Tampilkan postingan dengan label Gedung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gedung. Tampilkan semua postingan

Bathing Beauties di Kali Molenvliet


Oleh : Alwi Sahab
Generasi sekarang sudah tidak banyak lagi mengenal Molenvliet. Padahal, sampai awal 1960'an, jalan yang kini bernama Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Jakarta Kota lebih dikenal dengan Molenvliet. Kata dalam Belanda yang artinya Molen (kincir) dan vliet (aliran). Karena dulunya sini terdapat kincir angin meniru sistem pengairan di Belanda. Di tengah kedua jalan yang selalu hiruk-pikuk ini terdapat Kali Ciliwung, yang dulunya juga lebih dikenal sebagai kali Molenvliet. Kali ini sendiri merupakan kanal dengan menyedot kali Ciwilung.

Sungai atau kanal ini membujur dari selatan ke utara hingga Pasar Ikan diapit oleh jalan Hayam Wuruk dan Gajah, mulai dari Harmoni hingga Kalibesar. Sampai awal 1950-an, sungai ini masih jernih sehingga menjadi tempat cuci pakaian, mandi dan buang air besar. Bahkan, di antara yang mandi ada yang berbugil ria, sehingga jadi pentas tontonan bathing beauties. Tetapi sekarang sudah demikian kotor, penuh Lumpur dan sampah. Fungsinya sendiri sudah hilang, ketika dibangun sebagai kanal pertengahan abad ke-17 untuk memperlancar arus barang dari selatan ke pusat kota, dan sebaliknya.

Akibat tidak berfungsinya sungai ini, pernah ada sejumlah insinyur mengusulkan ditutup dan ditimbun saja. Guna mengurangi kemacetan lalu lintas di Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kita sengaja mengetengahkannya, karena Banyak yang tidak tahu bahwa sungai tersebut merupakan sungai buatan atau tepatnya sebuah kanal dengan 'menyobek' kali Ciliwung yang dialirkan ke sana. Arsitek dari proyek besar waktu itu, adalah Phoa Beng Gan, seorang kapiten Cina yang dikenal sebagai ahli pengairan.

Seperti diketahui Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia di atas rawa-rawa. Hingga bila musim hujan daerah itu terendam, airnya susah kering. Dan kota menjadi sarang nyamuk malaria. Banyak orang mati karena penyakit ini. VOC sendiri tidak bisa berbuat apa-apa menghadapinya.

Dalam keadaan demikian, Kapiten Phoa Beng Gan merasa terpanggil. Apalagi korbannya banyak etnis Cina yang saat itu hampir mayoritas di Batavia. Phoa kemudian mengadakan rapat kongkoan (Dewan Tionghoa) yang setuju membiayai penggalian kanal mengingat VOC tidak punya uang.

Penggalian dimulai pada 1624 dari ujung Molenvliet, di depan Harmoni sekarang. Penggalian dipimpin oleh Phoa sendiri. Ia menggunakan tenaga kerja sangat banyak mengingat peralatan untuk penggalian masih sangat sederhana.

Saat penggalian sampai ke Jalan Ketapang, mulai terlihat manfaat pembuatan kanal tersebut. Daerah rawa di sekitarnya menjadi kering, sehingga nyamuk-nyamuk anopheles makin berkurang. Dengan banyaknya rawa mengering, banyak dibangun rumah dan perkebunan. Sedangkan hasil buminya dapat diangkut dengan perahu-perahu melalui kanal tersebut.

Sayangnya, kebahagiaan penduduk Batavia tidak ber¬langsung lama. Karena ketika terjadi bencana kekeringan yang hebat akibat musim panas berkepanjangan, air sungai Molenvliet jadi kering kerontang. Perdagangan dan pertani¬an menjadi mandek total. Tapi, Kapiten Phoa tidak putus asa. Ia pun merencanakan proyek pembuatan kali yang lebih besar yang akan dapat menyalurkan air ke tengah-tengah kota Batavia. Ia mengadakan survei ke daerah lebih selatan yang waktu itu masih hutan belukar, dan banyak binatang buas. Di daerah hutan belukar itu, yang sekarang bernama Pejambon, terdapat sungai Ciliwung yang airnya sangat deras.

Dia pun merencanakan membuat kanal yang akan menghubungkan Sungai Ciliwung dengan Molenvliet. Ketika usulnya disampaikan ke VOC, kebetulan Batavia sedang menghadapi seruan Inggris. AL Inggris memblokade kota, hingga pasokan mesiu untuk mempertahankan kota terhenti. Maka diputuskan proyek penggalian kanal ditambah dengan pembangunan pabrik mesiu.

Pabrik mesiu ini harus didirikan ditempat yang jauh dari pusat kota agar bila terjadi kecelakaan tidak mengganggu penduduk. Tempatnya di Jl Hayam Wuruk, tidak jauh dari pertokoan Harco, Glodok sekarang.

Di samping membangun kanal dan pabrik mesiu, kapiten Phoa juga membangun 'Rumah Sakit Cina' dengan obat-obatan serba lengkap. Lokasinya sekarang di Jl Pejagalan, Jakarta Kota. RS ini kemudian `merana' akibat tersaingi oleh CBZ (kini RS Cipto Mangunkusumo) di Salemba. RS Cina kemudian dibongkar gemeente (dewan kota) karena punya utang verponding selama puluhan tahun. Kemudian, masyarakat Cina mendirikan RS `Jang Seng Ie' yang kini bernama RS Husada di Jl Mangga Besar.

Sedangkan kali Molenvliet, sampai tahun 1950'an sering digelar berbagai atraksi. Seperti pesta perahu (peh cun) di malam hari, diiringi tanjidor clan tarian cokek di mana para siacia dan kongcu saling ngibing, atau joget sekarang ini.

Dari Queen of The East (Koningen Van Oost)

Sumber : http://www.strada.or.id
Foto : http://images.djawatempodoeloe.multiply.com

Bangunan Bersejarah di Kota Madya Bandung 2

7. Gedung Kodam III Siliwangi

Gedung Kodam III Siliwangi, Jalan Aceh

Gedung ini dibangun pada tahun 1918. Pada jaman kolonial Hindia' Belanda, dipergunakan sebagai rumah kediaman panglima bala tentara Hindia Belanda (Paiies Van den Legercommandant). Sekarang digunakan sebagai Markas Kodam III Siliwangi.

8. Gedung Kobangdiklat TNI AD
Gedung ini dibangun pada tahun 1916. Pada jaman Kolonial Hindia Belanda gedung ini dipergunakan sebagai gedung Departeman Van Oorlog, oleh masyarakat pribumi dikenal sebagai "Gedung Sabahu". Setetah penjajahan berakhir diambil alih menjadi


Gedung Kebangdiklat TNI AD, Jalan Aceh

9. Gedung Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Museum Mandala Wangsit Siliwangi menempati areal tanah seluas 4176 meter persegi, leas bangunan¬nya 1674 meter persegi.

Gedung ini didirikan pada jaman Kolonial Belanda tahun 1926, dipergunakan sebagai Markas Divisi Siliwangi (Staf Kwartier Territorium III Divisi Sili¬wangi). Gedung tersebut dijadikan sebagai museum dengan latar belakang sejarah sebagai berikut:

Pemah digunakan sebagai Markas Divisi Siliwangi yang pertama di kota Bandung sekitar tahun 1949 - 1950.

Menjadi sasaran pokok serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Kapten Piere Raymond Westerling 23 Januari 1950. Dalam peristiwa ini gugur 79 prajurit Siliwangi, diantaranya Mayor- Adolf Lembong beserta ajudannya.


Gedung Museum Mandala Wangsit Siliwangi Jalan Lembong

Nama Museum "Mandala Wangsit Siliwangi" ini diambil berdasarkan basil pilihan team panitia pendiri museum. Didirikan karena tergugah rasa tanggung jawab terhadap arti pentingnya pelestarian nilai-nilai juang TNI' 45.

Mandala Wangsit Siliwangi berasal dari kata "Mandala" artinya tempat arena, medan, dan kata "Wangsit" yang artinya petunjuk, pesan/amanat, petuah/nasehat, sedangkan kata "Siliwangi" diambil dari nama julukan yang diberikan kepada Raja Pajajaran Prabu Siliwangi), dan nama Korps Ke¬. satuan TNI-AD di Jawa Barat (Divisi Siliwangi/ Kodam III Silwangi).

Arti Mandala Wangsit Siliwangi secara keseluruhan ialah sebuah tempat untuk menyampaikan pesan¬pesan clari para pejuang masa lalu kepada generasi herikutnya rnelalui benda-benda yang terhimpun di dalamnya. Meseum ini di resmikan pada tanggal 23 Mei 1966 oleh Pangliina Siliwangi keVIII ( Kolonel Ibrahim Adji).

10. Gedung Polwiltabes 86/V111 Langlangbuana
Gedung Polwiltabes ini pada masa kolonial diper¬gunakan sebagai Kweekschool (Sekolah Guru). Namun sekolah ini lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Raja.


Gedung Polwiltabes 86 Langlangbuana Jalan Merdeka

11. Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dahulu bemama "Technische Hoogeschool", didirikan pada tahun 1920 dalam usaha mewujudkan kota Bandung sebagai kota pendidikan dan kebudayaan di zaman kolonial, dan merupakan sekolah teknik yang per¬tama di Hindia Belanda. Perguruan Tinggi ini mem¬punyai nilai historic bagi kebangkitan kesadaran nasional bangsa Indonesia. Pada lembaga pendidik¬an inilah lahir beberapa tokoh nasional bangsa In¬donesia, seperti Soekarno, juga melahirkan kaum intelek pribumi yang bisa disejajarkan dengan orang Barat, Eropa khususnya.



Gedung Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesa

Bangunan, khususnya bagian atapnya menunjukkan perpaduan arsitektur tradisional Indonesia dengan kemajuan teknik konstruksi Barat (Eropa).

Tampak atapnya mempunyai atap rumah adat Sunda "Julang Ngapak" dengan puncaknya disebut "Cagak Gunting". Namun ada juga yang mengata¬kan atapnya bergaya atap rumah adat Minangkabau, bahkan menyerupai bentuk atap rumah adat Batak. Secara keseluruhan bangunannya 'bergaya Indo¬Eropa. Gaya bangunannya tersebut dirancang oleh Ir. Maclaine Pont. (bersambung)

Sumber :
RosmanaTjetjep dkk, 1999/2000 Bangunan Bersejarah Di Kota Bandung Jakarta. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Bangunan Bersejarah di Kota Madya Bandung 1

I. Pendahuluan
Belum dapat diketahui secara pasti, kapan Bandung dibentuk menjadi sebuah pemukiman karena tanggal yang dijadikan dasar berdirinya pun diambil dari terbitnya Surat Keputusan Bandung menjadi gemlente. Surat Keputusan tersebut terbit pada tanggal 1 April 1906. Saat itu pemerintahan kota Bandung mulai dipisahkan dengan pemerintahan Kabupaten Bandung oleh Gubernur Jenderal JB Van Heutch.

Sebuah cerita menuturkan bahwa yang membuat Bandung menjadi sebuah kota adalah Gubernur Jenderal Daendels. Ketika itu, Daendels sedang mengawasi pem¬bangunan jalan rayapos yang melintasi Bandung. Di dekat jembatan Sungai Cikapundung (Sekitar Gedung Merdeka) yang tengah diselesaikan oleh -pasukan zeni militer Belanda dibantu penduduk Kampung Cikapundung, Daendels menancapkan patok kayu sambil berkata "usahakan yang terbaik, jika aku kembali lagi, ditempat ini telah dibangun sebuah kota". Pada patok itu berdiri, orang kemudian membuat tanda berupa tugu yang menyatakan tanda kilometer 0 untuk daerah Bandung. Sejak itulah kota Bandung dibangun hingga mencapai bentuk perkembangan sekarang ini.

A. Lokasi dan Kondisi Geografis
Dari tahun ke tahun, Bandung menunjukkan perkem¬bangan yang sangat pesat. Kepesatan tersebut di¬mungkinkan karena letaknya yang strategis sebagai hinterland ibu kota. Di bidang budaya, Bandung berkembang menjadi pusat budaya Jawa Barat mengalahkan Cianjur, Banten, dan Cirebon yang telah memiliki akar budaya lebih tua. Kemudian dari segi politik, Bandung sering dijadikan barometer politik, dan dari segi ekonomi Bandung menjadi koridor utama Jakarta serta pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Priangan, Cianjur, Cirebon, dan Jawa Tengah.

