Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan

Legenda situs Karangkamulyan



Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang Kerajaan Galuh (zaman sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati tibanya ajal, sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada Patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama (Dewi Naganingrum). Singkat cerita, dalam memerintah Raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi penerus resmi kerajaan Galuh yang adil dan bijaksana.

Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri, begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti ; pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.

Situs Karangkamulyan terletak di daerah berhawa sejuk dan telah dilengkapi dengan areal parkir yang luas dengan pohon-pohon besar. Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan dilewati adalah Pelinggih (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan Yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni tersebut terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran ). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati ajal tiba Sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama ( Dewi Naganingrum ). Singkat cerita, dalam memerintah raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi peenrus kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana.

Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr Tony Jubiantoro pada tahun 1997. Bahwasannya di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit.

Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah utara adalah jalan raya Ciamis-Banjar, sebelah selatan sungai Citanduy, sebelah barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk tanggul kuno, dan batas sebelah timur adalah sungai Cimuntur. Karena merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga, akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah.

Udara yang cukup sejuk terasa ketika kita memasuki gerbang utama situs ini. Tempat parkir yang luas dengan pohon-pohon besar disekitar semakin menambah sejuk Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan kita lewati adalah Pelinggih ( Pangcalikan ). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni ( tempat pemujaan ) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen ( kubur batu ). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Sahyang Bedil
Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.

Penyabungan Ayam
Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Lambang Peribadatan
Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Panyandaran
Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

Cikahuripan
Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Dipati Panaekan
Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://navigasi.net
Foto :http://i696.photobucket.com

Cagar Budaya Prasasti Astana Gede


Cagar Budaya Astana GedeTerletak di Desa/Kecamatan Kawali, kurang lebih 21 km arah utara kota Ciamis.

Di sini terdapat beberapa buah Batu Bertulis (Prasasti) yang merupakan cikap bakal bukti keberadaan kerajaan Sunda yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kencana.

Salah satu dari batu bertulis tersebut bertuliskan "Mahayunan Ayunan Kadatuan" yang dijadikan sebagai motto juang kabupaten Ciamis.

Selain batu-batu prasasti terdapat pula peninggalan lainnya berupa:

1. Seperangkat batu disolit, yakni batu tempat pelantikan raja yang disebut Palangka.
2. Batu telapak kaki dan tangan dengan garisBatu telapak kaki retak-retak menggambarkan kekuasaan dan penanggalan (kalender).
3. Tiga buah batu menhir:

a. Batu Panyandaan,
b. Batu Panyandangan,
c. Batu Pamuruyan (alat untuk bercermin).

Prasasti Astana Gede
Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti "utama" yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.

Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.

Isi teks Prasasti Kawali
* Alihaksara diplomatis

Teks di bagian muka:
1. nihan tapa kawa-
2. li nu sang hyang mulia tapa bha-
3. gya parĕbu raja wastu
4. mangadĕg di kuta ka-
5. wali nu mahayuna kadatuan
6. sura wisesa nu marigi sa-
7. kuliling dayĕh. nu najur sakala
8. desa aja manu panderi pakĕna
9. gawe ring hayu pakĕn hebel ja
10. ya dina buana

Teks di bagian tepi tebal:
1. hayua diponah-ponah
2. hayua dicawuh-cawuh
3. inya neker inya angger
4. inya ninycak inya rempag

Alihbahasa
Teks di bagian muka:
Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.

Teks di bagian tepi tebal:
Jangan dimusnahkan!
Jangan semena-mena!
Ia dihormati, ia tetap.
Ia menginjak, ia roboh.

Masa Penjajahan Belanda
Pada masa penjajahan Belanda, perhatian sangat besar ditujukan terhadap keberadaan dan kelestarian Nusa Gede. Sebagai bentuk penghargaan kepada Dr. Koorders, ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863, Nusa Gede berubah nama menjadi Pulau Koorders.

Bahkan, pada 21 Februari 1919 area Situ Lengkong dengan Nusa Gede atau Nusa Panjalu atau Nusalarang-nya dinyatakan sebagai kawasan cagar alam yang benar-benar dijaga kelestarian alam serta budaya yang ada di dalamnya.

Koorders pada zamannya, dikenal sebagai seseorang yang menaruh perhatian besar pada botani. Bersama perkumpulannya yang diketuai, dirinya memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Dibantu TH Valenton seorang ahli botani, pekerjaan mengumpulkan herbarium dan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.

Karen Koorders dan Valenton serta rekannya, akhirnya berhasil memberikan sumbangan yang tidak kecil pada dunia ilmu pengetahuan mengenai tumbuhan. Kemudian hasil penelitian tersebut dituangkan dalam bukunya, "Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java", sebuah buku tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.

Astana Gede Dijadikan Tempat Wisata
Sebagai kawasan cagar alam yang berada dalam pengawasan KPH Ciamis, Nusalarang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati berbagai jenis flora.

Saat memasuki kawasan, pengunjung sudah disambut pepohonan rotan (Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae), dan langkap (Arenga). Semakin masuk ke dalam, pengunjung akan melihat pepohonan besar kileho (Sauraula Sp), kihaji (Dysoxylum) dan kikondang (Ficus variegata).

Selain jenis flora, di kawasan Nusa Gede juga dapat ditemui berbagai jenis fauna, sebut saja antara lain tupai (Calosciurus nigrittatus), burung hantu (Otus scops), dan kalong (Pteropus vampyrus). Sementara Elang jambul putih hanya sesekali mendatangi Nusa Gede.

Belakangan menurut keterangan Wawan, salah seorang petugas Perhutani KPH Ciamis, populasi kalong di daerah itu bertambah dengan berdatangannya kawanan kalong dari Astana Gede Kawali.

Kawanan kalong yang bersarang di situs tersebut dikabarkan sudah lebih dulu hijrah ke Situ Lengkong, jauh sebelum terjadi bencana angin ribut melanda situs Astana Gede Kawali. Situs Astana Gede Kawali dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan situs Panjalu di Nusalarang.

Selain menikmati keindahan alam Situ Lengkong dan Nusa Gede, dan menyaksikan flora dan faunanya, wisatawan yang datang dapat mengunjungi pulau tempat makam leluhur masyarakat Panjalu yang menjadi perintis penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Nusa Gede atau Nusa Larangan merupakan pemakaman raja-raja Panjalu dan keturunannya sampai Bupati Panjalu terakhir, Dalem Tjakranegara III. Berdasarkan gambar dan buku klasiran desa tahun 1937, luas Situ Lengkong mencapai 69,98 hektare dan Nusa Gede hanya 9,25 hektare.

Pemilik keturunan terakhir Situ Lengkong, Demang Prajadinata, dikabarkan meninggal di Mekah. Namun, sebelum berangkat pada tahun 1908, beramanat agar Situ Lengkong dijadikan tanah hak kulah. Air dan ikannya dizariahkan, sedangkan pemeliharaannya diserahkan ke pemerintah desa.

Di kalangan warga adat Panjalu atau keturunanannya, Situ Lengkong berdasarkan kisah-kisah lisan yang beredar selama ini tidaklah dengan sendirinya terbentuk. Situ tersebut terbentuk sebagai bagian dari proses pengislaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari Prabu Sanghyang Tjakradewa.

Berdasarkan Babad Panjalu, Prabu Borosngora disebut sebagai buyut Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita, kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjalu. Dalam bahasa Sunda, berarti laki-laki.

Kerajaan Panjalu pernah kuat dan besar. Namun sayang, dalam perjalanan selanjutnya, kerajaan tersebut pernah masuk menjadi bagian Kesultanan Cirebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian digabung dengan Kabupaten Imbanagara dan Kawali sehingga menjadi Kabupaten Ciamis sekarang.

Upacara Nyangku
Selain merupakan objek wisata, sebagai bekas kerajaan, Panjalu sebenarnya masih memiliki daya tarik lainnya berupa upacara nyangku. Upacara itu setiap tahun diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud.

Nyangku yang berasal dari bahasa Arab yanko artinya sama dengan membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali dan barang pusaka lainnya seperti cis, keris, dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan.

Prosesi upacaranya dilanjutkan dengan membawa barang-barang pusaka tersebut ke Nusalarang, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan. Menjelang tengah hari, barang-barang pusaka itu disimpan kembali ke tempat asalnya.

Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang lebih luas. Dan sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara tersebut memiliki makna tersendiri yang bertujuan meningkatkan kebahagiaan lahir-batin keturunan Panjalu.(dd)

Sumber :
http://sis.smkn1-cms.sch.id
http://id.wikipedia.org
http://www.mail-archive.com

Batu Tulis Barukai


Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Bayongbong adalah terhadap sebuah prasasti di Kampung Barukai, desa Cigedug. Karena adanya prasasti tersebut Kampung Barukai sering juga disebut Kampung Batu Tulis. Bentang Alam (geomorfologis) wilayah ini merupakan pedataran tinggi bergelombang dengan ketinggian antara 1100 m sampai 1200 m di atas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terletak pada 70 20? 00? LS dan 1070 47? 50? BT. Daerah ini diapi oleh gunung Cikuray sebelah timur dan gunung Papandayan di sebelah barat.

Prasasti di kampung Bakurai berada pada sebidang kebun milik Bapak Mohamada Toha di pinggir jalan kampung. Areal berada pada suatu lereng. Disebelah barat pada jarak sekitar 100 m dari prasasti mengalir sungai Cikuray yang merupakan anak sungai Cimanuk. Areal situs merupakan ladang yang kurang terurus dan banyak ditumbuhi semak serta beberapa tanaman keras. Prasasti itu sendiri berada pada suatu cekungan sekitar 0,50 m merupakan hasil pengupasan yang dilakukan penduduk pada tahun 1927. hinggasekarang penduduk masih mengkeramatkan dan senantiasa membersihkan prasasti tersebut.

Hasil penelitian terhadap prasasti tersebut, dapat diketahui prasasti ditulis pada sebongkah batu beerbentuk persegi empat. Jenis batu ditulis pada sebongkah batu berbentuk persegi empat. Jenis batu yang dijadikan meddia merupakan batuan andesittik. Ukuran batu 130 cm x 170 cm. ketyebalan yang terukur 15 cm dari permukaan tanah. Permukaan batu yang ditulisi tidak rata. Teknik penulisan dengan sistem gores yang tidak begitu dalam. Jenis huruf yang dipakai adalah huruf Sunda Kuno.

Prasasti terdiri dari tiga baris dan berbunyi sebagai berikut :
1.bhagi bhagya
2.ka
3.nu ngaliwat (Hasan Djafar, 1991 : 16)

Pada permukaan yang ditulisi juga terdapat goresan-goresan tebal dan dalam yang terbagi dalam beberapa kotak. Di dekat prasati pada sisi barat terdapat lempengan batu yang permukaannya rata. Lempengan batu tersebut berukuran 85 cm x 70 cm, dengan ketebalan 7 cm. Sampai sekarang belum dapat diidentifiksikan kapan dan siapa yang membuat prasasti tersebut. Sulitnya karena tidak didukung oleh temuan-temuan artefak lain. Penduduk yang ti nggal didekat lokasi punbelum pernah menemukan artfak misalnya fragmen keramik atau gerabah.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Punden Berundak Pasir Lulumpang


Terletak di kampung cimareme, desa cimareme, kec. Banyuresmi. Punden berundak pasir lulumpangan termasuk penemuan yang masih baru. Punden ini baru mendapat perhatian setelah adanya laporan dari kepala seksi kebudayaan kandepdikbid kabupaten garut pada tahun 1994, dan pada tahun ini pula tim dari balai arkeologi bandung melakukan peninjauan ke lokasi. Pada tahun 1995 tim balai arkeologi bandung melakukan penelitian intensif. Berdassarkan hasil penelitian yang dilakukan tim tersebut menyebutkan bahwa pasir lulumpanag merupaka situs yang beebentuk punden dari masa megalitik (pra-sejarah). Selain bangunan punden berundak yang berjumlah dua terletak dalam satu kesatuan wilayah, selain itu juga ditemukan tiga buah batu lumpang.

Bangunanan punden berundak pasir lulumpangan memiliki teras 13 buah. Orientasi punden berundak ini kearah timur barat dengan undak teras seluruhnya berada di sebelah barat. Kemungkingan budaya tradisi megalitik pra-sejarah ini berlanjut hingga masa sejarah sampai menjelang islamisasi dan tidak mentupi terjadi dalam komunitas petani di daeah pedalaman.

Bangunan punden berundak sebagai budaya megalitik adalah suatu bangunan yang memanfaatkan sebuah bukit yang dibuat teras-teras dengan susunan batu-batu yang membantu trap-trap. Makna simbolis yang digunakan pada masa itu adalah dimana sebuah bukit merupakan replika dari sebuah tempat yang agung/tinggi dan merupakan sebuah tempat yang dekat dengan temapat arwah nenek moyang. Budaya ini terus berlanjut dan seiring denganperkembangan kepercayaan yang dianut, baik pada masa hindu, budaha< islambahkan sampai sekarang konsep tersebut oleh sebagian masyarakat masih dipercaya. Tradisi megalit ini masih dijumapi dibbrapa suku yang masih mempunyai corak kehidupan tradisional, seperti suku di nias, suku dani di irian jaya dan suku baduy di jawa barat. Dengan demikian budaya megalit tidak stagnasi tetapi terus berlanjut walaupun bukan dalam bentuk yang sama persis dengan budaya megalit pada masa lalu. Bangunan pundek berundan pasir lulumpangan sebagai suatu objek cultural heritage peninggalan periode pra-sejarah perlu dipelihara dan dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Keberadaan punden berundak situs pasir lulumpangan tidak terawat karena belum ada pemugaran dan juru pelihara yang memeliharanya.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Batu Pipisan dan Gandhik



Penelitian di Kecamatan Wanaraja yang dilakukan Tim Balai Arkeologi (Balar) Bandung ditujukan di sebuah temuan batu pipisan dan penggilingan (Jw. Gandhik). Kedua banda tersebut ditemukan di halaman rumh Bpk. Engkar bin Sugandi, Kampung Sindangsari RT 03/02, Desa Cinunuk. Lokasi penemuan merupakan suatu perkampungan padat penduduk. Secara geografis wilayah ini berada pada koordinat 70 10? 40? LS dan 1070 57? 53? BT. Bentang alam daerah tersebut merupakan pedataran vulkanik dengan ketinggian sekitar 700 m. di atas permukaan laut. Sungai yang ada adalah sungai cisangkan yang merupakan anak sungai Cimanuk yang mengalir di sebelah barat laut situs.

