Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan

Tombak


Tombak menurut bahasa Lampung disebut payan. Sama halnya dengan keris, pengguna dari berbagai tombak yang masih dimiliki masyarakat ternyata berdasarkan bentuknya dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu:

Tombak panjang (payan kejang)
Tombak pendek (payan buntak/linggis)

Dari berbagai informasi yang diperoleh ada juga tombak yang didatangkan dari Lampung, terutama dari Jawa, dalam hal ini Banten (surosoan). Tombak yang didatangkan atau hadiah dari luar Lampung, biasanya dipan dang memiliki kualitas yang lebih baik, Ini dapat dimaklumi karena ia dijadikan ikatan lahir batin dalam persahabatan. Mata tombaknya sama dengan keris yaitu memiliki pamor berlapis. Banyak Tombak Lampung ini dipandan memiliki kekuatan magis, apalagi jika tombak tersebut merupakan benda pusaka warisan dari leluhur. Biasanya tombak yang demikian ini di lengkapi dengan sarung untuk mata tombaknya sedang tombak yang tidak memiliki kekuatan magis, banyak yang tidak dilengkapi dengan sa¬rung (wrangka/sakhung, Lampung), namun kadang ada juga yang memiliki sarung atau wrangka. Tombak yang mempunyai kekuatan magis cara me¬nyimpannya tidak sembarang, biasanya disimpan di suatu tempat khusus, berbeda dengan tempat penyimpanan keris biasa.

Dari bukti-bukti arkeologis, fragmen tombak banyak ditemukan di situs-situs purba¬kala, misalnya ditemukan di situs Pugungrahar¬jo (situs masa prasejarah dan klasik), situs Bentengsari (situs masa Islam) di kedua situs tersebut ditemukan pula lelehan-lelehan atau kerak besi dan logam lainnya. Kecuali itu di¬temukan pula wadah pelebur logam, terutama di¬temukan di situs Bentengsari. Dengan demikian dapat diduga bahwa di kedua situs tersebut terdapat perbengkelan atau pandai pembuatan senjata termasuk pembuatan tombak. Kesimpulan yang dapat kita tarik dari pembuktian tadi berarti di daerah Lampung sejak zaman klasik telah dikenal adanya pembuatan senjata terma¬suk tombak.

Menyinggung klasifikasi bentuk tombak yang dikatakan bahwa ada dua bentuk yaitu tom¬bak panjang dan tombak pendek, yang dimaksud dengan tombak panjang yaitu tombak yang memi¬liki gagang yang terbuat dari kayu yang beru¬kuran lebih dari 150 cm. Sedang mata tombaknya berukuran sama dengan jenis tombak pendek yai¬tu dapat mencapai 34 cm sampai 40 cm. Sedang yang dimaksud dengan tombak .pendek langka, karena biasanya berkualitas sangat tinggi, yang kadang diberi bulu ekor kuda yang disebut tunggul. Seperti halnya keris, tombak menurut penggunaannya dapat diklsifikasikan menjadi empat kategori :

1. Tombak sebagai Benda Pusaka
Tombak sebagai benda pusaka biasanya merupakan tombak yang berkualitas tinggi, dan cara pemilikannyapun diperoleh berdasarkan warisan dari leluhurnya. Memperlakukan terhadap tombak jenis ini sama dengan memperlakukan terhadap "keris sebagai benda pusaka". Ada tata cara tertentu yang harus dilakukan apabila hendak memegang, membawa, dan memandikannya Tombak yang demikian ini memiliki kekuatan magis, dan memiliki pengaruh sugesti terhadap sipemiliknya.

2. Tombak sebagai Alat Berburu
Tombak sebagai alat berburu adalah tombak yang tidak memiliki kekuatan magis. Kadang mata tombaknya sederhana, tidak berlapis atau tidak berpamor. Tombak seperti ini dipandang sama dengan senjata-senjata lainnya yang digu nakan sehari-hari. Memperlakukan tombak sebagai alat berburu tidak perlu melakukan tata cara tertentu, dan tempat penyimpanannya tidak sesuci tombak benda pusaka, bahkan tidak memiliki sarung. Cara pemilikan tombak jenis itu bukan berdasarkan warisan saja akan tetapi juga yang diperoleh dengan cara membeli.

3. Tombak sebagai Alat Upacara
Tombak yang digunakan sebagai alat untuk upacara yaitu tombak yang dipakai untuk upacara perkawinan, terutama pada acara turun di Way. Biasanya tombak tersebut dipegang oleh kedua mempelai, pengantin pria memegang ujung tombak bagian depan dan pengantin wanita memegang ujung bagian belakang. Di samping tombak yang dibawa kedua mempelai ada juga beberapa tombak yang dipegang oleh beberapa penari yang mengiringi mempelai. Tombak jenis ini dipandang tidak sesakral tombak pusaka, sekalipun kadang-kadang berkualitas tinggi dan indah bentuknya.

4. Tombak sebagai Benda Religi
Tombak sebagai benda religi, adalah se¬buah tombak yang digunakan untuk kelengkapan ritual keagamaan tertentu. Di daerah Lampung baik di kota-kota maupun di desa-desa ternyata sampai saat ini masih dijumpai adanya pelaksa¬naan sembahyang jum'at, dimana muazin dan kho¬tib sebelum dan sedang khotbah berlangsung, tombak ada dalam genggamannya (dahulu di bebe¬rapa tempat dilaporkan, bahwa sebagai penggan¬ti tombak muazin dan khotib menggunakan pe¬dang). Berdasarkan penjelasan dari masyarakat yang bersangkutan, dikatakan bahwa sekalipun pada pelaksanaan khotbah jum'at tidak dileng¬kapi dengan tombak atau pedang, sembahyang ti¬dak akan batal. Sekalipun demikian sebagian masyarakat akan terheran bahkan tanda tanya besar apabila tombak atau pedang tidak diikutsertakan pada khotbah sembahyang jum'at. Teru¬tama bagi mimbar yang tidak memiliki podium

Sumber :
Fachruddin drs dkk, Senjata Tradisional Lampung, 1991/1992 , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai tradisional Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung.

Foto : http://www.geticagame.com

Keris


Keris sebagai Benda Upacara
Keris jenis ini biasanya tidak dipandang mamiliki kekuatan magis. Asal pemilikannya pun biasanya bukan merupakan warisan dari orang tua. Bentuknya biasanya merupakan sebuah keris yang indah, kadang berlapis logam mulia, mulai dari gagang hingga ke sarungnya. Tidak 0Jarang sarungnya diukir sedemikian rupa menyerupai ukiran barang-barang dari emas. Di dae¬rah Lampung keris ini disebut tekhapang/punduk keris yang indah seperti ini digunakan untuk upacara perkawinan dan dipakai oleh pengantin Aria, yang diselipkan di pinggang bagian depan atau dipegang dengan tangan kanan (berbeda dengan pengantin Jawa, keris diselipkan di pinggang bagian belakang/punggung).

Keris sebagai Bagian dari Kesenian
Dahulu menurut orang-orang tua, apabila nda kesenian silat orang memegang keris dalam pertunjukannya, di samping juga digunakannya tombak dan pedang. Keris yang digunakan untuk pertunjukan silat ini, biasanya tidak dipan¬dang memiliki kekuatan magis. Kini orang Lam¬pung dalam pertunjukan seperti ini tidak lagi Menggunakan keris.

