Tampilkan postingan dengan label Istana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istana. Tampilkan semua postingan

Keunikan Istana Maimoon Dan Masjid Raya Medan


Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar nama Istana Maimoon dan juga Masjid Al Makmun atau yang lebih dikenal dengan nama Mesjid Raya. Dua tempat yang merupakan peninggalan bersejarah dari masa Kesultanan Deli yang pada sekitar abad XVII. Kini Istana Maimoon dan Masjid Raya dijadikan sebagai object wisata oleh pemerintah Kota Medan.

Ketika kita memasuki gerbang istana, maka kita akan melihat warna kuning begitu mendominasi bangunan ini. Jangan hubungkan dengan warna sebuah partai politik. Kuning adlah warna khas Melayu. Di dalamnya terdapat foto-foto keluarga, perabotan, dan senjata-senjata kuno. Inilah Istana Maimoon yang merupakan peninggalan Kesultanan Deli.

Istana Maimoon terletak di jalan Brigjen Katamso, Medan. Istana ini didirikan oleh Sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Pendesainnya adalah seorang arsitek Italia, dan rampung pada tahun 1888. Di atas tanah seluas 2.772 m2, bangunan istana berdiri menghadap timur, dan menjadi pusat kerajan Deli. Istana ini terdiri dari dua lantai, terbagi dalam tiga bagian, yaitu bangunan induk, sayap kiri, dn sayap kanan. Di depannya, sekitar 100 meter, berdiri Masjid Al-Maksum yang lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Medan.

Memasuki ruangan tamu [balairung] kita akan menjumpai singgasana yang didominasi warna kuning. Lampu-lampu kristal menerangi singgasana, sebuah bentuk adanya pengaruh kebudayaan Eropa. Pengaruh itu juga tampak pada perabotan istana seperti kursi, meja toilet dan lemari hingga pintu dorong menuju balairung . Ruangan seluas 412 m2 ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Balairung juga dipakai sebagai tempat Sultan menerima sembah sujud dari sanak familinya pada hari-hari besar Islam. Lebih jauh lagi, kita pasti akan merasa lelah menelusuri kamar-kamar di dalamnya. Jumlah kamarnya ada 40 ; 20 kamar di lantai atas tempat singgasana Sultan dan 20 kamar di bagian bawah, tidak termasuk kamar mandi, gedung, dapur, dan penjara di lantai bawah.

Menarik jika mengamati desain arsitektur istana ini. Perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa amat terlihat. Selain yang terlihat di balairung , dasar bangunan juga menunjukan pengaruh Eropa. Sebagian material bangunan istana memang didatangkan dari Eropa, seperti ubin, marmer, dan teraso.

Pola arsitektur Belanda dengan pintu serta jendela yang besar dan tinggi, serta pintu-pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari Istana Maimoon. Pengaruh Belanda juga terlihat pada prasasti marmer di depan tangga pualam yang ditulis dengan huruf Latin berbahasa Belanda.

Pengaruh Islam terlihat pada bentuk lengkungan atau arcade pada sejumlah bagian atap istana. Lingkungan yang berbentuk perahu terbalik itu dikenal dengan lengkungan Persia, banyak dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India. Istana Maimoon merupakan salah satu bangunan terindah di Medan. Lokasinya mudah dijangkau, baik dari Bandara Polonia [sekitar 10 km] maupun pelabuhan Belawan[ sekitar 28 km]. Bangunan bersejarah ini terbuka untuk umum setiap hati pukul .0.8.00 sampai 17.00 wib.



Masjid Raya
Masjid Raya ini adalah salah satu peninggalan Kesultanan Deli di Sumatera Utara setelah Istana Maimoon. Masjid ini masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk sholat [sembahyang] setiap hari. Sebagian bahan-bahannya dari Itali dipergunakan untuk dekorasi masjid ini.

Masjid ini dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan dari berbagai negara di seluruh dunia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun Al Rasyid. Lokasi dan jarak masjid Raya ini hanya kira-kira 200 meter dari Istana Maimoon. Pembangunan masjid ini dengan arsitektur yang istimewa diilhami oleh Morrish Style.

Selain itu, salah satu masjid milik peninggalan kesultanan Deli lainnya yang dibangun pada tahun 1886. Masjid tersebut adalah salah satu masjid dengan rancangan yang unik bergaya India dengan kubah segi delapan. Masjid Labuhan terletak di jalan raya Medan-Belawan sebelah utara dari pusat kota Medan, kira-kira 13 km dari pusat kota Medan. Kesemuannya itu adalah aset daerah yang dapat dijadikan objek wisata di kota Medan, dan bukti kejayaan kerajaan Sultan Deli.

Sumber : http://www.bainfokomsumut.go.id

Jejak-Jejak Istana Kesultanan Melayu Kutaringin

Sekilas Istana Pangeran Adipati Mangkubumi yang terletak di Jalan Paku Negara, Pangkalan Bun sama seperti bangunan tradisional di Kalimantan Tengah (Kalteng) lainnya. Sebab, istana tersebut berbentuk panggung dengan struktur pendukung utama dari bahan kayu, baik dinding maupun lantainya.

Seluruh bagian Istana terbuat dari papan kayu ulin. Sedangkan untuk bagian atap terbuat dari sirap kayu.

Berbeda dengan bentuk rumah tradisional Kalteng, istana yang dulu digunakan sebagai rumah pribadi Pangeran Adipati Mangkubumi ini terbentuk sebagai perkembangan dari bentuk bangunan tradisional Pulau Jawa (limasan).

Ini bisa dilihat dari bangunan induk di mana di bagian belakang dan depan ruang utama dibuat ruang pertemuan seperti balai pertemuan.

Rumah ini, kalau dirunut dari depan, terdiri dari pendopo atau semacam balai pertemuan, bangunan induk, di mana terdapat dua kamar di bagian barat dan di pojok bagian timur.

Kemudian, agak masuk ke dalam terdapat rumah pembantu, yang terakhir dapur dan gudang.
Di rumah ini juga terdapat ruang makan khusus dan kamar khusus bagi anak gadis. Bangunannya merupakan satu kesatuan dengan satu bubungan atap. Meskipun tiap bangunan memiliki bentuk berbeda-beda. Bentuk atap bangunan induk adalah bentuk limasan, sedangkan bentuk atap bangunan balai pertemuan adalah gabungan bentuk pelana dan jurai. Bangunan untuk pembantu berbentuk jurai dan bentuk atap bangunan dapur berbentuk atap pelana.

Selain itu, terdapat perbedaan ketinggian antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain. Oleh sebab itu, bentuk arsitektur rumah ini bisa dikatakan sebagai perpaduan antara arsitektur rumah Betang, unsur arsitektur rumah Banjar, dan rumah Jawa.

Dengan tinggi panggung 1,4 meter dari permukaan tanah, rumah ini disangga oleh tiang utama berbentuk bulat sebanyak 30 tiang dan 14 tiang berbentuk segi empat yang ditancapkan langsung ke tanah. Sekilas terlihat bangunan ini masih kokoh dan lumayan terawat. Sayang, bangunan rumah yang sesungguhnya masih utuh ini sekarang dalam kondisi memprihatinkan.