Batu piipisan dan batu penggilingan tersebut ditemukan Bpk. Engkar ketika menggali tanah untuk pondasi bangunan. Menurut keterangganya, ketika ditemukan nbatu pipisan dengan batu penggilingan terpisah pada jarak sekitar 50 Cm.

Kedua benda cagar budaya tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut. Permukaan batu pipisan sangat halus. Pada bagian depn berbentuk melengkung, sedangkan bagian belakang berbentuk datar. Penampang lintang berbentuk segi tiga. Pada bagian bawah terdapat dua buah kaki. Ukuran batu, panjang 31 cm, lebar 15 cm. tinggi keseluruhan 15 cm. tebal bagian atas 3 cm. tebal kaki bagian depan 3,5 cm. Sedangkan bagian belakang 5 cm. benda tersebut terbuat dari batu pasir kasar dan bersifat padu.

Batu penggilingan berbentuk silinder. Permukaanya juga sangat halus. Ukuran batu, panjang 16,5 cm. diameter 6 cm. bahan yang dipakai daribatu pasir arkose. Kedua benda tersebut sampai sekarang disimpan di Bapak Engkar. Batu pipsan dan penggilingan (gandhik) berfunsi untuk menghaluskan ramuan obat. Tanda adanya pemakaian terlihat dari permukaanya yang halus. Pada beberapa candi Jawa Tengah (misalnya ; Borobudur) terdapat relief yang menggambarkan orang meramu obat. Sampai sekarang batu pipisan dan gandhik, belum pernah ditemukan dalam satu konteks dengan tinggalan masa pra-sejarah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa benda arkeologis tersebut secara kronologis berasal dari masa klasik, mungkin dari jaman kerajaan Sunda Kuno.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Situs dan Aktivitas Arkeologis Bagi Pengembangan Wisata Minat Khusus

Oleh Lucas Partanda Koestoro

1. Pendahuluan
Salah satu upaya pengembangan kepariwisataan adalah dengan memanfaatkan potensi kepariwisataan. Adapun untuk menemukan potensi kepariwisataan di suatu daerah orang harus mengacu pada apa yang dicari oleh wisatawan. Umum diketahui bahwa modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yakni: alam, kebudayaan, dan manusia itu sendiri.

Keberadaan obyek arkeologis pada situs-situs yang cukup besar di Indonesia – yang menempati bentang lahan yang juga beragam, di tengah lingkungan masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya – serta aktivitas arkeologis yang menyangkut upaya penelitian dan pelestarian, harus juga dipandang sebagai potensi kepariwisataan yang harus diberdayakan bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan. Bentuk wisata yang didasari motivasi/maksud bepergian wisatawan berkenaan dengan obyek tersebut, salah satunya adalah wisata minat khusus.

Aktivitas lapangan dalam bidang arkeologi dapat menjadi salah satu atraksi wisata yang cukup potensial mendatangkan wisatawan minat khusus dari dalam dan luar negeri. Adapun yang menjadi permasalahan, penanganan sebuah situs memerlukan kehati-hatian yang cukup tinggi karena obyek arkeologi memiliki sifat tidak terperbaharui. Selain itu, dapat dikatakan belum atau tidak ada praktisi dunia kepariwisataan (di Indonesia khususnya) yang memanfaatkan peluang itu dalam mendatangkan dan meningkatkan kunjungan wisata.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka dalam kesempatan ini akan disampaikan beberapa hal yang pantas diketahui bagi pengenalan situs dan aktivitas lapangan arkeologis agar lebih populer dan kelak dapat menjadi salah satu upaya pemberdayaan obyek-obyeknya bagi aktivitas kepariwisataan, khususnya yang berhubungan dengan wisata minat khusus.

2. Arkeologi, Perburuan Masa Lalu
Sebelum berkembang sebagai cabang ilmu pengetahuan dengan metodologi dan sistematikanya, arkeologi yang dikenal sekarang tidak lebih dari kegiatan pengumpulan barang-barang antik dan berharga. Ketika itu orang berdatangan untuk mencari, menemukan, dan menggali kubur kuno, atau menyelam, dan menggerayangi bangkai perahu, bahkan membongkar piramid untuk memiliki dan mengumpulkan benda-benda berharga yang dikandungnya. Mereka juga beramai-ramai menelusuri dan menggali kota-kota yang hilang untuk memboyong harta karun yang terpendam di dalamnya.

Sejalan dengan aktivitas tersebut, orang juga memulai kegemaran memamerkan benda-benda antik, unik, dan menarik yang dimilikinya, yang diperolehnya dari kegiatan sebagaimana disebutkan di atas. Semua lebih ditekankan pada upaya menunjukkan kekayaan dan gengsi, yakni kehormatan dan pengaruh. Baru kemudian, lambat-laun, hal-hal tersebut mulai diarahkan. Koleksi yang ada mulai dipertanyakan asal-usulnya. Orang ingin pula mengetahui tentang masyarakat pembuat dan pemakai benda-benda tadi. Berkaitan dengan itu, lambat-laun koleksi tersebut mulai menyandang peran lain dalam tata kehidupan masyarakat (“papan atas” tentunya) dengan pemanfaatannya sebagai sarana penguak sejarah dan kebesaran masa lalu.

Begitu pula halnya dengan kegiatan “gali-menggali” yang sebelumnya dilakukan hanya untuk mendapatkan harta karun, mulai diikuti dengan kesadaran untuk memperhatikan juga hal atau benda lain yang terdapat di sekitar “harta karun” yang ingin diperoleh. Semua dilakukan untuk lebih mengenal asal-usulnya, dan ini dapat diartikan ingin mengetahui “sejarah”-nya.

Demikianlah awal dari apa yang sekarang dikenal sebagai arkeologi. Tidak dapat pula dibantah bahwa sejarah dari arkeologi sendiri memang merupakan sejarah dari ide-ide, metode-metode, dan penemuan-penemuan baru (Renfrew & Bahn,1991). Kita juga dapat merasakan bahwa yang berjalan beriringan dengan arkeologi adalah museologi. Ini menyangkut ilmu yang mewadahi segala ikhwal yang berkaitan dengan museum yang semula dianggap sebagai tempat penyimpanan benda-benda sejarah, benda-benda aneh dan indah. Koleksi yang semula hanya dilihat dari aspek keunikan dan keantikannya, mulai ditata dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia akan pengenalan sejarahnya, kebudayaannya.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa arkeologi (modern) itu berawal pada abad ke-19 dengan diterimanya tiga konsep kunci, yakni (a) the great antiquity of humanity (b), prinsip evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin, serta (c) three age system dalam pengklasifikasian material culture (menjadi obyek-obyek stone age, bronze age, dan iron age). Setelah berakhirnya PD II langkah perubahan dalam disiplin arkeologi berlangsung demikian cepat. Pendekatan ekologi dimanfaatkan pula untuk membantu mengerti adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Teknik-teknik baru dalam sains juga diterapkan untuk penentuan tarikh atau dating (Renfrew & Bahn,1991).

Pada prinsipnya dapat disebutkan bahwa arkeologi adalah ilmu yang secara sistematis dan terkendali mempelajari manusia dan kebudayaan masa lampau berdasarkan peninggalannya yang tersisa, tidak saja bagi kepentingan ilmu pengetahuan melainkan untuk kepentingan lain yang lebih luas. Berkenaan dengan itu maka masuk dalam kerja arkeologi adalah upaya penemuan (discovery), pencatatan (recording), preservasi (bila diperlukan), serta interpretasi atas jejak okupasi manusia dan lingkungan tempat kehidupannya di masa lalu.

Adapun menyangkut kehadirannya sebagai cabang ilmu pengetahuan, arkeologi bertujuan untuk (1) menggambarkan sejarah kebudayaan (2) merekonstruksi cara hidup manusia di masa lampau, serta (3) menjelaskan proses informasi budaya yang telah berlangsung. Sebagaimana yang telah dikemukakan Binford (1972), untuk memenuhi tujuan pertama harus berusaha mendapatkan, mengenali, dan memberikan beberapa bentuk sisa budaya fisik (artefak) yang ditemukan di berbagai situs (tempat yang mengandung atau diduga mengandung benda-benda arkeologis) dan yang masing-masing jelas memiliki tarikh berbeda. Hal ini menyebabkan dimensi-dimensi bentuk, waktu, dan ruang, merupakan aspek dari benda temuan yang harus selalu diperhatikan.

Kemudian untuk memenuhi tujuan kedua, yang harus diperhatikan adalah aspek fungsi dari sisa budaya fisik yang dijumpai. Caranya dengan menganalisis hubungan antar benda-benda arkeologi tadi, hubungan benda-benda itu dengan situsnya, hubungan antara situs-situs, serta hubungan situs-situs dengan lingkungan fisiknya. Selanjutnya, untuk mencapai tujuan yang ketiga, harus dipahami proses-proses budaya yang terjadi agar diperoleh kejelasan mengenai mengapa dan bagaimana kebudayaan masyarakat masa lalu itu mengalami perubahan.

Dalam implementasi di lapangan, penelitian arkeologi memerlukan berbagai tahapan yang mutlak harus diikuti. Tahapan itu dimulai dari proses pengumpulan data arkeologi melalui survei dan ekskavasi, pengolahan data lapangan, pelaporan, serta diakhiri dengan publikasi sebagai upaya sosialisasi hasil penelitian, baik untuk lingkup ilmiah maupun masyarakat pada umumnya.
Pada suatu aktivitas pengumpulan/penjaringan data, ekskavasi merupakan bagian penting dari sebuah aktivitas arkeologis – sekaligus menjadi trademark dari arkeologi itu sendiri. Ekskavasi sendiri adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui penggalian tanah yang dilakukan secara sistematis untuk menemukan suatu atau himpunan tinggalan arkeologi dalam situasi in situ. Masuk dalam tahapan kerjanya adalah pembuatan peta wilayah dan peta situs yang akan diteliti atau digali. Melalui ekskavasi diharapkan akan diperoleh keterangan mengenai bentuk temuan, hubungan antar temuan, hubungan stratigrafis, hubungan kronologis, tingkah laku manusia pendukungnya serta aktivitas, alam dan manusia setelah temuan terdepositkan. Kesalahan yang terjadi dalam ekskavasi akan menyebabkan salah interpretasi sehingga para pelaksana perlu memiliki pengetahuan teori, metode, dan teknik yang memadai.

Adapun dalam konteks preservasi dan konservasi, yakni upaya-upaya pengamanan, pengawetan, dan pelestarian obyek-obyek arkeologis, apalagi yang berukuran besar atau monumental, aktivitas arkeologis kerap melibatkan banyak orang dan memakan waktu yang panjang. Ini berkenaan dengan pemugaran candi, benteng, istana, mesjid-mesjid tua, dan sebagainya. Prinsip yang digunakan dalam kegiatan dimaksud adalah mengupayakan keaslian benda dan bentuk, serta membuatnya lebih tahan lama.

Di kawasan kepurbakalaan Padang Lawas, Tapanuli Selatan misalnya, upaya penelitian dan pemugaran kompleks benteng dan candi Sipamutung dilakukan secara bersamaan. Penggalian yang dilakukan untuk kepentingan pemugaran (oleh pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banda Aceh, yang sekarang disebut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh) sekaligus menjadi sarana penjaringan data bagi penelitian (oleh Balai Arkeologi Medan). Hal yang sama juga berlaku di situs Benteng Portugis Pulau Cingkuk, Sumatera Barat. Ekskavasi dalam kegiatan penelitian (Balai Arkeologi Medan) sekaligus menjadi sarana pengumpulan bahan bagi upaya-upaya pemugaran (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar).

3. Pariwisata, antara Motivasi, Atraksi, dan Pemberdayaan Masyarakat
Arti kata wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Adapun pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut.

Dalam pariwisata jelas diperlukan modal kepariwisataan (tourism assets), atau sering juga disebut sumber kepariwisataan (tourism resources). Suatu daerah atau tempat hanya dapat menjadi tujuan wisata – dimana wisatawan akan datang berkunjung – kalau kondisinya sedemikian rupa, sehingga ada yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata. Dengan kata lain, yang disebut modal atau sumber kepariwisataan adalah apa yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata.

Kita harus mampu mengenali modal kepariwisataan yang dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menahan wisatawan selama berhari-hari dan dapat berkali-kali dinikmati, bahkan pada kesempatan lain wisatawan mungkin akan kembali lagi ke tempat yang sama. Atraksi demikian itu dikenal sebagai atraksi penahan. Sebaliknya ada juga atraksi yang hanya dapat menarik kedatangan wisatawan. Inilah yang dikenal sebagai atraksi penangkap wisatawan, yang cenderung hanya sekali dinikmati, kemudian ditinggalkan lagi oleh wisatawan. Bila kita pandang Candi Prambanan di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai atraksi penangkap wisatawan, maka Pantai Parangtritis di sebelah selatan Yogyakarta dapat dikategorikan atraksi penahan wisatawan.

Dalam pembangunan pariwisata ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian. Atraksi wisata in situ, kalau pembangunannya berhasil akan menarik kedatangan wisatawan dalam jumlah besar namun harus diingat pula akan timbulnya berbagai dampak polusi pada lingkungannya yang jauh lebih besar dibanding bila atraksi itu disajikan ex situ. Hal ini sama dengan pembangunan atraksi penahan wisatawan, yang juga akan menimbulkan dampak yang jauh lebih besar daripada pembangunan atraksi penangkap wisatawan. Dampak dimaksud juga berkenaan dengan dampak yang bersifat ekonomis.

