Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan

Bendungan Wonorejo Tulungagung


Oleh : Adi Prinantyo

Bendungan/waduk Wonorejo berada di sebelah barat kota Tulungagung.Waduk terbesar di Asia Tenggara dengan debit 15.000 m3 per detik, berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga air dan tempat rekreasi, yang dilengkapi dengan Gazebo, Home stay, Taman, area pemancingan, speed boad penginapan dan tempat pementasan seni tradisional.

Hamparan air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya, serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia pariwisata Tulungagung. Sarana pemasok air PDAM Surabaya itu baru diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soe-karnoputri, 21 Juni 2001.

Beberapa petugas pengelola bendungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung menuturkan, pengunjung waduk pada hari Minggu selalu banyak. Jika tidak ada acara khusus semacam pentas dangdut, penghasilan dari karcis masuk rata-rata Rp 1 juta. Angka pemasukan itu bisa melonjak menjadi sekitar Rp 2 juta jika ada pergelaran khusus.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Tulungagung Ahmad Pitoyo menuturkan, perkembangan Waduk Wonorejo sebagai daerah tujuan wisata baru memang cukup menggembirakan. “Kehadiran Bendungan Wonorejo bisa menjadi kekuatan pelapis bagi obyek andalan Pantai Popoh,” katanya.

Dari data kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata di Tulungagung tergambar, angka kunjungan wisatawan ke waduk ini pada tahun 2001 menempati urutan ketiga, di bawah Pantai Indah Popoh dan Pantai Sine. Yang cukup menggembirakan, meski baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2001, angka kunjungan selama setahun lalu sudah mencapai 5.340 orang, menembus tiga besar.

Pembangunan Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan.

Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang.

Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain, menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479 hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.

Manfaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta pariwisata. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan Sungai Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan per tahun.

Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2.000 per orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai bendungan.

Sebagai primadona baru, tentu saja penampilan bendungan ini harus dipertahankan. Ini penting agar tak terjadi penyusutan jumlah pengunjung pada tahun-tahun mendatang, misalnya akibat perwajahannya yang sudah “tak seindah warna aslinya”.

Dalam tabel kunjungan wisata Tulungagung dari tahun ke tahun juga tercatat, jumlah wisatawan sejak tahun 1999 terus menurun. Dari 323.201 orang pada tahun 1999, turun menjadi 292.039 orang pada tahun 2000, dan anjlok lagi menjadi 270.535 orang pada tahun 2001.

Penurunan itu tergambar dari anjloknya jumlah wisatawan di obyek-obyek wisata tertentu, seperti di Goa Tritis (dari 1.084 di tahun 2000 menjadi 887 orang pada tahun 2001), Goa Pasir (dari 2.316 menjadi 2.253 orang), dan Can-di Ngampel (dari 541 orang menjadi hanya sembilan orang).

Pariwisata memang menyangkut soal bagaimana si pengelola kawasan wisata menyediakan kenyamanan kepada mereka yang datang sehingga pengunjung dapat betul-betul merasa rileks. Jika suasana rileks itu telah sirna, wajar pulalah jika makin sedikit wisatawan yang datang.

Sumber : http://www.potlot-adventure.com

Waduk Sermo Berkah Bagi Kulonprogo


Waduk Sermo yang terletak di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta, tampaknya semakin menarik perhatian. Terutama setelah diresmikan Presiden Soeharto, 20 November 1996. Apalagi kini debit air yang mengisi waduk sudah hampir sampai batas maksimum. Banyak orang datang, selain untuk rekreasi juga memancing ikan.

Sedangkan mereka yang berasal dari Perguruan Tinggi ingin belajar tentang bangunan fisik waduk. Sebuah jalan aspal melingkar memudahkan orang untuk menikmati pemandangan di sekitar waduk dari berbagai sudut pandang. Mereka yang senang olahraga dayung juga dapat berwisata sambil berlatih di waduk ini. Untuk mencapai waduk ini cukup mudah. Dari kota Wates hanya berjarak kurang lebih delapan kilometer. Tersedia kendaraan umum yang rutenya melalui Waduk Sermo.

Bila Anda berada di Candi Borobudur, untuk ke waduk itu dapat melalui jalan pintas yang aspalnya sudah hotmix melalui perbukitan Menoreh (selatan Candi Mendut ke Timur). Jarak dari Borobudur kurang lebih 60 kilometer. Sebelum menuju ke Waduk Sermo, di pebukitan Menoreh ada tempat wisata seperti puncak Suroloyo, Sendangsono dan makam pahlawan Nyi Ageng Serang. ''Banyak obyek wisata Kulonprogo yang layak dikunjungi di perbukitan Menoreh, sebelum ke Waduk Sermo,'' kata mantan Kahumas Kulonprogo, Drs Djuwardi di Waduk Sermo, beberapa waktu lalu kepada Republika.

Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi -- 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau.

Waduk Sermo diharapkan mengaliri sawah seluas 8.100 hektar yang berada di wilayah Kulonprogo bagian barat dan selatan. Selama ini, air irigasi diambilkan dari Kali Progo yang dinaikan melalui saluran Kalibawang dan Sapon (Brosot). Kedua irigasi ini dialirkan untuk lahan yang ada di wilayah timur laut dan tenggara. Namun tidak sepanjang tahun air Kali Progo dapat dialirkan melalui kedua saluran irigasi tersebut.

Bukan hanya irigasi saja. Waduk yang mempunyai luas genangan air seluas 157 hektar dan 25 juta meter kubik air dapat digunakan sebagai tempat memelihara ikan bagi warga setempat melalui keramba apung. Menurut Kades Hargowilis, Widianto, warganya akan mengelola keramba apung ini melalui koperasi. Jumlah keramba yang bisa dibuat di waduk ini 100 keramba. Satu karamba diperkirakan menghasilkan ikan air tawar 2,5 ton selama empat bulan. Pada awal dibangun, harga satu kilogramnya Rp 2.000, maka bisa menghasilkan uang Rp 5 juta. Sedang biaya untuk bibit dan pakan saat itu hanya membutuhkan dana Rp 330.000 per keramba. Jadi petani diuntungkan.Apalagi sekarang.

Pada peresmian lalu, Dinas Perikanan DIY telah menabur benih ikan sebanyak satu juta ekor. Diharapkan bibit ikan ini akan menjadi besar dan dapat diambil warga setempat secara gratis dengan pancing. Selain itu, waduk Sermo ini akan memberi manfaat bagi cabang olahraga dayung. Waduk yang mempunyai panjang dua kilometer cukup memadai untuk latihan olahraga dayung.

Banyaknya pengunjung waduk tampaknya tidak disia-siakan penduduk setempat. Mereka menjajakan buah-buahan Desa Hargowilis dan Hargorejo termasuk daerah penghasil buah durian, manggis dan buah-buahan lainnya. Menurut Dr Ir Fatchan Nurrochmat M.Agr, konsultan lingkungan Waduk Sermo, sangat banyak manfaat waduk tersebut. Tidak hanya warga yang berada di hilir waduk, tetapi juga warga yang di hulu. Waduk ini, jelas Nurrochmat, akan menjadi distributor air bagi wilayah Kulonprogo. Bahkan dapat mengurangi banjir yang sering terjadi di daerah Kulonprogo bagian selatan. Terutama daerah yang termasuk aliran sungai Serang.

Alhasil waduk ini tampaknya telah menjadi berkah baru bagi Kulonprogo. Setelah puas melihat Waduk Sermo, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Glagah Indah atau Congot. Di dua pantai ini sudah ada jalan beraspal yang terletak di pinggir pantai. Mereka yang menggunakan kendaraan sendiri dapat mencapai pantai dengan mudah. Pantai Glagah sudah dilengkapi dengan hotel. Di dekat pantai Glagah juga ada tempat wisata Girigondo yaitu tempat pemakaman raja-raja Pakualaman.

Sumber : http://www.republika.co.id

Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders)


Kawasan hutan Pulau Nusa Gede dengan Luas kurang lebih 16 ha yang terletak di situ (danau), yaitu Situ Lengkong Panjalu berada di Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie) pada tanggal 21 February 1919 Nomor 6 (Staatsblad No.90). 2(dua) Tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 November 1921 diterbitkan dalam surat keputusan yang sama ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede (Island), selajutnya diberi nama "Pulau Kooders" dan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders".

Keadaan Vegetasi didalam Cagar Alam ini cukup beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya : Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus Variegata), Huru (Litsea sp), Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).

Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus Vampyrus), Biawak (Varanus Salvator) dan juga dapat ditemukan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur Indus), Raja Udang (Halcion chlors) dan Walik (Treron Griccipilla).

Keadaan topografi Situ Lengkong Panjalu yang merupakan danau dasar daripada danaunya sendiri kurang lebih berkisar 710 meter diatas permukaan laut, sedangkan pulau Nusa Gede yang merupakan kawasan Cagar Alam kurang lebih berkisar 733,14 meter dpl. Keadaan iklim di sekitar kawasan objek wisata ini, meliputi: suhu antara 19c - 32c, dengan kelembaban antara 70%-80%, kecepatan angin 4 s.d 5knots dan curah hujan rata-rata 3.145 mm per tahun.

Keadaan hidrologi khususnya keberadaan air Situ Lengkong Panjalu berasal dari air tanah yang ada pada hutan-hutan di sekitarnya, dan mata air yang terletak pada beberapa lokasi (kampung simpar:2 buah, bojongwaru:1 buah, ciater:1 buah dan kaum:1 buah).

Untuk mencapai ke lokasi ini, dapat ditempuh dari Kota Bandung dengan route :Bandung-Ciawi-Panjalu(Ciamis) yanng berjarak kurang lebih 95km, sedangkan dari Tasikmalaya dapat menggunakan route: Tasikmalaya-Rajapolah-Panumbangan-Panjalu(Ciamis) dengan jarak kurang lebih 40 km an dari Kota Ciamis berjarak sekitar 48 km.


Potensi objek dan daya tarik wisata yang banyak diminati pengunjung ke daerah ini yaitu, objek wisata Situ, Pulau Nusa Gede, Hutan Primer dan Makam Kramat. Tujuan utama pengunjung ke kawasan ini yang paling dominan yaitu untuk berziarah ke makam kramat. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis sebagai objek wisata ziarah. Kearifan lokal yang terdapat dikawasan tidak menjadikan kawasan Cagar Alam terganggu atas kehadiran pengunjung di kawasan ini.

Keberadaan kegiatan Perlindungan (konservasi) alam di Indonesia sangat berkaitan erat dengan nama Dr.S.H. Kooders (1863-1919) sebagai pendiri dan ketua pertama dari Nederlandsch Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming (perkumpulan perlindungan alam hindia belanda). Perkumpulan ini semacam perkumpulan pecinta alam yang mempelopori dan mengusulkan kawasan tertentu dan jenis tertentu, juga pembuat peraturan dan tulisan serta penelitian tentang perlindungan alam (jenis satwa dan tumbuhan).

Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda nenunjuk 55(limapuluh lima) lokasi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, suatu jumlah yang sangat mengagumkan dan sudah tentu perkembangan itu sangat memuaskan hati Dr.S.H. Kooders sebagai ketua dari Perlindungan Alam, diantara sekian banyak kawasan yang diusulkan sudah dinyatakan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument).

