Tampilkan postingan dengan label Bahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahari. Tampilkan semua postingan

Pesona Wisata Bahari Sigandu


Nuansa Pantai Sigandu – UjungNegoro, Kabupaten Batang begitu indah. Kala debur ombak membuih di bibir Pantai, semilir angin di keteduhan cemara-cemara laut. Terasa perpaduan nuansa eksotisme alami. Kini, geliat wisata bahari kian terasa.

Warga Kabupaten Batang patut berbangga. Sigandu benar-benar sudah layak jadi obyek wisata faforit di kawasan Pantura, bahkan Jawa Tengah. Lihat saja, pantainya yang landai lumayan bersih. Ombaknya tak begitu besar. Kawasan Sigandu juga mulai tertera dan terus berbenah.

Panorama Pantai Sigandu begitu indah mengesankan. Di pinggir pantai, wisata betah berlama-lama di Shelter. Bisa juga memancing atau main volley. Bagi anak-anak tersedia juga Play Ground. Pengunjung bisa menikmati kekhasan makanan pantai. Ada banyak pilihan café di kompleks Sigandu. Wisatapun tambah ramai. Dulu, kawasan Pantai Sigandu terlantar begitu saja. Sigandu tak lebih dari belukar dan rawa-rawa yang penuh ular dan kodok. Paling benter, jadi areal kencan muda mudi.

Tapi kini, tampil penuh pesona, Sigandu penuh kafe-kafe cantik, kolam pemancingan dan hutan cemara. Lihatlah, ada perahu wisata, play ground dan sejumlah kafe gaul bercorak tradisional yang bertebaran. Pantai ujungNegoropun ikut berbenah. Pantai Sigandu menjadi prioritas wisata di Batang. Bahkan, sudah masuk dalam Perda No 14 tahun 2004 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata. Kedepan, Pantai Sigandu yang luasnya 6, 57 hektare di Desa Klidang Lor Kec. Batang ini prospektif jadi mascot wisata bahari Jawa Tengah.

Satu hal, Pemkab harus fokus membangun Sigandu. Kaitannya penganggaran, Pemkab dan DPRD musti kompak. Penambahan sarana prasarana dan makin terjaminnya keamanan kawasan Sigandu ikut mendrongkrak jumlah pengunjung dari tahun ke tahun. Jika diruntut, baru medio 2002, Pemkab mulai serius mengelola kawasan Sigandu. Pembangunan sarana prasarana dilakukan. Sekarang, jalan lebar dan jembatan menuju pantai Sigandu sudah mulus. Fasilitas-fasilitas lain juga membangun. Tahun 2004, Sigandu terus dibenahi. Dibangun MCK, rehab mushola, pavingisasi lahan parker dan pembuatan gazebo. Pemkab juga membangun dermaga yang memanfaatkan untuk berlabuh perahu wisata dan menjadi tempat pelancong menyalurkan hobi memancing. Wisatawan, tak perlu membawa pancing dari rumah, di Sigandu sudah tersedia rental pancing yang sudah dikelola swasta. Sayang, sudah berbulan-bulan dermaga senilai ratusan juta itu seudah reyot. Dinas Pariwisata juga menyediakan beberapa unit perahu wisata yang bisa melayani rute sepanjang 5 kilometer dari Sigandu sampai UjungNegoro. Lima perahu stand by di Pantai Sigandu, dan 5 perahu lainnya di Panta UjungNegoro.

Lumba-lumba
Kehadiran Taman Safari Indonesia ikut menaikan gengsi OW Sigandu. Saat ini, Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor sedang merampungkan pembangunan kolam Lumba-lumba atau semacam sea wolrd dan tempat rekreasi modern. Taman Safari Indonesia awalnya menggunakan lahan seluas 5000 m2 untuk areal kolam penangkaran dan pelatihan lumba-lumba. Nantinya, akan ditambah.

Managing Director Taman Safari Indonesia Drs. Jansen Manangsang Mcs menyatakan, selain pertunjukan lumba-lumba dan penangkaran lumba-lumba, juga akan dilengkapi restoran dan Cafe. Sat ini, kolam lumba-lumba sudah diisi air laut. Semoga saja, lumba-lumba itu akan menambah daya tarik Sigandu. Masuknya Taman Safari Indonesia akan berdampak positif dibidang pariwisata, sosial dan ekonomi warga setempat.

Pantai Sigandu nantinya akan dilengkapi puluhan objek permainan, tempat penangkaran lumba-lumba, dan menyatukan objek wisata itu dengan Pantai Ujungnegoroyang terletak di sisi Timur. Bakal dibangun jalan sejauh 5 kilometer. Sehingga dua objek wisata bahari Sigandu UjungNegoro menjadi satu paket tujuan wisata. Saat ini Bappeda sedang mengkaji rencana ini. “ Jika jalan penghubung Patai Sigandu ke Ujungnegoro dibanngun, para wisatawan bisa benar-benar menikmati suasana Pantai. Sepanjang jalan juga dihiasi pepohonan, lampu-lampu dan tempat duduk santai. Objek wisata Sigandu-Ujungnegoro menjadi satu rangkaian. Sehingga potensial menjadi paket tujuan wisata di Jawa Tengah,” Jelas Bupati Batang.

Jika berkunjung ke Sigandu seminghu seusai lebaran, wisatawan juga bisa menikmati acara Lomban. Yakni acara tradisi lomba Perahu naga tradisional nelayan di Sungai Klidang Lor. Acara bernuansa ungkapan syukur pada Allah SWT ini merupakan ajang Silatuhrahmi lebaran sekaligus uji kemahiran berperahu bagi nelayan. Bupati Batang biasanya membuka langsung acara ini. Ribuan warga nelayan panturan ikut meramaikan. Kini moment tahunan ini sudah menasioanl, karena pesrtanya justru kebanyakan datang dari luar daerah.

Popularitas Pantai Ujungnegoro juga tak kalah dengan Sigandu. Sebab, Pantainya berbnentuk teluk yang datar dan luas. Adanya bukit kecil yang hijau persis di tepi pantai membuat panorama pantai UjungNegoro kian cantik. Yang luar biasa, konon di sela-sela tebing bukit kecil setinggi 20 meteran itu terdapat banyak goa-goa untuk meditasi ritual. Yang populer, Goa Aswotomo. Lorongnya konon menembus ratusan kilometer sampai ke Lereng Dieng, Kabupaten Wonosobo. Di bukit tebing yang menjorok ke Pantai, terdapat petilasan Syekh Maulana Maghribi yang sering diziarahi oleh waraga dari berbagai kota.

