Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan

Makanan Khas Kabupaten Cilacap Jawa Tengah

Oleh-Oleh Cilacap
Cilacap sebagai kabupaten yang kaya akan hasil laut dan hasil pertanian tentu mempunyai kekhasan dalam kuliner terutama untuk oleh-olehnya. Bisa dijumpai di toko-toko oleh-oleh di Cilacap seperti di sekitar pantai, terminal, pasar, jl A Yani, jl Bakung dan lain-lain.

Ikan Asin
Di Cilacap produksi hasil laut berlimpah. Segala hasil laut mulai ikan, udang, cumi-cumi, kepiting, teripang dan kerang banyak dijumpai dan sebagian diasinkan. Mulai dari yang besar hingga yang kecil seperti teri. Bisa dijumpai di pantai-pantai Cilacap.

Jambal Roti
Jambal roti adalah ikan asin yang terbuat dari ikan jambal. Disebut demikian karena dagingnya yang besar dan gurih dan ada yang sudah dipotong-potong seperti roti.

Sambal Tuna
Sambal tuna biasanya dikemas dalam kaleng seperti sarden. Menggunakan bahan dasa ikan tuna. Rasanya gurih dan pedas. Cocok untuk lauk atau campuran nasi goreng.

Nopia
Nopia merupakan jajanan khas Banyumas termasuk Cilacap. Bentuknya bulat berwarna putih dan berisi campuran gula merah. Rasanya enak. Cara menbuatnya unik yaitu ditempelkan pada kuali panas.

Lanting
Bentuknya yang lucu seperti donat dengan tengah yang bolong tetapi kecil dan keras. Lanting terbuat dari singkong dengan cara digoreng. Kebanyakan berwarna putih tetapi ada juga yang berwarna merah.

Abon Tuna
Ciri khas abon tuna ialah rasanya yang gurih dan kentara sekali serat-serat daging ikan tunanya. Berwarna coklat seperti abon pada umunya. Cocok sekali untuk lauk atau pelengkap pada makan lain.

Terasi
Hampir setiap daerah pantai mempunyai terasi. Yang membedakan terasi Cilacap ialah rasanya yang beraneka ragam. Sangat cocok untuk campuran sambal.

Sambal Teri dan Sambal Udang
Sambal teri dan sambal udang merupakan sambal yang khas dengan rasa yang pedas dan gurih. Cocok untuk lauk atau campuaran makanan lain seperti nasi / mi goreng.

Selai Pisang
Selai Pisang merupakan jajanan khas Cilacap. Dibuat dari pisang yanmg dikeringkan. Rasanya gurih dan manis. Cocok untuk makanan ringan. Ada yang dimodifikasi dengan digoreng dan ditaburi keju atau coklat.

Kripik Tempe
Merupakan jajanan khas Banyumas termasuk Cilacap. Kripik tempe dibuat dari tempe mendoan yang digoreng hingga kering. Bentuknya tipis persegi dan warna coklat. Rasanya gurih dan renyah. Cocok untuk disantap sendiri atau pelengkap makan nasi, soto dan mi.

Kripik Bayam
Kripik bayam merupakan jajanan khas Cilacap. Dibuat dari bayam yang digoreng dengan tepung. Rasanya gurih renyah dan tentu saja menyehatkan karena berbahan dasar bayam. Bentuknya yang tipis dengan warna coklat hijau tentu saja sangat disukai anak-anak. Cocok dimakan tunggal atausebagai campuaran makan nasi atau soto.

Stik Sukun dan Kripik Sukun
Cilacap selain kaya akan hasil lautnya juga mempunyai produk unggulan dibidang pertanian yaitu sukun. Buah sukun terkenal sampai ke luar negeri sampai-sampai Ratu Inggris pernah menyebutnya sebagai buah roti. Buah sukun yang pada dasarnya sudah enak dan gurih seperti roti lebih enak lagi bila diolah. Di Cilacap buah sukun banyak diolah menjadi stik dam kripik. Kripik sukun berbentuk tipis sementara stik sukun berbentuk panjang persegi. Diolah dengan cara digoreng. Rasanya sangat gurih dan renyah.

Sukun menjadi salah satu primadona Cilacap. Selain diolah di industri pengolahan menjadi makanan camilan seperti kripik dan stik sukun, hasil panen buah sukun asal Cilacap banyak dipasok ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Bogor.

Menurut Ny Lubar, salah satu pemasok sukun asal jalan Ganggeng, Tritih Kulon, Cilacap Utara, selama musim panen sukun paling tidak setiap dua hari sekali mengirim satu truk sukun ke Jakarta yang mencapai 2.500 buah.

‘’Saat musim panen sukun, kiriman ke Jakarta rutin dua hari sekali, sedang kota lain hanya saat ada pesanan saja,” katanya kepada CilacapMedia, Kamis (21/2).

Ia setiap hari menerima sukun dari para pedagang yang selama musim panen berkeliling mencari sukun hingga ke kampung-kampung. Tidak sedikit pedagang sukun menggunakan becak sebagai sarana pengangkut.

Tercatat belasan pedagang dan pemasok sukun besar seperti Ny. Lubar yang tersebar di Kabupaten Cilacap.

Berdasar data yang dihimpun produksi buah sukun dapat mencapai 50-150 buah per pohon. Berat buah sukun rata-rata 2 hingga 4 kilogram dengan harga eceran berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 3.500 per buah tergantung ukuran. Musim panen sukun biasanya dua kali setahun antara bulan Januari – Pebruari dan Juli – September.

Ini menjadi peluang tersendiri bagi para petani untuk budidaya sukun secara intensif. Saat ini sukun di Cilacap umumnya merupakan tanaman sampingan atau digunakan untuk penghalang angin belum banyak dibudidayakan secara intensif.

Saat ini banyak dijumpai rumah makan berskala besar maupun warung makan kecil kelas kaki lima yang menyajikan menu seafood yang berada di dalam maupun diluar kota Cilacap. Meski menu sama, namun warung makan seafood ‘’Kalingga’’ ini menyajikan menu andalan sari laut ‘’Kepiting Saos Kalingga’’ yang tidak dapat dijumpai di tempat lain.

Kalingga Seafood yang dikelola oleh Bayu tempatnya mudah dijangkau, berada di Jalan Pemintalan, tepatnya di depan pertigaan Jalan Semangka, Cilacap.

Apa yang beda dari masakan ini? Bila dilihat dari wujudnya, ‘’Kepiting Saos Kalingga’’ tak jauh beda dengan masakan-masakan kepiting lain, hanya saja cara memasaknya merupakan perpaduan saos tomat, saos tiram, telor dan kacang tanah sehingga terasa buket ( kental, red ). Selain itu masakan juga ditambah dengan cabai rawit, bawang daun dan bawang bombay yang memberikan cita rasa masakan.

‘’Untuk resep saos kalingga kami racik sendiri perpaduan dari resep-resep masakan yang kami dapatkan dari internet,’’ tutur Bayu.

Menurut lelaki bertubuh tambun yang telah memulai usaha sejak tahun 2006 ini, memasak ‘’Kepiting Saos Kalingga’’ ini ada beberapa tahapan. Tahap pertama, kepiting-kepiting segar yang hendak dimasak dibelah menjadi dua, demikian juga capitnya sedikit diremukan, agar bumbu masakan bisa meresap. Kepiting-kepiting itu lalu dibersihkan, dan disikat agar bersih dari kotoran. Bersamaan dengan itu, disiapkan pula bumbu untuk ditumis atau lebih dikenal gongso.

Proses gongso kepiting tidak terlampau lama, membutuhkan waktu maksimal 10 menit. Cepatnya proses masak kepiting menurut Bayu, agar calon pembeli yang hendak makan di warungnya selera makannya tidak hilang.

Selesai dimasak, kepiting pun siap disantap, namun jangan lupa, siapkan tang penjepit yang digunakan untuk meremukan totok maupun capit yang keras. Kepiting panas dengan nasi panas pula ditambah dengan teh manis panas menambah selera makan, terlebih disantap saat malam hari. Meski demikian siang hari juga sangat cocok untuk hidangan bersama keluarga maupun kolega.

Untuk bahan baku kepiting, Bayu memilih kepiting lokal yang didapatkan dari nelayan sekitar perairan Segara Anakan. Ukuran kepiting Segara Anakan tergolong besar dalam satu kilogram terdiri 2 hingga 4 ekor kepiting.

Disini calon pembeli dipersilakan memilih kepiting yang diinginkan sesuai dengan porsi masing-masing, mau yang bertelor atau non telor. Agar terjangkau oleh semua kalangan, pembelian minimum tidak dalam kiloan namun dalam ons. Soal harga mengikuti sesuai pasaran, saat ini harga kepiting non telor mencapai Rp 80.000 per kilogram, sedang kepiting bertelor sedikit lebih mahal Rp 90.000 per kilogram.

‘’Kalau kiloan, kasihan calon pembeli, disamping harganya mahal juga porsinya kebanyakan, makanya kami sajikan dalam porsi ons, jadi calon pembeli tinggal pilih besar kecilnya kepiting mana yang disuka, dan sesuai dengan kantong tentunya’’ tambahnya.

Yang menarik, kenapa disebut ‘’Kalingga’’? Bayu menuturkan nama Kalingga berasal dari lingga, yakni eling keluarga.

‘’Saat menyantap kepiting saos kalingga dan menu lainnya bisa eling keluarga atau serasa makan bersama keluarga sehingga diharapkan sehabis makan, pesan lagi untuk keluarga,’’ tuturnya.

Selain menyajikan menu andalan ‘’Kepiting Saos Kalingga’’, disini juga tersedia aneka masakan khas laut lainnya seperti ikan bawal, kakap, udang, cumi-cumi dan kerang. Untuk melayani pelanggannya, Seafood Kalingga buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Bila anda penasaran, kenapa harus menunggu besok? Ajak sekarang juga keluarga atau kolega anda untuk bersantap bersama menikmati ‘’Kepiting Saos Kalingga’’ yang buket mbleketaket dan bergizi tinggi.

Kabupaten Cilacap menpunyai makanan khas lainnya diantaranya :

Tempe Mendoan
Tempe mendoan merupakan tempe yang khas wilayah Banyumas termasuk Cilacap. Bentuknya lebar dan tipis. Biasanya digoreng sebentar dengan bumbu tepung sampai berwarna agak kehijauan. Tidak mentah dan tidak terlalu matang disebut digoreng dengan cara mendo. Cara menyantapnya panas-panas dengan cabe rawit hijau. Bisa juga untuk lauk makan atau tambahan makan lotek dan soto. Dapat dijumpai di pasar- pasar, jln. A Yani, jln. Sutoyo dan lain-lain.

Lontong Opor Cilacap
Lontong opor Cilacap sangat khas yaitu lontong yang disiram dengan kuah opor kental ditambah bumbu kacang. Rasanya sangat nikmat dan gurih. Dapat dijumpai di jln. A Yani.

Serabi Cilacap
Serabi Cilacap dibuat dari tepung, gila merah, kelapa dan santan. Dimasak dengan wajan kecil dari tanah liat di atas tungku kecil dengan bara arang. Bentuknya lebar dan bundar warna putih di tengahnya coklat dengan rasa gurih dan manis. Biasanya dijual pada waktu subuh hingga pagi hari. Dapat dijumpai di jln. A Yani, jln. Sudirman dan lain-lain.

Tahu Masak / Tahu Kecap
Yaitu gabungan tahu goreng, lontong, tauge dan kerupuk merah yang disiram dengan kuah. Rasanya sangat enak dengan rasa kuah yang dominan dengan bawang putih. Dapat dijumpai di jln. Anggrek pada malam hari.

Mi Pangsit
Mi Pangsit Cilacap terkenal karena kelezatannya. Yaitu mi dan sawi rebus, potongan ayam, bumbu dan kuah. Dapat dijumpai di banyak tempat di Cilacap.

Mi Goreng dan Nasi Goreng
Mi goreng dan nasi goreng Cilacap terkenal karena enak dan gurih. Bumbu-bumbunya sangat berani. Mienya dibuat dari mi keriting atau mi yang lebih kecil sehingga tidak eneg. Banyak wisatawan dari luar Cilacap menggemarinya. Dapat dijumpai di banyak tempat.

Es Campur
Di Cilacap es campur terbuat dari buah yang sudah dibuat seperti manisan dengan santan yang kental. Sangat khas sekali. Dapat dijumpai di jln. Wiratno.

Soto Sokaraja
Soto Sokaraja merupakan soto yang khas wilayah Banyumas dan sekitarnya. Ada 2 macam yaitu soto ayam dan soto babat. Biasanya terdiri dari toge, soun, ayam / babat, kobis, kerupuk merah, lontong / nasi dengan kuah warna coklat dari santan tipis dan sambel kacang. Rasanya sangat nikmat. Kadang-kadang dinikmati bersama tempe mendoan atau tempe gembus.