Dr.S.H. Kooders meninggal dunia pada tanggal 16 Nopember 1919 dan dimakamkan di Batavia-Jakarta. Dua tahun kemudian diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda tanggal 16 Nopember 1921 yang ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede di objek wisata Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis, selanjutnya diberi nama "Pulau Kooders" sedangkan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders". (sumber:Pandji YK)

Sumber : http://www.wisataciamis.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Permainan Warna Danau Linow


Oleh: Sukawi ST MT

Pagi-pagi kami meluncur ke Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Selama perjalanan, sopir sekaligus pemandu kami, Johnson Kandow, tak henti-hentinya menyebutkan nama-nama tempat wisata yang berada di kiri-kanan jalan yang kami lewati. Ada pebukitan, gua alam, air terjun dan tentu saja bermacam tipe rumah makan.

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti beberapa saat di sebuah rumah makan sambil menikmati pemandangan. Di situ kami menyeruput kopi sembari menikmati biapong, kacang sangrai khas Kawangkoan. Benarlah, tak lengkap rasanya menikmati pemandangan indah di atas pegunungan Tomohon tanpa kacang itu. Renyah, garing, dan sangat gurih.

Kota Tomohon merupakan kota muda yang lahir pada 27 Januari 2003. Kotanya merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon. Begitu resmi berdiri sendiri secara administratif, Walikota Tomohon Jefferson SM Rumayar menyadari benar potensi besar Tomohon di bidang pariwisata yang bisa dikembangkan sebagai kota tujuan wisata.

Dibandingkan daerah lain yang pernah saya kunjungi, Tomohon punya sesuatu yang bisa dijadikan nilai pembeda. Yakni, banyaknya jenis tanaman dan bunga komoditas. Lihat saja pemandangan di sepanjang jalannya: deretan kebun dan pedagang yang menjajakan berbagai jenis bunga, mulai bunga hidup sampai bunga potong.

Sebelum memasuki jantung kota Tomohon, kami diajak Pak John untuk menikmati pesona Danau Linow yang memiliki sumber air panas berbelerang. Letaknya sekitar 3 kilometer dari Kota Tomohon. Meskipun berkelok-kelok, jalanan yang kami lewati cukup mulus. Bagi yang tidak terbiasa melakukan perjalanan darat dengan kondisi jalan seperti itu, mungkin akan merasakan mual-mual atau bahkan mabuk. Tetapi tak usah khawatir, sebab pada sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan hutan dan tanaman cengkeh yang merupakan komoditas utama masyarakat di situ tumbuh melapisi gunung, bukit, dan lereng-lereng terjal. Semua itu mungkin bisa mengobati rasa mual kita.

Lihat juga apa yang tersaji di seputaran jalananan. Punggung-punggung bukit naik-turun berlapis-lapis disaputi sinar kuning keemasan dari sang surya yang memancar dengan redup, dibumbui gemulai pohon nyiur yang menggerombol di sana-sini. Angin pun datang semilir mengembusi permukaan danau yang airnya berwarna kehijauan, melahirkan riak-riak putih kecil-kecil yang datang berturutan. Segar sekali hawanya.
***
Danau Linow memang sebuah keajaiban alam yang sangat menawan. Karena itu, tak mengherankan kalau pada hari-hari libur banyak wisatawan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di danau tersebut. Apalagi ada beberapa fasilitas penunjang seperti bungalow. Itu berupa beberapa bangunan dari bambu yang menjorok ke tengah danau sangat cocok untuk bersantai menikmati hamparan air danau yang dari kejauhan tampak hijau.

Waktu yang paling indah untuk mengunjungi danau itu adalah pagi-pagi atau terlebih lagi. Tapi yang paling asyik di saat petang. Selain tidak panas menyengat, pemandangannya lebih indah karena permainan warna alam, dilengkapi konfigurasi burung-burung liar yang tengah pulang dari pengembaraannya. Pemandangan itu sungguh memesona.

Menurut Pak John, warna danau itu sering berubah bergantung atas kadar kandungan belerang yang ada dalam air danau. Hal itu dikarenakan sepanjang dua ratus meter bagian tepi danau langsung berhadapan dengan sumber air belerang yang senantiasa mengalir ke situ. Pada musim bunga, di tepian danau tumbuh bebungaan yang menebar wangi semerbak, melengkapi kecantikan warna danau tersebut.

Air Danau Linow bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air itu mengandung larutan belerang yang alamiah. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada danau yang berada di wilayah Tomohon ini. Potensi alami yang ada di lingkungan sekelilingnya yang asri dan sejuk juga dipertahankan. Bentuk bangunan pelengkapnya juga diusahakan dengan mengambil filosofi bangunan Minahasa yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Tomohon. Konon, air panas itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena kualitas airnya mengandung sulfur dan magnesium sulfat.

Letak Danau Linow sebenarnya sangat strategis. Dalam perjalanan, wisatawan bisa istirahat di Kota Tomohon, kota yang belakangan tersohor karena aneka ragam tanaman bunga yang dihasilkannya sehingga disebut sebagai Kota Bunga. Berbagai jenis bunga tumbuh di daerah yang bersuhu cukup sejuk itu. Bahkan, kabarnya ada 250 jenis bunga. Menariknya, ada satu jenis bunga yang tak bisa dijumpai di mana pun di Indonesia, yaitu bunga Mufidah Payus. Jenis bunga itu dinamakan langsung Ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia yang tak lain istri Wakil Presiden RI Ny Mufidah Jusuf Kalla.

Di pusat kota Tomohon, dari sebuah bangunan, kita dengan leluasa bisa menyaksikan Gunung Klabat, Gunung Tangkoko, Gunung Dua Bersaudara, Bukit Unima, dan Bukit Makawengbeng. Nama Tomohon sendiri berasal dari kata ”Tou Mu‘ung” yang berarti orang Mu‘ung. Tidak begitu jelas mengapa dinamakan orang Mu‘ung. Tapi dengan adanya sebuah mata air besar bernama Mu‘ung yang kini terdapat di Kelurahan Matani II, diduga itulah asal mula penamaan tempat ini. Tou Mu‘ung yang karena gubahan lidah berubah menjadi Tomohon. Orang Tomohon sering juga disebut orang Toumbulu, yaitu penduduk pengguna bahasa sub-etnis Toumbulu. Toumbulu artinya orang wuluh atau orang gunung.

Yang jelas, Tomohon menyimpan sejumlah pesona wisata alam yang menakjubkan. Contoh lainnya adalah lokasi wisata Air Terjun Pinaras. Lokawisata alam itu tidak terlalu sulit dijangkau kendaraan roda empat karena letaknya berada di Kelurahan Pinaras, Kecamatan Tomohon Selatan. Letaknya juga tak jauh dari kelurahan setempat yang jarak tempuhnya hanya sekitar 10 menit dari pemukiman penduduk. Bahkan dalam waktu 10 menit itu, Anda sudah bisa mencapai titik jatuh airnya.

Tidak ada salahnya untuk mengunjungi tempat tersebut pada akhir pekan atau hari libur. Sebab pesona keindahan alamnya begitu menarik untuk dinikmati. Tapi Anda harus siap merima tantangan: berjibaku dengan ratusan anak tangga untuk mencapai puncak saat hendak pulang.

Lengkap sudah kepuasan yang disediakan kawasan wisata alam Tomohon. Walaupun belum banyak dikenal di luar daerah Sulawesi Utara, Tomohon merupakan prospek pariwisata yang sangat potensial. Keindahan panorama alam yang memukau, potensi flora dan faunanya, membuatnya berpeluang menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di Nusantara.

Eksotika Kota Bunga
Kalau Bandung sering disebut Kota Kembang, dengan kata lain yang bermakna sama, Tomohon disebut Kota Bunga. Dan memang pemerintah setempat telah bertekad menjadikan bunga sebagai penggerak utama roda ekonomi. Tentunya serentetan upaya dan tekad terus digulirkan, termasuk di dalamnya penyelenggaraan berbagai event yang mengetengahkan bunga sebagai primadona.

Tournament of Flowers merupakan salah satu cara untuk mengenalkan kota Tomohon kepada dunia luar. Itulah sebabnya Jefferson SM Rumayar, Walikota Tomohon, dalam berbagai kesempatan terus mengajak warganya memanfaatkan setiap jengkal halaman pekarangan untuk ditanami bunga.

Tentu Anda pernah dengar tentang Tournament of Roses di Pasadena, Kalifornia yang ditandai dengan arak-arakan akbar bertajuk ”Rose Parade”. Biasanya, warga sudah berkumpul memadati tepi jalan yang akan dilalui parade sejak sore hari. Untuk memberi ciri khusus Tomohon sebagai Kota Bunga, Walikota pun menetapkan acara Tournament of Flowers sebagai acara tetap tahunan. Dia tak ragu mengacu pada para di Pasadena sebagai acuan.

Tomohon yang berhawa sejuk memang merupakan tempat yang cocok untuk berkebun bunga. Yang terbanyak adalah bunga lili dengan berbagai warna cerah. Menjelang Natal dan Tahun Baru, di sepanjang jalan tampak penjual bunga berbagai jenis dan warna. Kekayaan bunga juga membuat pemerintah ingin menjadikan kotanya sebagai pengekspor bunga. Maklum, 70% penduduknya petani.

Bunga apa saja yang tumbuh subur di Tomohon? Gladiol, aster, krisan, anyelir, dahlia, dan rosida merupakan tanaman hias yang paling mudah ditemui di sana. Selain itu, ada pula anthurium dan keladi tengkorak (Alocasia cuprea). Kerklily, amarilis, krisan, dan mawar juga banyak dipiara dan diminati. Di Tomohon, kerklily merupakan bunga yang ‘wajib‘ disediakan saat pesta pernikahan. Tradisi menghadirkan kerklily telah berlangsung turun-temurun. Kerklily merupakan bunga lambang pernikahan.

Di antara sekian banyak jenis bunga hias tersebut, aster tergolong bunga favorit. Sebanyak 1,36 juta potong aster dihasilkan petani bunga setempat setiap tahunnya. Meski demikian, angka produksi aster masih terpaut cukup jauh dibanding gladiol. Sejauh ini, produksi gladiol mencatat rekor tertinggi. Sebanyak 2,4 juta potong gladiol diproduksi setiap tahun. Gladiol merupakan salah satu bunga potong yang paling banyak dicari, baik untuk hiasan di gedung pesta atau di rumah huni. Ukuran bunganya yang relatif besar membuatnya eye catching dan pantas dibeli.

Gladiol juga kaya warna. Ada gladiol merah muda, putih bergaris ungu, oranye muda, oranye, kuning, gladiol dua warna, dan tentunya putih. Sayangnya, gladiol cepat layu. Meski begitu, kondisi tersebut masih dapat disiasati. Tentunya, teknik memanen yang benar juga harus diterapkan. Menurut seorang penjual bunga, bunga potong sebaiknya tidak dipanen ketika mentari sedang terik. Panenlah sebelum matahari terbit atau menjelang petang.

Sebagai pioner, Parade Bunga Tomohon patut diacungi jempol. Setidaknya dari segi semangat yang ditunjukkan. Kekayaan jenis bunga dan daun Tomohon jelas akan menjadi unsur penunjang yang signifikan. Dengan elemen-elemen yang dipunyainya, jelas dapat dikemas menjadi sebuah festival budaya yang menarik banyak pengunjung. Kecilnya Kota Tomohon dan keramahan warganya justru cocok untuk menampilkan sebuah pesta rakyat yang meriah dengan Parade Bunga sebagai salah satu atraksi utama.

Penyelenggaraan Tournament of Flowers 2008 beberapa waktu lalu merupakan bagian dari paket Tomohon Festival 2008 yang bakal dijadikan agenda wisata tahunan.

