Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sisa Peninggalan Dan Kompleks Makam Kerajaan Kembar Gowa-Tallo Sulawesi Selatan

Oleh : M. Irfan Mahmud

Batu Pelantikan Raja (Batu Pallantikang)
Batu petantikan raja (hatu pallantikang) terletak di sebelah tenggara kompleks makam Tamalate. Dahulu, setiap penguasa baru Gowa-Tallo di sumpah di atas batu ini (Wolhof dan Abdurrahim, tt : 67). Batu pallantikang sesungguhnya merupakan batu alami tanpa pem¬bentukan, terdiri dari satu batu andesit yang diapit 2 batu kapur. Batu andesit merupakan pusat pemujaan yang tetap disakralkan masyarakat sampai sekarang. Pe-mujaan penduduk terhadap ditandai dengan banyaknya sajian di atas batu ini. Mereka meyakini bahwa batu tersebut adalah batu dewa dari kayangan yang bertuah


Batu Pallantikan atau Batu Tamalate
Di Bukit Tamalate, Katangka Kabupaten Gowa

Batu petantikan raja (hatu pallantikang) terletak di sebelah tenggara kompleks makam Tamalate. Dahulu, setiap penguasa baru Gowa-Tallo di sumpah di atas batu ini (Wolhof dan Abdurrahim, tt : 67). Batu pallantikang sesungguhnya merupakan batu alami tanpa pem¬bentukan, terdiri dari satu batu andesit yang diapit 2 batu kapur. Batu andesit merupakan pusat pemujaan yang tetap disakralkan masyarakat sampai sekarang. Pe-mujaan penduduk terhadap ditandai dengan banyaknya sajian di atas batu ini. Mereka meyakini bahwa batu tersebut adalah batu dewa dari kayangan yang bertuah.

Sumur Pendeta (Bungung Bissu)
Bangunan sumur ini terletak di sebelah timer Batu Tumanurung. Dahulu sumur ini hanya digunakan para pendeta (bissu-bissu). Sumur ini berukuran 4 x 4 meter Konstruksinya dan bahan batu bata, dengan teknik susun tanpa spesi.

Kompleks Makam Katangka

Arsitektur Kubah Makam
Kompleks Makam Katangka, Kabupaten Gowa


Corak seni dan kaligrafi
Nisan-nisan pada Kompleks Makam Katangka, Kabupaten Gowa


Corak seni dan kaligrafi
Nisan-nisan pada Kompleks Makam Katangka, Kabupaten Gowa

Kompleks ini terletak di sebelah utara bukit Tamalate, merupakan area pemakaman raja-raja Gowa dari masa yang lebih kemudian, dan raja-raja yang dimakamkan di kompleks makam Tamalate dan Bonto Biraeng. Pada kompleks ini terdapat bangunan makam kubah dan jirat biasa.

Jirat dan nisannya dominan terhuat dari ukiran kayu. Jirat kayu diukir, dengan pahatan hiasan untaian flora, meng¬gunakan warna menyolok, merah dan terutama kuning keemasan. Pada bagian kepala dan kaki jirat terdapat semacam gunungan yang dilengkapi dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an dan identitas yang dimakamkan. Ragam hias beberapa kubah -memperlihatkan adanya pengaruh anasir Barat, terutama terlihat pada pintu masuk.

Kubah makam di kompleks ini berukuran lebih besar dari pada makam lain. Di dalam kubah terdapat sejumlah makam, mungkin dari satu keluarga terdekat. Makam¬-makam di dalam kubah diatur berjajar dua. Lantai kubah lebih tinggi 60-75 cm dari permukaan tanah atau dasar pintu masuk. Konstruksi demikian menyebabkan jirat dan nisan di dalam bangunan kubah tampak seperti di atas panggung. Di antara kubah-kubah terdapat Mesjid Katangka.

Mesjid Katangka



Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejak berdirinya telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh: [a] Sultan Mahmud (1818); [b] Kadi Ibrahim (1921); [c] Haji Mansur Daeng Limpo, Kadi Gowa (1948); dan [d] Andi Baso, Pabbicarabutta GoWa (1962) sangat sulit meng¬identifikasi bagian paling awal (asli) bangunan mesjid tertua Kerajaan Gowa ini.

Yang masih menarik adalah ukuran tebal tembok kurang lebih 90 cm, hiasan sulur-suluran dan bentuk mimbar yang terbuat dari kayu menyerupai singgasana dengan sandaran tangan. Hiasan makhuk di samarkan agar tidak tampak realistik. Pada ruang tengah terdapat empat tiang soko guru yang mendukung konstruksi bertingkat di atasnya. Mimbar dipasang permanen dan diplaster. Pada pintu masuk dan mihrab terdapat tulisan Arab dalam babasa Makassar yang menyebutkan pemugaran yang dilakukan Karaeng Katangka pada tahun 1300 Hijriah.

Makam Syekh Yusuf


Kompleks makam ini terletak pada dataran rendah Lakiung di sebelah barat Mésjid Katangka. Di dalam kompleks ini terdapat 4 buah cungkup dan sejumlah makam biasa. Makam Syekh Yusuf terdapat di dalam cungkup terbesar, berbentuk bujur sangkar Pintu masuk terletak di sisi Selatan. Puncak cungkup berhias keramik. Makam ini merupakan makam kedua. Ketika wafat di pengasingan, Kaap, tanggal 23 Mei 1699, beliau di¬makamkan untuk pertama kalinya di Faure, Afrika Selatan. Raja Gowa meminta kepada pemerintah Belanda agar jasad Syekh Yusuf dipulangkan dan dimakamkan di Gowa. Lima tahun sesudah wafat (1704) baru per¬mintaan tersebut dikabulkan. Jasadnya dibawa pulang bersama keluarga dengan kapal de Spiegel yang berlayar langsung dan Kaap ke Gowa. Pada tanggal 6 April 1705, tulang kerangka Syekh Yusuf dimakamkan dengan upacara adat pemakaman bangsawan di Lakiung. Di atas makamnya dibangun kubah yang disebut kobbanga oleh orang Makassar.

Makam Syekh Yusuf mempunyai dua nisan tipe Makassar, terbuat dari batu alam yang permukaannya sangat mengkilap. Hal ini dapat terjadi karena para peziarah selalu menyiramnya dengan minyak kelapa atau semacamnya. Sampai sekarang peziarah masih sangat ramai mengunjungi tokoh ulama (panrita)dan intelektual (tulnangngasseng) yang banyak berperan dalam perkembangan dan kejayaan kerajaan Gowa-Tallo abad pertengahan.