Untuk melihat bagaimana cara pembuatan keris di daerah Lampung perlu penelitian lebih lanjut, karena:

1. Di daerah Lampung keris saat ini banyak di buat di Lampung Utara terutama di Tulangbawang udik.

2. Penggunaan keris di daerah Lampung, hanya merupakan benda pusaka, atau benda seni (sebagai benda kelengkapan upacara pernikahan dan seni pencak silat).

Sebagaimana diketahui bahwa keris yang ada di daerah Lampung banyak mendapat pengaruh dari daerah Jawa, hal ini dapat dimengerti ka¬rena dahulu daerah Jawa memiliki kerajaan-kerajaan besar. Sedang empu pembuat keris ketika itu merupakan penjual jasa bagi kebutuhan orang-orang/pembesar kerajaan, sedang empu dl Lampung banyak juga yang berasal dari meranjat (ogan Komering Ilir Sumatera Selatan) yaitu etnis Lampung Kayu Agung yang secara geografli sekarang meniadi wilayah Sumatera Selatan. Sampai kini ternyata keris masih dibuat oraw Lampung khususnya di Tulang Bawang Tengal (Lampung Utara).

Di daerah Jawa dikatakan bahwa bahan pembuatan keris meliputi besi, Baja, pamor yang berasal dari batu bintang (meteorit) atau nikel. Menurut informasi bahwa daya tahan panas batu meteorit dalam proses garap keris jauh lebih tahan. Pada temperatur tertentu in buah besi. tang dipanggang api akan luluh, tetapi sebuah meteorit yang lazim untuk pamor pada temperatur yang sama tidak luluh.

Pada dewasa ini di Lampung keris bukan lagi untuk senjata perang, tinggal fungsi lain yang masih lazim dikenal: Umpamanya, pelengkap pakaian adat tradisional, pelengkap upacara tradisional, pelengkap konsep hidup ideal sebagai apa yang disebut gagaman/peselok, pelengkap eksotisme lama dalam hidup zaman mo dern. Di Lampung dikenal ada konsep hidup lengkap bagi seorang pria dewasa, yaitu antar lain wisman (bulamban), tenangga, kukila (segokan), jama (istri) dan pemenah (pusaka).

Untuk melihat apakah konsep itu terpakai oleh masyarakat suku bangsa Lampung, secara tersamar, namun terlalu banyak variasi untuk mengatakan bahwa di daerah Lampung konsep tersebut juga berlaku, bahkan bukan tidak mungkin konsep itu tidak ada, karena secara tradisi Lampung secara setempat-setempat sedikit banyaknya ada perbedaan dengan tradisi yang berlaku secara umum. Namun demikian yang pasti setiap berbusana adat punduk/tekhapang harus hadir.

Sumber :
Fachruddin drs dkk, Senjata Tradisional Lampung, 1991/1992 , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai tradisional Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung.

Foto : http://4.bp.blogspot.com

Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok


Oleh : Khaerul Anwar

RUMAH bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

ITU terlihat pada rumah tradisional suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, seperti di Dusun Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suwela, Lombok Timur; Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah; dan Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Barat.

Memang fungsi dan bentuk fisiknya, rumah tradisional itu ada yang berubah dan berbeda, sejalan dengan bertambahnya jumlah penghuni maupun tergantung risiko (kondisi keamanan, geografis, dan topografis) di masing-masing dusun. Namun konsep pembangunannya: arsitektur, tata ruang, dan pola tampaknya merujuk tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya.

Pola hunian di tiga dusun itu mengompleks meski lokasinya di tempat datar, seperti Dusun Segenter, atau dataran tinggi sebagaimana di Dusun Limbungan dan Dusun Sade. Sedangkan bangunan yang ada meliputi bale (rumah), berugak (bale-bale bertiang empat disebut sekepat atau bertiang enam atau sekenem), lumbung dan kandang (bare) ternak. Bangunan-bangunan itu mengikuti kontur tanah, khusus bangunan rumah seluas 7 x 6 meter (dihitung dari luar) dan 6 x 5 meter (dihitung dari dalam) per unit.

Bagian rumah terdiri atas atap yang umumnya berbentuk gunungan, menukik ke bawah jarak 1,5-2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungan (bungus)-nya adalah alang-alang yang umumnya menghadap Gunung Rinjani dan berdinding anyaman bambu (kampu). Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah bila ada penghuninya sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben dan dapur, sempare (tempat menyimpan makanan, peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) tanpa jendela. Lantai rumah umumnya tanah yang dicampur dengan kotoran kuda, getah, dan abu jerami, seperti terlihat di Dusun Sade dan Limbungan.

Kompleks perumahan itu tampak teratur seperti ada "pagar hidup" yang membatasi kompleks tempat tinggal itu, jalan tanah dan berugak di mana tiap rumah diapit dua rumah. Penataan itu selain tampak demikian teratur yang seakan menggambarkan kehidupan harmoni penduduk, juga sama dengan pola hunian modern dewasa ini.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Misalnya, ruang tamunya terbuka tanpa dinding, tiang penyangga bangunan bagian atas diberi ukiran.

Malah dalam waktu 15 tahun terakhir ini, arsitektur Lombok dijadikan pelengkap pada bangunan perkantoran dinas/instansi di Mataram. Lumbung dibangun di bagian depan atau pintu keluar-masuk kantor. Materi bangunannya disesuaikan dengan bahan bangunan kantor berupa semen, pasir, dan genteng. Tujuan pendirian lumbung adalah menunjukkan kekhasan dan pelestarian kebudayaan fisik, terutama di Pulau Lombok.

SEPERTI disinggung di atas, selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai.

Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Arsitektur rumah warga di tiga dusun itu relatif mirip, yang agak berbeda mungkin fungsi ruangannya. Hanya rong dalam rumah di Dusun Segenter lekat tradisi wetu telu-nya. Misalnya, di inan bale, kecuali menyimpan beras dalam gentong (temberasan/kemeras), barang berharga lainnya, juga tempat menyimpan nenoq (sesaji bagi arwah leluhur dan roh penghuni rumah), dan saat tertentu dijadikan tempat pemujaan/meditasi keluarga.

Rumah tinggal di Dusun Segenter dibangun dengan asas cermin, (pintu rumah yang satu dengan rumah di depannya saling berhadapan dan diselingi sebuah berugak di tengahnya), bukan saling membelakangi seperti rumah di Dusun Limbongan maupun di Dusun Sade yang arahnya ada yang berhadapan, ada pula yang saling membelakangi.

Pemilihan lokasi permukiman itu terkait dengan pola bercocok tanam khas masyarakat agraris, kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak, Lombok. Mereka memerlukan air untuk irigasi maupun kegiatan rumah tangga yang biasanya jadi sumber mata air, umumnya berada di dataran tinggi.

Gunung yang dekat dengan hutan memudahkan mereka mendapat sumber makanan tiap hari. Mungkin juga ada kaitannya dengan kepercayaan tradisional bahwa gunung dan dataran tinggi menjadikan "hubungan komunikasi" manusia dengan Sang Pencipta "lebih dekat".

Karena letaknya di dataran tinggi, seperti Dusun Segenter dan Dusun Limbungan, fungsi dapur juga sebagai penghangat, sedangkan penerangan pada siang hari hanya dengan sinar matahari yang menyelinap dari balik pagar, yang juga berfungsi sebagai sirkulasi udara, untuk keamanan bila ada serangan binatang buas dan memantau orang yang bermaksud jahat terhadap tuan rumah.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati, simbol keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas).

Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, umpamanya guna mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, "Kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit," tutur Amak Yani, warga Dusun Limbungan Timur.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dipertahankannya bahan konstruksi dan bentuk rumah itu merupakan ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar. Karenanya yang tinggal dalam kampu mematuhi ketentuan itu, tetapi memilih lokasi agak jauh dari rumah orangtuanya. Pertimbangannya, "Khawatir, jangan sampai ibu saya ngomong biasa misalnya, lalu didengar dan salah dimengerti oleh istri saya, membuat hubungan kami dengan orangtua jadi keruh," ucap Suparman, Kepala Dusun Limbungan.

Sumber : http://labulia.blogsome.com

Batik “Gajah Uling”, Khas Banyuwangi


Batik Gajah uling melambangkan sesuatu kekuatan, yang tumbuh dari dalam jati diri masyarakat Banyuwangi. Pemaknaannya berkaitan dengan karakter masyarakat yang bersifat religius. Dengan penyebutan Gajah Eling, yang artinya eling (mengingat) kemahabesaran sang pencipta adalah sebuah jalan terbaik dalam menjalani hidup masyarakat Banyuwangi.

Selain itu, adanya keterkaitan dengan sosok misteri pada sejarah Blambangan. Penaklukan Blambangan oleh Mataram, yakni pada masa Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1613-1645 M). Dimana kekusaan Mataram inilah banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered, Kotagede.

Mereka banyak yang belajar membatik di Keraton Mataram Islam.

Sejarah batik sudah dikenal oleh tradisi keratin di Jawa sejak abad 15. Khususnnya pada pemerintahan Sultan Agung. Setelah perkembangan zaman terjadi kepentingan politik mutualisme, dengan menetapkan tradisi membatik sebagai sebuah tradisi sebuah identitas. Penguasaan terhadap budaya yang dilingkupinya. Menariknya, sosok batik khas Banyuwangi tidak terpengaruh unsur Mataram atau pun Bali.

Kurang gregetnya batik di Banyuwangi bukan berarti Banyuwangi tidak memiliki nilai estetika ragam hias arsitektural atau ragam hias ornamental. Justru menumbuh kembangkan batik Banyuwangi berarti menggali kembali segi atau nilai estetika Blambangan yang tersebar pada tinggalan Arkeologi yang ada.

***

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satu wilayah produsen batik, yang jarang ditengok orang. Padahal, kekhasan batik Banyuwangi dengan ciri gajah uling-nya, tak dapat dikesampingkan begitu saja.

Gajah uling memang bentuk dasar batik Banyuwangi. Pada kain batik produksi kota ini, selalu ada gambar gajah uling. Dari asal katanya, kata itu merupakan gabungan kata dari gajah, dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut).

Ciri itu berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk uling. Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa).

“Itu konsep dasar gajah uling. Kalau ada batik dengan unsur-unsur itu, dan latar belakangnya putih, berarti itu batik khas Banyuwangi,” kata Pemimpin Kelompok Pengrajin Batik “Sayu Wiwit”, Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi, Soedjojo Dulhadji.

Dari arti katanya, gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti mahabesar. Sedangkan uling berarti eling, atau ingat. “Jadi, berdasar telaahan saya pribadi, gajah uling ini mengajak kita untuk selalu ingat kepada yang mahabesar, kepada Tuhan,” katanya.

Toh, sampai sekarang belum ada kesepakatan final mengenai dasar filosofi gajah uling. Sehingga, masing-masing pengusaha batik memilikikeyakinan sendiri-sendiri tentang keberadaan trade mark batik Banyuwangi ini.

Soedjojo, bisa dikelompokkan sebagai penganut aliran konvensional yang masih setia pada pakem gajah uling. Tak heran, kain batik produksiSayu Wiwit, selain menampakkan wajah gajah uling dengan kentara, juga banyak yang berlatar belakang putih. Pasalnya, ia berpendapat batik khas Banyuwangi memang seharusnya berwarna dasar putih.

Mempekerjakan 25-30 tenaga kerja, Sayu Wiwit selama ini melayani pasaran batik di Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Pasar andalannya, baju seragam siswa dan karyawan di lingkungan Banyuwangi, yang digerakkan atas rekomendasi Bupati Banyuwangi.

***
Lain halnya dengan Suyadi, pemilik Sanggar Batik Virdes di Desa Simbar, Kecamatan Cluring. Bagi Suyadi, pakem gajah uling bisa dikembangkan konsepnya dengan sedemikian rupa, mengikuti selera pasar. “Prinsip saya, pembeli adalah bos. Sehingga bagaimana kata konsumen, saya akan ikuti. Yang penting bentuk gajah uling tidak ditinggalkan,
masih tetap ada,” jelasnya.

Tak heran, corak batik Virdes terlihat lebih dinamis, karena lebih berani mengacak pakem gajah uling. Akibatnya, wajah trade mark khas Banyuwangi itu terselip di antara keramaian warna dan gambar lainnya.

Suyadi tak terlalu pusing dengan omzet produksi batik yang banyak dari segi kuantitatif. Untuk setiap corak baru yang dibuatnya-misalnya corak baru batik sutra-ia hanya membuat sepanjang enam meter saja, sebagai sampel.

Sampel itu kemudian dipajang di galeri mininya di Desa Simbar, atau dipamerkan di stan-stan pameran. Biasanya, tak lama setelah motif baru itu dipasarkan, sudah ada pembeli yang memesan, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, misalnya mencapai 100 lebih.

“Sesudah ada pesanan dari konsumen itulah, saya memproduksi batik motif itu sesuai jumlah yang dipesan,” katanya. Dengan corak baru yang sering berganti dan jenis kain yang juga disesuaikan keinginan pembeli, ia berani mematok harga tinggi untuk batik produksinya.

Harga batik tulis dan batik cap di Virdes, berkisar antara Rp 14.000 per meter, sampai Rp 1 juta per meter. Harga itu bisa dinilai wajar, karena konsumen langganan batik Virdes adalah kalangan pejabat, pengusaha, dan pelanggan mancanegara.

Sejumlah pasar yang telah dirambahnya, antara lain Palembang, Jambi, sejumlah kota di Kalimantan, dan hampir semua kota di Jawa Timur. Selain itu, Suyadi juga sering memasok batik gajah uling ke Italia, Perancis, Inggris, dan Australia.

Sumber :
http://vindisweet.blogspot.com
http://kangirwan.wordpress.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Rumah Adat Karo


Oleh : Eddy Suranta Sembiring

Mengenal sejenak Rumah Adat
Karo Suku Karo mendiami daerah bagian utara Propinsi Sumatera Utara, terutama di daerah tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, dan sebagian Dairi. Sebagian besar orang Karo masih hidup di desa-desa yang disebut kuta. Kuta merupakan kesatuan territorial yang dihuni oleh penduduk dari beberapa merga (klen) yang berbeda. Dalam kuta terdapat dua atau lebih deretan rumah adat. Namun, sekarang tidak semua kuta memiliki rumah adat. Di beberapa tempat kita masih dapat menemukan rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun diantaranya di desa Lingga, Dokan dan Peceren. Rumah Adat Karo terkenal karena keunikan teknik bangunan dan nilai sosial-budayanya. Rumah adat Karo memiliki konstruksi yang tidak memerlukan penyambungan. Semua komponen bangunan seperti tiang, balik, kolom, pemikul lantai, konsol, dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa dilakukan penyerutan ataupun pengolahan. Pertemuan antarkomponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular. Bagian bawah, yaitu kaki rumah, bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalaman setengah meter, dialasi beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi. Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring dan beratap ijuk. Letaknya memanjang 10-20 meter dari timur ke barat dengan pintu di kedua jurusan mata angin itu. Posisi bangunan Rumah Adat Karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa. Pada serambi muka terdapat semacam teras dari bambu yang disusun yang disebut ture.