Sumber :gaya.suaramerdeka.com
Foto : http://1.bp.blogspot.com

Situ Bagendit


Lingkungan Alam Fisik
Objek wisata Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi ini merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.

Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.

Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Ajan Sobari dengan status kepemilikan berada di tangan pemerintah daerah yang kewenangannya dilimpahkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut dan pihak swasta yaitu Bapak Adang Kurnia. Berdasarkan perda no. 11 tahun 2001 harga masuk tiket ke kawasan ini Rp. 1.000/orang untuk dewasa dan Rp. 500/orang untuk anak-anak.

Aspek Khusus
Objek dan daya tarik wisata alam Situ Bagendit memiliki kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alam dalam kondisi yang baik. Bangunan-bangunan yang terdapat di kawasan, baik yang permanen maupun semi permanen, dalam kondisi terawat baik. Di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon. Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan terdapat rambu iklan.

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini yaitu penyewaan 60 buah rakit dengan tarif Rp.25.000/15 menit, 11 buah sepeda air dengan tariff Rp.10.000/15 menit yang dalam kondisi yang baik. Terdapat pula beberapa bangku taman dan 6 buah shelter yang disewakan untuk pengunjung dengan harga Rp.3.000/jam. Terdapat juga kereta api mini dengan tarif Rp.2.000 dan kolam renang dikawasan Situ Bagendit ini. Suasana di kawasan objek wisata ini tergolong cukup nyaman dikarenakan pembangunannya sudah direncanakan dengan baik oleh dinas pariwisata namun masih juga terdapat kios liar dan pedagang kaki lima yang dengan sembarangan menggelar barang dagangan mereka sehingga tingkat visabilitas di kawasan tersebut menjadi sedikit terhalang.Objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini beroperasi pukul 07.00-17.00. Kondisi bangunan yang terdapat di kawasan ini dalam kondisi yang baik dengan jenis material bangunan permanen dan semi permanen dalam tata ruang yang cukup baik dikarenakan pembangunan di kawasan Situ Bagendit ini sudah direncanakan dengan baik. Dikawasan objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alamnya dalam kondisi yang baik.di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon yang disebabkan oleh pengunjung.Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan sedikit terdapat rambu iklan.

Sumber daya listrik di kawasan ini berasal dari PLN dengan voltase 220 volt dan distribusi yang cukup. Sumber daya air bersih di kawasan ini berasal dari sumur dan PDAM dengan kualitas air yang jernih, rasa air yang tawar, dan bau air yang normal. Terkadang terdapat kendala pemanfaatan air di kawasan Situ Bagendit yaitu apabila musim kemarau air disekitarnya menyurut. Sistem pembuangan limbah di kawasan ini yaitu melalui septic tank, selokan dan melalui sistem irigasi. Kawasan wisata Situ Bagendit ini juga memiliki sistem komunikasi berupa telepondalam jumlah yang kurang memadai. Terdapat pula jalan setapa dikawasan Situ Bagendit ini yang panjangnya ?b 50m. di depan kawasan Situ Bagendit terdapat tempat parkir dengan luas 1400 m2 dengan daya tampung 30 bus, 60 kendaraan pribadi dan 180 kendaraan bermotor dalam kondisi yang cukup baik dengan lapisan permukaan berupa tanah, namun vegetasi peneduhnya kurang memadai. Terdapat sebuah pos tiket yang juga berfungsi sebagai pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik.terdapat pula sebuah toilet umum dalam kondisi bangunan dan kebersihan yang cukup. Dikawasan ini terdapat taman bermain dengan vegetasi peneduh dan dalam kondisi yang cukup. Terdapat tempat ibadah berupa Mushola dan juga terdapat 10 buah tempat sampah dikawasan wisata Situ Bagendit.

Aksesibilitas
Jarak kawasan wisata Situ Bagendit ini dari pusat kota Garut yaitu 4 km. Terdapat angkutan umum berupa angkot jurusan Terminal Guntur-Kp.Mengger dan Garut-Limbangan dengan tarif Rp.1.500 dan ojeg dengan tariff Rp.2.000.Kualitas pemandangan dan tingkat keamanan sepanjang jalan di kawasan objek dan daya tarik wisata ini cukup baik.jumlah karyawan di objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini yaitu 6 orang. Pengunjung yang berkunjung ke objek wisata ini perbulannya mencapai 400-600 orang. Pengunjug tersebut biasanya berasal dari Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Bandung dan Jakarta.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://lh3.ggpht.com

Menikmati Situ Patenggang, Menyibak Legenda


Oleh : Imam Saefudin

Ciwidey? Ah, hanya sebuah kota kecil di kaki pegunungan, kira-kira 29 kilometer dari Kota Bandung. Walau kecil, dengan udara sejuk dan menyegarkan, Ciwidey terkenal dengan berbagai obyek wisata alam yang menarik, seperti Kawah Putih, wisata alam Ranca Upas dengan penangkaran rusanya, serta bumi perkemahan yang luas dan indah. Masih ada lagi, Cimanggu dan Ciwalini, yang merupakan tempat wisata alam sumber air panas. Yang juga menarik adalah Situ Patenggang, yang mempunyai pesona alam nan indah.

Dinginnya Kota Bandung pagi itu tak menyurutkan niat saya mengunjungi salah satu kawasan wisata alam di Bandung Selatan tersebut. Sejak malam saya sudah mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan selama dalam perjalanan menuju Situ Patenggang, terutama jaket hangat dan kamera untuk dokumentasi serta tidak ketinggalan buku dan balpoin. Geliat kehidupan masyarakat Kota Bandung pada Ahad, 23 Maret 2008, itu mulai terasa, ada yang mau pergi berolahraga, ada yang hendak ke pasar.

Dari Bandung menuju Ciwidey, saya menggunakan angkutan umum Colt L-300. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Satu per satu penumpang naik dan akhirnya mobil yang semula kosong sudah penuh terisi penumpang yang akan menuju Ciwidey. Angkutan umum tanpa penyejuk udara itu terus melaju dengan cepat meninggalkan Kota Bandung.

Selama dalam perjalanan, sang sopir Colt tak bosan-bosannya memutar lagu Iwan Fals berjudul Sumbang, yang dinyanyikan sang sopir dengan suara sumbang. Tapi saya nikmati saja suara sumbang itu.

Sang kondektur dengan cekatan dan terlatih menagih ongkos kepada para penumpang yang berimpitan.

"Kang, berapa ongkosnya?" saya bertanya kepada sang kondektur.
"Lima ribu rupiah saja, Kang," jawabnya.

Tak terasa nyanyian dari kaset yang diputar si sopir cukup menghibur, walau kadang terdengar tape mobilnya bersuara kresek-kresek. Maklum, tampaknya tape itu sudah tua, sama seperti mobilnya.

"Ciwidey..., Ciwidey udah sampai...!" kata sang kernet setengah berteriak.

Sekitar satu jam lebih sampailah saya di terminal kecil Ciwidey. Sejenak saya beristirahat sambil mengobrol ngalor-ngidul dengan seorang bapak penjaga warung. Iseng-iseng saya bertanya, "Pak, kalau mau ke Situ Patenggang naik apa dari sini?"

Pria setengah baya itu langsung menunjuk mobil kuning. "Mobil kuning itu lewat Situ Patenggang, atau bisa juga naik ojek," katanya. Saya pun berpikir sepertinya naik ojek lebih enak karena saya akan lebih puas menikmati indahnya pemandangan sepanjang jalan menuju Situ Patenggang. Setelah negosiasi dengan tukang ojek, saya melaju dengan diiringi deru knalpot sepeda motor. Tentu sebelum itu saya terlebih dulu membayar makanan di warung dan saya juga tak lupa berpamitan kepada si empunya warung.

"Terima kasih, ya, Pak," ujar saya kepada pemilik warung.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," balasnya.

Ojek yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan sedang.
Perjalanan dari Ciwidey menuju Situ Patenggang menyajikan panorama indah dan menawan. Dari terminal bus Ciwidey, jaraknya kurang-lebih 8 kilometer. Kita akan memasuki kawasan hutan pegunungan. Saya dapat menyaksikan dengan jelas keindahan sawah-sawah yang terhampar luas dikelilingi bukit, membentuk sebuah lukisan alam pedesaan yang mempesona.

Sebelum memasuki Patenggang, saya sejenak mampir terlebih dulu di perkebunan strawberry yang ada di sepanjang jalan menuju situ. Kualitas buah strawberry yang dihasilkan di daerah Ciwidey cukup baik, rasanya manis-asam dan menyegarkan. Karena saya punya banyak waktu, saya menyempatkan diri membeli buah strawberry dengan memetiknya sendiri. Ini akan menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan.

Selain itu, saya pun membeli makanan khas Ciwidey lainnya, yaitu manisan jeruk.

Puas berbelanja langsung dari kebun, saya melanjutkan perjalanan. Tak terasa akhirnya saya sampai di Situ Patenggang dengan terlebih dulu membeli tiket masuk.

Kawasan Situ Patenggang selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama setiap Ahad dan hari libur. Di dalam kawasan tersebut saya dapat melihat dengan begitu jelas pesona alam yang ditampilkan, berupa danau dengan airnya yang jernih dan tenang. Pohon-pohon tinggi menyelimuti kawasan wisata ini, berjajar rapi seakan memayungi para pengunjung dari terik matahari. Semilir angin memberi kesejukan.

Situ Patenggang merupakan salah satu obyek wisata alam pilihan bagi keluarga dalam mengisi liburan. Berbagai fasilitas pendukung kenyamanan bagi para pengunjung tersedia dengan baik, misalnya gubuk kecil yang cantik lengkap dengan kursi-kursinya yang bisa digunakan pengunjung untuk memandang pesona alam di sekitar danau. Juga terdapat warung-warung yang menyediakan makanan bagi para pengunjung.

Ingin menyusuri danau dengan perahu? Kita bisa menyewa perahu atau perahu sepeda dengan merogoh kocek Rp 20 ribu. Dengan berperahu-ria, kita bisa menelusuri sepuasnya keindahan alam Patenggang, menikmati semilir angin yang mengalir dari lembah-lembah di sekitar tempat itu.

Situ Patenggang juga menyimpan legenda. Di sana terdapat sebuah batu besar. Menurut cerita masyarakat sekitar, batu itu menyimpan sebuah misteri yang menarik dan romantis. Oleh penduduk di sekitar kaki Gunung Patuha, batu itu dinamakan "Batu Cinta". Karena penasaran, saya bertanya kepada petugas.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, dahulu di kaki Gunung Patuha yang menjulang tinggi ke angkasa terbentang sebuah telaga yang berukuran cukup luas dengan udaranya yang sejuk serta panorama alamnya yang begitu indah. Air telaga itu, menurut legenda, tercipta dari "derai air mata" dua insan berlainan jenis yang sedang dilanda asmara yang telah terpisah begitu lama. Karena begitu besarnya dorongan cinta, keduanya saling mencari, dan bertemulah keduanya di sebuah batu yang cukup besar yang terletak di pinggir Telaga Patenggang. Hingga kini batu ini dinamakan Batu Cinta. Di atas batu besar itulah kedua insan tersebut saling berjanji menjalin asmara dan berjanji tak akan berpisah lagi. Ada kepercayaan di seputar legenda itu, apabila sepasang kekasih mengunjungi Batu Cinta, mereka akan mendapat keabadian cinta. Entah karena cerita itu atau tujuan lain, yang jelas banyak pasangan muda-mudi singgah di Batu Cinta jika mengunjungi Situ Patenggang.

