Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Gunung Srandil Kabupaten Cilacap

Disamping wisata alam dan budaya juga terdapat wisata spiritual atau religius antara lain di gunung srandil dan selok .

Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempangpasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timurlaut dan relatif mudah ditempuh dengan kendaraan penumpang bus umum jurusan Cilacap-Jatijajar-Kebumen atau kendaraan pribadi karena jalannya sudah beraspal dan dekat dengan jalan lintas selatan-selatan.

Gunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh karena tempat tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi sampai keluar Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.

Konon menurut cerita penghuni pertama Gunung Srandil adalah Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur .

Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.

Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil adalah dua orang bernama Kunci Sari dan Dana Sari, mereka adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau menyerah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang kemudian hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati

Di Gunung Srandil banyak petilasan orang-orang yang dianggap mempunyai kedigdayaan yang linuwih atau kemampuan melebihi orang lain yang dikenal sebagai tokoh- tokoh orang sakti mandraguna. Dari kemampuannya, kesaktiannya itu maka tempat-tempat yang di singgahi dianggap keramat dan disakralkan.

Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil adalah Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati.

Gunung Selok
Gunung selok sebenarnya merupakan area hutan yang di kelola oleh Perum Perhutani KPH Banyumas Timur . Seluas 236, 7 Ha yang merupakan sebuah bukit yang ada di wilayah Desa Karangbenda Kecamatan Adipala dengan ketinggian 0 sampai dengan 150 meter diatas permukaaan laut .

Untuk menuju gunung selok dapat dicapai dengan kendaraan penumpang bus atau angkutan pedesaan atau kendaraan pribadi dari terminal Adipala .

Gunung selok merupakan wisata yang nyaman mengasyikan dan unik, karena lokasi ini menyajikan perpaduan keindahan alam berupa hutan bukit goa-goa alam Benteng peninggalan jepang yang konon ada 25 benteng dan pantai laut selatan .

Wisatawan yang datang berkunjung biasanya mempunyai minat bersiarah atau ingin bersemedi di petilasan atau makam atau di goa-goa yang ada . Petilasan yang banyak di kunjungi dan dianggap keramat adalah Padepokan Jambe Lima dan Padepokan Jambe Pitu.

Padepokan Jambe Lima atau Cemara Seta yang di ketemukan oleh Eyang Mara Diwangsa yaitu saudara Patih Cakraningrat yaitu ayah kandung Cakrawerdaya Bupati Cilacap Pertama, padepokan yang terdapat di puncak bukit sangat baik untuk bersemedi .

Menurut legenda masyarakat setempat konon Padepokan Jambe Lima dahulu dahulu merupakan markas pendekar-pendekar sakti pengawal bunga sakti Kembang Wijaya Kusuma yaitu sekuntum bunga lambang kebesaran raja-raja Jawa dimasa lampau .

Untuk mendapat bunga tersebut harus orang harus mendapat ijin dari ketua pengawal yang bernama Kyai Jambe Lima .

Kyai Jambe Lima mempunyai empat anggota seorang diantaranya sebagai wakil ketua yaitu Pak Cilik Sukmoyo Renggo sedang yang tiga anggota lainnya adalah Kyai Kampret Ireng (Tunggul Wulung ), Kyai Sambung Langu (Anggaswati ) Kyai Wesi Putih (Sang Hyang Jati ).

Alkisah suatu hari pada tahu 1676 kerajaan Mataram jatuh ke Trunajaya . Kemudian Pangeran Adipati Anom mengangkat diri sebagai raja menggantikan ayahnya yaitu Sunan Amangkurat I yang meninggal di Ajibarang dan di makamkan di Tegal Arum .

Adipati Anom bergelar Amangkurat II yang mengutus seorang kepercayaannya bernama Ki Suropati untuk mencari kembang wijayakusuma untuk mengukuhkan kedudukanya sebagai raja mataram .

Selain Adipati Anom, Pangeran Puger (adik Adipati Anom) yang mengangkat dirinya sebagai raja Mataram mengutus tokoh sakti Ki Tambak Yudo Selain Adipati Anom dan Pangeran Puger juga Trunojoyo yang sudah merebut tahta kerajaan juga mengutus seorang yang bernama Gedug Gandamana untuk mendapatkan kembang Wijayakusuma.

Ketiga utusan tersebut datang dan di tolak oleh Kyai Jambe Lima dengan alasan belum waktunya, ketiga utusan tidak mau menerima keterangan Kyai Jambe Lima terjadi pertempuran yang menewaskan kelima pengawal bunga tersebut termasuk tiga utusan tersebut juga tewas, sebagai penghormatan dan peringatan maka oleh penduduk sekitar Gunung Selok dibangunlah Padepokan Jambe Lima, dan Jambe Pitu.

Padepokan Jambe Pitu (pertapan Ampel Gading ) yang di renovasi oleh Presiden Soeharto dan banyak di kunjungi peziarah karena dianggap sangat keramat karena ada 3 petilasan Sang Hyang Wisnu Murti dan dua pusakanya yaitu Kembang Wijayakusuma atau Eyang Lengkung Kusuma dan Cakra Baskara atau Eyang Lengkung Cuwiri.

Selain Padepokan Jambe Lima dan Jambe Pitu juga masih banyak tempat yang ramai dikunjungi peziarah pada hari hari tertentu seperti hari Jumat Kliwon dan hari Selasa Kliwon dan di bulan Syura yaitu Goa Rahayu, Goa Naga Raja, Goa Bolong, Goa Paku Waja , Goa Putih, Goa Grujugan, Goa Tikus, Goa Lawa, dan Kaendran serta makam Kyai Sumolangu yang ada diatas benteng peninggalan jepang .

Goa-Goa yang ada di Kabupaten Cilacap
Goa Rahayu dan Goa Ratu
Goa yang terletak di kaki Gunung Selok sebelah Selatan menghadap pantai Samudra Indonesia. Untuk menuju goa ini dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau carteran dari arah terminal Adipala ke Timur menuju Gunung Selok kemudian ke selatan menelusuri jalan desa yang beraspal sampai pantai selok ke arah barat, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik perahu menuju goa tersebut atau dari gunung selok menelusuri jalan trap setapak menurun ke bawah menuju goa tersebut.

Kedua goa ini setiap hari dikunjungi wisatawan untuk berziarah dengan tujuan yang beraneka ragam ada yang menginginkan pangkat, kemuliaan, kesehatan, ingin punya jodoh, usahanya lancar dan sebagainya. Goa yang pintu masuknya telah dibuat tertutup dengan bangunan semen didalamnya ruangan yang petilasan cukup luas dengan ukuran 80 m2 terdapat riual. Di Goa Rahayu ada 2 tempat ritual yaitu Dewi Kencanawati dan Dewi Suci Rahayu.

Menurut legenda Goa Rahayu adalah Raden Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati pendiri Keraton Mataram saat akan membabat alas Mentaok untuk bisa masuk dan membabat alas mentaok sebagai syarat harus membawa tanah yang ada di dalam goa yang dekat dengan batu, dengan tanah srana tersebut Danang Sutawijaya dapat masuk dan membabat alas Mentaok dengan selamat ( Rahayu ) sehingga goa tersebut disebut Goa Rahayu.

Sedangkan goa Ratu yang letaknya berhimpitan dengan Goa Rahayu di dalamnya terdapat ritual Eyang Banda Yuda dan Dewi Sekar Jagat. Goa ini konon ceritanya adalah bekas petilasan Eyang Jaring Bandayuda salah satu pendiri Kabupaten Banyumas. Dalam persemediannya ia bertemu dengan putrid cantik Nyi Sekar Jagat dan disarankan kalau mau membuat Kabupaten jangan melangkahi sungai Serayu atau tepatnya di dekat pegunungan Pageralang dan kesemuannya dilaksanakan oleh Eyang Jaring Bandayuda maka berdirilah Kabupaten Banyumas dekat Pegunungan Pageralang.

Goa Nagaraja
Goa Nagaraja terletak masih di kaki gunung Selok di sebelah Barat goa Rahayu dan Goa Ratu ± 1 km ke arah barat dengan menelusuri alur sungai. Goa Nagaraja ini bersebelahan dengan Goa Lawa (karena banyak kelelawarnya).

Goa Pakuwaja
Goa ini terletak di kaki Gunung Selok bagian Timur tenggara, tempat ini banyak dikunjungi orang yang berziarah dan ada tempat untuk sholat dan di dekatnya ada air untuk berwudlu. Menurut legenda Pakuwaja adalah petilasan Pangeran Pakuwaja yaitu putra Mahkota Kerajaan Majapahit terakhir, pada masa runtuhnya Majapahit beliau berkehendak perang demi mempertahankan kerajaannya .

Disamping goa – goa tersebut masih ada goa – goa yang lain dikunjungi para peziarah yang letaknya disebelah barat kaki Gunung Selok yaitu Goa Sri Bolong, Goa Putih, Goa Grujugan, Untuk menuju Goa tersebut dari depan Balai Desa Karangbenda ada jalan menuju selatan terus menelusuri jalan perhutani sampai ke Kaindran kemudian menuju Goa Sri Bolong, Goa Putih, Goa Grujugan disebut Goa Grujugan karena di mulut goa terdapat air yang terus menerus mengalir dari atas kebawah.

Benteng Peninggalan Jepang
Disamping goa – goa tersebut di Gunug Selok juga terdapat Benteng peninggalan Jepang yang konon sebagai tempat pertahanan Jepang dan tempat pengintaian musuh yang datang dari laut. Konon ceritanya ada 24 Benteng peninggalan bala tentara Jepang namun yang masih utuh tinggal satu yang sudah direnovasi dan di atas benteng peninggalan Jepang kea rah barat daya terdapat makam Kyai Sumolangu yang banyak dikunjungi para peziarah dari daerah Kebumen. Makam Kyai Sumolangu sementara ini masih ditutupi gubug dan disekelilingnya baru dibangun pondasi keliling. Konon Kyai Sumolangu berasal dari daerah Kebumen dan meninggal di Selok.

Sumber : http://pariwisata.cilacapkab.go.id

Kawah Ijen


Kawasan Kawah Ijen terletak di tengah area cagar alam Kawah Ijen yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bondowoso, Kecamatan Klobang dan Kabupaten Banyuwangi, Kecamatan Licin. Kawah ini berupa danau berwarna hijau tosca yang berada di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut.

