Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Obyek Wisata Kota Kabupaten Banyumas

Seputar Alun-alun Kota Lama Banumas
Terletak 18 km ke arah selatan Alun-alun dari Purwokerto. Alun-alun merupakan salah satu penanda pusat pemerintahan di Jawa, selain Pendopo Kabupaten dan Masjid Agung. Di sebelah barat Alun-alun terdapat Masjid Nur Sulaiman, di utara adalah Pendopo Duplikat Si Panji, dan sebelah timur adalah Lembaga Pemasyarakat Banyumas. Biasanya di pinggir dan tengah kompleks Alun-alun ditanami pohon beringin yang melambangkan pengayoman kepada rakyat.
Berikut gambar-gambar seputar Alun-alun Kota Lama Banyumas yang dapat diunduh:

Kompleks Duplikat Si Panji
Sebelum tahun 1937, di kompleks inilah Pemerintahan Kabupaten Banyumas dipusatkan. Kemudian dengan digabungkannya Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto pada 1936, maka atas prakarsa Bupati Banyumas ke 19 yaitu R.A.A. Sujiman Gandasubrata (1933 - 1950), Pendopo Si Panji (yang dahulunya berada di Kota Lama Banyumas) pada bulan Januari 1937 dipindahkan ke ibukota Kabupaten Banyumas di Purwokerto, dan diresmikan pada 7 Januari 1937. Maka kota lama Banyumas hanya menjadi ibukota Kawedanan Banyumas, dan sekarang menjadi ibukota Kecamatan Banyumas. Untuk mengingatkan bahwa dulunya merupakan ibukota Kabupaten Banyumas dan lokasi beradanya Pendopo Si Panji, maka dibangunlah Pendopo Duplikat Si Panji.

Museum Wayang Banyumas
Terletak di bagian depan kompleks Pendopo Duplikat Si Panji. Museum ini pada mulanya adalah tempat paseban (untuk menghadap) Bupati Banyumas. Dibangun menjadi musem wayang Banyumas pada tahun 1982 dan diresmikan pada 31 Desember 1982 oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi). Buka pada jam kerja mulai jam 08.00. Jika menginginkan kunjungan di luar jam kerja silakan menghubungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, atau Drs. R. Pudjianto, B.A. selaku Pamong Budaya Kec. Banyumas/koordinator: 081548277904, atau langsung ke pemandu museum Mbak Wati: 08164287261. Koleksi yang ada meliputi: wayang kulit gagrak/gaya Jogjakarta, Banyumas (kuno, peralihan, sekarang), wayang krucil, wayang golek purwa, wayang golek menak, wayang kidang kencana, wayang kancil, wayang dupara, wayang beber, wayang suket, wayang suluh, wayang Bali (akan), wayang Jawa Timuran (akan), benda arkeologi, tosan aji/pusaka-pusaka, lukisan Bupati-bupati Banyumas, gamelan slendro kuno, calung Banyumas, foto Banyumas tempo dulu.

Masjid Nur Sulaiman
Masjid ini terletak di sebelah barat Alun-alun kota lama Banyumas. Masjid Nur Sulaiman berdiri pada tahun 1725, semasa Bupati Banyumas ke VII Adipati Yudonegoro II (1708-1743), bersamaan dengan dipindahkannya ibukota Kabupaten Banyumas dari Karangkamal (sekarang Kalisube) ke timur, yaitu Grumbul Gegenduren, sekaligus dibangunnya Pendopo Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan nama Pendopo Si Panji.

Masjid Nur Sulaiman didirikan oleh Kyai Nur Sulaiman dari Gumelem dengan diarsiteki oleh Kyai Nur Daiman dari Gumelem juga. Beberapa peninggalan yang masih asli misalnya bedug, mimbar, sumur, sakaguru, dan sebagian tembok.

Komples Makam Bupati Banyumas Di Dawuhan
Terletak 5 km ke arah barat Alun-alun Kecamatan Banyumas, dan masuk wilayah Desa Dawuhan. Kompleks makam Bupati-Bupati Banyumas ini merupakan lokasi rutin kegiatan ziarah dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Banyumas setiap tahunnya. Kegiatan ziarah ini menandakan salah satu wujud penghargaan kita kepada para leluhur Banyumas dengan cara mendoakan dan melakukan ziarah ke makam leluhur, sehingga juga diharapkan mampu mengenang jasa leluhur dan meneladani sikap dan watak satria para leluhur, misalnya watak satria R. Joko Kaiman yang berkenan membagi empat Kabupaten Wirasaba, yang sebenarnya sudah dikuasakan kepada beliau, kepada saudara-saudara iparnya. Dengan demikian, Kabupaten/Kadipaten Banyumas berdiri atas dasar watak satria, watak Banyumas.

Makam Kyai Mranggi Semu di Kejawar
Terletak 5 km ke arah selatan Alun-alun Kecamatan Banyumas. Desa Kejawar merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten Banyumas. Di desa inilah, R. Joko Kahiman dibesarkan oleh paman dan bibinya (Rara Ngaisah), Kyai dan Nyai Mranggi Semu. Hal ini karena ayahanda R. Joko Kahiman (R. Banyaksosro) meninggal pada usia muda, sedangkan R. Joko Kahiman masih kecil. Kyai Mranggi Semu merupakan pembuat warangka keris. Terkait masa kecil dan dididiknya R. Joko Kahiman di Kejawar ini, maka tidak berlebihan kalau dikatakan Kyai dan Nyai Mranggi Semu sangat besar jasanya dalam menggembleng seorang satria Banyumas yang nantinya akan dikenal karena kebesaran hatinya membagi empat Kadipaten Wirasaba sehingga disebut Adipati Mrapat, Adipati Warga Utama II, Adipati Banyumas I.

Maksud diadakannya artikel tentang Kyai dan Nyai Mranggi Semu Kejawar ini, tidak lain semoga bisa sebagai salah satu cara menggugah rasa hormat dan penghargaan kepada para leluhur Banyumas, tidak hanya pemerintah serta pemerhati sejarah dan budaya, namun masyarakat Banyumas umumnya. Hormat dan menghargai leluhur bisa dengan banyak cara, silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, penuh kesungguhan dan rasa saling menghargai serta kerjasama dengan semua elemen masyarakat Banyumas.

Makam Nyai Mranggi di Binangun
Terletak 10 km ke arah barat Alun-alun Kecamatan Banyumas, atau 5 km ke arah barat Kompleks Makam Bupati Banyumas di Dawuhan. Makam Nyai Mranggi (Rara Ngaisah) ini terletak di Grumbul Wanasepi, Binangun, di atas bukit, di tengah rerindangan pohon (dahulu di tengah hutan, sehingga ada yang mengatakan Karangtengah, karena berada di atas bukit yang dikelilingi hutan). Rara Ngaisah, atau lebih dikenal sebagai Nyai Mranggi, adalah adik kandung R. Banyaksosro (ayahanda R. Joko Kahiman). Menurut cerita, setelah Kyai Mranggi Semu di Kejawar meninggal dunia, maka Nyai Mranggi mengembara di berbagai daerah sekitar Kecamatan Banyumas (kini), sampai tiba di Grumbul Wanasepi, Desa Binangun, di mana beliau meninggal dunia dan dimakamkan. Ada yang mengatakan bahwa Nyai Mranggi ini moksa (menghilang badan bersama jiwanya), sehingga di atas bukit tersebut adalah petilasan di mana Nyai Mranggi moksa.

Maksud diadakannya artikel tentang Kyai dan Nyai Mranggi Semu Kejawar ini, tidak lain semoga bisa sebagai salah satu cara menggugah rasa hormat dan penghargaan kepada para leluhur Banyumas, tidak hanya pemerintah serta pemerhati sejarah dan budaya, namun masyarakat Banyumas umumnya. Hormat dan menghargai leluhur bisa dengan banyak cara, silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, penuh kesungguhan dan rasa saling menghargai serta kerjasama dengan semua elemen masyarakat Banyumas.

Masjid Nur Sulaiman
Masjid Nur Sulaiman Banyumas dibangun tahun 1755 pada masa pemerintahan Adipati Banyumas Yoedanegara II dan diarsiteki oleh Bapak Nur Daiman Demang Gumelem I sekaligus sebagai Penghulu Masjid yang pertama. Sebagaimana konsep tata letak bangunan pada masa pemerintahan kerajaan di Jawa, posisi masjid selalu berada di sebelah barat alun-alun sebagai simbol kebaikan, berseberangan dengan letak penjara sebagai symbol kejahatan di sebelah timur alun-alun .

Secara administrasi Masjid ini berada dalam wilayah Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas kurang lebih 25 km dari kota Purwokerto.Karena tidak adanya sumber tertulis yang pasti, menurut penuturan juru Pelihara Benda Cagar Budaya Masjid Nur Sulaiman bapak Djoni M. Faried, nama Nur Sulaiman berasal dari nama Nur Daiman.

Masjid Nur Sulaiman di bangun di atas tanah seluas 4.950 m2,
Ruang utama: 22 x 15.5 m , Tinggi bangunan : 14.5 m, Ruang serambi:11 x 22 m , Ruang mihrab: 4 x 2.2 m, tinggi 5.9 m. Mimbar: 2.2 x 1.2m duwure 1.67 m. Maksura: 2.3 x 2.3 m
Masjid Nur Sulaiman memiliki ciri khusus dan keunikan antara lain ;
Denah bujur sangkar
Ada serambi
Batur tinggi
Pintu utama di sebelah timur
Mimbar berbentuk tandu
Terdapat Maksura ( tempat Shalat khusus penguasa)
Mihrab (ruang imam) ialah tajug susun 2 dilengkapi mahkota berbentuk mirip gada.
4 pilar utama (saka guru)
12 pilar pendukung (saka pengarak)

Taman Kota Banyumas
Pembangunan kota sering lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang lebih banyak ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada. Gejala pembangunan kota pada masa yang lalu mempunyai kecenderungan untuk meminimalkan ruang terbuka hijau dan juga menghilangkan wajah alam. Lahan-lahan bertumbuhan banyak dialih-fungsikan menjadi pertokoan, pemukiman, tempat rekreasi, industri dan lain-lain.

Sumber : http://www.banyumaskab.go.id

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal



Masjid Istiqlal ialah masjid terbesar di Asia Tenggara. Sebagai rasa syukur atas kemerdekaan yang diperoleh republik Indonesia masjid Istiqlaldapat kita artikan Merdeka. Ide awal pembangunan masjid ini ialah dari bapak. KH. Wahid hasyim (menteri agama tahun 1950) dan bapak Anwar Cokroaminoto. Tahun 1953 dibentuk lah pantia pembangunan masjid Istiqlal yang diketuai oleh Bapak. Anwar Cokroaminoto. Belio menyampaikan rencana pembangunan masjid pada Ir. Soekarno dan ternyata mendapatkan sambutan hangat dan akan mendapat bantuan sepenuhnya dari presiden.

Ir. Soekarno sejak tahun 1954 oleh panitia diangkat menjadi kepala bagian teknik pembangunan Masdjid istiqlal, dan belio juga menjadi ketua dewan juri untuk menilai syayembara maket Istiqlal. Tahun 1955 diadakan syayembara memebuat gambar dan Maket pembangunan masjid Istiqal. Diikuti oleh 30 Orang peserta dan hanya 27 orang peserta yang menyereahkan gambar. Dan hanya 22 orang saja yang memenuhi persyaratan lomba. Setelah di diskusikan oleh dewa juri yang menjadi pemenang ialah 5 orang dan dari 5 orang terebut terpilih Arsitek F Silaban dengan Sandi ketuhanan.

Pada tahun 1961 diadakan penanaman tiang pancang pertama pembangunan masjid Istiqlal. 17 tahun kemudian bangunan masjid selesai dibangun, dan penggunaannya dilakukan sejak tanggal 22 Februari 1978. Pembangunan majid ini didanai dengan APBN sebanyak 7.000.000.000 dan 12.000.000 US. Luas tanah areal masjid Istoqlal ialah 9.3 hektar. Lokasi pembangunan gedung ialah seluas 2,5 hektar terdiri dari; gedung Induk/Utama dan balkon bertingkat lima luasnya 1 hektar, bangunan teras 1,5 hektar, Areal parkir luasnya 3,35 Hektar, Pertamaan dan air mancur seluas 3,47 hektar.

Konstruksi Bangunan:
1. Tiang pancang seluruhnya 5.138 tiang, termasuk 180 tiang pada gedung pendahuluan.
2. Seluruh Bangunan, konstruksi Beton Bertulang.
3. Lantai dan dinding baik dalam maupun luar seluruhnya terbuat dari Marmer, kecuali lantai teras raksasa.
4. Plafond seluruhnya yaitu balkon, borde tangga, jendela, terawang, lisplank, kusen, dan tempat wudlu seluruhnya terbuat dari stainles steel, seberat 377 ton.
5. Kubah bebrbentuk setengah bola dengan fasilitas:
a. Kerangk polyhendra eks Jerman Barat
b. Konstruksi Beton bertulang garis tengah 45 meter
c. Ditunjang 12 Tiang kolom bergaris tengah 2,5 meter, dihubungkan denga beton ring berukuran 2,45 meter
d. Dipuncak Kubah dipasang lambang bulan Bintang terbuat dari stainlees steel tinggi tiang 17 meter,. Bergaris tengah 3 meter, berat seluruhya 2,5 ton.
e. Kubah kecil diatas gedung pendahuluan bergaris tengah 8 meter
f. Menara, letaknya disebelah timur dengan ketinggian 66,66 meter (melambangkan jumlah ayat alquran. Puncak menara dengan ketinggian 30 meter dan berat 28 ton terletak diatas tempat azan.

Bagian Gedung/Bangunan Masjid Istiqlal:
1. Gedung Induk/ Utama da Balkon bertingkat lima adalah tempat sholat
2. Gedung pendahuluan
3. Gedung penghubug
4. Teras raksasa di lantai dua, luasnya 19.800 m2.
5. Koridor di lantai dua
6. Lantai dasar tempat perkantoran, seluas 25.000 m2
7. Pintu gerbang masuk areal masjid Istiqlal, terdiri dari;

- Sebelah Selatan : 3 buah
- Sebelah Timur : 1 buah
- Sebelah Utara : 3 buah

Pintu Masuk masjid Istiqlal
- Sebelah barat: Pintu Al-malik (Pintu VIP) No 26
- Sebelah selatan: Pintu Ar-Rahman (no. 31), Pintu Ar Rozak (no. 14), Pintu Al Ghafar (no. 19)

Tangga masuk gerbang Utama
- Jumlah tangga menuju lantai utama sebanyak 11 buah, tiga diantaranya berukuran besar, berfungsi sebagai tangga utama.
- Tiga buah tagga berukuran besar berukuran lebar 15 m
- Delapan buah tangga berukuran lebar 3n
- Lift khusus penyandang cacat

Bangunan Penunjang Lainnya
1. Gedung tempat pemotongan hewan Qurban, sebelah Timur masjid seluas 144 m2
2. Gedung jaga satpam dan Wartel sebelah utara masjid seluas 50 m2.
3. Pos jaga satpam, disebelah Timur dan Selatan masjid

Sarana dan Prasarana masjid Istiqlal
Sarana penunjang kebersiahan
- Tempat wudlu ada 600 kran, dapat melayani 600 jamaah secara bersamaan
- Kamar mandi dan WC tertutup rapat sebanyak 52 Kamar terdiri atas; Emper Barat dekat menara 12 kamar, Emper Selatan 12 kamar, Emper Timur 28 Kamar
- Lokasi Urinoir ada dua tempat yang dapat menampung kurang lebih 80 Orang
- Sumur Artetis ada tiga buah untuk penyediaan air bersih, berkapasitas 600 liter permenit
- Air Pam untuk penyediaan air bersih, berkapasitas 0,117 m3 permenit atau perbulan berkapasitas5,065 M3.

Sarana penerangan
- Sarana penerangan listrik bekerjasama dengan PLN, dilengkapi 1 gardu berkapasitas 1.730 KVA. Untuk menagglangi pemadaman arus listrik dari PLN disediakan 3 buah generator: 2 buah berkekuatan 100 KVA, dan 1 buah berkekuatan 500 KVA.