Dalam lontarak "Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa7, Syekh Yusuf dianggap Nabi Kaidir (Abu Hamid, 1994: 85). la tokoh yang memiliki keistimewaan, seperti berjalan tanpa berpijak di tanah. Dalam usia belia ia sudah tamat mempelajari kitab fiqih dan tauhid. Guru tarekat Naqsabandiayah, Syattariyah, Ba'alaniiyah, dan Qa¬driyah. Wawasan sufistiknya tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fanzuri yang me-ngembangkan ajaran Wujudiyah dan Syekh Nuruddin ar-Raniri.

Benteng Tallo
Benteng Tallo terletak di muara sungai Tallo. Benteng dibangun dengan menggunakan bahan batu bata, batu padas/batu pasir, dan batu kurang. Luas benteng diper¬kirakan 2 kilometer Bardasarkan temuan fondasi dan susunan benteng yang masih tersisa, tebal dinding benteng diperkirakan mencapai 260 cm.

Akibat perjanjian Bongaya (1667) benteng dihancurkan. Sekarang, sisa-sisa benteng dan bekas aktivitas berserakan. Beberapa bekas fondasi, sudut benteng (bas¬tion) dan batu merah yang tersisa sering dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan darurat, sehingga tidak tampak lagi bentuk aslinya. Fondasi itu mengelilingi pemukiman dan makam raja-raja Tallo.

Makam Raja-raja Tallo di Ujung Tanah





Makam raja-raja. Tallo adalah sebuah kompleks makam kuno yang dipakai sejak abad XVII sampai dengan abad XIX Masehi. Letaknya di RK 4 Lingkungan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Madya Ujungpandang. Lokasi makam terletak di pinggir barat muara sungai Tallo atau pada sudut timur laut dalam wilayah benteng Tallo. Ber¬dasarkan basil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala (1976¬-1982) ditemukan gejala bahwa komplek makam ber¬struktur tumpang-tindih. Sejumlah makam terletak di atas pondasi bangunan, dan kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.

Kompleks makam raja-raja Tallo ini sebagian ditempat¬kan di dalam bangunan kubah, jirat semu dan sebagian tanpa bangunan pelindung: Jirat semu dibuat dan balok¬balok ham pasir. Bangunan kubah yang berasal dari kuran waktu yang lebih kemudian dibuat dari batu bata. Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa memper¬gunakan perekat. Perekat digunakan Proyek Pemugaran. Bentuk bangunan jirat dan kubah pada kompleks ini kurang lebih serupa dengan bangunan jirat dan kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru Pallaka, dan Katangka.

Pada kompleks ini bentuk makam dominan berciri abad XII Masehi. Ada tiga tipe makam di kompleks ini.

Pertama, tipe susun timbun. Makam-makam di kompleks Tallo sebagian dibangun dengan teknik susun timbun. Balok-balok batu (padas). persegi disustin ddri bawah ke atas. Bangunan makam mirip konstruksi candi yang terdiri atas tiga bagian:- kaki, tubuh, dan atap. Di bagman atap ditancapkan dua buah nisan. Umumnya,- bangunan makam seperti ini di dalam rongga makam yang berbentuk setengah lingkaran memanjang, masih ter¬dapat nisan (Hadimoljono, 1977). Tipe makam ini misalnya Makam Sultan Mudseffuar.

Selain itu,- tipe susun timbun juga ada yang dibuat tidak berongga. Bentuknya hanya seperti kotak besar. Di atas kotak besar dipasang empat papan batu berukir dan ditancapkan dua buah nisan. Makam dengan teknik susun timbun juga ada yang dibuat dari batu merah.

Kedua, tipe bangunan kayu. Makam dirancang menurut konstruksi hangunan kayu. Empat buah papan batu yang lebar dipasang untuk membentuk sebuah kotak batu persegi empat panjang. Pada dinding utara dan selatan, - di bagian atas makam dibuat runcingan tepat di bagian tengahnya. Keempat papan batu ditopang empat lapisan yang membentuk kaki makam. Di tengahnya ditancap-kan situ atau dua buah nisan. (Hadimoljono, 1977).

Ketiga, Tipe sederhana. -Untuk tipe ini, konstruksi di¬bentuk dengan dua lapis batu yang dibuat secara berundak. Kemudian.di bagian atas makam ditancapkan satu dua buah nisan.

Keempat, Makam kuhah. Tipe ini mirip piramid. Bahan bangunannya terbuat dari batu bata dengan perekat (specie) di dalamnya terdapat satu atau dua buah makam. Di Kompleks Tallo ada tiga buah makam kubah. Satu di antaranya sudah runtuh.
Hiasan dipahatkan pada batu makam dan batu nisan berbentuk tumbuh-tumbuhan (bunga teratai dan sulur), hiasan geometris, dan kaligrafi-huruf Arab, seperti Al¬lah, Laa Ilaha Illahlah.

Benteng Panakukang
Benteng ini terletak pada tebing selatan sebuah anak sungai yang bermuara pada sungai Beru. Bagian sisa benteng terdapat pada sisi utara dan barat benteng, berupa Sebaran memanjang pecahan batu bata. Fungsi Benteng Panakukang adalah kubu pertahanan Gowa yang terdepan. Dahuluu, susunan tembok benteng meng¬hubungkan benteng Panakukang dengan Benteng Somba Opu.

Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu, Kabupaten Goa
(tampak pintu bentengdan dinding sisi barat)


Benteng Somba Opu terletak di muara Sungai Jene' berang. Secara administratif terletak di Maccini Sombala, Kampung Sanrobone, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Denah benteng berbentuk persegi empat. Ukuran panjang salah satu sisi ± 2 km. Sisa bangunan yang masih baik dan dapat memperlihatkan denah asli benteng terdapat pada bagian sisi barat. Rekonstruksi sisi barat benteng dapat diketahui bahwa benteng dibangun dari bahan batu bata dengan ukuran yang bervariasi serta sedikit batu pasir, terutama pada bagian pintu sebelah dalam. Tinggi tembok 7-8 meter, dengan ketebalan dinding rata-rata 12 kaki atau 300 cm. Ada empat bastion, tetapi yang tersisa dan direkonstruksi oleh SPSP Ujungpandang hanya I buah bastion.

Menurut sejarahnya, Benteng Somba Opu merupakan benteng induk yang berfungsi sebagai pusat pertahanan utama dan pusat pemerintahan kerajaan Gowa-Tallo. Dibangun atas perintah Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi Tumaparisi Kallonna. Selain benteng Somba Opu Raja Gowa IX juga merintis pembangunan benteng pengawal di antaranya Benteng `Penyua' atau sekarang lebih populer dengan Benteng Ujungpandang.