Salah satu keturunan dari Pangeran Adipati Mangkubumi H. Gusti Muhammad Yusuf mengatakan rumah tersebut dahulu ditempati oleh dua putri Pangeran Ratu Anum Kesumayuda, yakni Ratu Kuning (Ratu Adipati Mangkubumi) dan Ratu Intan (Ratu Prabu).

Rumah tersebut telah diserahkan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalteng dan dijadikan cagar budaya.

Disebabkan dimakan waktu, rumah tersebut direhabilitasi oleh Dinas P dan K Kalteng dengan mengganti papan lantai, plafon, dan tiang bawah rumah.

Namun, hasilnya tidak memuaskan. Karena pelaksana rehabilitasi rumah mengganti papan kayu ulin dengan jenis kayu yang usianya jauh lebih muda dan tekstur masih basah karena tidak dijemur terlebih dahulu.

Sehingga banyak papan kayu ulin yang berjamur dan lebih cepat lapuk.

"Mereka tidak memperhatikan aspek sejarahnya, jadi ketika memilih kayu tidak sesuai dengan yang sebenarnya," kata Yusuf. Ia juga menuturkan istana yang dimiliki neneknya tersebut sudah tiga kali kehilangan barang-barang bersejarah.

"Ada 17 keris yang hilang, emas, dan peti juga benda-benda sejarah lainnya," tuturnya sedih.
Ia mengaku sudah lama melaporkan pada pihak berwajib, tapi hingga kini benda-benda bersejarahnya tidak ditemukan juga.

Bahkan, salah satu peti yang berhasil ia temukan sampai di daerah Kumpai Batu, Kecamatan Arut Selatan. Kini, di bekas rumah pribadi Pangeran Adipati Mangkubumi (Ratu Kuning) hanya tersisa beberapa benda bersejarah. Salah satunya cermin berhias yang mejanya terbuat dari marmer dan beberapa perkakas rumah tangga lainnya, seperti tempayan dan bak mandi untuk calon pengantin pada saat itu.

Tempat tidur yang dulu digunakan oleh keluarga Pangeran Adipati Mangkubumi juga masih ada di rumah bersejarah tersebut. Tidak hanya itu, tikar yang digunakan sebagai alas di pendopo ketika mengadakan pertemuan juga masih dalam kondisi bagus. Di beberapa tempat juga masih terdapat peninggalan berupa lampu mirip lampu petromaks.

Uniknya, di dalam salah satu ruangan juga dibuat tangga menuju loteng tempat menyimpan barang-barang. Tidak seperti rumah pribadi seorang pangeran lainnya, rumah ini tidak memiliki banyak hiasan. Bahkan terkesan polos, baik dilihat dari ruangan luar maupun bagian ruangan dalam.

Tidak ada ukiran-ukaran atau lukisan yang bisa dilihat. Satu-satunya unsur hiasan hanya terlihat di bagian pintu yang diberi cat warna kuning keemasan, hijau, dan biru. Itu pun hanya berupa ukiran sulur-suluran yang berfungsi sebagai penghias dan keindahan.

Untuk unsur bangunan lainnya, dibuat polos tanpa ukiran sedikit pun. Lantainya yang terbuat dari papan kayu ulin merupakan hasil serutan menggunakan peralatan sederhana. Sehingga, antara satu papan dengan papan lainnya tidak sama. Sayang, penjaga rumah pribadi Pangeran Adipati Mangkubumi Abdurrahman tidak banyak mengetahui seluk beluk dan makna dari konstruksi bangunan yang dibuat sedemikian rupa.

Rumah yang dahulu didiami oleh Pangeran Adipati Mangkubumi dan anaknya ini diperkirakan telah dibangun sejak 1850.

Rumah tersebut warisan dari Pangeran Adipati Mangkubumi yang berasal dari warisan orang tuanya, yakni Pangeran Ratu Anom Kesumayuda.

Rumah tersebut jelas memiliki nilai historis bagi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), baik perkembangan kabupaten tersebut maupun dalam konteks perjuangan nasional melawan Belanda.

Bahkan, pada masa revolusi, rumah kediaman tersebut digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang dari tahun 1945 sampai 1949.

Karena diyakini Pemerintah Belanda sebagai tempat persembunyian pejuang, rumah kediaman Pangeran Adipati Mangkubumi selalu diblokir.

Peninggalan lainnya adalah tempat pemandian yang jaraknya tidak jauh dari rumah pribadi Pangeran Adipati Mangkubumi. Menurut Yusuf, tempat pemandian tersebut tidak pernah kekeringan sejak dijadikan sebagai tempat pemandian anak-anak pangeran Adipati Mangkubumi dan keluarganya. Sebab, lanjutnya, di tempat itu terdapat sumber mata air. Namun, pada 2002 pemandian tersebut mulai mengalami kekeringan seperti tempat pemandian lainnya.

Menurut Yusuf, kekeringan terjadi setelah Dinas P dan K dan Pemkab Kobar merehabilitasi tempat pemandian. Rehabilitasi yang dilakukan sampai dua kali itu justru menimbulkan tempat tersebut kehilangan kesan sejarahnya. Sebab, rehabilitasi dilakukan dengan merombak bentuk aslinya.

Awalnya, pemandian tersebut cukup luas dan airnya pun bening. Namun, proses rehabilitasi justru dilakukan dengan memperkecil bentuk tempat pemandian yang sebenarnya. Selain itu, pemasangan siring yang terbuat dari papan kayu ulin tidak berlapis-lapis. Bahkan, pemasangannya pun tidak memperhatikan kondisi tanah dan kemiringan tanah. Akibatnya, pasir dari balik siring masuk dan mengendap dalam pemandian.

"Lama kelamaan kan pemandian mengering karena endapan pasirnya menumpuk dan dangkal," kata Yusuf.

Yusuf sangat menyayangkan dana yang dikeluarkan untuk rehabilitasi mencapai Rp50 juta, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Akhirnya mubazir aja," kata Yusuf.

Tempat pemandian yang dahulu digunakan anak dan keluarga Pangeran Adipati Mangkubumi, kini seperti terabaikan dan tidak terawat. Bahkan, air yang semula bening, kini berwarna kehijau-hijauan dan tidak terawat. Sangat disayangkan, salah satu situs sejarah Kerajaan Kutaringin ini diabaikan oleh Pemkab Kobar. Padahal, rumah dan pemandian yang memiliki nilai sejarah tersebut telah masuk salah satu cagar budaya di Kobar.

Sumber : http://www.lampungpost.com

Kasihan, Kesultaan Deli Tak Diperhatikan

Kesultanan Deli tidak pernah memperoleh hak-hak protokoler dan keuangan dari pemerintah, padahal siapa bisa memungkiri jika Kota Medan dan sekitarnya dulunya "milik" kesultanan ini.
Pemerintah dari level terendah sampai tertinggi tidak ada perhatian, bahkan tidak peduli pada Kesultanan Deli walau banyak asetnya yang dibangga-banggakan kepada orang asing, kata O.K. Saidin, SH di Medan.

