Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan

Nasib Artefak dan Naskah Sejarah


Oleh: Bambang Budi Utomo

Seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia, sebagai bangsa yang memiliki latar kesejarahan yang panjang, Indonesia mempunyai banyak benda tinggalan budaya masa lampau. Benda-benda tinggalan budaya tersebut ada yang terurus, tetapi ada pula yang tidak.

Untuk apa diteliti dan untuk apa harus diurus, dipelihara, dan dilestarikan? Pertanyaan semacam itu wajar diiucapkan, lebih-lebih dari orang awam.

Ada penjual dan ada pembeli. Punya barang, tetapi tidak punya uang, sementara itu ada yang mau membelinya, kenapa harus tidak terjadi transaksi?

Sejalan dengan melambungnya kebutuhan hidup, pergi pula rasa kecintaan terhadap pusaka warisan budaya. Barang-barang pusaka pun kalau bisa dijual mengapa tidak? Alasan perlu makan dapat mengalahkan peraturan perundangan yang berlaku.

Peristiwa hilangnya arca-arca di Museum Radya Pustaka Solo beberapa waktu lalu merupakan suatu peringatan bahwa benda cagar budaya alias BCB yang menjadi koleksi pribadi atau museum belum tentu aman. Di Indonesia banyak BCB yang menjadi koleksi pribadi konglomerat.

Layaknya John D Rockefeller yang membangun museum di Jerusalem, kolektor di Indonesia juga ikutan membangun museum untuk menempatkan koleksinya. Bedanya, kalau Rockefeller menghibahkan sebagian kekayaannya untuk yayasan museum guna kelangsungan dan pemeliharaan, konglomerat atau kolektor kita tidak.

Manakala kolektor tersebut bangkrut atau meninggal dunia, tidak mustahil BCB yang menjadi koleksinya sedikit demi sedikit terjual. Tidak terjual oleh sang kolektor yang bangkrut, bisa juga terjual oleh ahli warisnya. Dianggapnya BCB yang mereka koleksi merupakan barang investasi, yang kalau bangkrut atau perlu modal, bisa dijual semaunya.

Selain Museum Nasional, di Jakarta terdapat banyak museum yang menjadi tanggung jawab Dinas Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pembinaannya oleh Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Museum-museum itu ada yang dibentuk atas prakarsa pemerintah, ada juga atas prakarsa pribadi. Museum-museum tersebut antara lain Museum Fatahillah, Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Tekstil, dan Museum Adam Malik yang sekarang sudah ditutup.

Peristiwa hilangnya sejumlah koleksi berharga, berupa buku-buku langka, pernah terjadi di Museum Fatahillah. Buku yang hilang itu berjudul Oud en Niew Oost-Indien, ditulis oleh Valentijn, terbitan tahun 1724-1726. Buku yang seluruhnya terdiri atas 8 jilid itu di seluruh dunia hanya ada beberapa kopi.

Satu kopi dari buku tersebut menjadi koleksi Museum Fatahillah, tetapi kini raib entah ke mana. Ironisnya, hilangnya tidak sekaligus, tetapi buku demi buku, berlangsung sejak 2005 hingga ketahuan hilang tahun 2006. Tidak lama setelah diketahui hilang, seseorang menghadiahkan fotokopi buku-buku tersebut kepada Museum Fatahillah. Peristiwa ini tidak dilaporkan kepada polisi, apalagi terungkap oleh pers.

Kasus lain menimpa prasasti Raja Sangkhara, yang merupakan salah satu koleksi penting Museum Adam Malik di Jalan Diponegoro Nomor 29, Jakarta. Pada sekitar tahun 1980-an prasasti ini masih ada. Begitupun koleksi-koleksi seperti keramik, arca (batu dan logam), lukisan, dan ikon dari berbagai negara. Namun, sejak Museum Adam Malik ditutup tahun 2000 koleksi-koleksi itu tak diketahui lagi keberadaannya.

Contoh kasus di atas memperlihatkan bahwa di tempat penyimpanan yang selama ini dianggap aman—seperti di museum—bagi keberadaan BCB, ternyata nasib artefak sejarah bangsa juga bisa raib. Bagaimana dengan keraton?

Selain sebagai pusat kegiatan budaya, keraton juga menyimpan koleksi warisan raja-raja pendahulu dari ”raja” yang sekarang. Namun, tak banyak orang tahu bahwa koleksi-koleksi BCB yang ”disimpan” di keraton pun bisa hilang jejaknya.

Salah satu keraton di Pulau Jawa, misalnya, dulu tercatat menyimpan tiga baju zirah (semacam rompi untuk perang). Namun, sekarang ternyata tinggal dua buah, yang menurut orang dalam keraton, satu buah dijual oleh ahli warisnya.

Dokumen penentu
Siapa yang mengatakan BCB itu tidak penting bagi bangsa ini? Banyak bangsa di dunia dalam usahanya menuntut batas wilayah berdasarkan latar sejarah, yang antara lain dari BCB dan dokumen-dokumen sejarah sebelum terbentuknya suatu negara.

Sebut saja Irak. Ketika menganeksasi Kuwait, mereka mengklaim pendudukan tersebut didasarkan atas latar sejarah kewilayahan.

Singapura dan Malaysia juga bersengketa memperebutkan sebuah pulau di perbatasan dengan Negara Bagian Johor. Persoalan ini dapat diselesaikan dengan meninjau kembali dokumen sejarah ketika Inggris masih berkuasa dan ternyata pulau tersebut masih termasuk wilayah Kesultanan Johor.

Dalam lingkup provinsi atau kabupaten, pada masa pemekaran ini dokumen sejarah dapat menjadi penyelamat sengketa perbatasan. Masalah sengketa ini bisa saja terjadi di daerah pantai timur Sumatera di bekas wilayah Kesultanan Melayu. Sengketa dapat muncul apabila terjadi pemekaran wilayah yang menyangkut perbatasan. Hal itu karena biasanya, salah satu penentu batas wilayah adalah bekas wilayah kesultanan tempo dulu. Kalau dokumennya hilang, tentu saja sengketa tidak kunjung selesai.

Para sejarawan Indonesia menyimpulkan bahwa di Jawa Tengah pada abad VIII terdapat dua dinasti yang berkuasa dan berbeda agama, yaitu Dinasti Sanjaya beragama Hindu dan Dinasti Sailendra beragama Buddha.

Dengan ditemukannya Prasasti Sojomerto dari daerah Pekalongan dan Prasasti Raja Sangkhara yang konon ditemukan di daerah Sragen, pendapat tersebut kemudian dapat direvisi. Di Jawa Tengah hanya ada satu dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Sailendra. Raja-raja dinasti ini semula beragama Hindu yang memuja Siwa, kemudian beralih menjadi penganut agama Buddha Mahayana.

Naskah-naskah sejarah atau dokumen sejarah, baik yang ditulis di kertas maupun dipahatkan pada batu atau logam, jelas merupakan BCB. Dokumen-dokumen ini ada yang disimpan ahli waris dan ada pula yang disimpan di museum-museum.

Namun, apakah dokumen-dokumen ini tinggal dengan aman di tempat yang selayaknya? Tidak mustahil benda-benda tersebut raib, seperti yang terjadi di Radya Pustaka. Orang awam tidak akan tahu benda-benda yang dipamerkan asli atau palsu. Tidak heran pula jika di Riau, saat ini banyak naskah Kesultanan Melayu yang dikuasai oleh pribadi sudah ”berpindah kewarganegaraan”-nya.
__________
Bambang Budi Utomo, Kerani Rendahan pada Puslitbang Arkeologi Nasional

Sumber: http://cetak.kompas.com

Museum sebagai Lembaga Pelestari Budaya Bangsa


Oleh: Tim Direktorat Museum

Apa itu museum di benak sebagian besar masyarakat Indonesia? Mengapa apresiasi masyarakat terhadap museum begitu rendah? Mengapa selama ini masyarakat membayangkan museum adalah kumpulan barang-barang antik yang membosankan?

Bila kita renungkan lebih lanjut, pendapat atau pertanyaan tersebut tidaklah benar, karena di museum tersimpan berbagai macam pengetahuan. Maka, tidak salah bila dikatakan bahwa museum memiliki peran sebagai lembaga pendidikan non-formal, karena aspek edukasi lebih ditonjolkan dibanding aspek rekreasi. Museum juga merupakan sebuah lembaga pelestari kebudayaan bangsa, baik yang berupa benda (tangible), seperti artefak, fosil, dan benda-benda etnografi; maupun bukan benda (intangible), seperti nilai, tradisi, dan norma.

Museum memiliki banyak pengertian. Salah satu pengertiannya adalah sebagai lembaga—tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya—guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Begitu pentingnya museum bagi kehidupan kita, tetapi mengapa sedikit sekali keluarga Indonesia yang mengagendakan museum sebagai tempat tujuan belajar sambil berekreasi?

Lebih lanjut, museum terdiri dari 2 komponen, yaitu penyelenggara dan pengelola museum. Penyelenggara merupakan satu kegiatan pembinaan, sedangkan pengelolaan adalah kegiatan otonom dari unit yang dibina. Pada umumnya, dalam dunia permuseuman kita mengetahui adanya dua unsur utama penyelenggara museum, yaitu unsur pemerintah dan unsur swasta—dalam bentuk perkumpulan dan yayasan yang diatur kedudukan, tugas, dan kewajibannya oleh undang-undang. Penyelenggara dan pengelola museum, baik pemerintah maupun swasta di Indonesia, harus menyesuaikan kebijakannya dengan dasar-dasar kebijakan pembina pendidikan pemerintah, karena semua kegiatan museum tidak hanya untuk melayani kelompok tertentu tetapi juga memberikan pelayanan sosial budaya dan pendidikan bagi masyarakat banyak.