Benteng Ujungpandang

Benteng Ujungpandang
(Ford Ratterdam)

Benteng Ujungpandang terletak di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Ujungpandang, Kota Madya Ujungpandang. L.uas keseluhruhan areanya 21.252 meter persegi dan terdiri atas 15 bangunan.

Menurut sejarahnya, benteng ini juga dirintis oleh Raja Gowa IX Semula benteng berisi bangunan rumah Makassar dengan tiang-tiang kayu yang tinggi. Pem¬bangunan benteng diselesaikan pada tahun 1545 oleh raja Gowa X, / Manriogau Daeng Banto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng, sebagai benteng pertahanan pendamping kerajaan Gowa.

Benteng yang pada mulanya dibuat dari tanah liat ini mempunyai model tak ubahnya benteng-benteng Eropa abad ke-26 dan ke-17. Bentuk dasar benteng segi empat dan berarsitektur Portugis. Tonjolan-tonjolan tambahan pada model dasar segi empat melahirkan bentuk benteng yang menyerupai penyu. Bentuk penyu berhubungan dengan simbolisme kekuatan etnis Makassar, jaya di laut dan di darat, seperti halnya seekor penyu. Justru itu, naskah Lontarak menyebut benteng Penyua' (benteng penyu).

Area benteng ini seluas 2,5 hektar berdinding tertinggi 7 meter dan terendah 5 meter dengan ketebalan 2 meter, kemudian mengalami penyempurnaan, Di tahun 1635 Masehi, pada masa pemerintah Ian Sultan Alauddin, raja Gowa keempat belas, dinding benteng yang terbuat dari tanah liat diberi lapisan batu berbentuk segi empat dengan variasi ukuran berbeda.

Fungsi benteng Ujungpandang pada saat itu adalah benteng pengawal benteng induk, Somba Opu. Ketika kerajaan Gowa dikalahkan kompeni, melalui perjanjian Bongaya tahun 1667, benteng Ujungpandang beralih milik. Selanjutnya, benteng tersebut diubah namanya menjadi Fort Rotterdam yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan kompeni. Cornelis Janszoon Speelman (1666) sangat berperan dalam pengubahan nama ini. Belanda kemudian juga melaku¬kan perubahan struktur bangunan dan gaya Makassar menjadi bangunan yang berciri Eropa, gaya Gotik abad XVII.

Pada masa pendudukan Jepang (1942), benteng ini tidak lagi digunakan sesuai dengan fungsinya. Akibat kema¬juan teknologi, terutama di bidang komunikasi udara, benteng Ujungpandang dipandang kurang efektif untuk dijadikan benteng pertahanan Kemudian Jepang meng¬gunakannya sebagai pusat penelitian ilmiah bidang Bahasa dan pertanian.

Setelah kemerdekaan Indonesia benteng Ujungpandang menjadi tempat penampungan Belanda dan pengikutnya. Pada saat terjadi agresi militer kedua, benteng Ujungpandang difungsikan kembali menjadi benteng pertahanan dalam pertempuran tujuh hari antara pasukan KNIL dan TNI. Keadaan ini berlangsung hingga ditandatanganinya perjanjian penyerahan kembali kedaulatan RI tanggat 27 Desember 1949. Seusai perang benteng .ini berfungsi sebagai perumahan sipil dan militer.

Setelah pengosongan dan pemindahan 1500 jiwa pada tahun 1970, benteng Ujungpandang dipugar dan diperbaiki. Akhirnya, pada tanggal 21 April 1977, benteng Ujungpandang menjadi monumen sejarah yang dilindungi dan dijadikan Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan berdasarkan Surat KeputuSan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 14/A/1/1974.

Kini, benteng Ujungpandang dimanfaatkan sebagai kompleks perkantoran Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala, Balai Arkeologi, Dewan Kesenian Makassar, dan Museum Lagaligo yang disiapkan menampung berbagai koleksi yang dapat menunjang serta memberi informasi tentang benda cagar budaya kerajaan Gowa-¬Tallo khususnya, dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Penutup
Di area situs bekas kerajaan Gowa-Tallo terdapat enam jenis monumen peradaban penting yaitu, istana, mesjid, benteng, sumur, batu pelantikan, dan makam. Hampir semua berasal dari masa Islam, kecuali batu pallantikan. Hal ini bisa menjelaskan kepada kita perkernbangan kebudayaan etnis Makassar terutama dari periode masuknya Islam yang bisa memperkuat bukti-bukti tertulis yang sampai kepada kita.

Dari sisa peradaban tersebut,70% merupakan bangunan makam. Makam adalah rumah peristirahatan terakhir - manusia. Raja bagi masyarakat Makassar tidaklah di¬anggap mati, is hanya berpindah alam. Pandangan demikian menyebapkan raja yang telah wafat ditambah gelar "matinroe", artinya tidur . Justru itu di Makassar khususnya makam raja dibuat istimewa dan indah, seperti istana. Sampai sekarang makam dari tokoh-tokoh Gowa¬-Tallo masih menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjugi sepanjang tahun.

Sumber :
Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia 1999/2000

Sisa-sisa Peradaban Kerajaan Kembar Gowa-Tallo Sulawesi Selatan


Oleh : M. Irfan Mahmud

Riwayat Kerajaan Kembar Gowatallo Masa Purba
Sejarah kerajaan kembar Gowa-Tallo dimulai dengan Kerajaan Gowa saja. Ibu kotanya Tamalate (Indonesia -= tidak layu). Kerajaan Gowa pada masa itu terdiri atas sembilan negeri bawahan (kasi¬wiang salapang), yaitu Tombolo, Lakiung, Parang¬parang, Angangje'ne, Saumata, Data', Bissei, Kalling, dan Sero (Patunru, 1969:1). Masing-masing dikepalai oleh seorang raja kecil yang disebut gallarang. Pejabat gallarang duduk di dalam Dewan Negeri (Bate Salapang) dan dipimpin oleh seorang pejabat ketua, yakni paccalaya. Tugas utama paccalaya adalah hakim tinggi dalam sengketa antara gallarang.

Naskah lontarak menyebutkan bahwa ada empat raja. yang memerintah Kerajaan Gowa masa purba. Raja-raja itu berturut-turut adalah- Batara Guru, Nibunowa (a) Ritalali (saudara Batara Guru yang nama aslinya sampai sekarang belum diketahui), Ratu Sopu (Manrancai), dan Karaeng Katangka.

