Tampilkan postingan dengan label Vihara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vihara. Tampilkan semua postingan

Wisata Religi Seribu Kuil

UJUNG pagoda terlihat indah menyala di balik kokohnya dinding kompleks Grand Palace, Bangkok, Thailand, Kamis 28 April 2011. Matahari terik, panasnya terasa membakar kulit dan keringat spontan mengalir deras membasahi tubuh.

Barisan pasukan kerajaan berseragam putih hitam dan senjata laras panjang berjalan keluar istana. Satu pesona lain dari Grand Palace yang menarik perhatian wisatawan.

Mendekati pintu masuk kompleks Grand Palace, biksu-biksu cilik jalan berbaris menuju Wat Phra Kaew (Kuil Emerald Buddha). Kuil suci dan dihormati warga yang dibangun sejak abad ke-14.

Grand Palace didirikan tahun 1782 dilatarbelakangi keinginan Raja Rama I untuk melestarikan seni dan budaya peninggalan Kerajaan Ayutthaya, sebagai pusat pemerintahan yang dihancurkan Burma tahun 1767.

Dinding kokoh sepanjang 1.900 meter mengelilingi kompleks Grand Palace di atas lahan seluas 218.000 meter persegi di Pulau Rattanakosin yang dikelilingi kanal-kanal dibangun dengan mengikuti tata letak tradisional kompleks istana di Ayutthaya, salah satunya terlihat pada arah hadap Grand Palace ke utara dengan sungai Chao Phraya mengalir di sisi kirinya. Selama sekitar 150 tahun, Grand Palace merupakan tempat tinggal Raja Thailand.

Arsitektur dan detail kuil luar biasa indah. Hal itu membuat para pengunjung terkagum-kagum. Tidak kurang 500.000 wisatawan berkunjung ke lokasi ini setiap hari pada puncak musim liburan. Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan upacara penggantian jubah yang dikenakan patung Emerald Buddha yang dilakukan tiga kali setiap tahun, yaitu saat musim panas, musim hujan, dan musim dingin.

Wisata religi bisa menjadi daya tarik tersendiri, terutama wisata religi agama Buddha di negara ”Seribu Kuil” tersebut. (Lucky Pransiska)

Sumber : http://travel.kompas.com

Kuil Termegah Peninggalan Jaman Mesir Kuno


Abu Simbel adalah kuil termegah peninggalan Mesir Kuno di masa pemerintahan Firaun Ramses II.

Kuil ini dibangun dengan desain dan konstruksi yang istimewa yaitu membentang menembus “perut” bukit, di DAS Sungai Nil.

Kuil Abu Simbel ini telah terkubur pasir dari gurun yang tersebar di Mesir. Di abad ke-6, ada catatan yang menunjukkan bahwa kuil tersebut terkubur pasir setinggi lulut patung raksasa Ramses II.

Setelah kejadian itu, kuil tersebut akhirnya benar-benar terkubur dan akhirnya terlupakan hingga pada tahun 1813,peneliti dunia timur berkebangsaan Swiss, JL Burckhardt menemukan puncak kuil tersebut. Namun kali itu ia belum dapat masuk ke dalamnya.

Pada tahun 1817 JL Burckhardt kembali ke Abu Simbel dan berhasil masuk ke dalam kuil dan mengambil sebagian benda berharga yang bisa dibawanya. Nama Abu simbel sendiri diambil dari nama seorang bocah yang menjadi pemandu saat JL Burckhardt pertama kali datang ke sana.

Anak tersebut mengaku bahwa ia melihat kuil tersebut dan menggali kuburan pasir itu sendirian sampai akhirnya kuil dapat terlihat.

Pada tahun 1963, UNESCO merelokasi Kuil Abu Simbel sekitar 200 meter ke selatan. Alasannya karena Kuil Abu Simbel terancam tenggelam oleh karena kenaikan permukaan aliran Sungai Nil akibar proyek bendungan Aswan.

Kuil Abu Simbel yang ditata ulang menghadap Danau Nasser ini menjadi proyek pergeseran bangunan paling spektakuler di abad ke-20 dan menjadi daerah tujuan wisata yang terkenal di Mesir dan seluruh dunia.

Sumber : http://refreshyourmind-newbie.blogspot.com

Di Balik Tembok Bukit Gedono


Oleh: Budi Cahyono

Pada sebuah lembah hijau, berdiri tegak sebuah bangunan dengan tembok yang tebal. Di balik tembok itu, seribu kisah bisa didedah mengenai para perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi pada Tuhan. Nama tempat itu Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono di Bukit Gedono, Dukuh Weru, Dusun Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, 15 kilometer arah barat daya Kota Salatiga.

Tempat itu merupakan pertapaan pertama rubiah (sebutan untuk pertapa wanita-Red) Ordo Cisterciensis Observansi Ketat (OCSO) atau di Indonesia lebih dikenal dengan Trappist, yang didirikan pada tahun 1987.

Memang hanya tiga hari saya berada di sana, dan itu tak cukup untuk menghayati semua segi kehidupan para biarawati di balik tembok bangunan itu. Tapi waktu yang singkat itu cukuplah untuk suatu perwisataan spiritual yang tetap bisa memberikan pencerahan rohaniah tertentu.

