Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Objek Wisata Alam Kabupaten CIlacap Jawa Tengah

Pulau Nusakambangan
Pulau Nusakambangan merupakan salah satu kawasan pantai selatan Kabupaten Cilacap yang dipisahkan oleh Selat Segara Anakan yang memisahkan dengan daratan Pulau Jawa .

Pulau Nusakambangan dikenal juga pulau penjara yang mempunyai kesan menyeramkan itulah kesan yang acap terdengar oleh siapapun yang belum pernah datang berkunjung ke Pulau Nusakambangan.

Pulau ini memang menawarkan banyak hal. Semakin lama mendekat dan melihat kesan menyeramkan berangsur-angsur sirna . bayangan yang menyeramkan pada penghuni penjara, serta hutan belantara yang sampai saat ini masih mampu melindungi satwa-satwanya perlahan-lahan akan melumatkan kesan menyeramkan bahkan kesan tersebut berganti rasa takjub dan detak kekaguman tiada habisnya .

Seramya mendengar para penghuni LP anda tidak usah kawatir sebab diantara lokasi wisata dengan Lembaga Pemasyarakatan sangat jauh. Dari 9 buah LP, 5 diantaranya LP Karanganyar, Nirbaya, Karang tengah, Gligir dan Limusbuntu sudah tidak digunakan, namun sekarang sudah dibangun untuk penjara khusus narkoba dan penjara terbuka serta penjara super maksimum security.

Sejak tahun 1985 Lembaga Pemasyarakatan tinggal 4 LP yang di gunakan diantaranya LP Besi, LP Batu , LP Permisan dan LP Kembang kuning (Penjara yang dibangun antara tahun 1908 sampai dengan 1950) yang rata-rata mempunyai kapasitas 500 orang sampai 2000 orang .

Pulau Nusakambangan yang memanjang dari barat ketimur sepanjang kurang lebih 36 km dan lebar antara 4 – 6 KM dengan luas keseluruhan adalah 210 km2 atau 21.000 ha memang menyimpan misteri dan daya tarik wisata seperti goa, pantai, benteng dan keindahan batuk arang dan keindahan panorama alam, hutan cagar alam, dan hutan belantara .

Segara Anakan
Nikmatilah uniknya alam Segara Anakan dan Nusakambangan, dapatkan petualangan yang mengasyikan.

Segara Anakan Cilacap terletak di belakang Pulau Nusakambangan wilayah Kabupaten Cilacap. Segara Anakan merupakan Laguna yang unik di pantai selatan Pulau Jawa dengan ekosistem rawa bakau (mangrove) yang memiliki komposisi dan stuktur hutan terlengkap di Pulau Jawa. Berbagai komponen sumber daya hayati berupa flora, habitat berbagai jenis fauna, betang alam daratan dan bentang alam perairan yang beinteraksi satu dengan yang lainnya membentuk suatu kesatuan ekosistem alami.

Segara Anakan merupakan bagian dari kawasan Nusakambangan yang membentuk suatu paduan alam yang menawan. Segara Anakan dan Nusakambangan merupakan tempat wisata alam yang ideal. Panorama bentang alam dan keunikannya menyajikan suatu pemandangan yang menakjubkan. Nikmati paduan keindahan dan keunikan penuh nuansa petualangan yang mengasyikan.

Kampung Laut
Dinamakan “Kampung Laut” karena perkampungan ini berada di laguna Segara Anakan dan sekelilingnya merupakan wilayah perairan. Berbagai keunikan terdapat di daerah ini, mulai dari banyaknya Goa Karst, fauna laut, dan hingga pola hidup masyarakat yang menetap di daerah tersebut.

Letaknya dapat dikatakan terisolasi dan berada cukup jauh dengan wilayah perkotaan, membutuhkan waktu 4 jam dengan menggunakan perahu compreng atau sekitar 2 jam dengan menggunakan perahu mesin. Untuk sampai ke Kampung Laut kita akan melewati hutan mangroove dan menyusuri Pulau Nusakambangan yang digunakan sebagai penjara untuk narapidana kelas berat.

Pantai Rancah Babakan Nusakambangan
Terletak diujung paling barat Pulau Nusakambangan yang berjarak 35 km dari dermaga Sodong. Untuk menuju pantai ini melalui alur selat Nusakambangan – Segara Anakan melewati Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut.

Sepanjang perjalanan melewati 4 LP yang masih berfungsi yaitu LP Batu, Besi, Kembang Kuning dan Permisan serta melewati Kecamatan Kampung Laut yang berada di Klaces dengan pemandangan hutan mangrove di kiri kanan alur sungai dan pemandangan pegunungan serta selat Indralaya.

Pantai Ranca Babakan tergolong pantai yang masih perawan karena belum banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini, karena memang jalur yang menuju ke pantai belum memadai.

Aksesibilitas
Dari Pelabuhan Seleko Cilacap naik perahu compreng – menyusuri alur selat Nusakambangan – Segara Anakan – melewati Desa Klaces Kec. Kampung Laut - dilanjutkan menuju Plawangan – Turun di Pantai dekat Plawangan – dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan tikus menuju lokasi.

Pantai Pasir Putih
Cocok dengan namanya pasir putih karena pantainya berpasir putih sehingga masyarakat menyebutnya Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih salah satu obyek wisata yang ada di sebelah selatan Pulau Nusakambangan tepatnya berada di sebelah timur Pantai Permisan. Pantai Pasir Putih dihiasi dengan berbagai batu karang atau pulau – pulau kecil yang membujur ke timur dihiasi ombak yang sangat dahsyat / ganas sehingga benturan air menghantam batu karang hitam menambah keindahan batu karang.

Untuk menuju Pantai Pasir Putih harus berjalan kaki menelusuri jalan yang sudah dibangun trap – trap dari paving blok sepanjang 600 m dari Pantai Permisan naik ke arah timur dan turun sampai pantai pasir putih dengan jarak 1 km. Gugusan batu karang di Pantai Pasir Putih yang membujur ke timur diselimuti ombak nan putih menambah indahnya panorama alam pantai pasir putih.

Batu – batu tersebut selain menambah keindahan pantai juga sebagai pemecah ombak yang menuju pantai pasir putih sehingga ombak yang ganas bisa dijinakan dan relatif tidak berbahaya.

Dengan pasir pantainya yang putih dan ombak yang cukup bersahabat menambah para wisatawan merasa betah dan senang berlama – lama menikmati keindahan pasir putih. Kelebihan pantai pasir putih masih terdapatnya pohon – pohon yang tumbuh secara alami sehingga menambah sejuk udara pantai dan tidak terganggu oleh teriknya sinar matahari karena bisa berteduh atau naik dahan – dahan pohon sambil menikmati deburan ombak laut selatan.

Pantai Permisan
Pantai Permisan juga terdapat di Pulau Nusakambangan tepatnya disebelah selatan LP Permisan. Pantai ini masih sangat alami belum banyak tercemari oleh manusia. Dengan pemandangan yang sangat menakjubkan dan deburan ombak laut selatan akan membawa wiasatawan betah menikmati panorama keindahan pulau-pulau kecil dan batu-batu karang didepan pantai mempunyai nilai tersendiri dibanding pantai wisata lainnya di Cilacap.

Didepan pantai ada batu karang (pulau Kecil) yang mempunyai kenangan tersendiri bagi seorang pejebat negara yaitu Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebelum menjadi Perdana Menteri seorang yang bernama Syahrir pernah berkunjung ke Pantai Permisan, di pantai itu Syahrir mencoba menyebrangi gelombang laut yang saat itu sedang kecil, ia berhasil naik ke batu karang tersebut. Akan tetapi pada saat mau kembali ke pantai datanglah ombak yang sangat besar, sehingga Syahrir bertahan sampai berjam-jam menunggu air surut diatas batu karang. Dengan adanya peristiwa tersebut maka nama Syahrir diabadikan sebagai nama gugusan karang di Pantai Permisan yang oleh sebagian kalangan masyarakat menyebutnya Batu Syahrir .

Selain cerita di atas, jika air surut wisatawan bisa mendaki sejumlah batu karang yang tersembul. Mereka akan menyaksikan berbagai simbol sosial sebagai bukti adanya legenda Raja Pakuan Pajajaran yang mempunyai putri cantik terkena wabah penyakit yang bisa sembuh kalau diobati dengan air mata kuda sembrani, maka sang raja mengirim utusan untuk mendapatkan obat tersebut tetapi selalu gagal yang pada akhirnya sang putri itu sendiri berangkat dan karena kecapaian perjalanan jauh ia beristirahat dan mandi di Pantai Permisan terseret ombak ke tengah laut dan terjepit diantara batu karang dan meninggal dan dari kejauhan hanya kelihatan sebagian anggota badannya tanpa busana maka disitu ada batu karang yang mirip alat kelamin perempuan .

Juga disebut permisan saat ada perompak mau mendarat ke Nusakambangan pantai itu tidak tampak tapi setelah permisi pada Sang Baurekso Pulau Nusakambangan nampak pantai tersebut maka disebut permisan

Pantai Permisan juga merupakan tempat penggodokan para prajurit agar mampu menjaga dan dam membela keutuhan bangsa dan negara dari gangguan apapun baik besar maupun kecil yang kiranya mengganggu kedaulatan. Tekad dan kekokohan prajurit tersebut disimbolkan dengan salah satu atribut (pisau komando) yang ditancapkan atau ditusukan kedalam batu karang sehingga dari pantai tampak pisau komando menancap dibatu karang.

Untuk menuju Pantai Permisan para wisatawan dapat menggunakan kapal penyebrangan atau perahu baik dari Pelabuhan Lomanis atau Pelabuhan Wijayakusuma ke Sodong Nusakambangan kemudian dilanjutkan dengan kendaraan pribadi atau carteran rombongan menuju ke permisan. Selama perjalanan, wisatawan bisa menikmati pemandangan alam yang ada di Pulau Nusakambangan dan bisa singgah dulu di obyek wisata Goa Ratu juga bisa melihat LP Kembang kuning , Batu , Besi dan LP Permisan.

Pantai Jetis
Pantai yang berbatasan langsung dengan obyek wisata Pantai Ayah Kebumen ini Terletak di Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap bagian Timur menawarkan keindahan panorama ombak laut selatan dan pemandangan alam pegunungan serta keindahan arur Sungai Bodo. Pantai ini terletak + 40 km dari arah timur kota Cilacap, dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum melalui jalur selatan-selatan jurusan Cilacap - Jatijajar - Gombong . Pada objek wisata ini terdapat Tempat Pelelangan Ikan Nelayan Tradisional.

Pantai Singkil Indah
Selain Pantai Ketapang Indah di Desa Sidaurip di Desa Karangpakis Kecamatan Nusawungu juga ada Pantai Singkil Indah letaknya kurang lebih 3 Km ke arah timur dari pantai Ketapang Indah . Obyek yang ditawarkan hampir sama dengan gugusan pantai-pantai lain yang menghadap ke Samudra Indonesia .

Pantai Ketapang Indah
Selain Pantai Widarapayung ke arah Timur ± 3 km ada Pantai yang lebih menarik lagi yaitu Pantai Ketapang Indah yang terletak di Desa Sidaurip Kecamatan Binangun, dengan luas 10 Ha. Pantai Ketapang Indah merupakan gugusan pantai – pantai lain yang menghadap Samudra Indonesia. Untuk menuju obyek wisata ini sangatlah mudah karena dapat dilalui kendaran roda dua maupun roda empat dengan menelusuri jalan beraspal jurusan Cilacap- Gombong.

Obyek ini menawarkan panorama pantai yang indah di tumbuhi pohon kelapa dan gelombang laut yang bisa digunakan untuk Selancar Air jika ombak tidak terlalu besar. Fasilitas yang ada tempat parkir yang bebas, tempat berteduh dibawah pohon kelapa dan kios-kios cindera mata sudah tertata dengan baik.