Pembangunan pariwisata jelas berhubungan dengan tipe wisatawan yang akan menjadi sasaran. Atraksi penahan terutama cocok untuk wisatawan rekreasi, sedang atraksi penangkap terutama seduai dengan minat wisatawan tamasya atau wisatawan budaya. Dengan kata lain penyesuaian pembangunan atraksi wisata dan motif wisata itu juga berkenaan dengan pilihan apakah modal wisata tertentu itu akan dikembangkan in situ atau ex situ, dikembangkan sebagai atraksi penangkap atau penahan wisatawan.

Pengembangan pariwisata di Indonesia jelas harus sejalan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan perekonomian yang berbasis kerakyatan. Sektor usaha skala kecil dan menengah yang pada umumnya merupakan usaha yang dikembangkan dan dikelola oleh masyarakat sendiri secara kuantitatif berkembang dan tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan bergerak di berbagai bidang ekonomi, termasuk di dalamnya usaha di bidang kebudayaan dan pariwisata, baik dalam bentuk usaha perjalanan, penginapan, rumah makan, usaha cinderamata dan sebagainya, Komposisi penduduk Indonesia yang sebagian besar terdiri dari masyarakat menengah ke bawah, akan menuntut perhatian dan langkah-langkah konkrit dalam memberdayakan potensi tersebut bagi kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

4. Pariwisata Minat Khusus dan Kawasan Pariwisata
Melihat Pasal 20 UU Nomor 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan akan kita ketahui bahwa: pengusahaan obyek dan daya tarik wisata minat khusus merupakan usaha pemanfaatan sumber daya alam dan potensi seni budaya bangsa untuk menimbulkan daya tarik dan minat khusus sebagai sasaran wisata. Selanjutnya dalam penjelasan UU dimaksud, disebutkan bahwa termasuk ke dalam kelompok pengusahaan obyek dan daya tarik wisata minat khusus adalah: pengelolaan lokasi-lokasi wisata buru, antara lain berburu babi hutan dan berburu rusa; pengelolaan wisata agro; pembangunan dan pengelolaan wisata tirta seperti hotel terapung dan olah raga air; pengelolaan lokasi-lokasi wisata petualangan alam seperti mendaki gunung dan arung jeram; pembangunan dan pengelolaan wisata gua; pembangunan dan pengelolaan wisata kesehatan seperti sumber air panas mineral dan tempat pembuatan jamu; pemanfaatan pusat-pusat dan tempat-tempat budaya (padepokan seni budaya), industri, dan kerajinan, seperti padepokan seni budaya/tari dan desa industri/kerajinan.

Kemudian juga dijelaskan bahwa pengusahaan obyek dan daya tarik wisata yang berintikan kegiatan yang memerlukan penanganan terhadap keselamatan wisatawan, kelestarian dan mutu lingkungan, atau ketertiban dan ketenteraman masyarakat diselenggarakan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya berkenanan dengan kawasan pariwisata, dalam Pasal 29 UU Nomor 9 Tahun 1990 dinyatakan bahwa: kawasan wisata adalah usaha yang kegiatannya membangun dan mengelola kawasan dengan luasan tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Di dalam usaha kawasan pariwisata dapat dibangun prasarana dan sarana pariwisata serta obyek dan daya tarik wisata.

Beranjak dari pengertian di atas maka dalam pembangunannya harus dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama adalah kemampuan untuk mendorong peningkatan perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya. Berikutnya yang tidak dapat diabaikan adalah nilai-nilai agama, adat istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Kemudian kelestarian budaya dan lingkungan hidup, kelangsungan pariwisata itu sendiri, tata ruang, serta rencana induk pembangunan pariwisata daerah. Begitupun, harus diperhatikan pula sediaan prasarana dalam lokasi kawasan seperti jalan, listrik, pos dan telekomunikasi; serta sediaan fasilitas untuk wisatawan dalam kawasan seperti akomodasi, dan obyek wisata yang menarik.

Erat hubungan dengan hal tersebut di atas, konsep dasar pengembangan kawasan pariwisata sendiri dapat dibagi menjadi dua bentuk, yakni kawasan pariwisata murni serta kawasan pariwisata terbuka. Bila kawasan pariwisata murni semata-mata digunakan untuk kepentingan pariwisata; maka kawasan pariwisata terbuka adalah kawasan pariwisata yang bobotnya diperuntukkan bagi pengembangan pariwisata, namun bagian lain dapat digunakan sebagai pemukiman, hutan industri, perkebunan, pertanian, industri dan lain-lain.

5. Situs, Obyek, dan Aktivitas Arkeologis bagi Pengembangan Usaha Wisata Minat Khusus
Bahasan tentang itu sengaja dikelompokkan dalam point-point (SWOT) di bawah ini, dengan tujuan untuk memudahkan penilaian yang diperlukan bagi penetapan kesimpulan yang akan ambil. Inti bahasan berkenaan dengan kemungkinan pemberdayaan situs, obyek dan aktivitas arkeologis bagi pengembangan wisata minat khusus.

a. Kekuatan
Unsur-unsur daya tarik yang melekat pada obyek arkeologis antara lain adalah: keaslian, keunikan/langka, nilai sejarah/arkeologis, keutuhan, variasi kegiatan/motivasi, luas kawasan, kenyamanan dsb. Ini jelas merupakan kekuatan yang tidak dapat diabaikan dan sebaliknya menjadi harus dikedepankan. Daya tarik obyek arkeologis sebetulnya menjangkau seluruh anggota masyarakat. Itu berkenaan antara lain dengan kekaguman akan kebesaran budaya masa lalu, keingintahuan akan aspek kehidupan masa lalu dan kaitannya dengan kondisi masa kini, serta pengenalan akan komponen-komponen pembentuk budaya yang telah menghasilkan ujud fisik kebudayaannya.

Beberapa kompleks kepurbakalaan di Nusantara jelas merupakan potensi kepariwisataan yang demikian besar. Kompleks percandian di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, kompleks percandian Muara Jambi, Jambi, atau Muara Takus, Riau, dan kompleks kepurbakalaan Padang Lawas di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara jelas memiliki modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan, yang meliputi tiga unsur, yakni: alam, kebudayaan, dan manusia itu sendiri. Modal kepariwisataan itu dapat dikembangkan menjadi atraksi di tempat dimana modal wisata itu ditemukan atau in situ. Di Padang Lawas misalnya, begitu banyak obyek arkeologis berupa sisa bangunan dan kelengkapannya pada areal yang demikian luas. Demikian pula dengan berbagai aktivitas arkeologis bagi kepentingan penelitian dan pemugaran/pelestarian. Sungai-sungai yang membelah kawasan itu sekaligus dapat menjadi pilihan bagi sarana transportasi. Itu masih ditambah dengan masyarakatnya sebagai bagian dari satuan etnis tertentu yang memiliki kebudayaan yang unik.

Modal kepariwisataan itu dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu menahan wisatawan selama berhari-hari dan dapat berkali-kali dinikmati, bahkan pada kesempatan lain wisatawan mungkin akan kembali lagi ke tempat yang sama. Banyak obyek arkeologis yang dapat dikemas sebagai atraksi penahan. Masih dengan contoh kompleks kepurbakalaan Padang Lawas, maka situs dan obyek arkeologis, aktivitas arkeologis, lingkungan alam, serta lingkungan budaya masyarakatnya jelas merupakan modal kepariwisataan yang besar, dan kelak dapat dimanfaatkan sebagai sebuah kawasan pariwisata (yang terbuka).

b. Kelemahan
Aktivitas arkeologi jelas memerlukan kehati-hatian. Hal ini disebabkan karena obyek arkeologis cukup langka dan terlebih lagi tidak terperbaharui. Ini jelas akan meninggikan nilainya. Sikap kehati-hatian – karena sifat yang dimilikinya – akan mempersempit keleluasaan wisatawan untuk bergerak. Tidak seperti wisatawan yang cenderung lebih bebas bila mengunjungi obyek wisata alam atau lainnya, wisatawan minat khusus yang berkunjung ke suatu situs jelas diminta untuk berhati-hati. Kerap yang dikunjungi adalah lokasi yang obyeknya terbentuk dari bahan yang rapuh, atau kondisi medannya yang masih dalam penanganan – baik itu yang berupa ekskavasi dalam kaitannya dengan penelitian, pra rekonstruksi, atau sedang dalam tahap pemugaran – sehingga pengunjung harus ekstra hati-hati. Demikian pula halnya dengan sementara situs yang masih dikeramatkan oleh masyarakat di sekitarnya, yang dalam hal ini tentu masih memberlakukan beberapa tata cara atau sikap tertentu kepada pengunjung.

Selain itu, menyangkut obyek arkeologis yang meliputi luasan yang cukup besar, tentu harus diperhatikan berbagai hal bila akan dikembangkan atau diusahakan menjadi obyek pariwisasta. Dalam hal ini tentu diperlukan adanya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Amdal merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting, suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup. Amdal diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan dan merupakan proses pengajian terpadu, yang mempertimbangkan aspek ekologi, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Guna Amdal adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan layak lingkungan. Lewat pengajian Amdal, sebuah rencana usaha atau kegiatan pembangunan, diharapkan telah secara optimal meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien.

c. Peluang
Dengan demikian banyaknya warisan budaya yang tersebar di berbagai tempat – yang kondisi rupa fisiknya juga beraneka ragam – Indonesia memiliki peluang yang cukup besar untuk memberdayakan situs, obyek dan aktivitas arkeologis sebagai atraksi wisata. Keingintahuan masyarakat akan peninggalan kepurbakalaan juga merupakan peluang besar bagi masyarakat untuk melakukan kunjungan ke berbagai obyek arkeologis dan ikut dalam kegiatan arkeologis yang berlangsung di sana.

Sebagai atraksi penahan wisata, khususnya bagi pelaku wisata minat khusus obyek arkelogis maupun aktivitas arkeologis yang menyertainya tetap dapat diupayakan untuk dapat menarik kedatangan wisatawan. Atraksi itu ialah atraksi penangkap wisatawan, yang cenderung hanya sekali dinikmati, kemudian ditinggalkan lagi oleh wisatawan. Contohnya adalah Candi Borobudur, Candi Prambanan, atau Istana Maimoon di Medan. Menarik juga untuk dikemukakan bahwa selain sebagai atraksi penangkap wisatawan, situs dan aktivitas arkeologis juga dapat berlaku sebagai atraksi penahan wisatawan. Ini bila berhubungan dengan situs-situs besar pada kawasan khas yang tidak saja secara geografis luas dan beragam bentuk, melainkan juga kondisi budaya masyarakat di sekitarnya yang unik. Contohnya adalah kawasan Padang Lawas di Sumatera Utara, atau Muara Jambi di Jambi.

d. Hambatan/Ancaman
Secara umum dapat disebutkan bahwa tidak ada ancaman untuk mengembangkan dan menekuni kegiatan-kegiatan arkeologis. Sebaliknya upaya peningkatan apresiasi masyarakat akan keberadaan obyek-obyek tadi akan memperkecil ancaman terhadap keberadaannya. Menjadikannya obyek arkeologis sebagai atraksi wisata adalah sekaligus langkah memperkenalkan yang diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat akan keberadaannya.

Dikaitkan dengan upaya penelitian dan pemugaran/pelestarian atas obyek-obyek arkeologis di berbagai kawasan, masalah dana memang merupakan kendala di lapangan. Apalagi bila dipandang dengan kacamata tertentu yang menunjukkan bahwa dana yang cukup besar yang diperlukan bagi penanganan obyek arkeologis cenderung tidak terlihat manfaatnya untuk jangka pendek. Berkenaan dengan ini memang harus ada kesepakatan untuk mengerti bahwa kegiatan arkeologis baru akan terasa manfaatnya pada jangka panjang, dan harus diingat bahwa itu juga berhubungan dengan proses pembentukan jati diri bangsa.

6. Penutup
Kepariwisataan merupakan sarana mempercepat persatuan bangsa maupun bangsa-bangsa di dunia karena saling mengenal budaya masing-masing. Keanekaragaman budaya adalah kekayaan yang menjadi milik semua orang. Itu semua bukan untuk dijadikan sarana pembeda sebaliknya menjadi media pengenalan diri masing-masing. Kemudian yang juga harus disadari bahwa memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus adalah kegiatan meningkatkan kunjungan wisatawan. Oleh karena itu, jelas diperlukan kerjasama berbagai pihak agar situs dan obyek arkeologis tetap lestari, dan pemberdayaannya – dalam hal ini berkenaan dengan wisata minat khusus - mampu mendatangkan dan meningkatkan kunjungan wisata yang sekaligus juga menghasilkan kesejahteraan masyarakat. Tentu tidak mudah mewujudkan keinginan tersebut, namun upaya ke arah itu harus segera dimulai. Prinsip dalam wisata minat khusus yang mengandung kecenderungan mendapatkan sesuatu/atraksi wisata yang baru serta pengalaman yang baru oleh wisatawan tampaknya dapat dipenuhi oleh cukup banyak situs/kawasan kepurbakalaan di beberapa wilayah Indonesia.

Menyangkut paparan di atas, seyogyanya kita patut mengingat kembali yang disampaikan oleh pakar keparwisataan Salah Wahab dalam salah satu karyanya (1992), bahwa ada hal-hal penting yang harus dipertimbangkan menyangkut hari depan pariwisata – juga di Indonesia sebagai bagian dari pariwisata internasional. Hal dimaksud meliputi bukan saja peran kebijakan pemerintah; melainkan juga peran unsur pelaku usaha pariwisata yang harus lebih terdorong terhadap peranan sosial pariwisata; dan kecenderungan wisatawan akan rekreasi dalam berwisata; serta peran masyarakat penerima wisatawan memiliki orientasi untuk mengerti wisatawan dan kebutuhan-kebutuhannya. Pesan ini tentu perlu disikapi dengan baik, begitupun bagi upaya pengembangan usaha wisata minat khusus. Demikianlah.