Ketika datang pada pukul 14.00, hawa dingin berkabut disertai rerintik hujan mulai menyelimuti wilayah yang luas arealnya mencapai delapan hektare: satu hektare untuk bangunan, selebihnya area pepohonan, perkebunan, dan pemakaman. Di depan pintu utama, saya melihat jadwal doa yang dipajang, seolah-olah mengatakan kepada para pengunjung bahwa para rubiah menghabiskan banyak sekali waktu untuk berdoa.

Setelah saya pastikan bahwa pada saat itu tidak ada ibadat doa, saya memberanikan diri memencet bel untuk bertemu seorang suster yang akan membimbing saya mengikuti retret pribadi. Tak berselang lama, datanglah Suster Ema yang berusia 48 tahun. Perempuan yang telah menjadi suster sejak berusia 30 tahun di Pertapaan Trappistine, Italia itu menyambut saya dengan sangat ramah dan hangat. Kami berbincang-bincang di dalam Ruang Bicara. Ya perbincangan di situ mengisyaratkan kepada semua tamu bahwa pintu pertapaan terbuka untuk siapa pun yang sedang mencari Tuhan.

Kata Suster Ema, pendirian pertapaan calon rubiah pertama di Indonesia itu diprakarsai oleh komunitas Rawaseneng dan diberkati oleh Almarhum Justinus Kardinal Darmoyuwono pada tanggal 31 Mei 1988 itu tetap terbuka untuk kunjungan para tamu. Pengunjung akan diterima oleh petugas kamar tamu yang akan melayani keperluan mereka. Wajah-wajah berseri-seri dan tangan-tangan serentak mengatakan ”selamat datang”.

Perlu diketahui, kehidupan para Rubiah Cisterciensis memberi corak khas bahwa mereka mengarahkan hidup untuk kontemplasi. Mereka membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan semata dalam kesunyian, keheningan, doa, dan pertobatan terus-menerus.
***
Saat ini ada 36 suster di sana, 26 di antaranya sudah mendapat kaul kekal dengan menggunakan jubah hitam, dan sisanya 10 suster kaul sementara. Namun demikian, mereka tetap harus bekerja untuk mendapatkan nafkah dan untuk mengungkapkan solidaritas, terutama untuk kaum pekerja kecil. Bagi rubiah Cisterciensis, kerja merupakan kesempatan yang menunjang perkembangan pribadi untuk memberi diri masing-masing kepada sesama.

Contohnya, saat saya berkunjung, ada seorang suster yang tengah memberikan pelayanan kepada para penduduk sekitar biara berupa pemberian semacam beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu, serta setiap satu bulan sekali memberikan pelayanan pengobatan gratis. Mereka bekerja membuat hosti, kefir (susu fermentasi semacam yogurt), selai, dan sirup. Cetakan kartu bergambar dengan teks rohani dan doa, pembuatan rosario, dan ikon juga dikerjakan mereka. Pengelolaan kebun pertapaan yang akhirnya akan menghasilkan buah dan sayur juga merupakan bagian dari kerja tangan mereka untuk menafkahi mereka sendiri.

”Ada banyak mulut untuk diberi makan di dalam biara. Tak hanya para rubiah, tetapi juga tamu-tamu yang begitu banyak,” ujar Suster Ema, ”Ya, dengan keringatmu sendiri, engkau akan menghasilkan makananmu. Itulah sesuatu yang penting dari kerja dan tidak boleh dilupakan oleh siapa pun juga.”

Dalam biara itu, mereka mengelola rumah tangganya sendiri. Seorang pemimpin biara disebut ibu abdis, dua wakil abdis, pemimpin novis, dan bagian keuangan yang disebut seorang ekonom.
***
Sebagai biara yang terbuka, maksudnya bisa dikunjungi orang luar, Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono memang kerap didatangi orang dari berbagai tempat. Mereka datang untuk visitasi (kunjungan singkat) atau bermalam mengasingkan diri untuk berdoa (retret).

Ruang Tamu
Adapun rumah retret adalah salah satu kawasan yang steril dari kebisingan. Bagi seseorang atau keluarga yang ingin berdoa dan meresapi keheningan pertapaan, disediakan kamar penginapan dengan tarif Rp 50 ribu per orang per malam termasuk makan tiga kali sehari. Biasanya, mereka ini disebut ”retretan”. Para retretan datang ke pertapaan untuk mengikuti ibadat harian dan perayaan ekaristi bersama dengan komunitas rubiah di kapel pertapaan.

Saya merupakan salah satu dari retretan tersebut. Saat diantar Suster Ema, saya melihat semua bangunan yang ada di sana memiliki dinding dari batu alam dan bernilai seni tinggi. Maklum, pertapaan tersebut didesain oleh almarhum Yusuf Bilyarta Mangun wijaya (Romo Mangun). Dia dikenal sebagai pastor, pendidik, arsitek, sastrawan, serta budayawan. Sebagai seorang arsitek, karyanya cukup banyak. Salah satu karyanya pernah memperoleh Aga Khan Award tahun 1992, semacam penghargaan Nobel untuk karya arsitektur yaitu desain pemukiman Kali Code di Yogyakarta.