Pantai Indah Widarapayung
Merupakan objek wisata pantai dengan luas seluruh areal pantai mencapai 500 hektar terletak di Desa Widarapayung Kecamatan Binangun atau terletak ± 35 km arah timur dari Kota Cilacap. Kondisi pantainya sangat landai dengan dipagari pohon kelapa sehingga menjadikan pantai ini sejuk. Sedangkan luas kawasan yang ditetapkan sebagai Obyek Wisata Pantai Indah Widarapayung adalah sekitar 30 Ha (1000 m x 300 m)

Untuk menuju Pantai Indah Widarapayung sangatlah mudah bisa menggunakan angkutan umum bus jurusan Cilacap – Gombong atau kendaraan pribadi karena letaknya di Jalan Lintas Selatan – Selatan. Fasilitas yang ada di Pantai Indah Widarapayung: jalan yang beraspal, Shelter (tempat berteduh), Gardu Pandang, Kolam Renang, Tempat Parkir, Warung Makan, dan Kesenian Daerah. Pada bulan syura dilakukan Upacara Ritual Adat Tradisional Sedekah Bumi untuk larungan sesaji ke laut dengan diiringi kesenian daerah dan Pakaian Adat. Upacara Sedekah Bumi adalah merupakan salah satu perwujudan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Desa Widarapayung agar diberi keberkahan, keselamatan dalam sehari – harinya oleh Gusti kang Maha Agung.

Obyek ini menawarkan panorama pantai yang indah, upacara adat dan kesenian daerah, gelombang laut yang relatif teratur dan cocok untuk Selancar air.

Aksesibiltas
Dari arah timur : melewati perbatasan Kebumen (Pantai Ayah) – Cilacap (Pantai Jetis) dengan menyeberangi Jembatan Kali Bodo – ke arah barat – menuju lokasi di sebelah kiri jalan.

Dari arah barat : dari Kota Cilacap – Adipala – ke arah timur menuju Kec. Binangun – mencapai lokasi di sebelah kanan jalan.

Gua Maria (Gua Bendung)
Goa Bendung ditemukan oleh penjajah Belanda pada sekitar abad ke 16 konon pernah di gunakan sebagai tempat ibadah umat Kristiani pada saat Belanda menduduki Pulau Jawa termasuk Pulau Nusakambangan.

Untuk mencapai goa tersebut dapat melalui Pelabuhan Lomanis atau Pelabuhan Sleko dengan naik perahu atau compreng dengan menelusuri sungai dan selat Segara Anakan menuju goa atau Desa Klaces . Dari Klaces kemudian berjalan kaki selama kurang lebih satu jam menuju ke arah goa atau dapat melalui Dermaga Sodong dengan naik kendaraan roda dua atau angkutan lainnya melalui jalan darat sambil menikmati keindahan alam dan hutan serta bangunan lembaga pemasyarakatan menuju Goa Bendung sekitar 45 menit.

Goa Bendung yang ditemukan Belanda tanpa sengaja ketika penjajah Belanda meluaskan jajahannya di tanah jawa termasuk Pulau Nusakambangan mempunyai lorong sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar 10 meter, didalam goa tersebut terdapat stalakmit yang menyerupai anjing dan seorang perempuan yang sedang menyusui. Karena didalamnya terdapat tempat khotbah dan stalakmit yang bentuknya seperti Bunda Maria, sehingga ada sebagian masyarakat yang menyebut Goa Maria, juga di dalamnya terdapat parit yang dibangun oleh Belanda yang galian tanahnya untuk membendung badan parit yang luas seperti pelataran dan digunakan untuk para jemaat untuk melakukan ibadah, karena pelataran yang digunakan untuk membendung air tersebut maka goa ini dikalangan masyarakat disebut Goa Bendung.

Goa Masigitsela
Goa Masigitsela adalah lobang yang cukup besar dan jauh masuk keperut bumi oleh karena proses alam yang bersangkutan terlalu lama yang menghasilkan stalakmit dan stalaktit didalam goa tersebut dan tampak sangat indah. Goa Masigitsela memiliki berbagai kaunikan disamping mulut goanya menghadap ketimur atau berlawanan dengan arah kiblat. Tebaran stalakmit dan stalaktit yang menghiasi mulut goa membentuk satu ornamen indah lengkap dengan pilar-pilarnya. Kalau diamati sepintas goa ini mirip pintu masuk bangunan masjid oleh karenanya sebagian masyarakat menyebut Goa Masigitsela disebut Goa Ibadah Sunan Kalijaga dan Sri Sultan Hamengkubuwana apalagi dikuatkan lagi sejumlah tangga yang terdapat di mulut goa juga sebuah bedug, juga didalam goa terdapat mata air tempat untuk mengambil air wudhu.

Arti Masigitsela adalah masjid yang terbuat dari sela atau batu. Wisatawan yang berkunjung ke goa ini mempunyai berbagai macam tujuan ada yang bertujuan menenangkan diri, ada yang meningkatkan iman mereka ada pula yang bertujuan ngalap berkah, ada juga yang datang tahlilan mengirim doa para leluhur. Salah satu keindahan stalakmit berwarna kuning emas dan berbentuk memanjang mirip dengan kasur sehingga sebagian orang menyebut kasurnya nabi sulaiman dan ada stalakmit yang membentuk cekungan mirip sebuah tempayan yang disebut pedaringan penggawa dan dinding batu yang memisah pedaringan penggawa di kenal sebagai tempat pertapaan Aji Saka yang diyakini jika dapat memeluk tiang aji saka keinginannya akan terkabul.

Untuk menuju Goa Masigitsela dapat dijangkau dari beberapa arah, masyarakat yang datang dari Jawa Barat bisa menggunakan kendaraan air (perahu/kapal) dapat singgah sebentar di Klaces kemudian dilanjutkan dengan perahu kecil atau jalan kaki menuju goa kira-kira 30 menit dan jika dari Cilacap melalui Dermaga Sodong masuk perairan menuju Desa Klaces atau lewat jalan darat melalui jalan di Nusakambangan dari Sodong naik menuju Goa Masigitsela

Goa Ratu dan Goa Putri
Goa Ratu dan Goa Putri terdapat di perbukitan kapur di Pulau Nusakambangan bagian tengah. Panjang goa kurang lebih 4 km dan lebar 20 meter . Goa yang kanan kirinya masih alami karena ditumbuhi oleh pepohonan rupanya menambah kesejukan dan kenyamanan didalamnya. Dari mulut goa kedalam banyak dihiasi oleh stalaktit dan stalakmit yang masih asli dan relatif indah. Goa ini juga dihuni oleh binatang seperti kelelawar dan burung walet. Kedua goa tersebut mempunyai lorong yang mudah dilalui sampai dengan panjang 140 meter dan lebar 14 sampai 20 meter, sekitar 70 meter terdapat reruntuhan atap goa yang menunjukan pemandangan dengan latar belakang stalaktit dan stalakmit.

Goa ratu ini memang cukup menarik sebagai obyek wisata alam. Akan tetapi di balik keindahan goa tersebut ternyata menyimpan misteri, ada beberapa cerita yang berkaitan dengan goa ratu. Konon goa ratu merupakan goa tua sebagai istana atau kerajan siluman. Oleh karena merupakan kerajaan siluman, goa ini sering pula dipakai atau sebagai tempat pertemuan raja-raja siluman.

Kecuali cerita tersebut goa ini juga terdapat batu yang sering kali disebut atau bernama Ganda Mayit. Batu ini pada malam-malam tertentu seperti malam jumat kliwon berbau bangkai (mayit). Selain batu ganda mayit, dalam goa ratu terdapat pula batu yang diberi nama Selendang Mayang .

Batu Selendang Mayang bentuknya tinggi besar dengan pilar pilar di sekelilingnya. Batu ini sendiri sebenarnya merupakan stalakmit yang terbentuk ribuan tahun lalu. Batu selendang mayang tergantung dan ”angker ” persis ditikungan goa , yang salah satunya yang merupakan jalur yang tembus ke laut selatan . Pada bulan syura di malam hari tertentu yaitu malam jumat kliwon mengeluarkan cahaya. Batu Selendang Mayang pada waktu tertentu juga di kunjungi orang. Mereka yang datang mempunyai maksud-maksud khusus. Kebanyakan mereka (laki-laki atau perempuan ) adalah merasa belum mempunyai pasangan hidup. Mereka kesulitan mencari jodoh umumnya bisa dikatakan ”jejaka tua atau perawan kasep ” menurut keyakinan mereka Batu Selendang Mayang dapat memudahkan orang untuk memperoleh jodoh . supaya dapat dikabulkan, maka mereka harus memeluk batu tersebut dan sambil berkata dalam hati yang diinginkan (lebih afdol lagi dibarengi dengan sesaji ).

Dalam goa Ratu ini ada juga yang disebut Goa Merah, disebut Goa Merah karena batu yang mengelilinginya berwarna merah. Konon dalam goa yang relatip sulit dijangkau ini dulu pada jaman G 30 S/PKI di manfaatkan sebagai tempat pembantaian (ada yang menyebut sebagai lobang buaya Nusakambangan. Hal ini tentunya menambah ” angkernya ” Goa Ratu yang notabene merupakan induk dari goa-goa yang ada di Nusakambangan .

Ditambah lagi goa ini sebagai pusat kerajaan gaib sehingga hal-hal gaib sangat mungkin terjadi disini, untuk itulah ada larangan yang tidak tertulis, bahwa bagi pengunjung Pulau Nusakambangan khusus di goa ratu supaya tidak melakukan atau berbuat yang sembrono (tidak pantas ) jika berada didalamnya, tidak jauh dari lokasi goa Ratu kearah barat sekitar 2 Km ada doa putri namun goa ini sementara tidak di kunjungi wisatawan karena dinding stalakmit sangat membahayakan pengunjung.

Oleh karena goa ratu cukup dalam masuk perut bumi, maka suasana dalam goa sangat gelap bagi mereka yang akan masuk kedalam goa harus mengunakan penerangan petromak atau lampu senter.

Untuk menuju goa ini relatif sangat mudah. Untuk mereka yang mau berkunjung melalui pelabuhan Penyeberangan Lomanis atau Pelabuhan Wijayakusuma dan menuju Pelabuhan Penyeberangan Sodong dengan naik perahu atau Kapal Pengayoman. Dari Pelabuhan Sodong kemudian dengan menggunakan kendaraan pribadi atau carteran menuju obyek wisata Goa Ratu.

Goa Ronggeng terletak di perbukitan kapur ujung barat Pulau Nusakambangan yaitu daerah Pelawangan, untuk menuju goa ini dapat menggunakan kapal / perahu Compreng dari Dermaga Lomanis / Sleko atau Dermaga Wijayapura dengan jarak tempuh sekitar 2 jam atau biasa lewat Majingklak dengn perahu Compreng sekitar 30 menit dilanjutkan denganjalan kaki sekitar 10 menit sampai ke mulut goa, jarak dari pantai sekitar 400 m dengan mendaki bukit.

Goa Ronggeng yang konon diketemukan oleh Penjajah Belanda pada tahun 1830-an saat Belanda mengejar sisa – sisa laskar prajurit Pangeran Diponegoro, dia singgah karena ombak laut daerah pelawangan sangat besar.

Disebut goa Ronggeng konon menurut legenda zaman dulu ada kesenian rakyat pasundan yaitu Ronggeng atau Ledek yang mencari nafkah dengan cara mbarang / meminta – minta. Pada saat itu ada orang yang ingin menanggapnya dan dibawa menyeberang perahu gethek dari bambu tapi karena ombak terlalu besar penumpang tenggelam di Selat Indralaya dan hilang menjadi batu ronggeng. Sayang batu ronggengnya telah dihancurkan oleh para penambang batu liar, sehingga pada malam – malam tertentu sering terdengar suara gamelan berbunyi sedang mengiringi penari ronggeng disekitar bukit, maka goa tersebut disebut Goa Ronggeng.

Keindahan yang ditawarkan goa tersebut yang panjangnya sekitar 60 m dan lebar 10 s/d 20 mdan masih ada lobang yang konon tembus sampai ke laut, di dalamnya terdapat Stalaktit dan Stalakmit yang cukup indah dan ada Stalakmit yang mirip patung seorang penari putri dan stalaktit berupa selendang menghiasi di dalam goa, ada tempat untuk tidur disamping itu juga ada ruangan di atas konon dulu ada tangganya untuk naik ke atas. Namun sayang goa yang indah itu di dalamnya dipenuhi Lumpur yang sudah menjadi tanah sehingga perlu digali.

Di dalam goa ada beberapa coretan tangan manusia dengan nama khas orang – orang Belanda pada tahun 1840 an dan tempat tersebut konon ditempati juga para prajurit kraton Mataram untuk menjaga keluar masuknya kapal dan perahu ke perairan Segara Anakan. Tidak jauh dari Goa Ronggeng terdapat sumber air yang konon juga digunakan sebagai tempat mandi prajurit Belanda dan di atas arah utara naik ke bukit 100 m terdapat Goa Macan atau Goa Biru yang konon lorongnya masih dihuni binatang buas Harimau Hitam.