Sumber : http://www.korantempo.com
Foto : http://www.tempo.co.id

Mengunjungi Situs Kota Cina di Dasar Danau Siombak

Oleh Muhammad Tazli

Tahun 1986 pasukan bekho (excavator) mengobrak-abrik lahan yang kini dinamakan Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan, Medan, Sumatra Utara. Areal yang awalnya lahan pertanian milik warga dalam waktu singkat jadi kubangan air raksasa. Kerukan tanah di areal itulah yang digunakan untuk penimbunan Jalan Tol Belmera yang memanjang dari Belawan hingga Tanjung Morawa. Seiring berjalannya pengerukan lahan Siombak, mulailah terungkaplah legenda yang selalu menjadi pengantar tidur bocah-bocah di daerah ini.

Cerita dari mulut ke mulut tentang kejayaan Kota Tua Cina di kawasan itu pun mulai terbukti. Di areal pengerukan material lumpur pada ke dalaman lima meter banyak ditemukan peninggalan barang-barang kuno. Cerita tentang Kota Cina adalah kerajaan yang makmur dan terdapat pelabuhan internasional yang dihuni imigran Cina pun, tak bisa disangkal. Menurut legenda, Kota Tua Cina hancur setelah menerima kutukan. Kota yang menurut legenda seluas 25 hektar itu terkubur setelah kepah (sejenis kerang) menyerang kota itu.

Dalam pengerukan kawasan Siombak ditemukan barang-barang peninggalan dengan aksara Cina dari tahun 800 Masehi, seperti piring, guci patung Dewa Siwa dan koin yang bertuliskan tahun 800 M. Salah satu yang masih tersisa adalah bangunan kelenteng tua yang berada di semak-semak, dekat pemukiman warga. Menurut berbagai sumber, bangunan itu peninggalan abad ke-11 Masehi. Ketika itu, banyak ditemukan benda-benda kuno. Sejak saat itulah, warga tak berhenti mencari benda-benda kuno. Para pencari kerang pun berprofesi ganda. Mencari kerang sambil mencari harta karun. Tak jarang pula mereka mendapat hasilnya, yang paling banyak adalah penemuan keramik kuno.

Dari data Balai Arkeologi Medan, benda-benda kuno yang ditemukan di kawasan itu antara lain Arca Buddha besar, Arca Laksmi, fragmen keramik dan bata dari masa Dinasti Sung dan Yuan, batu pahatan merupakan batuan beku yang berbentuk prisma segi empat dengan ukuran tinggi 50 cm, lebar atas 30 cm, lebar bawah 40 cm dan tebal 23 cm, dan lain-lain. Sebagian keramik yang ditemukan di Paya Pasir diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 13-14 Masehi) dan Dinasti Sung (abad akhir abad 10-13 Masehi). Sedangkan koin mata uang berasal dari masa Dinasti Tang (abad 10 Masehi) dan Dinasti Sung (abad 11 Masehi).

Benda-benda itu kini disimpan di Museum Negeri Sumut, sebagian masih berada di tangan warga. Tak Cuma itu, beberapa tahun lalu seorang warga Ismail, menemukan bangkai perahu yang panjangnya 30 meter. Perahu itu bukan perahun nelayan, dilihat dari ukurannya diperkirakan perahu niaga. Perahu tersebut hingga kini masih terkubur di dasar Danau Siombak, dan belum ada upaya untuk mengangkatnya. Hingga sekarang, pemerintah belum mempedulikan tentang sejarah kota Cina ini, sehingga tak ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui situs sejarah tersebut.

Syahrul Idrus, tokoh masyarakat setempat mengatakan, hendaknya pemerintah merekonstruksi ulang, bangunan rumah penduduk ditata sedemikian rupa. Menjadikan Danau Siombak ini sebagai wisata budaya. Digarap secara serius, untuk bisa menghasilkan aset yang menjadi pemasukan untuk Pemko juga nantinya. Namun jangan sampai pembangunan mengabaikan warga. Kalau kita berpikir, alangkah sayangnya perahu tua yang diduga digunakan untuk menyeberangi Selat Malaka itu dibiarkan saja tertimbun di dasar danau.

Beberapa waktu lalu, investor Malaysia bahkan sudah memagari lokasi ini, penduduk tidak lagi bisa sembarangan di lokasi ini. Menurut pengakuan mereka, lahan ini telah dijual seharga Rp 2 miliar. Namun sekarang prosesnya tertunda karena keadaan mantan Wali Kota, Abdillah, yang sekarang ditahan. Warga begitu tertekan ketika pihak pengelola, mulai memagari lokasi ini. Mereka yang lahir di sini, seakan tak mempunyai kuasa apa-apa terhadap kampung halamannya sendiri.

Satirnya, jika Anda ingin tahu lebih jelas tentang sejarah Kota Cina ini, Anda bisa pergi ke Prancis, bisa jadi di museumnya lebih jelas gambaran sejarah tentang Kota Cina ini, karena beberapa barang penemuan telah dijual warga kepada turis Prancis yang ternyata lebih peduli dibanding masyarakat Indonesia sendiri.

Sumber :http://www.hariansumutpos.com

Melongok Takengon dari Atas Awan


Oleh: Ngarto Februana

Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, dengan airnya yang kebiru-biruan dan dikelilingi perbukitan, sangat mempesona.

Berulang kali aku mencoba untuk selalu mengalah.... Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku.... Lengkingan suara merdu penyanyi Betharia Sonata mengiringi perjalananku dari Banda Aceh menuju Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, awal April lalu. Sopir Colt L300 itu tampak bersemangat memutar lagu-lagu yang mendayu-dayu tersebut. Diputar berulang-ulang, dibolak-balik. Pita kaset sampai kusut.

Pagi itu udara panas. Angkutan umum tanpa penyejuk udara itu terus melaju di Jalan Raya Banda Aceh-Medan; meninggalkan Banda Aceh, kota yang tiga tahun silam luluh lantak oleh gempa dan tsunami. Beberapa kali moda antarkota itu berhenti untuk menaikkan penumpang. Dengan udara gerah, perjalanan 320 kilometer, selama delapan jam, tentu akan melelahkan.

Untunglah pemandangan selama dalam perjalanan cukup menghiburku. Setelah melewati Kecamatan Indrapuri, sekitar 25 kilometer dari Banda Aceh, di kanan-kiri jalan membentang perladangan, hutan, dengan latar belakang perbukitan hijau.

Sampai di Taman Hutan Raya Cut Nyak Dhin, Saree, Aceh Besar, udara terasa sejuk. Sekitar sepuluh ekor kera duduk berjejer di tepi jalan sambil tolah-toleh tak jelas tujuannya. Seekor monyet besar kemerah-merahan nekat duduk di tengah jalan, di sebuah tikungan jalan menurun. Ulahnya merepotkan pengendara. "Kok, nggak takut, ya?" komentar seorang penumpang.

Colt L300 hitam yang kami tumpangi sempat ngetem setengah jam di Pasar Bireuen untuk mencari tambahan penumpang. Sekitar pukul empat sore, mobil melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Setelah 30 menit meninggalkan Kota Bireuen, mobil mulai mendaki pegunungan, melintasi jalan berkelok-kelok di bawah tebing. Dinginnya udara dataran tinggi Gayo mulai terasa.

Teganya hatimu padaku sayang.... Kau tinggal diriku sendiri. Aku tahu, semua pun tahu, hatiku hanyalah untukmu seorang.... Sialan, lagu itu lagi yang diputar, batinku, ketika mobil memasuki Kabupaten Bener Meriah. Sambil terpaksa terlena oleh lagu itu, aku menyaksikan keindahan tebing-tebing tinggi di sisi kanan, yang dilapisi hutan heterogen. Menoleh ke kiri, jurang curam menganga. Dari mobil, melihat ke bawah tampak bentang alam mempesona. Bukit-bukit yang puncaknya tampak dari atas, lembah ngarai, dan nun di kejauhan tampak perbukitan biru tua tersapu awan tipis.

"Baru pertama kali ini, ya, ke Takengon?" tanya penumpang di sampingku.
"Ya. Indah sekali tempat ini," kataku sambil melirik ke kiri, ke lembah ngarai yang membentang luas, ketika mobil menekuk di tikungan tajam.
"Danau Laut Tawar lebih indah lagi," katanya.

Danau itulah salah satu obyek wisata yang hendak aku kunjungi, dalam kesempatan cuti besar dari kantor tempatku bekerja.

"Di sini banyak tempat bagus," ujar sopir, yang asli orang Takengon. "Ada juga pemandian air panas di Simpang Balik. Yang di atas paling panas, 70 derajat. Yang di bawah, dekat pasar, ndak begitu panas. Jorok tak terurus," ujar si sopir sambil mengganti kaset yang katanya lagu khas Takengon.

Hujan rintik-rintik ketika mobil memasuki Kabupaten Aceh Tengah, melalui jalan berkelok-kelok, naik-turun. Di tengah hujan deras, sekitar pukul 19.00, mobil sampai di depan Hotel Triarga--penginapan pinggir pasar yang cocok untuk pelancong berkantong cekak.

Danau Laut Tawar terasa menggodaku untuk menyambanginya, ketika aku memandangnya dari jauh esok paginya. Danau itu hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempatku menginap. Dinamakan Laut Tawar karena air danau ini tidak asin alias tawar. Ia berada di ketinggian 1.120 meter di atas permukaan air laut, berudara dingin, dengan suhu rata-rata 20 derajat Celsius. Danau di timur Kota Takengon itu seluas 5.817 hektare.

Tapi aku ingin melihatnya dari ketinggian terlebih dulu. Bersama dua pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat--yang baru kukenal di Takengon--kami meluncur ke utara, menjauh dari kota.

Di Singah Mata, tempat tinggi di tikungan jalan menanjak, sekitar lima kilometer dari kota, kami terpesona oleh keindahan danau nun jauh di bawah sana. Di antara sejuknya udara dan sepoi angin yang berembus dari lereng bukit kebun kopi, kami menyaksikan birunya danau.

"Kalau dari sana, kota dan danau akan terlihat semua. Indah sekali, Mas. Coba saja ke sana," kata pemilik warung di Singah Mata sambil menunjuk ke puncak sebuah bukit.

Aku memandang ke puncak bukit di sisi barat. "Bukit apa itu?" tanyaku.
"Pantan Terong," kata pelayan warung. "Besok kita ke sana," kata Dwi Broto Agung Basuki, pegiat LSM yang sudah setahun tinggal di Takengon tapi belum pernah ke Pantan Terong. "Sekarang kita mau ke mana lagi?" tanyaku tak sabar ingin segera ke Pantan Terong. "Kita ke Bener Meriah dulu," ujar Bening Sugianto, rekan Dwi Broto dari Yayasan Bina Usaha Lingkungan. Bening hendak menunjukkan hamparan kopi di Bener Meriah.

Melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun di tepi tebing perbukitan, kami pun meluncur menuju kabupaten yang merupakan pemekaran dari Aceh Tengah itu. Di Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, kami sempat mampir ke Balai Penelitian Kopi untuk menyaksikan pembibitan kopi. Delapan tahun silam, desa itu ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi ke Takengon, saat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia.

Aroma bunga kopi sudah tercium begitu memasuki desa-desa di Kecamatan Bandar. Di kiri-kanan jalan aspal berliku-liku, menghampar luas kebun kopi milik rakyat. Lereng-lereng bukit berlapis kebun kopi tampak dari kejauhan. Apalagi ketika memasuki Desa Buntul Kemumu, Kecamatan Permata. Wow, sejauh mata memandang, tampak kebun kopi semua.