Tempe Gembus
Tempe gembus merupakan jajanan khas Cilacap dan sekitarnya. Bentuknya seperti donat dengan tengah yang bolong. Terbuat dari singkong. Sekarang sudah jarang dijumpai. Biasannya penjualnya hanya ada ketika ada hajatan besar.
WISATA KULINER CILACAP ( 2 )

Tempe Dages
Tempe dages terbuat dari ampas bahan tahu. Warnanya abu-abu, bentuk persegi dan padat. Digoreng dengan dilapisi tepung. Rasanya gurih. Biasanya dijual bersama tempe mendoan, pisang goreng dan tahu brontak.

Mi Ayam
Mi ayam Cilacap banyal dipengaruhi oleh masakan China. Minya berwarna putih dengan sawi rebus, ayam dan kuahnya dipisah. Biasanya ditambah sendiri dengan saus tomat, kecap dan sambal. Rasanya enak dan gurih. Dapat dijumpai di jln. A Yani.

Tahu Brontak
Asal usul nama brontak tidak jelas. Bentuknya segitiga tengahnya diisi potongan wortel dan taoge. Biasanya tahunya berwarna kuning dan digoreng dengan tepung.Sangat nikmat bila dimakan dalam keadaan panas dengan cabe rawit. Banyak dijumpai pada penjual mendoan.

Gudeg Cilacap
Gudeg identik dengan Jogja. Merupakan makanan khas Jawa Tengah dan Jogja. Di Cilacap juga terdapat gudeg dengan ciri khas agak basah dan tidak terlalu manis. Dapat dijumpai di jl. Laut, jl. Sudirman, jl. Sutoyo jl. Martadinata.

Sate Ayam
Sate ayam Cilacap terbuat dari daging ayam yang sudah direbus dengan bumbu dan setelah itu dibakar. Disantap dengan bumbu kacang. Banyak dijumpai di Cilacap. Ada lagi sate ayam yang terkenal yaitu sate ayam Martawi. Ciri khasnya yaitu tusuk satenya ada 2 sehingga ketika dibakar daging benar-benar matang. Dijumpai di jl. S Parman, jl. Katamso dan jl. Gatot Subroto.

sumber:
www.cilacapmedia.com
http://yudhiwidiaagustinus.blogspot.com

Warung Klangenan


Oleh: Djoko Poernomo

Penguji rasa di Warung SGPC Bu Wiryo 1959 di Yogyakarta tidak hanya seorang atau dua orang, melainkan ribuan orang. Mereka para mahasiswa yang setia menyambangi warung tadi sejak didirikan tahun 1959 hingga hari ini.

Kalau dirasa kurang enak atau sebab lain, Warung SGPC Bu Wiryo pasti sudah ditinggalkan para pelanggan. Nyatanya tidak. Bahkan semakin berkibar-kibar meski warung dengan menu sejenis terus saja berdiri di kota pelajar ini.

Semula warung dengan spesialisasi menu nasi pecel tersebut berdiri di sebelah timur kantor pusat tata usaha Universitas Gadjah Mada (UGM) di lingkungan Kampus Bulaksumur. Tetapi, akibat perluasan Fakultas Teknologi Pertanian, warung kemudian pindah ke arah utara ke Jalan Agro CT VIII, Sleman, berseberangan dengan kampus Fakultas Peternakan UGM.

Warung ini didirikan tahun 1959, 10 tahun setelah pendirian UGM, oleh pasangan suami-istri Dario dan Suyati yang memiliki nama keluarga Wiryosoenarto. Kala itu mereka belum memberi nama warung itu. Baru beberapa tahun kemudian, nama SGPC dilabelkan para pelanggan dengan menyebutnya SGPC, kependekan dari sega pecel. Satu menu spesial lain, sup, tak ikut disebut-sebut.

Oleh pengelola sekarang, Kelik Indarto (49), anak tertua Wiryosoenarto, di belakang nama SGPC kemudian diimbuhi potongan nama orangtuanya. Jadilah nama Warung SGPC Bu Wiryo 1959. Angka yang disebut terakhir adalah tahun pendirian.

Pasangan Dario-Suyati tidak keberatan dengan penamaan itu, terutama Suyati yang kemudian sendirian mengomando warung SGPC hingga akhir hayat tahun 1995.

Kecuali menempati rumah sendiri, perkembangan lain warung SGPC adalah diperkenalkannya musik guna memeriahkan suasana sekaligus membuat betah pelanggan. Ini merupakan upaya pribadi Kelik Indarto dua tahun terakhir. Meski demikian, menu utama masih seperti sediakala, yaitu sega (nasi) pecel dan sup.

”Lauknya juga masih seperti dulu, hanya terdiri dari tahu, tempe, dan telur ceplok. Harganya pas bagi kantong mahasiswa...,” tutur Sudadi (49), karyawan paling senior di SGPC. Sudadi—biasa dipanggil para pelanggan dengan sebutan Jon— bergabung sejak tahun 1979 dan hingga sekarang tidak pernah ganti profesi. Demikian pula 12 karyawan lain yang sebagian besar masih ada hubungan kekerabatan dengan pemilik.

Nostalgia
Warung SGPC pindah ke tempat baru tahun 1994. Jam buka di tempat lama, kata Sudadi, disesuaikan dengan jam buka kantor, pukul 06.00 hingga 16.00. Guna memenuhi permintaan pelanggan, jam layanan di tempat baru kemudian diperpanjang hingga pukul 21.00. Sepanjang tahun warung ini tak pernah tutup, kecuali hari pertama Lebaran.

”Pelanggan SGPC mayoritas mahasiswa dan karyawan UGM,” tambah Sudadi. Begitu kerapnya melayani pelanggan, pria asal Kulonprogo, DIY, ini hafal satu demi satu nama para pelanggan yang sekarang sudah “menjadi orang”, di antaranya Gubernur BI Boediono, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu, Juru Bicara Kepresidenan Andi Alifian Mallarangeng, calon presiden Rizal Mallarangeng, ditambah ratusan nama lain.

”Bapak-bapak tersebut, kalau pas pulang ke Yogya atau dinas ke Yogya, pasti meluangkan waktu ke sini. Tak hanya sendirian, tetapi mengajak anggota keluarga,” tutur Sudadi. Mereka menjadikan warung murah meriah ini sebagai klangenan.

Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD yang selalu sarapan di SGPC Bu Wiryo, setiap kali mudik selalu mampir. ”Saya sering menggunakan warung ini untuk bernostalgia...,” ungkap Mahfud, pekan lalu, ketika kepergok di SGPC Bu Wiryo bersama keluarga.

Di sini, warung itulah, Mahfud pada tahun 1980-an bertemu dengan Zaizatun Nihayati yang kini menjadi istri dan telah memberinya tiga anak.

Menurut Mahfud, masakan di warung itu enak, sayurannya segar, bersih, serta suasananya bisa memancing selera. ”Tak terikat protokoler dan bebas bicara dengan semua kalangan,” tambah dia.

Di SGPC orang memang bebas bersuara. Malah beberapa aktivis mahasiswa menjadikan warung ini sebagai entry point berbagai unjuk rasa.

Ingar-bingar
Menurut Gutomo Priyatmono, Direktur Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (Kompas, 17/9/2007), warung itu penuh sesak hingga sore hari bukan saja karena enaknya rasa pecel yang menjadi menu utama, tetapi karena menawarkan atmosfer Yogyakarta.

”Identitas Yogyakarta muncul di sana bukan karena cita rasa sambal pecelnya, tetapi karena persahabatan yang ditawarkan para penyaji sega pecel beserta jus tomat maupun es kunir asam. Persahabatan di sini bukan dalam arti sekadar kenal dan tahu, melainkan persahabatan yang mendudukkan pembeli merasa ‘hidup secara bersama-sama‘ dengan SGPC. Warung sega pecel itu membuat sekat di antara pengunjung dengan berbagai latar belakang dan status sosial menjadi cair,” tulisnya.

Hidup bersama-sama dapat digambarkan dengan hubungan penyaji SGPC yang aktif menyapa, menyilakan, melayani, dan menyajikan sega pecel untuk dinikmati para pengunjung. Sebaliknya, para pengunjung terus aktif menjadi penikmat.

Sumber : http://cetak.kompas.com
Foto : http://community.kompas.com

Gulai Balak Makanan Khas Lampung


Bahan:

  • 1 kg daging sapi/kambing, potong-potong
  • 700 ml santan
  • 5 bh bawang merah, iris halus
  • 3 siung bawang putih, iris halus
  • 1 btr kapulaga
  • 1/2 bh pekak
  • 1/4 btr biji pala
  • 2 btr cengkeh
  • 3 sdt cabai giling
  • 1 sdm bumbu gulai siap pakai
  • 2 sdm minyak goreng

Haluskan:

  • 1 cm jahe
  • 1 cm kunyit
  • 1 cm lengkuas
  • 5 bh bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 1 sdt garam

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak goreng.
  2. Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum.
  3. Masukkan kapulaga, pekak, biji pala, cengkeh, cabai giling dan bumbu gulai.
  4. Tumis sampai harum.
  5. Masukkan bumbu yang dihaluskan, aduk-aduk sampai harum dan matang.
  6. Masukkan potongan daging, aduk-aduk sampai daging berubah warna.
  7. Tutup wajan dan kecilkan api, masak sampai air habis.
  8. Tuang santan, masak sampai daging empuk.
Untuk 8 orang

Sumber : http://www.seruit.com
Foto : http://www.lintasberita.com

Melestarikan Pusaka Budaya


Oleh: Bondan Winarno

Padang, Sumatra Barat- Minggu lalu saya berkunjung ke Padang dan Bukittinggi bersama sebuah tim kecil dalam rangka persiapan Temu Pusaka 2008 – semacam rapat kerja tahunan bagi pihak-pihak yang peduli akan kelestarian pusaka budaya Indonesia. Penyelenggaranya adalah Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Kami sengaja memilih Bukittinggi dan Sawahlunto di Sumatra Barat sebagai tempat pertemuan. Tentu saja, karena provinsi ini sangat kaya akan warisan budaya (cultural heritage), baik yang dapat dijamah (tangible) maupun yang intangible. Apa sih yang dimaksud dengan warisan budaya intangible itu? Contohnya adalah keris yang oleh Unesco telah diakui sebagai salah satu World Heritage dalam kategori pusaka intangible. Sekalipun keris merupakan benda wujud yang dapat disentuh, namun nilai-nilai utamanya justru bukan terletak pada wujudnya. Keris ‘kan tidak untuk merajang bawang, melainkan memiliki nilai-nilai luhur yang lebih dalam.

Kuliner juga merupakan contoh pusaka budaya intangible yang penting. Di banyak bagian dunia, makanan tidak saja berfungsi untuk mengenyangkan perut, melainkan memiliki nilai-nilai sakral dan seremonial. Banyaknya elemen kuliner yang hilang atau semakin langka di tanah air kita membuat Komunitas Jalansutra sejak tiga tahun yang lalu mengikrarkan tekad untuk “melestarikan pusaka kuliner Indonesia”.

Di Sumatra Barat, misalnya, Jalansutra telah melakukan satu langkah kecil pelestarian kuliner Minang. Tahun lalu, di bawah pimpinan Irvan Kartawiria dan Andrew Mulianto, kami membuat “paket wisata khusus” dengan mengunjungi Nagari Kinari, sebuah desa adat di dekat Solok. Kami datang ke desa itu, melakukan sembahyang Jumat bersama dengan warga setempat, lalu dijamu makan siang dengan hidangan khas Minang di sebuah rumah gadang. Setelah makan siang, kami menikmati upacara penyambutan secara adat dengan sekapur sirih, dilanjutkan dengan suguhan tarian daerah dan pencak silat. Kami juga melihat kelincahan seekor beruk (kera) memanjat pohon kelapa, memilih kelapa yang sudah tua, dan kemudian memetiknya. Ini memang cara khas masyarakat memanen kelapa di daerah itu.

Dalam jamuan makan siang di Nagari Kinari itu muncul satu hidangan khas tradisional yang sudah jarang muncul, yaitu pangek pisang. Biasanya, pangek adalah masakan dengan bahan ikan laut dan dipakai sebagai lauk nasi. Pangek pisang memakai bumbu yang sama, tetapi diperlakukan sebagai pencuci mulut atau kudapan, disantap dengan ketan kukus. Istimewa sekali.



