Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan

Air Terjun Lider


Air Terjun Lider sebagai salah satu obyek wisata Kabupaten Banyuwangi, memiliki pesona yang masih benar-benar alami. Lokasinya terletak di desa Sragi, kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Berada di tengah kawasan hutan lindung yang juga masuk dalam pengawasan Kawasan Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Perhutani Sidomulyo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kali Setail kecamatan Sempu, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat. Dinamakan Air Terjun Lider dikarenakan lokasinya terletak di kawasan hutan lindung petak 74, Blok Lider. Air terjun yang terletak di lereng timur Gunung Raung ini, berjarak sekitar 45 km dari kota Banyuwangi.

Jika kita berangkat dari kecamatan Sempu melewati desa Jambewangi, maka hutan pinus, perkebunan kopi dan cengkeh akan menjadi pemandangan sepanjang jalan menuju post terakhir pemukiman lokasi medan yang ditempuh pun lumayan sulit dengan melewati beberapa tebing curam, menyeberangi sungai sebanyak 7 (tujuh) kali dan menembus hutan lindung yang masih benar-benar terjaga kelestariannya. Jika kita beruntung, beberapa hewan seperti kera dan burung akan dapat kita jumpai di hutan yang terkenal akan keanekaragaman flora dan faunanya ini.

Perjalanan menempuh medan yang sulit dan menguras tenaga, akan terbayar setelah tiba di lokasi Air Terjun Lidaer dengan kemegahannya tebing laksana tumpukan kristal-kristal alam yang tertata rapi dengan air terjun utama dengan ketinggian ± 100 meter dihiasi beberapa air terjun kecil membuat tempat ini nampak begitu indah.

Jika kita mendekati Air Terjun Lider seperti berada di lubang sumur besar dengan dinding berupa tebing yang berdiri tegak, seolah-olah terbelah oleh pancuran air yang sangat jernih. Kejernihan airnya makin indah dipandang, manakala butirannya pecah lembut karena terjun bebas dari ketinggian 60 meter. Air Terjun Lider tertinggi di Banyuwangi yang masih terjaga keaslian alamnya ini. Dengan bentuk yang menggumpal dan mengular panjang ketika terjatuh, suara menderu dan terdengar dengan sangat cepat membelah kesunyian hutan, serta derasnya air yang membuat daun-daun hijau pepohonan di sekelilingnya bergoyang, membuat pemandangan di lokasi Air Terjun Lider semakin menyejukan. Panorama di sekitar pun menjadi semakin eksotik dengan adanya dinding tebing berupa deretan batu berdimensi rata yang terlihat menggantung diantara dua jurang yang menghimpit air terjun tersebut.

Air Terjun Lider yang terletak pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut ini, mempunyai kandungan air yang lebih segar dibandingkan dengan air terjun lain yang terdapat di sekitar kota Banyuwangi. Kemungkinan karena sumber airnya berasal dari hutan alami yang mengalir sepanjang 2 km. Di sekitar Air Terjun Lider juga terdapat empat air terjun lain yang merupakan bagian dari air terjun utamanya. Juga dikatakan bahwa saat matahari sedang terbit, panorama di depan Air Terjun Lider sangat menakjubkan. Sinar matahari yang mulai merambat terbias oleh butiran-butiran air yang memercik dari air terjun, sehingga membias jadi pelangi.

Air Terjun Lider mungkin bisa menjadi tantangan dan ajang rekreasi yang barangkali mampu mengusir kejenuhan dari rutinitas keseharian. Dengan keindahan serta eksotika alam yang luar biasa alami, menjadikan Air Terjun Lider memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan diinformasikan juga bahwa tak jarang puluhan wisatawan manca negara berbondong-bondong mengunjunginya, khususnya setelah mereka melakukan perjalanan ke Cagar Alam Kawah Ijen atau lokasi Agrowisata di Kali Klatak, Banyuwangi.

Berpetualang di Air Terjun Lider
Jika anda suka berpetualang di alam, cobalah datang ke Air Terjun Lider setinggi kurang lebih seratus meter. Air Terjun Lider yang berada di lereng gunung raung ini mampu menyajikan keindahan serta eksotika alam yang luar biasa alami. bahkan, keindahannya bisa melupakan rasa capek akibat sulitnya medan menuju lokasi air terjun tertinggi dibanyuwangi ini.

Untuk menuju lokasi air terjun lider, memang bisa ditempuh dengan menggunakan sejumlah jalur, salah satunya adalah jalur jambewangi, sempu, banyuwangi ini. hamparan hutan pinus sepanjang lima kilo meter akan menyapa anda jika melewati jalur ini. selain hutan pinus, mata anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan deretan tanaman tebu dan kopi yang menghampar disepanjang perjalanan.

Memang untuk menuju air terjun lider medan yang dilalui tidak segampang yang dibayangkan, selain harus melalui sejumlah perkebunan, jalan yang ditempuh juga tidak mulus. pecahan batu gunung berukuran sedang akan menghiasi sepanjang jalan menuju lokasi air terjun, sehingga perlu kehati - hatian jika anda menuju lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Tidak hanya itu, untuk mencapai lokasi air terjun, kendaraan pengunjung hanya bisa digunakan hingga di pos terakhir kawasan hutan lindung blok lider. setelah itu pengunjung harus menempuh jalur lanjutan dengan berjalan kaki atau treking sepanjang kurang lebih satu kilo meter.

Medan yang dilaluipun tidak mudah, selain harus melewati sejumlah tebing yang curam serta melewati padatnya tumbuhan khas hutan tropis, pengunjung juga harus menyeberangi sungai sebanyak enam kali. namun jangan khawatir, sungai yang masuk jalur menuju lokasi air terjun ini tidak ada yang dalam, bahkan airnya sangat jernih sehingga mampu menggoda siapapun untuk mencicipi kesejukan air sungai disini.

Obyek wisata alam air terjun lider sendiri berada dalam kawasan desa sumber arum, kecamatan songgon, banyuwangi, atau sekitar empat puluh lima kilo meter dari kota banyuwangi. tepatnya dikawasan hutan lindung petak 74 blok lider, kawasan perhutani Banyuwangi selatan atau tepat dilereng timur gunung raung.

Air terjun setinggi kurang lebih seratus meter ini sangat mempesona karena terjaga keaslian alamnya. apalagi, air yang terjatuh dari ketinggian bentuknya akan menggumpal dan mengular panjang, suara air tersebut terus menderu dan terdengar dengan sangat cepat membelah kesunyian hutan, derasnya air terjun yang jatuh ke dasar sungai itu membuat daun-daun pepohonan yang hijau di sekelilingnya menjadi bergoyang. hal inilah yang membuat pemandangan di lokasi air terjun lider semakin menyejukan. ditambah lagi, pemandangan disekitar air terjun lider yang semakin eksotik dengan adanya dinding tebing berupa deretan batu berdimensi rata diantara dua jurang yang menghimpit air terjun. keaslian alam dilokasi wisata inilah yang seringkali mengundang decak kagum para pengunjung air terjun ini.

Medan menuju lokasi yang sulit membuat lokasi wisata alam ini masih jarang dikunjungi para wisatawan hingga kini meski hari libur, rata – rata para pengunjung yang datang kelokasi ini hanya mereka yang terbiasa berpetualang dialam atau mereka yang mengagumi sejumlah lokasi wisata yang masih benar – benar alami, seperti di air terjun lider ini.

Tips Menuju Wisata Alam Air Terjun Lider :
Dari Genteng ke arah utara menuju kecamatan Sempu sejauh 7 km.
Dari kecamatan sempu melewati desa Jambewangi menuju desa Sumber Arum sejauh 7 km.
Sesampai di post 1 kawasan perkebunan, mengisi daftar kunjungan lengkap dengan keperluannya.
Pastikan kondisi kendaraan anda seluruhnya dalam keadaan baik karena medan yang dilewati sangatlah sulit dengan batu gunung lancip hampir di sepanjang jalan.
Jika cuaca sedang hujan, sebaiknya membawa air tembakau karena saat melewati hutan lindung akan sering kita jumpai lintah (pacet) di dedaunan yang akan berusaha menghisap darah di bagian tubuh kita .
Jika anda termasuk orang yang suka berlama-lama di suatu tempat, alangkah baiknya membawa minuman dan snack favorit karena di lokasi terjun tidak ada penjual makanan dan minuman.

Sumber :
http://blambangan.web.id
http://www.lintasberita.com
http://www.blogger.com
Foto : http://4.bp.blogspot.com

Air Terjun Tirto Kemanten (banyuwangi)


Air Terjun Wonorejo terletak di Kabupaten Banyuwangi Desa Kalibaru Wetan, Dusun Wonorejo, namun oleh penduduk sekitar air terjun ini dinamakan air terjun kembar “Tirto Kemanten” karena ada 2 (dua) aliran air yang sepintas mirip jejeran pengantin lelaki dan perempuan. Daya tarik air terjun “Tirto Kemanten” terletak pada keasriannya, bangunan yang masih tergolong cukup sederhana dengan pemandangan alami di kaki gunung Raung membuat tempat ini terasa sejuk dan tenang. Menurut salah satu penjaga post, konon asal mula (babad) air terjun ini dilakukan oleh Mbah Citro Wardoyo dan menjadikan tempat ini sebagai tingkat terakhir dari 7 (tujuh) air terjun di lereng Gunung Raung jalur Kalibaru.

Tips Menuju Wisata Alam Air Terjun Tirto Kemanten :
Sekitar 20 meter dari stasiun Kalibaru sebelah kiri jalan terdapat sebuah belokan, selanjutnya tinggal mengikuti petunjuk menuju lokasi terjun.
Pastikan kondisi ban anda masih bagus, karena jalan menuju lokasi merupakan jalan perkebunan yang lumayan terjal penuh dengan batu prejeng.
Jika anda termasuk orang yang suka berlama-lama di suatu tempat, alangkah baiknya membawa minuman dan snack favorit karena di lokasi terjun sangat minim penjual makanan dan minuman. Ada beberapa kedai kopi dan gorengan namun biasanya mereka hanya buka pada hari libur.