Penasihat Sultan Deli itu mengatakan, Istana Maimoon, Mesjid Raya dan Tembakau Deli selalu "dijual" pemerintah dan dunia swasta kepada wisatawan dalam dan luar negeri, tetapi mereka tidak pernah ingat memberi kontribusi satu sen pun.

Saidin menambahkan, jangankan memberikan sesuatu secara institusional, bahkan pemerintah secara langsung atau tidak langsung telah "menggerogoti" kekayaan Sultan Deli berupa Tanah HGU PTPN II.

Hak-hak atas tanah itulah yang terus diperjuangkan Kesultanan Deli hingga dewasa ini, termasuk beberapa lahan yang berlokasi di dalam Kota Medan yang sudah dikuasai pihak lain, ujarnya.

Ia mengakui bahwa pihak Kesultanan Deli tidak pernah memohon atau memperjuangkan untuk mendapatkan hak-hak protokoler dan keuangan itu, karena jangankan memberi apa yang dimiliki, kesultanan ini saja sudah "dirampok" pemerintah.

Menurut dia, hak-hak tradisional atau budaya yang dimiliki Kesultanan Deli seyogianya bisa diperjuangkan anggota DPRD dan DPR, tetapi sayang tidak ada anak Melayu Deli yang jadi anggota DPR.

Hak-hak semacam itu atau dalam bentuk lain sudah dinikmati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang memperoleh dana yang bersumber dari APBD maupun APBN, katanya.

Seandainya pemerintah memberikan hak-hak protokoler dan keuangan, menurut dia, tentu akan sangat bermakna sekali bagi Kesultanan Deli dalam upaya melestarikan budaya Melayu Deli.

"Mengecat dan memperbaiki istana yang rusak saja terpaksa diangsur-angsur karena terbatasnya dana dan di istana itu tinggal sebanyak 37 kepala keluarga keturunan Sultan Deli," ujarnya.

Jika dana dimiliki, tambahnya, tentu Kesultanan Deli dapat melestarikan peninggalan bernilai budaya tinggi, merawat benda-benda bersejarah serta mengumpulkan benda-benda budaya yang masih di tangan pihak lain.

"Kendati Indonesia sudah berada dalam kerangka NKRI, tetapi pemerintah jangan mengingkari keberadaan kerajaan-kerajaan nusantara masa lalu yang sudah jadi bagian sejarah dan perjalanan bangsa," katanya.

Sumber : www.kompas.co.id

Istana Bogor


Oleh : William Marcelinus

Pendahuluan
Latar Belakang

Kota Bogor disebut juga sebagai “kota hujan”. Kota ini merupakan salah satu kota bersejarah yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Salah satu situs atau obyek sejarah yang ada di kota ini adalah Istana Bogor. Istana Bogor yang kini juga menjadi obyek wisata memiliki catatan sejarah yang cukup panjang sejak pertama kalinya dibangun oleh pemerintahan Kolonial Belanda, sehingga menjadi tempat berlangsungnya pertemuan pemimpin ekonomi APEC.

Selain berperan dalam sejarah perjuangan dan politik bangsa Indonesia, Istana Bogor juga memiliki berbagai koleksi patung, dan kerajinan yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Tujuan Penulisan
Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada pembaca mengenai sejarah Istana Bogor.

Mengajak masyarakat dan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pemahaman dan pengetahuan kesejarahan guna mempertebal jatidiri sebagai putera bangsa Indonesia melalui pengenalan sejarah Istana Bogor.

Pembahasan
Sejarah Pendirian dan Pendudukan Istana Bogor

Dengan mulai berkembangnya kota Batavia pada waktu itu sebagai pusat kegiatan pemerintahan, orang-orang Belanda mulai mencari tempat yang cocok untuk peristirahatan di luar kota. Tempat-tempat itu terletak di Kampong Baroe (daerah Bogor) yang jaraknya kira-kira 60 km dari Jakarta. Di tempat inilah Gustaaf Willem van Imhoff, gubernur jenderal pada waktu itu mendirikan pesanggrahan yang luasnya mencapai 28,4 hektar diberi nama Buitenzorg disini, maka nama ini menjadi sebutan untuk perkampungan yang ada di sekitarnya.

Pada waktu itu mulai dibangun pada bulan Agustus 1744 rancang bangunnya bukanlah seperti Istana Bogor yang kita kenal sekarang. Van Imhoff membuat sketsa bangunan itu dengan mengambil model istana Bleinheim, tempat kediaman Duke of Marlborough dekat kota Oxford, Inggris, dan berbentuk tingkat tiga.

Sejalan dengan perkembangannya, kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda silih berganti dan perombakan demi perombakan juga terjadi pada gedung ini.

Perombakan besar-besaran terakhir dilakukan setelah bangunan ini hancur akibat gempa bumi hebat pada tahun 1834 akibat meletusnya gunung Salak. Perombakan ini selesai pada tahun 1850 pada masa pemerintahan Gubernur jenderal Pahud de Montager. Bangunan ini dibuat satu tingkat saja dengan gaya eropa abad ke-19.

Gubernur Jenderal terakhir yang menggunakan istana Buitenzorg adalah Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang kemudian menyerahkan pada pemerintah Jepang yang menguasai seluruh wilayah kekuasaan Belanda.

Dengan berakhirnya perang dunia ke-2, Jepang semakin rapuh dan akhirnya dikalahkan oleh tentara sekutu. Sementara itu, rakyat Indonesia semakin bangkit untuk mendapatkan kemerdekaannya. Dengan adanya pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia, kira-kira 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat, menduduki Istana Buitenzorg dan terpancanglah bendera merah putih dengan megahnya. Tapi mereka dipaksa meninggalkan istana tersebut oleh tentara Gurkha dibawah komando sekutu.

Baru pada akhir tahun 1949 istana Buitenzorg yang kemudian disebut Istana Bogor diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia oleh Belanda.

Ruang-Ruang di Istana Bogor
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak dibangunnya Istana Bogor. Waktu yang dilewati itu telah membekali bangunan tersebut dengan berbagai kisah yang menggambarkan sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Setelah masa kemerdekaan, Istana Bogor tidak banyak mengalami perubahan. Ketika mulai dipakai oleh pemerintah pada bulan Januari 1950, masih terdapat ruangan-ruangan yang terdiri dari bangunan utama, bangunan sayap kanan, dan bangunan sayap kiri.

Bangunan Utama
Serambi depan

Memasuki istana melalui serambi depan, kita akan menjumpai tiang-tiang bergaya Ionia yang menyangga atap. Serambi depan juga dihiasi patung-patung wanita, yang di antaranya terbuat dari batu pualam Italia.

Ruang Teratai
Melangkah masuk melewati pintu serambi depan, kita akan sampai pada ruangan yang disebut ruang teratai. Diberi nama demikian karena pada salah satu dindingnya terpancang lukisan bunga teratai hasil karya C.I. Dake tahun 1952.

Permadani merah yang terbentang serta tiga lampu kristal yang terjuntai dari langit-langit memberi kesan agung pada ruangan ini.