Kepustakaan
Binford, Lewis R, 1972. An Archaeological Perspective. New York: Seminar Press
Deetz, James F. 1967. Invitation to Archaeology. New York: The Natural History Press
Harkantiningsih, Naniek et al (eds.), 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Renfrew, Colin & Paul Bahn, 1991. Archaeology Theories, Methods, and Practise. London: Thames and Hudson
Sharer, Robert J & Wendy Ashmore, 1979. Fundamentals Of Archaeology. California: Benjamin Cummings Publishing Company
Soekadijo, RG, 2000. Anatomi Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Suratmo, F Gunawan, 1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil
Wahab, Salah, 1992. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta: Pradnya Paramita
__________
Lucas Partanda Koestoro adalah Peneliti/Arkeolog, Kini Menjabat sebagai Kepala Balai Arkeologi Medan.

Sumber : http://balarmedan.wordpress.com

Mengungkap tinggalan arkeologis di Desa Ciaruten Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor



Oleh : Endang Widyastuti
Peneliti Bidang Arkeologi Hindu-Buddha pada Balai Arkeologi Bandung

Tentang Holotan
Berdasarkan beberapa prasasti yang pernah ditemukan, kerajaan tertua yang dikenal di Jawa Barat yaitu Kerajaan Tarumanegara. Prasasti yang berasal dari masa tersebut adalah Prasasti Ciaruteun, Pasir Koleangkak, Kebon Kopi, Tugu, Pasir Awi, Muara Cianten, dan Prasasti Cidanghiang. Selain prasasti, sumber lain yang menyebut tentang keberadaan Kerajaan Tarumanegara adalah berita asing dari Cina.

I’Tsing (abad ke-7 M) dalam catatan perjalanannya menyebut tentang To-lo-mo. Berita dari masa dinasti Soui dan berita dari masa dinasti T’ang Muda juga menceritakan mengenai sebuah kerajaan yang bernama To-lo-mo. Menurut beberapa ahli To-lo-mo merupakan lafal Cina dari Taruma. Berdasarkan data yang ada diduga keberadaan kerajaan Tarumanegara berlangsung dari abad ke-5 hingga akhir abad ke-7 M.

Selain To-lo-mo di Jawa Barat juga disebut-sebut adanya Kerajaan Holotan. Sejarah Lama Dinasti Sung (420 – 478) menyebutkan tentang adanya utusan sebuah kerajaan lain yang diduga juga berada di Jawa Barat. Diceritakan bahwa pada tahun 430 datang utusan dari Kerajaan Holotan dengan membawa upeti. Kedatangan utusan dari Kerajaan Holotan tersebut tercatat pada tahun 430, 433, 434, 437, dan 452. Setelah tahun 452 Kerajaan Holotan tidak lagi mengirimkan utusan ke Cina, hal ini diduga karena kerajaan tersebut sudah menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara.

Menurut beberapa ahli nama Holotan dapat dihubungkan dengan (Ci)Aruteun. Merupakan kebiasaan pada masa lalu bahwa nama kerajaan yang berada di dekat muara sungai selalu menggunakan nama sungai yang bersangkutan. Berdasarkan tinggalan arkeologis yang ada, bekas kerajaan di muara sungai tersebut adalah situs Muarajaya. Situs ini berada di Kampung Muarajaya, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.


Bagaimana menuju ke lokasi?
Kampung Muara Jaya merupakan daerah yang berpenduduk jarang. Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah berladang. Kampung ini berada di daerah pedataran sedikit bergelombang dengan ketinggian berkisar 100 – 200 meter dari permukaan laut. Lahan kampung dikelilingi tiga aliran sungai yaitu Sungai Cisadane di sebelah utara,
Sungai Cianten di sebelah barat, dan Sungai Ciaruteun di sebelah timur. Di sebelah selatan Kampung Muarajaya terdapat Kampung Munjul.

Kampung Muarajaya berjarak sekitar 19 km di sebelah barat daya kota Bogor. Kondisi jalan yang telah beraspal memungkinkan situs dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk menuju lokasi dapat melalui jalur Bogor-Ciampea-Simpang Lebak Sirna-Ciaruteun Ilir. Apabila menggunakan kendaraan umum, dapat menggunakan angkutan kota jalur Bogor-Ciampea, dan dilanjutkan dengan ojek sampai ke lokasi.



Obyek-obyek arkeologis yang terdapat di situs Muarajaya berupa batu dakon, prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi I, Prasasti Muara Cianten, dan batu datar. Selain itu berdasarkan hasil ekskavasi oleh Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2006 dan 2008, di lokasi tersebut ditemukan adanya tatanan batu mendatar yang membentuk seperti balai.

Jejak-jejak tinggalan
a. Batu Dakon
Batu Dakon berada pada suatu lahan berukuran 7 x 6 m, dikelilingi pagar tembok setinggi sekitar 140 cm. Di dalam lahan tersebut terdapat dua batu dakon yang berjajar timur barat, berjarak sekitar 1 m. Pada permukaan batu dakon tersebut masing-masing terdapat 8 dan 10 lubang. Di sebelah selatan batu dakon terdapat dua menhir yang berjajar timur – barat berjarak sekitar 1 m.



b. Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun sekarang ditempatkan pada lahan berpagar seluas sekitar 1000 m2 dan dilengkapi cungkup berukuran 8 x 8 m. Prasasti dipahatkan pada sebongkah batu andesit. Prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa berbahasa Sansekerta, dituliskan dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh terdiri dari 4 baris. Berdasarkan pembacaan oleh Poerbatjaraka prasasti tersebut berbunyi

vikkranta syavani pateh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam

yang artinya sebagai berikut.

“ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki dewa Wisnu
ialah kaki Yang Mulia Sang Purnavarman,
raja di negeri Taruma
raja yang gagah berani di dunia”

Di atas tulisan terdapat goresan membentuk gambar sepasang tapak kaki dan di tengahnya terdapat gambar laba-laba.




c. Prasasti Kebon Kopi I
Prasasti Kebon Kopi I oleh masyarakat juga disebut Batu Tapak Gajah. Prasasti Kebon Kopi I berada pada lahan berteras seluas sekitar 1500 m2. Untuk melindungi prasasti telah dibuatkan cungkup dengan ukuran 4,5 x 4,5 m. Prasasti Kebon Kopi I dipahatkan pada sebongkah batu dengan bentuk tidak beraturan. Pada permukaan batu yang menghadap ke timur terdapat pahatan yang membentuk 2 telapak kaki gajah. Di antara kedua pahatan tersebut terdapat 1 baris tulisan setinggi 10 cm. Prasasti ditulis dalam bentuk puisi anustubh yang artinya sebagai berikut

“Di sini nampak sepasang tapak kaki ... yang seperti Airawata, gajah penguasa taruma (yang) agung dalam ... dan (?) kejayaan




d. Prasasti Pasir Muara
Prasasti ini berada di tepi sisi barat Sungai Cisadane, berjarak sekitar 50 m dari pertemuan dengan Sungai Cianten. Karena masih berada pada lokasi semula, maka pada waktu air sungai pasang akan terendam.




Prasasti Pasir Muara dipahatkan pada sebongkah batu dengan bentuk yang tidak beraturan. Keadaan batu pada beberapa bagian sudah mengelupas karena tergerus air sungai. Tulisan berupa aksara ikal seperti motif suluran yang belum dapat dibaca.

f. Struktur Batu
Ekskavasi pada tahun 2006 di kebun milik H. Murad Effendi menemukan struktur batu pada kedalaman 65 cm. Struktur batu tersebut berupa susunan batu kali yang disusun memanjang dengan orientasi arah timur-barat.




Pada ekskavasi tahun 2008 struktur batu juga ditemukan di sebelah barat daya prasasti Kebon Kopi, pada kedalaman sekitar 40 cm. Struktur batu tersebut berupa tatanan batu kali yang membentuk lantai.



Prasasti Ciaruteun dan Kebon Kopi I menunjukkan bahwa Tarumanegara menguasai wilayah ini. Batu dakon, menhir, dan temuan struktur batu merupakan sisa-sisa kota di muara Ciaruteun yang dapat disamakan dengan Holotan dalam berita Cina.

Sumber : http://arkeologisunda.blogspot.com

Menelusuri Jejak Arkeologi di Pulau Bintan

Pendapat ahli-ahli arkeologi di dalam, dan luar negeri mencatat bahwa situs Bukit Kerang, yang di dalam bahasa pengetahuan disebut dengan Kjokken Moddinger (berasal dari Bahasa Denmark) atau sampah dapur di Indonesia hanya ada di pesisir timur Sumatera, patut dimentahkan.

Sebab, jejak manusia purba yang juga terdapat di Hoa Binh, Vietnam, ternyata juga ditemukan oleh sejarahwan Kepulauan Riau (Kepri), Aswandi Syahri di Bintan. Tepatnya di Kelurahan Kawal Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan.

Nama atau istilah Bukit Kerang diambil dari gundukan tanah yang sebagian besar materialnya berasal dari cangkang kerang-kerangan. Kerang-kerangan ini merupakan sisa makanan manusia purba yang hidup pada masa mesolitikum atau masa perubahan antara zaman batu ke zaman perunggu sekitar 3000 tahun – 5000 tahun sebelum masehi.

Penemuan kjokken moddinger membuktikan bahwa jauh sebelum tercatatnya kebudayaan Melayu di Bintan sekitar tahun 1500-an, sudah ada kebudayaan lain di Pulau Bintan yang sudah sangat tua. Temuan ini sekaligus menantang ahli-ahli arkeologi, untuk mencari missing link antara kebudayaan manusia purba dengan kebudayaan baru yang berkembang di Pulau Bintan.

Sekaligus, mengungkapkan bagaimana wujud kebudayaan manusia purba itu di Pulau Bin “Dalam ilmu arkeologi situs kjokken moddinger atau shell midden atau “sampah dapur” manusia purba, berada di tepi laut. Mereka menetap di tepi laut atau pantau, dan menjadikan kerang-kerangan sebagai menu utamanya karena mudah diperoleh. Jadi, situs ini awalnya berada di tepi laut,” kata Aswandi Syahri, Kamis (18/10) dalam perjalanan mencari wujud jejak manusia purba di Kawal, Bintan.

Berawal dari rasa penasaran yang begitu mendalam, Batam Pos “membujuk” Aswandi bersama pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Tanjungpinang, Ibrahim Rahman untuk menunjukkan di mana bukti peninggalan manusia purba. Dia sendiri awalnya ragu-ragu karena letaknya terpencil, dan dia sudah agak lupa di mana letak situ tersebut. Setelah secara tidak sengaja menemukan untuk pertama kalinya tahun 2005. Penemuan itu berawal ketika dia sedang melakukan penelitian tentang cerita rakyat di Kepulauan Riau (Kepri).

Dalam penelitiannya itulah dia berjumpa dengan lurah Kawal, dan mendengar cerita tentang Benteng Ulubatak. Keingintahuannya muncul ketika disampaikan bahwa bekas Benteng Ulubatak itu masih ada.

Bersama dua pemandu warga setempat, dia diantarkan ke lokasi, dan langsung terperanjat karena mengetahui bahwa yang disebut bekas benteng itu sebenarnya tercatat dalam ilmu arkeologi sebagai Kjokken Moddinger atau sampah dapur manusia purba, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Suku Batak. Namun, dia tetap menyimpan temuannya itu hingga menceritakanya ke koran ini, karena khawatir situs yang sangat berharga itu akan dirusak orang.

Setelah dibujuk-bujuk, Aswandi akhirnya menyerah, dan bersedia untuk kembali mencari di mana letak jejak manusia purba itu bertiga bersama Ibrahim Rahman. Dengan mobil pinjaman kamipun meluncur ke arah Kawal, Kec Gunung Kijang. Tempat yang pertama dituju adalah kediaman orang yang pernah mengantarkan Aswandi ke lokasi jejak manusia purba itu di sekitar Jembatan Kawal. Namun, yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat, dan ketika dihubungi ternyata sudah lupa lokasinya.

Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya kami diarahkan ke rumah Ketua RT yang letaknya cukup jauh dari jalan aspal atau di tengah perkebunan kelapa. Saat mencari-cari kediaman Ketua RT itu secara tak sengaja bertemu dengan seorang warga Tionghoa, A Lim (41) warga setempat yang punya hobi berburu babi. Dalam perbincangan dengannya tentang maksud, dan tujuan mencari rumah Ketua RT, ternyata dia tahu lokasi Benteng Ulubatak yang mereka sebut dengan Bataksia.

Dia tahu pasti lokasinya, karena berada di sekitar dia biasa berburu babi, bujuk membujukpun akhirnya terjadi, dan dia bersedia mengantarkan setelah koran ini menunjukkan bukti kartu pers Batam Pos. Dia juga minta untuk mengantarkan sekarung jagung kering ke kebun temannya, untuk makanan ternak ayam kampungnya. Sebab, letak kebun temannya itu tak jauh dari situs yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan tersebut.

Sambil merentasi pekatnya perkebunan sawit Tirta Madu atau ke arah utara jembatan Sei Kawal, Aswandi terus beruaha meraba-raba perjalanan yang pernah ditempuhnya.

Namun, dia tetap kesulitan mengingatnya karena nyaris semua jalan, dan persimpangan di perkebunan sawit itu sama bentuknya. Hampir sekitar lima kilometer dari jembatan Sei Kawal atau ketika berada sekitar 100 meter dari situs itu, barulah dia bisa mengingat jalan tersebut.

Secara fisik situs itu hanya berwujud gundukan dengan tinggi sekitar empat meteran, dan luas sekitar 100 meter persegi serta terletak di tengah perkebunan kelapa rakyat (bukan kelapa sawit).

Bahkan, di puncak gundukan tersebut terdapat pohon kelapa yang tingginya sudah sekitar empat meteran, sekilas pandang nyaris tidak berharga sama sekali. Padahal, inilah fakta yang secara ilmiah merupakan bukti bahwa manusia purba pernah hidup di Pulau Bintan sekitar 3000-5000 tahun sebelum masehi.