Sumber : http://www.kaskus

Curug Cimandi Racun


Lingkungan Alam Fisik
Curug Cimandi Racun atau sering disebut juga Curug Cibuni Racun terletak di Desa Jangkurang, Kecamatan Leles, dan di sebelah utara berbatasan dengan Desa Rancasalak, Desa Danu di sebelah barat, Desa Cikelet di sebelah selatan, dan Desa Ranca Salak di sebelah timur. Luas kawasan desa sebesar 988.602 ha, sedangkan luas objeknya sekitar 1 ha yang status kepemilikannya adalah tanah adat masyarakat Kampung Pasir Kunci dan Kampung Singkur.

Aktivitas yang dapat dilakukan di Curug Cibuni Racun ini antara lain menikmati pemandangan alam. Kawasan ini belum dikelola secara baik dan profesional. Salah satu penyebabnya karena objek ini masuk dalam area tanah adat maka penyediaan fasilitas atau prasarana tidak begitu berorientasi pada usaha.

Aspek KhususCurug Cimandi Racun mempunyai ketinggian 25 m dan sumber airnya berasal dari mata air Cimalagiri di Gunung Mandalawangi. Letak air terjun ini berada pada ketinggian 1045 di atas permukaan laut dengan reka bentuk alam berlembah disertai kemiringan lahan yang curam. Sepanjang jalan setapak menuju lokasi objek merupakan titik pandang yang cukup strategis untuk melihat pemandangan alam sekitar yang indah. Sekitar kawasan memiliki daya serap tanah yang cukup baik dengan jenis material tanah berbatu.

Kualitas dan kebersihan lingkungan yang cukup memadai ini terlihat dari sedikitnya sampah yang bertebaran. Keadaan bentang alam Curug Cibuni Racun ini tergolong baik karena tingginya air terjun tersebut ditambah hamparan alam yang hijau dan asri. Salah satu nilai tambah objek ini adalah faktor suhu atau temperatur. Temperatur kawasan yang sejuk, berkisar antara 23-25 derajat celsius sangat mendukung kegiatan wisata.

Daya tarik Curug Cibuni Racun bukan hanya karekteristik alamnya tapi juga dari legenda atau dongengnya. Dongeng yang melatarbelakangi nama dari air terjun tersebut bersumber dari cerita pada zaman kerajaan. Dongeng itu menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala terdapat suatu sayembara memperebutkan seorang putri yang cantik jelita. Para jawara atau jagoan silat harus bertarung mempertaruhkan nyawa untuk dapat menjadi pemenang dan mendapatkan sang putri sebagai hadiah kemenangannya. Ketika sayembara tersebut berlangsung, ternyata hasilnya imbang sehingga tidak ada yang berhak mendapatkan putri tersebut. Kemudian karena di antara kedua jawara tersebut tidak ada seorangpun yang berhak mendapatkan sang putri, maka putri tersebut disembunyikan dan diracun di tempat yang sekarang dikenal dengan Curug Cibuni Racun.

Di sekitar curug ini hanya tersedia 1 buah shelter dengan kondisi yang cukup baik, dan sampai saat ini belum tersedia fasilitas akomodasi. Alternatif fasilitas akomodasi terdekat yang dapat digunakan pengunjung adalah Wisma LEC yang terletak di Kecamatan Tarogong. Kemudian untuk fasilitas rumah makan, maka Rumah Makan Adika yang berada di depan Pasar Leles atau Jalan Raya Leles dapat dijadikan alternatif bagi wisatawan yang ingin mengisi perutnya.

Aksesibilitas
Untuk mencapai ke objek ini dapat menggunakan angkutan perkotaan trayek Kadungora ? Penclut dengan tarif antara Rp. 1.000 ? Rp. 1.500 atau dapat menggunakan ojeg dari Kadungora dengan tarif Rp. 4.000 atau juga dapat menggunakan transportasi mikrobus dengan trayek Bandung-Pamengpeuk, yang melewati jalan akses menuju ke objek ini. Jarak terminal angkot Kadungora dari stasiun Kadungora berjarak 5 km dari objek Curug Cibuni Racun. Dalam usaha pencapaian ke objek pengunjung akan melalui jalan raya kecamatan sejauh 3 km dengan kualitas jalan baik, lebar jalan memadai dan tidak berlubang, dan kemudian melewati jalan akses sejauh 500 m yang berbentuk foot trail, dan akhirnya menelusuri jalan setapak sejauh 300 m yang berbentuk foot trail dengan lapisan permukaan tanah berpasir. Jarak antara objek dan pusat pemerintahan kecamatan sekitar 7 km, sedangkan dengan pusat pemerintahan kabupaten berjarak 23 km, dari dengan Kabupaten Bandung berjarak 47 km serta berjarak 227 km dari ibukota provinsi, Jakarta.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://wisata.voucher-hotel.com

Air Terjun Batu Putu


Air terjun ini terletak di Kecamatan Teluk Betung Utara Kelurahan Batu Putu, dengan luas wilayah 313 Ha memiliki fungsi sebagai Kawasan Hutan Lindung / Konservasi. Kelurahan Batu Putu memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi diantara 5 (lima) Kelurahan lain yaitu 50 jiwa/ Ha, sehingga daerah ini rawan terhadap pergeseran pola guna lahan dari lahan konservasi menjadi lahan pemukiman dan pertanian.Pada saat ini Obyek Wisata Air Terjun Batu Putu memiliki 20 Ha lahan siap kembang. Selain potensi panorama alam berlatar belakang air terjun yang indah, lahan disekitar obyek wisata ini sangat baik untuk perkebunan durian dan coklat (Kakao). Sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi Kawasan Agro Wisata .Pembangunan pada Obyek Wisata Air Terjun Batu Putu ini baru dalam tahap pembangunan fisik, yaitu berupa penambahan sarana dan prasarana obyek wisata dan belum menyentuh pengebangan keragaman jenis wisata dan eksplorasi aspek budaya (Culture) setempat.Pembangunan fisik yang sudah terwujud antar lain dengan adanya fasilitas Mushala, Kantin, Tempat Istirahat, Lahan Parkir, kamar kecil (WC), dan jalan setapak menuju ke lokasi air terjun. Pada wilayah Obyek Wisata Air Terjun Batu Putu telah direncanakan untuk mendirikan Gedung Serba Guna yang ditujukan untuk kunjungan-kunjungan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Pembangunan gedung ini berdasarkan pada potensi pasar jangka pendek yang paling realistis adalah para pebisnis dalam dan luar negeri dengan kunjungan-kunjungan untuk tujuan MICE. Pendirian Gedung Serba Guna juga merupakan salah satu upaya untuk mengexplorasi potensi pasar jangka panjang, yaitu misalnya dengan menyelenggarakan festival-festival bertaraf Nasional ataupun Internasional yang menjadi agenda rutin tahunan. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung menjadi sarana promosi sekaligus pembangun image lampung. Pembangunan image ini sangat penting, untuk menciptakan kenangan tersendiri terhadap obyek wisata tersebut tidak hanya keindahan panoramanya tetapi juga event mengesankan yang terselenggara di dalamnya . Wisatawan rela menjadi partisipan dan atau pengunjung tetap tiap tahun hanya untuk berpartisipasi dalam Festival tahunan tersebut. Bukan hanya itu, keberadaan event tahunan tersebut dapat menggeliatkan kehidupan ekonomi masyarakat setempat, dan faktor penarik iklim investasi perhotelan , restaurant, ataupun usaha-usaha barang dan jasa lainnya. Untuk saat ini, ketidakberadaan gedung serba guna membuat nilai Obyek Wisata Air Terjun Batu Putu hanya sebatas wisata panorama, diharapkan dengan adanya gedung ini dapat memberikan manfaat lebih yang menunjang kemajuan Obyek Wisata Air Terjun Batu Putu kedepan.

Sumber : http://www.visitlampung.info

Grojogan Sewu : Wisata Air Terjun di Tawangmangu


Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di sekitar lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tempat tersebut kira-kira berjarak 1.5 jam perjalanan (50 Km) di sebelah Timur Kota Solo. Di Tawangmangu tersebut sebenarnya banyak dijumpai tempat wisata antara lain candi sukuh, candi cetho, air terjun jumog, dll, namun yang paling banyak dikunjungi dan paling popular adalah Air Terjun Grojogan Sewu. Air Terjun Grojogan Sewu terletak di sebuah hutan wisata yang masih asri dan alami. Meski cuma berjarak sekitar 1.5 an jam dari rumahku, namun aku baru 2 kali ke sana. Satu saat masih Taman Kanak-kanak alias TK, dan satu lagi kemarin hari Sabtu, 6 Juni 2009. Kami ke sana naik bus umum tujuan terminal Tawangmangu. Sekedar informasi, bus umum yang tujuan ke sana setiap hari sekitar 40 kali frekuensinya dan ternyata tidak ada yang menggunakan AC. Namun tenang saja, udara di daerah sana sejuk dan dingin sehingga tidak perlu AC lagi. Jalan menuju terminal Tawangmangu sangat banyak kelokan tajam dan curam dengan disamping kanan-kiri jalan tersebut banyak yang berupa jurang dan atau areal persawahan yang terlihat hijau dan subur. Setelah sekitar 1.5 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Terminal Tawangmangu. Terminal ini sudah banyak perubahannya, terminal yang dulu semrawut sekarang sudah lebih tertata dan tidak terlalu menimbulkan kemacetan lagi. Juga pasar tradisional yang ada di depan pasar ternyata sudah menjadi pasar yang semi modern dan lebih tertata teratur juga. Dari Terminal Tawangmangu ini, kami melanjutkan dengan naik angkot untuk menuju Air Terjun Grojogan Sewu. Jarak objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu cuma sekitar 800an meter dari Terminal Tawangmang. Jarak pintu loket dengan jalan raya utama sekitar 200an meter dan tidak ada petunjuk jalan atau plang pengumuman di jalan raya yang memberi tahu bahwa belokan jalan itu adalah belokan jalan menuju Objek Wisata.

