Tampilkan postingan dengan label Benteng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benteng. Tampilkan semua postingan

Pemanfaatan Peninggalan Arkeologis Kolonial di Kota Bengkulu


Oleh: Aryandini Novita

I. Pendahuluan
Kedatangan bangsa Eropa di Bengkulu meninggalkan banyak peninggalan-peninggalan arkeologis yang sangat berpotensial untuk dimanfaatkan, antara lain sebagai obyek wisata. Peninggalan arkeologis tersebut secara umum dapat dikategorikan sebagai bagian dari komponen kota pada masa lalu, seperti bangunan pertahanan, bangunan pemerintahan, bangunan religi, dan bangunan hunian. Secara kronologis, peninggalan-peninggalan arkeologis kolonial di Bengkulu memiliki rentang waktu yang sangat panjang, yaitu sejak berkuasanya bangsa Inggris hingga pemerintahan Hindia-Belanda.

Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Bengkulu adalah Belanda, tepatnya pada tahun 1624. Meskipun demikian, Belanda baru diperbolehkan mendirikan kantor dagangnya pada tahun 1664, setelah diadakan penandatanganan perjanjian dengan Kerajaan Selebar (tahun 1660). Pada tahun 1670, terjadi perselisihan antara Belanda dengan Selebar yang mengakibatkan Belanda harus angkat kaki dari Bengkulu. Setelah Belanda meninggalkan Bengkulu, bangsa Eropa lainnya yang melakukan hubungan dagang di wilayah tersebut adalah Inggris.

Kedatangan Inggris di Bengkulu pada tahun 1685 ini ditunjang oleh sebuah peristiwa, di mana Banten saat itu telah menandatangani perjanjian dengan Belanda yang isinya memberikan hak monopoli perdagangan kepada Belanda. Selain itu, pihak Bengkulu sebenarnya juga berkeinginan untuk mengadakan hubungan dagang dengan Inggris, terbukti dengan dikirimnya undangan untuk berdagang di wilayah tersebut kepada pusat perdagangan Inggris di Madras.

Usaha monopoli perdagangan lada di Bengkulu yang dilakukan Inggris adalah melalui perjanjian dengan penguasa Selebar. Isi perjanjian tersebut berisi ketentuan bahwa Selebar harus memberikan konsesi kepada Inggris berupa tanah di dekat pelabuhan Kota Selebar dengan tujuan agar dibangun gudang¬-gudang penyimpanan dan bangunan-bangunan lain yang berhubungan dengan kegiatan dagang mereka.

Kekuasaan Belanda di Bengkulu secara de facto dan de jure dimulai pada tahun 1824, yang ditandai dengan ditandatanganinya Traktat London (17 Maret 1824). Traktat London berisi tentang serah terima daerah koloni antara Inggris dan Belanda. Bengkulu sebagai koloni Inggris ditukar dengan Malaka, koloni Belanda di semenanjung Malaya. Akhir masa kekuasaan Belanda terjadi pada tahun 1942, dengan pengalihan kekuasaan di Bengkulu ke tangan Jepang.

II. Sumber Daya Arkeologi di Kota Bengkulu
Hasil penelitian arkeologi menunjukkan bahwa dalam menata Kota Bengkulu, bangsa Inggris mengatur penempatan ruang kota berdasarkan pada basis perekonomiannya, yaitu pelayaran dan perdagangan. Hal ini terlihat dari penempatan kawasan pemerintahan yang berada ± 500 m dari tepi Pantai Teluk Bengkulu (Novita, 1998: 29). Setelah pergantian kekuasan dari pihak Inggris kepada pemerintah Hindia-Belanda, terlihat pemerintah Hindia-Belanda tetap meneruskan fungsi dari komponen-komponen Kota Bengkulu seperti sediakala, namun dengan penambahan beberapa komponen yang disesuaikan dengan kebutuhan pada masa itu.

Secara keseluruhan, peninggalan-peninggalan arkeologis kolonial yang masih dapat ditemukan di Kota Bengkulu adalah:

1. Benteng Marlborough
Secara umum, Benteng Marlborough mempunyai denah yang ber¬bentuk segi empat. Benteng ini mempunyai bastion di keempat sudutnya. Pintu masuk benteng berada di sisi barat daya berupa bangunan yang terpisah dan berdenah segi tiga. Benteng Marlborough mempunyai parit keliling yang mengikuti denah benteng. Parit tersebut juga memisahkan bangunan induk dengan bangunan depan. Kedua bangunan tersebut dihubungi oleh sebuah jembatan (Novita, 1997).

Pada bangunan depan, terdapat pintu masuk yang berbentuk lengkung sempurna. Bangunan ini tidak mempunyai ruangan, hanya berupa lorong yang menuju ke jembatan penghubung. Pada dinding lorong tersebut, terdapat 4 buah nisan, 2 buah nisan berasal dari masa Benteng York dan yang lainnya berasal dari masa Benteng Marlborough. Pada nisan-nisan tersebut, tertera nama George Shaw-1704; Richard Watts Esq-1705; James Cune-1737; Henry Stirling–1774 (Novita, 1997).

Pada bagian atas bangunan ini, terdapat tembok keliling yang mempunyai celah-celah berbentuk segi tiga yang berfungsi sebagai celah intai. Pada bagian belakang bangunan, terdapat 3 buah makam dengan nisan yang terbuat dari batu tetapi sudah tidak dapat dibaca lagi (Novita, 1997).

Bastion-bastion Benteng Marlborough terdapat di sudut utara, selatan timur, dan barat. Bastion-bastion ini berdenah segi lima, di bagian atasnya terdapat tembok keliling yang memiliki celah intai. Lantai bagian ini terbuat dari tegel berglasir coklat. Pada bastion selatan masih terlihat sisa rel meriam yang berbentuk lingkaran. Pada dinding sisi utara bastion selatan dan timur menempel 8 buah cincin besi yang masing-masing berjarak 1 m (Novita, 1997).

Pada bastion-bastion ini, terdapat beberapa ruangan, yaitu pada bastion utara dan bastion barat. Ruangan di dalam bastion utara terdiri dari 2 kamar. Langit-langit ruangan ini berbentuk lengkung dan memiliki lubang berdiameter 80 cm yang menembus sampai bagian atas bastion. Ruangan di dalam bastion barat mempunyai 2 kamar yang berfungsi sebagai penjara yang letaknya saling berhadap-hadapan. Pada salah satu penjara yang letaknya lebih rendah, terdapat lorong yang di langit-langitnya terdapat lukisan binatang yang terbuat dari arang (Novita, 1997).

Di dalam Benteng Marlborough, juga terdapat beberapa bangunan, yaitu di antara bastion utara dan timur, di antara bastion selatan dan barat, dan di antara bastion selatan dan timur. Bangunan di antara bastion utara dan timur mempunyai denah persegi panjang dan terbagi dua yang dipisahkan oleh lorong menuju pintu belakang benteng. Bangunan di sebelah kiri terdiri dari 3 ruang, sedangkan bangunan di sebelah kanan terdiri dari 4 ruangan. Pada umumnya, jendela-jendela pada bangunan ini berbentuk persegi panjang. Pada bagian atas bengunan ini terdapat atap yang berbentuk pelana dan pada bagian belakangnya terdapat lorong selebar 1 m (Novita, 1997).

Bangunan diantara bastion selatan dan barat berdenah persegi panjang dan terbagi dua yang dipisahkan oleh lorong yang menuju pintu gerbang utama. Pintu utama tersebut berbentuk lengkung dan dihiasi oleh tiang semu. Bangunan sebelah kiri terdiri dari 3 ruangan yang disekat oleh tembok. Umumnya jendela dan pintu bangunan ini berbentuk lengkung. Pada ruangan ketiga terdapat pintu yang menghubungkan ruangan tersebut dengan ruang dalam bastion barat (Novita 1997).

Bangunan sebelah kanan terdiri dari 7 ruangan yang disekat dengan tembok. Seperti pada bangunan di sebelah kiri, umumnya jendela dan pintunya berbentuk lengkung. Pada salah satu ruangan terdapat lukisan kompas dan tulisan berbahasa Belanda yang dibuat dengan cara menggoreskannya di tembok. Bagian atas bangunan antara bastion selatan dan barat ini tidak beratap, tetapi berupa lantai yang diberi tegel berglasir coklat. Pada bagian ini, terdapat tembok keliling yang memiliki celah intai (Novita, 1997).

Bangunan di antara bastion timur dan selatan berdenah persegi panjang dan berupa 1 ruangan yang panjang. Jendela-jendela dan pintu pada bangunan ini berbentuk lengkung. Bagian atas bangunan tidak memiliki atap, tetapi berupa lantai yang diberi tegel berglasir coklat. Sama seperti bangunan di antara bastion selatan dan barat, pada bagian atas bangunan ini terdapat tembok keliling yang memiliki celah intai. Pada bagian depan bangunan ini, terdapat sebuah sumur yang berdiameter 1 m. Dinding sumur ini terbuat dari bata dengan pola ikat dinding Inggris (Novita, 1997).

Lingkungan sekitar Benteng Marlborough merupakan daerah pemukiman. Terlihat keberadaan benteng ini lebih tinggi dibanding dengan daerah sekitarnya. Keletakan benteng berada di ± 18 m di atas permukaan laut. Di sebelah utara benteng, terdapat sebuah bukit kecil yang dikenal dengan nama Tapak Padri. Berdasarkan pengamatan dari bukit tersebut, wilayah perairan Bengkulu dapat teramati sampai P. Tikus. Hal ini juga ditunjang berdasarkan lukisan Joseph C Stadler dalam buku Prints of South East Asia in The India Ofice Library, yang menerangkan bahwa bukit ini digunakan juga oleh Inggris (EIC) untuk mengawasi perairan di sekitar Benteng Marlborough (Novita, 1997).

2. Tugu Thomas Parr
Tugu Thomas Parr terletak di sebelah tenggara dan berjarak 170 m dari Benteng Marlborough. Keletakan geografis tugu ini adalah 03o47‘19,16" LS dan 102o15‘04,1" BT. Tugu ini berupa bangunan monumental untuk memperingati residen EIC yang tewas dibunuh rakyat Bengkulu (Novita, 1997).

Tugu ini berdenah segi 8 dan mempunyai tiang-tiang bergaya corintian. Pintu masuk pada tugu ini terdapat di bagian depan dan sisi kanan dan kiri. Bentuk dari pintu masuk ini adalah lengkung sempurna dan tidak mempunyai daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam tugum terdapat sebuah prasasti, tetapi pada saat ini sudah tidak dapat dibaca lagi. Bagian atas tugu mempunyai atap yang berbentuk kubah (Novita, 1997).

Berdasarkan lukisan Joseph C Stadler dalam buku Prints of Sotut East Asia in The India Office Library, terlihat di lokasi tugu ini terdapat Gedung Pemerintahan dan Gedung Dewan EIC. Pada saat ini, sisa-sisa kedua bangunan tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi karena lokasi tersebut sudah merupakan kawasan pertokoan dan pusat pemerintahan Dati I Bengkulu (Novita, 1997).

3. Kompleks Makam Jitra
Kompleks makam ini berjarak 640 m di sebelah timur Benteng Marlborough dengan keletakan geografis 03o47‘37,1" LS dan 102o15‘12,2" BT. Kompleks makam ini berada di tengah-tengah pemukiman. Pada kompleks makam ini, terdapat 15 buah makam dengan bentuk makam yang berupa bangunan monumental. Pada beberapa bangunan, terlihat ada lebih dari 1 nisan, umumnya terdapat 2 sampai 4 nisan. Berdasarkan pembacaan terhadap nisan-nisan yang terdapat di kompleks makam ini, diketahui bahwa kronologi dari nisan-nisan tersebut berkisar antara tahun 1775 sampai 1940 (Novita, 1997).

Dari pengamatan terhadap kronologi nisan, diperkirakan bahwa kompleks makam ini juga digunakan ketika Belanda menguasai Bengkulu. Hal ini terlihat dari nama dan bahasa yang terdapat pada nisan-nisan tersebut. Pada nisan-nisan yang tertua sampai awal abad XIX, tercantum nama-nama orang Inggris dan keterangan-keterangan lainnya ditulis yang dalam Bahasa Inggris; sedangkan pada nisan-nisan yang lebih muda, nama-nama yang tercantum adalah nama-nama orang Belanda dan keterangan-keterangan lainnya yang ditulis dalam bahasa Belanda (Novita, 1997).

4. Permukiman Cina
Permukiman Cina terletak di sebelah selatan dan berjarak 190 m dari Benteng Marlborough. Secara geografis, permukiman ini berada di 03o47‘15,9" LS dan 102o15‘02,6" BT. Berdasarkan data sejarah, kawasan ini merupakan pemukiman Cina sejak masa kolonial Inggris. Keterangan ini mendukung keberadaan peninggalan-peninggalan arkeologis di kawasan tersebut yang berupa rumah tinggal yang mempunyai arsitektur Cina (Novita, 1997).