Puas sudah menjelajahi perkebunan kopi. Hari sudah sore. Azan magrib terdengar dari masjid. Hujan turun. Kami pun kembali ke Takengon.

Kesempatan yang kutunggu untuk segera menikmati keindahan Danau Laut Tawar dari Pantan Terong belum juga tiba. Hari berikutnya, rekan-rekanku malah mengajak kembali ke Bener Meriah untuk mengunjungi monumen Radio Rime Raya (RRR), tepatnya di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Tugu di belantara Rime Raya itu dibangun untuk mengenang jasa RRR dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ketika ibu kota Indonesia, waktu itu Yogyakarta, diduduki Belanda pada 1948, radio itu menyiarkan ke seluruh penjuru dunia bahwa Indonesia masih berdiri kukuh.

Capek juga menjelajahi beberapa tempat menarik di dua kabupaten itu. Sehari menjelang pulang ke Jakarta, barulah aku bisa menikmati Danau Laut Tawar dari Pantan Terong.

Dari pusat kota, puncak bukit itu hanya berjarak 7,5 kilometer. Persis di puncak bukit dengan tinggi 1.350 meter di atas permukaan laut itu berdiri gazebo, helipad, musala, dan kantin. Siang itu Pantan Terong sepi. Tapi pada waktu tertentu ramai, dengan berbagai atraksi kesenian tradisional, berupa tarian dan didong (berbalas pantun).

Yang menarik, dari Pantan Terong, kita bisa menyaksikan Danau Laut Tawar dan Kota Takengon secara utuh berikut perbukitan yang mengelilinginya. Kita juga leluasa memandang lapangan pacuan kuda di Kecamatan Pegasing, Bandara Rembele, dan hamparan kebun kopi di lereng-lereng bukit. Awan putih berarak di atas perbukitan--rasanya kami berada di atas awan.
Danau dengan air kebiru-biruan, dikelilingi gundukan-gundukan bukit, bayangan bukit samar-samar di air danau, bias cahaya matahari memantul dari permukaan air. Awan bergulung-gulung di atas perbukitan. Sungguh indah.

Selanjutnya, tiba saatnya untuk menyambangi danau itu. Sengaja kami memilih sore hari, untuk menikmati senja di tepi danau. Dari atas jembatan besi di atas sungai--yang merupakan luapan air danau--aku menyaksikan keramba-keramba di tepi sungai dan nelayan mencari ikan. Lalu, dengan mobil Kijang, kami mengelilingi danau melewati jalan aspal di lereng bukit pinus sepanjang tepian danau. Tak lupa, kami mampir di kedai persis di tebing tepi danau. Sambil menyeruput kopi Gayo yang terkenal itu, kami menyaksikan langit senja dan pantulan cahaya keemasan di permukaan air.

Gelap malam membungkus danau. Kami pun kembali ke penginapan. Kesan indah tentang danau, perbukitan, lembah ngarai, aroma kebun kopi kubawa pulang sebagai kenangan.

Sumber :www.korantempo.com
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Melintas Alam Liar Danau Sentarum di Kalbar


Oleh: Muhlis Suhaeri

Suara mesin menderu. Kami berburu melawan waktu. Bagai sebuah pertandingan, kami seolah saling kejar, sikut dan menjatuhkan. Tak ada yang mengalah. Memperebutkan satu piala: kami harus segera sampai tujuan.

Sore yang indah bagi sebuah perjalanan. Langit cerah terlihat pada semua bidang. Hanya sepetak awan mengantung pada sebelah sisi cakrawala. Menyisakan gumpalan-gumpalan awan berjajar dan tak teratur. Terlihat bagai cabikan daging yang melepuh termakan waktu. Pucat dan kuyu.

Pada sebuah tepian sungai Nanga Suhaid, serombongan perahu cepat speed boat bersandar di dermaga. Masyarakat sekitar biasa menyebut perahu cepat ini dengan sebutan speed. Perahu ini dari serat fiber glas dengan mesin 40 pk. Cukup untuk menampung lima orang. Ukuran perahu selebar satu setengah dan panjang empat meteran. Tinggi perahu dari permukaan air sekitar setengah meter. Warna cat perahu berwarna-warni. Kontras dengan pemandangan alam sekitar, yang hijau menghampar. Riak dan gelombang sungai, membuat perahu bergoyang. Laksana boneka kecil sedang ditimang dalam momongan.

Hari itu kami menuju Lanjak. Perjalanan ini merupakan rangkaian dari kunjungan kerja Wakil Gubernur LH. Kadir ke beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu. Sebelumnya, kami melakukan perjalanan dengan mobil dari Pontianak menuju Sejiram, Kecamatan Seberuang, Kapuas Hulu.

Dari arah Sintang menuju Sejiram, sebagian besar jalan hancur. Di Sejiram rombongan menginap. Paginya, ada pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat. Wakil Gubernur menyerahkan sumbangan bibit karet dan sumbangan untuk gereja di Sejiram. Gereja Santo Fidelis di Sejiram merupakan gereja tertua di Kalbar. Ordo Fratrum Minorum Capucinorum, Ofm Cap, Kongregasi Imam Katolik dari Belanda, membangun gereja pada tahun 1890. Seiring dengan masuknya agama Kristen di Kalbar. Sekarang ini, pemerintah telah menetapkan gereja sebagai peninggalan bersejarah dan dilindungi.

Dari Sejiram, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Nanga Suhaid. Di Nanga Suhaid rombongan berhenti dan mengadakan tatap muka dengan masyarakat. Dari sinilah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lanjak. Hancurnya infrastruktur jalan, membuat rombongan menggunakan perahu cepat. Perjalanan dengan perahu lebih efisien dan menghemat waktu. Bayangkan! Bila melalui jalan darat, kita harus meluangkan waktu sekitar 8-9 jam. Dengan perahu cepat, hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam saja.

Lanjak merupakan satu wilayah di Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu. Kami berlima dalam perahu. Dini Hariyanto, Yunus, Budi, Susano, dan aku sendiri. Tiga orang pertama adalah pegawai Pemda Kapuas Hulu, bagian protokoler dan Polisi Pamong Praja. Nama keempat merupakan supir perahu, atau biasa disebut motoris. Dini seorang yang aktif dan banyak bercerita. Yunus dan Budi lebih banyak diam. Dini mampu menyemarakkan suasana. Dini duduk di depan bareng Susano.

Kami bercanda sepanjang perjalanan. Suara musik dari seperangkat tape recorder, juga menyemarakkan suasana. Meski lagu house music yang diperdengarkan tak karuan juntrungnya, namun cukuplah menemani selama perjalanan.

Perjalanan ini membuat adrenalin yang ada di tubuhku seakan bergolak. Sebuah perjalanan yang kunanti. Menjelajah alam liar. Penuh tantangan dan petualangan. Belasan perahu telah berangkat duluan. Kami perahu terakhir. Ketika pertama kali gas ditarik, Dini, Yunus dan Susano mencondongkan badannya ke depan. Cara itu dilakukan, agar moncong perahu tidak naik ke atas. Deru suara mesin membelah air danau. Menyisakan buih dan cipratan pada buritan perahu.

Selama menit-menit pertama, perahu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos permukaan sungai Kapuas yang airnya sedang pasang. Susano melakukan gerakan memutar dan menghindar, bila dilihatnya ada gelondongan dan serpihan kayu menghadang. Perahu wana merah dengan tulisan New River itu, seolah menari-nari di atas air. Kami yang ada di perahu makin duduk merapat, menikmati hempasan demi hempasan.

Pemandangan sungai Kapuas sungguh elok. Deretan tetumbuhan hutan tropis berjajar di sepanjang sisi sungai. Bentangan air sungai Kapuas berwarna hijau agak kecoklatan memisahkan deretan itu. Sungguh perpaduan fantastik dan eksotik. Aku yakin, andai pelukis Van Gogh masih hidup, dia akan menyapukan kuas dan mendokumentasikan keindahannya. Setara dengan rona keindahan lukisan Sun Flowers-nya.

Perahu melaju dengan kecepatan sekitar 40 perjam. Kami melewati aliran sungai Kapuas. Sekitar 30 menit berlalu, perahu mulai memasuki wilayah danau. Luas danau Sentarum sekitar 80 ribu hektar tahun 1992. Data terakhir, danau ini seluas 90 ribu hektar. Rencananya, pemerintah akan memperluas area danau hingga 132 ribu hektar.

Sangking luasnya, tepian danau seakan tak terlihat. Deretan bebukitan yang mengitari danau, hanya menyembulkan seujung garis putih saja. Beberapa kali, perahu menerobos celah tumbuhan danau. Tujuannya, untuk memangkas dan memperpendek jarak tempuh. Tentu saja perahu harus mengendorkan lajunya, bila melewati celah itu. Bila tidak, siap-siap saja dahan atau ranting akan menggores tubuh.

Lebih fatal lagi, perahu akan menabrak pohon. Meski sudah melewati daerah ini puluhan kali, orang bisa saja tersesat dan berputar-putar pada daerah yang sama. Penanda jalur perjalanan sedikit sekali jumlahnya. Seorang motoris hanya mengandalkan pengalaman dan daya ingatnya, bila berhadapan dengan jalur ini. Biasanya, deretan bukit dan pohon dijadikan sebagai tanda, di mana perahu harus berbelok dan mengarah.

Langit mulai berubah. Mendung mulai memayungi area danau. Awan hitam merata pada semua sisi. Tak lama, gerimis mulai turun. Kami menarik terpal warna hijau di buritan perahu. Segera saja, terpal dengan batangan besi itu, memayungi badan perahu. Ombak di danau mulai terasa. Menggoyangkan perahu berukuran kecil itu. Perahu mengurangi laju dan mulai berjalan pelan.

Motoris melongokkan kepala keluar. Dia mencari celah dan memecah ombak, agar perahu tidak terhempas. Sebuah kerja penuh perhitungan dan pengalaman tersendiri. Tinggi ombak memang tidak seberapa. Antara puncak tertinggi dan terendahnya, sekitar 30-40 cm. Namun, bila tidak cukup hati-hati, ombak sanggup menggulingkan perahu.

Bila sedang berhadapan dengan kondisi alam seperti ini, setegar apa pun seseorang, nyali bisa ciut juga. Ya, perasaan itu manusiawi sifatnya. Bagaimana dengan orang yang sudah terbiasa melintas di danau?

“Ada perasaan takut juga sih,” kata Susano.
Perahu tetap melaju meski terjadi hujan dan gelombang. Tak ada pilihan lagi. Mau ke tepi juga jauh. Satu-satunya pilihan, perahu mesti berjalan pelan menembus ombak. Setelah sekitar 15 menit diterpa hujan dan gelombang danau, cuaca mulai mereda. Kami langsung menyingkapkan terpal. Gas perahu ditarik. Dan suara mesin kembali memecah keheningan danau air tawar terlengkap speciesnya di dunia ini.

Menurut data di Suaka Margasatwa Danau Sentarum, ada sekitar 207 jenis flora yang tercatat di Sentarum. Ada sekitar 120 jenis ikan. Jenis ikan itu antara lain, arwana Sclerophages formosus, belida Chitala lopis, toman Channa micropeltes, betutu Oxyeleotris marmorata, jelawat Leptobarbus hoevenii, ulanguli Botia macracanthus, dan lainnya.