Kawah ijen merupakan kawah danau terbesar dipulau jawa, kawah berbentuk ellips dengan ukuran kurang lebih 960 x 600 m dengan ketinggian permukaan air danau kurang lebih 2140 m dpl dengan kedalaman danau kurang lebih 200 m serta merupakan danau terasam didunia dengan ph 0,5. Kawah belerang berada dalam sulfatara yang dalam. Kedalamannya 200 m dan mengandung kira-kira 36 juta meter kubik air asam beruap, diselimuti kabut berbau belerang yang berputar-putar diatasnya. Didalam kawah, berbagai warna dan ukuran batu belerang dapat ditemukan. Sungguh, kawah ijen merupakan taman batu belerang yang indah.

Perjalanan ke kawah Ijen, dimulai dari Paltuding yang merupakan sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi-Ijen. Dari sini terdapat jalan tanah menanjak ke ketinggian 2.400m dengan waktu tempuh 2 jam dengan berjalan santai. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan akan segera tersaji di depan mata. Sebuah danau hijau dengan diameter sekitar 1 km yang berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Dari sini pengunjung bisa melihat penambang-penambang belerang yang berada di dekat danau. Untuk menuju ke danau, pengunjung harus menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang juga biasanya dilalui oleh para penambang. Sapu tangan basah disini sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.

Pemandangan menjadi sangat unik ketika dari celah celah tebing curam terlihat begitu banyak para penambang belerang yang naik turun di sela-sela lereng kawah. Sekitar kurang lebih 100 orang membawa bebatuan kekuning-kuningan yang diatas pundaknya terlentang sebatang bambu dengan sejenis keranjang bambu yang dipenuhi puluhan kilogram belerang didalamnya yang tergantung disisi kanan kirinya beban yang dipikul.

Penambangan belerang di sini masih memakai cara tradisional dimana pengangkutannya memakai cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Beban yang diangkut masing-masing penambang bisa mencapai berat 85kg. Beban ini luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3km.

Tiap orang mondar-mandir, menggali belerang, naik turun, menuruni lereng beberapa kilometer sebelum beban dijual dipelelangan, dalam sehari dapat terkumpul belerang berkisar 6 sampai 7 ton.

Penghasilan yang diterima seorang penambang rata-rata Rp.25 ribu atau sekitar Rp.300,- per kilonya. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali perjalanan setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan Pengairan Kawah Ijen, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di pos inilah para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.

Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau. Asap putih pekat selalu keluar menyembur melalui pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Dari sinilah lelehan fumarol berwarna merah menyala meleleh keluar dan langsung membeku terkena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil. Dipotong dengan bantuan linggis dan kemudian langsung diangkut dalam keranjang. Itulah pemandangan alami kawah ijen kesehariannya.

Seperti halnya pemandangan di puncak gunung – gunung lainnya, pengunjung dapat melihat pemandangan yang menghampar luas kearah selat bali, serta pemandangan gunung lain yang ada di sekitar gunung ijen. Gunung ijen memiliki tetangga lain yaitu Gunung Merapi, Gunung Widodaren, Gunung Ranti dan Gunung Papak. Yang dapat dilihat dari pos paltuding.

ketika mendaki pengunjung akan melewati Pondok Bunder yang dibangun pada masa pemerintahan hindia belanda, berbentuk setengah lingkaran sehingga lebih dikenal dengan pondok bunder (bentuknya lingkaran) fungsi utamanya untuk mengukur curah hujan. Lingkungannya sejuk dengan pemandangan Kaldera Pegunungan ijen raksasa Gunung Raung, Gunung Rantai, Gunung Suket, dan Gunung Papak , disini juga merupakan bird waching area.

Bunga edelweis juga dapat ditemui di sepanjang bulan juli sampai september, dibulan-bulan ini bunga abadi ini mulai tumbuh dan bersemi.

Bagaimana Akomnodasi yang disediakan?
Bagi pengunjung yang tidak membawa perbekalan, tidak perlu kuatir, sebab di Paltuding yaitu pos terakhir sebelum pengunjung melakukan pendakian ke puncak telah tersedia beberapa warung makanan dan juga penginapan serta terdapat pula camping ground. Disepanjang pendakian ke puncak juga terdapat warung sederhana yang menjual makanan.

Bagaimana menuju ke kawah ijen? Jalan akses dari Banyuwangi ke gunung ijen relatif sudah sangat baik untuk dilewati berbagai jenis kendaraan. Bahkan kendaraan roda 2 dapat dengan mudah melewatinya. Hal itu karena jalan disepanjang pintu masuk yang berada di desa jambu ke kawasan wisata gunung ijen sampai dengan pos terakhir di Paltuding sudah beraspal.

Untuk mencapai Gunung Ijen dari Banyuwangi, bisa naik angkot trayek Banyuwangi - Licin – Jambu yang berjarak kurang lebih 45 km. Dari Jambu perjalanan dilanjutkan menuju Paltuding, dengan ojek atau sewa mobil. Paltuding merupakan Pintu gerbang utama ke Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen, yang juga merupakan Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).

Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Setelah beritirahat di Pos Bunder ( pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran) jalur selanjutnya relatif agak landai. Selain itu wisatawan/pendaki di suguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu yang lumayan terjal sejauh 250 meter.

Sumber :
http://www.banyuwangikab.go.id
http://dila11.student.umm.ac.id
Foto : http://ilulcreative.files.wordpress.com

Perjalanan Wisata Minat Khusus Geowisata Gunung Merapi


Oleh: Agus Hendratno

Pendahuluan
Perjalanan wisata alam termasuk juga kegiatan wisata minat khusus, dengan menempatkan Gunung Merapi beserta bentang alam dan produk erupsi serta kehidupan budaya di sekitamya sebagai suatu obyek dan atraksi wisata alam utama di wilayah Sleman, Yogyakarta merupakan suatu pengalaman wisata yang sangat menarik. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa Gunung Merapi dengan erupsinya ditempatkan sebagai kendala dalam pengembangan pariwisata di wilayah Sleman maupun Magelang (Jawa Tengah). Gunung Merapi dengan segala tensi bentang alam dan produk erupsi yang pernah ada di wilayah Sleman, khususnya di lembah Sungai Boyong, Sungai Kuning, lembah Sungai Gendol, Dusun Kinahrejo Kaliadem, Kecamatan Pakem, dan Cangkringan, dapat menjadi potensi, keunggulan dan peluang bagi pengembangan wisata minat khusus berbasis geologi kegungungapian. Kondisi geologi kegunungapian tersebut telah menyatu dengan sikap dan persepsi masyarakat lereng Gunung Merapi sebagai bagian integral dari ekosistem Merapi, sehingga mampu melahirkan wacana Merapi volcanic culture.

Penelitian kepariwisataan umum yang menyangkut Gunung Merapi sebagal daya tarik wisata telah dilakukan oleh beberapa pihak, antara lain : Lembaga Pengabdian Masyarakat ITB dengan menyusun Studi Skenario Pengembangan Ekowisata Lereng Merapi Bagian Selatan (Anonim, 1995); Serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata (PUSPAR) UGM melalui Studi Pengembangan Wisata Vulkan Merapi (Anonim, 1999). Beberapa penelitian tersebut berhasil menunjukkan dan menempatkan bahwa keberadaan Gunung Merapi merupakan titik sentral daya tarik wisata yang mendasari setiap pengembangan produk wisata, promosi wisata, bahkan pengembangan sarana prasarana pendukung wisata yang ada di sekitar Lereng Gunung Merapi.
Penelitian geologi kegunungapian yang menyangkut sebaran awan panas, geologi Gunung Merapi, monitoring aktivitas vulkanik, aliran lahar, stratigrafi dan geokimia batuan gunungapi telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain : Wirahadikusumah, dkk. (1984), Bronto, et.al. (2000), Newhall, et.al. (2000). Salah satu kesimpulan dari basil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Gunung Merapi merupakan laboratorium kegunungapian yang menyimpan berbagai aspek ilmiah kebumian Zaman Kuarter yang terus untuk diteliti, diantaranya aspek volcanic tourism.

Penelitian ini akhimya lebih ditekankan untuk mencari relevansi aspek geologi kegunungapian Merapi dengan daya tarik wisata minat khusus yang akhirnya dapat dikembangkan sebagal alternatif perjalanan wisata di daerah Yogyakarta. Aspek geologi kegunungapian Merapi yang meliputi : bentang alam, stratigrafi batuan gunungapi, daerah rawan bencana, penggunaan lahan sebagal daya tarik wisata alam minat khusus dan sebagai alternatif perjalanan wisata di Yogyakarta. Aspek kegunungapian Merapi, juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan produk dan promosi wisata minat khusus berbasis geologi kegunungapian di Yogyakarta. Hal ini mengingat keberadaan Yogyakarta sebagal daerah tujuan wisata utama yang sering menjadi paket perjalanan wisata jalur Borobudur Yogyakarta Bali, maupun paket Borobudur Merapi Prambanan Kraton Yogyakarta Malioboro Parangtritis.

Tinjauan Pustaka
Definisi geoekowisata sebagai suatu bagian terminologi ilmiah kebumian belum banyak dilakukan oleh para ahli kebumian. Geowisata sebagai suatu bagian dari terminologi kepariwisataan telah didefinisikan oleh Sampumo (1995) sebagai bentuk kegiatan wisata yang mengunjungi obyek-obyek geologi yang menarik. Secara empiris, pengalaman penulis seiama ini menunjukkan bahwa kegiatan yang nantinya dapat dikategorikan sebagai geowisata tidak harus pada obyek geologi yang menarik. Hal ini sangat tergantung dari seseorang yang mengunjungi ke obyek geologi tersebut, apakah seseorang tersebut sebagai bagian dari masyarakat yang memahami ilmu kebumian pada umumnya ataukah seseorang yang tidak pernah menerima pendidikan ilmu kebumian. Oleh karena itu, untuk memberikan persepsi yang sama dalam penelitian ini maka terminologi geowisata secara ilmiah kebumian maupun kepariwisataan, dapat dijabarkan sebagai berikut : bahwa geowisata merupakan salah satu bentuk perjalanan wisata alam minat khusus yang didasari oleh ketertarikan 1 rasa ingin tahu pada keragaman fenomena kebumian (geodiversify). Keragaman fenomena kebumian yang nantinya menjadi dasar komoditas produk dan promosi geowisata sebagai bentuk perjalanan wisata minatkhusus, meliputi: Proses kebumian yang aktif, seperti: letusan gunungapi dan produknya, lokasi rawan gempabumi tektonik, gerakan patahan batuan yang masih aktif, manifestasi geotermal (panasbumi), serta kawasan rawan tanah longsor.

