrha abad ke-9 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Kuno. Selain dari prasasti ini, sejumlah prasasti pendek lainnya yang ditemukan di berbagai tempat pada kompleks mengarah kepada kesimpulan yang sama. Demikian pula Candi Sewu yang letaknya hanya kurang lebih 600 meter arah utara Lorojonggrang.


Candi Prambanan dalam lukisan 1817

Candi Lorojonggrang merupakan kompleks percandian agama Hindu yang terbesar di Indonesia yang terdiri atas tiga halaman, halaman utama dan tengah masih dapat disaksikan sedangkan halaman yang terluar sebagian besar rusak. Di halaman utama berdiri tiga bangunan yang menjulang dengan nama Candi Siwa, Brahma, dan Wisnu menurut nama-nama dewa yang tersimpan di dalamnya. Di hadapan bangunan-bangunan ini terdapat bangunan lain yang disebut Candi Wahana, dinamakan demikian karena arca yang ada di dalamnya merupakan kendaraan (wahana) dari para dewa tersebut.


Relief Singa diapit kalpatu


Selain itu, di halaman utama masih berdiri dua bangunan apit, empat bangunan kelir, dan lima bangunan sudut.

Di halaman tengah terdapat bangunan perwara sejumlah 244 buah yang disusun menjadi empat deret mengelilingi halaman utama. Deret pertama 68 bangunan perwara, deret kedua 60 buah, deret ketiga 52 buah, dan deret keempat 44 buah.

Relief yang menarik dipahatkan pada Candi Siwa dengan cerita Ramayana. Cerita ini dilanjutkan ke Candi Brahma. Sedangkan di Candi Wisnu dipahatkan relief cerita Kresnayana.

Pada bulan-bulan tertentu di halaman Candi Prambanan diadakan sendratari yang mengisahkan Ramayana. Pertunjukan ini sangat mempesona karena mengambil latar belakang Candi Prambanan di malam hari.

Selain Candi Lorojonggrang dan Sewu, di daerah sekitar Prambanan banyak ditemukan peninggalan purbakala yang mempunyai nilai arkeologi tinggi antara lain Candi Lumbung, Bubrah, Asu, Kulon, Lor, dan Plaosan di sisi utara. Di sebelah selatan terdapat Keraton Ratuboko, Candi Barong, Ijo, Banyunibo, dan Sojiwan. Di sebelah barat terdapat Candi Kedulan, Kalasan, Sari, Sambisari, Gebang, dan Morangan. Di sebelah timur terdapat situs Wonoboyo, yaitu lokasi penemuan benda¬benda emas seberat 32 kilogram yang terdiri atas perhiasan, peralatan keagamaan, dan mata uang. Nyata sekali bahwa kawasan Prambanan di masa lalu merupakan tempat yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Jawa Kuno abad ke-8 s.d. 10 Masehi yang ketika itu masih sangat kuat dipengaruhi oleh agama Hindu maupun Buddha.


Arca Durga Mahisasura Mardhini

Candi Prambanan merupakan sumber sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta dapat dimanfaatkan balk oleh bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia, sehingga perlu dilestarikan sesuai dengan amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya.


Candi Sewu

Candi Sewu merupakan kompleks percandian agama Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur. Candi ini ditemukan pada abad XVIII dan diteliti pertama kali oleh H.C. Cornellius pada tahun 1807.

Pembangunan Candi Sewu dapat dihubungkan dengan prasasti Kelurak berangka tahun 704 Saka atau 782 M yang menyebut tentang pendirian sebuah bangunan suci untuk Dewa Manjusri atas perintah Raja Indra. Dari Prasasti Manjusrigerha diketahui bahwa candi ini pernah dipugar pada tahun 792 M. Dalam bahasa Indonesia, Manjusrigerha berarti "rumah Dewa Manjusri, jadi tidal< lain adalah Candi Sewu. Ketika Candi Sewu kembali dipugar pada tahun 1987, di bagian dalam bangunan utama ternyata ditemukan sebuah bangunan lain yang lebih Iced dan sederhana terbuat dari bata. Maka diduga bangunan yang disebut dalam prasasti Kelurak tahun 782 M adalah bangunan bata tersebut sebelum kompleks diperluas tahun 792 M menjadi seperti yang kita lihat sekarang. Kompleks Candi Sewu memililci tiga halaman yang tersusun berteras terpusat, makin Ice pusat makin kecil dan makin tinggi. Halaman ini semula dikelilingi tembok yang sekarang tinggal sisanya. Gapura utamanya tidak ditemukan, namun diduga terletak di sisi timur sesuai dengan kedudukan dua arca raksasa penjaga pintu yang disebut Dwarapala. Posisi kedua arca ini berhadap-hadapan mengapit jalan masuk. Sisa-sisa gapura yang lebih kecil masih dapat ditemukan pada tiap-tiap sisi tembok halaman terluar berikut anak-anak tangga berjumlah lima buah pada bagian luar dan dalamnya. Di halaman candi berdiri 240 buah bangunan perwara dan empat pasang bangunan antara (apit). Bangunan perwara disusun menjadi empat deret mengelilingi halaman utama. Antara bangunan perwara deret ketiga dan kedua, pada tiap-tiap sisinya, berdiri sepasang bangunan antara tersebut yang letaknya berhadapan di kiri-kanan jalan menuju ke bangunan induk yang berada di halaman pusat. Arsitektur bangunan utama Candi Sewu sangat istimewa, berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah atau candi di Indonesia lainnya. Struktur kaki candi berbentuk segi dua puluh, di atasnya berdiri lima buah bangunan yang mempunyai tubuh dan,atap sendiri-sendiri. Sebuah bangunan yang paling besar dan tinggi berdiri di tengah-tengah, oleh empat bangunan lain yang lebih rendah dan lebih Iced. Di bagian dalam bangunan paling besar terdapat sebuah bililc dengan sebuah pintu masuk menghadap ke timur. Di bilk tersebut masih terdapat sebuah singgasana batu berukuran besar, arca yang seharus(wa mengisi relung,- relung dinding di bagian luar juga hilang sejak saat candi ditemukan kembali. Empat bangunan yang agak kecil yang mengelilingi bangunan utama mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, demikian pula tata ruangnya. Pada dinding depan dan belakang terdapat pintu masuk yang tembus menuju jalan keliling yang mengitari bangunan utama.



Keterangan Peta :
1. Kantor Utama PT Taman Prmbanan dan Ratu Boko
2. Bioskop Trimurti
3. Restoran
4. Bioskop Ramayana
5. Kantor Pertamanan
6. Kantor Unit Candi Prambanan
7. Tempat Parkir Mobil dan Bus
8. Toilet
9. Pusat Informasi
10. Tempat Penjualan Tiket, P3K dan Gudang
11. Toko Souvenir
12. Tempat Penjualan Tiket
13. Taman Rama Sinta
14. Candi Sewu

Sumber :
Leaflet, T.T. “Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan UNESCO

Candi Agung Gumuk Kancil

Jejak Perjalanan Rsi Markandiya di Lereng Gunung Raung Candi Agung Gumuk Kancil Jejak Perjalanan Rsi Markandiya di Lereng Gunung Raung

PERKEMBANGAN agama Hindu di Bali tidak lepas dengan sosok Maha Rsi Markandiya, tokoh spiritual abad ke-7 masehi. Sebelum hijrah ke Bali, Rsi Markandiya hidup dan memiliki pasraman di lereng Gunung Raung, Banyuwangi.

Hingga sekarang aura spiritual masih terasa di sekitar lokasi tersebut, terutama di lereng selatan. Ajaran Hindu pun tetap berkembang di kawasan tersebut. Zaman dulu di sepanjang lereng Raung dipercaya menjadi wilayah pasraman yang ditempati masyarakat Jawa Aga. Pasramannya dikenal dengan sebutan Diwang Ukir Damalung membentang dari Banyuwangi hingga Besuki, Situbondo.

Komunitas Hindu di lereng Raung tersebar di dua dusun, Sugihwaras dan Wono Asih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Dua dusun terpencil ini berlokasi di lereng selatan Raung. Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan kendaraan roda empat. Jaraknya sekitar 80 kilometer dari kota Banyuwangi ke arah barat. Komunitas Hindu juga ada di timur dan barat Raung, seperti di Songgon dan Kalibaru.

Dikisahkan, Rsi Markandya mengajak sekitar 800 pengikut menyeberang ke Bali. Sampai di pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem, sebagian besar pengikutnya meninggal akibat terserang penyakit. Setelah bermeditasi, Rsi Markandiya bersama sebagian pengikutnya kembali lagi ke lereng Raung. Keanehan muncul, pengikutnya mendadak sembuh setelah mandi di lereng Raung. “Ini kisah tentang nama Sugihwaras (sugih = kaya, waras = sehat) yang kami dapat dari Bali,” kata Hadi Pranoto, sesepuh Hindu Sugihwaras, Minggu (8/3).

Kemudian, Rsi Markandiya kembali ke Bali disertai sekitar 400 pengikut, mengangkut bale agung dari Raung. Sang Rsi juga membawa panca datu, lima jenis logam yang menjadi cikal bakal upacara di Bali. Di Bali bekas perjalanan Rsi Markandiya bisa ditemukan di Pura Raung, Tegalalang, Gianyar.

Mayoritas penduduk Sugihwaras sekarang pemeluk Hindu. Jumlahnya sekitar 113 KK. Ada dua pura tua yang berdiri di tempat ini, Pura Giri Mulyo dan Pura Puncak Raung.
Kepastian bekas kehidupan Markandiya di lereng Raung diketahui warga sekitar tahun 1966. Saat itu Agama Hindu sedang berkembang setelah terjadi pergolakan politik peristiwa G 30 S/PKI. Pengikut ajaran kejawen memilih Hindu sebagai patokan sembahyang. Setelah itu, warga yang hidup di pinggir hutan Raung, tepatnya di Gumuk Kancil menemukan sebuah genta terbuat dari kuningan.

Sejak itu, sejumlah peralatan sembahyang lainnya sering ditemukan, seperti arca Siwa. Kebanyakan barang itu terbuat dari bahan kuningan. Warga juga banyak menemukan perabot rumah tangga seperti cangkir, uang kepeng, tempat tirta, kendi. Hampir seluruh benda itu ditemukan dalam timbunan tanah.

Warga pun menemukan bekas bangunan candi di tengah hutan, terbuat dari batu padas berukir indah. Sebuah arca Siwa lingam juga ditemukan di tempat ini. Lokasinya di tengah hutan Gumuk Payung, Kecamatan Sempu, sekitar lima kilometer arah timur lereng Raung.

Bagi umat Hindu Sugihwaras, Rsi Markandiya menjadi panutannya. Untuk mengenang ajarannya, umat setempat membangun sebuah candi di Gumuk Kancil. Bentuknya menyerupai batu di atas bukit. Letaknya menghadap ke puncak gunung. “Kami meyakini inilah bekas tempat pertapaanya Rsi,” kata Hadi Pranoto.

Sejak dulu Gumuk Kancil dikenal mistis. Sebelum ada pura, pengikut kejawen sering bersembahyang di tempat ini. Para pemburu binatang pun sebelum berburu berdoa di sini.
Candi di Gumuk Kancil itu terbuat dari batu andesit yang konon didatangkan dari puncak Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Agung di Bali, dibangun tahun 2001. Arsiteknya tokoh spiritual kejawen yang juga juru kunci Candi Prambanan, Yogyakarta, Dulhamid Jaya Prana. Berdirinya candi bertepatan dengan purnama kanem penanggalan Jawa. Di candi setinggi 13 meter itu terdapat tiga arca utama, yakni arca Siwa Mahadewa di sisi timur, arca Rsi Markandiya dan Tri Murti di sisi barat. Di depan terdapat pintu utama candi untuk pemujaan.

Candi Agung Gumuk Kancil juga menjadi tempat pengikut kejawen untuk meditasi. Mereka juga banyak datang dari luar Kabupaten Banyuwangi. Sehari-harinya, candi ini dipelihara 11 KK umat Hindu yang bertempat tinggal di sekitar candi..-udi

Menjadi Tujuan Wisata Spiritual

LOKASI Candi Agung Gumuk Kancil mudah dijangkau. Kendaraan roda empat bisa langsung ke lokasi. “Kami berharap lokasi ini bisa menjadi kawasan wisata spiritual. Lokasinya bagus untuk tempat meditasi,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Glenmore, Sunarto, Minggu (8/3).

PHDI setempat memberlakukan jadwal khusus persembahyangn bersama di lokasi candi. Biasanya pada hari-hari besar dan saat piodalan. Sehari-harinya, ada seorang pemangku dan juru kunci yang merawat kompleks candi.

Candi Agung Gumuk Kancil berstatus cagar budaya. Tempat ini masuk salah satu tujuan wisata spiritual yang ditetapkan Pemkab Banyuwangi. Namun, biaya perawatan candi, masih mengandalkan sumbangan dari pengunjung. “Kami mendukung jika dijadikan wisata spiritual. Namun, kesuciannya harus tetap dijaga,” tambah Sunarto.