Dengan alasan-alasan tersebut, tidak heran jika Bandung memiliki berbagai macam fungsi, seperti pusat pemerintahan Jawa Barat dengan adanya Kantor Gubernur di Gedung Sate. Kemudian sebagai kota pendidikan, dengan adanya ITB, Unpad, IKIP serta puluhan perguruan tinggi swasta dan berbagai macam pendidikan lainnya. Bandung juga merupa¬kan pusat perdagangan regional Jawa Barat; kota industri, pusat budaya dan pariwisata, serta etalasi Jawa Barat.

Secara astronomic, Bandung yang dikelilingi pe¬gunungan ini, terletak di antara 107" BT dan 6° 55' LS. Jarak antara ibukota negara (Jakarta) sekitar 180 km, dari Bogor kurang lebih 126 Km, dan dari Cirebon sekitar 130 Km. Ditinjau dari segi topografi, Bandung terletak pada ketinggian rata-rata 768 meter diatas permukaan laut. Sisi sebelah Utara berupa perbukitan dengan titik tertinggi 1.050 meter diatas permukaan laut. Sedangkan sisi sebelah Selatan yang relatif datar, titik terendahnya sekitar 675 meter diatas permukaan laut.

Kawasan kota Bandung yang dahulunya merupakan danau purba Bandung ini, dikelilingi beberapa gunung, antara lain : Gunung Tangkuban Perahu (2.076 m), Gunung Malabar (2.321 m), Gunung Burangrang (2.064 m), Gunung Bukit Tunggul (2.209 m), Gunung Patuha (2.249 m), Gunung Palasari, Gunung Mang¬layang, dan Gunung Tilu. Oleh karena dipengaruhi iklim pegunungan yang lembab dan sejuk, temperatur rata-rata harian antara 18° C sampai 28,2" C dengan curah hujan antara 77,2 mm hingga 178,6 mm. Jumlah hari hujan dalam setahun rata-rata 208 hari.

Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 135/331/PUOD tanggal 23 Juni 1986 luas wi¬layah Kotamadya Bandung yang semula 12.758 hektar berkembang menjadi kurang lebih 17.000 hektar dengan batas-batas: Sebelah utara sampai dengan garis ketinggian 750 m, sebelah timur sam¬pai Sungai Cibiru, sebelah selatan sampai jalan Tol Padalarang-Cileunyi, dan sebelah barat sampai jalan Terusan Pasteur, Jalan Raya- Bandung Cimahi, dan batas wilayah Kota Administratif Cimahi. Wilayah seluas 17.000 hektar tersebut dimanfaatkan untuk perumahan (54%), perkotaan (9%), perkotaan dan perdagangan (4%), industri (2%), pertanian (14%), kompleks militer (8%), cadangan untuk pengem¬bangan (3%), dan kegunaan lain-lain (6%); serta meliputi 4 Wilayah Pembantu Walikota Madya, 26 kecamatan, dan 135 kelurahan.

Pengembangan luas wilayah yang dipergunakan untuk pemukiman penduduk dilakukan dengan melingkari wilayah yang telah ada. Hal tersebut menyebabkan tempat tinggal penduduk semakin jauh letaknya dari pusat kota. Perluasan wilayah itu tidak diimbangi dengan pembuatan alternatifjalan yang baru, bahkan jalur jalan untuk mencapai pusat kota masih meng¬gunakan jalan yang lama, sehingga Bandung dapat dikatakan tidak teratur dan mengakibatkan pemakai jalan selalu dihadapkan pada persoalan kemacetan lalu lintas yang hampir berlangsung setiap hari.

B. Kependudukan
Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki perkembangan penduduk yang sangat pusat. Tingkat kepadatan penduduknya rata-rata mencapai 135 jiwa/hektar. Bahkan beberapa wilayah seperti Pagarsih, Jamika, Kiaracondong, Cicadas, Binong, dan Babakan Ciparay, mencapai kepadatan 250 jiwa/ hektar sampai 400 jiwa/hektar. Padahal menurut ketentuan WHO, tingkat kepadatan penduduk kota paling ideal sekitar 60 jiwa/hektar.

Lajti Pertumbuhan penduduk (LPP) Kodya Bandung mencapai 3,48%. Padahal data asli dari BKKBN (se¬suai dengan angka kelahiran) hanya 1,08%. Berarti, 2,4% LPP berasal dari kaum pendatang.

Memang berdasarkan data kependudukan yang ter¬dapat di Pemda Kodya Bandung, setiap tahun Bandung di banj iri kaum pendatang antara 40.000 — 50.000 orang. Mereka datang dari berbagai pelosok untuk mencari kehidupan yang lebih baik dibanding di daerah asal. Selain oleh pencari nafkah, Bandung juga diserbu pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah dengan jumlah setahunnya mencapai sekitar 10.000 orang. Yang mengkhawatirkan adalah apabila pendatang (termasuk pelajar/mahasiwa) tidak mau kembali ke tempat asalnya. Tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan pasangan (suami atau istri) orang Bandung dan kemudian tinggal di Bandung.

Beberapa nama tempat di Bandung, mencerminkan keberadaan kaum pendatang seperti di kawasan Kiaracondong, terdapat kampung yang disebut pen¬duduk setempat "Kampung Jawa" karena sebagian besar penduduknya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di kawasan Sumur Bandung juga ter¬dapat "Babakan Ciamis" yang kalau ditelusuri latar belakangnya, ternyata karena di tempat tersebut banyak dihuni oleh penduduk yang berasal dari Ciamis, terutama dari Kecamatan Panjalu.

Bertambahnya jumlah pendatang yang merupakan produk parahnya arus urbanisasi, diakibatkan juga oleh banyak didirikan pabrik-pabrik tekstil atau garmen yang menyerap pekerja sampai ribuan orang dan sebagian besar diantaranya berasal dari daerah luar Bandung. Jumlah tersebut akan semakin meningkat apabila ditambah lagi dengan pendatang yang bersifat commuter (Wang alik). Pendatang tersebut hadir di Bandung karena berhubungan dengan pekerjaan (tempat kerjanya di Bandung) dan sekolah. Menurut perhitungan jumlah pendatang commuter diperkirakan mencapai 300.000 setitap harinya. Mereka datang dari kota satelit seperti Ciparay, Majalaya, Banjaran. Soreang, Lembang, Cililin, Cicalengka atau Subang dan beberapa kota yang letaknya terlalu jauh.

Berdasarkan komposisi penduduk menurut umur yang tercatat pada data kependudukan Kotamadya Bandung tahun 1996, jumlah penduduk yang berusia muda menunjukkan perbandingan lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia sedang/produktif dan tua. Oleh karena itu, beban ketergantungan (depen¬dency ratio) yang dapat dihitung diperkirakan sekitar 72,8 persen, yang berarti bafiwa setiap 100 orang berusia produktif atau konsumtif harus menang-gung 72 orang yang nonproduktif atau konsumtif. Tinggi beban ketergantungan ini menyebabkan pen-dapatan Kota Madya Bandung habis dikonsumsi oleh penduduk nonproduktif.

C. Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Bandung serta segenap lapisan masyarakat selama kurun waktu 90 tahun ini telah menunjukkan keberhasilan yang cukup menggembira¬kan. Hal tersebut dapat dilihat dari angka laju per¬tumbuhan ekonomi yang dewasa ini mencapai 1156%, jauh di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6% dan laju pertumbuhan eknomi Jawa Bann 9%.

Walaupun laju pertumbuhan ekonominya tinggi, ter¬nyata masih banyak warga kota Bandung yang belum berhasil dalam bidang materi. Hal tersebut terlihat dengan adanya tiga desa/kelurahan yang tertinggal, yaitu Desa Mengger, Kelurahan Cigondewah Wetan, dan Kelurahan Sukapura, serta terdapatnya hampir 150.000 KK yang dinyatakan prasejahtera dan mis¬kin (40% dari seluruh penduduk Kodya Bandung).

Upaya yang dilakukan Pemda Kotamadya Bandung untuk membrantas kemiskinan. antara lain memberi¬kan dana IDT (Inpres Desa Tertinggal) kepada tiga kelurahan tertinggal, dan membentuk KBS (Kelom¬pok Bina Sosial) untuk membantu penduduk yang kekurangan modal. Selain itu. dibentuk juga Yayusan Berhiber, merealisasikan program Rereongan Sarupi, dan program Satata Sariksa.

Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa masya¬rakat Jawa Barat umumnya. khususnya kota Bandung masih memiliki kepedulian sosial yang relatif tinggi terhadap sesamanya. Namun perlu juga disadari bahwa nilai-nilai luhur tersebut kin i memudar seiring dengan perkembangan zaman. terutama di daerah pusat kota yang sudah individualistis. Padahal kalau sikap hidup demikian diupayakan dan dibina kembali, niscaya merupakan potensi yang luar biasa untuk menjarnin kemajuari di segala bidang kehidupan.

Pemerintah Daerah Kotamadya Bandung menyadari bahwa berbagai permasalahan kerapkali timbul, walaupun upaya pembangunan di segala bidang dilaksanakan secara terencana. menyelunth, dan ber¬kesinambungan.

Permasalahan yang timbul antara lain diakibatkan bertambahnya penduduk yang berpengaruh terhadap fasilitas dan utilitas yang dibangun Pemda. Adapun yang paling dominan adalah semakin sempitnya lahan terbuka karena hampir sebagian besar digunakan untuk pemukiman.

Walaupun secara umum dapat dikatakan bahwa kon¬disi tempat tinggal penduduk Bandung dan sekitar¬nya relatif balk tetapi terdapat juga kondisi pemukiman yang kurang memadai sebagai tempat tinggal atau kumuh. Daerah kumuh tersebut umumnya terdapat dipinggir rel kereta api, Daerah-daerah Aliran Sungai (DAS), bahkan tidak sedikit yang menjadikan kuburan (tempat pemakaman umum) sebagai pemukiman. Dengan demikian, upaya pemenuhan utilitas dan fasilitas kota yang dilaksanakan saat ini, masih jauh tertinggal dibanding kebutuhan.


Peta Kotamadya Bandung

II Bangunan Bersejarah Di Kota Bandung
1. Gedung Sate

Pembangunan gedung ini dirintis tahun 1918, dan iibangun pada tahun 1920. Bangunannya berbentuk 7.ersegi panjang. Pintu masuk utama terletak di tengah-tengah bagian gedung yang memanjang, rnenghadap ke utara. Puncak atapnya bersusun tiga dengan antena anti petir yang terletak di tengahnya berbentuk setusuk sate, menurut sebagian orang lambang setusuk sate tersebut melambangkan biaya ang dikeluarkan pemerintah kolonial untuk mem¬bangun gedung tersebut


Gedung Sate, Jalan Diponegoro

Enam bulatan tersebut berarti enam juta gulden. Menurut catatan pembangunan gedung sate itu hanya lima juta gulden (Comite van Artie, "Bandung de Staat op de Hoogulakte"). Puncak atap tersebut memotong atap bangunan menjadi dua bagian Gedung ini pernah dijadikan kantor Departemen Verkeer en Waterstaat juga sering disebut Gedung Gouvernements Bedrijven. Sekarang dipergunakan sebagai Kantor Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat.

Gedung ini pernah dijadikan kantor Departemen Verkeer en Waterstaat juga sering disebut Gedung Gouvernements Bedrijven. Sekarang dipergunakan sebagai Kantor Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat.

2. Gedung Pakuan
Gedung Pakuan didirikan pada tahun 1867 atas prakarsa Residen Priangan RAA. Wiranatakusuma IV (Dalem Bintang 1), Bupati Bandung ketujuh di¬bantu oleh para pekerja perkebunan Babakan Bogor.



Gedung Pakuan, Jalan Ottó Iskandardinata

Perancang bangunan ini adalah insinyur kepala dan staf dari Residen Van der Moore dan mulai dibangun tahun 1864. Gedung Pakuan memiliki langgam Indische Empire Stijl (Gaya Empire Hindia). Bentuk dan gaya gedung itu tampak merupakan perpaduan antara bentuk dan gaya bangunan Sunda dengan gaya dan bentuk bangunan Eropa. Nama Gedung Pakuan diusulkan oleh Dalem Isteri RAA Wiranatakusuma V.

Gedung Pendopo Kabupaten Bandung, Jalan Dalem Kaum

Pada dinding, pintu dan palang-palang bangunannya terdapat karya seni semacam kaligrafi, berupa ayat¬ayat suci Al Qur'an.

Dalam bangunan ini terdapat sebuah ruangan tempat Bupati menerima tamu dan pendopo. Pendopo ini dibangun pada tahun 1950 pada masa petherintahan Bupati RAA Wiranatakusumah IV.