Keindahan alam akibat proses geodinamika masa lalu maupun Resen (masa sekarang), seperti: pemandangan (gunung, sungai, pantai, karst, dataran tinggi, terumbu karang), yang diikuti dengan pembelajaran wawasan ekologi. Aspek kebudayaan masa lalu yang mengikuti perkembangan geodinamika, seperti: situs hancurnya peninggalan purba oleh bencana alam masa lalu; situs arkeologi dan paleoantropologi.

Kegiatan eksploitasi sumberdaya geologi, seperti: eskploitasi minyak dan gas bumi, tambang emas, tambang batubara, juga pertambangan rakyat. Kegiatan eksploitasi sumberdaya geologi yang bermasalah terhadap iingkungan di sekitamya.

Geowisata sebagai bentuk perjalanan wisata alam termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Pengertian wisata minat khusus menurut Hall & Weiler (1982) adalah sebagai berikut :
Suatu bentuk perjalanan wisata dimana wisatawan mengunjungi suatu tempat, karena memiliki minat atau tujuan khusus mengenai sesuatu jenis obyek atau kegiatan yang dapat ditemui atau dilakukan di lokasi daerah tujuan wisata / tempat yang menarik dari aspek lingkungan fisik, sosial dan budayanya. Wisata aktif, dimana wisatawan terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan fisik (termasuk aspek fenomena kebumian/geologi) atau lingkungan komunitas/sosial budaya yang dikunjunginya.

Geowisata sebagai bentuk perjalanan wisata minat khusus mempunyai aspek REAL Travel (Hall & Weiler, 1982), yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

• Rewarding (penghargaan), yaitu penghargaan atas sesuatu obyek dan daya tarik wisata yang dikunjunginya, yang diwujudkan pada keinginan wisatawan untuk dapat belajar memahami atau bahkan mengambil bagian dalam aktivitas yang terkaitdengan proyektersebut.

• Enriching (pengkayaan), yaitu mengandung aspek pengkayaan atau penambahan pengetahuan dan kemampuan terhadap sesuatu jenis atau bentuk kegiatan yang diikuti wisatawan.

• Adventurism (petualangan), yaitu mengandung aspek pelibatan wisatawan dalam kegiatan yang memiliki sesuatu resiko secara fisik dalam bentukkegiatan petualangan.

• Learning (proses belajar), yaitu mengandung aspek pendidikan melalui proses belajar yang diikuti wisatawan terhadap sesuatu kegiatan edukatif tertentu yang diikuti wisatawan.

Morfologi
Secara morfologi, kawasan Gunung Merapi bagian selatan merupakan lereng gunungapi yang ke arah selatan mempunyai elevasi semakin kecil dan akhimya berubah menjadi dataran fluvio-vulkanik di Yogyakarta. Kemiringan topografi kawasan lereng Merapi bagian selatan dengan potongan vertikal utara selatan dapat dikiasifikasikan menjadi 5 unit mortologi (label 1). Kegiatan perjalanan geowisata ini dapat dikembangkan dari Puncak Merapi hingga ke lereng bawah - kaki vulkan Merapi. Fenomena morfologi yang dapat menjadi daya tarik geowisata adalah lansekap aliran sungai, tebing sungai, lembah curam lereng gunungapi, puncak bukit di lereng gunungapi. Perpaduan antara unsur mortologi dengan unsur vegetasi (flora) yang tumbuh di atasnya telah menjadi daya tarik aiamiah lembah hingga tinggian di kawasan lereng Gunung Merapi bagian selatan.

Geologi Kegunung Apian
Gunung Merapi, yang terletak di perbatasan wilayah Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini, merupakan satu dan 129 gunungapi yang ada di Indonesia dan merupakan yang paling aktif. Periode letusan Gunung Merapi tercatat 2-8 tahun, tetapi aktivitas kecil seperti pembentukan kubah lava terjadi hampir sepanjang tahun. Puncak Gunung Merapi ini mempunyai ketinggian kurang lebih 2.968 m dari permukaan laut (dpl). Posisi geografis terletak pada 32,51 LS dan 110° 26.5 BT.

Gunung Merapi yang merupakan gunungapi tipe strato/andesitik dengan kubah lava dan dua lapangan solfatara Gendol dan Woro adalah salah satu dari 45 gunungapi aktif yang senantiasa diwaspadai dan dipantau secara terus menerus. Hal ini mengingat bahwa aktivitas erupsi Gunung Merapi dapat dikatakan hampir terjadi setiap tahun dengan munculnya atau pembentukan kubah lava baru di puncaknya. Karenanya Gunung Merapi ini dijadikan sebagai the most active volcano in the world dan juga oleh The International Decade Natural Disaster Reduction (IDNDR) ditetapkan sebagai The Decade Volcano of The World pada tahun 1994, sama dengan Gunung Etna di Italia. Ciri khas dari letusan Gunung Merapi adalah adanya guguran lava pijar dan kubah lava, yang dapat menyebabkan erupsi awan panas dengan jarak luncur mencapai 6-7 km (letusan 22 Nopember 1994 dan erupsi Merapi Februari 2001) dari puncak Merapi. Tipe erupsi yang khas ini dijadikan model untuk sebuah tipe erupsi, yang selanjutnya diberi nama Tipe Merapi (Merapi Type Eruption). Menurut Bronto (1996), erupsi Tipe Merapi ini telah dijadikan acuan bagi gunungapi lain yang berciri sama di dunia.

Istilah awan panas dikenal di Indonesia dan khusus di Gunung Merapi juga disebut “wedhus gembel". Hal ini dikarenakan secara visual, awan panas nampak bergumpal¬-gumpal seperti awan atau bulu domba, yang berwama putih hingga putih abu-abu gelap, yang tersusun oleh campuran bahan padat berbagai ukuran dan gas, bersuhu tinggi, bergerak sangat cepat menuruni lereng gunungapi. Bronto (1996) menjelaskan bahwa

Keterangan
Resiko bencana Merapi:
Perkiraan tingkat kerusakan, kerugian, penderilaan, kefatalan, kehilangan karena bencana Merapi yang menimpa suatu kelompok masyarakat.

Ketahanan masyarakat:
Kondisi kesiap-siagaan suatu masyarakat selaras dinamis untuk membina ketahanan menghadapi suatu peristiwa bancana alam yang bisa mengancam integritas, identitas, dan kehidupan kolektif sosial masyarakat tersebut (tingkat kewaspadaan).

Faktor ketahanan masyarakat meliputi:
• Persepsi masyarakat terhadap G. Merapi dan lingkungannya, serta bencananya
• ikap gotong royong masyarakat menghadapi pencegahan dini terhadap resiko kerugian bencana alam
• Terakomodasinya serta dipahaminya sistem peringatan dini ke masyarakat
• Tersedianya jalur pengungsian dan barak pengungsian yang memadai


Faktor Manusia = Hidup + Kehidupan
Hidup = jiwa raga
Kehidupan = aktivitas budidaya: pariwisata,pertanian, perkebunan, perhutanan, perrnukiman, Pertambangan, sosial kemasyarakatan.

Seberapa tingkat kewaspadaan masyarakat Kinahrejo Kaliadem (sekitar hula Sungai Kuning dan Sungai Gendol), terutama yang masih menetap di Daerah Terlarang dan juga Daerah Bahaya 1, dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan data (wawancara) yang diambii secara acak (random) terhadap sejumlah masyarakat yang menetap di Kinahrejo Kaliadem menunjukkan 88.6 % masyarakat tidak merasa khawatir terhadap kemungkinan letusan Gunung Merapi yang melanda wilayahnya, atau dengan kata lain adalah tidak merasa khawatir adanya resiko bahaya awan panas yang melanda wilayahnya.

Sebagian besar masyarakat lokal yang merasa tidak khawatir terhadap resiko bencana (khususnya awan panas Gunung Merapi) mempunyai alasan "pasrah" tarhadap kehendak Sang Pencipta melalui letusan "kemarahan" Gunung Merapi. Bentuk kepasrahan" masyarakat Kinahrejo Kaliadem terhadap "kemarahan"/aktivitas Gunung Merapi hingga pada level Siaga Merapi Awas Merapi (seperti yang pernah terjadi pada sekitar awal tahun 2001) akan melahirkan komunitas budaya volkanik yang unik. Komunitas budaya volkanik tersebut tercermin dalam apresiasi dan persepsinya terhadap unsur lingkungan alam sekitarnya, seperti : unsur gunung dan sungai sebagai "sesuatu yang hidup" ; unsur hutan sebagai sumber mata ¬pencaharian primer (kegiatan berladang, merumput, mengambil ranting-ranting kayu yang keying untuk kayu bakar); unsur batuan (bongkah-bongkah andesit, fragmen aliran pirokiastik) sebagai " sesuatu yang hidup dan diuri-uri" juga sebagai sumber pendapatan sekunder; Serta unsur mata-air sebagai sumber keberlangsungan hidup masyarakat. Pemahaman terhadap bentuk apresiasi dan persepsi masyarakat tersebut terhadap lingkungan alam Gunung Merapi akan membentuk wawasan dan pengalaman yang mendalam bagi setiap wisatawan/pengunjung luar wilayah tersebut yang mampu menangkap fenomena volcanic culture. Sekalipun aktivitas Gunung Merapi meningkat, masyarakat Kinahrejo Kaliadem tetap menunjukkan "kepasrahanan" dengan melakukan kegiatan sosial ekonomi sehari-hari tanpa memperlihatkan rasa khawatir terhadap kemungkinan letusan awan panas melanda wilayahnya. Mereka beranggapan bahwa interaksi damai, harmoni, yang dibangun secara turun-temurun antara masyarakat Kinahrejo Kaliadem dengan Gunung Merapi sebagai sesuatu yang "diuri-uri" akan "terhindarkan" dari ancaman malapetaka aliran pirokiastik yang akan melanda wilayahnya. Interaksi apresiasi dan persepsi masyarakat secara budaya akan melahirkan kearifan tradisional terhadap unsure geo-ekologi di sekitarnya. Kearifan tersebut juga merupakan salah satu daya tarik keragaman etno-geologi masyarakat lereng Gunung Merapi sebagai produk dan promosi geowisata kegunungapian.

