Tampilkan postingan dengan label Keraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keraton. Tampilkan semua postingan

Keraton Buton, Primadona Pariwisata bagi Sulawesi Tenggara

Berebut mata uang- Salah satu daya tarik wisata di Buton adalah demonstrasi penyelaman coin atau barang apa saja oleh bocah-bocah setempat. Para bocah ketika memperebutkan coin di kolam pelabuhan Murhum Baubau, disaksikan puluhan ribu masyarakat Buton sendiri.

Bila Anda sebagai seorang turis berkunjung ke Baubau, ibu kota Kabupaten Buton, jangan lupa mengantungi uang recehan (coin) secukupnya. Sebab di kolam pelabuhan Murhum Baubau, Anda pasti diminta melemparkan sesuatu oleh kawanan bocah yang sedang bermain-main di perairan kolam pelabuhan tersebut. Biasanya, orang memang melemparkan uang recehan lalu diperebutkan para bocah itu.

Permainan memperebutkan coin atau barang apa saja, semula hanya bisa dilihat di perairan Desa Baruta, Kabupaten Buton. Celah agak sempit yang memisahkan daratan Pulau Muna dan Pulau Buton itu adalah alur pelayaran lokal yang menghubungkan kota Baubau, Raha, dan Kendari sebagai ibu kota Propinsi Sultra. Pemandangan dunia anak-anak desa yang lugu dan lucu akan segera muncul setelah satu jam pelayaran dari Baubau menunju Raha, ibu kota Kabupaten Muna, atau sebaliknya menjelang satu jam sebelum kapal yang ditumpangi merapat di dermaga pelabuhan Murhum Baubau.

Di alur sempit itu setiap kapal yang lewat dihadang puluhan sampan kecil yang dijalankan bocah-bocah berumur di bawah 10 tahun. Mereka berlompatan ke laut sambil berteriak kepada penumpang kapal agar melemparkan apa saja, untuk diperebutkan melalui ketangkasan menyelam ke bawah permukaan laut.

Mereka berpakaian setengah telanjang. Bahkan ada yang tak berbusana sama sekali sehingga “burung” mereka tampak bergelantungan ketika berlompatan menukik ke bawah permukaan laut, untuk mendapatkan benda apa saja yang dilemparkan dari atas kapal.

Benda sekecil kelereng pun tak lolos dari tangan mereka karena kemahiran menyelam. Setiap kali mendapatkan benda itu, mereka perlihatkan kepada para penumpang sambil berteriak kegirangan, lalu minta lagi untuk dilemparkan barang apa saja. Sementara kapal terus melaju meninggalkan anak-anak tersebut.

Kini permainan anak-anak itu dapat juga disaksikan di kolam pelabuhan Baubau. Yaitu pada setiap kedatangan kapal penumpang milik Pelni di pelabuhan tersebut sebanyak 2-3 kali seminggu, dan pada setiap penyelenggaraan Festival Keraton Buton (Buton Palace Festival). Festival itu diprakarsai Bupati Buton Kolonel (Czi) Saidoe dan digelar secara rutin setiap tanggal 12-13 September.

Buton dan kota Baubau khususnya menyimpan banyak pesona wisata. Selain wisata bahari, termasuk produk budaya bahari seperti penyelaman coin dan aneka tarian bernuansa laut, di sebuah bukit yang terletak 3 km selatan kota berdiri kukuh benteng keraton yang menjadi simbol kekuasaan Kesultanan Buton di masa lampau.

Banyak obyek menarik di dalam benteng Keraton Wolio itu. Di sana ada batu Wolio, batu popaua, masjid agung, makam Kaimuddin (Sultan Buton pertama), Istana Badia, dan meriam-meriam kuno.

Batu Wolio adalah sebuah batu biasa berwarna gelap. Besarnya kurang lebih sama dengan seekor lembu sedang duduk berkubang. Konon, di sekitar batu inilah rakyat setempat menemukan seorang putri jelita bernama Wakaa-Kaa yang dikatakan berasal dari Tiongkok.

Putri itu kemudian dijadikan pimpinan (ratu). Pelantikan raja tersebut dilakukan di atas batu popaua. Batu ini terletak sekitar 200 meter dari batu Wolio. Permukaan batu popaua hampir rata dengan tanah, namun mempunyai lekukan berukuran hampir sama dengan telapak kaki manusia. Di lekukan itulah putri Wakaa-kaa menginjakkan kaki kanannya sambil mengucapkan sumpah jabatan sebagai ratu di bawah payung yang diputar sebanyak tujuh kali.

Karena itu batu tersebut disebut batu popaua (batu tempat diputarkan payung raja). Tradisi pelantikan ratu atau raja di atas batu tersebut berjalan hingga di zaman kesultanan, bentuk pemerintahan kerajaan Buton setelah masuknya Islam.

Batu popaua terletak di kaki sebuah bukit kecil tempat berdirinya Masjid Agung Keraton Buton. Masjid ini dibangun tahun 1712 di masa pemerintahan Sultan Buton XIX bernama Lang Kariri dengan gelar Sultan Sakiuddin Darul Alam.

Masjid berukuran 21 kali 22 meter itu memiliki tiang bendera di sisi sebelah timur. Dalam tafsir Al Azhar karangan almarhum Buya Hamka disebutkan, tiang bendera itu juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung menurut hukum Islam.

Tetapi ada sedikit bau mistik di dalam masjid tua itu. Di belakang mimbar khatib atau di ujung kepala imam tatkala dalam keadaan sujud terdapat pintu gua yang disebut “pusena tanah” (pusat bumi) oleh orang-orang tua di Buton. Konon dari dalam gua itu keluar suara azan pada suatu hari Jumat. Peristiwa itu menjadi latar belakang pendirian masjid di tempat tersebut.

Ketika masjid itu direhabilitasi pada tahun 1930-an, pintu gua tadi ditutup dengan semen sehingga ukurannya lebih kecil menjadi sebesar bola kaki. Lubangnya diberi penutup dari papan yang bisa dibuka oleh siapa yang ingin melihat pintu gua itu.

Di salah sebuah kamar Kamali (istana) Badia, masih di kompleks keraton, terdapat meriam bermoncong naga. Menurut Drs H La Ode Manarfa (79), Sultan Buton ke-39, meriam bersimbol naga tersebut dibawa leluhurnya Wakaa-kaa dari Tiongkok sekitar 700 tahun silam. Meriam itu masih memiliki peluru dan masih bisa diledakkan.

Kamali Badia itu sendiri tidak lebih dari rumah konstruksi kayu khas Buton sebagaimana rumah anjungan Sultra di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sesuai tradisi, rumah atau istana Kesultanan Buton harus dibuat keluarga sultan dengan biaya sendiri.

Ada juga istana di kota Baubau. Tetapi istana yang dulu cukup megah, kini tidak terawat lagi. Istana itu di awal kemerdekaan dipinjamkan untuk sekolah AMS (Amtenaar Middlebare School), lalu menjadi kampus Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan). Sesuai dengan fungsinya tersebut, maka Kamali Baubau disebut Istana Ilmiah. “Istana itu dibangun tahun 1922 dengan bantuan Belanda. Karena itu para sultan tak mau berdiam di situ,” ujar Manarfa.

Obyek lain yang tak kalah menariknya adalah benteng keraton sendiri. Benteng Keraton Buton yang aslinya disebut Keraton Wolio dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton VI (1632-1645), bernama Gafurul Wadudu. Benteng ini berbentuk huruf dhal dalam alpabet Arab yang diambil dari huruf terakhir nama Nabi Muhammad saw.

Panjang keliling benteng tersebut 3 kilometer dengan tinggi rata-rata 4 meter dan lebar (tebal) 2 meter. Bangunannya terdiri atas susunan batu gunung bercampur kapur dengan bahan perekat dari agar-agar, sejenis rumput laut. Luas seluruh kompleks keraton yang dikitari benteng meliputi 401.911 meter persegi.

Benteng Keraton Wolio memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga (bastion). Tiap pintu gerbang (lawa) dan bastion dikawal empat sampai enam meriam. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri.

Keberadaan benteng tersebut membawa pengaruh hebat bagi eksistensi Kerajaan Islam Buton. Kesultanan ini mampu bertahan selama kurang lebih empat abad, tidak termasuk masa pemerintahan raja-raja non-Islam selama kurang lebih dua abad sebelumnya.

Bahkan benteng itu menjadi sumber motivasi dan semangat bagi generasi sekarang. Gubernur Kaimoeddin selalu mengajak kepada aparatnya untuk mencontoh etos kerja di zaman dulu. “Para leluhur kita dulu belum memiliki dana dan peralatan canggih tetapi kualitas hasil pembangunan mereka sangat mengagumkan. Mengapa kita tidak mampu berbuat seperti mereka,” katanya.
__________

Sumber: www.buton.web.id

Kerajaan Koto Alang = Dusun Botuang?

Oleh: SungaiKuantan.blogspot.com

Penelusuran di Dusun Botuang
Selama tiga jam tim http://sungaikuantan.blogspot.com (SKBC) menempuh perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan, Ibu Kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing) dari pusat Kota Pekanbaru (Propinsi Riau), pada minggu ketiga di bulan Oktober lalu. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan tim ini. Tujuan tim adalah Kecamatan Kuantan Mudik, tepatnya menuju Dusun Botuang, Desa Sangau.

Untuk mencapai Dusun Botuang dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat Kota Taluk Kuantan. Di dusun ini konon terdapat Padang Candi. Dinamakan Padang Candi karena diduga kuat di situ terdapat sebuah candi yang telah lama tebenam. Untuk sampai ke lokasi Padang Candi, tim melewati sebuah sungai kecil bernama Sungai Salo dan melintasi jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya akan merasa gamang, karena sewaktu dilewati jembatan ini bergoyang-goyang.

Dusun Botuang banyak menyimpan Benda Cagar Budaya (BCB) yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja (sewaktu menggali tanah untuk berkebun atau ketika sedang menata halaman rumah), seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum untuk menjahit dan mata kail. Menurut cerita Herlita (salah seorang penduduk setempat), awal penemuan benda-benda ini juga bermacam-macam. Misalnya, ada salah seorang penduduk yang bermimpi didatangi orang tak dikenal dan disuruh untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan. Setelah digali, di tempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu muncul sebuah guci. Namun sayang, guci itu kembali membenamkan diri, karena sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah kambing hitam. “Karena sulit didapat, oleh orang itu diganti dengan darah anjing hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.

Hal ini dibenarkan oleh Rabu Jailani (Kepala Dusun Botuang). “Semenjak itu banyak masyarakat yang mengambil tanah di sekitar bekas penggalian guci itu untuk didulang di Sungai Salo, dan menemukan emas, malahan ada yang telah berbentuk cincin, gelang, mata kail dan jarum penjahit. Kejadiannya sekitar tahun tujuh puluhan,” kata Rabu Jailani. Karena suatu hal, penggalian di bekas ditemukannya guci itu dihentikan atas kesepakatan tokoh-tokoh adat Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Selain perhiasan yang terbuat dari emas, yang paling sering ditemukan penduduk setempat adalah batu bata kuno, berukuran sekitar satu jengkal kali dua jengkal persegi—jengkal orang dewasa. “Kalau kita gali dengan kedalaman sekitar satu meter saja, kita bisa menemukan batu bata kuno ini masih tersusun rapi didalam tanah,” kata Rabu Jailani. Dari ditemukannya batu bata kuno tersebut, banyak dilakukan penelitian-penelitian dan penggalian-penggalian. Pada tahun 1955 pernah dilakukan penggalian dan menemukan arca sebesar botol, dan arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya.

”Dulu masyarakat setempat tidak mengenal nilai dari arca tersebut sebagai benda cagar budaya, akhirnya masyarakat menjualnya,” ungkap Yasir Kepala Desa Sangau. ”Sangat disayangkan,” sesalnya. Pada penggalian terakhir pada tahun 2007 oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau ternyata dilakukan tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah.