3. Gedung Dwi Warna
Gedung ini dibangun pada tahun 1940 di bawah pengawasan Technisishon Dionstdor Stadsge¬meente Bandung, dipergunakan sebagai Pension Fonds seluruh Indonesia. Pada waktu pemerintah Jepang berkuasa di Indonesia, gedung ini diperguna¬kan sebagai gedung Kempe Tai, kemudian sebagai gedung Rekomba, dan pada masa feodal sebagai gedung DPR Negara Pasundan.

Di gedung ini pula dilakukan demonstrasi pem¬bubaran Negara Pasundan yang kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Gedung Dwi Warna, Jalan Diponegoro

Setelah Negara Pasundan bersatu (kembali) ke Negara Kesatuan, gedung DPR Tingkat I Jawa Barat (dulu) oleh Bung Karno dipergunakan sebagai gedung Sekretariat Konferensi Asia Afrika dan di¬beri nama "Gedung Dwi Wama". Setelah konferensi selesai, kembali ke fungsi semula yaitu sebagai gedung KP3 (Kantor Pusat Pensiunan Pegawai), kemudian sebagai Kantor Pusat Administrasi Belanja Pegawai, namanya "Sub Direktorat Pe¬ngumpulan Data Seluruh Indonesia".

4. Gedung Merdeka
Gedung Merdeka dibangun pada tahun 1879, oleh arsitektur berkebangsaan Belanda hernama Van Galen Last dan CP. Wolf Schoomaker, kemudian dibangun sampai berbentuk sekarang tahun 1927 - 1929. Dahulu gedung ini terdiri atas dua huah bangunan, yakni bangunan pokok yang disehut Gedung Schowberg dan satu lagi yang disehut Societiet Concordia. Kedua gedung ini disatukan dan telah dilaksanakan perombakan besar tahun I954, dalam rangka akan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika pada bulan April 1955.

Dahulu gedung ini merupakan gedung pertemuan orang Belanda dari kalangan atas, seperti kaum intelektual, perwira militer, -pemilik perusahaan perkebunan di sekitar kota Bandung.


Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika

Sejak tahun 1955 gedung ini merupakan gedung .bersejarah yang terkenal ke seluruh dunia, karena di gedung inilah berlangsung Konferensi Asia Afrika yang membangkitkan semangat untuk gerakan ke¬merdekaan negara-negara terjajah yang ada di seluruh Asia Afrika. Di samping itu, di gedung ini pula tempat dilangsungkannya pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional, seperti Konferensi Islam Asia Afrika, Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan sekarang digunakan sebagai gedung Museum Asia Afrika.

Gedung tersebut telah mengalami pemugaran pada tahun 1978/1979 oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (bersambung)

Sumber :
RosmanaTjetjep dkk, 1999/2000 Bangunan Bersejarah Di Kota Bandung Jakarta. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Persada Sukarno, Sekilas Saja

Oleh: Agus Setiyanto

Sebelum dimunculkannya sebuah gagasan yang diberi nama Persada Sukarno, ada beberapa kegiatan yang berskala nasional untuk memamerkan koleksi apa saja yang berkaitan dengan kehidupan Bung Karno.

Pameran koleksi karya-karya Bung Karno untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tahun 1970 kerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan tajuk “Bung Karno dan Seni”. Selanjutnya, pameran kedua dilaksanakan di Semarang dengan tajuk “Bung Karno dan Asia–Afrika”.

Setelah hampir 20 tahun masa vakum, pihak Yayasan Bung Karno mencoba menggagas kembali agar diselenggarakan pameran Bung Karno yang berskala nasional. Gagasan tersebut kemudian dirancang sekaligus untuk memperingati Seratus Tahun Bung Karno. Oleh karenanya, pameran ketiganya dilaksanakan kembali pada tahun 2001 bertepatan dengan Haul Bung Karno yang ke 100 tahun. Pameran yang terpusat di gedung Pola Jakarta itu memamerkan koleksi karya seni, barang-barang, artefak sejarah, lukisan, serta foto yang berkaitan langsung dengan kehidupan Bung Karno.

Kabarnya, menurut pihak penyelenggara dalam hal ini Yayasan Bung Karno, selama pameran digelar pengunjungnya mencapai 1,5 juta orang. Pada Haul Bung Karno yang ke 100 tahun tersebut, tim dari Bengkulu juga ikut berpartisipasi memamerkan barang-barang peninggalan Bung Karno berupa seperangkat properti sandiwara tonil Monte Carlo.

Pada haul Bung Karno yang ke 102 tahun 2003 tim dari Bengkulu (Komunitas Seniman Bengkulu) menggelar Pangung Bangsawan Bengkulu dengan menampilkan naskah karya Bung Karno yang berjudul: ”Rainbow” Putri Kencana Bulan.

Upaya untuk membumikan kebesaran Bung Karno, beserta ajaran dan warisan peninggalannya, pihak Yayasan Bung Karno selanjutnya merencanakan sebuah gagasan besar yang diberi nama Persada Sukarno.

Persada Sukarno (Sukarno Centre) yang dimaksud adalah sebuah tempat tinggal atau rumah yang pernah ditempati oleh Bung Karno semasa hidup dalam perjuangannya. Rumah tempat tinggal Bung Karno semasa perjuangannya itulah yang diharapkan dapat mengakses seluruh petilasan/peninggalan karya-karya Bung Karno yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Indonesia.


Benda-benda bersejarah di Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Pihak Yayasan Bung Karno sendiri sudah melakukan pendataan/inventarisasi daerah-daerah yang berpotensi menjadi Persada Sukarno (Sukarno Centre). Menurut hasil survey, ada 5 daerah yang dapat dijadikan sebagai Persada Sukarno, yaitu : Endeh, Brastagi, Prapat, Blitar, dan Bengkulu.

Di Endeh, Bung Karno pernah menjadi interniran (orang buangan) politik kolonial Belanda selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1930—1934. Selama masa 4 tahun pembuangan di Endeh tersebut, tentu saja telah banyak meninggalkan kenangan masa perjuangannya yang dapat dimanfaat sebagai tempat petilasan/peninggalan sejarah perjuangan Bung Karno. Dan kini rumah yang pernah ditempati Bung Karno di Endeh dijadikan sebagai Museum Bung Karno.

Menurut informasi seorang kawan dari Endeh, di tempat itu ada beberapa naskah sandiwara “Kelimutu” karya Bung Karno yang masih tersimpan rapi di perpustakaan Museum Bung Karno di Endeh.

Di Brastagi, Bung Karno yang sudah menjadi presiden Republik Indonesia bersama Sjahrir, dan Agus Salim sempat diinternir oleh pemerintah Belanda di penghujung tahun 1948. Akan tetapi kemudian pada tangal 1 Januari 1949 dipindahkan ke Parapat (Lambert Giebels, 472).

Di Bengkulu, kawasan Persada Sukarno pun sudah disiapkan —bahkan infrastrukturnya sudah selesai dibangun. Tapi sayang, hingga kini masih belum jelas arahnya. Mungkin perlu sentuhan budaya —misalnya revitalisasi pertunjukan tonil Monte Carlo karya Bung Karno. Jika perlu atraksinya dilakukan seminggu sekali —sebagai peningkat daya tarik wisatawan sekaligus penguat budaya lokal… SEKIAN !

Sumber : http://bangkahoeloe.wordpress.com
Foto : http://baltyra.com

Pengembangan Wisata Kota Tua Bersejarah


Oleh: Bambang Budi Utomo

Pada tanggal 30 Januari–7 Februari 2004, di Vientiane (Republik Rakyat Demokrasi Laos) telah diselenggarakan ASEAN Tourism Forum (ATF) 2004 dengan tema “ASEAN: the New Tourism Landscape”. Salah satu hal yang dibicarakan dan disepakati dalam pertemuan itu adalah tentang ASEAN Heritage Cities, gagasan tentang pembentukannya diajukan oleh delegasi Thailand. Tujuan pembentukannya adalah untuk menciptakan hubungan bagi kota-kota bersejarah di wilayah Asia Tenggara, baik di daratan maupun di kepulauan.

Rincian dari tujuan pembentukan ASEAN Heritage Cities antara lain adalah:
1. Menggalakkan kerja sama wisata sejarah antarnegara anggota;
2. Mendorong untuk pengelolaan tinggalan sejarah dan budaya masa lampau yang lebih baik di masing-masing negara anggota;
3. Mempromosikan wisata sejarah ASEAN dan mendorong arus wisatawan ke kawasan ASEAN;
4. Menggalakkan hubungan dan pemahaman antar warga negara ASEAN dan memberikan gambaran kepada dunia di luar ASEAN tentang integrasi dan keanekaragaman budaya ASEAN.

Tujuan tersebut di atas kertas sangat menarik, namun implementasinya di lapangan saya kurang dapat membayangkan keberhasilannya. Melalui tulisan singkat ini, saya akan mencoba memberikan pemikiran bagaimana mengimplementasikannya di lapangan dengan mengambil contoh kasus di Palembang, karena:

1. Palembang merupakan kota tertua di Indonesia yang terus berkembang dan kelahirannya dicatat dalam sebuah prasasti yang bertanggal 16 Juni 682 Masehi.

2. Pada zaman Śrīwijaya, kota ini mempunyai hubungan persahabatan dengan Nālanda dan Nagipattana, India (Prasasti Nālanda, abad ke-9 M, Prasasti Raja-raja I, tahun 1044/1046 M), Nakhon Sitammarat, Thailand (Prasasti Wiang Sa, tahun 775 M), Kedah, Malaysia (Berita Tionghoa, I tsing abad ke-7 M), dan Canton, Tiongkok (Prasasti Tien Qing, tahun 1079 M).

3. Pada masa pendudukan Majapahit (abad ke-15 M), Palembang berhubungan dengan Malaka, Malaysia. Bahkan, pembangunan Kota Malaka dikaitkan dengan Parameswara yang berasal dari Bukit Siguntang, Palembang.

4. Pada Masa Kesultanan Palembang-Darussalam (abad ke-17-19 M) terdapat hubungan persahabatan dengan Kesultanan Sulu di Filipina Selatan (Mindanau). Sebuah sumber sejarah menginformasikan bahwa salah seorang Sultan Sulu masih kerabat dekat Sultan Palembang Darussalam.

1. Palembang Kota Tua
Indonesia atau dulunya dikenal dengan sebutan “Nusantara” telah memiliki sejarah hunian manusia yang cukup panjang. Sebut saja Pulau Jawa yang dikenal oleh dunia internasional sebagai salah satu tempat asalnya manusia purba dengan situsnya Sangiran, Pacitan, dan Wajak. Sedangkan awal babakan sejarah Indonesia telah dimulai pada abad ke-5 M, yaitu di Kutai (Kalimantan Timur) dan Tarumanegara (Jawa Barat). Sayangnya, dari awal peradaban manusia ini tidak ditemukan sisa-sisa huniannya, apalagi hunian yang terus berkembang menjadi sebuah kota.

Kota merupakan hasil perkembangan terakhir dari sebuah bentuk permukiman. Berkembang tidaknya sebuah permukiman menjadi sebuah kota dapat tergantung dari keletakan permukiman tersebut dan sumber daya alam yang dapat menghidupi penduduk di suatu hunian. Indonesia mempunyai banyak kota tua yang berasal dari hunian tingkat sederhana. Namun, tidak seluruhnya dapat berkembang pesat menjadi sebuah kota besar. Sebut saja, misalnya kota-kota tua di Barus, Pidie, Jambi, Palembang, Banten, Jakarta, Lasem, Tuban, Gresik, Surabaya, Makassar, Ternate, Tidore, dan masih banyak lagi.

Di antara kota-kota tua yang ada di Nusantara, Palembang merupakan kota tua yang mempunyai keunikan, sebagaimana telah saya utarakan di bagian muka. Setelah dimukimi dan dibangun, Palembang terus berkembang dari masa ke masa hingga kini. Berbagai pemerintahan silih berganti membangun dan menghidupi kota ini.

Palembang sebagai sebuah situs kota (urban site) tentu saja memiliki arsitektur tinggi sebagai produk peradaban. Dilihat dari data tertulis (prasasti dan naskah-naskah kuno) dan data arkeologis yang sampai kepada kita, sejarah Palembang sebagai kota metropolitan secara kronologis dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Fase I merupakan Fase Awal (682-1365 M) berdirinya sebuah kota ditandai dengan pembangunan wanua (=perkampungan) Śrīwijaya pada tanggal 16 Juni 682 M oleh Dapunta Hiyaŋ yang dilanjutkan dengan pembangunan Taman Śrīksetra pada tanggal 23 Maret 684 M, dan akhirnya perluasan wilayah kekuasaan ke berbagai penjuru (Jambi, Bangka, dan Lampung).
2. Fase II merupakan Fase Pendudukan (1365-1407 M) oleh Majapahit atau dapat dikatakan juga Fase Status Quo yang terjadi pada sekitar abad ke-14 M. Pada masa ini, Palembang dalam keadaan “tidak terurus” dan secara de jure tidak ada penguasa. Berita Tiongkok menyebutkan bahwa pada masa itu Palembang dikuasai oleh orang-orang dari Nan-hai dengan menobatkan Liang Tau-ming bersama putranya sebagai penguasa tertinggi.