Kami semua berpendapat bahwa “paket wisata khusus” seperti yang kami lakukan di Nagari Kinari itu memiliki nilai jual yang tinggi bila dikemas sebagai “komoditi” pariwisata. Di Negeri Belanda, tiap hari ratusan bus hilir-mudik membawa ribuan wisatawan meninjau desa-desa kecil seperti Marken, Volendam, Broek in Waterland, karena wisatawan selalu terpesona akan nilai-nilai budaya yang khas di negeri-negeri yang dikunjungi wisatawan.

Sumatra Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat besar bila ditinjau dari kekayaan budaya dan pusakanya. Sayangnya, tidak semua unsur-unsur itu dalam kondisi “siap jual”. Beberapa “pembangunan” bahkan telah merusak keindahan Kota Padang.

Setyanto P. Santosa, Badan Pimpinan BPPI, misalnya, menunjuk Jembatan Siti Nurbaya yang tampak angkuh dan salah tempat. Jembatan kokoh itu sebetulnya tidak berfungsi karena hanya menghubungkan satu bagian Padang dengan bukit di seberangnya – tempat makam Siti Nurbaya. Padahal, di bagian bukit itu tidak ada jalan utama, sehingga kendaraan harus berputar lagi. Apa gunanya? Alhasil, pada sore hari jembatan itu menjadi tempat jualan makanan.

Padahal, di sekitar jembatan itu adalah bagian kota lama Padang yang dalam kondisi hancur. Bangunan-bangunan di situ sudah tidak terawat lagi. BPPI dan mitranya di Padang kini sedang merenovasi Museum Bank Indonesia yang berdiri di sana. Di seberang Museum BI itu juga ada sebuah gudang besar yang dulunya dimiliki Geo Wehry – perusahaan dagang “Lima Besar” di masa lalu. Oleh cucu pemilik lama, BPPI sedang menyusun rencana untuk mengakuisisi gudang itu dari pemiliknya yang sekarang, dan melestarikannya. Langkah-langkah kecil itu diharapkan akan memicu revitalisasi kota tua Padang menjadi tujuan wisata penting.

Dalam pertemuan dengan Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi, kami sempat mengemukakan bahwa Ranah Minang ini mestinya memakai kuliner sebagai ujung tombak pariwisata. Tidak perlu diperdebatkan, masakan Minang adalah salah satu unggulan dalam kuliner Nusantara yang disukai banyak orang. Selain itu, masakan Minang juga sangat eksotis untuk diperkenalkan kepada wisatawan asing. Seperti halnya Thailand yang berhasil menembus pasar kuliner dunia dengan program “Thai Kitchen to the World” yang digagas oleh PM Thaksin Sinawatra, kuliner Minang merupakan ujung tombak penting bila Indonesia ingin melakukan langkah serupa.




Dibandingkan dengan elemen pariwisata lainnya, kuliner merupakan “objek” wisata yang paling siap untuk dikembangkan terlebih dulu sebagai ujung tombak pariwisata Sumatra Barat. Infrastruktur untuk mengembangkannya pun pasti paling murah.

Pertemuan dengan Walikota Bukittinggi H. Djufri malah membuahkan respon yang luar biasa. Pak Wali menyambut positif usulan BPPI untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisional di wilayahnya dengan mengacu pada pasar-pasar tradisional di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat yang berhasil menumbuhkan ekonomi rakyat sambil menciptakan tujuan pariwisata yang elok. Beberapa acuan mencakup Pasar Orchorkor di Bangkok, pasar tradisional di kawasan kota tua Budapest dan Nice, Grand Bazaar di Istanbul, dan Pike Market di Seattle, Amerika Serikat.

Pasar Atas di Bukittinggi punya kenangan khusus bagi saya. Di pertengahan dasawarsa 1950-an, ketika keluarga kami tinggal di Padang, Ayah punya langganan penjual tempe yang mangkal persis di kaki tangga pasar itu. Semua orang Jawa di Sumatra Barat tahu bahwa di situlah satu-satunya tempat untuk membeli tempe. Kini, tempe sudah merakyat di seluruh pelosok Nusantara.

Sekalipun Pasar Atas masih menjadi tujuan wisata penting di Bukittinggi, tetapi kesan keteraturan tidak tampak di sana. Penjual pisang bakar nyempil di antara pedagang kutang dan celana dalam. Los Lambuang – tempat para pedagang makanan dan minuman – becek dan kotor, sehingga mengurangi keseronokan makan di sana. Secara terintegrasi, Pasar Atas dan Pasar Bawah tentu dapat direvitalisasi dengan desain ulang yang cantik.

Kepada Walikota Djufri, kami juga sempat “melaporkan” Jam Gadang – ikon Kotamadya Bukittinggi – yang retak-retak setelah gempa bumi. Keretakan hanya ditambal sementara, tanpa meneliti kerusakan struktural yang mungkin lebih parah. Di samping itu, penataan lingkungan Jam Gadang tidak membuatnya tampil anggun dan gagah. Sungguh tidak sebanding dengan kompleks Kantor Walikota Bukittinggi yang anggun, megah, dan gagah di puncak bukit.

Serta-merta pula Pak Wali mengundang BPPI untuk mengajukan rencana pengelolaan Jam Gadang dan kawasan penunjangnya. “Saya sekarang memang sedang biru,” kata Pak Wali mengakui afiliasinya dengan Partai Demokrat. “Tetapi, silakan mengembalikan Jam Gadang ke warna aslinya, sambil menata lingkungannya agar menjadi objek pariwisata yang dapat dibanggakan.”

Telah terbukti di seluruh dunia bahwa hanya bangsa-bangsa yang menaruh perhatian pada pelestarian pusaka dan warisan budaya adalah bangsa-bangsa yang mendapat manfaat maksimum dari ekonomi pariwisata.

Walikota Solo Joko Widodo sudah terjangkiti "virus" pelestarian. (Baca: "Bangkitlah Pasarku"). Kini giliran gubernur dan walikota Sumatra Barat dibuat demam dengan virus yang sama.
__________
Bondan Winarno, Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan akan masih terus melanjutkan pengembaraannya. Email : bondanw@gmail.com

Sumber :www.kompas.com
Foto :
http://www.pariwisata.wonogirikab.go.id
http://farm4.static.flickr.com
http://food.detik.com

Tradisi dalam Sepotong Roti


Oleh Lusiana Indriasari

Duduk di kedai sambil menyeruput kopi hitam atau teh panas, ditemani roti bakar sebagai cemilan, sudah menjadi kebiasaan lama masyarakat Singapura. Tradisi itu kini bahkan merambah sampai ke Jakarta. Adalah Yakun Kaya Toast, kedai kopi milik Loi Ah Koon yang menjual tradisi itu ke Jakarta. Bedanya dengan tempat minum kopi lainnya di Jakarta yang modern, kedai kopi milik orang Singapura ini mempertahankan kesederhanaan dalam konsep makanan, penataan ruang, dan peralatan dapur yang digunakan.

Kesederhanaan, misalnya, bisa dilihat dari menu yang ditawarkan. Untuk roti bakar ada enam menu, roti bakar tradisional, roti bakar gula mentega, roti bakar keju, roti bakar perancis dengan keju dan selai kaya, serta roti bakar es krim. Ada juga telur setengah matang, yang oleh orang Asia dipercaya mampu menambah stamina. Di daftar menu, telur setengah matang itu diberi nama soft-boiled eggs.

Cara memasak telur setengah matang ini ada tekniknya. Sebelum gerai dibuka, juru masak di Yakun Kaya Toast sudah lebih dulu merendam telur-telur ayam ras di dalam air panas selama 15 menit. Lantas bila ada yang memesan, telur yang sudah disiapkan di gerai tadi direndam lagi dengan air panas selama lima menit. Hasilnya, telur setengah matang yang tidak benar-benar kental. Saat disendok, telur itu meleleh di dalam mulut. Agar tidak terlalu amis, telur setengah matang bisa ditaburi lada, garam, dan kecap asin yang disediakan.

Tradisi yang sederhana ini ternyata mampu menarik perhatian pembeli. Buktinya, sebagian besar pengunjung yang datang ke kedai kopi itu, menurut Andreas Susanto, Head Supervisor Yakun Kaya Toast, memilih menu tradisional Yakun Kaya Toast, seperti roti bakar tradisional dan telur setengah matang.

Dan perlu diketahui, roti bakar tradisional ini isinya sederhana saja. Dua lapis roti karamel dipanggang selama lebih kurang satu menit, lalu diolesi selai kaya. Di tengah-tengah roti tadi diberi beberapa potongan kecil mentega. Hidangan ini lebih enak kalau disantap saat masih hangat. Kalau digigit terasa garing di luar, tetapi ada kelembutan di dalamnya. Selain itu, perpaduan rasa selai kaya yang manis dan mentega yang gurih sungguh tidak bisa terlupakan. Nyes...!

Selai Kaya
Selai kaya memang menjadi andalan utama Yakun Kaya Toast. Semua roti bakar di kedai itu selalu disajikan dengan selai kaya. Sebagian orang mengira selai kaya adalah selai yang terbuat dari buah srikaya. Namun, sebenarnya selai kaya ini terbuat dari santan, gula, dan telur yang dikocok halus lalu diberi aroma pandan. Bagi konsumen yang kurang puas menikmati selai kaya dalam sepotong roti, gerai Yakun Kaya Toast juga menyediakan kemasan di dalam botol. Anda bisa membawa pulang selai yang gurih ini setelah membayar Rp 88.000 per botol. Mereka juga menjual kopi bubuk dan teh dalam kemasan kantong.

Karena semua roti bakar disajikan dengan selai kaya, yang kemudian bisa membedakan satu roti bakar dengan lainnya adalah pelengkap selai kayanya. Ada roti bakar isi mentega, roti bakar isi gula dan mentega, serta roti keju. Ada juga roti bakar es krim dengan rasa stroberi, cokelat, dan durian. Yang membuat unik roti bakar Yakun Kaya Toast adalah roti karamel yang digunakan sebagai bahan dasar. Roti karamel ini dibuat dengan resep khusus keluarga Ah Koon, tetapi sudah bisa dibuat sendiri di Indonesia.

”Kami memiliki pemasok sendiri di Indonesia,” kata Andreas. Berbeda dengan roti tawar pada umumnya, roti karamel lebih padat. Namun, khusus untuk menu French toast, Yakun Kaya Toast menggunakan roti tawar yang empuk. Pertama, French toast dibakar, lalu di atasnya diberi keju jenis cheddar. ”Roti bakar yang enak bisa untuk memulai persahabatan hari ini.” Begitulah moto yang ditawarkan Yakun Kaya Toast untuk melayani calon pembelinya.

Moto itu dipakai generasi penerus Ah Koon untuk mengenang tradisi di kedai kopi. Pada masa lalu, ketika Ah Koon memulai berjualan kopi, teh, telur setengah matang, dan roti bakar di Telok Ayer Basin, Singapura, pada tahun 1944, pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari kuli, pedagang, rentenir, polisi, dan seterusnya. Para pelanggan ini bisa ngobrol di kedai kopi Ah Koon sampai berjam-jam. Ada yang sekadar mengobrol ringan dengan teman sampai mengobrol urusan bisnis serius.

Tradisi ini tampaknya berlanjut di Yakun Kaya Toast. Pengunjung yang datang ke gerai Yakun Kaya Toast di mal juga betah duduk berlama-lama. Andreas mengamati, ada pelanggannya yang bahkan selalu datang pada pagi dan sore hari. Harga makanan dan minuman di Yakun Kaya Toast relatif murah. Aneka roti bakar itu dijual dengan harga Rp 13.000. Sementara untuk minuman harganya bervariasi antara Rp 11.000 dan Rp 15.000. Minuman yang ditawarkan memang hanya teh dan kopi. Variasinya pun tidak banyak, yaitu hanya teh/kopi asli atau teh/kopi dengan susu atau krim.

Konsep sederhana juga terlihat dari interior dan peralatan dapur yang digunakan. Kalau mau menilik ”dapur” Yakun Kaya Toast yang biasanya terletak di depan tempat penjualan, bisa dilihat teko-teko dengan corong panjang. Di atas teko ada saringan khusus untuk menyaring teh atau kopi yang akan disajikan. Teko-teko ini terbuat dari bahan baja antikarat. Alat untuk memanggang roti di situ juga sederhana saja, yaitu dengan meletakkan kawat baja antikarat ukuran besar di atas kompor gas. Kombinasi kesederhanaan dan selai kaya membuat orang betah berlama-lama di kedai kopi Ah Koon.

Sumber :http://travel.kompas.com

Tepo Tahu, Sajian `Ngangeni` dari Magetan


Oleh: Ida Setyorini

Hidangan berbahan dasar tahu berbumbu kacang banyak ragamnya. Kombinasinya bisa dengan lontong atau ketupat, telur, dan sayuran sehingga namanya tidak sama.