Desain Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono ini juga mendapat penghargaan utama dari Ikatan Arsitek Indonesia untuk kategori Desain Arsitektur. Polanya berupa arsitektur monastik Cisterciensis yang melambangkan keserasian dan keindahan ilahiah. Bangunan-bangunan dalam biara monastik dibangun dengan sederhana dan bersahaja. Di luar itu, yang jelas, suasana teduh, hening, dan sunyi di pertapaan ini sungguh menjadi daya tarik utama dipadukan dengan keagungan pesona alam lereng Gunung Merbabu. Semua itu tentunya akan membantu kekhusukan dalam melambungkan hati ke hadirat Tuhan.

Masing-masing bagian bangunan dibuat terpisah satu sama lain. Misalnya, ruang ibadah dalam satu bangunan, rumah tamu dalam satu bangunan, ruang cuci satu bangunan, ruang dapur dan makan satu bangunan, serta ruang tidur dari empat bangunan berbentuk rumah panggung serta Pondok Baca Maria yang terletak di tengah-tengah alam terbuka. Khusus mengenai rumah tamu, bangunannya cukup besar menghadap ke utara dalam bentuk memanjang dan berkoridor. Temboknya terbuat dari batu alam yang tersusun rapi.

Bangunan itu berdiri di atas gundukan tanah dengan dua undakan tangga di depannya. Tangga pertama langsung menghubungkan area parkir dengan tempat pendaftaran tamu. Tangga kedua berfungsi menghubungkan rumah tamu dengan rumah retret. Tangganya berbentuk tiga sengkedan dengan atap di atasnya. Begitu harmonis. Ornamennya juga unik, dengan dua pintu yang saling berseberangan, empat jendela berbentuk kubah, serta banyak kisi jendela berbentuk persegi dan bulat. Selain itu, ada juga rumah toko yang menyediakan beragam hasil kerja tangan para rubiah.

Menguduskan Waktu dengan Doa dan Kerja
Boleh dibilang, tak sesaat pun waktu dalam biara yang tak dilewatkan untuk berdoa. Melalui Lectio Divina (cara monastik untuk berdoa dengan menggunakan kitab suci), komunitas rubiah Cisterciensis berkumpul untuk merayakan liturgi Ekaristi dan ibadat harian tujuh kali sehari, yaitu ibadat Laudes, Prima, Terzia, Sexta, Nona, Vesper, dan Completorium. Acara harian monastik merupakan keseimbangan antara doa pribadi, doa liturgi, lectio divina, dan kerja tangan.

Selama mengikuti retret, saya membiasakan diri bangun pukul 02.55. Lima menit sebelum jadwal ibadat dimulai, lonceng kapel sudah berdentang memecah kelam dan kejekutan hari yang menggigilkan tubuh. Para rubiah di Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono segera menyudahi tidurnya. Usai berbenah diri, dengan mengenakan kovel (mantel putih) bak mutiara yang teruntai rapi mereka bergegas dalam keheningan memasuki kapel.

Tepat pukul 03.15, mazmur dan kidung mulai berkumandang. Ibadat Malam dimulai. Selepas itu, mereka membaktikan diri dalam doa hening, disusul dengan Bacaan Ilahi (Lectio Divina). Bergulir ke pukul 05.45 WIB, kumandang mazmur dan kidung kembali terdengar. Ibadat Pagi itu pun mengalir dalam iringan lembut musik. Kadang orgen, kadang juga gending atau sejenis kecapi yang sangat syahdu dan menyentuh hati. Puncak dari seluruhnya adalah perayaan Ekaristi pada pukul 07.30.

Selepas itu, acara harian ditentukan oleh jam-jam Ibadat Harian (Ofisi Ilahi) sebagai sarana untuk memperpanjang Ekaristi sepanjang hari dan menguduskan waktu dan dunia. Ibadat-ibadat yang dilakukan dalam rangkaian madah, mazmur dan kidung, bacaan, serta saat-saat hening itu bergulir dari waktu ke waktu. Ada Ibadat Jam Ketiga (usai perayaan Ekaristi), Ibadat Jam Keenam (11.15), Ibadat Jam Kesembilan (13.30), dan Ibadat Sore (16.45). Sebelum istirahat malam (19.30), pada pukul 18.55, para Rubiah Cisterciensis itu menutup hari dengan Ibadat Penutup yang diakhiri dengan nyanyian ”Salam, Ya Ratu” (Salve Regina) sesuai tradisi monastik untuk menyerahkan diri ke dalam perlindungan Bunda Maria.