Tabel 1. Unit Morfologi Kawasan lereng Gunung Merapi bagian selatan, Sleman.

Unit Morfologi

Kriteria Tofografi dan Geowisata


1

Kerucut vulkan
Gunung Merapi

Sebagian berupa kawah vulkanik G. Merapi. Kemiringan lereng sangat curam : mencapai > 25° Elevasi : 2960 - 1800 m dpi.

Kegiatan geowisata: petualangan berat dengan pendakian puncak Merapi dan Jalur Kinahrejo


2

Lereng atas vulkan
Gunung Merapi

Sebagian berupa lembah-lembah dalam yang sangat curam dan beberap bukit (misal: G. Tarp, G. Plawangan) di sekitar lereng atas G. Merapi. Kemiringan lereng pada umumnya curam: mencapai 250 -15°. Elevasi : 1800 -1000 m dpl.

Kegiatan geowisata : petualangan berat, jelajah ekosistem hutan dan produk erupsi Merapi di masa lalu.


3

Lereng bawah
vulkan Gunung
Merapi

Topografi umumnya bergelombang dan miring landai ke Selatan.

Kemiringan lereng sekitar 15°- 10°- Elevasi 1000 - 425 m dpl.

Kegiatan geowisata: apresiasi dan interpretasi produk erupsi Merapi

terhadap aktivitas masyarakat dan komponen lingkungan fisik – persepsi budaya masyarakat lereng Merapi.


4

Kaki vulkan
Gunung Merapi

Topografi sebagian besar sangat landai hingga hampir datar dengan

kemiringan 10° - 5°. Elevasi 425 - 200 m dpl.

Kegiatan geowisata: apresiasi pengeruh bentang alam dan produk erupsi Merapi terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya.


5

Dataran fluvio-vulkanik
Yogyakarta

Topografi dataran dan sebagian besar dipengaruhi proses deposisi sungai di bagian hilir lereng G.Merapi Selatan. Kemiringan kurang dari <>

Kegiatan geowisata : apresiasi pengaruh bentang alam dan produk Merapi terhadap keberlanjutan kegiatatan masyarakat pada umumnya.



Tabel 2: Persepsi Masyarakat lereng gunung merapi terhadap kemungkinan letusan awan panas yang melanda wilayahnya


Persepsi masyarakat

Masyarakat sekitas Sungai Kuning-Kinahrejo Kali Adem (N=35 orang)

Khawatir

11,4 %

Tidak khawatir (siap siaga)

88,6 %


Pembahasan
Proses kegunungapian Merapi pada masa lalu telah membentuk tatanan geologi yang khas di daerah penelitian, yang meliputi adanya Endapan Merapi Tua dan Endapan Merapi Muda. Endapan Merapi Tua (Rahardjo, dkk., 1995) di sekitar Kinahrejo terdiri dan aliran lava andesit, basaltik yang bersifat keras, kompak. Aliran lava andesit tersebut sebagian tersingkap sebagai dasar aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi (Sungai Kuning dan Sungai Gendol). Endapan Merapi Muda menempati sebagian besar kawasan lereng Gunung Merapi bagian selatan, umumnya berupa bongkah andesit lepas, kerakal-kerikil andesit, endapan awan panas, serta endapan lahar yang bersifat lepas, agak kompak dan porous. Sebagian Endapan Merapi Muda tersebut juga membentuk urutan vertikal yang sangat menarik di tebing terjal Sungai Kuning maupun Sungai Gendol. Perpaduan antara susunan vertikal batuan gunungapi yang menempati tebing vertikal pada lembah sungai telah membentuk pemandangan bentang alam gunungapi yang sangat menarik (volcanic scenic range).

Produk endapan awan panas masa lalu yang ditemukan di Dusun Kinahrejo, dan saat ini menjadi tumpuan bangunan rumah tinggal komunitas masyarakat lereng Gunung Merapi merupakan wacana kerawanan bencana erupsi gunungapi yang suatu saat dapat terulang kembali melanda kawasan tersebut. Wacana kerawanan bencana erupsi gunungapi tersebut menyatu menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di Dusun Kinahrejo Kaliadem, yang justru tidak merasa khawatir terhadap ancaman bahaya Gunung Merapi ketika status monitoring gunungapi hingga pada level Siaga Merapi. Kondisi ini merupakan karakteristik dari adanya wacana etno-geologi yang berkembang di daerah penelitian, sehingga mampu menempatkan wacana tersebut sebagai produk geowisata yang unik.

Geowisata Merapi sebagai model perjalanan wisata minat khusus di daerah penelitian (hulu Sungai Boyong, Sungai Kuning, Sungai Gendol, Kinahrejo, Kaliadem) kecamatan Cangkringan, mempunyai cakupan aspek dalam REAL Travel, antara lain :

• Rewarding (penghargaan): artinya mempunyai aspek penghargaan terhadap suatu obyek/daya tarik fenomena kegunungapian yang dikunjungi, yang diwujudkan pada keinginan wisatawan dapat belajarmemahami obyektersebut.

• Enriching (pengkayaan pengembangan diri): artinya mempunyai aspek penambahan pengetahuan dan kemampuan (pengkayaan) terhadap suatujenis perjalanan geowisata.

• Adventure (petualangan): artinya mempunyai aspek pelibatan wisatawan dalam kegiatan yang memiliki tantangan fisik/bentuk perjalanan mengamati obyek kegunungapian atau kegiatan petualangan terhadap singkapan obyek geologi gunungapi.

• Learning (proses pembelajaran): artinya mempunyai aspek pendidikan 1 proses belajar yang diikuti wisatawann terhadap sesuatu pembelajaran terhadap materi dan proses kegunungapian terhadap masyarakat yang tinggal di daerah bahaya Merapi.

Berdasarkan kondisi lingkungan alam dan budaya kegunungapian Merapi, obyek-¬obyek ketertarikan wisatawan yang berkunjung ke daerah penelitian sangat bervariatif, antara lain meliputi :
• Endapan pirokiastik pada dinding Sungai Boyong, Kaliurang Barat: apresiasi terhadap materi, proses dan dampak.

• Mata-air dan aliran lava andesit di hulu Sungai Kuning: apresiasi terhadap proses, manfaat dan dampak.

• Urutan vertikal endapan piroklastik, Sungai Kuning: apresiasi terhadap materi, proses dan dampak event Labuhan Merapi di Kinahrejo: apresiasi terhadap persepsi dan sikap masyarakat pada keberadaan gunungapi: Merapi Volcanic Culture

• Watu-gajah & Watu-tumpeng (berupa bongkah andesit produk aliran pirokiastik) di Kaliadem: apresiasi dan sikap masyarakat pada produk erupsi Merapi sebagai sesuatu yang “hidup”: Merapi Volcanic Culture.

• Endapan banjir lahar dan cekdam di Sungai Gendol: apresiasi terhadap materi, proses, manfaat, dampak dan teknologi.

• lnteraksi antara morfologi lembah
Bentuk-bentuk ketertarikan terhadap obyek lingkungan alam dan budaya kegunungapian tersebut, maka secara nyata bahwa model REAL Travel dalam daya tarik geowisata Merapi dapat dimaknai sebagai berikut:

• Penghargaan, pengkayaan, dan pembelajaran terhadap keberadaan materi, proses, manfaat, dampak (bahaya), dari lingkungan fisik dan kegiatan kegunungapian (Merapi) di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

• Penghargaan, pengkayaan, dan pembelajaran terhadap sikap dan persepsi masyarakat Lereng Merapi terhadap materi, proses, dampak (bahaya) dan manfaat kegunungapian (Merapi) secara sosial dan culture.

• Penghargaan dan pengkayaan terhadap keberadaan Merapi Volcano Scenic Memberikan rewardng- learning terhadap sebuah produk erupsi Merapi, yang akhimya dijadikan sesuetu yang ‘berjiwa atau dikeramatkan‘. Ini sebagai simbd kuatnya Merapi volcanic culture.

• Range (lingkungan fisik dan komposisi vegetasinya).

• Adventure : melakukan observasi dan proses pembelajaran dengan berjalan kaki, menuruni lembah sungai - lereng bukit; serta interaksi sosial masyarakat Lereng Merapi.


Tabel 4. Skenario kegiatan dan produk perjalanan geowisata pada aliran Sungai Boyong, Kaliurang Barat, Lereng Merapi Selatan



Tabel 5. Skenario kegiatan dan produk perjalanan geowisata pada aliran Sungai Kuning bagian hulu - Kinahrejo, lereng Merapi selatan



Tabal 6. Skenarlo kegiatan dan produk perjalanan geowisata pads mataair Umbul lanang, bagian huiu Sungal Kuning - Klnahrejo, Lereng Merapi selatan



Tabel 7. Skenario kegiatan dan produk perjalanan geowisata pada Upacara Labuhan


Tabel 8. Skenario kegiatan dan produk perjalanan geowisata pada dasar aliran Sungal Gendol bagian hulu dan bangunan Sabo Dam, Dusun Kaliadem, Lereng Merapi selatan



Kesimpulan
Hasil identitikasi daya tarik geowisata Gunung Merapi di wilayah Sleman meliputi: endapan aliran pirokiastik di aliran Sungai Boyong Sungai Kuning Sungai Gendol bagian hulu termasuk teknologi pengendali aliran lahar hujan; hutan lindung sebagai bentuk ekosistem Merapi; fenomena munculnya mata-air; fenomena budaya vulkan Merapi dan persepsi masyarakat terhadap situs Ringin Putih Watu-gajah Watu-tumpeng Upacara Labuhan Merapi; persepsi masyarakat terhadap tempat tinggalnya di daerah rawan bencana Merapi; serta aspek volcanic scenic range dari topografi lembah lereng Merapi bagian selatan. Pengembangan kegiatan geowisata pada prinsipnya merupakan bentuk aktivitas wisata yang tidak merusak lingkungan alam setempat, bahkan mempunyai aspek rewarding enriching, serta learning terhadap kondisi lingkungan maupun masyarakat lokal di Lereng Merapi selatan.