Sesudah periode pemerintahan Karaeng Katangka ber¬akhir, Keradjaan Gowa mengalami masa gelap dalam sejarah. Keterangan sejarah baru ditemukan kembali berkaitan dengan munculnya tokoh Karaeng Paccalaya. Raja ini berhasil mempersatukan kembali etnis Makassar dan menggabungkan kesembilan negeri pemerintahan federasi. Kesembilan kerajaan kecil yang bergabung dalam federasi Gowa dalam perkembangannya menjadi Dewan Sembilan (Bale Salapang). Sumber lontarak .menyebutkan periode Karaeng Paccalaya berakhir setelah datangnya tokoh baru, Tumanurung (±1300). Tumanurung adalah seorang putri yang "turun dari kayangan" di Takak Bassia. Sayangnya, sumber lontarak sedikit sekali menggambarkan periode ini dibandingkan periode sesudahnya, yakni sejak menjelang terpecahnya kerajaan Gowa menjadi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Kerajaan Kembar Gowa-Tallo
Naskah lontarak baru memberikan keterangan kembali menjelang pertengahan abad XIV dalam masa pemerintahan raja GowaVI Tunatangkalopi. Dari periode ini ditemukan keterangan tentang pembagian wilayah Kerajaan Gowa atau dua bagian kepada dua orang putra Tunatangkalopi, yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa dikuasai oleh Batara Gowa (raja ke-7) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Risero. Kerajaan Gowa meliputi daerah Pacellekang, Pattalassang, Bontomanai Ilau, Bontomanai Iraya, Tombolo, dan Mangasi. Sementara itu Kerajaan Tallo, meliputi Saumata, Pannampu, Moncong Loe, Parang Loe.

Meskipun Raja Tunatangkalopi telah memberi kekuasaan kepada kedua putranya ternyata belum berbuah damai. Perang saudara selama bertahun-tahun tidak bisa di¬hindari. Barulah pada periode raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi "Tumaparisi Kallongna" akhir abad ke- 15 atau awal abad ke-16 kedua kerajaan kembar tersebut dapat digabung kembali dalam bentuk pemerintahan koalisi lewat perjanjian rua karaeng nase're ata (dua raja, tetapi hanya satu rakyat). Hubungan kedua kerajaan yang sangat erat menyebabkan bangsa Belanda menamakan Zusterstaten, yakni dua kerajaan bersaudara. Raja Tallo otomatis berkedudukan sebagai Mangkubumi dengan gelar Tunabbicara Butta. Tugas Mangkubumi sebagai orang kedua adalah ber¬tanggung jawab atas pengaturan tata tertib dan ke¬sejahteraan negara.

Pembangunan Benteng
Di bawah kekuasaan raja Gowa IX (15 I 0--1546) dan X, I Mario Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546--1565), daerah kekuasaan Kerajaan Kembar Gowa Tallo telah meliputi seluruh wilayah etnis Makassar, Kerajaan Gowa Tallo muncul sebagai kekuatan terbesar di jazirah selatan Sulawesi. Demi mempertahankan kedudu¬kannya, Kerajaan Gowa Tallo membangun benteng Somba Opu sebagai pertahanan utama, dan diperkuat benteng Panakukang (di sebelah selatan) dan Benteng Ujungpandang (di sebelah utara). Benteng-benteng pertahanan berfungsi sebagai tempat konsolidasi dan pusat kekuatan pertahanan serta perluasan kekuasaan.

Dalam periode pemerintahan dwi-tunggal, dibangun pula kota dan fasilitas dagang. Pengembangan ini seperti dicatat Kerckright (1638) menempatkan kota tua Tamalate sebagai pusat upacara sakral dan kematian, sementara kota ham Somba Opu dikembangkan sebagai pusat pemerintahan dan niaga.

Somba Opu dalam waktu singkat mampu tumbuh men¬jadi sebuah bandar niaga berwibawa. Pedagang acing datang mendirikan kantor perwakilan. Pemukiman ber¬nuansa etnis muncul, sehingga merangsang terjadinya komunikasi antar budaya dan agama. Pada taraf ini pedagang muslim berhasil membuka babakan baru peradaban Islam.

Peradaban Islam
pengaruh Islam lewat pedagang muslim sesung¬guhnya telah sampai di kerajaan Gowa Tallo sejak masa pemerintahan Raja X, Tunipallangga Ulaweng (1546--1565). Pedagang muslim pada saat itu telah di izinkan tinggal dan mendirikan mesjid di Mang ngallekana Somba Opu oleh raja Gowa XII Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa (1565-¬1590). Bahkan, sebelum permulaan abad ke-l7 sudah terdapat pemuka-pemuka agama Islam di kalangan orang Makassar yang menerima Islam dari Jawa (Demak), Malaka, dan Ternate (Mattulada, 1982:40). Prakondisi ini memantapkan penerimaan agama Islam oleh raja dan masyarakat kerajaan Gowa-Tollo.

Penerimaan Islam sebagai agama resmi negara merupa¬kan babak barn dalam peradaban di Kerajaan Gowa¬ Tallo, setelah beberapa periode pemerintahan tidak di¬temukan perubahan yang mendasar. Peristiwa ini ber¬langsung dalam periode pemerintahan Raja XIV, Sultan Alauddin (1593--1639). Sultan Alauddin atau 1Mangarangi Daeng Manrabia "Tumemenanga ri Gaukana". bersama Raja Tallo 1 Mallingkaan Daeng Manyonri dengan gelar Sultan Awwalul Islam (Mangkubumi Kerajaan Gowa) adalah pejabat yang pertama memeluk Islam, yaltu tanggal 22 September 1605 (Abd. Muttalib, 1979). Pengislaman dilakukan oleh Abdul Ma'mur Chatib Tunggal (Dato'ri Bandang, seorang mubaligh dari Kota Tengah, Sumatra Barat. Sesudah ikrar Islam itu, raja mendirikan mesjid kerajaan. Lalu, Agama Islam dinyata¬kan sebagai agama resmi kerajaan.

Selain pedagang muslim datang pula pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Berbeda dengan pedagang muslim, Belanda menampilkan agresivitas menghadapi sikap pasivitas Gowa-Tallo dalam dunia dagang, se-hingga mengubah tatanan perniagaan Somba Opu men¬jadi kolonisasi. Ketegangan berlanjut dengan perang. Perang antara Gowa dan Belanda mencapai puncaknya dalam masa pemerintahan Raja Gowa XVI I Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin "Tumenangari Balla Pangkana". Akhirnya, Gowa kalah dan menandatangani perjanjian Bongaya. Benteng-benteng dirubuhkan dan peradaban sedikit demi sedikit tergusur.