Selain Candi Agung Gumuk Kancil, banyak tempat lagi di sekitar Dusun Sugihwaras yang bisa dijadikan objek perjalanan spiritual. Seluruh lokasi ini diyakini bekas perkampungan kaum Jawa Aga pada masa Rsi Markandiya. Selain Candi Agung Gumuk Kancil sedikitnya ada tiga lokasi, yakni Partirtan Sumber Urip, Watu Gantung dan situs Candi Gumuk Payung. Empat lokasi ini letaknya terpisah, namun bisa ditempuh dalam sekali perjalanan.

Yang dirasakan paling mistis, Patirtan Sumber Urip. Letaknya sekitar satu kilometer arah utara Gumuk Kancil. Mata air alami ini ditemukan tahun 1990-an. Sebelumnya mata air ini tertimbun hutan lindung. Sumber Urip merupakan mata air alami yang keluar dari batu.

Sejak tahun 2007, umat Hindu setempat membangun kawasan ini secara swadaya. Tepat di atas mata air utama didirikan sebuah arca Dewi Gangga yang membawa kendi. “Ini simbol kesucian air sungai Gangga di India yang kita hormati,” ujar Sunarto. Dari sumber utama air dialirkan menggunakan 8 kepala naga. Aliran air tersebut kemudian diarahkan ke persawahan warga.

Tempat ini biasanya digunakan sebagai mendak tirta, mengambil air suci, untuk persembahyangan. Hampir tiap hari ada pengunjung datang ke mari. Rata-rata mereka peziarah spiritual. Beberapa di antaranya mengambil airnya untuk dibawa pulang. Kini, umat Hindu setempat mulai memperluas kawasan itu sebagai lokasi pemujaan. Perhutani juga mengizinkannya sebagai kawasan penyangga hutan lindung. Luasnya sekitar 100 m2. Sejak kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya, masyarakat dilarang menebang pohon dan mengotori lokasi tersebut.

Lokasi Watu Gantung, satu kilometer arah utara dari mata air Sumber Urip. Untuk mencapainya harus berjalan kaki. Watu Gantung adalah batu yang menggantung. Tempat ini juga diyakini masih berkaitan dengan perjalanan Rsi Markandiya.
Lokasi lainnya Pura Puncak Raung dan Pura Giri Mulyo. Dua tempat suci ini berlokasi di bawah Candi Agung Gumuk Kancil. Sedangkan letak situs Candi Gumuk Payung agak jauh dari lokasi candi di Gumuk Kancil. Untuk mencapainya pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga ke pintu gerbang situs.

“Kami berharap tempat-tempat itu bisa menjadi saksi sejarah perjalanan ajaran Hindu,” kata Sunarto. Untuk melayani para pengunjung, di masing-masing lokasi ditempatkan pemangku dan penunjuk jalan yang siap melayani dan mendampingi pengunjung kapan pun. -udi

Peninggalan Rsi Markandiya
Disimpan Rapi

SUDAH banyak umat Hindu dari Bali yang mengunjungi kawasan spiritual di lereng Gunung Raung. Umumnya mereka datang dalam rombongan, naik bus atau kendaraan pribadi.
Banyaknya pengunjung pura dan candi menambah kegiatan baru bagi pemangku. Mereka harus siap mendampingi mereka kapan pun. Pengunjung tak sepenuhnya bersembahyang. Di antaranya, terutama di kalangan penganut kejawen, meminta nasihat spiritual kepada pemangku sambil berdiskusi dan bermeditasi. Ada juga yang melakukan kaulan. Jika kaulnya dikabulkan, biasanya mereka datang lagi untuk menggelar ritual.

Di masing-masing lokasi ditempatkan seorang pemangku. Mereka bertempat tinggal tak jauh dari lokasi tempatnya bertugas. “Ini adalah anugerah. Kami yang rata-rata sudah berusia tua ini, harus menjalankan tugas ini dengan ikhlas,” ujar Romo Satrah, pemangku Pura Giri Mulyo, Minggu (8/3).

Romo Satrah pemangku tertua di wilayah lereng Raung. Ia menyimpan banyak benda yang berkaitan dengan zaman Rsi Markandiya. Benda-benda itu ia dapatkan saat menggali lahan pertanian miliknya dan disimpannya dengan rapi hingga kini. -udi

Sumber : http://www.parisada.org
Foto : http://blambangan.web.id

Pemanfaatan dan Pengembangan Situs Candi Bumiayu untuk Kepentingan Wisata, Pendidikan, dan Penelitian


Oleh : Tri Marhaeni

Pendahuluan
Candi-candi di Bumiayu, Muara Enim, Sumatra Selatan, merupakan death monument, artinya monumen yang telah ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Candi tersebut ditinggalkan mungkin seiring dengan terdesaknya kekuatan politik Hindu oleh Islam pada sekitar abad ke-16. Kemudian candi-candi itu rusak dan terkubur tanah hingga ditemukan kembali oleh E.P. Tombrink tahun 1864. Tinggalan monumental itu beserta sistem budayanya benar-benar hilang pula dari ingatan kolektif pewarisnya. Hal itu tampak bahwa penduduk Bumiayu tidak mengenal fungsinya semula. Cerita penduduk yang dicatat oleh A.J. Knaap tahun 1902 menyatakan bahwa apa yang sekarang disebut candi di Bumiayu itu adalah bekas istana sebuah kerajaan yang disebut Gedebong Undang. Diceritakan pula bahwa wilayah kerajaan tersebut sampai di Modong dan Babat. F.M. Schnitger melaporkan bahwa di kedua desa tersebut terdapat pula tinggalan agama Hindu (1934:4), namun kini telah hilang terkena erosi Sungai Lematang.

Penduduk Bumiayu tidak mengenal pula kata “candi” sebelum ada kegiatan penelitian, perlindungan, dan pemeliharaan di situs tersebut. Kata “candi” diambil dari bahasa Jawa untuk menggantikan kata “kuil” dari agama Hindu atau Budha. Namun, orang Jawa yang mewarisi puluhan candi-candi itu pun tidak mengenal lagi pengertian dan fungsi candi yang sebenarnya. Mereka menganggap candi sebagai bangunan pemakaman atau penanaman abu jenazah, bukan kuil dewa Hindu atau Budha. R. Soekmono (1974) melalui dissertasinya di Universitas Indonesia membuktikan dengan meyakinkan bahwa apa yang disebut candi itu sebenarnya adalah bangunan kuil dewa sebagaimana yang ada di tanah asalnya, Hindustan.

Selama ditinggalkan oleh pendukungnya, Candi Bumiayu potensial mengalami kerusakan, baik yang disebabkan oleh proses alam maupun tangan manusia. Diperkirakan kerusakannya lebih banyak disebabkan oleh karena tangan manusia. Masyarakat yang tinggal di sekitar Candi Bumiayu belum menyadari tinggalan tersebut sebagai pusaka warisan leluhurnya yang harus dilestarikan. Sebagai buktinya, digunakannya bata candi, baik polos maupun berelief, untuk bangunan pemakaman dan masjid di desa setempat. Bapak Hasan Husein (60 tahun) mengakui bahwa bata masjid Desa Bumiayu diambil dari sisa bangunan nomor lima.

Candi-candi Bumiayu yang ditemukan dalam keadaan demikian itu sejak tahun 1991 telah diupayakan pemanfaatan dan pengembangannya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Upaya tersebut dimulai oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan melakukan penelitian intensif sejak tahun 1991. Kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala dengan melakukan pemugaran sejak tahun 1992. Kini, seiring dengan otonomi daerah, Pemerintah Kabupaten Muaraenim merencanakan pemanfaatan dan pengembangannya untuk kepentingan pariwisata dalam kerangka pembangunan dalam arti yang seluas-luasnya. Oleh karena itu, perlu diketahui rambu-rambu hukum serta strategi pemanfaatan dan pengembangannya.

Rambu-Rambu Hukum
Candi Bumiayu yang ketika ditemukan keadaannya merana karena ditinggalkan masyarakat pendukungnya mendorong Pemerintah menguasai dan kemudian melindungi serta memeliharanya. Hal itu sesuai dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1992 Pasal 13 Ayat 1 bahwa setiap orang yang memiliki atau menguasai benda cagar budaya wajib melindungi dan memeliharanya.

Perlindungan dan pemeliharaannya dilakukan dengan cara penyelamatan, pengamanan, perawatan, dan pemugaran (P.P. No. 10 Tahun 1993 Pasal 23 Ayat 1) dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya (P.P. No. 10 Pasal 23 Ayat 2). Khusus untuk pelaksanaan pemugaran diberikan rambu-rambu yang lebih jelas lagi dalam Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 063/U/1995 Pasal 12 Ayat 4 bahwa pelaksanaan pemugaran harus memperhatikan prinsip-prinsip pemugaran yang meliputi keaslian bentuk, bahan, pengerjaan, dan tataletak dengan mempertahankan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Secara hukum telah ada pula upaya pencegahan benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya dari kerusakan oleh tangan manusia. Dalam UU No. 5 Tahun 1992 Pasal 15 Ayat 1 dinyatakan bahwa setiap orang dilarang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya. Selanjutnya dalam Pasal 15 Ayat 2 dinyatakan tanpa izin Pemerintah, setiap orang dilarang (a) mengambil atau memindahkan benda cagar budaya, baik sebagian maupun seluruhnya, kecuali dalam keadaan darurat; (b) mengubah bentuk dan/atau warna serta memugar benda cagar budaya; (c) memisahkan sebagian benda cagar budaya dari kesatuannya. Termasuk kegiatan yang dapat merusak benda cagar budaya adalah mengurangi, menambah, memindahkan, dan mencemari benda cagar budaya; dan (b) mengurangi, mencemari, dan/atau mengubah fungsi situs (PP No. 10 Tahun 1993 Pasal 29 Ayat 2).

Rambu-rambu hukum demikian seharusnya benar-benar dipatuhi dalam upaya pemanfaatan dan pengembangannya. Hal itu mengingat bahwa Candi Bumiayu dan situs serta lingkungannya termasuk sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources). Kecerobohan yang dilakukan tidak hanya menimpa dunia arkeologi, melainkan juga bangsa Indonesia secara keseluruhan. Hal itu berarti pula mengingkari maksud dan tujuan dari pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya arkeologi itu sendiri.

Pemanfaatan Situs Candi Bumiayu
Pemanfaatan situs Candi Bumiayu untuk kepentingan wisata dapat mencapai sasaran bila pengunjung mudah mencapai lokasi, kemudian menyaksikan objek wisata yang asli dalam suasana aman dan nyaman dengan mendapatkan pengetahuan baru yang menarik, dan pulang mendapatkan kesan yang menyenangkan. Keaslian objek wisata merupakan hal yang paling menarik wisatawan. Oleh karena itu, pemugaran candi harus benar-benar memperhatikan undang-undang dan peraturan-peraturan yang ada.

Kemudahan mencapai lokasi didukung dengan sarana dan prasarana jalan yang memadai. Keamanan di lingkungan candi harus diwujudkan. Keamanan tidak hanya dalam hal terhindar dari tindak kejahatan, melainkan dari sarana dan prasarana yang terdapat di lingkungan objek wisata. Suasana nyaman dapat diwujudkan dengan penyiapan parkir kendaraan, jalan lingkungan objek wisata, pertamanan, fasilitas pelepas lelah, dan toilet serta terjaganya kebersihan lingkungan. Pengetahuan baru yang menarik disediakan dengan memberi informasi yang singkat, jelas, akurat, dan disajikan dengan bahasa yang sederhana. Untuk membuat informasi demikian perlu mempunyai asumsi bahwa pengunjung adalah orang-orang yang tidak banyak waktu, beraneka ragam tingkat pendidikan, belum mengenal dengan baik Candi Bumiayu dan lingkungannya, dan menginginkan kemudahan.

Pemanfaatan Candi Bumiayu untuk kepentingan pendidikan sejarah bangsa dapat tercapai jika mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Nasional, khususnya guru sejarah di sekolah-sekolah. Tercapainya sasaran pendidikan, termasuk pendidikan sejarah bangsa, dipengaruhi pula oleh kelengkapan media belajarnya. Dalam hal itu perlu juga dimasukkan Candi Bumiayu dalam muatan lokal dari pendidikan sejarah bangsa serta diprioritaskan sebagai tempat widyawisata murid-murid sekolah. Kelayakannya sebagai media belajar dan objek widyawisata anak didik dapat dilihat dari keaslian, nilai sejarah dan budayanya. Candi Bumiayu tidak hanya merupakan bukti kehidupan leluhur bangsa, melainkan juga merupakan simbol yang dapat membangkitkan kesadaran sejarah dan kebanggaan nasional serta memperkuat jatidiri bangsa.