Museum tidak dapat dipisahkan dari koleksinya. Koleksi merupakan jantungnya museum. Koleksi museum harus disajikan sebagai salah satu bentuk komunikasi yang penting dalam upaya menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke museum. Dalam penyajian koleksi museum, harus diperhatikan adanya nilai-nilai estetika, artistik, edukatif, dan informatif. Berkaitan dengan pengunjung museum, penyajian koleksi harus memperhatikan kebebasan bergerak bagi pengunjung, sirkulasi pengunjung, kenyamanan pengunjung, dan keamanan koleksi museum. Informasi yang disampaikan kepada pengunjung juga harus bersifat komunikatif dan edukatif, yaitu sekurang-kurangnya memuat nama benda, asal ditemukan, periode dan umur, serta fungsi koleksi.

Penyajian koleksi dapat dilakukan dalam 3 jenis pameran, yaitu: (1) pameran tetap, merupakan pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu 3–5 tahun. Tema pameran sesuai dengan jenis, visi, dan misi museum. Idealnya, koleksi yang disajikan 25–40 % merupakan koleksi museum; (2) Pameran khusus atau temporer, merupakan pameran koleksi museum yang diselenggarakan (1 minggu–3 bulan); dan (3) Pameran Keliling, merupakan pameran koleksi yang diselenggarakan di luar lingkungan museum. Sebaiknya, pameran keliling menggunakan replika koleksi, untuk menghindari kerusakan dan kehilangan koleksi.

Koleksi yang dimiliki oleh sebuah museum agar tetap terjaga kelestariannya perlu dilakukan perawatan (konservasi) yang sesuai dengan karakteristik dan material koleksi, dalam hal ini peneliti koleksi (kurator) bekerja sama dengan konservator. Selain konservasi, perlu tindakan pencegahan terhadap kerusakan koleksi atau pengawetan sehingga koleksi tetap terjaga kelestariannya, dalam kegiatan tersebut dituntut peran aktif konservator yang sebaiknya memiliki keahlian yang cukup tentang koleksi yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga tidak menggantungkan masalah kelestarian koleksi sepenuhnya kepada kurator. Selain itu, koleksi-koleksi yang mengalami kerusakan atau fragmentaris perlu diperbaiki atau direkonstruksi supaya dapat diperoleh bentuk seperti semula. Perlu untuk dilakukan studi perbandingan dengan koleksi lain yang masih utuh dan diperkirakan sejenis dengan koleksi tersebut, serta direkonstruksi di atas kertas terlebih dahulu, sebelum dilakukan restorasi terhadap koleksi.

Pengamanan museum sangat penting, menyangkut keamanan koleksi, bangunan, dan manusia (petugas dan pengunjung) museum. Pengamanan museum tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas satpam, melainkan semua pegawai museum. Pengamanan museum meliputi proteksi museum beserta koleksinya dari tindakan pencurian dan vandalisme serta penanggulangan terhadap bencana.

Museum di Indonesia didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kelembagaan yang melakukan pelestarian warisan budaya dalam arti yang luas, artinya bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. Dengan demikian, warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan, sehingga dapat memperkenalkan akar kebudayaan nasional yang digunakan dalam menyusun kebudayaan nasional.

Museum sangat berperan dalam pengembangan kebudayaan nasional, terutama dalam pendidikan nasional, karena museum menyediakan sumber informasi yang meliputi segala aspek kebudayaan dan lingkungan. Museum menyediakan berbagai macam sumber inspirasi bagi kreativitas inovatif yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Namun, museum harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Kurator perlu melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan koleksi serta menyusun tulisan yang bersifat ilmiah dan populer. Hasil penelitian dan tulisan tersebut dipublikasikan kepada masyarakat, dalam kegiatan ini kurator bekerja sama dengan bagian publikasi. Di samping itu, kurator dengan bagian publikasi dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan pembuatan CDROM dan homepage museum. Untuk menginformasikan koleksi yang dipamerkan di ruang pamer kepada pengunjung secara lengkap dan sistematis, maka kurator perlu bekerja sama dengan bagian edukasi. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berasaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.
___________
Sumber : www.museum-indonesia.net

Museum Red Dot, Tempat Gaya Bertemu Substansi


Oleh: Egidius Patnistik

Sesuai namanya, Museum Red Dot di Jalan Maxwell Singapura tampil dalam warna merah anggur (chianti) yang anggun, tegas, dan berwibawa. Kalau bayangan Anda tentang museum adalah bangunan tua dengan koleksi benda-benda kuno yang kusam dan berdebu, itu tidak ditemukan di sini.

Saya masuk ke museum, yang hanya tiga menit jalan kaki dari stasiun MRT (Mass Rapit Transit) Tanjong Pagar, itu pada malam hari, 3 Oktober lalu, untuk menghadiri party yang digelar Nokia dalam rangka peluncuran ponsel terbarunya, Nokia 5800 ExpressMusic. Untuk acara itu, Nokia menghadirkan kelompok musik rock asal Amerika, Lifehouse, tampil meraung-raung di tempat tersebut. Penasaran dengan nama, koleksi, serta fungsinya yang bisa untuk acara pesta, sampai pergelaran musik rock, besoknya saya kembali ke museum tersebut.

Bangunan tiga lantai yang pernah jadi markas polisi lalu lintas itu didirikan pada jaman kolonial dan telah berusia 80 tahun. Namun tampilannya tidak setua usianya. Bangunan itu masih sangat kokoh, bersih, dan tidak kalah modern dengan gedung-gedung di sekitarnya. Satu hal yang membuatnya tampak beda hanyalah warnanya yang mencolok itu. Pohon-pohon peneduh yang tumbuh rimbun di sepanjang Jalan Maxwell tidak kuasa menutup kehadirannya.

Koleksinya bukan benda-benda kuno tetapi barang-barang siap pakai dalam bentuk yang kontemporer, keren dan penuh gaya, bahkan futuristik yang masih berupa konsep desain. Total koleksi museum seluas 1.200 meter per segi itu hanya 250 buah. Beberapa sudah berbentuk barang jadi-siap pakai seperti sejumlah pensil, pulpen, furnitur, rak buku, oven, kursi kerja, bak mandi, tempat kencing tanpa air untuk pramugara. Namun banyak juga yang hanya berupa foto dari sebuah konsep desain seperti disain robot dan mobil sport yang ditempelkan di dinding.

Ya, ini memang museum desain. Museum seperti ini hanya di dua tempat. Yang pertama di Jerman, sudah ada sejak tahun 1955, yang di Singapura ini baru diresmikan tahun 2005. Museum Red Dot merupakan tempat pameran ekslusif bagi para pemenang Red Dot Design Award di seluruh dunia. Bisa dibilang, di tempat ini gaya bertemu dengan substansi, dan merek serta produk menyatakan pikiran mereka.

Red Dot Awards diberikan secara tahunan dan kualifikasinya berdasarkan pada standar seleksi dan presentasi. Dewan juri yang terdiri dari para ahli di bidang desain, desain konsep, dan desain komunikasi akan memilih desain yang paling luar biasa untuk mendapatkan ‘Red Dot Design Award‘ tingkat internasional.

Bagi para disainer, menjadi bagian dari koleksi Red Dot merupakan suatu kejayaan tersendiri karena menunjukkan pencapaian penting yang luar biasa dalam desain dan bisnis. Red Dot merupakan label yang diakui internasional yang menunjukkan kehebatan dalam bidang disain.

Museum ini tidak hanya memajang koleksi. Tempat ini juga memberi ruang dan waktu bagi proses kreatif, maupun merayakan hasil dari proses tersebut. Tempat ini bisa disewa untuk berbagai acara yang berkaitan dengan peluncuran produk dari bidang teknologi dan industri keatif.

Maka, jangan heran misalnya kalau di tempat ini meraung-raung musik rock seperti pada malam ketika Nokia menyuguhkan kelompok musik rock Lifehouse tadi. Besoknya museum buka seperti biasa. Saat itu adalah akhir pekan pertama dalam bulan dan pengelola museum punya kebijakan, akhir pertama pertama dalam bulan merupakan kesempatan komunitas industri kreatif lokal untuk ‘tampil‘ dan pengunjung masuk gratis. Maka, ruangan museum yang pada malam sebelumnya menjadi panggung musik rok, siang itu menjadi bazar. Pedagang souvenir menggelar dagangan di antara koleksi museum. Sejumlah mahasiswa seni rupa pun menunjukkan kebisaan mereka dengan melukis wajah model yang duduk di tengah ruang pamer museum.

Bangunan museum itu juga tidak seluruhya dijadikan museum. Di situ juga ada bar dan kafe.
Beberapa saat di museum itu, saya teringat bangunan tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah bertahun-tahun lalu mencanangkan penataan kawasan Kota Tua. Namun sampai saat ini kawasan itu masih terbengkelai, kumuh dan semakin ditinggalkan para penghuninya. Bangunan tua yang bernilai sejarah di kawasan itu dibiarkan terlantar dan jadi tidak punya nilai tambah secara ekonomi. Ah, Jakarta memang bukan Singapura. (Rabu, 4 Februari 2009 | 07:54 WIB).

Alamat Museum Red Dot: Lantai Dasar Gedung Red Dot Traffic, Jalan Maxwell 28 (sekitar tiga menit jalan kaki dari stasiun MRT Tanjong Pagar).