Penyusunan skenario perjalanan geowisata di wilayah Cangkringan (terutama Dusun Kaliurang barat, Kinahrejo dan Kaliadem), sekalipun daerah tersebut merupakan daerah rawan bencana Merapi. Kegiatan geowisata Merapi yang berbasis pada lingkungan fisik kegunungapian dan etno¬geologi dari masyarakat lereng Merapi dapat dikembangkan melalui pembinaan dan pengarahan masyarakat dalam upaya melanggengkan budaya masyarakat lereng Merapi yang lebih balk. Kenyataan ini telah banyak mengundang rasa ingin tahu bagi orang luar daerah atau wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut. Namun demikian, kegiatan geowisata sebagai bentuk REAL Travel belum sepenuhnya menjadi hal yang menarik bagi pengunjung, karena kenyataannya belum sampai pada proses rewarding dan learning dari aspek wisata minat khusus tersebut.

Daftar Pustaka
Anonim,1990, Gunung Merapi, dalam Berita Berkala Vuikanologi (edisi khusus); Direktorat Vulkanologi, Bandung.

Anonim, 1995, Skenano Pengembangan Ekowisata Lereng Merapi Bagian Selatan, Laporan Akhir; Lembaga Pengabdian pada Masyarakat ITB Bandung dan DirektoratTeknologi Pemukiman dan Ungkungan Hidup BPPT, Jakarta, tidak dipublikasikan.

Anonim, 1999. Pengembangan wisata Vulkan Merapi; Pusat Penelitian Pengembangan Pariwisata (PUSPAR) UGM, Yogyakarta, tidak dipublikasikan.

Bronto, S., 1996, Apa yang dapat dilakukan oleh Ilmuwan Yogyakarta terhadap Gunungapi Merapi dan lingkungan hidup di sekitamya, dalam Seminar Bulanan Akademi llmu Pengetahuan Yogyakarta (AMY), 22 November 1996, Yogyakarta, 18 bal.

Bronto, S., Ratdomopurbo, Andreastuti, S., & Budianto, A., 2000, Merapi Volcano Borobudur; Guidebook Fieldtrip A-2, International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth‘s Interior (IAVCEI), July 12-17, Volcanology Survey Indonesia, Bandung.

Hall, C.H. & Weiler, B., 1992, Introduction. What‘s Specal about Special Interest Tourism ? in Weiler, B. & Hall, C.H. (ads), 1992, Special Interest Tourism, Belhaven Pers John Wiley & Sons Inc., London, p 1-14.

Howard, A.D. & Remson, I., 1978, Geology in Environmental Planning, McGraw-Hill Book Company, New York.

Newhall, C.G., Bronto, S., Alloway, B., Banks, N.G., Bahar, I., del-Marmot, M.A., Hadisantoso, R.D., Holcomb, R.T., McGeehin, J., Miksic, J.N., Rubin, N., Sayudi, D.S., Sukhyar, R., Andreastuti, S., Tilling, R.I., Torley, R., Trimble, D., & Wirahadikusumah, A.D., 2000, 10.000 Year‘s of Explosive Eruptions of Merapi Volcano, Central Java : Archaeological and Modem Implications; in Journal of Volcanology and Geothermal Research 100, New York, p 9-50.

Pardyanto, L., Reksowirogo, L.D., Mitrohartono, F.X.S., & Hardjowarsito, S.H., 1978, Peta Daerah Bahaya Gunung Merapi, Jawa Tengah, skala 1 : 100.000, Direktorat Geatogi, Bandung.
Rahardjo, W., Sukandan-umidi, & Rosidi, H.M.D., 1995, Peta Geologi Lembar Yogyakarta (edisi khusus) skala 1 : 100.000, Puslitbang Geologi, Bandung.

Sampumo, 1995, Geologi dan Kepariwisataan, dalam Kumpulan Makalah Seminar Nasional lnformasi Geologi dalam Pengembangan Tata Ruang Kota dan Wilayah, Lustrum VIII HMTG GE~4ITS, Bandung.

Valentine, P.S., 1992, Nature-based Tourism, in Weiler, B. & Hall, C.H. (eds), 1992, Special interus‘ Tourism, Belhaven Pers John W ley & Sons Inc., London, p 105 128.

Weiler, B. & Kalinowski, K.M., 1992, Educational Travel in Weiler, B. & Hall, C.H. (eds), 1992, Special Interest Tourism, Belhaven Pers John Wiley & Sons Inc., London, p 15- 26.

Wirahadikusumah, A.D., Juwama, H., & Lubis, H., 1984, Peta Geologi Gunungapi Merapi, Jawa Tengab, skala 1 : 50.000, Direktorat Vulkanologi, Bandung.
__________
Agus Hendratno adalah Dosen Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sumber: Jurnal Pleslonsl Pariwisata, Volume 2, Nomor 2, Desember 2002 dan i-lib.ugm.ac.id
Foto : http://haarrr.files.wordpress.com

Paraglaiding Gn. Haruman


Objek wisata dan daya tarik olah raga Paraglading Gunung Haruman tersebut berlokasi di Desa Haruman Sari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Status kepemilikan tanah yang digunakan untuk Paraglaiding adalah tanah masyarakat yang masih belum dikelola secara khusus. Gunung Haruman memiliki ketingian lebih kurang 1300 m diatas permukaan laut dan gunung ini bukan merupakan jenis gunung berapi. Konfigurasi umum lahan adalah bergunung dengan kemiringan lahan agak curam yang daya serap tanahnya baik, satabilitas tanah baik dan jenis material tanahnya secara umum pasir berbatu. Gunung Haruman ini merupakan sebuah objek yang digunakan untuk olah raga Paraglaiding bagi orang-orang pecinta terbang layang.

Adapun landasan yang digunakan untuk terbang layang memiliki luas 40 x 15 m2 yang memiliki lapisan permukaan tanah rerumputan dengan kemiringan lahan yang landai. Untuk melakukan olah raga terbang layang, setiap pengunjung biasanya membawa peralatan sendiri, hal ini dikarenakan belum adanya pengelolaan secara khusus sehingga tidak tersedia peralatan yang dibutuhkan.

Untuk mencapai kawasan terbang layang Gunung Haruman kita dapat melalui jalan raya Garut ? Bandung yang melewati Kecamatan Kadungora. Dari Kecamatan Kadungora dapat menggunakan kendaraan pribadi atau ojeg menuju Desa Haruman Sari. Adapun jarak yang ditempuh dari Kecamatan Kadungora menuju Desa Haruman Sari berjarak lebih kurang 15 km dengan lebar jalan 2-4 m yang memiliki kualitas jalan kurang. Sedangkan untuk menuju landasan terbang layang dari Desa Haruman Sari berjarak 7-8 km, yang biasanya para pengunjung menggunakan mobil jeep atau sejenisnya, hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sangat rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui oleh mobil selain jeep.

Kegiatan wisata yang bias dilakukan di kawasan ini adalah terbang layang, traking, menikmati pemandangan dan fotografi. Pengunjung yang dating ke Gunung Haruman berasal dari Jakarta, Jateng dam Jawa Timur. Serta pengunjung mancanegara berasal dari Singapura, Belanda, Korea dan Amerika yang hendak melakukan olah raga Paraglaiding.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Menjejak Gunung Pesagi dengan Kibar 8

Kibar digelar kembali untuk yang kedelapan. Sejak digelar pertama 2001, event nasional olahraga petualangan dengan agenda utama Kebut Gunung Pesagi ini terus menarik peminat. Selama dua hari, 83 tim dari berbagai provinsi menggeber alam perawan Liwa dan Gunung Pesagi.

Alam tropis, udara sejuk, dan pemandangan yang memukau di Lampung Barat menjadi jualan utama Gumpalan FP Unila dalam Kibar yang memperebutkan Piala Gubernur ini. Seperti sebelumnya, Gumpalan menggandeng Dinas Pariwisata Lampung Barat dalam penyelenggaraan pada 18--21 Desember 2008.

Lebih khusus lagi, event kali ini didedikasikan untuk menyambut program Visit Lampung Year 2009. Berikut laporan Arie Syaputra, Ketua Pelaksana yang merekam kegiatan ini untuk Traveling Lampung Post.

Kibar 8 dibagi menjadi dua item, yakni Kebut Wisata Liwa-Bahway dan Kebut Gunung Pesagi. Item pertama merupakan lomba lintas alam yang mengambil trek dari Kota Liwa (Lapangan Merdeka) menuju Pekon Bahway, suatu perkampungan di kaki Gunung Pesagi. Item ini merupakan babak kualifikasi atau pemanasan sebelum lintasan yang sebenarnya (Kebut Gunung Pesagi) dijalani. Namun, dua etape yang dijalani juga tidak kalah menantang.

Sebanyak 83 tim, terdiri dari 16 tim putri dan 67 tim putra berjuang menjadi yang terbaik dalam menaklukkan gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.231 meter di atas permukaan laut (dpl) itu. Mereka adalah para pencinta alam lokal dan dari DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Yogyakarta, Palembang, dan Baturaja.

Jumat (19-12) pagi, dingin kabut Kota Liwa menyambut peserta. Persiapan adu kebut oleh peserta dan panitia. Pukul 10.00, panitia menggelar pertemuan teknis (technical meeting). Pukul 14.30, acara seremonial dibuka Wakil Bupati Lampung Barat Dimyati Amin. Selain peserta, ratusan warga Kota Liwa merangsek untuk menyaksikan acara.

Sekitar pukul 15.30, bendera start dikibarkan Dimyati Amin menandai penglepasan peserta lomba babak kualifikasi (etape 1, Liwa--Bahway). Tepuk tangan, iringan warga, dan kawalan mobil patroli memeriahkan acara itu. Etape yang baru pertama kali digelar itu dirancang agar peserta tidak langsung berhadapan dengan kehebatan alam, tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat Liwa hingga Pekon Bahway.