Pemanfaatan Candi Bumiayu sebagai objek penelitian tidak hanya mencakup penelitian arkeologi, melainkan juga, sebagai contoh, arsitektur, teknik, dan biologi. Bagi arkeologi, Candi Bumiayu dan situs serta lingkungannya merupakan bahan kajian arkeologi keruangan (spatial archaeology) sekala mikro, semi-mikro, dan makro atau regional untuk mengetahui seluk-beluk teknologi/adaptasi lingkungan, sosial, dan idiologi/religinya. Bagi penelitian arsitektur, Candi Bumiayu dapat dipelajari dari segi pola perancangan dan latar belakangnya. Ilmu teknik sipil dapat meninjauanya dari aspek konstruksi. Sementara itu, peneliti biologi dapat memusatkan perhatian pada spesies lumut, jamur, dan ganggang yang tumbuh pada bangunan candi sekaligus teknologi pembasmiannya yang aman. Penelitian-penelitian tersebut diharapkan menjadi umpan balik bagi pengembangan Candi Bumiayu itu sendiri. Sebelum melaksanakan penelitian harus minta izin kepada Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Pemanfaatan Candi Bumiayu sebagai objek wisata, pendidikan, dan penelitian dapat menimbulkan kerusakan dengan banyaknya orang yang mengunjunginya. Kerusakan itu timbul karena bahan bangunan candi tersebut bersifat mudah pecah (fragile) dan rapuh. Bahannya dibuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu tertinggi tidak lebih daripada 1000o C (suhu tertinggi pembakaran tembikar). Dengan suhu tersebut butiran-butiran tanah liat belum mengalami pelelehan, baik di bagian permukaan maupun seluruhnya, serta berpori. Dalam keadaan demikian ikatan antarbutiran belum sekuat porselen serta bersifat menyerap air. Proses pelapukan bangunan candi berlangsung dalam pergantian musim hujan dengan kemarau. Selain itu, keadaan bata yang tinggi kelembabannya akan mengakibatkan tumbuhnya lumut, jamur, dan ganggang yang mempercepat proses pelapukannya. Oleh karena itu, tepat bila bangunan candi dinaungi bangunan cungkup.[1] Namun, bangunan cungkup itu hendaknya tidak menghalangi pandangan pengunjung. Apalagi bangunan candi digemari sebagai latar potret kenangan bagi pengunjung.

Keadaan bangunan yang mudah retak dan rapuh tidak memungkinkan pengunjung menginjak atau menaiki bangunan candi. Tekanan beban dari tubuh manusia, apalagi berulang-ulang, dapat mengakibatkan retaknya bata. Permukaan bata pun menjadi aus karena abrasi dari gesekan kaki pengunjung. Keausan akan berlangsung lebih cepat bila kaki pengunjung menggunakan alas atau sepatu yang dibuat dari bahan yang keras. Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diharapkan itu harus dibuat sistem pengamanan yang menjamin keselamatan candi.

Penelitian arkeologi yang dilakukan di situs Candi Bumiayu pun dapat memperparah kerusakan benda cagar budaya dan situs bila dilakukan tanpa metode dan teknik yang benar. Ekskavasi pada dasarnya mengambil benda dari matriknya. Oleh karena itu, dalam ekskavasi harus dilakukan perekaman data, baik dalam bentuk verbal maupun piktorial. Tanpa perekaman data yang benar, tinggalan arkeologi yang dipindahkan dari tempat asalnya (matriknya) kehilangan reliabilitasnya sebagai sumberdata. Pelaksanaan dan hasil kegiatan ekskavasi harus dilaporkan kepada instansi teknis yang berwenang (Balai Arkeologi Palembang dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Bangka-Belitung).

Pengembangan Situs Candi Bumiayu
Segala pengembangan situs Candi Bumiayu pada hakekatnya dimaksudkan untuk memaksimalkan pemanfaatannya. Pengembangan itu bersifat fisik maupun nonfisik. Pengembangan fisik mencakup pengadaan sarana dan sarana untuk kepentingan pengunjung maupun pengelola. Sementara itu, pengembangan nonfisik salah satunya mencakup penataan sistem informasi objek wisata.

Pengembangan fisik tidak akan diuraikan dalam kesempatan ini karena ada di luar bidang disiplin ilmu penulis. Namun, perlu dikemukakan bahwa pembangunan fisik itu dapat menjadi ancaman kerusakan bangunan candi, situs, dan lingkungannya. Sebagai misal, dalam pembangunan gedung yang permanen, jalan, dan selokan di situs dan lingkungannya dilakukan penggalian-penggalian untuk pondasi bangunan yang mungkin akan merusak lapisan budaya Candi Bumiayu yang penting artinya bagi penelitian. Lapisan budaya Candi Bumiayu adalah sekumpulan tinggalan-tinggalan budaya yang sezaman dengan Candi Bumiayu dan yang terkumpul dalam suatu ruang atau lapisan tanah tertentu. Tinggalan-tinggalan budaya dalam lapisan tersebut mungkin dapat memperluas wawasan dalam penafsiran tentang Candi Bumiayu dalam konteks budayanya. Untuk menghindari kerusakan tersebut diperlukan ekskavasi penyelamatan (salvage excavation) di lokasi yang direncanakan untuk bangunan-bangunan permanen.

Pemanfaatan Candi Bumiayu sebagai objek wisata, pendidikan, dan penelitian memerlukan pengembangan sistem informasi Candi Bumiayu. Dalam sistem tersebut terdapat hubungan fungsional antara sumberdaya manusia, alat, dan bahan informasi. Untuk itu perlu disiapkan tenaga informasi dan pemandu dengan memberi semacam kursus atau penataran singkat. Bahan pengajarannya mencakup seni bertutur dan komunikasi, kepariwisataan, dan kesejarahan dan kepurbakalaan Candi Bumiayu. Untuk tenaga pemandu swasta dapat direkrut dari kalangan penduduk setempat.

Bahan informasi Candi Bumiayu dapat digali dari hasil penelitian yang dilakukan selama ini. Informasi dimaksud mencakup keadaan objek wisata secara keseluruhan serta hasil-hasil kesenian dan kerajinan dari masyarakat setempat. Bahan-bahan tersebut perlu diolah terlebih dahulu sehingga mudah dipahami dan menarik khalayak umum yang beraneka ragam tingkat pendidikan dan pengetahuannya. Bahan-bahan informasi tersebut dapat dikemas dalam bentuk buku saku atau semacam leaflet yang harganya terjangkau masyarakat umum.

Untuk melengkapi informasi kesejarahan dan kepurbakalaan Candi Bumiayu diperlukan pengembangan fasilitas informasi. Fasilitas pertama adalah museum situs (museum lapangan), yaitu museum yang didirikan di situs dengan fungsi mengumpulkan, merawat, dan menginformasikan tinggalan arkeologi yang ditemukan di situs Candi Bumiayu. Unsur-unsur bangunan dari Candi Bumiayu yang tidak dapat dipasang kembali perlu juga dipamerkan dalam museum tersebut. Dengan demikian harus dipersiapkan tiga kelompok tenaga terampil, yaitu tenaga koleksi yang mempunyai ketrampilan di bidang arkeologi, tenaga perawatan yang mempunyai ketrampilan menangani preservasi dan restorasi benda koleksi, dan tenaga pemandu yang mempunyai ketrampilan menjelaskan benda-benda yang dipamerkan. Selain itu, di museum tersebut perlu dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang menyimpan bahan dokumentasi dan kepustakaan yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan Candi Bumiayu. Benda koleksi, bahan dokumentasi, dan kepustakaan itu dapat dimanfaatkan pula untuk kepentingan penelitian.

Untuk kepentingan pendidikan di Candi Bumiayu perlu dibangun pula sebuah bumi perkemahan yang representatif. Bumi perkemahan tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan jambore atau perkemahan dari kelompok-kelompok pemuda dan remaja yang mengunjungi candi, melainkan dapat juga diselenggarakan even-even kesenian, upacara peringatan keagamaan Hindu, dan pemerintahan, baik dalam sekala daerah maupun nasional. Dengan demikian secara tidak langsung dapat meningkatkan daya tarik dan promosi wisata.

Penutup
Pemanfaatan Situs Candi Bumiayu memerlukan pengembangan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam pemanfaatan dan pengembangannya harus diperhatikan dan dipatuhi rambu-rambu hukum dalam rangka perlindungan dan pemeliharannnya agar Candi Bumiayu sebagai sumberdaya arkeologi yang tidak dapat diperbaharui tidak mengalami kerusakan atau kemusnahan.

Pemanfaatan dan pengembangan situs Candi Bumiayu perlu melibatkan berbagai sektor, antara lain arkeologi, museum, pariwisata, arsitektur, dan konstruksi. Benturan antar-sektor atau superioritas sektor tertentu harus dihindari. Untuk itu diperlukan suatu kepemimpinan yang memadai dan yang didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional dan penuh dedikasi.

Daftar Pustaka
Soekmono, R., 1974, Candi, Fungsi dan Pengertiannya, Dissertasi Universitas Indonesia Jakarta
Schnitger, F.M., 1937, The Archaeology of Hindoo Sumatra, Leiden: E.J. Brill
__________
Tri Marhaeni adalah Peneliti Madya pada Balai Arkeologi Palembang.

Sumber :http://arkeologi.palembang.go.id
Foto : http://1.bp.blogspot.com

Nunik Was Here...


Oleh: Idha Saraswati

Mengikuti sifat mahameru atau mehru, pucuk candi meruncing seperti hendak mempertautkan angkasa, langit, dan bumi. Candi peninggalan zaman Mataram Kuna atau Mataram Hindu bernama Candi Gedongsongo di Bandungan memahkotai kawasan ini sebagai wilayah yang boleh jadi merupakan kawasan terindah di Jawa Tengah.

Udara pagi musim kemarau seperti saat ini membuat kompleks Candi Gedongsongo di Desa Candi, sekitar lima kilometer dari pusat keramaian daerah wisata Bandungan, sempurna keelokannya.

Langit biru sebiru-birunya. Cahaya matahari tidak mengusik kesejukan udara, sebaliknya malah sedemikian menyegarkan paru-paru.

Candi-candi di kompleks Candi Gedongsongo tersebar di lima wilayah, yang satu sama lain terpisah jauh oleh lembah berikut jajaran cemara serta perladangan penduduk dengan tanaman seperti kol dan sawi. Pada kelompok candi kelima, yang berada di posisi bukit paling puncak dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, orang seperti dibawa ke ilusi mengenai ”rumah dewa”-candi kha gra, bahasa Sanskerta yang kemudian menurunkan kata ”candi”.

Tak ada lagi yang melebihi posisi tertinggi candi itu. Ia menyatu dengan kontur lereng Gunung Ungaran—memberikan suatu pekerti mengenai ruang, yang seharusnya dicontoh para pengembang atau siapa saja yang berurusan dengan pembangunan gedung, rumah, vila, dan lain-lain. Dimensi kesakralan alam itulah yang pada umumnya sekarang diacak-acak para pengembang.

Mungkin disebabkan keterjalan kompleks Candi Gedongsongo, kompleks candi ini—setidaknya sampai sekarang—terjaga lingkungannya. Agak berbeda dari kompleks Candi Dieng di Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Banjarnegara dan Wonosobo, juga di Jawa Tengah, yang dari waktu ke waktu didesak pertanian penduduk. Sama seperti Candi Dieng, diperkirakan candi-candi itu dibangun pada sekitar abad ke-8-ke-9 Masehi ketika Jawa dikuasai Dinasti Sailendra.

Menurut catatan yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Semarang dalam buku Sejarah Kanupaten Semarang (2007), kompleks Candi Gedongsongo pertama kali ditemukan pada tahun 1740 oleh Loten. Selanjutnya, pada awal 1800-an, Raffles memberi nama ”Gedong Pitoe”, yang mungkin didasarkan pada jumlah temuan candi yang waktu itu masih berjumlah tujuh buah.

Beberapa kali pemugaran dilakukan, seperti di tahun 1928-1929 dan 1930-1931, serta di tahun 1977-1983. Yang terakhir itu dilakukan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah.

Hening
Tak banyak yang berubah dari Candi Gedongsongo, kecuali menara pandang di kawasan ini yang malah ”merusak” pemandangan (menara itu sebaiknya ditiadakan saja. Percayalah, dari perspektif candi yang merupakan hunian dewa, tak dibutuhkan menara lain).

Candi Gedongsongo tetap hening, setidaknya kalau dibandingkan kawasan wisata Bandungan, yang beberapa tempat karaokenya berdentum sepanjang malam sampai pagi. Jika dalam musim liburan seperti sekarang Bandungan bisa kebanjiran sekitar 5.000 pelancong per hari, kira-kira hanya seperlimanya mampir ke Gedongsongo. Pada hari biasa, jumlah pengunjung Candi Gedongsongo antara 100-200 orang per hari.