Berbagai jenis fauna yang populasinya tinggal sedikit dan terancam punah, juga ada di sini. Fauna itu adalah, burung rangkong (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo pygmaeus), buaya muara Crocodylus porosus, buaya sinyulong Tomistoma schlegelli, buaya siam Crocodylus siamensisi, macan dahan Neofelis nebulosa, ruai Argusianus argus, bangau susu Ciconia starmii, dan lainnya. Kabarnya, ada 12-16 jenis species yang belum ada nama latinnya.

Pemerintah pusat menetapkan danau Sentarum sebagai suaka margasatwa melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 757/Kpts-II/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982.

Danau ini menawarkan banyak hal. Selain potensi ikan air tawar berlimpah jumlahnya, danau juga menyediakan berbagai potensi. Ada pulau Putri Melayu dan Tekenang. Pulau ini akan dijadikan obyek wisata alam. Ada potensi ilmiah yang bisa dijadikan berbagai obyek penelitian. Karenanya, pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, mencanangkan wilayah ini sebagai obyek ecotourism.

Tak heran jika di pulau Tekenang, ada pusat penelitian dan kantor suaka marga satwa. Danau Sentarum merupakan danau air tawar cukup unik. Bila musim hujan, area danau akan tergenang. Air danau berwarna merah agak kehitaman. Warna itu muncul karena hutan gambut di sekitarnya.

Danau Sentarum merupakan penyeimbang debit air di sungai Kapuas. Bila air sungai mulai menurun, maka air danau mengalir menuju sungai Kapuas. Kondisi itulah yang membuat debit sungai air Kapuas cenderung normal. Bila musim kemarau, permukaan danau akan kering di beberapa bagian. Pada saat itulah, ikan dalam jumlah ribuan ton, akan mengumpul pada beberapa sisi danau.

Pada beberapa bagian danau, terlihat pohon hitam melepuh. Area itu bekas terbakar pada musim kemarau. Menyisakan batang pohon yang memancang. Pemandangan ini memberi warna tersendiri pada kondisi danau.

Setelah melintas alam liar danau Sentarum hingga satu setengah jam, kami sampai Lanjak. Di sepanjang pinggiran danau, deretan kayu terapung di air dan terikat satu dengan lainnya. Sebagian telah terangkat ke darat dan tertata dengan rapi. Namun, banyak juga yang teronggok di sepanjang jalan.

Kayu itu memang dihanyutkan ke sekitar Lanjak. Kayu berasal dari berbagai wilayah di sekitar danau. Biasanya, kayu yang sudah berada di sekitar Lanjak, akan diangkut dengan jalan darat menuju perbatasan. Setelah itu akan dibawa ke Malaysia. Dengan dilarangnya masyarakat melakukan penebangan liar, nasib kayu itu juga tak tentu arah. Senasib dengan kondisi masyarakat sekitar. Yang juga terpuruk kehidupannya.

Begitulah perjalananku hari itu. Melintasi sungai dan danau air tawar, memberi pengalaman tersendiri bagi kehidupanku. Betapa potensi alam nan luas dan menghampar, masih menyisakan sebuah tanda tanya.

Akankah, potensi itu dibiarkan sedemikian rupa dan tak tersentuh? Atau, dia akan dipoles, bak layaknya seorang penari? Yang akan berlenggak-lenggok mengitari arena, dan membuat siapa pun mata memandangnya, akan terbelalak dan terpana dibuatnya?

Tentunya, hal itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Nah, kalau Anda mau mencoba dan berpetualang alam liar, silahkan datang ke sana. Dijamin, Anda tak akan pernah menyesal.

Sumber :http://muhlissuhaeri.blogspot.com/search/label/Wisata
Foto : http://muhdiya.files.wordpress.com

Danau Ranau, danau dengan sejuta legenda


Danau ranau adalah obyek wisata yang terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten OKU. Tempat wisata yang terletak di wilayah Lampung Barat terletak di Desa Lombok yang telah dibangun daerah wisata terpadu yang meliputi Hotel, tempat penangkaran rusa dan lain – lain. Selain itu rumah penduduk juga akan dijadikan tempat menginap untuk para wisatawan, sehingga mereka bisa merasakan tinggal di rumah panggung.

Menurut penduduk yang ada disekitar danau terdapat banyak kisah yang menceritakan asal usul terjadinya danau ranau, dan salah satunya yang saya tulis dibawah ini.

Asal Danau Ranau
Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.

Konon saat itu, masyarakat yang berasal dari berbagai daerah seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, Komering, berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut. Masyarakat dari berbagai daerah itu pun berkumpul dengan membawa makanan seperti sagon, kerak nasi, dan makanan lainnya.

Persis saat akan menebang pohon, masyarakat kebingungan bagaimana cara memotongnya. Ketika itulah muncul burung di puncak pohon yang mengatakan untuk memotong pohon, mereka harus membuat alat yang bentuknya mirip kaki manusia. Mereka pun akhirnya membuat alat menggunakan batu yang gagangnya dari kayu. Akhirnya pohon ara pun tumbang. Lalu dari lubang bekas pohon ara itu keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara pohon ara yang melintang kemudian membentuk Gunung Seminung. Karena marah, jin yang tinggal di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Sedangkan serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit yang ada di sekeliling danau

Di samping itu, masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.

Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup yang diyakini sebagai makamnya Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makamnya Si Mata Empat. Si Pahit Lidah yang oleh masyarakat disebut sebagai Serunting Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. Karena dianggap nakal, oleh raja, Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini diusir ke Sumatera. Akhirnya, dia pun menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.

Si Pahit Lidah memiliki kelebihan, yakni setiap apa yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat yang berasal dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di Way Mengaku keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan.

Salah satu yang dilakukan adalah memakan buah yang bentuknya seperti aren. Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah. Karena makan akhirnya dia tewas. Sementara itu, Si Mata Empat yang mendengar kabar lidah Si Pahit Lidah beracun tidak percaya dan mencoba menjilatnya. Akhirnya, dia pun tewas. Peristiwanya, menurut penuturan H Haskia, terjadi di Pulau Pisang. Lalu, kuburannya ditemukan di pinggir Danau Ranau.

Sumber : http://www.seruit.com
Foto : http://cyberwoman.cbn.net.id

Danau Toba Masih Mempesona


Oleh: Viktor Siagian

Berwisata ke Danau Toba, ketika mendapat tugas ke Sumatera Utara, pertengahan Agustus lalu, sangat mengasyikkan. Tidak hanya memanjakan mata dengan pesona alam, tapi juga sekalian menengok kampung halaman, yang sudah sebelas tahun saya tinggalkan.

Danau bertipe vulkanik ini merupakan danau terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Secara administratif, Danau Toba berada di tujuh kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Tanah Karo, dan Simalungun.

Parapat, kota wisata di tepi danau, merupakan pintu masuk ke Danau Toba, berjarak sekitar 180 kilometer dari Medan, dan sekitar 60 kilometer dari Kota Pematang Siantar. Kota yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Toba Samosir itu dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 3,5 jam dari Medan. Terletak di jalur lintas tengah Sumatera, kendaraan umum, baik taksi maupun bus, yang menuju kota ini cukup banyak. Ongkosnya mulai dari Rp 20.000—65.000. Sebagian turis domestik dan mancanegara menggunakan kendaraan ini.

Dengan naik taksi dari Kota Padang Sidempuan, saya memulai perjalanan ke Danau Toba, dengan ongkos Rp 110.000. Hari sudah sore, pukul 14.00 ketika saya berangkat bersama dua orang teman. Selepas Kota Medan, tampak pemandangan alam khas Sumatera Utara berupa perkebunan kelapa sawit dan karet yang silih berganti. Pemandangan ini bisa kita saksikan mulai dari Tanjung Morawa sampai Tiga Dolok. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi dapat singgah berteduh sambil makan-minum di perkebunan karet atau di rumah makan yang ada di daerah tersebut. Terkadang ada juga yang menjual durian di sekitar perkebunan ini.

Sesudah Kecamatan Tiga Dolok, pemandangan berganti dengan alam pegunungan, yang merupakan bagian Pegunungan Bukit Barisan: sawah, kampung, dan hutan pinus.

Kami sempat singgah di Balige, yang merupakan kampung kakek saya, 30 tahun lewat. Sekitar enam kilometer sebelum Balige, ada suatu tempat strategis untuk menikmati pemandangan Danau Toba, dengan keindahan yang luar biasa berupa hamparan sawah nan hijau, kampung (huta) Batak dengan rumah adatnya, perbukitan. Dari tempat itu, terlihat dengan jelas Balige, Laguboti, Porsea. Bentangan Pulau Samosir pun terlihat hampir keseluruhan.

Ketika memasuki Kota Parapat, mulai terlihat hutan-hutan pinus yang masih tertata asri. Sebelumnya saya beranggapan bahwa hutan-hutan di sekitar Danau Toba ini sudah gundul. Ternyata dugaan saya meleset, boleh dikatakan masih asri seperti sepuluh tahun lewat.

Hari sudah malam ketika kami sampai di Parapat. Selesai mandi, kami langsung pergi ke pantai Danau Toba. Tidak banyak aktivitas pada malam hari di daerah ini. Hotel-hotel berbintang umumnya menyuguhkan musik hidup yang dapat terdengar dari kejauhan. Sambil menunggu malam larut, kami minum kopi. Rasanya nikmat apalagi udaranya sejuk. Cukup banyak turis yang menghabiskan waktunya dengan minum kopi atau bandrek di kedai-kedai di Kota Parapat.
Berwisata ke Kota Parapat pada hari libur harus siap mengeluarkan dana yang lebih besar dari hari biasa. Hotel-hotel dan rumah makan menaikkan harganya 200—300 persen dari hari biasa. Hotel kelas melati yang terletak di dalam Kota Parapat harganya paling murah Rp 200.000. Hotel berbintang dan wisma di sini paling murah Rp 500.000 per malam. Kami menginap dua malam di Hotel Sedayu, dengan tarif kamar standard Rp 150.000 per malam. Bagi saya itu sudah cukup.

Tak lupa kami menyempatkan pergi ke Pulau Samosir bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 Agustus. Sore itu, dengan kapal fery kami meluncur ke Pulau Samosir, tapi hanya sampai Tuktuk Siadong. Ongkos feri untuk satu kali perjalanan, saya cukup merogoh kocek Rp 7000.

Hanya setengah jam kami berada di Pulau Samosir, sebelum kembali lagi ke Parapat. Di Desa Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, saya sempat mengunjungi makam Raja Sidabutar, yang sudah ratusan tahun. Yang unik, di pulau itu terdapat kampung turis asing mancanegara, tepatnya di Desa Tukuk Siadong. Umumnya para turis itu menginap di sana sudah lama, satu sampai dua bulan. Sebagian adalah turis backpackers. Mereka menginap lama di sana karena tarifnya murah, yang berkisar antara Rp 60.000 sampai 120.000. Umumnya mereka membawa mobil atau motor ke Pulau Samosir, yang diseberangkan dengan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan fery Ajibata.

Di Tomok, saya mencari kendaraan untuk berkeliling Pulau Samosir. Saya pun mendatangi penyewaan sepeda motor milik Sinaga.

"Abang mau sewa motor?” tanya Sinaga.
”Syaratnya apa?” tanya saya.
”Hanya KTP.”
”Berapa sewanya?"

Ia bilang Rp 25 ribu per jam. Saya tawar Rp 20 ribu minimal dua jam. Okelah. Yang unik, motor rental ini tidak dapat keluar pulau karena tidak ada nomor polisinya. Sampai saat ini rental mobil belum ada di Pulau Samosir, tapi sangat mungkin pada waktu mendatang.