Pada saat berlangsungnya Konferensi APEC tanggal 15 Nopember 1994 ruangan ini digunakan sebagai tempat penyambutan dan ruang tunggu para peserta konferensi.

Ruang Kaca Seribu
Melangkah lebih jauh ke dalam istana, kita akan sampai ke lorong atau ruang kaca seribu yang menghubungkan ruang teratai dengan ruang garuda. Disebut demikian karena di dinding kiri dan kanan lorong ini terdapat sepasang cermin besar saling berhadapan. Kaca seribu ini memiliki keistimewaan memantulkan bayangan berulang-ulang sehingga memberi kesan cermin itu penuh dengan bayangan. Cermin-cermin besar berbingkai warna emas yan masing-masing diapit oleh sepasang pilar besar peninggalan jaman Hindia Belanda.

Ruang Garuda
Ruang kaca seribu membawa kita menuju ruang garuda. Memasuki ruangan ini pertama-tama akan tampak di hadapan kita lambang negara Republik Indonesia yaitu Garuda Pancasila berukuran besar. Oleh karena itu disebut ruang garuda.

Enam belas pilar bergaya Korintia yang terdapat di ruangan ini menopang langit-langit yang dihiasi oleh relief gaya Yunani yang unik.

Ruang garuda umumnya dipakai untuk pertemuan besar, jamuan kenegaraan atau pertunjukan kesenian untuk tamu negara. Selain itu, juga dipergunakan untuk sidang-sidang baik yang bersifat nasional maupun internasional di antaranya Jakarta Informal Meeting dan Pertemuan para Pemimpin APEC.

Ruangan ini pernah digunakan sebagai tempat pernikahan puteri pertama presiden Soeharto pada tahun 1972 dan pernikahan puteri bapak Adam Malik tahun 1981 yang waktu itu masih menjabat sebagai wakil presiden.

Bangunan Sayap Kanan
Bangunan sayap kanan merupakan bagian dari bangunan utama dimana terdapat beberapa ruangan. Bagian ini digunakan sebagai tempat menerima tamu negara setingkat kepala negara ataupun kepala pemerintahan.

Ruang Makan
Ruangan ini berfungsi sebagai ruang makan keluarga yang dilengkapi dengan seperangkat kursi dan meja makan besar.

Ruang Tidur
Di kanan kiri ruang makan terdapat beberapa ruangan yuang berfungsi sebagai ruangan istirahat dan ruangan tidur.

Bangunan Sayap Kiri
Untuk mencapai bangunan sayap kiri, kita melewati ruang filem yang dahulu dipakai sebagai tempat pemutaran film. Pada masa sekarang ini pemutaran film tidak pernah dilakukan lagi di sini.

Di sekeliling ruang film terdapat beberapa ruangan antara lain ruang makan yang digunakan untuk menjamu tamu yan jumlahnya tidak terlalu banyak, kemudian juga terdapat ruang kerja yang sering dipakai oleh presiden Republik Indonesia.

Salah satu ruangan yang ada di sayap kiri adalah ruang konferensi. Ruangan ini pernah dipakai untuk Konferensi Panca Negara tahun 1954 yang merupakan lanjutan Konferensi Kolombo untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Status dan Peran Istana Bogor
Bidang Politik

Istana Bogor memiliki status dan peran yang sangat penting dalambidang politik, baik secara nasional maupun internasional. Terdapat beberapa peristiwa penting yang pernah berlangsung pada masa pemerintahan pertama dan orde baru di antaranya:

Pada tanggal 28-29 Desember 1954, Istana Bogor digunakan untuk pertemuan Panca Negara yang dihadiri oleh lima negara yaitu Birma, Srilanka, India, Pakistan, dan Indonesia yang membicarakan persiapan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

Penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 di Istana Bogor yang merupakan peristiwa sangat bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1979, presiden Soeharto di Istana Bogor mengumpul-kan semua pejabat eselon I dari seluruh departemen dan lembaga tinggi negara untuk mendapatkan Penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) untuk pertama kalinya.

Peristiwa penting lainnya yang bersifat internasional yang berlangsung di Istana Bogor di antaranya adalah Jakarta Informal Meeting pada tanggal 25-30 Juli 1988 yang membahas masalah Kamboja dan Pertemuan para Pemimpin Ekonomi APEC pada tanggal 15 Nopember 1984.

Bidang Budaya dan Pariwisata
Istana Bogor memiliki nilai historis dan politis yang tinggi, jugamemiliki nilai budaya dan pariwisata yang cukup tinggi dan sangat berpotensi. Selain dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan, juga menjadi obyek studi wisata yang terbuka bagi umum (wisatawan lokal/wisatawan mancanegara) dan pelajar. Hal ini dikarenakan banyaknya patung kerajinan dan lukisan yang memiliki nilai seni yang tinggi yang berasal dari luar dan dalam negeri. DI antaranya adlaah patung Si Denok karya Trubus, patung The Hand of God dari Swedia, berbagai kerajinan dari Bali, 136 buah keramik, di antaranya yang berasal dari Dinasti Ming di Tiongkok, 219 buah lukisan dari pelukis Basuki Abdullah (terbanyak), Ida Bagus Made, Dullah, Sudjojono, Sudjono Abdullah, Hendra dan pelukis dari luar negeri seperti Le Majeur (Belgia, suami Ni Polok dari Bali), Makooski (Rusia), Dezence (Belanda), dan lainnya.

Selain memiliki perbendaharaan yangbernilai seni tinggi, juga terdapat rusa-rusa bertotol yang didatangkan dari perbatasan India sejak masa pemerintahan Hindia Belanda (1811). Sebagai tempat peristirahatan, Istana Bogor pernah dikunjungi dan ditempati selama beberapa waktu oleh kepala negara atau pemerintahan asing. Tamu negara yang pernah menyinggahi adalah Jihan Sadat, isteri almarhum Anwar Sadat, presiden Mesir, Elizabeth II Ratu Inggris, Pangeran Bernard, Suami Ratu Elizabeth dari Belanda dan Malcolm Fraser Perdana Menteri Australia.

Penutup
Kesimpulan

Istana Bogor merupakan suatu lambang kebesaran bagi bangsa Indonesia. Sebab Istana Bogor telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa penting yang sangat bersejarah. Selain sebagai tempat bersejarah dan tempat peristirahatan, Istana Bogor juga menjadi obyek budaya dan pariwisata yang memiliki banyak potensi yang terkandung nilai seni dan estetika yang sangat tinggi dan telah dikunjungi oleh banyak tamu kenegaraan atau wisatawan baik lokal maupun internasional.

Saran-Saran
Dalam mengembangkan potensi sejarah budaya dan pariwisata di dalam negeri, dibutuhkan peran serta kaum muda sebagai generasi penerus. Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada pembaca khususnya pelajar agar dapat belajar dan menambah wawasan yang luas mengenai sejarah lokal, sehingga timbul penghargaan atas warisan sejarah dan budaya setempat, serta berupaya untuk melestarikannya agar kelak dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Daftar Pustaka
Anonim, 1994, Istana Presiden Republik Indonesia, Bogor: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

http://www.indo.net.id/bogor/istanabogor.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/istanabogor

Photo : http://matanews.com

Sumber : Makalah disampaikan pada “Lomba dan Diskusi Penulisan Sejarah Lokal” yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Istana Mangkunegaran

Puro Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Raden Mas Said memberontak dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar Mangkoenagoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai pepe di pusat kota yang sekarang bernama Solo.