3. Fase III merupakan Fase Awal Kesultanan Palembang (1407-1642 M). Dimulai tahun 1407 M ketika Mugni diangkat menjadi raja di Palembang dengan gelar Sultan Palembang. Pada tahun 1445 M, Mugni kemudian digantikan oleh Aria Damar--seorang bangsawan Majapahit yang memeluk Islam—yang menjadi penguasa di Palembang setelah berganti nama menjadi Aria Dilah. Pada masa ini, Palembang masih berada di bawah pengaruh Jawa (Demak dan Mataram) sampai dengan tahun 1642 M.

4. Fase IV merupakan Fase Kesultanan Palembang-Darussalam (1643-1821 M) dimulai dari masa pemerintahan Sri Susuhunan Abdurrahman (1643-1651 M), dan diakhiri pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II (1811-1821 M). Pada fase ini, Palembang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) mengalami pembangunan fisik besar-besaran. Bangunan monumental yang dibuat kala itu adalah Keraton Kuto Tengkuruk, Masjid Agung Palembang, Makam Kawah Tengkurep, dan Benteng Kuto Besak.

5. Fase V merupakan Fase Pendudukan oleh Belanda yang diawali dengan jatuhnya Benteng Koto Besak pada tahun 1821 M. Fase ini berlangsung sampai kemerdekaan tahun 1945 M. Pada masa ini, bangunan Keraton Kuto Tengkuruk diratakan dengan tanah, dan di atas reruntuhannya dibangun rumah Komisaris Belanda. Bangunan ini sekarang menjadi bangunan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Rekonstruksi Palembang pada Masa Sriwijaya, sekitar abad ke-7-9 M (tahun 680-an) dimulai dari 1 Ilir di sebelah timur sampai Desa Karanganyar di sebelah barat, mulai dari tepi utara Musi sampai Desa Talang Kelapa di sebelah utara. Sementara itu, wilayah Seberang Ulu (selatan Musi) tidak ditemukan data arkeologis dari Masa Śrīwijaya. Ini berarti Kota Palembang yang kala itu masih bernama Śrīwijaya masih menempati areal sisi utara Sungai Musi.

Luas Palembang pada masa kesultanan tidak jauh berbeda dengan masa Śrīwijaya. Hanya ditambah sedikit dengan wilayah seberang ulu. Namun, pusat pemerintahannya tetap di sisi utara Musi. Pusat pemerintahan (keraton tempat tinggal sultan) berpindah-pindah. Mulai dari daerah 1 Ilir (Keraton Palembang Lamo atau Kuto Gawang), 16 Ilir (Keraton Beringin Janggut), Kuto Lama atau Kuto Batu, dan terakhir Keraton Kuto Besak. Kuto Besak dibangun sekitar 100 meter di sebelah barat Keraton Kuto Lama. Belakangan keraton Kesultanan Palembang yang masih tersisa adalah Keraton Kota Besak. Pada masa ini, sudah terdapat penataan kota, misalnya tempat tinggal orang-orang asing terletak di wilayah seberang ulu, di sekitar Plaju.

2. Palembang dan Malaka
Rupa-rupanya, dari masa ke masa Bukit Siguntang∗ memang sudah lama dikenal, sebagaimana tercantum dalam Kitab Sejarah Melayu yang ditulis pada tanggal 13 Mei 1612 M.

Adapun Negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka di hulu Sungai Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit bernama Bukit Si Guntang; di hulu Gunung Maha Miru, di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan. Maka ada dua orang perempuan berladang, Wan Empo seorang namanya dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berumah di Bukit Si Guntang itu, terlalu luas humanya, syahadan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampir masak padi itu.

Itulah sepenggal kalimat yang tercantum dalam Kitab Sejarah Melayu. Seterusnya kitab itu menceriterakan turunnya makhluk setengah dewa (Sang Siperba) ke Bukit Siguntang dan di kemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatra, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Tanah Melayu. Menurut Sejarah Melayu, Bukit Siguntang adalah Gunung Mahameru seperti yang terdapat dalam cerita-cerita sastra agama Hindu dan Buddha.

Telah masyhurlah pada segala negeri bahwa anak raja anak cucu Raja Iskandar Dhu‘lkarnain turun ke Bukit Si Guntang Maha Miru, maka segala raja-raja dari segala negeri pun datanglah menghadap raja itu sekaliannya dengan persembahannya.

Selanjutnya Kitab Sejarah Melayu menguraikan perjalanan Sang Siperba ke tempat lain menyeberang Sumatra menuju Kalimantan.

Setelah keluar dari Kuala Palembang, lalu berlayar menuju selatan enam hari enam malam, jatuh ke Tanjung Pura. Maka Raja Tanjung Pura pun keluar mengelu-elukan Baginda dengan serba kebesaran dan kemuliaan ... Setelah mendengar bahwa raja turun dari Bukit Siguntang itu ada di Tanjung Pura, maka Batara Majapahit pun berangkat hendak bertemu dengan Sang Siperba.

Dalam Kitab Sejarah Melayu tersebut, dapat diketahui ada tiga orang raja, yaitu seorang raja yang turun dari Bukit Siguntang, Raja Tanjung Pura, dan Raja Majapahit. Raja Majapahit dikatakan sebagai raja yang mulia: “Adapun pada jaman itu Ratu Majapahit itu raja besar, lagi amat bangsawan”. Karena kehormatan Raja Majapahit, Sang Siperba, raja yang turun dari Bukit Siguntang, kemudian mengawinkan seorang putrinya dengan Raja Majapahit. Sementara itu, salah seorang anak Sang Siperba, Sang Maniaka, dikawinkan dengan anak Raja Tanjung Pura dan kemudian menjadi raja di Tanjung Pura. Keturunan dari Sang Siperba adalah Parameswara yang kemudian meneruskan perjalanannya ke Semenanjung Tanah Melayu.

Bukit Siguntang oleh sebagian masyarakat Melayu di Sumatra dan Semenanjung, dianggap suci karena merupakan “punden”-nya orang-orang Melayu. Menurut Kitab Sejarah Melayu, raja yang memerintah di Malaka dikatakan sebagai keturunan dari Sang Siperba, makhluk setengah dewa yang turun di Bukit Siguntang. Oleh sebab itu, orang-orang Melayu dari Malaka yang berkunjung ke Palembang, rasanya kurang lengkap kalau tidak berkunjung ke Bukit Siguntang.

Kuatnya “kepercayaan” terhadap cerita sejarah Melayu tersebut mendorong Gubernur Malaka untuk melakukan napak tilas perjalanan Parameswara, mulai dari Sang Siperba hingga membangun Kesultanan Malaka di pantai barat Semenanjung Malaysia. Perjalanan napak tilas dengan menggunakan kapal layar besar ini menjadikan semacam wisata ziarah dengan tujuannya Bukit Siguntang.

Jika dikaitkan antara Palembang dan Malaka, dan keterikatan emosional (penduduk) Malaka dan Palembang, keadaan ini akan menguntungkan kita. Orang-orang Malaka, sekurang-kurangnya kaum bangsawan Melayunya datang ke Palembang untuk melakukan perjalanan ziarah. Sepengetahuan saya pada saat tertentu di setiap tahun mereka secara berombongan datang ke Palembang.

3. Palembang-Darussalam
Penguasa Palembang yang dikenal sebagai Tokoh Pembangunan Modern adalah Sultan Mahmud Badaruddin I atau dikenal dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo yang memerintah pada tahun 1724-1758 M. Selama masa pemerintahannya, Sultan ini banyak melakukan pembangunan kota, di antaranya Makam Lemabang atau dikenal juga dengan nama Kawah Tengkurep (1728 M), Kuto Batu (Kuto Lamo, 29 September 1737 M), Masjid Agung (26 Mei 1748 M), dan terusan-terusan (kanal) di sekitar Kota Palembang. Konon kabarnya, Sultan ini juga memprakarsai pembangunan Benteng Kuto Besak. Selain itu, beliau juga mengembangkan tambang timah di Bangka dan menata sistem perdagangan agar lebih menguntungkan kesultanan.

Kawasan inti Keraton Kesultanan Palembang-Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I luasnya sekitar 50 hektar dengan batas-batas di sebelah utara Sungai Kapuran, di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Tengkuruk (sekarang menjadi Jl. Jenderal Soedirman), di sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Musi, dan di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Sekanak. Pada awalnya, di areal tanah yang luasnya sekitar 50 hektar ini hanya terdapat bangunan (Benteng) Kuto Batu atau Kuto Tengkuruk dan bangunan Masjid Agung dengan sebuah menara yang atapnya berbentuk kubah.

Perang Palembang tahun 1819 dan 1821 M antara Sultan Mahmud Badaruddin II dan Belanda, tidak hanya menghapuskan institusi kesultanan tetapi juga menghancurkan bangunan Keraton Kuto Tengkuruk. Di atas puing-puing bekas bangunan Kuto Tengkuruk dibangun sebuah rumah megah untuk kediaman Residen Palembang, van Sevenhoven (1825 M). Bangunan ini sekarang berfungsi sebagai bangunan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di dalam kawasan inti keraton, pada masa pemerintahan Gemeente Palembang (awal abad ke-20 M) dibuat beberapa buah bangunan yang hingga sekarang masih berdiri kokoh. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Menara Air (sekarang Kantor Wali Kota Palembang), dan Hotel Musi. Pada masa ini pula, beberapa sungai yang terdapat di kawasan inti telah berubah fungsi. Sungai Tengkuruk yang terdapat di sebelah timur Kuto Tengkuruk ditimbun untuk jalan yang sekarang menjadi Jl. Jendral Soedirman. Sungai yang terdapat di sebelah utara Kuto Besak/Menara Air ditimbun menjadi Jl. Merdeka.

4. Saran
Kota Palembang telah dikenal oleh dunia internasional, sekurang-kurangnya dikenal oleh para ilmuwan yang bergerak di bidang sejarah dan arkeologi. Palembang dikenal sebagai kota tua yang berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan Śrīwijaya. Karena itulah di kawasan regional Asia Tenggara, berbicara mengenai Śrīwijaya mau tidak mau juga harus berbicara mengenai Palembang, Kedah, Nakhon Sitammarat, Tiongkok, dan India.

Berdasarkan pertimbangan latar belakang sejarah serta banyaknya ragam tinggalan budaya masa lampau di Palembang, pengelolaan sumber daya budaya, dan daerah kunjungan wisata (khususnya wisata sejarah dan wisata ziarah), melalui tulisan singkat ini saya mengusulkan:

1. Membangun kawasan wisata budaya Palembang sesuai dengan kaidah-kaidah pemintakatan (zoning) benda cagar budaya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Disarankan kawasan yang dapat dijadikan kawasan kota tua bersejarah adalah pada kawasan inti keraton yang luasnya sekitar 50 ha.

2. Melakukan pemantauan pembangunan fisik kota dengan memperhatikan tinggalan budaya baik yang ada di dalam tanah maupun yang di permukaan tanah, dan memberikan asistensi terhadap kegiatan pembangunan yang menyangkut benda cagar budaya. Apalagi pada saat ini Pemerintah Kota Palembang sedang giat melakukan pembangunan fisik. Sebuah bangunan tua, bekas tempat kediaman Residen Palembang telah dibongkar untuk dibangun Museum Tekstil (Kompas, 11 dan 14 Oktober 2005, hlm. 12). Bangunan ini dibangun tahun 1883 M, sebelum pemerintahan Gemeente Palembang.

3. Melakukan pembenahan untuk kebersihan dan keamanan lingkungan di sekitar obyek wisata budaya dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota. faktor keamanan di Palembang sangat penting untuk dibenahi, karena banyaknya tempat yang rawan kejahatan.

4. Membuat perencanaan yang matang dengan konsep yang jelas mengenai Palembang sebagai Heritage City.

5. Dalam usaha menggalakkan kerja sama wisata sejarah antarnegara anggota ASEAN, perlu ditekankan pada promosi mengenai hubungan kesejarahan antara Palembang dan tempat-tempat lain yang ada kaitan sejarahnya, misalnya antara Palembang dan Malaka. Secara umum, kota-kota lain di Indonesia yang akan dijadikan Heritage City sebaiknya mempunyai hubungan kesejarahan dengan Heritage City lain yang ada di kawasan Asia Tenggara (Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan).