Sumber : http://pariwisata.cilacapkab.go.id

Pantai Nambo


Wilayah Kota Kendari sekaligus sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografis, letak Kota Kendari di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia, di sebelah Timur berbatasan dengan Laut Kendari, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto dan Kecamatan Sampara. Wilayah Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian besar terdapat di daratan Pulau Sulawesi mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau yaitu Pulau Bungkutoko.

Luas wilayahnya mencapai 295,89 km2 atau 0,70 persen dari luas daratan Sulawesi Tenggara. Kota Kendari diresmikan sebagai kota dengan UU RI No. 6 Tahun 1995 tanggal 27 September 1995. Secara administratif, Kota ini terdiri dari 6 kecamatan dengan populasi 226.056 jiwa pada tahun 2005.

Jenis tanaman bahan makanan yang diusahakan di Kendari terdiri dari padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau. Jenis tanaman buah-buahan terdiri dari mangga, rambutan, duku, jeruk, jambu air, durian, pepaya, pisang, nenas, salak, nangka, serikaya, sawo, kedondong, belimbing, sukun, jambu biji, petai, dan melinjo. Jenis tanaman perkebunan rakyat terdiri dari kelapa, kopi, kapuk, lada, cengkeh, jambu mete, kemiri, cokelat, enau, kelapa hybrida, asam jawa, pinang, jahe. Dari tanaman perkebunan rakyat yang diusahakan itu yang sedang dikembangkan karena produksinya sangat potensi untuk ekspor baru; kelapa, kopi, kapuk, lada, cengkeh, jambu mete, kemiri, cokelat, kelapa, asam jawa dan pinang.

Di sektor pariwisata, potensi yang dimiliki kota ini antara lain Teluk Kendari yang terletak di pusat kota lama Kendari dan memiliki panorama pantai yang indah dan unik. Teluk ini membentang melingkar dengan bibir pantai yang menghijau oleh pepohonan, sunset di sore yang cerah dan jajanan khas Kota Kendari disepanjang tepi jalan yang berbatasan dengan teluk serta pemandangan aneka warna kapal nelayan. Ada juga Pantai Nambo, sebuah pantai indah yang jaraknya 12 km dari Kota Kendari, dan masih banyak lagi potensi wisata bahari dan budaya yang dimiliki.

Pantai Nambo adalah sebuah pantai indah yang jaraknya ± 12 km dari Kota Kendari atau sekitar 15 menit kearah selatan Kota Kendari dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dan dapat pula menggunakan perahu tradisional ketinting (kole-kole) sekitar 15 menit dari pelabuhan Kota Kendari menyusuri teluk Kendari.

Pantai ini diminati banyak pengunjung karena letaknya yang relatif dekat. Pantai Nambo memiliki pasir putih yang landai suasana yang tenang, udara yang sejuk dan panorama yang menakjubkan sehingga tempat ini selalu merupakan pilihan masyarakat Kota Kendari untuk melepas kejenuhan dan rutinitas sehari-hari pada akhir pekan, ditempat ini telah disediakan tempat parkir, gazebo, tempat bilas mandi dan pedagang tradisional yang menawarkan berbagai jenis dagangannya.

Pantai Nambo sebagai obyek wisata andalan Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Pantai Nambo mudah dijangkau, baik oleh wisatawan lokal maupun dari luar daerah.

Pantai Nambo selalu dipenuhi wisatawan, baik lokal maupun luar daerah terutama pada hari libur yakni Sabtu dan Minggu. "Lokasi Pantai Nambo juga sering dimanfaatkan warga Kendari untuk rekreasi keluarga karena lokasinya mudah dijangkau sekitar tujuh kilomter dari pusat Kota Kendari, dan udaranya yang sejuk serta lokasinya selalu terjaga kebersihannya.

Pantai Nambo dilengkapi dengan 31 unit gazebo, dua unit ruang bilas, satu villa, rumah anti gempa dan tempat parkir kendaraan yang luas.

Pemerintah Kota Kendari terus mengupayakan melakukan pembenahan terhadap obyek wisata tersebut, di lokasi wisata Pantai Nambo saat ini tengah dilakukan menyediakan sarana dan prasarana seperti tempat peristirahatan untuk pengunjung dan wisatawan yang datang. Agar pengunjung dapat menikmati keindahan Pantai Nambo dengan tenang dan tentram dan lokasi wisata terus dipelihara agar tetap bersih dari kotoran.

"Harga karcis masuk Rp 2500 per orang. Khusus bagi kendaraan yang diizinkan masuk parkir dalam area pantai, dikenakan biaya parkir sebesar Rp 5 ribu untuk roda dua dan Rp 10 ribu untuk roda empat.(dd)

Sumber :
http://www.indonesia.go.id
http://www.kompas.com
http://www.swaberita.com
http://www.koranindonesia.com
http://www.cps-sss.org
Foto : http://www.indonesia.go.id

Pengelolaan Taman Wisata Alam Laut Gili Matra, Kabupaten Lombok Barat


Oleh : Imam Bachtiar
Peneliti di Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Email: bachtiar.coral@gmail.com

Pendahuluan
Taman Wisata Alam Laut (TWAL) merupakan salah satu bentuk dari Kawasan Konservasi Laut (KKL) yang dikelola di bawah kewenangan Departemen Kehutanan. TWAL Gili Matra atau kadang disebut TWAL Gili Indah merupakan salah satu kawasan konservasi laut yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pengelolaan TWAL Gili Matra dapat menjadi contoh kasus yang baik dimana BKSDA sebagai lembaga pemegang mandat pengelolaan KKL memiliki kewenangan yang tidak cukup untuk melaksanakan tugasnya.

KKL mempunyai peranan yang sangat penting baik secara ekologis maupun ekonomis, sehingga pengelolaannya harus menjadi prioritas utama. Jika kawasan konservasi yang luas sudah terbentuk akan terjadi pemulihan keanekaragaman dan biomassa di dalam kawasan dan spill-over sumberdaya ke luar kawasan. Hasil kajian (review) oleh Halfern and Warner (2002) menunjukkan bahwa kawasan konservasi laut (marine reserve) mampu menunjukkan kenaikan kelimpahan, biomassa, ukuran tubuh dan keanekaragaman dalam waktu kurang dari tiga tahun. Gell and Roberts (2003) juga menunjukkan sejumlah pembentukan kawasan konservasi di laut benar-benar dapat mengembalikan stok sumberdaya ikan yang rendah dan memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati di dalam kawasan.

Ukuran KKL yang dibutuhkan untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di laut merupakan isu yang kritis. Pada kawasan konservasi yang telah dilaporkan sukses luasnya sangat bervariasi, misalnya Apo Island (10%), Merritt Island (22%), Georges Bank (25%), Nabq (33%), dan St Lucia (35%) dari luas kawasan (Gell and Roberts 2003). Angka praktis yang sering digunakan sebagai ukuran kawasan tanpa eksploitasi (no take area, NTA) untuk melindungi seperlima dari induk pemijah adalah 20%. Tetapi angka ini dianggap terlalu kecil untuk melindungi fungsi ekosistem. Berdasarkan model yang terbaru NTA seharusnya >30% dari seluruh kawasan yang tersedia (Sale et al. 2005). Ukuran NTA sebesar itu akan sangat sulit untuk diterapkan di Indonesia. Halpern (2003) menyatakan pendapat yang berbeda bahwa luas kawasan konservasi tidak berbanding lurus dengan peningkatan efektivitas kawasan tersebut untuk meningkatkan populasi ikan. Pengawetan keanekaragaman spesies memang membutuhkan ukuran NTA yang lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk sekadar mempertahankan kelimpahan populasi.

Indonesia yang memiliki target untuk memperluas KKL hingga 20 juta hektar pada tahun 2010 mempunyai masalah yang besar di dalam pengelolaannya. Dari 113 KKL marine protected area (MPA) yang telah dibangun hanya tiga kawasan yang mempunyai kondisi baik (Burke et al, 2003). Laporan resmi pemerintah tentang pengelolaan KKL yang berjalan baik dapat saja jauh lebih banyak. Tetapi, jika laporan tersebut dikaji lebih dekat maka peran pemerintah di dalam pengelolaan tersebut bisa jadi sangat kecil, sedangkan peran terbesar dikendalikan oleh masyarakat. Pengelolaan TWAL Gili Matra merupakan kasus yang unik di dalam pengelolaan kawasan konservasi. Makalah ini dimaksudkan untuk membahas contoh kasus tersebut sehingga dapat dirumuskan pelajaran yang dapat dipetik dan rekomendasi untuk perbaikan pengelolaan KKL di Indonesia.

Kondisi Geografis
TWAL Gili Matra yang mempunyai luas kawasan sebesar 2954 ha terletak di Kabupaten Lombok Barat. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores, sedangkan di sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Selat Lombok. Di sebelah timur berbatasan dengan selat kecil yang menghubungkan Gili Air dengan daratan Pulau Lombok. Di dalam TWAL terdapat pemukiman penduduk yang tergabung dalam satu pemerintahan desa, yaitu Desa Gili Indah. Sejak awal TWAL di bagian utara Kabupaten Lombok Barat ini dikenal sebagai TWAL Gili Indah, Kecamatan Pemenang. Tetapi sejak tahun 2005, BKSDA mulai memperkenalkan dan mempopulerkan nama TWAL Gili Matra. Sebelumnya KKL tersebut lebih popular dengan nama TWAL Gili Indah.

TWAL Gili Matra terdiri atas tiga pulau kecil (gili), yaitu Gili Meno (150 ha), Gili Air (175 ha) dan yang paling besar adalah Gili Trawangan (340 ha). Ketiga pulau tersebut berpenghuni. Jumlah penduduk Desa Gili Indah telah meningkat lima kali dalam satu dekade terakhir. Jumlah penduduk pada tahun 2006 adalah 3195 jiwa, sedangkan pada tahun 1997 penduduk Desa Gili Indah hanya sebesar 522 jiwa. Pendidikan penduduk pada umumnya terbatas sampai sekolah dasar (SD). Sebagian besar penduduk asli mengaku dari suku Bugis. Tingginya penduduk migran sebagai tenaga kerja pariwisata telah banyak mengubah budaya masyarakat Desa Gili Indah. Rumah panggung yang dulu sangat banyak ditemukan di ketiga pulau sekarang sudah banyak berganti dengan rumah tanah (bawah).

Sebelum ditetapkan sebagai TWAL, ketiga pulau tersebut merupakan wilayah yang memiliki perkembangan pariwisata sangat pesat. Pada tahun 1987, hanya ada dua penginapan yaitu Paradiso di Gili Air dan Pondok Pak Majid di Gili Trawangan. Pertumbuhan usaha penginapan meningkat pesat dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara. Di akhir tahun 1980-an, Pemerintah Daerah Lombok Barat menetapkan bahwa ketiga pulau tersebut hanya diperuntukkan sebagai obyek wisata, sedangkan penginapan hanya dibangun di daratan Lombok. Tingginya permintaan wisatawan akan penginapan di pulau kecil dan lemahnya penegakan hukum membuat masyarakat banyak membuka usaha penginapan.

Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan pemerintah dalam pengembangan pariwisata di kawasan tersebut terus berlanjut. Ketika pertumbuhan penginapan di pulau tidak dapat dicegah oleh pemerintah, Pemerintah Daerah Lombok Barat kemudian menetapkan surat keputusan Bupati yang dikenal sebagai “SK 500”. Di dalam keputusan tersebut dibatasi jumlah kamar penginapan masing-masing 100 kamar, 200 kamar, dan 300 kamar di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Sekali lagi pembatasan ini juga dilanggar masyarakat. Demikian juga Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang telah diperdakan juga tidak dapat diimplementasikan. Pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak hanya dilakukan oleh pengusaha dan masyarakat, tetapi juga oleh pemerintah. Misalnya, walaupun jumlah kamar di Gili Trawangan sudah jauh melebihi kuota pemerintah (>400 kamar), tetapi pemerintah masih memberikan hadiah atau konsesi penambahan kamar kepada sebuah hotel yang dianggap berjasa.

Pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sekali lagi mengupayakan pengaturan kawasan wisata alam laut tersebut. Pemerintah Kabupaten membuat Rencana Tata Bangunan dan Lahan (RTBL) untuk menertibkan banyak bangunan yang telah melanggar sempadan pantai. Tetapi protes keras dari masyarakat membuat pemerintah tidak berani melakukan penegakan peraturan yang telah dibuatnya. Hingga tahun 2007, hampir semua aturan pemerintah dalam pengembangan pariwisata tidak dapat diimplementasikan di Desa Gili Indah.
Pengelolaan Sumberdaya di Dalam TWAL.

Pengelolaan sumberdaya di dalam TWAL Gili Matra selama ini dapat dibagi menjadi dua, pengelolaan sumberdaya daratan oleh pemerintah kabupaten dan pengelolaan sumberdaya laut oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumberdaya Alam). Pada saat ini, kedua pengelolaan sumberdaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat mengelola kedua kelompok sumberdaya tersebut secara mandiri dan menolak campur tangan pemerintah. Orientasi pengelolaan oleh masyarakat yang lebih condong mengacu kepada pertumbuhan pariwisata dapat mengancam kelestarian sumberdaya itu sendiri. Hal ini bisa jadi belum sepenuhnya disadari oleh masyarakat Desa Gili Indah, sehingga pengendalian dari pengelolaan tersebut sebaiknya tetap dilakukan oleh pemerintah.

Secara hukum, BKSDA merupakan pemegang mandat pengelolaan TWAL Gili Matra, sejak ditetapkannya TWAL Gili Matra dengan SK Menhut 85/Kpts-II/1993. Tetapi sayangnya mandat tersebut hanya berlaku di lautan, sedangkan mandat pengelolaan sumberdaya daratan dipegang pemerintah kabupaten. Pengelolaan yang terpadu mensyaratkan keterpaduan pengelolaan di daratan dan lautan. Koordinasi yang menjadi pintu keterpaduan tersebut seringkali sulit dilakukan oleh BKSDA karena perbedaan eselonisasi dan kepentingan ekonomi. Dengan hambatan yang demikian besar pengelolaan terpadu di TWAL Gili Matra tampaknya cukup sulit diwujudkan dalam kondisi sekarang.

Pengelolaan sumberdaya lautan di TWAL Gili Matra baru dimulai enam tahun setelah ditetapkannya Desa Gili Indah sebagai TWAL. Hingga akhir tahun 1998, belum ada rencana pengelolaan sumberdaya yang dibuat oleh pemerintah (BKSDA). Seorang jagawana dari BKSDA NTB ditempatkan di sebuah pos di Gili Trawangan pada tahun 1998. Pada pertengahan tahun 1998, proyek pengelolaan terumbu karang COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) menjadikan TWAL Gili Matra sebagai pilot pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat. Di dalam kegiatan COREMAP tersebut masyarakat diajak berdikusi untuk membuat rencana pengelolaan yang berbentuk sebagai rencana zonasi pemanfaatan kawasan terumbu karang.

Pada tanggal 28 September 1998, rencana pengelolaan tersebut dapat disepakati oleh masyarakat dan disyahkan oleh Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten. Di dalam proses penyusunan rencana pengelolaan tersebut, sayangnya, partisipasi dari kelompok pengusaha wisata rendah. Masyarakat lokal banyak yang berpikiran bahwa pengusaha wisata yang umumnya bukan orang yang lahir di Desa Gili Indah sehingga tidak mempunyai hak untuk merencanakan masa depan pulau. Walaupun rencana pengelolaan COREMAP tersebut tidak berjalan semestinya, sejarah pengelolaan sumberdaya di TWAL Gili Indah bermula dari rencana pengelolaan tersebut (Bachtiar, 2000).

Pada awal tahun 1999, BKSDA juga mensosialisasikan rencana zonasi TWAL Gili Indah dimana kawasan terumbu karang dibagi-bagi menjadi Blok Zona Inti, Blok Zona Penyangga dan Blok Zona Pemanfaatan. Di dalam sebuah Rapat Desa Gili Indah, masyarakat dan aparat desa mengaku tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan rencana zonasi BKSDA tersebut. Hasil rapat di Desa Gili Indah menyepakati bahwa rencana zonasi BKSDA akan diimplementasikan oleh staf BKSDA sendiri, sedangkan rencana zonasi COREMAP akan diimplementasikan oleh kelompok masyarakat.

Kedua rencana zonasi tersebut (COREMAP dan BKSDA) akhirnya tidak dapat diimplementasikan di lapangan. Rencana zonasi COREMAP tidak dapat diimplementasikan karena tindaklanjut zonasi tersebut, misalnya pembuatan batas-batas zona dan penyediaan dana pengawasan, tidak dilakukan oleh pemerintah kabupaten. Rencana zonasi dari BKSDA tidak dapat diimplementasikan karena BKSDA tidak memiliki cukup staff dan dana untuk melakukan pengawasan. Krisis moneter yang menyebabkan krisis keamanan telah menyebabkan meningkatnya frekuensi penangkapan ikan dengan bom dan racun (potas). Penangkapan ikan dengan bom menyebabkan gangguan yang sangat besar pada kunjungan wisatawan ke Gili Matra, karena sekitar 70% wisatawan asing yang datang adalah penyelam SCUBA.

Banyaknya keluhan dari wisatawan membuat para pemuka Desa Gili Indah menyusun sebuah awig-awig (rencana) yang melarang penggunaan bom di awal tahun 2000. Penyusunan awig-awig tersebut diinspirasikan oleh kegiatan COREMAP yang membolehkan warga menyusun aturan pengelolaan sumberdaya. Seorang warga Gili Meno yang dikenal sebagai pelaku pemboman ikan menyatakan tobat karena terancam mendapat sanksi sosial, keluarga dan tetangganya dilarang menghadiri pesta pernikahan di rumahnya (Bachtiar, 2000). Pada tahun yang sama, 19 Maret 2000, di Kecamatan Tanjung yang bersebelahan dengan Desa Gili Indah, kelompok nelayan membuat Lembaga Musyawarah Nelayan Lombok Utara (LMNLU). LMNU merupakan lembaga adat yang lahir untuk mengatasi penangkapan ikan dengan bom dan racun, yang tidak dapat diatasi oleh pemerintah. Setelah berdirinya LMNLU, masyarakat Gili Indah kemudian ikut bergabung di dalamnya, dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pemuda Gili. Di dalam Satgas tersebut terdapat unsur KSDA.

Tahun 2000 merupakan langkah awal terjadinya komanajemen pengelolaan sumberdaya terumbu karang di TWAL Gili Matra. BKSDA mendukung komanajemen tersebut dengan menyediakan sebuah speedboat dan penambahan staff jagawana. Dana operasional pengawasan ditanggung bersama antara BKSDA dengan pengusaha wisata. Komanajemen ini juga mengorbitkan jagawana Bursan sebagai penerima COREMAP Award pada tahun 2002. Dalam implementasi komanajemen oleh LMNLU sejak tahun 2000-2005, sekitar lima kasus penangkapan ikan destruktif telah ditangkap dan diberi sanksi denda oleh satgas bersama BKSDA (Bachtiar 2005), sekitar 10 kasus lainnya diselesaikan dengan surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan merusak tersebut. Pada tahun 2001, awig-awig pengelolaan terumbu karang COREMAP direvisi oleh masyarakat dan disyahkan pada tanggal 1 September 2001 sebagai Awig-awig Zonasi Pesisir Desa Gili Indah.

Di dalam Zonasi Pesisir tersebut konflik antara pariwisata dengan perikanan tangkap diselesaikan dengan uang kompensasi kepada nelayan. Sebagian kawasan penangkapan ikan ditetapkan dijadikan kawasan wisata selam yang melarang nelayan beroperasi. Sebagai kompensasinya, pengusaha pariwisata selam memberikan uang 3 juta per bulan (MKI, 2006). Uang tersebut disediakan oleh Asosiasi Pengusaha Gili Air (APGA) dan Gili Eco Trust (GET) yang berada di Gili Trawangan. Baik APGA maupun GET mendapatkan uang kompensasi dari penyelam SCUBA, setiap penyelam membayar Rp 20 ribu.

Peran BKSDA Dalam Pengelolaan TWAL
Berdasarkan UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 34 (1), bahwa kewenangan pengelolaan kawasan konservasi berada di tangan Pemerintah (Pusat), yang berarti pada Departemen Kehutanan. Di dalam Departemen Kehutanan, Surat Keputusan Menteri No. 6187/2002 menegaskan bahwa Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) merupakan pelaksana teknis dari konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Sebagai lembaga yang mendapat mandat pengelolaan kawasan konservasi, peran BKSDA di dalam pengelolaan TWAL Gili Matra seharusnya lebih besar daripada sektor pemerintah yang lainnya. Tetapi hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa peran BKSDA semakin lama semakin mengecil.

Pada tahun 1999, BKSDA pernah memperkenalkan rencana zonasi TWAL Gili Indah. Sampai sekarang rencana zonasi tersebut tidak pernah dapat diimplementasikan di lapangan. Aturan pengelolaan yang sekarang dilaksanakan oleh masyarakat bersama pengusaha wisata di TWAL adalah aturan pengelolaan yang dibuat oleh masyarakat. BKSDA juga pernah akan memberlakukan pemungutan uang konservasi bagi pengunjung TWAL Gili Indah. Tetapi hal ini dibatalkan karena Pemerintah Kabupaten (Dinas Pariwisata) merasa lebih berhak mendapatkan uang pengelolaan daripada BKSDA.

Sebagai pemegang mandat UU No 5/1990, BKSDA idealnya merupakan satu-satunya otoritas yang melakukan pengelolaan TWAL. Jika BKSDA membutuhkan dan menghendaki, kewenangan pengelolaan dapat saja sebagian diserahkan kepada pihak swasta atau masyarakat (pasal 37), agar rencana pengelolaan tersebut dapat berjalan sesuai denggan misi konservasi. Di dalam pelaksanaan patroli pengawasan, misalnya, BKSDA dapat melibatkan masyarakat atau meminta bantuan masyarakat/swasta agar dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih murah. Jika semua kapal wisata ikut berpartisipasi dalam patrol pengawasan maka banyak biaya dapat dihemat dan misi konservasi dapat dituntaskan.

Sebagai pemegang otoritas kewenangan, BKSDA semestinya menjadi penentu semua kebijakan di dalam kawasan konservasi TWAL. Di dalam pasal 35 (UU 5/1990) bahkan disebutkan bahwa BKSDA atas nama pemerintah dapat menghentikan pemanfaatan dan menutup TWAL sebagian atau seluruhnya selama waktu tertentu, jika sangat dibutuhkan untuk pemulihan sumberdaya yang ada. Rencana tata ruang, ijin pengusahaan wisata, dan rencana pembangunan lainnya seharusnya mendapat persetujuan dari BKSDA sebelum dapat disyahkan oleh lembaga pemerintahan kabupaten atau propinsi. Dengan otoritas penuh ini BKSDA memiliki kemampuan untuk menjamin bahwa semua pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan konservasi tidak mengganggu misi konservasi. Rencana pengelolaan yang dibuat oleh masyarakat atau lembaga pemerintahan daerah dapat diveto oleh BKSDA jika bertentangan dengan misi konservasi. Tetapi mandat kewenangan yang besar di dalam UU 5/1990 tersebut tidak tampak di dalam praktik di lapangan.

Di dalam kegiatan pengelolaan sehari-hari, kewenangan BKSDA di dalam TWAL kurang mendapat perhatian yang sewajarnya. Pembuatan tata ruang kawasan darat di dalam TWAL masih dilakukan oleh pemerintah kabupaten. Pemberian ijin usaha wisata (hotel, restoran, dive centers) berada di lembaga pemerintahan kabupaten, walaupun harus mendapat persetujuan BKSDA. Jika ada keterlibatan BKSDA dalam rapat-rapat koordinasi di tingkat propinsi maupun kabupaten, lembaga BKSDA tidak memiliki hak istimewa dibandingkan dengan lembaga pemerintahan yang lainnya. Penggunaan jarring muro-ami yang merusak terumbu karang, misalnya, tetap mendapat ijin dari Dinas Perikanan dan Kelautan, walaupun BKSDA menginginkan alat tangkap itu dilarang di dalam TWAL. Dengan kedudukan lembaga BKSDA yang sama dengan lembaga lain, di dalam mengambil kebijakan pengelolaan, maka peran BKSDA dapat diperkecil karena akan selalu kalah dalam argumentasi dan voting. Jika BKSDA memiliki hak veto khusus di dalam kawasan KKL, maka pengelolaan di dalam KKL dapat lebih sesuai dengan tujuan konservasi sumberdaya alam.