Setelah sampai di sana segera kami membeli tiket masuk dan mulai menuruni anak tangga yang banyak menuju ke tempat air terjun. Selain hawanya yang sejuk dan pepohonan yang asih alami, di sana juga dijumpai kera jinak yang sangat banyak. So, harap berhati-hati bila membawa barang-barang dan makanan supaya tidak diambil oleh kera-kera tersebut. Anw, kera-kera di sana tidak seagresif kera-kera di Hutan palasangeh, Bali. Kalau kera di sangeh, Bali itu sampai berani mengambil kacamata namun untuk kera di Tawangmangu ini tidak sampai seperti itu.

Menuruni anak tangga yang banyak tersebut membuat kaki pegel juga, namun jangan khawatir, karena banyak tempat istirahat semacam gubuk di beberapa tempat untuk beristirahat sejenak bila capek. Setelah menuruni sekitar 200an anak tangga maka tibalah di tempat air terjunnya.

Di sekitar air terjun tersebut banyak terdapat penjual sate baik sate kelinci maupun sate ayam. Sate yang paling khas di sana adalah sate kelinci, oleh karena itu, akan lebih enak memakan sate kelinci. Sate tersebut disajikan dengan lontong. Well, sebelum mendekat ke air terjun, kami beristirahat dahulu untuk sekedar mengurangi capek setelah menuruni ratusan anak tangga sambil makan sate kelinci yang menghadap ke air terjun. Sambil makan, terlihat keindahan alam yang sangat indah dan dinamis dengan komposisi serasi berupa air terjun setinggi sekitar 80 meter yang memacarkan air berturutan tanpa henti, pohon-pohon besar dengan hijau daun alami, batu-batuan besar yang merupakan asli batu-batu gunung yang terserak secara alami, kera-kera yang bergerak ke sana-kemari mencari makanan, dan ditambah udara yang segar dan bersih membuat capek terasa hilang. Dari tempat tersebut juga dapat terlihat kolam renang untuk anak dan kolam renang untuk dewasa. Kolam renang anak terletak di tempat yang agak tinggi sedangkan kolam renang dewasa terletak disamping sungai. Untuk memakai kolam renang anak sepertinya gratis namun untuk kolam renang dewasa sepertinya harus membayar lagi.

Kenyang dengan sate kelinci dan capek sudah mulai hilang, mulai mendekat ke air terjun dan melihat para pengujung lain bermain air di bawah air terjun. Setelah beberapa lama, segera kembali. Perjalanan naik ratusan anak tangga juga tak kalah serunya dengan perjalanan menuruni tangga, kemudian menuju pasar di depan teminal Tawangmangu khusus jualan buah-buahan asli tawangmangu.


Sumber : http://andhy.qwords.net
Photo : http://www.lestariweb.com

Air Terjun Coban Rondo, Malang


Air Terjun Coban Rondo juga merupakan salah satu obyek wana wisata yang dimiliki di Kabupaten Malang. Terletak 12 km dari Kota Batu, atau tepatnya di Desa Pandansari Kec. Pujon. Di obyek wana wisata ini akan anda temui sebuah air terjun dengan ketinggian 60 m. Kawasan Wana Wisata Air Terjun Coban Rondo adalah kawasan wana wisata yang paling mudah ditempuh. Jalan masuk menuju lokasi sudah beraspal, sehingga sangat memudahkan wisatawan apabila ingin mengunjungi obyek wana wisata ini. Di sekitar air terjun Coban Rondo, dipenuhi pohon-pohon pinus dan cemara gunung, membuat suasana di obyek wisata ini serasa sejuk. Tidak hanya air terjun saja yang ada di obyek wana wisata ini. Anda juga dapat melihat panorama keindahan kota Batu, aneka tanaman toga, aneka satwa serta penginapan yang pada saat ini sedang dalam tahap pengerjaan.



Legenda Air Terjun Coban Rondo
Dahulu kala ada sepasangan pengantin yang baru melangsungkan pernikahannya. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang akan menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah 36 hari (selapan) menikah, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang karena baru “selapan” menikah. Tetapi keduanya bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang akan terjadi di perjalanan.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Joko Lelono. Tampaknya Joko Lelono tertarik dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Selanjutnya Joko Lelono berusaha merebut Dewi Anjarwati dari Raden Baron Kusuma. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, sebelum berkelahi Raden Baron Kusuma memerintahkan para punakawan (pendamping) agar membawa Dewi Anjarwati ke suatu tempat yang ada Cobannya (air Terjun). Pertempuran antara dua orang ini berlangsung seru. Karena sama mempunyai ilmu yang sama keduanya gugur dalam perkelahian itu.

Dengan meninggalnya Raden Baron Kusuma maka Dewi Anjarwati menjadi jandda atau “rondo” dalam bahasa Jawa. Sejak saat itulah air terjun yang ditempati Dewi Anjarwati lebih dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang ada dibawah air terjun itu merupakan tempat dudu sang putri.

Informasi Coban Rondo
*. Air Terjun Coban Rondo memiliki ketinggian 84 meter.
*. Air Terjun Coban Rondo berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut.
*. Suhu rata-rata +/- 22 derajat Celcius.
*. Coban Rondo pertama kali dipergunakan sebagai obyek wisata pada tahun 1980.
*. Coban Rondo berada di desa Pandansari Kecamatan Pujon Kab. malang.
*. Letak Coban Rondo berada dalam wilayah KPH Perum Perhutani Malang.
*. Debit air terjun pada musim penghujan 150 liter/ detik.

*. Debit air terjun pada musim kemarau 90 liter/ detik

Sumber :
http://www.my-indonesia.info
http://bayupancoro.wordpress.com

Sumber photo :
http://images.google.co.id/

Curug Sidomba, Dulunya Tempat Memandikan Domba

Curug Sidomba di Desa Peusing, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, boleh jadi merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Kuningan yang banyak dikunjungi wisatawan akhir-akhir ini.
Tapi, orang tidak yang banyak tahu bahwa curug Sidomba ini awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh beberapa siswa yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai di lereng Gunung Ciremai..

Menurut keterangan warga sekitar, Curug Sidomba, ditemukan secara tidak sengaja yaitu pada tahun 2002, ketika siswa-siswa SMP Islam Terpadu Umar Sjarifudin (ITUS) Kuningan sedang melakukan hiking. Mereka menelusuri sungai kecil di sekitar lereng Gunung Ciremai, .dan menemukan curug yang memiliki ketinggian 10 meter.

Kemudian oleh Umar Sjarifudin, warga Desa Peusing, Curug itu dikembangkan menjadi kawasan wisata yang lebih dikenal Curug Sidomba. Nama Sidomba sendiri, menurut cerita masyarakat, konon dulu tempat ini merupakan tempat memandikan domba. Selain itu, hutan di sekitar curug merupakan pangngonan (tempat penggembalaan) domba.

Keberadaan Curug Sidomba sekarang sungguh berbeda dengan saat ditemukan oleh siswa SMP ITUS pada tahun 2002 lalu. Sidomba sekarang sudah merupakan obyek wisata yang modern. (BC-99)

Sumber : http://www.beritacerbon.com

Sumber photo : http://teamtouring.web

Curug Pareang

Terletak di barat daya Kota Sukabumi dengan jarak 30 Km, tepatnya di desa Sindang Resmi, Kecamatan Jampang Tengah, Kab. Sukabumi- Jabar. Dari kota Sukabumi ambil arah ke Jl. Pelabuhan 2. Pertigaan pasar pangleseran ke kiri arah Jampang. Akses menuju kesana relatif mudah, namun tempat ini belum banyak didatangi orang karena belum dikelola secara maksimal.

Dalam bahasa sunda, curug artinya air terjun. Curug Pareang sangat menawan dengan kenampakan sebagai sungai di dinding bukit.

Curug Pareang nan Menawan

Pada saat musim kemarau, debit airnya kecil sehingga bisa didaki. Lumayan tinggi mendaki lereng ini namun begitu sampai diatas, rasa capek akan hilang melihat keindahan alam dari puncak dan air terjun kebawah melewati sela sela kaki kita. Mmmmm…….. Akan tetapi mendaki lereng melewati sungai ini sangat tidak disarankan karena licin dan berbahaya. Apabila mau melihat keindahan alam dari puncak, anda bisa mendaki lewat samping sungai (sudah ada jalan setapaknya).

Konon, menurut cerita dari penduduk setempat, disekitar air terjun ini terdapat sumur minyak yang dibakar pada zaman penjajahan Belanda. Sumur ini sekarang menjadi sumber air yang jernih meskipun curug sedang dilanda badai (banjir). Namun sayang sekali ketika kami berkunjung kesana kami tidak melihatnya.

Situ Gunung

Wisata alam Situ Gunung terletak di kaki gunung Gede, dan merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Secara administratif pemerintahan masuk dalam wilayah Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Dari kota Sukabumi berjarak kurang lebih 15 Km kearah Barat/Bogor. Akses menuju kesana relatif mudah, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Angkutan umum dari arah kota Sukabumi ke arah Bogor, turun di Masjid Agung Cisaat. Dari Jl. Raya Cisaat masuk ke kanan sejauh 10 Km. Retribusi masuk ke kawasan ini relatif murah.