6. Dalam usaha memperkenalkan integrasi dan keanekaragaman budaya ASEAN, beberapa hasil budaya materi (material culture) Palembang yang mendapat pengaruh asing, misalnya pengaruh Tionghoa yang tercermin dalam seni pembuatan kerajinan lakuer dan tenunan songket, harus dipromosikan ke mancanegara.

∗ Merupakan sebuah bukit kecil yang tingginya +26 meter d.p.l. Bukit ini letaknya sekitar 5 km menuju ke arah barat dari pusat Kota Palembang. Dari bukit kecil ini, terdapat tinggalan budaya masa lampau berupa sebuah arca Buddha yang tingginya sekitar 4 meter, prasasti batu, fondasi bangunan bata, pecahan-pecahan keramik dan tembikar, dan beberapa jenis artefak keagamaan lain.
__________
Bambang Budi Utomo adalah Kerani Rendahan pada Puslitbang Arkeologi Nasional.

Foto : http://www.semarang.go.id

Tersengat Masa Lalu di Penyengat


“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”.

Itulah cuplikan dari "Gurindam Dua Belas" karya Raja Ali Haji yang termasyhur. Gurindam 83 bait yang sarat pesan moral itu ikut mengukuhkan masa lalu Pulau Penyengat Indra Sakti sebagai salah satu pusat kerajaan dan budaya kebanggaan orang Melayu. Betapa senangnya, akhirnya saya bisa bertandang ke pulau tempat Raja Ali Haji dimakamkan, awal Februari 2008, sehari menjelang perayaan Imlek.

Kota terdekat untuk mencapai Penyengat adalah Tanjungpinang, Bintan. Maskapai Merpati dan Batavia Air sebenarnya sudah melayani penerbangan langsung Jakarta-Bintan via Bandara Kijang, namun saya memilih terbang ke Hang Nadim, Batam. Barulah dari Batam saya naik feri ke Bintan. Perjalanan laut selama 1,5 jam menyuguhkan pemandangan pulau-pulau kecil nan eksotis: hijau bakau, nyiur melambai, laut yang jernih. Kapal nelayan dan feri saling berselisih jalan. Di sini, laut dan selat betul-betul menjelma jadi jalan raya bagi kapal-kapal.

Setelah lama menyaksikan ombak memecah pukul-memukul di buritan, feri yang saya tumpangi akhirnya merapat di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Pelabuhan ini tempat bertolak dan merapatnya kapal-kapal dari dan ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia. Dari pelabuhan itu, pulau mungil sepanjang dua kilometer itu terlihat manis menggoda. Menara masjid kerajaan dan rumah-rumahnya yang kelabu terasa dekat saja, hanya dipisahkan selat sempit yang ramai.
Secara administratif, Penyengat masuk Kecamatan Tanjungpinang Kota dengan status kelurahan (bandingkan dengan statusnya di masa silam sebagai pusat kerajaan!)

Untuk ke Penyengat, kita berpindah dermaga dan mencari kapal kecil bermesin tempel alias klotok. Untuk pindah dermaga, kita harus berjalan memutar ke arah pusat kota Tanjungpinang. Naik becak tentu lebih cepat, tapi saya memilih jalan kaki melewati Jalan Pos yang merupakan bagian terpadat kota Tanjungpinang. Hotel, restoran, toko pakaian, kedai cendera mata, kantor agen perjalanan, tempat penukaran uang asing, dan toko emas berderet di kedua sisi jalan, membentuk sebuah lorong panjang yang artistik. Apalagi dengan hiasan ratusan lampion pelbagai bentuk dan ukuran, merah menyala.

Klotok yang akan berangkat ke Penyengat penuh sesak oleh penumpang yang akan menghadiri pesta perkawinan di pulau itu. Saya sempat khawatir melihat dinding kapal cuma sejengkal dari air. Apalagi langit berawan dan riak agak besar. Tampaknya itu hal lazim di sini. Tukang klotok sudah berpengalaman. Maka, tak sampai 25 menit, kami selamat sampai di seberang.

Klotok merapat di sebuah dermaga kecil, tak jauh dari Masjid Sultan Riau. Selanjutnya saya menyusuri jalan konblok selebar dua meter ke arah masjid, tapi sebelum sampai, deretan becak motor telah menunggu dengan rute yang telah ditentukan. Sebuah papan bernukilkan peta Penyengat di pangkalan itu mencantumkan tarif becak motor Rp 20 ribu sekali keliling pulau. Tanpa menawar, saya naik becak paling depan sesuai dengan urutan antrean, apalagi hujan rintik-rintik mulai turun. Engku Nurdin yang ramah segera memacu becak motornya.

Dalam rute wisata becak motor, masjid dekat dermaga justru menjadi obyek kunjungan terakhir. Kunjungan pertama adalah ke kompleks makam Raja Hamidah (Engku Putri), permaisuri Sultan Mahmud Syah III, sultan Riau-Lingga (1760-1812). Di sini juga dimakamkan beberapa bangsawan, termasuk Raja Ali Haji sendiri, sang pujangga Kerajaan. Bangsawan di sini bergelar Raja, termasuk bangsawan perempuan.

Meski dikenal sebagai kompleks makam Engku Putri, yang menonjol justru atribut formal untuk penghormatan Raja Ali Haji. Semasa hidupnya, Raja Ali Haji (1808-1873) tidak hanya menghasilkan "Gurindam Dua Belas", tapi juga buku Bustan al-Katibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858).

Dua baliho terlihat merujuk kepada kebesaran sang pujangga: "Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia" dan sebuah lagi: "Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX". Ia ditabalkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres RI Nomor 089/TK/2004.

Terletak di kaki bukit kecil, dikelilingi pohon rindang ambacang, mengkudu, dan jambu, kompleks ini sangat asri, juga unik: ada bangunan utama berbentuk masjid mini, berkubah dan bermihrab. Bercat kuning dengan jendela bulat seperti jendela kapal. Barisan nisan berbentuk gada dibungkus kain yang juga berwarna kuning. Di dalam cungkup atau bangunan utama yang dindingnya berhiaskan cuplikan "Gurindam Dua Belas", terdapat makam Raja Hamidah dan permaisuri yang lain. Makam para raja perempuan terletak di dalam bangunan utama. Adapun makam raja laki-laki, seperti Raja Ahmad, Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX dan Raja Ali Haji, terdapat di luar bangunan utama. Di luar pagar terdapat lagi makam orang-orang yang punya hubungan dengan kerajaan.

Secara simbolis, Pulau Penyengat sebenarnya milik Raja Hamidah, karena merupakan maskawin yang diterimanya saat dipinang Sultan Mahmud Syah. Itulah sebabnya, Penyengat disebut juga Pulau Pinangan atau Pulau Maskawin.

Setelah puas berziarah di kompleks makam Engku Putri, saya beranjak ke kompleks makam Yang Dipertuan Muda Riau VI, Raja Ja‘far. Masa pemerintahannya berlangsung ketika Belanda dan Inggris berebut daerah jajahan. Toh, Raja Ja‘far sukses mengembangkan pertambangan timah di Singkep. Lokasi makamnya jauh lebih luas, berpagar beton di sekeliling. Bangunan utamanya tetap berupa masjid kecil, tempat makam Raja Ja‘far dan kerabatnya berada.

Meski pulau ini hanya sepanjang dua kilometer, untuk mengunjungi semua situs, Anda butuh waktu cukup panjang. Maklum, hampir di tiap jengkal ada situs yang menggoda. Saya sendiri kelabakan. Di samping waktu yang singkat, cuaca juga kurang bersahabat. Untunglah, becak-motor Engku Nurdin setia mengantar. Tak lupa saya mampir di Istana Raja Ali (1844-1857) yang terlihat sangat modern dan kukuh. Lantai duanya masih bersisa dan dipertahankan di salah satu sayap gedung yang sekaligus berfungsi sebagai gapura.

Tak lama kemudian, becak pun berhenti di depan sebuah kompleks makam Yang Dipertuan Muda Riau VII, Raja Abdul Rahman (1832-1844), yang menuntaskan pembuatan Masjid Raya Sultan Riau. Untuk mencapai makam, kita harus mendaki jalan setapak dengan terlebih dulu melewati situs Gedung Mesiu. Bangunan ini berfungsi menyimpan serbuk mesiu pasukan perang kerajaan. Ini satu-satunya gedung mesiu yang tersisa, dari sebelumnya empat buah. Selebihnya roboh karena lama tak terawat, senasib dengan beberapa situs yang terlambat dipugar.

Jalan menuju makam melewati tangga semen yang landai. Di gerbang makam, saya disambut juru kunci, Suhadi, yang ternyata asli Prambanan, Yogyakarta. Hampir 20 tahun ia tinggal di Penyengat.

"Maaf cakap orang rumah awak keturunan langsung raja-raja Penyengat," ujarnya sambil mengantar saya berkeliling makam.

"O, di tengah laut biru pun, Bapak berhasil menyunting perempuan berdarah biru!" canda saya.
Ia tertawa dan menunjukkan bekas benteng di timur makam, tapi minat saya terlerai akibat hujan kian lebat. Kepada Engku Nurdin, saya minta diantar ke Masjid Raya yang menjadi rute terakhir saya.

Kebetulan, azan asar sudah berkumandang. Sebelum berwudu saya mengamati bangunan masjid yang sangat anggun dan cantik berkat kubah bulat dengan dua pasang menara runcing. Menurut catatan, masjid kuning ini dibangun pada 1832, dalam rintisan Yang Dipertuan Muda VI Raja Ja‘far dan diselesaikan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rachman. Konon, bahan utama bangunan, pasir dan tanah liat, sengaja dicampur putih telur supaya kuat dan mengkilap. Di sebelah kiri dan kanan masjid terdapat bangunan dari kayu yang disebut Rumah Sotoh, tempat istirahat dan bermufakat. Pemandangan ke pantai dari lokasi masjid (yang fondasinya ditinggikan) sungguh elok; Kota Tanjungpinang seperti terapung di seberang, di antara perahu dan kapal yang lalu-lalang.

Selesai berwudu, saya masuk ke dalam masjid dan mendapati sentuhan interior yang nyaman: ukiran tiang, kaligrafi, dan lampu antik. Di dekat kotak amal ada sebuah peringatan: "Dilarang berfoto di dalam masjid". Iseng-iseng saya langgar. Klik! Blitz kamera mengundang garin masjid mendatangi saya. "Saya tidak berfoto, Pak, tapi memfoto!" jawab saya. Ia pergi bersungut-sungut. Rasain! Ini daerah asal bahasa Indonesia, jadi mesti benar menggunakannya.
Selesai salat berjemaah, batuk saya yang pertama meletus, disusul batuk berikutnya. Pastilah cuaca buruk dan hujan yang melembapkan pakaian telah menyebabkan kerongkongan gatal dan hidung berair. Tapi selintas saya teringat "dosa" saya: berbuat iseng pada garin masjid. Wah, gawat! Alih-alih mencari Pak Garin yang masih khusyuk berzikir, saya memilih istirahat ke warung di samping masjid. Memesan gado-gado dan segelas jeruk hangat.

Sambil menunggu hujan reda, saya mengingat rute yang dilalui. Saat itulah terasa, betapa "ajaibnya" pulau kecil ini. Bayangkan, dengan lebar hanya satu kilometer dan panjang dua kilometer, terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sejumlah sultan. Masih banyak yang hanya bisa saya saksikan sambil lewat. Sebut saja Istana Kedaton tempat sultan terakhir tinggal; Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah dengan tiang-tiang kukuh menyerupai bangunan Yunani kuno; Istana Bahjah tempat tinggal Raja Ali Kelana, Gedung Tabib, bekas tempat praktek Engku Haji Daud, tabib kerajaan; dan Perigi Kunci, tempat mandi putri istana.

Ini belum termasuk situs yang tidak terlihat ketika lewat karena agak jauh dari jalan utama, semisal makam Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah yang dipindahkan dari Melaka; Tapak Percetakan Kerajaan dan sisa sekretariat Rusdiyah Klub (1884), sebuah organisasi cendekiawan Melayu Riau antipenjajah, lama sebelum Budi Utomo (1908) terbentuk. Percetakan kerajaan sendiri bernama Mathba‘atul Riauwiyah. Kedua wadah intelektual ini digerakkan, antara lain, oleh Raja Ali Kelana dan Raja Khalid Hitam. Belum lagi keberadaan Benteng Bukit Kursi dan Bukit Penggawa yang keterangannya kelak terpaksa hanya bisa saya baca di katalog. Tepatnya, setelah Akib memberi saya sejumlah buku dan katalog yang diterbitkan kantornya.