Puro Mangkunegaran yang sebetulnya awalnya lebih tepat disebut tempat kediaman pangeran daripada istana, dibangun mengikuti model kraton tapi bentuknya lebih kecil. Bangunan ini memiliki ciri arsitekturyang sama dengan kraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.

Begitu pintu gerbang utama dibuka tampaklah pamedan, yaitu lapangan pelatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur pamedan. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat berdirinya Pendopo Agung yang berukuran 3500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang ini, selama bertahun-tahun dianggap sebagai pendopo terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku. Di pendopo ini terdapat empat set gamelan, satu digunakan secara rutin dan tiga lainnya digunakan pada waktu acara khusus.

Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom (padi muda) warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dari langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik.

Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama pringgitan, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarng berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan petanen (tempat bersemayam Dewi Sri) yang berlapiskan tenunan sutera, yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda-benda seni.

Di bagian tengah Puro Mangkunegaran di belakang Dalem Ageng, terdapat tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Tempat ini , yang masih memiliki suasana tenang bagaikan di rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan raja. Menghadap ke taman terbuka adalah Beranda Dalem, yang bersudut delapan , dimana terdapat lilin dan perabotan Eropa yang indah.

Sisa peninggalan yang masih tampak jelas saat ini adalah perpustakaan yang didirikan pad atahun 1867 oleh Mangkoenagoro IV.

Silsilah :
SP. Mangkoenagoro I (24 Feb 1757 – 28 Des 1795)
SP. Mangkoenagoro II (28 Des – 1795 – 26 Jan 1835)
SP. Mangkoenagoro III (26 Jan 1835 – 6 Jan 1853)
SP. Mangkoenagoro IV ( 25 Mar 1853 – 2 Sep 1881)
SP. Mangkoenagoro V (2 Sep1881 – 2 Okt 1896)
SP. Mangkoenagoro VI (2 Okt 1896 – 11 Jan 1916)
SP. Mangkoenagoro VII (11 Jan 1916 – 19 Jul 1944)
SP. Mangkoenagoro VIII (19 Jul 1944 – 3 Sep 1987)
SP. Mangkoenagoro IX (3 Sep 1987 – sekarang)
Sumber : Gapoera Edisi VIII/2006)

Sumber : http://www.karanganyar.com

Sejarah Istana Tampak Siring

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna 'telapak ') dan siring (yang bermakna 'miring'). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.

Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna 'airsuci'). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa denagn berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, disalah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itulah sekarang berdiri Wisma Merdeka , yaitu bagian dari Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.

Pembangunan istana dimulai taun 1957 hingga tahun 1960. Namun, dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambahkan bangunan baru berikut fasilitas - fasilitasnya, yaitu gedung untuk Konferensi dan untuk resepsi. Selain itu, istana juga merenovasi Balai Wantilan sebagai gedung pagelaran kesenian.

Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap. Arsiteknya ialah R.M Soedarsono. Yang pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira, yakni pada tahun 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan tahun 1958, dan semua bangunan selesai pada tahun 1963. Selanjutnya, untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana dibangun gedung baru untuk Konferensi beserta fasilitas-fasilitasnya dan merenovasi Balai Wantilan. Kini Tampaksiring juga memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya (dalam rangka kepariwisataan) dengan membangun pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Koro Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Sejak dirancangnya / direncanakan, pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring difungsikan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara. Usai pembangunan istana ini, yang pertama berkunjung dan bermalam di istana adalah pemrakarsanya, yaitu Presiden Soekarno. Tamu Negara yang bertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang berkunjung ke Indonesia bersama permaisurinya, Ratu Sirikit (pada tahun 1957).

Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain adalah Presiden Ne Win dari Birma ( sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang.

(Istana Kepresidenan RI , 2004, Sekretariat Presiden RI)

Sumber : Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna 'telapak ') dan siring (yang bermakna 'miring'). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.

Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna 'airsuci'). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa denagn berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, disalah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itulah sekarang berdiri Wisma Merdeka , yaitu bagian dari Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.

Pembangunan istana dimulai taun 1957 hingga tahun 1960. Namun, dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambahkan bangunan baru berikut fasilitas - fasilitasnya, yaitu gedung untuk Konferensi dan untuk resepsi. Selain itu, istana juga merenovasi Balai Wantilan sebagai gedung pagelaran kesenian.

Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap. Arsiteknya ialah R.M Soedarsono. Yang pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira, yakni pada tahun 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan tahun 1958, dan semua bangunan selesai pada tahun 1963. Selanjutnya, untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana dibangun gedung baru untuk Konferensi beserta fasilitas-fasilitasnya dan merenovasi Balai Wantilan. Kini Tampaksiring juga memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya (dalam rangka kepariwisataan) dengan membangun pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Koro Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Sejak dirancangnya / direncanakan, pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring difungsikan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara. Usai pembangunan istana ini, yang pertama berkunjung dan bermalam di istana adalah pemrakarsanya, yaitu Presiden Soekarno. Tamu Negara yang bertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang berkunjung ke Indonesia bersama permaisurinya, Ratu Sirikit (pada tahun 1957).

Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain adalah Presiden Ne Win dari Birma ( sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang.

(Istana Kepresidenan RI , 2004, Sekretariat Presiden RI)

Smber : http://www.presidensby.info

Sejarah Istana Cipanas


Kata cipanas berasal dari bahasa Sunda; ci atau cai artinya air, dan panas yaitu panas dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut menjadi nama sebuah desa, yakni Desa Cipanas karena di tempat ini terdapat sumber air panas yang mengandung belerang.

Istana Kepresidenan Cipanas bermula dari sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh pemiliknya pribadi, seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots. Namun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tepatnya mulai pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1743), karena daya tarik sumber air panasnya, dibangun sebuah gedung kesehatan di sekitar sumber air panas tersebut. Kemudian, karena kharisma udara pegunungan yang sejuk serta alamnya yang bersih dan segar, bangunan itu sempat dijadikan tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda.

Sejak didirikannya pada masa pemerintahan Belanda, Istana Kepresidenan Cipanas difungsikan sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan. Akan tetapi sekeliling alamnya yang amat indah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya, sehingga pada masa pemerintahan van Imhoff itu, tempat persinggahan/peristirahatan sempat beralih fungsi. Karena kekuatan sumber air panas yang mengandung belerang itu dan karena udara pegunungan yang sejuk dan bersih, tempat ini pernah dijadikan gedung pengobatan bagi anggota militer Kompeni yang perlu mendapat perawatan.

