Bendungan Jatiluhur sebuah Karya Luhur

Bendungan Jatiluhur, merupakan sebuah karya besar bangsa Indonesia.

Dibangun saat negeri ini baru merdeka dan belum bisa dikatakan mampu dalam segi finansial. Namun keberadaannya sangat diharapkan.

Bangunan monomental itu kini terus diandalkan sebagai tandon utama untuk kebutuhan air kota Jakarta dan sekitarnya. Berikut sejarah keberadaannya termasuk tokoh-tokoh yang berperan dalam pembangunannya;

BENDUNGAN Jatilubur yang dibangun pada sungai Citarum di daerah Kab. Purwakarta, Jawa Barat merupakan bangunan pengairan paling membanggakan bagi bangsa Indonesia. Bahkan bukan hanya membanggakan, melainkan juga luhur. Bendungan Jatiluhur dibangun tabun 1957 saat pemerintah RI belum bisa dikatakan mampu dalam segi financial. Bendungan ini mulai dioperasikan tahun 1967. Pemanfaatan utama mula-mula untuk pembangkit tenaga listrik, namun kemudian konsep pembangunannya diintegrasikan untuk pemanfaatan segala keperluan sektor-sektor yang menyangkut air.

Membanggakan, karena pada awal pembangunannya kondisi keuangan negara saat itu yang baru memasuki era kemerdekaan sudah berhasil memulai proyek besar dengan SDM di bidang teknik yang juga masih sangat minim. Jadi, Jatiluhur merupakan proyek pengairan terbesar yang pernah dikerjakan bangsa ini dan ditangani langsung oleh teknisi-teknisi bangsa sendiri. Luhur, karena di sana terdapat bangunan-bangunan yang disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-45. Ini merupakan kreasi seorang tokoh paling ber-peran dalam proyek ter-sebut, Prof. Dr. Ir. Sediyatmo.

Pompa hidrolik yang terkenal dengan paten atas namanya, untuk Saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah. Pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya, berjumlah 8 buah. Sedangkan angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur, agar lebih efisien dan efektif, dibuat miring 45 derajat.

Harus Jatiluhur

Sebenarnya, ide untuk pengembangan sungai Citarum, salah satu sungai terbesar di Jawa Barat itu ada sejak tahun 1948. Ketika itu, Prof. Ir. W.J. van Blommestein, Kepala Perencanaan Jawatan Pengairan Belanda sudah membuat rencana pembangunan tiga waduk besar di sepanjang aliran sungai Citarum; Saguling, Citara dan Jatilubur. Meski kedatangan Belanda kembali ke Indonesia waktu itu, Jawatan Pengairan pemerintahan RI sendiri sudah ada. Namun belum bisa berbuat banyak, karena Dep. PU waktu itu hanya memiliki 15 orang insinyur. Meski plan itu sudah ada, namun Belanda tidak sempat mengembangkannya, keburu Jepang datang menggantikan posisinya sebagai penjajah.

Gagasan untuk membangun sebuah bendungan di aliran sungai Citarum dirintis kembali pada era tahun 1950-an. Ir. Agus Prawiranatasebagai Kepala Jawatan Irigasi waktu itu mulai memikirkan pengembangan jaringan irigasi untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri. Ketika itu, Indonesia sudah menjadi negara – pengimport beras terbesar dunia. Namun untuk membangun bendungan dengan skala besar, ketika itu masih menjadi – bahan tertawaan -. “Wong duitnya saja belum ada, kok mau membangun bendungan besar, negara i’~i 1ca’~ baru saja merdelca,” kata Prof. DR. Ir. P.K. Haryasuclirja, orang yang dulunya banyak terlibat pembangunan bendungan Jatiluhur ini kepada Warta PERDESAAN belum lama ini. Dana PLN.