Nilai Kepercayaan dalam Pembangunan Rumah Adat Karo
Sebelum membangun rumah, orang Karo mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah mengenai besar, tempat, dan hal-hal lain. Waktu membersihkan dan meratakan tanah ditentukan oleh guru (dukun) untuk mendapatkan hari yang baik. Ketika akan mengambil kayu ke hutan mereka kembali menanyakan hari yang baik untuk menebang pohon kepada guru. Sebelum menebang kayu guru akan memberi persembahan kepada penjaga hutan agar jangan murka terhadap mereka karena kayu itu dipakai untuk membangun rumah. Dalam proses pembangunan mulai dari peletakan alas rumah selalu ada ritual yang dibuat agar pembangunan rumah tersebut diberkati oleh yang maha kuasa dan agar tidak tejadi hal-hal yang buruk. Setelah rumah selesai dibangun masih ada ritual yang diadakan. Guru dan beberapa sanak keluarga yang membangun rumah akan tidur di rumah baru itu sebelum rumah itu ditempati. Mereka akan memimpikan apakah rumah tersebut baik untuk dihuni atau tidak. Waktu memasuki rumah baru biasanya diadakan kerja mengket rumah mbaru (pesta memasuki rumah baru). Pesta ini menunjukkan rasa syukur atas rumah baru tersebut kepada saudara-saudara dan kepada yang maha kuasa. Dalam pesta ini ada acara makan bersama dengan para kerabat, kenalan, dan orang-orang sekampung. Lalu, acara dilanjutkan dengan acara ngerana (memberi kata sambutan dan petuah-petuah) oleh pihak-pihak yang berkompeten seperti: Kalimbubu, Anak beru, dan Senina. Dalam pesta ini juga biasanya ada acara tepung tawar untuk rumah baru. Guru akan menepungtawari bagian-bagian tertentu dari rumah. Tujuannya ialah agar segala yang jahat keluar dari rumah dan yang baik tinggal dalam rumah untuk membuat para penghuni rumah bisa bahagia menempati rumah tersebut. Acara lain yang kadang dibuat adalah gendang. Gendang ini bertujuan untuk mengusir hal-hal jahat yang masih tinggal di dalam rumah tersebut. gendang tersebut juga menunjukkan rasa gembira dan syukur bersama warga sedesa.

Nilai Kepercayaan dalam Bentuk Bangunan Rumah Adat Karo
Struktur bangunan rumah adat Karo terbagi atas tiga bagian, yaitu atap sebagai dunia atas, badan rumah sebagai dunia tengah, dan kaki sebagai dunia bawah, yang dalam bahasa Karo disebut Dibata Atas, Dibata Tengah, dan Dibata Teruh (Allah Atas, Allah Tengah, dan Allah Bawah). Pembagian anatomi rumah adat Karo menggambarkan: dunia atas tempat yang disucikan, dunia tengah tempat keduniawian, dan dunia bawah tempat kejahatan sehingga layak untuk tempat binatang piaraan, yang dalam kepercayaan suku Karo dikuasai oleh Tuhan Banua Koling. Penguasa yang jahat dipuja dan dihormati agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Dalam pembangunan rumah adat, hal yang terpenting adalah prosesnya yang sakral dibandingkan segi fisiknya. Hal ini tampak mulai dari penentuan tapak/lahan, pemilihan kayu di hutan, hari baik untuk pendirian rumah, pemasangan atap sampai memasuki rumah. Kesemuanya dilakukan melalui upacara-upacara ritual dengan kerbau sebagai korban. Upacara-upacara ini menunjukkan kepercayaan yang besar orang Karo akan kekuasaan yang melebihi kekuatan manusia.

Nilai Kebersamaan dari Rumah Adat Karo
Suatu rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan bahkan sampai enam belas keluarga batih (jabu), yang masih terikat hubungan kekerabatan secara patrilineal. Penempatan jabu di dalam rumah diatur menurut ketentuan adat. Inilah yang menjadi kekhasan rumah adat Karo bila dibandingkan dengan rumah adat lain. Jumlah anggota keluarga ini berkaitan dengan tungku masak di dalam rumah. Tiap tungku digunakan oleh dua keluaga sehingga dua keluarga biasanya memakan makanan yang sama. Ini juga menjadi keunikan yang menunjukkan kebersamaan dalam Rumah Adat Karo. Kegembiran atau kesusahan satu anggota keluarga menjadi kegembiran seluruh penghuni rumah adat. Dan lewat perayaan-perayaan hidup seperti membangun rumah, pesta tahunan, kerja di ladang, pernikahan, kelahiran anak, dan kematian tampaklah kebersamaan itu semakin hidup.

Sumber : http://deparita.multiply.com

Model Pariwisata Budaya Berbasis Tenun di Lombok


Abstrak
Hasil penelitian mengenai Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Indonesia: Studi Kasus Tenun Lombok menunjukkan bahwa tenun Lombok mempunyai potensi untuk diberdayakan sebagai basis pariwisata. Pemilihan topik didasarkan pada tren industri pariwisata abad XXI, yaitu cultural tourism, di mana tenun diyakini mampu mengambil peran di dalamnya. Acuan lainnya adalah kebijakan Pemerintah Daerah NTB yang menempatkan industri pariwisata dan kerajinan berskala ekspor sebagai prioritas bagi peningkatan potensi daerah. Ruang lingkup pariwisata dipilih karena pariwisata merupakan sektor industri yang bersifat quick yielding dan membuka peluang baru bagi industri pariwisata di Lombok yang selama ini hanya memfokuskan pada wisata alam bahari dan pegunungan..

Mengingat tenun adalah cultural hetitage, maka pendekatan yang digunakan dalam penelian ini adalah pendekatan Cultural Resources Management (CRM) dengan kerangka pikir bahwa aspek perlindungan dan pelestarian tenun ditujukan untuk pemberdayaannya secara ekonomi agar dapat memberikan manfaat masyarakat secara berkesinambungan. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan unit-unit analisis potensi wisata Lombok, tren pariwisata, sumber acuan hukum, serta prasarana dan sarana pariwisata.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang layak ditawarkan adalah Pariwisata Budaya Berbasis Tenun, karena di dalamnya mengandung konsep pelestarian, ekonomi, edukasi, dan berbasis masyarakat. Selanjutnya, potensi tenun yang telah dipetakan sebarannya dikorelasikan dengan objek-objek wisata yang telah diunggulkan oleh Pemerintah Daerah NTB sehingga menghasilkan kluster-kluster. Masing-masing kluster dikembangkan menjadi paket-paket wisata yang diorientasikan kepada permintaan pasar, hasilnya adalah paket-paket wisata berbasis destinasi dan berbasis program.

Meskipun tenun diyakini mampu meningkatkan pasar wisata Lombok, akan tetapi masih terdapat sejumlah kendala, yaitu bidang promosi, penguatan tenun, dan penciptaan masyarakat sadar wisata. Akar permasalahan dari ketiga kendala tersebut adalah kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok. Oleh karena itu, pada tahun ketiga, diusulkan penelitian yang memfokuskan pada topik kajian peningkatan kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok.