Komisaris Jenderal Leonard Pietr Josef du Bus de Gisignies, misalnya, tercatat yang paling senang mandi air belerang itu. Demikian pula halnya dengan Carel Sirardus Willem Graaf van Hogendorp, sekretarisnya (1820-1841). Selain itu Herman Willem Daendeles (1808-1811) dan Thomas Stanford Raffles (1811-1816) pada masa dinasnya menempatkan beberapa ratus orang di tempat tersebut; sebagian basar dari mereka bekerja di kebun apel dan kebun bunga serta di penggilingan padi, di samping yang mengurus sapi, biri - biri, dan kuda.

Secara fisik, sejak berdirinya hingga kini, perjalanan riwayat Istana Cipanas banyak berubah. Secara bertahap, dari tahun ke tahun, istana ini bertambah dan bertambah. Mulai dari tahun 1916, masih pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tiga buah bangunan berdiri di dalam kompleks istana ini. Kini ketiganya dikenal dengan nama Paviliun Yudhistira, Paviliun Bima, dan Paviliun Arjuna.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1954 di masa dinas Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, didirikan sebuah bangunan mungil, terletak di sebelah belakang Gedung Induk. Berbeda dari gedung-gedung lainnya, sekeliling dinding tembok luar serta pelataran depan dan samping bangunan ini berhiaskan batu berbentuk bentol. Dengan mengambil bentuk hiasan tembok serta pelatarannya itulah, nama gedung ini terdengar unik, yaitu Gedung Bentol. (Bentol dari bahasa sunda; padanannya dalam bahasa Indonesia bentol juga, seperti bekas gigitan nyamuk).

Dua puluh sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1983, semasa Presiden II Republik Indonesia, Soeharto, dua buah paviliun lainnya menyusul berdiri, yaitu Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

Istana Kepresidenan Cipans juga pernah difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga oleh beberapa keluarga Gubernur Jenderal Belanda. Yang pernah menghuni bangunan itu adalah keluarga Andrias Cornelis de Graaf (yang masa pemerintahannya 1926 -1931), Bonifacius Cornelius de Jonge (1931), dan yang terakhir, yang bersamaan dengan datangnya masa pendudukan Jepang (1942), adalah Tjarda van Starkenborg Stachourwer.

Setelah kemerdekaan Indonesia, secara resmi gedung tersebut ditetapkan sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan fungsinya tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya.

Istana Kepresidenan Cipanas ini juga mencatat peristiwa penting dalam sejarah garis haluan perekonomian Indonesia, yaitu bahwa pada tanggal 13 Desember 1965, Ruang Makan Gedung Induk, pernah difungsikan sebagai tempat kabinet bersidang dalam rangka penetapan perubahan nilai uang dari Rp1.000,00 menjadi Rp1,00, tepatnya pada masa Presiden Republik Indonesia Soekarno dan pada waktu Menteri Keuangan dijabat oleh Frans Seda.

Sesuai dengan fungsi Istana Kepresidenan Cipanas, tidak digunakan untuk menerima tamu negara. Namun, pada tahun 1971, Ratu Yuliana pun meluangkan waktunya untuk singgah di istana ini ketika berkunjung ke Indonesia.

(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI, 2004)

Sumber : http://www.presidensby.info/istana/index.php/statik/sejarah/cipanas.html

Sejarah Istana Merdeka

Istana Merdeka mulai dibangun pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, oleh arsitek Drossares. Istana Negara juga dikenal dengan nama Istana Gambir.

Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, istana ini menjadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.

Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.

(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)

Sumber : http://www.presidensby.info

Sejarah Istana Negara

Istana Negara dibangun tahun 1796 untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam. Pada tahun 1816 bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral.

Pada mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.

Sesuai dengan fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis - pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah.

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ialah ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara - acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat - pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.

(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)

Sumber : http://www.presidensby.info

Sejarah Istana Bogor

Berawal dari keinginan orang - orang Belanda yang bekerja di Batavia ( kini Jakarta ) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat - tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.

Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.

Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff ( 1745 - 1750 ) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, ( artinya bebas masalah / kesulitan ). Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 - 1761

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 - 1754.

Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels ( 1808 - 1811 ), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen ( 1817 - 1826 ), dilakukan perubahan besar - besaran. Sebuah menara di tengah - tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.

Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang pada tanggal 10 oktober 1834.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist ( 1851 - 1856 ), bangunan lama sisa gempa dirubuhkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur eropa Abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan. Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager ( 1856 - 1861 ). Dan pada pemerintahan, selanjutnya tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Belanda.

Akhir perang dunia II, Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Barisan Keamanan Rakyat ( BKR ) sempat menduduki Istana Buitenzorg untuk mengibarkan bendera merah putih. Istana Buitenzourg yang namanya kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor diserahkan kembali kepada pemerintah republik ini pada akhir tahun 1949. Setelah masa kemerdekaan , Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada bulan Januari 1950.

Kepustakaan dan Benda Seni
Istana Kepresidenan Bogor mempunyai koleksi buku sebanyak 3.205 buah yang daftarnya tersedia di kepustakaan istana. Istana ini menyimpan banyak benda seni, baik yang berupa lukisan, patung, serta keramik dan benda seni lainnya. Hingga kini lukisan yang terdapat di istana ini adalah 448 buah, dimana judul/nama lukisan itu, pelukisnya, tahun dilukisnya, tersedia dalam bentuk daftar sehingga memudahkan siapa saja yang ingin memperoleh informasi tentang lukisan tersebut. Begitu pula halnya dengan patung dengan aneka bahan bakunya. Di istana ini terdapat patung sebanyak 216 buah.

Di samping lukisan dan patung, Istana Bogor juga mengoleksi keramik sebanyak 196 buah. Semua itu tersimpan di museum istana, di samping yang dipakai sebagai pemajang di setiap ruang/bangunan istana.

(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)

Sumber : http://www.presidensby.info

Istana Taman Sari, Yogyakarta

Pesanggrahan Taman Sari yang kemudian lebih dikenal dengan nama Istana Taman Sari yang terletak di sebelah barat Keraton Yogyakarta dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II.

Lokasi Pesanggrahan Taman Sari sebagai suatu tempat pemandian sudah dikenal jauh sebelumnya. Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul (mata air) Pacethokan. Umbul ini dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih. Pacethokan ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta.

Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti (1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwana sekian lama terlibat dalam persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan yang dapat dipergunakan untuk meneteramkan hati, istirahat, dan berekreasi.

Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/benteng untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Peanggrahan Taman Sari juga dilengkapi dengan mushola, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.

Nama Taman Sari terdiri atas dua kata, yakni taman 'kebun yang ditanami bunga-bungaan' dan sari 'indah, bunga'. Dengan demikian, nama Taman Sari dimaksudkan sebagai nama suatu kompleks taman yang benar-benar indah atau asri.

Cerita Tentang Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari
Pada versi pertama diceritakan bahwa di Mancingan (suatu daerah di pantai selatan Yogyakarta) terdapat orang aneh yang tidak diketahui asal-usulnya. Masyarakat di daerah tersebut banyak yang menduga bahwa orang tersebut termasuk sebangsa jin atau penghuni hutan. Masyarakat beranggapan demikian karena orang tersebut menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang setempat.