Nuansa Pantai UjungNegoro serupa benar dengan Tanah Lot, Bali. Saat debur ombak membuih di bibir pantai, sayub-sayub doa peziarah mengapung pelan di langit. Terasa perpaduan nuansa eksotismedan nafas budaya religius. Namun pantai Ujung Negoro juga cocok untk refresing keluarga maupun camping. Bagi para penghobi mancing bisa menyewa perahu menyisir pantai atau memanfaatkan areal pemancingan di Karang Dadap, Karang Maeso atau Kawasan terumbu Karang Pretik seluas 2 hektare. Di Kawasan Pantai UjungNegoro, banyak terdapat warung kecil yang menyediakan menu khas Sego Megono dengan lauk Gimbal Rebon khas UjungNegoro. Sebagai buah tangan, pelancongbisa membeli terasi asli UjungNegoro yang dikenal sedap itu.

Kolaborasi
Pengembangan wiasata bahari ini dikolaborasikan dengan pembangunan sektor perikanan dan kelautan. Bagi investor yang berminat masuk ke kawasan Sigandu UjungNegoro, diberi kemudahan. Sesuai SK Bupati No 050 / 312 / 2003 tentang pembebasan retribusi ijin usaha di Kawasan Sigandu UjungNegoro. “ Kita sadar potensi wisata bahari dan potensi perikanan dan kelautan kita sangat besar. Namun belum diberdayakan secara maksimal. Untuk itu, bagi investor yang ingin membuka usaha di Batang, khususnya industri pariwisata atapun industri kelautan akan kami beri kemudahan perjanjian,” papar Bupati.

Pemkab mesti menyelaraskan pembangunan sektor perikanan dan kelautan dengan pengembangan wisata Bahari. Sehingga Pemkab pro aktif melakukan terobosan. Di Pantai Klidang Lor yang bersebelahan dengan Pantai Sigandu dibangun pelabuhan niaga seluas 15 Hektare. Keberadaan pelabuhan niaga ini akan memudahkan investor jika membuka usaha di Kawasan ini. Akses jalur transportasi laut terbuka lebar. Dengan adanya jalan ini, transportasi lokasi pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) menjadi lancar. Untuk PPI sendiri akan menggunkan areal seluas 6, 8 Hektare persisi di Sebelah Timur Sungai Sambong. Sedang di Kawasan Sigandu akan dibangun kolam tambat labuh bagi kapal-kapal penangkap ikan. Harapanya, kelak jika pembangunan selesai, Batang bisa memiliki pelabuhan pendaratanikan terbesar di Jateng.

Tak hanya pembangunan fisik semata, Pemkab juga berusaha meningkatkan pemahaman petani ikan dengan kegiatan pengendalian sumber daya perikanan darat. Selain itu, SDM masyarakat nelayanpun terus diperbaiki. Misalnya lewat program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) untuk mengangkat kehidupan nelayan. Bupati menetapkan 10 desa di Kawasan pesisir dalam program ini. Selain berusaha meningkatkan kondisi sosial ekonomi nelayan, program ini juga mengajarkan kemandirian, pola hidup dan sikap mental yang positifbagi masyarakat pesisir.

Memajukan wisata bahari dan sektor perikanan kelautan, bisa dipadukan untuk mengantisipasi kerusakan ekosistem laut. Di Pantai UjungNegoro, Pemkab beberapa kali meneggelamkan Terumbu Karang Buatan (TKB). Misalnya, pada 2003 dan 2004 sebanyak 100 unit TKB ditenggelamkan. Terumbu karang ini berguna untuk melindungi habitat hewan, laut, tumbuhan dan kelestarian pantai. Pemkab juga melaksanakn program hutan bakau rakyat di Kawasan Pantai Desa Denasri Kulon, Batang. Manfaatnya untu mencegah degredasi pantasi, mengantisipasi intrusi air laut dan perbaikan habitat pantai.

Sumber : http://www.batangkab.go.id
Foto : http://www.cji.or.id

Menjual Wisata Bahari Pulau Batam

Oleh Nurhadi

Belakangan ini wisata bahari atau wisata yang berbasis kelautan banyak ditonjolkan oleh pemerintah daerah di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi karena banyak sekali daerah yang memiliki pesisir dan kandungan kekayaan alam laut yang melimpah. Apalagi dalam Program Visit Indonesia Year 2009 (VIY 2009), pemerintah telah menyiapkan setidaknya 90 obyek wisata bahari dengan menawarkan 20 jenis atraksi berbasis kelautan. Jenis-jenis atraksi tersebut antara lain berupa diving, surfing, selancar angin, dan memancing.

Secara keseluruhan, wisata bahari di Indonesia didukung oleh 75 ribu kilometer persegi laut dengan 81 ribu kilometer garis pantai. Di dalamnya terdapat setidaknya 950 spesies terumbu karang, 8500 spesies ikan tropis, 555 spesies rumput laut dan juga 18 spesies padang lamun. Wilayah sebarannya hampir merata, mulai dari Pulau Bali, Selayar, Waktobi, Banda, Lombok, Labuhan, Mentawai, Pelabuhan Ratu, Kepulauan Seribu, Batam-Bintan-Karimun, Ujung Kulon, Karimun Jawa, Jawa bagian utara dan masih banyak lainnya. Apabila semua potensi ini digarap dengan maksimal, tentu akan memberikan sumbangan devisa yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana halnya dengan wisata bahari di Pulau Batam dan sekitarnya? Inilah yang akan kita ulas dalam artikel singkat berikut.

Kaya dan Unik
Di samping sebagai pusat industri, bisnis dan perdagangan, Batam bisa metamorfosis dirinya sebagai salah satu ikon wisata bahari nasional. Di Pulau Batam dan sekitarnya, tersimpan beraneka ragam kekayaan alam laut hayati yang mendukung terwujudnya pesona wisata bahari bernilai tinggi, baik dari sisi kualitas alam maupun sisi finansial bagi masyarakat dan investor. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki ciri khusus dan tidak dimiliki oleh daerah yang lain.

Sesuai dengan kategori jenisnya, pulau-pulau dan pesisir yang layak jual sebagai komoditas wisata bahari Batam antara lain, Kepulauan Abang. Daya tarik wisata Bahari yang dimiliki oleh pulau ini adalah taman laut yang memiliki terumbu karang hidup yang cukup baik dan banyak dijumpai ikan teri hijau dan berbagai ikan hias lainnya. Di taman laut, pengunjung dapat melakukan kegiatan menyelam dan juga snorkling.