1. Pendahuluan
Hasil penelitian Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Lombok (Atmosudiro, dkk., 2003) menemukan bahwa tenun yang dijumpai di hampir semua desa di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Barat mempunyai potensi yang bernilai tinggi, baik dari segi material maupun nilai intrisiknya. Secara kolektif, tradisi dan kehidupan masyarakat Sasak mengkondisikan keberlanjutan tenun. Akan tetapi, ditemukan pula sejumlah permasalahan yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberlanjutannya, antara lain adalah bahwa tenun kurang diorientasikan ke arah profit. Padahal, penciptaannya sendiri memerlukan modal kerja yang tidak sedikit (Ibid.)

Gambaran lain yang diperoleh dari penelitian Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Lombok (Ibid.) adalah bahwa tenun merupakan asset potensial dalam menciptakan lapangan kerja. Tidak hanya itu, bahkan mempunyai peluang sebagai sumber pendapatan daerah hingga devisa negara. Kondisi tersebut dapat dicapai apabila tenun dimanfaatkan dan dikelola secara terarah dan terencana. Salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya budaya tenun Lombok yang kami pandang sejalan dengan potensi dan kondisinya adalah dengan menempatkannya sebagai bagian dalam industri pariwisata.

Pemilihan bentuk pemanfaatan ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa tren dalam industri pariwisata abad XXI adalah cultural tourism (Butler, 1997. Fletcher, 1997), di mana tenun diyakini mampu mengambil peran di dalamnya. Hal yang tidak kalah pentingnya, yang juga kami jadikan sumber acuan adalah kebijakan pemerintah daerah yang menempatkan skala prioritas bagi peningkatan potensi daerah melalui sektor pariwisata dan industri kerajikan berskala ekspor (Depdikbud, 1992: 5. lihat juga Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi NTB 2000-2015).

Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemanfaatan tenun yang merupakan cultural heritage agar supaya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat pendukungnya, sehingga dapat memberikan solusi bagi ancaman kepunahannya. Secara spesifik, tujuan penelitian ini diselaraskan pula dengan kebijakan regional Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, yang mencanangkan target pengembangan kerajinan berorientasi ekspor (Depdikbud, 1992: 5). Untuk itulah dunia pariwisata dipandang sebagai wahana strategis untuk menampilkan potensi tenun secara maksimal untuk memenuhi berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan peningkatan sektor ekonomi di tingkat individu sampai dengan negara hingga kepentingan proteksi dan konservasinya.

Mengingat tenun adalah cultural hetitage yang merupakan unrenwable sources (Saraswati, 1998), maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan cultural resource management. Hal ini berarti bahwa perlindungan (protection) dan pelestarian (conservation) tenun tradisional diutamakan untuk tujuan memberdayakan masyarakat pendukungnya (Hutter dan Rizzo, 1997). Mengingat penelitian ini bersifat problem-solving.

Model penalaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah penalar induktif (Tanudirjo, 1988), sehingga generalisasi empiris yang dihasilkan dapat pula diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan serupa di daerah lain. Karena menggunakan penalaran induktif, maka rumusan hipoteses tidak diperlukan. Teori¬teori baik yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya budaya maupun pariwisata mempunyai kedudukan sebagai pengarah penelitian dan supporting argument. Analisis yang dilakukan adalah analisis yang bersifat kualitatif, terhadap unit-unit analisis (Kusmayadi dan Sugiarto, 2000: 73), yang terdiri atas :

a. Potensi wisata di Lombok, meliputi:
• Basis Wisata yang sudah ada di Lombok
• Aspek budaya yang terkait dengan tenun
• Kualitas SDM
• Sarana dan prasarana wisata
b. Trend pariwisata pada kultur dan kurun waktu tertentu dalam skala regional NTB
c. Perilaku Wisatawan yang menentukan
d. Peranan unit kelembagaan yang berkaitan dengan dunia kepariwisataan dan aspek perilaku kolektif terhadap tenun Lombok
e. Aspek promosi tenun

Pembahasan
Kondisi eksisting pariwisata yang menonjol di kawasan Nusa Tenggara Barat adalah potensi wisata alam, yang didudukkan sebagai ‘cabang kecil‘ dalam bisnis wisata Bali. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa Lombok tampaknya dipersepsikan dengan konsep komoditas yang dibangun dengan pikiran pragmatik. Dalam hal ini, tampak bahwa Lombok hanya dilihat secara fisik sebagai ‘objek‘ yang lepas dari ikatan tradisi dan kulturalnya. Konsep ini seolah-olah didasarkan pada rasionalitas yang pragmatik sebab potensi kasat mata, yakni kekayaan alam yang mempesona, dijadikan satu-satunya potensi yang dapat dikelola dan dijadikan aset perdagangan, dalam hal ini kepariwisataan.

Walaupun diakui bahwa pantai masih menjadi objek wisata yang terpenting (Soekadijo, 2000: 7), akan tetapi munculnya tren baru dalam industri pariwisata abad XXI yang berkiblat pada cultural tourism (Butler, 1997; Fletcher, 1997) memberikan peluang baru baik bagi negara maupun pemerintah daerah yang menitikberatkan pendapatannya pada industri pariwisata.

Apabila akan dibangun sebuah konsep pariwisata berbasis budaya, tampaknya perlu mempertimbangkan visi dan misi pariwisata daerah NTB, visinya adalah Kepulauan Sejuta Pesona. Sementara itu, misinya adalah: (a) mengembangkan pariwisata yang berbasis alam tanpa merusaknya; (b) mengangkat budaya setempat sebagai pendukung wisata alam; (c) mengembangkan pariwisata terpadu antara alam dan budaya; (d) membuat paket-paket wisata untuk memperkenalkan seluruh potensi yang ada; dan (e) pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kepariwisataan.

Tenun Lombok adalah salah satu pesona budaya yang diyakini dapat mewakili visi tersebut. Sementara tenun sebagai cultural attractions beserta segala aspek budaya yang menyertainya (social attractions) adalah atraksi wisata yang diyakini mampu membangkitkan motivasi wisatawan untuk memperpanjang lama tinggalnya di Lombok, karena menurut De Cuellar (1996: 56) motivasi utama wisatawan adalah mendapatkan pengetahuan serta perkayaan pengalaman melalui budaya, adat istiadat, dan keseharian masyarakat lain.

Mengingat tenun dan budaya yang melatarbelakangi adalah cultural hetitage yang bersifat unrenwable sources, maka penempatan sebagai basis pariwisata budaya tidak semata-mata dirancang untuk meningkatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga yang berwawasan perlindungan dan pelestarian, yang bersifat dinamis dengan memberikan ruang bagi budaya untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, kami sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Geertz (1997: 19) bahwa budaya tidak dapat dimandegkan dan secara konstan selalu berkembang, dibangun, serta diciptakan kembali untuk menjawab tantangan zaman dan perkembangan kebutuhan. Bahwa tenun tradisional Lombok pun diprediksikan mengalami perkembangan dan penciptaan kembali untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan zaman.