1. Daya yang terpakai rata-rata 151,32 KVA = 151.320 Watt
2. AC central 330 unit dengan kapasitas 10.110 KVA
3. Lampu TL sebanyak 5.325 Unit = 213 KVA/213.000 Watt

Sarana Penunjang Kemanan
- Metal detektor untuk ceking benda terlarang di dalam badan dan juga barang bawaan.
- Miror detektor untuk ceking benda terlarang didalam mobil
- Security door khusus untuk ceking benda terlarang yang mungkin ada pada badan/ pakaian seseorang
- HT yang digunakan untuk komunikasi petugas satpam.
Daya Tampung Masjid

Untuk shalat berjamaah seluruhnya dapat menampung 200.000 jamaah dengan rincian;
- Gedung Induk/Utama : 61.000 jamaah
- Gedung Pendahuluan : 8.000 jamaah
- Teras raksasa : 50.000 jamaah
- Koridor dan tempat ainya : 81.000 jamaah

Daya tampung pelataran parkir, dapat menampung 800 kendaraan.
Perkantoran, Ruag sidang, Ruang tunggu, Ruang Pelaksana teknis lainnya menempati lantaidasar seluas 25.000 M2.

1. Kantor badan pelaksana pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI)
2. Lembaga kegamaan yang berkantor di masjid istiqlal;

- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat
- Dewan masjid Indonesia (DMI) pusat
- Dewan penseht pembinaan dan pelestarian perkawinan Pusat (BP4) Pusat
- Badan komunikasi pemuda remaja masjid Indonesia (BKPRMI)
- Lembaga pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) tingkat nasional
- Pusat perpustakan Islam Indonesia (PPII)
- Terjemah Alquran selama 40 jam
- Badan pembina Rohani islam (BABINROHIS)
- Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI)
- Ikatan persaudaraan Qori Qoriah hafiz hafizah Indonesia (IPQOH)
- Kantor tabloid jum’at
- Badan musyawarah Organisasi Islam wanita Indonesia (BMOIWI)
- Kantor Sekertariat majelis Ilmuan Muslim Muslimah sedunia Cabang Indonesia

1. Ruang sidang dan aula salah satunya berukuran 18 x 24 m
2. Ruang tunggu khusus VIP
3. Unit pelaksana teknis masjid Istiqlal

- Perpustakaan masjid Istiqlal
- Koperasi masjid Istiqlal
- Pramuka masjid Istiqlal
- Taman kanak-kanak masji Istiqlal
- Pengajian
- Poliklinik Masjid Istiqlal
- KBIH masjid Istiqlal
Bedug dan Kaligrafi

Bedug masjid Istiqlal terbear di Indonesia, dengan ukuran;

- Garis tengah depan 2 meter
- Garis tengah bgian belakang 1,71 meter
- Panjang 3 meter
- Berat 2.30 ton
- Jenis kayu meranti merah dari Kalimantan Timur

Kaligrafi di ruang utama
- Bagian depan ruang mama, sebelah kanan lafaz jalalah (Allah), di ruang surat Thaha ayat ayat 14, dan sebelah kiri lafaz
- Ditengah-tengah lingkaran kubah lafadz ayat Qursi dan Surat Al-Ikhlas

Sumber:
Direktori masjid Bersejarah
Departemen Agama RI
Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam
Direktorat Urusan Agama Islam dan pembiaan Syari’ah
Jakarta tahun 2008
http://wisatasejarah.wordpress.com
Foto : http://masjidnet.files.wordpress.com

Islam Masuk Indonesia Tinjauan Historis Dan Arkeologis


Kedatangan agama Islam ke Indonesia merupakan suatu proses yang panjang dalam sejarah Indonesia, namun juga masih belum jelas. Kapan, mengapa, dan bagaimana penduduk Indonesia mulai menganut Islam telah banyak menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli. Perbedaan ini karena sangat sedikitnya data tentang islamisasi. Namun dalam bab ini tidak akan membicarakan lebih jauh mengenai perbedaan pendapat itu, tetapi lebih melihat masuknya Islam berdasarkan catatan-catatan sejarah dan bukti-bukti arkeologis.

Salah satu catatan sejarah yang dapat dihubungkan dengan kedatangan pertama orang-orang Islam ke Indonesia adalah berita-berita Cina. Berita Cina tersebut antara lain berasal Bari Hikayat Dinasti T'ang, diantaranya menceritakan tentang orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Kerajaan Ho-ling yang diperintah oleh Ratu Sima (674 M). Berdasarkan berita tersebut para ahli berpendapat bahwa pada abad 7 M orang-orang Islam dan Arab sudah datang ke Indonesia dan pemukimannya diperkirakan di Sumatera. Orang-orang Ta-shih ini oleh W.P. Groneveldt ditafsirkan sebagai orang Arab dan letak perkampungannya di pesisir Sumatera Barat (Tjandrasasmita 1981: 357).

Pada abad 7 dan abad 8 M jalur pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka sudah mulai ramai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Kepesatan pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka dan pesisir barat Sumatera itu disebabkan oleh faktor pendorong persaingan antara Dinasti Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya (Indonesia/Asia Tenggara), dan Bani Ummayyah di Asia Barat.
Kegiatan pelayaran dan perdagangan tersebut dapat diketahui pula dart sumber-sumber muslim sendiri terutama sejak abad 9 sampai dengan abad 11 M. Sumber tersebut antara lain: Ibn Khurdadhbih (846), Yaqubi (875-880), Ibn Fakih (902), Ibn Rusteh (903), Ishaq ibn lmran (907). Nama-nama yang disebut dalam sumber-sumber itu antara lain: Kalah (Kedah), Jawah (Sumatera), Fansur (Ban's), dan Lamuri (Banda Aceh) (Groeneveldt 1960:14).

Sejalan dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka, Kerajaan Sriwijaya juga mulai meluaskan kekuasaannya ke daerah Malaka. Kedatangan orang-orang Islam di Asia Tenggara dan Asia Timur pada taraf permulaannya mungkin belum terasa akibat-akibatnya bagi kerajaan di negeri-negeri yang dikunjungi. Tetapi pada abad 9 dengan terjadinya pemberontakan di Cina Selatan terhadap kekuasaan Tang masa pemerintahan Kaisar Hi Tsung yang melibatkan orang-orang Islam dan akibatnya banyak orang-orang Islam yang terbunuh dan mereka mencari perlindungan ke Kedah. Sriwijaya yang ketika itu kekuasaannya meliputi daerah Kedah melindungi orang-orang Islam tersebut (Tjandrasasmita 1994: 2).

Dalam abad-abad berikutnya yaitu sekitar abad 12-13, Sriwijaya mulai menunjukkan kemundurannya. Di bidang perdagangan dan politik, dipercepat pula oleh usaha-usaha Kerajaan Singosari di Jawa yang mulai mengadakan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 yang merupakan pengu¬kuhan kekuasaannya terhadap Kerajaan Melayu di Sumatera. Ekspedisi Pamalayu pada dasamya bertujuan untuk mengecilkan politik dan perdagangan Sriwijaya yang semula menguasai kunci pelayaran dan perdagangan melalui selat Malaka. Sejalan dengan kelemahan-kelemahan yang dialami oleh Sriwijaya, maka pedagang-pedagang muslim lebih berkesempatan untuk mendapatkan ke untungan dagang dan politik. Mereka menjacii paidukung, daerah-daerah yang muncul, dan yang menyatalcan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam saIar kerajaan Samudera Pasai di pesisir timur laut Aceh yang diperkirakan muncul pada abad 13 Taman nisan Sultan Malik as-Salih yang wafat 696 H (1297 M) mernbuktikan bahwa pada abad 13 sudah ada pemerintahan yang bercorak Islam. Tahun 1913 Moquette melakukan penelitian dan permbacaan nama-nama Sultan Malik as-¬Salih yang wafat tahun 696 H dan puteranya yang bernarna Suitan Muhammad Malik az-Zahir yang wafat pada tahun 726 H. Berdasarkan perbandingan cerita dengan sejarah yang terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu dan berita-berita asing. Moquette berkesimpulan bahwa nama Sultan Malik as-Salih itu merupakan sultan pertama atau pendiri kerajaan tertua bercorak Islam di Indonesia. Pendapat Moquette ini berarti memperkuat pendapat Snouck Horgronje yaitu bahwa Islam pertama dagang ke Indonesia pada abad 13 M dibawa oleh pedagang-pedagang muslim dari Gujarat. Moquette ini agaknya tidak memperhitungkan adanya nisan-nisan kubur yang ditemu¬kan di Leran, Gresik yang memuat nama Fatimah binti Maimun yang wafat 475 H (1082 M). Nisan tersebut seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab gaya Kufi. Bentuk huruf Arab gaya Kufi tersebut ter¬masuk gaya kufi ornamental dimana pada bagian ujung-ujungnya yang tegak dibentuk ikal menye¬rupai kail. Gaya Kufi ornamental semacam ini mencapai puncak perkembangannya dalam abad 11 dan 12 di timur tengah (Tjandrasasmita 1993: 278).

Mengenai asal-usul Fatimah binti Maimun, Ricklefls memperkirakan bahwa Fatimah adalah orang muslim non pribumi. Perkiraannya ini didasarkan atas temuan batu-batu nisan apakah benar¬benar ada di Jawa, ataukah diangkut ke Jawa beberapa waktu setelah Fatimah meninggal (Ricklefls 1995: 2-4). Terlepas dari asal-usul Fatimah, dapat dikatakan bahwa pada sekitar abad 11 M Pulau Jawa sudah kedatangan Islam. Kecuali itu di Pulau Sumatera yaitu di daerah Barus tepatnya di Kompleks Makam Tuan Makhdum terdapat sebuah inskripsi pada nisan yang memuat nama Tuhar Amisuri, wafat tahun 602 H (1205/1206 M). Hal ini jelas lebih tua dari nisan Sultan Malik as-Salih.

Daerah lainnya yang diperkirakan masyarakatnya sudah memeluk Islam adalah Peureulak. Hal Mi diketahui dari berita Marcopolo, seorang musafir Italia. la melakukan perjalanan ke Tiongkok pada akhir abad 13. Dalam perjalanan kembali ke Negeri Venesia, is mengunjungi beberapa daerah di Sumatera pada tahun 1290. Diceritakan bahwa daerah yang dikunjungi di utara Sumatera ialah Peureulak atau Perlak. Disebutkan bahwa penduduk di negeri ini sudah memeluk Islam (Ambary 1981: 515). Dari berita Tome Pires (1512-1515) dapat diketahui bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatera utara dan timur selat Malaka sudah banyak masyarakat muslim.

Dari temuan batu nisan kubur ini dapat diperkirakan bahwa pada abad 11 sudah ada orang muslim di Jawa. Namun hubungan pelayaran dan pedagang muslim dengan masyarakat kerajaan¬kerajaan di Jawa tidak dapat diketahui dengan pasti. Baru pada abad 14 dan 15 didapat gambaran tentang masyarakat muslim di Jawa terutama daerah pesisir utara Jawa Timur. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan perkembangan hubungan pelayaran dan perdagangan dengan kerajaan Islam di Pasai (Samudera Pasai) sejak abad 13 dan Malaka pada abad 15. Tome Pires bahkan telah melukis¬lcan jaringan perdagangan yang luas antara Malaka dan pulau-pulau di Indonesia. Jalur-jalur utama dan hasil-hasil yang paling penting dari perdagangan diantaranya adalah:

- Malaka-Jawa Tengah dan Jawa Timur: beras dan bahan-bahan pangan lainnya seperti lada, asam, emas, perak, dan tekstil yang dimanfaatkan sebagai barang dagangan. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan tekstil India dan barang-barang dari Cina.

- Malaka-Jawa Barat: lada, asam Jawa, emas, dan bahan pangan lainnya ditukarkan dengan tekstil India.

- Malaka-pantai timur Sumatera: emas, kapur barns, lada, sutra, damar, dan hasil hutan lainnya.

- Jawa dan Malaka-Kalimantan: bahan pangan, intan, emas, dan kapur barns ditukarkan dengan tekstil India.

Di Malaka sistem perdagangan ini dihubungkan dengan jalur-jalur yang membentang ke barat sampai India, Persia, Arabia, Syria, Afrika Timur, dan Laut Tengah (Ricklefs 1995: 29).

Gambaran perkembangan perdagangan pada masa Majapahit itu diceritakan dalam kitab Negarakrtagama yang dikutip oleh Uka Tjandrasasmita menceritakan kedatangan orang-orang asing terutama pada peristiwa upacara kraton. Mereka datang dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Annam, Campa, dan India Selatan. Mereka datang dengan menturmang kapal-kapal dagang. Selain itu, diceritakan juga tentang negeri-negeri pemberi upeti dan tetangga Majapahit seperti Jambi dan Palembang, Manangkabwa, Siyak, Perlak, Samudra dan Lamuri, Batan, Lampung dan Bans.

Gambaran masyarakat muslim di Jawa juga dapat dibuktikan dengan serangkaian nisan¬nisan kubur orang muslim di Tralaya dan Trowulan yang diperkirakan sebagai ibukota Majapahit. Nisan-nisan dari Tralaya kebanyakan ditulis dalam angka tahun Saka, meskipun ada juga yang ditulis dengan angka tahun Arab. Atas dasar itu Ricklefs memperkirakan bahwa nisan-nisan kubur tersebut merupakan tempat penguburan orang-orang muslim Jawa, bukan orang-orang muslim asing. Damais bahkan beranggapan bahwa berdasarkan lokasinya yang dekat dengan ibukota kerajaan, kemungkinan nisan-nisan kubur itu untuk menandai kuburan orang-orang Jawa yang terhonnat (Damais 1957: 408-409).

Damais telah meneliti nisan-nisan dari Tralaya dan tempat lainnya di sekitar ibukota kerajaan Majapahit. Jumlah nisan dan balok batu bertulis yang diteliti yaitu 21 dari Tralaya, enam dari Trowulan, dua dari Kedaton, dan satu dari Kedungwulan. Nisan-nisan dan balok batu tersebut berasal dari abad yang berbeda, yaitu abad 14 ada 12 buah, sedangkan yang termasuk abad 15 ada 15 buah, dan awal abad 17 hanya sebuah. Tetapi yang menarik perhatian adalah dua buah balok batu yaitu masing-masing dari Tralaya dan Trowulan yang berangka tahun 1203 S (1281 M) dan 1204 S (1282 M), yang berarti berasal dari masa sebelum Majapahit. Oleh karena itu, diragukan apakah kedua batu benar-benar nisan atau bagian dari peninggalan bercorak Hindu. Selain itu ditinjau clan hiasannya yaitu lengkung kala makara, hiasan daun-daunan dalam segi tiga tumpal yang melambangkan gunungan atau meru dan hiasan pola lingkaran yang dikenal dengan cap matahari Majapahit (Damais 1957: 392-394) memberikan gambaran betapa kuatnya unsur-unsur seni tradisional masa pra Islam, masa Indonesia Hindu yang bercampur dengan Islam yang datang ke Majapahit. Hal ini tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun demikian clan temuan batu-batu nisan itu dapat diperkirakan bahwa sudah ada kelompok masyarakat muslim pada masa kekuasaan Majapahit. Mereka kebanyakan bermukim di Tralaya yang berasal dari tempat itu sendiri yang mengalami proses islamisasi karena hubungan dengan orang-orang muslim dari luar (Tjandrasasmita 1993: 280). Mengenai orang-orang Islam di Gresik ini dapat diketahui pula dari berita Ma Huan, seorang muslim Cina yang mengunjungi daerah pesisir utara Jawa. Ia menceritakan bahwa hanya ada tiga macam penduduk Jawa, yaitu orang-orang muslim dari barat, orang-orang Cina (beberapa diantaranya beragama Islam), dan orang-orang Jawa sendiri (Tjandrasasmita 1993: 284).

