Tampilkan postingan dengan label Wisata esek-esek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata esek-esek. Tampilkan semua postingan

PSK DI Grobogan Marak : Himpitan Ekonomi Hanya Sebagai Kedok

Berkembangnya angka prostitusi di Grobogan, Jawa Tengah, ternyata hingga detik ini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah. Karena pada komunitas ini sangat rentan dengan berbagai penyakit menular. Berikut laporan wartawan Radar Minggu News dari Grobogan, Jawa Tengah.

Kabupaten Grobogan yang memiliki motto Grobogan Bersemi, ternyata tidak hanya segi pembangunannya yang bersemi. Dunia pemuas nafsu (prostitusi) pun juga semakin berkembang dan kian marak.

Beberapa lokalisasi yang ditempati pekerja seks komersial (PSK) untuk mencari pria hidung belang bertebaran bak jamur dimusim hujan. Dari catatan Radar Minggu, terdapat banyak lokalisasi yang dijadikan tempat transaksi seks, yakni selain lokalisasi Gunung Butak yang berada di Desa Depok, Kec. Toroh, Kab. Grobogan, ternyata juga dijumpai beberapa hotel di kota Purwodadi hingga di jantung kota Purwodadi yang dikenal dengan Istana Kuda tepatnya di tanah milik PJKA/bekas Stasiun Purwodadi.

Lebih mengerikan lagi, saat ini sudah mulai mnyebar ke tingkat kecamatan, seperti Penawangan, Godong, Geyer, Toroh, Purwodadi, Grobogan, Tawangharjo, Wirosari, Ngaringan, Kradenan, Gabus, dan masih banyak lagi.

Bahkan tarifnya pun relatif terjangkau. Dengan hanya bermodalkan Rp 20 ribu hingga 400 ribu, pria hidung belang yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya dapat memilih PSK yang dikehendakinya.

Dalam menjalankan praktek, berbagai cara dilakukan untuk menutupi praktek prostitusi, sehingga sepintas tidak terlihat. Untuk mengelabuhinya, mereka biasanya berkedok panti pijat, salon, sinden, biduan lokal dan berbagai motif lainnya. Namun demikian, tidak jarang yang terang-terangan memang membuka prostitusi ini.

Bahkan juga ada yang berkedok pelajar SLTA maupun mahasiswa yang lebih dikenal dengan sebutan ayam kampus pun juga telah dilakukannya. Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi sudah menyebar di tingkat kecamatan, yang dengan mudahnya anak yang belum dewasa sudah dapat melihat wanita yang berpakaian mini. Jika ini tidak segera ditindak, dikhawatirkan mereka juga akan 'njajan' ke tempat tersebut.

Menurut salah seorang germo (sebutan mami bagi penyedia layanan ini, red) yang minta identitasnya tidak ditulis, ada juga oknum PNS dan guru yang nyambi sebagai PSK. "Jangan heran itu sudah biasa disini. Kalau Anda bersedia bisa mencobanya," ujarnya setengah berpromosi.

Semua bisa diatur, lanjutnya, ia hanya menyediakan sesuai dengan permintaan sang pria hidung belang. Mereka melakukan itu, dikarenakan tuntutan ekonomi yang semakin terhimpit. Ironis memang, ditengah gencarnya pembanguan fisik di beberapa daerah, tidak diimbangi dengan pembangunan rohani dan kesejahteraan warganya.

Itulah sebagian besar alasan mereka yang menerjuni dunia hitam tersebut. "Sebagian besar karena tuntutan ekonomi, apalagi saat ini mencari kerja sulit kebutuhan hidup terus meningkat," tuturnya lagi.

Jalan pintas pun dilakukan dengan 'menjual' diri sebagai PSK. Dari penelusuran Radar Minggu di sudut-sudut kota di Grobogan, seperti halnya yang ada di seputaran terminal Godong juga bisa ditemukan para PSK, di Ketapang Grobogan kita juga bisa melihat adanya penjaja cinta, di jalan lintas luar yaitu jalan baru Getasrejo mereka buka 24 jam. Dari Getas kita bisa ke arah timur, tepatnya di jalan Blora Km 10 Tawangharjo juga telah didapatkan tempat untuk transaksi seks ini.

Diteruskan lagi ke daerah Wirosari, yaitu diseputaran Pasar Hewan Wirorasi, juga didapatkn adanya PSK yang siap melayani orang yang membutuhkan. Bahkan jangan heran bila di Wirosari ada salah satu desa yang siap memuaskan pria hidung belang, di sini yang lebih dikenal dengan kampung ledek (Sinden, red) tepatnya di Desa Kropak. Dari Wirosari kita lanjutkan menuju Ngaringan yang dikenal dengan Ponpesnya, ternyata juga ada sebuah warung kecil yang juga tempat mangkal para PSK tersebut. Kemudian di Kradenan, disana juga bisa dijumpai warung-warung remang yang menyediakan pelayanan plus-plus, tepatnya di dekat wisata Bleduk Kuwu.

Selanjutnya juga ditemukan di Desa Banjar serta Desa Crewek, dari Kradenan bisa dilanjut ke daerah Gabus. Di tempat ini dapat dijumpai pelayanan pijat plus atau yang dikenal dengan pijat PKK dengan biaya yang lumayan murah sudah bisa mengurangi capek.

Tiap Bulan Terus Meningkat
Seperti apa yang sudah tercatat oleh wartawan Radar Mingu News, ternyata makin hari makin meningkat volume PSK di wilayah Kab Grobogan. Selain disudut kota-kota kecamatan, misalkan kalau di Kecamatan Kota ada diseputaran POM Bensin Nglejok.

Dari pengamatan Radar Minggu, jika malam sudah menjelang, dapat jumpai beberapa tempat yang dijadikan untuk transaksi seks PSK yang berkedok sebagai pelayan warung minuman. Namun kalau para hidung belang membutuhkan pelayanan plus, para wanita yang berdandan menor tersebut tidak akan menolak.

Kalau sudah ada kesepakatan, hotel melati-pun siap digunakan untuk bermesum ria. Mengenai tarif kencan, tidak perlu khawatir, para PSK tersebut biasanya tidak mematok tarif. "Kalau tarif mas, terserah tamu yang datang saja mas, yang penting saya mengutamakan pelayanan terbaik. Kan akhirnya si tamu juga pengertian," ujar salah satu PSK yang mengaku asli dari Demak.

Berbeda dengan para PSK yang ada di prapatan (perempatan, red) Bejo Purwodadi, mereka secara terang-terangan untuk menawarkan jasa pemuas nafsu tersebut. Mereka bahkan tak segan-segan membuka tarif dihadapan para pria hidung belang.

Mereka yang kini ngetren disebut kupu-kupu malam itu, ternyata juga beroperasi pada siang hari. Hal ini bisa kita lihat di tengah teriknya susana matahari, mereka tanpa patah semangat dalam mengejar para pria hidung belang.

Dari catatan Radar Minggu di tiga tempat, pasar hewan yang ada di Kabupaten Grobogan juga telah ditempati para PSK. Sedikitnya 50 wanita menghuni lokasi itu. Mereka (PSK, red) yang rata-rata berasal dari daerah Sragen, dalam aksinya biasanya berkedok sebagai penjual jamu/sebuah minuman suplemen. Sasarannya adalah para pedagang sapi. Namun tak menutup kemungkinan bila ada pria selain pedagang mengajak kencan-pun akan dilayani.

Ciri-cirinya, mereka biasanya berdandan menor dengan pakaian yang sangat ketat serta membawa tas dipundaknya. Jadi, jangan heran kalau Anda pergi ke pasar sapi menjumpai mereka. Dan beberapa pria iseng menggoda dengan tangannya yang jahil.

Menurut salah seorang penjual kopi di pasar hewan Wirosari, lokasi yang dijadikan transaksi dan sekaligus tempat bermesum biasanya dilakukan di atas truk atau disela parkiran truk. "Dan setelah pasaran sudah siang terus dilanjutkan sewa kamar mas," ungkap penjual kopi ini pada Radar Minggu.

Ia juga menjelaskan, jika pasar sedang ramai, penghasilan mereka bisa mencapai Rp 300 ribu. "Pasar sini kan rame mas, makanya cewek-ceweknya juga banyak. Katanya penghasilannya kalau disini bisa mencapai Rp 300 ribu sekali pasaran," jelasnya.

Dari Ledek Hingga Bu Guru
Ada yang menarik melihat fenomena PSK di Grobogan. Ternyata tidak hanya ibu rumah tangga, bahkan guru pun ada yang berprofesi sebagai pemuas hidung belang ini. Berikut catatan yang ditulis wartawan Radar Minggu dari Grobogan, Jawa Tengah.

Kampung yang satu ini terkesan unik, desa yang terletak di sebelah selatan kota kecamatan, tepatnya di Desa Kropak, Kec. Wirosari Km 6 ternyata juga gudang transaksi seks.
Memang, sekilas tampak sepi dan tak satupun kelihatan bahwa desa itu terkesan ada tempat protitusi. Cara mereka praktek pun terhitung sangat rapi, sehingga petugaspun sulit untuk melacaknya. Dari hasil investigasi RM dilokasi itu, ditemukan adanya praktek pelacuran. Bahkan, dari hasil penelusuran RM, di kampung itu tersedia dari tarif puluhan ribu hingga ratusan ribu sekali pakai.

Siapa para PSK tersebut? Sebut saja Mbah Lin, 50 th, pria yang satu ini siap mencarikan PSK sesuai dengan selera para tamu. Bahkan di rumahnya yang terkesan sepi, bila para tamu menghendaki untuk dipanggilkan, hanya dengan menunggu 10 menit, sudah diperoleh pesanannya. Tempat untuk bermesum ria pun tidak perlu jauh-jauh, karena di tempat itu pun telah disediakan.

"Ngersake sinten om? Kersane kulo undangake (mau pilih yang bagaimana om? Nanti saya carikan, red)," sapa germo (panggilan orang yang menyediakan jasa mencarikan PSK) itu. Menurutnya, di kampung itu jika ibu rumah tangga nyambi PSK itu sudah hal biasa. Bahkan ada juga suami yang menawarkan istrinya pada para tamu yang datang.

"Kalau sama yang lain nggak ada, nanti sama ibunya (istrinya, red) juga nggak apa-apa. Biasa santai saja, disini aman-aman kok. Nanti saya tak ke sawah dulu," lanjutnya.

Berbeda dengan Ida (nama samaran), PSK yang satu ini dalam menjalankan profesinya berkedok sebagai penjual pakaian atau barang-barang lainnya untuk dihutangkan pada konsumennya. Bahkan wanita 35 tahun ini juga siap untuk menyiapkan pesanan sesuai selera para pria hidung belang ini. "Tinggal SMS mas, setengah jam juga datang," jelas Ida. salah satu mami yang juga sebagai istri.

Ia yang juga merupakan guru disalah satu SMP ini, tarifnya pun menurutnya tergantung dari ngobrol-ngobrol antara pasangan masing-masing. Ia juga yang bertindak sebagai penyedia ini menyetakan anak buahnya dari penyanyi hingga petani.

Dari Keropak utara, RM menuju Desa Kropak Selatan, tepatnya dekat Warung Kelinci. Ditempat ini, pria hidung belangpun bisa terpuaskan nafsunya. Baik dari tempat, maupun pelayan para PSK. Mami (germo, red) yang satu ini juga menyediakan tempat untuk melampiaskan nafsunya. Ia juga menerangkan secara rinci, biaya sewa kamar Rp 35 ribu dengan fasilitas kamar mandi di dalam plus kipas angin.

Hanya via handphone, wanita yang diinginkan sudah bisa datang. Menurut wanita berusia 50 tahun ini, mengenai tarifnya, karena sebagian besar anak buahnya dari kelompok seni, baik biduan lokal maupun ledek (sinden, red) tarifnya pun sesuai dengan tarif saat mereka manggung. Namun pelayanan dijamin longtime. "Hanya dengan merogoh kocek sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu, dijamin puas," kata mami setengah berpromosi.

"Untuk tempatnya terserah sampean, mau dibawa ke hotel atau cukup di sini juga nggak apa-apa. Harga sewa kamar cuma Rp 35 ribu saja," jelas Mami.

Menurut Wario, salah seorang pengusaha menyikapi masalah PSK yang semakin banyak jumlahnya di Grobogan menyatakan, bahwa sebenarnya di dunia ini asal tidak malu, tidak ada yang namanya kepepet (terpaksa, red). "Walaupun tidak jadi PSK kan masih bisa dengan bekerja lain? Itu sudah tidak benar lagi kalau hanya alasan ekonomi," tandasnya.

Sementara Kapolsek Wirosari, AKP Sugianto menyatakan pihaknya sudah lama mengadakan pemantauan perkembangan PSK di wilayahnya. "Masalah adanya prostitusi yang ada di Desa Kropak, kami sudah lama mengadakan pemantauan. Namun sampai sekarang masih belum bisa menemukan bukti," paparnya.

Ia juga menyatakan pihaknya juga sudah mengadakan pendekatan pada tokoh-tokoh masyarakat agar bisa terbantu dalam menyelesaikan masalah itu. Pihaknya juga meminta agar siapapun kalau mengetahui saat ada yang bermesum di Desa Kropak agar segera melapor ke Polsek Wirosari.

Itulah cara-cara PSK berpraktek dan berlindung dari endusan aparat. Lalu apa komentar masyarakat umum, aparat dan dinas terkait di Kab. Grobogan? Dan bagaimana respon Pemkab Grobogan tentang menjamurnya PSK Grobogan?

Ternyata, alasan ekonomi bukan hal yang pas untuk dijadikan alasan oleh mereka (PSK, red). Terbukti dari adanya para seniwati yang nyambi, baik itu biduan maupun ledek (sinden). Bahkan dari PSK yang dikatakan kelas bawahanpun mereka tidak pernah lepas dari pegang HP. Apakah ini bisa dikatakan kurang ekonomi?

Untuk itu apa komentar masyarakat dan dinas terkait di Kabupaten Grobogan? Seperti diungkapkan Totok sucipto, 30 th, pria asli Grobogan yang sering mengamati adanya PSK tersebut. "Bahwa mereka kalau hanya beralasan mencari ekonomi tidak masuk akal. Itu hanyalah merupakan pembelaan diri saja. Kenapa mereka juga sering pesta-pesta miras dalam setiap harinya? Apakah itu bukan membuang buang uang? Kalau karena ekonomi kenapa tidak ditabung saja?," tanya Totok.

Andik, 25 th, aktivis Ikatan Mahasiswa Purwodadi Grobogan juga memprihatinkan adanya PSK di Grobogan yang semakin berkembang. Pihaknya yakin bahwa PSK di Grobogan masih bisa ditekan agar tidak pesat berkembang, tentunya tak lepas dari kerja sama antara ulama dan dinas terkait.

"Kami yakin bahwa hal ini bisa diminimalkan walaupun tidak dihilangkan. Karena ini juga merupakan fenomena alam yang berlangsung sejak jaman dulu. Bahkan jaman Nabi pun sudah ada," harapnya.

Sementara Kis Munandar, Ketua Forum Analis Sosial mengatakan, bahwa permasalahan PSK itu perlu adanya penanganan yang serius dari pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

"Karena ini bisa berdampak psikologis dan pertumbuhanm anak anak. Apalagi kita lihat lokasinya saja sudah tidak etis, yaitu di jantung kota juga ada," ungkapnya. Pihaknya juga meminta agar khususnya bidang Sosial Dan Satpol PP segera mengambil langkah yang serius agar masalah ini tidak menjalar ke tempat lain.

Moh. Qomarudin anggota DPRD Grobogan dari Komisi A saat dikonfirmasi tentang hal ini, menyatakan hal itu merupakan PR bagi anggota Dewan. "Selama ini sudah sering dikoordinasikan pada dinas terkait untuk menekan volume maraknya PSK di Grobogan. Namun bagaimana lagi mas? Kenyataanya juga masih ada saja yang praktek?," tandas Qomarudin dari FPPN ini.

Sementara itu saat dikonfirmasikan ke Kasatpol PP Drs. Yudhi Sudarmunanto, pihaknya menilai bahwa salah satu yang menambah maraknya volume PSK ini adalah kecanggihan elektronik juga sangat pengaruh.

"Misalkan dari tayangan-tayangan televisi yang sering menampilkan acara fullgar, adanya HP kamerapun yang begitu banyak juga berpengaruh. Termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah pusat tentang bebasnya penayangan TV juga berpengaruh besar. Namun apapun alasanya, kami juga akan segera mengagendakan lagi dalam razia-razia untuk meminimalisirkan adanya PSK di Grobogan," tegasnya.

Sumber : http://www.info-usaha.tripod.com

Jelajahi Bisnis Esek-esek Pelajar

Mengapa di beri judul diatas? Sebenarnya bisnis esek2 para pelajar udah lama terjadi semenjak 10 tahun lalu bahkan lebih. Namun karena orang yang menjalankan bisnis tersebut adalah orang2 yang punya 'koneksi kuat' maka hal itu terus saja berlangsung tanpa terkuak ke muka publik.

Nah berikut laporan rekan annas tentang bisnis tersebut yang kata pelakunya untuk memenuhi kebutuhan sosial alias mencari duit buat hidup!!

Potret pergaulan di kaum pelajar kian hari kian mengkhawatirkan, berdalih perkembangan informasi globalisasi dan perselingkuhan percintaan, kaum terpelajar menceburkan diri pada dunia esek-esek.