Pada penggalian sebelumnya, mereka menemukan mantra berbahasa sanskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui lagi keberadaannya. ”Kita kecolongan waktu itu,” terang Suhernita Kepala Seksi (Kasi) Pengkajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional, Dinas Budaya Kesenian dan Pariwisata (Disbudsenipar) Kab. Kuansing. Hal ini dibenarkan oleh Drs. Syafrinal, M.Si, kepala Disbudsenipar, yang baru menjabat sekitar enam bulan yang lalu. “Banyaknya kelemahan yang kita alami dalam perawatan objek pariwisata dan situs-situs bersejarah sangatlah merugikan kita,” ungkap Syafrinal sewaktu tim menemuinya di Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Kab. Kuansing, Kamis (23/10) lalu.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Syafrinal telah berusaha semaksimal mungkin. “Kita telah membentuk tim pengumpul data objek pariwisata dan situs sejarah di setiap kecamatan,” uajranya. Selain itu, Syafrinal pun mengharapkan sumbangsih masyarakat, dan pihak swasta yang mau menanamkan modalnya untuk pengembangan objek pariwisata dan situs bersejarah yang ada di Kab. Kuansing. “Saya bangga dengan yang dilakukan pemuda saat ini yang merawat seni, budaya dan parawisata Kuansing melalui media internet, salah satunya http://sungaikuantan.blogspot.com yang saya lihat serius dalam hal ini,” ungkap Syafrinal.

Kerajaan Koto Alang
Banyaknya temuan Benda Cagar Budaya (BCB) di Dusun Botuang, menguatkan dugaan di tempat ini pernah berdiri kerajaan Hindu dengan nama Kerajaan Koto Alang, walau belum ada penelitian secara ilmiah yang mengungkapkannya. Mahmud Sulaiman (68)—Bergelar Datuk Tomo, seorang tokoh adat Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, adalah keturunan Raja Kerajaan Koto Alang. Padang Candi yang terdapat di Dusun Botuang ada di bawah pengawasannya sebagai tokoh adat.

Kalau ada orang atau peneliti yang ingin tahu cerita detail tentang Padang Candi, maka masyarakat Dusun Botuang merekomendasikan Datuk Tomo kepada peneliti tersebut. “Kami di sini tidak tahu banyak tentang sejarah Padang Candi, yang mengetahuinya ya yang mengawasi Padang Candi, yaitu Datuk Tomo,” terang Rabu Jailani (Kepala Dusun Botuang). Hal ini dibenarkan pula oleh Yasir (Kepala Desa Sangau). “Kalau sejarah Padang Candi kami serahkan kepada tokoh adat yang berwenang terhadap Padang Candi, dia Datuk Tomo,” kata Yasir. “Semua perangkat desa tidak ada yang mengetahuinya secara detail,” tambah pria tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, sewaktu tim SKBC mewawancarainya Kamis (23/10) lalu.

Untuk memperoleh data lebih lengkap, tim SKBC kemudian berkunjung ke kediaman Datuk Tomo yang berada di Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. Tokoh adat ini kemudian menceritakan kisah tentang Padang Candi kepada tim dari petikan Tambo Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. Tambo tersebut telah hancur dimakan zaman, dan sekarang Datuk Tomo berusaha membukukannya dari hasil ingatannya dan dari hasil penelitian tim Penelusuran Kerajaan Kandis, di Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Tim ini di koordinatori oleh Pebri Mahmud Al-Hamidi, beranggotakan Drs. H. Syafri Yoes, Triwan Hardi, SH., Agusrisal SR, Hardimansyah, Jhon Herizon Patra, Raja Bastian, SE., Drs. H. Mukhlis MR., MSi., Ikatan Keluarga Kuantan Mudik (IKKM) Pekanbaru, dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Kuantan Mudik (HPMKM) Pekanbaru. Yang diarahkan oleh Penghulu Pucuk Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo dan Syamsinar Dt. Rajo Suaro) beserta seluruh Pemangku Adat dalam Wilayah Kenagarian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. “Setelah bahan-bahan telah terkumpul semua dan dapat dipertanggungjawabkan akan segera diterbitkan dalam bentuk buku,” ucap Datuk Tomo.

Berdasarkan Tambo tersebut, kerajaan Koto Alang adalah pengembangan dari Kerajaan Kandis. “Pada masa jayanya Kerajaan Kandis banyak terjadi perebutan kekuasaan dari orang-orang yang merasa mampu, mereka ingin merebut kekuasaan dan akhirnya memisahkan diri dari Kerajaan Kandis,” kata Datuk Tomo. Maka berdirilah Kerajan Koto Alang pada abad ke-2 M, Rajanya bergelar Aur Kuning, ia mempunyai Patih (Wakil Raja) dan Temenggung (Penasehat Raja).

“Dengan berdirinya Kerajaan Koto Alang, maka terjadilah perebutan kekuasaan antar kerajaan,” tambah Datuk Tomo. Oleh sebab itu, pada abad ke-6 M Kerajaan Kandis menyerang Kerajaan Koto Alang dan dimenangkan oleh Kerajaan Kandis. Raja Aur Kuning melarikan diri ke Jambi. ”Itulah asal usul nama Sungai Salo yang berarti Raja bukak selo—buka sila, di Dusun Botuang. Karena tidak mau tunduk di bawah pemerintahan Kerajaan Kandis, Patih dan Temenggung melarikan diri ke arah Barat menuju Gunung Merapi (Sumatra Barat) dan mereka berganti nama, Patih menjadi Datuk Perpatih nan Sebatang dan Temenggung menjadi Datuk Ketemenggungan. Kedua tokoh inilah yang kemudian menjadi tokoh adat legendaris Minangkabau,” ungkap Datuk Tomo.

Peninggalan Raja Aur Kuning saat ini masih bisa ditemukan, yaitu berupa Mustika Gajah sebesar bola pingpong, yang ditemukan oleh Raja Aur Kuning di dalam kepala Gajah Tunggal sewaktu Raja Aur Kuning mengalahkan Gajah Tunggal—karena mempunyai satu gading, Gajah Tunggal dibunuh dengan menggunakan Lembing Sogar Jantan. ”Tempat Raja Aur Kuning membunuh Gajah Tunggal itu kini bernama Lopak Gajah Mati yang terdapat di sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Mustika Gajah dan Gading Tunggal masih saya simpan, kecuali Gading Tunggal yang telah dijual salah seorang keluarga saya, ketika saya tidak berada di kampung pada tahun 1976. Sangat disayangkan,” kata Datuk berjanggut ini. Sungai yang mengalir di samping Lopak Gajah Mati tersebut dinamakan dengan Batang Simujur, yang berarti mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.

Prof. Suwardi, MS., seorang sejarawan Riau, pernah malakukan penelusuran dengan Datuk Tomo tentang Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang. Namun, penelusuruan ini terhenti karena sesuatu hal. ”Kerajaan Kandis memang ada diceritakan sekilas di dalam Kitab Negara Kertagama. Kerajaan Kandis itu berada di Rantau Kuantan, penelusuran ini terhenti dengan kendala SDM dan dana,” terang Suwardi. Sampai tulisan ini terbit, belum ada pembenahan terhadap situs bersejarah yang terdapat di Dusun Botuang, Desa Sangau, Kec. Kuantan Mudik, Kab. Kuansing, Propinsi Riau tersebut.

Pengelolaan Lingkungan ala Keraton Kalimantan

Banyak kearifan lokal yang patut diteladani dari pihak Keraton dalam pengelolaan lingkungan di masa lalu. Hal tersebut terungkap dalam Seminar Peranan Keraton se-Kalimantan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berlangsung di Kedaton Kutai Kartanegara, Tenggarong, tadi siang.

Seperti dipaparkan H Adji Pangeran Ario Prodjo dari Keraton Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan materi bertajuk Permasalahan dan Kearifan Tradisional dalam Mengelola Lingkungan.

Dikatakannya, nenek moyang kita sangat arif dalam menjaga dan memperlakukan lingkungan agar dapat dinimati secara turun temurun. Keserasian manusia dan alam ini tertuang pada semboyan, Tuah Himba Untung Langgong.

"Artinya jika kita memelihara alam berikut potensinya (Tuah Himba) dengan baik, akan memberi manfaat (Untung) secara lestari (Langgong)," ujarnya.

Kearifan lokal lainnya kata AP Ario Prodjo adalah larangan dari Sultan Kutai bagi nelayan untuk tidak membunuh pesut dan menangkap ikan di kawasan reservat serta menebang pohon enau bagi petani.

Kemudian penetapan kawasan hutan lindung margasatwa di Bontang dan hutan lindung di Kersiq Luwai, Melak, Kutai Barat. "Menunjukkan betapa Sultan menjadikan lingkungan hidup sebagai basis pengambilan kebijakan," katanya.

Sementara Dr Ir Ratu Kenanga Arini MSc dari Keraton Amantubillah Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), memaparkan makalah bertajuk Reposisi dan Revitalisasi Keraton sebagai Stakeholder dalam Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan.

Dikatakannya, kelestatrian alam tidak akan terjaga tanpa didahului proses optimalisasi kondisi lingkungan hidup sosial-budaya. Menurutnya dalam konteks pelestarian lingkungan, manusia selain sebagai agen utama juga dominan dalam mewarnai lingkungannya.

"Oleh karenanya, raja sebagai figur panutan dapat menjadi agen utama dalam keterlibatannya menjaga lingkungan hidup," ungkap Ratu Kenanga yang menjadi satu-satunya pemateri wanita dalam seminar tersebut.

Sementara Gusti Kamboja dari Keraton Tanjung Pura Matan, Ketapang (Kalbar), dalam makalahnya yang berjudul Warisan Keraton Dalam Budaya Masyarakat Pesisir Kalbar mengatakan, sosio-budaya perairan (Pesisir, laut dan sungai-red) sangat dominan di wilayahnya.

"Hal itu ditandai dengan penemuan berbagai jenis alat tangkap ikan. Didukung kebiasaan turun temurun raja-raja Matan Tanjung Pura di antaranya Sultan Muhammad Kamaluddin bergelar Penembahan Tiangtiga yang acap melaut dan terkenal di kawasan laut Asia Tenggara di akhir abad XIV," katanya.

Ditambahkannya, salah satu tradisi budaya air yang dikekalkan masyarakat nelayannya adalah adat Bebuang disamping tradisi Cuci Naga di Keraton, adat Anjung di Sambas, Robok-Robok di Mempawah, Tumpak Negeri di Landak dan Menyapat Kampung di Ketapang. "Semua tradisi ini melambangkan upaya menjaga keseimbangan alam agar tetap mampu memberikan yang terbaik bagi kehidupan," katanya.

Sumber : www.kutaikartanegara.com

Pesona Kampung Raja di Sintang

Konon, asal-usul Kerajaan Sintang bermula dari kedatangan seorang tokoh penyebar agama Hindu dari Semenanjung Malaka (ada pula yang mengatakan berasal dari Jawa) bernama Aji Melayu. Ia datang ke daerah Nanga Sepauk (sekitar 50 km dari Kota Sintang) pada abad ke-4 dan mendirikan perkampungan baru di tempat itu. Bukti-bukti kedatangan Aji Melayu dapat dilihat dari temuan arkeologis berupa Arca Putung Kempat dan batu berbentuk phallus yang oleh masyarakat setempat disebut ‘Batu Kelebut Aji Melayu‘. Putung Kempat adalah istri Aji Melayu yang kemudian menurunkan raja-raja di Sintang. Di daerah ini juga ditemukan batu yang menyerupai lembu serta makam Aji Melayu.