Kegembiraan di suatu senja yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan itu ditutup dengan sebuah ibadat yang disebut Completorium. Itulah waktu untuk merenungkan hari yang sebentar lagi akan berlalu dan mengungkapkan beberapa kata taubat serta menerima pengampunan sehingga kita boleh mengaso dalam damai. Di sela-sela jam-jam rutinitas harian itu, para rubiah melakukan kegiatan di dalam kompleks klausura atau slot (ruangan pertapaan yang tertutup untuk umum dan hanya terbuka bagi para rubiah saja). Mereka mencari nafkah dengan kerja tangan (membuat hosti, selai, sirup, rosario, dan kartu rohani). Melalui persetujuan tata tertib rumah tangga yang menetapkan hari-hari sebagai waktu hening tanpa bunyi radio atau televisi, membuat mereka selalu mendambakan kedamaian batin sebagai tempat persemaian yang hikmat. Namun, kadang-kadang para rubiah berkumpul di ruang Kapitel untuk mendengarkan sebagian dari Peraturan St Benediktus, pembacaan, pengumuman akan berita dunia, diskusi, dan dialog atau pengajaran Sr Martha E Driscoll OSCO (Ibu Abdis).

Begitulah, dalam sehari, waktu seolah-olah tak boleh dibiarkan berlalu untuk kesia-siaan. Waktu harus dikuduskan dengan doa dan bekerja.

Sumber :http://gaya.suaramerdeka.com
Foto : admonike.multiply.com

Vihara Avalokitesvara dan Pagoda Kwan Im Watugong


Pagoda Kwan Im, bangunan yang terdapat di kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong ini mempunyai nilai artistik tinggi 39 meter. Dibangunan tahun 2005 dan terletak persis di depan Makodam IV/Diponegoro Semarang. Bangunan yang mempunyai tujuh tingkat ini terdapat patung Dewi Welas Asih dari tingkatan kedua hingga keenamnya. Namun sedikitnya 20 patung Kwan Im dipasang di Pagoda tersebut. Pemasangan Dewi Welas Asih ini disesuaikan dengan arah mata angin. Hal ini dimaksudkan, agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah.

Bangunan yang merupakan pelengkap ruang Metta Karuna di Vihara Avalokitesvara Srikukusrejo Gunung Kalong dan memiliki seni arsitektur yang sangat tinggi ini adalah salah satu kebanggaan warga Kota Semarang pada khususnya, dan Jateng pada umumnya. Karena, saat ini pengunjung Vihara Buddha Gaya tidak hanya umat Budha saja, tapi juga umat agama lain dan sangat cocok untuk dijadikan salah satu tujuan wisata religius. Meski pagoda ini yang tertinggi di Indonesia, namun pagoda lain juga terdapat di Madiun, Singkawang dan Lembang. Jadi, Pagoda ini bukan satu-satunya di Indonesia

Selain Pagoda Kwan Im Watugong terdapat juga Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong tempat ini tak jauh dari lokasi Pagoda Kwan Im, hanya terus ikuti arah Jogja-Solo 2 KM setelah Polres Semarang, Ungaran tepat di sebelah kanan jalan terdapat ada papan nama bertuliskan Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong.

Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini berawal dari sebuah tempat pertapaan yang konon pernah disinggahi oleh Kiai Ageng Pandanaran untuk bermalam yang pada waktu itu salah satu bekal perjalanan Kiai Ageng Pandanaran kelong yang berarti kurang (berkurang) karena dicuri yang akhirnya tempat tersebut dinamakan Gunung Kalong.

Dari sebuah ilham yang didapatkan dari pertapaan seorang spiritual dari Ambarawa, Joyo Suprapto, dimana waktu itu beliau saat bertapa ditempat tersebut mendapatkan sebuah ilham untuk membangun sebuah vihara di tempat pertapaannya tersebut hingga akhirnya tempat ini atau sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong mulai dibangun sekitar tahun 1963 dan pada 12 Juli 1965 tempat tersebut mulai dibangun vihara dan diresmikan oleh Pemerintah dan hingga saat ini dikelola oleh Yayasan Sri Kudusrejo.

Tepat pada tanggal tertentu terutama saat ulang tahun Vihara pada tanggal 12 Juni, tempat ini selalu ada kegiatan atau agenda doa-doa yang dihadiri oleh banyak kalangan dari dalam hingga luar negeri terutama bagi yang beragama Budda. Misalnya ketika acara berdoa bersama memperingati Makco Kwan Im Poo Sat naik ke atas nirwana ketika sudah meninggalkan sifat duniawi dan menemui Sang Budha hingga turun lagi ke Bumi dengan membawa berkah bagi umat manusia. Selain Makco Kwan In juga saat memperingati Kathina, dimana semua umat yang mengikuti ritual doa kepalanya diperciki air. Sembari umat memancatkan doa-doa, seorang Bante berjalan menghampiri umat satu persatu untuk memercikkan air di kepalanya. Percikan air di kepala itu dipercayai untuk keselamatan para umat.

Dibalik semua agenda religius, Vihara Avalokitesvara ini juga berhasil memecahkan beberapa rekor Muri dengan pembuatan replika ikan koki terbesar berukuran panjang 36 meter, tinggi 20 meter, dan lebar 16 meter. Rekor tersebut merupakan kali kedelapan setelah sebelumnya memecahkan rekor Muri untuk pembuatan lampion terbanyak (2002), replika naga terbesar (2003), teratai suci memecahkan tiga rekor (2004), dan replika ayam emas (2005).

Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini sendiri selain tempat ibadah juga merupakan tempat mendapatkan konsultasi untuk segala persoalan dari mulai perjodohan, bisnis, keluarga dan lainnya yang tidak terbatas soal keagamaan saja, bahkan ada beberapa peziarah justru berasal dari kalangan. Jadi jika anda mengalami kesulitan jodoh, bisnis atau masalah lain, Suhu The Tjoe Thwan akan selalu bersedia membantu.

Sumber : http://semarangan.loenpia.net
Photo : http://www.hotelwahidsalatiga.com

Nakhonsithammarat, Thailand; Kota Kuno Penuh Sejarah


Nakhonsithammarat memiliki semboyan “Muengprawatthisat Prathadthongkam Chaenchamthammachad Reethatudom Keangthomsamkasat Makwatmaksin Krobsinkungpu”. Semboyan ini memiliki arti bahwa propinsi Nakhonsithammarat adalah kota yang memiliki sejarah kuno di daerah Selatan, mempunyai Vihara Pramahathad yang terbuat dari emas dan menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat Nakhonsithammarat dan daerah sekitarnya. Selain itu, Nakhonisthammarat masih memiliki tempat wisata bersejarah zaman dulu yaitu Kam Pheng Muang Kao atau Benteng Muang Kao (Kam Pheng = Benteng).

Kam Pheng Muang Kao merupakan lambang kejayaan, kebesaran, ketabahan dan sejarah yang dimiliki oleh Propinsi Nakhonsithammarat. Sejarah tentang Kam Pheng Muang Kao memiliki kaitan dengan legenda Kota Nakhonsithammarat yang dibangun pada zaman Raja Prajawsrithmaamsokkarat. Raja Srithammasokkarat membangun benteng yang terbuat dari tanah dan memiliki selokan di sekitar benteng. Benteng itu bernama “Kam Pheng Muang”.

Pada tahun 1407 Masehi Somdetpraramesun, Raja Kota Krungsriayutthaya, berperang dengan Kota Lanna dan membawa orang Lanna tinggal di Nakhonsithammarat. Oleh karena itu, orang Lanna pun membawa seni patung dari Chiangmai untuk memperbaiki benteng.

Benteng Muang Kao berbentuk sederhana, namun memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu ciri khas bentengnya dan pintu masuknya. Ciri benteng ini berbentuk persegi panjang, benteng bagian timur berdampingan dengan Vihara Mumpom, bagian barat berdekatan dengan penjara zaman dulu. Sekarang daerah di sekitar benteng telah menjadi pemukiman. Kam Pheng Muang Kao juga memiliki museum sejarah yang menceritakan pembangunan benteng ini.

Selain itu, Kam Pheng Muang Kao memiliki pintu yang dengan nama yang berbeda. Contohnya Pintu Chainue adalah pintu arah utara yang berukuran besar dan pada zaman dulu pintu ini adalah pintu untuk gajah, kuda, atau kendaraan lainnya. Kedua, Pintu Chaitai. Semula pintu ini bernama Pintu Chaisit, terletakdi bagian selatan yang berbentuk sama dengan Pintu Chainue.

Ketiga Pintu Lax, berbentuk kecil yang berada di sebelah timur benteng. Dahulu diberi nama Pintu Phe karena pintu ini adalah jalan untuk membawa orang meninggal keluar dari benteng pada zaman dulu. Keempat, Pintu Nangngam adalah pintu yang terletak di sebelah barat. Setiap pintu di Kam Pheng Muang Kao ini memiliki arti dan digunakan untuk keperluan berbeda pada zaman dulu. Namun, sekarang pintu-pintu tersebut tidak digunakan lagi.

Wisatawan yang mau mengunjungi Kam Pheng Muang Kao bisa belajar tentang sejarah Kota Nakhonsithammarat. Setelah itu, wisatawan bisa mengunjungi tempat wisata lainnya di sekitar ibu kota Nakhonsithammarat, contohnya Vihara Pramahathadworamahawihan, museum, Taman Namuang, Balai Praduhok, Kebun Binatang bernama “Tungthalad”, Monumen Veerachonthai atau bernama Phojadam, Balai Pranarai dan Balai Praeisoun. Tempat wisata tersebut terletak di Ibu Kota Nakhonsithammarat.

Selain Benteng Muang Kao Anda juga bisa mengunjungi Vihara Pramahatat Woramahawiharn yang merupakan vihara yang besar dan terkenal di Provinsi Nakhonsithammarat, Thailand. Pada zaman dahulu, vihara ini dikenal dengan nama candi Pratat yang merupakan salah satu candi terpenting di negeri gajah putih.

Asal-usul tentang riwayat vihara ini diceritakan dalam sebuah legenda. Konon, kira-kira tahun 271 Masehi, Ratu Hemmachalad dan Pangeran Pratonkuman mengunjungi Pantai Hadsaikaew untuk mengambil tulang Buddha. Sebagai tempat penyimpanan tulang Buddha tersebut, Ratu Hemmachalad kemudian membangun sebuah candi yang dinamakan Candi Pratat.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Raja Nakhonsithammarat, candi ini digunakan sebagai tempat peribadatan. Pada zaman Raja Jantarapanu, sekitar tahun 1247 Masehi, dibangunlah candi baru bernama Lang Ka di atas bangunan candi yang lama.