Menurut Supeno, Kepala Pengelola Candi Gedongsongo, pengunjung Candi Gedongsongo umumnya rombongan anak sekolah, keluarga yang punya minat akan wisata candi, serta para wisatawan asing.

Seperti suatu pagi pekan lalu, selain beberapa turis asing, terlihat sejumlah murid SD dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dikawal ibu guru mereka yang manis. ”Kalau Bandungan kan tamunya bawa mobil, kalau di sini kebanyakan menengah ke bawah,” kata Supeno.

Untuk menikmati candi-candi di situ, terlebih sampai kompleks candi teratas, dibutuhkan sedikit energi. Dari pintu masuk kompleks candi, diperlukan waktu tempuh sekitar satu jam untuk mencapai dataran paling atas. Bagus untuk olahraga.

Atau pengunjung bisa memilih naik kuda. Di situ banyak penduduk setempat menyewakan kuda. Mereka tergabung dalam Paguyuban Turonggo Mulyo dengan jumlah anggota sekitar 60 kusir kuda. Salah satunya Nur Aziz (18), pemilik kuda, yang mengaku mendapat rata-rata satu sampai dua penumpang setiap hari.

Uang sewa untuk naik kuda adalah Rp 50.000. Dari uang sewa itu para penyedia kuda sewaan ini harus membagi penghasilannya untuk makanan kuda, kira-kira Rp 30.000 per hari. ”Kalau hari biasa (maksudnya bukan musim libur), yang kerja paling hanya setengahnya. Yang lain milih kerja di ladang,” kata Muhtarom (33), yang juga penyedia kuda sewaan di situ.

Jelas ada suasana berbeda di Candi Gedongsongo. Puncak-puncak gunung seperti Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di kejauhan membuat candi-candi di kompleks Candi Gedongsongo terlihat makin anggun. Di antara pembangunan kawasan wisata Bandungan yang menunjukkan tanda-tanda kian berkembang, mudah-mudahan keanggunan Candi Gedongsongo ini tak terusik. Juga janganlah sampai ada tangan-tangan jahil, yang di dekat relief arca Durga Mahisasuramardini di situ, membuat coretan, ”Nunik was here”.

Sumber : http://cetak.kompas.com
Foto : http://i248.photobucket.com

Natural Transform, Studi Kasus Temuan Fragmen Keramik di Parit Keliling Kompleks Candi Plaosan


Oleh Stanov Purnawibowo
Pendahuluan
Data arkeologi sebenarnya merupakan cerminan kehidupan dan keadaan masa lalu yang sudah mengalami bias, dengan demikian data yang kita temukan sekarang bukan cerminan masa lalu yang sesungguhnya. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab. Daniels (1972), mengelompokkan faktor-fakor tersebut menjadi historical factors, post-depositional factors, dan research factors. Historical factors meliputi semua faktor penyebab yang berasal dari cara hidup pembuat dan pemakai artefak, lingkungan sekitar, serta reaksi mereka terhadapnya. Post-depositional factors mencakup semua sebab yang mengubah kedudukan atau posisi data setelah ditinggalkan oleh pemakainya hingga ditemukan oleh arkeolog. Research factors adalah faktor-faktor yang berasal dari si peneliti mulai dari ekskavasi hingga publikasi. Pengaruh faktor ini dapat menghasilkan distorsi data yang sangat merugikan. Proses yang membentuk data arkeologi hingga seperti keadaan pada waktu ditemukan sekarang disebut proses transformasi data arkeologi (Tanudirja,1992:72). Dalam perjalanannya, terdapat faktor-faktor dan proses-proses yang mengakibatkan terjadinya transformasi atau perubahan terhadap data arkeologi.

Berdasarkan pandangan dari kaum behavioral, terdapat tiga ranah penelitian arkeologi yang harus diperhatikan, pertama ialah bagaimana menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan proses pembentukan data arkeologi (formation of the archaeology record); kedua menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan upaya merekonstruksi, mengidentifikasi, serta menggambarkan tingkah laku manusia pada masa lalu; ketiga menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tingkah laku manusia pada masa lalu. Proses-proses yang mempengaruhi pembentukan data arkeologi beserta akibat-akibat yang dihasilkannya perlu diidentifikasi dan dikenali sebelum kesimpulan tentang tingkah laku (human behavior) serta budaya masa lalu dihasilkan. Menurut Schiffer (1976), ketika masa lalu dikaji tanpa memperhatikan tiga hal di atas, maka hasilnya akan banyak dipengaruhi oleh bias, sebab menurutnya data arkeologi merupakan hasil akumulasi bias. Pemahaman tentang masa lalu harus didahului oleh pemahaman mengenai bagaimana data tersebut terbentuk, mengalami perubahan hingga memperlihatkan ciri-ciri yang spesifik seperti pada saat ditemukan.

Proses transformasi data arkeologi tidak terlepas dari adanya bias yang terdapat pada data arkeologi. Disebutkan oleh Collins (1979), besarnya bias terhadap data arkeologi disebabkan oleh tujuh faktor yaitu:

• Tidak semua pola tingkah laku manusia menghasilkan budaya materi.
• Di antara pola budaya materi yang terbentuk tidak mempunyai kesempatan untuk masuk konteks arkeologi.
• Di antara budaya materi yang masuk ke dalam konteks arkeologi tidak semuanya merupakan konteks yang jelas.
• Tidak semua data terawetkan di dalam lingkungan pengendapannya.
• Di antara data yang terawetkan tidak semuanya dapat diselamatkan.
• Di antara data arkeologi yang terselamatkan tidak semuanya mampu diungkapkan oleh arkeolog.
• Di antara pola-pola data yang ada tidak semuanya dapat diidentifikasi dengan tepat.

Besarnya bias terhadap data arkeologi harus dilakukan intepretasi yang didasarkan atas minimal tiga macam hubungan antar data arkeologi. Pertama, hubungan antar atribut data arkeologi. Kedua, hubungan keruangan atau spasial antar data arkeologi, serta hubungan antara data arkeologi dengan lingkungannya. Ketiga, hubungan kuantitatif yang relatif ataupun absolut antar data arkeologi. Hal tersebut menurut Yuwono (1999: 15), merupakan awal dari pengungkapan makna data secara luas, yang didahului oleh penjelasan proses pembentukan data arkeologi hingga ditemukan kembali. Secara umum faktor penyebab terjadinya transformasi data arkeologi dalam kaitannya dengan post-depositional factors dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama perubahan dapat terjadi karena faktor tindakan manusia baik disengaja maupun tidak, jenis transformasi yang demikian disebut Cultural Transform atau C-Transform. Kedua adalah perubahan yang disebabkan oleh faktor alam atau disebut Natural Transform atau N-Transform.

Sejalan dengan pengelompokkan faktor-faktor tersebut, maka dikenal dua macam konteks dalam pandangan transformasi data arkeologi yaitu systemic context (S) dan archaeological context (A). Systemic context merupakan sekumpulan benda yang masih masuk dalam sistem tingkah laku manusia pendukungnya. Archaeological context adalah sekumpulan benda yang tidak lagi berfungsi/difungsikan dalam suatu sistem tingkah laku masyarakatnya. Keseluruhan objek yang terdapat dalam archaeological context merupakan hasil hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia dan materi dengan tingkah laku budaya dan non budaya yang membentuk data arkeologi.

Secara umum konteks arkeologi dibagi menjadi dua garis besar, yaitu konteks primer dan konteks sekunder. Konteks primer adalah kondisi dari data arkeologi yang berupa matriks, provenience (keletakan di muka bumi) dan asosiasi belum teraduk sejak data arkeologi terdeposit hingga ditemukan kembali oleh arkeolog. Konteks sekunder adalah kondisi data arkeologi yang berupa matriks, provenience, serta asosiasi telah mengalami perubahan, baik secara keseluruhan ataupun sebagian, akibat dari proses transformasi yang terjadi setelah data arkeologi terdeposisi di suatu tempat. Lebih rinci lagi masing-masing konteks dapat dibedakan menjadi dua kategori, sehingga keseluruhannya terdapat empat jenis konteks arkeologi.

Konteks primer dibedakan menjadi Use-related primary context dan Transposed primary context. Use-related primary context dapat diartikan sebuah konteks yang dihasilkan melalui deposisi di lokasi artefak dibuat dan digunakan oleh para pendukungnya. Transposed primary context adalah sebuah konteks yang dihasilkan melalui tingkah laku yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pembuatan atau penggunaan artefak, tetapi melalui tingkah laku yang berhubungan dengan pembuangan atau penimbunan deposit-deposit tertentu.

Konteks sekunder dibedakan menjadi Use-related secondary context dan Natural secondary context. Use-related secondary context dapat diartikan aktivitas pengadukan yang dilakukan oleh manusia berikutnya, baik sengaja maupun tidak, untuk tujuan tertentu. Aktivitas yang dimaksud misalnya peperangan, penggunaan lahan untuk keperluan pertanian, pembangunan gedung-gedung, atau penjarahan (looting). Jenis-jenis peristiwa tersebut biasanya dapat dikenali oleh arkeolog. Natural secondary context adalah konteks yang pada proses pembentukannya diakibatkan oleh perilaku non-budaya, misalnya oleh binatang, tumbuhan, dan peristiwa-peristiwa alam tertentu.

Dari pemaparan di atas, tulisan ini akan membahas salah satu contoh kasus Natural Transformation (N-Transform) yang terjadi, serta jenis konteks arkeologi yang terbentuk oleh proses N-Transform pada fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit keliling Kompleks Candi Plaosan. Pembatasan ruang lingkup pembahasan hanya pada ranah Natural Transformation disebabkan oleh kondisi parit sisi bagian barat ditemukan keramik dalam jumlah banyak yang kondisinya fragmentaris, serta terdeposisi tidak pada setiap lapisan (layer) tanah. Pada sisi bagian selatan parit ditemukan fragmen keramik yang tidak utuh (fragmentaris) dan terdeposisi hampir setiap layer (lapisan tanah), serta berasosiasi dengan sedimen yang mengisi parit tersebut (menyebar baik secara vertikal maupun horisontal). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan data arkeologi dalam konteks arkeologi.

Metode penalaran tulisan ini adalah induktif, sifat penelisikan deskriptif-analitif yang merupakan bagian dari sifat penelitian eksploratif. Penelisikan ilmiah ini berawal dari data lapangan yang diperoleh mulai tahun 2003 hingga tahun 2004, berupa data hasil ekskavasi dan pengeboran tanah di beberapa titik lokasi. Data tersebut antara lain fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit, data stratigrafi parit, dan data sebaran lokasi terdeposisinya fragmen keramik baik secara vertikal maupun horisontal. Data-data yang diperoleh kemudian dideskripsikan serta disinkronkan dengan teori transformasi data arkeologi serta jenis konteks arkeologinya untuk kemudian dapat dilihat jenis transformasi data dan jenis konteks arkeologinya.

Gambaran Umum Hasil Ekskavasi
Kompleks Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Secara geografis Kompleks Candi Plaosan berada pada dataran kaki vulkan (Volcanic Footplain) Gunung api Merapi, yaitu pada koordinat 7º44‘32” LS dan 110º30‘11,07” BT. Dataran kaki vulkan secara umum memiliki morfologi bentuk lahan datar (flat) hingga landai (ganttle slope) dengan kemiringan 0-7%. Lingkungan sekitarnya berupa persawahan yang subur dan permukiman. Letak Kompleks Candi Plaosan secara fisiografis termasuk di zone tengah Pulau Jawa. Daerahnya berupa depresi yang ditumbuhi gunung api dan rangkaian pegunungan. Di sisi lain, aktivitas volkan (berhubungan dengan proses pengeluaran inti bumi dari dalam bumi) Merapi juga menimbulkan kerusakan yang menimbun hampir keseluruhan bangunan candi yang tersebar di daerah selatan dan barat wilayah Jawa Tengah.

Kompleks Candi Plaosan merupakan salah satu candi yang terletak di daerah selatan zone tengah. Sebagian besar komponennya tertimbun oleh endapan piroklastik hasil erupsi Merapi selama periode Kuarter (10.000 s.d.1000.000 tahun yang lalu), serta endapan epiklastik yang proses pembentukannya lebih kemudian melalui proses erosi air terhadap endapan material piroklastik. Hal ini terlihat dari material penyusun permukaan Kompleks Candi Plaosan yang terdiri dari endapan piroklastik yang materialnya berukuran debu, pasir, dan kerakal, serta endapan epiklastik (Yuwono, 2003: 13 — 25).