Sebut saja Irma, gadis berkuli hitam manis, berparas cantik dan berperawakan mungil ini, usianya belum genap 20 tahun, namun masalah seks, jangan pernah ditanya. Karena menurut pengakuannya, dia sudah melakukan hubungan seks saat duduk di bangku kelas II SMP di kamar kost.

Proses pertemuan untuk menggali informasi bisnis esek-esek Irma, cukup memakan waktu dua minggu. Berawal dari nomor HP yang didapat salah satu teman, komunikasi kemudian berjalan lancar. Tidak hanya melalui SMS, namun melakukan komunikasi langsung dan berujung pertemuan pada satu malam minggu di sebuah gedung mesum yang kerap menjadi "zona kencan" kaum ABG.

Dengan degup jantung yang miris semakin kencang, wawancara "terselubung" mulai dibuka. Seperti layaknya tugas jurnalis, dengan keadaan jantung dag-dig-dug kata perkata mulai dilancarkan. Syukurnya, Irma tidak mencurugai "penyamaran" ini. Pertanyaan pertama kenapa dia harus terjun ke dunia semacam ini.

Dari bibirnya yang tipis, Irma kemudian bercerita asal muasal menggeluti dunia mesum ini setelah dikhiyanati tiga orang pacarnya.

"Aku kecewa dengan pacar-pacar aku, meskipun cowok aku yang terakhir sempat nikahi aku karena aku sudah hamil sebelum nikah, tapi cuma kuat tiga bulan," tutur Irma.

Yang membuat Irma terpukul, kekasih hatinya sempat memberi buah hati satu anak, sebut saja Darwin, saat masa pacaran dia sudah melakukan hubungan seks layaknya suami-istri berulang kali da tidak trehitung lagi. Irma menceritakan, hubungan yang dijalin dengan Darwin bias dibilang tiada hari tanpa seks. Keduanya melakukan di kamar kost, setiap kali diantara keduanya megikuti.

"Kita melakukan seks kapan saja mau, karena aku sama dia ngekost bareng," imbuh Irma

Apakah saat melakukan pria yang mengkencani Irma menggunakan alat pengaman? Irma menjawab diplomatis. Menurut dia, gak ada satu orang priapun yang melakukan hubungan seks menggunanakan alat kontrasepsi. Lalu bagaimana caranya bias tidak hamil? "aku selalu minum pil KB (keluarga berencana) setiap habis melakukan itu setiap hari," jawabnya enteng

Berawal dari pengkhiyanatan cinta ketiga pujaan hatinya, usai lulus SMP, Irma memilih tidak melanjutkan studinya. Sebaliknya dia melamar kerja sebagai writers di sebuah karaoke SRS 2 kilometer dari kantor pemerintahan Subang. Pada minggu pertama, Irma menggeluti profesi sebagaimana layaknya, menawarkan daftar menu, menerima pesanan menu kemudian menyuguhkan kepada tamu yang datang.

Dengan perawakan mungil, paras ayu dengan rambut sebahu dibiarkan terurai, membuat sejumlah pengunjung SRS tertarik kepada Irma. Berawal dari minta ditemanin ngobrol, tukar nomor handphone kemudian berlanjut hingga keluar.

"Biasanya kita check in di daerah Lembang atau Bandung, kita hanya sekedar mengobrol dan bercanda saja, habis itu kita pulang, lumayan tipsnya besar juga," ujarnya, belum terbuka.

Ketika ditanya aktivitas selama di kamar hotel, Irma baru membuka dan menceritakan secara terbuka. Menurut dia, selama di check ini, tidak semua tamu yang "pake" tubuhnya, meskipun tidak sedikit yang minta melakukan hubungan bersebadan.

Tarif sekali kencan, diakui Irma, pariatif, dan tidak mematok target. Pasalnya menurut dia, kemampuan materi "tamu" nya tidak semuanya sama. Saat didesak nominalnya, batas minimum sekali check in sebesar Rp50 ribu, dengan fasilitas "tidak seks".

"Biasanya yang di atas Rp150 ribu atau Rp200 ribu, aku baru mau diajak gituan. Tapi kalo dibawah harga itu, aku gak mau, emangnya milik negara," ujarnya berseloroh.

Pengalaman Irma selama menggeluti dunia hitam itu, pernah satu kali dia diminta oleh pengusaha asal Bandung sebagai istri simpanan. Namun permintaan itu dia tolak, kendati si Bos memiliki fisik ganteng dan berlimpah kekayaan. Alasan penolakan itu sederhana saja, ogah ada upacara pernikahan, karena akan ketahuan belangnya.

Merasa sudah memiliki pelanggan tetap, Irma keluar dari SRS, dan dia mempercayakan "mami" untuk mencari "tamu". Melalui jasa sang "mami"pun tidak berlangsung lama, karena pendapatan yang diterimanya terbagi dua.

"Setelah itu, tamu-tamu yang minta pake sms atau menelpon. Ini lebih menguntungkan," ujarnya polos "uang yang aku dapat, untuk beli kosmetik dan keperluan sehari-hari, orang tua aku gak tahu kalo aku begini. makanya setiap bulan aku tetep minta dikirim uang biar gak ketahuan," imbuhnya.

Setelah lima tahun menjalani profesinya, Irna mengaku jenuh dengan "dagangan"nya. Dia berniat berhenti dari profesi yang satu ini. Kendati tidak secepat itu berhenti total, dan perlu proses diri. "Aku sadar ini salah, tapi untuk berhenti gak semudah itu. Sekarang mah aku sering nolaknya, ngurangin gitu, tapi gak semuanya aku tolak," tambahnya.

Sumber : http://www.indomp3z.us

Bisnis Esek-Esek Perempuan Panggilan di Pamekasan

Ngaku SPG, Ngekos untuk Dongkrak Tarif
Bisnis sahwat memang kebanyakan berlangsung secara tertutup. Berbagai bentuk dan modus didesain rapi para pelakunya. Tujuannya seragam, agar bisnis berahi itu bisa komersil, tetapi aman. Berikut kelanjutan investigasinya.

Awalnya koran ini juga tidak percaya jika ada ABG (anak baru gede) di Kota Pamekasan yang bispak (bisa dipakai). Namun, untuk menelusuri ABG yang bispak ini memang tak mudah. Maklum, jaringan mereka sangat rapi. Jauh berbeda dengan praktik esek-esek dari warung remang-remang yang menjadi konsumsi para abang becak, sopir, dan lelaki hidung belang.

Suatu ketika, saat asyik di depan komputer, pesan singkat (SMS) masuk ke handphone (HP) koran ini. Setelah dibuka, ternyata dari seorang kawan-sebut saja Andi. Dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jalan R Abd. Aziz Pamekasan. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 21.00. Artinya, koran ini baru saja deadline menyiapkan berita untuk terbit keesokan harinya.

Andi, dalam SMS-nya, ingin membuktikan bahwa dirinya bisa membawa ABG yang sebelumnya sering dijanjikan. "Pokoknya cepetan. Saya tunggu di tempat biasa," tulis Andi di SMS-nya. Tempat biasa yang dimaksud tak jauh dari tempat di mana Andi mengais rezeki setiap harinya.

Ketika bertemu, Andi dengan wajah khasnya menyunggingkan senyum. Penampilannya yang perlente menampakkan bahwa dia sudah siap menemui 'buruannya'. Dia lalu otak-atik HP-nya. Sekilas koran ini mendengar jika Andi minta ketemu di Jalan Panglegur, tepatnya di jembatan Kenong (dalam Bahasa Madura biasa disebut dhak Kenong).

Dari tempat biasa itu kami meluncur ke dhak Kenong. Setelah menunggu sekitar 5 menit, tiba-tiba SMS diterima Andi. "Anaknya minta ketemu di Jalan Kangenan. Sebab, tinggalnya memang sekitar Jalan Kangenan," kata Andi. Tanpa pikir panjang koran ini pun meluncur ke Jalan Kangenan.

Tak berapa lama memang muncul sepeda motor keluaran Cina dari arah timur. Kebetulan, kami menunggu di pertigaan Pasar Panempan. Kemudian, dari sepeda motor itu turun seorang cewek. Pakaiannya sederhana, hanya kaos yang dipadu dengan jeans selutut.

"Kalau tidak cocok, bisa gagal. Kita tinggal ngasi uang bensin Rp 20 ribu. Dia minta short time Rp 200 ribu. Namanya Dian (nama samaran)," bisik Andi. Mendengar bisikan Andi, koran ini pun mengangguk.

Jika diperhatikan, cewek itu masih muda. Umurnya belum sampai 20 tahun. "Sudahlah bawa saja, pasti dia setuju saja," tukas koran ini kepada Andi. Cewek itu pun masuk ke mobil. Saat di perjalanan kami mengontak 'dia', seorang rekan yang
memang biasa kumpul. Rekan yang satu ini juga sudah langganan boking ABG Kota Pamekasan. Andi langsung minta rekan tadi-sebut saja Ahsin-menunggu di dekat pom bensin Jalan Trunojoyo.

Mobil yang kami tumpangi meluncur pelan. Ternyata, Ahsin sudah berada di depan pom bensin. Rupanya, dia sudah siap sejak awal. Rumahnya juga memang tak jauh dari pom bensin, tepatnya di Jalan Teja. "Sudah langsung saja, takut kemaleman," bisik Andi. Lalu, Andi keluar mobil. Tinggallah kami bertiga, Ahsin, Dian, dan koran ini. Andi memang hanya bertugas mencari cewek. Tak lupa kami memberikan uang pulsa kepada Andi. Kemudian, mobil yang kami tumpangi meluncur ke arah luar kota.

Setelah berjalan sekitar 25 menit, kami tiba di salah satu hotel di luar kota. Ahsin langsung pesan kamar. Kemudian, kami bertiga masuk bareng ke dalam kamar hotel. Disanalah kami ngobrol panjang. Si cewek ini tampak tak ragu-ragu ngobrol tentang dirinya. Dia mengaku asal Probolinggo. Di Pamekasan ngekos bersama seorang rekannya.

"Saya pernah punya suami. Waktu itu memang kawin muda. Makanya tidak awet," tuturnya Dian. "Hampir tiap malam saya diajak ke sini. Ya, tidak semuanya 'main', ada yang cuma ngobrol atau minum," sambungnya.

Dian enggan disebut menjual diri. Dia berkali-kali bilang bahwa dirinya bukan seperti PSK (pekerja seks komersial) yang ada di lokalisasi. "Kalau saya yang cocok aja. Kalau dipaksa juga kasihan tamunya," akunya. Apa tidak takut ketahuan orangtua? "Nggaklah. Kan jauh sekali, saya kan tidak di lokalisasi. Hanya orang tertentu saja yang tahu," katanya.

Ahsin yang sudah mengetahui siapa gerangan si cewek ini, tidak percaya dengan penuturan Dian. "Artinya, cewek ini bukan hanya bispak, tapi memang pelacur. Dia pura-pura kos agar harganya mahal," bisik Ahsin saat mengantar koran ini keluar kamar.

Di lain waktu, koran ini juga pernah bersama Ahsin boking seorang cewek. Mulanya, kami hanya kenalan lewat HP. Kemudian ngajak ketemuan untuk check in. Ternyata, cewek yang mengaku bernama Mirna itu meminta dijemput di Jalan Veteran. Kebetulan dia memang ngekos di sana. Nomor telepon Mirna juga diperoleh dari Andi.

Mirna dengan Dian jauh berbeda. Jika Dian masih muda, Mirna lebih tua. Umurnya kira-kira 27 tahun. Saat bersama kami di dalam mobil, Mirna juga mengaku pernah punya suami. "Kalau tidak baru putus dengan suami saya tidak mau diajak. Baru tiga bulan lalu saya diputus," katanya saat mobil yang kami tumpangi meluncur di Jalan Jokotole.

Apa memang bekerja 'begituan'? "Nggaklah, kalau siang saya jadi SPG (sales promotion girl) rokok," katanya. Namun, saat ditanya lebih jauh rokok dimaksud, Mirna memilih diam.

Sayang, koran ini tidak bisa berbincang lama dengan Mirna. Sebab, ternyata Ahsin tidak cocok dengan Mirna. Saat itu kami hanya memberi Mirna Rp 50 ribu sebagai ganti putar-putar kota. "Ternyata kita dikerjain Andi. Mirna ini memang sudah pemain. Dia hanya pura-pura jadi anak kos saja," kata Ahsin.

Dugaan Ahsin mungkin saja benar. Sebab, suatu ketika kami pernah ketemu dengan Mirna. Mungkin karena lupa dengan wajah kami, Mirna sedikit cuek. Saat itu dia sedang ngobrol dengan seseorang di Jalan R Abd. Aziz. Kepada orang tak dikenal itu dia mengaku sebagai istri seorang polisi.

"Jangan ke rumah, nanti ketahuan suamiku. Dia lagi piket," katanya menolak didatangi ke kosnya oleh orang tak dikenal tadi.

Namun, saat Ahsin menyapa dan mencoba mengingatkan Mirna bahwa sebelumnya pernah ketemu, dia hanya tersenyum. Malah, Mirna kembali minta uang kepada Ahsin. "Benar kan dia pemain," kata Ahsin.

Tengara adanya prostitusi terselubung ini sebenarnya sudah diketahui oleh banyak pihak. Termasuk oleh Kepala Satpol PP, M. Rofii. Saat dikonfirmasi wartawan di salah satu gudang tembakau beberapa waktu lalu, Rofii mengaku kesulitan melacak. "Kalau yang terbuka sudah sering kita razia. Namun, yang anak kos itu sulit," katanya.

Sementara Bupati Pamekasan Ach. Syafii saat diwawancara wartawan beberapa waktu lalu menegaskan, pihaknya baru mendengar adanya prostitusi liar dengan berkedok anak kos. "Tetapi, masukan itu akan kita tindaklanjuti. Kami akan meminta pihak terkait mengecek. Terutama, kepala desa atau lurah memantau langsung siapa saja warganya. Kalau ada yang mencurigakan, sebaiknya warga melapor," katanya.

Pemkab sendiri, menurut Syafii, akan terus mengomunikasikan dengan pihak terkait. Tujuannya, praktik prostitusi terselubung itu bisa dihapus. Pemkab juga telah membuat berbagai baliho anjuran agar penerapan syariat Islam dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. (AKHMADI YASID)

Sumber : http://kabarmadura.blogspot.coml

Bisnis Seks di Aceh : Bukan Wanita Komersial Biasa

Oleh : Deden Gunawan

Hampir setiap jam telepon genggam Sherly berdering. Bahkan saat malam tiba semakin sering saja, hingga hitungan menit, ada saja orang yang menghubunginya.

"Biasanya yang telepon para pelanggan yang minta dicarikan teman berkencan," jelas Sherly saat berbincang dengan detikcom di sebuah kedai di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sherly adalah seorang waria yang sehari-hari berkerja di salah satu salon di wilayah Peunayong, Banda Aceh. Rupanya, selain ahli menata rambut dan merias wajah, Sherly punya kerjaan sampingan sebagai mucikari. Ia mengurusi setidaknya 26 wanita dari berbagai lapisan, ada pelajar, mahasiswi, maupun ibu rumah tangga yang bisa diajak berkencan.

Sambil berpromosi, Sherly kemudian memberikan telepon genggamnya yang berisi foto-foto wanita 'binaan'-nya. Omongan Sherly ternyata bukan isapan jempol belaka. Ketika detikcom membuka-buka folder foto yang ada di selulernya, terlihat foto-foto wanita cantik dengan pose yang beragam. Rata-rata usianya di bawah 30-an. Bahkan ada juga seorang gadis muda yang mengenakan seragam SMU.

Menurutnya, untuk gadis yang satu ini agak spesial karena banyak peminatnya. Tak heran bila ingin berkencan dengan gadis yang diakuinya masih duduk di kelas 1 SMU itu, pelanggan harus memesannya jauh-jauh hari.

Paling tidak, kata Sherly, pelanggan harus memesan tiga hari sebelum waktu berkencan. Harga yang ditawarkan Sherly untuk gadis SMU ini juga agak spesial, yakni Rp 1 juta untuk sekali kencan. Bila ingin membooking semalaman harganya lebih tinggi lagi tentunya.

Gadis-gadis 'binaan' Sherly umumnya memang spesial. Mereka tidak seperti pekerja seks komersial (PSK) biasa karena tidak setiap waktu pria hidung belang bisa berkencan dengan wanita-wanita tersebut. "Mereka mau melayani pelanggan jika memang butuh uang. Kalau tidak butuh atau sedang tidak ada waktu mereka bisa menolak diajak kencan," jelas Sherly.

Perkataan Sherly itu dibenarkan Monik, sebut saja namanya demikian, salah seorang PSK 'binaan' Sherly yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi semester VI di sebuah universitas di Banda Aceh. Kata Monik, ia hanya mau melayani kencan kalau memang sedang butuh uang. "Kalau ada uang buat apalah layani kencan," katanya dengan logat Aceh yang kental.

Monik bercerita, ia terpaksa nyambi sebagai wanita panggilan untuk menutupi biaya kuliah maupun biaya hidup. Soalnya gadis asal Lhokseumawe ini hidup mandiri di Banda Aceh. Ia kos di wilayah Darussalam. Sebenarnya, kata Monik, orang tuanya rutin mengirimkan uang untuk biaya kuliah, sewa kamar kos, makan, dan lain-lain. Tapi bagi Monik uang yang dikirim tersebut dianggap belum cukup.