Sisa-Sisa Peradaban Kerajaan Gowa-Tallo
Wilayah sebaran sisa-sisa peradaban Kerajaan Gowa-Tallo terdapat di perbatasan, Kabupaten Gowa dan Kota Madya Ujungpandang, yakni Kecamatan Somba Opu (Kabupaten Gowa) dan Kecamatan Tamalate (Kota Madya Ujungpandang). Sisa-sisa peradaban tersebut, antara lain berupa:

Istana (Balla Lompoa)

Istana teletak di Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Didirikan oleh raja Gowa ke-35, I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonionompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa.Bangunan istana terakhir ini menghadap ke selatan, atap¬nya terbuat dari sirap. Bangunan utama mempunyai 54 tiang, dinding berwama cokelat antik. Sisi kiri dan kanan dinding mempunyai 6 buah jendela. Sementara itu bagian depan mempunyai 4 buah jendela. Sebagaimana rumah khas etnis Makassar, Balla L.ampoa mempunyai bangunan tambahan di depan dengan 16 tiang. Pada bangunan tambahan ini ditempatkan tangga, dengan 13 buah anak tangga.

Sekarang, istana tersebut dijadikan museum Balla Lompoa..Koleksi warisan kerajaan (arajang) disimpan di sini, di antaranya keris, pakaian kebesaran raja, bendera kerajaan, peralatan perang, piring dan mangkuk keramik.

Benteng Anak Gowa
Benteng anak Gowa terletak lebih kurang 2 kilometer ke arah Barat Sungguminasa. Meskipun bangunan benteng tidak utuh lagi denah bangunan yang berbentuk persegi masih tampak. Luasnya kira-kira 9 ha. Bangunan benteng terbuat dari batu bata berukuran relatif besar. Pada keempat sisi benteng terdapat pintu masuk. Sebelah luar benteng dikelilingi kanal, sebagaimana tampak pada re¬lief tanahnya. Fungsi benteng Anak Gowa adalah per¬tahanan depan yang ditujukan untuk mengatasi musuh yang akan masuk ke Benteng Tua.

Benteng Tua
Benteng Tua sebagian kecil terletak di Kota Madya Ujungpandang, dan sebagian besar terletak di Kabupaten Gowa. Bagian utara bangunan Benteng Tua termasuk dalam wilayah Kota Madya Ujungpandang, sedangkan sebagian daerah di sebelah selatan termasak Desa Katangka, Kecaniatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Naskah lontarak nenyebutkan bahwa Benteng Tua dibangun pada abad ke-16 M, pada masa pemerintahan raja Gowa IX. Benteng ini pada mulanya hanya berupa gundukan tanah memanjang ± 3,5 km. Tinggi benteng tidak kurang dari 1,5 meter. Dengan denah yang tidak beraturan, jumlah dan letak pintu sampai sekarang belum bisa ditentukan secara pasti.

Pada masa permerintahan raja Gowa X (± 1550 M), bangunan benteng diperkuat dengan batu bata. Ada tiga macam ukuran dan cara penggarapan batu bata yang digunakan. [1] panjang 30 cm, lebar 19 cm, tebal 3,5 cm; [2] panjang 27 cm, lebar 15 cm, tebal 3„5 cm; [3] panjang 27 cm, lebar 15 cm, tebal 6 cm.

Akibat perjanjian Bungaya (1667 M), bangunan benteng ini dihancurkan. Sisa bagian benteng yang dapat di¬saksikan berupa gundukan tanah dan batu bata, serta ada yang dimanfaatkan menjadi jalan kampung (sisi barat kampung Lakiung).

Dalam lingkungan Benteng Tua yang telah hancur terdapat sisa peradaban Gowa-Tallo lainnya: kompleks makam Aru Pallaka, kompleks makam Tamalate, bungung barania, bungung lompowa, batu Tumanurung, bungung bissu, dan kompleks makam-mesjid Katangka.

Kompleks makam Aru Pallaka


Aru Pallaka adalah raja Bone, musuh besar Gowa. Beberapa kali Aru Pallaka menyerang Gowa-Tallo. Kawin dengan perempuan bangsawan Gowa Karaeng Balla-Jawaya ketika proses penaklukan Gowa-Tallo atas bantuan Belanda sedang dilaksanakan. Atas kemenang¬annya, ia melakukan upacara potong rambut panjang pada tahun 1672 ( Andaya, 19817148). Anehnya, jasad sang penakluk dari Bugis ini diterima oleh Makassar, dan dimakamkan di kerajaan Gowa bersama istrinya.

Kompleks makam Aru pallaka berada tepat di atas punggung bukit, Bonto (bukit) Biraeng, Kelurahan Katangka. Di dalam kompleks ini terdapat 4 buah cungkup dan bangunan makam berupa jirat dan biasa. Makam Aru Pallaka dan istrinya terdapat di dalam kubah terbesar, sebelah barat Kubah makam Aru Pallaka dan istrinya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sisi¬-sisinya 6,75 x 6,25 M. Pintu masuk terletak di sisi barat. Pada kiri dan kanan pintu masuk terdapat jendela. Pintu dilengkapi undak selebar 1,5 M dan tangga dengan pipi tangga sepanjang 2,5 M., dibagi 2 undakan. Pada pipi tangga sebelah utara terdapat meriam tua, berfungsi sebagai hiasan. Pada ambang pintu terdapat hiasan flora. Hiasan flora juga menghiasi sisi luar dinding kubah bor pelipit

Dinding terbuat dari batu kapur yang dibentuk sebagai balok batu denan, berketebalan rata-rata 20 cm. Penempatan bahan bangunan direkat kapur dari pasir. Pada sudut timur Taut dinding terdapat bagian yang menjorok keluar semacam penampil yang tidak jelas fungsinya. Seluruh permukaan bangunan diturap dengan lepa.

Nisan Aru Pallaka dan istrinya terbuat dari batu alam. Permukaan nisan ditutup dengan semen. Pada kedua sisi (kaki dan kepala) terdapat pahatan flora yang keempat sudutnya terdapat lubang untuk menempatkan tiao kelambu, mirip krobongan pada makam-makam di Jawa. Nisan Aru Pallaka berbentuk persegi panjang dengan tinggi 76 cm, sedangkan nisan istrinya berbentuk bulat dengan tinggi 26 cm.

