Bisnis Seks di Aceh : Bukan Wanita Komersial Biasa

Oleh : Deden Gunawan

Hampir setiap jam telepon genggam Sherly berdering. Bahkan saat malam tiba semakin sering saja, hingga hitungan menit, ada saja orang yang menghubunginya.

"Biasanya yang telepon para pelanggan yang minta dicarikan teman berkencan," jelas Sherly saat berbincang dengan detikcom di sebuah kedai di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sherly adalah seorang waria yang sehari-hari berkerja di salah satu salon di wilayah Peunayong, Banda Aceh. Rupanya, selain ahli menata rambut dan merias wajah, Sherly punya kerjaan sampingan sebagai mucikari. Ia mengurusi setidaknya 26 wanita dari berbagai lapisan, ada pelajar, mahasiswi, maupun ibu rumah tangga yang bisa diajak berkencan.

Sambil berpromosi, Sherly kemudian memberikan telepon genggamnya yang berisi foto-foto wanita 'binaan'-nya. Omongan Sherly ternyata bukan isapan jempol belaka. Ketika detikcom membuka-buka folder foto yang ada di selulernya, terlihat foto-foto wanita cantik dengan pose yang beragam. Rata-rata usianya di bawah 30-an. Bahkan ada juga seorang gadis muda yang mengenakan seragam SMU.

Menurutnya, untuk gadis yang satu ini agak spesial karena banyak peminatnya. Tak heran bila ingin berkencan dengan gadis yang diakuinya masih duduk di kelas 1 SMU itu, pelanggan harus memesannya jauh-jauh hari.

Paling tidak, kata Sherly, pelanggan harus memesan tiga hari sebelum waktu berkencan. Harga yang ditawarkan Sherly untuk gadis SMU ini juga agak spesial, yakni Rp 1 juta untuk sekali kencan. Bila ingin membooking semalaman harganya lebih tinggi lagi tentunya.

Gadis-gadis 'binaan' Sherly umumnya memang spesial. Mereka tidak seperti pekerja seks komersial (PSK) biasa karena tidak setiap waktu pria hidung belang bisa berkencan dengan wanita-wanita tersebut. "Mereka mau melayani pelanggan jika memang butuh uang. Kalau tidak butuh atau sedang tidak ada waktu mereka bisa menolak diajak kencan," jelas Sherly.

Perkataan Sherly itu dibenarkan Monik, sebut saja namanya demikian, salah seorang PSK 'binaan' Sherly yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi semester VI di sebuah universitas di Banda Aceh. Kata Monik, ia hanya mau melayani kencan kalau memang sedang butuh uang. "Kalau ada uang buat apalah layani kencan," katanya dengan logat Aceh yang kental.

Monik bercerita, ia terpaksa nyambi sebagai wanita panggilan untuk menutupi biaya kuliah maupun biaya hidup. Soalnya gadis asal Lhokseumawe ini hidup mandiri di Banda Aceh. Ia kos di wilayah Darussalam. Sebenarnya, kata Monik, orang tuanya rutin mengirimkan uang untuk biaya kuliah, sewa kamar kos, makan, dan lain-lain. Tapi bagi Monik uang yang dikirim tersebut dianggap belum cukup.

Soalnya, kata Monik, untuk menutupi ongkos gaulnya sangat tinggi. Setidaknya hampir setiap malam ia kumpul-kumpul bersama teman-teman di kafe atau kedai-kedai yang tersebar di Banda Aceh. "Belum untuk beli pakaian dan pulsa Bang," imbuh gadis berusia 22 tahun tersebut saat ditemui detikcom di lounge Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Nah, ketika ia sedang rebonding di sebuah salon di wilayah Peunayong, ia membicarakan hal itu kepada Sherly yang sedang merawat rambutnya itu. Di tengah pembicaraan, Sherly kemudian melontarkan sebuah gagasan, yakni menyarankan agar Monik mendekati pria berduit. "Hanya untuk iseng-iseng saja," ujar Monik menirukan ucapan Sherly waktu itu.

Awalnya ia menganggap obrolan itu sambil lalu belaka. Tapi beberapa hari setelah pertemuan dengan Sherly, Monik ternyata menimbang-nimbang usulan itu. Seminggu berselang, ia malah datang lagi ke salon tempat Sherly bekerja, untuk menanyakan usulan Sherly waktu itu.

Sherly yang sudah enam tahun berprofesi sebagai mucikari tentu tidak merasa kesulitan. Ia banyak mengenal sejumlah pria dari beragam kalangan di Banda Aceh. Buktinya, tidak berapa lama ia menghubungi beberapa nomer telepon, Monik sudah dapat pelanggan. Monik yang mengaku sudah kehilangan kegadisannya oleh teman sekampusnya kemudian diminta datang ke Hotel Sultan. Di hotel itulah Monik melakukan hubungan intim dengan pria selain pacarnya.