Pada Kebut Wisata Liwa--Bahway, peserta akan melewati dua pos. Di setiap pos, panitia memberikan tiket untuk menuju pos berikutnya. Panitia setiap pos juga mengecek daftar peralatan yang merupakan bagian kriteria penilaian.

Pada etape ini, Himpala A dari Universitas Nasional Jakarta finis di urutan pertama dengan waktu tempuh 31 menit. Disusul Palamsar I dari SMK Rumbia, Lampung Tengah dengan selisih waktu 2 menit. Di tempat ketiga Mapala Mushroom I dari UTY Yogyakarta. Meskipun demikian, hampir semua peserta finis dengan selisih waktu yang ketat.

Pukul 17.00 peserta bersama sebagian panitia diberangkatkan menuju lokasi Kebut Gunung Pesagi (Pekon Bahway) menggunakan lima truk. Begitu sampai, peserta langsung mendirikan camp (tenda) di area yang sudah disediakan panitia.

Pukul 21.00, technical meeting untuk Kebut Pesagi digelar. Selesai itu, seluruh peserta dibekap malam nan hening berselimut hawa dingin Pekon Bahway.

Sabtu (20-12), pukul 08.00, start Kebut Gunung Pesagi dengan posisi start sesuai dengan hasil finis kualifikasi (Kebut Wisata Liwa--Bahway). Peratin Pekon Bahway mewakili Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melepas peserta Kebut Gunung Pesagi. Dan para peserta menunjukkan "sifat" yang sesungguhnya untuk menundukkan medan berat nan indah itu.

Dalam Kebut Gunung Pesagi, peserta melewati delapan pos yang dijaga panitia. Dari garis start, peserta memacu derap menuju pos 2 melewati perkampungan desa Bahway, Sarhum dan Ramuan. Rimbun kebun kopi, jalan tanah, dan aktivitas warga menjadi pemandangan. Membutuhkan waktu sekira satu jam untuk sampai pos 2.

Dari pos 2, trek di hutan heterogen dengan pohon menjulang mulai terasa. Hijaunya lapisan rimba yang membalut Gunung Pesagi dan sejuknya udara yang bebas masih dapat kita jumpai di sini. Medan yang mulai berat membuat jarak antartim makin renggang. Namun, sesampai pos 3, suasana alamiah membuat wajah ceria. Satu sumber air nan jernih dan dingin digunakan para peserta yang singgah di pos 3 untuk melapor.

Selepas pos 3, peserta melewati jalur yang disebut sebagai "penyambungan". Jalur jalan setapak selebar 1 m yang terdiri dari bebatuan dengan sisi kiri-kanan sangat terjal membuat trek ini menantan. Butuh energi ekstra untuk melewatinya. Terlihat pula, alam terbuka akibat kebakaran hutan pada 1997. Di jalur ini juga kita bisa mencium wangi edelweis si bunga abadi.

Beranjak dari pos 4, peserta melewati jalur yang didominasi hutan lumut. Jalur ini merupakan punggung Gunung Pesagi yang relatif landai. Trek ini dipakai peserta untuk adu kebut. Sebab, medan yang landai dan cukup lebar memungkinkan tim saling menyalip.

Di pos 5 (Puncak Gunung Pesagi) yang merupakan dataran berukuran 5 x 7 m®MDSU¯2, terdapat tugu dari semen. Belakangan diketahui, tugu itu merupakan batas wilayah kekuasaan Belanda pada zaman penjajahan. Dari posisi ini, pemandangan alam ciptaan Tuhan sangat menawan. Luas dan birunya air Danau Ranau dan tegarnya Gunung Seminung tampak jelas dari sini.

Kebut dilanjutkan menuju pos 6. Peserta melewati jalur yang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan yang tinggi karena jalur ini merupakan turunan yang sangat terjal. Sepanjang jalur ini banyak pohon tumbang yang memaksa peserta merangkak.

Di pos 6 ini, lagi-lagi peserta disuguhkan sebuah pemandangan yang sangat indah, yaitu air terjun Badas Gumpalan yang mengiming-imingi kesegaran luar dalam.

Perjalanan berlanjut ke pos 7 dengan jalur berupa vegetasi hutan heterogen yang relatif landai diiringi dengan licinnya lantai rimba oleh lumut disepanjang jalur. Trek yang harus dilewati berupa jalan setapak (turunan) dengan sisi kanan jurang dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi yang merupakan ciri khas hutan Sumatera.

Menuju pos 8 adalah vegetasi yang didominasi hutan rotan. Secara umum keadaan jalur merupakan turunan yang tidak terlalu curam, tetapi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi untuk menghindari tajam dan rapatnya duri pohon rotan. Panjang jalur ini kurang lebih 2 km dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya.

Trek untuk menuju pos 9 dijuluki sebagai "Jalur Patah Hati". Jalur ini merupakan turunan terjal dan licin. Sepanjang jalur, vegetasi yang mendominasi adalah pohon-pohon kecil yang acap digunankan untuk berpegangan. Meskipun sulit, gemericik air mengiringi seolah memberi kesegaran baru.

Jalur ini juga merupakan perbatasan antara hutan rimba Gunung Pesagi dengan kebun penduduk. Keluar rimba, peserta disuguhi ladang penduduk yang berpenghuni dengan pondok-pondok mereka yang khas. Sungai-sungai kecil mengular dan beberapa sungai besar dengan air yang sangat jernih membasuh batin.

Dengan sisa energi yang ada, peserta menyegerakan menempuh jalur menuju garis finis yang tinggal selangkah lagi. Pukul 16.38, dengan terpincang-pincang Tim Karmapala dari MAN 1 Liwa berhasil menjadi tim pertama yang melewati garis finis dengan waktu 7 jam 52 menit.

Berselang 15 menit, Tim Himapala dari Universitas Nasional Jakarta menyusul. Mapala Mushroom II dari UTY Yogyakarta yang merupakan juara bertahan tim putra pada Kibar 7, harus puas di posisi ketiga. Juara harapan I diraih Mapala Mushroom I, harapan II jatuh pada Tim Talaseta Universitas Pancasila Jakarta. Juara harapan III direbut Palamsar I dari SMKN 1 Rumbia, Lampung Tengah. Untuk juara favorit tim putra jatuh kepada Satya Triloka III dari Pringsewu.

Sumber :http://www.lampungpost.com

Menikmati Keindahan Sumbing-Sindoro


Oleh : Imam Saefudin

Suhu dingin dan aroma tembakau adalah warna tersendiri dalam perjalanan kami. Kicau burung dan indahnya alam pegunungan adalah hiburan tersendiri dalam pendakian kami. Perjuangan mendaki tanjakan demi tanjakan tanah liat yang licin adalah sisi lain petualangan kami.

Begitulah pengalaman kami ketika mendaki Gunung Sumbing, Jawa Tengah, awal Februari tahun lalu. Bersama dua teman dari kelompok pencinta alam Manapugiri, Utom dan Ilyas, kami menempuh perjalanan dari Bandung menuju Yogyakarta. Malam itu, setelah 10 jam, kereta api yang membawa kami dari Stasiun Kiaracondong, Bandung, akhirnya kami tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, keesokan harinya. Jam di tanganku menunjukkan pukul 07.00.

Selanjutnya, dari Kota Gudeg itu, dengan bus umum kami meluncur ke Magelang, sejauh sekitar 42 kilometer, selama satu jam. Ganti minibus, sekitar satu setengah jam, kami melanjutkan perjalanan ke Garung, yang merupakan desa terakhir menuju puncak Gunung Sumbing. Desa dengan ketinggian 1.543 meter di atas permukaan laut itu dilalui jalur bus atau minibus dari arah Magelang menuju Wonosobo atau sebaliknya. Untuk sampai di titik awal pendakian, yakni Desa Butuh, Kecamatan Kalikajor, Wonosobo, kami harus berjalan kaki sekitar satu jam.

Satu malam kami menginap di pos pendakian, yang biasa dijadikan base camp, tempat istirahat atau menginap bagi pendaki.

Pagi keesokan harinya, Desa Butuh cukup dingin. Setelah meminta izin kepada petugas dan mempersiapkan segala sesuatu, termasuk air, yang akan sulit kami temui selama dalam perjalanan, kami pun memulai pendakian pada pukul 06.00.

Kicau burung-burung di pagi hari menemani gerak langkah kami menuju puncak. Kami memilih jalur baru, dari dua jalur yang bisa dilalui menuju puncak. Memang sedikit lebih jauh. Sementara itu, pada jalur lama sering terjadi tanah longsor. Namun, kedua jalur itu akan bertemu sebelum puncak.

Selama dalam perjalanan pendakian, sesekali kami menyapa penduduk yang akan berangkat ke kebun atau ladang tembakau.

Dari pos pendakian Gunung Sumbing (3.371 meter di atas permukaan laut), kurang-lebih 200 meter setelah jalanan yang cukup menanjak, kami sampai di jalur yang lebih landai. Di jalur itulah kami melewati ladang-ladang tembakau sampai di perbatasan hutan di kawasan Boswisen.
"Wah, lembah-lembah Sumbing banyak ditanami tembakau. Mungkin hutannya sudah beralih fungsi menjadi hutan tembakau," kata Ilyas, sedikit bercanda.

"Iya," sahutku, "Mungkin tahun 2030 puncaknya akan banyak ditanami tembakau."
"Sayang, masyarakat tidak menyadari dan memelihara keseimbangan hutannya," kata Ilyas.
Sesekali bercanda, kami terus melanjutkan perjalanan. Setelah melewati batas antara ladang tembakau dan hutan, kami harus mendaki jalan tanah liat dan tanah merah berpasir. Sementara itu, suhu udara yang cukup dingin merepotkan kami. Sesekali kami melihat keindahan lembah-lembah Gunung Sumbing yang berubah fungsi menjadi ladang tembakau.

Dengan beban berat yang menempel di punggung, kami melewati kawasan Genus. Pada rute pendakian ini kondisinya sama, berupa jalan tanah liat dan tanah merah berpasir serta di kanan-kiri jalan terdapat rerumputan dan pohon-pohon kecil yang cukup indah. Kadang sejenak kami berhenti untuk menikmati keindahan alam Gunung Sumbing sebelum melanjutkan mendaki rute menanjak.