Ada beberapa tempat wisata yang asyik untuk dikunjungi di pulau itu, seperti air terjun di Simanindo, pemandian air panas Kota Pangururan, Tuktuk Siadong, seminari di Nainggolan. Dengan motor sewaan itu, saya berkeliling ke sebagian pulau ini. Tapi saya tak sampai Nainggolan karena dibutuhkan waktu sekitar sepuluh jam pulang pergi. Saya hanya sampai Kota Pangururan, yang merupakan ibu kota Kabupaten Samosir, sejauh 45 kilometer dari Tomok.

Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan khas pedesaan orang Batak, di sebelah kanan Danau Toba dan di sebelah kiri pegunungan. Jalannya cukup mulus, sudah diaspal dengan hotmix. Daerah ini terasa aman. Kabarnya di Pulau Samosir tidak ada pencurian dan perampokan. Masyarakatnya sudah terbiasa dengan turis. Mereka sudah dididik oleh pemerintah daerah setempat untuk menyadari bahwa salah satu pendapatan andalan daerahnya berasal pariwisata.

Terus terang ini pertama kalinya saya menjelajahi Pulau Samosir, biasanya hanya sampai Desa Tomok. Ternyata pulau ini sangat indah dan tenang. Suasana seperti itu cocok bagi penganten baru untuk berbulan madu. Bayangkan kita bisa memandang Danau Toba dari bukit di Simanindo, dengan airnya yang tenang, kemudian ada padang rumput dengan kerbau-kerbaunya, sawah yang menghijau dan kampung dengan rumah adat Batak. Saya sendiri tidak sempat memasuki kampung-kampung yang ada di perbukitan. Mungkin lain waktu saya akan ke sana. Tapi saya melihat bahwa hotel-hotel dan cottage mulai banyak dibangun di sepanjang tepi Danau Toba, mulai dari Tuktuk sampai Kota Pangururan.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com
Foto : http://upload.wikimedia.org

Danau Kelimutu di Flores


Oleh Metta Dharmasaputa

Sejaras cahaya jingga seolah membelah langit ketika saya tiba di puncak gunung suatu pagi pada Maret 2008. Pucuk-pucuk cemara tegak di tepian kawah, hening dan berkilau keemasan dalam cahaya fajar. Di ketinggian 1.670 meter, angin dingin menderu menusuk tulang. Yohanes Voda, 61 tahun, menyuguhkan secangkir kopi jahe hangat. Nikmatnya bukan main. Apalagi kerongkongan sudah kering setelah mendaki Gunung Kelimutu.

Seperti semua turis lain yang sudi mendaki satu kilometer anak tangga sampai ngos-ngosan, tujuan saya adalah menikmati keelokan kawah tiga warna di puncak gunung itu: Danau Kelimutu. Tak ada catatan pasti kapan danau tiga warna ini mua-mula ditemukan penduduk setempat. Warna airnya berubah-ubah dari masa ke masa. Namun, kelir air danau paling terkenal adalah merah, putih, dan biru. Inilah warna yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah dasar di berbagai belahan Pulau Flores. Dari masa ke masa, warna ini berubah-ubah seturut dengan musim, cahaya matahari, serta aneka perubahan kimiawi di dasar kawah.

Di sebuah tugu kecil di puncak gunung saya bertemu Yohanes Voda. Dia penduduk setempat yang telah ‘merawat‘ Kelimutu selama 26 tahun terakhir sembari berjualan sekadar minuman bagi para turis. Dia pula yang memandu saya ke puncak menunjukkan kawah tiga warna. Indah, tenang, dan mistis, air danau terbentang jauh di dasar kawah dalam warna hijau kebiru-biruan, hitam, dan cokelat pekat seperti Coca Cola. Pak Tua Voda ibarat ‘juru kunci tak resmi‘ bagi para pelancong Kelimutu.

Di sebuah pelataran dekat tugu kecil, Voda ‘menjamu‘ tamunya setiap pagi--turis lokal dan asing. Mereka datang pagi-pagi benar, mengejar matahari terbit, agar keindahan puncak ketiga danau gunung itu dapat dilahap mata secara maksimal. "Saya sudah 26 tahun berjualan di sini," ujar Voda. Berdiam di sebuah desa di kaki gunung, dia berjalan kaki enam kilometer setiap hari untuk menjajakan kopi jahe khas Ende, teh hangat, serta lembar-lembar tenun ikat.

Kain-kain itu bersepuh warna alami dari akar mengkudu dan daun nila. Selembar kain dia hargai Rp 125 ribu. "Agak mahal karena selembar kain itu butuh tiga bulan untuk membuatnya," kata Voda. Puncak Kelimutu bukan sekadar tempat dia mencari nafkah. Tiga kawah itu dia yakini sebagai tempat bermukim para arwah leluhur suku Lio, suku asli di Kabupaten Ende.

"Tempat ini keramat dan disucikan," kata Voda. Karena itu, ia meminta setiap pengunjung tak sembarang memetik buah dari tanaman khas berdaun merah yang tumbuh di sepanjang bukit. "Itu makanan para arwah. Kalau mau petik, izin dulu," dia menambahkan.
***
Terletak 60 kilometer dari Ende, ibu kota Kabupaten Ende, kawah di puncak Kelimutu telah lama menjadi andalan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Namanya masyhur bahkan hingga ke berbagai belahan dunia, terutama melalui getok tular para turis asing yang pernah melancong ke sana.

Bentuknya mirip danau membuat sisa kawah ini pun disebut Danau Kelimutu atau danau triwarna. Berada di lahan sekitar 5.000 hektare, sejak 1967 kawasan ini ditetapkan pemerintah sebagai taman nasional. Wilayahnya masuk lima kecamatan: Detusoko, Ndona, Ndona Timur, Wolojita, dan Kelimutu.

Van Schuktelen, warga negara Belanda, yang mula-mula ‘membuka‘ informasi danau tiga warna ini ke dunia luas pada 1915. Keindahan Kelimutu kian tesia setelah Y. Bouman, juga seorang pelancong Eropa, menuliskannya pada 1929. Sejak saat itulah turis asing mulai berdatangan. Misionaris asing di Flores turut membawa kabar tentang danau unik ini ke belahan Eropa dan negeri lain. Belum lagi peneliti yang amat tertarik mencari tahu penyebab fenomena alam yang amat langka ini.

Di Ende Lio, penduduk menyebut ketiga danau ini sebagai Tiwu Ata Mbupu (danau orang tua), Tiwu Nua Muri Ko‘o Fai (danau muda-mudi), dan Tiwu Ata Polo (danau tukang tenung) yang dikenal angker. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri hanya dipisahkan dinding terjal selebar 15-20 meter. Sekitar 300 meter di sebelah barat Tiwu Nua Muri terletak Tiwu Ata Mbupu. Masyarakat sekitar percaya bahwa Danau Kelimutu adalah tempat semayam arwah para leluhur. Setelah meninggal, arwah mereka pindah dari kampung ke puncak Kelimutu untuk selamanya. Kawah mana yang akan ditempati tergantung usia dan amal perbuatannya semasa hidup.

Sebelum masuk ke salah satu danau, menurut kepercayaan, para arwah terlebih dahulu menghadap Konde Ratu. Dialah penjaga gerbang Perikonde, yang diyakini sebagai pintu masuk arwah menuju Danau Kelimutu. Di sini setiap pengunjung diperkenankan memberikan kepingan uang logam, sirih pinang, atau rokok sebagai persembahan kepada Konde Ratu.
***
Kelimutu juga memiliki tempat tersendiri di hati Soekarno. Menurut Voda, presiden pertama Indonesia itu biasa bersemedi di puncak gunung semasa keluarganya dibuang pemerintah Belanda pada 1934-1938. Sebagian jejak Soekarno masih terekam di Museum Bung Karno di Jalan Perwira Ende. Sejumlah barang koleksi miliknya masih tesimpan baik. Seperti foto keluarga dan pribadi Bung Karno, barang-barang keramik, dua tongkat berkepala monyet, lemari pakaian, dan tempat tidur.

Di halaman belakang ada sumur yang digali sendiri oleh Soekarno untuk keperluan sehari-hari. Sebagian kalangan percaya airnya berkhasiat menyembuhkan penyakit dan obat awet muda. Musa, penjaga museum, mengatakan: "Ada pengunjung khusus datang untuk mengambil air dari sumur itu."

Peninggalan lain yang menjadi daya tarik museum adalah ruang semadi Bung Karno. Dalam ruang senyap dan dingin berukuran tiga kali dua meter itu Soekarno biasa menghabiskan malam untuk bersujud memohon ‘bantuan‘ bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Anggota DPR Permadi pernah juga bersemadi di situ," kata Musa. Di kota ini pulalah Soekarno mencetuskan ide lahirnya Pancasila. "Jika ke Kelimutu, Bung Karno pergi dengan berkuda," Musa menambahkan.

Guntur Soekarnoputra, anak tertua Bung Karno, meneruskan kebiasaan ayahnya. Voda menuturkan, dua tahun lalu [2006] Guntur datang mengendarai ojek untuk mengambil air dari dasar kawah. Setelah bersemadi dari malam hingga subuh, ia melepas ayam merah. "Sayalah yang menjaga ayam itu," kata Voda.
***
Bagi para turis yang tidak suka pada urusan klenik, ‘keajaiban‘ tiga kawah Kelimutu tetap punya daya tarik. Warna air di ketiga kawah itu terus berubah. Kawah Tiwu Ata Mbupu yang pada 1915 berwarna merah darah, kini berwarna hitam kecokelatan. Begitu pula Tiwu Nua Muri. Kawah aktif dengan kedalaman 127 meter ini terus berubah warna dari hijau zamrud menjadi putih, biru, dan akhirnya hijau muda. Sedangkan Tiwu Ata Polo dari putih, hijau, biru, merah, dan kini cokelat kehitaman.

Menurut sejumlah peneliti, perubahan warna di kawah itu bisa jadi akibat pembiasan cahaya matahari dan pantulan warna dinding kawah, biota air, pantulan dasar danau, serta perubahan zat kimia yang terlarut di kawah. "Luar biasa indah," kata Mary, turis asal Amerika berdarah Indian.

Sayang, keindahan itu tak bisa dinikmati lama-lama. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kabut sudah menyelimuti permukaan kawah. Karena itu, para wisatawan harus berangkat dari Ende ketika hari masih gelap agar setelah dua jam perjalanan mobil, mereka bisa mencapai danau ketika matahari terbit.

Pilihan lain adalah menginap semalam di Kampung Moni, 12 kilometer dari Kelimutu. Kebanyakan turis asal Eropa bahkan bisa menghabiskan 4-5 hari di sana. "Pagi-pagi mereka berlari menuju puncak gunung," ujar seorang staf penginapan. Setelah kabut menyergap, barulah mereka turun.

Perjalanan pulang biasanya menjadi saat-saat menarik karena banyak ‘lukisan alam‘ yang luput terlihat sebelum terang tanah. Persawahan, air terjun, pemandian air hangat, serta jalan terjal yang melingkar di punggung bukit-bukit Flores yang permai.

Sumber : http://hurek.blogspot.com

Danau Limboto


Perairan danau merupakan kekayaan alam yang tidak hanya memiliki peran fungsional bagi kawasan dan penduduk di sekitarnya. Keindahan serta fenomena alam yang ada padanya menjadi aset bagi kawasan itu sendiri. Demikian pula halnya dengan Danau Limboto bagi Kabupaten Gorontalo.