Menutupi Biaya Hidup Tinggi
Kisah Monik hampir serupa dengan para wanita yang jadi 'binaan' Sherly. Mereka umumnya memilih melayani pria hidung belang dengan dalih menutupi biaya hidup yang tinggi di Banda Aceh. Namun meski tamu-tamu mereka kebanyakan berasal dari relasi Sherly, bukan berarti mereka tidak bisa berkencan di luar kenalan sang mucikari.

Seperti dikatakan Sherly, hubungannya dengan mereka tidak terikat. Jadi kalau mereka butuh uang akan menghubungi Sherly. Begitupun sebaliknya, Sherly akan menghubungi salah satu diantara mereka bila ada relasinya yang meminta layanan kencan.

Dengan kata lain, otoritas Sherly terhadap PSK binaanya tidaklah mutlak. Sebab fungsi waria asal Medan ini tidak lebih sebagai perantara. Adapun keputusan harga atau kesiapan melayani ada di tangan PSK tersebut. Untuk harga per sekali kencan, tarif mereka berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung negosiasi.

Jika harga sepakat, Sherly hanya mendapatkan komisi dari relasinya atau PSK tersebut. "Paling-paling saya dapat komisi sekadar untuk mengganti pulsa saja dan transportasi," ujar Sherly tanpa menyebut angka komisi yang ia dapatkan. Tapi biasanya, lanjut Sherly, para PSK itu akan memberikan persenan paling tidak 20 persen dari bayaran mereka.

Komisi itu sudah termasuk jasa untuk mengamankan PSK atau pelanggan dari operasi Wilayatul Hisbah (polisi syariat Aceh). Sebab, kata Sherly, dirinya banyak mengenal oknum TNI/Polri maupun WH di Banda Aceh. "Kalau ditangkap WH bilang saja ke saya. Nanti saya yang urus," jelas Sherly sambil menunjukkan foto-fotonya bersama beberapa pria berambut cepak.

Pastinya Sherly merasa enjoy dan aman-aman saja melakukan bisnis sampingannya sebagai mucikari di daerah yang menerapkan syariat Islam. Alasannya, semua aturan yang ada dapat diatasi dengan uang. Apalagi omset yang ia dapat sangat lumayan. Sebab dalam sehari-semalam, paling sedikit lima PSK 'binaan'-nya dapat pelanggan.

Untuk menjaga omsetnya, Sherly gencar melakukan pendekatan pada karyawan-karyawan hotel yang ada di Banda Aceh. Langkah Ini sebagai upaya memeperluas jaringan pelanggan. Paling tidak, trafik permintaan layanan kencan dari pria hidung belang bisa tetap terjaga.

Operasi Selepas Bedug Magrib
Nama jalan itu adalah Lorong Kelinci. Jalan kecil yang terletak di kawasan Jambo Tape, Kuta Alam, ini dikenal sebagai tempat prostitusi terselubung di Banda Aceh.

Sekalipun sebagai tempat prostitusi, tidak sembarang waktu pria hidung belang bisa datang ke lokasi ini. Pekerja seks komersial (PSK) di lokasi ini hanya mau melayani selepas bedug magrib hingga pukul 23.00 waktu setempat. Di luar jam tersebut para PSK tidak mau melayani tamu.

Jangan heran kalau di siang hari di tempat ini tidak terlihat adanya aktivitas layaknya lokasi esek-esek. "Kalau siang atau tengah malam hari WH (polisi syariat Aceh) sering ke sini. Nanti bisa kena operasi," ujar Yuli, PSK asal Riau, yang mangkal di Lorong Kelinci.

Para PSK di lokasi ini umumnya menempati kamar-kamar sewa atau kos-kosan yang ada di sana. Tapi bagi tamu yang baru pertama kali datang ke lokasi tersebut, Yuli menyarankan supaya datang dulu ke salon kecantikan yang berjajar di mulut jalan itu. Cara ini dilakukan supaya tidak salah sasaran. Sebab kos-kosan PSK itu berbaur dengan rumah-rumah penduduk.

Saat di dalam salon tamu biasanya akan ditawari beberapa layanan baik pijat maupun "cuci muka", maksudnya berkencan. Di tempat itu juga tamu akan diperlihatkan foto-foto wanita yang akan dijadikan teman kencan atau sekadar memijat.

Bila setuju, pelayan salon akan membawa tamu ke para PSK yang bertarif Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, per sekali kencan. Umumnya PSK yang beroperasi di lokasi tersebut berasal dari Medan, Riau dan Palembang.

Mereka sudah beroperasi di wilayah tersebut jauh sebelum tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, akhir 2004 silam. Kini, sekalipun Pemprov NAD telah menerapkan syariat Islam, praktek itu tetap saja berjalan sekalipun tidak sevulgar dulu.

Menurut Lusi, pelayan salon di wilayah tersebut, untuk mengakali operasi WH para PSK umumnya mengaku sebagai pacar anggota TNI/Polri. Cara seperti ini dianggap cukup efektif untuk terhindar dari sorotan masyarakat atau operasi WH.