Pendirian Kerajaan Sintang dilakukan oleh Demong Irawan, keturunan kesembilan Aji Melayu, pada abad ke-13 (+ 1262 M). Demong Irawan mendirikan keraton di daerah pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Kapuas (yaitu di Kampung Kapuas Kiri Hilir sekarang). Mulanya daerah ini diberi nama senetang, yaitu kerajaan yang diapit oleh beberapa sungai. Lambat laun penyebutan senetang kemudian berubah menjadi sintang. Sebagai lambang berdirinya kerajaan itu, Demong Irawan yang memakai gelar Jubair Irawan I menanam sebuah batu yang menyerupai buah kundur. Batu yang kini berada di halaman Istana Sintang ini oleh masyarakat setempat dianggap keramat dan memiliki tuah.

Pada masa Kerajaan Sintang Hindu, Istana Sintang dibangun berdasarkan arsitektur rumah panjang, rumah khas masyarakat Dayak. Namun, setelah Kerajaan Sintang menganut agama Islam, terutama pada masa pemerintahan Raden Abdul Bachri Danu Perdana, dibangunlah gedung istana yang baru dengan nama Istana Al Mukarrammah. Istana ini dibangun pada tahun 1937 dengan arsitek seorang Belanda. Konstruksi bangunannya masih menggunakan struktur rangka kayu, tetapi dengan pondasi tiang bersepatu beton. Atap istana yang terbuat dari sirap kayu belian juga diperkuat dengan plafon dari semen asbes. Demikian pula dinding istana dilapisi dengan semen setebal + 3 cm. Sampai saat ini, kompleks Istana Sintang masih terawat dengan baik.

Di sebelah barat istana, terdapat bangunan masjid dengan nama Masjid Jamik Sultan Nata Sintang. Di bagian muka masjid itu, terdapat jembatan penyeberangan dari kayu yang menghubungkan masjid dan istana yang dipisahkan oleh jalan beraspal. Jembatan ini dibangun untuk memudahkan raja dan kerabat istana melaksanakan shalat di masjid. Konstruksi awal masjid ini dibangun pada masa Pangeran Tunggal dengan kapasitas sekitar 50 orang. Perbaikan dan perluasan masjid kemudian dilakukan oleh penerusnya, yakni Sultan Nata pada tahun 1672 M.

Masjid Sultan Nata
Selain bangunan istana dan masjid, ciri khas kompleks istana Melayu adalah makam atau tempat peristirahatan terakhir raja. Ada beberapa makam yang dianggap penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Sintang, antara lain: Makam Aji Melayu yang terdapat di Desa Tanjung Ria, Kecamaan Sepauk (sekitar 55 km dari Ibukota Kabupaten Sintang); Makam Jubair Irawan I, raja pertama Kerajaan Sintang, yang terletak di Kelurahan Kapuas Kanan Hilir, Kecamatan Sintang (sekitar 3 km dari Kota Sintang); Makam Raja-raja Sintang di daerah Kampung Sei Durian, Kecamatan Sintang; serta Makam Kerabat Istana yang terletak di belakang Istana Sintang.

Makam Raja-raja Sintang
Dari tepian Sungai Kapuas, lansekap istana ini tampak seperti rumah besar yang anggun dengan dua bangunan pengiring di sisi kanan dan sisi kirinya. Bangunan utama terletak di bagian tengah agak ke depan, sedangkan dua bangunan lainnya mengapit di kedua sisi bangunan utama. Bangunan utama terdiri dari serambi depan, ruang tamu, ruang pribadi sultan, serta serambi belakang. Bangunan pengiring di sisi barat bangunan utama digunakan sebagai ruang istirahat dan ruang keluarga sultan, sementara yang di sisi timur difungsikan sebagai ruang tidur tamu sultan. Secara keseluruhan Istana Al Mukarrammah Sintang memiliki luas bangunan sekitar 652 m2.

Hingga saat ini, Istana Sintang masih digunakan sebagai kediaman sultan, yaitu Pangeran Ratu Sri Negara H.R.M Ikhsan Perdana yang dinobatkan pada 22 Juli 2006. Hanya saja, bangunan pengiring di sisi barat kediaman sultan saat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Kerajaan Sintang, sementara di sisi timur, selain sebagian digunakan untuk menyimpan foto dan lukisan raja-raja Sintang, juga dimanfaatkan sebagai ruang kelas Taman kanak-kanak (TK) Dara Djuanti.

Dari teras bangunan utama, wisatawan dapat memandang taman rumput yang cukup luas di halaman depan istana, juga dermaga kecil, serta pertemuan aliran Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Berbeda dengan keraton-keraton di Jawa, keraton-keraton Melayu umumnya dibangun di sisi sungai besar. Istana Kadriah Pontianak, Keraton Paku-Surya Negara Sanggau, serta Keraton Ismahayana Landak juga dibangun di tepi sungai. Hal ini menyiratkan bahwa “jalan raya” yang menjadi nadi lalu-lintas utama ketika itu adalah jalur sungai.

Selain dapat menikmati lansekap istana, para pelancong juga dapat menyaksikan berbagai macam benda-benda bersejarah di istana ini. Di halaman istana, Anda dapat menyaksikan sebuah meriam dan situs batu kundur, yaitu sebuah batu peninggalan Demong Irawan sebagai lambang berdirinya Kerajaan Sintang. Di serambi depan istana, para turis dapat melihat salinan Undang-undang Adat Kerajaan Sintang yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Nata (disalin ulang pada tahun 1939) serta silsilah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Sintang. Sedangkan pada bangunan sisi barat dan timur pengunjung dapat melihat koleksi meriam dalam berbagai ukuran, peralatan-perlatan dari logam (seperti talam, kempu, dan bokor), koleksi senjata seperti tameng dan tombak, naskah Al-Quran tulisan tangan pada masa Sultan Nata, berbagai macam stempel dan surat-surat kerajaan, serta foto-foto dan lukisan Raja-raja Sintang.

Istana ini juga masih menyimpan barang-barang hantaran Patih Logender (seorang perwira dari Majapahit) ketika meminang Putri Dara Juanti (putri Demong Irawan—pendiri Kerajaan Sintang), antara lain seperangkat gamelan, patung garuda dari kayu, serta gundukan tanah dari Majapahit.

Lokasi
Kompleks istana ini terletak di ‘kampung raja‘, yaitu sebutan lain dari Kampung Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Akses
Untuk mencapai istana ini, anda dapat menggunakan bus atau mobil sewaan dari Kota Pontianak (Ibukota Provinsi Kalbar) menuju Kota Sintang selama + 9 jam. Dari Kota Sintang, tepatnya di Terminal Pasar Durian, wisatawan dapat menumpang perahu motor untuk menyeberang Sungai Kapuas menuju istana.

Selain itu bisa langsung menggunakan kendaran darat melewati jembatan Sungai Kapuas.

Biaya Masuk
Memasuki kompleks Istana Al Mukarrammah Sintang tidak dipungut biaya. Namun, para pelancong dianjurkan untuk menyumbang dana seikhlasnya pada kotak sumbangan yang disediakan di ruang pamer koleksi istana.

Akomodasi
Kompleks Istana Sintang memiliki fasilitas berupa masjid yang lengkap dengan tempat wudu dan toilet yang dapat digunakan oleh para pengunjung masjid. Selain itu, istana ini juga memiliki taman rumput, dermaga pandang di tepi sungai, serta area parkir yang cukup memadai. Untuk keperluan yang lebih kompleks, seperti kebutuhan penginapan, rumah makan, serta belanja buah dan makanan khas Kota Sintang, para para pelancong dapat memperolehnya di Kota Sintang.

Sumber : http://www.smallcrab.com

Sejarah Perdirinya Puro Mangkunegaran

Memperingati 250 tahun berdirinya Puro Mangkunegaran tentunya tidak lepas dari perjuangan RM Said/Pangeran Sambernyawa. Beliau adalah Pendiri Praja Mangkunegaran sekaligus Pahlawan Nasional Bangsa Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Pangeran Sambernyawa berjuang di jalan Allah melawan penjajah Belanda selama 16 tahun. Dasar utama perjuangan beliau adalah mengenyahkan Belanda dari bumi Mataram dan usaha menyatukan Mataran dalam satu pemerintahan.

Perjalanan perjuangannya yang panjang dan penuh dinamika dan romantika merupakan bukti bahwa RM Said merupakan tokoh yang kokoh terhadap prinsip, pantang menyerah, yang tidak terkalahkan dalm 250 kali pertempuran. Mendiang RM Said adalah salah satu Pahlawan Nasional yang tidak terbunuh atau tertangkap selama berjuang melawan penjajah Belanda.

Kemandirian dan Sifat Kebersamaan
RM Said dilahirkan di Kartasura pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah Jimakir 1650 tahun Jawa, Windu Adi Wuku Wariagung, atau pada tanggal 8 April 1725 M. Ayahandanya adalah Kanjeng Pangeran Aryo Mangkoenagoro (Kartasura). Semasa kecil RM Said harus sudah hidup mandiri karena ibundanya meninggal pada saat melahirkan, sedang ayahandanya ditangkap dan diasingkan ke Tanah Kaap semasa RM Said berusia 2 tahun.

Akibatnya kehidupan masa kecil dilalui layaknya bukan sebagai bangsawan. Makan, minum, tidur bersama-sama anak-anak abdi dalem, bahkan tak jarang tinggal di kandang kuda. Kondisi seperti itulah yang membentuk sifat kebersamaan yang tinggi, kedekatan dengan rakyat biasa dilakukan tanpa basa-basi.

Sifat ini terus dibawa dalam perjuangan selanjutnya, bahkan dikembangkan melalui berbagai slogan untuk dipegang teguh bagi para prajuritnya. Slogan tersebut adalah Tiji Tibeh dan Manunggaling Kawulo Gusti. Tiji Tibeh merupakan singkatan dari mukti siji mukti kabeh, mati siji mati kabeh (berhasil satu berhasil semua, mati satu mati semua). Sedangkan Manunggaling Kawulo Gusti, ini adalah konsep kebersamaan antara pemimpin dan yang dipimpin maupun sesama prajurit.Â

Konsep ini juga yang dikembangkan di bidang pemerintahan sewaktu beliau menjadi KGPAA MN I. Konsep ini tertuang dalam konsep Tri Darma, yakni Rumongso Melu Handarbeni (merasa ikut memiliki), Wajib Melu Hanggondheli (berkewajiban ikut mempertahankan), dan Mulat Sariro Hangrosowani (berani melakukan instrospeksi diri).

Romantika Perjuangan
Pada tahun 1742, terjadi kemelut di Kartasura. Kraton Kartasura dikepung oleh prajurit Cina. Saat terjadi pengepungan, RM Said yang saat itu berusia 16 tahun, sempat keluar dari Istana Kartasura. Beliau pergi menuju Nglaroh Wonogiri bersama-sama sahabatnya, yang nantinya menjadi pasukan inti. Pasukan inti ini berkembang menjadi perwira-perwira yang setia yang dikenal sebagai Punggowo Baku Kawandoso Joyo.

Dari desa Pule Nglaroh inilah konsolidasi perjuangan dimulai. Di Nglaroh beliau bertemu dengan RA Patahati binti Kyai Khasan Nur Iman yang kemudian diambil sebagai istri.

RM Said bekerjasama dengan Sunan Kuning atau RM Garendi dalam melawan penetrasi Belanda terhadap pemerintahan Kraton Kartasura. Pemimpin pasukan Belanda Van Velsen berhasil dibunuh.

Di bidang spiritual keagamaan setelah kurang lebih 5 tahun berjuang, pada tahun 1747 M beliau berguru kepada uilama di Gunung Lawu yang bernama Ajar Adisana dan Ajar Adirasa.

Dalam decade selanjutnya, Pangeran Mangkubumi yang juga pamannya sendiri akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan RM Said. Pada usia 22 tahun RM Said dijodohkan dengan putrid PAngeran Mangkubumi yang bernama RA Inten. Atas dasar kebersamaan perjuangan, rasa hormat terhadap Pangeran Mangkubumi dan ketegasan bahwa prinsip perjuangan RM Said bukan sekedar kekuasaan, maka dalam suatu momentum yang baik pada tanggal 1 Sura tahun jawa 1675 (1749), Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja oleh RM Said. Kemudian selama hampir 9 tahun berjuang bersam-sama melawan kompeni Belanda di medan laga. Hal ini diceritakan dalam Babad Lelampahan, yaitu Dagboek/buku harian RM Said yang berbentuk kumpulan tembang.