Dua kubah lebih darpadai kubah Aru Pallaka yang terletak di sebelah timur merupakan makam Karaeng Matoaja dan Karaeng Patingaloang. Kedua tokoh ini adalah raja Tallo yang menjadi Mangkubumi kerajaan Gowa-Tallo yang rnempunyai kelebihan luar biasa. Karaeng Matoaya dicatat oleh Steven van der Hagen (Begin ende Voortgangli, 1646) sebagai Mangkubumi yang efektif dan bijaksana. Raja bijak ini mengembangkan surplus beras secara teratur dan mempelopori niaga beras kepada pedagang Eropa (West, 1617). Sernentara itu, Karaeng Patingaloang dikenal sebagai intelektual yang mereformasi urusan pemetaan, tata negara, hukum pelayaran dan perseroan, dan catatan istana berupa kelahiran, per-kawinan, perceraian dalam keluarga istana, pembangunan benteng dan istana, kedatangan utusan.

Bangunan kubah yang keempat terletak di sebelah setatan. Selain bangunan kubah makam di dalam kompleks ini, terdapat pula bangunan jirat semu dan makam dengan bentuk dan pola hias khas yang sama dengan yang terdapat di kompleks makam Tamalate.

Kompleks Makam Tamalate

Meriam Tua
Di depan pintu gerbang Kompleks Makam Tamalate, Kabupaten Gowa
(tidak insitu lagi)


Prasasti baru pada Jirat Semu


Bangunan Jirat Semu Pemakaman Hasanuddin
Di Kompleks Makam Tamalate, Kabupaten Gowa

Kompleks makam Tamalate terletak di punggung bukit Tamalate. Di dalam kompleks makam ini terdapat satu makam kubah, sembilan jirat semu, dan beberapa jirat biasa. Jirat-jirat makam tersebut dibuat dari balok batu kapur. Setiap balok batu memiliki ketebalan ± 15 cm. Di dalam makam kubah terdapat makam Raja Gowa XI, / Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Datta "Tunihatta". Makam jirat semu tujuh di antaranya dapat dikenali identitasnya. Masing-masing raja Gowa ke-44, ke-115, ke-16, ke-17, ke-18, ke-19, dan seorang raja Tallo. Dua jirat semu lainnya belum diketahui identitasnya. Sementara itu dari sejumlahah jirat biasa, hanya satu yang dapat diketahui identitasnya, yaitu Arung Lamoncong dan Bone. Arung Lamoncong berjasa membawa kembali jenazah I Tajiharani ke Gowa.

Sumur Keberanian (Bungung Barania)

Sumur Keberanian (Bungung Barania)
Tempat minum Laskar Gowa-Tallo sebelum berangkat perang

Bungung Barania terletak di sebelah barat daya kompleks makam Tamalate. Cerita rakyat yang berkembang me¬nuturkan bahwa Bungung Barania dahulu merupakan tempat minum prajurit (pakkanna) sebelum berangkat perang. Mereka percaya bahwa minum air Bungung Barania akan menambah keberanian (mempertinggi sikap ksatria).

Sumur Basar (Bungung Lompoa)
Bungung Lompoa terletak di barat laut kompleks makam Tamalate, pada dataran rendah, tepat di kaki bukit Tamalate. Semua bagian sumur terdiri dari susunan balok batu kapur yang dalam penempatannya direkat dengan spesi. Bentuknya bujur sangkar dengan sisi kurang lebih 4 meter. Tinggi pagar 75 cm. Sumur ini diperkirakan merupakan sumber air utama kerajaan sejak abad ke¬15. Penemuan sumber air ini mirip cerita Siti Maryam menemukan sumur zam-zam. Konon, istana Tamalate mengalami kekeringan. Karaeng Bayo (suami Tumanu¬rung) berjalan-jalan mencari air, secara kebetulan ia menemukan sumber air di kaki bukit tandus Tamalate (Wolhof dan Abdurrahim, tt : 912). Sampai sekarang, sumur tersebut masih merupakan sumber air terbaik bagi penduduk sekitar perbukitan Tamalate.


Sumber :
Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia 1999/2000

Makam Raja-Raja Kotawaringin dan Tata Letak Makam

Makam Raja-Raja Kotawaringin
Istana (Keraton), masjid dan makam adalah unsur¬unsur utama peninggalan masa Islam. Ke tiga unsur tersebut di Indonesia umumnya terletak dalam satu lingkungan yang satu dan lainnya tidak berjauhan. Hal ini dapat disaksikan di berbagai bekas Kerajaan Islam di Kalimantan antara lain di Kotawaringin Lama dan Pang¬kalan Bun sebagai bekas Kerajaan Islam Kotawaringin. Di dua tempat peninggalan Islam tersebut makam raja beserta kerabatnya tidak jauh dari bangunan keraton.

Untuk mencapai bekas peninggalan Kerajaan Kotawari¬ngin tersebut dari Pangkalan Bun menghilir melalui su¬ngai Arut. Perjalanan memakan waktu 50 menit dengan perahu cepat (speedboat). Letak makam-makam Raja Kotawaringin sekitar 1/2 km dari tepian sungai atau se¬kitar 200 meter dari Astana Al'Nursari, Jumlah makam yang diwarisi seharusnya lebih banyak dari yang dapat di¬saksikan sekarang, mengingat banyaknya raja-raja yang bertahta di sana. Tetapi sayang makam-makam raja sejak yang pertama sampai dengan yang ke VIII tidak dapat diketahui di mana letaknya. Yang masih dapat ditemukan antara lain :

Makam Raja yang Ke XII, Pangeran Ratu Paku Sukma Negara yang wafat dalam tahun 1913 beserta kerabat¬nya. Juga makam Kyai Gede yang belum diketahui tahun wafatnya beserta cucu beliau, puteri Pangeran Dipati Anta Kasuma yaitu Puteri Gelang.

Kompleks makam Kotawaringin yang lain ditemukan di Pangkalan Bun. Makam-makam di sana terdiri dari :
Makam Raja Ke IX, Pangeran Ratu Imanuddin, yang wafat pada tahun 1841 M, beserta kerabatnya;
Makam Raja Ke X, Pangeran Ratu Ahmad Herman¬syah, wafat pada tahun 1867 M, beserta kerabatnya;
c. Makam Raja Ke XI, Pangeran Ratu Anum Kasuma lyuda, wafat pada tahun 1904 M, beserta kerabatnya
d. Makam Raja Ke XIII, Pangeran Ratu Sukma Alamsyah, wafat pada tahun 1939 M, beserta kerabatnya.