Kompleks Candi Plaosan dikelilingi struktur parit yang baru ditampakkan secara intensif oleh BP3 Jawa Tengah pada tahun 2002 — 2003. Penelitian tentang parit Plaosan dilakukan oleh Kusen sejak tahun 1986, kemudian dilanjutkan oleh kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Jawa Tengah. Struktur parit yang sudah ditampakkan selebar 8 m, panjang 150 m ke arah utara, dan 200 m ke arah timur. Penggalian tahun 1986 yang dilakukan oleh SPSP Jawa Tengah membuka struktur parit sepanjang 25 m. Pada bulan Februari 2003 Jurusan Arkeologi bekerjasama dengan SPSP Jawa Tengah mengadakan penelitian arkeologis dan sosial-budaya di situs Plaosan yang bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi parit Plaosan. Pada parit Kompleks Candi Plaosan ditemukan data arkeologi berupa fragmen gerabah, fragmen keramik, fragmen logam, fragmen gigi binatang dan fragmen tulang. Data tersebut banyak ditemukan di dalam parit dan ada sebagian ditemukan di sekitar dinding dan pagar parit.
Terdapat hal menarik sehubungan dengan temuan data arkeologi di dalam parit yang masih luput dari penelitian-penelitian sebelumnya. Hal menarik tersebut pada lokasi parit sisi bagian barat ditemukan keramik dalam jumlah banyak yang kondisinya fragmentaris, serta terdeposisi tidak pada setiap layer tanah. Pada sisi bagian selatan parit ditemukan fragmen keramik yang tidak utuh (fragmentaris) dan terdeposisi hampir setiap layer (lapisan tanah), serta berasosiasi dengan sedimen yang mengisi parit tersebut (menyebar baik secara vertikal maupun horisontal).

Hasil survei yang dilakukan tim survei fisik kawasan Kompleks Candi Plaosan dari FIB UGM pada tahun 2003, menunjukkan adanya dua strata geologi yang pokok di kawasan tersebut. Dua strata geologi tersebut adalah endapan pasir lepas (unconsilidated sand) hasil dari erupsi Merapi Muda di lapisan atas, dan endapan pasir konglomeratan yang agak kompak (consolidated sand) hasil erupsi Merapi Tua. Endapan pasir lepas tersebut mengubur permukaan maeveld (lapisan tanah budaya yang satu konteks sistem dengan candi) dari Candi Plaosan sedalam 21 cm — 50 cm.

Parit sisi barat yang diwakili oleh sektor A dan B memiliki ketinggian 162,742 m dpl hingga 161,423 m dpl yang memanjang dari utara ke selatan. Dari data ekskavasi di parit sisi bagian barat ini deposisi fragmen keramik mulai terdapat pada kedalaman 80 cm hingga kedalaman 280 cm dari permukaan tanah. Pada lapisan tanah warna gelap, tekstur geluh pasiran, tidak dijumpai kerikil, merupakan lapisan pertama di kedalaman -50 cm — -95 cm dari permukaan tanah. Fragmen keramik yang terdeposisi berjumlah 12 keping. Fragmen tersebut terdiri dari empat keping bagian bibir, satu keping bagian badan yang berkarinasi, lima keping bagian badan, dan dua keping bagian dasar. Pada lapisan tanah dengan bercak (mottling) kemerahan, warna coklat, konsistensi agak teguh, tekstur geluh pasiran dengan kedalaman -95 cm — -115 cm ditemukan fragmen keramik sebanyak 7 keping. Terdiri dari 1 keping bagian badan dan 6 keping bagian dasar.

Pada lapisan tanah pasir halus dengan tekstur geluh dengan sisipan abu vulkanik di kedalaman -160 cm — -162 cm hingga kedalaman -140 cm — -220 cm jumlah fragmen keramik yang ditemukan 85 keping. Fragmen tersebut terdiri dari 16 keping bagian bibir, 11 keping bagian leher, 27 keping bagian badan, dan 30 keping bagian dasar. Keseluruhan fragmen keramik tersebut tidak ada satupun yang berasal dari satu wadah yang sama. Pengamatan terhadap bagian-bagian fragmen tersebut diketahui yang terdeposisi adalah fragmen dari guci dan mangkuk.

Parit sisi timur yang diwakili oleh sektor D dan C memiliki ketinggian 162,943 m dpl hingga 162,947 m dpl yang memanjang dari utara ke selatan. Dari data hasil ekskavasi di parit sisi timur deposisi fragmen keramik mulai terdapat pada kedalaman -60 cm hingga kedalaman -220 cm dari permukaan tanah. Pada kedalaman -0 cm — -115 cm lapisan tanahnya berstruktur kompak, berwarna coklat kekuningan dan terdapat endapan pasir halus. Pada lapisan ini hanya ditemukan 1 keping bagian bibir. Pada kedalaman -140 cm, di lapisan tanah pasir halus, berasosiasi dengan tanah lempung, fragmen yang terdeposisi berjumlah 2 keping terdiri dari 1 keping bagian badan dan 1 keping bagian bibir.

Pada kedalaman -200 cm dan -220 cm, di dalam lapisan tanah dengan struktur kompak berwarna abu-abu, tanah lempung berwarna coklat kekuningan & tanah lanau berwarna abu-abu, jumlah deposisi fragmen keramik 8 keping. Terdiri dari 4 keping bagian bibir, 3 keping bagian badan, dan 1 keping bagian dasar. Pada parit sisi timur lapisan sedimen yang mengendap didominasi oleh lempung, gambar stratigrafi diambil dari penampang stratigrafi sisi utara, sebelum bangunan yang melintang di dalam parit. Hal ini akan berdampak pada endapan lempung yang dihasilkan di dalam parit sisi timur. Endapan tersebut diakibatkan oleh air yang berarus lambat atau cenderung menggenang.

Parit sisi selatan diwakili oleh sektor E yang memiliki ketinggian 161,210 m dpl memanjang dari arah barat ke timur. Fragmen keramik mulai ditemukan pada kedalaman -40 cm hingga kedalaman -220 cm dari permukaan tanah. Pada kedalaman -0 cm — -70 cm, lapisan tanahnya didominasi oleh lapisan tanah olah warna gelap, dijumpai banyak kerikil, tekstur geluh pasiran. Pada lapisan tersebut ditemukan fragmen keramik yang ditemukan berjumlah 8 keping yang terdiri dari 4 keping bagian bibir, 2 keping bagian badan, dan 2 keping bagian dasar. Lapisan tanah berikutnya yaitu lapisan tanah warna gelap, sedikit dijumpai kerikil dibandingkan lapisan di atasnya, tekstur geluh pasiran merupakan tanah olah sebelum lapisan sekarang pada kedalaman -70 cm — -130 cm.

Jumlah fragmen keramik yang ditemukan di lapisan tersebut 40 keping yang terdiri dari 10 keping bagian bibir, 9 keping bagian badan, dan 21 keping bagian dasar. Lapisan berikutnya pada kedalaman -130 cm — -175 cm merupakan lapisan tanah yang didominasi oleh pasir halus yang diselingi lapisan lempung pasiran, ditemukan fragmen keramik berjumlah 24 keping. Terdiri dari 20 keping bagian badan dan 4 keping bagian dasar. Lapisan tanah pasir kasar warna keabu-abuan bercampur endapan lempung pada kedalaman -175 cm — -225 cm ditemukan fragmen keramik berjumlah 265 keping. Fragmen tersebut terdiri dari 60 keping bagian bibir, 3 keping bagian cerat, 107 keping bagian badan, dan 95 keping bagian dasar.

Natural Tranform dan Jenis Konteks
Proses transformasi Natural Transform terjadi pada fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit pada sedimen disebabkan oleh medium air baik yang berarus deras, sedang, lambat, atau menggenang karena adanya penahan arus berupa tanggul yang ada di dalam parit. Sedimen yang batas setiap lapisannya membentuk garis linear secara teratur, diasumsikan air sebagai medium pembawa sedimen juga membawa fragmen keramik. Bila hal ini benar maka sebaran fragmen keramik dengan jumlah yang banyak akan terendapkan mengikuti batas antar lapisan, serta posisi di dalam sedimen akan terletak di bagian bawah sedimen yang diendapkan, karena ukuran fragmen keramik lebih besar bila dibandingkan dengan ukuran butir kerikil, pasir, lanau, serta lempung.

Dari kriteria tersebut proses transformasi fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit sisi barat dapat dilihat melalui posisi deposisi fragmen pada lapisan sedimen tertentu serta jumlah fragmen keramik yang diperoleh melalui hasil ekskavasi dari kotak-kotak yang dibuka di sektor A dan B. Sektor A dihasilkan jumlah fragmen 56 keping. Fragmen keramik di kotak-kotak tersebut diperoleh dari kedalaman -200 cm — -220 cm dan satu keping dari kedalaman -280 cm. Sektor B fragmen keramik diperoleh dari kedalaman -80 cm — -280 cm. Fragmen yang ditemukan di sektor B terletak pada lima jenis matriks sedimen yang berbeda.

Matriks pada deposisi seluruh fragmen keramik di sektor A masih berada pada satu layer (lapisan tanah) yang sama pada kedalaman -200 cm — -280 cm yang merupakan lapisan pasir kasar, konsistensi teguh, banyak terdapat kerikil dan gravel dengan susunan tidak beraturan. Adanya endapan pasir kasar, gravel, dan kerikil yang menjadi matriks dari 57 keping fragmen keramik di sektor A, susunannya tidak teratur. Hal ini dapat dijadikan indikasi medium pengendapnya adalah arus air bercampur dengan material gravel, kerikil, dan pasir yang arusnya cukup deras di dalam parit. Layer ini pernah menjadi permukaan yang tidak berair, terlihat dari adanya endapan abu vulkanik di atas layer ini dengan ketebalan 2 cm.

Fragmen keramik yang terdeposisi di sektor B pada kedalaman 80 cm, berjumlah empat keping fragmen, terdeposisi pada layer sedimen dengan tekstur geluh pasiran. Lapisan ini juga pernah menjadi lapisan permukaan, indikasi ini terlihat dari adanya campuran debu yang dominan pada lapisan pasir. Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman 100 cm, berjumlah delapan keping fragmen, terdeposisi pada layer sedimen dengan kondisi tekstur geluh pasiran, konsistensi agak teguh. Pada layer ini terdapat bercak/mottling kemerahan, bercak tersebut merupakan oksida besi (Fe) yang terjadi karena tanah tersebut pernah digunakan sebagai tempat pertanian dengan menggunakan sistem genangan air yang cukup lama.

Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman 140 cm, berjumlah tujuh keping yang terletak pada batas layer kelima dan keenam di dalam parit sisi barat, kondisi batas layer tersebut membentuk garis linear yang menurun di bagian tengah parit. Kondisi layer kelima yang menjadi matriks ini merupakan lapisan yang banyak mengandung kerikil, pelapisan yang tidak terus – menerus, tekstur geluh pasiran. Lapisan ini berada di dalam parit, banyaknya kerikil serta pasir pada layer ini mengindikasikan pernah ada arus air yang cukup deras di dalam parit, sehingga menghasilkan sedimen yang didominasi oleh kerikil dan pasir.

Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman 220-280 cm, berjumlah 28 keping yang terletak pada layer sedimen dengan kondisi lapisan pasir kasar, konsistensi teguh, banyak terdapat kerikil dan gravel dengan susunan tidak beraturan. Adanya endapan pasir kasar, gravel, dan kerikil yang susunannya tidak teratur pada layer ini dapat dijadikan indikasi medium pengendapnya adalah air bercampur dengan material gravel, kerikil, dan pasir yang arusnya cukup deras di dalam parit. Layer ini pernah menjadi permukaan yang tidak berair, terlihat dari adanya endapan abu vulkanik di atas layer ini dengan ketebalan 2 cm.

Proses transformasi fragmen keramik yang terjadi di dalam parit sisi barat sektor A, adalah transformasi oleh alam (Natural Transform), dalam hal ini medium pembawanya adalah aliran arus air deras di dalam parit yang bercampur dengan material gravel, kerikil, dan pasir kasar. Proses transformasi alam (Natural Transform) yang terjadi di sektor B terjadi pada fragmen keramik yang terdeposisi pada layer sedimen yang dihasilkan oleh arus air yang terjadi di dalam parit, baik oleh arus deras, lambat maupun menggenang. Dengan kata lain fragmen keramik yang berada pada kedalaman 140 cm, 220 cm, dan 280 cm dengan jumlah masing-masing 7 keping, 13 keping, dan 15 keping, terdeposisi di dalam parit oleh transformasi alam.

Proses transformasi fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit sisi timur dapat dilihat melalui data dari hasil ekskavasi di sektor C dan D. Proses tersebut dapat dilihat melalui posisi deposisi fragmen keramik pada lapisan-lapisan sedimen tertentu yang menjadi matriksnya, serta jumlah fragmen keramik yang diperoleh melalui data yang didapat di parit sisi timur. Data tersebut antara lain sektor C diperoleh jumlah fragmen 6 keping, yang tersebar 5 keping pada kedalaman -220 cm dan 1 keping pada kedalaman -140 cm. Sektor D jumlah fragmen 5 keping tersebar pada kedalaman -60 cm sebanyak 1 keping, kedalaman -140 cm sebanyak 1 keping, dan kedalaman -200 cm sebanyak 3 keping.