Keindahan berjuang bersama antara RM Said dengan Pangeran Mangkubumi terantuk pada batu ujian. Perbedaaan sudut pandang dan strategi terjadi dengan dilaksanakannya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian antara RM Said dan Pangeran Mangkubumi (yang kemudian dikenal dengan PB III) intinya adalah untuk membagi kekuasaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesultanan dan Kasunanan. Kasultanan dipegang oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar HB I, sedangkan PB III menjadi Raja di Kraton Kasunanan. RM Said tetap istiqomah untuk melanjutkan perjuangan bersenjata.

Tiga Perang Besar
Sebelum Perjanjian Giyanti, yaitu pada tahun 1752 M telah terjadi perang besar di Ponorogo. Kendati jumlah pasukan Pangeran Sambernyawa (RM Said) lebih sedikit, tetapi dengan strategi yang jitu dan didukung sumpah setia, kebulatan tekad, ketangguhan, ketangkasan, dan keberanian para pasukannya, musuh dapat dihancurkan. Di pihak musuh 600 prajurit tewas, sedang di pihak tentara RM Said hanya 3 prajurit yang meninggal dan 29 orang luka-luka.

Peperangan dasyat lainnya adalah di Sito Kepyak Rembang. Dengan pedangnya, Pangeran Sambernyawa berhasil menewaskan Komandan Detasemen Kumpeni Belanda, Kapten Van Den Pol. Perang ini terjadi pada tahun 1756 pada saat RM Said berusia 30 tahun. Kepala sang Kapten dipenggal dan dengan tangan kirinya diserahkan kepada Garwa Ampil tercinta sebagai pelunasan janji RM Said kepadanya.

Pangeran Sambernyawa mampu menewaskan 600 orang musuh dan korban sendiri hanya 3 orang. Hasil rampasan berupa sejumlah besarm esiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 160 karabin, 130 pistol dan perlengkapan militer lainnya. Semua barang rampasan dihibahkan kepada prajuritnya.

Taktik tempurnya dengan konsep “dedemitan”, “weweludan”, dan “jejemblungan”, yang pada hakekatnya semua tindakan taktis harus dijiwai dengan pertimangan kerahasiaan yang tinggi untuk mendapatkan pandadakan,kecepatan gerak dan mampu mengecoh lawan. Keputusan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta merupakan strategi tak lazim, misterius dan tak diperhitungkan lawan, karena telah sekian lama Pangeran Sambernyawa menariklawannya di daerah hutan dan gunung. Walau diperingatkan Patih Kudanawarsa, beliau tetap tidak bergeming “Sabdo Pandito Ratu Tan Keno Wola-Wali”. Pasukannya diperintahkan bersiap sedia mati di jalan Allah.

Ternyata benteng Belanda berhasil diserang, 5 orang tentara Belanda tewas dan yang luka-luka cukup banyak. Menjelang tengah malam, Pangeran Sambernyawa memutuskan untuk mundur. Karena apabila diteruskan akan merugikan pihaknya sediri.

Walaupun pasukan RM Said tidak memperoleh kemenangan mutlak, keberaniannya menyerang benteng Belanda di tengah kota Yogyakarta menjadi bukti bahwa Pangeran Sambernyawa merupakan pemimpin dan panglima perang yang sangat ditakuti dan banyak merugikan Belanda.

Peletak dasar dan Pendiri Mangkunagaran
Atas dukungan rakyat yang setia akan perjuangan beliau dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta ajakan yang tulus dari PB III, RM Said bersama para Punggawa Baku dan bala tentaranya, memasuki nagari Surakarta pada hari Kamis 4 Jikakir 1682 Jawa atau 1756 M. Pada akhir perjuangan bersenjata beliau, jelas tercermin keteguha sikap yang jauh dari kelemahan seorang pemimpin.

Selanjutnya beliau mendirikan Istana di pinggir Kali Pepe. Tempat itulah yang sampai sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunagaran. Mulai saat itu konsentrasi perjuangan beliau terfokus dibidang pembangunan pemerintahan, politik, ekoomi, budaya, spiritual keagamaan dan kesejahteraan rakyat.

Pangeran Sambernyawa memerintah Praja selama 40 tahun, sejak 24 Februari 1757 hingga 28 Desember 1795, dengan gelar Mangkoenagara I. Sifat kebersamaa yang tertempa sejak kecil ternyata mewarnai Sabda Dalem pada awal peerintahannya sekaligus sebagai peneguhan atas rasa setia kawan dan prasetya dengan para Punggawa Baku, dengan amanat beliau sebagai berikut.

“Bumi Mangkunagaran ini padha melu handharbeni lan padha di pangan ing anak putu mburi, yen turuku ora mikir nganti dadi rusaking turun punggawa ora dak pangestoni”

Sebaliknya para Punggawa Baku juga berikrar sumpah setia kepada Yang Jumeneng.

Selanjutnya sebagai bentuk pengakuan kedaulatan dilaksanakan perjanjian damai di Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757, yang melibatkan Sunan Hamengkoe Boewono I dan Kumpeni Belanda.

Mangkunagaran berdaulat pada territorial seluas 4000 karya terbetang mulai daerah Keduang, Laroh, Matesih, Wiroko, Hariboyo, HOnggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan selatan serta Kedu. RM Said kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mangkoenagoro I. Dari hasil perjanjiang tersebut juga mewajibkan Kompeni membayar semacam pajak kepada Mangkunagaran sebesar 4000 real per tahun. Sebuah hasil negosiasi yang hebat.

Baik pada masa perjuangan bersenjata maupun sebagai Kelapa Pemerintahan Praja Mangkunagaran beliau dikenal sebagai : ahli strategi, politikus, negarawan, ekonom kerakyatan yang ulung, dan berwawasan jender. Hal ini dibuktikan dengan memberi peran di berbagai bidang kepada perempuan antara lain menjadi prajurit yang handal. Beliau seorang pemimpin yang sangat religius, muslim sejati. Beliau juga telah menulis Al-Quran 30 juz sampai delapan kali.

Melalui Keppres RI No. 048/TK/tahun 1988 mendiang Paneran sambernyawa dianugrahi Bintang Mahaputra Adipurna (Kelas I) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kekerabatan Mangkunegaran sebagai wujud kemanunggalan dinasti Mangkunagoro dan Trah Punggawa Baku Mangkunagoro I, sekarang telah genap berusia 250 tahun.

Semenjak Proklamasi Kemerdekaan RI, Mangkunegaran menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sri Paduka MN VIII atas nama rakyat dan keluarga Mangkoenagoro menyatakan bahwa Mangkunagaran merupakan Daerah Istimewa dari RI sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UUD 1945. Presiden RI Ir. Soekarno menetapkan bahwa Sri Paduka MN VIII tetap dalam kedudukanya, dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka MN VIII akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa, raga untuk keslamatan daerah Mangkunagaran sebagai bagian dari RI.

Situasi politik yang menimbulkom komdisi sangat gawat, mendorong Presiden RI mengeluarkan PP 16/SD pada tanggal 15 Juli 1946. Daerah Kasunanan dan Mangkunagaran “untuk sementara waktu” menjadi suatu Karisidenann dengan dipimpin oleh seoran Residen.

Di bawah kpemimpinan Sri Paduka Mangkoenagoro IX, Puro Mangkunagaran sekarang menjadi salah satu Pusat Budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan. Berbagai asset budaya warisan para leluhur, baik berupa bangunan fisik, filosofis, seni dan budaya perlu kita kembangkan sebagai bagian dari asset nasional. “Senajan kari mung sak megaring payung, padha gondhelono”. Begitu pesan Sri Paduka Mangkoenagoro I kepada kita semua.

Sumber : http://www.karanganyar.com

keraton sumenep Dan Peninggalannya


Gambaran umum orang Madura yang keras dan kasar, tidaklah seluruhnya benar. Bila Anda melakukan perjalanan ke ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, wajar jika tidak percaya kalau sedang berada di Pulau Madura.

Orang Sumenep terkenal sopan dan tutur katanya lembut. Gambaran orang Sumenep yang berbeda dengan gambaran orang luar terhadap masyarakat Madura pada umumnya ini, erat kaitannya dengan posisinya yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Madura pada zaman kerajaan pada abad XVIII sampai awal abad XX.Dari asal-usulnya, kaum ningrat Sumenep merupakan keturunan Jawa. Raden Tumenggung Kanduruan yang mulai memerintah Kerajaan Sumenep pada tahun 1599, adalah putra Raden Patah dari Kerajaan Demak. Sejak saat itu, Kerajaan Sumenep dipimpin oleh keturunan Raden Tumenggung Kanduruan hingga wafatnya Raja Sumenep yang terakhir pada tahun 1929, Raden Tumenggung Prabuwinoto.

Kalau boleh dibandingkan, Sumenep bagi orang Madura sama dengan Yogyakarta (Jogja) bagi Orang Jawa. Sumenep juga mempunyai sejumlah objek wisata yang serupa dan semenarik Jogja.

Andalan wisata sejarah Kabupaten Sumenep adalah Keraton Sumenep. Keraton ini selesai dibangun tahun 1762 pada zaman pemerintahan Panembahan Sumolo. Keraton yang terletak di belakang rumah dinas bupati saat ini, mempunyai arsitektur yang merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, Cina, dan Eropa. Hal itu membuktikan bahwa Sumenep pada zaman itu merupakan kota dengan penduduk yang heterogen.

Berbeda dengan keraton-keraton yang ada di Jawa, seperti Kasultanan dan Pakualaman di Jogja, Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo, atau Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon, Keraton Sumenep tidak lagi menjadi tempat tinggal raja atau keturunan raja.

Pendopo Agung Keraton Sumenep hanya dipakai sebagai tempat dilangsungkannya acara-acara kabupaten, seperti penyambutan tamu negara, serah terima jabatan kepala pemerintahan, serta acara kenegaraan lainnya.

Di sebelah kiri Pendopo Agung, terdapat Taman Sare, yaitu tempat pemandian putri dan istri-istri raja. Meski airnya sudah tidak jernih lagi, namun pemandian ini masih terlihat indah dan asri.

Taman Sare mempunyai tiga tangga, masing-masing mempunyai mata air. Ketiga tangga yang menuju kolam tersebut, dipercaya masyarakat Sumenep mempunyai kekuatan tersendiri.

Orang atau pengunjung yang mandi di tangga pertama, dipercaya akan awet mudah dan mudah mendapat jodoh. Bagi yang mandi di tangga kedua, diyakini pekerjaan atau usahanya akan sukses. Sebagai pelengkap, tangga ketiga diyakini akan menambah kekuatan iman seseorang.

Berdampingan dengan Taman Sare, hanya dibatasi tembok yang tingginya sekitar dua meter, terdapat Labang Mesem (pintu tersenyum). Dinamakan Labang Mesem karena di pintu bertingkat yang lebih menyerupai pos penjagaan ini merupakan tempat raja melihat permaisuri yang sedang mandi di Taman Sare. Karena senang dengan keindahan pemandangan yang ada di Taman Sare, Sang Raja tersenyum kegirangan.

Ramuan Madura
Masih di sekitar keraton, terdapat museum. Museum ini terbagi menjadi tiga bagian, satu di luar keraton dan dua lainnya berada di dalam kompleks keraton. Bagian pertama yang hanya dipisahkan jalan umum selebar 15 meter dengan keraton, terdapat koleksi kereta kencana Kerajaan Sumenep serta kereta pemberian Ratu Inggris pada zaman Raja Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Raja Sultan Abdurrahman yang merupakan putra dari Panembahan Sumolo, selain sastrawan, juga dikenal karena kemampuannya menguasai bahasa, di antaranya Inggris, Belanda, Arab, Sansekerta, dan Jawa Kuno.