Beberapa di antaranya, tahu gimbal, kupat tahu, dan tahu telur. Nah, Magetan punya sajian mirip, namanya tepo tahu.

Tepo masih berkerabat dengan lontong. Bedanya, bungkusan tepo berbentuk limas atau piramida. Jadi, penampilan luarnya berbeda jauh dari lontong meski sama-sama beras berbungkus daun pisang yang direbus berjam-jam hingga matang.

Melihat penampilan tepo tahu, tidak jauh berbeda dari tahu gimbal atau kupat tahu. Irisan tepo diletakkan di atas piring yang sudah ada bumbu kacang. Kemudian, gorengan irisan tahu plus telur dan tempe yang dipotong dadu mendarat di atas tepo lantas dikucuri kecap manis. Sebagai pelengkap, ada tambahan taoge rebus, cincangan daun seledri, taburan bawang merah goreng, dan kacang tanah goreng.

Tepo tahu paling terkenal di Magetan, Jawa Timur, adalah yang berlokasi di Jalan Pahlawan, persis berhadapan dengan Gedung Pegadaian Magetan. Tidak ada penanda nama pada warung di salah satu jalan utama Kota Magetan itu.

Warung berukuran sekitar 4 meter x 3,5 meter itu merupakan bagian dari deretan warung bercat hijau kekuningan di tepi Jalan Pahlawan. Bahkan, untuk masuk warung, Anda harus menuruni tiga anak tangga karena letak warung lebih rendah ketimbang badan jalan dan trotoar. Hanya ada tulisan kecil dari cat hitam di bagian depan warung, Tepo Tahu.

Warung milik Mbak Ima (27) itu merupakan warisan dari neneknya, Mbah Mami (82), yang baru pensiun mengolah tepo tahu 10 bulan silam. Mbah Mami mewarisi warung kecil tersebut dari almarhum suaminya, Mbah Sudir. Mbah Sudir biasa berkeliling kampung memikul angkringnya sekitar tahun 1940-an. Mereka baru menetap di Jalan Pahlawan tahun 1980-an, lama sebelum Ima lahir.

Meski begitu, masih ada yang tak berubah di warung tersebut: angkring peninggalan Mbah Sudir yang terbuat dari kayu jati berikut sangkutan pikulan terbuat dari rotan. Di tengah angkring tersebut Mbak Ima duduk di atas bangku kayu melayani pelanggan. Para pelanggan duduk di bangku kayu panjang di depan atau samping angkring.

Satu per satu
Gaya Mbak Ima menyiapkan sajian tepo tahu mirip dengan gaya sang nenek ketika saya datang ke sana tahun 2003. Keduanya santai menyiapkan pesanan pelanggan. Kesannya seperti main masak-masakan.

Sajian disiapkan satu per satu, tidak pernah sekaligus. Siapa pun harus sabar dan rela menunggu. Hidangan tersaji sesuai urutan datang, tanpa memandang pangkat atau kedudukan.

Mereka yang tiba duluan, otomatis akan menerima teponya paling dulu. Jadi, jika Anda datang berlima dengan empat rekan Anda, ketika orang pertama sudah menghabiskan hidangan, orang kelima baru menerima tepo. Mbak Ima mengikuti jejak Mbah Mami, tidak pernah terburu-buru dan akan menyiapkan pesanan satu per satu. Selalu.

”Saya juga tidak tahu mengapa harus satu per satu. Pelanggan juga tidak protes,” kata Mbak Ima.

Sebelum mengelola penuh warung tepo tersebut, Mbak Ima belajar dari neneknya selama dua tahun. Mbah Mami sendiri memiliki dua putra dan keduanya tidak turun langsung menyajikan memasak tepo.

Pelanggan setia
Warung itu buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Pelanggannya bukan hanya dari Kabupaten Magetan, banyak juga yang datang dari kota lain. Para pelanggan lama biasanya mewariskan pula kebiasaan makan tepo tahu di warung tersebut kepada anak dan cucunya.

Seperti pengakuan Darmo (40), warga Desa Gorang-gareng yang rumahnya berlokasi 7 kilometer dari Magetan. Dia mengenal tepo tahu tersebut dari ayahnya.

”Dulu, bapak saya selalu makan tepo di warung ini. Saking fanatiknya, ketika beliau sakit, tiap kali ingin makan tepo dia pasti menyuruh anak-anaknya membeli dari warung ini. Sekalipun hujan, saya harus pergi membeli tepo yang dibungkus untuk dibawa pulang buat bapak,” kata Darmo yang Sabtu siang itu datang bersama istri dan anaknya.

Menurut dia, di Magetan banyak penjual tepo, tetapi yang membuatnya kangen hanya warung tepo tahu milik Mbak Ima. Akan tetapi, dia tidak sanggup menjabarkan apa yang membuatnya selalu kangen dengan tepo tahu olahan warung tersebut.

”Wah, sulit menerangkannya. Tidak tahu apa namanya, yang jelas buat saya di sinilah tepo yang paling enak dan pas buat saya,” ungkap dia.

Sunyoto, ayah 8 anak plus 10 cucu, sudah berpuluh tahun menetap di Jakarta, tetapi tiap kali mudik ke Magetan selalu menyempatkan diri menyambangi warung tepo tahu Jalan Pahlawan.
Begitulah, tepo tahu Jalan Pahlawan membuat mereka yang pernah merasakan santapan itu akan kembali ke sana, di mana pun mereka kini.

Sumber :http://cetak.kompas.com
Foto : http://eastjavatraveler.coment

Tahu Campur Tebet, Teman Jos Buka Puasa

Oleh: Vida Adisti

Jakarta - Jika sore nanti Anda melalui daerah Tebet, lebih baik mampir berbuka puasa dulu di warung tahu campur ini. Meskipun tampilannya tak istimewa, namun jangan kaget jika Anda ketagihan dibuatnya! Hmmm nyam nyam...

Ini pengalaman saya, sewaktu baru pindah rumah ke daerah Tebet dan masih belum tahu tempat tempat makan yang enak. Jadinya terpaksa, kalau lagi lapar dengan sedikit nekat menjajal setiap tempat makan yang ada. Karena duit juga semakin menipis karena saat itu belum gajian hehe..., maka sasaran pun sedikit bergeser dari restoran berubah menjadi warung kaki lima.

Suatu saat, ketika lagi lapar-laparnya tepat di depan restoran McDonald, Jl. Dr. Saharjo Tebet, saya melihat banyak warung-warung tenda kaki lima yang menyajikan aneka masakan. Yang membuat saya takjub, di antaranya ada warung tahu campur khas Surabaya. Hmm... makanan lezat satu ini memang favorit saya abisss!!

Dulu, sewaktu masih tinggal di Samarinda malam Minggu tidak akan terlewat tanpa mampir ke tahu campur surabaya langganan saya yang super duper lezat (versi saya lhooo...)! Makanya begitu melihat warung tahu campur di Tebet ini saya pun langsung penasaran.

Meskipun begitu saya sempat pesimis rasanya akan seenak tahu campur favorit saya di Samarinda. Mungkin kecuali kalau penjualnya ternyata bersaudara hehe... pasti resepnya turun temurun. Namun, berhubung perut lapar dan saya pun malas memikirkan makanan lainnya, jadilah saya mampir juga kesana dan tanpa pikir panjang langsung memesan seporsi tahu campur dan es teh manis.

Pesanan pun akhirnya datang. Tampilannya biasa, ada beberapa irisan kentang rebus, daun selada hijau, sedikit mi, beberapa potong kikil yang terlihat empuk dan kuahnya yang berwarna kecoklatan karena dicampur petis. Saya pun sempat berucap dalam hati, "Hmm... tuh khan tampilannya saja beda pasti rasanya biasa deh." Walaupun aromanya bikin ngiler juga.

Ternyata, hmm... suapan pertama langsung bikin ketagihan karena rasanya sangat-sangat pas di lidah. Kuahnya terasa ngeblend dengan petisnya dan kikilnya empuk sekali. Campuran bahannya tidak berlebihan, tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit. Panas kuahnya juga pas jadi bisa langsung dimakan tanpa harus repot mendinginkan dengan cara ditiup-tiup.

Menurut saya untuk menikmati tahu campur ini lebih sedap dimakan tanpa sambal, karena bumbu tahu campurnya lebih terasa. Tetapi bagi yg suka pedas bisa ditambah sedikit sambal sedikit saja, karena sambal yang banyak justru akan mengaburkan rasanya. Suap demi suapan terus berlanjut seolah tidak mau stop, sampai akhirnya tak terasa hingga suapan terakhir. Piring saya pun licin tandas dari kuah tahu campur. Hmm nikmat!

Nah, sekarang warung tahu campur ini jadi favorit tetap saya kalau saya lagi melintas di jalan Saharjo bersama teman atau keluarga. Apalagi jika bulan puasa seperti ini, rasanya tahu campur ini bisa menjadi salah satu menu berbuka puasa yang pas. Gak percaya? Yuk cobain!

Sumber : ramadan.detik.com

Sambal Setan


Oleh: Achmad Sunjayadi

Kebanyakan lidah orang Indonesia menganggap makan tanpa sambal terasa belum lengkap. Hampir semua masakan Nusantara selalu diiringi dengan sambal. Bahkan di Manado, pisang goreng pun dimakan dengan sambal. Kalau pun sambal tak tersedia di meja, beberapa potong gerusan cabai merah atau beberapa potong cabai rawit dicepluskan ke mulut sebagai teman makan.

Perkara kebiasaan makan sambal ini terbawa sampai di luar negeri. Alasannya, masakan yang disantap terasa hambar, belum pedas. Apalagi bila ada sambal yang tersedia pun tidak sepedas sambal dari tanah air. Maklum saja lidah dan perut orang asing berbeda dengan kita. Oleh karena itu, sambal botolan menjadi pilihan untuk dibawa. Untungnya ada sambal botolan. Coba bila harus mengulek sendiri dengan membawa serta cobek batunya. Bayangkan berapa berat bagasi yang harus dibawa.

Mengapa sambal begitu populer di Nusantara dan nyaris menjadi makanan utama, bukan sekedar pelengkap? Hal ini dikarenakan seni kuliner Nusantara bersifat koud eten (hidangan dingin). Sehingga cabai menjadi hal penting dalam setiap masakan. Rasa pedas cabe tidak hanya memberikan rasa yang menggugah selera, tetapi juga memiliki fungsi sebagai pengganti temperatur panas.

Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi Jan Pieterszoon Coen pernah menyebut adanya Ricino Brasiliensi atau lada Chili vocato. Menurutnya ini adalah lombok, cabai merah, atau yang dikenal sebagai cabai Brazil. Orang Brazil sendiri menyebutnya Chili lada. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa asal kata nama ricino dari recche atau reche berasal dari bahasa Portugis. Kata ini mengingatkan kita pada kata rica yang juga mengacu pada cabai atau lombok. Tentu kita ingat ‘rica-rica’, masakan khas Manado. Namun, kata reche menurut pendeta P.J. Veth tidak ditemui dalam kamus Portugis. Veth berpendapat bahwa yang disebut Spaanse peper, cabai Spanyol adalah Capsicum alias cabai Brazil. Pendapatnya ini juga menolak anggapan bila cabai dibawa oleh orang Portugis dari West Indien/Hindia Barat (Amerika Tengah dan Selatan) ke Hindia Timur pada penghujung abad ke-16.

Pendapat Veth beralasan bahwa cabai pun telah ada sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh arkeolog Titi Surti Nastiti bahwa cabai pada masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung dijual. Bahkan menurut Nastiti dalam teks Ramayana dari abad ke-10, cabai juga sudah disebut sebagai salah satu contoh jenis makanan pangan.

Namun, setidaknya kata reche atau ritsjes pernah populer pada 1669 yang dapat diketahui dari syair Van Overbeeke di Batavia:

“Soya, Gengber, Loock en Ritsjes
Maeckt de maegh wel scharp en spitsjes”.
(Kedelai, jahe, bawang putih dan cabai
Membuat perut melilit karena pedas dan diaduk-aduk)

Pendeta Valentijn pun menyebutkan ada tiga jenis cabai merah. Yaitu cabai merah besar, cabai merah kecil, dan cabai kecil yang berwarna kekuningan.

Hal yang mengerikan sehubungan dengan cabai ini adalah sebagai alat untuk menghukum para kuli kontrak perempuan di Sumatra pada akhir abad ke-19 yang dianggap menentang perintah. Jan Breman dalam Koelies, planters en koloniale politiek, Het arbeidregime op de grootlandbouwondernemingan aan Sumatra’s Oostkust in het begin van de twintigste eeuw (1992) menuliskan bahwa para kuli perempuan itu diikat di tonggak berposisi salib, lalu kemaluan mereka digosok dengan cabai.