Selain mempertimbangkan faktor ekonomi dan konservasi, pariwisata budaya berbasis tenun juga mengandung konsep pariwisata berbasis rakyat. Persyaratan ini kami masukkan ke dalam model pengembangan pariwisata budaya berbasis tenun tersebut karena tenun merupakan kerajinan rakyat, sehingga keberadaan dan keberlanjutannya tidak dapat dilepaskan dari peran aktif masyarakat sebagai pemilik tenun dan budaya yang melatarbelakanginya. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa pariwisata berbasis masyarakat mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan event-event pariwisata berskala kecil yang dapat dikelola sendiri oleh kelompok-kelompok masyarakat, termasuk pengusaha lokal. Karena dikelola sendiri, maka masyarakat dapat terlibat langsung di dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk menentukan mana yang boleh untuk konsumsi touris dan mana yang tidak boleh. adalah keputusan kelompok yang memiliki budaya tersebut.

Apabila kondisi semacam itu dapat dipertahankan, maka kegiatan pariwisata dapat menekan dampak sosial dan kultural yang ditimbulkan, sehingga ke depannya dapat diterima masyarakat. Karena diterima masyarakat, maka pariwisata berbasismasyarakat mempunyai peluang berumur panjang, dan menjadi sustainable tourism (Fandeli, 2000:27).

Dalam industri pariwisata, terdapat sejumlah variabel, yaitu konsumen, produsen, demand, dan suply (Sukadijo, 2000: 28), yang hubungan relasionalnya dapat dilihat pada diagram alir berikut ini.



Melalui diagram tersebut dapat dijelaskan bahwa konsumen adalah wisatawan, produsen adalah para pelaku pariwisata yang menghasilkan produk dan jasa wisata, demand adalah kebutuhan wisatawan yang harus dipenuhi, sedangkan suply adalah kemampunyai memenuhi permintaan konsumen.

Permintaan konsumen dapat diidentifikasikan berdasarkan motivasi wisata. Secara garis besar wisatawan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu wisatawan yang orientasinya pada destinasi dan wisatawan yang orientasinya pada program. Oleh karena itu, paket wisata yang ditawarkan pun kami sesuaikan dengan segmentasi konsumen tersebut, yaitu paket wisata yang bersifat mass tourism bagi wisatawan yang mengutamakan destinasi dan paket wisata yang special interest tourism bagi wisatawan yang mengutamakan program.

Untuk membuat paket-paket wisata, terlebih dahulu dilakukan ploting sentra tenun pada peta wisata dengan objek yang sudah diunggulkan (lihat Lampiran Peta 1), dilakukan untuk mengetahui sebaran tenun serta asosiasinya dengan objek-objek unggulan tersebut. Dari peta sebaran tersebut, dibuat kluster yang berpatokan pada wisata unggulan yang sudah ada (lihat Lampiran Peta 2), yang terdiri atas: (a) Kluster I : Senggigi; (b) Kluster II: Rinjani; (c) Kluster III: Otak Kokok; (d) Kluster IV: Kuta-Sade-Sukarara; dan (e) Kluster V: Lembar-Gili-gili. Di antara kelima kluster yang dihasilkan, hanya Kluster V yang tidak memiliki komponen desa tenun.

Pada paket wisata yang bersifat masal, keberadaan tenun, baik tenun itu sendiri maupun desa serta sentra tenun menjadi destinasi dari sejumlah paket yang telah dirancang. Penawaran paket-paket wisata sebagaimana ditawarkan melalui internet (lihat Atmosudiro, 2005: 85-86 dan 80) adalah contoh paket yang diperuntukkan bagi konsumen mass tourism. Dalam paket-paket tersebut tampak bahwa Sukarara dan Sade sebagai desa-desa penghasil tenun ditempatkan sebagai destinasi. Demikian juga Pasar Sweta, yang selain merupakan pasar tradisional juga merupakan pasar kerajinan dimana tenun Lombok dapat dibeli, juga hanya didudukkan sebagai destinasi. Diagram alir berikut ini memberikan gambaran tentang kedudukan tenun dalam mass tourism.



Diagram di atas menggambarkan bahwa wisatawan yang datang di kota kedatangan (Mataram, Lembar, atau Labuanhaji) pada umumnya mempunyai destinasi utama objek wisata unggulan, yaitu objek wisata alam (bahari dan gunung) serta objek wisata situs-situs kuna, kemudia baru menuju destinasi tenun, sehingga tenun hanya menjadi objek sampiran. Bandingkan dengan diagram alir berikut ini:



Diagram alir di atas menggambarkan satu paket mass tourism yang dikembangkan dari kluster I—Senggigi. Dalam model tersebut tenun masih ditempatkan sebagai destinasi, akan tetapi dijadikan destinasi utama. Dalam kasus yang digambarkan oleh dua diagram alir di atas, wisatawan disuguhi atraksi orang menenun dan tenun sebagai souvenir. Akan tetapi, tenun sebagai souvenir mempunyai kelemahan, antara lain adalah harga yang mahal, sehingga tidak setiap wisatawan mampu membeli tenun. Akibatnya, tenun dan penenun hanya menjadi ‘tontonan‘. Para Penenun kurang, bahkan tidak, mendapat manfaat dari kegiatan pariwisata tersebut.

Selain basis destinasi, dikembangkan pula paket wisata berbasis program, yang ditujukan bagi wisatawan yang mempunyai minat khusus. Karena wisatawan tipe ini pada umumnya well educated (Fletcher, 1997: 136), maka program yang ditawarkan dirancang agar wisatawan dapat memperoleh pengalaman dan pemahaman yang mendalam tentang tenun dan berbagai aspek budaya yang melatarinya, termasuk berinteraksi secara aktif dengan masyarakat pendukungnya. Berikut ini adalah spesimen program untuk special interest tourism yang dikembangkan dari kluster IV--Sukarara-Sade-Kuta.


Aktivitas menenun yang dapat ditawarkan kepada wisatawan





Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata: menjelaskan jenis tenun dan cara memakai pakaian adat Sebagai basis pariwisata, tenun perlu mendapat penguatan agar supaya kegiatan pariwisata yang melibatkan tenun tidak mengorbankan tenun itu sendiri. Penguatan yang pertama adalah dilakukan identifikasi produk tenun berserta konteksnya, sehingga dapat ditentukan tenun manakah yang seharusnya dikonservasi dan tenun yang manakah yang dapat adaptasi untuk kepentingan tenun pengembangan, termasuk untuk produk-produk turistik. Keputusan mengenai hal tersebut dipegang sepenuhnya oleh masyarakat pemilik tenun tersebut.

Penguatan yang kedua adalah penguatan terhadap budaya pendukung. Sebagaimana disebutkan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Atmosudiro, dkk. (2003), bahwa potensi tenun sebagai objek wisata tidak hanya terletak pada nilai produknya, akan tetapi juga pada nilai intrisik yang terkandung di dalamnya, yang berkenaan dengan berbagai aspek budaya dari masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, diperlukan penggalian terhadap budaya pendukung, baik dalam konteks budaya lama maupun dalam konteks baru.

Mengingat tenun Lombok sebenarnya belum dikenal banyak oleh masyarakat di luar Pulau Lombok, maka strategi penguatan yang berikutnya adalah promosi. Promosi dapat dilakukan secara formal melalui media-media advertensi atau dilakukan secara informal, dengan melibatkan sebanyak mungkin produk tenun ke dalam kegiatan pariwisata maupun even-even lainnya. Demikian juga penggunanaan tenun atau motif tenun untuk produk lain baik yang brsifat turistik maupun untuk kepentingan non-turistik, misalnya sampul publikasi, kartu undangan, seminar kit, bahkan diperlukan memperbanyak publikasi tenun Lombok, agar supaya masyarakat dapat ,mengenali, memahami, dan mengapresiasinya.