Jam Operasi: Senin, Selasa, dan Jumat buka dari pukul 11.00 - 18.00; Sabtu dan Minggu pukul 11.00 - 20.00; Rabu - Kamis, dan selama ada acara khusus ditutup.
__________
Egidius Patnistik

Foto : http://beconfused.com

Museum Kebudayaan Samparaja di Bima-NTB

Oleh Rochtri Agung Bawono

Museum Kebudayaan Samparaja di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dibangun sejak tahun 1987 yang dirintis sekaligus didirikan oleh Hj. Siti Maryam R. Salahuddin (anak ke-7 Sultan Salahuddin, Raja Kesultanan Bima). Tujuan pendirian Museum Kebudayaan Samparaja ialah penyelamatan peninggalan Kesultanan Bima terutama naskah-naskah lama dari kepunahan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya daerah serta menjadikan museum sebagai sarana penelitian kebudayaan Bima. Status museum Kebudayaan Samparaja adalah museum pribadi yang terbuka untuk umum.

Koleksi yang dimiliki Museum Kebudayaan Samparaja antara lain naskah-naskah lama berhuruf Arab dan berbahasa Melayu yang ditulis sekitar abad XVII - XIX Masehi. Naskah-naskah tersebut memuat berbagai ilmu pengetahuan dan sejarah pemerintahan Bima, hukum adat dan hukum Islam yang diterapkan di Bima, Ilmu Pertanian, kelautan, perbintangan, hubungan interaksi dengan daerah lain maupun pedagang dari negeri asing. Tidak ketinggalan Kitab La Nonto Gama menjadi koleksi utama juga yaitu berupa kitab-kitab Al Quran yang ditulis dengan tangan yang merupakan peninggalan langsung Kesultanan Bima.

Selain kronik, manuskrip atau naskah-naskah lama, Museum Kebudayaan Bima juga mengoleksi benda etnografi budaya Bima, pakaian adat lama semasa Kesultanan Bima dari pakaian pangkat-pangkat adat, pakaian upacara adat, pakaian pengantin, pakaian adat anak-anak, ukiran kayu dan perak, serta keramik-keramik lama.

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka sebagian koleksi Museum Kebudayaan Samparaja terutama berupa naskah lama sudah dikonservasi dan didokumentasikan. Konservasi dilakukan dengan melaminasi naskah sebanyak hampir 2.500 lembar yang diperkirakan mampu bertahan antara 50 hingga 100 tahun yang akan datang. Pendokumentasian berupa digitalisasi dan mikro film juga telah dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Jakarta yang mencakup hampir 2.200 lembar naskah lama. Sehingga keseluruhan naskah lama (manuskrip) yang sudah dilaminasi, didigitalisasi, dan dimikrofilmkan hampir berjumlah 4.700 lembar baik naskah lepas maupun yang dijilid.

Guna mempublikasikan hasil penelitian dan memudahkan dalam pencarian naskah, maka Museum Kebudayaan Samparaja menerbitkan beberapa buku antara lain Katalogus Naskah Bima yang berjudul Katalogus Naskah Melayu-Bima Jilid I dan II yang disusun oleh Hj. Siti Maryam R Salahuddin dan Sri Wulan Rujiati Mulyadi; dan Transliterasi Bo Sangaji Kai (catatan-catatan Kerajaan Bima) ke dalam huruf latin yang sebelumnya menggunakan aksara Arab bahasa Melayu yang disusun oleh Henri Chambert Loir dan Hj. Siti Maryam R Salahuddin. Kedua publikasi tersebut menjadi rujukan peneliti di Indonesia dan dunia dalam mempelajari sebagian kebudayaan Kesultanan Bima melalui naskah atau manuskrip yang ditinggalkannya.

Keberadaan museum ini perlu didukung oleh semua pihak baik sekedar perhatian maupun pendanaan, terlebih status museum tersebut merupakan museum pribadi yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Museum Kebudayaan Samparaja juga mengundang para peneliti dan ilmuwan untuk melakukan studi naskah (manuskrip) yang menyimpan kajian Islam yang diterapkan dalam sistem kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat di Bima pada zaman Kesultanan Bima. Silahkan mengunjungi Museum Samparaja di Bima jika berkeinginan mempelajari lebih mendalam terkait pemerintahan Kerajaan Bima yang bernafaskan Islami.
__________
Rochtri Agung Bawono adalah Dosen Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.

Sumber :http://arkeologi.web.id

*Museum dan Pendidikan*


Oleh: Prioyulianto Hutomo

Museum
Akhir-akhir ini di tanah air kita, terutama setelah era sentralisasi berakhir dan digantikan dengan era desentralisasi, muncul gejala meningkatnya minat sebagian masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendirikan museum. "Semangat" ini, di satu sisi, sangat menggembirakan terutama menambah jumlah museum yang ada. Namun di sisi lain, semangat mendirikan museum, secara umum, tidak dilandasi oleh pengertian bahwa mendirikan sebuah museum berarti "mendirikan" pula sebuah institusi pendidikan. Museum dan pendidikan sama dengan dua sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan.

Museum dan pendidikan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan tercermin dalam berbagai definisi museum sebagai salah satu tujuan:

1. A building to house collections of objects for inspections, study, and enjoyment. (Douglas A. Allen);
2. ....any permanent institution which conserves and displays for purposes of study, education, and enjoyment collections of objects of cultural or scientific significance (International Council of Museums);
3. A permanent, educational, non profit institution with catalogued collections in art, science, or history, with exhibitions open to the public (G.E. Burcaw);
4. A permanent, public, educational institution which cares for collections system-atically (definisi G.E. Burcaw yang lebih singkat);
5. "Museums of whatever kind all have the same task--to study, preserve, and exhibit objects of cultural value for the good of the community as a whole (UNESCO).

Berbagai definisi di atas, sangat jelas menyiratkan bahwa terdapat nilai dasar yang menjadi fondasi museum yaitu, melalui pendidikan, masyarakat disadarkan akan tingginya nilai yang dikandung dalam koleksi museum dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas wawasan.

Namun, seperti telah dikemukakan terdahulu, kesadaran para pengelola museum berkaitan dengan kenyataan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari sebuah museum masih sangat kurang. Para pengelola masih banyak yang berorientasi untuk mencapai beberapa tujuan museum, seperti yang tercantum dalam definisi, secara bersamaan dengan menggunakan sebagian besar sumber daya yang dimiliki. Tujuan atau tugas pendidikan yang sangat penting, yang diemban oleh museum, belum menjadi prioritas. Orientasi ini perlu diubah. Pendidikan untuk segala usia perlu digalakkan dengan sasaran utamanya adalah siswa sekolah.

Saat ini peluang guna mendukung perubahan strategi itu telah tersedia. Pemerintah telah mencanangkan dua puluh persen dari jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk sektor pendidikan--termasuk pendidikan di luar sekolah. Pertanyaannya, siapkah museum memanfaatkan peluang ini guna meningkatkan fungsi pendidikannya melalui penciptaan kegiatan-kegiatan edukasi (educational programs)?

Pendidikan
Kegiatan-kegiatan edukasi di museum, secara umum, diperuntukkan bagi anak-anak termasuk siswa sekolah (children and museum education) dan masyarakat umum atau yang dikenal dengan istilah adult learning in museums (Alberta Museums Association, 1990). Dua sasaran umum ini, terutama kegiatan yang disebut pertama, masih dapat dibagi-bagi lagi, misalnya berdasarkan jenjang pendidikan siswa (SD, SMP, SMU).

Bentuk-bentuk aktivitasnya pun bermacam-macam. Siswa sekolah akan mendapatkan paket edukasi (teaching kit); koleksi keliling (traveling study collections); kelas budaya (cultural class); bercerita (story telling); slide berseri (slides series); taman bermain yang berhubungan dengan koleksi (collections playground); atau aktivitas khusus untuk para guru (educators program). Sedangkan untuk masyarakat umum dapat berupa aktivitas yang diperuntukkan bagi keluarga (family workshop atau family day); bagi perorangan maupun kelompok (community workshop atau open house). Atau bagi kedua segmen di atas, museum dapat membentuk suatu komunitas bagi penggemar museum, misalnya himpunan pencinta museum.

Setiap museum dapat membuat aktivitas-aktivitas yang mendidik seperti contoh di atas. Tetapi sebaiknya dimulai dahulu untuk satu sasaran, misalnya siswa sekolah dasar, sehingga lebih terfokus. Materi perlu dirancang sebaik mungkin dan diarahkan untuk mengembangkan tiga area pembelajaran secara bersamaan: kognitif, berkaitan dengan daya pikir; afektif, berhubungan dengan emosi; dan psikomotorik, berhubungan dengan gerakan fisik.

Desain materi harus berupa aktivitas yang menumbuhkan rasa ingin tahu; dengan kata lain, materi yang diberikan dapat mengarahkan siswa untuk bertanya, mencari jawaban atas pertanyaannya, dan menciptakan pertanyaan baru (Allison G. and Sue McCoy, 1985: 60-70) serta memperoleh pengetahuan baru. Aktivitas tersebut selayaknya dilakukan tanpa meninggalkan unsur bermain. Patut diingat bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain.

Menurut para pakar pendidikan, bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang demi kesenangan (Piaget, 1951) dan sasaran lain yang ingin dicapai; bermain merupakan "tali" yang merupakan untaian serat dan benang-benang yang terjalin menjadi satu. Menurut Hughes (1999) belajar dan bekerja merupakan hal yang berbeda dari bermain. Bermain, harus mempunyai tujuan, tidak ada unsur paksaan, menyenangkan, mengembangkan imajinasi, dan dilakukan dengan aktif.