Sebaliknya para budak pada masa VOC yang mahir membuat sambal mendapatkan tempat ‘khusus’ karena disenangi para majikannya. Bisa jadi ‘harga pasaran’ mereka menjadi cukup tinggi.

Sementara itu dalam turisme, sambal pun mendapat catatan tersendiri. Dalam beberapa buku panduan turisme dituliskan peringatan kepada para calon turis untuk “berhati-hati” dalam mengkonsumsi sambal yang pedas karena ini berurusan dengan kesehatan perut. Tentu tidak akan mengesankan bila liburan terganggu karena masuk rumah sakit gara-gara menikmati sesendok sambal.

Namun, tetap saja ada juga turis yang tetap nekat ingin mencicipi. Seperti pengalaman dari Justus van Maurik, pengusaha cerutu asal Amsterdam yang mengunjungi Batavia akhir abad ke-19. Ia menuturkan: “ Salah satu dari hidangan dalam rijsttafel yang menarik perhatian saya adalah Spaanse peper (lada Spanyol/cabai rawit). Suatu kali saya pernah melihat seorang nona muda dengan pipinya yang kemerahan menikmati lada spanyol seperti menikmati permen bon-bon. Matanya tidak berair. Rasanya, saya tak akan bisa menikmati hidangan itu seperti dirinya karena saya pernah merasakan pedasnya Lombok setan itu. Mulut saya terbuka dan mata sepertinya mau keluar karena rasa panas dan pedas. Rasanya mau meledak. Ini semua gara-gara rasa penasaran dan bisikan pelayan yang menawari saya sambil berbisik: Sambal, toewan?”

Demikian pula pengalaman jurnalis perempuan yang juga seorang guru, Augusta de Wit yang juga mengunjungi Batavia. Pengalamannya yang tak akan terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi sambal. Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti terbakar sehingga harus diguyur air. Sementara itu, air mata bercucuran. Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun, ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut. Ia malah suka dan terbiasa dengan hidangan pedas itu.

Louis Couperus dalam Oostwaarts (1992, 1924) mengingatkan para turis yang belum pernah mencicipi dasyhatnya sambal oelek untuk berhati-hati. “Sebaiknya,” tulis Couperus, “…sambal itu jangan dicampur di nasi, tetapi letakkan di pinggir piring.” Lalu “Setiap suap nasi yang diiringi daging ayam, sapi, atau ikan dicocolkan sedikit sambal.”

Memang selain garam, sebagai cara menghilangkan rasa pedas membakar di mulut, dianjurkan meneguk susu, yoghurt. Jangan minum air apalagi air es. Bergelas-gelas air tak akan mampu memadamkan panasnya cabai. Selain susu, bisa juga dengan mengunyah roti, kerupuk, nasi tapi tentunya jangan dicocolkan ke sambal lagi.

Dalam buku resep lama, Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden (1903) yang juga buku pegangan wajib para perempuan Belanda sebelum datang ke Hindia, tercantum resep “Sambal Bajak”. Sambal ini berpenampilan kasar, persis sawah yang baru dibajak. Atau “Sambal Serdadu”, sambal terasi yang khusus disiapkan untuk bekal para serdadu pada saat ekspedisi atau bertempur. Bahkan pada masa itu, para keluarga Indo ada yang gemar mengoleskan sambal sebagai beleg (isi roti) di atas rotinya. Hmm lekker, zeg !(Hmm lezat!)

Ketika berkunjung ke Belanda untuk pertama kali, saya yang lumayan doyan sambal disuguhi “Sambal Setan”. Terbayang di benak saya, rasa pedas yang luar biasa. Namun, kekecewaanlah yang saya terima. Sambal Setan tidak “se-setan” dan seseram namanya karena minus rasa pedas. Rasanya hanya agak asin manis. Oleh karena itu pada kesempatan berikutnya ketika studi di Belanda, saya membawa beraneka ragam sambal botolan. Terbayarlah dendam lama saya pada Sambal Setan itu.

Sumber : http://sunjayadi.com
Foto : http://4.bp.blogspot.com

Rumah Cina di Pulau Penang

Oleh: Yovita Yani

Menjelang senja di Georgetown, ibu kota Penang, Malaysia, eksotika matahari tenggelam tampak sangat indah di sela-sela deretan pohon kelapa. Saat berjalan mendekati garis pantai, air laut terlihat biru sampai di batas cakrawala.

Penang terletak di sisi barat Semenanjung Malaysia, terdiri dari bagian Pulau Penang dan daratan Penang. Untuk menghubungkannya tersedia fasilitas penyeberangan dengan kapal feri atau melalui Jembatan Penang, sepanjang 13,5 kilometer.

Pulau Penang terkenal dengan pantainya yang indah, yaitu di Tanjung Bungah, Batu Ferringhi, dan Teluk Bahang. Pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Terlebih ketika diselenggarakan Penang International Dragon Boat Festival, yang berlangsung setiap bulan Juni dan menjadi momen untuk menyedot wisatawan.

Pulau Penang menjadi bagian sejarah kolonialisme Inggris. Pada tahun 1786 pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten Francis Light mulai menguasai pulau tersebut. Kemudian Kapten Francis membangun sebuah benteng pertahanan. Benteng itu dinamakan Fort Cornwallis dan menjadi ikon penting Negeri Bagian Penang.

Fort Cornwallis digunakan sebagai pertahanan menghadapi serangan tentara Perancis dan kawanan bajak laut. Nama ibu kota Penang yang diambil dari nama King of George III, mencerminkan warisan kekuasaan Kerajaan Inggris di Penang.

220 Jendela
Walaupun penduduk Pulau Penang berasal dari berbagai etnis di Asia, seperti Melayu, Cina, India dan Burma, mereka telah lama berbaur dengan selaras. Rumah ibadah berbagai agama hidup berdampingan dan pemeluk agama menjalankan ritualnya masing-masing.

Di Jalan Burmah terdapat dua kuil dari komunitas Budhis yang berbeda, yaitu Thailand dan Burma. Yang menarik, Wat Chaiya Mangkalaram letaknya berhadapan dengan Dhammikarama Burmese Buddhist Temple.

Di Wat Chaiya Mangkalaram, terdapat patung Budha yang berbaring miring sepanjang 33 meter dan dilapisi emas. Bangunan utama kuil Dhammikarama atapnya berhiaskan ukiran cantik khas Burma, berwarna keemasan. Di dalamnya terdapat sebuah patung Budha yang berdiri tegak, sementara di belakangnya berjajar rapi patung-patung Budha dengan ukuran lebih kecil.

Ketika menyusuri lorong kota, terlihat beberapa bangunan kuno yang dilestarikan sebagai peninggalan karya seni. Di antara megahnya bangunan-bangunan hotel di sepanjang Leith Street, tampak sebuah rumah besar bergaya Cina, dikenal sebagai The Cheong Fatt Tze Mansion.

Rumah bercat biru ini sering juga disebut La Mansion Bleu, memiliki 38 kamar tidur dan 220 jendela, selesai dibangun pada tahun 1880 di atas tanah seluas 1 hektare. Keindahan dan kerapian rumah mantan ‘Rockefeller dari Timur‘, yang telah direnovasi hingga menyerupai bangunan aslinya, telah membuahkan penghargaan UNESCO Conservation Award tahun 2000.
Menjadi Landmark

Kecintaan pada seni arsitektur dari pasangan Lawrence Loh dan Loh Lim Lee, membuat La Mansion Bleu menjadi salah satu landmark Penang, juga objek wisata. "Saat membeli bangunan ini, turisme tidak menjadi tujuan utama kami. Kecintaan akan sejarahlah yang membuat kami merenovasinya," kata Lim Lee.

Pelestarian rumah Cheong Fatt Tze oleh pasangan Loh dilakukan dengan menggunakan dana pribadi, tanpa campur tangan pemerintah. Awalnya bagian dalam rumah sangat kotor, tangga marmernya telah rusak. Namun, seluruh lantai bangunan masih baik, juga tiang-tiang besi buatan Glasgow, Inggris, yang menyangga bangunan utama.

Ketika memasuki rumah tersebut, kita seakan berada di masa silam. Ruang utamanya begitu luas, dengan jendela dan pintu kayu berukir ornamen khas Cina. Di sudut ruangan terdapat meja bundar terbuat dari marmer dan kursi kayu berayaman rotan.

Sayap kanan bangunan antik tersebut kini disewakan kepada pengunjung yang ingin tidur di rumah abad lalu. Sewa kamar per malam sekitar 200 hingga 800 ringgit, tergantung dari luas kamar dan perlengkapannya. Ketika berbaring di ranjang kayu berukir, dengan tirai kelambu yang menjuntai, mata ini terasa enggan terpejam. Terbayang di benak saya, seorang putri Cina sedang memainkan harpa, sambil menyanyikan lagu tentang cinta.

Surga Makanan
Kehadiran berbagai etnis dengan sajian kuliner masing-masing, membuat Penang dikenal sebagai surga makanan. Mulai dari restoran mewah hingga hawker center, tersebar si sepanjang Jalan Penang. Menyajikan makanan khas Melayu, India, dan Cina.

Hawker center adalah food court yang terletak di udara terbuka. Harga makanan di tempat ini relatif murah. Pengunjung boleh memilih meja di mana saja di area hawker center. Pembayaran dilakukan di meja, setelah makanan diantar.

Aneka menu nasi dapat dipilih di sini. Ada nasi lemak, sejenis nasi uduk dengan lauk ikan bilis goreng, kacang tanah goreng, dan sambal belacan. Cicipilah nasi kandar khas India Selatan. Seporsi nasi putih disajikan di atas selembar daun pisang, dengan pilihan lauk seperti gulai telur ikan, sayur kari, dan rendang. Lauk pauknya mirip masakan Padang, tetapi bumbu rempah-rempahnya terasa lebih tajam.

Atau nasi briyani, dibuat dari beras basmathi dengan bumbu rempah-rempah, seperti bunga cengkih, kulit kayu manis, dan daun pandan. Nasi briyani biasanya disantap bersama chicken makhani, ditambah papadam (kerupuk khas India). Chicken makhani terbuat dari daging ayam yang direndam dalam yoghurt ditambah rempah-rempah, lalu dimasak dengan mentega dan tomat.

Lidah benar-benar diajak menari lewat sesuap nasi briyani ditambah satu gigitan chicken makhani. Paduan rasa pedas rempah-rempah dengan rasa gurih dan segar dari campuran mentega dan tomat, sungguh lezat. Apalagi ketika dicecap, ada aroma wangi pandan berbaur dengan kayu manis yang membelai saraf penciuman. Variasi olahan mi, dari mi rebus, mi hokian, hingga mi pedas szechuan juga dapat dinikmati di hawker center.

Selain makanan, Penang juga menyediakan tempat belanja yang menarik. Beberapa mal menggelar diskon yang menggoda. Namun, belanja di toko-toko kecil yang berjajar di Jalan Penang dan Lebuh Leight lebih mengasyikkan.

Sumber : http://kompas.com

Makanan Termahal Di Dunia

10. Chocolate Variation
Harga berbagai macam coklat yang dihidangkan di Mezzaluna, restoran Italia di Lebua Hotel, Bangkok ini mencapai 5,4 Juta Rupiah. Makanan penutup mewah ini melibatkan lembaran emas yang dapat dimakan, sherbet sampanye dari champagne Roederer Cristal Brut 2000 dan crème brûlée. Rangkaian makanan manis ini ditutup dengan Truffle Perigord, Mousse Coklat Stoberi dan sepotong kue coklat.

9. Coklat Noka
Coklat buatan Noka ini dikenal sebagai salah satu coklat paling lembut dan nikmat di dunia. Dengan bahan berbagai coklat terbaik dari seluruh dunia dari negara seperti Venezuela, Ekuador dan Pantai Gading, coklat ini berharga 8,6 Juta Rupiah per setengah kilo. Bisa dibayangkan coklat dengan berbagai rasa dan aroma khusus menanti untuk membuat lidah anda menari!

8. Cake Sultan
Cake yang hanya dihidangkan di Istana Ciragan di Istanbul, cake ini adalah cake dengan rasa paling menarik dan mewah yang dapat anda temui. Cake yang dibuat selama 72 jam ini berisi buah ara, quince (semacam jeruk) dan pir yang direndam dalam Rum Jamaika selama setidaknya dua TAHUN!. Topping cake ini dibuat dari karamel, truffle dan, dari gambarnya sudah dapat dilihat, lembaran emas yang dapat dimakan. Harganya? 10 Juta Rupiah!