Peninggalan berupa makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 822 H (1419 M) membuktikan adanya hubungan pelayaran dan perdagangan antara pesisir utara Jawa Timur dengan Pasai bahkan Gujarat. Menurut J.P. Moquette nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim itu menunjukkan buatan dari pabrik di Cambay-Gujarat, India seperti juga nisan kubur Sultan Malik as-Salih dari Samudera Pasai. Persamaan kedua nisan kubur itu tidak hanya dari bahan saja, akan tetapi juga dari penempatan ayat-ayat al-Qur'an pada ruangan-ruangan tertentu baik pada sisinya maupun pada tempat yang diperlukan untuk tulisan-tulisan itu (Moquette 1920: 44-47).

Pertumbuhan masyarakat muslim di sekiar pesisir utara Jawa dan Majapahit pada taraf permulaannya mungkin belum dirasakan akibatnya di bidang politik oleh kerajaan Majapahit. Kedua belah pihak pada waktu itu mungkin masih mementingkan usaha untuk memperoleh keuntungan dagang. Proses islamisasi hingga mencapai bentuk kekuasaan politik seperti munculnya kerajaan Demak, dipercepat pula oleh kelemahan-kelemahan di kerajaan Majapahit sendiri, yaitu perebutan kekuasaan di kalangan keluarga raja.

Kedatangan Islam ke daerah Indonesia bagian timur yaitu daerah Maluku tidak dapat dipisahlcan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran intemasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Hubungan perdagingam antara daerah Maluku dengan Jawa telah diberitakan oleh Tome Pires. la menceritakan bahwa kapal-kapal dagang dari Gresik adalah milik Pate Cucuf. Raja Temate yang telah memeluk Isaarn bernamma Sultan Bern Acorala. Di Banda, Hitu, Maluku, Makyan, Bacan sudah terdapat masyarakat. Kedatangan Islam ke daerah Kalimantan Selman dapar diketahui dari Hikayat Banjar. Disebutkan bahwa menjelang kedatangan Islam ke daerah itu situasinya sedang terjadi peperangan antara kerajaan Nagara Daha di hulu sungai dengan kerajaan Banjar di daerah pantai. Hikayat Banjar selanjutnya menceritakan bahwa pangeran Samudra dan kerajaan Banjar minta bantuan raja Demak di Jawa dengan perjanjian untuk menganut agama Islam beserta rakyatnya. Dengan bantuan raja Demak, kerajaan Nagara Daha dapat dikalahkan. Sejak itu kerajaan Banjar mengalami perkembangan dan daerah-daerah lainnya tunduk kepada Banjar. Dikatakan dalam Hikayat Banjar bahwa yang pertama-tama mengajarkan Islam kepada Raden Samudra adalah para penghulu Demak. Bagi Demak pemberian bantuan tentara kepada kerajaan Banjar juga merupakan usaha perluasan pengaruhnya. Banjar dianggap penting sebagai sekutu untuk membendung ekspansi Portugis.

Di Sulawesi, sejak abad 15 sudah didatangi pedagang muslim dari Malaka, Jawa, dan Sumatera. Menurut Tome Pires, banyak sekali kerajaan-kerajaan tetapi penduduknya masih menga¬nut berhala. Selanjutnya pada abad 16 di daerah Gowa telah terdapat masyarakat muslim. Di daerah Sulawesi, islamisasi pada taraf pertama dilakukan dengan cara damai. Hal ini dapat diketahui dari hikayat-hikayat setempat yang menceritakan tentang dakwah islam yang dilakukan oleh mubalig Dato' ri Bandang dan Dato Sulaeman.

Di Lombok, Islam masuk kira-kira pada permulaan abad 16. Menurut Babad Lombok yang menyebarkan agama Islam adalah Sunan Prapen dari Giri. Penyebaran Islam kemudian dilanjutkan oleh para mubalig setempat seperti Nurcahya dan Wall Nyoto. Agama Islam di Lombok diajarkan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Adat istiadat clan keseniannya disesuaikan dengan ketauhidan.

Kedatangan Islam ke Pulau Timor, Sabu, dan Rote melalui suatu periode yang panjang dan secara bergelombang. Para tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap penyebaran agama Islam antara lain Abdulkadir bin Jailani, Atu Langanama, Syarif Abubakar, dan lain-lain. Pada awalnya Islam yang masuk ke Pulau Timor, Rote, dan Sabu hanya terbatas di beberapa daerah dan kota pantai saja. Kebanyakan para pemeluknya adalah ketnrunan pendatang-pendatang dari luar daerah, walaupun terdapat juga di kalangan penduduk asli.

Bukti-bukti mengenai kedatangan Islam di Indonesia secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak abad 7 dan 8 sudah ada hubungan dengan orang-orang Islam mungkin dari Arab, Persia, atau India melalui selat Malaka. Namun demikian prosesnya memakan waktu berabad-abad lamanya hingga terbentuk suatu masyarakat luas bahkan kerajaan yang bercorak Islam yaitu kerajaan Samudera Pasai pada abad 13 M.

Salah satu unsur penting dalam proses kedatangan Islam adalah perdagangan dan dipercepat oleh situasi politik di wilayah kerajaan-kerajaan yang didatangi. Hal ini jelas menguntungkan kedua belah pihak. Bagi pedagang-pedagang muslim merasa lebih produktif usahanya, karena kecuali mudah untuk mendapatkan izin perdagangan juga memudahkan untuk lebih menyebarluaskan ajaran¬ajaran Islam. Mereka membentuk perkampungan-perkampungan pedagang yang bersifat ekonomis. Kecuali itu, kelemahan/kemunduran yang dialami kerajaan-kerajaan karena perebutan kekuasaan, agaknya makin mempercepat penyebaran agama Islam. Bupati-bupati di pesisir merasa bebas dari kekuasaan pemerintah pusat. Mereka makin lama makin merdeka. Melalui mereka, Islam menjadi kekuatan ba' dalam perkembangan masyarakat. Berawal dari daerah Sumatera, Islam menyebar ke daerah-daerah yang mempunyai kedudukan penting dalam perdagangan intemasional seperti daerah pesisir Sumatera, selat Malaka, pesisir utara Jawa, dan ke daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia timur (Maluku). Dari sini Islam menyebar ke wilayah Indonesia lainnya yaitu Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Timor, Rote, dan Sabu.

Sumber :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, Masjid Kuno Indonesia, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Foto : http://www.nongeneric.net

Masjid Tua Palopo, Kolaborasi Unsur Budaya Luar dan Lokal


Oleh: Asdhar

Secara umum, terdapat dua tradisi yang menghiasi cara keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan, yakni kepercayaan lama yang bersumber dari tradisi keagamaan nenek moyang, dan kepercayaan yang bersumber dari Islam.

Keduanya membentuk cara pandang dan pola pikir masyarakat Sulawesi Selatan yang diekspresikan melalui simbol-simbol dan tanda-tanda kebudayaan yang mereka ciptakan. Salah satu simbol hasil kolaborasi antara warisan lokal dengan Islam adalah arsitektur, seperti arsitektur Masjid Tua Palopo.

Masjid Tua Palopo dibangun sekitar tahun 1604 M oleh seorang ulama dari Sumatra Barat Datuk Sulaiman yang bergelar Datuk Pattimang. Dinamakan Masjid Tua Palopo karena usianya cukup tua, sekarang telah mencapai 5 abad, dan letaknya di Kota Palopo. Secara historis, masjid ini berdiri di saat Kerajaan Luwu, yang telah memeluk Islam, mencapai kejayaannya di bawah kekuasaan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi, Sultan Abdullah Matinroe.

Oleh masyarakat setempat, Masjid Tua Palopo dinilai sebagai pemersatu antar anggota masyarakat berdasarkan kesamaan agama. Ajaran Islam senapas dengan konsep hidup masyarakat lokal, yaitu siri' dan pesse . Siri' berarti harga diri atau martabat sebagai seorang manusia. Sementara pesse bermakna sikap sepenanggungan, seperasaan, kesetiakawanan terhadap sesama manusia.

Oleh karena itu, ketika Islam hadir di Sulawesi Selatan, masyarakat setempat menerimanya secara damai. Diciptakanlah simbol pemersatu berdasarkan konsep lokal dan Islam berupa masjid, tempat ibadah di mana persatuan, persamaan, dan tenggang rasa dapat tercipta. Tampak jelas, agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini mengakar kuat dalam sanubari Masyarakat Sulawesi Selatan dan menjadi alat integrasi sosial yang ampuh.

Ukuran bangunan utama Masjid Tua Palopo yaitu 11,9 m x 11,9 m, tinggi 3,64 m, dengan tebal dinding 0,94 m yang terbuat dari batu cadas yang direkatkan dengan putih telur. Denahnya berbentuk segi empat yang agaknya dipengaruhi bentuk denah candi-candi di Jawa.

Bentuk segi empat pada Masjid Tua Palopo mengandung makna yang sama dengan bentuk segi empat pada bangunan pendopo atau candi candi, yakni mengandung makna filosofis dan fungsional. Yang pertama berarti bahwa bentuk geometri tersebut sebetulnya. Sedangkan, makna yang kedua melambangkan persamaan dan kesetaraan siapa saja yang berada di dalamnya.

Atap Masjid Tua Palopo berbentuk piramida beratap tiga dan di puncaknya terdapat tempayan keramik yang merepresentasikan keesaan Tuhan. Konsep atap yang demikian itu memiliki kemiripan dengan atap joglo pada bangunan di Jawa, yang juga dikenal dengan nama tajug.

Terdapat dua pendapat seputar bentuk atap Masjid Tua Palopo ini. Yang pertama mengatakan bahwa atap tersebut mendapat pengaruh dari arsitektur Jawa. Sementara yang kedua menolak pendapat itu, dengan berargumen bahwa bentuk tersebut merupakan pengembangan dari konsep lokal masyarakat Sulawesi Selatan sendiri. Namun demikian, mengingat hubungan antara kedua masyarakat telah terjalin begitu lama, wajar jika terjadi akulturasi budaya.

Susunan atap pertama dan kedua disangga empat tiang yang terbuat dari kayu cengaduri, dengan tinggi 8,5 meter dan berdiameter 90 cm. Keempat tiang tersebut dalam konsep Jawa disebut sokoguru. Sementara itu, atap paling atas ditopang dengan satu tiang terbuat dari kayu yang sama. Dalam kearifan lokal Sulawesi Selatan, satu tiang penyangga atap paling atas yang didukung oleh empat tiang lainnya merefleksikan yang sentral ( wara ) dikelilingi oleh unsur-unsur lain di luar yang sentral ( palili ).

Sejauh ini telah dilakukan beberapa kali renovasi untuk perbaikan masjid. Renovasi pertama pada 1700 M dengan perbaikan pada lantai. Kedua, pada 1951, mengganti lantai yang lama dengan lantai dari tegel yang didatangkan dari Singapura. Renovasi ketiga pada 1981 untuk memperbaiki seluruh bagian masjid yang rusak. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti yang sekarang ini. Lahan masjid ini seluas 1.680 m2.

Bentuk arsitektur Masjid Tua Palopo secara keseluruhan menunjukkan nilai-nilai kebuda-yaan lokal yang berakulturasi dengan nilai-nilai dari luar, terutama Islam dan Jawa. Meski demikian, bagian inti dari kebudayaan setempat, tidak berubah.

Sumber : http://artikelpopuler.com
Foto : http://4.bp.blogspot.com

Arsitektur Masjid Kuno


Arsitektur Masjid Pada Masa Awal Perkembangan Islam
Bangsa Indonesia sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang sekarang disebut benda cagar budaya, diantaranya berupa masjid-masjid kuno. Arsitektur masjid-masjid kuno di Indonesia meskipun sederhana, tetapi memiliki ciri khas lokal yang terlihat pada komponen-¬komponen bangunannya. Tetapi sebelum membahasnya, sebaiknya kita melihat perkembangan arsitektur masjid secara umum pada masa Nabi Muhammad SAW dan para khalifah pelanjutnya agar mendapatkan gambaran arsitektur masjid pada awal perkembangan agama Islam agama Islam.

1. Masa Nabi Muhammad SAW (610-632 M)
Pada awal da'wah agama Islam di Mekkah, hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah menata kembali dan membina kebudayaan dalam wujud akal pikiran (sistem nilai dan gagasan), serta dalam wujud tingkah laku, yaitu memberikan ajaran : keimanan, Akhlak, dan ibadah. Keberadaan Masjidil Haram yang sangat penting artinya bagi umat Islam karena terdapat Ka'bah di tengah-tengahnya, belum dapat digunakan sepenuhnya oleh Nabi dan pengikutnya, sebab digunakan juga sebagai tempat ritual kepercayaan masyarakat setempat. Jadi ajaran yang menyangkut bidang duniawi wujud kebudayaan fisik, seperti tempat ibadah, belum mendapat perhatian khusus.

Perjuangan Nabi mendapat tantangan yang keras dari kaum kafir Quraisy di Mekkah, maka akhirnya Nabi dan para pengikutnya melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M (1 Hijriyah). Sesampainya di Quba, Nabi beristirahat selama empat hari (Senin s.d. Kamis), dan pada hari pertama kedatangannya itu pula ia bersama pengikutnya mendirikan sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Quba.

Masjid Quba awalnya merupakan pelataran yang kemudian dipagari dengan dinding tembok yang cukup tinggi, pada sisi utaranya yang memanjang timur barat didirikan bangunan untuk ibadah shalat (biasa disebut al-maghata). Pada saat itu bangunannya masih sangat sederhana tiang-tiangnya dari batang pohon kurma dan atapnya dari pelepah daun kurma yang dicampur/pleester dengan tanah liat. Mimbamya terbuat dari potongan batang-batang pohon kurma yang ditidurkan dan ditumpuk tindih menindih. Tanda kiblat yang menjacli tujuan arah pada waktu shalat dibuat oleh Nabi dengan memakai bahan batu yang dimintanya dari penduduk Quba.

Meskipun sangat sederhana, masjid ini bisa dianggap sebagai contoh awal bentuk dari masjid-masjid yang didirikan oleh ummat Islam selanjutnya. Memiliki ruang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya, serta di sebelah utaranya terdapat serambi untuk tempat shalat. Di tengah-tengah lapangan terbuka dalam masjid itu (biasa disebut shaan), terdapat sebuah sumur tempat berwudhu. Masjid ini telah mengalami beberapa kali perbaikan. Sekarang, temboknya terbuat dari batu, berkubah , dan memiliki menara. Dihiasi dengan dekorasi-dekorasi yang indah, ditambah, ditambah tiang batu dan kayu yang megah. Meskipun secara ornamental dan bahan yang digunakan mengalami banyak perubahan, tetapi denah awalnya tidak berubah.

Di Madinah ia membangun Masjid Nabawi dengan pola yang sama seperti Masjid Quba, yaitu berbentuk segi empat panjang berpagar tembok tinggi, sebagian berupa halaman dalam (shaan) dan sebagian lagi berbentuk bangunan (liwan). Pola awal ini memang cenderung fungsional sesuai kebutuhan yang diajarkan oleh Nabi, untuk menampung kegiatan ibadah maupun muamalah.

Di sebelah selatan masjid ini terdapat suatu ruangan asrama untuk para musafir dan fakir miskin, serta ruangan tempat Nabi mengajar umatnya. Sedangkan di sebelah timur dibangun rumah sederhana buat isteri-isteri Nabi. Masjid Nabawi yang awalnya berbentuk sederhana ini diperluas dan dibangun kembali oleh Khalifah Khalid al-Walid tahun 706 M.

2. Masa Khulafaur Rasyidin (632 - 661 M)
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka pimpinan umat Islam dijabat oleh khalifah-khalifah yang terdiri dari sahabat-sahabat Nabi, yakni empat orang khalifah yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin; mereka adalah: Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan All bin Abu Thalib.

Produk budaya materi berupa sarana ibadah, masjid, pada masa Khulafaur Rasyidin tidaklah banyak. Perjuangan utama mereka dalam hal mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang diajarkan Nabi. Masjid-masjid didirikan dalam bentuk yang fungsional, baru pada khalifah ketiga dan keempat mulai diperkaya dan dipercantik. Pola yang dianut masih tetap pola awal, yakni pola empat persegi panjang, berdinding tembok tinggi yang di dalamnya terdapat shaan dan liwan.