Sumber : Batam Pos

Kepurbakalaan: Situs Luput dari Perhatian


Oleh : Udo Z. Karzi

Sejumlah peninggalan sejarah di Kabupaten Tanggamus, seperti situs Batu Bedil, makam Islam kuno Wonosobo, Tugu Perjuangan Rakyat Kotaagung, Goa Jepang, dan sebagainya, luput dari perhatian pemerintah.

"Perhatian pemerintah terhadap keberadaan situs-situs ini sangat minim. Masyarakat Tanggamus seakan lupa sejarah mereka. Padahal, keberadaan situs-situs itu menjadi lambang, bahwa sejak zaman purbakala nenek moyang Tanggamus sudah berinteraksi dengan dunia luar," kata Akhmadi Sumaryanto, anggota DPRD Tanggamus, akhir pekan lalu.

Akhmadi mencontohkan situs purbakala Batu Bedil, di Dusun Batu Bedil, Pekon Batu Bedil, Kecamatan Air Naningan, yang terancam punah. Padahal, Batu Bedil adalah bukti sejarah adanya penduduk di wilayah ini pada masa lalu yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya. Di sini terdapat tiga kompleks megalitik dan prasasti Batu Bedil yang letaknya berdekatan di Pekon Batu Bedil Hulu dan Hilir, sekitar 10 menit berkendaraan ke arah utara dari gerbang kompleks Bendungan Batu Tegi. Yaitu, Komplek Batu Bedil seluas 5,6 hektare, Batu Prasasti (2,1 hektare), dan Batu Gajah (720 meter persegi).

Di kawasan situs Batu Bedil terdapat Prasasti Batu Bedil, menhir besar, sebuah lumping batu, arca Nandhi dari abad IX yang merupakan kendaraan Dewa Siwa, dan arca Ganesha yang merupakan arca Dewa Ilmu Pengetahuan (Dewa Wisnu).

"Kami mengharapkan Pemkab Tanggamus mulai mengalokasikan dana untuk merawat situs-situs bersejarah ini," kata Akhmadi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus H. Bahagia Saputra, Jumat (20-2), membenarkan telantarnya keberadaan benda peninggalan sejarah di Kabupaten itu.

"Sebenarnya itu aset bagi Tanggamus, untuk menjaring wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Tanggamus. Terutama dalam rangka Visit Lampung Years 2009 ini," kata Bahagia.

Menyinggung keberadaan makam Islam kuno Wonosobo, kata Bahagia, mulai APBD-P Tahun 2009 ini, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata akan mengusulkan anggaran untuk pembebesan lahan di sekitar makam. Kemudian, akan dilakukan pemugaran, dan pembangunan sejumlah fasilitas penunjang di sekitar taman. "Diharapkan nantinya makam Islam kuno ini akan menjadi wisata relegi," kata dia. UTI/N-1

Sumber:
http://ulunlampung.blogspot.com
http://www.lampungpost.com

Photo : http://3.bp.blogspot.com

Keagungan Situs Megalitik Gunung Padang


Oleh : Budi Brahmantyo

Adalah seorang pangeran kelana pencari ilmu dari Kerajaan Sunda pada sekira akhir abad ke-15, pernah menjelajahi Pulau Jawa dan mengunjungi tempat-tempat keramat sepanjang pantai utara, menyeberang ke Pulau Bali, dan kembali ke Jawa Barat melalui jalur selatan. Pengelanaan sang pangeran kelana berjulukan Bujangga Manik itu, harus kita akui sebagai aktivitas wisata/penjelajahan pertama yang tercatat di nusantara oleh pribumi Sunda.

Secara luar biasa, ia mencatat lebih kurang 450 nama geografis yang masih banyak dapat dikenal hingga sekarang. Catatan dalam lembar-lembar lontar yang sekarang tersimpan di Museum Bodleian, Oxford, Inggris itu, diakhiri dengan suatu persiapan perjalanan spiritualnya ke Nirwana, di suatu tempat kebuyutan yang ditemukannya di hulu Sungai Cisokan, Cianjur.

Dari beberapa penggalan sajaknya, di antaranya ia menulis sebagai berikut, Eta hulu na Ci Sokan neumu lemah kabuyutan/ na lemah nalingga manik/ teherna dek sri maliput/ sermangun nalingga payung/ nyanghareup ka Bahu Mitra/ ku ngaing geus dibabakan/ dibalay diundak-undak/ dibalay sakulilingna/ ti handap ku mungkal datar/ ser mangun ku mungkal bener/ ti luhur ku batu putih / diawuran manik asra/ carenang heuleut-heuleutna/ wangun tujuh guna aing / padanan deung pakayuan dan seterusnya.

Walaupun belum ada kepastian di mana kebuyutan di hulu Cisokan yang disebut Bujangga Manik itu, tetapi di hulu daerah aliran sungai Cisokan-Cikondang, Cianjur, satu-satunya tempat kebuyutan adalah Situs Gunung Padang. Situs tersebut merupakan suatu "bangunan" yang disusun dari tumpukan kolom-kolom bebatuan yang dibangun berundak-undak, berada di puncak bukit kecil yang dikenal sebagai Gunung Padang.

Situs Megalitik Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur dipercayai oleh para ahli Arkeologi sebagai situs Megalitik terbesar di Asia Tenggara. Pusaka budaya prasejarah di Provinsi Jawa Barat yang sangat potensial menjadi tujuan wisata budaya dan ekowisata ini, sayangnya kurang terawat dengan baik. Selain itu, jarak yang cukup jauh dari jalan negara Cianjur-Sukabumi (20 km lebih) dengan akses sempit berliku-liku dan beraspal tipis yang mudah hancur oleh satu kali musim hujan, menjadi kendala pertama para calon pelancong.

Mendekati lokasi situs, kendala lain sudah menghadang pula, tidak adanya penunjuk arah menuju lokasi situs, dan jalan perkebunan teh yang rusak atau berlapis batu tajam. Menyadari banyaknya kendala pengembangan di balik potensi wisata yang luar biasa ini, Balai Pengelolaan Purbakala dan Nilai-nilai Sejarah Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, pernah mengadakan kegiatan positif berupa "Bakti Wisata" yang diikuti oleh masyarakat dan mahasiswa. Kegiatan itu, diharapkan dapat merintis pengembangan ke arah wisata yang lebih baik dan menarik perhatian serius penanganan situs yang menjadi jalur budaya Megalitik Asia-Pasifik ini (Pikiran Rakyat, 26 Mei 2005).

Tetapi, bagi para pelancong yang ingin mendapatkan nilai lebih dari aktivitas berwisatanya, rasanya kendala tersebut justru menjadi bagian dari perjalanannya yang akan menjadi catatan pengalaman yang mengasyikkan.

Batu Andesit Basaltis
Situs arkeologi ini, sebenarnya sangat menarik pula jika dipandang dari sudut geologi. Hal ini karena batu penyusun konstruksi situs, dari segi geologi mempunyai cara terbentuk yang khusus. Selain itu, secara geografis, posisi Gunung Padang terhadap gunung-gunung lain di sekitarnya, terutama Gunung Gede, mungkin dijadikan kriteria pemilihan bukit oleh arsitek prasejarah pembangun situs ini.

Jika kita telah mencapai situs ini, kesan keagungan dan kehebatan masyarakat purbakala langsung menyergap suasana. Perasaan ini begitu kuat ketika sampai di pelataran pertama setelah mendaki tangga-tangga batu setinggi lebih kurang 30 meter dengan kemiringan hampir 40 derajat. Batu-batu berbentuk kolom poligonal ini, dipasang melintang sebagai tangga sejak kaki bukit. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri, sehingga benar-benar seperti suatu tempat check in.

Di pelataran undak pertama, kita dibuat takjub oleh karya leluhur kita. Betapa tidak, hampir seluruh konstruksi situs ini, disusun dari kolom-kolom batu. Banyak kolom batu mempunyai dimensi poligonal segi lima atau enam dengan permukaan yang halus. Orang awam, bisa terkecoh menganggap batu-batu ini adalah buatan tangan manusia dengan cara ditatah, padahal, secara geologis, proses alamiah bisa membentuk kolom batu yang berpermukaan halus dengan sendirinya.

Kolom batu poligonal terbentuk ketika aliran magma membeku. Sama halnya dengan terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering. Begitu pula yang terjadi pada cairan magma yang mengalir ke luar permukaan bumi sebagai aliran lava. Ketika membatu, proses-proses fisik akan membentuk suatu retakan-retakan pendinginan berbentuk kolom-kolom poligonal tersebut.

Proses demikian, adalah proses yang sama yang membentuk tangga-tangga segi enam raksasa di Irlandia yang terkenal sebagai The Giant Causeway, atau kolom-kolom tinggi di Devil's Tower di Ohio, Amerika Serikat, atau kolom batu yang menghiasi dinding-dinding galian batu di G. Selacau dan Lagadar, Cimahi Selatan. Semuanya terjadi pada saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit atau basaltis.

Di Gunung Padang, batu-batu yang berwarna abu-abu gelap ini, berjenis andesit basaltis. Gunung Padang diperkirakan merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala berumur Pleistosen Awal, sekira 21 juta tahun yang lalu. Keberadaan sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, dapat dikenali jika kita mengamati kaki bukit di mana kolom-kolom batu alamiah yang bukan berasal dari reruntuhan situs, masih berserakan.

Dengan sangat cerdas, arsitek Megalitik yang diperkirakan hidup sekira 2.000 - 1.000 tahun yang lampau, telah memilih tempat yang cocok dari sisi ketersediaan sumber daya batu in-situ.

Mengarah ke Gunung Gede
Ketakjuban kita terhadap hasil karya para leluhur masyarakat Jawa Barat purbakala itu, akan semakin bertambah ketika kita terus mengamati susunan batu demi batu, serta lingkungan sekitarnya. Sang arsitek telah memilih bukit ini, mungkin dengan survei lama dan penjelajahan yang sangat jauh. Pemilihan bukit sedemikian rupa, sehingga selain adanya sumber batu yang tersedia untuk membangun tempat pemujaan ini, arah memanjang situs begitu tepat menghadap ke arah Gunung Gede (elevasi 2.958 m).

Persis arah 10 derajat utara-barat pada kompas, panjang situs tepat mengarah ke gunung yang memang telah menjadi gunung kebuyutan dan dianggap suci dan sakral oleh masyarakat Kerajaan Pajajaran. Gunung Gede, mungkin juga di anggap sama suci dan sakralnya oleh masyarakat zaman Megalitik.

Menariknya, dengan latar belakang Gunung Gede yang jauh di utara, situs ini juga menghadap terlebih dahulu pada satu bukit yang bernama Pasir Pogor di depannya.***

Penulis, pencinta pusaka alam dan budaya leluhur, anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, staf pengajar di Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, ITB, KK Geologi Terapan.

Sumber : http://www.wacananusantara.org

Jejak Kerajaan Pasai Ditemukan


Ada titik terang terkait jejak Kerajaan Samudra Pasai. Tim peneliti setempat menemukan bukti penting berupa makam kuno dan stempel kerajaan. Temuan baru ini memperkaya bukti jejak kerajaan yang berdiri di pesisir timur Sumatera pada abad ke-13 itu.

"Bukti sejarah Kerajaan Pasai itu terkonsentrasi di empat gampong (desa) di Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Timur. Sebagian besar dalam kondisi telantar. Oleh karena itu, pemerintah harus melindungi agar tidak hilang,” kata Ketua Yayasan Waqaf Nurul Islam Tengku Taqiyudin Muhammad, di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (21/3).

Taqiyudin menduga empat gampong, yaitu Kuta Krueng, Beuringen, Blang Mee, dan Keude Geudong, di Kecamatan Samudra, merupakan pusat Kerajaan Pasai. Ribuan batu nisan di tempat ini memperkuat dugaan itu.

”Di antara batu nisan yang kami temukan ada yang lebih tua dari batu nisan yang pernah ditulis oleh sumber sejarah,” tutur Taqiyudin, alumnus Universitas Al Azhar Cairo.

Di batu nisan, menurut dia, tertulis nama seseorang yang bergelar Mahbub Qulum Al Khaaliq Ibnu Mahmud. Arti gelar itu adalah "orang yang dicintai oleh orang banyak" dan anak seseorang bernama Mahmud. Taqiyudin belum bisa memastikan siapa dia. Batu nisan itu bertulis tahun 1226. Artinya, lebih tua dari batu nisan Malikus Saleh, Sultan Samudra Pase (1297).

Ribuan batu nisan di sepanjang Sungai Pasai itu sekaligus memperkuat dugaan, kerajaan itu merupakan kerajaan agraris. Di sekitar batu nisan, peneliti menemukan aneka keramik, alat batu, dan lesung dari batu.

Sebaran batu nisan itu tidak hanya berada di pesisir pantai, tetapi sampai sekitar 60 kilometer dari bibir pantai. Temuan itu memperkuat asumsi bahwa kawasan Kecamatan Samudra merupakan pusat kerajaan yang padat penduduk. Taqiyudin menyayangkan kajian tentang jejak sejarah melalui batu nisan belum maksimal dilakukan sejarawan.

Peneliti menemukan stempel kuno bertuliskan Mamlakah Muhammad yang artinya "Kerajaan Muhammad". Huruf seperti itu, menurut Taqiyudin, lazim digunakan pada abad ke-1 sampai ke-5 Hijriah untuk menyalin naskah yang memiliki nilai penting seperti mushaf Al Quran. Stempel itu ditemukan seorang warga bernama Erwin (18), warga Kuta Krueng, Kecamatan Samudra.

Anggota tim peneliti, Fauzan, mengatakan, tujuan penelitian itu untuk menyelamatkan jejak sejarah yang telantar. Ia meminta pemerintah turut menyelamatkan kawasan ini.