Pulau ini, secara khusus telah ditetapkan sebagai tempat Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang atau Coral Reef Rehabilitations and Management Program (COREMAP) yang dibiayai langsung oleh Asian Development Bank (ADB) sejak tahun 2004 sampai dengan 2011 kedepan. Pemko Batam juga menjadikan daerah ini sebagai pusat penelitian bawah laut.

Berdasarkan catatan dari Kepritoday.com (28/3/2008), bantuan dari ADB tersebut, sebagian diantaranya digunakan juga untuk menunjang dan memperkuat ekonomi bahari masyarakat setempat, seperti bantuan modal usaha kerajinan tangan, usaha kerupuk, rumput laut, bantuan kerambah tancap dan juga keramba terapung. Diharapkan, masyarakat dapat ikut terberdayakan dalam konsep pengembangan wisata dan penelitian bahari secara menyeluruh.

Di samping Kepulauan Abang, tempat lainnya adalah Pantai Kampung Nongsa. Lokasi yang terletak di Nongsa ini memiliki kelebihan seperti daya tarik kampung tradisional melayu di pesisir pantai dengan keindahan panorama Kota Singapura. Apalagi lokasinya yang cukup strategis dan dekat dengan pusat kota, hanya sekitar 20 menit dari Bandara Hang Nadim jika ditempuh dengan taksi.

Kita juga wisata bahari lainnya di Pantai Marina, Pantai Melur, Pantai Panau, Water World di Duta Mas, dan juga Pulau Dampu. Khusus di wilayah terakhir yang saya sebutkan ini, terdapat beberapa jenis terumbu seperti jenis Porites padat, Porotes Chyindrica, Acropora Mobillis dan Merulona Amplianta. Dan jangan lupa, Batam juga memiliki ikon yang tiada duanya, yakni Jembatan Barelang. Perjalanan wisata yang melewati jembatan penghubung Batam- Rempang-Galang, setiap pengunjung dapat menikmati taburan beragam pulau kecil, pepohonan magrove, wisata memancing dan (mungkin) berbagai pondokan kecil untuk beristirahat. Kita juga dapat menikmati sederetan rumah-rumah panggung tradisional melayu di Pulau Akar, yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari sisi jembatan Barelang. Jika digali lebih dalam lagi, masih banyak potensi wisata bahari Batam lainnya, seperti selam, sky air, jet sky, akuarium bioata laut, dan sejenisnya.

Mengelola dan Menjual
Disayangkan, potensi wisata bahari di Pulau Batam dan sekitarnya belum digarap dengan maksimal. Padahal, jika dikelola dengan baik dan terecana, dapat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan pemerintah daerah.

Saya ambil satu contoh, di Kabupaten Lamongan, tempat daerah asal saya, Pemda setempat berhasil mengembangkan wisata bahari terpadu yang dikenal dengan WBL atau Wisata Bahari Lamongan. Wisata ini menggabungkan wisata pantai, wisata belanja hasil laut, wisata rekreasi air dan wisata gua maharani. Bupati Lamongan, Masfuk, secara terang-terangan mengatakan kepada Kompas Jawa Timur (19/12/2008) bahwa wahana ini telah menyumbang pendapatan asli daerah sebesar 9 miliar di tahun 2007 dengan jumlah kunjungan hampir 1.8 juta orang. Berkat WBL, Lamongan kini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata terkemuka di Jawa Timur dan sekitarnya.

Resep keberhasilan WBL tersebut tak lepas dari kemampuan manajemen Pemda Lamongan. Mereka menggandeng masyarakat lokal (setempat) sebagai subjek sekaligus objek. Ini artinya, pemerintah mesti terbuka kepada masyarakat lokal, tujuan dan fungsi pengembangan proyek wisata bahari. Penduduk setempat harus digandeng bersama dan jangan sampai diposisikan hanya sebagai penonton belaka.

Kerjasama sinergis Pemda-penduduk setempat dapat diwujudkan dengan penyediaan tempat menjual produk-produk lokal hasil kelautan, misalnya kerupuk ikan, kerupuk udang, kerajinan hewan laut dan sebainya. Bisa juga menggandeng penduduk untuk menyediakan perahu wisata, pemenuhan tenaga guide dan lain-lainya. Intinya, masyarakat harus dilibatkan dan diberdayakan secara sosial dan ekonomi.

Tidak kalah pentingnya adalah penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, seperti sarana transportasi yang cukup, akomodasi, peralatan penunjang, informasi dan komunikasi. Termasuk didalamnya adalah tenaga-tenaga di bidang kebaharian yang profesional dan handal. Idealnya, setiap daerah wisata memiliki satu orang kepala Tourism Officer yang bertugas untuk mengelola dan memberikan informasi kepada calon wisatawan. Dalam strategi jangka panjang, Pemda harus membuat master plan Rencana Wisata Bahari Terpadu (RWBT).

Master plan berisi tujuan dan program-program pengembangan wisata bahari dalam lima hingga dua puluh lima tahun ke depan sehingga siapapun pemimpinannya, Pemda tetap dapat melanjutkan di periode selanjutnya. Saya yakin, dengan pola seperti ini, wisata bahari dapat menjadi salah satu primadona wisata yang menjual dan menarik minat investor, khususnya di bidang kepariwisataan di Pulau Batam dan sekitarnya.
__________
Nurhadi adalah Alumni ITS Surabaya, Bekerja sebagai Praktisi Supply Chain Management di Batam, Pernah Menjadi "Volunteer" di Surabaya Tourism Board

Sumber :http://batampos.co.id

Laut Ranai Di Kabupaten Natuna

Kabupaten Natuna merupakan salah satu kabupaten termuda di Indonesia yang lahir di era reformasi dan otonomi daerah. kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau yang secara resmi terbentuk dengan dasar Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999. Secara Geografis Kabupaten Natuna terletak di belahan Utara Indonesia tepatnya antara 2º Lintang Utara - 5º Lintang Utara dan 104º Bujur Timur - 110º Bujur Timur. Luas Wilayah Kabupaten Natuna ( sebelum Kab. Anambas Terbentuk ) adalah 14.190.120 ha atau 141.901,2 Km2, terdiri dari daratan seluas 323.520 ha (3.235,2 km2) dan perairan seluas 13.866.600 ha (138.66 km2). Wilayah daratan terdiri dari 272 pulau besar dan kecil yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan.