Contoh promosi tenun dengan memanfaatkannya sebagai seminar kit. Tenun yang digunakan untuk produk seperti ini adalah tenun produk pengembangan

Menarik untuk disimak adalah penciptaan idola atau patron yang bersedia mengenakan tenun Lombok untuk dijadikan panutan bagi masyarakat. Kasus serupa pernah dilakukan, misalnya oleh desainer Adjie Notonegoro, yang menggunakan patron Presiden Abdulrahman Wahid untuk mengangkat batik Yogya yang hampir punah, sehingga batik tersebut bangkit lagi dan dikenal di seluruh Indonesia sebagai ‘batik Gus Dur‘. Ratu Sirikit dari Kerajaan Thailand juga melakukan hal serupa untuk mengangkat sutera tradisional Thailand sehingga tekstil tersebut pun dikenal sebagai ‘sutera Sirikit‘.

Hal yang dipandang mempunyai urgensi tinggi untuk memberikan penguatan terhadap tenun yang digunakan sebagai basis pariwisata adalah panduan wisata yang menyertai program-program pariwisata budaya berbasis tenun, mengingat pemahaman masyarakat, termasuk pemandu wisata, terhadap jenis, fungsi , dan makna motif-motif pada tenun Lombok, rata-rata kurang memadai. Oleh karena itu, penelitian ini pun menghasilkan spesimen Modul Wisata Budaya Tenun Lombok (lihat suplemen terpisah). Di dalam modul tersebut diungkapkan pula budaya yang terkait dengan tenun, mulai dari upacara ritual, even-even tradisi, hingga mitos yang ada. Oleh karena itu, modul tersebut juga berguna untuk meningkatkan kemampuan pemandu wisata, terlebih apabila dilengkapi dengan Katalog Ragam Tenun Lombok yang dihasilkan dari penelitian mengenai Potensi dan Peluang Pengembangan Tenun Tradisional Indonesia: Studi Kasus Tenun Lombok yang dihasilkan oleh Atmosudiro, dkk. (2003).



Modul pendamping untuk paket wisata yang dihasilkan oleh Atmosudiro, dkk. (2004)
Dalam kegiatan pariwisata, masyarakat di daerah tujuan wisata seringkali dijadikan bagian dari atraksi wisata, terlebih lagi apabila atraksi wisata yang dicari oleh wisatawan adalah cultural dan social attractions. Akan tetapi, sangatlah tidak etis apabila dalam hal ini masyarakat di daerah tujuan wisata dipandang sebagai objek yang dinikmati oleh wisatawan (Sukadijo, 2000: 57). Sebaliknya, dengan mengacu kepada Bramwell dan Lane (1993), sebagaimana dikutip Go (1996: 115), bahwa pariwisata adalah hubungan yang langgeng antara sumberdaya turisme dengan sumberdaya manusia, diwujudkan dalam interaksi yang kompleks antara pengelola industri pariwisata, wisatawan, lingkungan, dan masyarakat sebagai tuan rumah. Dalam hal ini, masyarakat sadar wisata adalah masyarakat yang sadar atas hak dan kewajibannya dalam menjalankan kegiatan pariwisata, tidak hanya berkewajiban melayani wisatawan-- sebagaimana yang selama ini didengunkan oleh slogan sapta pesona, bahwa masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan—melainkan juga mempunyai kekuatan untuk keputusan mengenai hal¬hal apa yang menjadi bagian budayanya dapat dikonsumsi turis. Dengan demikian masyarakat dapat berperan aktif menjadi kontrol aktivitas pariwisata yang terjadi, termasuk menciptakan program-program paket wisata beserta sarana pendukungnya.

Kesimpulan
Penelitian “Pengembangan Pariwisata Budaya Berbasis Tenun di Lombok” ini merupakan upaya yang kami rekomendasikan untuk memberdayakan tenun sebagai basis pariwisata budaya di Lombok. Mengingat tenun adalah cultural heritage yang merupakan unrenwable sources, maka pariwisata yang dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan ekonomi, akan tetapi ditujukan pula untuk meminimalkan dampak negatif kegiatan parowosata terhadap lingkungan dan sosial-budaya masyarakat pendukungnya. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, maka strategi pemanfaatan tenun sebagai komponen kegiatan pariwisata yang kami tawarkan adalah yang berwawasan ekonomi, edukasi, perlindungan dan pelestarian dalam arti luas, serta berbasis masyarakat. Selain itu, pariwisata budaya berbasis tenun ini pun membuka peluang baru untuk memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata di Lombok yang selama ini hanya menitik beratkan kepada potensi alamnya, khususnya yang berupa pantai dan gunung.
Untuk mengembangkan pariwisata budaya berbasis tenun, diperlukan penyusunan program yang melibatkan tenun dalam setiap kegiatan pariwisata, baik yang bersiafat massal maupun wisata minat khusus, dilakukan dengan cara memplotkan desa/sentra tenun ke dalam peta wisata Lombok. Malalui ploting tersebut diketahui sebarannya seingga dapat dibuat kluster-kluster wisata. Dari kluster-kluster tersebutlah dikembangkan paket-paket wisata yang disertai dengan modul pendukung. Modul yang dimaksud sekaligus berfungsi sebagai acuan untuk meningkatkan kemampuan pemandu wisata.

Meskipun tenun diyakini mampu memberikan nilai tambah, guna meningkatkan pangsa pasar wisata Lombok, akan tetapi masih diperlukan sejumlah penguatan di bidang: (a) promosi yang sampai saat ini promosi tenun Lombok dirasa masih sangat lemah; (b) penciptaan produk turistik, yang hingga saat inipun produk turistik tenun masih kurang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya; (c) peningkatan kualitas pemandu wisata; dan (d) penciptaan masyarakat sadar wisata.

Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan pariwisata di Lombok, tampak bahwa masih terdapat perhatian yang tidak seimbang antara potensi wisata alam dan budaya. Oleh karena itu, agar supaya aspek budaya Lombok mampu meningkatkankualitas pariwisata Lombok, kami merekomendasikan untuk meningkatkan hal-hal sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan penggalian budaya Lombok, termasuk budaya-budaya yang terkait dengan tenun, dan didokumentasikan dalam bentuk publikasi sehingga mudah diakses publik.

2. Perlu secara terus menerus dilakukan sosialisasi budaya Lombok dengan baik dan benar, agar supaya masyarakat dapat mengapresiasinya

3. Selayaknya dilakukan diklat dan pendampingan mengenai berbagai komponen pariwisata, yaitu: penciptaan produk-produk turistik, kemampuan pemandu wisata, dan penciptaan masyarakat sadar wisata

4. Secara spesifik diperlukan penggalian dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap tenun Lombok, karena kepedulian masyarakat merupakan fondasi dari keberlanjutan tradisinya, baik untuk kepentingan tradisi maupun pariwisata.

Daftar Pustaka
Anonimus, 2000. Pokok-Pokok Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Atmosudiro, Sumijati, D.S. Nugrahani, Chr. Wisma Nugraha Rich., Sektiadi, 2003. ...

Buttler, Richar W., 1997. “The Destination Life Cycle: Implication for Heritage Site Managemen and Attractivity”. Dalam Wiendu Nuryanti (ed.), 1997. Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm 44-53.