Terhitung ada 20 buah rumah tinggal yang berarsitektur Cina di kawasan ini. Rumah¬-rumah tersebut umumnya memanjang ke arah belakang, bertingkat 2, dan mempunyai atap melengkung. Terlihat juga rumah-rumah tersebut memakai hiasan terawangan yang terdapat di atas jendela yang berfungsi sebagai ventilasi yang umum pada arsitektur Cina (Novita, 1997).

5. Gedung Pengadilan
Bangunan bekas gedung pengadilan kuno ini berada di tengah kota lama, di pinggir pantai pada ketinggian 3, 20 m di atas permukaan air laut. Jarak dari tepi laut kurang lebih 110 m. Letak bangunan ini dekat dengan Benteng Marlborough, kira-kira 50 m ke arah timur. Di belakang bangunan bekas gedung pengadilan ini terdapat pusat pertokoan. Di halaman depan terdapat kantor kelurahan, sedangkan di samping kanan dan kiri merupakan satu kesatuan terdapat gedung yang sekarang dipakai sebagai gudang semen, bangunannya membentuk huruf U. Belum diketahui secara pasti tahun pendirian bangunan tersebut (Darmansyah, 2002).

Berdasarkan laporan tentang Bengkulu oleh Van Der Vinne, seorang pejabat kolonial Belanda tahun 1843, disebutkan:

Di dekat Benteng Marlborough terdapat Kampung Cina yang dilintasi oleh jalan yang buruk karena tidak terawat. Di jalan tersebut sering dijumpai kerbau dan sapi, di sisi kanan jalan ada rumah sakit, di belakang rumah sakit ada rumah tahanan. Di sisi kiri jalan terdapat raad huis (Balai Kota). Raad huis bertingkat dua, bagian bawah dipakai untuk kantor Ambtenar dan ruang atas untuk Sidang Pangeran (Pangheran). Di depan raad huis terdapat taman yang luas dan bagus, terdapat taman gubernuran dan tempat tinggal asisten residen. Di tengah taman ada rumah kecil yang indah digunakan untuk Gereja dan sekolah.

Atas dasar keterangan dari Van der Vinne ini, kemungkinan yang disebut dengan raad huis adalah bangunan gedung pengadilan kuno tersebut, sebab gedung pengadilan kuno ini juga bertingkat dua dan merupakan satu-satunya gedung pengadilan peninggalan kolonial yang ada di Kota Bengkulu (Darmansyah, 2002).

Pada masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1 930-an, gedung ini dipakai untuk kantor HPB (Hoofd van Plaatschelijke Berstuur) atau pemerintahan kota, kantor demang, dan Landraat (pengadilan). Sedangkan bangunan di sebelah kanan gedung disebut lout regi, yang dipakai untuk gudang garam, gudang sebelah kiri disebut opium regi yang dipakai untuk gudang candu (Darmansyah, 2002).

6. Kantor Pos
Gedung kantor pos terletak di sekitar areal gubernuran diapit oleh Pasar Baru dan tugu Thomas Parr. Gedung ini berjarak sekitar 300 m dari Benteng Marlborough. Melihat model dan gaya bangunannya, diperkirakan bangunan ini dibangun pada akhir abad ke-XIX dan awal abad ke-XX di masa pemerintahan kolonial Belanda. Hal ini diperkuat oleh laporan Van Der Vinne tahun 1843, yang tidak menyebutkan keberadaan bangunan ini di Bengkulu pada saat itu (Darmansyah, 2002).

Bangunan bergaya Eropa ini tidak berkaki, dengan dinding polos. Bentuk pintu persegi panjang berbahan kayu yang tebal, bentuk jendela persegi panjang berbahan kayu dan kaca, berdaun tunggal, terdapat ventilasi. Atap bangunan berbentuk limas. Bahan pondasi adalah batu, bahan dinding adalah batu, bata dan kayu, sedangkan bahan bingkai pintu adalah kayu. Pola bangunannya adalah geometris (Darmansyah, 2002).

7. Rumah Pengasingan Bung Karno
Rumah Pengasingan Bung Karno saat ini berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka. Rumah ini pada awalnya adalah rumah tinggal orang Cina yang bernama Tan Eng Cian, yang bekerja sebagai penyalur bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda. Soekarno menempati rumah tersebut dari tahun 1938 hingga tahun 1942. Rumah ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah yang berada dalam koordinat 0,3o 47l 85,1ll Lintang Selatan 102o15l 41,7ll Bujur Timur ini berada di ketinggian 64 m di atas permukaan laut (Darmansyah, 2002).

Melihat gaya bangunannya, rumah ini diperkirakan dibangun pada abad ke-XX. Denah bangunan ini adalah empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki. Dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Bentuk jendela persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Bentuk atap limas (Darmansyah, 2002).

Luas bangunan rumah ini adalah 162 m2, dengan ukuran 9 x 18 m dan mempunyai halaman. Luas tanah keseluruhan adalah 40.434 m2 . Pada saat ini, luasnya tinggal 10.000 m2 sebab halaman depan terpotong untuk pelebaran jalan (Darmansyah, 2002).
8. Rumah Yayasan St. Carolus
Rumah Yayasan St. Carolus berfungsi sebagai kantor yayasan katholik yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Bangunan ini berlokasi di Jalan Todak Pasar Baru, Bengkulu. Ciri-ciri dari bangunan ini antara lain bentuk pintu masuknya persegi panjang, bentuk jendela membulat, dan terdapat ventilasi udara. Pada bangunan tersebut, terdapat tanda kontraktor yang membangunnya, yaitu:

ARCH.EN.INGRS.BUR:
FER MONT – CUYPERS

Tanda ini berarti bangunan tersebut dirancang dan dibangun oleh Biro arsitek Fermont & Ed. Cuypers. Biro arsitek Fermont & Ed. Cuypers berdiri pada tahun 1910. Biro arsitek yang berkantor di Weltevreden (suatu daerah di Batavia) ini menjadi biro arsitek terbesar di Hindia Belanda antara tahun 1919-1930-an. Hampir semua gedung misi katholik, yang tersebar di kota-kota besar di Hindia Belanda, seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan, dirancang oleh biro arsitek ini (Darmansyah, 2002).

Pada dekade tahun 1 930-an, berkembang gaya arsitektur kolonial modern dengan ciri menonjol adalah volume bangunan berbentuk kubus dengan atap limas dan dinding berwarna putih. Ciri-ciri bangunan tersebut sesuai dengan bentuk bangunan Yayasan Katolit St. Carolus (Darmansyah, 2002).

9. Masjid Jamik Bengkulu
Masjid Jamik Bengkulu berlokasi di Kelurahan Pengantungan, Kecamatan Gading Cempaka. Masjid ini berada pada koordinat 03o 47l 32ll Lintang Selatan dan 102o 15l 44,3ll Bujur Timur. Masjid ini berada pada ketinggian 20 m di atas permukaan laut. Berjarak 1,2 km dari Benteng Marlborough (Darmansyah, 2002).

Pada abad XIX, bangunan masjid berbentuk sederhana dengan bangunan berbahan kayu dan beratap rumbia. Pada awal abad ke-XX, masyarakat membangun masjid tersebut menjadi lebih baik dengan cara swadaya. Bagian dinding diganti dengan tembok, dan bagian atap diganti dengan seng, sekaligus memperluas masjid tersebut. Pada tahun 1938, bangunan masjid didesain ulang oleh Bung Karno dengan biaya ditanggung oleh masyarakat sendiri. Bung Karno sebagai arsitek bangunan tersebut tidak merubah secara keseluruhan, hanya bagian-bagian tertentu saja yang dirubah dan ditambah. Bagian dinding masjid ditinggikan 2 meter, dan bagian lantai ditinggikan 30 cm. Bung Karno memberikan ciri khas pada bagian atap dengan membentuk atap limasan kerucut dengan memberikan celah pada pertengahan atap sebagai sentuhan arsitektur tersendiri. Pada beberapa bagian bangunan ditambah tiang dengan ukiran dan pahatan berbentuk sulur¬-sulur di bagian atasnya dan dicat dengan warna emas (Darmansyah, 2002).

10. Makam Sentot Alibasyah
Sentot Alibasyah adalah seorang panglima perang pendukung Pangeran Diponegoro, pada Perang Diponegoro (1825-1830). Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro, Sentot dan para pengikutnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memerangi kaum Paderi di Sumatra Barat. Karena dianggap bersimpati terhadap perjuangan kaum Paderi, akhirnya Sentot Alibasyah dibuang hingga akhir hayatnya di Bengkulu (Darmansyah, 2002).

Makam Sentot Alibasyah berlokasi di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara. Makam ini terletak pada koordinat 03o 47l 20,7ll Lintang Selatan dan 102o 15l 48,4ll Bujur Timur. Pada masa kolonial Belanda, letak makam ini berada agak di luar kota. Saat ini, karena adanya perluasan kota, makam ini berada di dalam kota (Darmansyah, 2002).

Pada makam Sentot, tertulis tanggal pemakaman 17 April 1885. Makam ini berada di ketinggian 38 m di atas permukaan laut. Berjarak sekitar 1,2 km dari Benteng Marlborough. Bangunan cungkup makam Sentot Alibasyah bergaya bangunan “tabot” dan memiliki keistimewaan, yaitu di dalam cungkup tidak memperlihatkan adanya nisan kubur, sebagaimana biasanya kuburan Muslim di Indonesia. Cungkup ini berukuran 570 x 420 cm, dan berdenah empat persegi panjang dengan pilar-pilar pada beberapa bagian cungkup. Bagian pusat (makam) juga berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 327 x 184 cm (Darmansyah, 2002).

III. Pembahasan
Dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan dijelaskan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Sedangkan pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut.

Sampai saat ini, terlihat di beberapa daerah di Indonesia masih cenderung hanya mempromosikan keadaan alam dan hasil budaya yang tak teraba (intangible), seperti seni pertunjukan atau adat istiadat suatu suku bangsa saja. Padahal di samping obyek-obyek wisata tersebut, peninggalan budaya materi juga merupakan aset yang sangat potensial untuk dijadikan obyek wisata karena para wisatawan dapat melihat gaya arsitektur masa lalu yang merupakan bagian dari lembaran sejarah bangsa, khususnya di Kota Bengkulu. Selain itu, peninggalan budaya materi tersebut juga adalah warisan budaya yang merupakan hasil proses sejarah yang berlangsung di daerah setempat.

Pada dasarnya, pariwisata dikembangkan oleh banyak negara sebagai salah satu alternatif dalam pembangunan ekonominya. Berkenaan dengan hal itu, melihat keadaan geografis Kota Bengkulu yang terletak di tepi pantai Samudera Indonesia dan banyaknya peninggalan-peninggalan arkeologis yang cukup beragam serta adanya perayaan tabot yang merupakan tradisi tahunan yang selalu dirayakan oleh masyarakat setempat, maka tidak dapat disangkal lagi jika pariwisata dapat dijadikan aset yang sangat potensial untuk dijadikan salah satu sumber pendapatan daerah.

Keberadaan peninggalan arkeologi tersebut menjadi kurang berarti jika tidak ditunjang dengan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Pengalihan fungsi bangunan-bangunan tua menjadi bangunan fasilitas umum dapat dilakukan sepanjang tidak mengalami perubahan bentuk dan sebelumnya dilakukan studi kelayakan terhadap bangunan tersebut. Selain itu, di wilayah obyek-obyek wisata budaya selayaknya dilakukan pemintakatan menjadi beberapa mintakat, yaitu mintakat inti, penyangga, dan pengembang. Mintakat inti adalah peninggalan arkeologis itu sendiri yang merupakan obyek utama dari tujuan wisata, mintakat penyangga merupakan wilayah di sekeliling situs yang berfungsi untuk menekan konsentrasi arus pengunjung ke zona inti sehingga kelestarian situs tetap terjaga, serta mintakat pengembangan merupakan lahan fasilitas yang sebagian besar arealnya digunakan untuk pembangunan prasarana dan sarana pengunjung (Kasnowihardjo, 2001: 19).

Sangat disadari dalam pengembangan wisata budaya perlu diadakannya kerja sama lintas sektoral, karena itu diperlukan suatu konsep strategi dan program yang terkoordinasi karena pada dasarnya pemanfaatan peninggalan arkeologis sebagai obyek wisata berkaitan erat dengan kelestarian peninggalan tersebut. Pemahaman kaidah-kaidah arkeologi dalam pemanfaatan peninggalan arkeologis yang dijadikan obyek wisata pada dasarnya merupakan rambu-rambu dalam pengelolaan obyek wisata tersebut karena selain dapat menambah sumber pendapatan, pemerintah daerah setempat atau pihak pengelola seharusnya juga melestarikan warisan budaya bangsa.

IV. Penutup
Pemanfaatan peninggalan arkeologis untuk dikembangkan menjadi obyek wisata mempunyai keuntungan yang cukup banyak karena selain berekreasi para wisatawan juga dapat mengetahui sejarah daerah tersebut. Pemanfaatan ini dapat dijadikan sumber pendapatan daerah setempat. Selain itu, pemanfaatan tersebut juga merupakan media untuk menyebarluaskan informasi budaya masa lalu kepada masyarakat luas. Melalui penyebarluasan ini selayaknya masyarakat akan lebih mengetahui sejarah daerah setempat yang juga merupakan bagian dari lembaran sejarah budaya bangsa.