Kabupaten Natuna Merupakan salah satu daerah terluar yang berada di perbatasan RI dengan negara lain. Di sebelah utara, Kabupaten ini berbatasan dengan negara Vietnam dan Kamboja, sebelah timur dengan Malaysiabagian Timur (Serawak) dan Kalimantan Barat, sebelah barat dengan semenanjung Malaysia dan Kabupaten Bintan. Dari 272 pulau tersebut, hanya 76 pulau atau 28% yang telah di huni, sedangkan 195 atau lebih kurang 72% pulau lainnya masih belum berpenghuni.

Di antara Pulau Bunguran, Pulau Jemaja ( sekarang masuk kabupaten Anambas) dan Pulau Serasan. Bersama pulau-pulau lainnya, ketiga pulau tersebut membentuk tiga gugusan pulau yaitu :
  • Gugusan pulau Anambas, terdiri dari Pulau Siantan, Jemaja dan Palmatak ( sekarang telah menjadi kabupaten Anambas dan pisah dari kab. Natuna ).
  • Gugusan Pulau Natuna, terdiri dari Pulau Laut, Sedanau, Bunguran dan Midai.
  • Gugusan Pulau Serasan terdiri dari pulau Serasan, Subi Besar, dan Subi Kecil.
Penduduk Kabupaten Natuna berdasarkan data Biro Pusat Statistik Pada tahun 2005 berjumlah 93.644 jiwa dengan komposisi yang berimbang antara laki-laki dan perempuan. Lebih dari separuhnya terkonsentrasi di gugusan Kepulauan Natuna.

Kabupaten Natuna saat ini memang menjadi salah satu daerah andalan penghasil minyak dan gas Indonesia. Berdasarkan laporan studi Kementerian dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2002, cadangan minyak yang dimiliki Natuna mencapai 308,30 Juta Barel. Sementara Cadangan Gas Buminya terbesar se-Indonesia, yaitu sebesar 54,78 triliyun kaki kubik.

Tidak mengherankan jika Dana Bagi Hasil Migas menjadi sumber utama pendapatan Daerah Kabupaten Natuna.

Sumber : http://tungkoslumos.blogspot.com

Wisata Bahari Laut Banda


Lokasi taman laut Banda terletak di antara Pulau Neira, Pulau Gunung Api, Pulau Ai, Pulau Sjahrir dan Pulau Hatta. Tepatnya terletak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku Tengah. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan menumpang kapal feri dari kota Ambon selama satu malam.

Kegiatan Pelancong Laut Banda
Kegiatan pelancong wisata bahari di perairan Banda beraneka ragam, seperti melihat taman laut dari atas perahu, menyelam, memancing ikan tuna dan cakalang, melihat ikan paus, lumba-lumba, burung laut dan menyaksikan Arombai Manggurebe (Lomba Belang atau balap perahu). Wisata bahari ini dapat dilakukan pada musim teduh (musim laut tidak berombak), yang terjadi pada bulan Maret, April, Mei, September, Oktober dan Nopember. Berwisata di sini benar-benar mengasikkan karena wisatawan dapat mencoba sendiri menggunakan alat pancing untuk menangkap ikan tuna dan cakalang.

Taman laut Banda memiliki 350 spesies biota laut, termasuk berbagai jenis kerang purba yang saat ini hampir punah. Keindahan taman laut yang di dalamnya terdapat berbagai macam ikan, akan semakin memanjakan para penyelam.

Jasa pelayanan guide dapat membantu wisatawan untuk menggunakan alat-alat pancing, sekaligus menjelaskan proses penangkapan ikan cakalang yang dilakukan oleh nelayan.

Di Pulau Banda terdapat banyak toko yang menjual berbagai souvenir, seperti miniatur kapal dalam botol, anyaman bambu alat memetik pala dan benda-benda replika peninggalan Belanda dan Portugis. Terdapat pula beberapa guest house yang disewakan untuk menginap.

Sensasi Bawah Laut Banda
Kepulauan Banda bukan saja dikenal memiliki kota tua abad XVIII dan XIX yang masih terawat baik serta banyak peninggalan sejarah seperti benteng kolonial dan rumah pejuang Indonesia yang pernah dibuang ke daerah itu seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahril, tetapi Banda juga dikenal sebagai tempat yang memiliki banyak obyek wisata bawah laut yang menakjubkan. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga dunia internasional.

Kepulauan yang berada di tengah-tengah luasnya laut terdalam di Indonesia itu tak lagi asing bagi penggemar wisata bahari, terutama mereka yang hobi diving dan snorkeling. Daya tarik utama kepulauan ini adalah keindahan taman laut beserta keanekaragaman fauna dan flora yang hidup didalamnya.

Kepulauan Banda berada di tepian palung paling dalam di Indonesia yakni laut Banda. Di sekitar pulau Manuk misalnya, kedalaman airnya mencapai 6.500 meter. Panorama taman laut di kawasan ini tak usah diragukan lagi keindahannya. Hampir setiap pulau di gugusan kepulauan Banda dikelilingi taman laut yang kaya dengan koral warna-warni dan beragam jenis ikan seperti di sekitar pulau Naira, pulau Gunung Api, pulau Lonthor, pulau Ai, pulau Sjahrir dan pulau Hatta.

Taman laut Banda yang pernah digelar ivent diving internasional pada tahun 1991 dan 1995, masih terdapat ikan Napoleon yang kini termasuk jenis ikan paling langka di dunia. Mandarin Fish yang juga paling dicari penyelam internasional karena keindahan sisiknya, dapat dijumpai dengan mudah di laut Banda. Menurut Des Alwi, adanya ikan Napoleon menandakan kualtas air di laut Banda masih baik sekali.

“Ikan Napoleon nyaris habis di mana-mana karena diburu atau karena laut yang kotor. Di Banda, masih mudah kita jumpai ikan Napoleon, ada juga ikan Mandarin dan jenis ikan lainnya. Ini membuktikan kalau laut kami serta karang-karangnya masih bagus,” ujarnya bangga.

Menurut Des Alwi, kedalaman laut Banda membuat microbiologi yang hidup di laut ini sangat berbeda dengan kehidupan microbiologi di laut lainnya di Indonesia. Microbiologi di laut Banda menjadi nutrisi utama pembentuk karang dan biota laut lainnya. Karena itu pula, kehidupan dan pertumbuhan koral di salah satu lokasi diving yang pernah dihancurkan oleh lahar Gunung Api Banda yang meletus tahun 1989 misalnya, kini tumbuh dengan sangat cepat sekali, mematahkan rasionalisasi para ahli.