Danau Limboto telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari detak kehidupan penduduk di sekelilingnya. Terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone Bolango, Danau yang cukup besar di Sulawesi ini terhampar di ketinggian 4,50 meter di atas permukaan laut (dpl). Dengan luas ± 3000 hektar, Danau ini dikelilingi oleh lima kecamatan. Yaitu, Kecamatan Limboto, Telaga, Telaga Biru, Batuda’a, dan Kota Barat yang merupakan wilayah Gorontalo Kota. Selain Sungai Bone Bolango, Danau Limboto ini merupakan muara dari empat sungai besar yang berhulu di Kabupaten Gorontalo. Keempat sungai tersebut adalah: Sungai Alo, Sungai Daenaa, Sungai Bionga, dan Sungai Molalahu. Sementara itu, Danau ini juga merupakan hulu dari Sungai Tapodo yang muaranya menyatu dengan Sungai Bone Bolango dan mengalir terus ke laut.

Jika ditinjau dari letak kawasan Danau yang dikelilingi perbukitan, tak tertutup kemungkinan bahwa Danau ini merupakan sebuah kaldera dari sebuah gunung berapi yang meletus ribuan tahun lalu. Kemungkinan ini sangat besar mengingat Pulau Sulawesi merupakan sebuah pulau di Kepulauan Sunda Besar yang sarat dengan gunung-gunung berapi.

Situs Sejarah Danai Limboto Yang Multi Fungsi.
Sejak lama, Danau Limboto ini telah menjadi sumberdaya perikanan air tawar bagi penduduk di sekitarnya. Memang Danau ini memiliki multi fungsi baik bagi penduduk sekitarnya maupun kawasan Kabupaten Gorontalo umumnya. Ia juga merupakan sumber air tawar sekaligus penyangga kehidupan dan tata air bagi masyarakat di bantaran sungai-sungainya. Dengan demikian Danau ini merupakan pengendali banjir bagi sebagian besar kawasan Kabupaten. Melihat kesemua peran dan fungsinya yang sangat penting itu, dapat dikatakan bahwa Danau Limboto memegang peran esensial bagi keseimbangan alam dan ekosistem kawasan.

Mungkin peran penting dan multi fungsi yang disebutkan di atas turut pula memiliki andil dalam perjalanan sejarah negeri ini. Oleh karena, Bung Karno—yang terkenal pandai mengangkat fenomena alam dan sosial negeri ini ke dalam tindakan-tindakan simbolis—pernah mendarat di perairan Danau Limboto. Hal yang sama juga dilakukannya di Danau Tondano, Provinsi Sulawesi Utara. Kunjungan Presiden Pertama Republik Indonesia sendiri rupanya membekas dalam di benak masyarakat Gorontalo. Dan hal ini, ditandai oleh dibangunnya sebuah situs sejarah berupa musium mungil yang apik di tepian Danau. Sebuah dermaga kayu yang terpeliharan sangat baik dibangun pula di depan musium. Dari dermaga yang menjorok cukup jauh ke tengah Danau, kita dapat menikmati panorama Danau Limboto yang sangat indah.

Pemberi Berkah Yang Sedang Merana
Duduk di anak tangga dermaga kayu, di area situs sejarah penringatan kunjungan Bung Karno. Imajinasipun melayang membayangkan situasi Danau Limboto di tahun 50-an. Sekeping kisah diuraikan oleh Bapak Mister Wunani, Kepala Desa Iluta dari kecamatan Batuda’a, yang menemani penulis menikmati senja di tepian Danau.

“Pada tahun 50-an, yaitu ketika Bung Karno berkunjung kemari, kedalaman Danau ini mencapai 27 meter. Itu saya tahu betul, karena, sebelum pesawat Beliau mendarat, kedalaman Danau ini sempat diukur. Waktu itu saya masih kelas 3 (tiga) SD.” Demikian ujar pria berusia 59 tahun itu. Ia sempat terdiam sesaat dengan pandangan menerawang jauh ke tengah Danau. Lalu Ia pun kembali melanjutkan kisahnya.

“...pada waktu itupun Danau ini masih sangat bersih. Tidak ada patok-patok bambu yang kita lihat sekarang ini. Pesawat amphibi yang dikendarai Beliau diikat kurang lebih satu kilometer dari tepi Danau. Dan, Bung Karno mencapai mencapai tepian Danau dengan menggunakan rakit yang diikatkan di atas empat perahu. Air di tepian Danau pada saat itupun cukup dalam. Tidak seperti sekarang yang sudah tertimbun lumpur seperti ini.”

Memang keadaan Danau Limboto saat ini sangat jauh berbeda. Lumpur tebal yang mulai mengeras dipenuhi ribuan enceng gondok yang berbunga ungu. Di beberapa tempat yang masih digenangi air, rumpun-rumpun teratai menyembul dengan daun-daun yang sangat subur. Bunga-bunga teratai berwarna merah muda tampak lebih besar untuk ukuran spesies teratai liar seperti ini. Demikian hebat pendangkalan yang terjadi sehingga hanya menyisakan area perairan nun jauh di tengah sana.

Dalam tulisan ilmiah Achmad S. Sarnita, “Pengelolaan Perikanan Danau Limboto, Sulawesi Utara”, dikatakan bahwa luas Danau Limboto pada tahun 1933 mencapai 7000 hektar. Sementara kedalaman maksimumnya mencapai 30 meter. Sementara menurut catatan Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo tahun 2003, kedalaman Danau hanya mencapai 2 meter saja. Prof. Jassin Tutoli, Ketua Tim Perencanaan Pelestarian Danau Limboto, dalam survai terakhir mencatat bahwa kedalaman Danau Limboto saat ini hanya 1-1,5 meter saja. Sebuah degradasi ekosistem yang sangat memprihatinkan.

Meski kondisinya sudah sedemikian memprihatinkan, Danau Limboto masih tetap memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Belasan gubuk terapung yang dikelilingi oleh bagan-bagan jaring apung tampak di kawasan tengah Danau. Tonggak-tonggak bambu yang mencuat dari permukaan Danau memberi panorama tersendiri. Ikan mas, Gurame, dan Nila Putih adalah jenis ikan yang umumnya dibudidayakan di jaring-jaring terapung tersebut.

Mengelilingi kawasan perkampungan nelayan di seputar Danau, memberikan gambaran yang lebih nyata. Kemarau panjang membuat perbukitan yang mengelilingi Danau tampak meranggas. Kegiatan pendudukpun memperlihatkan fenomena yang justru kontra produktif dengan upaya pelestarian Danau itu sendiri. Di beberapa tempat, di kawasan Batuda’a, penduduk melakukan penambangan batu kapur. Lubang-lubang menganga mirip pintu gua menjadi pemandangan yang tampaknya sudah biasa. Penggalian tanah dengan mengikis bukit menyisakan lahan terbuka yang sangat ringkih di beberapa bahu jalan. Kengerian sesaat membersit membayangkan bahaya longsor yang sangat mungkin terjadi ketika hujan mengguyur.

Memasuki perkampungan nelayan di kawasan tepian Danau menghadirkan suasana yang khas. Kepala-kepala menyembul dari balik jendela. Sementara, penduduk yang sedang santai di warung-warung sederhana tampak tak segan menyapa. Dari dermaga kayu yang sederhana, tampak belasan sampan terikat. Hari masih terlalu siang, tetapi terlalu banyak sampan nelayan yang diam tertambat.

Memang tak banyak nelayan yang turun ke Danau. Hanya beberapa sampan meluncur di permukaan air yang samasekali tak berombak. Burung-burung air sesekali melyang di angkasa, menukik ke permukaan Danau tanpa hasil. Mungkin inilah kenyataan riil dari catatan Sarnita mengenai habitat ikan di Danau Limboto. “...keragaman jenis ikan di Danau Limboto juga mengalami penurunan. Dua jenis ikan tebaran—yaitu ikan tawes dan lele—sudah sukar didapat. Demikian pula dengan ikan sidat, yang merupakan varietas asli Danau. Sedangkan ikan tebaran, nilem, yang memiliki nilai ekonomis tinggi telah hampir pula punah dari Danau ini.” Demikian catatan memilukan dari hasil penelitian Achmad S. Sarnita di tahun 1999.

Urgensi Konservasi Danau Limboto Yang Tidak Bisa Di Tawar Lagi.
Peran dan multi fungsi Danau Limboto tak pernah surut baik bagi penduduk di sekitarnya maupun kawasan Gorontalo. Namun kondisinya dari tahun ke tahun semakin memperihatinkan. Hal ini memaksa kita melakukan sesuatu, meski hanya dalam pemikiran. Apapun upaya yang bertujuan untuk mengkonservasi dan mengembalikan kondisi Danau yang menjadi aset Kabupaten Gorontalo ini patut diperjuangkan. Pemikiran inipun tak pelak memaksa kita memutar rasio dan mempertanyakan apakah yang menyebabkan pendangkalan Danau ini?

Beberapa pemberitaan lokal dan juga literatur ilmiah menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang menyebabkan pendangkalan Danau Limboto ini. Selain keempat sungai besar yang telah disebutkan sebelumnya, Danau ini juga menjadi muara dari 23 buah anak sungai lainnya. Dapat dibayangkan betapa berat beban yang ditanggung Danau ini jika harus menampung jutaan ton lumpur dari sungai-sungai itu. Mengenai hal ini Mister Wunani mengatakan:

“Pendangkalan ini berasal dari tangan-tangan masyarakat yang tidak mengerti. Sehingga, terjadi erosi. Terlebih lagi, Danau ini kan tempat bermuaranya sungai-sungai besar. Jadi lumpurpun bertumpuk di Danau ini.

Kami membahas masalah pendangkalan Danau ini dalam rapat di tingkat Provinsi. Dari sana diperoleh kesimpulan bahwa perlu dibuatkan check-dam terutama di muara-muara sungainya. Check-dam ini penting untuk menjaga jangan sampai lumpur masuk dan menambah pendangkalan Danau. Kami juga minta agar Danau ini dikeruk, karena kalau tidak Danau Limboto akan mati.”

Kekhawatiran Mister Wunani merefleksikan kekhawatiran umum dari masyarakat di lima Kecamatan seputar Danau Limboto. Oleh karena mayoritas penduduk di kawasan itu adalah nelayan jaring dan petani nelayan jaring terapung. Menurut Wunani selanjutnya:

“...jika tidak ada lagi usaha itu (perikanan danau), mereka tidak punya usaha lain. Mereka mungkin akan pergi meninggalkan Iluta.”

Upaya pembangunan check-dam maupun pengerukan Danau yang diharapkan masyarakat tak kunjung menjadi kenyataan. Meski demikian, masyarakat nelayan di pesisir Danau Limboto tak berputus asa. Upaya alternatif yang disarankan Sarnita untuk mengendalikan tumbuhan air di Danau itu mulai tampak. Tumpukan enceng gondok membentuk tegalan-tegalan panjang membuat permukaan Danau yang tersisa cukup bersih dan luas bagi area budidaya ikan. Namun, cukupkah upaya tersebut untuk menanggulangi proses pendangkalan yang seperti berpacu dengan waktu? Sebuah pertanyaan yang rasanya tak menyisakan waktu untuk berpikir. Tindakan cepat yang tepat adalah satu-satunya jawaban yang dibutuhkan.

Sumber : http://henry.gultom.or.id
Photo :http://upload.wikimedia.org