Vihara Pramahatat merupakan tempat wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan untuk memuja Buddha. Di sekitar Candi Pratat terdapat patung kecil yang disebut Puttasihing. Patung tersebut merupakan patung sakti yang dibangun di Kota Nakhonsithammarat pada tahun 1250 Masehi. Patung Praputtasihing berbentuk Buddha dengan gaya Khanomtom. Setiap bulan Febuari, di Candi Pratat diadakan upacara yang dinamakan Hepakeantat. Upacara ini diadakan dengan tujuan untuk memuja candi di mana banyak orang yang datang dengan membawa kain panjang berwarna kuning untuk menyelimuti candi.

Satu lagi upacara yang penting bagi masyarakat Kota Nakhonsithammarat adalah upacara tahunan yang diadakan setiap tanggal 13-15 April. Hari-hari penyelenggaraan upacara tahunan itu dinamakan sebagai hari Songkran sehingga upacaranya pun dikenal dengan sebutan Upacara Songkran. Dalam prosesi upacara Songkran, masyarakat datang dengan membawa patung Praputtasihing ke alun-alun Nakhonsithammarat untuk dimandikan.

Lokasi Vihara Pramahatat bisa dicapai dari Bangkok dengan menggunakan bus dari Stasiun Saitai sampai ke Stasiun di Nakhonsithammarat, dengan waktu tempuh kira-kira 8 jam. Harga tiket bus dari Bangkok ke Nakhonsithammarat adalah 800 Baht atau sekitar Rp240.000,00.

Provinsi Nakhonsitammarat memiliki kerajinan tangan khas dari perak yang dinamakan Kreang Tom Nakhon. Wisatawan bisa membeli Kreang Tom Nakhon di pasar oleh-oleh Prata.

Kreang Tom Nakhon bisa juga didapat di toko-toko di dekat Vihara Pratat, seperti toko-toko suvenir yang berlokasi di Jalan Thachang. Sedangkan hotel yang berada di dekat Vihara Pratat salah satunya adalah Hotel Twin Lotus dengan alamat di 97/8 Jalan Pattanakan-Kukwang, Muang, Nakhonsithammarat, Thailand.

sumber : perempuan.com
http://lagulamaku.blogspot.com

Klenteng Sam Po Kong

Komplek Klenteng Sam po Kong Gedung batu terdiri atas sejumlah anjungan. Bangunan pemujaan utama ialah Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong : tempat - tempat pemujaan Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng. Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting di antara semuanya , dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan di komplek tersebut. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan dan dibangun sebagai duplikat tempat yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien ( Zheng Ho ),yang telah roboh. bangunan klenteng meerupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan type klenteng yang ada di Pecinan, klenteng ini tidak memiliki serambi atau balai gerbang yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Po. Gua batu sebagaimana tersebut di atas terdapat di dekatnya. Facade gua berlukisan sepasang naga dengan bola api yang terletak di tas ambang pintu masuk yang sempit.

Klenteng Tho Tee Kong atau Toapekong Tanah atau Ho Tek Tjin Sin yang terletak di belakang pintu gerbang, merupakan yang paling populer. Di kalangan masyarakat yang agraris, Dewa Bumi ini sangat dihormati dan selalu dimintai berkahnya. Klenteng Cap Kauw King, tempat pemujaan Tho Tee Kong pula, berkaitan dengan klenteng ini. bangunan klenteng ini sudah berubah dari aslinya. Semula berupa bangunan beratap pelana dengan bubungan melengkung dan teritisan yang disosorkan. Kini bangunan tersebut seperti sebuah anjungan beratap limasan dengan bidang atap dan bubungan yang dilengkungkan ke atas. Penutup atap yang semula genteng telah diganti dengan seng bergelombang. Tidak pula dijumpai serambi seperti pada klenteng di Pecinan. Tempat pemujaan Kyai Jurumudi dipercaya sebagai makam Wang Jing Hong, wakil Zheng Hoo dalam pelayarannya. Bangunan makam merupakan bangunan sederhana beratap pelana. Pintu masuknya terletak di tengah dan di kedua sisinya terdapat jendela bundar. Di bawah kedua jendela bundar terdapat lukisan berwarna yang mengisahkan perjalanan pelayaran Sam Po. Anjungan Kyai Jangkar memiliki tiga altar, yaitu altar Hoo Ping, yaitu para pelaut dan pembantu Zheng Ho yang gugur pada saat menunaikan tugasnya; altar Nabi Kong Hu Cu di tengah; dan altar pemujaan mbah Kyai Jangkar di sebelah kanan. Anjungan Kyai Cundrik Bumi merupakan petilasan tempat anak buah Zheng Ho menyimpan segala macam senjata. Sedangkan anjungan Kayi Tumpeng yang terletak di ujung selatan komplek dipercaya sebagai tempat anak buah Zheng Ho bersantap pada masa lalu. Bangunan ini sekarang dipakai untuk bersemedi atau menyepi.