Apabila anda membawa kendaraan pribadi, bisa parkir di pos 2 dan jalan kaki kurang lebih 200 m. Tersedia juga jasa ojeg. Namun anda akan merasakan sesuatu yang berbeda ketika berjalan kaki. Udara yang masih bersih, sejuk dan segar memenuhi rongga dada. Kicauan burung kedasih, kutilang, dan beberapa jenis burung yang lain saling bersahutan. Sesekali anda bisa becanda ‘main petak umpet’ dengan lutung yang berloncatan kian kemari diantara pepohonan. Lutung adalah jenis monyet yang seluruh permukaan tubuhnya berwarna hitam, dan pipinya mempunyai jumbai. Menurut informasi dari petugas jaga, biasanya lutung turun minum ke danau sekitar jam setengah tujuh pagi dan jam lima sore. Lutung lutung di kawasan ini sengaja dilestarikan dan dilindungi.

Dalam perjalanan turun akan mulai terlihat genangan air situ di balik pepohonan. Dalam bahasa sunda, situ berarti danau. Situ Gunung memiliki nuansa yang sangat eksotis. Pepohonan sekitar didominasi oleh pohon Damar (Agathis sp.). Dan nuansa eksotis ini dapat dinikmati pada pagi hari ketika sinar matahari menerobos pepohonan kurang lebih jam 05.30 – 06.30.

Namun sayang sekali ketika mengambil foto foto ini, kami agak kesiangan (jam 07.00), sehingga sinar matahari sudah penuh menyinari danau.

Air danau ini berasal dari sumber mata air yang terkenal sebagai Curug Cimanaracun. Tempatnya tidak jauh dari Situ Gunung. Selain Curug Cimanaracun terdapat pula Curug Sawer yang berjarak kurang lebih 2,5 Km.

Bagi anda yang datang dari jauh, tidak perlu kuatir karena di sekitar kawasan wisata ini telah banyak di bangun vila dan penginapan . Dapat juga anda berkemah. Terdapat juga gazebo di pinggir situ.

Hari ke tiga tanggal 9 Maret 2009. Kami bersiap siap meninggalkan kawasan UG. Kami mampir ke Villa amanda Ratu (kunjungan sebelumnya, saya menginap di tempat ini). Disini kita bisa menikmati indahnya muara Cikarang, yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai ‘Tanah Lot Amanda Ratu’.

Persinggahan terakhir kami adalah Curug Cikaso. Perjalanan kesana berliku liku, namun tidak terlalu jauh dan jalan sudah diaspal halus. Sebenarnya Cikaso adalah nama sungai dan curugnya adalah Curug Luhur.

Untuk mencapai curug Luhur, kita bisa mendapatkan sensasi lain dengan naik sampan selama 1,5 menit walau sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sampan yang ditawarkan disitu cukup mahal Rp. 70.000/sampan. Jika anda jeli, bisa Rp. 20.000/sampan. Perjalanan menyusuri sungai Cikaso yang besar, airnya berwarna coklat. Kemudian masuk kemuara. Tempat ini adalah pertemuan air warna hijau yang berasal dari Curug Luhur dan air coklatnya sungai Cikaso.

Tak terasa memang naik sampan selama 1,5 menit. Kami diberi waktu menikmati indahnya Curug selama 3 jam yang kemudian akan dijemput kembali.

Wow… Curug Luhur ini sangat indah sekali. 3 Curug berjajar dengan air yang berwarna kehijauan jernih.

Ditempat ini kami mandi, berenang dan berbasah basah (kecuali mas master tukang komputer yang takut air, p).

Rasanya kami belum puas untuk maen, tapi waktu mengingatkan kami untuk segera pulang ke Sukabumi. Sayonara Ujung Genteng, sayonara Cikaso…

Sumber : http://marcantia.word

Sumber photo : http://marcantia.files.wordpress.com

Curug Pitu Pesona Wisata Alam Margasari

Tentu anda sering mendengar objek Wisata Curug Pitu di Baturaden, Banyumas. Tapi pernahkah anda mendengar air terjun Curug Pitu di Margasari? Jika belum, mungkin informasi yang akan kami sampaikan akan menambah referensi bagi anda sebagai alternatif untuk kegiatan maupun untuk mengisi liburan anda.

Curug Pitu berada di kecamatan Margasari kabupaten Tegal. Margasari dilalui oleh jalan raya yang menghubungkan Tegal-Purwokerto, dapat ditempuh sekitar setengah jam dari kota Slawi jika anda menggunakan kendaraan bermotor. Anda dapat pula menggunakan bus dengan tarif + Rp 5000 dan turun di pasar Margasari. Warga setempat ramah sehingga anda tak perlu ragu untuk menanyakan informasi tentang rute maupun informasi lainnya yang mungkin anda perlukan.

Curug Pitu merupakan alternatif wisata bagi anda yang menyukai petualangan dan kegiatan di alam bebas dengan pemandangan yang masih alami. Curug Pitu adalah rangkaian air terjun yang berlokasi diperbukitan Margasari dan dikelilingi oleh hutan yang masih alami. Sesuai namanya Curug Pitu memiliki tujuh air terjun bertingkat yang setiap tingkatnya memiliki daya tarik tersendiri. Akses ke lokasi ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Namun bila beruntung, anda bisa menumpang truk warga setempat hingga ke bendungan. Dengan menumpang truk, anda dapat menyingkat setengah perjalanan anda.

Dengan berjalan kaki dari pasar Margasari, Anda memerlukan waktu + 1 jam hingga air terjun pertama. Pemandangan alam yang pertama anda lihat adalah hamparan hutan jati. Perjalanan akan terasa sangat melelahkan karena jalan yang dilalui datar dan panjang serta karakteristik hutan homogen yang monoton. Tapi anda tidak perlu khawatir, pengalaman berjalan kaki melintasi hutan jati akan memberi kesan tersendiri.

Setelah menempuh perjalanan melintasi hutan jati, anda dapat beristirahat di bendungan yang telah disediakan tempat berteduh. Dari bendungan perjalanan anda akan dilanjutkan dengan melintasi hutan tropis (heterogen) yang masih alami. Disarankan anda bersama pemandu yang akan memberitahu rute ke Curug Pitu dari bendungan. Karena rute tidak terlihat hingga anda menyeberangi sungai didekat bendungan tersebut.

Catatan dan saran perjalanan:
  1. Usahakan bersama pemandu (penduduk lokal atau seseorang yang pernah berkunjung ke Curug Pitu)
  2. Bila Anda membawa kendaraan bermotor sebaiknya dititipkan di kantor POLSEK setempat (sebelah timur pasar Margasari). Anda juga disarankan untuk melapor terlebih dahulu sebagi antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
  3. Persiapkan bekal dengan sebaik-baiknya (makanan, minuman, shelter, jas hujan maupun perlengkapan lainnya). Karena paling tidak anda memerlukan waktu 4-5 jam sampai anda kembali ke pasar Margasari.
  4. Jika cuaca diatas perbukitan mendung dan sungai mulai keruh, sebaiknya anda membatalkan perjalanan karena dikhawatirkan akan terjadi air bah
  5. Jika terjadi hujan lebat dan sungai mulai meluap usahakan menjauhi daerah aliran sungai (DAS)
  6. Jangan memaksakan diri untuk melintasi sungai antara hutan jati dan kawasan pemukiman penduduk saat sungai telah meluap karena arus sangat deras. Anda bisa memutar melalui desa terdekat di sebelah barat rute. Meskipun akan memerlukan waktu yang cukup lama
  7. Bersosialisasilah dengan masyarakat setempat siapa tahu anda akan mendapatkan informasi bahkan bantuan yang sangat diperlukan.
  8. Dilarang corat-cotret dan membuang sampah sembarangan untuk menjaga keasrian Curug Pitu. Persiapkan kantong plastik besar untuk membawa sampah anda kembali.
Sumber : http://warteg.or.id
Photo : http://images.google.co.id

Curug Cinulang

Dari Parakanmuncang, jaraknya tak lebih dari 10 km. Namun, untuk "menemuinya", dua bukit akbar harus terlebih dahulu dilalui. Jalan berkelok, menanjak dan menurun itu--untungnya--dilapisi aspal nan mulus. Dijamin, perjalanan takkan membosankan karena alam di sana menawarkan keindahan yang luar biasa. Bak lirik sebuah lagu lawas, itulah pemandangan alam dari atas bukit.

PARA pengunjung menikmati pesona Curug Cinulang di Ds. Sindulang Kec. Cimanggung Kab. Sumedang, Senin (10/4). Meski setiap pekan ramai dikunjungi, banyak pedagang yang malah bangkrut. Dalam sehari, mereka hanya berpendapatan dalam kisaran Rp 5.000,00 hingga Rp 10.000,00.

Aspal nan mulus itu, ternyata, cuma sampai di ujung Desa Dampit Kec. Cicalengka Kab. Bandung. Begitu memasuki Desa Tanjungwangi, keadaan jalan berbanding terbalik. Jalan berbatu dan lubang di mana-mana. Di beberapa titik, jalan bercampur air dan lumpur longsoran tebing. Keadaan demikian harus "dinikmati" sejauh 2 km. Perlahan, dari balik rerimbun dedaunan, si cantik itu menampakkan diri. Curug Cinulang.

Begitu memasuki lokasi, petugas meminta bayaran Rp 3.000,00. Dua ribu rupiah untuk tiket masuk setiap individu dan seribu rupiah untuk kendaraan. Selain itu, di areal parkir, ditarik lagi bayaran Rp 2.000,00 untuk jasa parkir setiap kendaraan.

Dari pintu gerbang, gemuruh air yang jatuh menimpa bebatuan sudah terdengar. Ternyata, curug itu berlokasi di bukit seberang. Secara administratif, curug itu tak berlokasi di Kec. Cicalengka. "Masuknya ke Kp. Sindulang Ds. Sindulang Kec. Cimanggung Kab. Sumedang," ungkap Sekretaris Desa Tanjungwangi, H. Suganda ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/4).