Pengerdilan peran BKSDA di dalam pengelolaan TWAL Gili Indah merupakan salah satu contoh kasus, bahwa pengelolaan kawasan konservasi dapat menyimpang dari prinsip-prinsip konservasi. Fenomena yang sama juga dilaporkan terjadi di Taman Nasional Laut Bunaken, dimana otoritas pengelolaan sekarang dipegang oleh Badan Pengelolaan Taman Nasional Bunaken, yang dibentuk Gubernur Sulawesi Utara dan didanai oleh NSWA (North Sulawesi Watersport Association) (UNEP, 2002), bukan lagi dipegang oleh Balai Taman Nasional Laut Bunaken Departemen Kehutanan.

Penutup
Konservasi sering dianggap sebagai kegiatan yang tidak memiliki nilai ekonomis, sehingga sering mendapat prioritas yang terakhir di dalam perencanaan pembangunan. Bergulirnya pendulum otonomi daerah yang bergerak keras ke arah kiri dapat sangat membahayakan upaya konservasi. Ketidakjelasan kewenangan atau otoritas pengelolaan di dalam kawasan konservasi menjadi salah satu penyebab mengecilnya peran BKSDA dalam pengelolaan TWAL Gili Indah.

Kewenangan BKSDA sebagai pemegang mandat UU 5/1990 untuk melakukan konservasi sumberdaya alam telah banyak mengalami pengerdilan, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh pihak swasta. Pengurangan kewenangan yang bertentangan dengan undang-undang tersebut harus mendapat perhatian serius, jika pemerintah Indonesia memiliki komitmen dalam konservasi sumberdaya alam.

Dalam hal pengelolaan KKL, kewenangan pengelolaan tersebut sebaiknya tidak hanya meliputi kewenangan di dalam pengelolaan lautan tetapi juga daratan. Segala jenis kegiatan baik yang bersifat eksploitatif maupun bersifat ekstraktif di dalam KKL harus mendapat persetujuan lembaga pengelola. Rencana pengelolaan kawasan yang diajukan oleh pemerintah daerah harus diselaraskan dengan misi konservasi dari lembaga tersebut.

Di dalam perijinan pendirian bangunan atau penambahan kamar hotel, misalnya, BKSDA seharusnya memiliki hak veto yang lebih tinggi daripada lembaga pemerintahan daerah. Tanpa kewenangan atau otoritas yang jelas dan besar tersebut, maka KKL di Indonesia terancam dengan kerusakan yang tinggi. Pemerintah daerah yang mengejar peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) akan cenderung untuk memprioritaskan ekonomi dan mengerdilkan upaya konservasi. Jika hal ini juga diaplikasikan di dalam kawasan konservasi, maka misi konservasi akan menjadi inferior jauh di bawah misi ekonomi yang menjadi superiornya.

Sudah saatnya peraturan perundangan yang berkaitan dengan konservasi sumberdaya ditinjau ulang untuk memberikan kewenangan yang lebih besar kepada lembaga konservasi di dalam mengelola kawasan konservasi. Tanpa kewenangan yang besar, upaya konservasi sangat sulit mencapai tujuan akibat tekanan ekonomi dan politik yang tinggi dari pemerintah daerah.

Daftar Pustaka:
Bachtiar, I. 2000. “Community Based Coral Reef Management: Lessons Learned from The Marine Tourism Park Gili Indah, Lombok Barat. Komunitas 3(1):67-77.

------------. 2005. “Developing Community Participation in a Developing Country: Case Studies in The Lombok Island”, in H. Mitsuda and R. Sayuti (eds.). Sustainable Lombok: Rich Nature and Rich People in The 21st Century. Mataram University Press.

Burke L, Selig E, Spalding, M. 2002. Reefs at Risk in Southeast Asia. Washington, DC: World Resources Institute.

Gell FR and Roberts CM. 2003. “Benefits Beyond Boundaries: The Fishery Effects of Marine Reserves”. TRENDS in Ecology and Evolution 18(9): 448-455.

Halpern BS and Warner RR. 2002. “Marine Reserves Have Rapid and Lasting Effects”. Ecology Letters 5: 361–366

Halpern BS. 2003. “The impact of Marine Reserves: Do Reserves Work and Does Reserve Size Matter?” Ecological Applications, 13(1) Supplement: S117–S137

Sale PF, Cowen RK, Danilowicz BS, Jones GP, Kritzer JP, Lindeman KC, Planes S, Polunin NVC, Russ GR, Sadovy YJ, and Steneck RS. 2005. “Critical Science Gaps Impede Use of No-Take Fishery Reserves.” TRENDS in Ecology and Evolution 20(2): 74-80.

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49.

Sumber : http://lomboknews.com
Foto : http://twp3gilimatra.files.wordpress.com

Pantai Watu Dodol


Apabila Anda sering beperpegian ke Bali lewat darat, terutama lewat utara Jatim, yaitu kawasan Situbondo, maka saat memasuki wilayah Banyuwangi Anda akan disambut Gapura Kejut. Ada patung Gandrung (Kesenian khas Banyuwangi) di sebelah kiri. Deburan ombak dengan air laut yang bening, serta ada onggokan batu besar di tengah jalan. Itulah yang disebut Watu Dodol.

Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama “Watu Dodol” itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Nama jenang itu, biasanya diikuti jenis bahan bakunya. Misalnya, jenang ketan, karena terbuat dari beras ketan. Jenang Selo dan sebagainya. Nah dari sini, cerita asal usul watu dodol terlihat sekali bukan berasal dari masyrakat lokal. Apalagi pelaku cerita adalah Kyai Semar, tokoh pewayangan. Padahal warga Using (asli Banyuwangi), tidak mengenal tradisi pewayangan.

Masih melanjutkan kisah tentang watu dodol, konon Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang terjatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitar pantai watu dodol Konon alat pukulnya, kayu kelor, terlempat dan menancap di sela-sela batu di kana jalan (kalau dari Surabaya). Ini juga aneh, di celah batu tumbuh pohon kelor. Bagi masyarakat Jawa, kelor merupakan senjata pamungkas untuk menghilangkan segala pengaruh mistik yang dimilki seseorang. Seperti ilmu kanuragan atau ilmu hitam, diyakini akan luntur bila bersentuhan dengan kayu kelor. Sementara bagi warga Using, merupakan bahan sayur segar yang disajikan pada siang hari. Terutama pada hari ke-2 dan setelah pada Idul Fitri. Bisa dipastikan, banyak orang Using yang memasak sayur daun kelor.

Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai di watu dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Masih menurut cerita tadi, konon air berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya katanya air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan berbagai alasan yang dipercayainya sendiri.

Terlepas dari cerita-cerita dibalik watu dodol, yang jelasan kawasan ini menawarkan keindahan alam. Kejernihan air laut, serta parorama batu karang yang bisa dilihat di Gardu Pandang di bukit sebelah kanan jalan. Bahkan seniman Banyuwangi saat itu, pernah mengabadikan kejernihan air laut watu dodol dalam bentuk lagu daerah Banyuwangi berjudul Padang Ulan: Padang Ulan ring pesisir Banyuwangi/Kinclong-kiclong segarane koyo koco/ Lanang wadon tuwek enom suko-suko// …. (Terang bulan di pantai Banyuwangi/Air lautnya berkilauan seperti kaca/Laki perempuan tua muda bersuka-suka) .

Namun sejak banyaknya orang-orang sekitar watu dodol melakukan pengambilan batu karang, maka “kiclong-kiclong” watu dodol tidak seperti yang tergambarkan dalam lagi yang populer tahun 1970-an itu. Bahkan di pantai Kampe, sebelah barat watu dodol, pantainya berlumpur. Batu karangnya habis diambil warga, untuk bahan campuran batu kapur. Padahal, menurut warga setempat, gambaran “kinclong-kinclong” itu dulu bisa dinikmati sejak kawasan Wongsorejo hingga ke Pantai Blimbingsari.

Meski kondisi sekarang tidak seideal seperti dalam lagu “Padang Ulan”, setidak kita masih bisa menikmati sisa-sisa “kiclong” laut Banyuwangi di Watudodol. Deburan ombaknya, juga bagus. Apalagi disaksikan dari Gardu Padang yang berada di bukit seberang pantai Watu Dodol. Kawasan ini, juga menjadi wisata andalan Pemkab Banyuwangi. Bisa juga dijadikan tempat istirahat, apabila wisatawan akan ke Bali atau pulang dari Bali.

Selain menikmati indahnya panorama laut, pengunjung dapat pula mendaki bukit yang letaknya hanya bersebrangan jalan, di bukit ini telah disediakan track untuk dilewati oleh pengunjung. Sesampai di atas bukit, pengunjung dapat melihat panorama selat Bali yang lebih luas dan indah.

Untuk masalah makanan dan minuman, di pantai wisata ini telah tersedia warung-warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Selain itu juga terdapat kios-kios souvenir yang menyediakan barang-barang kerajinan berbahan baku dari kerang kerangan dan batu batuan laut.

Obyek wisata ini berada di wilayah administrasi Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, letaknya yang berada di perlintasan jalur yang menghubungkan Banyuwangi dan Situbondo membuat obyek wisata ini sangat mudah diakses baik dari arah Situbondo maupun dari arah Banyuwangi kota. Dari arah Banyuwangi kota ke obyek wisata ini dapat ditempuh dengan jarak 14 kilometer ke arah utara. Atau sekitar kurang lebih 5 kilometer dari pelabuhan ketapang. Pada hari hari libur watu dodol selalu dipadati pengunjung. Karena letaknya berada di tepi jalan poros Banyuwangi – Situbondo, watu dodol biasa dijadikan tempat peristirahatan sejenak setelah menempuh perjalanan jauh.

Sumber :
http://hasansentot2008.blogdetik.com
http://album.banyuwangikab.go.id
Foto : http://www.banyuwangicity.com

Pantai Pulau Merah


Pantai Pulau Merah menjadi salah satu lokasi wisata di kawasan pantai selatan yang masih alamiah. Sabuk hijau (green belt0) melingkar di sepanjang pantai menjadi pengaman wilayah ini dari musibah Tsunami yang pernah terjadi pada 1993. Tapi, dahsyatnya musibah itu nyaris melenyapkan keelokannya, namun sekarang keindahan pantai pulau merah kembali pulih dengan ciri khasnya yang mungkin satu-satunya di banyuwangi.

Sebagian kawasan pantai Pulau Merah berada di kaki Gunung Tumpang Pitu, yang menjulang ratusan meter, yang juga merupakan kawasan hutan lindung. Pulau merah merupakan wisata pantai yang terletak diujung selatan banyuwangi, mempunyai keunikan berupa gunung kecil ditengah pantai yang warna tanah nya merah, karena itu dinamakan pantai pulau merah. di sebelah timur pantai terdapat pegunungan, yang konon kabarnya mempunyai kekayaan alam yang tersembunyi. ke sebelah selatan pulau kita dapat menikmati indahnya sunset di sore hari. kurang lebih 50 meter ke barat terdapat pelabuhan pelelangan ikan yang cukup besar.

Angin laut di Pulau Merah memang agak kencang. Itu pula yang membuat gelombang laut yang masuk laut selatan itu relatif lebih tinggi, antara 4-5 meter. Dari jauh, gelombang laut itu menimbulkan gemuruh yang sangat keras.

Bertambah siang, pengunjung makin bertambah. Karena saat matahari menyengat itulah, keelokan pantai Pulau Merah seolah mencapai klimaksnya. Di tengah laut, tujuh bukit membentuk barisan. Dilengkapi juga dengan batu-batu karang berwarna kecoklatan. Salah satu bukit yang dekat dengan pantai menjulang sekitar ratusan meter dari permukaan laut. Bila tertimpa sinar, bukit ini berwarna kemerah-merahan. Dari bukit merah inilah, awal mula mengapa pantai di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran ini terkenal dengan nama Pulau Merah.

Bukit ini tanpa penghuni, kecuali pepohonan hutan. Namun bila musim penghujan tiba, warna bukit menghijau karena dedaunan pohon tumbuh dengan lebat.