Lalu ide ini dirembug bareng bersama Ir. Sedyatmo, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Direksi Konstruksi Badan PembangLit Listrik Negara, Direktorat Jenderal Kete-nagaan, Departemen PUT. Kebetulan waktu itu PLN punya anggaran dan memang sedang berupaya mencari mengganti sumber daya listrik yang masih menggunakan minyak, karena memang mahal.Lalu, Ir. Sediyatma, menugaskan Ir. PC. Harjosudirdjo (sekarang; Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja) ketika itu sebagai Asisten Kepala Direksi Konstruksi 13PLN, untuk merancang bendungan Jatiluhur ini. Mengapa harus Jatiluhur ? Padahal di aliran sungai Citarum kan ada plan untuk tiga buah bendungan (Saguling, Cirata dan Jatiluhur). Dipilihnya Jatilubur, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja, yang ditemui baru- baru ini, alasannya Jatiluhur lebih dulu dibangun punya banyak kelebihan. Baik dari segi keamanan, keperluan listrik, dan keperluan air lainnya. Aman, menurut Haryasudirja, karena sewakfu dilakukan pengL~-kuran di daerah Kiara Condong, Band~mg untuk rencana membangun bendungan di daerah paling hulu, yaitu Saguling banyak tenaga penguLuran yang tewas diserang gerombolan. Kemudian pengukural~ dilakukan pada daerah yang lebih hilir, yaitu untuk bendungan Cirata, hal sama juga dialami oleh para pelaksana lapangan. Kemudian, dipiliblah Jatilubur Selain lebih aman, bendungan ini juga dapat dimanfaatLan untuk memberi suplai air pada bendung Walahar yang sudah dibangun oleh Belanda untuk mengairi sawah seluas 80 ribu hektar, kbususnya untuk musim kemarau.

Suplai Air ke Pelabuhan Hal penting yang juga menjadi pertimbangan saat itu, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudilja, ketika itu sebagai Asisten Urusan Jatiluhur yang menanganai urusan perenca-naan maupun pelaksanaan pembangunannya, adalah pertimbangan suplai air ke Jakarta. Ketika itu pelabuhan Tanjung Priok tak pernah disinggahi kapal-kapal asing, karena tidak cukup air untuk perbekalan kapal-kapal dagang itu. Sehingga kegiatan ekspor-import dari Tanjung Priok tersendat. Haryasudirja yang membuat spesifikasi bendungan Jatilubur, mengaku meniru gaya bendungan terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir. Menggunakan konsultan dari Perancis yang sudah berpengalaman dalam membangun bendungan besar. Selain untuk pembangkit listrik dibangunnya Jatiluhur untuk mengairi irigasi persawahan daerah Jawa Barat seluas 240 ribu hektar. Namun kendala yang dihadapi ketika itu, harus meninggikan kembali air kucuran dari bendungan Jatiluhur bila digunakan untuk keperluan lain selain pembangkit listrik. Pasalnya Ir. P.C. Haryasudilja yang juga sebagai penentu desain dari waduk Jatiluhur, mencari tenaga yang sebesar-besarnya untuk membangkitkan turbin listrik. Listrik yang didapat memang cukup banyak, lalu bagaimana dengan air untuk pemanfaatan irigasi sawah ? Maka dibuat lagi bendung di daerah Curug. Untuk mengairi ke daerah timur terpaksa air dinaikkan dengan menggunakan pompa listrik. Namun untuk yang ke Barat, Prof.Ir. Sedyatmo telah merancang pompa yang juga menggunakan tenaga air, yang kemudian dikenal dengan nama “Pompa Sedyatmo” untuk menaikkan air ini ke saluran Tarum Barat, sepanjang 90 Km termasuk untuk air baku kota Jakarta dan sekitarnya. Integrasi.

Luas daerah aliran Waduk Jatiluhur mencakup 4.500 km2. Dalam segi jaringan irigasi, tentu sangat spektakuler, membentang dari daerah Bandung sampai pantai utara pulau Jawa. Proyek Jatilibur juga men demonstrasikan pengintegrasian beberapa sungai untuk suatu jaringan irigasi yang terpadu. Sungai-sungai penting itu diantaranya, Sungai Ciliwung, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Cibeet, Sungai Citarum sebagai sumber air utama, Sungai Cilamaya, Sungai Ciasem, Sungai Cipunegara. Ada dua cara pengintegrasian. Pertama; yang diterapkan pada sungai-sungai Ciliwung, Bekasi, Cikarang dan Cipunegara, adalah dengan memasukkan aliran air dari Jatiluhur ke dalam sungai-sungai tersebut melalui Saluran Induk Tarum. Kemudian aliran sungai-sungai yang sudah ditambah debitnya itu disadap oleh saluran induk di bagian hilir melalui ben-dung-bendung yang dibangun pada sungai-sungai bersangLutan. Ada juga pada tempat-tempat tertentu aliran sungai-sungai tersebut langsung disadap untuk di-manfaathan.