O, ya, masih ada makam Embung Fatimah di Bukit Bahjah, bangsawan Melayu yang menikah dengan bangsawan Bugis. Ini penting digarisbawahi untuk menyibak lebih lanjut sejarah dan silsilah bangsawan Penyengat; ternyata mereka memiliki darah campuran dengan bangsawan Bugis, termasuk Raja Ali Haji sendiri, dari Upu Daeng Celak. Sejarah mencatat, bangsawan Bugis dan Melayu sudah lama bersatu (termasuk tentu intrik dan seteru), termasuk membangun Penyengat Indra Sakti. Bukankah ini modal sejarah yang perlu diaktualkan? Yang jelas, berkunjung ke Pulau Penyengat, kita benar-benar akan tersengat kebesaran masa lalu sebuah bandar Melayu.
__________
Raudal Tanjung Banua, Penikmat Perjalanan, Tinggal di Yogyakarta
Sumber: www.korantempo.com
Foto : http://puterabintan.files.wordpress.com

Strategi Revitalisasi Kawasan Pusat Kota Bukittinggi

Oleh: Jonny Wongso

Pendahuluan
Sejarah menunjukkan bahwa urbanisasi dan industrialisasi selalu merupakan fenomena yang berjalan secara paralel. Pengalaman empiris dari negara-negara industri maju telah membuktikan kebenaran dari tesis tersebut. Pertambahan penduduk yang terjadi sebagai akibat dari laju urbanisasi dan industrialisasi ini pada gilirannya telah mengakibatkan pertumbuhan kota yang berakibat meningkatnya permintaan akan lahan kota dengan sangat kuatnya. Dengan persediaan lahan yang semakin terbatas, maka gejala kenaikan harga lahan tak terhindarkan lagi. Lahan telah menjadi suatu komoditas yang nilainya ditentukan oleh kekuatan pasar. Kenyataan yang sama saat ini dihadapi oleh banyak kota-kota besar di dunia, termasuk juga kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung.

Lahan (topos) akhirnya merupakan sumber daya utama kota yang sangat kritikal, disamping pengadaannya yang semakin sangat terbatas, sifatnya juga tidak memungkinkan untuk diperluas. Satu-satunya jalan keluar adalah mencari upaya yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan daya tampung lahan yang ada agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi kelangsungan hidup kota yang lebih baik. Maka lahirlah upaya untuk mendaur-ulang (recycle) lahan kota yang ada dengan tujuan untuk memberikan vitalitas baru, meningkatkan vitalitas yang ada atau bahkan menghidupkan kembali vitalitas (re-vita-lisasi) yang pada awalnya pernah ada, namun telah memudar. Hal terakhir inilah yang disebut revitalisasi. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital / hidup akan tetapi kemudian mengalami kemunduran / degradasi. Skala upaya revitalisasi bisa terjadi pada tingkatan mikro kota, seperti pada sebuah jalan, atau bahkan skala bangunan, akan tetapi juga bisa mencakup kawasan kota yang lebih luas. Apapun skalanya tujuannya adalah sama, yaitu memberikan kehidupan baru yang produktif yang akan mampu memberikan kontribusi positif pada kehidupan sosial-budaya, terutama kehidupan ekonomi kota.

Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan kegiatan revitalisasi di kawasan pusat kota Bukittinggi yang memiliki latar belakang sejarah yang tumbuh dan berkembang dari lalu lintas perdagangan dan pusat pertahanan kolonial di dataran tinggi Minangkabau di pertengahan abad ke-19, dan sekarang lebih dikenal sebagai kota wisata. Dengan latar belakang perkembangan dan potensi ruang kota Bukittinggi yang dimiliki, telah mendorong digulirkannya kegiatan revitalisasi ruang kota yang berawal pada tahun 2001 dalam bentuk kegiatan revitalisasi (fisik) di kawasan pusat kota Bukittinggi. Sebagai sebuah kegiatan yang sangat kompleks, kegiatan stimulan ini membutuhkan kurun waktu tertentu dan melalui beberapa tahapan atau strategi yang saling bersinergi.

Mengingat citra kawasan sangat erat kaitannya dengan kondisi visual kawasan, khususnya dalam menciptakan kegiatan / fungsi baru, menarik kegiatan dan pengunjung, intervensi fisik ini perlu dilakukan. Beberapa isu yang menjadi penekanan dalam pembahasan ini yaitu strategi revitalisasi yang dilihat dari isu lingkungan (environmental sustainability), rehabilitasi kegiatan ekonomi informal dan formal (local economic development) serta kegiatan tersebut harus berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat / warga (public realms) yang selanjutnya dinamakan dengan revitalisasi sosial / intitusional.

Penataan dan Revitalisasi Kawasan
Penataan dan Revitalisasi Kawasan menurut Departemen Kimpraswil (2002) adalah rangkaian upaya menghidupkan kembali kawasan yang cenderuang mati, meningkatkan nilai-nilai vitalitas yang strategis dan signifikan dari kawasan yang masih mempunyai potensi dan atau mengendalikan kawasan yang cenderung kacau atau semrawut. Penataan dan Revitalisasi Kawasan dilakukan melalui pengembangan kawasan-kawasan tertentu yang layak untuk direvitalisasi baik dari segi setting kawasan (bangunan dan ruang kawasan), kualitas lingkungan, sarana, prasarana dan utilitas kawasan, sosio kultural, sosio ekonomi dan sosio politik.

Revitalisasi pada prinsipya tidak sekedar menyangkut masalah konservasi bangunan dan ruang kawasan bersejarah saja, tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali kawasan dalam konteks kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar berfungsi kembali, atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang sangat pesat namun kondisinya cenderung tidak terkendali.

Gejala penurunan kualitas fisik dapat dengan mudah diamati pada kawasan kota bersejarah / tua, karena sebagai bagian dari perjalanan sejarah (pusat kegiatan perekonomian dan sosial budaya), kawasan kota tersebut umumnya berada dalam tekanan pembangunan (Serageldin et al, 2000). Sejarah perkembangan kota di Barat mencatat bahwa memang kegiatan revitalisasi ini diawali dengan pemaknaan kembali daerah pusat kota setelah periode tahun 1960-an. Bahkan ketika isu pelestarian di dunia Barat meningkat pada periode pertengahan tahun 1970-an, kawasan (pusat) kota tua menjadi fokus kegiatan revitalisasi. Namun bukan berarti bahwa kegiatan revitalisasi hanya terbatas kawasan kota bersejarah/tua.

Hilangnya vitalitas awal dalam suatu kawasan historis budaya umumnya ditandai dengan kurang terkendalinya perkembangan dan pembangunan kawasan, sehingga mengakibatkan terjadinya kehancuran kawasan, baik secara self destruction maupun creative destruction (Danisworo, 2000). Urgensi revitalisasi dapat diukur berdasarkan tingkat vitalitas yang signifikan pada kawasan terbangun, yaitu melalui beberapa variabel seperti menyangkut tingkat kepadatan (populasi), income kawasan dan besarnya layanan, tingkat kriminal, keamanan dan tingkat kesehatan, eksistensi warisan budaya – baik tangible (berwujud) maupun intangible (tidak berwujud), serta menyangkut penyediaan (kualitas dan kuantitas) dan distribusi pelayanan kawasan atau bagian kota.

Kota Bukittinggi Dengan Kesejarahanya
Kota Bukittinggi dengan luas wilayah 25,239 KM2 (2.523,9 Ha) dan jumlah penduduk 100.905 jiwa (2004), terletak di tepi sebuah lembah yaitu Ngarai Sianok (pada sisi Barat). Sebagian besar daerahnya berbukit dan berlembah dengan ketinggian yang bervariasi antara 909 M sampai 941 M di atas permukaan laut, serta memiliki panorama alam yang indah. Tidak salah jika pada jaman Belanda, Bukittinggi pernah dijuluki dengan Parisj van Sumatera (Tamir, 1981).



Perkembangan kota Bukittinggi ke dalam bentuk kota yang sekarang, tidak terlepas dari perkembangan latar belakang sejarah baik secara politik, ekonomi maupun sosial budaya. Tingkat perkembangan kota yang pesat ini yaitu pada kawasan pusat kota seperti dalam hal perkembangan fisik-spasial, pemanfaatan ruang kota maupun aktifitas-aktifitas kota seperti pada sektor perdagangan dan pengadaan fasilitas pariwisata. Perkembangan ini membentuk pusat-pusat kegiatan seperti di kawasan Pasar Atas, kawasan perkantoran pemerintah di Belakang Balok dan kawasan perdagangan grosir dan terminal bus regional. Perkembangan ini juga didukung oleh berbagai potensi yang dimiliki seperti potensi alam dan objek wisata serta letak kota Bukittinggi yang secara geografis berada pada jalur perdagangan antar kota atau propinsi di Sumatera bagian tengah. Terbentuknya pusat-pusat kegiatan yang ada di kawasan pusat kota saat ini merupakan suatu proses dari perjalanan sejarah kota Bukittinggi yang dapat ditelusuri melalui tahapan perkembangannya (Wongso, 2001).

Pada kawasan pusat kota Bukittinggi, secara fisik masih menyisakan jejak-jejak sejarah yang mempunyai arti dalam pembentukan ruang kota Bukittinggi. Seperti pada daerah perbukitan yang sekarang berfungsi sebagai Pasar Atas Bukittinggi, Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Istana Negara dan Kebun Binatang. Daerah-daerah ini merupakan daerah awal yang memiliki tingkat perkembangan fisik-spasial yang tinggi sebagai daerah perdagangan dan akomodasi pariwisata.

Perkembangan Pasar Atas Bukittinggi berawal dari kesepakatan para ninik mamak Nagari Kurai yang diadakan di bawah pohon beringin besar di Bukit Kubangan Kabau pada 1820 (Mangiang, 1988 dalam Sati, 1990). Bukit ini dinamakan dengan Bukit Tertinggi atau Bukittinggi, yang lama kelamaan berkembang menjadi suatu pasar, sehingga akhirnya diberikan nama Pasar Kurai (pasar orang Kurai) atau Pasar Atas Bukit Tinggi.




Perkembangan Pakan Kurai selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh berbagai intervensi dan pengaruh dari pihak asing (kolonial Belanda). Berkembangnya Pakan Kurai di Bukit Kubangan Kabau, sekaligus merupakan alasan bagi Belanda dalam memilih pendirian benteng di Bukit Jirek (benteng Fort de Kock) selain untuk strategi pertahanan, juga untuk memudahkan dalam mendapatkan kebutuhan bagi para tentaranya, walaupun alasan ini akhirnya menjadi tahap awal penguasaan perdagangan komoditi kopi yang sedang berkembang di daerah pedalaman Minangkabau (Hadjerat, 1947., Zulqaiyyim, 1996).




Di sebelah timur terdiri dari blok-blok bangunan berjajar yang dinamakan dengan `belakang pasar` yang dibangun pada tahun 1917 (berdasarkan yang tertera pada salah satu bangunannya). Blok ruko pada daerah ini menjual barang¬barang kodian, minyak tanah, minyak goreng dan kapuk. Jalan diantara deretan blok bangunan ini dikenal dengan nama Jalan Saudagar dan Jalan Kumango, yaitu tempat menjual barang-barang kelontong. Deretan blok bangunan peninggalan Belanda ini masih bertahan sampai sekarang. Beberapa diantaranya sudah roboh dan mengalami kerusakan.

Los Saudagar merupakan deretan rumah - toko (ruko) yang menjadi bagian dari Pakan Kurai (Pasar Kurai / Pasar Atas Bukittinggi) berdasarkan catatan tahun yang ada di salah satu sisinya didirikan sekitar tahun 1917-an. Deretan ruko ini pada mulanya menjual barang-barang kodian, minyak tanah, minyak goreng dan kapuk. Jalan diantara deretan blok bangunan ini dikenal dengan nama Jalan Saudagar dan Jalan Kumango, yaitu tempat menjual barang¬barang kelontong. Deretan blok bangunan peninggalan Belanda ini masih bertahan sampai sekarang. Beberapa diantaranya sudah dihancurkan dan mengalami kerusakan.

Deretan bangunan los ini merupakan satu-satunya peninggalan fisik yang dapat menceritakan tentang bagaimana kejayaan / kondisi Pasar Atas Bukittinggi yang terkenal dengan sebutan Pakan Kurai – Pakan Urang Agam (Pasar Kurai – pasar orang Kabupaten Agam).