Soalnya, kata Monik, untuk menutupi ongkos gaulnya sangat tinggi. Setidaknya hampir setiap malam ia kumpul-kumpul bersama teman-teman di kafe atau kedai-kedai yang tersebar di Banda Aceh. "Belum untuk beli pakaian dan pulsa Bang," imbuh gadis berusia 22 tahun tersebut saat ditemui detikcom di lounge Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Nah, ketika ia sedang rebonding di sebuah salon di wilayah Peunayong, ia membicarakan hal itu kepada Sherly yang sedang merawat rambutnya itu. Di tengah pembicaraan, Sherly kemudian melontarkan sebuah gagasan, yakni menyarankan agar Monik mendekati pria berduit. "Hanya untuk iseng-iseng saja," ujar Monik menirukan ucapan Sherly waktu itu.

Awalnya ia menganggap obrolan itu sambil lalu belaka. Tapi beberapa hari setelah pertemuan dengan Sherly, Monik ternyata menimbang-nimbang usulan itu. Seminggu berselang, ia malah datang lagi ke salon tempat Sherly bekerja, untuk menanyakan usulan Sherly waktu itu.

Sherly yang sudah enam tahun berprofesi sebagai mucikari tentu tidak merasa kesulitan. Ia banyak mengenal sejumlah pria dari beragam kalangan di Banda Aceh. Buktinya, tidak berapa lama ia menghubungi beberapa nomer telepon, Monik sudah dapat pelanggan. Monik yang mengaku sudah kehilangan kegadisannya oleh teman sekampusnya kemudian diminta datang ke Hotel Sultan. Di hotel itulah Monik melakukan hubungan intim dengan pria selain pacarnya.

Menutupi Biaya Hidup Tinggi
Kisah Monik hampir serupa dengan para wanita yang jadi 'binaan' Sherly. Mereka umumnya memilih melayani pria hidung belang dengan dalih menutupi biaya hidup yang tinggi di Banda Aceh. Namun meski tamu-tamu mereka kebanyakan berasal dari relasi Sherly, bukan berarti mereka tidak bisa berkencan di luar kenalan sang mucikari.

Seperti dikatakan Sherly, hubungannya dengan mereka tidak terikat. Jadi kalau mereka butuh uang akan menghubungi Sherly. Begitupun sebaliknya, Sherly akan menghubungi salah satu diantara mereka bila ada relasinya yang meminta layanan kencan.

Dengan kata lain, otoritas Sherly terhadap PSK binaanya tidaklah mutlak. Sebab fungsi waria asal Medan ini tidak lebih sebagai perantara. Adapun keputusan harga atau kesiapan melayani ada di tangan PSK tersebut. Untuk harga per sekali kencan, tarif mereka berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung negosiasi.

Jika harga sepakat, Sherly hanya mendapatkan komisi dari relasinya atau PSK tersebut. "Paling-paling saya dapat komisi sekadar untuk mengganti pulsa saja dan transportasi," ujar Sherly tanpa menyebut angka komisi yang ia dapatkan. Tapi biasanya, lanjut Sherly, para PSK itu akan memberikan persenan paling tidak 20 persen dari bayaran mereka.

Komisi itu sudah termasuk jasa untuk mengamankan PSK atau pelanggan dari operasi Wilayatul Hisbah (polisi syariat Aceh). Sebab, kata Sherly, dirinya banyak mengenal oknum TNI/Polri maupun WH di Banda Aceh. "Kalau ditangkap WH bilang saja ke saya. Nanti saya yang urus," jelas Sherly sambil menunjukkan foto-fotonya bersama beberapa pria berambut cepak.

Pastinya Sherly merasa enjoy dan aman-aman saja melakukan bisnis sampingannya sebagai mucikari di daerah yang menerapkan syariat Islam. Alasannya, semua aturan yang ada dapat diatasi dengan uang. Apalagi omset yang ia dapat sangat lumayan. Sebab dalam sehari-semalam, paling sedikit lima PSK 'binaan'-nya dapat pelanggan.

Untuk menjaga omsetnya, Sherly gencar melakukan pendekatan pada karyawan-karyawan hotel yang ada di Banda Aceh. Langkah Ini sebagai upaya memeperluas jaringan pelanggan. Paling tidak, trafik permintaan layanan kencan dari pria hidung belang bisa tetap terjaga.

Operasi Selepas Bedug Magrib
Nama jalan itu adalah Lorong Kelinci. Jalan kecil yang terletak di kawasan Jambo Tape, Kuta Alam, ini dikenal sebagai tempat prostitusi terselubung di Banda Aceh.

Sekalipun sebagai tempat prostitusi, tidak sembarang waktu pria hidung belang bisa datang ke lokasi ini. Pekerja seks komersial (PSK) di lokasi ini hanya mau melayani selepas bedug magrib hingga pukul 23.00 waktu setempat. Di luar jam tersebut para PSK tidak mau melayani tamu.

Jangan heran kalau di siang hari di tempat ini tidak terlihat adanya aktivitas layaknya lokasi esek-esek. "Kalau siang atau tengah malam hari WH (polisi syariat Aceh) sering ke sini. Nanti bisa kena operasi," ujar Yuli, PSK asal Riau, yang mangkal di Lorong Kelinci.

Para PSK di lokasi ini umumnya menempati kamar-kamar sewa atau kos-kosan yang ada di sana. Tapi bagi tamu yang baru pertama kali datang ke lokasi tersebut, Yuli menyarankan supaya datang dulu ke salon kecantikan yang berjajar di mulut jalan itu. Cara ini dilakukan supaya tidak salah sasaran. Sebab kos-kosan PSK itu berbaur dengan rumah-rumah penduduk.

Saat di dalam salon tamu biasanya akan ditawari beberapa layanan baik pijat maupun "cuci muka", maksudnya berkencan. Di tempat itu juga tamu akan diperlihatkan foto-foto wanita yang akan dijadikan teman kencan atau sekadar memijat.

Bila setuju, pelayan salon akan membawa tamu ke para PSK yang bertarif Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, per sekali kencan. Umumnya PSK yang beroperasi di lokasi tersebut berasal dari Medan, Riau dan Palembang.

Mereka sudah beroperasi di wilayah tersebut jauh sebelum tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, akhir 2004 silam. Kini, sekalipun Pemprov NAD telah menerapkan syariat Islam, praktek itu tetap saja berjalan sekalipun tidak sevulgar dulu.

Menurut Lusi, pelayan salon di wilayah tersebut, untuk mengakali operasi WH para PSK umumnya mengaku sebagai pacar anggota TNI/Polri. Cara seperti ini dianggap cukup efektif untuk terhindar dari sorotan masyarakat atau operasi WH.

Kepala Dinas Wilayatul Hisbah (WH) Banda Aceh Nasir Ilyas mengamini kalau petugasnya bersama aparat kepolisian kesulitan menertibkan praktek prostitusi di Lorong Kelinci.
Pasalnya, mereka kurang cukup bukti kalau para PSK melakukan kegiatan terlarang tersebut. "Kita berulang kali melakukan operasi di sana. Tapi tidak pernah berhasil," ujar Nasir kepada detikcom.

Namun, lanjut Nasir, WH dan kepolisian sudah berhasil meminimalisir praktik prostitusi yang dilakukan di salon-salon. Beberapa salon yang diduga sebagai ajang prostitusi kemudian ditutup lantaran telah melanggar Qanun nomor 14 tahun 2003, pasal 296 KUHP, yakni menyediakan tempat untuk perbuatan asusila.

Meski demikian operasi itu tidak bisa menjamin kalau praktik prostitusi di salon kecantikan tersebut bisa terhenti begitu saja. Sebab para pelakunya akan menggunakan beragam cara untuk membuka kembali usahanya tersebut.

"Bisnis prostitusi itu seperti bisnis miras. Mereka sangat terorganisir sehingga tidak mudah memberantasnya," ujar Nasir. Karena kelihaian para pelaku, Nasir kemudian berharap peran serta masyarakat untuk membantu mengatasinya.

Tak Lagi Bebas, Tapi HIV Tinggi
Fuad Mardatilah, dosen IAIN Ar-Raniri sekaligus peneliti masyarakat Aceh mengatakan, prostitusi di Aceh memang lumayan marak. Tapi jumlahnya jauh berkurang dibanding saat Orde Baru berkuasa.

"Saat Orde Baru, masyarakat di Aceh tidak terlalu peduli dengan kegiatan tersebut. Sekarang sudah mulai tumbuh kesadaran sehingga gerak bisnis ini semakin terbatas," kata Fuad.

Bukan hanya prostitusi. Gaya hidup bebas masyarakat Aceh saat ini juga lebih terkendali. Indikasinya, beberapa tempat hiburan malam kini nyaris tidak ada di Aceh, termasuk Banda Aceh.

"Hubungan muda-mudi dulu sangat bebas. Sekarang tidak bebas lagi karena ada aturan syariat," jelasnya. Perubahan perilaku tersebut, diakui Fuad terjadi pasca tsunami. Sebab setelah bencana tersebut masyarakat Aceh begitu takut untuk berbuat maksiat.

Untuk menjaga perilaku generasi muda di Aceh malah beberapa rektorat di Banda Aceh ada yang meminta petugas WH membuka posko di dalam kampus. Hal ini untuk menjaga perilaku para mahasiswa. Namun permintaan tersebut tidak disanggupi WH Banda Aceh.

"Kita tidak mau masuk terlalu jauh ke dalam kampus. Nanti dibilang melanggar otonomi kampus," ujar Nasir Ilyas.

Tapi dengan adanya permintaan tersebut Nasir merasa senang. Sebab upaya untuk menjaga perilaku masyarakat menuai banyak dukungan.

Ironisnya, meski gaya hidup bebas sudah menurun drastis, angka penderita HIV/AIDS di daerah berjuluk Serambi Makkah itu justru meningkat tajam. Berdasarkan data Pemberantasan AIDS Provinsi (KPAP) Aceh sejak tahun 2004, jumlah penderita penyakit hilangnya kekebalan tubuh ini meningkat setiap tahunya. Misalnya pada tahun 2004,hanya ada 1 kasus. Tahun 2005 meningkat menjadi 2 kasus.

Tahun berikutnya, angkanya kembali bertambah sebanyak 7 kasus. Kemudian tahun 2007, muncul 15 kasus baru HIV/AIDS. Di pertengahan tahun 2008 peningkatannya lebih signifikan, yakni bertambah 23 kasus baru.

Menurut perkiraan KPAP Aceh, saat ini kasus HIV dan AIDS di Aceh melebihi 1.039 kasus. Umumnya, kasus ini terjadi di beberapa daerah yang mobilitas penduduknya tinggi, seperti Banda Aceh.

Namun meningkatnya kasus HIV/AIDS tersebut, kata Pengelola Program KPAP Aceh, DRS Safwan, lebih banyak disebabkan pengaruh dari luar. Alasannya, setelah tsunami Aceh terglobalisasi. Setelah itu, hal-hal negatif dari globalisasi seperti prostitusi, seks bebas, penyalahgunaan alkohol dan penyalahgunaan narkoba masuk ke wilayah tersebut. "Peran penduduk dari luar Aceh sangat mempengaruhi peningkatan kasus penderita HIV/AIDS," ungkap Safwan kepada detikcom.

Ia mencontohkan, lelaki hidung belang dari Aceh umumnya berakhir pekan di Medan untuk belanja seks. Di provinsi tetangga tersebut mereka berhubungan dengan PSKyang terinfeksi HIV/AIDS dan mereka kemudian membawa masuk ke Aceh. Selain itu, bisa juga penyakit itu menyebar melalui PSK asal daerah lain yang beroperasi di Aceh. (ddg/nrl)

Sumber : http://www.detiknews.com

Berfantasi Seks Digelapnya Jakarta..


Masih ingat Very Bad Things? Film layar lebar yang beredar beberapa tahun lalu, dibintangi Christian Slater dan Cameron Diaz, ini menceritakan adat bujangan Amrik melepas lajang.

Dengan "berpesta" bersama penari striptease, beberapa puluh jam sebelum ke penghulu. Sialnya, fantasi yang berlebihan membuat acara kebablasan. Si penari tewas, calon pengantin terancam masuk bui. Lucu, sekaligus tragis!

Boleh percaya boleh tidak, bachelor party model begitu diam-diam tumbuh subur pula di kalangan eksekutif muda Jakarta. Padahal, seperti dicontohkan dalam film, keperjakaan calon mempelai bisa rontok saat itu juga. Eh, tak cuma bachelor party yang diimpor. Beragam atraksi pemuas syahwat dan pesta-pesta seks, entah dari mana datang idenya, pun ramai bertebaran. Terutama yang berselimut legalitas bisnis tempat hiburan, kafe dan klub-klub eksklusif.

Uniknya, meski belakangan kian benderang pamornya, fenomena fantasia kalangan borju itu tetap menjadi bagian dari sisi gelap Ibukota. Keberadaannya sangat, sangat eksklusif. Tak sembarang orang bisa menikmati layanannya. Minimal harus kenal orang dalam atau bergabung sebagai member dulu, baru bisa "tembus". Untuk menjadi member pun, bibit, bobot, dan bebet Anda diperiksa.

Kemudian, lazimnya sebuah industri, hukum permintaan dan penawaran berlaku pula di sini. Para penyaji menu pelampias syahwat itu tentu sudah berhitung. Tampaknya, mereka mengincar mesin uang paling potensial, kalangan eksekutif muda dan petualang cinta yang punya fantasi seks luar biasa. Pertanda munculnya genre baru perilaku seks menyimpang, yang menomorsatukan gaya hidup penuh fantasi bejat?

Kabin berkelambu
Sebenarnya, berfantasi, apalagi menyangkut hubungan dua manusia lain jenis, bukanlah dosa. Sudah dari sononya, terutama laki-laki, ditakdirkan mudah berimajinasi soal yang satu itu. Para peneliti pun banyak yang bersepakat, fantasi seksual pria sangat kaya dan bisa datang dari mana saja.

Frekuensi ngelamun jorok pria juga jauh lebih sering ketimbang wanita. Kelebihan ini, jika boleh disebut begitu, membuat pria "merasa" punya banyak waktu memikirkan dan mewujudkan fantasi seksnya.

Tak jarang, sebagian fantasi yang tak terpuaskan di rumah, terbang ke tempat bordil. Itu sebabnya, tak ada kota di dunia yang bebas dari bisnis pelacuran. Jakarta misalnya, sebelum dipusingkan urusan Kramat Tunggak, pernah punya Gang Hauber, tempat mangkalnya pekerja seks komersial di zaman Belanda. Saking ramainya, penduduk baik-baik yang tinggal di sekitar maupun di dalam gang merasa perlu menempelkan tulisan "rumah tangga" di depan rumah. Agar hidung belang tak salah masuk.

Barangkali sulitnya memberantas habis fantasi dan prostitusi, seperti dibilang Sigmund Freud, lantaran seksualitas itu sendiri tak pernah bisa ditekan. "Makin direpresi, makin dia bangkit," kata Tommy F. Awuy, dosen filsafat di UI, IKJ, dan Universitas Atmajaya. Dengan kata lain, simpul Awuy, "Seks dan kota memang tak pernah lepas dari persoalan akumulasi modal. Seks, uang, dan kekuasaan menjadi rajutan yang membangun sebuah peradaban."

Buku unik, jika Anda sudah membaca, "Jakarta under cover, sex ’n the city"-nya Moammar Emka makin mempertegas fenomena abadi itu. Dengan tambahan benang merah bahwa fantasi seks gila-gilaan mungkin sedang dan akan terus digandrungi sebagian kecil warga berduit Jakarta. Populasi mereka boleh jadi kurang dari 5% penduduk ibukota. Tapi perputaran uang hasil transaksi seksnya mungkin menyamai atau malah melebihi duit yang berputar di lokalisasi kelas menengah ke bawah.

Ada klub telanjang bawah tanah yang menerapkan sistem keanggotaan dengan amat ketat. Tiap kali berhajat, tamunya bisa mencapai 150-an. Bayangkan, maaf, ratusan pria dan wanita telanjang bulat di satu ruangan. Keliaran macam apa yang terjadi di tengah dentuman musik keras tiada henti, pasti gampang ditebak. Apalagi basement tempat berlangsungnya peristiwa primitif itu juga menyediakan deretan kamar yang hanya ditutup tirai. Siapa mau percaya, masyarakat yang menyikapi goyang ngebor Inul saja, harus terpecah menjadi beragam tingkatan moralitas, ternyata mempunyai klub nudis nan dahsyat.

Ada juga layanan pemuas nafsu mobile, yang populer disebut mobil goyang. Dari luar, kendaraan mewah yang disewakan (Mitsubishi Pajero, Toyota Land Cruiser, Range Rover, atau Opel Blazer) terlihat sama dengan roda empat berharga ratusan juta lain yang berkeliaran di jalan. Tapi coba longok dalamnya, tertata sangat beda. Lebih mirip limousine, karena ada sofa tanpa sandaran, meja makan mini, aneka makanan dan minuman, lengkap dengan perangkat audio visual terkini.

Kursi sopir dan penumpang didesain khusus, sehingga ruangan belakang tak bisa diintip dari depan. Kelambu warna biru tua dipasang mengelilingi kabin belakang. Tak ketinggalan, miniphone yang menghubungkan penumpang dengan sopir. Namun paling istimewa, bonus cewek cantik nan seksi sebagai teman perjalanan. Mau tahu layanan apa yang diberikan si cewek sepanjang "keluyuran" tiga jam keliling Jakarta? Ah, Anda sudah menjawabnya sendiri dalam hati.