Pada masa khalifah Umar telah ada usaha membangun kembali bangunan Masjidil Haram di Mekkah, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana dan mengarah ke sifat fungsional. Selain itu, khalifah Umar juga membangun Masjid Kuffah (637 M) yang unik. Masjid ini tidak dibatasi dengan (finding tembok batu/tanah liat yang tinggi, melainkan dibatasi dengan kolam air. Liwan-nya (tempat shalat) bertiang marmer yang konon berasal dari Kerajaan Parsi. Masjid ini kemudian diperbaiki oleh khalifah-khlaifah Bani Muawiyah/Ummaiyah (661-680 M), diantaranya: bangunan tambahan berupa riwaqs (serambi/selasar) di sekeliling shaan, serta dinding pembatas yang berupa kolam diganti dengan tembok keliling (670 M) (Wiryoprawiro 1986).

3. Masa Khalifah Bani Ummaiyah/Muawiyah Damaskus (661-750 M)
Pada pemerintahan Bani Ummaiyah pada tahun 661-750 M sistem pemerintahan yang demokratis telah banyak ditinggalkan dan berubah menjadi suatu kerajaan Islam meskipun para pemimpirmya masih menggunakan gelar khalifah. Pusat pemerintahan tidak lagi di Kuffah atau Madinah, tetapi dipindahkan ke Damsyik/Damaskus di Syria.

Saat pemerintahan dipimpin oleh Khalifah Khalid al-Walid telah dibangun Masjid Jamik Damsyik yang mempunyai Shaan dan Riwaqs/Liwan. Pengamh Khalifah ini sangat luas, ke barat sampai di Spanyol dan Perancis Selatan; ke timur sampai ke India dan Samarkand.

Melihat kemegahan gedung-gedung Kristen dan Romawi maka tergugahlah semangatnya untuk membangun masjid yang megah maka dibangunnya Masjid Bani Ummaiyah. Sayangnya pada tahun 1483 masjid ini terbakar sebagian, dan kemudian oleh Sultan Malmuk dari Mesir dibangun kembali dan diberi nama Masjid Keit Bey. Pola clan organisasi ruang dari masjid ini amat berpengaruh pada pembangunan masjid bertiang banyak pada zaman kemudian, seperti Masjid Qiruan dekat Tunisia yang terkenal dengan menaranya yang tua.

Saat Khalifah Abdul Malik (685-688 M) berkuasa, dibangun Qubbah al-Sahra (Dome of the Rock) di Yerusalem, tempat Nabi Muhammad dahulu memulai naik ke langit pada saat menjalankan Isra Mi'raj. Bangunan ini merupakan suatu monumen yang bentuknya mirip dengan bentuk Bassilika di Constantinopel, Yerusalem/Palestina.

Secara umum bentuk bangunan masjid masa Khalifah Bani Ummaiyah masih memakai pola Masjid Kufah yang berciri: shaan, riwaqs, liwan yang bertembok keliling dan mempunyai satu kubah di dekat Mihrab. Sistem struktumya juga tetap memakai bentuk relung yang terbuat dari susunan batu cadas (arch/vault construction) yang diplester yang semakin diperkaya dengan ornamen dekoratif bermotif geometris dan atau motif tetumbuhan. Selain itu pada masa ini juga terdapat maksurah yaitu bilik yang berbentuk kotak, berdindingkan pagar atau terali sehingga tembus pandang. Bilik ini diperuntukan Ichusus untuk para pembesar pada waktu shalat. Di dalam satu masjid bisa terdapat satu atau lebih maksurah. Fungsinya untuk menjaga keamanan khalifah dan gubemur-gubemur dari serangan tiba-tiba pihak musuh.

Pola tembok keliling dengan shaan (court) di tengahnya memang amat sesuai dengan arsitektur dan alam lingkungan setempat yang berildim subtropis. Kaidah keindahan (estetika) seperti: irama (rythm), keseimbangan (balance), tekanan (emphazise), proporsi (proportion), skala (scale), dan sebagainya sudah mendapatkan pengolahan yang cukup baik, meskipun sistem struktur pada saat itu didominasi oleh banyaknya kolom/pilar. Kesemuanya itu terlihat jelas pada bangunan Masjid Jamik Damsyik (Damaskus) dan Masjid al-Aqsa di Yerusalem (Wiryoprawiro, 1986).

Spanyol (757-1236 M)
Cordova ibukota Khalifah Ummaiyah di Spanyol merupakan pusat ilmu pengetahuan yang terkenal di seluruh Benua Eropa. Banyak orang Eropa yang menuntut ilmu di negeri Mi. Pada zaman ini dibangunlah perguruan-perguruan tinggi, perpustakaan-perpustakaan, rumah-rumah sakit dan bangunan lain yang megah. Di kota ini didirikan Masjid Jamik Cordoba yang indah. Relung¬relungnya dihias dengan motif geometris disertai pilar-pilar penyangga yang berjumlah ratusan. Memiliki empat kubah dan sebuah menara yang dibangun di halaman masjid (shaan).

Wujud budaya materi sudah maju, hal ini terlihat dari bentuk arsitektur masjidnya. Denah bangunan masjid masih tetap menggunakan pola masjd Jamik Kufah yang menggunakan struktur relung dan pilar (arch construction) dengan atap datar lengkap dengan shaan, riwaqs dan liwan serta kubah dan menara. Ragam hias berkembang dengan sangat kaya, rumit, dan artistik. Motif geometris, tetumbuhan (flora), awan (alam) dan kaligrafi dikembangkan dengan cermat. Sedang¬kan motif figuratif dan fauna tidak dikembangkan sebab kurang sesuai dengan ajaran Islam.

4. Masa Khalifah Bani Abbasiyah (750 -1258 M)
Pada masa ini pusat pemerintahan sudah jauh keluar dari jazirah Arab, yakni di kota Bagdad, Irak. Peradaban Islam sudah sangat maju, tidak hanya dari segi rohaniah tetapi juga dari segi lahiriahnya. Saat pemerintahan dipimpin oleh Abu Ja'far al-Mansyur (khalifah kedua), ilmu pengetahuan mendapat perhatian khusus. Kitab-kitab produk kerajaan Romawi dikumpulkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. ilmu falak dan filsafat mulai digali dan dikembangkan. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma'mun. Bahkan pada masa Al-Ma'mun sampai clidirikan Majelis Ilmu Pengetahuan "Bait al-Hikmah", sehingga Bagdad tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tetapi sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan. Dengan demikian telah timbul Renaissance Timur di dalam wilayah kaum muslim yang berpusat di Bagdad sekitar tahun 600 M, sebelum timbul Renaissance di Eropa Barat.

Bidang arsitektur pun maju pesat, selain dari segi ilmunya maupun dari segi wujud bangunannya. Karena saat itu banyak didatangkan ahli-ahli bangunan untuk memperbaiki dan membuat berbagai bangunan. Mereka datang dari: Mesir, Syria, Romawi Timur, Parsi dan bahkan ada yang berasal dari India, sehingga semakin memperkaya khasanah arsitektur di Bagdad, termasuk dalam hal arsitektur bangunan sarana ibadah seperti masjid.

Pola bangunan masjid dapat dikatakan sama dengan masa sebelumnya, hanya bentuk: menara, relung, dan ornamentasinya semakin kaya dan rumit. Saat itu tidak hanya bangunan masjid dan bangunan perumahan yang dikembangkan namun juga tata kota dan tata daerah-nya. Kota ditata dengan pola bundar (konsentris) dan yang menjadi titik tengahnya adalah masjid serta istana khalifah dengan alun-alunnya yang luas. Di luarnya terbentang melingkar daerah pemukiman penduduk dengan jaringan jalan yang melingkar dan memusat (radial) yang berakhir di tembok/benteng kota dengan empat pintu gerbangnya.

5. Masa Dinasti Seljuk Asia Kecil
Penyebaran Islam di daerah ini telah dimulai sejak tahun 704 M setelah tentara Islam dan Bagdad yang dipimpin oleh Quthaibah al-Bahili berhasil menguasi Bukhara. Samarkand, dan Khawarizin. Kerajaan Bani Seljuk di Asia Kecil ini beribukota di Iconium atau yang kini dikenal dengan nama Konia. Sultan Alauddin merupakan Raja Bani Seljuk yang cukup besar jasanya dalam membangun kota ini. Bahkan kemudian terkenal di dunia barat lewat cerita 'Arabian Nights' atau Cerita 1001 Malam, serta cerita 'Aladin dengan Lampu Wasiatnya' (Israr 1958: 27).

Bentuk arsitektur masjid yang dibangun di kota ini awalnya menggunakan pola masjid Dunia Arab, namun kemudian mengalami perubahan-perubahan. Perubahan itu antara lain: semakin menghilangnya halaman dalam yang dikenal sebagai shaan, dan kemudian muncul semacam ventilasi udara di atapnya. Bentuk relung dengan tiang penyangga masih tetap ada, namun kemudian muncul ragam hias unik muyarnash yang selain dekoratifjuga berfungsi struktural. Ragam hias ini biasanya terdapat di kepala tiang, relung, maupun kubah yang bentuknya menyerupai sarang lebah bergantung atau bentuk stalaktit.

Persia
Perkembangan arsitektur masjid di Persia saat berada di bawah kekuasaan Bani Seljuk memang tidak begitu berbeda dengan masa sebelumnya, hanya terjadi pemakaian shaan dan penambahan ruangan-ruangan yang tentunya disesuaikan dengan iklim setempat (sub tropis) dan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Di sekelilingnya terdapat riwaqs yang berkembang dengan kamar-kamar tempat kegiatan pendidikan keagamaan (madrasah). Di keempat sisi shaan-nya dibuat `kubah separuh' yang dihiasi dengan motif miiqarnas. Bangunan masjidnya ditutup dengan kubah-kubah yang besar berbentuk bawang terpancung. Menaranya dibuat berpasangan dengan bentuk silinder yang mencuat ke angkasa. Sedangkan bentuk relungnya mirip dengan lunas kapal yang terbalik, yang kemudian dikenal dengan nama Lengkung Persia (Persian arch ).

Masjid Syah merupakan salah satu masjid yang dapat dijadikan contoh untuk mewakili bentuk masjid di Persia. Masjid ini dibangun pada tahun 1610 M di Isfahan dan terletak di ujung kompleks Istana Syah. Bangunannya dilengkapi dengan ruang-ruang madrasah. Selain bangunan masjid, istana, dan madrasah , dibangun juga turbah (makam) yang indah-indah, seperti Turbah Sheik Sayifus di Ardabil. Kompleks bangunan seperti ini di kemudian hari rnernpengaruhi bangsa¬loangsa lam, seperti yang dilakukan oleh Syah Jehan yang membangun Turbah Taj Mahal di India.

6. Masa Dinasti Utsmaniah di Turki
Setelah dinasti Seljuk di Asia Kecil melemah dan akhimya dikalahkan oleh keturunan Ertoghrul pada tahun 1290 M, maka selanjutnya berkuasalah Sultan Utsman (1290-1326 M) di negeri ini. Kekuasaan Bani Utsmaniah ini berlangsung sampai berabad-abad, sehingga kemudian terkenal sebagai dinasti Utsmaniah di Turki (orang Barat menyebutnya Ottaman). Dinasti ini banyak membangun masjid, madrasah, dan perguruan tinggi. Bentuk arsitelcturnya masih melanjutkan arsitektur yang dibangun Bani Seljuk yang berkuasa sebelumnya. Atap berkubah mulai dominan sehingga atap yang dulunya berbentuk datar itu cenderung bertutupkan kubah.

Pada tahun 1453 M kota Konstantinopel (ibukota imperium Romawi Timur) yang dulunya be mama Byzantium dapat direbut dan dikuasai, kemudian diganti namanya menjadi Istambul. Arsitektur Byzantium yang megah banyak mempengaruhi perkembangn arsitektur Bani Utsmaniah. Seperti Gereja Aya Sofia merupakan bangunan di tengah kota Istambul yang banyak dikagumi oleh umat Islam. Bangunan ini memiliki kubah lebar (diametemya 30 m) dan tinggi (54 m), dan menjadi inspirasi bagi Bani Utsmaniah dalam membangun masjid-masjid. Selanjutnya fungsi Aya Sofia yang sebelumnya gereja diubah menjadi masjid. Ornamen-ornamen atau lukisan yang tidak sesuai dihilangkan dan diganti dengan yang bemafaskan Islam. Di keempat penjurunya kemudian dibangun empat buah menara yang langsing menjulang tinggi.

Pada kurun Istambul ini banyak didirikan masjid yang megah. Ruang liwan yang dilindungi oleh kubah-kubah besar menjadi Ionggar apalagi kemudian kubah itu disangga oleh pilar yang caul) langsing (bukan sistem tembok pemikul lagi) menjadikan ruang ini terasa menyatukan jamaahnya dan juga jelas orientasi kiblatnya. Masjid-masjid tersebut diantaranya adalah Masjid Sultan Sulaiman (1555 M) dan Masjid Sultan Ahmad di Istambul.

Dari uraian sebelumnya secara umum dapatlah disimpulkan bahwa bangunan-bangunan masjid sejak masa Nabi Muhammad sampai dengan Dinasti Utsmaniah memiliki pola dasar yang dapat dikatakan sama, yaitu: bertembok keliling, memiliki halaman dalam (shaan), memiliki ruang masjid (liwan), memiliki serambi keliling (riwaqs), memiliki atap datar yang disangga oleh relung dan pilar, memiliki kubah, memiliki ceruk di tembok (mihrab), dan memiliki satu atau lebih menara. Disamping itu, terdapat komponen lainnya yang bentuknya mengikuti perkembangan jaman, jadi mengalami perbaikan-perbaikan, baik dari segi: omamentasi, bahan, maupun keletakannya. Sebagian diantaranya adalah mimbar dan ruangan-ruangan tambahan (madrasah, ruang buat petugas masjid, mck, perpustakaan, dan lain-lain).

B. Arsitektur Masjid Kuno di Indonesia
Arsitektur masjid-masjid kuno di Indonesia bila dibandingkan dengan arsitektur masjid-masjid kuno di dunia Islam lainnya, sangatlah sederhana. Sehingga keberadaannya kurang mendapat perhatian dalam literatur-literatur umumnya yang memaparkan arsitektural Islam di seluruh dunia. Padahal kemegahan arsitekural masa sebelumnya (sebelum Islam masuk ke Indonesia) sangatlah menonjol, hal ini dapat kita saksikan pada karya-karya bangunan suci seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Fenomena ini tentunya sangatlah menarik untuk dikaji, sebab ada suatu asumsi bahwa arsitektur masjid suatu tempat/wilayah seringkali dipengaruhi oleh kondisi setempat, atau dengan kata lain dipengaruhi oleh arsitektural yang berkembang di tempat itu, sebelum Islam masuk.

Menurut Wiyoso Vudoseputro (1986: 13) hal tersebut dikarenakan gairah mencipta karya seni tidak begitu raja muncul, artinya perlu ada rangsangan. Rupa-rupanya kondisi kebudayaan kurang menguntungkan pada waktu itu untuk mendirikan bangunan-bangunan yang serba megah dan serba besar dengan nilai-nilai monumental. Konsolidasi kekuasaan dan peperangan yang terus¬menerus antar-kekuasaan dan melawan kekuasaan asing dapat mengurangi gairah mencipta. Keadaan tersebut menjadikan arsitektur kuno Islam di Indonesia seakan-akan kembali kepada tradisi bangunan kayu.

Pendapat di atas sebelumnya pernah disampaikan oleh Sutjipto Wirjosuparto (1961-1962: 65-67). la mengatakan bahwa tradisi bangunan kayu merupakan tradisi yang berasal dari masa prasejarah, masa sebelum masyarakat Indonesia menerima pengaruh Hindu-Budha yang kemudian mengenalkan konstruksi batu dalam bidang seni bangunan.