Depdikbud, 1992. Pengrajin Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fandeli, Chafid dan Mukhlison, ed., 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Fletcher, John, 1997. “Heritage Tourism: Enhancing the Net Benefits of Tourism”. dlm Wiendu Nuryanti (ed.), Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm 134-46.

Geertz, Clifford, 1997. ”Cultural Tourism: Tradition, Identity and Heritage Construction”. dlm Wiendu Nuryanti (ed.), 1997. Tourism and Heritage Management. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, pp 14-24.

Hutter, Michael and Ilde Rizzo, 1997. Economic Perspectives on Cultural Heritage. New York: ST. Martin‘s Press, Inc.

Kusmayadi dan Endar Sugiarto, 2000. Metodologi Penelitian dalam Bidang Kepariwisataan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Saraswati, Baidyanath, 1998. The Use of Cultural Heritage as a Tool for Development. New Delhi: UNESCO Chair in the Field of Cultural Development bekerjasama dg Indira Gandhi National Centre for the Arts.

Soekadijo, 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai “Systemic Linkage ”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tanudirjo, Daud Aris, 1988. “Ragam Metoda Penelitian Arkeologi”, Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
__________
Sumijati Atmosudiro; DS. Nugrahani; Wisma Nugraha, Ch.R.; dan Sektiadi adalah Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan peneliti pada Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada

Sumber : arkeologi.ugm.ac.id - Merupakan bagian dari penelitian Hibah Bersaing XI/2, 2004.
Foto :
http://4.bp.blogspot.com
http://www.lomboksouvenir.com

Kain Tapis Adat Lampung


Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.Masyarakat lampung asli memiliki struktur adat yang tersendiri. Bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Secara umum dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu masyarakat adat Saibatin dan masyarakat adat Pepadun.Masyarakat Lampung berdasarkan ikatan kekerabatannya dapat dibagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil, yang lazimnya disebut Buay/Kebuayan.

Suku bangsa Lampung yang beradat Pepadun dapat digolongkan menjadi :

Abung Siwo Mego (abung sembilan marga) Tulang Bawang Mego Pak (tulang bawang empat marga) Pubian Telu Suku (pubian tiga suku) Buay Lima (way kanan)

Suku bangsa Lampung yang beradat Saibatin terdiri dari :

Peminggir Melinting (Meninting)/Rajabasa Peminggir Teluk Peminggir Semaka Peminggir Sekala Brak Komering

Berdasarkan pembagian penduduk yang serba mendua ini maka Lampung dikenal sebagai Propinsi Sang Bumi Ruwa Jurai yang dapat diartikan "Bumi Yang Dua Dalam Kesatuan."

Di daerah Lampung dikenal berbagai peralatan dan perlengkapan adat yang melambangkan status seseorang yang ditandai dengan pemilikan sebuah kain adat yaitu Kain Tapis Lampung.

Pengertian Tapis Lampung
Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; "Cucuk").

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Sejarah Kain Tapis Lampung
Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia.

Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan.

Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan jaman bahari sudah mulai berkembang sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 1700.

Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.

Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup. Diketahui suku Lampung yang umum memproduksi dan mengembangkan tenun Tapis adalah suku Lampung yang beradat Pepadun.

Jenis Tapis Lampung Menurut Asal dan Pemakaiannya Jenis Tapis Lampung Menurut Asalnya

Beberapa kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir :
Tapis Inuh Tapis Cucuk Andak Tapis Semaka Tapis Kuning Tapis Cukkil Tapis Jinggu
Tapis lampung dari Pubian Telu Suku :
Tapis Jung Sarat Tapis Balak Tapis Laut Linau Tapis Raja Medal Tapis Pucuk Rebung Tapis Cucuk Handak Tapis Tuho Tapis Sasap Tapis Lawok Silung Tapis Lawok Handak

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan :
Tapis Jung Sarat Tapis Balak Tapis Pucuk Rebung Tapis Halom/Gabo Tapis Kaca Tapis Kuning Tapis Lawok Halom Tapis Tuha Tapis Raja Medal Tapis Lawok Silung

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak:
Tapis Dewosano Tapis Limar Sekebar Tapis Ratu Tulang Bawang Tapis Bintang Perak Tapis Limar Tunggal Tapis Sasab Tapis Kilap Turki Tapis Jung Sarat Tapis Kaco Mato di Lem Tapis Kibang Tapis Cukkil Tapis Cucuk Sutero

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego :
Tapis Rajo Tunggal Tapis Lawet Andak Tapis Lawet Silung Tapis Lawet Linau Tapis Jung Sarat Tapis Raja Medal Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung Tapis Cucuk Andak Tapis Balak Tapis Pucuk Rebung Tapis Cucuk Semako Tapis Tuho Tapis Cucuk Agheng Tapis Gajah Mekhem Tapis Sasap Tapis Kuning Tapis Kaco Tapis Serdadu Baris

Jenis Tapis Lampung Menurut Pemakainnya :
Tapis Jung Sarat
Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, pengantin serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

Tapis Raja Tunggal
Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh gadis-gadis dalam menghadiri upacara adat.

Tapis Raja Medal
Dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti : mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.

Tapis Laut Andak
Dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sutan serta dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sutan.

Tapis Balak
Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

Tapis Silung
Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.

Tapis Laut Linau
Dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat. Dipakai juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran serta dikenakan pula oleh gadis penari (muli cangget).

Tapis Pucuk Rebung
Tapis ini dipakai oleh kelompok ibu-ibu/para isteri untuk menghadiri upacara adat.

Di daerah Menggala tapis ini disebut juga tapis balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Cucuk Andak
Dipakai oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat.

Di daerah Lampung Utara tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin pada upacara adat perkawinan.

Tapis Limar Sekebar
Tapis ini dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat serta dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin dalam upacara adat.

Tapis Cucuk Pinggir
Dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat dan dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin pada upacara perkawinan adat.

Tapis Tuho
Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta dipakai pula oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.

Tapis Agheng/Areng
Dipakai oleh kelompok isteri yang sudah mendapat gelar sutan (suaminya) pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari.

Tapis Inuh
Kain tapis ini umumnya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat.

Tapis Dewosano
Di daerah Menggala dan Kota Bumi, kain tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Kaca
Tapis ini dipakai oleh wanita-wanita dalam menghadiri upacara adat. Bisa juga dipakai oleh wanita pengiring pengantin pada upacara adat. Tapis ini di daerah Pardasuka Lampung Selatan dipakai oleh laki-laki pada saat upacara adat.

Tapis Bintang
Tapis Bintang ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat.
Tapis Bidak Cukkil
Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

Tapis Bintang Perak
Tapis ini dapat dipakai pada upacara-upacara adat dan berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara.

Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung Bahan Dasar Tapis Lampung
Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.

Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Bahan-bahan baku itu antara lain :
Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. Akar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis

Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut :
Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian alat-alat : Terikan (alat menggulung benang) Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) Belida (alat untuk merapatkan benang) Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) Guyun (alat untuk mengatur benang) Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) Amben (alat penahan punggung penenun) Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.

Sumber : http://adeintan.multiply.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa



Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik. Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan. Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu. Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik. Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona.

Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun. Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam. Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja. Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang. Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik
Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis.

Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.

Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal.

Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19.

Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris.

Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik.

Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.

Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.

Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas.

Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat.

Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia
Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan. Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan. Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari.

Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi. Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional.

Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung. Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara. Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!

Sumber : http://rdcjateng.com
Foto : http://www.epochtimes.co.id