7. Truffle Putih
Truffle (semacam jamur) paling halus dan paling mahal di dunia adalah truffle putih atau truffle alba dari daerah Piedmont di Itali Utara. Satu kilo jamur mahal ini dapat berharga 5 Juta Rupiah. Jamur terbesar yang ditemukan di dunia sampai sekarang memiliki berat 1,5 kilo, dan dibeli oleh Stanley Ho, pemilik kasino Makau, dengan harga 33 Juta Rupiah

6. Chocopologie
Chocopologie buatan Knipschildt ini dijamin akan memberikan pengalaman khusus kepada lidah anda. Toko coklat yang didirikan oleh Fritz Knipschildt pada 1999 menjual coklat truffle termahal di dunia, dengan harga sekitar 50 Juta Rupiah per kilo atau, 2,5 Juta Rupiah per buah. Coklat buatan Knipschildt ini hanya dijual berdasarkan pesanan, Anda dapat mengunjungi pembuatan coklat ini di 12 South Main Street Norwalk di Connecticut, Amerika, untuk dapat mencoba surga kecil berwarna coklat ini.


5. Macaroons Haute Couture
Untuk urusan makanan manis, Pierre Hermé adalah artis luar biasa. Dengan dua toko besar yang menjadi pusat pembuatan macaroons di Paris dan Tokyo, Pierre menampilkan satu lagi resep tambahan setiap perubahan musim (yang berarti empat dalam setahun, bukan dua atau banyak, Paris dan Tokyo kan tidak mengenal musim durian). Macaroons paling terkenal buatan mereka adalah meringue puff dengan bahan pilihan Anda sendiri! Berdasarkan bahan yang dipilih oleh pemesan, macaroon buatan Pierre dapat mencapai harga 70 Juta Rupiah per kilo.

4. The Fortress Stilt Fisherman Indulgence
Makanan yang dibuat salah satu hotel di Sri Lanka ini berharga 145 Juta Rupiah. Makanan ini pernah menjadi makanan kedua paling mahal di dunia. Makanan ini juga tidak kalah nikmat dan menarik dibandingkan dengan makanan biasa. Makanan ini terdiri dari cassata daun emas, serta compote mangga dan delima. Makanan ini akan tampak biasa jika tidak diberi hiasan yang berupa pahatan coklat berbentuk seorang pemancing dan batu akuamarin dengan berat 80 karat

3. Frrozen Haute Chocolate
Sampai sekarang sundae buatan Serendipity 3 selalu ini masuk sebagai sundae (es krim campuran) termahal di dunia, dengan harga mencapai 10 Juta Rupiah per porsi. Tapi kali ini, mereka benar-benar berusaha gila-gilaan. Frrozen Haute Chocolate seharga 250 Juta Rupiah ini adalah hasil kerjasama antara Serendipity 3 dan ahli pembuat perhiasan, Euphoria New York. Sundae ini adalah campuran dari 28 macam coklat, dan 14 di antaranya adalah coklat termahal dan paling eksotis di dunia.

Sundae ini juga mengandung 5 gram emas yang dapat dimakan dan juga ada gelang emas dengan berlian di dasar gelas. Bahkan, sundae ini dimakan khusus dengan sendok emas, dan beberapa butir berlian coklat dan putih, yang dapat anda simpan. Hati-hati saja, jangan sampai tertelan ya!

2. Cake Platinum.
Memang tidak banyak diproduksi, tapi cake seharga 1,3 Milyar ini tentunya tidak akan anda lewatkan dengan warna berkilau indahnya. Cake ini dibuat oleh Nobue Ikara, seorang pastry chef terkenal dari Jepang, sebagai penghargaan atas kaum wanita. Kue yang didedikasikan kepada wanita Jepang terkenal seperti Rinko Kikuchi dan Chie Kumazawa ini diharapkan agar mendorong kaum wanita untuk mau menggunakan perhiasan dari Platinum

1. Strawberries Arnaud
Kita tentunya tahu bahwa resep Strawberries Arnaud adalah es krim strawberry, dengan lemon dan anggur merah. Tapi strawberry di restoran Arnaud di News Orleans, Amerika, tidak hanya sekedar buah potong biasa. Bedanya adalah di toppingnya, berupa cincin berlian pink 4.7 karat yang pernah menjadi milik Sir Ernest Cassel, satu-satunya di dunia. Harga makanan ini? 14 Miliar Rupiah, kenapa? karena selain cincin eksklusif tadi, strawberry juga dihidangkan dengan minuman Charles X Crystal yang berharga 250 Juta Rupiah per botolnya. (hct/ari)

Sumber : http://lostamast4.wordpress.com

Indonesia Punya Tempe, Malaysia Ada `Tempeh`

Oleh Elin Yunita Kristanti

Indonesia dan Malaysia banyak punya kesamaan, termasuk soal kuliner. Tempe di Indonesia juga biasa dikonsumsi di negeri jiran, tapi dengan nama sedikit berbeda, yaitu “tempeh”. Demikian juga dengan lontong yang di Malaysia dikenal dengan “nasi himpit”, atau “kuih bingka” yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama “bika Ambon”. Kesamaan kuliner dua negara inilah yang menjadi salah satu kajian dalam Konferensi Internasional Hubungan Indonesia-Malaysia di Universitas Malaya, Malaysia.

Dalam makalah yang disampaikan Profesor Sudrajati Ratnaningtyas dari Universitas Winaya Mukti Bandung, secara kultural Indonesia, kuliner Malaysia, dan Singapura punya kesamaan, sama-sama Melayu. "Tak ada satu negara yang boleh mengklaim secara ekslusif satu masakan tertentu," kata dia, seperti dimuat New Sabah Times, Kamis 26 November 2009. Dilihat dari sejarahnya, kuliner Melayu adalah perpaduan dari beberapa unsur budaya yakni China, India, Arab, dan Eropa. "Paduan unsur-unsur itu membentuk satu aliran kuliner yang unik," kata Ratna.

Terkadang, kata dia, sebuah makanan diklaim secara eksklusif oleh sebuah negara, namun dengan nama yang sama juga diklaim negara lain. Tempe, misalnya, makanan juga dikonsumsi masyarakat China dengan nama “koji”. Meski harus diakui bahwa tempe merupakan kontribusi masyarakat Jawa dalam khasanah kuliner, namun makanan sejenis sudah dikenal di China 5.000 tahun lalu.

Ratna juga menyoroti sebuah laman Malaysia yang mengklaim 100 “masakan asli Malaysia”, yang merupakan aksi balasan klaim sejumlah orang Indonesia atas rendang. Di antara 100 makanan yang diklaim Malaysia tersebut terdapat nasi lemak, nasi ulam, nasi kerabu, laksa, rendang, serunding (serundeng), kari kepala ikan, roti canai, tosai, dan kuih bakul. Menurut Ratna, klaim atas beberapa makanan seperti rendang, laksa, dan beberapa masakan harus dilihat secara utuh, dan memperhatikan unsur sejarah.

Bumbu rendang, yang dikalim dua negara, Indonesia dan Malaysia, kata dia, telah dikenal pada era Majapahit pada Abad ke-14. Setelah Majapahit menduduki Palembang, ibu kota Sriwijaya, laksa menjadi makanan favorit para petinggi Majapahit. "Sekarang laksa yang aslinya dari India menjadi makanan spesial baik di Indonesia, Malaysia, maupun Singapura," kata Ratna. Setelah runtuhnya Majapahit, Portugis menduduki Malaka dan juga menyebarkan pengaruh kulinernya.
Kajian sejarah kuliner Melayu diharapkan bisa mencerahkan kontroversi dan aksi saling klaim masakan tertentu, khususnya antara Indonesia dan Malaysia. Menurut Ratna, yang harus dipahami adalah bahwa ada kesamaan kultur di antara dua negara serumpun itu. "Budaya bukan suatu hal yang berdiri sendiri, lebih baik kita berbagi daripada saling klaim," kata dia.
__________
Elin Yunita Kristanti, Jurnalis www.vivanews.com.

Sumber : http://nasional.vivanews.com

Identitas Personal Makanan Yogya


Oleh: Ons Untoro

Di Yogya hadir beragam menu makanan yang menunjukkan identitas daerah. Mendengar satu jenis menu makanan tertentu yang menyertakan nama lokalitas, orang akan segera tahu, menu makanan itu berasal dari daerah tertentu. Sate madura, kata di belakang sate menunjuk daerah dari mana sate itu berasal. Coto makassar, soto kudus, masakan padang, masakan khas sunda, dan seterusnya.

Namun, lain dengan jenis menu makanan Yogya. Apa yang menunjukkan identitas daerah tidak ditemukan. Yang ditemukan malah identitas personal. Identitas daerah digantikan identitas personal. Atau kalaupun menunjukkan daerah, sifatnya lebih khusus dan lebih menunjuk nama kampung. Untuk menyebut beberapa jenis menu makanan yang menggantikan identitas daerah menjadi identitas personal, misalnya gudeg. Sulit ditemukan nama gudeg Yogya, yang mudah ditemukan adalah menunjuk nama orang, misalnya gudeg Juminten, gudeg Bu Tjitro, dan sejumlah nama lain yang menunjuk identitas personal pada jenis menu gudeg. Pada jenis menu yang lain, sebut misalnya, ayam goreng, ada ayam goreng Mbok Sabar, ayam goreng Ny Suharti, dan beberapa nama lain.

Pada identitas khusus untuk menggantikan nama daerah dengan menyebut nama kampung, misalnya bisa ditemukan, soto kadipiro, meski letak warungnya ada di Jalan Bantul, identitas kampung disertakan barangkali untuk menunjukkan bahwa soto yang ada di Jalan Bantul tersebut kualitas rasanya sama dengan "aslinya" yang ada di Kampung Kadipiro.

Barangkali, karena jenis menu makanan Yogya berada di daerahnya, sehingga merasa tidak perlu untuk menyebut nama daerahnya. Apalagi orang tahu bahwa gudeg makanan khas dari Yogya. Hanya ketika jenis menu makanan itu dibuka di daerah lain, identitas personal akan dihilangkan dan digantikan identitas di daerahnya. Oleh sebab itu, di tengah Kota Palangkaraya ada jenis menu makanan yang ditulis "gudeg yogya" hal yang mustahil ditemukan di Yogya. Persis seperti di Madura, betapa sulitnya menemukan soto madura ataupun sate madura.

Pergeseran dari nama daerah menjadi personal untuk jenis menu makanan Yogya sesungguhnya hanya menggantikan ikon. Karena nama yang disebut telah dikenal sebagai ikon Jawa, dalam konteks ini Yogya. Hampir tidak mungkin nama soto Pak Marto menunjuk ikon Sumatera atau Sulawesi. Nama itu memberikan identitas lokal. Demikian pula nama Juminten yang melekat pada jenis menu gudeg telah menunjuk lokalitas daerah.

Untuk mencoba mengenali bermacam identitas personal dan daerah dalam menu makanan di Yogya, orang bisa menelusuri berbagai macam tempat, baik yang ada di sudut kota maupun yang ada di tengah kota, pasti akan mudah menemukan dua jenis identitas, yakni identitas personal dan identitas daerah. Misalnya di Ngasem bisa ditemukan sate ayam madura. Beberapa ratus meter dari tempat itu bisa pula ditemukan sate ayam Pak Amat. Di Kadipiro ada soto kadipiro. Tak jauh dari situ bisa pula ditemukan soto madura atau soto sulung.

Beragam identitas bisa ditemukan dari menu makanan di Yogya. Menu yang dari luar Yogya menyertakan nama daerahnya. Jenis menu yang dari Yogya menunjuk personalitas orang atau nama kampung. Identitas daerah dalam menu makanan tidak hanya datang dari luar Jawa. Masih di ranah Jawa, untuk lebih menegaskan kalau bukan Yogya disebut nama daerahnya, misalnya bakmi semarang atau tengkleng solo. Semarang dan Solo adalah dua wilayah yang tidak jauh dari Yogya. Meski berbeda provinsi, kedua daerah tersebut adalah Jawa.
Pluralitas Selera
Pluralitas di Yogya tidak hanya ditemukan pada etnik. Rupanya bisa pula dilihat dari selera rasa. Identitas etnik dan rasa seperti saling bersua dan berinteraksi di Yogya dan masing-masing tidak merasa saling terancam. Artinya, identitas menu makanan dari satu daerah tidak merasa terancam atas kehadiran identitas menu dari daerah lain. Masing-masing seperti saling meneguhkan identitasnya. Dalam kata lain, identitas tampak kelihatan justru dalam keberagaman.

Identitas gudeg tidak terancam atas kehadiran menu dari Makassar, Manado, Padang, dan beberapa daerah lain. Sehingga sulit ditemukan, untuk mencoba mengakomodasi selera, rasa gudeg dibuat tidak manis. Justru gudeg tetap memegang identitasnya manis dan kelengkapan dari manis ada gurih dan pedas serta ada sayuran, biasanya daun ketela.