Daftar Pustaka
Darmansyah. 2002. Survei Bangunan Kolonial Pada Masa Kolonial Belanda (1 825-1942) di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. (tidak diterbitkan).

Kasnowihardjo, Gunadi. 2001. Manajemen Sumberdaya Arkeologi. Makassar: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.

Novita, Aryandini. 1997. Laporan Penelitian Arkeologi Kolonial di Kotamadya Bengkulu. (tidak diterbitkan).

Undang-Undang RI No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan

t.p. 2003. Konsepsi Pembangunan Kepariwisataan Indonesia. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
__________
Sumber: www.budpar.go.id/filedata/3074_1038-wisatabkl1.pdf
Foto : http://matanews.com

Fort Marlborough : Pusat Studi Wisata Sejarah


Oleh: Agus Setiyanto

Benteng peninggalan Inggris yang mulai dibangun tahun 1714 dan selesai tahun 1719 (Marsden, 1966:452), kini telah berusia 289 tahun (hampir tiga abad). Secara fisik, kondisi benteng yang pernah direnovasi tahun 1979—1984 ini masih cukup kuat dan kokoh, bahkan mungkin tahan banting untuk beberapa generasi ke depan.

Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana memanfaatkan warisan budaya yang beraset internasional ini, tidak sekedar sebagai sumber daya tarik wisata, tetapi juga menjadi sumber pengkajian ilmu pengetahuan tentang masa lampau, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan Benteng Marlborough atau Fort Marlborough ini. Bahkan kontribusi yang kedua ini lebih penting dan strategis bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan kata lain, pengkajian dari berbagai cabang ilmu pengetahuan maupun teknologi dapat memanfaatkan eksistensi Benteng Marlborough sesuai dengan obyek kajiannya. Misal saja, bentuk, tata letak, serta komponen-komponen dari bangunan benteng ini dapat dijadikan sebagai comparative study bagi kajian ilmu tentang berbagai macam bentuk bangungan. Atau bisa juga, dipakai sebagai studi banding dalam kajian ilmu ekonomi dan manajemen–setidaknya dalam aspek kesejarahan (sejarah perkembangan ekonomi), maupun kajian ilmu politik. Sebab, bagaimanapun juga secara historis, Benteng Marlborough punya multifungsi, baik sebagai pusat pertahanan, pusat pemerintahan, maupun pusat kegiatan ekonomi, dan sekaligus sebagai pusat sosio-kultural, tempat berlangsungnya interaksi berbagai suku-suku/bangsa.

Oleh sebab itu, sebaiknya Fort Marlborough tidak saja dijadikan sebagai obyek wisata an-sich, tetapi juga obyek studi sejarah atau lebih tepatnya obyek studi wisata sejarah. Sebagai obyek kajian sejarah, Fort Marlborough berpotensi sebagai sentralnya berbagai bidang kajian sejarah, seperti sejarah politik, eknomi, sosial, maupun budaya. Bahkan cukup menarik dalam studi sejarah Kota Bengkulu, sebab berdirinya sebuah benteng merupakan salah satu ciri dari sebuah kota lama (Max Weber, dalam Sartono, 1977: 11-39).

Alternatif pemanfaat dan pelestarian Fort Marlborough sebagai obyek wisata sejarah tentu saja memerlukan sebuah “empowerment strategy” (strategi pemberdayaan) yang tidak sekedar berorientasi pada nilai excursie-zaken (bisnis wisata), tetapi juga wetenchappen-zaken (bisnis ilmu pengetahuan).

Secara teoretis, strategi pemberdayaan merupakan konsep-konsep dasar (basic concepts) yang berhubungan dengan sistem perencanaan (planning system), sistem pelaksanaan (action system), sistem penilaian (evaluation system), sistem perawatan dan pengawasan (monitoring and maintenance system), dan juga sistem ramal (prediction system).

Sebagai obyek studi wisata sejarah, Benteng Marlborough harus tampil beda dengan obyek-obyek wisata biasa lainnya. Konsekuensi logisnya, benteng ini mesti didukung oleh berbagai sumber sejarah, baik yang primer, sekunder, maupun tersier. Yang primer bisa berupa arsip (dokumen, catatan harian), ataupun yang artefak (epigrafik, numismatik, sfralgistik, sigilografik) yang berhubungan secara langsung dengan zamannya. Sedangkan sumber-sumber yang sekunder, meskipun tidak berhubungan secara langsung, tapi periodisasinya masih terjangkau. Sumber-sumber sekunder ini biasanya berupa tulisan-tulisan atau laporan-laporan yang sezaman. Sementara sumber tersiernya bisa berupa buku-buku, majalah, maupun literatur-literatur ilmiah (Garraghan, 1957:103-123).

Aplikasinya, perlu ruang khusus untuk penyimpanan barang-barang bersejarah (semacam museum), dan juga ruang perpustakaan khusus. Dengan kata lain, Benteng Marlborough berfungsi sebagai museum dan perpustakaan khusus. Karenanya, diperlukan kerjasama dengan beberapa instansi/lembaga terkait seperti pihak Museum Pusat maupun Wilayah, Perpustakaan Nasional/Daerah, Arsip Nasional/Daerah. Bahkan bisa jadi bernegosiasi dengan pihak perpustakaan luar negeri (Leiden maupun London).

Pengoperasionalisasian Fort Marlborough sebagai “museum dan perpustakaan istimewa” ini, diharapkan tidak hanya sekedar sebagai alternatif penyelamatan dan pelestarian, tetapi juga punya added value, misalnya sebagai sentral kajian sejarah budaya Bengkulu. Dan jika dijadikan sebagai tempat studi wisata sejarah dan budaya lokal, maka strategi pemberdayaannya perlu juga melibatkan peran serta dan proaktif kaum pendidik (guru/dosen) melalui penerapan ajaran yang bermuatan lokal di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Dan tidak menutup kemungkinan, bisa saja ada kunjungan wisata dari luar daerah yang memanfaatkannya sebagai obyek kajian wisata sejarah.
_________________________
Agus Setiyanto adalah Sejarawan dan Budayawan Bengkulu presidenksb@plasa.com
Foto : http://baltyra.com

Benteng Hijau Terakhir Bandung

Oleh Budi Brahmantyo

Pada zaman purbakala, di sebelah timur Bandung, sebuah kerucut gunung kecil pelan-pelan terbentuk. Dari lubang kepundannya keluar lava merah membara seperti gulali meleleh dari pinggir kuali. Aliran lava yang meluap berkali-kali itu menyelimuti tubuh kerucut gunung. Lapis demi lapis, lava membanjiri kerucut hingga membentuk gunung berketinggian kira-kira 2.000 meter. Kerucut kecil itu adalah Gunung Manglayang. Sekarang puncaknya mencapai 1.817 meter. Pada waktu yang sama, di sebelah barat, diperkirakan Gunung Sunda purba, yang merupakan pendahulu Gunung Tangkubanparahu, masih aktif sebagai gunung api raksasa berketinggian di atas 3.000 meter.

Morfologi Gunung Manglayang berbentuk aneh. Bagian puncaknya membentuk lekukan-lekukan seperti mahkota longsoran raksasa berdiameter 4-5 kilometer. Tiga buah lekukan-lekukan raksasa dengan lereng-lereng atas yang terjal dapat dikenali. Satu di antaranya membentuk lembah dalam ke arah Bumi Perkemahan Kiarapayung, lereng atas Jatinangor. Tekstur permukaan Gunung Manglayang tampak kasar jika dilihat dari jauh, dari udara, atau melalui citra satelit. Lembah-lembahnya menoreh tajam menghasilkan pola jaringan sungai dendritik, seperti ranting-ranting pohon, atau jalinan urat saraf. Ciri demikian menunjukkan bahwa hanya proses erosi yang bekerja di atas Gunung Manglayang. Tidak ada lagi produk-produk vulkanisme yang menutupi torehan-torehan erosi yang mengukir kasar permukaannya.

Jika kita ingin mendakinya, terdapat beberapa jalur menyusuri punggungan-punggungan bukitnya. Jalur paling mudah adalah melalui sisi barat. Pada jalur ini kita pertama-tama bisa memanfaatkan jasa ojek menuju Palintang. Dari sana dengan menyusuri lereng yang tidak terlalu terjal, kita dapat mencapai puncaknya tidak lebih dari dua jam perjalanan. Jalur lain adalah melalui Bumi Perkemahan Kiarapayung, sebelah utara Jatinangor. Kita bisa menggunakan kendaraan hingga Kiarapayung sebelum mulai mendaki dari sisi timur-tenggara. Jalur ini relatif berat dan harus melewati bukit-lembah berkali-kali.

Alternatif lain adalah mendaki dari Cipulus. Pertama-tama kita bisa naik ojek yang mangkal di Jalan Cilengkrang I di Jalan AH Nasution. Dari Kampung Cipulus, pendakian dimulai. Jalur ini akan melalui kebun-kebun palawija yang berteras-teras sebelum memasuki tegalan luas yang ditumbuhi pohon-pohon pinus tua. Dari tempat ini pemandangan sangat bagus ke arah Cekungan Bandung bagian timur. Cileunyi dan Cibiru dan jembatan Tol Padaleunyi yang naik di atas jalur rel kereta api tampak jelas. Jalur ini melalui satu kabuyutan Cipulus, berupa susunan batu yang diarahkan ke puncak Gunung Manglayang. Posisi itu seolah-olah pos jaga sebelum mendaki Gunung Manglayang.

Hutan Wisata
Ketika kami mencoba mendaki Gunung Manglayang beberapa waktu lalu, tidak satu jalur pun yang disebut di atas kami tempuh. Justru kami mendaki melalui sisi yang paling sulit: tepat di lembahnya. Tujuan awalnya memang hanya mengobservasi beberapa air terjun yang terdapat di lembah yang dialiri Ci Hampelas. Lembah ini mengarah ke barat daya, ke arah Kampung Pasirangin. Dari Pasirangin kita akan memasuki kawasan hutan wisata. Dengan membayar Rp 3.000 kita dapat memasuki kawasan air terjun Cilengkrang, yang terdiri dari sederetan air terjun yang berurutan. Dari hilir adalah Curug Batupeti, Curug Papak, Curug Panganten, Curug Kacapi, Curug Dampit, dan Curug Legok Leknan.

Sangat menarik sekali mengamati deretan air terjun ini. Semuanya merupakan ujung aliran lava basalt, batu hasil pembekuan magma berwarna hitam yang miskin kandungan silika. Dua tingkat Curug Batupeti, masing-masing setinggi 4 meter bagian bawah dan 2 meter di bagian atas, jelas sekali memperlihatkan dua aliran lava yang membeku. Begitu pula di Curug Papak yang mempunyai tinggi mencapai 7 meter. Bagian bawah dua air terjun ini menunjukkan lava yang berbongkah-bongkah, cerminan aliran masa lalu yang menggerus bagian dasar aliran. Curug Panganten diperkirakan satu aliran lava yang sama yang membentuk Curug Papak.

Aliran lava terakhir dan termuda adalah Curug Kacapi dengan tinggi hampir 10 meter. Karena cukup tinggi, pengunjung menyangka penjelajahan hanya berhenti di air terjun ini. Padahal, jika kita sedikit bersusah payah memanjat lereng tegak yang licin, kita akan mendapatkan air terjun terakhir, yaitu Curug Dampit, yang merupakan dinding tegak Gunung Manglayang. Tingginya bisa mencapai 200 meter. Inilah dinding mahkota yang diperkirakan bidang gelinciran longsoran raksasa Gunung Manglayang.

Geologi Gunung Manglayang tidak banyak diketahui. Peta geologi yang disusun Silitonga (1973) hanya memetakannya sebagai endapan gunung api muda. Memang penelitian geologi Gunung Manglayang tidak seintensif Gunung Tangkubanparahu yang masih aktif yang sudah seharusnya dipantau terus. Gunung Manglayang diperkirakan seumur dengan Gunung Tangkubanparahu. Umurnya diperkirakan tidak lebih tua dari 50.000 tahun. Namun, tidak seperti Gunung Manglayang, kerucut-kerucut gunung api di timur Bandung diketahui merupakan kerucut sangat tua, seperti Gunung Bukitjarian, Gunung Geulis, dan Gunung Calancang. Penentuan umur dari lava basalt Cicadas dari Gunung Calancang di Parakanmuncang menunjukkan umur 1,7 juta tahun. Gunung-gunung api ini boleh dikatakan telah mati.

Rahasia Alam
Bagaimanapun, pengetahuan sejarah geologis Cekungan Bandung harus terus disusun dan diperbarui. Terdapat hal-hal baru di luar pengetahuan selama ini yang seolah-olah sudah selesai diteliti, padahal terdapat rahasia sumber daya alam yang penting bagi manusia. Penelitian banjir lava basalt yang membentuk Gunung Manglayang akan membuka rahasia sejarah masa lampau berkaitan dengan patahan Lembang yang dapat mengancam Bandung. Patahan yang diperkirakan aktif tersebut berakhir di Gunung Palasari- Gunung Manglayang. Bukan tidak mungkin banjir lava Gunung Manglayang keluar dari retakan patahan Lembang, yang dalam geologi dikenal sebagai erupsi celah (fissure eruption). Jika hal ini benar, sejarah patahan Lembang harus ditinjau ulang. Bukan tidak mungkin, ancaman gempa bumi yang dapat mengancam Bandung dengan kekuatan besar dapat ditinjau ulang pula.