Berdasarkan bentuknya, W.F. Stutterheim berpendapat bahwa ruang-ruang yang kecil atau sempit pada candi tidak mungkin dapat dijadikan model sebuah masjid yang memerlukan ruang besar guna keperluan shalat berjamaah. Oleh karena itu, is berpendapat bahwa bangunan gelanggang menyabung ayam (wantilan) sebagai model masjid. Bangunan ini ialah bangunan khas dari masa pm-Islam yang kini masih ditemukan di Bali. Denahnya persegi empat, mempunyai atap dan sisi¬sisinya tidak berdinding. Apabila sisi-sisinya ditutup dan pada sisi barat diberi bagian mihrab, maka jadilah is memenuhi syarat sebagai bangunan masjid (Stutterheim 1953: 153-140).

H.J. de Graaf menyanggah pendapat di atas, menurutnya tidaklah mungkin orang-orang Islam di Indonesia memilih bangunan tempat menyambung ayam sebagai model masjid. Selain itu wantilan atapnya tidak bertingkat seperti atap masjid kuno, hanya ditemukan di Jawa dan Bali, serta tidak memiliki serambi. la mengajukan pendapat bahwa model masjid-masjid kuno di Indonesia berasal dari wilayah Gujarat, Kashmir, dar Vishir (116). Bukti yang memperkuat pendapatnya adalah hasil telaahrrya atas urataa data Nog clitsmat dell Jan Huygens van Linschoten (seorang Belanda yang mengunjungi lira pada abed X1) tentang masjid di Malabar yang mempunyai denah segi empat sena beratap an** Sahh satu dari tingkat tersebut digunakan untuk belajar asama. Hal demikian ditemukan jugs olleh Graaf pada Masjid Taluk, Sumatera Barat (Graaf 1947/1848: 298). Berdasarkan data banding inilah is kemudian menggeneralisasilcamlya untuk seluruh masjid tradisional di Indonesia hingga menghasilkan teori seperti di atas.

Teori Graaf disanggah oleh Sutjipto Wirjosuparto yang rnengatalcan bahwa hasil perbandingannya tidak tepat. Menurutnya kendati sama-sama memiliki atap bertingkat, namun terdapat perbedaan prinsipil antara masjid di Malabar dan Masjid Taluk tersebut. Masjid di Malabar mempunyai denah empat persegi panjang, sedangkan masjid di Taluk berdenah bujur sangkar. Sementara itu masjid di Malabar tidak memiliki tempat wudhu yang berbentuk pant, sebaliknya hal itu ditemukan di Taluk.

Selanjutnya Sutjipto mengemukakan gagasan bahwa model masjid kuno di Indonesia berasal dari bangunan tradisional Jawa yang bernama pendopo (Dendapa). Istilah pendopo berasal dari kata mandapa dalam bahasa Sangsekerta yang mengacu pada suatu bagian dari kuil Hindu di India yang berbentuk persegi dan dibangtm langsung di atas tanah. Di Indonesia, arsitektur mandapa tersebut dimodifikasi menjadi sebuah ruang besar dan terbuka yang sering digunakan untuk menerima tamu yang kemudian dinamakan pendopo. Denah pendopo yang bujur sangkar itulah yang menjadi alasan bagi Sutjipto untuk menduganya sebagai model masjid-masjid tua di Indonesia.

Mengenai atap yang bertingkat, rupanya dapat diwakili oleh bangunan Jawa lainnya, yang disebut rumah joglo. Tipe atap rumah joglo ini menjadi benih Bari atap tumpang pada masjid. Alasan estetika kemudian menjadikan bentuk atap rumah joglo pada masjid memakai bentuk tingkat untuk mengimbangi ukuran ruangnya yang besar (Wirjosuparto 1961/1962; 1986).

Menyinggung tentang persamaan-persamaan yang ada pada masjid di. Malabar dan di Taluk, Sutjipto menjelaskan bahwa memang telah terjadi `pertumbuhan yang sejajar' diantara keduanya (India dan Indonesia) pada waktu itu. Ini disebabkan di kedua tempat itu bangunan mandapa telah sama-sama dimodifikasi menjadi bagian Bari suatu rumah untuk kemudian dijadikan dasar bangunan masjid. Jadi sekali lagi persamaan-persamaan itu tidaklah berarti masjid di Taluk mencontoh masjid di Malabar.

Sedangkan menurut C.F. Pijper (1992: 24), Indonesia memiliki arsitektur masjid kuno yang khas yang membedakannya dengan bentuk-bentuk masjid di negara lain. Tipe masjid Indonesia berasal dari Pulau Jawa, sehingga orang dapat menyebut masjid tipe Jawa. Ciri khas masjid tipe Jawa ialah:

1. Fondasi bangunan yang berbentuk persegi dan pejal (massive) yang agak tinggi;
2. Masjid tidak berdiri di atas tiang, seperti rumah di Indonesia model kuno dan langgar, tetapi di atas dasar yang padat;
3. Masjid itu mempunyai atap yang meruncing ke atas, terdiri dari dua sampai lima tingkat, ke atas makin kecil;
4. Masjid mempunyai tambahan ruangan di sebelah barat atau barat laut, yang dipakai untuk mihrab;
5. Masjid mempunyai serambi di depan maupun di kedua sisinya;
6. Halaman di sekeliling masjid dibatasi oleh tembok dengan satu pintu masuk di depan, disebut gapura.
7. Denahnya berbentuk segi empat;
8. Dibangun di sebelah barat alun-alun;
9. Arah mihrab tidak tepat ke kiblat;
10.Dibangun dari bahan yang mudah rusak;
11. Terdapat pant, di sekelilingnya atau di depan masjid;
12. Dahulu dibangun tanpa serambi (intinya saja).

Ciri-ciri khas ini menunjukkan bahwa masjid tipe Jawa bukan merupakan bangunan asing yang dibawa ke negeri ini oleh mubaligh muslim dari luar, tetapi bentuk asli yang disesuaikan dengan kebutuhan peribadatan secara Islam. Fondasi yang berbentuk persegi itu dikenal juga dalam bangunan Hindu-Jawa, yaitu: candi yang masih terdapat di Pulau Jawa. Kemudian, candi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu fondasi, candi itu sendiri, dan atap. Tidak sulit untuk melihat bahwa dasar fondasi masjid yang padat itu merupakan sisa bentuk fondasi candi. Fondasi ini selalu ada pada setiap masjid.

Bangunan lain yang digunakan untuk ibadah Islam, yaitu langgar, tajug, dan bale biasanya dibangun di atas tiang, masih terus mengikuti pola bangunan Indonesia kuno. Hal ini juga terdapat di daerah Pulau Jawa dengan rumah-rumahnya yang tidak lagi dibangun di atas tiang. Atap masjid terdiri dari beberapa tingkat yang meruncing dan di puncaknya terdapat hiasan. Bentuk atap ini terdapat pada banyak bangunan yang tidak mempunyai hubungan dengan Islam. Kita hams mengembalikannya kepada meru di Bali, menara persegi yang meruncing ke atas dan mempunyai atap yang berjumlah lima sampai sepuluh atau lebih (Bali = tumpang).

Mungkin atap yang tinggi itu dahulu terdapat di Jawa, tetapi karena atap seperti itu dibuat dari bahan yang mudah rusak seperti yang terdapat di Bali, maka atap itu mudah musnah dan dilupakan. Mungkin atap masjid yang bersusun di Pulau Jawa itu merupakan sisa meru. Kita dapat menyaksikannya pada masjid kuno di Banten, yang berasal dari zaman Kesultanan Banten, dan bentuknya yang sekarang ini mungkin berasal dari zaman abad 16. Atap masjid ini terdiri dari lima tingkat, tiga tingkat yang teratas sama kecilnya. Francois Valentijn yang mengunjungi Banten pada tahun 1694, mengatakan: voorzien van viff verdiepingen of daken (mempunyai atap lima tingkat) (Pijper 1992: 25).

Selain atap, salah satu ciri khas masjid kuno di Jawa adalah tembok yang mengelilinginya. Hanya di kota-kota yang jarang terdapat tempat luas, aturan ini diabaikan. Tetapi pada masjid tipe Jawa yang murni, tempat ini mesti ada; yang memisahkan daerah suci dengan daerah kotor. Di depan ada pintu gerbang, bentuknya bermacam-macam. Kita dapat menemukan sebuah bentuk yang disebut `tembok bentar', tidak beratap tetapi juga ada pintu gerbang yang beratap (Jawa=gapura; Sansekerta=gopura), yang kemudian kerapkali berkembang menjadi bentuk pintu gerbang yang tinggi

Tembok yang mengelilingi itu bukan ciri khas muslim, tetapi merupakan salah satu sisa bangunan candi desa di Bali, yaitu pura desa. Kerapkali pura desa di Bali terdiri dari tiga halaman, tiap-tiap halaman dikelilingi oleh tembok. Bahwa pembagian daerah suci ini menjadi beberapa halaman bertembok, hal ini masih terlihat baik dalam bangunan makam-makam tua di Jawa yang terletak di dekat ma§jid. Contohnya makam suci Sunan Ampel (Ampel Rahmat) di Surabaya. Makam yang sebenamya, terletak di halaman terakhir, yang terdekat dengan masjid. Bagan makam suci Tembayat atau Bayat di Klaten seperti: pertama masjid, kemudian beberapa halaman yang satu di belakang yang lain, lalu bangunan makam. Makam keramat lainnya yang diletakkan dalam satu halaman bertembok dengan masjidnya adalah makam Sunan Gin di Gresik. Demikian pula makam Sunan Pejagung di Tuban Selatan dan makam Ratu Kalinyamat di Mantingan, Jepara. Makam¬makam yang lebih kecil kerapkali terdiri dari dua halaman: awalnya masjid dikelilingi tembok, dan di belakangnya, melalui pintu gerbang dekat masjid adalah makam suci, juga dalam ruangan bertembok, seperti terdapat di Jatianom, Surakarta.

Serambi yang sekarang dibangun pada tiap-tiap masjid, merupakan tambahan path bangunan pokok. Ini terbukti, karena adanya atap tersendiri yang tidak mempunyai hubungan dengan masjid. Juga yang merupakan jalan masuk ke dalam. Suatu yang penting ialah bahwa pemerian lama tidak pemah menyebut adanya serambi. Kemudian hams dicatat bahwa masjid-masjid yang dibangun oleh bangsa Arab atau yang mendapat pengaruh Arab, semuanya tanpa serambi. Juga tidak ada serambi pada kebanyakan masjid di Jakarta. Di kota ini pengaruh bangsa Arab dalam soal keagamaan sangat besar. Juga di kota-kota lain tempat bangsa Arab mendirikan masjid sendiri dengan gaya mereka sendiri, tidak ditemukan serambi. Tetapi alasan yang penting lainnya ialah bahwa serambi itu sampai sekarang dipakai untuk keperluan lain dibandingkan dengan bagian dalam masjid tidak ada serambi pada kebanyakan masjid. Mengingat hal ini semua ada kemungkinan bahwa serambi itu sekarang menjadi bagian masjid, meskipun asalnya merupakan tambahan, dan kemudian dibangun pada masjid ash yang berbentuk persegi.

Hal lain yang diduga asing pada tipe masjid ash (Imo) adalah tambahan berbentuk persegi kecil di sisi barat atau barat laut; dalam bahasa Arab disebut mihrab . Dilihat dari dalam masjid, mihrab merupakan sebuah rongga. Seperti yang kita ketahui, mihrab ini terdapat di negara Islam lainnya. Kegunaannya untuk menunjukkan arah kiblat bagi orang yang salat, dan dipakai untuk imam. Di beberapa masjid di Jawa terdapat dua rongga yang berdekatan, yang satu untuk mihrab (dalam bahasa Jawa disebut pangimaman, bahasa Sunda: paimaman, artinya tempat imam), sedangkan rongga yang lain berisi mimbar (dalam bahasa Jawa disebut pangimbaran, bahasa Sunda: paimbaran, artinya tempat mimbar). Juga terdapat masjid yang mempunyai rongga tiga buah yang berdekatan.

Sampai sekarang, banyak menara dibangun di Jawa, dan jumlahnya bertambah terus. Pembangunan menara .menunjuldcan bahwa keinginan untuk menghias tampak lebih besar daripada keinginan untuk memenuhi persyaratan keagamaan. Berdasarkan pandangan yang terakhir ini, meskipun masjid-masjid itu mempunyai menara, orang mengikuti kebiasaan lama untuk mengumandangkan serum shalat (azan) dari gapura masjid atau dari salah satu atap masjid. Menara ini hanya dipakai untuk dua atau satu kali azan dari lima kali shalat. Pada hari Jumat (shalat Jum'at), maka terbukti hanya menara yang dipakai untuk azan. Di beberapa tempat ada kebiasaan untuk menyerukan azan di menara pada setiap waktu shalat, terutama pada bulan Ramadhan.

Menara masjid yang dianggap tertua di Pulau Jawa, yaitu menara Kudus. Bangunannya berbentuk asli Hindu-Jawa dan telah diteliti oleh Brumund dan Krom. Krom memperkirakan menara ini berasal dari permulaan abad 16, tetapi apakah menara itu memang asli menara?. Pertama, karena agak aneh bahwa bangunan yang bagus ini setelah dijadikan tempat untuk menara pada abad 16 M, tidak pernah ada yang meniru; semua menara tua dibangun dengan gaya asing, dan tidak dalam bentuk nasional yaitu bentuk Hindu-Jawa. Kedua, dapat dilihat bahwa menara Kudus mempunyai beduk yang besar yang dipukul beberapa kali. Menurut adat di Jawa, bedug dipukul untuk mengumumkan waktu salat sebelum azan dikumandangkan. Beduk itu merupakan hasil kebudayaan Indonesia kuno, dan kebiasaan memukul beduk pada mulanya tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Di tempat lain, beduk itu tidak diletakkan di menara; pada umumnya diletakkan di serambi. Kadang-kadang beduk diletakkan di masjid bagian dalam atau di dalam bangunan kecil di halaman masjid. Di Jawa Timur, beduk kerapkali diletakkan di bagian atas gapura. Gapura ini memisahkan halaman masjid dengan jalan.

Gapura itu merupakan sebuah bangunan pintu berbentuk persegi, dengan sebuah ruangan di atasnya. Atapnya bertumpu pada empat tiang sehingga ruangan atas ini terbuka pada semua sisi. Gapura yang istimewa ini bukan merupakan sebuah menara, yang mungkin berdasarkan kenyataan bahwa di halaman masjid yang sama itu kadang-kadang terdapat juga sebuah menara. Bentuk gapura ini mengingatkan kita kepada menara kulkul yang terdapat di Bali atau dekat pura desa yang kadang-kadang terletak di atas tembok candi. Menara Kudus menurut Pijper bukan merupakan sebuah menara, tetapi sebuah bangunan Hindu yang disesuaikan dengan bentuk dan tujuan sekarang.

Kemungkinan besar menara tertua di Pulau Jawa berada di Banten. sebuah menara putih tidak ramping bersegi-segi berclin di muka masjid Kesultanan Banten Bangunan yang besar ini dilihat dari jauh mengingatkan kita pada sebuah bangunan menara soar Belanda. Menurut cerita, menara masjid tersebut dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang bernarna Lucas Cardeel. Bentuk bangunan yang masih ada adalah tiamah (terletak di sebelah selatan masjid) juga merupakan hasil serambi pada kebanyakan masjid di Jakarta. Di kota ini pengaruh bangsa Arab dalam soal keagamaan sangat besar. Juga di kota-kota lain tempat bangsa Arab mendirikan masjid sendiri dengan gaya mereka sendiri, tidak ditemukan serambi. Tetapi alasan yang penting lainnya ialah bahwa serambi itu sampai sekarang dipakai untuk keperluan lain dibandingkan dengan bagian dalam masjid tidak ada serambi pada kebanyakan masjid. Mengingat hal ini semua ada kemungkinan bahwa serambi itu sekarang menjadi bagian masjid, meskipun asalnya merupakan tambahan, dan kemudian dibangun pada masjid ash yang berbentuk persegi.