Jenis menu makanan dinikmati oleh beragam etnik dan tidak hanya dikhususkan oleh etnis di mana jenis menu makanan itu berasal. Orang Jawa tidak menolak coto makassar dan juga senang menikmati jenis masakan padang. Orang non-Jawa juga tidak sedikit yang suka jenis menu gudeg ataupun jenis ayam goreng Mbok Sabar, Nyonya Suharti, dan sejenisnya. Meski di Yogya mudah ditemukan jenis menu ayam yang mengglobal, tetapi tidak mengurangi selera lokal.

Identitas lokal dalam keberagaman kultur di Yogya tampaknya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu makanan. Sebagaimana beragam makanan dari bermacam daerah bisa ditemukan di sudut-sudut kampung di Yogya. Bermacam etnis di Yogya juga menyebar di sudut-sudut kampung. Seperti selera, rupanya identitas bisa saling bertukar untuk tidak meniadakan, melainkan lebih untuk saling mengenal. Ada orang Medan yang suka menikmati soto menu dari Yogya yang identitasnya sudah digantikan menjadi personal. Ada juga orang Yogya yang gemar menikmati coto makassar dan jenis menu lain dari Sulawesi.

Interaksi kultural tampaknya bisa terus berlangsung di Yogya dan setiap hari dilakukan oleh masing-masing etnik. Lidah adalah salah satu media yang ampuh untuk melakukan interaksi tersebut. Pola interaksi sangat informal dan masing-masing identitas saling tidak menolak.

Identitas Yogya tidak dihadirkan sebagaimana identitas daerah lain yang diwujudkan, tetapi telah diganti dengan identitas personal. Namun, personalitas identitas pada menu makanan Yogya tidak harus dimengerti sebagai privatisasi. Barangkali lebih tepat dilihat dalam konteks kultur Jawa: bahwa kapan orang Jawa memiliki gawe biasanya menghadirkan orang lain untuk mewakili.

Orang Jawa yang punya gawe tersebut menyerahkan segala tetek bengek kepada orang yang telah ditunjuk dan biasanya berupa tim. Artinya, tidak hanya satu orang. Pendeknya, personalitas identitas menu makanan Yogya adalah representasi dari kultur masyarakat Jawa yang tinggal dan menetap di Yogya.

Sumber : kulinerkita.multiply.com
Foto : http://www.startspot

Makassar Lageee


Oleh : Bondan Winarno

Ada satu lagi yang baru di Makassar. Bandaranya baru. Bahkan belum diresmikan. Arsitekturnya lumayan bagus. Tetapi, di balik kemegahan itu sudah terlihat berbagai ketidaksempurnaan. Semua mata yang terlatih menilai kualitas bangunan akan segera melihat betapa kasarnya pengerjaan finishing bangunan megah itu.

Tentu saja saya langsung meng-inspeksi toiletnya yang baru. Ampyuuuun! Toiletnya sangat kotor. Petugas kebersihan bukannya membersihkan lantai, melainkan malah meratakan kotoran ke seluruh permukaan lantai. Ketika saya katakan kepadanya bahwa toilet ini sangat kotor, ia malah tertawa. Mungkin ia tidak pernah dilatih untuk membedakan mana yang bersih dan mana yang kotor.

Jalan tol baru dari bandara ke kota pun menunjukkan bopeng-bopeng ketidaksempurnaan. Tetapi, yang paling saya sesali adalah hilangnya beberapa penjual dange pulubollong yang semula berjajar-jajar di sepanjang lintasan itu. Di ruas jalan itu kini hanya dapat dijumpai dua orang penjual jajanan khas Bugis itu. Entah berapa lama lagi mereka dapat bertahan menyajikan dange. Satu lagi tanda-tanda kepunahan pusaka kuliner kita?

Dange dibuat dari tepung ketan hitam, parutan kelapa, sedikit garam, dan gula merah. Tepung ketan hitam dan parutan kelapa dikukus, kemudian dicampur dengan sedikit garam. Pengukusan tepung ketan hitam dan parutan kelapa dilakukan untuk memercepat proses pemasakan kue dan menjaganya agar tidak mudah basi. Campuran dimasukkan ke dalam cetakan dari tanah liat yang sebelumnya dibakar sampai membara. Gula merah dimasukkan ke dalam setiap ceruk kue.

Cetakan panas membara itu secara efektif memasak adonan yang dimasukkan ke sana. Dalam waktu sekitar tiga menit saja, dange sudah matang di dalam cetakan membara itu. Bentuknya seperti kue pukis atau sagu rangi. Rasanya gurih-gurih manis. Legit! Dengan citarasa ketan hitam yang menonjol.

Dange pulubollong memang makin langka saat ini. Bahkan, jajanan Bugis yang dulu banyak dijumpai di Pangkajene ini, kini pun tak banyak lagi dapat dijumpai di sana. Tampaknya masyarakat Bugis dan Makassar pun adem-adem saja menanggapi pertanda kelangkaan ini. Maklum, kini sudah hadir begitu banyak jajanan lain yang lebih “modern” – seperti singkong keju, dan lain-lain.

Orang Bugis juga mengenal makanan lain dengan nama yang mirip, yaitu dangke. Dangke adalah susu kerbau yang dikentalkan (koagulasi) sehingga berbentuk padat seperti tahu. Bisa digoreng ataupun dibakar, dangke disantap sebagai lauk bersama sambal. Dangke sangat mirip dengan dali ni horbo yang populer di Tapanuli. Bedanya, dali ni horbo biasa dimasak lagi dengan kuah kuning yang gurih. Sedangkan dangke diperlakukan sebagaimana layaknya tahu goreng.

Dalam kunjungan ini saya pun sempat mencicipi cucur bayao yang ternyata sangat berbeda dari kue cucur yang selama ini kita kenal. Bayao dalam bahasa Bugis berarti telur. Pembuatannya, bentuknya, dan citarasanya sangat mirip dengan srikaya palembang. Bedanya, orang Palembang merasa lebih mantap bila dibuat dari telur bebek. Bedanya lagi, bila srikaya beraroma pandan dan berwarna kehijauan, cucur bayao berwarna kuning seperti telur, dan diberi tambahan kenari sehingga rasanya lebih gurih. Kerenyahan kenari juga memberi tekstur yang kontras terhadap cucur bayao yang lembut dan mulus.

Tentu saja, kunjungan ke Makassar tidak lengkap tanpa makang ikang alias makan ikan. Dalam tulisan sebelumnya tentang Makassar saya pernah mencatat betapa orang-orang Jakarta yang datang ke Makassar terheran-heran melihat jumlah yang dipesan oleh penduduk lokal. Kalau orang Jakarta memesan satu ekor ikan untuk 2-4 orang, orang Makassar selalu memesan satu ekor ikan untuk setiap orang. Itu belum termasuk tambahan udang dan cumi-cumi. Meja makan orang Makassar selalu penuh dengan piring-piring ikan.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman Jalansutra – Rapiali Zainuddin – pernah mengirim ikan kudu-kudu beku dari Makassar. “Kalau ikan ini menabrak kapal selam, justru kapal selamnya yang bocor, Mas,” kata Pak Zain bergurau. Bentuk ikannya memang aneh. Penampang melintangnya berbentuk segi empat. Seluruh permukaan kulitnya keras seperti tulang. Biasanya orang Jakarta menyebut ikan kudu-kudu ini sebagai ikan helikopter.

Ketika itu, saya tidak berhasil mengolah daging ikan kudu-kudu itu menjadi hidangan lezat. Karena itu, ketika menemukan ikan kudu-kudu di RM “Apong”, Makassar, saya langsung memesannya. Ternyata, daging ikannya hanya dibumbui secara minimalis dan kemudian digoreng tanpa tepung. Dagingnya lembut, mirip ikan sunu atau kerapu. Rasanya juga gurih.

Bila Anda mengingini berbagai jenis ikan unik yang jarang dijumpai di rumah makan lain di Makassar, mungkin RM “Apong” inilah yang Anda perlukan. Di sini saya juga menemukan udang kipas yang kulit kerasnya sangat mirip lobster, namun lebih kecil. Ekorya melipat ke dalam, sehingga sekilas udang kipas ini bentuknya seperti bola. Ternyata, seperti juga ikan kudu-kudu yang berkulit keras, daging udang kipas ini pun sangat lembut. Hanya dibakar dan dioles dengan sedikit mayones, daging udang kipas ini sungguh mak nyuss!

Di RM “Bahari”, saya menemukan seekor lain yang unik. Dalam bahasa setempat, ikan ini disebut su‘kang. Tampangnya buruk, bertotol-totol, tipis gepeng, berkepala besar, tetapi mulutnya kecil. Secara anatomis, semua bentuknya seperti tidak proporsional. Kulitnya tebal dan keras. Jurumasak yang ahli dapat menguliti “jaket” ikan ini dengan sekali tarik saja. Sama seperti ikan kudu-kudu, daging ikan su‘kang ini juga mulus dan lembut, cocok untuk dikukus.

Mungkin sekarang Anda sudah mengenali bahwa orang Makassar jago membakar ikan dan udang. Kendali apinya luar biasa. Mereka mampu memanggang berbagai jenis seafood tanpa hangus. Bahkan, sekilas kelihatan seperti digoreng. Udang bakar dan baronang bakar Makassar selalu tampil cantik minus gosong.

Berbeda dengan rumah makan yang berjualan ikan bakar a la Makassar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, di Makassar semua restoran yang memasang papan nama seafood selalu menyajikan menu komplet – tidak sekadar ikan bakar.

Salah satu yang tidak boleh dilewatkan bila sedang berada di Makassar adalah acar telur ikan tuing-tuing. Telur ikan terbang yang kecil-kecil direndam semalaman, lalu direbus. Kemudian dicampurkan ke dalam acar timun dan bawang merah. Segar dan krenyes-krenyes! Dijamin ketagihan.

Telur ikan kakap juga disajikan dalam bentuk masakan. Salah satu favorit saya adalah di RM “Istana Laut” yang menyajikan tumis telur ikan kakap dengan kacang mede. Penampilan dan citarasanya mirip sekali dengan chicken kungpao di restoran-restoran Hong Kong. Telur ikan kakap yang berukuran besar dipotong-potong, kemudian digoreng sampai kering di luarnya. Kemudian ditumis bersama kacang mede dan daun bawang dengan bumbu pedas-gurih-manis.

RM “Istana Laut” juga menyajikan masakan khas Makassar yang disebut lawara. Sangat mirip dengan lawar bali, tetapi tidak memakai parutan kelapa. Bahannya adalah jantung pisang kukus, dirajang, dicampur dengan daging ikan tenggiri yang dihaluskan dengan berbagai bumbu. Bila jantung pisang tidak tersedia, penggantinya yang tepat adalah pakis atau paku.

Makanan seafood khas Makassar lainnya adalah paria kampu atau pare isi. Bentuknya mirip siomay bandung, tapi isinya adalah daging ikan yang dilembutkan dicampur dengan parutan kelapa, lalu dimasak dalam kuah kuning asam gurih. Rasa asamnya didapat dari blimbing wuluh atau blimbing sayur.

Sumber : www.kompas.com

Cari Jajanan Di Daerah Lampung

Sungguh tak sulit mencari makanan di kota Lampung. Kecuali banyak penjual, pilihannya pun cukup variatif. Begitu juga bila Anda ingin membeli oleh-oleh. Tak cuma keripik pisang lampung yang terkenal yang bisa Anda bingkiskan pada kerabat. Masih banyak alternatif lain. Yang jelas, jalan-jalan ke Lampung bikin perut jadi kenyang.

DODOL DURIAN

KLIK - DetailBanyaknya durian di Lampung, dimanfaatkan penduduk setempat untuk membuat aneka penganan. Salah satunya dodol durian. Berbagai merk dodol durian bisa Anda temukan di Lampung. Misalnya, dodol durian Sari Deli. Pemiliknya, Ny. Sari Raja Asa (55).

Awalnya cuma untuk sajian di Hari Raya, kemudian karena, "Banyak tamu yang suka, saya berpikir untuk membisniskannya," kenang ibu 4 anak ini. Ia lantas memberi nama dodolnya. "Saya ambil dari nama saya, Sari. Sedang Deli adalah tempat asal ibu saya," kata Sari.

Dodol durian buatan Sari bisa bertahan hingga 1 tahun jika disimpan dalam kulkas. "Hanya, dodol semakin lama akan kian keras. Jadi tidak seenak saat masih baru," terang wanita yang masih terlihat muda ini.