Gunung Manglayang merupakan sumber daya alam Cekungan Bandung yang belum banyak tereksplorasi. Bagaimanapun, keberadaannya tidak lepas dari sejarah geologis Cekungan Bandung. Dalam hubungannya dengan kemanusiaan pun, Gunung Manglayang sedikitnya pernah disebut dalam catatan pangeran pengelana dari Kerajaan Pajajaran, Bujangga Manik, pada akhir abad ke-15. Saat ini dapat dikatakan, Gunung Manglayang menjadi salah satu benteng terakhir hijaunya Cekungan Bandung. Hutan-hutannya masih rapat di sekitar puncaknya. Cukup menyejukkan badan dan hati bahwa di sekeliling Bandung ternyata masih tersisa alam yang masih asri.
__________
Budi Brahmantyo, Kepala Pusat Kepariwisataan ITB, Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung Ilustrasi.

Sumber : http://koran.kompas.com

Menelusuri Benteng Keraton Buton

Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur, sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengagungkan benteng dan Masjid Agung Keraton yang bernilai religius tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan Kaimuddin).

Banyak cerita yang mengalir seputar keberadaan benteng tersebut. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh adat masyarakat Buton, benteng tersebut awalnya hanyalah tumpukan batu yang mengelilingi pusat kerajaan. Selain berfungsi sebagai pembatas pusat lingkungan keraton, tumpukan batu tersebut berfungsi sebagai perlindungan dari serangan musuh. Pada masa pemerintahan sultan Buton IV, La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin), tumpukan batu tersebut dibangun menjadi sebuah benteng. Cerita unik seputar pendirian benteng yang beredar di tengah masyarakat mirip dengan kisah pendirian Candi Borobudur. Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. “Kalau semata-mata hanya menggunakan putih telur tentu akan menggunakan sekian banyak telur. Secara jujur, tentu itu bukan hanya menggunakan putih telur, tapi juga kapur yang diolah menjadi adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur,” kata Abu Bakar ketika ditemui di rumahnya, Kota Bau-Bau.

Menurutnya, benteng tersebut dikerjakan oleh seluruh penduduk kesultanan Buton, laki-laki dan perempuan. Para laki-laki mengumpulkan batu-batuan gunung dan menyusunnya. Sementara pasir dikumpulkan oleh kaum perempuannya.

Benteng yang berukuran keliling 2.740 meter dengan tinggi 2-3 meter dan ketebalan dinding 1,5 meter hingga 2 meter ini memiliki 12 pintu (lawa) dengan tambahan na (nya) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut, antara lain Lawana Rakia, Lawana Lanto, Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu, yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya.

Pintu-pintu tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12 lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat.

Lubang saluran sperma diidentikkan dengan pintu rahasia benteng yang menjadi jalan keluar bagi petinggi-petinggi Kesultanan atau tempat persembunyian, jika ada serangan musuh yang mengancam dan membahayakan keselamatan keluarga Istana Keraton. Lawana Kampebuni (pintu tersembunyi) itu pula digunakan oleh Aru Palaka ketika hendak bersembunyi di sebuah gua di sekitar benteng dari kejaran raja Gowa.

”Dalam tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam,” tutur Mursali.

Sebagai sebuah benteng perlindungan, benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu. “Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan penjajah Belanda,” kata Mursali.

Keterangan serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim.

“Kombinasi karakter huruf yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini, tutur Lutfi.
Masjid dan Makam.

Jika memasuki lingkungan benteng tersebut, kita seolah berada di masa lampau. Rumah-rumah yang terdapat di dalamnya dipertahankan berbentuk rumah asli Buton, rumah panggung yang sebagian besar bahan bangunannya adalah kayu. Orang-orang yang tinggal di dalamnya pun masih berhubungan dekat dengan para petinggi kesultanan.

Selain benteng itu sendiri, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Agung Keraton dan Makam Murhum.

Masjid Agung Keraton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX). Masjid yang berukuran 20,6 x 19,40 m merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Para perangkatnya berstatus sebagai aparat kesultanan.

Menurut Abu Bakar, bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton. Bangunan yang teridi dari dua lantai ini pun memiliki 12 pintu seperti pada benteng keraton. Sementara itu, kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia.

Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Di samping masjid, terdapat tiang bendera yang didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Menurut Abu Bakar, kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand).

“Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan,” katanya. Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut.

Selain masjid, terdapat pula makam raja terakhir sekaligus Sultan I Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari.

Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2005/0825/wis02.html

Benteng Marlborough dan Kediaman Bung Karno

Tinjauan Historis dan Potensi Wisata Sejarah di Kota Bengkulu

Oleh : Ajisman

Pengantar
Era otonomi daerah memacu setiap daerah untuk semaksimal mungkin menggali dan mengembangkan berbagai potensi yang ada yang ditujukan bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sektor kepariwisataan merupakan salah satu sumber terpenting bagi Pendapatan Asli Daerah. Dengan adanya tuntutan ini, maka penggalian dan pengembangan potensi-potensi kepariwisataan menjadi kegiatan yang perlu menjadi perioritas dalam upaya pembangunan daerah.

Provinsi Bengkulu memiliki bangunan bersejarah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah. Bangunan bersejarah tersebut kebanyakan berada di Kota Bengkulu. Bengkulu dalam rentangan sejarah yang panjang, baik sebelum kedatangan bangsa Eropa (Pertugis, Belanda, Inggris) Cina dan bangsa Asia lain, maupun sesudahnya, banyak menyimpan peristiwa-peristiwa dan bangunan sejarah yang bernilai dan dapat dijadikan objek wisata.

Bangunan bersejarah yang berpotensi sebagai objek wisata sejarah di Kota Bengkulu antara lain adalah: Benteng Marlborough dan Rumah kediaman Bung Karno. Objek wisata sejarah di Kota Bengkulu cukup banyak, namun ironisnya dalam pemeliharaanya terkesan kurang terpelihara dengan baik, sehingga banyak bangunan bersejarah yang bisa dijual sebagai objek wisata hancur dimakan zaman. Sebagaimana yang diungkapkan oleh kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu. “Bangunan bersejarah yang ada di Kota Bengkulu sebagianya ada yang terawat baik dan masih dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata, tapi ada yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dalam konteks yang demikian peran pemda dan informasi yang memadai sangat penting. Sehingga wisatawan yang berkunjung akan memperoleh informasi dan pengetahuan yang cukup, terhadap makna dan latar belakang sejarah yang terkandung dalam objek wisata tersebut.

A. Tinjauan Historis
1. Benteng Marlborough
Benteng Marlborough merupakan salah satu objek wisata sejarah yang terdapat di Kota Bengkulu. Objek wisata Benteng Marlborough terletak di Kelurahan Kampung Cina, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Benteng ini menjadi pusat kedudukan tentara Inggris di Bengkulu. Benteng berbentuk segi-empat dengan ukuran panjang 240 meter dan lebar 170 meter. Benteng ini didirikan oleh The Britsh East India Company pada tahun 1713 dan selesai pada tahun 1719.

Benteng Marlborough adalah sebagai pengganti Fort York yang dibangun oleh Inggris. Fort York adalah benteng Inggris yang pertama dibangun di Bengkulu. Benteng ini tidak terlepas dari sejarah keberadaan bangsa Inggris di Bengkulu. Pada bulan Juni 1685 kapal-kapal dagang Inggris berlabuh di depan muara sungai Bengkulu. Setelah mendapatkan kata sepakat, bahwa Inggris dapat menetap dan dapat melakukan perniagaan secara bebas, maka dibuat suatu perjanjian untuk pertama kalinya dengan Pangeran Raja Muda dari Kerajaan Sungai Limau oleh Ralp Ord sebagai wakil dari pihak Inggris. Dengan persetujuan perjanjian itu, bangsa Inggris untuk pertama kalinya membangun kantor dagang dan sekaligus sebagai bentengnya disamping muara Sungai Serut. Kantor dagang atau benteng ini mereka namakan Fort York.

Fort York didirikan di atas sebuah bukit kecil di pinggiran muara Sungai Serut yang dikelilingi oleh rawa-rawa sehingga timbul berbagai penyakit menular terutama malaria, banyak prajurit dari pegawai sipil di benteng ini meninggal karena penyakit . Selain itu, letaknya kurang menguntungkan bagi bangsa Inggris. Inggris berusaha mengadakan pendekatan kembali kepada raja-raja Bengkulu untuk mendapatkan lokasi baru untuk mendirikan benteng sebagai pengganti Fort York. Berkat pendekatan dengan raja-raja di Bengkulu, Inggris mendapatkan lokasi baru yang lebih besar dan letaknya yang strategis diantara sebuah bukit kecil di pinggir pantai Tapak Paderi. Pembangunan benteng ini dilakukan secara bertahap selama lima tahun, pembangunanya dikerjakan oleh arsitek dan para pekerja yang sengaja didatangkan dari India. Pemberian nama Fort Malborough adalah sebagai kenangan kepala seorang komondan militer Inggris yang terkenal “The First Duke Of Marlborough.

Pemerintah Inggris mendirikan benteng ini bertujuan untuk memperkuat kedudukan mereka dari ancaman kolonial Belanda, kesultanan Banten serta untuk mengatasi kemungkinan ancaman pemberontakan rakyat yang merasa tertekan oleh politik penjajahan yang mereka jalankan.

Dengan dibangunya Fort Marlborough yang baru ini, disekitar benteng dipersiapkan sebauh kota, dengan memulai membuka pasar sebagai pusat perdagangan dan oleh penduduk Bengkulu dikenal dengan nama Pasar Melabro. Dari sinilah dapat dikatakan mulai lahirnya kota Bengkulu yang sekarang.

Masalah utama yang dihadapi oleh Inggris di Bengkulu pada masa berkuasanya adalah jarak yang terlalu jauh dengan pemimpin yang berpusat di London. Untuk kebutuhan logistik yang dikirim dari London memakan waktu sampai delapan bulan . Tidaklah mengherankan bahwa persediaan beberapa perlengkapan penting di benteng ini sering berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Beberapa perlengkapan utama seperti mesiu terpaksa di beli dari kapal-kapal dagang yang singgah di Bengkulu.

Pada tahun 1759 perbentengan dilengkapi dengan parit kering yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Parit ini dalamnya sekitar 6 kaki dan lebarnya 12 kaki. Tanah galian itu diletakkan antara dinding benteng yang lama dengan dinding baru sebelah luarnya yang khusus dibangun yang tujuanya untuk meredam serengan mariam. Penambahan ini membuat benteng terlihat seperti sekarang .

Tidak lama setelah pembangunan parit benteng, suatu skuadroun laut Perancis dibawah pimpinan Comte Charles mendarat di Bengkulu. Karena kekurangan amunisi dan perbekalan hanya memberikan suatu satu pilihan bagi pihak Inggris yaitu menyerah. Kota Bengkulu dan benteng dikuasai Perancis tanpa pertumpahan dara. Perancis memanfaatkan benteng ini untuk mempenjarakan orang Inggris. Dalam delapan bulan berikutnya banyak pasukan Perancis meninggal karena berbagai penyakit sehingga akhirnya komandan Perancis memutuskan untuk meningggalkan Bengkulu dan menyerahkan benteng kepada pasukan Inggris, yang sudah berkurang kekuatanya akibat berbagai penyakit.

Masa pemerintahan Raffles di Bengkulu merupakan masa menjelang akhir dari kekuasaan Inggris atas daerah Bengkulu. Pada tahun 1824 dilaksanakan Tratak London yang salah satu isinya adalah Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda. Serah terima tersebut berlansung pada tanggal 16 April 1825. Waktu itu penguasa Inggris di Bengkulu adalah Prince sebagai Actning Residen pengganti Sri Thomas St. Raffles. Sejak itu pula benteng Marlborough berikut daerah Bengkulu dikuasai oleh kolonial Belanda. Selama pemerintahan Belanda benteng Marlborough tidak diperbesar atau diperbaiki, kecoali pada pertengahan abad 19 ketika dilakukan pemasangan mariam pada keempat menara benteng tersebut.