Sektor C fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -140 cm berjumlah 1 keping yang terdapat pada sedimen dengan konsistensi agak teguh, lapisan tanahnya mengandung banyak kerikil yang berasosiasi dengan lempung. Endapan lempung merupakan endapan yang diloloskan oleh pori-pori tanah pada lapisan di atasnya yang digunakan sebagai lahan pertanian yang menggenang/sawah. Sektor C fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -220 berjumlah 5 keping terdapat pada sedimen konsistensi teguh warna abu-abu yang berasosiasi dengan lempung kekuningan dan lanau abu-abu. Kandungan lempung dan lanau pada layer ini mengindikasikan lapisan ini terbentuk oleh air yang menggenangi bagian dalam parit.

Sektor D fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -60 cm berjumlah 1 keping terdapat pada sedimen endapan pasir halus di layer ini akibat dari hasil genangan air yang digunakan untuk mengairi persawahan. Sektor D fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -140 cm berjumlah 1 keping terdapat pada sedimen yang mengandung banyak kerikil dan berasosiasi dengan lempung. Endapan lempungnya merupakan endapan yang diloloskan oleh pori-pori tanah pada lapisan di atasnya yang digunakan sebagai lahan persawahan. Sektor D fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -200 cm berjumlah tiga keping terdapat pada sedimen dengan konsistensi teguh warna abu-abu yang berasosiasi dengan lempung kekuningan dan lanau abu-abu. Kandungan lempung dan lanau pada layer ini mengindikasikan lapisannya terbentuk oleh air yang menggenangi bagian dalam parit.

Proses transformasi Natural Transform terjadi pada fragmen keramik yang terdeposisi di sektor C pada kedalaman -220 cm dengan jumlah lima keping, serta di sektor D deposisi fragmen keramik pada kedalaman -200 cm dengan jumlah tiga keping. Proses transformasi fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit sisi selatan dapat dilihat dari lapisan sedimen yang mengisi parit sektor E dari seluruh kotak yang dibuka. Fragmen keramik yang ditemukan di sisi selatan didapat dari kedalaman -40 cm, -80 cm, -120 cm, -140 cm, -200 cm, dan -220 cm. Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman 40 cm berjumlah 18 keping fragmen, terdeposisi pada lapisan sedimen tanah warna gelap, tekstur geluh pasiran. Pada lapisan ini dijumpai banyak kerikil. Lapisan permukaan ini merupakan lapisan tanah olah pertanian yang teraduk serta banyak mengandung humus.

Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -80 cm, dan -120 cm, masing-masing berjumlah 4 keping dan 34 keping terdeposisi pada lapisan sedimen warna lebih gelap, kandungan kerikil lebih sedikit, tekstur geluh pasiran, konsistensi tidak teguh. Tekstur geluh pasiran menjadi indikasi lapisan tanah ini pernah menjadi permukaan. Lapisan ini walaupun menunjukkan gejala pembentukan oleh alam pada penjelasan di atas tetapi pernah menjadi lapisan permukaan yang dipergunakan untuk lahan pertanian, hal ini disamakan dengan kondisi layer yang sama pada layer sejenis di dua sisi parit lainnya. Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -140 cm berjumlah 24 keping, terdeposisi pada lapisan sedimen pasir halus yang berseling dengan lempung pasiran.

Lapisan pasir halus dan lempung pasiran mengindikasikan medium pengendapnya berupa arus air di dalam parit yang arusnya sangat lambat atau cenderung menggenang. Fragmen keramik yang terdeposisi pada kedalaman -200 cm dan -220 cm, masing-masing berjumlah 249 keping dan 16 keping, terdeposisi pada lapisan sedimen lempung pasiran. Lapisan sedimen lempung pasiran mengindikasikan medium pengendapannya berupa arus air di dalam parit yang sangat lambat atau menggenang. Lapisan ini diasumsikan pernah menjadi dasar dari parit pada waktu tertentu saat parit tersebut tergenang oleh air dan menghasilkan endapan lempung pasiran.

Proses transformasi karena alam (Natural Transform) terjadi pada fragmen keramik yang terdeposisi pada lapisan dengan kedalaman -140 cm, berjumlah 24 keping yang terdeposisi pada lapisan sedimen pasir halus dan lempung pasiran. Sedimen ini mengindikasikan medium pengendapnya berupa arus air yang arusnya sangat lambat atau cenderung menggenang. Proses transformasi yang sama juga terjadi pada deposisi fragmen keramik yang berada pada kedalaman -200 cm, dan -220 cm, masing-masing berjumlah 249 keping dan 16 keping. Fragmen keramik tersebut terdeposisi pada lapisan sedimen lempung pasiran. Sedimen tersebut mengindikasikan medium pengendapnya adalah arus air yang sangat lambat atau menggenang, dengan kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa lapisan ini pernah menjadi dasar parit.

Mengingat bentuk parit yang mengitari Kompleks Candi Plaosan (kecuali sisi utara yang hingga kini belum ditemukan strukturnya), posisi dari parit sisi selatan lebih rendah bila dibandingkan dengan sisi barat dan timur, maka bila ada aliran air di dalam parit maka deposisi fragmen keramik serta material yang terbawa oleh arus air akan terakumulasi di parit sisi selatan / sektor E. Hal ini berkaitan erat dengan adanya penampakan alur yang diduga sebagai outlet (saluran keluar) yang menuju sungai yang ada di sebelah timur Kompleks Candi Plaosan yang dekat dengan parit sisi selatan.

Natural Transform terjadi pada fragmen keramik yang terdeposisi pada lapisan dengan kedalaman -140 cm, dengan jumlah 24 keping terdeposisi pada lapisan sedimen pasir halus dan lempung pasiran. Sedimen ini mengindikasikan medium pengendapnya berupa arus air yang arusnya sangat lambat atau cenderung menggenang. Proses transformasi yang sama juga terjadi pada deposisi fragmen keramik yang berada pada kedalaman -200 cm, dan -220 cm, masing-masing berjumlah 249 keping dan 16 keping. Fragmen keramik tersebut terdeposisi pada lapisan sedimen lempung pasiran. Sedimen tersebut mengindikasikan medium pengendapnya adalah arus air yang sangat lambat atau menggenang, sehingga dapat dikatakan bahwa lapisan ini pernah menjadi dasar parit.

Jenis konteks arkeologi, natural secondary context terdapat pada fragmen keramik yang melalui proses transformasi oleh alam (Natural Transform). Jenis konteks ini terdapat pada seluruh deposisi fragmen keramik yang terdapat di setiap sisi parit keliling. Jenis konteks arkeologi natural secondary context pada fragmen keramik yang terdeposisi di parit sisi barat, terdapat di kedalaman -140 cm sebanyak 13 keping dan kedalaman -200 cm sebanyak 57 keping. Kemudian pada kedalaman -220 cm berjumlah 27 keping dan kedalaman -280 cm berjumlah 1 keping. Jenis konteks arkeologi Natural secondary context pada fragmen keramik yang terdeposisi di parit sisi timur, terdapat di kedalaman -200 cm berjumlah 4 keping dan kedalaman -220 cm berjumlah 5 keping. Jenis konteks arkeologi Natural secondary context pada fragmen keramik yang terdeposisi di parit sisi selatan, terdapat di kedalaman -140 cm berjumlah 24 keping, kedalaman -200 cm berjumlah 249 keping, dan kedalaman -280 cm berjumlah 16 keping.

Penutup
Natural Transform adalah proses pembentukan data arkeologi yang disebabkan oleh faktor alam, proses tersebut dapat dilihat pada temuan fragmen keramik yang terdeposisi di dalam layer (lapisan tanah) parit yang diindikasikan terbentuk oleh proses alamiah, hasil terbawa arus air dan materia sedimen di dalam parit. Jenis konteks yang terbentuk pada fragmen keramik yang terdeposisi di dalam parit melalui proses transformasi alamiah adalah Natural Secondary Context.

Kepustakaan:
Collins, B. Michael, 1979. “Sources of Bias in Processual Data: An Appraisal”, dalam James W. Mueller (ed.), Sampling In Archaeology. Arizona: The University of Arizona Press, hal. 16–32.

Daniels, S. G. H., 1972. “Research Design Model”, dalam David L. Clarke, Models in Archaeology. London: Methuen & Co. Ltd., hal. 201–229.

Kusen, 1986. “Parit Keliling Candi Plaosan”, dalam PIA IV. Jakarta: Puslitarkenas, hal. 397–412.
Mundardjito, 1982. “Pandangan Tafonomi”, dalam Arkeologi : Penilaian Kembali atas Teori dan Metode, dalam PIA II. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala, hal. 497–509.

Schiffer, Michael B., 1976. Behavioral Archaeology. New York: Academic Press.

——————-, 1987. Formation Processes of The Archaeological Record. Albuquerque: University of New Mexico Press.

Sharer, Robert J. and Wendy Ashmore, 1993. Archaeology : Discovering Our Past, Second Edition. California: Mayfield Publishing Company, Inc.

Yuwono, Edy J. S, 2002–2003. Laporan Survei Lingkungan Fisik Kompleks Candi Plaosan dan Sekitarnya. Yogyakarta: Unit Pengkajian dan Pengembangan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (belum diterbitkan).

——————-, 1993/1994. Laporan Penelitian Transformasi Batuan Candi Pacitan (Sebuah Kajian Tafonomi), Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM (belum diterbitkan).

——————-,1999. “Situs Gunungbang dalam Perspektif Transformasi”, dalam Seminar Sehari Penelitian Perpadu Kawasan Arkeologis (PTKA) Gunungkidul Tahap I, 12 Mei 1999. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

——————-, 2000. Paradigma, Karakter, dan Data Arkeologi, Bahan Kuliah Metode Arkeologi I. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

Tanudirja, Daud Aris, 1992. “Retrospeksi Penelitian Arkeologi di Indonesia”, dalam PIA VI. Malang: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, hal. 156–174.

Tim HIMA, 2003. Laporan Analisis Fragmen Gerabah dan Keramik Parit Plaosan. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM (tidak diterbitkan).
__________
Stanov Purnawibowo adalah Peneliti pada Balai Arkeologi Medan.

Sumber :http://balarmedan.wordpress.com
Foto : http://2.bp.blogspot.com

Minimalisasi Dampak Negatif Pemanfaatan Candi Borobudur Sebagai Objek Wisata:


Oleh: Muhammad Taufik dan Sumijati Atmosudiro.
Program Studi Arkeologi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Abstarct
The management Borobudur temple as a cultural tourism object is a new development of cultural management in Indonesia. From colonial pe¬riod until the beginning of the independence of Indonesia, management of cultural preservation covered only on conservation and protection aspects. By the end of 20th century, a paradigm in management of cultural preserva¬tion has developed into benefit tourism actracties. The use of cultural preser¬vation as one of tourism object intended to increase income the social economic community surround it. This is called as Cultural Resource Management (CRM).

The use of Borobudur temple as tourism object has positive and nega¬tive impact to the temple and the community suround it. Borobudur temple attracts attention of billions tourists to visit it. Their visit cause direct damage such as vandalism activities (scratching, rubbish, climbing, and stealing temple‘s component), olso indirect damage such as worn out and cracking of temple‘s stone component.

Beside of visitor factor, the damage of Borobudur temple caused by con¬servation activities such as brushing of the stone blocks, which may cause falling of particles in stone. It should be known that the stone blocks of Borobudur temple experience degradation caused by natural factor for a many of time.

Because of that, the effort to minimalize impact of using Borobudur temple as tourism object should be thought and implemented immediately. Those efforts are visitor management, building management, and the use of right conservation methods.

Pengantar
Dijadikannya Candi Borobudur sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia telah memberikan sumbangan yang tidak kecil pada peningkatan devisa negara. Pengunjung Candi Borobudur Baru tahun ke tahun cenderung meningkat. Peningkatan jumlah pengunjung di satu pihak dapat menambah pendapatan negara dan masyarakat di sekitarnya, tetapi di lain pihak juga dapat mengancam kelestarian candi ini. Candi yang dibangun kira-kira abad VIII pada masa pemerintahan wangsa Sailendra ini telah kurang lebih 1260 tahun berada di alam terbuka, artinya bahan bangunan yang terbuat dari batu andesit itu juga telah mengalami proses degradasi (pelapukan) oleh faktor waktu dan alam.

Meningkatnya jumlah pengunjung ke Candi Borobudur akan memberikan dampak kurang baik bagi upaya pelestarian warisan budaya. Oleh karena itu, perlu dibuat wilayah peredam yang dapat menghambat pengunjung agar tidak naik bersama-sama ke candi, yaitu dengan membuat taman wisata di lingkungan candi. Keberadaan taman wisata diharapkan membuat pengunjung akan tersebar ke berbagai penjuru taman. Dengan tersebarnya pengunjung akan mengurangi beban yang ditanggung oleh bangunan candi (Tanudirjo, 1993-1994).