Tak kalah gila, cerita dari pesta kalangan the have tertentu. Selain bebas menghamburkan uang, mereka juga seperti bebas dari aturan susila. Konon, ada pesta yang tamunya diharuskan menanggalkan salah satu pakaian pestanya. Mau melepas baju atas atau setelan bawah, terserah. Biasanya, setelah sama-sama menikmati tarian syahwat, mereka yang "kepanasan" dipersilakan langsung berkencan di tempat. Yang tersisa cuma nafsu dan nafsu, ketika half body party berubah jadi sex party.

Di mata Dr. Victor Menayang, ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, fakta-fakta tadi, selain "mengerikan", juga menarik dianalisis. "Informasi yang mengejutkan, menyengat, dan sebelumnya enggak banyak diketahui awam, tentu layak dikaji. Meski sebenarnya, banyak juga cerita-cerita yang sudah pernah kita denger dari teman maupun sekadar selentingan," ucap lelaki Manado itu.

Cerita tentang panti pijat full body contact, kafe, atau klub-klub profesional yang menyediakan tempat indehoi VIP bak surga, salon penyedia layanan lulur triple-X plus, hingga karyawati restoran-restoran asing (Jepang, Korea, Cina) yang kerap merangkap sebagai pekerja seks paruh waktu misalnya, sudah lama menjadi rahasia umum. "Namun paling tidak, makin hangatnya pembicaraan tentang aktivitas seksual kalangan atas, membuat kita lebih waspada," imbuh Victor.

Wanita inferior
Ya, lebih waspada dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang tengah terjadi di kalangan profesional muda dan para petualang seks ber-doku (duit) tebal di Jakarta?

Ketika fantasi mereka terbukti makin menggila, tidakkah ini pertanda munculnya gaya hidup baru, yang mungkin saja mengekor gaya hidup serupa di Las Vegas, Paris, Amsterdam, atau kota-kota megapolitan dunia lainnya?

"Mungkin saja begitu. Tapi saya lebih melihat, dalam masyarakat plural seperti Jakarta, munculnya aktivitas-aktivitas seperti itu memang sulit dihindari," analisis Dra. Syarifah Sabaroeddin, dosen FISIP UI, pengajar mata kuliah "Perilaku Seks Menyimpang". Dengan kata lain, sisi gelap orang-orang berduit di kota besar merupakan keniscayaan. Meski dari masa ke masa, tingkat keparahannya mungkin saja berbeda-beda.

"Sebagai kelompok, mereka merasa perlu memiliki identitas diri, boleh jadi tercermin dari aktivitas mereka, sehingga mudah dibedakan dengan kelompok lain," tambah Syarifah. Meskipun identitas kelompok itu ditunjukkan dengan fantasi seks gila-gilaan? "Ya, sah-sah saja," tegas Syarifah mantap. Tambahnya, secara politis, kelompok para petualang cinta ini barangkali memang ingin punya cap khusus.

Toh, sambung Syarifah, dalam terminologi sosiologi, gaya hidup mereka sebenarnya bisa digolongkan sebagai perilaku seks menyimpang. "Mereka punya kebiasaan berganti-ganti pasangan, ’kan?" Artinya, komunitas penggemar aktivitas seks luar biasa nan eksklusif ini tetap harus bersiap menghadapi risiko perilaku seks menyimpang. Seperti tertular penyakit kelamin, cemoohan masyarakat, hingga beratnya beban dosa yang divonis agama.

Satu lagi, "Makin lama, gaya hidup mereka harusnya tidak makin eksklusif. Masyarakat, baik lewat buku-buku maupun kajian-kajian di kampus, harus membuat semuanya lebih transparan," ujar Victor Menayang. "Mempelajari soal korupsi, ’kan tidak lantas kita menjadi koruptor. Justru sebaliknya, memanfaatkan informasi untuk mencari pemecahan terhadap masalah-masalah sosial yang ada," tambah lelaki berkulit putih itu berumpama.

Victor mengakui, prostitusi sebagai penyakit sosial klasik yang sulit dibumihanguskan. "Tapi saya percaya, kita harus selalu berusaha mengurangi kadarnya." Informasi yang benar, versi Victor, akan mencegah terjebaknya banyak orang di bisnis seks. "Di negara-negara tetangga kita, seperti Filipina, Thailand, dan pasti juga banyak terjadi di Indonesia, sebagian besar penghuni rumah bordil awalnya terlibat lantaran terjebak. Terutama gadis-gadis di bawah umur," masih kata Victor.

Besarnya keterlibatan pelacur di bawah umur ini memang bukan isapan jempol. Penelitian Unicef tahun 1998 memperkirakan, jumlah anak yang tereksploitasi secara seksual atau dilacurkan mencapai 40.000 - 70.000 orang. Mereka tersebar di 75.106 tempat di seluruh Indonesia. Tahun 2003, lima tahun kemudian, angkanya pasti sudah membengkak jauh. Sementara laporan lain menyebut, 30% dari total pelacur di Indonesia adalah anak perempuan kurang dari 18 tahun. Jadi, berhati-hatilah berfantasi dengan perempuan di bawah umur.
Selesai? "Belum," kata Syarifah. Dosen yang juga juga feminis ini bilang, fantasi seks gila-gilaan mempunyai rambu lain, yakni kesetaraan gender. Dia sangat menggarisbawahi, bagaimana perempuan diper-lakukan. "Kalau hubungan laki-laki dan perempuan berjalan setara, oke, enggak masalah. Kita terima sebagai bentuk gaya hidup atau pemberian identitas kelompok. Tapi jika perempuan hanya dijadikan komoditi seks dan bagian-bagian tubuhnya dinilai dengan uang, ini jelas harus ditentang," sergahnya mantap.

"Dalam masyarakat plural, wanita tidak boleh menjadi objek," sambung Syarifah. Barangkali inilah rambu terberat, lantaran selama ini sudut pandang fantasi seks memang masih dimonopoli lelaki. Perempuan-perempuan telanjang bulat peserta pesta nudis di sebuah kawasan di Jakarta Utara, misalnya, adalah tenaga-tenaga bayaran yang diambil dari koleksi para germo kelas atas ibukota. Mereka datang dengan iming-iming bayaran tak kurang dari Rp 5 juta - Rp 10 juta per acara.

Begitu juga wanita-wanita seksi teman perjalanan di mobil mewah bergoyang. Mereka disamakan dengan aksesori kendaraan, karena banderol harganya disatukan dalam paket bikinan sang germo. Tarif Rp 5 juta untuk Mitsubishi Pajero "plus" dan Rp 7 juta untuk Range Rover "plus". Satu paket berlaku sekitar 3 - 4 jam tur keliling kota, dan berlaku untuk semua fantasi seks yang ada di benak penyewanya. Sepanjang tidak keluar dari mobil, tentunya.

Harus diakui, kaum hawa masih lebih sering menjadi kelinci fantasi. Padahal, seperti kata Syarifah, perempuan juga punya fantasi seks dan sudut pandang sendiri. Yang bukan tak mungkin, bisa lebih syur daripada laki-laki.

Barangkali itulah bedanya Jakarta dengan Las Vegas, Paris, atau Amsterdam. Di sini, perilaku seks menyimpang sebagai gaya hidup, jati diri, jati kelompok atau apa pun namanya, harus berhadapan dengan rambu-rambu moralitas masyarakat untuk bisa berkembang. Sudah sepantasnya kalau ruang geraknya makin kita persempit dari waktu ke waktu. (Intisari)

Sumber : http://202.146.5.33

Taman Adipura Jadi Sarang Penjaja Seks

Taman Adipura Kota Sumenep yang populer disebut dengan Taman Bunga (TB) ternyata menyimpan sejuta mesteri yang tersembunyi. Bagi para pengais rejeki, tak jarang pada malam hari lokasi yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Kota Sumenep itu menjadi pilihan yang pas untuk berjualan. Karena tempat ini setiap malam begitu ramai dengan pengunjung.
Meskipun ada yang hanya nyantai dengan duduk-duduk di bawah tanaman hias, atau berpacaran dengan kekasih tercintanya. Sehingga tak jarang setiap malam banyakterlihat pasangan muda-mudi yang asyik bercengkrama, menikmati pemandangan indahnya perkotaan Bumi Sumekar.

Namun di balik itu semua, ternyata Taman Bunga yang berada di depan Rumah Tuhan itu juga dijadikan transaksi hubungan gelap atau praktek esek-esek. Para PSK Taman Bunga setiap malam mangkal di stan-stan warung kopi dan melakukan transaksi dengan para lelaki hidung belang. Namun, kalau sudah larut malam, para penjaja seks itu berkeliaran ke tengah areal taman sehingga sangat mudah untuk melakukan
transaksi.

Salah satu malam, seoramg PSK yang sedang duduk di kursi beton sedang menunggu konsumen. Sebut saja namanya Ratu (30). Dia mengaku telah dua tahun mangkal di sana. Ia bercerita banyak sambil makansebungkus kacang dan rokok-an.

Dengan Bahasa Maduranya yang begitu kental, Ratu Taman Bunga ini tidak sungkan mengaku. Bahwa ia baru datang dari sebuah hotel melayani tamunya untuk yang kedua kalinya saat itu. Padahal jam tangan saat itu sudah menunjukkan pukul 02.00 wib dini hari.

"Aku baru saja datang dari sebuah hotel melayani laki-laki untuk yang kedua kalinya. Aku dapat bayaran seratusan dari tamuku," katanya.

Menurut perempuan yang memiliki tubuh montok dan kulit putih bersih ini, ia mengawali bekerja sebagai peramunikmat pada saat ditinggal suaminya akibatkecelakaan. Sedangkan ia harus membiayai pendidikan dua anaknya yang saat ini sekolah di Kota Pahlawan Surabaya.

"Aku tak bisa berbuat apa-apa selain melakukan ini untuk anak-anakku. Karena tiap bulan aku harus mengirim uang pada anak-anakku sebesar Rp 1,5 juta," jelasnya.

Meski penghasilan dia setiap malam tidak tentu, tapi wanita berambut ikal ini mengaku dengan jujur, dalam seminggu kadang mampu mengumpulkan uang satu hingga dua juta rupiah. Apalagi pada musim tembakau.

"Bagiku yang terpenting adalah uang. Jadi, siapapun dia yang penting memiliki uang, aku mau aja," paparnya.

Ia dengan gamblang menceritakan, masalah tempat berhubungan tidak terlalu dipersoalkan. Karena yang di utamakan adalah uang dan penggunanya bisa puas. Kadang oleh tamunya di bawa ke hotel, kadang menyewa rumah warga dan pernah di bawa ke sebuah kantoran. Dan tidak jarang juga dia main di alam bebas. Bahkan semalam pernah melayani 8 laki-laki karena dari saking larisnya.

"Asal jelas aku mau di bayar, kemanapun aku di bawa gak masalah. Yang penting aku tidak di bohongin," ungkapnya.

Menurutnya, kebanyakan transaksi awal dilakukan di Taman Bunga. Namun kadang juga melalui Hand Phone. "Jadi aku memang tidak memakai orang ketiga. Karena itu lebih mudah dan sekaligus tidak perlu menambah bayaran," tegasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Bunga (35). Ia juga mengaku, hampir setiap malam dirinya mangkal di Taman Bunga. Karena di taman itu, dia lebih cepat mendapat konsumen. "Setelah selesai transaksi kita tinggal menuju tempat bermain," paparnya.

Setelah selesai, lanjutnya, ia kembali lagi ke Taman Bunga dan mencari target lain. Sehingga tidak jarang, dalam semalam ia kadang mampu melayani 5 laki-laki dari hasil transaksi di Taman Bunga. "Hampir setiap malam aku selalu melayani tamu. Tapi kadang juga gak dapet, Mas!," katanya, sambil tertawa.(Tim).

Sumber : http://www.maduraexplore.com

FaceBook Ayam Kampus


Kehadiran Pacebook Miyabi memberikan inspirasi kepada para penjaja seks di kampus atau yang lebih dikenal dengan ayam kampus juga turut menawarkan jasa mereka lewat jaringan pertemanan tersebut. Kehadiran Facebook ayam kampus ini membuktikan jika pelacuran dan prostitusi juga turut mengikuti jaman. Jika sebelumnya mereka menyamar sebagai Gadis Friendster, kini mereka memanfaatkan kehadiran Facebook yang sudah mempunyai banyak member di Indonesia.

Dalam menjalankan aksinya, para ayam kampus tidak terlalu vulgar, bahkan nyaris tak terdeteksi. Namun jika kita mau jeli dan sudah lama kenal, mereka sudah tidak sungkan2 lagi menawarkan jasa persetubuhan itu kepada kita ( tentunya dengan imbalan sesuai seperti yang mereka minta. Tarif mereka bervariasi berdasarkan fisik dan pelayanan mereka. Pada umumnya para Ayam Kampus daam menjerat korbannya lewat Facebook tersebut bermula dengan ditambahkannya akun kita kedalam list pertemanan mereka. Setelah itu, setelah kita terbiasa untuk berkomentar atau chat lewat FB dan mereka merasa nyaman, maka penawaran jasa persetubuhan biasanya mereka ajukan

Kehadiran Facebook Ayam Kampus ini tentu saja menarik perhatian para penikmat seks di Indonesia. Hal ini harus membutuhkan perhatian para tokoh masyarakat untuk memberikan pengetahuan kepada warga Indonesia agar bisa menggunakan Facebook dengan lebih bijak. Apalagi saat ini Facebook sudah banyak digunakan oleh remaja. Diharapkan dengan memberikan informasi mengenai kehadiran Facebook Ayam Kampus ini bisa membuat kita semakin berhati-hati untuk menambahkan atau menerima ajuan pertemanan. Namun secara keseluruhan, kiranya fenomena ini bisa kita sikapi dengan sikap terbaik kita tanpa mengucilkan para pelaku.

Sumber : http://www.petarungseo.com

Strategi ABG Menjaring Sasaran di Mal !

”Ngelaba” Sandi Menjaring Sasaran
Mal dan Plaza, Surga bagi Ajang Prostitusi

Gemerlap kehidupan kota metropolitan membuat silau banyak gadis remaja. Penampilan keren, nongkrong di tempat hiburan, kafe, punya HP canggih, jadi gaya hidup yang diimpikan sebagain ABG di Jakarta.

Menjadi cewek metropolis ataupun cewek gaul yang glamor dan tak ketinggalan mode, hanya bisa terwujud bila memiliki uang. Untuk meraih impian itu, sejumlah anak baru gede (ABG) yang ekonomi orangtuanya lemah, menempuh berbagai cara.

Sebagian di antara cewek usia belasan tahun ini mencari uang dengan jalan menjual diri alias menjadi pelacur amatiran .

“Uang dari orangtua mana cukup buat beli baju gaul, HP model terbaru? Bisa ketinggalan kita,” kata Ratna,17, (bukan nama sebenarnya), cewek ABG kormod alias korban mode.

Upaya memenuhi keinginanya itu, Ratna rela jadi pelacur amatir. Pusat perbelanjaan dijadikan sebagai ajang bergaul sekaligus meraup rupiah dari lelaki iseng pencari kenikmatan sesaat. Mejeng di mal sambil mencari mangsa.

Terhadap ABG kelompok ini, pria iseng cukup bermodal Rp100 ribu, bisa kencan sambil menjamah tubuh, meskipun hanya sebatas close up alias setengah badan.

Sepak-terjang ABG yang menjajakan diri ini bisa ditemui di sejumlah pusat perbelanjaan di ibukota. Ironisnya, mereka rata-rata berstatus pelajar, ada juga mahasiswi.

Alasan mereka kepada orangtua, pergi belajar kelompok atau mengikuti kegiatan sekolah agar bisa bebas keluar rumah. ABG bangor beroperasi di mal tak cuma malam hari, tapi banyak pula dijumpai nongkrong siang bolong menjajakandiri.

Mereka ada yang dijuluki cewek parkir lantaran mangkalnya di tempat parkir, ada pula mangkal di pusat jajan makananan (food court), ada juga yang mencari sasaran di depan gedung bioskop. Pekcun alias perek culun, begitulah julukan yang sering dilontarkan publik terhadap mereka.

Lebih Agresif
Dari pantauan Pos Kota, di mal pada kawasan Kalibata misalnya, ada sekitar 30 cewek ABG mencari mangsa tersebar di ruang tunggu bioskop, food court dan tempat parkir. Pemandangan serupa dapat dipantau pada pusat perdagangan dan perbelanjaan di kawasan Senen serta pusat perdagangan dan perbelanjaan di kawasan Rawamangun.

Gaya mereka menyerupai gadis lainnya yang datang ke mal untuk belanja. Inilah yang kerap membuat jengah gadis baik-baik karena kena imbas dikira cewek mal cari mangsa.

Mengenakan celana jins model pensil, kaos lengan pendek, blus model baby dol yang sedang ngetren, penampilan mereka sama sekali jauh dari kesan sebagai pelacur.

Namun bila diperhatikan, ada hal yang membedakan antara ABG pelacur dengan ABG baik-baik. ABG pelacur tampil centil, genit, agresif, berani menggoda lelaki meski belum dikenal dan bersikap sangat ramah.

Sasaran mereka, selain pria yang biasa dijuluki brondong juga lelaki setengah baya alias om-om parlente dan tajir alias berkantong tebal.