Belanda menguasai benteng Marlborough sampai perang Dunia kedua, lalu meyerahkanya kepada Jepang yang berhasil menguasai Sumatra. Setelah penyerahan Jepang kepada sekutu pada tahun 1945, benteng kembali dikuasai oleh Belanda dan baru setelah Indonesia merdeka, benteng dimanfaatkan oleh tentara Indonesia dan polisi sampai akhirnya dikosongkan pada akhir tahun 1970-an. Kedaan benteng tidak berubah tetap seperti sekarang ini, hanya sedikit pemugaran pada akhir tahun 1980 oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Secara kronologis, sejarah benteng Marlborough dapat diuraikan sebagai berikut :

Tahun 1714-1719 : Masa Pembangunan Fort Marlborough
Tahun 1719-1724 : Fort Marlborough ditinggalkan sebagai akibat serangan rakyat Bengkulu.
Tahun 1724-1825 : Fort Marlborough kembali dikuasai Inggris
Tahun 1825-1942 : Fort Marlborough dikuasai Belanda
Tahun 1942-1945 : Fort Marlborough deikuasai Jepang
Tahun 1949 : Fort Marlborough kembali dikuasai Belanda
Tahun 1949-1983 : Dikuasai oleh Republik Indonesia (TNI-AD, KODIM 0407 Bengkulu Utara)
Tahun 1983-1984 : Benteng dipugar Pemerintah Republik Indonesia, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Benteng Marlborough merupakan benteng batu-bata, berdena kura-kura, bagian badan kura-kura sebagai benteng. Pada bagian kepala kura-kura sebagai pintu masuk ke dalam benteng. Dinding ruangan benteng terbuat dari pasangan batu karang bata dana batu kali, tebal dinding 1,25 meter. Sedangkan pintu ruangan tersebut terbuat dari besi, yaitu , berdiri dengan kerangka besi plat dengan ketebalan 15 mm, dan jeruji besi bulat dengan diameter 18 mm.

Setelah melewati gerbang pertama terlihat empat buah batu nisan besar, Dua diantaranya adalah tugu peringantan bagi Thomas Shaw yang meninggal pada tahun 1704 dan deputi Gubernur Richard Watts yang meninggal pada tahun 1705. Dua buah prasasti lainya, satu diantaranya adalah untuk menghormati Kapten Thomas Cuney, salah seorang perawira yang terlibat dalam pendirian benteng Marlborough. Ia meninggal pada tanggal 17 Pebruari 1737. Prasasti yang ke empat diperuntukkan bagi Henry Stirling pegawai sipil East India Compony yang menjadi anggota Majelis di Bengkulu, Ia meninggal pada tanggal 1 April 1744 dalam usia 25 tahun.

Di daerah lingkaran benteng ini di dekat gerbang luar (tepatnya bagain belakang pintu gerbang sebelah kanan ), terdapat tiga buah makam. Pertama makam Residen Thomas Parr yang mati dibunuh pada tanggal 23 Desember 1807 oleh rakyat Bengkulu. Pada masa itu dikhuatirkan bila ia dimakamkan di komplek pemakaman Inggris, rakyat Bengkulu akan membongkarnya. Di sebelahnya dimakamkan pegawainya, Charles Murray, yang berusaha menyelamatkan Parr namun terluka dan meninggal tidak lama kemudian. Makam ketiga tidak diketahuai milik siapa, tidak ditemukan catatan yang dapat memberikan petunjuk mengenai makam ini.

Di benteng bagian barat daya terdapat di sebelah kiri dan kanan lorong benteng. Di sebelah kiri terdiri dari 7 lokal atau ruangan. Dinding ruangan tersebut dari pasangan batu kali, batu karang, bata dengan mempergunakan perekat campuran kapur, pasir dan tepung bata. Disamping ruangan tersebut terdapat juga ruangan yang teretak di bawah kaki kura-kura barat daya, yaitu rungan penjara bawah tanah, yang terdiri dari tiga ruangan yang keadaanya sangat gelap.

Jika kita masuk dari arah gerbang selatan dapat ditemukan jambatan kayu yang melintas parit kering (yang digali pada tahun 1759) ke bagian tembok benteng yang melingkung dibangun tahun 1783. Ini merupakan salah satu makanisme pertahanan yang disusun untuk memberikan tembakan perlindungan serta perlindungan gerbang menara dan sisinya.

Lapangan utama benteng ini terdiri dari lapangan upacara serta beberapa taman yang berpagar. Lapangan upacara ini dahulunya dipergunakan untuk apel pagi bagi bagi karyawan, staf dan tempat latihan keterampilan serta upacara penyambutan tamu. Di lapangan ini juga para tentara berbaris mendengarkan keputusan pengadilan dan menjadi saksi eksekusi militer. Hukuman bagi pelanggar atau tindakan desersi di Bengkulu adalah hukuman mati, ditembak atau dihukum gantung semuanya dilaksanakan di lapangan ini.

Suatu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah jika kita keluar dari bagain dalam benteng melelui gerbang selatan. Dibanding dengan ilustrasi ini yang dibuat pengamatan (Look out Tower) dari menara selatan. Manara ini digunakan untuk memantau Pulau Tikus yang menjadi pos sinyal. Pos di Pulai Tikus ini akan mengirimkan tanda ke benteng secepatnya bila ada kapal yang memasuki perairan Bengkulu. Menara pengamatan ini rusak dan akhirnya hancur karena gempa bumi sehingga pemerintah merobohkanya.

Menelusuri benteng Marlborough pada semua sisinya akan mengingatkan kita pada masa lalu Bengkulu di bawah pemerintahan kolonial Inggris 1685-1825 dan Belanda sampai masuknya tentara pendudukan Jepang. Walaupun Inggris telah merampas kemerdekaan dan kekayaan Bengkulu tapi tidak pernah menenggelamkan semangat perjuangan pantang menyerah rakyat Bengkulu mengusir kaum kolonial dari negeri leluhurnya.

2. Rumah Kediaman Bung Karno
Tempat lain yang tidak kalah pentinya untuk dikunjungi oleh para wisatawan di Kota Bengkulu adalah Rumah kediaman Bung Karno. Jika kita berjalan kaki dari Munumen Inggris ke timur maka kita akan menemui bekas rumah Proklamator Kemerdekaan dan Presiden pertama Soekarno. Rumah ini ditempati Soekarno bersama istrinya Inggit putri angkat mereka Ratna Juami selama Soekarno dibuang oleh Belanda ke Bengkulu antara tahun 1938 hingga 1941.

Rumah ini terletak di Jl. Soekarno Hatta dengan sebuah beranda di depanya, dimana Soekarno sering pula duduk bersama istri keduanya, Fatmawati, seorang gadis cantik asal Bengkulu. Rumah yang sekarang menjadi museum menyimpan berbagai peninggalan Bung Karno seperti sepeda, lemari kayu, pakaian dan buku-buku berbahasa Belanda peninggalan Soekarno selama pengasingannya di Bengkulu.

Pada awal kedatangan Bung Karno di Bengkulu ia tidak menepati rumah ini, utuk sementara ia ditempatkan di penampungan sementra di Hotel Centrum. Mereka ditempatkan di Hotel ini karena rumah yang disediakan di Anggut Atas sedang diperbaiki. Tidak lama kemudian perbaikan rumah itu selesai. Bung Karno bersama keluarganya dipindahkan ke rumah yang sekarang terletak di Jl. Soekarno Hatta Kota Bengkulu.

Rumah kediaman Bung Karno pada awalnya adalah milik seorang pedagang Cina yang bernama Tjang Tjeng Kwat. Sehari-hari ia bekerja sebagai penyalur bahan pokok untuk keperluan Belanda. Rumah tersebut disewa oleh Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama pengasingan di Bengkulu. Hingga sekarang cirri-ciri sebagai rumah Cina masih ada, yaitu lobang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu bermotif huruf atau ungkapan dalam bahasa Cina.

Pada awal kedatangan Bung Karno di Bengkulu, masyarakat ingin tahu siapa orang diasingkan Belanda di Bengkulu dan ingin mengenal lebih dekat dengan Bung Karno. Karena keakraban dalam bergaul dengan masyarakat sekitarnya, Bung Karno mendapat dua orang pembantu yaitu Mu’in berasal dari Sunda dan Fadil berasal dari daerah Lebong.

Selama pengasinganya di Bengkulu Bung Karno sering kali berkeliling kota untuk mengenal lebih dekat keadaan Bengkulu. Sehingga Bung Karno mulai dikenal banyak orang. Dalam berbagai pertemuan Bung Karno dan Inggit sering di undang oleh lembaga-lembaga keagamaan seperti Muhammadiyah. Bahkan Bung Karno pernah mengajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah, yang mengajarkan untuk mencintai tanah air. Bung Karno juga sering berkunjung ke beberapa masjid sehingga ia pernah merancang pembangunan sebuah masjid yang terletak di tengah kota Bengkulu, bernama Masjid Jamik, pembangunan masjid ini adalah swadaya masyarakat. Hingga sekarang masjid Jamik menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bengkulu dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang dikunjungi oleh wisatawan di kota Bengkulu.

Pada saat Bung Karno menepati rumah ini, selalu dijaga petugas kepolisian Belanda. Siapapun tamu beliau terlebih dahulu harus melapor dan minta izin kepada petugas penjagaan. Ruang gerak Bung Karno selalu dibatasi. Meskipun demikian , Bung Karno Masih lolos untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh politik lainya, seperti Husni Thamrin, Hamka dan Kyai Haji Mansyur.

Seperti halnya di daerah lain, di Bengkulu Bung Karno juga mendirikan kelompok sandiwara. Gagasan Bung Karno untuk mendirikan sandiwara ini disambut baik oleh teman-teman dekatnya. Perkumpulan sandiwara yang dibentuk Bung Karno itu bernama “Tonsel Kalimutu”, semua pemainya adalah laki-laki. Tempat latihan sndiwara ini di lakukan di rumah kediaman Bung Karno di Anggut. Selain itu latihan sandiwara juga diadakan di sekolah Muhammadiyah. Lakon-lakon yang dipentaskan adalah sebagai berikut:

1. Dr. Pengiblis Syaitan.
2. Kisah cinta istri seorang Komandan Pertugis di Endeh
3. Lowis Pareire Kumi Toro, yang menceritakan si Putri Cantik Rendo. Putri tersebut berambut keemasan yang panjangnya sampai tujuh meter
4. Rainbow
5. dan Cut-cut Bee.

Naskah-naskah yang dipentaskan diciptakan oleh Bung Karno sendiri, begitu juga yang melatih. Latihan dan pementasan tersebut digunakan oleh Bung Karno sebagai jambatan untuk berkomunikasi dengan para pemuda dan kawan-kawanya. Jalinan komunikasi tersebut merupakan senjata yang ampuh untuk meneruskan perjuanganya melawan penjajahan Belanda.

Dengan adanya kegiatan sandiwara di rumah Bung Karno, maka masyarakat banyak berkunjung, baik untuk latihan maupun sekedar untuk melihat-lihat. Salah seorang yang berkunjung ke rumah Bung Karno pada tahun 1938 adalah Hasanddin. Hasanddin adalah seorang pedagang sayur di kota Curup dan juga menjadi pemimpin Muhammadiyah di Curup. Hasauddin ingin bersilahturrahmi dengan Bung Karno. Sebelum keberangkatanya ke Bengkulu, Hasanddin menulis surat terlebih dahulu. Dalam surat ia menyatakan ingin bertemu dengan Bung Karno.

Pada hari yang ditentukan Hasanddin sekeluarga berangkat ke Bengkulu dan menginap di rumah keluarganya. Baru keesokan harinya mereka menuju rumah Bung Karno. Keberangkatan Hasanddin disertai Istri (Siti Chadijah) dan anaknya yang bernama Fatmawati. Dengan menaiki Delman (dokar) mereka tiba di rumah Bung Karno. Pembicaraan antara Bung Karno dengan Hasanddin masalah perjuangan dan pergerakan. Setelah pembicaraan selesai giliran Fatma yang ditanya oleh Bung Karno, “Fatma, kamu sekolah dimana ?” Fatmapun menjelaskan bahwa ia tidak sekolah, hanya aktif dalam perkumpulan Nasyatul Aisyah di Curup. Bung Karno kembali bertanya, “Apakah fatma bersedia masuk sekolah RK Vakschool bersama Ratna Juami ?”. Bung Karno juga mengatakan ia kan menjamin semua yang penting Fatma mau sekolah.

Semenjak itu Fatma tinggal di Bengkulu, sedangkan Hasanddin bersama keluarga kembali ke Curup. Hari berganti begitupun bulan dan tahun, akhirnya Fatma dapat menyelesaikan sekolahnya di Bengkulu. Sementara teman-teman dekat Bung Karno sering berkunjung untuk membicarakan segala sesuatunya, Diantara teman-teman Bung Karno yang sering berkunjung dan mendatangi rumah di Anggut Atas adalah disamping Hasanddin, ada Abdul Manaf, Bachtiar karim dan Abdullah.

Pada bulan Juli 1942, barulah terlaksana pernikahan Bung Karno dengan Fatmawati. Dalam pernikahan tersebut Bung Karno diwakili oleh Mr. Sarjono dan Fatmawati diwakili oleh Basaruddin (kakek Fatmawati). Setelah pernikahan terlaksana Fatmawati harus menunggu beberapa bulan untuk berangkat ke Jakarta. Fatmawati harus menyusul Bung Karno ke Jakarta yang telah meninggalkan rumah di Anggut Atas. Pada Tanggal 1 Juni 1943, barulah Fatmawati berangkat ke Jakarta untuk dipertemukan dengan Bung Karno.