Cinulang tak terurus. Tangga panjang yang menempel di tebing bukit, kini, tak lagi utuh. "Sulaman" besi bundar yang semula "menghuni" pinggiran tangga pun sudah lama raib. Pun demikian, bilah-bilah tangga sudah banyak yang semplak terkena longsoran. Tangga panjang itu tak sampai ke bibir Sungai Citarik, aliran air di bawah Curug Cinulang.

Tangga itu berujung di tengah-tengah tebing, beberapa meter setelah dibuatkan cabang. Seterusnya, jalan berupa bongkahan-bongkahan batu gunung yang besar. Jalan itu membahayakan pengunjung karena terus-menerus disembur oleh embun dari curug. Kondisinya sangat licin dan berlumpur.

Ada sebuah jembatan mungil melintang di tengah sungai. Segendang sepenarian, keadaan jembatan itu pun sama mengkhawatirkannya. Seng-seng pelapis lantai jembatan itu sudah bolong-bolong dan berkarat.

Kondisi itulah yang, sepertinya, menyebabkan masyarakat sungkan berkunjung ke sana. Saat ini, berdasarkan data, Curug Cinulang paling banyak dikunjungi oleh 300 orang setiap pekannya. "Sangat jauh jika dibandingkan dengan tingkat kunjungan pada dekade 1980 dan 1990. Saat itu, bisa mencapai 10.000 orang yang berkunjung ke sini," tutur Suganda.

Jika dikalkulasi, pendapatan dari tiket masuk setiap minggunya hanya Rp 600.000,00. Sementara, berdasarkan ketentuan, jumlah tersebut harus dibagi ke dalam beberapa "pos". Sebanyak 30% untuk pajak, 30% kas desa, 15% upah pungut (sebanyak 20 orang), 10% untuk pengadaan karcis dan ATK, 10% untuk pemeliharaan dan pembinaan, serta 5% lain-lain.

Pada kenyataannya, kata Suganda, sharing itu tak sepenuhnya terjadi. "Malah, minggu lalu, uang yang masuk ke kas desa hanya Rp 30.000,00. Jadi, boro-boro buat pemeliharaan dan perbaikan kondisi objek wisata. Terkadang, buat upah barudak yang sebanyak 20 orang itu sering kali kita ambil dari pos lain," ujarnya.

**
OBJEK wisata Curug Cinulang hanyalah salah satu contoh. Pengelolaan objek wisata di wilayah Kab. Bandung membutuhkan keseriusan pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif. "Butuh willing yang kuat dari pemda," ujar Kepala Seksi Objek Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bandung, Yoharman Syamsu, S. Sos., M.Si.

Setidaknya, ada tiga masalah yang kerap muncul dalam konteks pengelolaan objek wisata. Pertama, menurut dia, adalah masalah kepemilikan lahan wisata oleh pihak yang berbeda. Ia mencontohkan objek wisata Cibolang, Pangalengan. Jalan menuju lokasi adalah milik PT Perkebunan Negara sehingga agak sulit untuk mengembangkan wisatanya.

Hal itu tidak akan sulit seandainya koordinasi antara pemkab, pihak pengembang, dan pemilik lahan berjalan baik. Buktinya, jalan tembus Ciwidey-Pangalengan sekarang sudah menjadi milik pemkab. "Tadinya itu milik Perhutani dan Perkebunan," katanya. Jalan sepanjang 17,4 kilometer itu diperlukan untuk pengembangan lokasi wisata yang berada di kedua wilayah itu.

Permohonan perbaikan jalan yang saat ini sedang diajukan adalah menuju lokasi wisata Gunung. Tangkuban Parahu yang kini dikelola oleh PT Palawi.

Pendapat senada datang dari gedung dewan, dalam Rapat Panitia Khusus II tentang Perda Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) di DPRD Kab. Bandung, bulan lalu. Akibatnya, Pemerintah Kabupaten Bandung kesulitan mengoptimalkan potensi pendapatan dari objek wisata yang mayoritas wisata alam. Sekadar catatan, mayoritas objek wisata tak dimiliki secara mutlak oleh Pemkab Bandung, tetapi juga oleh Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya Air (BKSDA), dan perusahaan perkebunan. "Alhasil, langkah Pemkab agak terjegal karena kepemilikan lahan yang bermacam-macam itu," ujar anggota Pansus II dari Komisi C, Asep Anwar.

Dia mencontohkan, sebanyak 65 persen luas objek wisata Situ Patengan, Ciwidey, dimiliki oleh Perhutani, dan 25 persennya dimiliki perusahaan perkebunan. Dengan demikian, bagian pendapatan untuk pemkab sangat sedikit. Dari seluruh objek wisata yang ada, hanya objek wisata Maribaya yang murni dimiliki oleh Pemkab Bandung. Pendapatan dari retribusi objek wisata Maribaya pada tahun 2005 sebesar Rp 203.500.000,00.

Kasie Objek Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bandung, Yoharman Syamsu mengatakan, selama ini kerja sama antara pemkab dengan pihak perhutani atau Perkebunan baru kesepakatan lisan saja, belum ada Memorandum of Understanding (MoU). "Baru dengan Indonesia Power saja untuk Situ Cileunca, yang lainnya belum," ujarnya. Pemkab diberi hak penuh pengelolaan selama lima tahun dari 2006 - 2011. Tahun lalu, pendapatan retribusi dari Situ Cileunca sebesar Rp 5.225.000,00.

Menurut anggota pansus dari Komisi C, Rudi Atmanto, satu-satunya objek wisata yang dimiliki, yaitu Maribaya, pun kini tidak terurus. "Di lereng-lerengnya sudah dibangun rumah-rumah peristirahatan, " katanya. Selain itu, lanjutnya, sungai yang mengalir di Maribaya sudah banyak mengandung sampah.

Menurut Asep Anwar, di lapangan, tercium indikasi adanya oknum pengelola yang tidak mau ditertibkan karena takut kehilangan sumber pendapatan hasil berbagai pungutan liar yang ada di lokasi wisata.

Bahkan di objek wisata pemandian Cibolang, Pangalengan, sulit dikembangkan karena 65 persen lahan dimiliki Perhutani, sementara jalan yang dapat mengakses lokasi dimiliki perkebunan. "Untuk bikin jalan, minta ganti rugi Rp 250.000,00 per pohon teh, pengembang mana yang mau seperti itu?," tanyanya.

Untuk itu, dalam pembahasan RIPDA, pihak perkebunan, Perhutani, dan BKSDA akan dilibatkan untuk mencari solusinya. Institusi tersebut dilibatkan bukan karena soal kepemilikan lahan saja, melainkan untuk membuat perencanaan terpadu mengingat mayoritas objek wisata di Kabupaten Bandung adalah wisata alam yang rentan merusak alam. "Selama ini pemkab tidak punya perencanaan yang baik," ucap Rudi Atmanto.

Kedua, adalah masalah pembinaan objek wisata, terutama dari sisi bisnis. Antara bisnis, promosi, dan pelayanan yang baik, menurut dia, saling berkaitan.

Ketiga, maraknya biaya siluman (preman, oknum wartawan, dan oknum aparat) yang harus dikeluarkan oleh pengelola wisata. Ia mencontohkan objek wisata Curug Ci-nulang yang dikelola oleh pemerintah desa setempat. Pihaknya mengaku telah menerima laporan bahwa pemerintah desa tidak mampu lagi mengelola karena tidak kuat lagi menghadapi pungutan-pungutan liar dari berbagai pihak tersebut.

Jumlah pungutan menghabiskan porsi paling besar dalam komponen biaya pemeliharaan objek wisata. Bahkan, menyita biaya perawatan. "Jadi, wajar kalau keadaannya tidak terawat," ujarnya. Saat ini, pihaknya sedang menjajaki agar bisa ditangani pemkab lagi.

Pemerintah Desa Tanjungwangi membenarkan informasi tersebut. Salah seorang staf mengabarkan, setidaknya, hal itu terjadi 2 kali dalam sebulan. "Tak cuma meminta jatah. Ada juga yang jajan di warung dan menyerahkan pembayaran kepada kami. Tak ingin membuat masalah, kami pun akhirnya membayarnya meski tak jarang berutang dulu karena tak punya uang," katanya.

Sebagai alternatif jalan keluar, kata Yoharman, pihaknya mendesak agar Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) segera disahkan menjadi peraturan daerah. "Setidaknya, di situ, termuat jalan keluar atas --sedikitnya-- ketiga masalah di atas. Pada prinsipnya, RIPPDA lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dan kemajuan sektor pariwisata. Jika sudah disahkan menjadi perda, maka hanya satu-satunya di Indonesia, kabupaten yang memiliki rencana induk pariwisata dan berlaku selama 10 tahun ke depan," demikian Yoharman Syamsu.

DALAM konteks Curug Cinulang, Suganda mengaku, pihaknya kini menggantungkan harapan kepada pihak berwenang, dalam hal ini Pemerintah Kab. Bandung. "Kami sudah mengajukan permohonan dana untuk perbaikan kondisi Curug Cinulang. Kalau tidak salah, anggarannya mencapai Rp 300 juta," ucapnya.

Satu hal lagi adalah perbaikan jalan. Ada angin segar dari Pemkab Bandung. Menurut Suganda, Pemkab Bandung memang sudah merencanakan perbaikan jalan menuju objek wisata tersebut sejauh 2 km per tahun. Kini, jalan aspal nan mulus itu baru sampai di perbatasan Desa Tanjungwangi dengan Desa Dampit.

"Rencananya, bulan Juni atau Juli 2006 ini perbaikan jalan kembali dilanjutkan. Tapi, dengar-dengar, jatah untuk Desa Tanjungwangi hanya sejauh 1,5 km. Itu berarti, teu nepi ka curug-curug acan," ujar Suganda.