Tata Letak Makam
Makam-makam di Kotawaringin maupun di Pangkalan Bun tidak berdasarkan pada pola atau aturan tertentu. Pemakaman di situs tersebut hampir sama dengan pema¬kaman umum. Tidak ada tanda-tanda bahwa makam¬makam tersebut dipagar dalam suatu areal yang terbatas. Dengan adanya perkembangan kota maka areal makam' tersebut sekarang terpisah dari keraton. Makam di Kota¬waringin Lama sekarang terbagi menjadi dua areal karena dibangun jalan desa.

Tanpa adanya konsep tata letak makam dan tata letak halaman maka suasana makam raja-raja Kotawaringin tampak kurang sakral. Keadaan ini sama dengan keada¬an-keadaan makam para Sultan Kerajaan Banjar sebagai induknya. Bahkan menurut keterangan ada Sultan Banjar yang dimakamkan di tempat pemakaman umum, antara lain Sultan Adam Alwasikubillah, Sultan yang Ke XII.

Bahan dan Bentuk Makam-makam Kotawaringin
Penggunaan bahan untuk makam-makam Raja Kota¬waringin disesuaikan dengan bahan yang telah disediakan lingkungan setempat. Bahan tersebut berupa kayu besi yang sangat terkenal di kawasan Kalimantan. Demi¬kianlah maka untuk pembuatan nisan dan jirat makam dipergunakan kayu besi (kayu ulin). Namun pada masa¬masa kemudian tampak ada pengaruh dari luar. Hal ini dapat diketahui dengan ditemukannya makam-makam raja yang dibuat dari campuran marmer dan kayu. Batu Marmer dipergunakan untuk makam Raja Kotawaringin yang terakhir yaitu Raja Ke XII, Pangeran Ratu Paku Sukma Negara (1904-1913) dan juga Raja Ke XIII, Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (1913-1939).

Makam-makam yang dibuat dari batu marmer mempunyai bentuk nisan yang berbeda-beda :
a. Nisan kayu ulin biasanya berdiri di atas jirat yang dibuat dari kayu ulin;
b. Nisan kayu ulin yang berdiri di atas jirat yang dibuat dari batu marmer;
c. Nisan batu marmer yang berdiri di atas jirat kayu ulin;
d. Nisan batu marmer yang berdiri di atas jirat yang dibuat dari batu marmer.

Khusus pada makam Pangeran Ratu Imanuddin, Raja Ke IX yang memerintah Kerajaan Kotawaringin dan hidup tahun 1805-1814 makamnya dibuat dari nisan dibuat dari batu alam dan jirat dari batu marmer.

Pemakaian batu alam yang sangat jarang dipergunakan sebagai nisan atau jirat kemungkinan disebabkan karena sulitnya bahan baku diperoleh di daerah Kalimantan. Sementara kayu ulin (kayu besi mudah diperoleh dan mempunyai daya tahan lama.

Bentuk Makam
Seperti umumnya makam, semua makam yang dijumpai di Kotawaringin ditandai dengan dua buah nisan dalam bentuk yang sama. Di antaranya ada yang dilengkapi kijing (jirat), ada pula yang tanpa kijing.

Bentuk nisan makam raja-raja Kotawaringin dapat dibedakan menurut jenis kelamin. Biasanya nisan yang berbentuk pipih dipergunakan untuk wanita, sedangkan bentuk nisan untuk pria tidak pipih. Bentuk nisan yang dapat digolongkan ke dalam bentuk yang tidak pipih antara lain berbentuk seperti lingga atau gada dan nisan dalam bentuk bulat serta berpenampang segi-empat.

Seperti telah diuraikan di halaman depan bahwa ukuran serta pola hias pada makam sangat menentukan status sosial. Jirat dalam bentuk yang besar dan memiliki ukiran indah biasanya dipergunakan untuk raja-raja tertentu atau yang mempunyai status tinggi, dibandingkan dengan raja yang lain.

Sebagaimana dengan posisi makam yang menunjukkan ciri Islam yaitu membujur menurut kiblat, maka ciri Islam yang lain tampak pada bentuk ukiran yang senan¬tiasa menjauhi bentuk fauna. Namun demikian masih tampak adanya pahatan-pahatan stilir yang mirip de¬ngan bentuk burung enggang dan kepala naga.

Pola Hias Makam-makam Kotawaringin
Seperti juga pola-pola hias pada makam-makam yang lain di beberapa tempat di Indonesia, pola hias pada makam-makam Islam Kotawaringin mempunyai bentuk dan corak yang begitu indah. Nilai-nilai keindahan dapat disaksikan pada bentuk yang lemah gemulai dengan pahatan-pahatan yang begitu halus. Pola-pola hias pada makam-makam di Kotawaringin menghiasi bagian batu tegaknya atau batu datarnya. Pola-pola hias yang utama adalah pola hias bentuk sulur-sulur yang menggambarkan daun-daun dan bunga, yang di susun serasi. Pola hias ada yang bersifat naturalis di samping ada yang dalam bentuk distilir. Bentuk stilir dapat diartikan digayakan namun tidak merubah arti. Pola hias sulur pada makam-makam Kotawaringin tampaknya mulai dikenal sejak raja Kota¬waringin yang pertama (awal). Pengaruh-pengaruh pola¬-pola hias masa Klasik Jawa pada makam-makam Kotawaringin begitu menonjol. Pengaruh tersebut tampak pada bentuk-bentuk nisan dan hiasannya. Beberapa nisan pada makam Kotawaringin mempunyai bentuk yang mengingatkan pada bentuk Kalamakara. Tetapi bentuk Kalamakara di makam Kotawaringin telah distilir dari bentuk-bentuk sulur yang halus. Datangnya pola-pola hias yang merupakan pengaruh dari Jawa tersebut, ke mungkinan disebabkan adanya seorang tokoh dari Jawa yaitu Pangeran Gede.


Nisan kayu ini berbentuk mirip stupa. Bentuk nisan yang tidak pipih ini biasanya
untuk tanda kubur laki-laki.



Nisan kayu berukir dengan pola yang atas adalah kepala kala dan
yang bawah adalah makara. Biasanya bentuk nisan yang pipih seperti nisan ini adalah
nisan kubur wanita.

Munculnya pola-pola hias yang berkaitan dengan pola hias dari Jawa dalam bentuk makara dan sulur-sulur tam¬paknya tidak secara langsung keahlian tersebut ditiru oleh seniman-seniman di Kotawaringin tetapi tampak¬nya diolah terlebih dahulu dan dibentuk menjadi stilir¬-stilir makara yang indah.