B. Potensi Wisata Sejarah
1. Objek Wisata
Selama kurun waktu beberapa tahun, semenjak dibukanya Benteng Maralbourough untuk umum sebagai tujuan wisata sekitar tahun 1984. Objek wisata Benteng dan Rumah kediaman Bung Karno, yang menjadi objek wisata unggulan di kota Bengkulu masih minim dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun manca negara. Grafik wisatawan yang berkunjung ke Benteng dan Rumah Bung Karno mengalami pasang surut. Pada hari-hari tertentu pengunjungnya cukup ramai seperti pada hari-hari libur sekolah, hari lebaran, tahun baru dan pada saat upacara Tabot. Jika diambil rata-rata pengunjung Benteng maupun rumah Bung Karno berkisar sekitar 300 atau 400 orang / bulan.

Kendatipun sedikitnya orang berkunjung ke Benteng dan Rumah Bung Karno dari yang diharapkan, namun apesiasi masyarakat terhadap Benteng dan rumah Bung Karno sudah mulai cendrung ke arah peningkatan. Orang datang ke Benteng dan Rumah Bung Karno bukan hanya untuk jalan-jalan saja. Dari tingkah laku pengunjung sudah menunjukkan ke arah ingin tahuanya mereka tentang Benteng dan rumah Bung Karno. Hal itu ditandai banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh pengunjung kepada pemandu saat berkunjung seperti tentang riwayat Benteng, dan pengunaan masing-masing ruangan yang ada dalam Benteng, begitu juga dengan aktifitas Bung Karno selama berada di Bengkulu dan lain sebagainya.

Tidak semua pengunjung yang datang ke Benteng yang bisa dipandu, untuk memudahkan pengunjung mengetahui masing-masing ruangan yang ada dalam Benteng, maka dari Subdin Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional Bengkulu telah membuatkan semacam deskripsi atau keterangan yang dapat dibaca dan mudah dipahami oleh seluruh pengunjung mengenai fungsi masing-masing rungan yang ada dalam Benteng. Pengunjung yang sifatnya perorangan ia akan berpedoman kepada deskripsi yang telah ditempel pada masing-masing ruangan. Tapi bila pengunjung yang rombongan atau tamu Partokoler yang datang melalui surat, maka pengunjung atau tamu tersebut akan dipandu oleh seorang pemandu yang bertugas menjelaskan tentang sejarah Benteng dan fungsi masing-masing ruangan yang ada dalam Benteng. Penjelasan yang diberikan oleh pemandu tetap berpedoman kepada deskripsi yang menempel di masing-masing ruangan.

Berdasarkan pengamatan selama ini pengunjung datang ke Benteng sama dengan berkunjung ke Museum. Sebelum berkunjung mereka beranggapan bahwa Benteng adalah tempat penyimpanan barang-barang peninggalan bersejarah. Tapi setelah mereka berkunjung dan membaca keterangan yang ditempel di masing-masing ruangan, maka pengunjung berkesimpulan bahwa Benteng adalah merupakan bangunan bersejarah yang masing-masing ruanganya punya fungsi. Meskipun Benteng tidak dilengkapai dengan koleksi penunjang tapi paling tidak fungsi ruangan dapat diinformasikan atau diketahui oleh masyarakat yang berkunjung ke Benteng dengan harapan masyarakat tahu dengan fungsi ruangan. Kalau selama ini masyarakat masuk ke Benteng dengan tanda tanya, dan keluar dari Benteng tanda seru. Sekarang masuk dengan tanda tanya, keluar sudah ada jawaban, mereka sudah tahu fungsi masing-masing ruangan.

Pengunjung yang datang ke Benteng dan rumah Bung Karno mempunyai motivasi yang berbeda, ada yang hanya sekedar jalan-jalan untuk sekedar melihat-lihat, ada yang kepingin tahu tentang keberadaan Benteng Ada juga datang dari kalangan mahasiswa dan siswa, mencari data untuk keperluan membuat skeripsi dari berbagai jurusan seperti jurusan Arkhiologi, arsitektur, teknik sipil, sejarah dan ekonomi. Jika mereka datang ke Benteng, informasi yang diberikan tetap mengacu kepada deskripsi yang tertera di masing-masing ruangan, apa lagi data pendukung mengenai keberadaan Benteng ini juga tidak banyak dan sangat terbatas. Selain mahasiswa ada juga siwa-siswi SLTA yang datang ke Benteng dan rumah Bung Karno. Misalnya ketika mereka disuruh membuat PR oleh guru-gurunya, mereka datang mencari data mengenai Benteng, maupun rumah Bung Karno.

Jika pengunjung berkunjung ke objek wisata rumah Bung Karno yang terletak di Jl. Suakarno Hatta, maka di dalam rumah tersebut masih tersimpan berbagai peninggalan Bung Karno yang sebagianya peninggalan tersebut masih utuh seperti Buku-buku, pakaian Tuning (pakaian yang pernah dipergunakan untuk bersandi wara), foto-foto, sepeda, lemari, kursi tamu, meja makan dan tempat tidur. Semua peninggalan Bung Karno ini masih utuh dan terpelihara dengan baik.

Suatu hal yang sangat menarik di objek wisata rumah Bung Karno, yaitu jika pengunjung masuk ke dalam rumah dan terus ke belakang, maka pengujunjung akan menemukan sebuah sumur tua. Saumur tua tersebut masih utuh dan air nya sangat jernih. Sebagian pengunjung yang datang ia menyempatkan diri untuk mencuci muka di sumur tua tersebut. Sumur tersebut sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian pengunjung, dapat mengambil berkah dari air sumur tersebut. Kepercayaan orang untuk mencuci muka di sumur tua itu barangkali ingin mengambil berkah. Kerena melihat kharisma dan kehebatan Bung Karno, Bung Karno punya kelebihan. Di Bengkulu Bung Karno pernah membuat drama Marten Carlo, dan termasuk arsitektur pembangunan masjid Jamik Bengkulu. Selama di Bengkulu Bung Karno tidak pernah berhenti untuk menanamkan semangat juang dan cinta tanah air kepada pemuda dan pemudi serta masyarakat Bengkulu pada umumnya.

Berkaitan dengan Benteng dan rumah Bung Karno Alcala Zamora mengatakan “Dari segi promosi Benteng dan rumah Bung Karno sudah menjadi wisata unggulan, sebab semua orang sudah tahu, kalau ke Bengkulu tidak pergi ke Benteng dan rumah Bung Karno belum sempurna rasanya”.

2. Pelestarian Nilai Sejarah dan Budaya
Benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa, pemanfaatan adalah upaya pendayagunaan bagi kepentingan agama, sosial. pariwisata, ilmu penegetahuan dan kebudayaan. Peninggalan bangunan bersejarah perlu dilindungi, dilestarikan dan dikembangkan, dimamnfaatkan untuk pemupukan jati diri bangsa dan kepentingan nasional umumnya serta kepentingan daerah khususnya.

Perlindungan dan pemeliharaan terhadap bangunan peninggalan sejarah tidak lain merupakan upaya pelestarian terhadap keberadaan benda peninggalan sejarah dan budaya. Upaya pelestarian benda peninggalan sejarah dan budaya tersebut besar artinya untuk menumbuhkan apesiasi masyarakat terhadap warisan sejarah dan budaya.

Berdasarkan keputusan Mendikbud RI nomor 063/U/1995 tentang perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya, yang dimaksud dengan perlindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi segala gejala atau akibat yang disebabkan oleh perbuatan manuasia atau proses alam yang dapat menimbulkan kerugian atau kemusnahan bagi nilai manfaat dan keutuhan bangunan peninggalan sejarah dengan cara penyelamatan, pengamanan dan penertiban. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeliharaan adalah upaya pelestarian bangunan peninggalan sejarah dari kerusakan yang diakibatkan oleh faktor manusia, alam dan hayati dengan cara perawatan.

Keberadaan Benteng Marlbourough dan Rumah Kediaman Bung Karno di kota Bengkulu sebenarnya merupakan data sejarah yang sangat penting, untuk menggali dan mengetahui kembali sejarah dan budaya Bengkulu dimasa lalu. Berkaitan dengan upaya pelestarian nilai sejarah dan budaya ini, maka pemerintah melalui dinas yang terkait di Provinsi Bengkulu telah melakukan upaya pelestarain peninggalan sejarah dan buda yang ada di kota Bengkulu khususnya benteng dan rumah kediaman Bung Karno, dengan cara pemugaran dan pemeliharaan.

Pemugaran dan pemeliharaan benteng Marlbourough dilaksanakan oleh Balai Pelestarain Peninggalan Purbakalah (BP3) Jambi dan Balai Arkhiologi Palembang, berkerjasma dengan Subdin Kebudayaan Diknas Privinsi Bengkulu. Pemugaran Benteng dilakukan pertama kali tahun 1978 dan selesai tahun 1984. Setelah itu pemugaran terus dilakukan tapi sifatnya bertahap. Begitu juga Rumah Bung Karno sudah dua tahap dipugar pertama rumah yang kedua lingkunganya. Setelah itu sudah sering juga dipugar berskala kecil seperti jendela, pengecetan ulang atau pagar.

Pemugaran Benteng pertama dilakukan tahun 1978. Semua dinding luar yang runtuh dibangun kembali. Dalam pemugaran selalu menjaga keaslian dengan arti kata tidak dirubah baik tinggi atau tebal dinding, begitu juga dengan ruang-ruangan di dalamnya sudah pernah dipugar. Setelah itu bagian-bagian tertentu sudah sering dipugar seperti jambatan di pintu masuk ke benteng. Jambatan itu paling lama tiga tahun sudah lapuk, begitu juga dengan dinding laur. Benteng ini kan dekat dengan laut, jadi air laut itu berhembus ke Benteng tingkat penggaramanya sangat tinggi, itu yang membuat jambatan dan dinding cepat rapuh. Pemugaran dinding itu juga tidak sekaligus, tapi kita cari segala perioritas. Artinya yang dipugar itu bagian-bagian dinding yang retak atau yang mengelupas saja.

Pelestarian suatu bangungan bersejarah tidak terlepas dari peran masyarakat setempat maupun para pengunjung yang datang ke tempat objek itu. Di sekitar Benteng kesadaran masyarakat atau pengunjung masih kurang terhadap kebersihan lingkungan, walaupun telah disediakan tempat sampah, namun pengunjung masih tetap membuang sampah seenaknya, pada hal tempat sampah sudah disediakan oleh pengelola. Jadi kesadaran masayarakt sekitar dan pengunjung sangat diperlukan sehingga, objek wisata Benteng dapat dibanggakan sebagai objek wisata unggulan di kota Bengkulu.

Dalam pembangunan Benteng ke depan Kusubdin Kebudayaan berharap “Pembangunan Benteng kedepan agar bisa dikombinasikan antara kepentingan teknis dengan kepentingan politis. Artinya Benteng sebagai benda cagar budaya atau benda bersejarah, untuk kepentingan studi dan ilmiyah dapat dilestarikan dan tetap utuh, tapi Benteng sebagai asset pariwisata juga dapat diandalkan sebagai aset budaya yang bernilai tinggi dan dapat dijual”.

3. Menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Sejalan dengan bergulirnya era otonomi daerah yang menuntut setiap daerah Kabupaten dan Kota untuk menggali, memanfaatkan dan mendaya gunakan berbagai potensi yang terdapat di daerahnya untuk sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber pendapatan Asli Daerah (PAD). Semenjak diperlakukanya Undang-Undang otonomi daerah, maka orentasi kebijakan pemerintah daerah berubah yang semula hanya sebagai penompang kebijakan pemerintah regional menjadi lebih ekslusif.

Berkaitan dengan sumber pendapatan dari objek wisata Benteng dan rumah Bung Karno di kota Bengkulu, selama ini hanya baru sebatas menjual kercis. Hal itu diungkapkan oleh Subdin Kebudayaan Diknas Provinsi Bengkulu “Selama ini masalah yang berkaitan dengan kontribusi, baik Benteng maupun rumah Bung Karno belum tertata dengan rapi. Artinya selama ini antara modal kerja dengan hasilnya tidak seimbang dari segi keuntungan. Kedepanyan kita harapkan untuk apa kita meningkatkan mutuh Benteng atau rumah Bung Karno kalau tidak bisa meningkatkan PAD. Selama ini jika orang berkunjung ke Benteng atau rumah Bung Karno ia harus beli karcis, dewasa Rp. 1000/ orang dan anak-anak Rp. 500/ orang. Tapi kita harus ingat, tidak semua orang yang datang ke sana itu punya uang. Permasalahanya sekarang apakah mereka yang tidak punya uang itu kita usir, tapi mereka kepingin melihat ke dalam, dan kita tidak bisa menerkah apakah ia betul-betul tidak punya uang atau karena malas membayar. Jadi dalam hal ini petugas yang jaga memakluminya akhirnya orang yang tidak punya uang itu pun diizinkan masuk. Oleh karena itu kalau kita akan mengukur jumlah pengunjung dengan jumlah kercis yang terjual tidak akan cocok, apakah itu di Benteng maupun di rumah Bung Karno, bahkan di Museumpun juga seperti itu”.