“Kalau teorinya, setelah hancur oleh lahar gunung api maka karang akan tumbuh lagi sekitar 75 tahun setelahnya, tetapi di Banda berbeda. Baru sekitar sepuluh tahun sudah tumbuh karang-karang berbagai jenis dan tumbuhnya begitu rapat,” katanya.

Pada tahun 2001 dan 2002, the Conservancy melakukan Kajian Ekologis di Kepulauan Banda, tujuannya untuk mengumpulkan informasi mengenai sumberdaya lautnya. Penelitian awal saat itu menunjukkan bahwa terumbu karang di Banda memiliki keragaman hayati yang luar biasa, dengan adanya 310 jenis karang pembentuk terumbu, sekitar 871 spesies ikan, serta populasi hiu dan kerapu yang sangat tinggi. Kepulauan Banda kemudian diajukan sebagai Kawasan Warisan Dunia.

Karena keindahan karang dan biota lautnya, laut Banda pada tiga tahun lalu dipilih menjadi Kawasan Warisan Dunia untuk surga bawah laut di Indonesia, mengalahkan taman laut di kepulauan Raja Ampat (Papua Barat), Bunaken (Sulawesi Utara), Wakatobe (Sulawesi Tenggara) dan Berau (Kalimantan Timur).

Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI M. Noer Muis yang kini memimpin Tim Diving Maluku melakukan observasi ke sejumlah lokasi diving di Maluku mengakui keindahan taman laut Banda. “Saya sudah menyelam di mana-mana seperti di Bunaken, kepulauan Seribu (Jakarta) atau di Bali, tapi taman laut di Banda jauh lebih indah,” kata Muis.

Meskipun baru melakukan diving di tiga dive side, namun sensasi keindahan bawah laut Banda membuat Muis terkagum-kagum. Ia bahkan menganalogikan taman laut di pesisir pulau Gunung Api yang merupakan bekas tumpahan lahar panas vulkano sebagai taman golf yang indah di bawah laut.

“Terumbu karang di daerah lahar tumbuh dengan waktu relatif singkat yakni hanya sepuluh tahun sudah tumbuh bagus dan bentangannya cukup luas, bahkan terlihat tidak ada dasar yang tidak ditumbuhi oleh karang meja, ini luar biasa. Di spot lainnya juga, baik terumbu karang maupun jenis ikannya indah sekali,” ujarnya.

Menurut Muis, keindahan panorama bawah laut Maluku tidak boleh dibiarkan tidur terlalu lama, tapi harus dikenalkan secara luas. Ia bahkan bertekad untuk mempromosikan Maluku, khususnya keindahan taman laut ke mancanegara.

“Saat ini saya bersama Tim Divers Maluku akan mencoba mengangkat potensi bahari Maluku dengan mendokumentasinya untuk dikenalkan ke mancannegara, khususnya menjadikan WOC (World Ocean Confrencce) di Manado untuk forum promosinya,” kata Muis.

Selain taman laut Banda, taman laut di kepulauan Lucipara juga menjadi andalan Maluku. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku, Florence Sahusilawane mengatakan, Provinsi Maluku akan mempromosikan keindahan panorama alam bawah laut Banda dan kepulauan Lucipara dalam WOC di Manado pada tanggal 11-15 Mei 2009. Kegiatan WOC yang diikuti sekitar 120 negara itu, dinilainya sangat strategis untuk menjual potensi wisata bahari laut Maluku yang eksotis dan masih natural.

“Kondisi taman laut kami masih asri karena belum tersentuh kegiatan pembangunan sehingga sangat cocok untuk wisata selam, mancing, mandi sinar matahari atau wisata berpetualang,” ujarnya.

Gugusan kepulauan Lucipara yang masih berada di perairan laut Banda memiliki tujuh pulau tak berpenghuni. Selain dilingkari pasir putih untuk habitat penyu bertelur, terdapat panorama bawah laut yang menakjubkan karena keindahan bunga karang yang penuh warna. Jarak Lucipara dari Ambon sekitar 120 kilometer, dapat ditempuh dengan kapal laut berkecepatan 18 knot dalam waktu lima jam.

Sumber :
http://traveloi.com
http://wisatalamindonesia.blogspot.com
http://vgsiahaya.wordpress.com
Photo :
http://2.bp.blogspot.com

Taman Laut Selat Pantar


Wisata Taman Laut Selat Pantar terletak di Kabupaten Alor dan memiliki panorama bawah laut yang menakjubkan hingga menjadi daya tarik potensial untuk para diver dari seluruh dunia. Keindahan taman laut ini meliputi perairan Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, dan Pulau Pura.

Terdapat 26 dive site di Taman Laut Selat Pantar. Dive site yang paling menarik pengujung adalah Shark Close karena merupakan tempat berkumpulnya ikan hiu yang konon sangat bersahabat dengan para penyelam. Selain ikan hiu, pengunjung juga bisa menjumpai lumba-lumba abu-abu yang merupakan salah satu spesies langka.

Selat Pantar merupakan laut yang memisahkan antara Pulau Alor dan Pulau Pantar. Tercatat, rata-rata terdapat 100 kunjungan wisatawan asing per-tahun yang datang menyelam Taman Laut Selat Pantar. Semenjak krisis ekonomi melanda, tahun 2001 tercatat 187 penyelam, namun tahun berikutnya hanya 109 penyelam. Angka ini boleh dibilang cukup kecil mengingat potensi taman laut Selat Pantar yang sangat besar. Wisata bahari Taman Laut Selat Pantar mempunyai panorama bawah laut yang menakjubkan sehingga menjadi primadona dan pemikat bagi para diver dari seluruh dunia.

Keindahan taman laut Selat Pantar melingkupi perairan Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, dan Pulau Pura.

Tercatat, ada 26 titik selam (diving spot) yang memesona wisatawan. Ke-26 titik diving itu seperti, Half Moon Bay; Peter‘s Prize; Crocodile Rook; Cave Point; The Edge; Coral Clitts; Baeylon; The Arch; Fallt Line; The Pacth; Nite Delht; Kal‘s Dream; The Ball; Trip Top; The Mlai Hall; No Man‘s Land; The Chatedral; School‘s Ut; hingga titik selam Shark Close. T

Wisatawan bisa datang dari Kupang, dengan naik kapal feri dengan waktu tempuh 12-13 jam, menuju Larantuka. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik kapal kayu menuju pelabuhan laut Kalabahi dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Di depan pelabuhan Kalabahi, yang berada di Kepulauan Alor, terbentang Taman Selat Pantar.