Bangunan ruko di sepanjang Los saudagar memiliki karakter arsitektur yang menarik dan mewakili bentuk arsitektur pada jamannya di daerah pedalaman Minangkabau yang masih bertahan dan masih menyisakan kemegahannya di masa lalu. Karakter bangunan deret dengan koridor yang menerus pada sisi kiri kanannya dipertegas dengan arcade yang memberikan kenyamanan bagi orang yang menyusuri koridor di sepanjang Los Saudagar.

Kondisi ini sekarang sudah mengalami perubahan. Orang tidak dapat lagi berjalan menyusuri koridor bangunan karena sudah tertutup / terhalangi oleh barang dagangan dan dinding yang sengaja dibuat untuk perluasan dari petak toko.

Letak Los Saudagar berada dalam rangkaian potensi sejarah dan budaya yang ada di sekitarnya seperti Pasar Atas, Jenjang 40, Taman Jam Gadang, Gedung Istana Bung Hatta, daerah Pecinan, Kebun Binatang Kinantan, dan Benteng Fort de Kock. Potensi-potenasi ini belum termanfaatkan secara optimal guna meningkatkan kualitas fungsional dan visual dari kawasan Pasar Atas dan sekitarnya.

Kondisi sekarang menunjukkan kecenderungan perkembangan yang mengarah kepada penurunan kualitas lingkungan, penghancuran bangunan, tidak adanya perawatan bangunan dan belum ada perencanaan kegiatan yang dapat menunjang potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan.

Program Revitalisasi Kawasan di Kota Bukittinggi
Kota Bukittinggi mempunyai banyak sekali peninggalan aktivitas masa lampau karena kota ini sudah berkembang sejak jaman penjajahan Belanda pada awal abad XIX. Seiring dengan perkembangan jaman dan pertumbuhan kota, maka terdapat beberapa peninggalan aktivitas masa lampau yang mengalami penurunan kualitas lingkungan. Namun di sisi lain Pemerintah Kota Bukittinggi mencanangkan Kota Bukittinggi sebagai Kota Wisata. Oleh karena itu, pembenahan lingkungan yang mengalami penurunan giat dilakukan melalui salah satu program yaitu revitalisasi kawasan.

Departemen Pekerjaan Umum merupakan salah satu pemicu kegiatan revitalisasi di Kotamadya Bukittinggi. Pertama kali kegiatan revitalisasi kawasan dilakukan pada tahun 2001 yang menghabiskan dana dari APBN sebesar Rp. 1,9 milyar. Anggaran dana ini digunakan untuk pelaksanaan kegiatan DED Fisik Revitalisasi Kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas. Adapun rincian obyek revitalisasinya adalah Penataan Taman Jam Gadang, Penataan Jenjang Ampek Puluah, Penataan Jenjang Gudang, Penataan Jenjang Gantuang, dan Penataan Jenjang Lereng.

Kegiatan revitalisasi kawasan yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan dana APBN telah mendorong Pemerintah Kota Bukittinggi (Kimpraswil, 2005) untuk melanjutkan kegiatan tersebut melalui :

a. Revitalisasi kawasan benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan pada tahun 2002-2004, menghabiskan dana Rp. 10 Milyar.

b. Revitalisasi Taman Panorama dan Lubang Jepang pada tahun 2004, menganggarkan dana Rp. 9 Milyar namun baru terealisasi Rp. 4,49 Milyar.

c. Relokasi Kantor Walikota ke Kawasan Bukit Gulai Bancah pada tahun 2002 mengahabiskan dana Rp. 3 5,75 Milyar.

d. Pembangunan Monumen Bung Hatta di Kawasan Istana Bung Hatta pada tahun 2003 menghabiskan dana APBN Rp. 5 Milyar.

e. Pembangunan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta pada tahun 2003, menganggarakan dana Rp 30 Milyar namun baru terealisasi Rp. 5,2 Milyar.

f. Revitalisasi Lapangan Sudirman (di Jl. Jendral Sudirman, Belakang Balok) menghabiskan dana Rp 675 Juta.

g. Revitalisasi Pasar banto pada tahun 2004 dengan rencana biaya sebesar Rp. 131 Milyar.

h. Revitalisasi kawasan terminal Aur Kuning ke Kawasan Tambuo dengan rencana biaya Rp. 300 Milyar.

i. Rencana Pembangunan Gedung Kesenian dengan rencana biaya Rp. 14 Milyar.

j. Bantuan Teknis Perencanaan Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pasar Atas Bukittinggi yang berlangsung pada tahun 2005 dan kegiatan pembangunan fisiknya pada tahun 2006.

Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan stimulan oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui revitalisasi kawasan Kota Bukittinggi pada tahun 2001 dinilai sangat berhasil, karena pada tahun¬tahun berikutnya mampu mendorong pemerintah setempat untuk melakukan program kegiatan yang sama di kawasan yang berbeda dan saling melengkapi untuk mewujudkan Kota Bukittinggi sebagai Kota Wisata. Oleh karena itu, untuk kegiatan bantuan teknis berikutnya Pemerintah Kota Bukittinggi berharap agar kegiatan berikutnya dapat melengkapi kegiatan revitalisasi kawasan yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Strategi Revitalisasi Kawasan Pusaka Kota Bukittingi
“Vitalitas Kawasan untuk Kualitas Hidup Melalui Revitalisasi Kawasan”. Motto ini mungkin akan memberikan kesan yang berlebihan, seandainya kita tidak meresapi benar, apa yang menjadi maksud, tujuan dan sasaran dari Program Penataan dan Revitalisasi Kawasan, yang saat ini merupakan salah satu Program Andalan Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

Program tersebut telah dikembangkan sejak tahun 2001, meliputi 13 (tiga belas) kawasan dalam bentuk Pelaksanaan Fisik dan Bantuan Teknis untuk penataan kembali dan revitalisasi kawasan-kawasan yang memiliki potensi tertentu, dan dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan roda perekonomian setempat, karena terbengkalainya potensi yang dimiliki di kawasan tersebut.

Pendekatan pelaksanaan program yang lebih bersifat stimulus tersebut, akan lebih mengena pada tujuan dan sasaran apabila interaksi dari Pemerintah Daerah (dalam hal ini terutama Pemerintah Kota / Pemerintah Kabupaten) cukup kuat dan responsif, mengingat Program Penataan dan Revitalisasi Kawasan, dilandasi Latar Belakang : “Menghidupkan kembali dan mengembangkan kawasan-kawasan yang tidak berfungsi atau telah menurun fungsinya, akibat perkembangan yang cenderung tidak terkendali”.

Dari latar belakang di atas, sudah barang tentu peran Pemerintah Pusat tidak lagi sebagai pelaksana namun lebih menitikberatkan pada peran pembinaan yang bersifat mendorong atau memacu untuk memfungsikan kembali suatu kawasan yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya, agar dapat berfungsi atau meningkatkan fungsi kembali, terutama dalam mendukung berjalannya perekonomian lokal. Dengan demikian apabila program dimaksud dapat berjalan sebagaimana diharapkan, maka yang akan memetik manfaat adalah kabupaten / kota yang bersangkutan.

Dalam salah satu artikel pada website Kimpraswil, dimuat; lebih jauh untuk mengenal dan menyamakan persepsi tentang Program Penataan dan Revitalisasi Kawasan, pada hakekatnya, mengandung tujuan, yaitu terciptanya kawasan yang terintegrasi dengan sistem kota dan tumbuhnya ruang-ruang ekonomi kawasan menuju pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal.

Mencermati tujuan yang dijadikan landasan pelaksanaan Program ini, terlihat beberapa aspek yang harus berjalan secara seimbang, sehingga tercipta suatu keterpaduan di suatu kawasan tertentu. Aspek dimaksud adalah harus tetap diperhatikannya sistem kota itu sendiri, yang memiliki kawasan potensial namun tidak berfungsi atau berkurang fungsinya, di samping memperhatikan ruang-ruang pergerakan perekonomian kawasan tersebut, agar dapat tumbuh sebagaimana diharapkan pada lingkup lokal. Hal yang lebih penting dari kesemua itu ialah tidak hanya dapat menumbuhkan perekonomian, namun tercakup juga bagaimana untuk tetap menjaga kestabilan perekonomian pada kawasan tersebut.

Dari tujuannya dengan sedikit ulasan untuk dapat memberikan ilustrasi yang mudah, lebih berlanjut program ini mempunyai sasaran yang dituju, yaitu terciptanya berbagai peningkatan kawasan yang menitikberatkan pada vitalitas dan stabilitas ekonomi, integrasi antar ruang, kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana lingkungan, serta konservasi aset warisan budaya.

Dari sasaran yang hendak dicapai tersebut, semakin kentara, bahwa stimulus yang dilakukan Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, melalui program ini, tidak sekedar untuk memfungsikan kembali kawasan yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian, namun tetap memperhatikan integritas ruang di suatu kawasan, pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana lingkungannya, serta dalam upaya pelestarian aset-aset kawasan yang memiliki nilai histotis yang tinggi sebagai warisan budaya yang harus tetap terpelihara.

Sebagai sebuah kegiatan yang sangat kompleks, upaya revitalisasi kawasan pusat kota Bukittinggi melalui beberapa program kegiatan (fisik), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, membutuhkan tahapan dan kurun waktu tertentu dalam mewujudkan dan menjamin keberlanjutannya. Untuk itu ditawarkan beberapa strategi dalam bentuk pendekatan yang dapat digunakan, tahapan kegiatan revitalisasi, regenerasi kawasan perkotaan, dan pemasaran kota bersejarah.

a) Pendekatan Program Pelestarian Kawasan Pusaka Kota Bukittinggi
Program ini diterapkan oleh Jogja Heritage Society bekerjasama dengan Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur, Jurusan Arsitektur FT UGM sebagai uji coba upaya pelestarian di Kawasan nJeron Beteng, Kraton, Yogyakarta (kegiatan sejak tahun 1999 hingga sekarang) dan Manajemen Konservasi Kawasan Pusaka Di Batusangkar dan Sekitarnya (2002-2003). Program ini selanjutnya diterapkan dalam lingkungan akademik dalam bentuk kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Arsitektur – Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta, Padang di beberapa Nagari di Sumatera Barat pada 2004 – 2006 (sekarang konsep ini sedang diterapkan di Kawasan Pusaka Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Model ini menunjukkan penting dan besarnya peran masyarakat dalam mengelola dan melaksanakan pelestarian lingkungan bersejarah. Program Pelestarian “Kawasan Pusaka” memiliki 6 pendekatan per-soalan yang dilaksanakan secara paralel maupun bergantian dalam rentang waktu yang relatif panjang untuk menye¬lesaikan keseluruhan persoalan secara berkesinambungan dan tuntas.

Adapun tujuan program pelestarian Kawasan Pusaka (Adhisakti, 2003) adalah :
a. Membangun kepedulian banyak pihak dalam pelestarian pusaka.
b. Menjadi acuan perencanaan dan pengelolaan pelestarian secara berkesinambungan dan menyeluruh.
c. Mendorong kemandirian bagi masyarakat untuk mampu mengelola kawasan bersejarahnya.
d. Menjembatani kolaborasi lintas sektor, bidang ilmu dan keahlian yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pelestarian.
e. Meningkatkan kualitas lingkungan kawasan bersejarah dan pendapatan masyarakat.
Menurut Adhisakti (2005) ada enam pendekatan yang tersarikan menjadi tulang punggung upaya ini, yaitu :

a. Adanya organisasi yang mengelola langsung revitalisasi. Melalui organisasi ini dibangun kesepakatan dan kerja sama antar kelompok dan perseorangan yang berperan serta tahapan pelaksanaan kegiatan di masa depan.
b. Dokumentasi dan presentasi yang selalu terbarui, adalah mutlak dilakukan inventarisasi secara menyeluruh potensi dan masalah kawasan. Termasuk fisik dan non fisik, baik pusaka atau tidak. Hasil inventarisasi disusun dalam dokumentasi yang terus diperbarui dan mudah diakses oleh publik. Dokumentasi menjadi dasar pertimbangan aksi revitalisasi. Termasuk memanfaatkan pula sebagai materi promosi.
c. Promosi. Pendekatan ini perlu dimulai sebelum revitalisasi. Awalnya ditujukan pada masyarakat lokal, pemerintah dan berbagai pihak terkait. Promosi dan pemasaran selanjutnya kepada pembeli, pengembang potensial, pelaku bisnis baru dan wisatawan.
d. Mewujudkan roh / kegiatan kawasan pusaka yang akan membuat vitalitas kawasan tumbuh kembali. Bahkan bila perlu mencangkokkan roh baru. Ini merupakan hakiki upaya revitalisasi yang justru sering terabaikan.
e. Meningkatkan rancangan fisik kawasan (desain). Dilaksanakan melalui rehabilitasi bangunan pusaka dan membangun desain pengisi (infill design) yang tepat. Juga memformulasikan arahan desain (design guidelines) tanpa merusak kualitas tatanan yang ada. Justru meningkatkan serta mewadahi kebutuhan kontemporer.
f. Mengembangkan dan menciptakan ekonomi kawasan setempat melalui berbagai terobosan dan kesempatan baru tanpa merusak tatanan kehidupan lokal.

b) Tahapan Revitalisasi
Sebagai sebuah kegiatan yang sangat kompleks, revitalisasi terjadi melalui beberapa tahapan dan membutuhkan kurun waktu tertentu (Danisworo, 2000). Beberapa tahapan yang bisa diacu dalam upaya revitalisasi kawasan pusat kota Bukittinggi meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Intervensi fisik
Intervensi fisik mengawali kegiatan fisik revitalisasi dan dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan (urban realm). Mengingat citra kawasan sangat erat kaitannya dengan kondisi visual kawasan, khususnya dalam menarik kegiatan dan pengunjung, intervensi fisik ini perlu dilakukan. Isu lingkungan (environmental sustainability) pun menjadi penting, sehingga intervensi fisik pun sudah semestinya memperhatikan konteks lingkungan. Perencanaan fisik tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang.