Seperti objek wisata lain, tidak setiap hari ramai pengunjungnya, ada hari-hari tertentu pengunjung Benteng dan rumah Bung Karno cukup ramai seperti yang diungkapkan oleh juru pelihara rumah Bung Karno “Pengunjung yang datang baik ke rumah Bung Karno maupun ke Benteng rata-rata antara 350-450 orang / bulan. Pengunjung yang ramai hanya pada hari-hari tertentu saja seperti hari lebaran, liburan sekolah, saat upacara Tabot dan hari-hari libur lainya. Bagi pengunjung baik ke rumah Bung Karno maupun ke Benteng dipungut biaya, dewasa Rp. 1000 / orang dan anak-anak Rp. 500 / orang. Kadangkala ada juga orang yang tidak punya uang tapi ia kepingin juga melihat ke dalam, lebih-lebih anak sekolah, maka kita tidak tega untuk tidak mengizinkanya masuk. Jadi antara kercis yang terjual dengan jumlah pengunjung yang masuk tidak bisa dicocokkan jumlahnya.”

Hasil dari penjualan karcis baik dari Benteng maupun dari rumah Bung Karno, distor ke kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Bengkulu. Penyetoran dilakukan satu kali setahun dengan sistem kontrak antara Rp.3 juta sampai Rp. 3. 500.000 / tahun. Setiap orang yang piket di Benteng maupun di rumah Bung Karno akan mencatat berapa karcis yang terjual setiap bulanya. Dari kenyataan yang ada kadangkala target yang ditetapkan itu tidak tercapai. Penyetoran kontribusi ke Dispenda Provinsi itu sesunggunya digunakan juga untuk kepentingan renovasi Benteng dan rumah Bung Karno juga. Meskipun kenyataanya dananya tidak cukup untuk merenonasi kedua bangunan bersejarah itu.

4. Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Objek wisata bangunan bersejarah sedikit banyaknya mengandung nilai ekonimos, dapat menambah pendapatan daerah dan meningkatkan ekonomi masyarakat daerah sekitarnya. Benteng Marlbouruhg dan rumah kediaman Bung Karno yang menjadi andalan objek wisata di kota Bengkulu, belum banyak memberi pengaruh terhadap ekonomi masyarakat sekitarnya. Berdasarkan pengakuan dari Kasubdin Kebudayaan Diknas Parovinsi Bengkulu mengatakan “Pengaruhnya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat disekitar Benteng maupun di rumah Bung Karno belum begitu tampak secara lansung. Tapi akhir-akhir ini masyarakat disekitar Benteng sudah mulai membuka warung makanan atau tokoh. Kedepan kita tentu ingin manata warung-warung di sekitar Benteng itu, sebab biasanya wisatawan itu tidak terlepas dari tiga hal apa yang dilihat, apa yang dibeli dan apa yang dibawa pulang”.

Selanjutnya Fakhri Bustamam mengatakan “Diharapkan ke depan kedai-kedai makanan itu ditata secara baik, sehingga warung-warung itu menjadi dekorasi terhadap objek wisata itu sendiri. Jadi orang datang ke Benteng, mau makan atau minum dan membeli oleh-oleh sudah tersedia disekitar benteng maupun di rumah Bung Karno. Warung atau tokoh yang berada di sekitar Benteng atau rumah Bung Karno akan berfungsi ganda, disamping memberikan fasilitas pelayanan kepada pengunjung dan masyarakat sekitarnya, ia juga sebagai dekorasi bagi objek wisata sejarah tersebut”.

Di objek wisata sejarah rumah Bung Karno, warung atau tempat penjual makanan sudah mengarah kepada penataan yang lebih baik. Di sepanjang Jl. Sukarno Hatta disisi kiri dan kananya, masyarakat disekitarnya sudah berjualan makanan khas Bengkulu. Karena sipenjual makanan sudah melihat dan membaca, bahwa tamu-tamu yang datang dari luar daerah Bengkulu, ia pasti berkunjung ke rumah Bung Karno. Jadi dikawasan Jl. Sukarno Hatta itu sangat strategis dijadikan kawasan penjual makanan khas Bengkulu.

5. Prospek
Keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan objek wisata sejarah di Bengkulu sudah mulai menggeliat, walaupun baru sebatas wacana. “Kedepanya Benteng ini akan dijadikan kawasan wisata andalan Bengkulu, yang jelas Bapak Gubernur dimana dan kapan saja dalam berbagai kesempatan ia selalu berbicara tentang wisata. Kalau sudah berbicara tentang wisata tidak terlepas dari Benteng dan rumah Kediaman Bung Karno. Karena kedua bangunan bersejarah tersebut sangat potensial untuk dijual tentunya dengan pengemasan agar Benteng dan rumah Bung Karno itu lebih menarik dan tidak menoton”.

Pengembangan Benteng kedepan akan mengkombinasikan antara kepentingan teknis dengan kepentingan politis. Artinya Benteng sebagai benda cagar budaya untuk kepentingan studi dan ilmiyah tetap terjaga keutuhanya, tetapi juga bisa dijual sebagai asset pariwisata. Namun hal itu masih mecari-cari yang terbaiknya seperti apa. Sudah banyak kajian yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjadikan Benteng itu menarik dikunjungi oleh wisatawan.

Berkenaan dengan pengembangan kawasan wisata sejarah di kota Bengkulu. Pemerinta daerah Provinsi Bengkulu telah mencanangkan kawasan, mulai dari Pasar Bengkulu, Pantai Zakat dan Tapak Padri dan daerah lainya, sebagai kawasan wisata sejarah. Pencanangan ini dilaksanakan pada malam pembuangan Tabot tanggal 10 Muharram 2006. di kota Bengkulu. Pada pertemuan itu dihadiri oleh beberapa duta besar dan dari staf ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Dari hasil pertemuan itu melalui pemerintah daerah dibuat usulan Program “Pengembangan Kawasan Benteng Marlbourough Sebagai Kawasan Sejarah Terpadu” ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta instansi terkait. Tujuan dari usulan itu adalah untuk menjadikan kawasan Benteng Marlborough sebagai sebuah kawasan sejarah terpadu berbasis informasi elektronis.

Setelah melakukan pengkajian secara seksama dengan berbagai pihak, maka untuk pengembangan Kawasan Benteng Marlborough sebagai kawasan sejarah terpadu, pemerintah daerah Provinsi Bengkulu telah mengusulkan kepeda pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, ada delapan poin usulan yang disampaikan sebagai berikut : (1) Perlu adanya Forum Komunikasi dan Kordinasi. Forum ini dimaksudkan untuk mempertemukan semua element yang berkaitan dengan pengembangan Benteng sebagai sebuah (heritage tourism zone) dalam perspektif KWI, dan membentuk kajian sejarah dan menghidupkan kembali konsep kota kembar (thins sister city. (2) Penggalian dan Invetarisasi Nilai-Nilai Sejarah. Menghimpun dan mengadakan benda-benda bersejarah tentang Benteng Marlborough. (3) Peningkatan Kualitas Fisik Bangunan. Kegiatan-kegiatan Fisik mengembalikan kebentuk asli semua bangunan yang berkaitan kawasan Benteng Marlbourough. (4) Ded Museum Sejarah. Tersusunya rencana pengembangan Benteng sebagai sebuah Museum sejarah. (5) Pembuatan Infrastruktur penunjang. Penyediaan semua sarana dan prasarana dasar; Isntalasi lestrik, Instalasi air bersih dan telkomunikasi. (6) Hard And Soft Electrinic Information. Pengadaan perangkat elektrnik dan pembuatan software informasi kawasan Benteng. (7) pembuatan Diorama dan replica Benda-Benda Informasi. Membuat Patung raksasa Siri Thomas Stanford Raffles, dan membuat simulasi tiga demensi fungsi utama Benteng pada masa waktu. (8) Reproduksi Lukisan. Melukis ulang semua lukisan yang berkaitan dengan sejarah Benteng sebagai benda-benda panjang bersejarah.

Dalam pengembangan Benteng sebagai kawasan sejarah terpadu, tidak terlepas dari rambu-rambu yang diatur oleh undang-undang no 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Artinya Benteng sebagai objek wisata yang dapat dijual untuk kepentingan pariwisata, tetapi sebagai benda cagar budaya juga dapat dilestarikan dan terjaga keaslianya.

Benteng Marlborough di Bengkulu adalah Benteng terbesar dibangun Inggris setelah India. Dalam pengembangan kedepan pemerintah daerah Provinsi Bengkulu, merasa perlu untuk melibatkan pihak Inggris. Dalam hal ini pemerintah daerah Provinsi Bengkulu sebagai langkah awal telah berkonsultasi dengan kedutaan Inggris di Jakarta mengenai Benteng dan peninggalan Inggris lainya, dengan harapan pihak Inggris dapat memberikan dukungan kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan Benteng Marlborough.

Penutup
Dalam pengembangan Benteng dan rumah Bung Karno sebagai kawasan sejarah terpadu, tidak terlepas dari rambu-rambu yang diatur oleh undang-undang no 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Artinya Benteng sebagai objek wisata yang dapat dijual untuk kepentingan pariwisata, tetapi sebagai benda cagar budaya juga dapat dilestarikan dan terjaga keaslianya.

Perawatan dan pemeliharaan benteng Marlborough dan rumah kediaman Bung Karno perlu ditingkatkan, hal ini perlu diperhatikan baik dari kalangan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kemudian juga tidak terlepas dari kepedulian dunia usaha swasta maupun masyarakat sekitarnya untuk menjaga pelestarian peninggalan sejarah. Untuk itu dalam pengelolaan benteng dan rumah Bung Karno sebagai objek wisata sejarah perlu perencanaan yang matang, dengan melibatkan para pakar, para ahli di bidangnya yang terkait. Sehingga dalam pengelolaanya tetap mengacu pada rambu-rambu khususnya pada bidang sejarah dan perpurbakalaan tetap sesuai jalur. Potensi bangunan bersejarah dan seni budaya yang ada di kota Bengkulu merupakan asset wisata budaya yang memiliki nilai dan keunggulan tersendiri sendiri, dan membuka peluang investasi bidang usaha dan jasa pariwisata.

Daftar Pustaka
A. Yoety, Oka. 1994. Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Bandung: Angkasa Bandung.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Bengkulu 2000.
Buku Tamu Benteng Marlborough tahun 2003
Buku Tamu Rumah Kediaman Bung Karno Tahun 2002
Lapian, A.B dan Suwadji Sjafi’i. 1984. Sejarah Sosial Daerah Kota Bengkulu. Jakarta :IDSN Depdikbud
.Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984. Sejarah Sosial Daerah Kota Bengkulu. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Jakarta: IDSN. Dikbud.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982/1983. Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperealisme di daerah Bengkulu. Jakarta: Proyek IDSN.
Departemen Pariwisata Pos dan Telkomunikasi. 1990. Undang-Undang RI Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan.
Laporan Tim Survey Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakalah Jambi. 1993-1995. Palembang: BP3
Sidik, Abdullah. Sejarah Bengkulu 1500-1900. Jakarta: Balai Pustaka.
Marsis Sutopo. Potensi Benda Cagar Budsaya di Sumatera Barat dan Pemanfaatanya Untuk Pariwisata. Makalah Disampaikan dalam Dialog Sejarah dan Budaya Bagi Pariwisata. Yang Diselenggarakan oleh Dinas Parsenibut. Prov. Sumbar. Padang Tanggal 10 Juni 2002.
------------------. Perlindungan Hukum terhadap Benda Cagar Budaya. Makalah Disampaikan dalam acara Seminar Sejarah dan Budaya Alam Surambi Sungai Pagu, tanggal 10-11 Agustus 2005 di Padang.
Rani, M.Z.1990. Perlawanan Terhadap Penjajahan dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan Indonesia di Bumi Bengkulu. Jakarta : Balai Pustaka.
Hartono, Agus. 1997. Rumah Kediaman Bung Karno pada Waktu Pengasingan di Bengkulu. Bengkulu: Bangun Wijaya.
F. Burhan. 1988. Bengkulu Dalam Sejarah. Jakarta: Yayasan Pengembangan Seni dan Budaya Nasional Indonesia.
M. Ikram. Makna Bangunan Bersejarah di Kota bengkulu. Makalah Disampaikan dalam acara Sosialisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Museum Bengkulu, tanggal 23 Desembenr 2004.
Acala Zamora. Pemenfaatan Bangunan Peninggalan Bersejarah Sebagai asset Wisata Daerah. Makalah Disampaikan dalam acara seminar Sejarah dan Budaya di Bengkulu, tanggal 23 Desember 2004.

Wawancara
1. Muhardi, Bengkulu, 8 Mei 2006
2. Fakhri Bustamam, Bengkulu, 8 Mei 2006
3. Mahasiswa, Bengkulu, 11 Nopember 2006
4. Darwis Adrian, Bengkulu, 8 Agustus, 2006
5. Alcala Zamora, Bengkulu, 9 Agustus 2006.

Sumber : http://www.bpsnt-padang.info

Bangunan Bersejarah Di Kota Bengkulu

Oleh : Ajisman, Iim Imaduddin, dan Ade Hapriwijaya
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang, 2001.