Ada semacam asa yang membuhul. Suganda mengenang masa ketika Cinulang menjadi primadona, dua dekade silam. Semuanya begitu bergairah. Tanjungwangi mendulang untung. "Bahkan, dulu, sempat bisa menyumbang untuk kesebelasan Persikab segala," katanya.

Sebagai catatan lagi, keindahan panorama Curug Cinulang ini pernah diabadikan dalam sebuah lagu pop Sunda karya Yayan Djatnika berjudul “Curug Cinulang” yang liriknya sebagai berikut.

Di Curug Cinulang
Bulan bentang narembongan
Hawar-hawar aya tembang
Tembang asih tembang kadeudeuh dua'an

Di Curug Cinulang
Batin ceurik balilihan
Numpang kana Panghareupan
Cinta urang mugi asih papanjangan

Kabaseuhan cai ka heman
Kaceretan ibun kamelang
Mengket pageuh geter rasa kahariwang
Hariwang cinta urang panungtungan

Sumber : http://jabar-rekreasi.blogspot.com
Photo : http://wisata.portalbandung.com

Air terjun atau curug Citambur

Curug (basa sunda) atau dalam bahasa Indonesia disebut air terjun ini, terletak di desa Karang Jaya kecamatan Pagelaran kabupaten Cianjur. Apabila anda berangkat dari bandung, ambil arah ke selatan bandung tepatnya jalan menuju kecamatan Ciwidey kabupaten Bandung, setelah Perkebunan Teh Rancabali terdapat pertigaan jalan, ke arah kiri menunjukkan arah ke tempat wisata Situ / danau Patengan, sedangkan ke arah kanan menuju perkebunan teh Sinumbra

Ambillah jalan yang menuju ke perkebunan Sinumbra, perjalanan dari perkebunan Sinumbra – melalui desa Cipelah kecamatan Rancabali hingga desa Karang Jaya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja. Dengan keadaan jalan yang cukup baik hingga desa Cipelah, selanjutnya jalan masih baik walau berbatu – batu dan terkadang berlubang.

Perjalanan tidak akan membosankan karena pemandangan di kiri kanan, berbeda dengan keadaan kota dan bahkan desa – desa lainnya. Diawali dari perkebunan Rancabali hingga desa Cipelah, kiri kanan dikelilingi oleh perkebunan teh / tea plantation. Setelah melewati desa Cipelah, pemandangan pedesaan mulai berangsur berubah menjadi suasana pedesaan di pedalaman. Uniknya di sisi sebelah kanan terdapat punggungan gunung yang cukup tinggi, dan terdapat air terjun yang cukup indah terlihat dari jalan. Pertama lihat, karena takjub dan merasa kagum saya kira ini adalah Citambur, tapi ternyata bukan. Di perjalanan menuju Citambur ternyata masih terdapat satu lagi air terjun, hanya saya tidak menanyakan pada penduduk setempat, apa nama air terjun tersebut.

Sampai di kantor desa Karang Jaya, tepat didepan kantor tersebut merupakan pintu masuk menuju curug Citambur. Beberapa meter dari pintu masuk, langsung disambut oleh situ RawaSuro yang dijadikan penampung air untuk irigasi. Keadaan di sekitar danau ini tidak terlalu bersih dan tampaknya dijadikan tempat membersihkan plastik di aliran air irigasinya. Selanjutnya jalan menuju curug bukan hotmix, tetapi batu lepas tertanam di tanah akibat perkerasan oleh kendaran yang lewat. Apabila anda menggunakan motor harus berhati-hati melewatinya karena terkadang ada batu dan lubang yang dapat dihantam blok mesin.

Sampai ditempat parkir yang tidak tertata dan dipenuhi oleh rerumputan, terlihat air terjun yang cukup tinggi di sebelah kanan. Perkiraan mungkin hampir 200 meter, dengan perbandingan perkiraan pohon pinus 25 meter. Di sekitar parkiran masih merupakan sawah yang menguning, dan di sebelah kiri atau didepan air terjun terdapat bukit dan pohon beringin yang terdiri tegak dipuncaknya.

Tak bisa dipungkiri, wana wisata Curug Citambur memang sangat bagus, selain karena ketinggiannya, air yang bersih dan cipratan air hasil tumbukan dengan permukaan air sungai menghasilkan angin yang membawa butir-butir air yang memiliki turbulensi yang cepat, apabila kita berusaha mendekat baru dalam jarak 50 meteran dan berusaha melihat ke arah pusat tumbukan air, seakan – akan berputar – mata tidak akan tahan melihat karena cipratan air yang dahsyat seperti air hujan, dalam sekejap pakaianpun basah kuyup. Sensasi ini sangat berbeda dengan air terjun yang hanya memiliki ketinggian beberapa puluh meter, baru pertama kali saya merasakan perasaan yang aneh ketika memandang ke arah pusat tumbukan air terjun.

Aneh sekali sensasi yang dirasakan …mmmhh sayangnya saya tidak berani membawa kamera, karena dalam beberapa puluh detik, pakaian langsung basah, dalam jarak 100 meter dari pusat air terjun pun, kamera harus hati-hati kalau tidak mau terkena air.

Posisi yang paling pas adalah mengambil gambar dari puncak bukit didepan air terjun, dan yang pasti dibutuhkan kamera dengan lensa tele, karena dengan kamera digital tipe compact, orang di tempat saya bertarung dengan cipratan air terjun yang maha dahsyat, terlihat bagai semut, kecil sekali.

Sumber : http://kharistya.wordpress.com

Curug Luhur

Bogor adalah tempat yang penuh dengan keindahan, Wisata alam yang menjadi salah satu kegemaran pengunjung dari jakarta salah satunya terletak di wilayah Bogor Barat. Setiap "Weekend" ataupun Libur panjang, traffic kearah tersebut semakin padat.

Curug luhur terletak di lalulintas jalan raya Bogor - Gunung salak Endah. Letak yang relatif mudah dijangkau inilah yang menjadikan ramainya curug luhur dikunjungi setiap saat.

Terletak di wilayah kecamatan Tenjolaya Bogor, Curug Luhur menyimpan potensi wisata yang lumayan tinggi. dengan pemandangan indah di setiap sudut, memiliki Air terjun sepanjang >50Meter, dan area yang relatif dekat dengan jalan raya.

Lokasi Curug Luhur ini terletak persis disamping jalan raya kawasan Bogor - Gunung Salak Endah, sehingga untuk bertandang kelokasi ini, bisa menggunakan angkutan umum dan mungkin hal ini pulalah yang menyebabkan Curug Luhur cenderung ramai dikunjungi wisatawan.

Perjalanan dari areal parkir menuju lokasi curug sangatlah mudah dan telah dibuatkan dalam bentuk undakan semen yang menurun hingga ke lokasi. Praktis banyak wisatawan dalam berbagai usia mendatangi curug ini, mengingat tidak diperlukan stamina yang cukup besar untuk mencapai lokasi wisata. Berbagai bangunan nampaknya sedang dibangun guna mendukung sarana dan prasarana, suatu hal yang menunjukkan tingkat kepedulian yang cukup tinggi dalam upaya pengembangan curug ini. Namun nampaknya areal perkemahan tidak tersedia disini, mengingat area terbuka dan datar yang ada sepertinya kurang cukup luas.

Mendekati lokasi utama Curug Luhur terdapat sederet limpahan air yang mengalir secara deras pada dinding tanah dengan ketinggian kurang lebih 2 meter. Limpahan air ini mirip air terjun mini yang bisa digunakan pengunjung untuk membasuh tangan atau kaki sambil menikmati kesegaran air khas pegunungan. Air terjun mini tersebut ditampung pada sebuah parit kecil yang akhirnya akan menyatu dengan limpahan air Curug Luhur pada sungai yang ada di bagian tengah bawah area.

Curug Luhur, seperti halnya Curug Nangka memiliki dua buah air terjun utama, bedanya bila di Curug Nangka letaknya terpisah, sedangkan di Curug Luhur letaknya sejajar. Air yang melimpah di Curug Luhur ini pun cukup deras, meskipun musim kemarau belum berakhir saat penulis mengunjungi lokasi wisata ini. Konon, sebenarnya cuman ada satu air terjun di kawasan ini, namun penduduk setempat membuat cabang baru pada aliran sungai dan membelokkannya sehingga tercipta air terjun baru. Dikarenakan letak air terjun yang baru itu sedikit lebih tinggi, maka air yang mengalirpun tidaklah sederas air terjun utama, namun demikian telah mampu memberikan panorama tambahan yang menarik pada objek wisata ini.

Bila ingin menimati curug namun enggan diterpa sinar matahari, disekitar curug juga terdapat tempat-tempat berteduh . Umumnya tempat-tempat semacam ini didominasi oleh pasangan muda-mudi yang sedang dilanda asmara untuk berbagai cerita dan janji.

Terkadang tak jarang pula para pengunjung menceburkan diri ke kolam yang cukup besar yang terletak dibawah curug tersebut untuk sekedar berendam membasahi tubuh atau berenang-renang kecil antar tepian kolam. Dilokasi ini banyak terdapat kolam buatan yang airnya sengaja dibuat melimpah ruah, sehingga bunyi derasnya aliran air yang mengalir dan akhirnya menyatu kesebuah sungai sangatlah dominan mewarnai objek wisata Curug Luhur.

Dengan Bermodalkan Karcis sekitar 10 ribu perorang, tentunya fasilitas dan kenyamanan berekreasi menjadi tuntutan selanjutnya.

Sumber : http://www.bogor.net

Sumber : http://navigasi.net

Curug Orok Garut

Curug Orok ? Sempat bingung juga saya ketika membaca nama objek wisata ini dari situs pemda garut. "Orok" yang berarti bayi digabungkan dengan Curug yang berarti air terjun, apakah hal itu berarti air terun yang ada berukuran kecil, sehingga pantas disebut Curug Orok ? Sepotong foto yang menggambarkan objek wisata ini pada di situs tersebut, malah semakin menambah rasa penasaran saya karena terlihat cukup menarik untuk di kunjungi.