Bagian kedua dan ketiga, terdapat di dalam kompleks keraton. Di bagian ini, terdapat koleksi alat-alat upacara mitoni, acara tujuh bulan kehamilan keluarga raja, senjata-senjata kuno seperti keris, clurit, pistol, pedang, bahkan semacam samurai dan baju besi untuk perang. Yang menarik, pada bagian yang menyimpan tentang alat-alat meracik jamu ramuan Madura, pengunjung museum juga bisa membeli jamu ramuan Madura kepada pemanduyang menyertai pengunjung sejak berada di museum luar.

Menurut Hasan (40), pemandu wisata, kegiatan meracik jamu Madura dengan menggunakan alat-alat seperti yang ada di museum, sampai sekarang masih dilakukan. Meski tidak banyak yang melakukan, tradisi peninggalan leluhur itu, sampai kini masih tetap dijaga kelestariannya.

Museum dalam juga menyimpan koleksi-koleksi, seperti Al Qur’an yang ditulis Sultan Abdurrahman, guci dan keramik dari Cina, sampai fosil tulang ikan paus yang terdampar di perairan Sumenep pada tahun 1977.

Tidak jauh dari keraton, terdapat Mesjid Agung Sumenep yang tidak kalah indah dengan keraton. Mesjid yang dulu dikenal dengan nama Mesjid Jamik ini, arsitekturnya juga perpaduan antara Islam, Cina, dan Eropa. Tak mengherankan bila arsitektur Mesjid Agung sama dengan Keraton Sumenep karena mesjid ini juga dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo pada tahun 1763.

Di beberapa bagian mesjid, dapat dijumpai ukir-ukiran dan kaligrafi. Karena begitu luasnya, tak jarang Mesjid Agung dijadikan tempat menginap bagi wisatawan luar kota.

Ziarah
Untuk wisata ziarah,sekitar 2,5 km arah barat laut pusat Kota Sumenep, terdapat kompleks makam raja Sumenep dan keturunannya yang disebut Asta Tinggi. Kompleks makam ini sangat menonjol karena gapuranya yang tinggi, masih dengan arsitektur campuran Islam, Cina, dan Eropa, tampak begitu indah.Letaknya yang menjulang di atas sebuah bukit, mengingatkan kita dengan objek wisata di Paris, Montmartre dengan basilikanya.

Asta Tinggi dikelilingi pagar tembok dari batu kapur yang tersusun rapi tanpa perekat, baik itu campuran semen dan pasir maupun pasir dan kapur. Di dalam Asta Tinggi terdapat cungkup atau kubah mirip sebuah mesjid yang dihiasi ukir-ukiran kayu tradisional Sumenep.

Selain Asta Tinggi, Sumenep juga mempunyai makam orang-orang penting seperti makam penyebar agama Islam Sayyid Yusuf, di Pulau Poteran, Asta Buju’ Panaongan, Asta Katandur serta makam raja-raja lainnya, seperti Asta Jokotole, Asta Belinge dan Asta Adipoday yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah kabupaten.

Seperti umumnya kabupaten-kabupaten di Pulau Madura lainnya, di Sumenep juga terdapat Karapan Sapi.Lomba adu cepat sapi ini diperkenalkan oleh seorang penyebar agama Islam, Syech Achmad Baidawi.

Sambil menyebarkan agama Islam, beliau juga mengajarkan bagaimana caranya mengolah sawah atau lahan pertanian dengan menggunakan bantuan tenaga dua ekor sapi yang dipasangi perangkat dari bambu.Rangkaian pekerjaan menggarap sawah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Karapan Sapi. Karapan Sapi berskala nasional biasanya diadakan bulan Oktober di Lapangan Serbaguna Giling Sumenep

Kasur Pasir
Kalau Jogja mempunyai Pantai Parangtritis, Pantai Baron, dan Pantai Samas, Sumenep mempunyai pantai yang tak kalah indah, Pantai Slopeng dan Pantai Lombang. Kedua pantai tersebut terletak di bagian utara, menghadap Laut Jawa. Posisi itu menjadikan Slopeng dan Lombang tempat yang tepat untuk menyaksikan indahnya Sang Surya terbit di ufuk timur.

Pantai Slopeng terletak sekitar 21 km arah utara Sumenep. Lokasinya mudah dijangkau karena terletak di jalur utama pantai utara Pulau Madura. Selain keindahan perbukitan pasir putih yang membentang sepanjang pantai, Slopeng juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga seperti perahu layar dan selancar angin.

Pantai Lombang terletak sekitar 30 km timur laut Sumenep, tepatnya di Kecamatan Batang-Batang. Pantai ini selain terkenal pasir putihnya yang terhampar sepanjang 12 km, juga karena ditumbuhi pohon langka, Cemara Udang. Cemara yang di sepanjang jalan menuju pantai banyak dibonsai untuk oleh-oleh ini, di dunia hanya tumbuh di Cina dan di Pantai Lombang.

Masih di Kecamatan Batang-Batang, terdapat objek wisata yang sangat unik, rumah berkasur pasir. Masyarakat yang berada di Desa Legung Timur dan Legung Barat mempunyai kebiasaan tidur di atas pasir. Mereka percaya, kasur pasir dapat memberi kesejukan pada musim panas dan memberi kehangatan pada musim penghujan. Selain itu, dengan tidur di atas kasur pasir, masyarakat setempat yakin bakal terlindung dari penyakit dan kebal terhadap praktik ilmu hitam seperti santet.

Selain kedua pantai ini, Kabupaten Sumenep yang wilayahnya meliputi gugusan Kepulauan Kangean, juga mempunyai objek wisata taman laut yang tidak kalah dengan Bunaken Di Manado Sulawesi Utara dan Takabonerate Sulawesi Selatan, yaitu Taman Laut Pulau Mamburit.Meski terletak di Kabupaten Sumenep, taman laut ini sebenarnya juga bisa dijangkau dari Probolinggo dan Situbondo di Pulau Jawa.Sayang, tak ada sarana transportasi (kapal) dari Pulau Jawa untuk menjangkau Taman Laut Pulau Mamburit.

Pulau Kangean juga memiliki ayam bekisar, ayam hasil persilangan antara ayam betina jenis buras dan ayam hutan jantan yang dijadikan Maskot Pariwisata Provinsi Jawa Timur untuk jenis fauna. Keistimewaan ayam bekisar terletak pada kokok merdu dan keindahan bulunya.

Pembuatan Garam
Tak lengkap rasanya kalau mengunjungi Madura yang juga dikenal dengan Pulau Garam ini, tanpa mengunjungi sentra pembuatan garam di Desa Karanganyar, Kalianget. Meski garam sangat akrab dengan kehidupan kita, tidak banyak rasanya di antara kita yang tahu proses pembuatan garam.

Pembuatan garam dimulai dengan pemetakan tanah, kemudian diisi air laut dengan kadar garam rendah. Setelah beberapa hari didiamkan, air laut dari beberapa petak digabungkan sampai mencapai kadar garam 21 persen. Setelah itu, air tersebut didiamkan sampai terbentuk kristal-kristal garam yang siap dipanen.

Setelah dipanen, garam yang terkumpul membentuk bukit-bukit garam berwarna putih. Sungguh, sebuah pemandangan yang sangat indah di tengah teriknya sinar matahari ditambak-tambak garam. Setelah terkumpul, garam kemudian di bawa ke pabrik untuk iodiumisasi.

Masapembuatan garam biasanya pada musim kemarau antara Mei sampai November. Karena itu, tidak mungkin bagi wisatawan untuk bisa mengetahui proses pembuatan garam sepanjang tahun. Tak ada salahnya, Pemkab Sumenep atau PT Garam yang mempunyai kantor di Kalianget, membuat miniatur proses pembuatan garam.

Batik Madura
Sumenep juga punya industri batik. Desa Pakandaran, Kecamatan Bluto merupakan sentra industri batik dengan proses pembuatan, teknik, dan motif yang khas Madura. Ciri batik Madura terletak warnanya yang tegas, dengan dominasi warna merah, hijau, atau hitam.

Desa Pakandaran tidak sulit dijangkau. Desa ini hanya masuk 500 meter dari jalan raya Pamekasan-Sumenep. Namun sayang, meski dikenal sebagai sentra industri batik, warga Desa Pakandaran banyak yang mengurangi kegiatan membatiknya dan beralih memanen tembakau saat musim panen tiba.

Mungkin aneh jika di Sumenep ada pusat pembuatan keris, karena senjata khas orang Madura yang sudah dikenal kalangan luas adalah clurit. Namun, jika kita kembali ke awal tulisan ini bahwa raja-raja Sumenep adalah keturunan Jawa, keanehan itu tak perlu terjadi. Pusat kerajinan keris ini terdapat di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi.

Meski Sumenep bekas kerajaan yang juga menjadi pusat kebudayaan Madura, namun kesenian rakyat seperti topeng dalang juga tumbuh subur walau jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dalam pementasannya, pemain seni tradisional topeng dalang yang memainkan kisah-kisah pewayangan, menggunakan topengyang banyak dibikin di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk dan Desa Karduluk Kecamatan Pragaan.

Kalau mau ditulis semua, masih banyak objek-objek wisata menarik lainnya yang ada di Sumenep. Dari sini saja, sudah jelas bahwa Sumenep mempunyai potensi wisata yang sangat besar. Sumenep bisa menjadi kota tujuan utama wisata di Madura, sama halnya dengan Jogja di Pulau Jawa. Hanya saja, potensi wisata yang menakjubkan itu, tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

Keraton Kanoman Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Cirebon


Keraton atau kraton (bahasa Jawa) adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata kraton berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu berkerabat dengan kata dalam bahasa Melayu; datuk/datu. Masyarakat Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan.

Keraton Kanoman merupakan salah satu dari tempat keraton di Cirebon. Awal munculnya Keraton Kanoman merupakan hasil perpecahan dari Kasultanan Cirebon. Keraton Kanoman didirikan oleh putra Panembahan Girilaya (Pangeran Karim) yaitu Pangeran Kartawijaya dengan gelar Sultan Anom Adil Makarimi Muhammad Badridin tahun 1677-1723. Sultan Badridin (Sultan Kanoman I) merupakan turunan ke-7 dari Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Adapun prasasti tahun berdirinya Keraton Kanoman terdapat pada pintu Pendopo Jinem yang menuju keruangan Prabayaksa. Pintu tersebut terpahat gambar angka Surya Sangkala dan Candra Sangkala, yang berarti Keraton tersebut didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi (http// id. Wikipedia. Org/ wiki / Kasultanan Cirebon ).

Keraton Kanoman sebagai sebuah tempat pariwisata memiliki beberapa potensi yaitu dibidang budaya dan keunikan bangunan Keraton Kanoman sendiri.

Bangunan-bangunan dalam keraton kanoman misalnya
a. Masjid Agung Kanoman

Masjid Agung Kanoman merupakan tempat dimana keraton menjalankan salah satu fungsinya sebagai pusat penyebaran Islam. Dalam masa sekarang ini, masjid tersebut masih dipergunakan sebagai sarana ibadah umat Islam di sekitar keraton serta sebagai tempat penyelenggaraan upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan langgar keraton masih difungsikan masyarakat sekitar terutama bagi wisatawan untuk beribadah.

b. Kompleks Siti Inggil
Kompleks Siti Inggil ialah dataran tanah yang lebih tinggi di bandingkan dataran tanah dari bangunan-bangunan yang ada di sekitar Kanoman terdapat tiga buah pintu apabila kita akan memasuki Kompleks Siti Inggil yaitu :

· Pintu Syahadatain, yaitu Pintu masuk yang menghadap Utara.
· Pintu Kiblat, yaitu Pintu yang menghadap Barat.
· Pintu Sholawat, yaitu pintu masuk yang menghadap ke Selatan.