Kendati begitu, setiap minggu Sari tetap membuat dodol. Sekali produksi, minimal 500 bungkus. Bagaimana bila durian sedang tidak ada? "Gampang, kok. Selagi musim, saya beli banyak-banyak durian lalu dibuat sirup yang bisa tahan lama. Jadi, saya bisa bikin dodol setiap saat," cetusnya.

Permintaan makin banyak menjelang Lebaran. Bahkan ada pemesan yang lebih senang dodol di dalam loyang seberat 2,5 kilogram. Meskipun selama ini Sari cuma membuat dodol ukuran 12 cm dan 8 cm, ia tetap melayani pesanan khusus itu.

"Cuma harganya beda. Yang 12 cm saya jual seharga Rp 2.500 sedang yang 8 cm Rp 1.500. Nah yang pesanan khusus itu harganya Rp 50 ribu," papar Sari.

Pembuatan dodol dilakukan oleh 3 karyawan tetap dan 2 karyawan lepasan. Mereka juga membantu Sari membuat lapis legit . "Kadang saya juga menerima pesanan lapis legit."

Selain di daerah Lampung, dodol ini juga dipasarkan di Jakarta. "Di sana kami punya ditributor," katanya. Untuk lebih meluaskan pasar, Sari mengikuti berbagai pameran. "Makanya dodol kami bisa dikenal orang luar negeri," ujarnya bangga. Sayangnya Sari belum berani memasarkan produknya sampai di luar negeri. "Modalnya terlalu besar," keluh ibu beranak 5 ini.

KERIPIK PISANG SUSENO

KLIK - DetailKeripik pisang, oleh-oleh khas Lampung yang paling sering dicari orang. Produsen keripik pisang yang cukup besar adalah Keripik Pisang Suseno. Pendirinya, Almarhum Adi Ardi Suseno tahun 1973.

Awalnya Ardi pengusaha roti. Sambil berjualan roti, dia belajar membuat keripik pisang yang juga dijual dalam gerobak rotinya. "Lama-kelamaan atas saran Ibu Utomo, istri kepala polisi saat itu, keripik pisang saya kemas dalam kaleng," kisah Ny. Luis Marlina (60 tahun), kakak Ardi yang kini meneruskan usaha sang adik.

Mula-mula cuma dibuat 10 kaleng. Nyatanya mendapat sambutan luar biasa dari konsumen. Hingga Ardi menekuni keripik pisang lebih serius lagi. Tetapi 10 tahun terakhir ini, mereka memutuskan mengganti kaleng dengan kardus. "Harga kaleng makin lama makin mahal. Kasihan pelanggan saya kalau terlalu mahal," jelas Luis. Maka alat-alat untuk membuat keripik pun mulai diganti. Misalnya, alat potong pisang. "Semula kami cuma pakai serutan es. Sekarang sudah pakai mesin," papar Luis.

Pisang yang digunakan adalah pisang ambon hijau. Tetapi mulai dua tahun lalu mulai dipasarkan keripik pisang dari pisang tanduk. "Keripik pisang tanduk rasanya lebih gurih," terang Luis. Bahan baku pisang sendiri dikirim warga sekitar setiap kali ada pisang yang sesuai dengan syarat yang diajukan perusahaan ini. "Pisang harus mentah, tetapi sudah tua. Kalau pisang terlalu matang, keripiknya jelek," kata wanita bertubuh kecil ini.

Mereka menjual empat rasa keripik asin, manis, cokelat, dan keju. Untuk keripik pisang rasa cokelat dan keju dijual dalam kemasan setengah kilogram dengan harga Rp 22.500. Sementara keripik pisang asin dan manis dikemas dalam ukuran 300 gram dengan harga Rp 7.500. Masih ada ukuran lain yaitu 500 gram dengan harga Rp 12.500, dan 1 kilogram dengan harga Rp 22.500.

Keripik pisang tanduk cuma ada 3 rasa yaitu asin, manis, dan cokelat. Rasa asin dan manis dijual dengan harga Rp 14.500 sedangkan rasa cokelat dengan harga Rp 24.500. Semua dengan berat 500 gram. "Keripik dari pisang tanduk memang harganya lebih mahal karena harga pisang tanduk juga mahal," jelas wanita ramah ini.

Pengolahan keripik pisang rasa manis dan asin sama saja. Hanya untuk keripik pisang yang rasanya asin, cuma menggunakan sedikit gula dan ditambahkan garam. Untuk memperoleh rasa manis, pisang yang sudah dicuci bersih, dicuci lagi dalam larutan gula. Setelah disaring airnya, keripik pisang langsung digoreng pada minyak yang panas.

Proses ini berbeda dengan keripik pisang rasa cokelat dan keju. Untuk kedua rasa tersebut, keripik pisang digoreng setengah matang. Kemudian ditaburi cokelat bubuk atau parutan keju. Setelah itu baru kemudian dipanggang. "Supaya keju dan cokelat bisa menempel pada keripik pisang, penyelesaiannya tidak lagi digoreng melainkan dipanggang hingga warnanya kekuningan," papar Luis.

Pemasaran yang luas, membuat lokasi pembuatan dipecah dua. "Di toko kami cuma memproduksi keripik dari pisang tanduk." Toko dibuka pukul 08.00 dan baru tutup pukul 17.00. Selain keripik pisang, Suseno juga memproduksi Sambal Goreng Udang yakni campuran keripik kentang, ebi yang dihaluskan, dan bawang. "Sambal goreng buatan kami bisa bertahan hingga 1 tahun, lo. Harganya pun cuma Rp 22.500 seplastik dengan ukuran 300 gram atau 25 ribu sekaleng, "

RUMAH MAKAN BUKIT RANDU

Walaupun baru dibuka tahun 1995, rumah makan ini sudah terkenal di Lampung. Menu yang disajikan dari masakan ala Sunda, Eropa, dan Oriental. Tiga tahun terakhir ini mereka juga menawarkan masakan Jepang dan Thailand.

Lokasi resto di tengah kota Lampung, di atas bukit, 200 meter di atas permukaan laut. "Karena tinggi, yang datang harus membawa kendaraan sendiri," ujar Iwan Priyono (31), staf marketing. Di halaman resto disediakan 14 pondok hingga para pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Lampung sambil makan.

Menu yang banyak diminati pengunjung adalah ikan goreng dan lalapan. "Pengunjung kami lebih senang masakan Indonesia," papar pria berkulit hitam ini. Resto sudah dibuka sejak pukul 09.00 dan baru tutup pukul 24.00. "Tetapi saat paling ramai pukul 17.00 hingga 22.00," terang Iwan.

Walaupun ramai, Anda tak usah khawatir kehabisan tempat karena kapasitas ruangan mencapai 350 orang. Tak perlu risau pula lama menunggu. Dua ratus karyawan siap melayani Anda. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 50 ribu untuk tiap macamnya. Sedangkan minumannya berkisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 75 ribu per gelas.

RUMAH MAKAN SEGO

KLIK - DetailPenggemar ikan bisa meluncur menuju Pahoman, tepatnya di Jl. Way sekampung. Di sana, terdapat Warung Sego I. Warung ini menyediakan antara lain ikan gurame, ikan mas, dan cumi-cumi bakar atau goreng.

Warung yang didirikan tahun 1997 oleh Bapak Tatok (54) ini sudah memiliki cabang yang dikelola Ny. Ida (33), putri Tatok. Namanya, Warung Sego II. Di sini cuma disediakan ikan laut. Tak puas dengan cabang itu, Tatok membuka Warung Sego III. Pengelolanya, Ny. Fitri, anak keduanya. Nah, di sini Anda bisa menikmati soto.

Warung yang buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 ini, hanya menyediakan ikan segar. Jadi, Anda harus rela antre dan menunggu agak lama. Tetapi penantian Anda tidak sia-sia. Ikan bakar atau ikan segar yang disajikan di piring yang dialasi daun pisang ini memang betul-betul segar dan lezat,

Bersama ikan disajikan pula lalapan dan sambal. Sambal disuguhkan di atas cobek batu tebal. Lalapannya terdiri dari terong, ketimun, daun kemangi, daun letus, serta daun singkong dan daun pepaya rebus.

Nasi disajikan dalam thermos nasi. Selain itu, rumah makan ini juga menawarkan sayur asem. Warna kuahnya coklat tua dan sangat menggiurkan. Uniknya lagi, isinya ditambahkan keputren. "Orang Lampung suka pedas. Karena itu cabenya saya banyakin. Bumbunya juga saya tumis supaya berminyak," kata ayah 3 putri ini.

PUSAT JAJANAN "PASAR MAMBO"
KLIK - DetailPasar Mambo, Teluk Betung adalah tempat paling enak dalam memilih makanan di malam hari. Sekitar 40 penjual macam-macam makanan bertebaran di sana dalam tenda-tenda. Salah satunya, Pak Masumar yang memiliki usaha bubur ayam, bubur kacang hijau, bubur jali-jali, nasi uduk, dan nasi goreng. "Pemilik asli nasi uduk dan nasi goreng itu menjualnya ke Bapak, jadi Bapak beli dan teruskan,"terang Tok (25), karyawan Musamar.

Walaupun para penjual begitu banyak, tetapi kekeluargaan antar mereka tampak erat. "Yang dijual, kan, berbeda-beda," tambah pria yang berfungsi sebagai kasir ini. Anda bisa menemukan makanan dari gado-gado, bubur ayam, sup kaki kambing, soto, hingga seafood. Harga yang ditawarkan tentu saja beragam tergantung makanan yang Anda pilih.

Warung tenda seafood termasuk tenda favorit. Bukan cuma masakan cina dari seafood yang jadi incaran pengunjung. Tetapi atraksi menarik si koki juga bikin kita ikut terhibur. Bayangkan, si koki memasak sambil bergaya kungfu, lengkap dengan dentingan serok dan wajan yang gemuruh. Belum lagi api besar yang naik ke wajan yang membuat pengunjung terkagum-kagum.

Masakan yang ditawarkan mirip dengan restoran seafood pada umumnya seperti kepiting saus tiram, cumi goreng mentega, dan gurame asam manis. Pusat Jajanan ini akan semakin ramai saat malam Minggu atau malam Kamis. "Malam Kamis, kan, di pusat hiburan sana ada ladiest night, jadi pengaruh ke sini," terang Tok.

Karena pengaruh pusat hiburan itu juga, biasanya pusat jajanan ramai dari pukul 23.00. "Pulang dari sana, mereka mampir untuk makan di sini," tutur pria kecil ini. Warung tenda di sini juga selalu buka, tanpa mengenal hari libur. Hanya saja, Anda sebaiknya membeli di atas pukul 18.00.

EMPING MELINJO RAJABASA

Emping melinjo juga salah satu oleh-oleh yang dicari wisatawan. Emping Raja Basa, salah satunya. Satu kilo emping biasa dijual dengan harga Rp 22 ribu.

Salah satu pengusaha emping Raja Basa, adalah H. Ahmad Yusuf (54). "Saya mulai berkecimpung di bidang tangkil (melinjo) tahun 1967, lepas dari sekolah," kenang pria ini. Hanya saja, waktu itu Ahmad masih menjadi anak buah orang tuanya. Kemudian tahun 1969, Ahmad berhasil menjadi pengusaha sendiri.

Melinjo yang telah berwarna merah dikupas kulitnya lalu disangrai di pasir selama 3 sampai 4 menit, tidak perlu sampai matang betul. "Supaya hasilnya tidak tebal dan berwarna kekuningan." Setelah diangkat, dalam keadaan panas, melinjo harus segera ditumbuk dengan palu besi. Penumbukan melinjo yang sudah dingin akan menyebabkan melinjo pecah dan tidak bisa jadi emping.

Penumbukan awal dilakukan untuk mengupas kulit dalam melinjo. Baru kemudian didapatkan bijinya sebagai bahan emping. Penumbukan untuk 80 biji melinjo, biasanya sudah selesai sekitar 15 menit. Pembuatan emping dilakukan oleh para ibu rumah tangga dengan cara dipukul. "Dulu pernah dicoba menggunakan mesin, tapi akhirnya juga kembali ke cara semula. Rasanya jadi tidak seenak kalau dipukul," terang pria berjenggot ini.

Agar mengkilat, emping dipukul di atas plastik. Emping kemudian dijemur sekitar 15 menit. Setelah kering, bisa disimpan selama 6 bulan. Pembuatan emping tergantung musim. Jadi, tidak bisa dibuat setiap hari. "Biasanya Juni pas banyak-banyaknya." Kulit melinjo tidak dibuang, tetapi dijual dengan harga Rp 2 ribu tiap kilo. "Orang Lampung sering membuat sayur dari kulit melinjo. Jadi, tidak sulit mencari pembeli."

Sumber : http://www.sedap-sekejap.com