Melalui permainan (play and games), diharapkan anak akan memperoleh beberapa manfaat, di antaranya bermasyarakat, mengenal diri sendiri, imajinasi dapat bertumbuh, menahan gejolak emosi, memperoleh kegembiraan, dan belajar taat pada aturan (Zulkifli, 2001; Andang Ismail, 2006). Dengan demikian bentuk-bentuk aktivitas bagi siswa haruslah berbentuk permainan edukatif. Permainan edukatif (Andang Ismail, 2006) adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat merupakan cara yang mendidik. Permainan edukatif dapat meningkatkan kemampuan berfikir, berbahasa, serta bergaul dengan orang lain. Selain itu, anak dapat menguatkan anggota badan, menjadi lebih terampil, dan menumbuhkan serta mengembangkan kepribadiannya.

Permainan edukatif dapat dirancang oleh para pengelola museum. Program edukatif dapat dipilih dari salah satu contoh yang telah disebutkan terdahulu (paket edukasi, bercerita, membuat slide berseri, dan sebagainya).

Dalam merancang program-program edukasi, pengelola museum perlu melibatkan para ahli pendidikan, guru-guru, ahli psikologi anak, bahkan orang tua siswa. Dengan keterlibatan mereka, diharapkan dapat diciptakan aktivitas edukasi di museum yang sesuai dengan jenjang pendidikan siswa dan sesuai dengan tingkatan perkembangannya.

Kesimpulan
Museum dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Definisi tentang museum selalu mencantumkan pendidikan (juga penelitian) sebagai salah satu tujuan atau misi yang diemban oleh sebuah museum.

Jumlah museum yang semakin bertambah (saat ini kira-kira berjumlah 228 museum) tidak dibarengi dengan kesadaran para pengelola museum bahwa pendidikan merupakan misi yang penting. Sehingga, masih banyak museum yang belum memiliki program-program pendidikan yang terarah. Contoh program edukasi di museum, terutama di museum-museum di luar negeri dapat dijadikan ide; atau bahkan ditiru dengan catatan disesuaikan dengan kondisi di tanah air. Selain itu, keterlibatan para pakar pendidikan dan guru merupakan keharusan.

Referensi
Alberta Museums Association. 1990. Standard Practices Handbook for Museums. Edmonton: Canada.

Burcaw, G. Ellis. 1983. Introduction to Museum Work. Nashville: AASLH.

Grinder, Alison and E. sue McCoy. 1985. The Good Guide. Scottsdale: Ironwood.

Hughes. 1999. Children, Play, and Development. New York: Wiley & Sons.

Ismail, Andang. 2006. Education Games. Yogyakarta: Pilar Media.

Mudyahardjo, Redja. 2006. Pengantar Pendidikan: Studi Awal tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Zulkifli. 2001. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
_________
Sumber: www.museum-indonesia.net

Foto : http://berwisata.com

Bagaimana Mendirikan Sebuah Museum


Oleh : Wawan Yogaswara

A. Apakah itu museum?

Museum menurut International Council of Museums (ICOM) adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merewat, menghubungkan, dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuantujuan studi, pendidikan dan rekreasi. Sedangkan Museum menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1) adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Museum dalam menjalankan aktivitasnya, mengutamakan dan mementingkan penampilan koleksi yang dimilikinya. Pengutamaan kepada koleksi itulah yang membedakan museum dengan lembaga-lembaga lainnya. Setiap koleksi merupakan bagian integral dari kebudayaan dan sumber ilmiah, hal itu juga mencakup informasi mengenai objek yang ditempatkan pada tempat yang tepat, tetapi tetap memberikan arti dan tanpa kehingan arti dari objek. Penyimpanan informasi dalam bentuk susunan yang teratur rapi dan pembaharuan dalam prosedur, serta cara dan penanganan koleksi.

Museum dapat didirikan oleh Instansi Pemerintah, Yayasan, atau Badan Usaha yang dibentuk berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, maka pendirian museum harus memiliki dasar hukum seperti Surat Keputusan bagi museum pemerintah dan akte notaris bagi museum yang diselenggarakan oleh swasta. Bila perseorangan berkeinginan untuk mendirikan museum, maka dia harus membentuk yayasan terlebih dahulu.

B. Apakah acuan hukum pendirian museum?
Pendirian sebuah museum memiliki acuan hukum, yaitu:
1 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
2 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undangundang
RI Nomor 5 Tahun 1992
3 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaandan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum
4 Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 tentang Museum

C. Apa sajakah jenis-jenis museum itu?
Menurut koleksi yang dimilikinya, jenis museum dapat dibagi menjadi dua jenis museum. Pertama, museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Kedua, museum khusus adalah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, cabang ilmu atau satu cabang teknologi.

Museum berdasarkan kedudukannya, terdiri dari museum nasional, museum propinsi, dan museum lokal.
Museum berdasarkan penyelenggaraannya, terdiri dari museum pemerintah dan museum swasta.

D. Apakah persyaratan berdirinya sebuah museum?
Adapun persyaratan berdirinya sebuah museum adalah:
1. Lokasi museum
Lokasi harus strategis dan sehat (tidak terpolusi, bukan daerah yang berlumpur/tanah rawa).

2. Bangunan museum
Bangunan museum dapat berupa bangunan baru atau memanfaatkan gedung lama.
Harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi, agar koleksi museum tetap lestari.
Bangunan museum minimal dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu bangunan pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, laboratorium konservasi, perpustakaan, bengkel preparasi, dan ruang penyimpanan koleksi) dan bangunan penunjang (pos keamanan, museum shop, tiket box, toilet, lobby, dan tempat parker).

3. Koleksi
Koleksi merupakan syarat mutlak dan merupakan rohnya sebuah museum, maka koleksi harus: (1) mempunyai nilai sejarah dan nilai-nilai ilmiah (termasuk nilai estetika); (2) harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis dan fungsinya; (3) harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut berbentuk bangunan yang berarti juga mengandung nilai sejarah;

(4) dapat diidentifikasikan mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis, genus (untuk biologis), atau periodenya (dalam geologi, khususnya untuk benda alam);

(5) harus dapat dijadikan dokumen, apabila benda itu berbentuk dokumen dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah; (6) harus merupakan benda yang asli, bukan tiruan; (7) harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (master piece); dan (8) harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.

4. Peralatan museum
Museum harus memiliki sarana dan prasarana museum berkaitan erat dengan kegiatan pelestarian, seperti vitrin, sarana perawatan koleksi (AC, dehumidifier, dll.), pengamanan (CCTV, alarm system, dll.), lampu, label, dan lain-lain.

5. Organisasi dan ketenagaan
Pendirian museum sebaiknya ditetapkan secara hukum. Museum harus memiliki organisasi dan ketenagaan di museum, yang sekurang-kurangnya terdiri dari kepala museum, bagian administrasi, pengelola koleksi (kurator), bagian konservasi (perawatan), bagian penyajian (preparasi), bagian pelayanan masyarakat dan bimbingan edukasi, serta pengelola perpustakaan.

6. Sumber dana tetap
Museum harus memiliki sumber dana tetap dalam penyelenggaraan dan pengelolaan museum.
E. Bagaimana cara merencanakan pendirian museum?
Pendirian museum harus memiliki tujuan yang jelas, dan juga harus memiliki perencanaan (master plan) yang matang. Perencanaan pendirian museum harus menjelaskan tentang:

1. Jenis museum
Jenis museum harus ditentukan terlebih dahulu, karena menyangkut tindakan selanjutnya, baik bangunan maupun koleksi yang akan diadakan serta kebijakan lainnya.

2. Koleksi
Perlu merencanakan koleksi-koleksi yang akan diadakan, dan harus juga melakukan pembatasan atau seleksi sesuai dengan tujuan dan kemampuan biaya yang tersedia. Perlu diketahui bahwa koleksi museum selain diadakan secara pembelian (imbalan jasa), dapat juga diadakan dari hibah atau pemberian, dan tukar-menukar.

3. Lokasi
Lokasi yang dipilih bukan untuk kepentingan pendirinya, tetapi untuk masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, ilmuwan, wisatawan, dan masyarakat umum lainnya.

4. Bangunan
Bangunan museum harus berdasarkan persyaratan tertentu, dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti bentuk bangunan, bagian-bagian atau ruangan-ruangan yang akan dibangun, luas bangunan, dan bahan-bahan yang digunakan.

5. Peralatan
Perlu direncanakan jenis-jenis peralatan yang akan diadakan, baik peralatan teknis (pameran, pemberian informasi, perawatan, dan kegiatan kuratorial), maupun peralatan kantor.

6. Ketenagaan
Faktor ketenagaan merupakan hal penting dari suatu organisasi. Rencana pengadaan tenaga harus ditangani secara baik, museum harus memimilih tenagatenaga yang memiliki keahlian dan menguasai masalah teknis permuseuman dan ilmu yang menunjang, dan tenaga manajerial.

F. Bagaimana pelaksanaan pendirian museum?
Setelah disusun perencenaan, maka perencanaan tersebut dilaksanakan. Dalam melaksanakan pendirian museum terlebih dahulu harus ada izin yang berwenang, sesuai peraturan Pemerintah tentang permuseuman. Selain itu juga ada izin penting:

1. Izin penggunaan tanah untuk bangunan museum, untuk memperoleh hak atas status tanah harus diajukan ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (sertifikat). Untuk memperoleh izin peruntukan lokasi bangunan museum harus diajukan ke Dinas Tata Kota (advice planning – rencana tata kota)

2. Izin mendirikan bangunan, diajukan kepada Dinas Pengawasan Pembangunan sampai memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Setelah memperoleh berbagai izin penting, pendirian sebuah museum memasuki tahap berikutnya, yaitu:

1. Mendirikan bangunan
Setelah memperoleh IMB dari Dinas Pengawasan Pembangunan, maka didirikanlah museum tersebut sesuai dengan rencana (master plan) yang telah ada, yaitu: lokasi, bentuk bangunan, bahan bangunan dan sebagainya. Apabila biaya terbatas pendirian ini dapat dilaksanakan secara bertahap dengan sistem skala prioritas.