Sumber: http://cetak.kompas.com
Photo : http://media.photobucket.com

Pengertian prasasti

Dalam sejarah Indonesia, abad ke-5 umumnya dianggap sebagai berakhirnya masa prasejarah. Itu dihubungkan dengan penemuan bukti arkeologis berupa prasasti¹ di Pulau Kalimantan yang secara paleografis diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5. Adapun berkenaan dengan prasejarah moda transportasi air nusantara, bukti arkeologis dari Pulau Sumatera memperlihatkan hal berikut.
Pengertian prasasti merujuk pada sumber sejarah yang ditulis di atas batu atau logam dan kebanyakan dibuat atas perintah penguasa suatu daerah. Umumnya prasasti dikeluarkan untuk memperingati penobatan suatu daerah sebagai sima, daerah bebas pajak, sebagai anugerah raja kepada pejabat tertentu yang telah berjasa atau anugerah raja untuk pemeliharaan bangunan suci tertentu. Sejumlah kecil prasasti merupakan salinan keputusan pengadilan, yang biasa dinamai jayapattra. Adapun prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang pada tahun 1920 (Coedes,1930; Boechari,1986), membuka pertulisannya dengan: “….. Pada tahun Saka 605, hari kesebelas paruh terang bulan Waisakha, Sri Baginda naik perahu (nayik di samwau ) untuk mencari kesaktian. Hari ketujuh paruh terang bulan Yjestha, raja membebaskan diri dari …..” dan seterusnya. Dalam kaitannya dengan topik pembicaraan kali ini, maka prasasti Kedukan Bukit merupakan sumber informasi menyangkut sebuah tanggal yang sesuai untuk mengawali tinjauan kita mengenai moda transportasi air nusantara. Esensinya tidak tergantung dari peristiwa yang dicatat, bahwa pada suatu ketika sang raja memimpin bala tentara yang terdiri dari sekian ribu orang untuk membangun Sriwijaya. Pentingnya tanggal, bulan, dan tahun dalam catatan itu karena merupakan tanggal yang paling tua mengenai penyebutan perahu dalam bahasa Melayu Kuna, sehingga menjadi tonggak yang mengawali sejarah perahu nusantara.
Oleh karena prasasti tersebut menyatakan tentang tahun 683 (yakni tahun Saka 605), maka sejauh ada kaitannya dengan penyebutan perahu dalam berbagai sumber tertulis, zaman sebelum tahun 683 merupakan prasejarah dari moda transportasi air nusantara. Berkenaan dengan kurun waktu prasejarah itu banyak pertanyaan penting mengenai keberadaan perahu yang tidak dapat dijawab dengan pasti. Pertanyaan-pertanyaan dimaksud antara lain tentang proses pembudayaannya, luas kawasan yang memanfaatkan perahu, atau pertanyaan lain yang menuntut jawab tentang kekhususan pemakaian perahu tadi bagi kalangan tertentu dan maksud-maksud khusus. Ini berhubungan pula dengan pertanyaan lain yang mempersilakan pengajuan jawaban dengan mengemukakan logika, perbandingan, dan pendugaan, yang semuanya bersifat hipotetis.
Walaupun disadari bahwa prasasti merupakan sumber tertulis yang amat terpercaya, kita tetap perlu memaklumi ketidaksanggupannya menyampaikan informasi utuh mengenai perahu mengingat isi pertulisannya terbatas pada hal-hal bersifat resmi. Oleh karena itu membicarakan perahu nusantara yang berasal dari masa sebelum tahun 683, selain melalui sisa bangkainya, seyogyanya mengandalkan sumber-sumber lain nusantara maupun sumber-sumber lain yang berasal dari luar.
Harus juga diketahui bahwa tidak semua sumber-sumber luar/asing yang ada sangkutpautnya dengan nusantara, hanya sumber-sumber tertentu - antara lain dari Cina - ada gunanya. Contoh yang cukup baik ialah sumber yang menceritakan ketika I-Tsing pada tahun 672, setelah tinggal cukup lama di Palembang, meneruskan perjalanan ke India menaiki perahu seorang raja Sumatera. Hal ini jelas menunjukkan adanya pelayaran yang dilakukan oleh orang Sumatera di Samudera Hindia pada abad-abad itu. Indikasi tersebut juga dipertegas oleh penafsiran dari Pierre Paris (Nooteboom,1972) berdasarkan sumber luar nusantara lainnya, yang menyatakan bahwa pada abad ke-3 SM maupun pada abad pertama Masehi telah ada aktivitas pelayaran menggunakan perahu-perahu (bercadik) dari Sumatera ke India. Selain itu Groeneveld (1960) juga mencatat adanya berita Cina yang menceritakan hubungan dengan Jawa sejak abad ke-5, dan dengan Sumatera pada awal abad ke-6 yakni pada masa pemerintahan dinasti Liang (502–556).
Pembudayaan Moda Transportasi Air Nusantara
Diskusi menyangkut prasejarah sarana transportasi air mengingatkan kita untuk menjenguk rekonstruksi hipotetis yang dikemukakan oleh FL Dunn (1975). Disebutkannya bahwa sekitar 20.000 SM, pada saat Semenanjung Malaya bersatu dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Indocina, hunter-fisher-gatherers sebagai mata pencaharian penduduknya didukung budaya alat batu yang pre-Hoabinhian. Belum adanya effective sea-faring menyebabkan belum dikenalnya maritime trade antara Paparan Sunda dan tempat lain. Transaksi pertukaran ketika itu masih sangat terbatas, dengan dasar dari bentuk pertukaran masih berupa simple gift giving (pertukaran sederhana), atau barter antara masyarakat pengumpul (collector) dan pedagang hulu (primary traders).
Kita dapat mensejajarkan gambaran tersebut dengan hasil penelitian FL Dunn dan DF Dunn (1984) yang mengemukakan bahwa ketika itu teknologi pelayaran masih sangat terbatas sehingga baru rakit saja yang dikenal. Mengingat keterbatasan perkembangan pengetahuan navigasinya², eksploitasi sumber makanan di tepian pantai dilakukan secara sederhana dengan mengutamakan pencarian kerang.
Berkenaan dengan pembudayaan rakit sebagai moda transportasi air, kemunculannya bermula melalui batang kayu-batang kayu atau bambu yang diikat menjadi satu secara horizontal. Selanjutnya dilakukan penambahan jumlah lapisan horizontal batang kayu atau bambunya yang menyebabkan daya apung dan daya muatnya bertambah besar.
Kemudian ketika Semenanjung Malaya telah terpisah dari daerah sekitarnya di Asia Tenggara, sekitar 10.000 SM atau akhir Pleistosen, penghidupan masyarakatnya mungkin berbasiskan pada perburuan, penangkapan ikan, dan meramu dengan tambahan, tetapi tidak begitu intensif, bertanam umbi-umbian dan tanaman lain (Dunn,1975). Perahu dan rakit dimanfaatkan dalam penjelajahan rawa dan hutan bakau untuk memperoleh bahan makanan. Adanya peningkatan pengetahuan navigasi memungkinkan dilakukannya pelayaran, walaupun amat terbatas, di laut terbuka. Keadaan yang demikian itu juga ikut menentukan laju penjelajahan wilayah baru untuk dieskploitasi (Dunn & Dunn,1984). Hipotesa mengenai perdagangan menyatakan bahwa maritime trade hampir tidak ada, kecuali mungkin hanya sebagai sebuah konsekuensi dari beberapa perjalanan perahu di sepanjang pantai secara kecil-kecilan. Internal trading masih tetap yang utama namun frekuensi dari coastal inland trading telah bertambah/meningkat (Dunn,1975).
Membandingkannya dengan kondisi di tempat lain, di Eropa, mesolitik – masa peralihan dalam zaman batu, antara paleolitik (zaman batu tua) dan neolitik (zaman batu baru) - berlangsung antara 10.000 tahun sampai 5.000 tahun sebelum masehi. Bukti adanya penggunaan moda transportasi air saat itu diperlihatkan melalui penemuan sebuah perahu lesung (dug-out canoe) dengan haluan yang masih papak. Selain itu, melalui sisa kerang yang banyak diperoleh dalam berbagai kegiatan arkeologis di sepanjang pantai Samudera Atlantik dan Laut Utara, dapat diketahui bahwa masyarakat pendukung budaya mesolitik itu mengkonsumsi kerang dalam jumlah yang cukup besar (Lambert,1987). Adapun perahu lesung tertua yang ditemukan di Pesse, Belanda, berdasarkan analisis pertanggalan radiokarbon diketahui berasal dari sekitar 6315 SM (Johnstone,1980).
Selanjutnya, di sekitar 5.000–4.000 SM, internal trading terus berlanjut seperti saat sebelumnya tetapi perdagangan pantai-pedalaman berkembang sampai pada bentuk perdagangan eksternal. Kemungkinan maritime trade juga telah dimulai pada masa itu sebagai konsekuensi dari ekspansi yang demikian cepat dalam pelayaran laut di kawasan kepulauan Asia Tenggara (Dunn,1975). Diperkirakan teknologi pembangunan perahu telah berkembang sedemikian rupa sehingga memungkinkan dilakukannya pelayaran laut terbuka dengan lebih baik. Penggunaan cadik³ telah dikenal seperti halnya pemanfaatan layar sederhana yang memungkinkan penangkapan ikan maupun bahan makanan lain di perairan yang cukup jauh dari garis pantai (Dunn & Dunn,1984).
Dalam pembudayaan perahu, kita dapat mengatakan bahwa melalui perjalanan waktu yang cukup panjang, perkembangan perahu lesung telah menghasilkan perahu papan (planked boat). Evolusinya dimulai dari proses penambahan papan pada kedua dinding/sisi perahu lesung untuk meningkatkan kemampuan apung serta daya muat yang lebih besar. Kebutuhan akan alat transportasi air yang lebih besar untuk memuat beban lebih banyak menyebabkan dibangunnya perahu yang lebih besar.
Erat kaitannya dengan hipotesa yang dikemukakan di atas, keberadaan cadik pada perahu nusantara juga telah memunculkan pembicaraan atasnya. Pendapat mengenai asal-usul cadik pada perahu nusantara telah dikemukakan oleh Heine-Geldern (1932). Pengembangannya oleh Hornell (1946) juga sampai pada kesimpulan bahwa hal itu memang terjadi di pantai-pantai Asia Tenggara. Berdasarkan hal itu Nooteboom (1972) berpendapat bahwa lebih tepat bila dikatakan kemunculan cadik-cadik itu terjadi di perairan muka pantai Asia Tenggara serta pulau-pulau sekelilingnya yang terletak di bagian barat Indonesia. Bahwa masyarakat pendukungnya kemudian berpencar dengan perahu-perahu bercadik berlayar lebih jauh lagi ke jurusan timur, menyebabkan hampir seluruh kepulauan Indonesia mengenal cadik ganda, pengapung yang dipasang di kedua sisi perahu. Ujudnya seperti yang sekarang disebut jukung di Bali, atau londe di Sulawesi Utara. Namun ketika pelaut-pelaut tadi sampai di perairan yang lebih besar, yakni Samudera Pasifik, kelengkapan itu dianggap membahayakan. Hornell mengemukakan bahwa ketika itulah diputuskan untuk hanya menggunakan cadik tunggal. Itu sebabnya di Oceania lebih dikenal keberadaan perahu-perahu bercadik tunggal.
Keberadaan perahu sebagai sarana transportasi air di nusantara tentu dapat dikaitkan dengan migrasi penduduk dan penyebaran bahasa4. Dalam beberapa hipotesa yang pernah dikemukakan untuk menerangkan migrasi penduduk berbahasa Austronesia di kepulauan Asia Tenggara, Pasifik, bahkan Madagaskar, sebagian yang dikerjakan dalam navigasi amat esensial. Dalam teori yang disimpulkan oleh Glover (1979), ekspansi kebudayaan kapak persegi yang menandai awal masa neolitik berlangsung dari utara Asia Tenggara di sekitar Semenanjung Malaya dan pulau-pulau sekitarnya. Ketika itu berkembang pula rice culture, pendomestikan babi dan kerbau, perahu bercadik, bahasa Austronesia, dan pakaian kulit kayu.
Setelah itu, Bellwood (1985) melalui penggunaan data baru yang dilengkapi dengan linguistik prehistorik dan dating sisa arkeologis memberikan interpretasi lain tentang awal kebudayaan Austronesia. Taiwan di sekitar 4.000 SM, atau sebelumnya, sudah dihuni manusia Austronesia. Sebagian daripadanya bermigrasi ke Luzon melalui jalan laut untuk kemudian menyebar ke seluruh Philipina pada sekitar 3.000 SM. Dari sana, sebagian berangkat ke Maluku, dan yang lainnya ke Sulawesi dan sekitar bagian barat Indonesia serta Semenanjung Malaya melalui Palawan. Seluruh migrasi yang berakhir pada kurun waktu antara 2.000 — 500 SM itu dilakukan dengan menggunakan perahu.
Masuk dalam pembicaraan tentang sarana transportasi air untuk masa yang teramat tua dari sejarah navigasi di Asia Tenggara ini, memang belum didukung oleh bukti arkeologis yang langsung, dalam bentuk situs bangkai perahu yang utuh. Di Kampung Sungai Lang, Banting, Selangor, sepasang nekara telah dijumpai tertanam di atas sekeping papan perahu, dan dating atas papan itu telah memberi usia sekitar abad V SM (Peacock,1965). Adapun situs yang lebih kuna yang menghasilkan elemen pembentukan perahu prehistorik dijumpai di Semenanjung Malaya di tepi Sungai Langat di dekat Kampung Jenderam Hilir, di Selangor, Malaysia. Ini berkenaan dengan keberadaan sebuah dayung, bersama-sama dengan peralatan neolitik5 yang memungkinkan diperolehnya data kalibrasi yang menunjukkan sekitar abad VI SM (Batchelor,1977).
Memang harus diterima bahwa penemuan dayung tersebut belum dapat menunjukkan apakah ketika itu juga telah digunakan perahu papan. Sebagaimana diketahui, dua jenis perahu yang dikenal, masing-masing adalah perahu lesung (dug-out canoe) dan perahu papan (planked boat) sama-sama dapat menggunakan dayung sebagai tenaga penggeraknya. Namun keberadaan sekeping papan perahu di Kampung Sungai Lang telah membuktikan bahwa setidak-tidaknya pada abad V SM telah dikenal teknologi pembangunan perahu papan.