Sepulang dari objek wisata Telaga Bodas, kendaraanpun saya pacu menuju ke lokasi Curug Orok. Jalan mulus dan berliku mengitari daerah pegunungan tampak menarik sekali karena berada di antara kawasan kebuh teh. Kendaraanpun bisa melaju dengan tenang, berbeda jauh sekali kondisinya bila dibandingkan jalan menuju objek wisata Telaga Bodas. Sesekali kami bertanya pada penduduk setempat untuk mengetahui secara lebih pasti lokasi Curug Orok, mengingat kordinat GPS yang saya punyai hanyalah sampai level kecamatan saja . Hampir saja objek wisata ini terlewati kalau saja secara tidak sengaja saya menoleh ke sisi kiri jalan untuk membaca sebuah tulisan yang terdapat pada sebuah gapura berwarna jingga-kuning menyolok. Rupanya lokasi curug berada di bagian bawah jalan, dan untuk menuju kelokasi tersebut mesti melalui jalan berbatu melintasi areal kebun teh.

Kurang lebih 100 meter dari gerbang tersebut sampailah kami disebuah lokasi yang terletak ditepi bukit. Dari area parkir, tampak garis biru membentang di kejauhan yang ternyata merupakan laut selatan dari pulau Jawa. Sinar matahari sore terhalang perbukitan yang berada di sisi barat. Kunjungan di sore hari, hampir menjelang maghrib dan usai turun hujan mengakibatkan tidak ada lagi aktivitas apapun di objek wisata ini. Beberapa kios penjual makanan dan cindera mata yang nampak berjajar disekitar area parkir dan jalan setapak menuju air terjun tampak sudah pada "tutup toko" semua, menambah kesan sunyi-senyap saat itu.

Suara air terjun yang berada di bawah area parkir, terdengar cukup jelas. Dari sela-sela pepohonan di atas bukit kami bisa melihat Curug Orok yang ternyata menurut saya cantik sekali. Putihnya curah air terjun dikombinasikan dengan dedaunan berwarna hijau segar-basah karena hujan, mampu memberikan pemandangan yang menyegarkan. Beberapa air terjun kecil nampak mengalir diantara bebatuan dan rindangnya pepohonan yang ada di sekitar air terjun utama. Begitu rapi dan teraturnya, sekilas nampak seperti miniatur taman yang banyak dijumpai di taman-taman kota maupun taman penghias rumah-rumah mewah.

Menelusuri jalan setapak menurun mendekati air terjun, nampaknya mesti dilakukan dengan sedikit berhati-hati karena kondisi jalan yang menjadi licin akibat diguyur hujan. Sesampainya di depan air terjun, nampak jelas bahwa ukuran air terjun utama tidak lah se-"orok" namanya, namun memiliki ketinggian +/- 20 meter dengan debit air yang cukup deras pula. Beberapa air terjun "tambahan" yang berada disekitarnya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dan hanya berupa kucuran air disela-sela pepohonan yang tumbuh subur dan lebat di dinding air terjun.

Berbeda jauh dengan kondisi air terjun yang tampak menarik untuk dikunjungi, sarana atau fasilitas umun yang ada di sekitar lokasi tampak "mengenaskan". Toilet umum yang berada dekat dengan air terjun nampak sekali tidak terawat dan berkesan "asal ada" saja. Atap genting yang ada hanya tinggal beberapa buah saja yang masih menempel di kerangka atapnya. Lingkungan sekitar juga nampak sedikit kotor oleh sampah-sampah palstik dan kardus yang dibiarkan saja tergeletak di bagian pinggir. Belum lagi ulah para "grafiti" yang dengan seenaknya meninggalkan jejak tulisan di bebatuan. Duuuh.. kenapa ya hal itu mesti mereka lakukan mencari pengakuan identitas diri

Kolam penampungan air terjun yang ada dilokasi tidaklah terlalu lebar/besar, namun mestinya cukup dalam juga bila melihat derasnya limpahan air dari atas yang nampaknya cukup mampu menggerus tanah dibawah kolam. Berhubung hari sudah semakin gelap, tidak mungkin rasanya bagi kami untuk bermain-main air sejenak atau sekedar mengukur kedalaman kolam penampungan air tersebut. Tidak adanya sarana penerangan dilokasi tentunya akan membawa resiko tersendiri buat kami bila hari sudah terlanjur gelap sedangkan jalan ke area parkir yang terletak dibagian atas, sama sekali tidak ada penerangan dan licin karena hujan. Tak ada alternatif lain kecuali segera balik ke kendaraan dan berjalan pulang.

Dalam perjalanan pulang, sempat memperoleh pemandangan unik ketika sebuah gunung dengan bagian atasnya yang tertutup awan mirip selimut putih, sementara disisi kanannya sebuah pelangi dengan bentuk setengah lingkaran nampak jelas menaungi gunung. Sayang saat akan memotret sinar matahari sudah semakin redup, sehingga tidak berhasil memperoleh timing yang tepat karena waktunya singkat sekali

Iseng sebelum artikel ini dibuat, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu melalui internet, latar belakang penamaan Curug Orok. Dari sebuah artikel koran online, saya mendapati bahwa penamaan curug tersebut didasari karena seringnya ditemukan bayi meninggal di lokasi tersebut. Bahkan bagi penduduk setempat penemuan mayat bayi biasanya terjadi dua bulan sekali, dan karena dasar itu pula air terjun tersebut "akrab" dijuluki Curug Orok => suatu hal yang .....

Penulis : Silhouette
Fotografer : Silhouette
Lokasi : Des. Cikandang, Kec. Cikajang, Kab. Garut, Jawa Barat

Sumber :
navigasi.net
http://liburan.info

Curug Cimahi

Tepatnya di kecamatan Cisarua, +/- 10 km sebelah utara kota Bandung jadi gak jauh dari beberapa tempat wisata alam seperti Desa Cihideung. Curug (bhs sunda) atau juga Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian kurang lebih 75 m, kalo ga percaya..itung aja sendiri...dan (katanya seeh...) merupakan salah satu curug yang tertinggi di Bandung. Saking tingginya si aer ini terjun dari atas cipratan nya masih bisa menyapa ente yang berjarak belasan meter dari jatuhnya si aer. Sebenarnya area Curug Cimahi yang dikelola oleh Perum Perhutani ini memiliki luas sekitar 26 ha. Hanya saja, yang dimanfaatkan sebagai tempat wisata baru 2 ha..yang laennya belum tahu diapain..tapi yang jelas dikelola perum perhutani, bukan oleh Abigail Smith si anak Gunung..he..he.. Di lingkungan Curug Cimahi ini kita benar–benar akan merasakan suasana yang sangat asri, selain indahnya air terjun yang bisa kita nikmati, kita juga dapat menikmati udara yang sejuk dan segar, karena area ini masih diselimuti oleh berbagai macam pepohonan hijau. Untuk sampai ke lokasi air terjun, ada macam cara :

1. Pake Mobil, bisa mobil pribadi, mobil orang laen, angkutan umum, rental

2. Pake Motor,
3. Pake Sepeda,
4. Jalan Kaki...kalo kuat..tapi ini yang asik...en pastinya Capee deeh.

1. Dari Kota Bandung bisa langsung menuju Cimahi, melalui Cihanjuang dan Parongpong ..nah cari aja di pinggir jalan Cisarua pasti ada gerbang CURUG CIMAHI...

2. Dari Bandung ke Lembang lalu belok kiri ke cihanjuang atau dari Cimahi .....nyampe deh.


Kalo dah nyampe...masuk gerbang bayar biaya administrasi + ppn 10% dan kita harus menuruni anak tangga yang curam dan juga sangat banyak, kalo gak salah sekitar 500 anak tangga Pastinya cape sekali tapi dijamin semua itu tidak sia-sia kalo dah nyampe di area Curug. Kita bisa menikmati jatuhan air dari atas yang akan terasa seperti embun dipagi hari.


Ada beberap tips yang perlu disiapin :

  • Pastikan kondisi tubuh sedang fit saat mengunjungi situ sini. Memasuki Curug Cimahi relatif lebih mudah karena jalannya menurun. Akan tetapi, mungkin akan lelah saat ingin keluar dari Curug Cimahi karena jalannya naik.
  • Jaga barang bawaan baik-baik, (kalo perlu bawa satpam) terutama saat melihat para monyet. Biasanya mereka takut pada manusia, namun apabila ada kesempatan, mereka suka “mencopet” barang-barang pengunjung yang sedang lengah.
  • Pakailah pakaian yang sesuai (jangan pake bikini) juga sepatu yang nyaman. Di musim hujan (Oktober-April) ada baiknya membawa payung atau jas hujan untuk berjaga-jaga.
  • Bawa air minum untuk menghindari dehidrasi.
  • Bawa baju ekstra dan handuk, juga baju renang apabila ingin berendam di sini.
  • Buanglah sampah pada tempatnya. Apabila tempat sampah tidak tersedia, bawa kantung plastik untuk menyimpan sampah untuk sementara, dan membuangnya di tong sampah nantinya. kalo ga..kena perda lho.
Sumber : http://zalfazahira.blogspot.com