Ada dua faktor utama penyebab terjadinya degradasi pada bangunan candi, yaitu faktor dari dalam dan luar. Faktor dari dalam biasanya disebabkan oleh keroposnya bangunan itu sendiri, seperti konstruksi dan bahan penyusunnya. Faktor dari luar adalah pengaruh lingkungan biotik, abiotik, dan khernis. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik adalah tumbuhnya tanaman tingkat tinggi ( ilalang, perdu, pohon-pohon besar ) dan tanaman tingkat rendah (lumut, jamur, jamur kerak, dan algae). Selain itu, kerusakan juga disebabkan oleh aktivitas manusia, baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Kerusakan disengaja seperti corat-coret, pencurian, pengotoran, batu penyusun jatuh karena dipanjat, sedangkan kerusakan tidak disengaja seperti terjadinya keausan batu pada lantai bangunan dan kerontokan. Kerontokan terjadi akibat pembersihan gulma pada batu candi dengan menggunakan sikat.



Candi Borobudur sebagai Objek Wisata
Keputusan menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang penting di Indonesia karena keberadaan bangunan ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang melekat padanya yaitu nilai ekonomi, estetika, asosiatif, informasi (Subroto, 2003), historis, dan arkeologis (Soetomo, 1996).

Nilai ekonomi (economic value) berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya arkeologi sebagai objek budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Jika suatu peninggalan budaya dijadikan objek wisata budaya, maka akan memberikan dampak ekonomi pada lingkungan sekitarnya, terutama pada peningkatan penghasilan masyarakat dan menambah devisa negara.

Nilai estetika (aesthetic value) adalah nilai keindahan yang dapat menarik dan atau mendorong wisatawan untuk berkunjung ke tempat itu. W.O.J. Nieuwenkamp beranggapan bahwa bentuk candi Borobudur itu pada dasarnya merupakan bentuk bunga padma (lotus). Maka jika dilihat dari atas tingkat Kamadhatu dan Rupadhatu dapat disamakan dengan kelopak-kelopak dari bunganya, sedangkan tingkatan Arupadhatu, tempat stupa-stupa itu berada, dianggap sama dengan putik¬putik sarinya.(Subroto, 2003).

Nilai asosiatif (associative value) adalah asosiasinya dengan lingkungan atau bangunan-bangunan lain yang ada di sekitarnya, atau sumber-sumber lain seperti mata air, serta tinggi rendah lokasi candi. Keberadaan Sungai Elo dan Sungai Progo yang dianggap suci oleh umat Buddha di Indonesia diasosiasikan dengan Sungai Gangga dan Sungai Jamuna di India. Selain itu, Candi Borobudur diyakini juga seperti bunga teratai di tengah danau.

Nilai informasi (information value), berhubungan dengan aspek teknologi, filsafat, agama, etika, dan norma. Nilai informasi Candi Borobudur dapat diamati dari aspek filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika, dan norma yang diajarkan di dalam penggambaran relief-relief candi.

Nilai historis (historic value) adalah nilai kesejarahan yang dimiliki suatu objek atau peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan objek tersebut. Nilai historis bangunan Candi Borobudur dapat diketahui, baik dari sumber tertulis, seperti prasasti dan karya sastra, maupun sumber tak tertulis, misalnya gaya bangunan, seni area, dan unsur-unsur bangunan lainnya.

Nilai arkeologi (archaeological value) adalah nilai yang berkaitan dengan kekunaan yang meliputi bentuk arsitektur, tahapan pembangunan, dan temuan artefak di sekitarnya. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan empat tingkat berundak menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1982) dengan arsitektur India yang dicirikan oleh bentuk stupa sebagai puncaknya. Stupa sendiri adalah prototip dari makam raja yang berbentuk kubah dari timbunan bata atau tanah yang disebut "tumulus" (Brown, 1976).



Pengunjung Candi Borobudur
Pengunjung Candi Borobudur dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Berdasarkan laporan tahunan Balai Studi dan Konservasi Borobudur, lima tahun pertama di era delapan puluhan, rata-rata kunjungan ke Candi Borobudur berkisar antara 1.000.000 - 1.500.000 orang. Memasuki tahun sembilan puluhan, terjadi kenaikan jumlah pengunjung yang sangat besar yaitu 1.750.000 - 2.500.000 orang. Puncak kunjungan pada tahun sembilan puluhan ini terjadi pada tahun 1997 dengan jumlah kunjungan mencapai 2.750.000 orang. Di penghujung tahun sembilan puluhan situasi politik dan keamanan Indonesia kurang baik yang disebabkan oleh gerakan reformasi untuk mengganti kepemimpinan nasional. Akibat dari gerakan tersebut adalah tidak adanya jaminan keamanan, kepastian hukum, dan kenyamanan berusaha. Kenyataan di atas juga berpengaruh pada jumlah pengunjung Candi Borobudur. Masyarakat takut mengadakan perjalanan karena di berbagai media massa diberitakan bahwa kondisi keamanan di Candi Borobudur pada waktu itu sangat memprihatinkan. Kelakuan pengasong yang memaksa wisatwan untuk membeli dagangannya, munculnya preman-preman di tempat parkir, dan terjadinya penodongan membuat orang takut untuk berwisata ke Candi Borobudur bahkan di tempat-tempat wisata lainnya seperti Candi Prambanan. Jumlah wisatawan hanya 1.500.000-an orang, sama dengan jumlah wisatawan pada tahun delapan puluhan.

Kenyataan itu tidak berlangsung terlalu lama karena pada tahun 2000 terjadi lonjakan pengunjung mencapai 2.750.000 orang. Keberanian orang datang berkunjung ke Candi Borobudur mulai pulih kembali karena jaminan keamanan mulai terjaga.

Aksi teroris, yang terjadi di penghujung tahun 2001 dan 2002, tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada jumlah pengunjung Candi Borobudur sampai pada tahun 2003. Pada tahun-tahun ini, jumlah pengunjung Candi Borobudur menembus angka dua jutaan, bahkan tahun 2001 jumlah pengunjung candi Borobudur di atas 2.500.000 orang.

Dampak Pemanfaatan Candi Borobudur sebagai Objek Wisata
Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran wisatawan ke Borobudur telah membawa dampak positif yang sangat besar pada masyarakat sekitarnya seperti peningkatan ekonomi rakyat dan terbukanya lapangan kerja baru walaupun juga terdapat dampak negatif seperti menipisnya nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Borobudur.

A. Dampak terhadap Masyarakat di sekitarnya
Ada tiga macam dampak pariwisata terhadap masyarakat di sekitar Candi Borobudur yang diteliti, yaitu ekonomi, sosial, dan budaya. Dari tiga macam dampak tersebut, dampak ekonomi merupakan dampak yang relatif paling mudah untuk diketahui.

Dampak ekonomi dalam konteks penelitian ini adalah aktivitas-aktivitas baru untuk memperoleh penghasilan atau sarana untuk bertahan hidup, yang muncul sebagai akibat adanya perubahan pemanfaatan Candi Borobudur setelah dilaksanakannya pemugaran. Aktivitas untuk memperoleh penghasilan ini dapat berupa pola-pola baru, misalnya tukar-menukar barang ataupun jasa seperti munculnya rumah-rumah makan, hotel, pengasong, dan industri kerajinan.

Jika ada dampak ekonomi positif seperti dikemukaan di atas, tentu saja ada juga dampak negtifnya. Dampak negatif terjadi pada beberapa orang yang tanahnya harus dibebaskan untuk pembangunan Taman Wisata Candi Borobudur. Sebagian dari mereka ada yang dapat ditampung sebagai karyawan taman wisata tersebut, sebagian lagi mendapat prioritas untuk memperoleh tempat berjualan atau membuka usaha di sekitar taman wisata, sedangkan sebagian yang lain hanya memperoleh ganti rugi. Mereka yang termasuk dalam kategori terakhir inilah yang tampak memperoleh dampak negatif.

Berbeda dengan dampak ekonomi yang tampak begitu jelas, dampak sosial pemanfaatan Candi Borobudur tidak begitu mudah dipaparkan. Jika aspek sosial dari dampak didefinisikan sebagai aspek relasi-relasi sosial dan pola-pola perilaku dari warga masyarakat, maka dampak sosial ini dapat diketahui dengan memperhatikan data tentang relasi-relasi dan pola-pola perilaku tersebut.

Relasi-relasi baru yang muncul pascapemugaran atau setelah dijadikannya Candi Borobudur sebagai objek wisata seperti paguyuban tukang andong, paguyuban pengasong, paguyuban pengkios, bahkan dalam tataran yang lebih besar muncul beberapa Lembaga Suadaya Masyarakat (LSM) seperti MAPAN, PATRA PALA, dan lain-lain.

Dampak sosial negatif pemanfaatan Candi Borobudur untuk pariwisata tidak begitu tampak di desa tempat penelitian. Dampak sosial negatif justru paling jelas terlihat di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur sendiri. Kehadiran ratusan pengasong dan penjual jasa ini tidak hanya mempunyai kemungkinan merusak bagian taman dan membahayakan kelestarian Candi Borobudur itu sendiri, bahkan juga merusak citra pariwisata Indonesia khususnya di Borobudur.
Dampak budaya yang merupakan perubahan pada sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, norma, serta aturan-aturan yang ada dalam suatu masyarakat, sebagai hasil dari terjadinya perubahan-perubahan tertentu di dalamnya, merupakan dampak yang relatif paling sulit untuk diketahui. Dampak budaya ini tidak dapat begitu saja diamati, dan tidak selalu dapat dipaparkan dengan jelas oleh warga masyarakat yang diteliti. Namun demikian, hal itu dapat diketahui dengan memperhatikan berbagai perilaku dan interaksi sosial, serta bebagai bentuk ekspresi simbolis lainnya, misalnya munculnya berbagai macam bentuk kesenian baru.

Perubahan bidang kesenian belum sepenuhnya dapat dikatakan ada kaitannya dengan pemanfaatan Candi Borobudur sebagai objek pariwisata. Untuk jenis kesenian tertentu yang muncul setelah pemugaran, dapat terlihat jelas kaitannya dengan pemanfaatan candi dan meningkatnya kegiatan pariwisata di Desa Borobudur. Misalnya kesenian kroncong, cokekan, slawatan/rebana, dan kesenian dayak.

B. Dampak terhadap Candi
Kebijakan pemanfaatan Candi Borobudur tentu saja membawa dampak langsung terhadap bangunannya. Seperti halnya dengan dampak terhadap masyarakat di sekitarnya, bangunan candi juga mengalami dampak positif dan dampak negatif.

Keputusan pemerintah menjadikan Candi Borobdur sebagai objek wisata budaya membawa dampak positif terhadap bangunan dan situsnya, perlindungan dan pelestarian sumber daya budaya ini semakin diperhatikan. Pemintakatan (zonasi) yang dilakukan di situs Candi Borobudur merupakan salah satu upaya untuk melindungi Candi Borobudur dari kerusakan baik yang disebabkan oleh faktor manusia dan binatang maupun fatktor alam. Candi Borobudur dibagi menjadi tiga zone yaitu; Zone I adalah zone inti yang di dalamnya tidak boleh didirikan bangunan kecuali pos penjagaan, zone II adalah zone penyanggah berfungsi sebagai sabuk hijau pengaman, dan zone III adalah zone pengembangan yang diperuntukkan untuk kegiatan ekonomi dan perkantoran pengelola objek.

Dampak negatif yang dapat ditemukan di Candi Borobudur setelah Candi itu dijadikan objek wisata adalah vandalisme, sampah, keausan batu-batu candi, kerontokan, retakan, dan rembesan air. Kegiatan vandalisme banyak jenisnya seperti memanjat-manjat dinding candi dan stupa, pencungkilan relief, corat-coret, dan peledakan. Sampah yang ditemukan di Candi Borobudur berupa kertas pembungkus, sisa makanan, plastik, puntung rokok, kotoran manusia, daun, biji-bijian, buah-buahan, pecahan botol, kaleng minuman, dan abu. Sampah yang ukurannya kecil dapat masuk ke sela-sela batu yang pada akhirnya menyebabkan penyumbatan pada saluran air. Selain dapat menyumbat saluran-saluran air, sampah berupa biji-bijian seperti biji jeruk, rambutan dan salak dapat tumbuh di sela-sela batu Candi Borobudur.

Di Candi Borobudur, ditemukan beberapa batu penyusun yang mengalami keausan tersebar pada lantai dan tangga candi. Hasil penelitian tahun 1980-an menunjukkan bahwa di Candi Borobudur ditemukan 801 blok batu yang mengalami keausan (Sutantio, 1985), sedangkan hasil pengamatan di tahun 2000 jumlah batu yang mengalami keausan menjadi 1.383 blok batu (Sadirin, 2002), berarti terjadi peningkatan kerusakan sebesar 582 blok batu. Jika dirata-rata, setiap tahun terjadi keausan sebesar 36 blok batu. Terjadinya keausan pada batu candi disebabkan oleh gesekan antara pasir yang menempel pada alas kaki pengunjung dengan bate candi.