Komplek Sam Po Kong dipercaya sudah berdiri sejak abad ke-15, setelah kedatangan Sam Po Tay Djien (Zheng Ho) di Jawa dengan mengemban misi menjamin persahabatan. Pendataran tersebut dilakukan di pelabuhan yang pada awal abad ke-15 terletak di Simongan. Setelah lompatan sejarah sekian lama maka pada bulan Oktober 1724 diadakan upacara besar-besaran sebagai ungkapan terima kasih kepada Sam Po Tay Djien yang telah melindungi penduduk dari mara bahaya, sekaligus memperingati pendaratannya. Dua puluh tahun sebelumnya diberitakan bahwa gua yang dipercaya sebagai tempat tinggal Sam Po dulu runtuh disambar petir. Tak berselang lama gua tersebut dibangun kembali dan didalamnya ditempatkan Sam Po dengan empat anak buahnya yang didatangkan dari Tiongkok. Pada perayaan tahun 1724 tersebut telah ditambahkan bangunan emperan di depan gua.


Perbaikan pertama disusul oleh perbaikan kedua pada tahun 1879 yang diprakarsai dan dibiayai oleh hartawan Oei Tjie Sien (ayah Oie Tiong Ham) yang telah mengambil alih pemilikan kawasan tersebut dari Hoo Yam Loo, pemegang pakta madat yang merugi. Tidak begitu jelas apa saja yang ditambahkan pada pemugaran krdua ini, hanya setelah selesai maka komplek tersebut dibuka untuk umum. Pada tahun 1937 atas prakarsa Lie Hoo Soen komplek Sam Po dipugar kembali. Kali ini diadakan beberapa penambahan, yaitu gapura, taman suci dan selasar (Pat Sian Loh) yang menghubungkan Klenteng Sam Po dengan makam Kyai Jurumudi. Listrik masuk ke komplek Sam Po pada zaman pendudukan Jepang dan selanjutnya komplek tersebut dalam keadaan tidak terawat. Namun pada tahun 1950 kembali diadakan perbaikan dengan membuat gapura baru dari beton agar lebih kokoh , taman bunga di halaman belakang klenteng dengan dua buah paseban yang diberi nama Wie Wan Ting dan Tiang Lok Ting serta dua buah pat kwa ting (gasebo berbentuk segi delapan).


Setelah terlantar kembali dua dasawarsa maka pada awal tahun delapan puluhan diadakan penyempurnaan kembali komplek tersebut dengan mengutamakan gerbang klenteng dan ruang pemujaan lain, sarana akomodasi dan lain-lain.


Sumber : http://semarang.go.id

Objek Wisata Alam Di Kabupaten Bangka

Pha Kak Liang

Tempat ini berada di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka, sekitar 2 km dari Kota Belinyu atau 53 km dari Kota Sungailiat. Pha Kak Liang adalah sebuah kawasan yang bergaya china, yang dibangun di daerah bekas tambang timah, yang luasnya mencapai 2 ha. Wisatawan yang datang kesini seolah berada di kawasan daratan Hongkong atau Taiwan. Daya tarik bagi wisatawan di sini yang tak kalah menariknya adalah pengunjung dapat menyaksikan ikan air tawar yang besar-besar bermunculan dipermukaan air pada saat kita berikan makanan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Menurut ceritanya ikan-ikan tersebut tidak boleh dipancing atau dimakan.

This place is located in Kuto Panji Village, Belinyu District, Bangka Regency, some 2 km from Belinyu District, Bangka Regency, about 2 km from Belinyu or 53 km from Sungailiat. Pha Kak Liang is a tourism area characterized with Chinese architecture which was build on exmining area in 2 hectares area. Tourist visiting this area fell like they are visiting Hongkong or Taiwan.

The interesting point for visitors of this place is that they can enjoy looking at big fresh water fishes emerging from the water when they are feeding with fish foo. According to local belief the fishes may not be eaten.

Vihara Dewi Kwan Im

Tempat ini berada dikaki bukit dan terdapat aliran air sungai, yang terletak di Desa Jelitik Kecamatan Sungailiat sekitar 15 km dari Kota Sungailiat.

Menurut kepercayaan masyarakat air tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menjadi awet muda atau meminta sesuatu yang diinginkan. di vihara ini juga tersedia kolam pemandian dan vihara kecil untuk sembahyang.

This object is located in Jelitik Village, about 15 km from the city of Sungailiat, located in the foot hill, where a rivers flows in this area. It is believed that the water heals various disease, could preserve the youth and as the place for wishing something. This place is also completed with bathing pool and small vihara for praying.

Pemandian Air Panas Tirta Tapta Pemali

Objek wisata satu ini merupakan aset wisata pantai yang terletak didesa Pemali Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka, sekitar 20 km dari Kota Sungailiat. Lokasi sumber air panas di Pemali pertama kali ditemukan pada zaman kolonial Belanda. Pada saat itu dilakukan eksplorasi timah oleh perusahaan B.T.W. (Bangka Tin Winning Bedrijt) yaitu perusahaan milik Belanda yang khusus bergerak disektor pertambangan timah di Pulau Bangka.