Air Terjun - Cigamea

Curug Cigamea berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor yang merupakan bagian dari kawasan wisata Gunung Salak Endah. Bila anda mengunjungi kawasan wisata ini dari arah Leuweliang, maka curug Cigamea merupakan air terjun pertama kali yang akan anda temui sebelum kelima air terjun lainnya. Lima ? memang benar, kawasan wisata Gunung Salak Endah memiliki objek wisata enam air terjun (Nangka, Luhur, Cihurang, Ngumpet, Sewu dan Cigamea), satu pemandian air panas (Gunung Picung) dan satu wisata kawah (Kawah Ratu). Untuk menuju ke lokasi air terjun, pengunjung diharuskan berjalan kaki dari areal parkir, melalui jalan menurun +/- 350 meter. Selama dalam perjalanan, setidaknya tercatat tiga air terjun tambahan berada disisi kanan jalan. Masing-masing dengan ketinggan berkisar antara 5 hingga 10 meter namun dengan debit air yang kecil dan berada dibalik rimbunnya daun pepohonan. Kondisi jalan menuju lokasi berupa jalan setapak yang telah terbuat dari batu dan tersusun rapi dalam bentuk susunan anak tangga. Dibeberapa bagian jalan terdapat tempat peristirahatan, untuk melepas lelah sejenak sambil menikmati air terjun dari kejauhan. Warung-warung penjual makanan juga tersedia, siap melayani dengan hidangan sederhana berupa mie rebus atau sekedar secangkir kopi susu panas. Tentunya hal yang tidak bisa kami nikmati mengingat saat itu masih didalam bulan puasa ramadhan

Setibanya dilokasi, nampak jelas bahwa Curug Cigamea terdiri dari dua buah air terjun utama dengan karakter yang berbeda. Air terjun pertama yang lebih dekat dengan jalan masuk, berupa air terjun dengan tebing curam menyerupai dinding dan didominasi bebatuan warna hitam. Tipe air yang jatuh lebih bersifat percikan air yang langsung melimpah jatuh dari atas cukup deras meskipun nampak jelas tidak sederas/sebesar air terjun kedua. Hal ini pula yang menjadikan alasan kolam limpahan air yang berada dibawahnya tidak luas dan dalam, sehingga tidak bisa digunakan untuk berenang. Letaknya yang terbuka, memungkinkan pengunjung untuk berada disisi kiri dan kanan dari air terjun. Air terjun kedua berjarak kurang lebih 30 meter dari air terjun pertama dan berada dicelah tebing. Bebatuan tebing berwarna hitam berpadu dengan corak garis warna coklat kemerah-merahan nampak terlihat jelas dan memberi nuansa sendiri saat melihatnya. Air yang mengalir lebih mirip dengan aliran sungai dengan ukuran lebar yang semakin kebawah semakin melebar dan debit air yang cukup tinggi. Sepintas bila dilihat dari bawah, sumber air yang berada di atas air terjun kedua ini berada sedikit dibawah air terjun pertama, padahal sebenarnya tidak. Dari hasil pengamatan mulai dari masuk lokasi ini, terlihat jelas bahwa air terjun kedua ini memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari air terjun pertama, namun karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan adanya bagian tanah yang sedikit menjorok kemuka, praktis bagian atasnya tidak bisa dilihat saat berada dibawah lokasi. Asumsi saya, sekitar 50 persen dari tinggi sebenarnya air terjun ini, tidak bisa dinikmati dari bawah lokasi.

olam limpahan air yang ada dibawah air terjun kedua ini, memiliki kedalaman dan luas yang cukup untuk sekedar bermain air maupun berenang. Warna air yang biru kehijau-hijauan dibagian tengah kolam menandakan bahwa dibagian tersebut cukup dalam. Bahkan salah seorang pengunjung berusaha memanjat tebing untuk kemudian melompat dari ketinggian 2 meter ke bagian tengah kolam. Cukup ramai pengunjung yang datang pada siang itu. Terkadang tak segan pengunjung pria melepas baju dan celana, hanya memakai pakaian dalam kemudian menyeburkan diri, berenang hingga ke bagian tengah kolam, sementara teman-teman lainnya bersorak-sorai dari tepian kolam.

Curug Cigamea memang menarik untuk dikunjungi baik untuk kelompok kawula muda maupun wisatawan keluarga. Dibadan sungai yang tidak dalam, tampak beberapa anak kecil sibuk bermain air sambil merendam kakinya untuk merasakan kesegaran dan dinginnya air yang ada. Derai tawa menyertai tingkah polah mereka saat sebagian tubuhnya terpecik air oleh siraman teman mainnya. Sayangnya lokasi wisata ini tidak cocok untuk berkemah karena kondisi alamnya yang berupa tebing curam, namun setidaknya menikmati dua air terjun yang berbeda dalam satu lokasi, nampaknya bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjunginya.

Sumber : http://navigasi.net

Photo: http://images.google.co.id


Curug Cipurut Pesona Wisata Purwakarta

Apabila anda bosan dengan objek wisata yang sudah ada selama ini, terutama objek wisata buatan yang dibuat oleh pengusaha, tidak ada salahnya anda mencoba wisata alam yang satu ini yang berada di Kabupaten Purwakarta. Tempat wisata yang sangat alamiah ini merupakan wisata air dengan curug (air terjun) sebagai icon wisatanya, tempat wisata ini bernama Curug Cipurut yang termasuk kedalam wilayah administrasi kecamatan Wanayasa.

Akomodasi ke Curug Cipurut

Curug Cipurut dapat ditempuh dari Purwakarta, jadi apabila anda menggunakan jalan tol Cipularang anda dapat keluar di pintu Tol Sadang maupun Jatiluhur/Ciganea, setelah masuk kota Purwakarta, anda mengambil arah ke Wanayasa, jalur Purwakarta – Wanayasa berjarak kurang lebih 25 kilometer dengan kondisi jalan yang relatif baik akan tetapi agak sempit, kondisi ruas ini memang berkarakter dataran tinggi sehingga banyak turunan dan tanjakan serta tikungan, akan tetapi tentu saja tidak membosankan karena banyak pemandangan yang dapat dilihat serta banyak tempat kuliner yang menggugah selera khususnya sate maranggi, sebelum masuk kota Wanayasa pun anda akan dimanjakan dengan pemandangan Situ Wanayasa, yang tepat berada di pinggir jalan diareal situ (danau) ini anda dapat beristirahat sambil mencicipi hidangan di warung-warung diareal situ, setelah melewati situ baru anda sampai di Wanayasa.

Dari Wanayasa anda mengambil arah ke Kecamatan Bojong, sekitar 300 – 500 meter anda akan tiba di pertigaan yang menuju ke arah desa Sumurugul, ambil ke kiri dan masuk ke jalan desa Sumurugul tersebut. Kondisi jalan ini setengahnya beraspal dan setengahnya lagi jalan berbatu, sehingga disarankan anda menggunakan kendaraan MPV dan tidak dianjurkan menggunakan kendaraan sejenis sedan. Dari pertigaan jalan utama tersebut sampai ke ujung jalan terdekat dengan Curug Cipurut yaitu sekitar 1,5 Km, diujung jalan desa ini terdapat dua lokasi parkir yang dapat menampung kurang lebih 7 kendaraan, sedangkan untuk parkir kendaraan roda dua relatif banyak karena dapat di gunakan pekarangan penduduk setempat, tiket parkir yang dikelola oleh karang taruna tidak ditetapkan secara pasti tergantung keinginan pemilik kendaraan secara umum berkisar antara Rp. 1.000,- – Rp. 2.000,- untuk kendaraan roda dua dan kisaran Rp. 2.000,- 5.000,- 10.000,- untuk kendaraan roda empat.

Untuk wisatawan yang tidak mengunakan kendaraan sendiri, ada alternatif lain ke lokasi ini yaitu dengan menngunakan kendaraan umum, dari Purwakarta (Terminal Simpang) ke Wanayasa ada beberapa alternatif bisa anda gunakan yaitu angkutan perdesaan maupun angkutan antar kabupaten, apabila anda ingin waktu tempuh yang lebih cepat sebaiknya anda menggunakan kendaraan bis mini (elf), tarif kedua jenis moda angkutan umum ini relatif sama yaitu berkisar Rp. 5.000,- , dari Terminal Wanayasa anda bisa menggunakan angkutan perdesaan dengan tujuan Bojong/Sawit berhenti di pintu gerbang Desa Sumurugul dengan tarif sekitar Rp. 2.000,-, dari pintu gerbang ke Curug Cipurut anda dapat menggunakan ojek dengan tarif kisaran Rp. 10.000,-.

Dari batas akhir kendaraan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak kebun teh dengan jarak tempuh sekitar 500 meter atau sekitar 15 menit perjalanan orang dewasa dan 30 menit perjalanan anak-anak, sampailah kita di pintu gerbang Curug Cipurut, dengan tiket masuk Rp. 3.000,- perorang.

Sebaiknya apabila anda berkunjung ke Curug Cipurut pada waktu hari libur, selain hari tersebut biasanya lokasi relatif sepi sehingga tidak ada petugas yang berjaga maupun pedagang yang membuka usahanya. Pedagang disana sebagian besar menjajakan cemilan dan minuman atau mie rebus sehingga apabila anda ingin makan nasi sebaiknya membawa dari rumah atau rumah makan di sepanjang jalan Purwakarta-Wanayasa.

Potensi Curug Cipurut

Secara umum Curug Cipurut masuk kedalam Cagar Alam Gunung Burangrang sehingga pengelolaan saat ini masih dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jabar I dengan operasional dilapangan dibantu oleh Desa Sumurugul dan Desa Wanayasa.

Kondisi curug secara umum dibagi kedalam tiga bagian yaitu curug utama yang terdapat di ujung tebing dengan tinggi ± 25 m, serta dua curug lainnya yang lebih landai yang biasanya digunakan oleh pengunjung sebagai tempat seluncur , dengan air yang relatif segar dan dingin sangat cocok untuk menghilangkan kepenatan dalam bekerja maupun hiruk pikuk kota besar.

Lokasi Curug Cipurut pun sangat cocok untuk lokasi camping anak muda, wisata petualangan, tea walk serta wisata air tentunya (seluncuran), jadi apabila anda punya jiwa petualangan serta cinta akan alam lingkungan tidak ada salahnya anda berkunjung ke Curug Cipurut di Kabupaten Purwakarta. Selamat Berwisata

Sumber : http://yusanharun.wordpress.com