Didalam komplek Siti Inggil sendiri terdapat dua bangunan yaitu :
· Mande Manguntur, yaitu tempat palungguhan Sultan apabila menghadiri dan menyaksikan upacara sakral dan menyampaikan berita atau wejangan kepada masyarakat.

· Bangsal Sekaten, terletak di sebelah Mande Manguntur yang berfungsi khusus untuk pementasan Gamelan Pusaka yaitu gamelan Sekaten tiap tanggal 8 sampai dengan 12 Maulid setiap tahunnya.

Kompleks Siti Inggil di Keraton Kanoman memiliki makna filosofis yang sangat tinggi dalam bidang keagamaan, khususnya agama Islam. “Apabila seseorang ingin mencapai derajat yang tinggi, maka kita harus membaca Syahadat sebagai syarat muslim, menghadap kiblat dengan melakukan sholat sebagai salah satu kewajiban muslim, dan senantiasa bersholawat dengan melaksanakan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin muslim”.(diktat sejarah singkat Kasultanan Kanoman Cirebon:6).

c. Bangsal Semirang
Bangunan ini terletak di sebelah Barat Kebon Raja yang penuh dengan ornament dan hiasan taman seperti wadasan dan mega mendung, yang merupakan motif nisan makam di Troloyo Jawa Timur yang kemudian dikembangkan dan mencapai bentuk yang lebih jelas, hingga akhirnya munculah seni dekoratif motif awan khas Cirebon. Tempat ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para seniman dan budayawan untuk mencari inspirasi dan tempat berdiskusi, karena tempat ini penuh dengan ornament dan hiasan taman.

d. Bangunan Garuda Mangkur.
Bangunan ini terletak di sebelah Selatan Langgar Keraton, Berfungsi sebagai garasi kendaraan Sultan. Diatas bangunan ini terdapat lonceng perunggu pemberian Gunernur Raffles. Lonceng ini dahulunya digunakan sebagai alat penentu waktu, tetapi sejak sekitar tahun 1950 lonceng ini sudah tidak digunakan lagi karena mengalami keretakan.

e. Bangsal sekaten
Bangunan ini terletak di sebelah Mande Mnguntur yang berfungsi khusus untuk pementasan gamelan pusaka yaitu Gamelan Sekaten, pementasan ini dilakukan setiap tanggal 8-12 Maulid Nabi. Bentuk Bangsal ini persegi panjang dengan kontruksi Malang Semirang dan memiliki rongga resonansi sehingga apabila gamelan dibunyikan memiliki gema suara yang khas.

f. Gedung Museum Keraton Kanoman
Sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Kesultanan Kanoman dan sebagai sumber informasi sehingga generasi sekarang masih dapat menikmati dan mengambil makna dengan adanya berbagai peninggalan tersebut. Bangunan-bangunan dan benda-benda yang masih berdiri dapat menjadi lambang kekuasaan dan gambaran kejayaan Kesultanan Kanoman yang bisa kita jadikan semangat perjuangan dan cinta tanah air.

g. Kereta Paksi Naga Liman
Kereta ini merupakan kereta kebesaran Sri Sultan yang digunakan untuk menghadiri upacara kebesaran. Kereta ini merupakan gagasan dari Pangeran Losari (P. Pulasaren) pada tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi. Paksi Naga Liman ini memiliki arti sebagai suatu simbol beberapa unsur kekuatan yaitu; udara, air, dan tanah sehingga dengan ketiga unsur tersebut difungsikan didalam unsur kekuatan pertahanan negara.

h. Kereta Jempana
Kereta ini digunakan khusus bagi permaisuri. Jempana dari bahasa Cirebon “Jemjeming Pangagem Manahayang” yang artinya teguh dalam hati. Pemrakarsa kereta ini adalah Pangeran Losari pada masa Pemerintahan Ratu Cirebon I. Pada kereta ini terdapat ukiran inti dari patran Cirebon, selain itu terdapat juga pada bagian dasar tempat duduk dengan ukiran wadasan berpatran klungson (biji asem). Sedangkan pada bagian atas dari tempat duduk terdapat besi yang menyerupai payung dengan patran ukiran Mega Mendung.

i. Kursi Gading
Kursi Gading ini adalah kursi singgasana Sultan yang terbuat dari Gading, yang berusia lebih dari 700 tahun. Kursi Gading ini adalah singgasana dari kerajaan Pajajaran yang diperuntukkan bagi Putra Mahkota Pajajaran yaitu Pangeran Walangsungsang. Kursi ini digunakan pada awal pemerintahan Kesultanan Cirebon hingga Sultan Kanoman VIII, karena kondisinya yang telah mulai rusak maka mulai sultan kanoman IX kursi ini dimusiumkan. Kursi ini merupakan satu-satunya yang masih ada di Indonesia dari peninggalan Kerajaan besar.

Tradisi adalah adat istiadat atau hal lainya yang menjadi kebiasaan turun-temurun dan selalu dilaksanakan dalam kehidupan. Beberapa upacara dan tradisi Kasultanan Kanoman ialah :

a. Siraman Gong Sekati
Menjelang peringatan Maulud Nabi Muhammad, Keraton Kanoman Cirebon menggelar ritual Siraman Gong Sekati. Seperangkat alat gamelan dan gong dikeluarkan dari tempat penyimpanan di gedung jimat kemudian dibawa menuju langgar alit di kompleks Keraton Kanoman oleh abdi dan kerabat Keraton. Gong Sekati merupakan salah satu pusaka Keraton Kanoman peninggalan abad ke-15. Proses siraman dimulai dari Gong tertua, seluruh perangkat gamelan disiram dan dibasuh. Proses penyiraman hanya boleh dilakukan oleh keturunan kerabat Keraton Kanoman dari Desa Sindang Kasih, Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Setelah penyiraman, perangkat gamelan digosok dengan sabut kelapa serta abu gosok dari batu merah. Air bekas siraman diperebutkan oleh para pengunjung karena dipercaya membawa berkah. Usai proses siraman, Gong Sekati dibawa ke Bangsal sekaten. Di tempat tersebut Gong Sekati mulai dibunyikan setiap malam hingga malam puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad atau sering disebut Malam Panjang Jimat.

b. Cuci Jimat Tradisional
Dalam penyambutan 1 Suro, di Kasultanan Kanoman menggelar Cuci Jimat Tradisional. Hal itu dilakukan secara bertahap antara tanggal 1 sampai tanggal 10 Suro. Pencucian biasanya dipimpin oleh Lurah Dalem yang mengurusi masalah internal Keraton. Proses pencucian tidak diperbolehkan menggunakan zat kimia, diharuskan menggunakan ramuan tradisional, seperti campuran jeruk nipis dan air kelapa. Sebelum dicuci jimat-jimat direndam selama 2 hari sampai 1 minggu. Setelah perendaman, pusaka atau jimat-jimat dimandikan dengan air kembang tujuh rupa.

c. 1 Muharram / Suro
Peringatan 1 Suro atau 1 Muharram di Cirebon melibatkan dua keraton utama, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Dalam meramaikan 1 Suro diadakan pergelaran “Helaran Budaya” yang digelar di balai kota, dua hari menjelang 1 Muharram. Helaran menyajikan pertunjukan sendratari kolosal “Babad Cirebon” yang berlangsung satu jam. Drama diakhiri dengan penancapan “Pohon Witana”. Setelah itu dilakukan pawai prajurit Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

Keraton juga menggelar sejumlah acara ritual dalam memperingati malam 1 Suro. Misalnya Kanoman, satu hari menjelang 1 Muharram diadakan khitanan masal bagi anak-anak warga sekitar. Anak-anak tersebut dibekali dengan baju kampret, peci,sarung, sandal makanan dan uang. Sebelum khitanan masal diadakan, mereka berkunjung ke makam sunan Gunung Jati untuk membaca Sholawat dan Tahlil. Puncak peringatan malam 1 Suro yaitu pembacaan Babad Cirebon bertempat di Mande Witana. Babad tersebut menceritakan awal berdirinya kerajaan Cirebon yang dibacakan langsung oleh Sultan. Pada mulanya pembacaan Babad dilakukan di bangunan Witana, belakang Keraton Kanoman. Akan tetapi bagunan tersebut terlalu tua dan dikhawatirkan rusak maka dialihkan ke pendopo utama. Selama pembacaan naskah Babad Sultan didampingi oleh tujuh abdi, tiga orang membawa baki berisi naskah babad, tempat kemenyan, meja kecil; empat orang membawa lilin, serta didampingi oleh enam ulama sepuh. Usai pembacaan babad, acara dilanjutkan dengan persembahan nasi tumpeng kepada khalayak yang hadir.

d. Maulid Nabi Muhammad
Di Keraton Kanoman Cirebon tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad berlangsung sejak lima abad yang lalu, ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam. Maulid merupakan hajatan besar setiap tahun yang melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat umum diluar Keraton serta penyediaan makanan dalam jumlah besar yang berlangsung di bangsal Sekaten. Maulid menjadi hari istimewa, karena banyak bagian-bagian di keraton yang tertutup rapat terbuka untuk umum. Proses Maulid Nabi terdapat pemotongan dua ekor Kerbau, dagingnya dihidangkan kepada para tamu dan kepalanya ditanam di dua penjuru gerbang Keraton. Kurban Kerbau ini adalah rasa ungkapan syukur dan kepalanya ditanam di alun-alun sebagai penguat atau memperkokoh keraton supaya keraton selulu ingat kepada rakyat.

Tradisi Maulid Nabi menjadi kesempatan emas untuk bertemu dengan Raja. Pada upacara tersebut, wanita sibuk membuat wangi-wangian dari aneka macam bunga yang harum yang akan ditaburkan disetiap piring besar saat arak-arakan Panjang Jimat. Sedangkan keluarga dan abdi dalem akan bersiap-siap membawa benda pusaka dan makanan ke Sultan untuk meminta restu.

Puncak peringatan Maulid Nabi yaitu Panjang Jimat. Adapun prosesi dari panjang jimat tersebut, yaitu arak-arakan nasi tujuh rupa atau nasi jimat yang melambangkan hari kelahiran manusia. Nasi diarak dari bangsal jinem yang merupakan tempat sultan bertahta, ke masjid atau mushola keraton. Nasi jimat diarak dengan pengawalan barisan abdi dalem yang membawa simbol-simbol sebagi lambang. Barisan pengiring nasi jimat ini berupa: pembawa lilin, bertujuan sebgai penerang yang kemudian diikuti dengan iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti manggaran, nadan, jantungan yang merupakan lambang dari kebesaran dan keagungan. Barisan selanjutnya ialah pembawa air mawar dan kembang goyang lambang dari air ketuban sebelum bayi lahirdan usus atau ari-ari yang mengakhiri kelahiran. Disusul oleh iring-iringan pembawa air serbat yang disimpan di 2 guci (lambang darah saat bayi lahir) dan 4 baki (lambang 4 unsur dalam diri manusia: angin tanah, api dan air).

Prosesi bergerak dari keraton menuju Masjid Agung peninggalan Sunan Gunung Jati dan berlangsung dengan khidmat, semua warga berhenti melakukan kegiatanya dan prosesi berakhir ditempat ini. Patih dan semua Sesepuh membacakan kitab Barzanzi yang berisi sejarah Nabi, agar masyarakat mau mencontoh kebajikan yang dilakukan Nabi semasa hidupnya. Masyarakat diluar setia menunggu hingga larut malam dengan harapan kebagian makanan sesaji atau kepingan, setelah acara pembagian.

e. Kesenian Gembyung
Gembyung merupakan salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung juga dilaksanakan di Keraton Kanoman. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat upacara kegiatan Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban, dan Kegitan 1 Suro. Sesuai perkembanganya Gembyung tidak hanya dipertunjukan dalam acara Islam saja akan tetapi juga dalam acara kelahiran bayi, khitanan, dan perkawinan. Kesenian Gembyung telah dipengaruhi oleh Seni Tarling dan Seni Jaipongan. Lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung diantaranya lagu-lagu Shalawat Nabi, Shalawat Badar, dan para pemain mengenakan baju kampret, memakai peci dan sarung.