Hasil percobaan yang dilakukan oleh Sukronedi dan teman pada tahun 2000 menunjukkan bahwa akibat penggosokan yang dilakukan pada saat pembersihan gulma pada batu-batu candi, menyebabkan kerontokan pada bate yang berbeda-beda tergantung pada alat yang digunakan. Pada percobaan tersebut, digunakan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat yang berbeda-beda yakni 3 cm, 2 cm, dan 1 cm. Luas bidang yang digosok adalah 100 cm2, tekanan penggosokan rata-rata 5 kg/cm2, serta lama penggosokan 10 menit dengan jumlah gosokan 100 kali gosokan.
Penggunaan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat yang berbeda juga menghasilkan kerontokan yang berbeda pula. Sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 3 cm menghasilkan kerontokan sebanyak 8,76 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 2,75 ml, sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 2 cm menghasilkan kerontokan sebanyak 9,45 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 3,25 ml, dan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 1 cm menghasilkan kerontokan 18,52 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 6,25 ml (Sukronedi, 2000; 32)

Hasil observasi lapangan, sampai Desember 2003, menemukan retakan-retakan yang terjadi pada batu-batu Candi Borobudur sebanyak 1.536 batu. Penyebab keretakan dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi beban yang harus ditanggung Candi Borobudur yang terdiri atas beban stabs dan beban dinamis, serta tumpuan tidak merata.

Salah satu faktor penting penyebab kerusakan Candi Borobudur adalah masalah air, terutama yang merembes pada batu-batu candi. Oleh karena itu, pemugaran yang dilakukan pada tahun 1973-1983 adalah kegiatan untuk mengatasi masalah air. Meskipun demikian, sampai sekarang masih dijumpai adanya rembesan air pada dinding candi. Hasil observasi, sampai dengan tahun 2002, ditemukan 112 lokasi rembesan yaitu 81 lokasi pada dinding lorong tingkat satu, 6 lokasi pada dinding lorong tingkat dua, 6 lokasi pada dinding lorong tingkat tiga, dan 19 lokasi pada dinding lorong tingkat empat (Sadirin, 2002).

Upaya Penanggulangan Dampak Negatif
Upaya yang harus dilakukan untuk meminimalisasi dampak negative yang timbul akibat pariwisata di Candi Borobudur adalah mengoptimalkan fungsi zone II dengan cara sebagai berikut.

Di setiap pintu masuk Taman Wisata Candi Borobudur, dipasang papan pengumuman yang isinya melarang wisatawan membawa makanan, alat tulis, dan benda tajam ke atas monumen kecuali minuman yang kemasannya dapat didaur ulang seperi air mineral. Larangan membawa barang selain minuman ke atas candi bertujuan untuk menghindari terjadinya kegiatan vandalisme dan pengotoran (sampah). Pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi membayar denda berupa uang. Besarnya denda akan diatur dalam undang-undang berupa Peraturan Daerah yang ditetapkan oleh DPRD atas usulan Pemerintah Daerah dengan merujuk Undang-Undang no. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Pintu loket karcis dan pintu masuk diperbanyak agar pengunjung tidak terlalu lama antri untuk mendapatkan tiket tanda masuk, tujuannya adalah untuk menghindari tumpukan pengunjung di depan pintu masuk terutama pada waktu ramai pengunjung dengan demikian, mobilisasi pengunjung akan lancar sehingga pengunjung tidak berombongan naik ke monumen.

Setelah membeli karcis, pengunjung dipersilahkan melalui pintu masuk yang di belakangnya dibangun teater terbuka dengan layar lebar. Film yang diputar diupayakan ada kaitannya dengan Candi Borobudur mulai dari sejarah pembangunan sampai pada pemanfaatannya. Bagi wisatawan asing disediakan ear phone dengan empat pilihan bahasa, yaitu bahasa Ingris, Prancis, Jepang, dan Mandarin.

Kebanyakan wisatawan yang mengunjungi Candi Borobudur adalah mereka yang berasal dari luar daerah Borobudur. Mereka ke Borobudur menggunakan berbagai macam kendaraan dan membutuhkan waktu dalam perjalanan. Selama dalam perjalanan para wisatawan tersebut tentu merasakan kelelahan, untuk itu di sepanjang jalan menuju monumen Candi Borobudur dibangun tempat-tempat duduk di bawah pohon yang rindang sebagai tempat istirahat melepas lelah sebelum naik ke monumen.

Pada waktu puncak-puncak kunjungan, seperti liburan sekolah dan liburan hari raya, di kiri-kanan jalan utama menuju monumen diadakan pertunjukan kesenian tradisional khas Borobudur seperti kesenian Kobro Siswa, Topeng Hitam (kadang-kadang disebut kesenian Dayak), dan Kesenian Jatilan, tujuannya menahan sejenak pengunjung agar tidak langsung naik ke candi. Dengan demikian, beban akibat banyaknya pengunjung dapat terkurangi.

Dibangun fasilitas baru di dalam kompleks Taman Wisata Candi Borobudur seperti akuarium atau kebun binatang dengan mengoleksi binatang-binatang yang sama dengan yang terdapat pada relief candi dengan desain yang sangat menarik agar pengunjung tertarik untuk melihatnya sebelum naik ke monumen Candi Borobudur.

Diatur jam kunjungan termasuk di dalamnya jumlah pengunjung yang ideal yang menaiki candi dalam waktu yang sama. Tujuannya adalah agar pengunjung dapat menikmati keindahan candi tanpa harus berdesak-desakan, disamping itu, juga dapat mengurangi beban yang ditanggung candi.

Beberapa upaya mengatur pengunjung di atas dimaksudkan untuk membatasi pengunjung (wisatawan) agar tidak bersamaan naik ke monumen. Pembatasan pengunjung tersebut dimaksudkan untuk membatasi beban dinamis yang harus ditanggung Candi Borobudur. Makin banyak pengunjung yang naik ke Candi Borobudur dalam waktu yang bersamaan, makin berat beban yang ditanggung oleh candinya. Makin berat beban makin besar kemungkinan terjadinya keretakan batu-batu penyusun candinya.

Kerusakan Candi Borobudur tidak semata-mata diakibatkan oleh pengunjung, tetapi juga diakibatkan oleh faktor alam dan penerapan metode konservasi yang kurang tepat pada saat pemugaran dan pasca pemugarannya. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam tentu saja tidak bisa dihindari, tetapi kerusakan yang disebabkan oleh penerapan metode konservasi yang keliru tentu bisa diatasi.

Beberapa contoh penerapan metode konservasi yang keliru di Candi Borobudur adalah pembersihan batu dengan sikat ijuk tanpa memperhatikan panjang bulu sikatnya, pemasangan bahan kedap air yang tidak maksimal, dan dibuatnya jalan setapak di sekeliling monumen. Tujuannya untuk mengarahkan pengunjung agar tidak menginjak rumput yang di tanam di halaman candi. Jalan setapak yang mengelilingi candi itu dibuat dari pasir dan tanah liat. Namun, kenyataannya, pengunjung tidak terlalu tertarik untuk berjalan di tempat yang telah disediakan itu, bahkan mereka merasa tidak nyaman karena berdebu. Untuk menghindari kerusakan yang lebih lanjut, di bawah beberapa upaya yang perlu dilakukan.

Berkaitan dengan pembersihan batu-batu candi, sebaiknya digunakan sikat ijuk yang panjang bulunya 2 cm yang dapat membersihkan dengan hasil 100%, kern batuan candinya tidak terlalu banyak, yaitu 9,45 x 10 g/cm-3,25 cm3, berbeda dengan sikat ijuk yang panjang bulu sikatnya cm atau 3 cm. Sikat ijuk 1 cm (panjang bulu sikatnya) dapat membersihkan 100%, tetapi rontokannya sangat besar, yaitu 18,52 x 10 g/cm2 atau 6,25 cm3, sedangkan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 3 cm tidak memberikan hasil maksimal.

Dipasang karpet (keset) dari karet di depan tangga candi yang dimulai dari anak tangga paling bawah sampai pintu masuk atau keluar zone 1. Karpet (keset) tersebut berguna untuk mengikis pasir yang melekat pada alas kaki pengunjung.

Jalan setapak yang terbuat dari tanah liat dan pasir di sekeliling Candi Borobudur saat harus dibongkar, dikembalikan seperti semula, yaitu halaman rumput.

Berkaitan dengan rembesan air pada dinding candi, upaya yang perlu dilakukan adalah membongkar dinding candi yang rembes tersebut kemudian mengolesi atau mengganti kembali bahan kedap air yang pernah dipasang pada waktu pemugaran.

Kesimpulan
Pemanfaatan sumberdaya budaya Candi Borobudur telah membawa dampak positif ataupun negatif baik terhadap masyarakat di sekitarnya maupun candinya. Dampak positif terhadap masyarakat dapat dilihat dari peningkatan ekonomi dengan munculnya berbagai lapangan kerja baru seperti perhotelan, rumah makan, fotografer, dan pedagang asongan. Di bidang sosial budaya, dampak positif dapat dilihat dengan munculnya relasi-relasi baru dalam masyarakat seperti terbentuknya paguyuban andong wisata, becak wisata, munculnya kelompok-kelompok kesenian, bahkan pada tataran yang lebih besar muncul beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti PATRA PALA dan MAPAN. Dampak negatif dari pemanfaatan Candi Borobudur untuk pariwisata tidak begitu terlihat di desa Borobudur dan sekitarnya, namun mulai ditengarai dan dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya seperti cara berpakaian dan pergaulan anak-anak muda meniru cara bergaul dan berpakaian orang-orang barat. Oleh karena itu, mereka mulai membentuk suatu yayasan yang dinamai Masyarakat Peduli Borobudur (MAPAN).

Berkaitan dengan dampak positif kegiatan pariwisata terhadap monumen Candi Borobudur adalah upaya perlidungan dan pelestarian sumberdaya budaya semakin diperhatikan. Upaya perlindungan dan pelestarian yang dilakukan adalah peningkatan yang bertujuan melindungi Candi Borobudur dari kegiatan vandalisme. Selain itu, dana untuk kegiatan teknis konservasi yang selama ini berasal dari dana APBN, mulai tahun 2004 direksi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyediakan dana untuk pelestarian Candi Borobudur. Sementara itu, dampak negatif juga terjadi di monumen Candi Borobudur akibat pariwisata dan kegiatan pelestarian seperti vandalisme, sampah, keausan, kerontokan, rembesan air, dan keretakan.

Daftar Pustaka
Ahimsa, Shri Heddy dan Muhammad Taufik. 2002. Dampak Ekonomi, Sosial, dan Budaya Candi Borobudur Pasca Pemugaran. Balai Studi dan Konservasi Borobudur. Magelang.

Brown, Percy, 1976. Indian Architecture, Budhist and Hindu Period. Toraporevala Sons & Co. Bombay.

Sadirin, Hr. 2002. Evaluation on Conservation of Monument and Site. Makalah. Disampaikan pada UNESCO Meeting on Evaluation of Borobudur Temple Past Restoration, 23-25 Oktober. Borobudur, Magelang.

Soetomo, Sugiono, 1996. "Konservasi Kota Lama Semarang dalam Prospek Pembangunan Kota". Makalah. Disampaikan pada Seminar Nasional Pemugaran dan Konservasi Benda Cagar Budaya, 23-24 September di Borobudur, Magelang.

Subroto, Ph. 2003. "Pemanfaatan Benda Cagar Budaya Bangunan Bata Pasca Pugar Untuk Kepentingan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan". Makalah dalam Rapat Penyusunan Kebujakan Pemanfaatan BCB, April 2003, Cisarua, tidak dipublikasikan.

Sukronedi. 2000. "Efektivitas Pemberantasan Gulma pada Bataan Secara Fisik. Balai Studi dan Konservasi Borobudur. Borobudur".

Susantio Julianto.S. 1985. "Pengunjung dan MasaIah Konservasi Candi Borobudur: Sebuah Penelitian Pendahuluan". Skripsi Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Jakarta.

Tanudirjo, Daud Aris. 1993-1994. "Kualitas Penyajian Warisan Budaya kepada Masyarakat: Studi Kasus Manajemen Sumberdaya Budaya Candi Borobudur." Pusat Antar Universitas, Studi Sosial Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
__________
Muhammad Taufik adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Balai Konsevasi Peninggalan Borobudur Magelang.

Sumijati Atmosudiro adalah Dosen pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber :www.journal.lib.unair.ac.id
Foto :
http://3.bp.blogspot.com
http://www.ridhocyber.web.id
http://niceceu.blogsome.com