Adapun untuk masa yang lebih kemudian, keberadaan perahu nusantara menjadi semakin jelas melalui kegiatan arkeologis atas beberapa situs bangkai perahu di seputar Laut Cina Selatan (yang dalam berbagai kesempatan dan konteks pantas disebut Laut Tengah/Mediterania-nya Asia). Berikut ini adalah keterangan singkatnya.

1. Kuala Pontian
Pada situs di pantai timur Pahang, Malaysia ini ditemukan tiga buah papan, sebuah lunas, dan beberapa gading-gading. Ukuran terpanjang 6,1 meter. Papan-papannya disatukan dengan ikatan tali ijuk melalui lubang-lubang di tepian papan. Di tepian papan juga terdapat lubang-lubang tempat menanam pasak. Untuk menyatukan papan dengan gading-gading, digunakan tali ijuk melalui tambuko - tonjolan pada papan yang sengaja dipahat dengan bentuk dasar persegi empat - yang bentuknya membulat (Evans,1927). Carbon dating menghasilkan titimangsa antara tahun 260–430 (Booth,1984).

2. Butuan
Di muara sungai Butuan di Ambangan, Butuan City, Filipina, dijumpai sisa bangkai dua buah perahu. Bangkai perahu pertama merupakan sisa sebuah perahu berukuran 11,6 meter. Papan-papan pembentuknya dikerjakan dengan cara dipahat. Selain pemanfaatan tambuko untuk penyatuan lunas dan papan badan perahu, digunakan pula pasak. Dating dengan metode C14 menunjukkan bahwa perahu itu berasal dari abad III–V. Adapun mengenai perahu kedua, walaupun ukurannya lebih besar namun menggunakan teknik pembangunan yang sama. Papan-papannya memiliki ukuran panjang 15 meter dengan lebar sekitar 20 cm dan tebal 3 cm.

3. Kolam Pinisi
Pada situs di bagian barat kota Palembang ini terdapat sisa struktur sebuah perahu yang berukuran besar. Lebih dari enampuluh keping badan dan lunas perahu yang ditemukan sudah dalam keadaan terpotong-potong dengan ukuran maksimum hanya 2,5 meter. Tebalnya sekitar 5 cm, dengan lebar antara 20–30 cm. Seluruh papan-papan memiliki tambuko pada permukaannya. Lubang-lubang untuk memasukkan talididapati tidak hanya pada tambuko saja tetapi juga pada bagian tepi papan. Ini menunjukkan bahwa teknik ikat digunakan untuk menyatukan tidak saja papan pembentuk badan perahu melainkan pula papan badan perahu dengan gading-gading. Adapun lubang-lubang untuk menempatkan pasak pada bagian tepi papan menunjukkan bahwa pasak kayu telah digunakan untuk memperkuat penyatuan badan perahu. Perolehan data kalibrasi melalui pemanfaatan metode C-14 atas sampel papan perahu itu menunjukkan angka tahun 434–631 Masehi (Manguin,1989).

4. Tulung Selapan
Tali ijuk, pasak, tambuko, dan ketebalan papan-papannya, mengindikasikan keberadaan perahu kuna yang menggunakan teknik ikat. Ukuran perahu di pesisir timur Sumatera Selatan ini tidak berkisar jauh dari ukuran perahu-perahu lain yang sebelumnya telah lebih dahulu ditemukan kembali di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Dugaan kronologinya lebih mengacu pada kolompok perahu dari abad-abad V–VIII.

5. TPKS Karanganyar
Beberapa potong papan sisa badan perahu telah ditemukan di areaI Taman Purbakala Kedatuan Sriwijaya di Palembang. Ketebalannya 3 cm dengan jarak lubang untuk memasukkan tali ijuk adalah 3 cm, dan jarak lubang untuk pasak kayu sekitar 11 cm. Untuk sementara berkenaan dengan teknologi pembangunannya, sisa bangkai perahu itu digolongkan ke dalam kelompok abad V–VIII.

6. Sambirejo
Pada situs di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan ini dijumpai 11 keping papan yang merupakan bagian badan perahu. Ukuran terpanjang papan-papan tersebut adalah 10,9 meter dan yang terpendek 4 meter. Ketebalan rata-rata 3,5 cm dengan lebar 23 cm. Untuk Menyatukan papan-papan tersebut, selain pasak juga digunakan tali ijuk. Penggunaan pasak tampak dari lubang-lubang di tepian papan serta pasak yang masih tertanam di dalamnya. Pemanfaatan tali ijuk tampak jelas dari adanya tambuko dengan lubang-lubang untuk memasakkan tali ijuk.
Tali ijuk tersebut masih dijumpai pada sebagian papan ber-tambuko itu. Bersamaan dengan papan-papan tersebut, dijumpai pula sebuah kemudi kayu berukuran panjang 5,9 meter dengan bagian terlebarnya 56 cm.Pengamatan atas temuan tersebut menghasilkan dugaan bahwa kesebelas papan tersebut tidak berasal hanya dari sebuah perahu saja, melainkan tiga. Delapan papan berasal dari sebuah perahu yang panjangnya diperkirakan 20–23 meter dengan bagian terlebar mencapai 6 meter. Dua papan berikutnya menunjukkan keberadaan sebuah perahu lain yang berdasarkan analisis C-14 diketahui berasal antara tahun 610 sampai tahun 775. Dugaan tentang perahu ketiga diperoleh dari keberadaan papan lain yang ditemukan bersama (Manguin,1989).
Arkeologi dan teknologi pembangunan perahu nusantara
Upaya perekonstruksian peristiwa masa lalu serta uraian sejarahnya, didasarkan atas sumber informasi yang berupa bukti peninggalan peristiwa itu sendiri. Ujudnya dapat berupa dokumen tertulis maupun sisa benda budaya. Oleh karena itu keliru bila membayangkan bahwa arkeologi hanya kecil kontribusinya tentang apa yang sudah diketahui dari catatan sejarah. Untuk periode prasejarah yang jelas tidak ada catatannya, dan kadang-kadang dalam periode sejarah dimana banyak kesenjangan tentang pengetahuan peristiwa di dalamnya, di sanalah arkeologi membantu melengkapinya. Pada beberapa kesempatan, sumber terkaya dari bukti arkeologi mengenai peristiwa sejarah itu diperoleh melalui sisa bangkai perahu yang “terpelihara” dalam lingkungan dimana obyek tersebut berada yang berhasil diliput melalui kerja arkeologi maritim (Renfrew & Bahn,1991).

Informasi dari data yang diperoleh melalui kegiatan arkeologi maritim selama ini, secara garis besar memperlihatkan bahwa teknologi pembangunan perahu nusantara (di luar jenis yang disebut dengan dug-out canoe atau perahu lesung, yang dibuat hanya dari sebatang pohon saja) menggunakan a. teknik Ikat; b. teknik gabungan ikat dan pasak; c. teknik pasak; serta d. teknik lain. Patut dicatat pula bahwa pengelompokkan teknologi pembangunan perahu ini dapat dikaitkan dengan aspek kronologinya.

1. Teknik ikat
Teknik ikat rnurni memang belum dijumpai bukti arkeologisnya. Hasil penelitian terbatas atas data yang menginformasikan keberadaan pemanfaatan teknik ikat yang bercampur dengan pemanfaatan pasak, namun teknik ikatnya sendiri tetap mendominasi pembentukan badan perahu. Bangkai perahu di situs Kuala Pontian adalah contohnya. Sementara catatan etnografis membantu pengenalan teknologi tua tadi seperti yang masih terlihat pada perahu penangkap ikan paus (peledang)6 di Pulau Lembata (Lomblen), Nusa Tenggara Timur; maupun perahu berteknik ikat di Pulau Hainan (Vietnam) dan Pilipina.
2. Teknik gabungan ikat dan pasak
Bukti yang diperoleh dari beberapa situs bangkai perahu di Sumatera Selatan (Sambirejo; Kolam Pinisi; Tulung Selapan; TPKS Karanganyar) memperlihatkan bahwa teknik ikat makin bergeser perannya oleh kehadiran pasak kayu. Ini tercerrnin dengan semakin dekatnya jarak antara lubang-lubang untuk memasukkan pasak kayu tersebut pada tepian papan-papannya. Artinya pasak kayu tidak lagi berfungsi hanya sebagai sarana pembantu memperkokoh sambungan tetapi justru merupakan bagian yang dominan dalam teknik pembangunan perahu tersebut. Secara kronologis, inilah tipe perahu dari antara abad ke-5 hingga abad ke-8. Berkaitan dengan itu, kita juga dapat mengatakan bahwa upaya pengenalan akan model perahu yang digunakan pada zaman Sriwijaya tampaknya layak mengacu ke sana (Koestoro,1993).
3. Teknik Pasak
Walaupun bukti arkeologisnya belum dijumpai, sumber Portugis abad ke-16 mendeskripsikan tentang jung berteknik pasak berkapasitas hingga 500 ton. Dalam perahu yang bertradisi Asia Tenggara itu tidak dikenal pemakaian simpul tali atau paku. Pemanfaatan teknik pasak demikian itu terus berlanjut hingga beberapa waktu berselang, sebagaimana terlihat dalam pembangunan perahu pinisi di Sulawesi dan lete di Madura.

4 . Teknik Lain
Selain yang telah disebut di atas, dikenal pula adanya teknik lain dalam pembangunan perahu, yakni teknik jahit dan teknik paku. Kedua ,jenis teknik tersebut sampai saat ini masih dapat dijumpai, yakni di sekitar Samudera Hindia dan di Cina (Utara). Sayang sekali belum ada penemuan atas situs-situs bangkai perahu yang memanfatkan teknik pembangunan yang demikian di nusantara.

Pelayaran dan perdagangan nusantara
Bukti arkeologis berupa nekara – gendang besar dari perunggu berhiaskan gambar perahu, orang menari, topeng, dan sebagainya sebagai peninggalan dari zaman perunggu yang dipergunakan dalam upacara ritual - yang di jumpai di beberapa tempat di wilayah nusantara, seperti di Dieng (Jawa), Pulau Selayar, Pulau Luang (Nusa Tenggara Timur), atau di Pulau Roti (juga di Nusa Tenggara Timur) memperlihatkan bahwa pelayaran telah berlangsung sejak masa yang silam. Aktivitas pelayaran itu juga sejalan dengan perdagangan yang dilakukan antar pulau di Indonesia dan antara nusantara dengan daratan Asia. Tukar-menukar tentunya menjadi cara perdagangan ketika itu. Nekara sebagai salah satu produk masyarakat prasejarah memiliki nilai tersendiri pada masyarakat pendukung budayanya. Bahwa benda-benda tersebut kebanyakan dihasilkan di daratan Asia, keberadaannya di nusantara yang jauh dari tempat asalnya merupakan buah dari perdagangan yang berlangsung. Walaupun tidak ada keterangan tertulis mengenai itu, analisis tipologis yang diberlakukan atas obyek-obyek prasejarah itu memperlihatkan kronologi yang cukup tua. Kita dapat membayangkannya dengan mengetahui bahwa di Asia Tenggara logam mulai dikenal sekitar 3.000–2.000 tahun SM. Adapun di Indonesia penggunaan logam diketahui pada masa beberapa abad sebelum masehi.
Kemudian untuk masa yang lebih kemudian, setiap kali ada sumber tertulis tentang sea-faring Indonesia di Samudera Indonesia, ternyata bahwa itu berasal dari daerah paling barat dari Indonesia, yakni Sumatera atau daerah yang berdekatan. Sumatera, bersama pulau-pulau kecil didekatnya dan pantai barat Semenanjung Malaya, memang penting sekali artinya bagi pelayaran di Samudera Indonesia. Rute laut yang menghubungkan daerah kebudayaan yang besar dan tua dari Asia Selatan dan Asia Timur tentu melalui kawasan tersebut (Nooteboom,1972). Penduduk Sumatera, yang berada di ujung barat nusantara telah melibatkan diri dalam perdagangan antara Cina dan India sejak abad ke-5 dan ke-6. Kemenyan dan kapur barus adalah sebagian produk yang menjadi komoditi untuk memenuhi kebutuhan pedagang Arab, Persia, dan Cina (Selling,1981).
Sebagian ahli juga sepakat bahwa sejak abad ke-7, secara teratur pedagang Arab yang kebanyakan datang dari India berlayar ke kawasan Asia Tenggara. Perdagangan secara meluas tidak saja dilakukannya di nusantara, malahan mencapai Cina sebelah selatan. Adapun komoditi yang diperlukan adalah lada, rempah-rempah, dan kayu wangi (Hall,1988).
Keterangan yang demikian selayaknya diterima mengingat besarnya jumlah situs bangkai perahu di Sumatera. Sebagian besar daripadanya memang cukup layak untuk digunakan sebagai perahu niaga yang laik layar di perairan terbuka. Kronologinyapun mengacu pada masa-masa pra-keindiaan nusantara.

Berkenaan dengan itu tampaknya tidak keliru bila kita sepakat dengan Van Leur (1955) dan Wolters (1967) yang berpendapat bila hubungan dagang antara Indonesia dan India lebih dahulu berkembang daripada hubungan dagang antara Indonesia dan Cina. Hubungan tersebut tentunya telah lama terjadi sebelum hal itu disinggung dalam catatan sejarah. Salah satu sebabnya mungkin karena pelayaran dan perdagangan India lebih bebas dilakukan para saudagarnya dibandingkan dengan Cina yang cenderung terbatas akibat ketatnya pengawasan pihak penguasa/rajanya.