Hal lain yang diduga asing pada tipe masjid ash (Imo) adalah tambahan berbentuk persegi kecil di sisi barat atau barat laut; dalam bahasa Arab disebut mihrab . Dilihat dari dalam masjid, mihrab merupakan sebuah rongga. Seperti yang kita ketahui, mihrab ini terdapat di negara Islam lainnya. Kegunaannya untuk menunjukkan arah kiblat bagi orang yang salat, dan dipakai untuk imam. Di beberapa masjid di Jawa terdapat dua rongga yang berdekatan, yang satu untuk mihrab (dalam bahasa Jawa disebut pangimaman, bahasa Sunda: paimaman, artinya tempat imam), sedangkan rongga yang lain berisi mimbar (dalam bahasa Jawa disebut pangimbaran, bahasa Sunda: paimbaran, artinya tempat mimbar). Juga terdapat masjid yang mempunyai rongga tiga buah yang berdekatan.

Sampai sekarang, banyak menara dibangun di Jawa, dan jumlahnya bertambah terus. Pembangunan menara .menunjuldcan bahwa keinginan untuk menghias tampak lebih besar daripada keinginan untuk memenuhi persyaratan keagamaan. Berdasarkan pandangan yang terakhir ini, meskipun masjid-masjid itu mempunyai menara, orang mengikuti kebiasaan lama untuk mengumandangkan serum shalat (azan) dari gapura masjid atau dari salah satu atap masjid. Menara ini hanya dipakai untuk dua atau satu kali azan dari lima kali shalat. Pada hari Jumat (shalat Jum'at), maka terbukti hanya menara yang dipakai untuk azan. Di beberapa tempat ada kebiasaan untuk menyerukan azan di menara pada setiap waktu shalat, terutama pada bulan Ramadhan.

Menara masjid yang dianggap tertua di Pulau Jawa, yaitu menara Kudus. Bangunannya berbentuk asli Hindu-Jawa dan telah diteliti oleh Brumund dan Krom. Krom memperkirakan menara ini berasal dari permulaan abad 16, tetapi apakah menara itu memang asli menara?. Pertama, karena agak aneh bahwa bangunan yang bagus ini setelah dijadikan tempat untuk menara pada abad 16 M, tidak pernah ada yang meniru; semua menara tua dibangun dengan gaya asing, dan tidak dalam bentuk nasional yaitu bentuk Hindu-Jawa. Kedua, dapat dilihat bahwa menara Kudus mempunyai beduk yang besar yang dipukul beberapa kali. Menurut adat di Jawa, bedug dipukul untuk mengumumkan waktu salat sebelum azan dikumandangkan. Beduk itu merupakan hasil kebudayaan Indonesia kuno, dan kebiasaan memukul beduk pada mulanya tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Di tempat lain, beduk itu tidak diletakkan di menara; pada umumnya diletakkan di serambi. Kadang-kadang beduk diletakkan di masjid bagian dalam atau di dalam bangunan kecil di halaman masjid. Di Jawa Timur, beduk kerapkali diletakkan di bagian atas gapura. Gapura ini memisahkan halaman masjid dengan jalan.

Gapura itu merupakan sebuah bangunan pintu berbentuk persegi, dengan sebuah ruangan di atasnya. Atapnya bertumpu pada empat tiang sehingga ruangan atas ini terbuka pada semua sisi. Gapura yang istimewa ini bukan merupakan sebuah menara, yang mungkin berdasarkan kenyataan bahwa di halaman masjid yang sama itu kadang-kadang terdapat juga sebuah menara. Bentuk gapura ini mengingatkan kita kepada menara kulkul yang terdapat di Bali atau dekat pura desa yang kadang¬kadang terletak di atas tembok candi. Menara Kudus menurut Pijper bukan merupakan sebuah menara, tetapi sebuah bangunan Hindu yang disesuaikan dengan bentuk dan tujuan sekarang.

Kemungkinan besar menara tertua di Pulau Jawa berada di Banten. sebuah menara putih tidak ramping bersegi-segi berclin di muka masjid Kesultanan Banten Bangunan yang besar ini dilihat dari jauh mengingatkan kita pada sebuah bangunan menara soar Belanda. Menurut cerita, menara masjid tersebut dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang bernarna Lucas Cardeel. Bentuk bangunan yang masih ada adalah tiamah (terletak di sebelah selatan masjid) juga merupakan hasil sambung-menyambung dari bawah sampai ke atas. Begitu juga Masjid Asasi Nagari Gunung, Padangpanjang yang beratapkan ijuk yang meruncing, bersusun tiga tingkat dengan teratur.

Masjid Pontianak. Masjid ini merupakan salah satu masjid kuno di Kalimantan Barat yang menggunakan konstruksi kayu, berdiri di atas tiang, dan terletak di pinggir sungai. Secara umum, di Kalimantan Barat dan Selatan banyak didapati masjid-masjid yang dibangun di pinggir sungai, karena sungai merupakan salah satu sarana transportasi yang pertting. Model atapnya bertingkat¬tingkat dengan lapisan atasnya dibentuk menyerupai kubah yang unik, sehingga mirip bangunan sebuah lonceng. Kubah ini dikelilingi oleh empat buah kubah kecil yang lain pada tiap-tiap sudut masjid. Kubah-kubah kecil itu sepintas lalu menyerupai menara tempat azan.

Karena air. sungai sering pasang-surut, maka jalan dari tepi sungai ke masjid cukup sukar. Maka dibuat jembatan yang panjang dari pinggir sungai sampai ke pintu masjid itu, dan di ujung jembatannya disediakan sebuah pangkalan yang diberi atap, tempat orang turun naik ke dalam perahu.

Di Sulawesi, Masjid Tua Bungku merupakan salah satu masjid kuno yang banyak dikunjungi masyarakat. Atapnya tumpang lima dengan kombinasi bentuk kubah pada bagian puncaknya. Di antara tiap-tiap tingkatan atap terdapat jendela kaca.

Sumber :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, Masjid Kuno Indonesia, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Foto : http://www.budpar.go.id

Arsitektur Masjid Pada Masa Awal Perkembangan Islam


Bangsa Indonesia sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang sekarang disebut benda cagar budaya, diantaranya berupa masjid-masjid kuno. Arsitektur masjid-masjid kuno di Indonesia meskipun sederhana, tetapi memiliki ciri khas lokal yang terlihat pada komponen-komponen bangunannya. Tetapi sebelum membahasnya, sebaiknya kita melihat perkembangan arsitektur masjid secara umum pada masa Nabi Muhammad SAW dan para khalifah pelanjutnya agar mendapatkan gambaran arsitektur masjid pada awal perkembangan agama Islam agama Islam.

1. Masa Nabi Muhammad SAW (610-632 M)
Pada awal da'wah agama Islam di Mekkah, hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah menata kembali dan membina kebudayaan dalam wujud akal pikiran (sistem nilai dan gagasan), serta dalam wujud tingkah laku, yaitu memberikan ajaran : keimanan, Akhlak, dan ibadah. Keberadaan Masjidil Haram yang sangat penting artinya bagi umat Islam karena terdapat Ka'bah di tengah-tengahnya, belum dapat digunakan sepenuhnya oleh Nabi dan pengikutnya, sebab digunakan juga sebagai tempat ritual kepercayaan masyarakat setempat. Jadi ajaran yang menyangkut bidang duniawi wujud kebudayaan fisik, seperti tempat ibadah, belum mendapat perhatian khusus.

Saar itu perjuangan Nabi mendapat tantangan yang keras dari kaum kafir Quraisy di Mekkah, maka akhirnya Nabi dan para pengikutnya melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M (1 Hijriyah). Sesampainya di Quba, Nabi beristirahat selama empat hari (Senin s.d. Kamis), dan pada hari pertama kedatangannya itu pula ia bersama pengikutnya mendirikan sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Quba.

Masjid Quba awalnya merupakan pelataran yang kemudian dipagari dengan dinding tembok yang cukup tinggi, pada sisi utaranya yang memanjang timur barat didirikan bangunan untuk ibadah shalat (biasa disebut al-maghata). Pada saat itu bangunannya masih sangat sederhana tiang-tiangnya dari batang pohon kurma dan atapnya dari pelepah daun kurma yang dicampur/pleester dengan tanah liat. Mimbamya terbuat dari potongan batang-batang pohon kurma yang ditidurkan dan ditumpuk tindih menindih. Tanda kiblat yang menjacli tujuan arah pada waktu shalat dibuat oleh Nabi dengan memakai bahan batu yang dimintanya dari penduduk Quba.

Meskipun sangat sederhana, masjid ini bisa dianggap sebagai contoh awal bentuk dari masjid-masjid yang didirikan oleh ummat Islam selanjutnya. Memiliki ruang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya, serta di sebelah utaranya terdapat serambi untuk tempat shalat. Di tengah-tengah lapangan terbuka dalam masjid itu (biasa disebut shaan), terdapat sebuah sumur tempat berwudhu. Masjid ini telah mengalami beberapa kali perbaikan. Sekarang, temboknya terbuat dari batu, berkubah , dan memiliki menara. Dihiasi dengan dekorasi-dekorasi yang indah, ditambah, ditambah tiang batu dan kayu yang megah. Meskipun secara ornamental dan bahan yang digunakan mengalami banyak perubahan, tetapi denah awalnya tidak berubah.
Di Madinah ia membangun Masjid Nabawi dengan pola yang sama seperti Masjid Quba, yaitu berbentuk segi empat panjang berpagar tembok tinggi, sebagian berupa halaman dalam (shaan) dan sebagian lagi berbentuk bangunan (liwan). Pola awal ini memang cenderung fungsional sesuai kebutuhan yang diajarkan oleh Nabi, untuk menampung kegiatan ibadah maupun muamalah.

Di sebelah selatan masjid ini terdapat suatu ruangan asrama untuk para musafir dan fakir miskin, serta ruangan tempat Nabi mengajar umatnya. Sedangkan di sebelah timur dibangun rumah sederhana buat isteri-isteri Nabi. Masjid Nabawi yang awalnya berbentuk sederhana ini diperluas dan dibangun kembali oleh Khalifah Khalid al-Walid tahun 706 M.

2. Masa Khulafaur Rasyidin (632 - 661 M)
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka pimpinan umat Islam dijabat oleh khalifah-khalifah yang terdiri dari sahabat-sahabat Nabi, yakni empat orang khalifah yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin; mereka adalah: Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan All bin Abu Thalib.

Produk budaya materi berupa sarana ibadah, masjid, pada masa Khulafaur Rasyidin tidaklah banyak. Perjuangan utama mereka dalam hal mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang diajarkan Nabi. Masjid-masjid didirikan dalam bentuk yang fungsional, baru pada khalifah ketiga dan keempat mulai diperkaya dan dipercantik. Pola yang dianut masih tetap pola awal, yakni pola empat persegi panjang, berdinding tembok tinggi yang di dalamnya terdapat shaan dan liwan.

Pada masa khalifah Umar telah ada usaha membangun kembali bangunan Masjidil Haram di Mekkah, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana dan mengarah ke sifat fungsional. Selain itu, khalifah Umar juga membangun Masjid Kuffah (637 M) yang unik. Masjid ini tidak dibatasi dengan (finding tembok batu/tanah liat yang tinggi, melainkan dibatasi dengan kolam air. Liwan-nya (tempat shalat) bertiang marmer yang konon berasal dari Kerajaan Parsi. Masjid ini kemudian diperbaiki oleh khalifah-khlaifah Bani Muawiyah/Ummaiyah (661-680 M), diantaranya: bangunan tambahan berupa riwaqs (serambi/selasar) di sekeliling shaan, serta dinding pembatas yang berupa kolam diganti dengan tembok keliling (670 M) (Wiryoprawiro 1986).

3. Masa Khalifah Bani Ummaiyah/Muawiyah

Damaskus (661-750 M)
Pada pemerintahan Bani Ummaiyah pada tahun 661-750 M sistem pemerintahan yang demokratis telah banyak ditinggalkan dan berubah menjadi suatu kerajaan Islam meskipun para pemimpirmya masih menggunakan gelar khalifah. Pusat pemerintahan tidak lagi di Kuffah atau Madinah, tetapi dipindahkan ke Damsyik/Damaskus di Syria.

Saat pemerintahan dipimpin oleh Khalifah Khalid al-Walid telah dibangun Masjid Jamik Damsyik yang mempunyai Shaan dan Riwaqs/Liwan. Pengamh Khalifah ini sangat luas, ke barat sampai di Spanyol dan Perancis Selatan; ke timur sampai ke India dan Samarkand.

Melihat kemegahan gedung-gedung Kristen dan Romawi maka tergugahlah semangatnya untuk membangun masjid yang megah maka dibangunnya Masjid Bani Ummaiyah. Sayangnya pada tahun 1483 masjid ini terbakar sebagian, dan kemudian oleh Sultan Malmuk dari Mesir dibangun kembali dan diberi nama Masjid Keit Bey. Pola clan organisasi ruang dari masjid ini amat berpengaruh pada pembangunan masjid bertiang banyak pada zaman kemudian, seperti Masjid Qiruan dekat Tunisia yang terkenal dengan menaranya yang tua.

Saat Khalifah Abdul Malik (685-688 M) berkuasa, dibangun Qubbah al-Sahra (Dome of the Rock) di Yerusalem, tempat Nabi Muhammad dahulu memulai naik ke langit pada saat menjalankan Isra Mi'raj. Bangunan ini merupakan suatu monumen yang bentuknya mirip dengan bentuk Bassilika di Constantinopel, Yerusalem/Palestina.

Secara umum bentuk bangunan masjid masa Khalifah Bani Ummaiyah masih memakai pola Masjid Kufah yang berciri: shaan, riwaqs, liwan yang bertembok keliling dan mempunyai satu kubah di dekat Mihrab. Sistem struktumya juga tetap memakai bentuk relung yang terbuat dari susunan batu cadas (arch/vault construction) yang diplester yang semakin diperkaya dengan ornamen dekoratif bermotif geometris dan atau motif tetumbuhan. Selain itu pada masa ini juga terdapat maksurah yaitu bilik yang berbentuk kotak, berdindingkan pagar atau terali sehingga tembus pandang. Bilik ini diperuntukan Ichusus untuk para pembesar pada waktu shalat. Di dalam satu masjid bisa terdapat satu atau lebih maksurah. Fungsinya untuk menjaga keamanan khalifah dan gubemur-gubemur dari serangan tiba-tiba pihak musuh.

Pola tembok keliling dengan shaan (court) di tengahnya memang amat sesuai dengan arsitektur dan alam lingkungan setempat yang berildim subtropis. Kaidah keindahan (estetika) seperti: irama (rythm), keseimbangan (balance), tekanan (emphazise), proporsi (proportion), skala (scale), dan sebagainya sudah mendapatkan pengolahan yang cukup baik, meskipun sistem struktur pada saat itu didominasi oleh banyaknya kolom/pilar. Kesemuanya itu terlihat jelas pada bangunan Masjid Jamik Damsyik (Damaskus) dan Masjid al-Aqsa di Yerusalem (Wiryoprawiro, 1986).

Spanyol (757-1236 M)
Cordova ibukota Khalifah Ummaiyah di Spanyol merupakan pusat ilmu pengetahuan yang terkenal di seluruh Benua Eropa. Banyak orang Eropa yang menuntut ilmu di negeri Mi. Pada zaman ini dibangunlah perguruan-perguruan tinggi, perpustakaan-perpustakaan, rumah-rumah sakit dan bangunan lain yang megah. Di kota ini didirikan Masjid Jamik Cordoba yang indah. Relung¬relungnya dihias dengan motif geometris disertai pilar-pilar penyangga yang berjumlah ratusan. Memiliki empat kubah dan sebuah menara yang dibangun di halaman masjid (shaan).
Wujud budaya materi sudah maju, hal ini terlihat dari bentuk arsitektur masjidnya. Denah bangunan masjid masih tetap menggunakan pola masjd Jamik Kufah yang menggunakan struktur relung dan pilar (arch construction) dengan atap datar lengkap dengan shaan, riwaqs dan liwan serta kubah dan menara. Ragam hias berkembang dengan sangat kaya, rumit, dan artistik. Motif geometris, tetumbuhan (flora), awan (alam) dan kaligrafi dikembangkan dengan cermat. Sedang¬kan motif figuratif dan fauna tidak dikembangkan sebab kurang sesuai dengan ajaran Islam.