Keelokan Pulau Merah serasa lengkap dengan warna pasir yang kekuningan. Tak ada sampah berserakan. Yang ada justru kerang-kerang berwarna-warni. Pengunjung biasanya langsung memunguti kerang untuk dibawa pulang.

Tak hanya untuk bersantai, Pulau Merah kerap dijadikan tempat berselancar (surfing). Seperti yang dilakukan peselancar professional yang berusaha menaklukan ombak Pulau Merah. Pulau Merah Banyuwangi., sering dikunjungi para wisman seperti, dari Perancis, Jerman, dan Australia untuk menjajal surfing di Pulau Merah. Selain irit di ongkos karena tak ada kewajiban membayar, ombak Pulau Merah sangat cocok untuk peselancar pemula. Di Pulau Merah yang cocok untuk berselancar masih jadi satu kesatuan dengan ombak di Plengkung.

Bila terasa lapar namun tak bawa bekal makanan, Anda boleh mencoba semangkuk bakso ‘Pulau Merah’ yang berdiri di kawasan itu. Rasanya memang sama dengan bakso kebanyakan.

Sejak Tsunami melanda tahun 1993 lalu, obyek wisata Pulau Merah. ini nyaris tak pernah dikunjungi lagi. Pulau Merah baru dikunjungi warga dari luar desa sekitar tahun 2000-an.

Untuk kebutuhan akan toilet dan Musholla, pengunjung bisa menampung di rumah warga yang berjarak sekitar 50 meter dari pantai. Umumnya warga akan bersedia menampung. Barangkali akan menjadi berbeda bila keelokan di Pulau Merah dilengkapi dengan fasilitas wisata. Tentu, pengunjung tak perlu kerepotan dan semakin bergairah berwisata ke Pulau Merah.

Pulau Merah, di kawasan pantai selatan menjadi salah satu kawasan yang masih terjaga. Sabuk hijau (green belt) melingkar sepanjang pantai, menjadi pengaman wilayah ini dari musibah Tsunami.

Sebagian kawasan Pulau Merah, sebelah utara, berada di kaki Gunung Tumpang Pitu. Gunung yang menjulang ratusan meter ini merupakan kawasan hutan lindung milik Perhutani. Tahun 2007 lalu, PT Indo Multi Niaga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, mengajukan ijin untuk mengeksploitasi gunung ini. Diduga kuat, gunung ini menyimpan bijih emas puluhan ton.

Alat Tansportasi dan Akomodasi
Pantai Pulau Merah terletak sekitar 60 kilometer dari Kota Banyuwangi ke arah selatan. Untuk menjangkau obyek wisata ini membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Selain perjalanan yang membutuhkan waktu dua setengah jam, Anda harus menaklukkan jalan yang rusak karena aspalnya terkelupas. Alat transportasi umum pun tergolong jarang. Sebuah bus umum hanya mengantar Anda hingga ke Pasar Pesanggaran di ibu kota Kecamatan Pesanggaran. Perjalanan dilanjutkan, sekitar 45 menit, dengan menyewa ojek yang biasa mangkal di pasar itu

Alat transportasi umum pun tergolong jarang. Terlebih lagi bila tak punya kendaraan sendiri. Sebuah bus umum hanya mengantarkan Anda hingga ke Pasar Pesanggaran sebuah Ibukota Kecamatan. Berikutnya, Anda bisa menyewa ojek yang biasa mangkal di pasar itu. Perjalanan masih butuh sekitar 30-45 menit untuk sampai di wisata Pulau Merah.

Sumber :
http://wikimapia.org
http://wisatabanyuwangi.blogspot.com
http://ikaningtyas.blogspot.com
Foto : http://2.bp.blogspot.com

Pantai Blimbingsari


Wisata Pantai Juga Wisata Kuliner
Langit berwarna biru cerah, senada dengan warna laut Blimbingsari pada sore itu. Tampak garis cakrawala di arah timur. Dari pantai itu pula Pulau Bali yang terletak di seberang serasa dekat.

Pantai dengan panorama alam yang indah di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, itu bisa dijadikan pilihan berpelesiran. Ketika pagi menjelang, pesona matahari terbit menjadi suguhan pertama, disusul kesibukan nelayan menurunkan berbagai jenis ikan tangkapan saat baru pulang melaut. Perahu-perahu dengan beraneka warna yang disandarkan di tepi pantai menjadi pemikat yang menakjubkan pada siang hari.

Sore menjelang, ratusan pengunjung memadati pantai dengan aneka kegiatan, seperti berolah raga sepak bola atau voli. Ada pula yang tetap berada dalam kendaraannya sambil menyaksikan deburan ombak dan merasakan sejuknya semilir angin. "Pantainya indah. Suasananya pun enak," ujar Ali Mustofa, 39 tahun, yang sore itu membawa anak dan istrinya.

Pengunjung juga bisa memilih pantai ini untuk bersantap malam. Puluhan "warles" alias warung lesehan yang berjejer di sepanjang pantai menyajikan beraneka makanan laut. Ikan-ikan segar seperti kerapu, kakap, udang, cumi, putihan, barongan, rajungan, dan kepiting, tinggal dipilih. Nasi hangat, lalapan, sayuran, serta sambal pedas menjadi pelengkap. Harganya? Bisa disesuaikan dengan isi kantong, Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu.

Selesai makan, pengunjung dipersilakan memilih beragam bumbu sebagai buah tangan. Ada bumbu pindang koyong, pepesan, rica-rica, dan bumbu merah. Mau pedas atau tidak, semua bisa disesuaikan dengan selera.

Buang Lestari, 48 tahun, salah satu pendiri warung lesehan, menuturkan bahwa warung-warung di pantai ini tak pernah sepi pengunjung. Tidak hanya malam, tapi juga siang hari. Warung "Lestari" miliknya tergolong besar dan sudah terkenal, dengan bangunan 12 X 14 meter. "Tempat ini, selain menjadi lokasi wisata pantai, sudah terkenal sebagai tujuan wisata kuliner," ujar mantan nelayan Blimbingsari itu.

Pengunjung tak pernah sepi. Bukan hanya dari Banyuwangi, tapi juga dari berbagai daerah lainnya di Jawa Timur, bahkan termasuk wisatawan asing. Untuk melayani tamunya, Buang mempekerjakan 10 orang karyawan.

Warung lesehan yang mulai berdiri pada 1998 itu memang menjadi salah satu pemikat bagi pengunjung yang mendatangi Pantai Blimbingsari. Awalnya, "warles" adalah rumah para nelayan.

Dan seperti kata Buang, bermula dari coba-coba, lalu dijual kepada tetangga, lambat laun masakan Buang bertambah laris. Lalu terbersit keinginan untuk mendirikan warung lesehan. "Karena melihat warung saya ramai, tetangga-tetangga saya juga ikut membuka warles," tutur ayah dua anak itu. Kini Buang mampu mendirikan dua cabang warles di kota Kecamatan Rogojampi dan kota Banyuwangi.

Pantai Blimbingsari mudah dijangkau. Letaknya sekitar 17 kilometer arah selatan dari pusat Kota Banyuwangi. Bila tidak punya kendaraan sendiri, pengunjung bisa memilih angkutan umum atau dokar (andong) yang biasa mangkal di Pasar Rogojampi. Sepanjang perjalanan menuju pantai, sembari menikmati gemerincing suara kalung kuda penarik andong, hamparan sawah nan hijau menjadi suguhan yang tak kalah menarik.

Wisata Pantai dari Utara Sampai Selatan
Pantai Blimbingsari yang terhampar dari utara hingga selatan hanyalah satu dari banyak tempat wisata pantai di Banyuwangi. Wana Wisata Watudodol menjadi gerbang wisata sebelum memasuki Kota Banyuwangi. Hamparan laut yang juga masuk dalam perairan Selat Bali ini bisa dinikmati sembari melakukan perjalanan dari arah Situbondo.

Watudodol juga biasa dijadikan sebagai tempat beristirahat para pelancong yang hendak keluar dari Banyuwangi melalui Pantai Utara. Pantainya bersih. Sehabis menikmati pemandangan laut, pengujung bisa mendaki bukit di seberang jalan.

Disebut Watudodol karena bukit-bukit batu di tepi pantai itu dipakai untuk tempat berjualan. Tapi ada juga mitos bahwa di antara bukit-bukit batu itu terdapat sebuah batu setinggi tiga meter. Pada zaman prasejarah, batu itu menjadi tempat sembahyang nenek moyang. Mitos itu masih dipercaya hingga sekarang. Konon, keinginan seseorang akan terkabul hanya dengan menyentuh batu itu.

Di wilayah selatan ada salah satu tempat wisata bernama Wana Wisata Grajagan. Meskipun jauh, menempuh perjalanan 1,5 jam dari Kota Banyuwangi, pantai di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, juga tak pernah sepi. Ombak yang tinggi menjadi pemikat, terutama bagi penggila olahraga selancar. Di sana pun tersedia berbagai fasilitas wisata, termasuk penginapan.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Grajagan, pengunjung disuguhi pemandangan hutan jati yang tumbuh lebat di kanan dan kiri jalan, sehingga perjalanan yang panjang tidak akan membosankan. (Ika Ningtyas)

Sumber : http://www.korantempo.com
Foto : http://upload.kapanlagi.com

Pantai Grajagan-Banyuwangi


Pantai Wisata Grajagan terletak kurang lebih52 km ke arah selatan dari Kota Banyuwangi. Posisi pantainya yang strategis membuatnya menjadi pintu gerbang menuju ke Plengkung. Disekitar Pantai Grajagan banyak terdapat goa buatan yang terletak pada ketinggian sehingga kita dapat mengawasi seluruh kawasan. Pantai Grajagan bersebrangan dengan kawasan pantai Cungur. Karena perairanya bebas dari pengaruh ombak laut selatan, selain menikmati panorama sambil mandi matahari, di balik pantai Cungur terdapat Segoro Anak untuk kegiatan ski air, berperahu dan kano.



Keindahan Panorama Pantai Grajagan
Ombak menghentak menyambut langkah. Semilir angin membelai sukma. Tak pernah berhenti sepanjang waktu. panorama pantai di wanawisata Grajagan bak lukisan alam tanpa bingkai. Memandang pesonanya terasa memberi kepuasan tak terkira. Begitu menginjakkan kaki di wanawisata dengan ketinggian 0-20 meter di atas permukaan laut (dpl), pengunjung akan segera disambut gemuruh ombak khas pantai laut selatan yang senantiasa setia mendendangkan orkestra alam, sepanjang hari dan waktu. Gulungan ombak pantai yang berada di kawasan hutan KPH Banyuwangi Selatan, BKPH Curahjati ini, kerap memacu adrenalin para pesurfing untuk menjajal kemampuan atau sekedar belajar.

Tak heran, bila Pantai Grajagan ini sering dijadikan tempat persinggahan wisatawan lokal atau mancanegara sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Plengkung yang populer secara internasional sebagai tempat paling menantang untuk berselancar. Plengkung adalah salah satu dari tiga obyek wisata segi tiga berlian (G-Land) di samping Kawah Ijen dan Pantai Sukamade, yang menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Banyuwangi.

Sambil menikmati panorama pantai, pengunjung bisa melihat-lihat ragam obyek yang ada di kawasan seluas 314 hektar ini, antara lain Goa Coko, petilasan, Goa Sriwulan, jembatan gantung peninggalan masa lalu, pura dan Batu Kuluk Minak Kuncar.

Di sekitar pantai ini juga terdapat bermacam obyek yang menyajikan pesona tersendiri. Ada Pantai Peturon yang setiap hari ramai karena sebagai tempat para nelayan menurunkan hasil tangkapannya. Di Peturon, wisatawan bisa berbelanja ikan segar langsung dari nelayan, atau langsung dibakar dan dimakan di tepi pantai.

Dari gardu pandang di puncak bukit, wisatawan bisa menikmati panorama laut bebas berpadu dengan bukit-bukit yang sangat indah. Pemandangan itu juga dapat dinikmati dari tiga buah goa buatan Jepang. Pagi hari, dari Goa Jepang ini pengunjung bisa menyaksikan perahu-perahu nelayan yang berangkat membelah laut lepas untuk mencari ikan. Perahu-perahu itu tersebar di berbagai sudut pandang sehingga menambah keindahan saat memandang ke laut lepas.

Yang tak kalah menarik, wisatawan dapat berperahu sambil memancing di antara keindahan alam sepanjang pantai hingga ke Plengkung. Bila anda beruntung, selama berperahu anda akan menjumpai ratusan burung migran yang indah beterbangan di atas pantai.