Setelah kemerdekaan RI perusahaan penambangan timah diambil alih dari pemerintahan kolonial menjadi sebuah perusahaan penambangan yang dimiliki oleh negara, yakni PT. TIMAH dan secara otomatis keberadaan lokasi sumber air panas menjadi bagian kepemilikan dan pengelolaan PT Timah. pada era dasa warsa 70-an, air panas pemali dipugar dan dikembangkan oleh perusahaan Timah, yang selama beberapa tahun sempat terawat dengan baik dan menjadi salah satu tempat rekreasi masyarakat . Air panas ini berasal dari air tanah aktif yang mengeluarkan belerang yang sangat ccocok bagi wisataan yang datang untuk kesehatan atau menghilangkan pegal-pegal dengan cara berendam dikolam air yang disediakan.

This object is one main tourism asset after beach tourism. The bathing site is located in Pemali Village, Pemali District, Bangka Regency of some 20 km from Sungailiat. Hot water location was first found during Dutch Colonial era when B. T. W (Bangka Tin Winning Bedrijf), a Dutch-owned named PT. Timah and automatically, the existence of the hot water pathing site was under management of PT. Timah. During 1970-es, the hot water bathing sources was renovated and developed by the tin minning company to become recreation place for surrounding people. The hot water is sourced from active soil which erupt shulpur that heals various health problems by submerging in hot water ponds available.

Hutan Wisata Sungailiat

Obyek wisata satu ini terletak dikelurahan Parit Padang, Kecamatan Sungailiat, tepatnya dijantung kota Sungailiat yang berhadapan dengan Masjid Agung. Tempat ini sering digunakan untuk berkemah bagi pelajar, pramuka dan remaja. Selain digunakan untuk kegiatan tersebut, tempat ini juga digunakan untuk istirahat sekedar menikmati pepohonan yang lebat dan tinggi.

The forest is located in Parit Padang Urban Village, Sungailiat District, situated right in the heart of the city of Sungailiat, directly face Agung Mosque. This forest is generally used by students for camping and also suitable for travellers to relax due to the comfortable atmosphere of the forest which is full of big and high trees.

Kampung Gedong

Perkampungan/pemukiman masyarakat asli china dapat kita temui didaerah Kuto Panji, kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, kurang lebih 54 km dari Kota Sungailiat. Selain itu terdapat pula kampung Gedong desa Lumut Kecamatan Riau Silip, kurang lebih 51 km dari kota Sungailiat atau kurang lebih 14 km dari Kota Belinyu.

Kehidupan mereka berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti Kerupuk, kemplang, getas, dan lain-lain.

This settlement of China ethnic groups can be found in Kuto Panji area, Belinyu district, some 54 km from Sungailiat. We can also find such community in Kampung Gedong, Lumut Village, Riau Silip District, Bangka Regency, about 51 km from Sungailiat or some 14 km from Belinyu. Generally Chinese ethnics earn their living by running business such as making raditional food of Bangka like fish-snack and the other.

Gunung Maras

Gunung ini terletak di Desa Rambang Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka sekitar 70 km dari kota Sungailiat atau 33 km dari kota Belinyu. Gunung ini merupakan salah satu aset wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi, terutama oleh para penggemar lintas alam seperti hiking, berkemah dan mendaki gunung. Alamnya indah, pepohonan hutan yang cukup lebat menambah daya tarik sendiri.

The mountain is located in Rambang Village, Riau Silip District, about 70 km from especially by those who loves hiking, camping, and mountain climbing. Its beautiful nature, thick forest makes the mountain attractive to visit.

Bukit Betung

Kawasan hutan lebat di pinggir Kota Sungailiat berseberangan dengan kantor Bupati Bangka, dulunya merupakan tempat menyembunyikan diri dari kejaran kolonial. Puncak bukitnya menawarkan pemandangan kota Sungailiat yang mengesankan.

A hilly thick dense forest area right across the Regent's Office Hall of Bangka Regency. It was once a hiding place from the colonial's pursuit. The view from the top of the hill is breathtaking.

Gua Maria Belinyu

Terletak di Kecamatan Belinyu, tepatnya disebuah bukit yang bernama bukit Moh Thian Liang yang berarti Bukit Menggapai Langit yang dipenuhi dengan pepohonan hijau. Tempat ini ramai dikunjungi oleh umat beragama Katholik sebagai tempat memanjatkan doa kepada Bunda Maria. Selain itu ditempat ini juga dapat dilakukan prosesi Jalan Salib untuk mengenang kisah sengsara Yesus Kristus.

Waktu Kegiatan Ziarah :

1. Bulan Mei dan Oktober (Bulan Maria)

2. Bulan Juni-Juli, Desember-Januari (Natal, Tahun Baru)

3. Imlek, Idul Fitri, Cengbeng

4. Para Peziarah menentukan sendiri waktunya


Sumber : http://www.bangka.go.id