“Nih brondong keren euy. Tapi keren-keren gitu namanya Parto lho, atau Gino kali ya?” celetuk satu cewek ABG di depan bioskop yang disambut tawa cekikikan dua teman lainnya.

Bagi pria yang masuk perangkap, kencan pun dimulai. Obrolan mereka nyambung dan langsung akrab.

Sama halnya di food court, cara mereka menarik perhatian lelaki dengan kerlingan mata atau membuat canda berlebihan. “Meskipun cuma dibayarin makan aja, gak apa-apalah, lumayan juga,” kata Ratna,yang mengaku dirinya dan bersama geng kerap mangkal di satu mal kawasan Kalibata.

Lain lagi dengan cewek parkir, tampilannya berlagak menunggu teman. Padahal mereka mejeng sambil matanya melirik-lirik ke arah lelakiyang diincar.

Layanan Close Up
Kelompok ABG ini selain mencari uang juga mencari kesenangan di mal. Target lain bisa belanja barang harga mahal dan dapat menyantap makanan enak.

Tarif mereka terbilang murah antara Rp 100 ribu hingga Rp300 ribu. Pelaku prostitusi terselubung ini memberi pelayanan dari pinggang ke atas. Istilah mereka close up.

Pelayanan colse up berlangsung singkat. Tempatnya di dalam gedung bioskop sambil nonton film. Lelaki iseng leluasan menggerayangi tubuh ABG selama pemutaran film berlangsung. Kencan bisa juga dilakukan di dalam mobil yang sedang diparkir.

Bila mau pelayanan lebih, harus tambah ongkos minimal Rp300 ribu untuk di-booking ke hotel. Harga pasaran ABG ini bisa turun asal mereka diajak shoping.

“Sebelum ngeroom (istilah untuk ngamar) kita belanja-belanja dulu,” cerita Ririn, ABG lainnya.

Bagi lelaki pemburu ABG di mal, paham betul cara menggaet mereka. Tentu dengan cara mengajak belanja pakaian dulu, baru dibawa ke kamar hotel.

Mau mencari cewek parkir dimal? Mereka biasa mejeng sekitar Pk. 19:00 saat pengunjung banyak yang mulai meninggalkan mal. Operasi pekcun kelompok ini cukup rapih. Mereka tak hanya mejeng di area parkir, tapi kadang bersembunyi di tempat tertentu.

Untuk bisa menemui mereka, lebih dulu ketemu juru parkir (jukir) nyambi sebagai germo. Jukir yang nyambi ini kemudian mengontak mereka. Pekcun beroperasi di arena parkir, geliatnya lebih profesional ketimbang yang mangkal di sekitar bioskop atau di food court.

Tentu saja si tukang parkir mendapat jatah dari cewek yang dapat tamu. Setiap kali dapat tamu, si cewek memberi upah Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Tak hanya tukang parkir yang kecipratan uang. Kalangan preman pun mendapat jatah uang perlindungan. “Kalau mau aman, ya kita bagi juga mereka, sekedar buat beli rokok,” ucap Siska, 19, cewek parkir, sambil menyebut nilai minimal Rp20 ribu untuk jatah preman.

Preman ini bukan tanpa jasa. Kerja mereka menghubungi si pekcun bila ada razia petugas. “Tugas mereka harus cepet-cepet kasih tau kita kalau ada petugas,” ungkap Lina, 17, dara yang mengaku pelajar satu SMA di Jaksel.

Dalam satu minggu, pekcun mengantongi uang antara Rp200 ribu Rp400 ribu. Mereka mengaku tak ada germo yang mengkoordinir secara khusus.

Beberapa tahun silam, aparat merazia puluhan ABG dirazia di mal kawasan Kalibata. Terbukti keberadaan mereka dikoordinir seorang cewekyang bertindak sebagai germo.

Fenomena ABG jual diri merupakan imbas dari rongrongan gaya hidup metropolis, tak seimbang dengan kemampuan ekonomi orangtua.

Butuh Duit Buat Jajan
SISKA begitu ia biasa dipanggil. Gadis yang baru tumbuh dewasa itu mengaku menjadi ‘penjudi’ (penjual diri) karena ingin seperti kawan-kawannya yang hidup berkelimang kemewahan. Tapi dia sadar, kalau keinginannya untuk seperti itu tidak akan bisa karena kedua orang tuanya hidupnya serba pas-pasan.

“Jangankan untuk membeli pakaian yang harganya cukup mahal, untuk belanja sehari-hari aja kurang,”kata gadis yang mengaku masih sekolah di SLTA dibilangan Jakarta Selatan tersebut.

Dengan ketiadaannya itu, ABG (anak baru gede) yang satu ini terpaksa mejeng dan menjual diri di mal. Tujuannya hanya satu, dapat nonton dan menemani om-om yang berkantong tebal. Gadis mungil berkulit putih itu pun hampir tiga kali dalam satu minggu nongkrong di pusat perbelanjaan dibilangan Kalibata,Jakarta Selatan.

Kebutuhan Hidup
Sepintas orang tidak akan menyangka kalau perempuan yang mengaku baru berumur 15 tahun itu menjual diri demi memenuhi kebutuhannya hidup yang mewah. Sebenarnya Siska malu. Apalagi jika bertemu dengan teman atau tetangga rumahnya. “Habis gimana Bang, jika nggak begini saya tidak punya duit jajanyang cukup. Uang yang dikasih orang tua tak cukup,” kata Siska yang mengaku tinggal di kawasan Cempaka Putih, Jakpus.

Anak kedua dari empat bersaudara itu mengaku bapaknya hanyalah buruh pabrik di kawasan Bekasi dengan gaji yang sangat pas-pasan. Hidup serba kekurangan, sementara teman sebayanya hidup serba berkecukupan. Iri ingin seperti teman – temanya membuatnya mengambil jalan pintas.

Berbekal tubuh yang seksi, dia terpaksa terjun ke dalam bisnis "esek- esek". “Pertama-tama saya melakukannya sempat gemeter dan takut akan ketahuan orang, tapi kini sudah terbiasa, “ katanya seraya menambahkan sekali kencan, dia pasang tarif antara Rp 200.000 hingga Rp 250.000.

Kesepian di Rumah
Lain lagi dengan Lia. Kebiasaan nongkrong di bioskop itu karena merasa kesepian di rumah setelah kedua orang tuanya sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Hampir setiap pulang sekolah gadis itu menyempatkandiri datang ke bioskop yang berada di kawasan Atrium, Senen, Jakarta Pusat. Di tempat itu, ABG ini mengaku banyak teman bukan hanya sesama pelajar seusianya, tapi om-om yang suka mencari daun muda.

“Saya sering diajak nonton sama om-om dan brondong. Saya nggak pernah pasang tarif, berapa pun dia mengasih pasti saya terima,”ujar Lia sambil menambahkan setiap diajak nonton dirinya di kasih uang Rp 100 ribu hingga 200 ribu.

Lia mengaku setiap hari selalu membawa baju dan celana ganti. “ Kalau pakai seragam sekolah dilarang satpam masuk ke mal. Saya bawa ganti untuk mengelabuhi petugas keamanan,” tambah gadis yang mengaku tinggal di daerah kawasan elite Kelapa Gading, Jakut.

Lia nongkrong di mal bukan semata mencari uang, tapi yang utama kesenangan. Tak heran jika ada pria yang cocok dengannya, tanpa dikasih uang pun nggak apa-apa. Tapi kalau tidak sesuai dengan kehendak hatinya, dibayar berapa pun akan ditolaknya. “Kalau cocok, cepek ceng (Rp 100.000) bersih, kita sikat aja Mas," kata Lia sambil tertawa lepas.

Jika sudah transaksi, kencan berlanjut di hotel-hotel transit tak jauh dari lokasi. Tapi kadang-kadang Lia tak segan menolak tunge, istilah mereka untuk hubungan intim, kalau pelanggannya itu tak royal membelikan makanan dan rokok.

Susan lain lagi. Kebiasaan nongkrong di mal setelah beberapa kali diajak teman sekolahnya mejeng di pusat pembelanjaan tersebut. Awalnya, dia takut dicap cewek yang nggak benar, tapi lama-lama mengaku terbiasa bahkan ketagihan.

“Berani berkenalan dan mau diajak jalan sama om-om setelah beberapa kali ditemani teman saya. Semula saya malu-malu, tapi karena duit yang saya dapat banyak akhirnya keterusan deh,”ungkap ABG yang mengaku tinggal di daerah Rawamangun, Jaktim tersebut.
Sinar Harapan Post

Sumber : http://indonesiabreakingnewsonline.blogspot.com

20 Siswi SMP Obral Kegadisan Rp 2 Juta


JAKARTA - Pengungkapan kasus 22 siswi SMP negeri di kawasan Tambora, Jakarta
Barat, yang nyambi menjadi PSK terus berkembang. Dari pengakuan beberapa siswi diketahui bahwa petualangan mereka diawali dengan menjual kegadisannya kepada pria hidung belang Rp 2 juta.

Transaksi seks ABG ini dikoordinasi beberapa mucikari yang biasa beroperasi di Lokasari, Jakarta Barat. Melalui mucikari inilah para siswi yang masih di bawah umur itu dipertemukan dengan pria-pria
hidung belang.

Salah seorang wali murid, sebut saja Yana, mengatakan, setelah transaksi Rp 2 juta, para siswi itu meneruskannya menjadi penjaja seks dengan tarif setiap kencan Rp 300.000. Ulah para siswi SMP negeri ini terbongkar setelah beberapa guru menyamar menjadi calon “pembeli”.

Yana mengaku mengetahui kasus ini dari beberapa guru di sekolah tersebut. “Selain wali murid, saya juga alumnus sekolah ini. Saya memiliki kedekatan dengan para pengajar sampai kepala sekolahnya. Jadi
saya tahu ini,” kata Yana.

Menurut dia, salah seorang guru bercerita kepada dirinya bahwa para pelajar itu tidak bekerja sendiri. Mereka dikordinasi oleh seorang mucikari yang biasa nongkrong di Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat. “Jaringan PSK para pelajar SMP ini terbentuk dengan tidak sengaja. Awalnya, karena adanya pertemuan mucikari tersebut dengan salah seorang siswi SMP itu,” katanya.

Siswi berinisial IS adalah salah satu korbannya. Dia masih duduk di kelas 3 SMP. “Dia memang dikenal suka bermain di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat hiburan lainnya. Lalu dia berkenalan dengan mucikari tersebut yang menawarinyaa menjadi penjaja seks,” kata Yana.

Singkat cerita, kata Yana, IS bersedia untuk menjadi penjaja seks. Dan belakangan ia diminta untuk mencari rekan-rekannya yang juga mau menjadi penjaja seks. “Lalu ada 19 siswi lainnya yang ikut menjadi penjaja seks,” katanya.

Yana mengatakan, cara IS mengajak rekan-rekannya menjadi penjaja seks tidak langsung diutarakan begitu saja kepada teman-temannya. Tetapi dia membawa satu per satu temannya ke tempat mucikarinya di Lokasari. Sampai di sana, mucikarinyalah yang merayu para siswi tersebut.

Awalnya, jaringan PSK para pelajar SMP ini tidak tercium siapa pun, termasuk guru dan orangtua mereka. “Mereka tidak beroperasi sampai larut malam. Mereka biasa ke tempat pelacuran usai pulang sekolah dan pada malam hari—jika tidak ada tamu—mereka pulang,” kata Yana. Selain itu, sebagian siswi ini juga melayani tamu jika sudah ada janji sebelumnya. “Jadi tidak semuanya ikut nongkrong di tempat pelacuran,” tutur Yana. warkot/tos

Sumber : http://www.surya.co.id

Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota (3).


Lampung Sumatera
"Oo, saya sering diajak pejabat," kata Susan. Gadis berusia 16 tahun asal Kotabumi Sari, Lampung itu bercerita, sejumlah pejabat dari Jakarta atau pejabat setempat mengajaknya masuk kamar hotel.

Siswa salah satu SLTA di Lampung itu, tidak terlalu susah dicari. Ia bisa dihubungi melalui perantara. Gadis manis berkulit putih itu, mengaku selalu mencatat siapa saja yang berhubungan dengannya.

"Nama dan nomor teleponnya saya catat. Semuanya saya simpan baik-baik. Mungkin suatu waktu saya butuh dia. Mungkin bisa membantu saya mendapatkan pekerjaan, " katanya. Menurutnya dengan membuka catatan itu, Susan bisa mengingat kembali wajah-wajah para pria hidung belang yang pernah bersamanya.

Seperti juga ABG lainnya di Lampung, Susan memasang tarif Rp 100.000 sampai Rp 200.000. "Itu tarif biasa di sini. Untuk pejabat apalah arti uang sebanyak itu," katanya. Para pejabat menurut Susan, tidak sayang uang bisa sudah merasa senang.

"Kalau dia senang, mereka bisa memberikan lebih banyak. Saya pernah sekali main diberi Rp 500 ribu. Biasanya setelah berpisah, saya beri dia nomor handphone saya," ujarnya.

Dengan memberikan nomor itu, Susan kemudian sering dihubungi oleh mereka yang pernah bersamanya, "Jadi saya tidak harus memberikan sebagian penghasilan saya kepada perantara," katanya.

Susan tahu betul cara 'memancing' agar pejabat yang pernah berhubungan dengannya, bisa mengulangnya kembali, "Saya selalu mengatakan jarang berhubungan badan. Juga dengan memujinya bahwa dia pria yang luar biasa," tuturnya.

Karena sudah terbiasa 'menjalin cinta' dengan pejabat, Susan jarang berhubungan dengan orang biasa, "Kalaupun ada, saya pilih mereka yang masih muda. Tapi jarang sekali," katanya. Mereka yang masih muda, biasanya sangat pelit. Tarif yang sudah diberikan sering kali ditawar rendah. Bahkan kadang-kadang merayu mengajak pacaran.

"Bila sudah dilayani, dia minta gratis," ujarnya. Para anak muda menurut Susan, juga sering kali menawarkan obat-obatan untuk mabuk.

Di Bandarlampung terdapat beberapa tempat mangkal para gadis ABG seperti pusat perbelanjaan Tanjungkarang Plaza-Artomoro Jl Kartini, Kafetaria King Super Market Tanjungkarang lantai dasar, Kafe King Supermarket Jl Raden Inten, beberapa diskotek seperti Tower, Swisspub, Santana.

Ayu, 18 tahun, seorang gadis ABG di Casablanca bercerita, ia bisa dibawa tanpa bayar, "Itu kalau saya suka, diajak nonton atau makan juga jadi," katanya.

Tapi kalau yang mengajaknya om-om senang, bandot tua, atau tampang pejabat dia pasang tarif agak tinggi, apalagi sampai nginap beberapa hari. Menurut pengakuan Ayu, asal Palembang ini, dia pernah di-booking pejabat yang menjadi pimpro selama beberapa hari.

"Saya dibayar cukup besar," ujarnya. Karena itu, setiap bertemu 'tamu' Ayu selalu menawarkan diri agar diajak beberapa hari.

"Kalau mereka nginap beberapa hari di Lampung, ya saya juga diajak," ujarnya. Sistem booking beberapa hari, sangat menguntungkan karena tidak perlu lagi mencari mangsa lain. "Juga tidak terlalu capek. Kan tidak setiap malam harus main. Biasanya cuma cium-ciuman atau berangkulan dan menemaninya tidur," ujarnya.

ABG ini juga mengaku punya langganan mulai pejabat PNS, aparat keamanan, mahasiswa, hingga wartawan.

"Mereka semua baik-baik. Uangnya juga lancar. Beberapa dari mereka menjadi pacar saya," katanya. Dengan mempunyai pelanggan seperti itu, Ayu tidak terlalu takut terkena penyakit. "Saya tahu mereka bukan orang sembarangan, pasti jauh dari penyakit," ujarnya.

Menurut Ayu, jika ada bos-bos atau pejabat yang cinta berat sama anak-anak ABG yang cantik, kadang-kadang dipelihara sebagai istri simpanan atau istri gelap.

Mereka dicarikan kontrakan kamar atau disewakan rumah tinggal. Ada di antara mereka yang melahirkan dan punya anak. Namun, umumnya cewek-cewek ABG yang telanjur hamil di luar nikah, biasanya bayinya diserahkan ke pihak rumah sakit atau dijual pada orang yang mau mengurusnya.

Seperti Linda, 17 tahun, misalnya terpaksa drop out dari sekolahnya sebuah SMU swasta, gara-gara dia pacaran kelewat batas lalu hamil dengan pacarnya, memilih pintas terjun ke dunia pelacuran.

Sekarang dia menjadi istri gelap seorang pejabat dari Jakarta, "Bila dia tidak ada, saya main di diskotek, mencari teman kencan. Saya tidak tahu persis dia tahu atau tidak," ujar Linda. Sebagai istri gelap yang tidak pernah dinikahi, dia tidak takut seandainya sang suami meninggalkannya.

Mereka rata-rata anak-anak sekolah dari desa yang merantau ke ibu kota Provinsi Lampung. Sampai saat ini, orang tua Linda belum mengetahui pekerjaan anaknya, "Mereka menyangka saya masih bersekolah," katanya.

Ada juga gadis ABG yang sekolahnya berantakan terpaksa jadi penjaja seks karena kesulitan ekonomi, misalnya orang tuanya terkena PHK. Anak-anak ini juga sengaja disuruh orang tuanya dengan alasan membantu biaya adik-adik yang masih sekolah.