Sumber : http://roinadewina.blogspot.com
Photo : http://www.gfmcirebon.com

Keraton Kasepuhan Cirebon Dan Keraton Kanoman

Cirebon berasal dari kata cai dan rebon. Maksudnya tidak lain adalah terasi yang dibuat dari rebon (udang kecil). Pada suatu ketika rombongan tamu dari Raja Galuh berkunjung ke Cirebon. Para utusan itu merasa puas dengan hidangan yang disediakan tuan rumah. Suguhan tersebut dimasak dengan bumbu terasi. Sesampainya di Rajagaluh, mereka memperkenalkan oleh-oleh berupa terasi kepada saudara dan tetangga yang diterima dengan senang hati. Hal ini sampai ke telinga Raja, sehingga mereka diminta untuk menghadap Raja dan mempersem bahkan oleh-oleh terasi tersebut. Para abdi memasak terasi tersebut menjadi hidangan istimewa. Maka sejak itu Raja menyuruh penduduk Galuh untuk berdagang dengan Cirebon terutama terasi.

Keraton-keraton yang berada di Cirebon telah menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon sejak abad 13 hingga sekarang, mulai dari terbentuknya Kesultanan Cirebon hingga terbagi menjadi empat kepemimpinan seperti sekarang. Sejarah tersebut dapat terceritakan kembali secara detail saat kita mengunjungi setiap keraton yang terdapat di Cirebon. Setiap situs yang tertinggal di keraton-keraton ini memiliki falsafah yang luhur yang (semestinya) mampu menjadi potensi filosofis sebuah kota untuk maju dan berkembang. Namun sangat disayangkan, pada saat ini daerah kesultanan justru menjadi daerah yang tertinggal dalam hal pengembangan kota. Keraton menjadi sebuah tengaran (landmark) hanya dalam pengertian tengaran dalam sejarah panjangnya, namun dalam pengertian fisik bangunan tengaran di dalam kota, Keraton tidak cukup kuat lagi keberadaannya. Tertutup oleh bangunan-bangunan lain yang menyembunyikan keberadaan keraton yang dulunya pusat sebuah kota bernama Cirebon. (Keraton Kasepuhan tertutup oleh bangunan-bangunan perumahan yang mengelilinginya, Keraton Kanoman tertutup oleh besarnya Pasar Kanoman yang juga sekaligus menjadi gerbang masuk utama menuju Keraton Kanoman).

Perkembangan perkotaan yang dirasa semakin tidak terkendali semestinya dapat dibatasi dengan perencanaan yang turut mendasarkan perkembangan beberapa bagian wilayah kota pada studi sejarah dari masa Kesultanan Cirebon hingga menjadi Kota Cirebon seperti sekarang. Kekuatan dan potensi sejarah mampu menjadi alur yang kuat untuk membawa pengembangan fisik Kota Cirebon menjadi objek wisata budaya misalkan seperti Yogyakarta yang mapan dengan Keraton, budaya dan sejarah lokalnya.

Keraton
Jika dilihat dari pengertian keraton sebagai wadah institusional kesultanan, Cirebon sebenarnya memiliki empat buah Keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan. Namun, jika keraton dilihat dalam pengertian arsitektural, yang cocok disebut sebagai (bangunan) keraton hanyalah Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, karena hanya kedua Keraton tersebut yang memiliki bagian-bagian bangunan yang seharusnya ada dalam sebuah komplek keraton, seperti alun-alun, masjid agung, siti inggil, dll (CMIIW). Sementara kedua keraton yang lain (dalam pengertian arsitektural) lebih tepat dibilang sebagai bangunan ndalem. Keempat keraton tersebut memiliki potensi dan kekurangannya masing, hal-hal tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan lingkungan sekitar keraton selanjutnya, akan dibawa kemanakah pengembangan fisik lingkungan sekitar keraton-keraton ini selanjutnya.

1. Keraton Kasepuhan
Sebagai keraton Kesultanan Cirebon yang pertama, Keraton Kasepuhan memiliki sejarah yang paling panjang dibanding ketiga keraton lainnya. Keraton ini juga memiliki wilayah kekeratonan yang terluas, wilayah Baluarti kekeratonannya mencapai lebih dari 10 Ha. Lazimnya sebuah keraton di Pulau Jawa, keraton ini terletak di selatan alun-alun dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa di barat alun-alun.

Sementara itu, penjara di utara alun-alun dan pasar di timur alun-alun sudah tidak ada lagi. Alun-alun sendiri yang seharusnya menjadi potensi sebagai ruang publik bagi masyarakat cirebon, kurang berfungsi optimal selain sebagai tempat untuk pelaksanaan tradisi di hari-hari tertentu, dan acara-acara tertentu. Selebihnya alun-alun di Keraton Kasepuhan hanya menjadi lapang kosong yang minim aktivitas didalamnya. Beberapa penjual Nasi Lengko bisa kita temui di depan Masjid Agung, namun disisi lain kondisi alun-alun relatif sepi.

Pada masa awal didirikannya Keraton Kasepuhan ini, bagian yang pertama kali dibangun adalah bangunan Keraton Pakungwati I (Jika kita ke Keraton Kasepuhan, bangunan ini terletak di bagian timur komplek Keraton). Keraton Pakungwati dibangun menghadap ke arah Laut Jawa dan membelakangi Gunung Ciremai. Bangunan ini terdapat disebelah timur bangunan Keraton Pakungwati II yang dibangun pada masa selanjutnya (bangunan Keraton yang lebih baru yang akan kita temui saat masuk melalui Siti Inggil). Banyak sejarah penting yang tersimpan di dalam keraton ini, banyak juga falsafah hidup masyarakat cirebon dulu yang dapat dipelajari di dalam keraton ini. Saat saya berkunjung kesana, saya dan kawan saya terpesona dengan setiap maksud atau filosofi yang dijelaskan oleh pemandu akan setiap bagian bangunan atau koleksi dari keraton. Misalkan: selasar menuju Bangsal Prabayaksa (singgasana sultan) yang dibuat tidak tegak lurus terhadap bagian teras depan bangunan keraton. Hal ini ternyata dimaksudkan agar apabila ada musuh menyerang, meraka tidak dapat langsung melihat dan menyerang menuju singgasana, namun dibuat membelok dan dapat lebih mudah diatasi.

Atau kerikil-kerikil yang tersebar merata ditanah disepanjang pinggir pagar yang ditujukan untuk mengantisipasi penyusup yang masuk, sebab suara kerikil akan langsung terdengar begitu ada yang menginjak dan berjalan diatasnya.

Sebuah filosofi akan kearifan dan kebijaksanaan sultan salah satunya diceritakan oleh pemandu saat menjelaskan mengenai sebuah tandu bebrbentuk makhluk berkepala burung dan berbadan ikan. “Setinggi-tingginya seorang pemimpin terbang dan berada di langit kepemimpinannya, ia tetap harus mampu melihat dan menyelami keadaan setiap rakyat yang berada dibawahnya”. Dan masih banyak lagi penjelasan yang indah akan kebijaksanaan dan kearifan yang semestinya dimiliki seorang Sultan pada setiap bagian keraton.

Perca lain dari sejarah yang tersisa adalah bangunan Lawang Sanga di bagian selatan Kerat0n, tepat di sisi Sungai Krayan. Bangunan ini merupakan bangunan kepabeanan pada masa Kesultanan Cirebon dulu, sebagai tempat bea dan cukai kesultanan cirebon dahulu kala, pada masa itu bangunan ini menjadi bangunan terpenting bagi perekonomian Kesultanan Cirebon, dimana setiap barang yang masuk dari luar kerajaan dibawa oleh perahu yang berlayar dari arah laut jawa untuk kemudiang menyusuri kali Krayan, dan memasuki Bangunan Lawang Sanga ini (saya jadi terbayang hebatnya perekonomian Cirebon pada masa itu, dengan perahu-perahu yang menyusuri kali membawa barang dagangan dari daerah-daerah lain, termasuk Arab dan Cina.

Pemugaran kawasan Kesultanan Kasepuhan ini dapat mengembalikan sejarah yang mungkin telah terlupa bagi sebagian masyarakat Cirebon saat ini. Dan menjadi potensi wisata bagi para pengunjung Kota Cirebon.

2. Keraton Kanoman
Tidak jauh dari Kraton Kasepuhan terdapat sebuah Kraton lain bernama Kraton Kanoman yang di bangun pada tahun 1588 oleh Sultan Badaruddin yang memisahkan diri dari Kesultanan utama Cirebon karena berbeda pendapat dengan saudaranya mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris Kesultanan Cirebon.

Sebagaimana umumnya Kraton di Jawa, Bangunan Kraton Kanoman seluruhnya menghadap ke utara. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya bali yang disebut dengan Balai Manguntur yang terbuat dari Batu merah. Di dekat bangunan Balai Maguntur ini terdapat sebuah pohon beringin yang berukuran besar. Fungsi bangunan ini adalah tempat kedudukan Sultan apabila menghadiri Upacara seperti apel prajurit atau menyaksikan pemukulan gamelan Sekaten pada tanggal 8 Maulid dan lain-lain. Ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa Balai Maguntur diartikan sebagai Balai mangunn tutur yang artinya tempat sultan berpidato atau berbicara kepada masyarakat tentang hukum dan agama.

Setelah melewati patung berbentuk naga, pengunjung akan sampai di bangunan Kraton Kanoman, sebuah istana yang lebih kecil ukurannya dari pada Kraton Kasepuhan. Kraton Kanoman mempunyai pendopo dengan sebuah altar didalamnya, disini terdapat koleksi piring-piring antik dari Eropa.

Kraton Kanoman juga mempunyai museum dengan pintu-pintunya yang berukir, koleksi terpenting museum ini adalah Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana dengan bentuk mirip seperti kereta pada Kraton Kasepuhan, Kereta yang terdapat di Krataon Kanoman ini di klaim sebagai yang kereta yang lebih tua. Bahkan kerata yang disebut-sebut merupakan duplikat dari kereta yang terdapat di Keraton Kanoman. Koleksi museum lainnya adalah aneka senjata seperti keris dan tombak, gamelan dan lain-lain.

Museum yang terdapat di Kraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. Pengunjung yang datang kesini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum. Selesai mengunjungi Kraton Kanoman ada baiknya anda melihat-lihat Pasar Kanoman yang terletak persis di depan Kraton.

Pada komplek Keraton Kanoman inilah pertama kali dibangun sebuah bangunan kerajaan sebelum pindah ke Pakungwati 1 di lokasi Keraton Kasepuhan, bangunan tersebut merupakan bangunan tertua di Cirebon. Komplek Keraton ini terpencil keberadaannya di tengah Kota Cirebon, tertutup oleh bangunan Pasar Kanoman di bagian utara, ruko-ruko di sepanjang jalan Lemahwungkuk yang terleta di sebalah timur Keraton Kanoman, dan bangunan perumahan permukiman di sebelah selatan dan baratnya. Bangunan Keraton nyaris tenggelam diantara bangunan-bangunan yang mengelilinginya. Padahal sebagai potensi sebuah kota, keraton ini sebaiknya mudah dijangkau oleh setiap warga kota dan wisatawan.

Seperti di Keraton Kasepuhan, alun-alun keraton yang seharusnya menjadi ruang publik yang terbuka sebagai tempat aktivitas warga saat ini kurang berfungsi secara optimal sebagai ruang publik. Alun-alun ini lebih terlihat sebagai ruang perluasan Pasar Kanoman, dibandingkan sebagai ruang depan Keraton Kanoman, kondisi yang harus segera diperbaiki dan dikembangkan fungsinya. Namun demikian pada acara-acara tradisi tertentu lapangan ini akan berubah menjadi lautan orang yang membludak ingin mengikuti tradisi seperti Muludan dan acara-acara tradisi lainnya.