4. Masa Khalifah Bani Abbasiyah (750 -1258 M)
Pada masa ini pusat pemerintahan sudah jauh keluar dari jazirah Arab, yakni di kota Bagdad, Irak. Peradaban Islam sudah sangat maju, tidak hanya dari segi rohaniah tetapi juga dari segi lahiriahnya. Saat pemerintahan dipimpin oleh Abu Ja'far al-Mansyur (khalifah kedua), ilmu pengetahuan mendapat perhatian khusus. Kitab-kitab produk kerajaan Romawi dikumpulkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. ilmu falak dan filsafat mulai digali dan dikembangkan. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma'mun. Bahkan pada masa Al-Ma'mun sampai clidirikan Majelis Ilmu Pengetahuan "Bait al-Hikmah", sehingga Bagdad tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tetapi sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan. Dengan demikian telah timbul Renaissance Timur di dalam wilayah kaum muslim yang berpusat di Bagdad sekitar tahun 600 M, sebelum timbul Renaissance di Eropa Barat.

Bidang arsitektur pun maju pesat, selain dari segi ilmunya maupun dari segi wujud bangunannya. Karena saat itu banyak didatangkan ahli-ahli bangunan untuk memperbaiki dan membuat berbagai bangunan. Mereka datang dari: Mesir, Syria, Romawi Timur, Parsi dan bahkan ada yang berasal dari India, sehingga semakin memperkaya khasanah arsitektur di Bagdad, termasuk dalam hal arsitektur bangunan sarana ibadah seperti masjid.

Pola bangunan masjid dapat dikatakan sama dengan masa sebelumnya, hanya bentuk: menara, relung, dan ornamentasinya semakin kaya dan rumit. Saat itu tidak hanya bangunan masjid dan bangunan perumahan yang dikembangkan namun juga tata kota dan tata daerah-nya. Kota ditata dengan pola bundar (konsentris) dan yang menjadi titik tengahnya adalah masjid serta istana khalifah dengan alun-alunnya yang luas. Di luarnya terbentang melingkar daerah pemukiman penduduk dengan jaringan jalan yang melingkar dan memusat (radial) yang berakhir di tembok/benteng kota dengan empat pintu gerbangnya.

5. Masa Dinasti Seljuk Asia Kecil
Penyebaran Islam di daerah ini telah dimulai sejak tahun 704 M setelah tentara Islam dan Bagdad yang dipimpin oleh Quthaibah al-Bahili berhasil menguasi Bukhara. Samarkand, dan Khawarizin. Kerajaan Bani Seljuk di Asia Kecil ini beribukota di Iconium atau yang kini dikenal dengan nama Konia. Sultan Alauddin merupakan Raja Bani Seljuk yang cukup besar jasanya dalam membangun kota ini. Bahkan kemudian terkenal di dunia barat lewat cerita 'Arabian Nights' atau Cerita 1001 Malam, serta cerita 'Aladin dengan Lampu Wasiatnya' (Israr 1958: 27).

Bentuk arsitektur masjid yang dibangun di kota ini awalnya menggunakan pola masjid Dunia Arab, namun kemudian mengalami perubahan-perubahan. Perubahan itu antara lain: semakin menghilangnya halaman dalam yang dikenal sebagai shaan, dan kemudian muncul semacam ventilasi udara di atapnya. Bentuk relung dengan tiang penyangga masih tetap ada, namun kemudian muncul ragam hias unik muyarnash yang selain dekoratifjuga berfungsi struktural. Ragam hias ini biasanya terdapat di kepala tiang, relung, maupun kubah yang bentuknya menyerupai sarang lebah bergantung atau bentuk stalaktit.

Persia
Perkembangan arsitektur masjid di Persia saat berada di bawah kekuasaan Bani Seljuk memang tidak begitu berbeda dengan masa sebelumnya, hanya terjadi pemakaian shaan dan penambahan ruangan-ruangan yang tentunya disesuaikan dengan iklim setempat (sub tropis) dan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Di sekelilingnya terdapat riwaqs yang berkembang dengan kamar-kamar tempat kegiatan pendidikan keagamaan (madrasah). Di keempat sisi shaan-nya dibuat `kubah separuh' yang dihiasi dengan motif miiqarnas. Bangunan masjidnya ditutup dengan kubah-kubah yang besar berbentuk bawang terpancung. Menaranya dibuat berpasangan dengan bentuk silinder yang mencuat ke angkasa. Sedangkan bentuk relungnya mirip dengan lunas kapal yang terbalik, yang kemudian dikenal dengan nama Lengkung Persia (Persian arch ).

Masjid Syah merupakan salah satu masjid yang dapat dijadikan contoh untuk mewakili bentuk masjid di Persia. Masjid ini dibangun pada tahun 1610 M di Isfahan dan terletak di ujung kompleks Istana Syah. Bangunannya dilengkapi dengan ruang-ruang madrasah. Selain bangunan masjid, istana, dan madrasah , dibangun juga turbah (makam) yang indah-indah, seperti Turbah Sheik Sayifus di Ardabil. Kompleks bangunan seperti ini di kemudian hari rnernpengaruhi bangsa¬loangsa lam, seperti yang dilakukan oleh Syah Jehan yang membangun Turbah Taj Mahal di India.

6. Masa Dinasti Utsmaniah di Turki
Setelah dinasti Seljuk di Asia Kecil melemah dan akhimya dikalahkan oleh keturunan Ertoghrul pada tahun 1290 M, maka selanjutnya berkuasalah Sultan Utsman (1290-1326 M) di negeri ini. Kekuasaan Bani Utsmaniah ini berlangsung sampai berabad-abad, sehingga kemudian terkenal sebagai dinasti Utsmaniah di Turki (orang Barat menyebutnya Ottaman). Dinasti ini banyak membangun masjid, madrasah, dan perguruan tinggi. Bentuk arsitelcturnya masih melanjutkan arsitektur yang dibangun Bani Seljuk yang berkuasa sebelumnya. Atap berkubah mulai dominan sehingga atap yang dulunya berbentuk datar itu cenderung bertutupkan kubah.

Pada tahun 1453 M kota Konstantinopel (ibukota imperium Romawi Timur) yang dulunya be mama Byzantium dapat direbut dan dikuasai, kemudian diganti namanya menjadi Istambul. Arsitektur Byzantium yang megah banyak mempengaruhi perkembangn arsitektur Bani Utsmaniah. Seperti Gereja Aya Sofia merupakan bangunan di tengah kota Istambul yang banyak dikagumi oleh umat Islam. Bangunan ini memiliki kubah lebar (diametemya 30 m) dan tinggi (54 m), dan menjadi inspirasi bagi Bani Utsmaniah dalam membangun masjid-masjid. Selanjutnya fungsi Aya Sofia yang sebelumnya gereja diubah menjadi masjid. Ornamen-ornamen atau lukisan yang tidak sesuai dihilangkan dan diganti dengan yang bemafaskan Islam. Di keempat penjurunya kemudian dibangun empat buah menara yang langsing menjulang tinggi.

Pada kurun Istambul ini banyak didirikan masjid yang megah. Ruang liwan yang dilindungi oleh kubah-kubah besar menjadi Ionggar apalagi kemudian kubah itu disangga oleh pilar yang caul) langsing (bukan sistem tembok pemikul lagi) menjadikan ruang ini terasa menyatukan jamaahnya dan juga jelas orientasi kiblatnya. Masjid-masjid tersebut diantaranya adalah Masjid Sultan Sulaiman (1555 M) dan Masjid Sultan Ahmad di Istambul.

Dari uraian sebelumnya secara umum dapatlah disimpulkan bahwa bangunan-bangunan masjid sejak masa Nabi Muhammad sampai dengan Dinasti Utsmaniah memiliki pola dasar yang dapat dikatakan sama, yaitu: bertembok keliling, memiliki halaman dalam (shaan), memiliki ruang masjid (liwan), memiliki serambi keliling (riwaqs), memiliki atap datar yang disangga oleh relung dan pilar, memiliki kubah, memiliki ceruk di tembok (mihrab), dan memiliki satu atau lebih menara. Disamping itu, terdapat komponen lainnya yang bentuknya mengikuti perkembangan jaman, jadi mengalami perbaikan-perbaikan, baik dari segi: omamentasi, bahan, maupun keletakannya. Sebagian diantaranya adalah mimbar dan ruangan-ruangan tambahan (madrasah, ruang buat petugas masjid, mck, perpustakaan, dan lain-lain).

B. Arsitektur Masjid Kuno di Indonesia
Arsitektur masjid-masjid kuno di Indonesia bila dibandingkan dengan arsitektur masjid-masjid kuno di dunia Islam lainnya, sangatlah sederhana. Sehingga keberadaannya kurang mendapat perhatian dalam literatur-literatur umumnya yang memaparkan arsitektural Islam di seluruh dunia. Padahal kemegahan arsitekural masa sebelumnya (sebelum Islam masuk ke Indonesia) sangatlah menonjol, hal ini dapat kita saksikan pada karya-karya bangunan suci seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Fenomena ini tentunya sangatlah menarik untuk dikaji, sebab ada suatu asumsi bahwa arsitektur masjid suatu tempat/wilayah seringkali dipengaruhi oleh kondisi setempat, atau dengan kata lain dipengaruhi oleh arsitektural yang berkembang di tempat itu, sebelum Islam masuk.

Menurut Wiyoso Vudoseputro (1986: 13) hal tersebut dikarenakan gairah mencipta karya seni tidak begitu raja muncul, artinya perlu ada rangsangan. Rupa-rupanya kondisi kebudayaan kurang menguntungkan pada waktu itu untuk mendirikan bangunan-bangunan yang serba megah dan serba besar dengan nilai-nilai monumental. Konsolidasi kekuasaan dan peperangan yang terus¬menerus antar-kekuasaan dan melawan kekuasaan asing dapat mengurangi gairah mencipta. Keadaan tersebut menjadikan arsitektur kuno Islam di Indonesia seakan-akan kembali kepada tradisi bangunan kayu.

Pendapat di atas sebelumnya pernah disampaikan oleh Sutjipto Wirjosuparto (1961-1962: 65-67). la mengatakan bahwa tradisi bangunan kayu merupakan tradisi yang berasal dari masa prasejarah, masa sebelum masyarakat Indonesia menerima pengaruh Hindu-Budha yang kemudian mengenalkan konstruksi batu dalam bidang seni bangunan.

Berdasarkan bentuknya, W.F. Stutterheim berpendapat bahwa ruang-ruang yang kecil atau sempit pada candi tidak mungkin dapat dijadikan model sebuah masjid yang memerlukan ruang besar guna keperluan shalat berjamaah. Oleh karena itu, is berpendapat bahwa bangunan gelanggang menyabung ayam (wantilan) sebagai model masjid. Bangunan ini ialah bangunan khas dari masa pm-Islam yang kini masih ditemukan di Bali. Denahnya persegi empat, mempunyai atap dan sisi¬sisinya tidak berdinding. Apabila sisi-sisinya ditutup dan pada sisi barat diberi bagian mihrab, maka jadilah is memenuhi syarat sebagai bangunan masjid (Stutterheim 1953: 153-140).

H.J. de Graaf menyanggah pendapat di atas, menurutnya tidaklah mungkin orang-orang Islam di Indonesia memilih bangunan tempat menyambung ayam sebagai model masjid. Selain itu wantilan atapnya tidak bertingkat seperti atap masjid kuno, hanya ditemukan di Jawa dan Bali, serta tidak memiliki serambi. la mengajukan pendapat bahwa model masjid-masjid kuno di Indonesia berasal dari wilayah Gujarat, Kashmir, dar Vishir (116). Bukti yang memperkuat pendapatnya adalah hasil telaahrrya atas urataa data Nog clitsmat dell Jan Huygens van Linschoten (seorang Belanda yang mengunjungi lira pada abed X1) tentang masjid di Malabar yang mempunyai denah segi empat sena beratap an** Sahh satu dari tingkat tersebut digunakan untuk belajar asama. Hal demikian ditemukan jugs olleh Graaf pada Masjid Taluk, Sumatera Barat (Graaf 1947/1848: 298). Berdasarkan data banding inilah is kemudian menggeneralisasilcamlya untuk seluruh masjid tradisional di Indonesia hingga menghasilkan teori seperti di atas.

Teori Graaf disanggah oleh Sutjipto Wirjosuparto yang rnengatalcan bahwa hasil perbandingannya tidak tepat. Menurutnya kendati sama-sama memiliki atap bertingkat, namun terdapat perbedaan prinsipil antara masjid di Malabar dan Masjid Taluk tersebut. Masjid di Malabar mempunyai denah empat persegi panjang, sedangkan masjid di Taluk berdenah bujur sangkar. Sementara itu masjid di Malabar tidak memiliki tempat wudhu yang berbentuk pant, sebaliknya hal itu ditemukan di Taluk.

Selanjutnya Sutjipto mengemukakan gagasan bahwa model masjid kuno di Indonesia berasal dari bangunan tradisional Jawa yang bernama pendopo (Dendapa). Istilah pendopo berasal dari kata mandapa dalam bahasa Sangsekerta yang mengacu pada suatu bagian dari kuil Hindu di India yang berbentuk persegi dan dibangtm langsung di atas tanah. Di Indonesia, arsitektur mandapa tersebut dimodifikasi menjadi sebuah ruang besar dan terbuka yang sering digunakan untuk menerima tamu yang kemudian dinamakan pendopo. Denah pendopo yang bujur sangkar itulah yang menjadi alasan bagi Sutjipto untuk menduganya sebagai model masjid-masjid tua di Indonesia.

Mengenai atap yang bertingkat, rupanya dapat diwakili oleh bangunan Jawa lainnya, yang disebut rumah joglo. Tipe atap rumah joglo ini menjadi benih Bari atap tumpang pada masjid. Alasan estetika kemudian menjadikan bentuk atap rumah joglo pada masjid memakai bentuk tingkat untuk mengimbangi ukuran ruangnya yang besar (Wirjosuparto 1961/1962; 1986).

Menyinggung tentang persamaan-persamaan yang ada pada masjid di. Malabar dan di Taluk, Sutjipto menjelaskan bahwa memang telah terjadi `pertumbuhan yang sejajar' diantara keduanya (India dan Indonesia) pada waktu itu. Ini disebabkan di kedua tempat itu bangunan mandapa telah sama-sama dimodifikasi menjadi bagian Bari suatu rumah untuk kemudian dijadikan dasar bangunan masjid. Jadi sekali lagi persamaan-persamaan itu tidaklah berarti masjid di Taluk mencontoh masjid di Malabar.

Sedangkan menurut C.F. Pijper (1992: 24), Indonesia memiliki arsitektur masjid kuno yang khas yang membedakannya dengan bentuk-bentuk masjid di negara lain. Tipe masjid Indonesia berasal dari Pulau Jawa, sehingga orang dapat menyebut masjid tipe Jawa. Ciri khas masjid tipe Jawa ialah:

1. Fondasi bangunan yang berbentuk persegi dan pejal (massive) yang agak tinggi;
2. Masjid tidak berdiri di atas tiang, seperti rumah di Indonesia model kuno dan langgar, tetapi di atas dasar yang padat;
3. Masjid itu mempunyai atap yang meruncing ke atas, terdiri dari dua sampai lima tingkat, ke atas makin kecil;
4. Masjid mempunyai tambahan ruangan di sebelah barat atau barat laut, yang dipakai untuk mihrab;
5. Masjid mempunyai serambi di depan maupun di kedua sisinya;
6. Halaman di sekeliling masjid dibatasi oleh tembok dengan satu pintu masuk di depan, disebut gapura.
7. Denahnya berbentuk segi empat;
8. Dibangun di sebelah barat alun-alun;
9. Arah mihrab tidak tepat ke kiblat;
10.Dibangun dari bahan yang mudah rusak;
11. Terdapat pant, di sekelilingnya atau di depan masjid;
12. Dahulu dibangun tanpa serambi (intinya saja).