Orang aneh tersebut kemudian dihadapkan kepada Sultan Hamengku Buwana II yang saat itu masih memerintah. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II berkenan mengambil orang tersebut sebagai abdi. Setelah beberapa lama orang itu pun dapat berbahasa Jawa. Berdasarkan keterangannya ia mengaku sebagai orang Portugis yang dalam dialek Jawa sering disebut Portegis. Orang Portegis itu kemudian dijadikan sebagai abdi yang mengepalai pembuatan bangunan (semacam arsitek).

Sultan Hamengku Buwana II pun memerintahkan orang tersebut agar membuat benteng. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II amat berkenan atas hasil kerjanya. Orang tersebut kemudian diberi kedudukan sebagai demang, maka orang itu pun terkenal dengan nama Demang Portegis atau Demang Tegis.

Demang Tegis inilah yang konon diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan Taman Sari. Oleh karena itu pula bangunan Pesanggrahan Taman Sari menunjukkan unsur seni bangunan yang berasal dari Eropa (Portugis).

Menurut versi kedua diceritakan bahwa pada suatu ketika bupati Madiun yang waktu itu bernama raden Rangga Prawirasentika, yang telah banyak berjasa kepada Sultan Hamengku Buwana I memohon kepada beliau supaya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak daerah yang selama ini dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun.

Bupati Madiun hanya menyanggupi bila ada permintaan-permintaan khusus Sultan Hemngku Buwana I untuk kelengkapan hiasan dan kemegahan keraton. Sultan Hamengku Buwana I pun mengabulkan permohonan itu.

Oleh Sultan Hamengku Buwana I Bupati Madiun diperintah untuk membuat gamelan Sekaten sebagai pelengkap dari gamelan Sekaten yang berasal dari Surakarta. Semula gamelan tersebut berjumlah satu pasang, tetapi oleh karena palihan nagari (1755) gamelan itu dibagi dua. Satu untuk Kasultanan Yogyakarta dan satu lagi untuk Kasunanan Surakarta.

Di samping itu, Sultan Hamengku Buwana I juga memerintahkan kepada Bupati Madiun untuk dibuatkan jempana 'tandu' sebagai kendaraan mempelai putri Sultan Hamengku Buwana I.

Pada tahun 1684 Raden Rangga Prawirasentika diperintahkan untuk membuat batu bata dan kelengakapannya sebagai persiapan untuk membangun pertamanan yang indahsebagai sarana untuk menenteramkan hati Sultan Hamengku Buwana I. Sultan menghendaki hal demikian karena baru saja menyelesaikan tugas berat (perang) yang berlangsung cukup lama. Keluarnya perintah Sultan Hamengku Buwana ditandai dengan sengkalan memet yang berbunyi Catur Naga Rasa Tunggal (1684).

Untuk pembuatan pertamanan/pesanggrahan itu atas perkenan Sultan Hemngku Buwana I dikepalai oleh Raden tumenggung Mangundipura dan dipimpin oleh K.P.H. Natakusuma, yang kemudian hari menjadi K.G.P.A.A. Paku Alam I (putra Sri Sultan dengan isteri selir yang bernama Bendara Raden Ayu Srenggara).

Pembuatan tempat peraduan dan bangunan urung-urung 'gorong-gorong' yang menuju keraton yang sering juga disebut Gua Siluman dilakukan pada tahun 1687 dan ditandai dengan candra sengkala Pujining Brahmana Ngobahake Pajungutan (1687). Sedangkan pembangunan pintu-pintu gerbang dan tembok selesai pada tahun 1691.

Selesainya pembuatan bangungan Pesanggrahan Taman Sari diberi tanda sengkalan memet yang berupa relief pepohonan yang berbunga dan sedang dihisap madunya oleh burung-burung. Sengkalan memet tersebut berbunyi Lajering Kembang Sinesep Peksi (1691).

Dalam versi kedua ini diceritakan bahwa Raden Rangga Prawirasentika tidak dapat menyelesaikan pembuatan bangunan Pesanggrahan taman Sari. Beliau menyatakan bahwa pembangunan tersebut justru dirasa lebih besar biayanya dibandingkan dengan penyampaian pajak setahun dua kali yang selama ini dilakukannya. Oleh karenaya belilau mohon berhenti pada Sultan dan diperkenankan. Sultan kemudian memerintahkan K.P.H. Natakusuma untuk menyelsaikan bangunan itu atas biaya yang ditanggung Sultan sendiri.

Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari ini kono banyak melibatkan tenaga kerja tidak saja yang berasal dari sekitar Yogyakarta, tetapi juga dari Madiun, Kedu, Jipang, dan sebagainya.

Sumber : http://info.indotoplist.com

Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta

Istana Yogyakarta yang dikenal dengan nama Gedung Agung terletak di pusat keramaian kota, tepatnya di ujung selatan Jalan Ahmad Yani dahulu dikenal Jalan Malioboro, jantung ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan istana terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta, dan berada pada ketinggian 120 meter dari permukaan laut. Kompleks istana ini menempati lahan seluas 43,585 m.

Sejarah
Gedung utama kompleks istana ini mulai dibangun pada Mei 1824 yang diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825) yang menghendaki adanya "istana" yang berwibawa bagi residen-residen Belanda sedangkan arsiteknya adalah A Payen.

Karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) pembangunan gedung itu tertunda. Pembangunan tersebut diteruskan setelah perang tersebut berakhir yang selesai pada 1832. Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut juga Gedung Negara.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi dimana Gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian gedung utama menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang.

Pada 6 Januari 1946, Kota Gudeg ini menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda dan istana itu berubah menjadi Istana Kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya, sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072/Pamungkas. Sejak itu Istana Kepresidenan Yogyakarta menjadi saksi peristiwa penting diantaranya pelantikan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 dan sebagai pucuk pimpinan angkatan perang Republik Indonesia pada 3 Juli 1947.

Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda dibawah pimpinan Jenderal Spoor, Presiden, Wakil Presiden dan para pembesar lainnya diasingkan ke luar Jawa dan baru kembali ke Istana Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Sejak 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden.

Istana Yogyakarta atau Gedung Agung, sama halnya dengan istana Kepresidenan lainnya yaitu sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat menerima atau menginap tamu-tamu negara. Sejak 17 Agustus 1991, istana ini digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan penyelenggaraan Parade Senja setiap tanggal 17 yang dimulai 17 April 1988.

Sumber : http://gudeg.net

Menapaki Warisan Dinasti Joseon

Udara pagi awal Mei sejuk menyapa kulit. Riuhnya lalu lintas kota Seoul seolah lenyap saat melangkah masuk ke halaman Istana Gyeongbokgung di jantung ibu kota Korea Selatan itu. Kicau burung, rindang pepohonan, dan keindahan taman membuat orang serasa tidak sedang berada di kota besar yang sibuk.

Istana Gyeongbokgung merupakan salah satu dari Lima Istana Agung yang dibangun Dinasti Joseon (1392-1910). Empat istana lain adalah Changdeokgung, Deoksugung, Changgyeonggung, dan Gyeonghuigung. Kelimanya berada dalam jarak tak terlalu jauh meskipun untuk mendatangi kelima istana itu tetap diperlukan kendaraan.