2. Persiapan Ketenagaan
Sambil mendirikan bangunan museum, harus pula mempersiapkan tenaga-tenaga ahli atau tenaga pengelola yang sesuai dengan keperluan. Disamping mempersiapkan tenaga-tenaga yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan formal yang diperlukan, tenaga-tenaga perlu untuk diberikan pengetahuan mengenai ilmu permuseuman dan soal-soal teknis permuseuman, melalui pendidikan dan pelatihan atau magang di museum yang telah dikelola dengan baik. Sebaiknya tenaga yang dipilih adalah tenaga yang siap pakai untuk bekerja di museum.

3. Pengadaan koleksi
Dalam mengadakan koleksi museum sesuai dengan yang telah direncanakan dan sesuai dengan persyaratan, sebaiknya diadakan terlebih dahulu sesuai untuk mendukung sistematika pameran. Koleksi yang diadakan harus betul-betul koleksi yang diperlukan dan tidak asal diadakan saja.

G. Bagaimana cara melakukan permohonan pendirian museum?
Setiap instansi Pemerintah, yayasan, atau badan usaha yang akan mendirikan museum wajib mengajukan permohonan kepada Pemerintah Propinsi, dengan tembusan kepada Direktur Jenderal yang bertanggungjawab di bidang permuseuman. Permohonan tersebut harus dilengkapi dengan proposal yang memuat:

1. tujuan pendirian museum;
2. data koleksi sesuai dengan tujuan pendirian museum;
3. rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang;
4. gambar situasi bangunan museum, harus memuat ruang pameran, ruang penyimpanan koleksi, ruang perawatan, dan ruang administrasi, serta peralatan museum;
5. keterangan status tanah hak milik atau sekurang-kurangnya berstatus hak guna bangunan (HGB) dan izin mendirikan bangunan (IMB);
6. keterangan tenaga pengelola (pimpinan, tenaga administrasi, dan tenaga teknis; dan
7. keterangan sumber pendanaan tetap.

Selanjutnya permohonan tersebut akan diteliti oleh Tim Penilai yang dibentuk oleh Pemerintah Propinsi. Keanggotaan tim terdiri dari unsur-unsur Dinas Kabupaten/kota, Dinas propinsi, Museum Negeri propinsi setempat, Instansi Pusat yang bertanggungjawab di bidang permuseuman, dan dapat mengikutsertakan asosiasi, pakar dan/atau tokoh masyarakat.

Tim penilai bertugas meneliti kelengkapan dokumen permohonan, melakukan peninjauan lokasi, melakukan pengecekan terhadap koleksi, dan melaporkan hasil dan saran pertimbangan persetujuan atau penolakan kepada Pemerintah Propinsi.

Bila permohonan tersebut diterima oleh Pemerintah Propinsi secara lengkap dan benar, maka Pemerintah Propinsi memberikan persetujuan Operasional atau penolakan setelah memperhatikan saran dan pertimbangan dari Direktur Jenderal, selambatlambatnya tiga puluh hari setelah dokumen diterima. Bilamana permohonan ditolak, harus menyebutkan alasan penolakan tersebut.

Apabila dalam waktu tiga puluh hari sejak diterimanya permohonan secara lengkap dan benar Pemerintah Propinsi tidak memberikan keputusan, maka permohonan dianggap disetujui dan harus dikukuhkan dengan persetujuan operasional Pemerintah Propinsi.

Wawan Yogaswara
Kepala Seksi Dokumentasi dan Publikasi
Subdirektorat Registrasi dan Dokumentasi
Direktorat Museum

Referensi
Direktorat Permuseum, Buku Pinter Bidang Permuseuman. Jakarta. Proyek Pengembangan Permuseuman Jakarta, Ditjenbud. Depdikbud. 1985/1986

Direktorat Permuseuman, Pedoman Standardisasi Pengadaan Sarana Peralatan Pokok Museum Umum Tingkat Propinsi. Jakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman Jakarta, Ditjenbud, Depdikbud. 1986,

Direktorat Permuseuman, Kecil Tetapi Indah: Pedoman Pendirian Museum. Jakarta:

Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Ditjenbud, Depdikbud. 1999/2000 Sutaarga, Moh. Amir, Studi Museologia. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Direktorat Jendral Kebudayaan, Depdikbud. 1996/1997

Sutaarga, Moh. Amir, Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum.

Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud. 1997/1998

Suyati, Tatik, Metode Pengadaan dan Pengelolaan Koleksi. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Dit. Sejarah dan Museum, Ditjenbud, Depdiknas, 2000,

Sumber : http://www.budpar.go.id
Foto : http://www.museumsofmayo.com

Seribu Satu Soal Minahasa di Museum Sulut


Oleh Maya Saputri

Dari desain dan struktur bangunannya, museum ini memiliki model rancang-bangun rumah adat Minahasa. Museum ini dibangun untuk mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan, sejarah dan seni wilayah Provinsi Sulawesi Utara.

Maka tak heran, cakupan koleksi museum ini cukup lengkap yakni 10 jenis koleksi di antaranya geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

Museum Provinsi Sulawesi Utara yang berstatus negeri ini diresmikan pada 9 Januari 1991 dan hingga kini telah mengumpulkan 2.810 koleksi. Dari total koleksi itu, sekitar 500-an koleksi dipamerkan di Gedung Pameran Tetap dan dapat dinikmati setiap hari kerja. Koleksi tersebut diperoleh dari daerah-daerah kabupaten atau kotamadya yang ada di Sulawesi Utara, seperti Manado, Minahasa, Sangihe Talaud, Bolaang Mongondow, dan Gorontalo.

Lokasi museum ini berada di pusat Kota Manado tepatnya di Jalan WR Supratman Nomor 72, Kota Manado, Sulawesi Utara. Selain itu, letaknya cukup strategis, biasanya bila naik angkutan umum, Anda bisa turun di depan SMP Negeri 1 Manado yang berada persis di depannya.

Museum ini cukup mudah dijangkau dengan angkutan umum dalam kota seperti mikrolet atau taksi. Tarif angkutan dalam kota hanya Rp 2.000 untuk setiap trayek. Museum ini buka dari Senin-Kamis pukul 08.30-09.00 Wita, Jumat pukul 08.30-11.30 Wita, Sabtu pukul 09.00-14.00 Wita, tetapi hari Minggu dan libur nasional tutup.

Jika Anda hanya memiliki waktu yang pendek untuk menjelajahi Sulawesi Utara, museum ini menjadi tempat wajib untuk dikunjungi. Meski hanya menampilkan sekilas sejarah dan benda-benda kebudayaan masyarakat daerah Sulut, museum berlantai tiga ini memiliki ruang-ruang ekshibisi yang memamerkan koleksi yang bisa dikatakan cukup lengkap.

Halamannya cukup luas dengan pintu masuk berupa tangga menanjak ke atas menuju Gedung Pameran Tetap. Alur perjalanan menikmati koleksi pun sudah tersedia dengan papan penunjuk tanda panah mulai dari lantai satu hingga lantai tiga.

Pengunjung dapat menyaksikan replika maupun benda-benda otentik, seperti replika waruga atau peti kubur batu masyarakat Minahasa, replika watu pinawetengan, dan sebagainya. Museum ini juga menyediakan guide berbahasa Inggris yang akan mengantar pengunjung, baik mancanegara maupun lokal.

Di museum ini, pengunjung dapat melihat benda-benda seperti sakapeti atau topi perang peninggalan Portugis di Minahasa, kabela atau tempat sirih pinang dari daerah Bolaang Mongondow, klarinet (alat musik tradisional yang dimainkan berkelompok asal Minahasa), dan masih banyak lagi.

Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan display tata pelaminan beserta pakaian yang dikenakan dalam perkawinan adat orang Minahasa. Sementara itu, koleksi numismatika berupa uang kertas Rp 10 yang digunakan pada zaman Jepang juga dapat ditemukan di museum ini. Koleksi meriam peninggalan tentara Belanda dan Portugal serta keramik-keramik khas bangsa China di lantai tiga.

Yang menarik, benda-benda seperti sero gantung atau alat penangkap ikan tradisional daerah Minahasa yang digunakan di perairan dalam juga dapat dilihat di museum ini.

Bila Anda lelah setelah berkeliling bangunan ini, di halaman museum terdapat taman dengan tempat duduk dari batu dengan pohon-pohon yang cukup rindang. Tempat ini cukup nyaman untuk bersantai dan melihat secuil keindahan Kota Manado dari atas mengingat tempatnya cukup tinggi.

Sayangnya, kebersihan museum ini harus lebih diperhatikan lagi, karena bila tidak ada kunjungan besar, beberapa koleksinya justru penuh debu. Apalagi taman di depan museum terdapat kolam ikan, tetapi sayangnya tidak dimanfaatkan secara maksimal sehingga dibiarkan begitu saja tanpa diisi air atau ikan-ikan hias.

Seribu satu barang peninggalan suku-suku Minahasa dapat ditemukan di tempat ini. Tetapi bila tak dirawat dengan baik, animo pengunjung pun tak akan meningkat seperti yang dikeluhkan pegawai museum ini.

Sumber :http://travel.kompas.com
Foto : http://www.kompas.com

Sangiran, Situs Manusia Purba Di Indonesia


Oleh Jatmiko

Pendahuluan
Sangiran terletak di sebelah utara kota Solo dan berjarak sekitar 15 Km. Situs Sangiran yang mempunyai luas sekitar 59, 2 km² (menurut Surat Keputusan Mendikbud 070/1997) ini secara administratif termasuk ke dalam dua wilayah pemerintahan, yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong, dan Kecamatan Plupuh) serta Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah.