Hal lain yang juga patut disimak adalah kenyataan bahwa pengaruh India dan Cina pada perkembangan sejarah Indonesia di zaman kuna cukup berbeda. Dampak dari luasnya hubungan dagang dengan India ada lahirnya perubahan-perubahan dalam bentuk tata negara di sebagian daerah Indonesia. Demikian pula dengan perubahan dalam tata dan susunan masyarakatnya sebagai akibat tersebarnya agama Buddha dan Hindu. Hal semacam ini tidak tampak bila dikenakan pada hubungan antara Indonesia dengan Cina.
Patut digarisbawahi adalah pendapat Nooteboom (1972), bahwa dahulu penguasa-penguasa nusantara-lah yang mendatangkan Brahmana dari India untuk memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya serta untuk lebih mengukuhkan kekuasaan dan pamornya. Kemungkinan ini lebih besar bila memang ada pelayaran Indonesia sendiri ke India. Dan tentu pendapat ini berbeda dengan teori lain yang menyatakan terjadinya semacam bentuk kolonisasi/penjajahan oleh India atas bumi nusantara, karena bila pendudukan India pada waktu itu memang betul terjadi sudah pasti aktivitas pelayaran Indonesia tidak dapat berkembang dengan baik.

Penutup
Itulah sebagian yang dapat dibayangkan mengenai prasejarah perahu nusantara berdasarkan situs bangkai perahu dan sumber tertulis yang relatif terbatas jumlahnya. Bila akhirnya sebuah prasasti berangka tahun 683 muncul di atas panggung sejarah, maka ketika itulah kita berjumpa dengan sebuah kata untuk perahu dalam bahasa Melayu Kuna, suatu bahasa yang telah melampaui perkembangan berabad-abad lamanya. Tonggak ini pula yang membawa kita untuk masuk pada zaman sejarah perahu nusantara.
Sekilas tentang dinamika yang dijumpai dalam lintas sejarah kemaritiman nusantara, menyangkut pula aspek teknologinya. Bahwa pemanfaatan teknik pembangunan perahu mengalami perkembangan, tentunya berkenaan tidak saja dengan pemenuhan kebutuhan melalui kemampuan yang dimiliki melainkan pula didorong oleh bentuk-bentuk komunikasi budaya dan antar bangsa yang merambahinya.
Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan tentu tidak boleh mengabaikan penelitian sejarah maritimnya. Harus ada kesadaran bahwa wawasan bahari tidak hanya diperlukan untuk zaman yang lampau yang kita sebut pula dengan zaman bahari, melainkan sangat penting bagi eksistensi dan kelangsungan hidup suatu negara kepulauan. Bagaimanapun juga, pengaruh daripada kekuatan laut kepada jalannya sejarah manusia, termasuk sejarah Kepulauan Indonesia, adalah suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal.
Pengkajian atas obyek arkeologi dan sejarah berpotensi untuk memperlihatkan bahwa kemampuan berlayar perahu-perahu nusantara dengan jalur-jalur pelayarannya membuktikan bahwa sejak dahulu bangsa-bangsa di nusantara telah memiliki pengetahuan navigasi yang memungkinkan mereka berlayar ke mana saja mengarungi samdera yang luas. Ini juga mempertegas pemahaman kita akan adanya kondisi yang kelak menghasilkan pemberlakuan hukum/peraturan dalam pelayaran dan perdagangan yang memungkinkan aktivitas-aktivitas itu berjalan pesat dan tertib.
Jelas masih banyak yang harus dikerjakan untuk memperoleh gambaran utuh rekonstruksi kehidupan masyarakat bahari nusantara sejak dahulu kala. Semua aspek perlu diketahui dengan baik dalam upaya penyusunan uraian sejarah bangsa. Disadari bahwa sejarah memang bukan sekedar kumpulan fakta atau pencarian berbagai akibat dari peristiwa masa lalu untuk masa selanjutnya saja, namun terlebih dari itu dapat memberikan keluaran konkrit bagi masyarakat untuk menyikapi benang merah yang menghubungkan fakta masa lalu dengan peristiwa sejenis yang (cenderung) terulang. Dan menutup kepingan kerja sederhana ini, yang membicarakan soal pemahaman dan penafsiran subyektif relatif atas informasi yang tersedia, kami membuka diri bagi pandangan dan gagasan alternatif yang memungkinkan penyempurnaannya.
Catatan
1. Ini berkenaan dengan temuan di Muarakaman, Kutai, di bagian baratlaut Kota Samarinda, Kalimantan Timur berupa tujuh buah yupa – tiang batu yang apabila ditegakkan pada sebuah tempat upacara persembahan agama Siwa merupakan sarana untuk menambatkan tali pengikat hewan kurban – berisi inskripsi beraksara Pallawa dalam bahasa Sansekerta. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja Mulawarman yang menyebut tentang kakeknya yang bernama Kundunga, dan ayahnya yang bernama Aswawarman yang dikatakan sebagai pendiri dinasti.
2.
Pengertian navigasi berkenaan dengan pengetahuan untuk menjalankan/melayarkan perahu dari satu tempat ke tempat yang lain. Masuk di dalamnya adalah pengertian hal-hal yang perlu diketahui agar pelayaran berjalan lancar. Navigasi tradisional umumnya hanya bersumber pada pengalaman, tradisi, naluri, dan kepekaan terhadap alam sekitar. Secara tradisional, pengetahuan navigasi meliputi antara lain menentukan posisi dan mengenal arah/haluan yang harus dituju (piloting) (Lopa,1982)
Pengertian di atas juga berkenaan dengan cuaca, karena interaksi yang erat terjadi antara udara dan laut. Perubahan cuaca akan mempengaruhi kondisi laut, karena angin misalnya, sebagai salah satu unsur meteorologi yang penting dalam masalah kelautan, menentukan terjadinya gelombang dan arus. Beruntung bahwa di Indonesia pada umumnya jarang terjadi angin yang sangat kuat. Berbeda dengan di kawasan samudera di sekitar 100 LU dan juga sekitar 100 LS dimana badai yang lebih dikenal dengan siklon tropis sering mengamuk (Nontji,1987).
Masih berkenaan dengan angin, pola angin yang sangat berperan di Indonesia adalah angin rnusim (monsoon). Angin musim bertiup secara mantap ke arah tertentu pada satu periode, dan pada periode lainnya bertiup dengan arah yang berlainan. Mengingat posisi geografisnya, kawasan Indonesia paling ideal untuk berkembangnya angin musim. Pada Musim Barat, ketika angin berhembus dari Asia ke Australia, para pelaut menaikkan layar meninggalkan pelabuhan di Jawa menuju Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kemudian mereka kembali ke pangkalannya dengan memanfatkan angin Musim Timur (Nontji,1987). Di beberapa tempat, disebutkan pula nama lain untuk istilah angin Musim Timur, seperti “angin pedewakang” di daerah Riau (Kepulauan) karena pada masa itulah mereka melihat iring-iringan ”pedewakang” (bentuk yang “lebih tua” dari perahu pinisi ) membanjiri kawasan perairan sekitarnya menuju ke Singapura.
3. Cadik atau katir adalah potongan/batang bambu atau kayu yang dipasang di kiri kanan perahu serupa dengan sayap sebagai alat pengatur keseimbangan agar tidak mudah terbalik.
4.
Besarnya arus migrasi berkaitan dengan kesulitan mengatasi penghalang antara. Hipotesis ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Lee (1995), memperlihatkan bahwa salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan bermigrasi adalah adanya penghalang antara, sehingga - misalnya - ketika pada abad ke-17 dan ke-18 pelayaran ke Amerika masih merupakan pekerjaan yang berbahaya dan tidak mudah dikerjakan, arus migrasi sedikit sekali. Sebaliknya, contoh lain dalam sejarah membuktikan bahwa dengan terhapusnya penghalang-penghalang tersebut memunculkan arus-arus migrasi. Sehingga tidak mengherankan apabila perkembangan teknologi pembangunan perahu dan pengetahuan navigasi pada sebagian bangsa berbahasa Austronesia di Asia Tenggara, merupakan sarana mengatasi kesulitan yang melahirkan arus-arus migrasi berikut kebudayaan pada masanya.
5.
Neolitik adalah fase atau tingkat kebudayaan dalam zaman prasejarah yang mempunyai ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan yang terbuat dari batu yang telah diupam, pertanian menetap, dan pembuatan tembikar/gerabah.
6. Peledang (ahli pembuatnya disebut atamole) digunakan oleh kelompok masyarakat di Lamalera, Pulau Lembata (dahulu disebut Pulau Lomblen) yang masih melakukan aktivitas penangkapan ikan-ikan besar seperti ikan paus, pari, dan ikan hiu pada musim tertentu di perairan Laut Flores. Musim tersebut disebut sebagai musim lefa. Kegiatan perburuan didahului dengan proses ritual (upacara olanua) bagi pemberkatan peralatan dan seluruh anggota masyarakat. Aktivitas dilakukan dengan menggunakan peralatan tradisional berupa peledang (perahu) berbahan kayu, layar, tali (berbahan benang kapas, daun gebang, dan serat kulit pohon waru), kafe (tempuling atau harpoon), faye (alat untuk mendayung), dan sebagainya. Lamafa (juru tikam di laut) adalah sosok penting yang menentukan obyek yang hendak ditombak/diburu, yang dihubungkan dengan upaya pelestarian binatang buruan. Menyangkut hasil penangkapan/perburuan itu, para janda, yatim-piatu, dan fakir miskin mendapat prioritas untuk menikmatinya.

Tradisi ini tampaknya memang telah berlangsung lama, dan itu dapat dihubungkan dengan dijumpainya obyek arkeologis berupa lukisan perahu dan manusia di permukaan bongkah batu andesit di Lamagute yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari garis pantai Laut Flores. Perahu digambarkan dengan tiga tiang layar dan dilengkapi 5 buah dayung. Bagian buritannya sudah tidak jelas tergambarkan. Panjang lukisan perahu 60 cm, lebar 13 cm dengan panjang layar 53 cm, lebar layar 22 cm, dan tinggi tiang layar 30 cm, yang tertera pada bongkah batu andesit berukuran tinggi 3 meter dan lebar 3,5 meter (Atmosudiro,1984).

Kepustakaan
Atmosudiro, Sumijati, 1984. Lukisan Manusia di Pulau Lomblen (Tambahan Data Hasil Seni Bercorak Praejarah), dalam Berkala Arkeologi V(1). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta,

Batchelor, BC, 1977. Post “Hoabinhian” coastal settlement indicated by finds in stanniferous Langat River alluvium near Dengkil, Selangor, Peninsular Malaysia, dalam Federation Museums Journ

Bellwood, P, 1985. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Sydney, London: Academic Press

Boechari, 1986. New investigation the Kedukan Bukit inscription, dalam Untuk Bapak Guru. Jakarta: Puslit Arkenas, hal. 3–56

Coedes, G, 1930. Les inscriptions malaises de Criwijaya, dalam Bulletin de l’Ecole Francaise d’Extreme-Orient,

Dunn, FL, 1975. Rain-forest collectors and traders. A study of resource utilisation in modern and ancient Malaya, dalam Monographs of the Malaysian Branch Royal Asiatic Society

Dunn, FL & DF Dunn, 1984. Maritime Adaptations and Exploitation of Marine Resource in Sundaic Southeast Asian Preshistory, dalam Pieter Van De Velde (ed.), Prehistoric Indonesia A Reader. Dordrecht, Cinnaminson: Foris Publications,

Glover, IC, 1979. The Late Prehistoric Period in Indonesia, dalam RB Smith & W Watson (eds.), Early South East Asia: Essays in Archaeology, History and Historical Geography. New York, Kuala Lumpur: Oxford University Press,

Hall, DGE, 1988. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional

Heekeren, HR van, 1958. The Bronze-Iron Age of Indonesia. ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff
Hornell, James, 1946. Watertransport, Origins and Early Evolution. Cambridge: Cambridge University Press

Koestoro, Lucas Partanda, 1993. Tinggalan Perahu di Sumatera Selatan: Perahu Sriwijaya ?, dalam Mindra
Faizaliskandiar et al (eds.), Sriwijaya Dalam Perspektif Arkeologi Dan Sejarah. Palembang: Pemda Dati I Sumatera Selatan

——————-,1995. Penempatan Situs-situs Bangkai Perahu Indonesia Dalam Sejarah Teknik Pembangunan Perahu di Asia Tenggara, dalam Hariani Santiko et al (des.), Kirana: Persembahan untuk Prof.
Lambert, David, 1987. Guide De L”Homme Prehistorique. Paris: Librairie Larousse

Lee, Everett S, 1995. Teori Migrasi (diterjemahkan oleh Hans Daeng). Yogykarta: Pusat Penelitian Kependudukan

Leur, van JC, 1955. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. Bandung: W van Hoeve Ltd.

Lopa, Baharuddin, 1982. Hukum Laut, Pelayaran, dan Perniagaan. Bandung: Alumni

Manguin, Pierre-Yves, 1985. Sewn-plank Craft of Southeast Asia. A preliminary Survey, dalam S McGrail & E
Kentley (eds.) Sewn Planked Boats. Oxford: National Maritime Museum,

——————-, 1989. The trading ships of Insular Southeast Asia: new evidence from Indonesian archaeological sites, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta, Vol. I. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia,

Manguin, Pierre-Yves & Nurhadi, 1987. Perahu karam di situs Bukit Jakas, Propinsi Riau. Sebuah laporan sementara, dalam 10 Tahun Kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 43–64
Nontji, Anugerah, 1987. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan

Nooteboom, C, 1972. Sumatera dan Pelajaran di Samudera Hindia (diterjemahkan oleh PS Kusumo Sutojo). Djakarta: Bhratara

Peacock, BAV, 1965. The drums of Kampong Sungai Lang, dalam Malaya in History, 10 (1)
Renfrew, Colin & Paul Bahn, 1991. Archaeology Theories, Methods, And Practise. London: Thames and Hudson

Selling, Eleanor, 1981. The Evolution of Trading State in Southeast Asia Before the 17th Century. Disertasi pada Columbia University

Wolters, OW, 1967. Early Indonesian Commerce. New York, Ithaca: Cornel University Press

Sumber : http://www.wacananusantara.org