Keelokan wanawisata yang terletak di Desa Grajagan, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Banyuwangi, sekitar 50 km arah selatan dari kota Banyuwangi ini kian menarik karena berdekatan dengan obyek wisata lainnya yang tak kalah indahnya. Obyek wisata itu antara lain Pantai Plengkung, Pantai Sukamade yang terkenal dengan penyunya, Pulau Merah, Pantai Coko dan Pantai Ngagelan di Taman Nasional Alas Purwo. Di Pantai Ngagelan, biasanya pengunjung bisa melepaskan penyu beramai-ramai.

Mengunjungi wanawisata Grajagan terasa sungguh mengasyikan dengan segala pesona alam yang mengitarinya. Obyek wisata ini unik karena merupakan perpaduan wisata pantai dan hutan yang ditumbuhi aneka pepohonan dan vegetasi alam, seperti hutan jati, sonokeling, fikus, walikukun, lamtoro gung, randu alam, bambu-bambuan, ketangi, bungur dan bakau.

Kawasan wisata di ujung selatan Banyuwangi ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk kepuasan pengunjung, diantaranya ada pondok wisata, cottage, bungalow, warung makan, tempat bermain anak dan musholla. Untuk mencapai tempat ini juga dapat ditempuh dengan mudah. Jalannya beraspal sehingga mudah dilalui oleh bus, mobil pribadi maupun kendaraan roda dua. Dari arah Banyuwangi-Jember melewati Banyuwangi-Benculuk 28 km, dari Beculuk-Grajagan sekitar 12 km.

Pesona wanawisata lainnya yang juga dikelola KBM-WBU (Kesatuan Bisnis Mandiri-Wisata, Benih dan Usaha lainnya) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, terdapat wanawisata Watu Dodol dan Silvofishery. Silvofishery merupakan tempat budidaya hutan payau di wilayah RPH Kesilir Baru, BKPH Sukamade, KPH Banyuwangi Selatan.

Di area seluas 121 hektar itu dibudidayakan tiga jenis hutan yaitu hutan payau dengan pertanian, hutan payau dengan tambak dan hutan satwa terutama burung. Budidaya hutan payau ini merupakan budidaya yang paling sukses. Tak heran bila silvofishery kerap menjadi obyek penelitian dan pusat studi banding bagi pembudidaya hutan serupa di berbagai daerah.

Pusat budidaya yang terletak di Desa Pesanggaran, Kecamatan Silir Agung, Banyuwangi, sekitar 70 km dari kota Banyuwangi, lokasinya dekat dengan Pantai Sukamade. Mencapai tempat ini dapat ditempuh dengan mudah menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Hanya, sekitar 100 m sebelum memasuki lokasi, pengunjung harus jalan kaki karena jalurnya belum tertata rapi. Rencananya akan dibuatkan jembatan penghubung demi kenyamanan pengunjung.

Setelah menikmati keindahan Wanawisata Grajagan dan keunikan Silvofishery, kurang lengkap rasanya bila tidak sekalian mengunjungi Wanawisata Watu Dodol. Wanawisata yang terletak di kawasan KPH Selogiri, BKPH Ketapang, KPH Banyuwangi Utara ini menyuguhkan keindahan panorama alam yang merupakan perpaduan antara hutan, gunung, tebing, flora dan fauna serta pantai. Obyek wisata ini ditandai dengan adanya sebuah batu besar setinggi lebih kurang 7 meter, diameternya sekitar 3 meter, yang berdiri kokoh secara alami di tengah jalan dekat pantai.

Wanawisata dengan ketinggian antara 10-15 dpl ini menyimpan aneka flora dan dihuni bermacam satwa. Selain tumbuhan khas hutan yang dikelola Perum Perhutani, terdapat pula kembang kuning, laban dan suren. Sementara satwa yang menghuni kawasan ini adalah kera dan lutung berbagai jenis, kijang, anjing ajag, burung rangkok, elang putih, serigala dan ayam bekisar.

Selain itu, ada banyak peninggalan yang memiliki nilai sejarah masa silam, seperti goa Jepang, petilasan Syekh Maulana Ishak dan puterinya, dan makam Patih Mangun Buyut Ringsan serta puterinya yang dikeramatkan oleh sebagian orang untuk mengadu dan berdoa minta berkah.

Terdapat lima goa peninggalan Jepang di puncak bukit. Konon, goa itu dulunya berfungsi sebagai tempat pengintaian, perlindungan, penyimpanan dan lalu lintas distribusi senjata oleh tentara Jepang. Satu dari lima goa itu bahkan tembus pandang, sehingga dapat dipakai untuk melihat panorama laut dan Pulau Bali.

Kawasan wisata ini cocok digunakan untuk arena panjat tebing, tracking atau outbond. Area ini juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan lomba menggambar bagi anak-anak. Rencananya, tempat ini akan dibuka untuk berbagai kegiatan lomba, seperti lomba burung. Juga akan dilengkapi dengan kolam pemandian dan penginapan bila studi kelayakannya memenuhi syarat. Air untuk kolam renang itu nantinya akan diambilkan dari sumber air yang terdapat di kawasan ini.

Wanawisata yang terletak di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi ini sangat strategis, karena berada di pintu gerbang kota Banyuwangi, juga dekat dengan Pelabuhan Ketapang, sekitar 5 km. Perum Perhutani juga berencana untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat informasi wisata di Banyuwangi.



Pantai Grajagan mulai Dilirik Peselancar Dunia
Pantai Grajagan, Banyuwangi, sejak lima tahun terakhir ini mulai dilirik para peselancar dunia. Selain lokasinya mudah dijangkau, ombak di kawasan ini cukup menantang, terutama Agustus-September. Sayangnya, kawasan wisata di Banyuwangi Selatan ini masih minim sarana.

Berselancar di Pantai Grajagan mulai berkembang setelah salah seorang warga setempat, Made Supartha (40), membuka kursus berselancar. Saat ini tercatat lebih dari 30 siswa menekuni olahraga air ini. “ Jumlah pesertanya terus meningkat, kebanyakan kalangan remaja,” kata Supartha, Rabu (23/6). Meski tergolong sulit, olahraga ini cukup diminati. Bahkan, sejumlah pemuda setempat hijrah ke Bali hanya untuk mendalami olahraga penuh tantangan ini. Setelah dua tahun di Bali, mereka kembali ke Grajagan untuk menularkan ilmu dan keterampilannya. Biasanya, sembari pulang, para pemuda itu mengajak tamu asing dari Bali, lalu kepadanya diperkenalkan kehebatan ombak Grajagan.

Menurut Supartha, ombak Pantai Grajagan tidak kalah menarik daripada ombak Pantai Plengkung, Alas Purwo, juga di Banyuwangi Selatan. Bedanya, ombak Grajagan cenderung pecah sebelum ke pantai. Namun, karena masih baru, Pantai Grajagan belum banyak dilirik wisatawan asing untuk berselancar. Ditambah lagi, minimnya sarana wisata dan olahraga air di kawasan tersebut. Kawasan ini juga memilik panorama indah. Pasir pantainya tak kalah eksotis dibandingkan di Plengkung, belum lagi keindahan gunung dan hutannya.

Perkembangan berselancar di Grajagan tergolong lamban, akibat sulitnya mencari peralatan olahraga tersebut. Saat ini baru ada satu lokasi milik Supartha yang menyewakan papan selancar. Itu pun rata-rata barang bekas dari Bali. Papan selancar disewakan satu harinya Rp 25.000-30.000. “ Saya tidak murni bisnis, tetapi ingin mengembangkan olahraga selancar di Grajagan,” ujar Supartha.

Biasanya, para siswa kursus dan berlatih selancar pada hari libur. Pagi mereka berkumpul, diajari teknik di atas papan. Setelah lancar, mereka baru dibolehkan turun ke laut. Untuk bisa mahir berselancar, kata Supartha, diperlukan waktu minimal empat bulan. Jika ingin lebih mahir lagi diarahkan datang ke Bali. Pantai Kuta merupakan salah satu lokasi yang dituju.

Supartha merupakan satu-satunya pelatih selancar di Grajagan. Keahliannya berselancar didapat setelah berkelana di Bali bertahun-tahun. Tahun 2000, pria yang lama bertempat tinggal di Karangasem, Bali, ini, memilih pulang ke kampungnya di Grajagan. Di Grajagan ia juga bertugas sebagai anggota tim penyelamat pengunjung pantai. Saat hari libur, seperti sekarang ini, Pantai Grajagan dibanjiri wisatawan domestik. Rata-rata mereka mandi di laut. “Jika ada yang terseret arus, kami yang bertugas menolong,” katanya.

Untuk mencapai pantai ini diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kota Banyuwangi. Lokasinya bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda empat, bahkan bus besar. Turis asing biasanya mengunjungi lokasi ini Agustus hingga Desember. Kini, di sekitar pantai sudah berdiri sejumlah bungalow yang bisa digunakan tamu menginap.

Selain Grajagan, Pantai Pulau Merah, Pesanggaran, juga mulai dilirik untuk olahraga selancar. Namun, di tempat ini belum ada pengelola yang secara khusus menekuni kegiatan olahraga ini. Baru tamu asing dan warga luar daerah Banyuwangi yang berani menjajal keganasan ombaknya.
Pantai Grajagan dan Pulau Merah sama-sama berada di pantai selatan Banyuwangi, satu jalur dengan kawasan Plengkung. Tiga kawasan ini bisa menjadi daerah tujuan wisata favorit untuk penghobi selancar. Selama ini baru kawasan Plengkung yang lebih dulu dikenal peselancar dunia.-udi

Sumber :
http://www.slowbos.com
http://marijelajahindonesia.blogspot.com
http://www.cybertokoh.com

Pantai Pusong Sangkalan


Tiga kilometer dari Kota Blangpidie Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat Daya, terdamparlah sebuah pantai yang sangat indah yang menghiasi bibir daratan di ujung barat pulau Sumatera. Namanya Pantai Pusong Sangkalan, nama Pusong digunakan karena di Samudera Hindia dengan jarak 1 KM dari bibir pantai tertadapat “Pusong” (Pulau Gosong). Sangkalan adalah nama wilayah kemukiman dimana Pantai itu berada. Selain nama tersebut, pantai ini dikenal juga dengan nama Pantai Bali. Nama pantai Bali sebenarnya bukan nama yang resmi, menurut penduduk setempat banyak menyebutkan karena keindahan pantai tersebut tidak kalahnya dengan keindahan Pantai di Bali. Ada juga pendapat mengatakan karena ketika pertama sekali dibuka sebagai kawasan wisata, banyak wisatawan manca Negara yang datang menikmati keindahan pantai dengan bermain selancar dan berjemur ria dengan mengunakan bikini yang dinggap tabu oleh masyarakat setempat, mereka tidak ingin Pantai Pusong Sangkalan dijadikan sebagai kawasan wisata seperti di Bali yang sangat bebas dan merusak tatanan budaya setempat.

Pantai Pusong Sangkalan berhadapan dengan Samudera Hindia masih sangat asri dan bersih, pasirnya yang bersih dan agak kasar. Ombaknya yang besar sanga menantang untuk bermain selancar. Air lautnya yang biru sangat indah dan membuat mata betah berlama-lama memandang lautan lepas yang tak bertepi itu. Kebesaran Tuhan semakin dahsyat ketika kita di senja hari menikmati indahnya sunset, mata kita dibuat tak akan lepas menatap matahari yang masuk kedalam air inchi demi inchi.

Kalau anda mengunjungi pantai ini dipagi hari jam 6.00 sampai dengan jam 10.00 WIB, anda akan berkesempatan melihat nelayan tradisional yang sedang “Tarek Pukat” (menjaring ikan dengan pukat yang ditarik dari laut ke darat). Sebuah tontonan yang menarik juga melihat dua kelompok nelayan yang menarik masing-masing ujung pukat ke daratan. Kelompok nelayan yang berjumlah 10 sampai 15 orang ini manarik pukat sambil mengeluarkan suara-suara teriakan kecil dan melantunkan syair-syair yang sangat indah.