Secara geo-stratigrafis, Situs Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu merupakan suatu kubah (dome) yang tererosi di bagian puncaknya sehingga menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik). Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro, dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata).

Riwayat dan Latar Belakang
Sejarah atau riwayat penelitian di Situs Sangiran bermula dari laporan GHR. Von Koenigswald yang menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit Ngebung pada tahun 1934. Temuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan istilah “Sangiran Flakes-industry” tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah. Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks Fauna Trinil yang tidak autochton atau bukan dari hasil pengendapan primer.

Penelitian di situs ini menjadi semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo erectus yang kemudian disusul oleh temuan fosil-fosil lainnya.

Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil-alih oleh para peneliti dari Indonesia, antara lain T. Jacob dan S. Sartono, serta terus berkelanjutan sampai sekarang. Penelitian yang sangat spektakuler terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama penelitian dengan Museum National d‘Histoire Naturelle (MNHN), Perancis, melalui ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989 – 1993) di bukit Ngebung yang menghasilkan sejumlah temuan secara insitu dan pertanggalan absolut yang sangat menarik.

Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade lima tahun belakangan ini setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu.

Geo-Stratigrafi dan Pertanggalan Manusia Purba Homo Erectus Sangiran adalah sebuah situs paleontologis yang terlengkap di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia. Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996.

Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65%-nya berasal dari Situs Sangiran dan mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo erectus di dunia. Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; yaitu antara lain berupa tulang-tulang tengkorak, mandibula dan femur. Fosil-fosil tersebut ditemukan pada beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa; yaitu antara lain di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur).

Berdasarkan bentuk fisik dan lingkungan endapan asalnya, secara umum temuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia dikategorikan menjadi 3 kelompok utama, yaitu kelompok Pithecanthropus Arkaik yang berasal dari Formasi Pucangan (Plestosen Bawah) yang ditaksir mempunyai usia antara 1,7-0,7 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meganthropus Palaeojavanicus dan Pithecanthropus Mojokertensis.

Kelompok kedua adalah jenis Pithecanthropus Klasik yang berasal dari Formasi Kabuh (Plestosen Tengah) yang mempunyai usia sekitar 800.000-400.000 tahun. Jenis kelompok ini (Homo Erectus) yang paling banyak ditemukan di Sangiran. Kelompok yang ketiga adalah Pithecanthropus Progresif yang berasal dari Formasi Notopuro (Plestosen Atas) dan mempunyai umur antara 400.000-100.000 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah temuan Homo Soloensis dari Ngandong dan Trinil.

Kepustakaan
Bartstra, GJ dan Basoeki, 1989, “Recent work on the Plistocene and the Palaeolithic of Java”, dalam Carrent Anthropology, Vol 30. No. 2.

Bemmelan, RW van, 1949, The Geology of Indonesia an Adjacent Archipelagoes, Den Haag: Martinus Nijhoff.

Hekeren, HR. Van, 1972, The Stone Age of Indonesia. Verhand van het Koninklijk Inst Voor Taal -, Land- end Volken. The Hague.

Jatmiko, 2001, Penelitian Artefak Manusia Purba di Situs Dayu (Sangiran), Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jakarta : LPA Bidang Prasejarah Puslit Arkenas.

Koeningswald, GHR van, 1936, Early Palaeolithic Stone Implements from Java, Singapore: Brill Rafles Museum.

Semah, Francois (et.al), 1990, “Mereka Menemukan Pulau Jawa”, dalam Buku Perjalanan 100 Th Pithecanthropus, Jakarta: Puslit Arkenas.

Widianto, Hary,1996, “Laporan Penelitian Sangiran: Penelitian tentang Manusia Purba, Budaya dan Lingkungan”, dalam BPA, No 46, Jakarta: Puslit Arkenas.

_______, 1997, “Situs Sangiran: Interpretasi Baru Berdasarkan Hasil Penelitian Terakhir”, dalam PIA VII, Cipanas, Jakarta: Puslit Arkenas.

_______, 2000, “Penelitian Situs Sangiran: Mencari Jejak Budaya Homo Erectus Arhaik dari Kala Plessen Bawah Tahap II”, dalam LPA, Yogyakarta: Balar Yogyakarta.

Widianto & Simanjuntak, 1995, “Laporan Penelitian Manusia Purba, Budaya dan Lingkungan Sangiran”, dalam LPA, Jakarta: Puslit Arkeologi.

__________
Jatmiko adalah Peneliti/Arkeolog Prasejarah pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PUSLIT ARKENAS).

Sumber : http://indoarchaeology.com
Foto : http://www.sragentrading.com

Museum Perjuangan Rakyat Jambi


A. Sejarah Singkat Museum Perjuangan Rakyat Jambi
Museum Perjuangan Rakyat Jambi terletak di antara Jl. Sultan Agung dan Jl. Slamet Riyadi atau sebelah selatan Mesjid Agung Jambi. Pendirian museum atas prakarsa dari Dewan Harian Daerah Angkatan '45 (DHD-'45) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Jambi sebagai wujud dari pentingnya bangunan sebagai monumen dalam mengenang Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi semasa pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia.

Proses pembangunan museum ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia, Letjen. Achmad Thahir pada tanggal 6 Juni 1993.

Bentuk bangunan museum merupakan perpaduan antara gaya rumah tradisional Jambi dan arsitektur modern. Terdiri dari tiga lantai sebagai ruang pamer tetap dan dua teras pada kedua sayap bangunan yang sering dipergunakan sebagai ruang pamer temporer. Bangunannya sendiri seluas lebih kurang 1.365 m2 menempati lahan seluas 10.000 M.

Museum Perjuangan Rakyat Jambi secara simbolis dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto pada tanggal 10 Juli 1997 bersamaan dengan pembukaan MTQ Nasional ke-XVIII.

B. Sejarah Jambi dan Kepahlawanan Sultan Thaha Saifuddin
Sejarah Jambi digambarkan dengan empat buah relief pada dinding depan bangunan. Dimulai dari Masa Melayu Kuno Jambi (Hindu-Budha), Masa Kesultanan Jambi, Masa Proklamasi Kemerdekaan RI dan Masa pembangunan Indonesia (Orde Baru).

Sedangkan pahlawan Nasional Sultan Thaha Saifuddin diwujudkan dalam sebuah patung Sultan yang diapit dua harimau sumatera sebagai simbol semangat perjuangan bersama-sama rakyat bertempur melawan penjajah Belanda pada tahun 1855 hingga 1904. Peristiwa perjuangannya sendiri dapat dilihat pada lukisan di lantai dua.

C. Koleksi dan Diorama
Koleksi museum sebagian besar merupakan benda-benda yang terkait dengan tinggalan masa perjuangan rakyat Jambi. Benda-benda tersebut dipamerkan di dalam dan diluar gedung. Pada lantai pertama terbagi dalam dua ruang pamer.

Pada sisi kanan berupa koleksi persenjataan modern semasa perang melawan Penjajah Belanda di Jambi. Persenjataan tersebut dipergunakan pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, seperti senapan, pistol vickers, senjata mesin ringan, dan senjata lain. Termasuk jenis persenjataan modern yang unik adalah senjata rakitan tangan atau kecepek yang dipergunakan oleh Kompi II Batalyon Cindur Mato pada tahun 1948. Ada juga senjata seperti pistol dan senapan rampasan dari Pasukan Belanda.

Pada sisi kiri pengunjung, dapat dilihat peralatan senjata tradisional seperti keris, pedang, badik, tomhak, pakaian perang, ikat kepala, alat komunikasi dan perlengkapan perang bersifat religius yang dipergunakan melawan pasukan kolonial.Diantaranya yang dipakai oleh Khatib Mat Suruh dari Kerinci dan laskar Barisan Selempang Merah dari Tanjung Jabung.

Pada lantai dua disajikan diorama Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi dalam mempertahankan kemerdekaan, terbagi dalam 17 diorama. Setiap diorama melukiskan peristiwa bersejarah yang terjadi di Jambi, mulai dari kemerdekaan nasional hingga usaha Belanda untuk menolak kemerdekaan dan hendak mengambil alih kembali wilayah Indonesia. Peristiswa bersejarah yang ditampilkan dalam diorama antara lain, Pertempuran Tanah Minyak. Realisasi Perjanjian Linggarjati oleh Komisi Tiga Negara terhadap Jambi yang diprakarsai PBB, Peranan Pesawat Udara Catalina RI 005, dan diorama lainnya. Pada lantai tiga terdapat koleksi meja kerja yang dipergunakan oleh salah seorang pejuang kemerdekaan. Terdapat pula berbagai dokumen tertulis seperti naskah-naskah perjuangan, surat-surat penting STD/TNI dan BKRD, serta foto-foto mantan gubernur, walikota dan bupati di seluruh wilayah Provinsi Jambi

Salah satu koleksi bersejarah adalah replika Pesawat Terbang Catalina RI 005 yang dipajang di halaman museum. Awalnya Catalina disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi dari seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama Kobley, untuk kepentingan perjuangan mempertahankan dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugasnya adalah membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer atau petugas militer dan sipil yang menghubungkan antara Kota Jambi, Bukit Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Jogjakarta dan Singapura. Pesawat Catalina RI 005 dalam penerbangannya mengalami kecelakaan dan jatuh di Sungai Batanghari dekat Desa Sijinjang pada tanggal 29 Desember 1948

D. Peranan dan Harapan Museum
Museum Perjuangan Rakyat Jambi sebagai salah satu peranannya ditunjukan dalam kegiatan-kegiatan tetap dan temporer, ceramah, diskusi, seminar pertemuan-pertemuan yang terkait dengan even sejarah regional dan nasional.