Di antara monumen budaya yang bertebaran di seantero Seoul, tidak ada tempat yang lebih dikagumi dan sering dikunjungi selain Lima Istana Agung. Kelompok tur lokal dan asing terlihat mengalir masuk dan keluar kompleks istana-istana itu.

Gyeongbokgung, berarti Istana yang Diberkati oleh Surga, dibangun tahun 1395 sebagai istana utama Dinasti Joseon. Begitu masuk dari gerbang utama Gwanghamun, pengunjung bisa melihat hamparan halaman batu yang luas. Di tengah halaman berdiri bangunan utama, Geunjeongjeon, tempat kaisar menyelenggarakan pemerintahan, pertemuan, menerima tamu luar negeri, dan upacara penobatan.

Di halaman samping Gyeongbokgung terdapat kolam buatan dengan paviliun megah seluas 931 meter persegi di tengahnya. Paviliun Gyeonghoeru adalah tempat kaisar mengadakan jamuan. Lantai pertama bangunan tidak memiliki dinding, hanya tiang batu berjumlah 48 buah.

Keindahan lain bisa ditemui di halaman belakang, di bagian tempat tinggal para selir. Sebuah kolam dengan pulau kecil di tengah, di atasnya berdiri bangunan cantik Hyangwonjeong. Sebuah jembatan menghubungkan pelataran istana dengan bangunan itu. Teratai bertebaran di permukaan kolam. Pepohonan dan tanaman bunga menghiasi Hyangwonjeong. Jauh di latar belakang berdiri megah Gunung Bugaksan.

Selaras alam
Sue Youn Jung, pemandu wisata kami, menuturkan, bangsa Korea selalu membangun selaras dengan alam. ”Jika diperhatikan, Gunung Bugaksan itu seolah dekat dan menyatu dengan Hyangwonjeong. Padahal, gunung itu masih 40 menit berkendara dari sini,” jelas dia.

Meninggalkan kemegahan Gyeongbokgung, keindahan Istana Changdeokgung telah menanti. Changdeokgung dibangun sebagai istana kedua Dinasti Joseon tahun 1405 yang merupakan tempat kediaman keluarga kerajaan.

Tidak seperti Gyeongbokgung yang disusun mengikuti sebuah sumbu utama, Changdeokgung dibangun seturut dengan harmoni topografi tanah yang berbukit-bukit. Bagian istana yang paling terkenal adalah Taman Rahasia yang terdapat di bagian belakang istana.

Tur di Changdeokgung harus dipandu pemandu wisata, kecuali pada hari Kamis dari April hingga November. Setiap tur bersama pemandu berlangsung 1 jam 20 menit dengan biaya 3.000 won (Rp 30.000). Selama waktu itu, pengunjung diajak berjalan kaki menikmati berbagai bangunan istana yang menawan dan kisah tentang keluarga kerajaan yang mendiaminya dulu. Jangan takut, rindangnya pepohonan membuat tur selama itu akan berlalu dengan cepat tanpa berkeringat atau kelelahan.

”Taman Rahasia sebenarnya tidak tersembunyi lokasinya. Itu hanya untuk menyebut sebuah taman belakang yang hanya boleh dimasuki kaisar dan istrinya atau keluarga kerajaan yang diizinkan,” kata pemandu wisata menjelaskan.

Meskipun banyak pengunjung—pemandu wisata akan memberi waktu 10-15 menit untuk istirahat dan menikmati suasana di Taman Rahasia—tempat itu terasa begitu tenang. Ada sebuah paviliun di sisi atas kolam untuk bersantai bagi kaisar.

Berdekatan dengan Changdeokgung adalah Istana Changgyeonggung. Dibangun oleh raja keempat Dinasti Joseon, Kaisar Sejong (1418-1450), untuk ayahnya, Kaisar Taejong, istana ini sering digunakan sebagai tempat kediaman permaisuri dan para selir.

Semasa kolonialisme Jepang (1905-1945), Changgyeonggung dijadikan kebun binatang dan taman botani. ”Saya masih ingat semasa kecil pergi ke tempat ini untuk melihat berbagai macam binatang,” ujar Sue. Kebun binatang dan taman botani dipindahkan tahun 1983. Setelah renovasi selama bertahun-tahun, Changgyeonggung mendapatkan kembali kemegahannya.

Perjalanan berlanjut ke istana berikutnya, Istana Deoksugung. Istana ini pernah menjadi istana utama bagi Dinasti Han yang Besar (1897-1910). Pada masa kejayaannya, Deoksugung berukuran tiga kali lipat dari luasnya saat ini dan terdiri atas banyak bangunan.

Deoksugung muncul sebagai pusat sejarah modern Korea tahun 1897. Itulah sebabnya, lokasinya kini dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Setelah Kaisar Gojong meninggal tahun 1919, Jepang menjual sebagian wilayah istana lalu mengembangkan tanahnya sebagai taman publik.

Modernisme
Ada dua bangunan bergaya Barat di dalam kompleks Deoksugung. Seokjojeon, gedung dari batu—bukan kayu seperti bangunan istana—bergaya neoklasik digunakan sebagai kediaman Kaisar Gojong. Bangunan lain adalah Museum Seni Nasional Deoksugung. Kedua bangunan itu dibangun sebagai bagian dari upaya Dinasti Han yang Besar menuju modernisme.

Istana terakhir yang kami kunjungi adalah Istana Gyeonghuigung. Dulu, istana ini merupakan istana kedua tempat para kaisar tinggal dalam keadaan darurat. Semasa invasi Jepang ke Korea, sekolah Jepang dipindahkan ke dalam istana.

Salah satu daya tarik bagi pengunjung Gyeonghuigung adalah penampilan para pelajar taekwondo, ilmu bela diri asal Korea, dari Kukkiwon, markas besar taekwondo. Ada program pertunjukan taekwondo dan latihan taekwondo bagi orang asing setiap hari, kecuali Senin.

Sue menuturkan, musuh utama istana-istana megah itu adalah api karena bahan utama istana adalah kayu. Kebakaran besar pernah menghancurkan hampir seluruh bagian Lima Istana Agung. Pada tahun 1592 itu kerusakan parah terjadi saat Jepang menginvasi Korea. ”Hampir seluruh istana rata dengan tanah,” tutur dia.

Sepenting apa institusi istana itu bagi warga Korea? ”Bangunan-bangunan itu adalah penghubung kami dengan leluhur pendiri bangsa ini, yang bisa membawa kami seperti sekarang ini. Itu sebabnya, pemerintah bersedia mengeluarkan dana sangat besar untuk renovasi dan konservasinya,” ujar Sue.

Manajer Umum Organisasi Pariwisata Korea Harry Oh mengatakan, bagi mereka yang tidak ingin dipusingkan dengan sejarah, kompleks istana-istana itu bisa menjadi tempat rekreasi dan mencari kesejukan di tengah hiruk-pikuk kota besar. ”Kalau Anda bisa rasakan, sekarang Anda tidak seperti sedang berada di Seoul,” ujar dia.

Sumber: http://travel.kompas.com