Syair-syair dalam bahasa Aceh :
tarek pukat…. lamat saja
buleun seupot…..roeuh ungkot
ungkoet jeunara

Pulau Pusong Sangkalan adalah pulau kecil seluas 1 KM2 yang dulunya hanyalah daratan kecil yang gersang dan dikelilingi hamaparan karang yang sangat indah. Hamparan karang dua kali lebih luas dari daratannya dan bila air sedang surut kita bisa berjalan diatasnya dengan air setinggi lutut. Menjalajahi hamparan karang yang sangat indah membuat kita bisa melupakan waktu, kita bisa melihat ikan-ikan karang yang beraneka warna dan bentuk, belum lagi kalau kita menyelam, sungguh akan menemukan taman laut yang sangat luas dan indah dan tentunya masih perawan. Untuk mencapai pulau tersebut saat ini tidak ada angkutan khusus kesana, anda bisa menumpang perahu atau menyewa satu perahu motor sekitar Rp 300.000 /hari.

Itulah sekilas tentang Pantai Pusong Sangkalan Aceh Barat Daya. Sayang sekali Objek wisata yang sangat indah ini masih belum mendapat perhatian baik dari pengusaha maupun Pemerinatah Daerah setempat. Bahkan bisa dikatakan tidak pengelolaan dan publikasi sedikitpun dari Pemda ABDYA. Padahal objek wisata ini akan menarik perhatian wisatawan lokal bahkan mancanegara yang tentunya bisa menjadi pendapatan daerah dan juga bisa memperbaiki ekonomi masyarakat setempat.

Sumber : http://pantaibaliabdya.blogspot.com

Menyusuri Pantai, Menembus Gua

Oleh: Sri Igustin

Bayangan gua yang gelap-gulita, angker, dan penuh misteri, yang selama ini ada dalam pikiranku, berganti dengan ketakjuban.

Pagi masih berembun ketika bus yang kami tumpangi melaju pelan meninggalkan Kasembon, sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Petikan gitar mengiringi lagu Peterpan yang dinyanyikan murid-murid dengan suara sumbang. Ditingkahi canda dan tawa, suasana dalam bus gaduh tapi menyenangkan.

Awal Juli 2007, saat liburan tahun ajaran baru, bersama murid Sekolah Menengah Kejuruan PGRI Kasembon, kami mengadakan perjalanan ke dua tempat wisata di Jawa Timur sebelah selatan, yaitu kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Popoh, Kabupaten Tulungagung; dan satu lagi Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek. Tak lupa aku mengajak dua anakku dan suami.

Setelah tiga jam perjalanan, letih mulai aku rasakan, ditambah udara yang panas di dalam bus karena tanpa penyejuk udara. Anak-anak para guru mulai rewel.

"Kenapa lama tidak sampai tujuan, Pak?" tanyaku pada salah seorang rekan guru.
"Tersesat. Satu jam lagi baru sampai," jawabnya, agak kesal kepada sopir.

Dalam hati aku menggerutu. Waduh! Dasar sopir modal nekat, tidak hafal jalan berani angkut rombongan. Tapi untungnya muridku tenang-tenang saja sehingga tidak ada yang protes.

Begitu sampai di kawasan Pantai Popoh, bus berhenti, semua berhamburan keluar bagai burung keluar dari sangkar.

Berada di ujung timur Pegunungan Kidul, sekitar 30 kilometer sebelah selatan Kota Tulungagung, Pantai Popoh merupakan salah satu obyek wisata andalan Jawa Timur. Selain pantai dan pemandangan laut, terdapat pegunungan cadas yang menjulang dan memanjang kurang-lebih 25 kilometer di sepanjang jalan hingga bibir Pantai Popoh.

Kami disambut pedagang yang menjual ikan laut yang telah diasapi, antara lain ikan tongkol. Saat itu hanya tampak beberapa pedagang. Ikan yang dijual pun sedikit. "Gelombang tinggi, nelayan tidak berani melaut," begitu jawab seorang nelayan ketika temanku bertanya tentang sepinya penjualan ikan.

Cukup merogoh Rp 30 ribu, aku mendapat dua ekor ikan P--demikian penduduk setempat menamai ikan itu. Kalau ditimbang, satu ekor sekitar 2 kilogram. Cukup buat oleh-oleh.

Dari Pantai Popoh, kami berjalan kaki menuju Pantai Bebas, sekitar satu kilometer dari Pantai Popoh. Sesampai di tujuan, aku hanya memandang gelombang laut yang sangat besar dari pembatas yang berupa tembok setinggi pusar orang dewasa. Meski melihat dari jauh, gelombang yang tinggi dan sangat besar menimbulkan rasa ngeri. Maklum, aku dilahirkan dan dibesarkan di daerah pegunungan.

Setelah semuanya puas, barulah aku mengajak rombongan ke Pantai Sidem, tidak jauh dari Pantai Popoh, sekitar 10 menit perjalanan dengan bus. Tidak seperti Pantai Popoh, di Pantai Sidem kami bisa bermain air laut meski ombaknya cukup besar. Tak satu pun kapal atau perahu nelayan di tengah laut. Di tepi pantai, kami bermain air laut yang berkejar-kejaran dan membuat gunung-gunungan dari pasir. Kalau ombak mendekat, bersama kedua putriku aku cepat-cepat lari menjauh takut terkena ombak.

Sekelompok nelayan, sekitar 10 orang, menarik tambang yang telah diikatkan pada jala. Jala itu pada malam hari ditambatkan di tengah laut untuk menjaring ikan. Dan baru keesokan harinya jala ditarik beramai-ramai ke tepi pantai. Lalu ikan yang terjaring di jala dikumpulkan. Ikan yang mereka dapatkan, kata salah seorang nelayan, jumlahnya bergantung pada rezeki. "Kalau lagi beruntung, satu orang bisa membawa pulang uang Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Tapi, kalau lagi malang, hanya bawa Rp 2.000," ujar si nelayan dengan napas masih terengah-engah habis menarik jala.

Tak berapa lama, kami meneruskan perjalanan ke Gua Lowo. Gua ini terletak di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Kurang-lebih 30 kilometer dari Kota Trenggalek, juga 30 kilometer dari Kota Tulungagung. Dari Surabaya ke arah pantai selatan, tepatnya Pantai Prigi, sejauh kurang-lebih 180 kilometer.

Dari Popoh, perjalanan kami tempuh selama sekitar dua jam.


Gua Lowo


Sesampai di lokasi wisata Gua Lowo, embusan angin sepoi berhawa sejuk mulai menghilangkan keletihan selama perjalanan. Tiba-tiba kedua putriku dan anak-anak yang lain berlari ke arah yang sama. Ternyata mereka berebut permainan anak-anak, seperti bandulan, jungkat-jungkit. Murid-muridku pun ikut menikmati mainan untuk anak-anak itu. Tawa dan canda, diselingi jeritan, memecahkan kesunyian hutan jati.

Setelah puas bermain, aku menuju Gua Lowo. Untuk sampai ke mulut gua, aku berjalan menuruni tangga kira-kira 500 meter dari tempat permainan anak-anak. Di awal tangga yang menurun "dijaga" batu menyerupai kura-kura raksasa, panjangnya 9 meter dengan lebar 4,5 meter.

Sampailah aku di mulut gua yang menganga lebar bak mulut raksasa. Bayangan gua yang gelap-gulita, angker, dan penuh misteri, yang selama ini ada dalam pikiranku, berganti dengan ketakjuban begitu aku masuk gua. Aku disambut ruang pertama yang sangat luas bagai aula. Langit-langit gua itu tingginya 20-25 meter, dan lebarnya kurang-lebih 50 meter. Wow! Luar biasa. Mataku terbelalak memandang ruang dalam gua.

Bersama kedua putriku dan suamiku, aku langsung melangkah menapaki jembatan yang dibangun di tengah-tengah gua yang menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lain. Jembatan dibangun dengan ketinggian kira-kira dua meter dari permukaan gua sehingga kita mudah mengamati dasar gua. Aku melihat ke dasar gua. Ada air bersih gemericik mengalir, yang katanya bisa membuat awet muda pengunjungnya. Tapi tak ada niat sedikit pun untuk menyentuh airnya. Ada perasaan ngeri karena agak gelap.

Selama menapaki jalan buatan, mataku memandang dinding-dinding gua di sebelah kiri dan kanan. Dinding-dinding gua dipenuhi dengan panorama stalaktit (batuan di dalam gua yang menggantung dari atas ke bawah) dan stalagmit (batuan di dalam gua yang menyembul dari atas ke bawah). Beraneka bentuk stalaktit dan stalagmit disembur cahaya dari lampu listrik yang ditata sedemikian rupa sehingga membuat warna-warni batu semakin menawan.

Penerangan dengan listrik baru dibuat pada Juni 2006. Sebelumnya, dipergunakan alat penerang lampu petromaks, begitu kata petugas yang mengantarkan kami. Dengan penerangan listrik, pengunjung akan dengan mudah mengamati seluruh dinding gua sampai sudut-sudutnya, dari ruang ke ruang yang berjumlah sembilan ruang itu. Tiap ruang rata-rata luasnya dua sampai empat kali ruang kelas. Berbagai bentuk batu bisa aku jumpai, antara lain batu buceng, batu sepasang kaki, batu gong, dan batu tugu.

Pada ruang ketujuh, petugas menunjukkan langit-langit gua. Di sana terdapat lubang yang menembus ke atas sehingga sinar matahari menerobos ke dalam gua. Udara di dalam gua pun tidak pengap dan tetap terasa sejuk, ditambah stalaktit dan stalagmit yang selalu basah meneteskan air sehingga semakin berkilau kena sinar matahari. Jembatannya pun semakin licin karena tetesan stalaktit dan stalagmit. Karena itu, kami harus berjalan lebih hati-hati. Di langit-langit gua tadi terdapat kelelawar yang tak terhitung jumlahnya, tampak hitam dan menggerombol. Pada malam hari kelelawar keluar melewati lubang itu untuk mencari makan; siangnya kembali ke gua untuk tidur.

Kami meneruskan perjalanan ke ruang kedelapan. Di antara ruang ketujuh dan kedelapan terdapat satu relung gua, yang merupakan bekas tempat pertapaan Mbah Lomedjo, yang dikenal masyarakat sebagai penemu Gua Lowo sekitar 1931. Pada 1984 gua ini dinyatakan sebagai gua alam terbesar di Asia Tenggara menurut penelitian ahli gua dari Prancis, Gilbert Manthovani dan Robert Kingstone Kho.

Sampai ujung gua, jembatan memutar kembali ke arah mulut gua. Berarti kami sudah berjalan sejauh 800 meter dari mulut gua sampai ujung karena panjang gua 800 meter. Ternyata capek juga.

Saat kembali ke mulut gua, di salah satu ruang, kami berhenti melepas lelah, duduk di kursi terbuat dari batu sambil menikmati makanan ringan yang kami bawa dari rumah. Setelah sedikit berkurang kelelahan kami, aku ajak anak-anak meneruskan perjalanan ke mulut gua. Meski tadi sudah aku lewati dan amati, begitu melewati lagi kekaguman masih terucap dari mulutku.

Kami keluar dari gua, menaiki tangga. Napasku seperti mau putus, kakiku sudah letih melangkah, tapi tidak ada pilihan lain, aku harus berjalan. Beberapa muridku menertawaiku melihat aku ngos-ngosan dengan langkah yang sudah berat.

Di tengah perjalanan ada beberapa pedagang menjual makanan khas Trenggalek, seperti keripik tempe, manco, dan alen-alen. Aku membeli ketiga jenis makanan khas tersebut. Rasanya enak dan gurih.

Sampai di tempat parkir, aku melihat seorang penduduk menjemur kotoran kelelawar. Jumlahnya cukup banyak. Kira-kira dua karung. Katanya, kotoran kelelawar itu dikirim ke Bogor, Jawa Barat, untuk pupuk bunga. Penduduk mengambil kotoran kelelawar pada malam hari tepat di bawah kelelawar bertengger di dekat lubang langit-langit gua. Kata mereka, populasi kelelawar di gua itu sudah berkurang sehingga kotorannya pun sedikit. Karena pengunjung sudah banyak, kelelawar takut, lalu pindah tempat.

Puas sudah kami menikmati perjalanan kali ini. Dalam hati aku berkata, kalau ada kesempatan, aku akan datang lagi.

Kami pun pulang. Bus melaju cepat meninggalkan Gua Lowo, tapi kesan dan ketakjuban masih melekat dalam hatiku
__________
Sri Igustin, Guru SMK, tinggal di Malang, Jawa Timur

Sumber :www.korantempo.com
Foto :judexkerenz.multiply.com