Keunikan Selat Pantar
Keindahan dan keunikan alam bawah laut Selat Pantar sangat menakjubkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Taman Laut Komodo di NTT, Berau di Kalimantan Timur, Bunaken di Sulawesi Utara dan Raja Ampat di Papua, Selat Pantar masih tetap yang terbaik, meski selama ini untuk diving, taman laut Komodo, Bunaken, Berau, dan Raja Ampat lebih populer, tapi di mata para diver kelas dunia taman laut Selat Pantar yang terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebih unggul karena keindahannya yang menakjubkan.

Konon terindah setelah taman laut Kepulauan Karibia. Banyak wisatawan asing yang pernah ke Alor terkagum-kagum. Sebab, selain dimanjakan keindahan taman lautnya, mereka juga menemukan fenomena taman laut tersebut langka dan sangat menarik. Makanya, wajar jika wisata bahari Alor dengan panorama bawah laut yang spefisik di Selat Pantar menjadi primadona dan pemikat bagi para diver kelas dunia dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, dan beberapa negara di Asia.

Keindahan bawah laut yang terdapat di Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura, juga mengundang decak kagum para diver profesional dari Jakarta dan Bali untuk datang ke sana. Bahkan, para diver kelas dunia mengakui, bahwa kawasan taman laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Selain potensi wisata bahari, Alor juga menyimpan sejumlah objek wisata yang memiliki daya tarik secara kultural dan historis yang jarang dijamah dan dikunjungi baik oleh penduduk setempat maupun oleh wisatawan. Meski memiliki aksebilitas amat terbatas, tapi bagi para pencinta petualangan alam justru menjadi tantangan dan keunikan.

Salah satunya, alquran tua dari kulit kayu yang ditulis dengan tinta ramuan tradisional yang diperkirakan berusia lebih dari 800 tahun, sebuah bukti sejarah tentang keberadaan Islam di Alor. Daya pemikat lainnya yaitu kampung Takpala, sebuah desa tradisional yang dihuni oleh suku Abui dengan pola perkampungan linear dengan deretan rumah adat.

Masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi akan mempertontonkan atraksi budayanya yang khas dalam menyambut para pelancong, membuat nama desa ini melambung sampai ke mancanegara.

Bagi pendaki gunung yang menggilai tantangan di tempat yang masih perawan, Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar dan Gunung Koya-Koya di Pulau Alor, adalah tempatnya. Kepenatan yang melelahkan itu segera sirna membawa kesejukan dan kesegaran jiwa setelah menyaksikan fenomena geologi vulkanik di Desa Air Panas dan Air Terjun di Pulau Pantar, taman wisata alam Tuti Adagae di Pulau Alor.

Sementara ranch mini peternakan rusa (terbaik di kawasan timur Indonesia) jangan dilewatkan untuk dikunjungi. Kesejukan dan kesegaran di alam Hutan Nostalgia juga akan menyapa setiap pengunjung yang ingin melepas kepenatan.

Sebelum beranjak kembali pulang, jangan lupa menanam pohon di Hutan Nostalgia sebagai tanda Anda pernah mengunjungi Pulau Alor. Nama dan alamat Anda akan diabadikan pada pohon yang ditanam dan dikenang sepanjang masa.

Sumber :
http://kidnesia.com
http://seruu.com
http://www.indonesiapariwisata.com

Photo ;
http://1.bp.blogspot.com

Teluk Triton, Surga Bawah Laut Kaimana


Kota Kaimana, Papua Barat ternyata bukan hanya melegenda dengan lagunya “Senja Di Kaimana”. Keindahan lautnya menyimpan sejuta pesona dan tak akan bosan mata memandangnya.

Jadi, bila Anda ingin menikmati panorama pantai dan laut, tidak perlu jauh–jauh pergi ke Pantai Hawaii. Datang saja ke Kota Kaimana!

Salah satu objek wisatanya adalah Teluk Triton. Dari Kota Kaimana untuk menuju Teluk Triton sangat mudah, hanya memerlukan waktu 1,5 jam. Bersama rombongan Conservation International (CI) Marine Programme–Kaimana, Asril Djunaedi, Defi Pada, dan Dian Wasaraka, kami empat jurnalis bertolak menuju Teluk Triton dengan menggunakan speed boat sewaan dari Pelabuhan Laut Kaimana.

Bagi pencinta wisata bahari, perjalanan ini tentunya sangat menyenangkan. Setelah melewati Tanjung Bicari yang bergelombang, kami akhirnya tiba di Selat Erana yang saat ini lebih dikenal dengan nama Selat Namatota, karena di situ terdapat Pulau Namatota.

Di pulau inilah awal wisata laut kami dimulai dengan berbagai panorama alam yang menakjubkan. Tampak sebuah gunung berbentuk ikan paus. Uniknya, pada stalaktit gunung itu terdapat lukisan–lukisan yang menggambarkan matahari, tangan manusia, dan juga tengkorak manusia. “Oleh masyarakat di sini, tempat ini dianggap sakral dan mereka tidak tahu pasti kapan lukisan ini dibuat. Jadi pulau ini menyimpan banyak misteri,” kata Asril.

Tidak itu saja, setiap pukul 08.00-12.00, bila kondisi cuaca bagus dan laut dalam keadaan flat atau tenang, terdapat sekelompok ikan paus dan lumba-lumba asyik mencari makan dan mereka sangat aktif bermain bersama kelompoknya. “Kami katakan tempat ini ‘restorannya’ ikan paus dan lumba–lumba, karena tempat ini adalah fishing bank (bank ikan-red). Banyak terdapat jenis ikan,” lanjutnya.

Di sini, wisatawan juga bisa melihat ikan mangiwang atau ikan yang lebih dikenal dengan nama hiu bodoh. Disebut hiu bodoh karena ikan ini hanya berjalan di atas pasir dengan siripnya dan makanannya hanya ebi (udang kecil).

Karang Lunak
Bagi penggemar diving dan snorkeling, tempat ini merupakan kawasan wisata yang menarik. Karang–karang di Teluk Triton ini terkenal dengan soft coral atau karang lunak. Berdasarkan hasil survei CI Kaimana, ditemukan 868 jenis ikan karang, termasuk 10-14 jenis baru (10-13 endemik).