Di Kota Bengkulu cukup banyak di temui obyek wisata budaya yang baik dan siap untuk dikunjungi. Seperti Benteng Marlborough, Rumah pengasigan Bung Karno, Mesjid Jamik, Tugu Thomas Parr, Makam Sentot Ali Basyah dll. Di Kota Bengkulu ini banyak hal-hal penting dan menarik yang akan di dapat. Keadaan alam, daya tarik dan nilai obyek.obyek wisata budaya di Kota Bengkulu tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia bahkan dengan macanegara. Akan tetapi potensi itu belum digarap sebagaimana mestinya dan belum memberikan hasil yang maksimal. Salah satu kelemahan pengelolaan pariwisata kita adalah relatif lemahnya informasi. Mungkin kita belum dapat menginformasikan obyek wisata yang ada secara maksimal. Pada kesempatan ini akan diperkenalkan beberapa bangunan bersejarah yang berfotensi untuk dikembangkan sebagai pariwisata daerah Bengkulu. Antara lain:

1. Benteng Marlborough
Benteng Marlborough adalah benteng Inggris yang terletak di Kelurahan Pengantungan, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Lokasi benteng sangat srategis diantara bukit-bukit kecil di pinggir pantai Tapak Paderi. Benteng ini dibangun tahun 1714. Pembangunan benteng dilakukan secara bertahap selama lima tahun. Pembangunanya dikerjakan oleh arsitek dan para pekerja yang sengaja di datangkan dari India. Pemberian nama Fort Marlborough adalah sebagai kenangan kepada seorang komondan militer Inggris yang terkenal “The First Duke of Malborough (1650-1722).

2. Rumah Kediaman Bung Karno
Salah satu yang tidak kalah pentingnya bangunan bersejarah yang baik untuk dikunjungi adalah Rumah kediaman Bung Karno. Rumah ini terletak di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di jalan Sukarno Hatta Kelurahan Anggut Atas kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. Tahun pendirian rumah ini tidak dapat diketahui dengan pasti, rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghua yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu. Hingga sekarang ciri-ciri sebagai rumah cina masih ada, yaitu lobang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu bermotif huruf/ ungkapan dalam bahasa cina. Bung Karno yang memiliki nama kecil Kusno setelah diasingkan ke Endeh Flires sejak tahun 1934, kemudian dipindahkan ke Bengkulu pada tahun 1938.

3. Mesjid Jamik
Mesjid Jamik Bengkulu terletak di Pintu Batu, dipersimpangan jalan raya yang cukup ramai. Disekitar lokasi mejid terdapat bangunan pertokoan dan rumah-rumah makan bahkan hotel dan penginapan.

4. Tugu Thomas Parr
Tugu Thomas Parr ini terletak di Kelurahan Kampung Cina Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, tepatnya di depan Kantor Pos Bengkulu. Thomas Parr adalah penguasa Inggris yang ke lima puluh satu yang diangkat oleh pemerintahan Inggris sebagai Residen. Thomas Parr tiba di Bengkulu tanggal 27 September 1805, sebagai Residen Fort Malborough (1805-1807) menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr terkenal sikapnya yang angkuh dan ganas, dia terbiasa mencaci maki dan menyiksa rakyat untuk mencapai apa yang ia inginkan. Sikap dan tindak tanduk Parr ini ikut dirasakan secara merata oleh rakyat di daerah ini. Kekejaman Thomas Parr ini akhirnya dapat dibalas oleh rakyat Bengkulu. Tepatnya tanggal 26 Desember 1807 rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami datang menyerbu ke dalam peristirahatan Thomas Parr, ia diserang oleh sekitar 300 orang yang mengakibatkan ia mati terbunuh. Demikian pula istri Thomas Parr hanya terluka, ia disingkirkan.

5. Makam Sentot Alibasyah
Makam Sentot Alibasyah terletak di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Makam tersebut terletak di komleks pemakaman umun. Luas keseluruhan lebih kurang 400 m. Makam Sentot Alibasyah adalah makam yang bernilai sejarah. Sentot Alibasyah adalah seorang Panglima perang Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda di pulau Jawa. Setelah Pangeran Diponegoro dan Sentot Alibasyah ditangkap, kemudian Sentot Alibasyah dikirim ke Sumatera Barat. Karena Sentot memberikan dukungan kepada kaum Paderi, maka Sentot Alibasyah ditarik kembali ke Jawa dan disingkirkan ke Cianjur. Di Batavia ia diizinkan oleh Belanda untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari Mekkah (1833), ia lansung menjalani putusan pengadilan yaitu, di buang ke Bengkulu. Pangeran Alibasyah Prawiradiraja, yang lebih dikenal dengan nama Sentot Alibasyah, dengan surat pengusulan dari Gubernur Jenderal dalam Dewan tertanggal 2 Desember 1843 La N, telah di buang ke Bengkulu.

6. Makam Inggris
Komplek makam Inggris terletak di Kelurahan Jitra. Komplek ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Benteng Malborogh, karena menurut catatan Inggris di Bengkulu telah ribuan orang meninggal akibat perang, atau penyakit dan sebagian diantaranya dimakamkan di komplek pemakaman Jitra ini.

7. Makam Imam Senggolo
Makam Imam Senggolo terletak di Jalan Kinibalu, Desa Karbala, Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. Makam tersebut terletak di komplek pemakaman umum yang merupakan komplek makam orang-orang pembawa tabot ke Bengkulu dan masyarakat sekitarnya.

Lokasi makam ini menjadi tempat dilaksanakanya upacara tabot terbuang (tanggal 10 Muharram), yaitu upacara untuk memperingati wafatnya Hasan Husen, cucu Nabi Muhammad SAW yang mati secara mengenaskan di Padang Karbela. Upacara tabot di Bengkulu sudah berlansung sejak lama, yaitu sejak dari awal abad ke 18. Adapun yang pertama melaksanakannya adalah masyarakat muslim yang berasal dari India Menggala. Mereka datang dibawah oleh pemerintah kolonial Inggris dalam rangka pembangunan Benteng Malboroug.

Di antara mereka yang datang terdapat seorang ulama Syiah yang bernama Syech Burhanuddin yang kemudian di kenal dengan nama/ gelar Imam Senggolo yang wafat di Bengkulu dan dimakamkan di Kelurahan Padang Jati. Tempat ini kemudian dikenal sebagai tempat membuang tabot. Orang-orang muslim Syiah dari India banyak yang kawin dengan orang Bengkulu dan keturunan mereka itu dijuluki dengan keturunan Sipai. Sipai adalah bahasa Menggala yang berarti kembali ketempat asal. Keturunan inilah yang menjadi keturunan keluarga tabot di Bengkulu. Makam Imam Senggolo ini banyak dikunjungi oleh parawisatawan, lebih-lebih lagi pada saat upacara tabot berlansung.

Selain bangunan bersejarah yang telah disebutkan di atas, masih banyak bangunan bersejarah lainya yang berpotensi untuk dijadikan obyek wisata antara lain:Tugu Robert Hamilton. Tugu Robert Hamilton terletak di Kelurahan Pasar Melintang Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Robert Hamilton adalah seorang Kapten Angkatan Laut Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu pada tanggal 15 Desember 1793 dalam usia 38 tahun. Sebagai tanda jasa dan memperingati peristiwa ini, maka penjajah Inggris membangun tugu tersebut yang sampai saat ini masih berdiri di tengah-tengah Kota Bengkulu. Bungker Jepang. Bungker Jepang ini terletak di Kelurahan Kampung Cina Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Pada masa pendudukan Inggris sampai masa kemerdekaan, Bungker dipergunakan sebagai pelabuhan. Karena air laut semakin lama semakin dangkal, maka pelabuhan dipindahkan ke Pulau Baai. Bungker ini memiliki bentuk segi empat dan mempunyai satu pintu masuk. Sedangkan tingginya 2,50 meter, panjang 4,70 meter. Lebar 3,40 meter dan tebal dinding 55 cm. Tugu Perjuangan Rakyat Bengkulu. Tugu ini terletak di Kelurahan Pasar Bengkulu, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Tugu Perjuangan Rakyat Bengkulu dibangun tahun 1999. Pendirian tugu ini untuk mengenang perjuangan Pasukan Keamanan Rakyat (PKR) Bengkulu pada tanggal 5 Nopember 1945. Gedung Pengadilan. Bangunan ini belum diketahui secara pasti tahun pendirianya, tetapi disebutkan oleh L. Van Der Vinne pada tahun 1843. Perkampungan Cina. Di perkampungan cina ini banyak bangunan rumah /ruko-ruko cina yang sudah berumur puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Perkampungan cina berdiri bersamaan dengan berdirinya Benteng Malborough. Karena orang-orang cina kebanyakan pedagang yang diberi kebebasan untuk mendirikan perkampungan di Bengkulu. Dengan pedagang cina inilah Inggris dengan muda mendapat suplai kebutuhan pangan dan material lainya untuk kepeluan sehari-hari.

Sumber : http://www.bpsnt-padang.info

Benteng Ancol: Sejarah yang Belum Tersingkap

Liburan ke kawasan utara Jakarta rasanya tak tuntas jika tak mem-bezoek sisa-sisa bangunan bekas benteng di seputaran Ancol. Bangunan yang masih tersisa itu berada tak terlalu jauh dari Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol. Lokasi tepatnya ada di kawasan Sentra Komunitas Ancol Timur, di hadapan rumah-rumah mewah di Jalan Pasir Putih II.

Tak jauh dari pintu masuk ke Sentra Komunitas Ancol Timur di sisi kanan, terlihat hamparan pepohonan layaknya sebuah taman. Perhatikan pepohonan dan belukar yang tumbuh subur di sana, dari balik belukar dan pepohonan itu akan muncul dinding-dinding tua yang terpisah-pisah. Itulah sisa bangunan yang dulu merupakan benteng.

Di pagi hingga siang hari, beberapa sisa bangunan itu tertutup pedagang makanan. Adapun sisa bangunan yang masih tampak bentuknya, di hadapan pintu masuk ke sebuh kantin ini, sering kali tertutup deretan truk atau mobil yang parkir.

Beda sekali dengan kondisi Ereveld Ancol atau warga biasa menyebut kuburan Belanda. Ereveld Ancol ditangani langsung oleh sebuah yayasan, Netherlands War Graves Foundation (Oorlogsgravenstichting). Kondisi kuburan Belanda ini begitu tertata rapi bahkan menjadi semacam taman yang menambah nilai kawasan Ancol.

Kembali ke benteng, belum ditemukan data tertulis tentang kapan benteng Ancol ini dibangun. Data dari Dinas Museum dan Sejarah DKI (kini menjadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) tahun 1996 menuliskan, seusai perang dunia ke-II, Pemerintah Belanda meningkatkan pertahanannya di Batavia dengan membangun tiga benteng sekaligus di wilayah Jakarta Utara, yaitu benteng Ancol, di Palm Beach (Kalibaru), dan benteng Gadang di kawasan Sungai Bambu.

Pada hasil penelitian yang terangkum dalam Sejarah Teluk Jakarta hanya disebutkan, sesuai keterangan lisan dari pelaku sejarah, Wadjat, yang ikut membangun benteng (benteng Ancol didirikan sekitar tahun 1920-an untuk menghadapi serangan Jepang). Namun, hasil penelitian ini sangat meragukan. Jepang pada masa itu belum menjadi ancaman untuk Batavia.

Benteng yang masuk dalam kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol ini seperti menyendiri dalam diam, menyimpan sekian ratus halaman sejarah yang belum terungkap. Kumpulan sisa bangunan benteng hanya ada di sebelah utara, barat, dan timur. Di sisi utara dan barat, sisa bangunan benteng masih terlihat sebagai bastion. Di sisi utara masih lengkap dengan tangga. Tebal dinding bastion sekitar tiga meter sedangkan tebal dinding benteng bervariasi, ada yang 135 cm, ada pula yang 310 cm.

Ketebalan dinding bastion di sisi barat tak lebih dari tiga meter. Pada sisi timur masih terlihat bangunan bekas depot amunisi yang terdiri atas tiga ruangan, yaitu tengah, depan, belakang, dan masing-masing berjendela.

Kondisi sisa benteng ini seperti kondisi bekas benteng lain, yang masih tersisa, sebut saja tembok benteng atau tembok kota Batavia di sisi timur—di Jalan Tongkol, Jakarta Utara—yang sewaktu-waktu bisa lenyap. Memang, benteng ini tak dilenyapkan demi menambah wahana di Ancol, namun sungguh disayangkan sisa benteng itu dibiarkan begitu saja. Di antara jendela yang kini mulai tertimbun tanah, terlihat kumpulan air yang terjebak di sana tak bisa keluar ditambah sampah menumpuk dan jemuran para sopir truk.

Padahal sisa benteng itu jika dibenahi, digali sejarahnya, bisa menjadi wahana tambahan bagi Taman Impian Jaya Ancol khususnya, dan menjadi salah satu atraksi tambahan yang bisa dibanggakan bagi kawasan Jakarta Utara secara umum.

Sumber : http://www.kompas.com