2. Rehabilitasi ekonomi
Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi. Perbaikan fisik kawasan yang bersifat jangka pendek, diharapkan bisa mengakomodasi kegiatan ekonomi informal dan formal (local economic development), sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi kawasan kota (P. Hall/U. Pfeiffer, 2001). Dalam konteks revitalisasi perlu dikembangkan fungsi campuran yang bisa mendorong terjadinya aktivitas ekonomi dan sosial (vitalitas baru).

3. Revitalisasi sosial / institusional
Keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), jadi bukan sekedar membuat beautiful place. Maksudnya, kegiatan tersebut harus berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/warga (public realms). Sudah menjadi sebuah tuntutan yang logis, bahwa kegiatan perancangan dan pembangunan kota untuk menciptakan lingkungan sosial yang berjati diri (place making) dan hal ini pun selanjutnya perlu didukung oleh suatu pengembangan institusi yang baik.

c) Regenerasi Kawasan Perkotaan
Pada saat ini kebutuhan akan regenerasi kawasan perkotaan dirasakaan semakin penting. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah globalisasi, meningkatnya kebutuhan untuk mengubah image kota (re-imagining city), dan pemanfaatan kultur sebagai suatu industri. Perkembangan globalisasi di dunia yang disertai dengan perkembangan pasar dan meningkatnya kompetisi antarkota, telah mengharuskan setiap kota mempunyai spesialisasi atau keunikan tersendiri untuk membedakan dirinya dengan kota-kota yang lain.

Untuk memenangkan persaingan antarkota di dunia, sebuah kota harus memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Salah satu cara untuk memiliki keunggulan tersebut adalah melalui proses re- imagining kota (Gold and Ward, 1994) yang dapat dilakukan dengan cara membuat sebuah program atau proyek yang cukup menarik dan menempatkan proyek tersebut menjadi suatu dorongan bagi para pengunjung untuk datang ke kota tersebut.

Ada beberapa strategi yang dikenal dalam melakukan regenerasi kawasan perkotaan, antara lain, melalui gentrifikasi (gentrification), revitalisasi, konservasi, dan cultural quarter (Maika, 2001). Pendekatan kultural telah menjadi trend di dunia, terutama di negara-negara Eropa, untuk membentuk image baru suatu kota di mata dunia. Perkembangan cultural quarter sebagai strategi regenerasi kawasan perkotaan mulai ramai dibicarakan sejak tahun 1990an. Pemikiran untuk menggunakan potensi kultur sebagai industri menjadi cultural quarter muncul melalui proses kreativitas. Kreativitas dalam konsep perkotaan dibentuk oleh dua faktor utama, yaitu soft factor yang terdiri dari sejarah kota, sistem nilai, image, dan cara hidup (lifestyle), serta hard factor, yaitu fasilitas kultural (cultural facilities), akses terhadap informasi dan pengetahuan di bidang sosial, kultural, ekonomi, dan pembangunan fisik perkotaan. Dalam studi perkotaan, kota-kota yang berhasil dalam melakukan regenerasi melalui proses kreativitas itu kemudian dikenal sebagai creative city, suatu terminologi yang sangat populer di kalangan praktisi perencanaan perkotaan.

Cultural quarter merupakan suatu strategi bagi kota untuk melakukan suatu intervensi yang proaktif, yang melibatkan proses regenerasi kawasan perkotaan. Tidak semua bagian atau area perkotaan dapat diubah menjadi cultural quarter. Hanya daerah yang memiliki karakter dan image yang unik terutama di sektor kultural, yang berpotensi menjadi cultural quarter. Untuk mengembangkan suatu area menjadi cultural quarter, kota membutuhkan flagship project yang melibatkan regenerasi kawasan tidak bernilai (derelict) menjadi area yang lebih dinamis dan bernilai ekonomis. Cultural quarter juga melibatkan orang-orang yang bekerja di bidang seni dengan menyediakan tempat bekerja (working space) di dalam kawasan tersebut. Strategi pengembangan cultural quarter ini diharapkan mampu menarik investor luar bagi pengembangan area tersebut pada khususnya dan bagi kota pada umumnya.

d) Pemasaran Kota Bersejarah
Kata `pemasaran` memiliki konotasi menjajakan dan mendapatkan untung. Berkaitan dengan upaya revitalisasi kawasan bersejarah, pemasaran merupakan salah satu mata rantai dari kegiatan usaha atau bisnis di bidang pelestarian yaitu menjual potensi kawasan. Hal ini berkaitan dengan kuantitas dan kualitas layanan urban yang tersedia dan memadai. Di samping itu belum semua kekayaan kota dikenali, dikualifikasi dan di-spesifikasi serta dikemas dalam format untuk “jualan”. Sebuah pertanyaan yang sering dimunculkan dalam setiap perencanaan upaya revitalisasi yaitu bagaimana menjual kawasan bersejarah?

Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam menjual kawasan bersejarah ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Hermanislamet (2001), adalah sebagai berikut; Pertama, menjual dengan kerangka “spasial”; kawasan kota terdiri atas berbagai kawasan-kawasan bagian, yang dapat “distrukturkan” dalam satu satuan manajemen kawasan. Kedua, menjual dengan kerangka “sektoral”; kehidupan urban terbagi atas berbagai “sektor” yang merupakan satuan komunitas / manajemen. Ketiga, menjual layanan urban dengan prinsip “cost recovery”; “produksi” dan “deliveri” layanan urban harus dilakukan dengan dasar menghasilkan kembalinya biaya produksi untuk layanan yang lebih baik di kemudian hari. Keempat, menyiapkan “satuan pengelola” kawasan yang memadai dan dapat menerima limpahan sebagian urusan sektor-sektor; kekayaan kota yang potensial harus dilimpahkan kepada satuan manajemen kawasan profesional agar “penjualan” nya dapat menghasilkan konstrribusi pendapatan kota untuk membiayaai layanan perkotaan.

Penutup
Pembangunan kota tidak jarang meninggalkan kawasan tertentu yang justru mati tanpa sinar kegiatan. Meskipun tanda kehidupan yang pernah berkibar dan mengukir sejarah masih tersisa. Bangunan-bangunan pusaka kumuh tak terurus menjadi penanda. Ketika ada upaya untuk revitalisasi—membangkitkan kembali vitalitas—banyak benturan dihadapi. Umumnya bermuara pada konsep yang tidak tepat. Di antaranya: a) sekadar pemolesan fisik belaka; b) tidak menyentuh properti individu masyarakat dan roh kawasan; c) terjebak paradigma bahwa pelestarian pusaka bertentangan dengan pengembangan ekonomi.

Proses revitalisasi sebuah kawasan atau bagian kota mencakup perbaikan aspek fisik dan aspek ekonomi dari bangunan maupun ruang kota. Revitalisasi fisik merupakan strategi jangka pendek yang dimaksudkan untuk mendorong terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi jangka panjang. Revitalisasi fisik diyakini dapat meningkatkan kondisi fisik (termasuk juga ruang-ruang publik) kota, namun tidak untuk jangka panjang. Untuk itu, tetap diperlukan perbaikan dan peningkatan aktivitas ekonomi (economic revitalization) yang merujuk kepada aspek sosial-budaya serta aspek lingkungan (environmental objectives). Hal tersebut mutlak diperlukan karena melalui pemanfaatan yang produktif, diharapkan akan terbentuklah sebuah mekanisme perawatan dan kontrol yang langgeng terhadap keberadaan fasilitas dan infrastruktur kota.

Persoalan menghidupkan kembali kawasan pusaka melalui kaidah pelestarian justru harus terpadu dengan pengembangan ekonomi. Di samping partisipasi penghuni yang mutlak perlu. Konsekuensinya pasti membutuhkan waktu panjang. Karena, revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa.

Upaya tersebut bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, meskipun tujuan, sasaran dari program ini cukup jelas, namun dalam pelaksanaannya akan terkait dengan aspek lain, yang sudah barang tentu memiliki karakteristik dan kebijakan tersendiri. Hal tersebut apabila tidak dapat dihindari, namun paling tidak bisa diminimalkan, yaitu melalui suatu tekad atau komitmen dari setiap pemerintah kota / kabupaten untuk memantapkan tekadnya dalam mendukung keberhasilan upaya ini, termasuk menjamin keberlanjutan (pemeliharaan) atas upaya-upaya program Penataan dan Revitalisasi Kawasan yang telah dilaksanakan.

Daftar Pustaka
Adhisakti, Laretna T. 2003. Draft Program Pelestarian Kawasan Pusaka.
Adhisakti, Laretna T, 2005. Revitalisasi Kawasan Pusaka di Berbagai Belahan Bumi, Harian Kompas, Minggu, 13 November 2005.
Danisworo, Muhammad / Widjaja Martokusumo, 2000. Revitalisasi Kawasan Kota Sebuah Catatan dalam Pengembangan
dan Pemanfaatan Kawasan Kota, www.urdi.org (urban and reginal development institute, 2000).
Gold, John R, & Ward, Stephen V, eds. 1994, Place Promotion, The Use of Publicity and Marketing To Sell Towns and
Cities, John Willey & Sons, Wst Sussex, United Kingdom
Hadjerat, Mohammad H, 1947, Sedjarah Negeri Kurai V Djorong serta Pemerintahannya; Pasar dan Kota Bukittinggi, TS. Ichwan, Bukittinggi.
Hall, Peter/Ulrich Pfeiffer, 2000. Urban Future 21, A Global Agenda for Twenty-first Century Cities, E & FN Spon, London. Hermanislamet, Bondan, 2001. Pemasaran Kota Bersejarah, Materi Program Pasca Sarjana Arsitektur Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kimpraswil, 2002. Pedoman Umum Program Penataan dan Revitalisasi Kawasan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Jakarta.
Kimpraswil, 2005. Bantuan Teknis Perencanaan Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pasar Atas Bukittinggi, Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Jakarta.
Maika, Amelia, 2001. Cultural Quarter / Kuarter Kultur (?): Suatu Alternatif Dalam Strategi Regenerasi Kawasan
Perkotaan, Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University.
Serageldin, Ismaïl/Ephim Shluger/Joan Martin-Brown (eds.), 2000. Historic Cities and Scared Sites, Cultural Roots for Urban Futures, The World Bank, Washington.
Sassen, Saskia, 1991. The Global City. Princenton University Press, New York.
Tamir, Zainuddin Koto, 1981, Bukittinggi Parisj van Sumatera, Panji Masyarakat No.334.
Wongso, Jonny, 2001, Perkembangan Pola Ruang Kota Bukittinggi, Dari Koto Jolang ke Kotamadya, Tesis, Program Studi Teknik Arsitektur, UGM – Yogyakarta
Zulqaiyyim, 1996, Sejarah Kota Bukittinggi (183 7-1942), Tesis S2, Program Studi Sastra Indonesia dan Jawa, Jurusan Ilmu¬ilmu Humaniora, UGM, Yogyakarta.
__________
Jonny Wongso (Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Bung Hatta Padang), jonny.wongso@lycos.com

Sumber: fab.utm.my
Foto: bukittinggikota.go.id