E. Hari dan Waktu Kunjungan
- Senin s.d. Kamis : 08.00- 15.00 WIB
- Jumat : 08.00-11.00 WIB
- Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional Tutup

F. Informasi
Apabila sekolah atau rombongan akan berkunjung, dapat melalui surat pemberitahuan tiga hari sebelum melakukan kunjungan.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan museum terhadap masyarakat, disediakan layanan terdiri dari :

1. Ruang pameran tetap dan tidak tetap
2. Ruang seminar/ceramah/lokakarya/sarasehan.

Sumber : http://www.kotajambi.go.id

Perpustakaan Bung Karno


UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Kota Blitar dibangun oleh Pemerintah, dengan Pemerintah Kota Blitar bertindak sebagai pelaksana pembangunan di lapangan. Setelah selesai dibangun sampai tahap tertentu, sebagai objek, perpustakaan ini dipersembahkan kepada Bangsa Indonesia karena alasan sederhana, yaitu kenyataan bahwa Soekarno adalah milik seluruh Bangsa Indonesia.

Letaknya yang sangat strategis yaitu berada satu lingkup wilayah kawasan makam BUNG KARNO sebagai salah satu Putra Terbaik Bangsa yang berjasa mempersatukan nusantara dari penjajah, maka dengan didirikannya Perpustakaan BUNG KARNO Penyambung Lidah Rakyat Indonesia pada lokasi yang sama keberadaannya akan mampu memberikan fakta histories yang mampu memberikan dan mendukung bukti otentik yang secara terbuka dan obyektif dapat diteliti dan dipelajari kebenarannya demi kepentingan generasi sekarang dan mendatang agar dapat menghargai dan mampu melanjutkan apa yang telah dicapai oleh para pejuang dalam mewujudkan kemerdekaannya yang menjadi cita-cita bangsa.

Aspek Historis
Kota Blitar secara historis telah akrab dengan semangat kepahlawanan. Hal tersebut mengedepan melalui keberadaan Aryo Blitar, Sudanco Supriyadi dan BUNG KARNO sendiri. Kota Blitar adalah salah satu tempat penggodokan dan pemantapan gelora semangat juang BUNG KARNO dari sejak beliau masih menekuni jenjang pendidikan sampai dengan wafat disemayamkan.

Perpustakaan adalah salah satu bidang kegiatan yang sangat akrab dengan BUNG KARNO karena selama hidupnya beliau sangat terkenal sebagai insan pecinta buku dan sekaligus sebagai seorang penulis yang sangat produktif dengan ide dan pemikiran yang briliant.

Aspek Ideologis
Ide, gagasan, konsep, dan pemikiran-pemikiran BUNG KARNO adalah kekayaan intelektual yang menjadi aset bangsa. Ide, gagasan, konsep, dan pemikiran-pemikiran tersebut secara konseptual sangat layak disejajarkan dengan konsep pemikiran para ahli dan ideologi yang berkembang di dunia.

Runtutan peristiwa dalam proses pemunculan ide, gagasan, konsep dan pemikiran-pemikiran BUNG KARNO adalah rangkaian panjang "Pelajaran" yang dapat dijadikan kaca benggala bagi generasi penerus bangsa untuk menghadapi setiap momentum kehidupan masyarakat, bangsa dan negara pada saat ini dan masa yang akan datang.

Aspek Empiris
Pembangunan Perpustakaan Bung Karno akan melengkapi keberadaan Makam BUNG KARNO yang telah berkembang menjadi salah satu objek wisata yang religi dan sejarah di tingkat regional, nasional dan internasional.

Keberadaan perpustakaan BUNG KARNO dapat memenuhi kebutuhan intelektual segenap kalangan dan lapisan masyarakat yang pada gilirannya akan memberikan wacana comparative dan empiris bagi proses perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-citanya di masa mendatang.

Perpustakaan
Perpustakaan Bung Karno yang menambah megah kompleks makam diresmikan oleh Presiden Megawati pada tanggal 3 Juli 2004. Bangunannya cukup megah, terdiri atas empat gedung bertingkat yang berjajar dua secara berhadap-hadapan, dipisahkan oleh pelataran dan kolam yang tertata secara memanjang. Keberadaan perpustakaan dimaksudkan sebagai sarana melestarikan sosok serta pemikiran sang proklamator, terutama bagi generasi mendatang.


Setiap pengunjung bisa memasuki perpustakaan ini secara gratis, dan tentu saja akan merasa nyaman. Sebab, bangunan ini didesain secara indah dan full AC.

Kalaupun di ruangan itu kita tidak sempat membaca-baca buku, paling tidak bisa melihat gambar-gambar dan barang - barang bersejarah peninggalan Bung Karno semasa perjuangan. Tak cuma yang realistis, hal - hal yang berbau magis dan mistis terdapat pula di sini. Antara lain kopor bersejarah, dan lukisan gambar Bung Karno yang bisa bergetar sendiri. Lewat pengeras suara ruangan, terkadang operator juga memutar pidato Sang Proklamator yang terkenal sebagai orator.

Gedung Perpustakaan Proklamator ini terdiri atas beberapa bagian. Koleksi khusus berada di Gedung A lantai 1 timur, mengoleksi otobiografi Bung Karno, buku-buku karya Bung Karno, serta buku-buku tentang Bung Karno. Masih di gedung yang sama, terdapat juga kamus, ensiklopedi, indeks, peta, dan lain-lain. Gedung A lantai 1 barat digunakan untuk tempat koleksi foto, lukisan, dan peninggalan Bung Karno. Lantai 2 untuk mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan karya umum, filsafat, agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu murni, ilmu terapan/teknologi, kesenian/olahraga, kesusasteraan, sejarah, dan geografi. Di ruangan itu juga terdapat beberapa terbitan secara berkala, seperti surat kabar, majalah, dan buletin. Sedangkan koleksi buku-buku karangan orang luar negeri tentang Indonesia terbitan berbagai negara bisa dijumpai di Gedung B. Ruang audio visual di Gedung C, digunakan untuk menikmati koleksi audio dan visual dalam bentuk CD dengan kapasitas 100 orang. Ruang seminar di Gedung C, untuk seminar talk show, pelatihan singkat, presentasi, dan sebagainya berkapasitas 50 orang.

Satu tempat yang hingga kini belum terbangun, namun sudah masuk dalam rancangan adalah Amphi Theatre. Panggung terbuka di samping perustakaan ini diproyeksikan sebagai tempat penampilan karya budaya dan kesenian anak bangsa.

Perpustakaan tersebut secara kelembagaan di bawah Perpustakaan Nasional, sedangkan personel pengelolanya di bawah Dinas Inkomparda Kodya Blitar yang terdiri atas 31 tenaga perpus, 16 keamanan, dan 7 kebersihan.

Sumber :
http://perpusbungkarno.pnri.go.id
http://blitarian.com
Photo : http://3.bp.blogspot.com

Brussel, Kota Museum di Belgia


ebagai kota dengan warisan arsitektur kuno, Brussels juga memiliki museum yang sarat akan sejarah Ibu Kota Belgia tersebut. Apa saja keunikannya? Museum adalah tempat pertama yang wajib dikunjungi oleh setiap turis ketika menginjakkan kaki di sebuah negara. Di dalam museum, kita bisa melihat banyak hal, terutama latar belakang terbentuknya sebuah kota.

Sempatkan diri anda berkunjung ke museum yang terletak di alun-alun kota Brussels (Grand Place/Grote Markt). Tempat ini cukup strategis karena di sinilah jantung wisata di Brussels.

Untuk menuju alun-alun Kota Brussels, anda harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer dari parkir khusus bus. Di tempat ini berdiri dengan megah gedung-gedung berarsitektur kuno dari abad ke-17-18, seperti Brussels Tapestries, Maison du Roi, dan Hotel de Ville. Di sebelah kanan tampak Museum Kota Brussels yang dibangun pada abad ke-19.

Sebelum mengintip isi museum, rasanya tidak afdal kalau belum memaparkan sejarah di balik pembangunan Museum Kota Brussels ini. Museum Kota Brussels berada di dalam sebuah bangunan yang memiliki dua nama, yakni rumah raja (King's House) dan rumah roti (Broodhuis).

Dualisme nama bangunan ini konon mencerminkan realitas sosial dan ambisi politik yang tengah berkembang di Brussels pada masa lampau. Pada abad ke-16 bangunan ini sempat digunakan sebagai tempat pemerintahan Raja Charles V. Namun pada abad ke-19, akhirnya bangunan tersebut dirombak total dan dibangun ulang dengan gaya gotik.

Adalah Wali Kota Brussels Karel Buls yang menjadi otak di balik keberadaan Museum Kota Brussels. Tepatnya pada 1884, Buls memutuskan untuk membangun museum yang bisa memberikan informasi kepada warganya mengenai sejarah kota tempat mereka tinggal. Tiga tahun kemudian, museum ini akhirnya resmi dibuka untuk umum. Awalnya, koleksi museum hanya dipajang di lantai dua bangunan. Upaya untuk menggunakan seluruh bangunan sebagai museum sempat terganjal pada saat Perang Dunia II. Namun, keseluruhan bangunan tersebut akhirnya beralih fungsi menjadi museum pada 1960.

Faktanya hampir setiap ruangan di museum ini tidak terlalu besar. Meski demikian, seperti halnya gedung berarsitektur kuno lainnya, Museum Kota Brussels memiliki langit-langit yang tinggi sehingga ruangan tidak terasa sesak.