Keanekaragaman hayatinya dapat terlihat dari jenis ikan karang FakFak/Kaimana yang mencapai 959 spesies, bank heal seascape (BHS) sebanyak 1.323 spesies, termasuk 24 yang endemik. Jenis karang FakFak/Kaimana berjumlah 471 spesies, ditambah 16 spesies baru dan BHS 560 spesies. Jenis udang mantis FakFak/Kaimana ada 28 spesies dan BHS 57 spesies, termasuk delapan yang endemik, sedangkan berdasarkan coral reef fish diversity index, diprediksi ada sekitar 1.194 jenis ikan karang di areal Fakfak, Kaimana. Selain itu, juga ada 234 jenis ikan karang yang biasanya menjadi target foodfish, komersial maupun tradisional. Ini sangat unggul jika dibandingkan dengan Thailand yang hanya terdapat 174 jenis ikan karang.
Banyaknya biota laut dan jenis ikan ini membuat tempat ini juga sangat cocok untuk arena memancing.

Teluk Triton bukan hanya menarik sebagai wisata bahari, tetapi juga wisata budaya perpaduan budaya lokal dan luar. Banyak cerita dan legenda yang bisa didapat di daerah ini, termasuk legenda tenggelamnya kapal China pada saat Dinasti Ming. Kapal Inggris juga dikabarkan pernah tenggelam di wilayah ini.
Perjalanan lebih mengasyikkan jika melanjutkan ke Pulau Umbrom yang banyak pasir putihnya. Jadi bila ingin berenang, mampir saja di Pulau Umbrom. Ada juga Pulau kelelawar, di mana setiap menjelang sore hari ribuan kelelawar keluar dari sarangnya, yang kemudian terbang sampai ke Kota Kaimana.

Untuk menjaga agar Teluk Triton dan laut di Perairan Kaimana tetap lestari dan menjadi objek wisata laut, Pemerintah Daerah (Pemda) Kaimana menetapkan luas wilayah laut 597.747 hektare yang dihitung sejauh empat mil laut dari garis pantai laut terluar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).

Sebuah konsep tentang pemanfaatan laut yang teratur dan bertujuan untuk menjaga supaya kekayaan alam, terutama laut dan sekitarnya tetap lestari dan terjaga sampai generasi anak cucu kita nanti. Seperti slogan yang dicanangkan Kabupaten Kaimana untuk menjaga kekayaan alamnya, yakni kalo bukan kitong sapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi?

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

'Wisata Bahari Lamongan', Primadona Baru Wisata Jatim


Dulu publik pasti merasa masih asing kalau mendengar nama Pantai Tanjung Kodok dan Gua Maharani. Kedua objek wisata yang terdapat di kabupaten Lamongan ini sebelumnya tak begitu dikenal penghobi wisata jalan-jalan. Kalaupun ada yang sudah pernah kesana, mereka hanya singgah sebentar di dua obyek tersebut.

Sekilas melihat batu berbentuk seperti kodok yang menjadi trade mark dari pantai itu dan berjalan sebentar dalam panasnya Gua Maharani. Minimnya fasilitas membuat para wisatawan hanya sambil lalu saat berkunjung kesana.

Namun sekarang tak lagi seperti itu, bisa dibilang apa yang dilakukan pemkab Lamongan dengan menyulap dua obyek itu menjadi kawasan wisata terpadu 'Wisata Bahari Lamongan (WBL)' sungguh terobosan luar biasa.

Daerah wisata yang bertempat di Jalan Raya Daendeles (Pantura) itu kini mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jatim. Kini, tempat itu menjadi salah satu katalog agenda wisata keluarga Jatim. Selain Jatim Park I di Batu, Sengkaling di Malang, atau Pantai Ria Kenjeran di Surabaya, warga Jatim bisa memilih WBL sebagai salah satu tempat tujuan melepas penat bersama keluarga.

Awalnya kawasan yang disajikan dengan konsep one stop service itu dibangun di atas tanah seluas 17 hektar. Untuk ke depanya area wisata itu akan dikembangkan lagi hingga 24 hektar.

Pembangunan pertama area wisata itu mengembangkan kawasan wisata Tanjung Kodok yang disulap menjadi tempat wisata modern dengan aneka fasilitas wisata. Berdirinya WBL adalah hasil kerja sama antara Pemkab Lamongan dan PT. Bunga Wangsa Sejati yang sebelumnya membangun Jatim Park I di Batu. Dari kerja sama itu, kemudian dibentuk PT. Bumi Lamongan Sejati sebagai pihak yang mengelola WBL.

Dengan tiket Rp10.000-Rp15.000 dan tiket terusan Rp25.000-Rp35.000, pengunjung dapat menikmati sedikitnya 20 macam fasilitas wisata.

Aneka fasilitas wisata itu di antaranya adalah arena ketangkasan, insektarium, marina, kolam renang air tawar, kolam renang laut dengan pantai pasir putih buatan, bumper car, space shattle, kano, long boat, bumper boat, tagada, planet kaca, sarang bajak laut, arena pacuan kuda, dan sirkuit go kart.

Tak hanya itu, pengunjung akan disediakan tempat belanja komplet khas Jatim yang bisa dijumpai di souvenir shop. Di tempat tersebut tersedia produk unggulan, pasar ikan, buah dan sayur, serta pasar hidangan yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00. Daya tarik WBL tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap. Namun, daya tarik paling berharga terletak pada pemandangan lepas pantai ke Laut Jawa di utara WBL.

Bisa dipastikan, daya tarik WBL semakin memikat saat perluasan tahap kedua kawasan itu rampung. Perluasan WBL mengembangkan kawasan wisata Goa Maharani yang terletak 300 meter sebelah selatan area Tanjung Kodok

Rencananya, antara kawasan wisata Tanjung Kodok dan Goa Maharani disatukan dalam satu paket wisata bahari. Sebagai sarana penghubung, pengunjung bisa memanfaatkan kereta gantung, sebuah jaringan kereta gantung pertama di Jatim.

Kini, pengembangan sedang difokuskan pada pembangunan hotel dan convention hall di sebelah barat Tanjung Kodok. Bahkan, pembangunan hotel berbintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar itu sudah selesai 70%. Hotel dengan kapasitas 500 pengunjung disiapkan sebagai 'barak penginapan' di mana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar.