Komplek Keraton Kanoman sendiri memiliki ruang yang cukup menarik sebagai tempat wisata, dengan pohon-pohon beringin yang rimbun serta taman-taman keraton yang dikelilingi benteng bata menjadi sebuah oase yang sejuk di tengah Kota Cirebon yang cukup panas. Apalagi sambil menikmati tahu gejrot yang pedas dan segar. Maknyuss. Dan lebih daripada itu, (lagi) bagian sejarah yang menyambung dari sejarah Kesultanan Kasepuhan bisa diketahui dari Keraton ini.

3. Keraton Keprabon
Keraton Keprabon terletak di Jalan Lemah Wungkung, di dekat Keraton Kanoman. Keraton ini dari segi arsitektural lebih tepat disebut bangunan Ndalem, karena Keraton Keprabon tidak memiliki struktur sebuah komplek atau bangunan keraton, tidak memiliki alun-alun, dan masjid agung, namun lebih terlihat sebagai sebuah kediaman pemangku adat (Ndalem). Akses masuk keraton ini adalah sebuah gang selebar 3 meter diantara deretan ruko. Kami sampai-sampai melewati gerbang masuknya karena tidak menyadari bahwa jalan masuk Keraton Keprabon tersebut hanya berupa gang kecil. Bangunan di dalamnya pun sangat sederhana, tidak menunjukkan kemewahan dan kemegahan sebuah keraton, lebih berbentuk rumah dengan halaman kecil didalamnya. Sebagai situs sejarah, dan bagian dari garis sejarah Kesultanan Cirebon, sesederhana apapun bentuk bangunannya, keraton ini tetap merupakan potensi yang patut dikembangkan.

4. Keraton Kacirebonan
Kesultanan Kacirebonan merupakan kesultanan pecahan dari Kesultanan Kanoman, terletak di pinggir jalan besar Pulosaren. Keraton ini memiliki aksesibilitas yang paling mudah dibanding ketiga keraton lainnya karena terletak tepat dipinggir sebuah jalan besar.
Sama seperti Keraton Keprabon, bangunan Keraton Kacirebonan tidak termasuk tipologi arsitektural bangunan keraton. Bentuk bangunannya lebih seperti bangunan pembesar pada zaman kolonial Belanda, dengan pengaruh arsitektur eropa yang kuat. Di Keraton ini terdapat sebuah sanggar tari topeng cirebon yang sudah mulai ditinggalkan. Beberapa pemuda pertukaran budaya dari Brazil sempat belajar tari topeng disini, seorang wanita dari keraton tersebut yang mengantarkan kami melihat-lihat bangunan keraton dengan bangganya memperlihatkan foto-foto para bule tersebut menari topeng. Tari Topeng Cirebon sangat khas dan menarik, sayang sekali bila harus punah dan tidak ada yang melestarikannya. Ternyata di Keraton Kacirebonan ini budaya tersebut masih terus dilestarikan dengan sanggar tarinya. Satu potensi lain dari satu keraton lain di Cirebon. Kalau ada yang bertanya mengapa Keraton di Cirebon banyak sekali itu semua terkait dengan perjalanan sejarah Kesultanan Cirebon yang juga penuh intrik dan perseteruan antar saudara (putra mahkota).

Sumber : http://www.gfmcirebon.com

Kerajaan Purba Simalungun


Sampai di mana perkembangan peradaban sebuah komunitas barangkali dapat ditelusuri lewat kebudayaanya. Dan setidaknya hal inilah yang dapat tergambarkan ketika menjelajahi Rumah Bolon di Desa Purba, Kabupaten Simalungun. Ia sekaligus menjadi bukti sejarah eksistensi Kerajaan Purba Simalungun yang sudah berdiri sejak abad ke-15.

Menjelajahi kawasan Simalungun adalah pengalaman tersendiri. Masing-masing bisa memberi kesan tentangnya. Apalagi memasuki Desa Purba, desa kecil di Kecamatan Pematang Purba Kabupaten Simalungun.

Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

Jarakanya kira-kira 140 kilometer dari Kota Medan, setelah melalui Kabupaten Karo (Berastagi – Kabanjahe – Merek). Lalu melewati persimpangan menuju Haranggaol dan tibalah Anda di desa yang mayoritas dihuni etnis Simalungun itu. Tetapi, Anda juga bisa memilih akses lain, yakni dengan melalui Kota Pematang Siantar yang jarakya hanya kira-kira 54 kilometer dari sana.

Konon, dulu Desa Purba dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan kerajaan tertua di Simalungun, yaitu Kerajaan Purba yang hingga akhir kekuasaanya, terhitung ada 14 raja yang pernah memegang tampuk kekuasaannya. Jadi jelaslah bahwa kerajaan ini bukanlah satu-satunya kerajaan yang pernah ada di wilayah Simalungun.

Sejarah mencatat, ada lima kerajaan besar yang masing-masing menguasai wilayahnya sendiri-sendiri yang di antaranya tersebar di beberapa wilayah: Siantar, Panambean, Tanah Jawa, Pematang Raya dan Purba. Wilayah ini kemudian didiami oleh marga-marga tertentu pula, seperti Saragih, Manik, Sinaga dan Purba sendiri.

Rumah Bolon Pematang Purba sendiri merupakan kediaman Raja Purba yang pertama kali diduduki Tuan Pangultop-ultop (1624-1648), yang kemudian diteruskan secara turun-temurun dengan sebuah tradisi budaya setempat. Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

“Tak diketahui siapa pembunuhnya dan apa pula motifnya,” ujar Wanson. penjaga sekaligus pemandu wisatawan, lokasi bangunan tua yang berdiri di atas lahan seluas 1 hektar itu.

Mengenai tradisi pengalihan kekuasaan, Wanson menjelaskan ada semacam tradisi pengalihan kekuasaan yang wajib dilakukan. Ketika raja hendak mewariskan kekuasaannya, diwajibkan untuk menyembelih seekor kerbau, yang lalu tanduknya disimpan agar kelak menjadi bukti untuk raja yang akan berkuasa kemudian. Setidaknya bukti sejarah itu masih dapat terlihat di mana ada 14 tanduk kerbau yang tergantung di dinding ruangan Rumah Bolon.

Lalu, apa dasar pengalihan kekuasaan itu? Seperti lazimnya dalam tradisi kerajaan yang meneruskan kekuasaan pada anak sulung, maka prinsip itu tidaklah mutlak dalam tradisi Kerajaan Purba. “Bukan harus anak sulung, tetapi siapa keturunan yang bagi raja memiliki talenta untuk menjadi pemimpin, maka ialah yang diangkat sebagai penerus kerajaan,” ujar Wanson.

Politik kekuasaan
Sebenarnya, raja yang mula-mula berkuasa di Kerajaan Purba bukanlah Tuan Pangultop-ultop, melainkan Raja Purba Dasuha. Tuan Pangultop-ultop sendiri pada awalnya hanyalah pendatang yang datang dari wilayah Dolok Sanggul yang konon disinyalir berdekatan dengan wilayah Pakpak Bharat sekarang.

Lantas, mengapa ia kemudian menjadi raja? Ini masih berdasarkan penuturan Wanson Purba, yang juga merupakan pegawai dinas pariwisata Kabupaten Simalungun yang dihunjuk untuk mengawasi bangunan tua itu. Ia menjelaskan, kedatangan Tuan Pangultop-ultop ke wilayah Purba awalnya dikarenakan kegemarannya menangkap burung yang kemudian mengantarkannya ke kawasan Purba.

Konon, suatu ketika di wilayah hutan belantara Purba, ia berhasil menangkap seekor burung Nanggordaha yang kemudian dari tembolok burung itu (terdapat biji padi dan jagung), ia mendapatkan makanannya sendiri. Ketika ia melihat bahwa Purba adalah negeri yang subur, maka ia pun memohon kepada Raja Purba Dasuha untuk diberikan sebidang tanah. Tanah itu kelak ia tanami dengan biji padi dan jagung yang ia dapat dari tembolok burung itu.

Ini jugalah yang menghantarkan Pangultop-ultop kepada kejayaan. Hasil panen yang melimpah dari sebidang tanah atas kebaikan raja itu, ia simpan di sebuah lumbung besar.

Suatu waktu muncullah masa paceklik yang mengakibatkan penduduk kewalahan mencari makanan. Mengetahui Pangultop-ultop memiliki banyak menyimpan padi dan jagung di lumbungnya, mereka pun lalu memintanya agar memberikan padi dan jagung yang selama itu ia kumpulkan.

Hanya saja, ia tak mau memberi jika mereka hanya memanggilnya dengan sebutan “oppung” (kakek atau orang yang dihormati), melainkan panggilan raja. “Jangan panggil aku oppung jika ingin mendapatkan padi dan jagung dari saya, tapi panggillah saya raja,” katanya.

Mereka pun memanggilnya demikian, yang lantas diketahui oleh Purba Dasuha. Merasa pengakuan terhadap dirinya terancam tidak diakui lagi, maka Purba Dasuha pun mengadakan pertemuan dengan Pangultop-ultop. “Jika kamu memang raja, maka buktikanlah,” katanya, seperti yang ditirukan Wanson.

Hal ini kemudian dituruti Pangultop-ultop dengan mematuhi peraturan yang ditetapkan Purba Dasuha. “Marbijah” (disumpahi) adalah prosesi yang menjadi langkah pembuktian itu. Segenggam tanah, air dan “appang-appang” (kulit kerbau) adalah medianya. Maka, Pangultop-ultop kembali ke tanah asalnya untuk mendapatkan ketiganya.

Segenggam tanah lalu ditabur, dilapisi appang-appang dan di sampingnya ditaruh air yang tertuang dalam tatabu (sejenis tempayan air yang terbuat dari kulit labu). Disaksikan oleh rakyat, lalu Pangultop-ultop bersumpah di hadapan Purba Dasuha dan para ulubalang, katanya, “jika tanah dan air yang aku duduki ini bukanlah milikku, maka sekarang juga aku matilah.” Pangultop-ultop pun kemudian meminun air itu.

Waktulah yang kemudian menjawab sumpah itu. Meski sudah melewati hari, minggu, bulan hingga tahun, namun Pangultop-ultop tidak mati—seperti lazimnya sebuah sumpah yang mengandung kebohongan maka maut adalah imbalannya. Dan waktu jugalah yang menentukan peralihan kekuasaan itu. “Kuakui, sekarang kamulah raja yang pantas memimpin Kerajaan Purba, sebab sumpahmu tak berbala,” kata Purba Dasuha kemudian.

Sejak saat itu Pangultop-ultop resmi diangkat menjadi raja, tepatnya pada 1624, yang lalu memimpin hingga 1648. Sedang raja terdahulu—Purba Dasuha—masih dianggap sebagai raja, hanya saja ia tidak lagi memerintah.

Lalu setelah membalik kembali kisah itu, benarkah ada unsur politis di sana? Sekali lagi ini adalah pengungkapan fakta dari seorang Wanson Purba, yang juga merupakan keturunan Raja Kuraha (panglima raja) Tuan Pangultop-ultop semasa kepemimpinannya. Ia sendiri mengetahui kisah itu dari ayahnya, P Purba yang selama 43 tahun telah menjaga Rumah Bolon.

Wanson pun tak menepis hal itu. “Sebenarnya jika ditelaah, Pangultop-ultop dengan demikian sudah mempraktekkan politik kekuasaan,” katanya. “Pasalnya, tanah dan air serta appang-appang yang digunakan sebagai media sumpah dibawa sendiri olehnya dari tanah asalnya, sehingga memungkinkan ia selamat dari maut

Sumber : http://tonggo.wordpress.com
Photo : http://sumbayakcs.co.cc