Kawasan sekitar Gunung Sindoro-Sumbing barangkali bisa dikembangkan untuk obyek wisata petualangan seperti halnya Taman Nasional Gunung Bromo Tengger-Semeru di Jawa Timur atau obyek wisata alam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat. Nama Gunung Sindoro-Sumbing mungkin tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama bagi masyarakat yang senang bertualang di alam terbuka. Suguhan alam pegunungan dan panorama alamnya yang begitu mempesona semakin membuat banyak orang penasaran.

Di kawasan ini juga terdapat sejumlah obyek wisata alam, antara lain Curuk Duwur, dataran tinggi Dieng, dan Telaga Warna. Curuk Duwur terletak sekitar 2 kilometer dari Desa Butuh, berupa air terjun yang mempesona. Di dataran tinggi Dieng, kira-kira 26 kilometer dari Wonosobo, yang berhawa sejuk, terdapat obyek wisata alam, seperti Kompleks Candi Hindu dan Kawah Sikidang. Adapun Telaga Warna merupakan telaga vulkanis bekas kepundan sebuah gunung merapi yang meletus pada masa Dieng Purba. Sarana akomodasi yang tersedia di kawasan ini, terutama di Wonosobo, berupa hotel dan rumah-rumah penduduk yang disewakan kepada wisatawan.

Gunung Sindoro mempunyai ketinggian sekitar 3.134 meter di atas permukaan laut, yang di puncaknya terdapat beberapa dataran seluas sekitar 400 x 300 meter. Di sebelah barat puncak Sindoro, ada dataran Segoro Wedi dan sebelah utara adalah dataran Banjaran. Dua dataran lain merupakan sisa kawah utama sekunder. Pada setiap 1 Syuro, di puncak Sindoro diadakan upacara selamatan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas pemberian Sang Penguasa Alam.

Baru saja kami menikmati jalur yang agak sedikit mendatar, kami harus dihadapkan lagi pada tanjakan yang cukup tajam di bukit Genus sampai Sedelupak Roto dengan kondisi jalan yang juga tanah liat dan tanah merah berpasir. Perjuangan yang cukup melelahkan karena kami tidak diberi jalan mendatar, keseluruhan rutenya tanjakan yang cukup tajam. Sesekali matahari mengintip dari dedaunan. Semilir angin dari lembah-lembah sedikit membuat kondisi kami lebih segar. Seekor elang terbang melayang-layang di langit seakan menyambut kami di Gunung Sumbing.

Dari Sedelupak Roto, kemudian kami memasuki kawasan Pestan, yang merupakan jalur pertemuan antara jalur baru dan jalur lama. Kawasan Pestan hampir seluruhnya ditumbuhi oleh rerumputan dan hanya ada beberapa pohon kecil. Sesampainya di Pestan, kami terpaku oleh pesona alam Gunung Sumbing yang begitu eksotik, lembah-lembah hijau terasa menyejukkan mata. Kami melihat burung-burung di kawasan ini.

Hari mulai siang. Sinar matahari mulai terasa menyengat. Di Pestan, kami sejenak beristirahat untuk makan siang. Semangkuk mi dan segelas teh manis cukup untuk memulihkan kondisi tubuh. Terasa nikmat apalagi sambil menikmati keindahan alam pegunungan.

Dari punggung Gunung Sumbing, tampak gunung di sampingnya, yang kerap disebut saudara kembarnya, yaitu Gunung Sindoro. Dari sana, puncak Gunung Sumbing terasa lebih dekat.

Setelah makan siang dan beristirahat secukupnya, kami meninggalkan kawasan Pestan menuju Pasar Watu. Kami mesti ekstrahati-hati karena harus melewati jalanan yang berbatu. Tampak dinding batu besar yang kukuh berdiri. Kawasan ini disebut Pasar Watu karena di sepanjang jalan banyak sekali batu kecil dan besar.

Sebelum mencapai puncak, kami harus mengambil jalur ke arah kiri yang cukup menurun. Jika harus mengambil jalan lurus, akan lebih sulit. Kami berjalan di bawah dinding batu yang memanjang sampai di sebuah tempat yang dinamakan Watu Kotak. Disebut demikian karena bentuknya menyerupai kotak. Kondisi jalan tetap tanah merah dan berbatu. Merayapi batu dan berpegang pada akar-akar yang bersembunyi di balik batu-batu terasa cukup membantu perjalanan kami menuju puncak.

Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, melewati jalan yang berbatu dan menanjak, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Sumbing. Rasa haru dan bangga kami curahkan di puncak Gunung Sumbing. Tampak batu besar berserakan di puncak gunung, yang terlihat begitu indah dan menakjubkan. Suasana sore itu begitu mempesona. Warna-warni yang cantik sulit kami lukiskan dengan kata-kata. Sungguh ciptaan Tuhan tiada bandingannya. Tidak lupa kami mengabadikan suasana sore itu dengan latar belakang Gunung Sindoro yang sedang diselimuti mega-mega putih yang terhampar bagai permadani. Rasa lelah selama kurang-lebih sembilan jam pendakian terobati dengan suguhan alam yang begitu eksotik.

Sore berganti dengan malam, warna-warni langit perlahan-lahan ditelan warna gelap malam. Satu per satu bintang muncul hingga tak terhitung jumlahnya. Di puncak, kami mendirikan tenda. Tidak di tempat lapang terbuka, melainkan di balik batu-batu besar agar tidak langsung terempas angin. Kami memasak untuk makan malam, dengan mi dicampur sarden, terasa nikmat sekali. Apalagi ditambah dengan segelas kopi panas, yang terasa cukup menghangatkan tubuh kami.

Tampak bintang-bintang bertaburan, memancarkan sinarnya, memberi penerangan di dalam kehangatan tenda kami. Suasana begitu romantis. Kami sangat bersyukur karena alam Gunung Sumbing sangat bersahabat. Tak terasa hari mulai larut malam, kami siap-siap untuk tidur.
Semilir angin membangunkan kami dari hangatnya dekapan sleeping bag. Sambil menikmati hangatnya teh manis panas, kami menunggu matahari terbit. Yang kami tunggu pun mulai tampak, perlahan-lahan menyinari mega-mega putih. Kami mengabadikan peristiwa ini, yang belum tentu bisa kami lihat di kota.

Kami tidak berlama-lama menikmati keindahan Gunung Sumbing. Walau dengan berat, kami meninggalkan keindahan ini, karena perjalanan kami masih panjang. Perjalanan turun harus dituntut ekstrahati-hati. Kurang-lebih enam jam perjalanan akhirnya kami tiba di pos pendakian Gunung Sumbing. Setelah melapor di pos pendakian, kami berpamitan kepada petugas di pos itu untuk melanjutkan pendakian menuju Gunung Sindoro.

Titik awal pendakian ke Sindoro adalah Desa Kledung. Setelah meminta izin pendakian dan mengisi persediaan air, kami berangkat menuju puncak Gunung Sindoro. Hari mulai memasuki sore. Perjalanan kami harus melewati beberapa rute pendakian, seperti Watu Gede, Situk, Ratu Tatah, dan puncak Sindoro.

Perjalanan kami cukup melelahkan karena kami baru saja mendaki Gunung Sumbing. Karena hari mulai gelap, kami mendirikan tenda di suatu tempat yang dinamakan Watu Tatah. Di sana kami menginap semalam untuk memulihkan kondisi. Esoknya perjalanan kami lanjutkan.

Dari Watu Tatah menuju puncak Gunung Sindoro diperlukan waktu sekitar dua-tiga jam. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan melewati jalur yang berbatu, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Sindoro. Kami pun melakukan sujud syukur atas keberhasilan mencapai puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing

Sumber :www.tempointeraktif.com
Foto : http://komunitascoemie.files.wordpress.com

Menerawang Puncak G. Merapi di Ketep Pass, Magelang


Oleh: Rahmi

Memandangi puncak Gunung Merapi, apalagi saat tengah memuntahkan lahar, akan lebih puas bila dilihat dari Ketep Pass. Sebagai salah satu tempat pemantauan Merapi, Ketep Pass berada di sebuah bukit kecil di pinggiran jalan menuju kawasan wisata Kopeng, Magelang.

Menuju ke sana cukup mudah, kita bisa berangkat dari Pabrik Kertas Blabak, Magelang ke arah Timur. Selain jalanannya beraspal dan bagus, angkot-angkot pun banyak berseliweran ke sana.
Jalan menuju Ketep sudah di aspal untuk memudahkan pengunjung, meski cukup berliku layaknya jalan menuju Puncak Pass, Bogor. Perjalanan dijamin menyenangkan, sebab selain di sapa hawa dingin pegunungan, Anda juga bisa memandang Magelang dari ketinggian.

Gardu Pandang Ketep Pass yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, didirikan Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, tahun 2002.

Awalnya Ketep hanya sebukit kecil. Sekitar tahun 2000, atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, bukit ini kemudian dikepras, diratakan, diperkeras, dan dilengkapi berbagai fasilitas, sehingga semua orang bisa singgah menyaksikan keindahan alam.
Memasuki kawasan Ketep, Anda akan disambut pemandangan kelima gunung tertinggi di Jawa Tengah. Selain Gunung Merapi dan Merbabu, di sisi lain juga terlihat Gunung kembar Sindoro-Sumbing dan Gunung Slamet.

Di bawahnya, kita bisa melihat hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Merapi dan Merbabu. Di hari libur kawasan ini termasuk ramai pengunjung, baik keluarga maupun pasangan muda.

Sambil bercengkarama di bangku-bangku dan gazebo yang tersedia, Anda juga bisa mengintip puncak Merapi dan Merbabu melalui teropong. Cukup dengan Rp. 3.500 per tiga menit, Anda bisa melihat dari dekat dan dengan mata kepala sendiri, kawah Merapi yang menyembulkan asap.

Untuk memberikan informasi lebih lengkap tentang terbentuknya Gunung Merapi, Ketep Pass juga menyediakan Museum Gunung Api dan Teater Vulkanologi.

Museum Vulkanologi terletak di bawah Teater. Cukup dengan membayar karcis sebesar Rp. 3.500, Anda akan disuguhkan berbagai foto bersejarah Merapi, dari letusan yang pertama hingga yang terakhir, tahun 2006 lalu.

Terdapat juga miniatur Gunung Merapi di tengah museum dan data teknis lainnya, seperti peta kontur, besaran kawah, jenis bebatuan, hingga kandungan Gas dari kepulan asap beberapa gunung di sekitar Pulau Jawa.