Pelacur ABG di Lampung umumnya tinggal indekos dalam satu rumah yang disewa beberapa orang secara patungan. Umumnya mereka tinggal dekat dengan tempatnya mangkal.

Misalnya kalau sering mangkal di diskotek kawasan Jl Yos Sudarso mereka tinggal di daerah Panjang atau Telukbetung. Kalau mereka mangkal di Tanjungkarang seperti Artomoro dan King Super Market, mereka tinggal sekitar Jl Raden Intan atau Jl RA Kartini atau di kawasan Enggal dan Kelurahan Pelita.

Kalau ABG yang masih sekolah atau kuliah, biasanya mencari mancari mangsa di diskotek cari. Para gadis remaja itu, hampir setiap malam terutama malam minggu memenuhi ruang diskotek di Lampung. Mereka yang nongkrong di diskotek biasanya selalu minta dibelikan ekstasi.

Bahkan ABG-ABG ini juga ada yang menjadi korban obat-obatan terlarang seperti ekstasi, sabu-sabu, atau putaw. Sudah ada beberapa korban yang tewas karena menenggak obat-obatan terlarang melebihi dosis. Misalnya pesta obat terlarang di sebah motel melati Jl Soekarno-Hatta tahun lalu, dua cowok dan satu cewek terkapar dan sekarat, namun jiwanya tertolong setelah berhasil dibawa ke rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Kemudian ada seorang anak gadis pelajar tewas di sebuah hotel berbintang setelah menenggak obat terlarang dengan pasangannya.

Cirebon Jawa Barat
PEONG. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Cirebon. Seperti juga di sejumlah kota lainnya, mereka biasanya keluyuran malam di diskotek. Di Kota Udang itu, mereka lebih suka di diskotek di New Land Grand Hotel Cirebon.

Di antara irama musik yang berdentum keras, seorang gadis mengenakan celana biru ketat, dengan T-shirt warna putih yang juga ketat, sendirian, bergerak lincah mengundang perhatian. ''Kalau Mas berminat, nanti akan saya hubungkan,'' bisik seorang pramuria yang berdiri sebelah meja menawarkan jasa (bukan hanya sekali) sambil juga menawari tambahan minuman. Mungkin lantaran dijawab beberapa kali nanti saja, akhirnya sang pramuria 'nekat' memanggil sang cewek tadi. ''Kristin,'' ujarnya singkat sembari mengulurkan tangan.

Kristin, cewek ABG berusia 17 tahun, kulit kuning langsat bermata agak sipit mirip amoy, mengaku asal Cirebon. Aroma alkohol menyeruak lewat mulutnya. Sekali-sekali, ia terbatuk, katanya sedang pilek. "Tidak sering, sih, yang pasti kalau malam Minggu saya ke sini," tuturnya.
Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Merasa frustrasi dengan mantan pacarnya yang setelah 'menghisap madunya', pergi entah ke mana. "Aku tak tahu ia kini ada di mana. Buat apa mikiran yang sudah lewat. Bikin pusing.'' Sementara anak hasil kumpul kebonya diadopsikan kepada keluarga tak berketurunan yang tinggal di Kuningan. Kadang-kasdang saja Kristin menengok Doni--nama anak berumur 1,5 tahun.

Orang tuanya pensiunan militer yang bekerja di perusahaan ekspor-import yang saat ini sudah bangkrut. ''Usaha apa sih yang tidak terpengaruh,'' ujar Kristin sambil membandingkan diskotek itu yang sesudah krisis jumlah pengunjungnya turun hingga 50%.

"Lihat tuh, banyak kursi yang kosong,'' tuturnya menunjuk meja sekeliling.

Kristin tak berterus terang asal sekolahnya, ''Kok tanya detail banget, sih,'' katanya.

Sebagai peong ABG, ia biasa di-booking dengan tarif antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Itu kalau short time. Bila menginap, bayarannya Rp 500.000 yang kemudian dipotong buat tip 'broker' berkisar Rp 50.000 sampai Rp 75.000.

Kristin, yang kandas di kelas dua SMU, sebenarnya lebih memilih 'solo karier' ketimbang terikat seorang germo. ''Repot amat, lagian mereka suka memeras.'' Tiba-tiba Kristin menyelinap pamitan, lantaran HP-nya ada yang menghubungi. Ketika ditanyakan apa ada yang booking, ia cuma nyengir.

Tepat pukul 02.30 lampu di ruangan diskotek dengan uang masuk Rp 12.500 itu tiba-tiba menyala terang, berbarengan dengan berhentinya dentuman musik yang berkesinambungan itu. ''Bagaimana Mas, jadi booking nggak nih?'' rajuk Kristin berbisik. ''Gampang aja Kris, toh nomor HP-mu sudah tercatat. Kapan-kapan saja.''

Di halaman diskotek, terlihat dari lobi Kristin yang kali ini ditemani rekan seprofesinya tengah negosiasi dengan dua orang lelaki. Sejurus kemudian keempatnya beringsut dengan mobil sedan entah ke mana.

Seperti juga di berbagai kota lain, pelacur ABG di Kota Cirebon belakangan marak. Mereka bisa ditemui selain di New Land Grand, juga di alun-alun yang masih sejalur di Jl Siliwangi.

Mereka juga biasa mangkal di Grage Mall di Jl Dr Sucipto. Di diskotek lain semisal di Mitas Grand Hotel di Jl Tuvarep. ''Dulunya yang rame di Mitas, tetapi sekarang kalah pamor dengan New Land Grand,'' tutur seorang pengunjung.

Dua ABG pria yang menjadi germo sejumlah ABG di Cirebon menceritakan bahwa jaringan pelacur ABG di daerah itu cukup rapi.

"Jangan takut, pasti aman berhubungan dengan mereka. Kalau yang di Bandung ceweknya cakep-cakep, di sini juga tidak kalah cakep-nya'' tutur Andre New Land Grand Hotel. Ia didampingi germo lainnya, Danu seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Dalam catatan Andre, jumlah pelacur ABG di Cirebon mencapai 50 orang. Mereka berasal dari beberapa SMU setempat. Antara lain SMU yang terletak di Jl Panjaitan, di Jl Pangeran Drajat. Ada juga beberapa mahasiswi. ''Tapi yang paling banyak anak dari SMU di Jl Panjaitan,'' tutur Andre.

Menurut Danu, para pelacur ABG tidak semata-mata mencari uang. Ada kalanya sekadar mencari kepuasan dan yang jenis ini kalau di-booking asal diberi pil ekstasi atau pil setan dan sejenisnya sudah bisa diajak 'masuk kamar'.

Menurut pengamatan mahasiswa bertubuh sedang ini, latar belakang mengapa mereka terjerumus ke lembah nista itu berbagai macam. Tapi yang umum sekaligus klasik lantaran broken home dan kurang perhatian orang tua. Orang tua bercerai, suka cekcok, jarang di rumah. Kira-kira seringnya begitulah.

Untuk menghindari kehamilan, masih menurut Danu, biasanya para peong demikian mereka disebut di Cirebon, menggunakan genaelosit atau cumbrit. Keduanya bisa diperoleh di toko-toko obat.

Menurutnya, yang disebut pertama, bila ingin yang ampuh, mintalah yang kemasannya boks kertas, jangan plastik. Isinya dua butir, harga per butir Rp 15.000. Genaelosit bisa mencegah kehamilan sampai dua bulan. ''Habis dua bulan, ya harus minum lagi,'' ujar Danu seperti sedang memberi nasihat.

Menurutnya, para ABG yang mangkal di alun-alun umumnya yang kelas 'krotak' atau bawah. Hal itu dibenarkan Andre, ''Aku nggak kenal dengan cewek-cewek yang di sana.'' Andre menyebut beberapa nama pelacur ABG papan atas yakni Emi, Devi, Susan, serta Puput yang menjadi primadona di antara mereka.

Tapi Puput adalah yang paling cantik. Ia mengaku sering dibawa keluar kota oleh pelanggannya. "Saya baru saja dari Bandung," katanya. Di luar kota, bila berpisah dengan pembawanya, ia sering kali menggaet pelanggan lain.

Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang diketahui persis liku-likunya oleh Puput, "Tapi Bandung yang paling saya kuasai. Di sana juga banyak teman saya," katanya.

Ia juga tidak keberatan bila dibawa ke Jakarta, atau ke tempat lainnya seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. "Pokoknya bayarannya sesuai, saya akan ikut," ujarnya

Padang Sumatera
"SIAPA bilang di Padang tidak ada pelacur ABG. Gampang kok mendapatkannya di Minang Plaza," kata seorang ABG ketika diajak kencan seorang pengusaha muda. Ia Menceritakan, setiap kali ingin berkencan dengan gadis ABG, dia selalu mencarinya ke tempat itu. Karena di situlah tempat mereka pasang aksi.

Ketika menceritakan pengalaman kencannya dengan anak muda berkantong tebal yang digaetnya di sebuah wartel kompleks pusat perbelanjaan di kawasan Air Tawar, Fivi, 16 tahun, mengaku ditraktir makan lalu diajak puter-puter memilih celana jins. "Karena dia baik saya nggak nolak waktu diajak bobok bareng di penginapan dekat Pantai Bungus," katanya sambil cekikikan.

Kalau tahu caranya, tidak terlalu sulit memang. Karena pusat perbelanjaan megah di jantung Kota Padang itu terletak dekat dengan rumah indekos para pelajar SMU maupun mahasiswi sejumlah kampus perguruan tinggi negeri dan swasta.

Sehingga sangat strategis dijadikan tempat berkumpulnya para ABG yang ingin cuci mata sekaligus bursa bagi yang mau cara mangsa. Apalagi di lantai atas gedung tersebut ada Music Room MP yang selalu ramai dikunjungi para ABG maupun para lelaki hidung belang.

Di lantai bawah ada sebuah wartel dan kafe yang selalu dipenuhi ABG. Dengan sedikit kerdipan mata para ABG yang rata-rata berwajah lumayan (maklum mereka mengaku pelajar dan mahasiswa) itu akan tersenyum. Lalu boleh pilih.

Selain Fivi, banyak ABG lain yang mengaku menjalani profesi penjaja seks karena terpaksa untuk menutupi biaya sekolah atau biaya kuliah. Namun tak sedikit pula yang menggeluti dunia esek-esek itu akibat terjerat obat-obatan terlarang.

Shanti, 16 tahun, mengaku terjerat narkotik ketika masih bersekolah di SMU di Pekanbaru. Ketika dipindahkan ke sebuah sekolah swasta di Padang, orang tuanya yang bekerja di perusahan minyak berharap Shanti bisa menjadi anak baik dan menjauhi narkotik serta obat terlarang.

Namun celakanya, di sekolah swasta dekat kawasan Air Tawar itu dia malah berteman dengan anak-anak pecandu sabu-sabu. Di rumah indekosnya seputaran Ulak Karang, mereka sering pesta narkoba.

Bila malam Minggu, waktunya lebih banyak dihabiskan di music room terkenal dekat daerah Pelabuhan Teluk Bayur. Di tempat ini pengunjungnya ramai, dan tak pernah dijamah razia, kata Shanti. Kalau mau triping atau teler tak ada yang peduli.

"Biasanya pria yang saya suka, tidak menolak kalau diajak on. Bila sudah triping badan ini enteng. Sehingga kalau dia yang ngajak tidur sesudah itu, saya tidak menolak, asal dia mau memberi sedikit uang jajan," tutur Shanti.

Dia mengaku pernah diberi amplop berisi sepuluh lembar Rp 50 ribuan oleh seorang pengusaha mobil.

Kisah Rina, 17 tahun, lain lagi. Gadis baru gede berwajah imut-imut ini mengaku terperangkap perbuatan maksiat karena diajari pacarnya, Dody, mahasiswa sebuah PTS di kawasan Khatib Sulaiman, Padang. Bencana itu berawal ketika dia dipacari Dody yang ternyata pecandu sabu-sabu.

"Mulanya Dody menyuruh saya mencoba sedikit. Semula saya tolak. Tapi karena terus dirayunya. Saya coba juga, ee, lama-lama saya jadi ketagihan. Akhirnya tiada hari kami lalui tanpa barang itu yang kemudian selalu berlanjut dengan hubungan badan," tutur Rina.

Sewaktu hubungan Rina retak dengan Dody, akibat sang kekasih mendapatkan 'mainan' baru, Rina sangat terpukul. Bukan karena ditinggal Dody, tapi karena kesulitan mendapatkan 'barang' yang selama ini disediakan sang pacar.

Karena ketagihan sabu-sabu semakin menjadi-jadi, sementara uang tidak punya, tak ada jalan lain saya terpaksa menjual diri. "Keputusan pahit ini terpaksa saya ambil. Karena kalau sedang sakaw obatnya cuma itu. Bila tidak dapat saya bisa gila," ujar Rina.

Dengan wajah cantik, kulit kuning langsat dan rambut sebahu, tak terlalu sulit bagi Rina mencari mangsa yang berduit. Dalam melakukan negosiasi biasanya Rina hanya mau diajak kencan ke hotel-hotel berbintang. Sebab kencan di hotel melati mengandung risiko bisa ditangkap tim razia Satpol Pamong Praja Padang.

"Dalam seminggu saya bisa mendapat uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Jadi cukuplah untuk kebutuhan membeli shabu atau putaw seharga Rp 200.000 per minggu," ujarnya.

Karena mengaku kepalang basah, Rina kemudian melengkapi diri dengan handphone. Padahal sebelumnya dia cuma beroperasi menggaet mangsa dengan nampang pada sebuah wartel di Jl Pondok.

Kalau lagi apes, tak jarang dia juga aktif mengontak relasinya lewat wartel. Jika harga cocok Rina tinggal menunggu untuk disamperin di pintu wartel.

Miranda, 17 tahun, lain lagi kisahnya. Pelajar sekolah menengah di bilangan Jl Sudirman itu, tidak terlalu sulit dijumpai sepulang jam sekolah.

Ketika diajak ke sebuah kafe dekat Pantai Padang, gadis manis yang suka dipanggil Mira ini mau berkisah dengan syarat identitas aslinya dirahasiakan.

Dengan lepas Mira mengaku ternyata mencari uang itu tidak susah. Sebagai pelajar merangkap penjaja seks untuk kelas terhormat (maksudnya kelas menangah) dia bisa memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus menunggu kiriman dari orang tuanya yang menjadi toke getah di Jambi.

Dengan penampilan biasa-biasa saja, sepintas Mira tak berbeda dengan temannya yang lain. Kalau kencan sehabis jam sekolah, dia selalu minta diantarkan ke sebuah tempat sebelum pukul 18.00 agar tidak dicurigai ibu kosnya.

Bila malam Minggu, dia agak bebas keluar. Kesempatan ini selalu dimanfaatkannya untuk kencan menjelang tengah malam. Dia mengaku tidak menentukan tarif, karena tujuannya untuk bersenang-senang. "Kalau habis tidur dikasih Rp 100 ribu atau Rp 250 ribu saya terima saja. Asal yang mengajak pria berpenampilan perlente," katanya.

Sumatra Barat yang dikenal sebagai daerah yang memiliki adat dan agama kuat, suasana kehidupan kaum remaja di Kota Padang ternyata tak lepas dari pengaruh kehidupan kota besar, seperti Medan dan Jakarta. Meski kalangan orang tua dan pendidik cenderung menutup-nutupinya, bisa dipastikan puluhan remaja ABG di Padang sudah jadi penganut seks bebas.

Pekanbaru Sumatra
Mendongkrak Tarif dengan 'Handphone'
GELAK tawa Sari berderai sembari menempelkan telepon genggamnya di kuping sebelah kanan. Gadis ABG berusia 17 tahun dan memiliki body tinggi langsing itu terus berkomunikasi dengan sekali-sekali matanya menggoda pria yang melewatinya di lantai V Senapelan Plaza, Pekanbaru.

Sari yang tidak tamat SMU itu mengaku ketagihan dengan pil gila 'inex'. Karena itu tidak jarang dia mau saja diajak ke mana saja jika ada yang mau memberikan sebutir. ''Harganya mahal, saya nggak tahan jika sehari saja nggak nekan (triping-red),'' kata remaja berlesung pipit itu sambil terus memencet sejumlah angka di handphone-nya.

Menurut Sari, dirinya terjerembab di dunia sesat itu baru satu tahun. Akibat pergaulan bebas, sekolahnya pun menjadi korban. Semula dia termasuk anak yang pendiam, baik itu di rumah maupun di sekolah. Tapi setelah mulai mengenal cinta dengan seorang mahasiswa, dia sering diajak ke diskotek. Mulailah dirinya mengenal apa itu house music serta pil setan.

Malang baginya, karena ketagihan pil inex, tubuhnya mau saja diobok-obok oleh sang pacar. ''Saat itu semuanya telah saya serahkan kepada dia. Tapi setelah dia puas malah dia menggandeng cewek lain di depan mata saya sendiri,'' sungut ABG yang mengaku pernah berjilbab saat masih sekolah.

Entah pelarian atau ketagihan namanya, Sari bertambah larut dengan berbagai jenis obat yang diakuinya bisa menghilangkan semua masalahnya. Sementara untuk terus melanjutkan sekolah dirinya merasa tidak mood lagi. ''Tapi di sini yang mangkal di plaza banyak juga anak sekolah, malah ada yang masih SMP,'' ujar Sari.