Kepala Dinas Wilayatul Hisbah (WH) Banda Aceh Nasir Ilyas mengamini kalau petugasnya bersama aparat kepolisian kesulitan menertibkan praktek prostitusi di Lorong Kelinci.
Pasalnya, mereka kurang cukup bukti kalau para PSK melakukan kegiatan terlarang tersebut. "Kita berulang kali melakukan operasi di sana. Tapi tidak pernah berhasil," ujar Nasir kepada detikcom.

Namun, lanjut Nasir, WH dan kepolisian sudah berhasil meminimalisir praktik prostitusi yang dilakukan di salon-salon. Beberapa salon yang diduga sebagai ajang prostitusi kemudian ditutup lantaran telah melanggar Qanun nomor 14 tahun 2003, pasal 296 KUHP, yakni menyediakan tempat untuk perbuatan asusila.

Meski demikian operasi itu tidak bisa menjamin kalau praktik prostitusi di salon kecantikan tersebut bisa terhenti begitu saja. Sebab para pelakunya akan menggunakan beragam cara untuk membuka kembali usahanya tersebut.

"Bisnis prostitusi itu seperti bisnis miras. Mereka sangat terorganisir sehingga tidak mudah memberantasnya," ujar Nasir. Karena kelihaian para pelaku, Nasir kemudian berharap peran serta masyarakat untuk membantu mengatasinya.

Tak Lagi Bebas, Tapi HIV Tinggi
Fuad Mardatilah, dosen IAIN Ar-Raniri sekaligus peneliti masyarakat Aceh mengatakan, prostitusi di Aceh memang lumayan marak. Tapi jumlahnya jauh berkurang dibanding saat Orde Baru berkuasa.

"Saat Orde Baru, masyarakat di Aceh tidak terlalu peduli dengan kegiatan tersebut. Sekarang sudah mulai tumbuh kesadaran sehingga gerak bisnis ini semakin terbatas," kata Fuad.

Bukan hanya prostitusi. Gaya hidup bebas masyarakat Aceh saat ini juga lebih terkendali. Indikasinya, beberapa tempat hiburan malam kini nyaris tidak ada di Aceh, termasuk Banda Aceh.

"Hubungan muda-mudi dulu sangat bebas. Sekarang tidak bebas lagi karena ada aturan syariat," jelasnya. Perubahan perilaku tersebut, diakui Fuad terjadi pasca tsunami. Sebab setelah bencana tersebut masyarakat Aceh begitu takut untuk berbuat maksiat.

Untuk menjaga perilaku generasi muda di Aceh malah beberapa rektorat di Banda Aceh ada yang meminta petugas WH membuka posko di dalam kampus. Hal ini untuk menjaga perilaku para mahasiswa. Namun permintaan tersebut tidak disanggupi WH Banda Aceh.

"Kita tidak mau masuk terlalu jauh ke dalam kampus. Nanti dibilang melanggar otonomi kampus," ujar Nasir Ilyas.

Tapi dengan adanya permintaan tersebut Nasir merasa senang. Sebab upaya untuk menjaga perilaku masyarakat menuai banyak dukungan.

Ironisnya, meski gaya hidup bebas sudah menurun drastis, angka penderita HIV/AIDS di daerah berjuluk Serambi Makkah itu justru meningkat tajam. Berdasarkan data Pemberantasan AIDS Provinsi (KPAP) Aceh sejak tahun 2004, jumlah penderita penyakit hilangnya kekebalan tubuh ini meningkat setiap tahunya. Misalnya pada tahun 2004,hanya ada 1 kasus. Tahun 2005 meningkat menjadi 2 kasus.

Tahun berikutnya, angkanya kembali bertambah sebanyak 7 kasus. Kemudian tahun 2007, muncul 15 kasus baru HIV/AIDS. Di pertengahan tahun 2008 peningkatannya lebih signifikan, yakni bertambah 23 kasus baru.

Menurut perkiraan KPAP Aceh, saat ini kasus HIV dan AIDS di Aceh melebihi 1.039 kasus. Umumnya, kasus ini terjadi di beberapa daerah yang mobilitas penduduknya tinggi, seperti Banda Aceh.

Namun meningkatnya kasus HIV/AIDS tersebut, kata Pengelola Program KPAP Aceh, DRS Safwan, lebih banyak disebabkan pengaruh dari luar. Alasannya, setelah tsunami Aceh terglobalisasi. Setelah itu, hal-hal negatif dari globalisasi seperti prostitusi, seks bebas, penyalahgunaan alkohol dan penyalahgunaan narkoba masuk ke wilayah tersebut. "Peran penduduk dari luar Aceh sangat mempengaruhi peningkatan kasus penderita HIV/AIDS," ungkap Safwan kepada detikcom.

Ia mencontohkan, lelaki hidung belang dari Aceh umumnya berakhir pekan di Medan untuk belanja seks. Di provinsi tetangga tersebut mereka berhubungan dengan PSKyang terinfeksi HIV/AIDS dan mereka kemudian membawa masuk ke Aceh. Selain itu, bisa juga penyakit itu menyebar melalui PSK asal daerah lain yang beroperasi di Aceh. (ddg/nrl)

Sumber : http://www.detiknews.com