Lokasi wisata WBL bisa ditempuh dengan kendaraan jenis apa pun. Sebab, letaknya tepat di pinggir Jalan Raya Daendels, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya satu jam perjalanan arah utara kota Lamongan dan satu setengah jam arah barat kota Surabaya.

Tidak jauh dari tempat itu, sekitar lima kilometer arah timur, pihak Pemkab Lamongan akan mengembangkan sebagai kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Intregated Shorbase (LIS).

Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan ikan Brondong yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jatim. Kawasan wisata ini juga dekat dengan sentra kerajinan emas, batiktulis dan bordir desa Sendang Agung dan Sendang Duwur.

Sungguh konsep bagus yang dikembangkan Pemkab Lamongan dan pengembang Jatim Park ini, wahana rekreasi yang memanfaatkan potensi dari Pantai Tanjung Kodok menjadi begitu menariknya. Tidak hanya memanfaatkan lokasi pantai tapi benar-benar melibatkan pantai sebagai salah satu wahananya. Salah satu alternatif menarik bagi kita terutama yang suka sekali dengan pantai, WBL menjawab semua keinginan kita. Satu catatan saja, jangan lupa pakai sunblock dan minum air yang banyak, karena hawa disana panas sekali. Have fun guys! (cax

Sumber: http://www.kapanlagi.com

Wisata Bawah Laut Di Perairan Raja Ampat


Dalam catatan fotografi bawah laut di kawasan Raja Ampat, Imam Brotoseno menyebutkan bahwa kandungan kekayaan biota laut Raja Ampat paling besar di seluruh area segitiga koral dunia, yaitu Philipina-Indonesia-Papua Nugini. Segitiga koral ini merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan konservasi perlindungan alam internasional. Dari sekitar 600-an jenis terumbu karang di dunia, 75% di antaranya berada di perairan Raja Ampat.Dengan begitu luasnya perairan Raja Ampat serta kekayaan biota lautnya yang beragam, maka wisatawan yang ingin menikmati panorama bawah laut dapat memilih beberapa titik penyelaman. Di sekitar Pulau Kri, misalnya, wisatawan dapat menyaksikan keindahan terumbu karang serta berbagai jenis ikan yang sangat menakjubkan, termasuk jenis ikan queensland grouper yang terkenal, ikan kuwe, kakap, kerapu, hiu karang, tuna, napoeleon wrasse, barracuda, serta giant trevally. Kekayaan berbagai jenis ikan di kawasan Pulau Kri ini pernah dibuktikan oleh Gerry Allen, di mana dalam sekali menyelam ia mencatat setidaknya terdapat 283 jenis ikan. Jumlah yang sangat mencengangkan untuk satu kali penyelaman.

Titik penyelaman lainnya adalah di Sardine Reef dengan kedalaman sekitar 10 meter. Tempat ini menyajikan berbagai jenis ikan termasuk ikan parrotfish yang memiliki warna yang cemerlang. Apabila ingin mencoba sensasi berada dalam terowongan batu karang, wisatawan dapat menyelam di sekitar Kepulauan Kaboei Bay Rock. Di kepulauan ini terdapat sebuah teluk yang di bawahnya merupakan sebuah terowongan batu karang. Di Kaboei Bay Rock juga terdapat gua-gua karang yang dihuni oleh kelelawar, serta di beberapa tempat ditemukan sisa-sisa tulang manusia.

Masih banyak lagi titik-titik penyelaman yang dapat ditelusuri oleh para penyelam, seperti di The Passage, Pulau Fam, serta Pulau Misool. Selain menikmati kekayaan biota laut, wisatawan dapat pula menikmati situs-situs sejarah bawah laut, di antaranya kapal perang serta pesawat tempur yang karam di perairan Raja Ampat. Tak hanya itu, wisatawan juga bisa menikmati keindahan pulau-pulau di wilayah Raja Ampat.

Wisata Tirta Tanjung Benoa


Siapa menyangka, kawasan Tanjung Benoa yang dulu dikenal sebagai daerah kumuh, kini telah menjelma menjadi obyek wisata bahari paling lengkap di Pulau Bali. Ya, di pantai yang bersebelahan dengan kawasan Nusa Dua ini, sekarang telah menjadi pusat berbagai macam olahraga air, mulai dari jetski, parasailing, scuba diving, snorkeling, hingga flying fish. Berbagai sarana wisata yang diberi nama wisata tirta Benoa Marine Recreation (BMR) ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas hotel berbintang dan restoran bertaraf internasional.

Dua puluh lima tahun lalu, Tanjung Benoa adalah sebuah perkampungan nelayan yang kumuh dan miskin. Jika dahulu masyarakatnya hanya mengandalkan pendapatan dari berladang dan menangkap ikan seadanya, kini mereka relatif lebih makmur dengan pendapatan terbesar dari jasa pariwisata. Perubahan besar ini bermula dari pembangunan proyek kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang berdekatan lokasinya dengan Tanjung Benoa pada tahun 1980-an. BTDC adalah proyek prestisius untuk membangun berbagai sarana pariwisata di bagian Selatan Bali, di antaranya membangun 12 hotel berbintang lima dan lima plus.

Semula, kawasan Tanjung Benoa diproyeksikan sebagai salah satu daerah hunian bagi karyawan yang bekerja di kawasan BTDC. Namun, ternyata para investor mulai tertarik untuk mengembangkan daerah ini sebagai lokasi pembangunan hotel-hotel berbintang, sehingga masyarakat Tanjung Benoa mulai sadar untuk turut ambil bagian dalam mengembangkan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata. Pada tahun 1996 dibentuklah Komite Tanjung Benoa yang bertujuan untuk mengembangkan dan mempromosikan daerah tujuan wisata baru ini. Komite tersebut juga mulai menata lingkungan, memberikan penyuluhan dan penyadaran terhadap warga untuk perlahan-lahan mengubah lingkungan yang kumuh menjadi bersih dan asri.

Para pengusaha hotel dan jasa wisata lainnya yang tergabung dalam Komite Tanjung Benoa juga mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membangun trotoar di sepanjang jalan utama Tanjung Benoa. Hasilnya, jalan-jalan utama di Tanjung Benoa kini tampak bersih dan rapi, sehingga wisatawan dapat dengan nyaman berjalan kaki menyusuri jalan-jalan utama tersebut.

Sumber : http://startdoor.com
Photo : http://www.bisnisbali.com