Masing-masing lantai museum menyimpan koleksi yang berbeda. Di lantai satu, turis bisa menemukan berbagai koleksi seni dan dekorasi khas Brussels, seperti wall tapestries, lukisan, kerajinan khas Brussels faience,dan goldsmith work. Sementara di lantai dua, kita bisa melihat berbagai dokumen dan miniatur Kota Brussels.

Menginjakkan kaki di lantai tiga, koleksi yang dipajang pun semakin beragam. Di lantai ini turis bisa menemukan berbagai koleksi yang menunjukkan perkembangan budaya, ekonomi, dan sosial Kota Brussels. Koleksi tersebut ditampilkan dalam bentuk dokumen, lukisan, dan manuskrip. Museum dibuka pada hari Selasa sampai Jumat, pukul 10.00 pagi hingga 17.00. Untuk dewasa dikenakan tiket sebesar 3 euro, sementara untuk anak-anak sebesar 1,50 euro. Mengunjungi Museum Kota Brussels rasanya seperti melakukan tapak tilas di Ibu Kota Uni Eropa tersebut.

Nah, khusus anda yang sedang berada di Indonesia, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi museum-museum yang tersebar di seluruh Tanah Air. Siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan sejarah Indonesia.

Sumber : http://www.indofamily.net

Museum Istana Sultan Ternate

Latar Belakang
Istana Sultan ini dibangun pada tahun 1813 oleh seorang Arsitektur berkebangsaan Cina yang terletak diatas sebuah bukit yang dinamakan bukit Limau dan bentuknya menyerupai seekor singa sedang duduk bertopang dengan kedua kaki depanya menghadap kelaut dan latar belakang gunung Gamalama, dari sinilah sejarah pemerintahan sultan yang pertama dimulai. Diantara koleksi peninggalan bangsa Eropa museum ini juga memiliki sebuah Mahkota yang unik dan sakral yang tidak dimaliki oleh Isatana lainnya di Indonesia bahkan didunia, karena memiliki rambut yang bisa tumbuh layaknya manusia, maka oleh sultan yang telah menjadi satu kewajiban untuk melakukan upacara ritual yang dinamakan upacara Istampa atau pemotongan rambut mahkota yang dilaksanakan setiap hari raya Idul Adha yaitu satu tahun sekali dan diperkirakna mahkota ini telah berumur 500 tahun dimana mulai berkuasanya sultan yang pertama.

Museum
Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate merupakan museum sejarah, karena koleksi yang dipamerkan adalah benda-benda yang berasal dari sisa perang pada masa kedatangan orang-orang Eropa di Maluku dan Maluku Utara pada abad ke-15 Masehi.

Bangunan Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate adalah salah satu Istana Kesultanan yang merupakan salah satu situs peninggalan sejarah yang sedang dan akan dilestarikan sebaga salah satu bukti sejarah masa lalu yang merupakan bidang lahan atau oyek yang harus dilindungi, dijaga, dari kerusakan, dilestarikan dan dimanfaatkan sesuai Undang-undang Benda Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 (Depbudpar, 2006).

Museum Wayang Sendang Mas Banyumas


Wayang merupakan kesenian utama masyarakat Jawa yang telah ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia oleh Unesco, PBB. Wayang berasal dari kata bahasa Jawa ‘wewayangan’ yang artinya bayang-bayang. Pertunjukkan merupakan sajian cerita tutur yang digambarkan melalui boneka, dan diproyeksikan ke dalam bentuk bayangan dengan bantuan tata cahaya.

Wayang digerakkan oleh seorang dalang, dengan iringan seperangkat gamelan sebagai latar musik dan dukungan tembang-tembang Jawa yang dinyanyikan seorang sinden.

Wayang di Tanah Jawa bukanlah sebentuk kesenian yang seragam. Setiap komunitas menciptakan wayang yang dikreasi sedemikian rupa sesuai dengan semangat lokal dan disesuaikan dengan kebutuhan pementasan. Wayang gagrag Banyumasan merupakan tipe wayang khas yang hanya mengambil sebagian elemen dari wayang yang berasal dari daerah lain di Jawa seperti wayang Yogyakarta, wayang Kedu dan wayang Surakarta. Sesuai karakter masyarakat yang mengagungkan kebebasan dan keterbukaan, wayang gagrag Banyumasan mengandung banyak unsur humor, dan upaya menertawakan jenis wayang baku yang penuh dengan aturan.

Museum
Museum menjadi ruang pamer yang menceritakan kembali lintasan sejarah dan beragam kreasi wayang. Mulai dibangun semenjak tahun 1982, sampai saat ini bangunan museum masih terus dikembangkan. Nama Sendang Mas merupakan bentuk singkat dari Seni Pedalangan Banyumas. Penegasan tersebut menegaskan betapa berbedanya wayang gagrag Banyumasan dengan jenis wayang lainnya.

Pembedaan itu terdapat pada aransemen musik gending yang tidak seutuhnya menggunakan standard pewayangan seperti gending sulukan dan gending pangkur. Gagrag Banyumasan juga menghadirkan tokoh baru yang berkarakter unik bernama Bawor.

Bawor dalam kisahnya merupakan anak tertua hasil doa pemujaan tokoh bijak titisan dewa, Ki Semar. Bawor lahir dari bayangan Ki Semar usai melakukan pemujaan, sehingga secara fisik memiliki kemiripan. Bentuk wajah dan tubuh yang asimetris, serba tidak beraturan, menjadi ciri utamanya. Bawor memiliki perut buncit, pantat super besar dan hidung pesek yang jelek.

Kisah-kisah pewayangan gagrag Banyumasan menghadirkan Bawor sebagai sosok bijak yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos, spontan, serba terbuka, humoris dan mengusung semangat kejujuran. Bawor dengan teguh akan memakai bahasa Banyumasan yang berbeda dengan tokoh-tokoh wayang lain yang memakai bahasa Jawa baku.

Lintasan Sejarah
Kesenian wayang telah melampaui masa ribuan tahun dan terus bertahan dengan menyesuaikan kemajuan jaman. Sejumlah ilustrasi dari berbagai bahan yang telah digunakan dalam pewayangan digambarkan di dalam museum.

Bahan

Nama Wayang

Tahun Masehi

Kisah

Kulit

Kulit Purwo

872

Mahabrata dan Ramayana

Kidang Kencana

1556

Mahabrata dan Ramayana

Gedog

1563

Serat Panji

Klitik Kulit

1648

Damarwulan

Kuluk

Duporo

1830

1830

Kerajaan Demak dan Mataram Kerajaan Demak dan Surakarta

Madya

1850

Kerajaan Kediri

Wahana

1920

Wayang Kontemporer

Kancil

1925

Dongeng Binatang

Adam Makrifat

1940

Olah Tasawuf

Jawa

1940

Sejarah Pangeran Diponegoro

Perjuangan

1943

Perjuangan Republik Indonesia

Suluk

1947

Perjuangan Republik Indonesia

Pancasila

1947

Ajaran Pancasila

Wahyu

1963

Ajaran Agama Katholik

Sejati

1972

Cerita Sejarah

Daun

Rontal Purwo

934

Mahabrata dan Ramayana

Daun Kluwih

1316

Dolanan Bocah

Kain

Beber Purwo

1361

Mahabrata dan Ramayana Gamelan Slendro

Beber Gedong

1564

Serat Panji Gamelan Pelog

Kayu

Klithik

1564

Cerita Damarwulan

Golek Purwo

1584

Mahabrata dan Ramayana

Thenguk

1900

Cerita Menak

Golek Jakin Nata

1965

Mahabrata

Orang

Wayang Wong

1760

Mababrata dan Ramayana

Pethilan

1760

Mahabrata, Ramayana, Panji

Batu

Relief Candi

Abad IX-XV

Mahabrata dan Ramayana

Suket

Permainan Anak

Kontemporer

Dongeng, Permainan Anak

Bambu

Permainan Anak

Kontemporer

Permainan Anak

Logam

Permainan Anak

Kontemporer

Permainan Anak

Karton

Permainan Anak

Kontemporer

Permainan Anak

Koleksi
Koleksi museum tidak hanya berupa jenis wayang yang merefleksikan lintasan sejarah, melainkan juga sejumlah alat bantu pertunjukkan wayang seperti blencong sebagai alat tata cahaya, gamelan sebagai alat musik wayang baku, calung sebagai alat musik gagrag Banyumasan hingga pakeliran atau layar.

Sejumlah koleksi Museum Wayang Sendang antara lain Wayang Gagrag Banyumasan Tempo Dulu dan Sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wrayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Krucil, Wayang Beber, Gamelan Slendro, Calung/Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket/Adam Marifat, Banyumas Tempo dulu, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat benda Tosan Aji, Buku perpustakaan dan arkeologi yang memamerkan sejumlah peninggalan peralatan dari bahan baku batu dan kayu.

Lokasi Museum
Jalan Gatot Subroto No.1, Banyumas

Transportasi
Jarah tempuh dari Terminal Bus : 18 Km
Jarah tempuh dari Stasiun KA : 20 Km

Jadwal Kunjung
Senin - Kamis : 07.15 - 14.15
Jum'at : 07.15 - 11.15
Sabtu : 07.15 - 12.45

Harga Karcis Masuk
a. Dewasa : Rp 500,-
b. Anak-anak : Rp 500,-
c. Rombongan : Rp 500,-

Fasilitas
Luas Tanah / Luas Bangunan : 0,20 Ha / 2.52 m2
- Ruang Pameran Tetap
- Toilet

Organisasi
Jumlah Pegawai 7 orang

Sumber :
http://visitbanyumas.com
http://www.museum-indonesia.net