Di museum ini juga terpampang foto raksasa Puncak Garuda yang berdiri tegak laksana pilar di Puncak Merapi. Konon Puncak Garuda ini sudah runtuh sebagian, akibat letusannya sendiri.

Sedang sejarah terbentuknya Gunung Merapi dan dokumentasi letusan-letusannya, Anda bisa menyaksikannya di Teater Vulkanologi. Teater ini memiliki beberapa jam pertunjukkan, yaitu sekitar 30 menit sekali, dengan tiket sebesar Rp. 5.000/orang.

Agak ke bawah dari pelataran Ketep Pass yang dinamakan Panca Arga, Anda akan menemukan jajaran pedagang makanan dan minuman. Rasanya nikmat sekali bukan, menerawangi keindahan Gunung Merapi, sambil menyeruput kopi dan mencicipi jagung bakar.

Ketep Pass buka dari pukul 05.30 (bila ingin lihat matahari terbit) hingga pukul 20.00 WIB. Di hari-hari libur yang ramai pengunjungnya, Ketep Pass kadang buka hingga tengah malam.

Sumber :http://www.halohalo.co.id
Foto :http://3.bp.blogspot.com

Menengok Atraksi Anak Krakatau


Oleh : Erwin Dariyanto

Menyaksikan dari dekat Anak Krakatau meletus, menyemburkan pasir, gumpalan asap, dan batu-batu pijar menyala, disertai gemuruh, tentu sungguh asyik. Akhir Agustus lalu, saya bersama 15 wartawan dari Jakarta berkesempatan menonton atraksi eksotis itu.

Rombongan berangkat dari kawasan Rasuna Episentrum, Jakarta Selatan, pukul 09.00, menggunakan bus antarkota antarprovinsi menuju Pelabuhan Merak, Banten. Setelah dua setengah jam menyusuri jalan tol Jakarta-Merak, menjelang tengah hari, kami tiba di Pelabuhan Merak.

Suasana pelabuhan tidak begitu ramai, sehingga kami tak perlu menunggu lama untuk masuk ke kapal feri yang akan membawa kami menyeberangi Selat Sunda. Hidayat, pemimpin rombongan, mengajak kami ke lounge kapal sambil menikmati makan siang yang dibawa dari Jakarta. Dari dek kapal, beberapa penumpang tampak asyik menyaksikan atraksi lima orang anak yang tengah berenang, sebelum kapal berlayar. Sebagai imbalan, biasanya orang melempar uang ke arah mereka.

Jam di tangan saya menunjuk pukul 15.00 ketika kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Bakauheuni, Lampung. Perjalanan kami lanjutkan menuju kawasan Kalianda, sebuah kecamatan kecil di tepi Teluk Lampung di kaki Gunung Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Suasana alam jalan trans-Sumatera yang masih alami dan asri menemani kami selama satu jam perjalanan itu.

Menjelang sore, kami tiba di Kalianda, langsung menuju tempat menginap, Krakatau Nirwana Resort. Petang itu kami, saya dan beberapa teman wartawan lain, menikmati suasana matahari tenggelam di Teluk Lampung. Beberapa remaja tampak asyik bermain banana boat, sementara lima tukang kayu tengah mempersiapkan pelampung kayu yang akan digunakan dalam acara puncak Festival Krakatau keesokan harinya.

Esok hari, perjalanan menuju kawasan Gunung Krakatau tentu menguras tenaga. Karena itu, malam itu saya memutuskan untuk tidur lebih awal.

* * *

Pagi itu, Minggu, 24 Agustus, saya bangun lebih awal. Seusai salat subuh, suara canda anak-anak yang tengah asyik bermain di pantai menarik perhatian saya untuk segera keluar dari kamar. Bersama teman satu kamar, Ruth alias Uthe, seorang wartawan foto, saya menuju dermaga, berharap mendapat momen menarik untuk mengabadikan sang surya muncul dari peraduan. "Waduh mendung, sunrise tidak akan seindah yang kita bayangkan," kata Uthe.

Kekhawatiran kami tidak menjadi kenyataan. Semburat merah marun menghiasi langit di atas Selat Sunda. Perlahan-lahan matahari muncul dari balik laut menyapa alam. Keindahannya membangunkan semangat kami untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Perjalanan ke Gunung Krakatau dimulai sekitar satu jam setelah atraksi penyambutan 20 duta besar negara sahabat yang diundang dalam rangka penyelenggaraan Festival Krakatau 2008. Ada atraksi jetski, paralayang, dan pentas tari tuping (tari topeng tradisional).

Rombongan dibagi menjadi dua bagian. Rombongan pertama terdiri atas duta besar perwakilan negara sahabat, undangan, pejabat pemerintah daerah Lampung, dan pejabat Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Rombongan ini berangkat dari Pelabuhan Bakauheuni menggunakan kapal feri.

Sementara itu, rombongan kedua adalah para wartawan dan pemain serta penari reog, yang berangkat dari dermaga Kalianda menuju Gunung Anak Krakatau dengan menggunakan speedboat. Widodo, seorang aktivis dari Universitas Lampung, ditunjuk menjadi pemandu untuk menemani kami selama perjalanan.

Sayang, keberangkatan kami harus tertunda setengah jam. Speedboat yang harusnya mengantar kami belum juga tiba. Untuk mengisi waktu, di pinggir dermaga, kami mengobrol dengan Dodo--panggilan akrab Widodo. Dengan antusias, pria keturunan Jawa ini menjelaskan pesona yang bisa dinikmati di sekitar Gunung Krakatau. Di tengah bercerita, datang rombongan paralayang, yang batal terbang menuju Anak Krakatau karena angin yang tidak bersahabat. Rombongan paralayang bersama rombongan jetski rencananya menyertai kapal feri yang membawa rombongan duta besar.

Speedboat tiba dan membawa kami menyibak laut, yang diperkirakan memakan waktu tiga jam, melintasi Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi. Setelah dua jam, Pak Doel, sang motoris, memberi tahu bahwa gugusan Anak Krakatau mulai terlihat. Benar saja, saat kami melongok keluar, dari jarak kurang-lebih empat mil gunung api itu terlihat jelas menyemburkan gumpalan asap. Semburannya bergerak menuju arah timur laut menimbulkan bekas hitam di langit.

Rombongan wartawan sangat antusias mengabadikan moment tersebut. Pak Doel harus mengingatkan agar tidak semua berdiri di bagian kiri. "Ayo, gantian, jangan sampai boat miring ke kiri," teriak Pak Doel. Teriakan pria paruh baya itu sempat tidak dihiraukan oleh rekan-rekan wartawan. Kami seperti terhipnotis oleh keindahan gumpalan debu dari kawah Anak Krakatau.

Semburan abu dari kawah Anak Krakatau berhenti pukul 11.35 ketika boat yang membawa kami merapat di pantai Legon Cemara, pantai Anak Krakatau. Di sini tidak ada dermaga. Karena itu, kami harus mencebur ke laut yang dalamnya sepinggang setelah melepas sepatu terlebih dulu.

Tanah berpasir akan menyambut setiap pengunjung yang datang. Buru-buru kami mengenakan alas kaki karena panas pasir sangat menyengat.

Tabuhan rebana yang dimainkan 10 pria paruh baya dari Desa Sebesi menyambut kedatangan kami. Sesepuh adat dan camat turut hadir. Rupanya, tepat pukul 11.00 tadi digelar upacara sedekah laut yang dilakukan untuk memperingati meletusnya Gunung Krakatau, 26 Agustus 1883, tepat pukul 11.00. Sedekah laut di sini, kata Camat Rajabasa, Lampung Selatan, Azwan, adalah dengan menanam kepala kerbau di laut. Tidak ada larungan hasil bumi.

Seusai berbincang-bincang dengan camat dan sesepuh Desa Sebesi, kami meminta izin untuk mendaki. Namun, pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam tidak mengizinkan karena kemungkinan Gunung Anak Krakatau masih akan menyemburkan abu. Siang itu angin berembus menuju timur laut. Kemungkinan abu menuju ke arah kami yang berada di posisi tenggara.

Dodo, yang sudah berpengalaman melakukan penelitian di wilayah Gunung Krakatau, mengajak kami menikmati eksotisisme Anak Krakatau dengan memutarinya menggunakan boat. Benar saja, baru lima menit kami di atas boat meninggalkan tepian Pantai Legon Cemara, semburan abu kembali terjadi. Tidak kurang dari lima menit, gumpalan abu itu keluar dari kawah.

Meski sudah melihat semburan dari dekat, Dodo masih mengajak kami mengelilingi Anak Krakatau. Kali ini kami memutar menuju Pantai Legon Cabe di Pulau Rakata, yang dulu merupakan induk Gunung Krakatau. ”Dari situ kita bisa melihat dengan jelas semburan abu dan kawah Krakatau,” ujar Dodo, meyakinkan kami.

Sepuluh menit dari semburan sebelumnya, terjadi semburan lagi. Kali ini kami beruntung bisa menyaksikan keluarnya semburan dari kawah Anak Krakatau dengan lebih jelas dari jarak yang sangat dekat. ”Luar biasa,” kata Uthe sambil tidak henti-hentinya menjepretkan kameranya.

Menurut Dodo, apabila dilihat di malam hari, letusan Anak Krakatau ibarat kembang api di tengah pesta. Setiap sepuluh menit, debu dan lava panas menyembur ke udara mencapai ketinggian 30 hingga 50 meter dari puncak. “Itu bisa dilihat dari Pulau Sebesi,” ujarnya.

Puas menyaksikan atraksi Anak Krakatau, kami kembali ke Kalianda. Pak Doel mengajak kami mengitari Pulau Rakata Besar, Pulau Setiga yang berupa gugusan tiga pulau kecil, Pulau Sebesi, dan Pulau Sebuku. Karena waktu sudah sore, Pak Doel tidak merapatkan boat ke dermaga. Meski hanya sempat melihat dari kejauhan, kami bisa menikmati keindahan yang disuguhkan gugusan-gugusan pulau tersebut. Wisata Anak Krakatau tidak akan terlupakan sepanjang sejarah hidupku.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com
Foto : http://www.mediaindonesia.com