Ciri-ciri khas ini menunjukkan bahwa masjid tipe Jawa bukan merupakan bangunan asing yang dibawa ke negeri ini oleh mubaligh muslim dari luar, tetapi bentuk asli yang disesuaikan dengan kebutuhan peribadatan secara Islam. Fondasi yang berbentuk persegi itu dikenal juga dalam bangunan Hindu-Jawa, yaitu: candi yang masih terdapat di Pulau Jawa. Kemudian, candi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu fondasi, candi itu sendiri, dan atap. Tidak sulit untuk melihat bahwa dasar fondasi masjid yang padat itu merupakan sisa bentuk fondasi candi. Fondasi ini selalu ada pada setiap masjid.

Bangunan lain yang digunakan untuk ibadah Islam, yaitu langgar, tajug, dan bale biasanya dibangun di atas tiang, masih terus mengikuti pola bangunan Indonesia kuno. Hal ini juga terdapat di daerah Pulau Jawa dengan rumah-rumahnya yang tidak lagi dibangun di atas tiang. Atap masjid terdiri dari beberapa tingkat yang meruncing dan di puncaknya terdapat hiasan. Bentuk atap ini terdapat pada banyak bangunan yang tidak mempunyai hubungan dengan Islam. Kita hams mengembalikannya kepada meru di Bali, menara persegi yang meruncing ke atas dan mempunyai atap yang berjumlah lima sampai sepuluh atau lebih (Bali = tumpang).

Mungkin atap yang tinggi itu dahulu terdapat di Jawa, tetapi karena atap seperti itu dibuat dari bahan yang mudah rusak seperti yang terdapat di Bali, maka atap itu mudah musnah dan dilupakan. Mungkin atap masjid yang bersusun di Pulau Jawa itu merupakan sisa meru. Kita dapat menyaksikannya pada masjid kuno di Banten, yang berasal dari zaman Kesultanan Banten, dan bentuknya yang sekarang ini mungkin berasal dari zaman abad 16. Atap masjid ini terdiri dari lima tingkat, tiga tingkat yang teratas sama kecilnya. Francois Valentijn yang mengunjungi Banten pada tahun 1694, mengatakan: voorzien van viff verdiepingen of daken (mempunyai atap lima tingkat) (Pijper 1992: 25).

Selain atap, salah satu ciri khas masjid kuno di Jawa adalah tembok yang mengelilinginya. Hanya di kota-kota yang jarang terdapat tempat luas, aturan ini diabaikan. Tetapi pada masjid tipe Jawa yang murni, tempat ini mesti ada; yang memisahkan daerah suci dengan daerah kotor. Di depan ada pintu gerbang, bentuknya bermacam-macam. Kita dapat menemukan sebuah bentuk yang disebut `tembok bentar', tidak beratap tetapi juga ada pintu gerbang yang beratap (Jawa=gapura; Sansekerta=gopura), yang kemudian kerapkali berkembang menjadi bentuk pintu gerbang yang tinggi

Tembok yang mengelilingi itu bukan ciri khas muslim, tetapi merupakan salah satu sisa bangunan candi desa di Bali, yaitu pura desa. Kerapkali pura desa di Bali terdiri dari tiga halaman, tiap-tiap halaman dikelilingi oleh tembok. Bahwa pembagian daerah suci ini menjadi beberapa halaman bertembok, hal ini masih terlihat baik dalam bangunan makam-makam tua di Jawa yang terletak di dekat ma§jid. Contohnya makam suci Sunan Ampel (Ampel Rahmat) di Surabaya. Makam yang sebenamya, terletak di halaman terakhir, yang terdekat dengan masjid. Bagan makam suci Tembayat atau Bayat di Klaten seperti: pertama masjid, kemudian beberapa halaman yang satu di belakang yang lain, lalu bangunan makam. Makam keramat lainnya yang diletakkan dalam satu halaman bertembok dengan masjidnya adalah makam Sunan Gin di Gresik. Demikian pula makam Sunan Pejagung di Tuban Selatan dan makam Ratu Kalinyamat di Mantingan, Jepara. Makam¬makam yang lebih kecil kerapkali terdiri dari dua halaman: awalnya masjid dikelilingi tembok, dan di belakangnya, melalui pintu gerbang dekat masjid adalah makam suci, juga dalam ruangan bertembok, seperti terdapat di Jatianom, Surakarta.

Serambi yang sekarang dibangun pada tiap-tiap masjid, merupakan tambahan path bangunan pokok. Ini terbukti, karena adanya atap tersendiri yang tidak mempunyai hubungan dengan masjid. Juga yang merupakan jalan masuk ke dalam. Suatu yang penting ialah bahwa pemerian lama tidak pemah menyebut adanya serambi. Kemudian hams dicatat bahwa masjid-masjid yang dibangun oleh bangsa Arab atau yang mendapat pengaruh Arab, semuanya tanpa serambi. Juga tidak ada serambi pada kebanyakan masjid di Jakarta. Di kota ini pengaruh bangsa Arab dalam soal keagamaan sangat besar. Juga di kota-kota lain tempat bangsa Arab mendirikan masjid sendiri dengan gaya mereka sendiri, tidak ditemukan serambi. Tetapi alasan yang penting lainnya ialah bahwa serambi itu sampai sekarang dipakai untuk keperluan lain dibandingkan dengan bagian dalam masjid tidak ada serambi pada kebanyakan masjid. Mengingat hal ini semua ada kemungkinan bahwa serambi itu sekarang menjadi bagian masjid, meskipun asalnya merupakan tambahan, dan kemudian dibangun pada masjid ash yang berbentuk persegi.

Hal lain yang diduga asing pada tipe masjid ash (Imo) adalah tambahan berbentuk persegi kecil di sisi barat atau barat laut; dalam bahasa Arab disebut mihrab . Dilihat dari dalam masjid, mihrab merupakan sebuah rongga. Seperti yang kita ketahui, mihrab ini terdapat di negara Islam lainnya. Kegunaannya untuk menunjukkan arah kiblat bagi orang yang salat, dan dipakai untuk imam. Di beberapa masjid di Jawa terdapat dua rongga yang berdekatan, yang satu untuk mihrab (dalam bahasa Jawa disebut pangimaman, bahasa Sunda: paimaman, artinya tempat imam), sedangkan rongga yang lain berisi mimbar (dalam bahasa Jawa disebut pangimbaran, bahasa Sunda: paimbaran, artinya tempat mimbar). Juga terdapat masjid yang mempunyai rongga tiga buah yang berdekatan.

Sampai sekarang, banyak menara dibangun di Jawa, dan jumlahnya bertambah terus. Pembangunan menara .menunjuldcan bahwa keinginan untuk menghias tampak lebih besar daripada keinginan untuk memenuhi persyaratan keagamaan. Berdasarkan pandangan yang terakhir ini, meskipun masjid-masjid itu mempunyai menara, orang mengikuti kebiasaan lama untuk mengumandangkan serum shalat (azan) dari gapura masjid atau dari salah satu atap masjid. Menara ini hanya dipakai untuk dua atau satu kali azan dari lima kali shalat. Pada hari Jumat (shalat Jum'at), maka terbukti hanya menara yang dipakai untuk azan. Di beberapa tempat ada kebiasaan untuk menyerukan azan di menara pada setiap waktu shalat, terutama pada bulan Ramadhan.

Menara masjid yang dianggap tertua di Pulau Jawa, yaitu menara Kudus. Bangunannya berbentuk asli Hindu-Jawa dan telah diteliti oleh Brumund dan Krom. Krom memperkirakan menara ini berasal dari permulaan abad 16, tetapi apakah menara itu memang asli menara?. Pertama, karena agak aneh bahwa bangunan yang bagus ini setelah dijadikan tempat untuk menara pada abad 16 M, tidak pernah ada yang meniru; semua menara tua dibangun dengan gaya asing, dan tidak dalam bentuk nasional yaitu bentuk Hindu-Jawa. Kedua, dapat dilihat bahwa menara Kudus mempunyai beduk yang besar yang dipukul beberapa kali. Menurut adat di Jawa, bedug dipukul untuk mengumumkan waktu salat sebelum azan dikumandangkan. Beduk itu merupakan hasil kebudayaan Indonesia kuno, dan kebiasaan memukul beduk pada mulanya tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Di tempat lain, beduk itu tidak diletakkan di menara; pada umumnya diletakkan di serambi. Kadang-kadang beduk diletakkan di masjid bagian dalam atau di dalam bangunan kecil di halaman masjid. Di Jawa Timur, beduk kerapkali diletakkan di bagian atas gapura. Gapura ini memisahkan halaman masjid dengan jalan.

Gapura itu merupakan sebuah bangunan pintu berbentuk persegi, dengan sebuah ruangan di atasnya. Atapnya bertumpu pada empat tiang sehingga ruangan atas ini terbuka pada semua sisi. Gapura yang istimewa ini bukan merupakan sebuah menara, yang mungkin berdasarkan kenyataan bahwa di halaman masjid yang sama itu kadang-kadang terdapat juga sebuah menara. Bentuk gapura ini mengingatkan kita kepada menara kulkul yang terdapat di Bali atau dekat pura desa yang kadang¬kadang terletak di atas tembok candi. Menara Kudus menurut Pijper bukan merupakan sebuah menara, tetapi sebuah bangunan Hindu yang disesuaikan dengan bentuk dan tujuan sekarang.

Kemungkinan besar menara tertua di Pulau Jawa berada di Banten. sebuah menara putih tidak ramping bersegi-segi berclin di muka masjid Kesultanan Banten Bangunan yang besar ini dilihat dari jauh mengingatkan kita pada sebuah bangunan menara soar Belanda. Menurut cerita, menara masjid tersebut dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang bernarna Lucas Cardeel. Bentuk bangunan yang masih ada adalah tiamah (terletak di sebelah selatan masjid) juga merupakan hasil serambi pada kebanyakan masjid di Jakarta. Di kota ini pengaruh bangsa Arab dalam soal keagamaan sangat besar. Juga di kota-kota lain tempat bangsa Arab mendirikan masjid sendiri dengan gaya mereka sendiri, tidak ditemukan serambi. Tetapi alasan yang penting lainnya ialah bahwa serambi itu sampai sekarang dipakai untuk keperluan lain dibandingkan dengan bagian dalam masjid tidak ada serambi pada kebanyakan masjid. Mengingat hal ini semua ada kemungkinan bahwa serambi itu sekarang menjadi bagian masjid, meskipun asalnya merupakan tambahan, dan kemudian dibangun pada masjid ash yang berbentuk persegi.

Hal lain yang diduga asing pada tipe masjid ash (Imo) adalah tambahan berbentuk persegi kecil di sisi barat atau barat laut; dalam bahasa Arab disebut mihrab . Dilihat dari dalam masjid, mihrab merupakan sebuah rongga. Seperti yang kita ketahui, mihrab ini terdapat di negara Islam lainnya. Kegunaannya untuk menunjukkan arah kiblat bagi orang yang salat, dan dipakai untuk imam. Di beberapa masjid di Jawa terdapat dua rongga yang berdekatan, yang satu untuk mihrab (dalam bahasa Jawa disebut pangimaman, bahasa Sunda: paimaman, artinya tempat imam), sedangkan rongga yang lain berisi mimbar (dalam bahasa Jawa disebut pangimbaran, bahasa Sunda: paimbaran, artinya tempat mimbar). Juga terdapat masjid yang mempunyai rongga tiga buah yang berdekatan.

Sampai sekarang, banyak menara dibangun di Jawa, dan jumlahnya bertambah terus. Pembangunan menara .menunjuldcan bahwa keinginan untuk menghias tampak lebih besar daripada keinginan untuk memenuhi persyaratan keagamaan. Berdasarkan pandangan yang terakhir ini, meskipun masjid-masjid itu mempunyai menara, orang mengikuti kebiasaan lama untuk mengumandangkan serum shalat (azan) dari gapura masjid atau dari salah satu atap masjid. Menara ini hanya dipakai untuk dua atau satu kali azan dari lima kali shalat. Pada hari Jumat (shalat Jum'at), maka terbukti hanya menara yang dipakai untuk azan. Di beberapa tempat ada kebiasaan untuk menyerukan azan di menara pada setiap waktu shalat, terutama pada bulan Ramadhan.

Menara masjid yang dianggap tertua di Pulau Jawa, yaitu menara Kudus. Bangunannya berbentuk asli Hindu-Jawa dan telah diteliti oleh Brumund dan Krom. Krom memperkirakan menara ini berasal dari permulaan abad 16, tetapi apakah menara itu memang asli menara?. Pertama, karena agak aneh bahwa bangunan yang bagus ini setelah dijadikan tempat untuk menara pada abad 16 M, tidak pernah ada yang meniru; semua menara tua dibangun dengan gaya asing, dan tidak dalam bentuk nasional yaitu bentuk Hindu-Jawa. Kedua, dapat dilihat bahwa menara Kudus mempunyai beduk yang besar yang dipukul beberapa kali. Menurut adat di Jawa, bedug dipukul untuk mengumumkan waktu salat sebelum azan dikumandangkan. Beduk itu merupakan hasil kebudayaan Indonesia kuno, dan kebiasaan memukul beduk pada mulanya tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Di tempat lain, beduk itu tidak diletakkan di menara; pada umumnya diletakkan di serambi. Kadang-kadang beduk diletakkan di masjid bagian dalam atau di dalam bangunan kecil di halaman masjid. Di Jawa Timur, beduk kerapkali diletakkan di bagian atas gapura. Gapura ini memisahkan halaman masjid dengan jalan.

Gapura itu merupakan sebuah bangunan pintu berbentuk persegi, dengan sebuah ruangan di atasnya. Atapnya bertumpu pada empat tiang sehingga ruangan atas ini terbuka pada semua sisi. Gapura yang istimewa ini bukan merupakan sebuah menara, yang mungkin berdasarkan kenyataan bahwa di halaman masjid yang sama itu kadang-kadang terdapat juga sebuah menara. Bentuk gapura ini mengingatkan kita kepada menara kulkul yang terdapat di Bali atau dekat pura desa yang kadang¬kadang terletak di atas tembok candi. Menara Kudus menurut Pijper bukan merupakan sebuah menara, tetapi sebuah bangunan Hindu yang disesuaikan dengan bentuk dan tujuan sekarang.

Kemungkinan besar menara tertua di Pulau Jawa berada di Banten. sebuah menara putih tidak ramping bersegi-segi berclin di muka masjid Kesultanan Banten Bangunan yang besar ini dilihat dari jauh mengingatkan kita pada sebuah bangunan menara soar Belanda. Menurut cerita, menara masjid tersebut dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang bernarna Lucas Cardeel. Bentuk bangunan yang masih ada adalah tiamah (terletak di sebelah selatan masjid) juga merupakan hasil sambung-menyambung dari bawah sampai ke atas. Begitu juga Masjid Asasi Nagari Gunung, Padangpanjang yang beratapkan ijuk yang meruncing, bersusun tiga tingkat dengan teratur.

Masjid Pontianak. Masjid ini merupakan salah satu masjid kuno di Kalimantan Barat yang menggunakan konstruksi kayu, berdiri di atas tiang, dan terletak di pinggir sungai. Secara umum, di Kalimantan Barat dan Selatan banyak didapati masjid-masjid yang dibangun di pinggir sungai, karena sungai merupakan salah satu sarana transportasi yang pertting. Model atapnya bertingkat¬tingkat dengan lapisan atasnya dibentuk menyerupai kubah yang unik, sehingga mirip bangunan sebuah lonceng. Kubah ini dikelilingi oleh empat buah kubah kecil yang lain pada tiap-tiap sudut masjid. Kubah-kubah kecil itu sepintas lalu menyerupai menara tempat azan.

Karena air. sungai sering pasang-surut, maka jalan dari tepi sungai ke masjid cukup sukar. Maka dibuat jembatan yang panjang dari pinggir sungai sampai ke pintu masjid itu, dan di ujung jembatannya disediakan sebuah pangkalan yang diberi atap, tempat orang turun naik ke dalam perahu.

Di Sulawesi, Masjid Tua Bungku merupakan salah satu masjid kuno yang banyak dikunjungi masyarakat. Atapnya tumpang lima dengan kombinasi bentuk kubah pada bagian puncaknya. Di antara tiap-tiap tingkatan atap terdapat jendela kaca.

Sumber :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, Masjid Kuno Indonesia, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Foto : http://wayofmuslim.files.wordpress.com