Dengan wajah tertunduk Sari mengakui jika ditanya soal tarif bisa mencapai Rp 250 ribu hingga 300 ribu. ''Lumayanlah bisa untuk bayar rekening handphone dan beli inex,'' ujar cewek hitam manis yang mengaku tinggal di kawasan Pintu Angin, Jalan Sultan Syarif Qasyim.

Malah gadis yang pernah bercita-cita menjadi peragawati ini mengakui dengan menggenggam handphone bisa menaikkan tarif karena terasa lebih percaya diri dan terkesan kelas tinggi dalam menggaet pria berduit.

Diakuinya, tarif itu tidak mutlak. Ada juga pria yang disukainya, tanpa tarif dia langsung ke hotel. ''Saya punya pacar lagi Mas, dia sering membagi pil. Untuk satu pil saja saya mau diajak ke mana saja,'' katanya. Hebatnya, pacar Sari tidak pernah cemburu, di saat Sari di-booking salah seorang pria. Bahkan Andi, pacar Sari, siap mencarikan mangsa untuk Sari.

''Saya kurang suka dengan anak sekolah, karena banyak yang kere. Saya suka laki-laki yang agak mapan. Itu bisa terlihat dari penampilannya. Apalagi di kota ini banyak pengusaha yang berhasil,'' ujar Sari yang baru setahun mengenali dunia semipelacuran ini.

Tarif ABG yang lebih dikenal dengan istilah 'lontong' di Pekanbaru memang tergolong mahal. Untuk mendapatkan 'daun muda' itu bisa merogoh kocek minimal Rp 500 ribu. Tapi jika sudah berlangganan, terkadang bisa saja dengan sebutir inex dapat pelayanan gratis di penginapan.

Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di pusat pertokoan, seperti Matahari Plaza dan Senapelan Plaza. Apalagi Diskotek Orion, Senapelan Plaza di Jalan Teuku Umar buka siang pada Sabtu, dan Minggu.

Fenomena keberadaan ABG di pusat pertokoan sudah menjadi rahasia umum. Seperti di pusat pertokoan Matahari Plaza, Jl Pepaya, dengan berpakaian sedikit mencolok dan bergerombol mereka 'mejeng' seperti sedang menunggu seseorang.

Pada umumnya alasan mereka lebih menyukai plaza sebagai tempat mangkal antara lain dengan gampang ngajak shopping bila ada bos-bos yang ingin mem-booking.

Pada Sabtu dan Minggu mereka bergerombol mejeng di setiap lantai di Matahari Plaza. Dari cara berpakaian jelas kentara, antara lain T-shirt serta celana jins ketat hingga menampakkan perut dan sepatu berhak tinggi sambil menggenggam handphone.

Hari Sabtu, pemandangan di lantai V di Senapelan lebih hidup, karena ABG berkeliaran menunggu tawaran untuk naik ke atas (diskotek).

''Pada umumnya para ABG yang berkeliaran menunggu tawaran masuk ke diskotek adalah ABG kurang mampu. Mereka mau saja diraba-raba, asal ada yang mengajak naik ke atas,'' ujar Yudhi, salah seorang makelar ABG di lokasi tersebut. Tapi ABG yang nongkrong di plaza-plaza biasanya sudah memiliki langganan tetap.

ABG itu, lanjut Yudhi, sesampai di dalam diskotek akan melepaskan diri dari pembawanya. "Biasanya, para ABG seperti itu, lebih suka nongkrong di diskotek daripada diajak keluar. Jika ingin mengajak keluar, tunggu hingga dia 'on','' bisik pria yang mengaku hidup dari kelincahan menawarkan ABG.

Yudhi juga mengatakan bahwa tidak semua ABG yang mangkal mengintai mangsa dengan lagak sedikit mencuri perhatian. Ada juga sambil bermain video game.

Mereka dengan tertawa lepas bermain seperti anak-anak lainnya. ''Tapi itu sudah pasti ABG yang memiliki langganan, jadi nggak perlu lagi mencari,'' kata Yudhi.

Irna, salah seorang ABG yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMU swasta di Pekanbaru. Dia paling suka berjingkrak-jingkrak di tengah ingar-bingar musik diskotek. Karena itu setiap Sabtu, sepulang sekolah, Irna dan teman-temannya yang membawa pakaian ganti di tasnya langsung menuju Orion House Music di Senapelan Plaza.

Mereka tak mau disamakan dengan para 'lontong' yang siap melayani di penginapan ataupun hotel. Tetapi jika mereka mendapatkan pasangan yang membuat 'syur' di lantai diskotek, mereka rela diraba-raba, tapi dengan imbalan cukup setengah butir inex.

''Jangan samakan kami dengan lontong-lontong itu, kami tetap menjaga yang satu itu. Kalau hamil, bisa berabe hidup saya,'' cetus Irna, sambil menggoyang-goyang kepalanya.

Berbeda dengan Irna, rekannya Yuyun, 17, malah dengan menantang dirinya pernah di-booking laki-laki. Dengan alasan belajar bersama di rumah teman, Yuyun ternyata belajar di arena diskotek sambil 'triping'. ''Tapi yang mem-booking harus melalui seleksi, saya nggak mau yang gaek (tua). Pokoknya senang sama senang, saya nggak mikiran soal tarif, yang penting ada inex, gampanglah itu,'' ujar Yuyun.

Yuyun berterus terang bahwa dirinya kecandungan obat terlarang melalui salah seorang temannya. Sedangkan keperawanannya memang sudah amblas saat duduk di bangku kelas III SMP. Karena itu dia tidak lagi berpikir panjang untuk terjun ke bisnis esek-esek. ''Tapi saya bukan mencari uang, yang penting happy,'' tutur ABG yang mengaku asli Riau.

Bandung Jawa Barat
'Kang, Bagaimana kalau Kita ke Atas'
MASIH mengenakan pakaian seragam sekolah putih abu-abu, Lusi berdiri di dekat lampu pengatur lalu lintas di Jl Asia Afrika, Bandung. Ia akan segera mendekat bila ada di antara antrean mobil yang membunyikan klakson atau memberi isyarat dengan lampu.

Seperti sudah biasa, ia menarik pembuka pintu dan duduk di samping pengemudi, "Mau diajak ke mana, Kang," katanya. Itu adalah kalimat pembuka setiap dia masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu jawaban, ia akan menyambung, "Ke plaza dulu ya."

Di salah satu pusat pertokoan yang berada di alun-alun, Lusi langsung menyelinap ke counter pakaian wanita. Ia mengambil sebuah T-shirt. Setelah itu, dia mengatakan, "Bagaimana kalau kita ke atas." Maksudnya ia mengajak ke daerah Lembang.

Lusi menceritakan, ia sudah biasa berkencan di Lembang, "Di sana banyak hotel. Lagi pula lebih aman, nggak ada yang lihat," katanya. Ia menyebut sejumlah hotel di Lembang. Antara lain Gumilang Sari, Panorama, Putri Gunung, Telaga Sari, Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.

Lusi seperti sudah terbiasa ke sejumlah hotel itu. Dia bercerita, kalau tamu dari luar kota, biasanya membawanya ke sebuah hotel yang lokasinya agak tersembunyi di kaki gunung, "Tapi pukul 10 malam, saya sudah minta diantar pulang," katanya.

Di hotel mana pun dia berkencan, tidak pernah menginap karena takut dicurigai orang tuanya. Bila terlambat pulang, ia selalu beralasan pergi main ke rumah temannya. Dan orang tuanya percaya.

Lusi, siswa sebuah SLTA cukup ternama di Kota Bandung itu, mengaku tidak setiap hari mencari 'mangsa'. "Kalau lagi iseng saja," katanya. Dia memasang tarif Rp 200 ribu untuk sekali kencan.
Lain lagi cerita Yanti. Mahasiswa semester pertama sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia biasa berkeliaran di Cihampelas, "Sambil jalan-jalan lihat pakaian, biasanya ada yang ngajak," kata gadis hitam manis itu.

Ia sebetulnya ada dalam 'jaringan' wanita terorganisasi di Bandung. Bila ada yang membutuhkan, dia biasa dihubungi oleh teman prianya yang mempunyai hubungan dengan karyawan sebuah hotel, "Saya biasa menemani tamu hotel yang rapat," katanya.

Gadis asal Tasikmalaya itu, biasanya di-booking ke hotel terkenal di Lembang, "Melayani para bos," katanya. Yanti memasang tarif juga Rp 200 ribu. Tapi bila melayani orang rapat, sering kali mendapat tips yang cukup besar.

Yanti terjun ke dunia prostitusi ketika masih kelas dua SLTA di Bandung. Ia tergoda oleh ajakan teman-temannya, "Mereka sering memperlihatkan uang bergupel-gumpel. Pakaiannya juga bagus-bagus," katanya.

Pertama kali Yanti ikut 'mejeng' bersama temannya di sekitar alun-alun. Ketika itu dia memperhatikan betul gaya temannya memancing perhatian pria. Dia pun mencoba-coba dan tergaet seorang pria dari Jakarta yang usianya sekitar 35 tahun.

"Itu pertama kali saya dibawa ke hotel. Rasanya takut juga sih. Tapi karena pria itu ganteng, saya jadi suka," katanya. Saat itu ia memang sudah tidak perawan lagi, karena sudah berkali-kali berhubungan dengan pacarnya.

Dengan pria yang pertama kali membawanya ke hotel itu, ia sempat menjalin asmara selama beberapa bulan. Setiap pria tersebut datang ke Bandung, selalu mengontak Yanti untuk menemaninya. Tapi lama-lama ia jarang muncul bahkan tidak pernah muncul sama sekali, "Sudah tidak pernah lagi jumpa dia," ujarnya.

Yanti tidak sendiri mencari 'mangsa' di Cihampelas. Di pasar jins terkenal di Bandung itu, menurut Yanti terdapat sejumlah ABG yang pura-pura belanja. Ciri-cirinya tidak terlalu sulit dikenali, biasanya mereka keluar masuk toko tanpa membeli apa pun, dan suka berlama-lama melihat pakaian bila ada pria yang diincar.

Para ABG di Cihampelas itu, oleh tamu biasanya dibawa ke hotel yang membuka short time, seperti Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante. Juga sejumlah penginapan yang berada sepanjang Jl Pasir Kaliki sampai Lembang.

Di Bandung ada juga gadis ABG yang berkeliaran di diskotek. Mereka bisa dijumpai pasang aksi di Jl Braga. Kepada pria yang mendekatinya, langsung diajak ke diskotek.

"Sebutir dua butir juga jadi," kata Rina. Maksudnya ia bersedia diajak melakukan apa pun bila diberikan ekstasi.

Bila diberikan pil yang satu itu, pelajar kelas tiga SLTA itu, tidak pernah memilih-milih pria yang mengajaknya berkencan, "Tempat chek in banyak di sini," katanya.

Di tempat-tempat terbuka alias umum, tanpa rasa canggung dan malu, biasa dijumpai wanita yang 'menjajakan' diri.

"Hai, mau ke mana? Mau ngamar nggak?" begitu pertanyaan yang meluncur dari mulut-mulut bergincu merah bak tanpa perasaan berdosa. Pelacur yang bergaya vulgar macam begitu bisa ditemui di Alun-alun Bandung dan sekitarnya, meliputi Jalan Asia Afrika, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Sudirman, Otto Iskandinata, Banceuy, dan ABC.

Tak sedikit di antara mereka yang tergolong ABG alias anak baru gede. Hanya saja kawasan pusat kota ini lebih banyak 'dikuasai' perempuan dewasa yang juga mengaku ABG. "Cari ABG? ABG yang mana? Atas Bawah Gondrong?" kata wanita yang mengaku bernama Ani diiringi cekikikan.

Di Bandung, trennya memang para ABG 'asli' lebih banyak mejeng di pusat-pusat perbelanjaan seperti Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka, dekat Balai Kota. Atau di Jalan Juanda atau Dago, terutama di sekitar pasar swalayan Superindo dan Plaza Dago.

Sedangkan yang tergolong masih dekat dengan Alun-alun Bandung, para ABG banyak bergerombol di King Shopping Center Jalan Kepatihan dan Diskotek LA di Jalan Asia Afrika.

Sudah menjadi rahasia umum kalau para ABG itu 'bisa dipakai' siapa saja. Berbeda dengan para senior mereka, para ABG ini kebanyakan tidak menawarkan diri dan menolak cara-cara vulgar. Bahkan umumnya langsung menolak kalau diajak secara langsung untuk transaksi seks.

"Sorry, kita bukan perempuan begituan," begitulah jawabannya kalau ada pria yang, menurut ukuran mereka, nggak tahu 'sopan santun'.

'Jalan-jalan, 'Beliin' Baju, Oke'

MEREKA sangat membenci pria yang tidak mengenal sopan santun. Seperti yang dituturkan Yuni, yang mengaku masih sekolah di SLTP, "Sebel deh sama cowok kayak gitu. Padahal kalau dia bisa baik-baikin kita, kalau udah waktunya, ntar juga dikasih."

Memang para ABG Bandung umumnya tidak mau disebut pelacur. "Kan kita nggak dibayar dan kalaupun saya mau ngelakuin begituan, kan bukan karena bayarannya tetapi memang karena saya suka," jelas Yuni yang mengungkapkan dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis.

"Kalau dia ngajak kita jalan-jalan, lalu jajan, lalu beliin baju, atau ngasih hadiah apa gitu, ya oke. Itu kan karena dia mampu," tegas Yuni. "Nggak pake begituan juga, kalau saya suka, dia nunjukin perhatian, orangnya enakan, saya kasih juga."

Para ABG yang biasa hidup dalam pergaulan bebas tanpa batas ini umumnya merasa kesepian karena kurang perhatian keluarga. Umumnya juga bukan dari keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. "Mami sama Papi pada sibuk semua," kata remaja sebuah SMU yang mengaku bernama Lia. "Kita sih nggak mau banyak mikir. Pokoknya kalau masih bisa hidup senang-senang begini, ya kita lakuin," katanya soal 'pelariannya' ini.

Meskipun umumnya tidak mau disebut pelacur karena mengaku tidak pernah pasang tarif, tetapi pada prakteknya banyak lelaki hidung belang yang kena batunya. Paling tidak itulah pengakuan Iis, mengaku siswi SMU BPI, ketika menceritakan pernah ngerjain om-om yang mendekati dirinya.

"Sesudah dapat traktiran makan dan minum, Iis mengajak dia masuk ke Yogya (Departement store BIP). Dia mau saja dan membayar setelan baju yang lumayan mahal. Kira-kira bajunya ama bawahan (rok) aja, Rp 300 ribu," jelas Iis. Dan Iis tentu saja pada malam Minggu itu harus mau melayani hasrat om itu di hotel sampai pagi. "Mama Papa nggak tahu kalau Iis udah biasa hubungan suami istri. Dan kalau kita pulang pagi, Mama Papa pikir kita cuma ke disko aja," kata Iis.

Bayaran Rp 300 ribu itu buat Iis memang bukan harga mati. Karena menurut dia pernah juga ada yang 'kebagian jatah' meskipun cuma mentraktir makan dan minum saja. "Pernah habis tripping, terus pas mau pulang pukul dua pagi, pas nunggu taksi disamperin cowok. Katanya, mau bareng nggak? Ya mau aja," kisah Iis.

"Lantas dia mengajak makan. Habis itu dia bilang cari hotel yuk. Berhubung saya juga lagi kepengen, ya udah jadi saja," kata Iis yang mengaku tidak pernah minta bayaran. "Cowok itu nggak bayar saya, cuma nganterin pulang pakai taksi," lanjutnya.

Buat Iis dan beberapa temannya, 'aturan main' yang seperti itu menunjukkan komitmen mereka untuk benar-benar tidak mau disebut pelacur. Meskipun sudah berusaha menunjukkan perbedaan dan posisi sekuat itu tetap saja masyarakat dan termasuk juga para 'pemakai jasa' mereka menganggap para ABG itu sebagai perempuan sewaan alias pelacur. Bahkan boleh dibilang pelacur gres dengan tarif murah.

Di kalangan lelaki hidung belang umumnya tersebar cerita bahwa dengan cuma punya uang Rp 30 ribu rupiah di kantong, para pria iseng bisa menikmati layanan seks kelas satu yang 'dingin-dingin empuk'. Dan mengenai murahnya tarif pelacur ABG itu diakui juga oleh Dian yang ditemui saat mejeng di Jalan Juanda.

"Gampang, kok Mas, asal bisa ngajak ngobrol mereka, ya sambil nraktir dong, kalau Mas mau mereka juga mau kok," kata Dian menunjuk ke arah teman-teman seusianya yang tengah bercengkerama di depan Swalayan Superindo. "Yang penting, sama-sama suka," tegasnya.

Berdasarkan cerita Dian, para lelaki hidung belang paling-paling harus menambah biaya sewa kamar hotel kelas melati. Hotel-hotel di kawasan Jalan Setiabudi dan Jalan Raya Lembang umumnya diketahui memberikan layanan atau tarif khusus kepada pasangan bukan suami istri ini. Misalnya, Hotel Giri Elok dan Gumilang Sari.

"Kalau di Jalan Dago, kita bisa pakai Hotel Buah Dua," jelas Dian yang tahun ini baru lulus SMU. Menurut Dian, tarif short time hotel-hotel itu umumnya sekitar Rp 35.000.