Cara kedua, seperti pada su-ngai-sungai Cibeet, Cilamaya dan Ci-asem, adalah dengan membuat bendung di hulu persilangan sungai-sungai itu dengan saluran induk dari Jatiluhur. Kemudian air dialirkan melalui saluran induk masing-masing untuk dimanfaatLall. Jaringan irigasi Jatilubur yang kemudian terbentuk meliputi delapan daerah irigasi. Yaitu Daera Irigasi (DI) Bekasi, DI Cikarang, Dl Cibeet, DI Tarum Tengall, Dl Cilamaya, DI Ciasem, DI Cipunegara, serta daerah irigasi yang langsung mendapat oncoran dari Saluran Induk Tarum Barat dan dari Saluran Induk Tarum Timur. Perlu dicatat untuk Daeral1 Irigasi Elekasi. Ini semula merupakan irigasi para tuan tanah. Sebuah bendung gerak yang dibangull di kota Elekasi dibangun untuk me-nyadap aliran Sungai Bekasi dan selanjutnya digunakan ulltuk m~-nyatukan jaringan irigasi tuan tanal1 tersebut menjadi satu jaringan irigasi teknis. Satu hal lagi yang s`~gat yerlting adalah, baLwa air baku untuk keperluan air minum bagi warga k~ ~ ~ Jakarta pun berasal dari jilri!l’,.U’ Waduk iatittlhUr, vaitt] ~i~latui sadapan di bendung gerak di kota Bekasi itu. Dari Komando Kembali ke Proyek.

Masa pembangunan Proyek Jatiluhur juga unik, sebab sempat mengalami sembilan kali pergantian kabinet dari Kabinet Karya tabun 1957 sampai Kabinet Ampera tahun 1967. Pada masa Kabinet Dwikora 100 Menteri, pembangunan jaringan pengairan Jatiluhur sempat ditangani oleh dua bnah Komando, yaitu Komando Proyek Pengairan Induk Jatiluhur (KOPPINJAT), dan Ko-mando Proyek Pengairan Pelengkap Jatilubur (KOPPELJAT). KOPPINJAT menangani pem-bangunan Saluran Induk Timur sepanjang 67 km dan Saluran Induk Barat 70 km, serta bangunan-bangunan yang berada pada kedua saluran induk baik berupa syphon, bendung, dan lainnya. Sedangkan KOPPELJAT menangani pemba-ngunan di luar yang dikerjakan KOPPINJAT. Adanya dua komando tersebut barangkali merupakan pengalaman yang kurang efektif. Apalagi keduanya berada di bawah depar-temen yang berbeda. KOPPINJAT di bawah Departemen Pengairan Dasar,sedangkan KOPPELJAT berada di bawah Departemen Pengairan Rakyat. Namun akhirnya, karena perkembangan politik den terjadi kesulitan pada Departemen Pe-ngairan Rakyat, make KOPPELJAT pun dilimpaLkan yaitu Proyek Iri-gasi Jatiluhur PROpTeUr~jAaTIII,nan ~DD I. I t”t ail A Juror 1lgus sebaga1 pe-melihara seluruh fasilitas bangunannya. Sebagai waduk serbaguna, penerima manfaat terbesar air Waduk Jatilubur adalah para petani yang memanfaatkannya untuk irigasi. Meski pada mulanya BPLN yang membiayai pembangunan ben-dungan serba guna ini, namun pemanfaatan airnya pihak PLN kini juga dikenakan iuran terhadap penggunaan air tersebut. Juga pihak pemanfaat lainnya seperti pihak perusahaan air minum PAM Jaya. Wajar bila kepada mereka dikenakan “iuran” yang propor-sional guna melaksanakan usaha Operasi dan Pemeliharaan bagi Waduk Jatiluhur. Seirama dengan perkem-bangan jaman, baLkan saat ini Perum Otorita Jatiluhur semakin dimatangkan kinerjanya. Dan dibentuk menjadi Jasa Tirta II, agar upayanya dalam mengelola air untuk berbagai keperluan semakin profesional.

Sumber : http://taufiqsuryo.wordpress.com