Dian juga mengatakan umumnya para ABG ini senang dengan pria yang bergaya dan mudah bergaul. "Makanya kalau mau ketaksir sama mereka, pakaian, gaya rambut, parfum, ya harus trendi, kayak mereka gitu," jelas Dian yang mengaku mulai kenal gaya hidup seks bebas itu sejak masuk di kelas I SMU, dua tahun silam.

Cerita Dian soal 'tradisi' ABG 'bebas' ini tak sepenuhnya benar. Paling tidak ada kontroversi dengan pengakuan Nola, murid sebuah SMU di Dago. "Saya cuma mau kencan sama pria yang keren dan berselera tinggi," katanya.

Serupa dengan Dian, Nola memang tak mempermasalahkan tarif kencan, bahkan bisa gratis. "Yang penting mau nraktir di restoran yang kelasnya oke, terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat jalan-jalan," kata Nola yang ceplas-ceplos ini.

Lantas Nola mengakui bahwa untuk menyenangkan dirinya itu tidak jarang seorang lelaki harus mengeluarkan dari koceknya Rp 300 ribu - Rp 500 ribu. "Heran juga, kok mereka nggak keberatan, padahal kalau mau murah juga banyak," kata Nola yang semampai dengan kulit putih mulus ini.

Para ABG yang dapat 'dipakai' ini umumnya mudah dikenali dengan dandanan mereka yang ngetrend dengan baju pendek sehingga kelihatan pinggang dan pusarnya, atau menggunakan rok mini yang modis. Meskipun sama-sama seksi, biasanya sangat berbeda dengan pelacur senior dari cara merias wajah.

Para ABG biasanya tidak tampil terlalu menor atau make up kelewatan tebal. Mereka masih dengan gaya muda ceria. Selain itu para ABG lebih pintar memantas-mantas diri sesuai dengan mode yang lagi in.

Perbedaan lainnya, mereka pun tidak pernah menawar-nawarkan diri, entah karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi alias pe-de, karena umumnya memang cantik alamiah, atau karena memang itu 'kiat' pemasarannya. Yang pasti, para ABG ini biasa bergerombol dan asyik dengan dunia mereka sendiri, sampai ada yang mengajak berkenalan dan berkencan. Saat itulah mereka menjadi sama dengan umumnya wanita bayaran.

Meskipun tarif mereka sering lebih murah, para ABG 'pemuas nafsu' ini lebih nyaman berpraktek ketimbang para senior yang lebih 'profesional'. Para ABG hampir tidak pernah dirazia polisi. Mungkin karena mereka tampak seperti anak-anak kemarin sore yang terkesan masih ceria bermain di pusat keramaian Kota Kembang.

Medan - Sumut
Di Medan, 'Onces' Mengincar 'Tubang'
BRONCES atau onces itu panggilan khusus untuk pelacur ABG di Medan. Di kalangan onces pun memberikan istilah tersendiri pula untuk mangsanya. Tubang (tua bangka) tapi tebal kocek.

Tubang yang istilah umumnya adalah "om senang" incaran para onces, di plaza atau lantai disko. Biasanya tempat yang disenangi remaja Medan adalah Ari King-King di Hotel Dano Toba, atau House Musik di Jl Perdana Medan, dan masih ada beberapa tempat lainnya.

Dentuman musik yang menggema di Ari King-King Discotiq, membawa suasana malam yang semakin dingin itu menjadi hangat. Tiga ABG di salah satu sudut lantai disko asyik terus bergoyang, matanya terus melahap semua pengunjung yang datang. Mereka bergaya meliuk-lukkan tubuhnya agar menjadi perhatian tamu yang baru datang.

Masuk Ari King-King memang harus waspada bagi yang belum biasa, sebab bisa-bisa terjebak dalam kelompok khusus pengguna ekstasi atau shabu. Yang pasti penggemar dua jenis narkoba itu setiap masuk tempat hiburan pasti membawa serta barang tersebut.

Pengunjung yang ingin onces biasanya menghidupkan korek api, pelayan pun datang. Pesan minuman, sekaligus onces. Para onces yang sejak tadi terus mengamati arah hidupnya api geretan, memberi kode pada sang pelayan. Lewat gerak bahasa kepala, meski dalam situasi remang-remang itu si onces mengerti yang mana yang dikehendaki. Malam itu, tiga onces sepertinya sudah terlalu lama bergoyang namun belum ada tawaran. Mata mereka semakin liar. Sebab malam sudah semakin larut.

Begitu menerima kode dari sang pelayan, mereka serentak memandang. Ternyata yang tinggi semampai berjins ketat warna cokelat tua, dengan blus ngepas putih, rambutnya tergerai sebatas pinggang, ada giwang kecil di telinganya, yang dapat tawaran.

Ita, 17, nama onces yang cakep itu. Diajak ngobrol dia langsung akrab, dan bercerita apa adanya. Ita tak segan mengemukakan asal mulanya dia terjun ke dunia yang digelutinya.

Tujuan pertama karena Ita ingin senang dan ingin menikmati semuanya. Kalau tidak, cuma bisa lihat di televisi. ''Ita kan kepingin mewah, beli pakaian mahal. Ngarepin dari bokap, wah nggak bakalan, ah.... Tapi sampai sekarang juga mereka nggak tahu kok,'' katanya.

Ita yang mengaku masih duduk di kelas III salah satu SMU Swasta di Medan mengaku, pertama kali di-booking seorang tubang. Selama tiga hari, Ita dibayar Rp 1 juta. Seperti disambar geledek rasanya Ita menerima uang sebanyak itu. Sementara selama ini untuk sekolah saja pun terus sulit biaya.

Ayahnya juga pegawai di sebuah bar kecil kawasan Nibung Raya, Medan, seperti kurang perhatian pada keluarga. Ita saat itu kelas II SMU, tiga lagi adiknya menunggu. Ibunya sering sakit-sakitan. Dia pernah bertanya kepada temannya yang hidupnya kelihatan mewah. Ternyata melakukan cara itu.

''Kegadisanku dibayar Rp 1 juta. Tapi aku rela. Semuanya demi hidup. Diam-diam aku bayar semua keperluan sekolah adik-adikku. Untuk menutupi pekerjaan di mata orang tua, aku mencoba mengambil pakaian jadi, dan menjualnya secara cicil, kepada tetangga dan teman-teman. Aku libatkan dua adikku untuk mengutip cicilannya. Tak ada orang yang mencurigaiku. Sambil menjajakan pakain, aku juga bersedia jika diajak 'ngamar'. Sering itu terjadi," katanya.

Ada om membeli satu kemeja, dan sepasang kaus kaki seharga Rp 500.000,- berikut dirinya. Atau terkadang Rp 200.000,- pun jadi. Bahkan di bawah tarif itu juga pernah. Yang penting saku dapat uang dan senang. Jalan ke mana saja, makan enak, tidur di tempat yang luks dia jalani. "Kalau tidak pulang alasanku, keluar kota."

Tapi belakangan ini Ita mulai bosan dengan cara itu. Ia ingin naik kelas, dan mulai masuk diksotek satu berganti ke diskotek lainnya di kawasan Kota Medan. Dagangannya pun mulai dipegang adiknya.

Kalau di diskotek sebenarnya uang tidak terlalu banyak, kalau sabar memang ada. "Tapi aku senang bisa dapat ekstasi gratis, yang penting kita mau gabung, untuk on. Kalau sudah on kita bisa lupa yang lain, jadi duitnya apes. Aku sih... selalu ingat, bahwa aku berbuat semua ini untuk uang. Jadi untuk on, aku ikut kalau kepingin," katanya.

Ita malam itu kebetulan masih menunggu temannya yang biasa memberinya ekstasi. Sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya ke udara. Dia bercerita tentang awal perjalanannya sampai ke dunia bonces, yang tidak diketahui sampai kapan bisa ditinggalkannya. Ketika itu Ita masih di kelas II dan sangat perlu uang. Tidak tahu ke mana lagi mau diminta. Seorang teman menyuruh Ita menemui Tante May di kawasan Jl Mandala By Pass, Medan.

Ita datang dan langsung minta kerja, May paham akan perminaan Ita. May minta Ita berjanji tidak bakal ada tuntutan di belakang hari. May membawa Ita ke Deli Plaza, kenalan dengan seorang tubang. Awalnya Ita ngeri melihat orangnya, ternyata dia baik hati.

Ita selalu memberi advis baik kepada calon pembeli, seperti lebih dulu menghidupkan korek api bila calonnya ingin merokok. Merapatkan duduk dengan menempelkan payudara di lengan si pria. Sesekali Ita mencium leher tepat di bawah telinga teman duduknya, atau meletakkan lengannya di paha. Tapi ada juga pria yang cukup dengan kerdipan mata, dan tatapan manja. Ita juga mengaku, tak semua pira gampang digoda. Satu kali Ita pernah kena batunya, letih menggoda, pria itu tetap tegar.

"Orangnya ganteng, perlente, dan tebal kocek. Tak satu pun onces yang berusaha merayunya berhasil, semua gagal. Akhirnya kalau pria itu ke Ari King-King kita hanya memandang dari jauh. Tapi pria itu juga mau memberikan kita uang, karena sudah menemaninya. Lumayan juga, untuk ongkos taksi," katanya

Ita mengaku, tujuannya memang uang dan kemewahan, tapi tetap ingin sekolah. Minimal tamat SMU, buat bekal, suatu ketika sudah tak berada di dunia onces lagi.

Ita sudah pernah aborsi. Tapi hamilnya baru satu bulan, biayanya waktu itu Rp 1,5 juta. Istirahat dua minggu, lalu bekerja lagi. Tapi Ita tetap sekolah, hanya tiga hari permisi, alasan sakit. Kepada orang tuanya, Ita beralasan mens datangnya tersendat, jadi terlalu sakit. Ibunya malah membuatkan jamu agar haidnya lancar.

"Itu adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Untuk menjaga agar tidak hamil saya lakukan dengan suntikan. Sampai sekarang masih aman," katanya.

Perasaan Takut Memang Selalu Ada
CICI, 15 tahun, seorang pelajar SLTP swasta kelas III yang kost di kawasan Jl Gatot Subroto, Medan, awalnya terjun ke dunia pelacuran karena kehabisan uang, sementara kiriman dari orang tuanya di Tanah Karo sudah habis untuk berfoya-foya.

Untuk menghilangkan suntuk, suatu hari Cici nongkrong di Olympia Plaza, Medan. Tak sadar ada seseorang berdiri di sisi Cici ketika ia sedang asyik melihat-lihat satu blus bagus dan mahal. ''Cantik ya... mau?'' kata orang itu, Cici senyum. Pria itu menyuruh Cici mengambilnya, sambil membujuk. Cici pun mengambil pakaian itu. Lalu berkenalan dan mereka makan.

Setelah itu Cici di bawa ke kota dingin, Brastagi. Satu malam Cici bersama pria perlente dan ganteng itu. Setelah malam pertama Cici menangis karena takut hamil dan rasa sakit ketika pipis. Dia membujuk sambil memberi Cici uang, untuk membeli obat antihamil dan krem olesan supaya tidak perih. Jumlahnya, lumayan Rp 300.000. Kesulitan Cici pun teratasi.

Perasaan takut memang selalu ada, tapi karena 'lukanya' sudah sembuh, Cici jadi ketagihan. Terus sering mangkal di plaza itu, berganti-ganti pasangan siapa saja yang mengajak. Sejak itu Cici tidak peduli lagi, kapan pun kiriman orang tuanya datang.

Kalau tidak di plaza, Cici mangkal di Copa Cobana. Di tempat itu Cici tidak perlu jauh-jauh kalau ada yang minta, sebab sudah tersedia kamar berikut segala makanan yang ingin dipesan. Dengan musiknya juga enak di tempat itu.

Di Copa, memang onces-nya hampir seluruhnya sebaya Cici. Di tempat ini tak semua bisa diajak ngamar. Ada yang hanya untuk peci-peci saja. Artinya sebatas peluk cium. Umumnya tamu yang datang ke Copa Tubang yang sudah pantas dipanggil eyang oleh onces. Banyak yang berbadan gemuk, minta diladeni semuanya. Kata Tia, teman Cici yang spesialis peci.

Tia memang perlu penampilan dan gaya, meskipun orang tuanya tergolong menengah. Tapi karena Tia ingin yang lebih, lalu mencari jalan sendiri. Tia mengaku sudah tiga bulan di Copa, dan bisa mejeng, dan bisa beli apa saja. Kalau omnya baik, uang tipnya lumayan, Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Kalau ada yang mengajak, Tia selalu berterus terang, masih ingin sekolah, dan selalu mengingatkan si om akan anaknya yang sebaya dengannya. Karena Tia ingin cari biaya seolah. Biasanya om itu kasihan melihat Tia.

Tia penampilannya selalu dengan rok mini, dengan pakaian dalam di lapisan celana short ketat yang sulit dibuka. Dan tidak bisa di-obok-obok. Tapi untuk pinggang ke atas, memang Tia mempersilakannya. Tia merasa senang, pulang sekolah ke Copa, banyak teman. Orang tua mengiranya tetap les bahasa Inggris. "Memang saya tetap hapal, bila ditanya ayah, tetap bisa menjawab," katanya.

Jadwal les yang lima kali seminggu, paling satu atau dua kali diikuti. Kadang dalam seminggu sama sekali tidak masuk, tergantung selera. Tapi ke Copa, Tia jarang berseragam sekolah karena pernah dilarang, dulu temannya pernah kena razia dengan seragam itu.

Cici dan Tia memang berteman setelah kenal di Copa. Cici kost bersama 12 orang di satu rumah. Ibu kostnya tidak pernah curiga karena sebelumnya Cici memang sering ke luar rumah untuk les, atau kerja kelompok. Karena teman kelompoknya juga sering ke tempat Cici dan ada yang bermalam. Tapi teman-temannya ada yang mulai usil melihat penampilan Cici yang terus-menerus ganti baju mahal. Untuk menyumbat mulut rekannya, Cici tak segan meminjamkan baju, sepatu, tas atau sandal, bagi teman kostnya yang ingin gaya. Ada juga yang tahu kalau Cici anak orang kaya di kampungnya.

Pengalaman Yuni, 16 kelas II SMU swasta dan kelompoknya yang berlima lain lagi. Mereka mangkal di kafe tenda depan Stadion Teladan Medan. dari tempat itu mereka biasa dijemput mobil. Dan kalau Yuni dan rekan belum tiba, pemilik kafe yang masih bujangan itu selalu memberi penjelasan kepada si penjemput. Ataupun meneelpon Yuni lewat telepon umum. Yuni dan rekan tampil masih dalam seragam sekolah.

Mereka biasa ganti pakaian di toko atau plaza, setlah dibelikan si om, atau ada juga pria-pria muda. Tapi mereka lebih senang dengan om karena duitnya diobral, "kita bebas mau makan apa saja," katanya.

Yuni selalu mengenakan tas besar, baju dan sepatu masuk di dalamnya. Sebelum pukul 19.00, Yuni sudah harus pulang. Karena jam itu adalah waktunya pulang les. Yuni selalu berganti baju di mobil. Dan menyimpan pakaian barunya ke dalam tasnya. Bila orang tua bertanya, asal baju tersebut Yuni menjawab ringan, ''Beli di Monza, hanya Rp 5.000 pakai uang jajan."

Di Medan memang dikenal, Monza (Mongonsidi Plaza), tempat berdagang pakaian bekas impor. Di sini banyak pakaian berkualitas tinggi kalau rajin memilih harganya murah, karena bekas. Yuni selalu membuat pakaian baru itu lecek, (kumal) dan menyimpan mereknya. Bila sudah dicuci dua atau tiga kali, dipasang kembali. Tak da yang tahu, kalau yang tahu kalau Yuni sudah punya gaun mahal.

Uang bagi Yuni nomor dua, yang penting punya barang-barang mahal, minimal buat koleksi.

Sementara Rose, 19, mahasiswi salah satu PTS di Medan lain lagi ceritanya, keluarganya cukup terpandang dalam bidang ekonomi, tapi Rose suka pesta seks dengan sabu-sabunya. Sekarang Rose lagi istirahat karena sakit. Ia mengaku kena sakit kelamin dan kecanduan narkoba. Rose dengan kelompoknya sering ke Fire Diskotek Thamrin Plaza, kalau mau, mereka cari hotel mewah. Sampai delapan orang satu kamar. Setelah masing-masing puas, mereka pulang esok paginya.

Uang, mobil, pakaian, bagi Rose tidak masalah, tapi Rose ingin bebas, mencari kenikmatan tanpa ikatan. Hampir semua hotel berbintang, sudah dijelajahi Rose dan kelompoknya delapan orang. Mobil mereka dari mulai Daihatsu Rocky, sampai Suzuki Vitara, dan Mercy.

Tapi mereka gandrung ekstasi. Yang dicari Rose gadis berkulit kuning langsat dengan rambut dicat pirang sebatas pinggang itu, semata hanya kepuasan dan kebebasan.

Tempat mangkalnya di mana saja yang mereka senangi, sering juga di kafe tenda, sebab semua mereka menggunakan HP dan pager, mudah dihubungi. Mereka kelompok kelas tinggi.

Kalau Rose naksir cowok teman sekampusnya, kelompok ini berupaya menjebaknya agar ikut bersama mereka. Biasanya Rose dibantu rekan-rekannya dan sering kali berhasil. Biasanya kalau ingin tukar pasangan selalu sama-sama. Bagi pasangan baru, tidak akan bisa lepas sebelum mereka betul-betul puas.
Tamat
Sumber : http://idur.tripod.com
Photo : http://2.bp.blogspot.com