Bentuk nisan dari kayu ini masih dekat dengan bentuk stupor Hanya hiasan
pada puncak dibuat variasi bentuk yang lain

Bentuk-bentuk pola hias sulur yang digayakan menjadi bentuk manusia maupun bentuk muka (kedok), diperkira¬kan berkaitan dengan tujuan untuk memperoleh suatu kekuatan gaib. Pada masa prasejarah di mana mereka percaya pada arwah-arwah yang telah meninggal dan percaya terhadap kekuatan gaib, mereka membuat ben¬tuk-bentuk tory.ng (muka) serta bentuk manusia dalam keadaan utuh. Bentuk-bentuk ini oleh R.P. Soejono biasanya dikaitkan dengan usaha untuk memperoleh kekuatan gaib yang besar. Dengan memahatkan bentuk¬bentuk tersebut pada suatu benda atau pada kubur-kubur megalit diharapkan akan diperoleh kekuatan gaib yang besar yang dapat melindungi si mati dari mara bahaya yang mengancam. Apakah pola-pola hias sulur yang di¬gayakan dalam bentuk muka pada makam-makam Islam itu berkaitan dengan kekuatan gaib dan untuk melindungi arwah yang meninggal masih menjadi bahan penelitian yang menarik. Hal ini disebabkan ada suatu pantangan untuk memberikan bentuk manusia baik dalam keadaan utuh atau hanya bagian tertentu pada sebuah makam Islam. Hal ini dapat disaksikan seperti di daerah Sulawesi Se latan .


Perkembangan lebih lanjut dari type arsitektur masjid dengan lengkungan
makaranya pada sudut-sudut tubuh lebih diperindah di samping atap
berpuncaknya tidak bersusun/bertingkat. Bangunan suci Islam yang beratap
kurang dari tiga susun, umumnya adalah bangunan surau, bukan masjid


Keseluruhan bentuk nisan ini mewakili bentuk arsitektur masjid dengan unsur-unsur kaki/atas, tubuh/ruang bujur sangkar dan kepala atap yang bersusun tiga. Sudut-sudut tubuh bervariasi lengkungan makara

Disamping berfungsi sebagai penambah estitika (kein¬dahan) dan simbol kekuatan gaib pola hias juga berfungsi pula sebagai simbol suatu status. Status di sini dimak¬sudkan sebagai pimpinan, ketua adat, penyebar agama Islam, raja dan lain-lain. Pola-pola hias diberbagai kubur baik dari masa Islam atau masa prasejarah ada yang ber¬fungsi sebagai bukti bahwa yang dikuburkan di sana adaIah orang yang terpandang di daerahnya atau diling kungannya. Dengan demikian maka seperti juga pada kubur-kubur prasejarah pada kubur-kubur Islam status seseorang juga mempengaruhi bentuk dari makam atau kuburnya. Seorang yang mempunyai status tinggi tentu akan dikuburkan dalam bentuk-bentuk kubur yang istimewa.


Ke dua nisan yang terbuat dari kayu ulin ini berbeda variasi namun sama
polanya, yaitu kala-makara. Yang atas adalah kepala-kala yang disemukan
dalam bentuk flora dan dikaitkan dengan lengkung makara di bawahnya.
Sedangkan yang lain adalah perwujudan stupa yang disemukan sebagai
kuncup bunga terbalik.


Bentuk-bentuk makam pada masa berkembangnya Islam Awal di Indonesia masih dipengaruhi oleh harkat dan martabat seseorang. Orang yang lebih tinggi derajatnya biasanya akan mempunyai bentuk makam yang lebih megah dengan pola-pola hias yang kaya dan indah. Pada makam-makam di Kotawaringin dijumpai pula pahatan¬pahatan yang berupa geometris. Pahatan-pahatan ini berdasarkan hasil penelitian para ahli lebih banyak ter-kait dengan usaha-usaha untuk menambah keindahan pada suatu bidang tertentu.


Perkembangan lebih lanjut pada type bangunan suci Islam dengan
atap tunggal berpuncak yang umumnya merupakan surau. Tubuhnya bervariasi hias
yang lebih kompleks dalam batas hiasan flora/tanaman

Pahatan-pahatan yang paling banyak (dominan) adalah pahatan dalam bentuk huruf-huruf Arab yang pada umumnya mencantumkan ayat-ayat Al Qur'an. Ragam hias atau pola hias lain yang cukup menarik adalah bentuk buah-buahan. Di antaranya ada yang begitu erat de¬ngan ceritera rakyat Melayu, yaitu buah delima. Ada juga kisah raja Cermin yang berusaha mengajak raja Majapa¬hit untuk memeluk agama Islam. la datang di Majapahit dengan membawa hadiah berupa buah delima. Namun sesudah buah delima itu dibuka ternyata biji-biji delima tersebut adalah batu-batu permata ("batu delima").

Sumber :
Subdibyo Yuwono, dkk., 1996/1997, Makam Raja-Raja Kotawaringin, Jakarta, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Obyek Wisata Kota Kabupaten Banyumas

Seputar Alun-alun Kota Lama Banumas
Terletak 18 km ke arah selatan Alun-alun dari Purwokerto. Alun-alun merupakan salah satu penanda pusat pemerintahan di Jawa, selain Pendopo Kabupaten dan Masjid Agung. Di sebelah barat Alun-alun terdapat Masjid Nur Sulaiman, di utara adalah Pendopo Duplikat Si Panji, dan sebelah timur adalah Lembaga Pemasyarakat Banyumas. Biasanya di pinggir dan tengah kompleks Alun-alun ditanami pohon beringin yang melambangkan pengayoman kepada rakyat.
Berikut gambar-gambar seputar Alun-alun Kota Lama Banyumas yang dapat diunduh:

Kompleks Duplikat Si Panji
Sebelum tahun 1937, di kompleks inilah Pemerintahan Kabupaten Banyumas dipusatkan. Kemudian dengan digabungkannya Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto pada 1936, maka atas prakarsa Bupati Banyumas ke 19 yaitu R.A.A. Sujiman Gandasubrata (1933 - 1950), Pendopo Si Panji (yang dahulunya berada di Kota Lama Banyumas) pada bulan Januari 1937 dipindahkan ke ibukota Kabupaten Banyumas di Purwokerto, dan diresmikan pada 7 Januari 1937. Maka kota lama Banyumas hanya menjadi ibukota Kawedanan Banyumas, dan sekarang menjadi ibukota Kecamatan Banyumas. Untuk mengingatkan bahwa dulunya merupakan ibukota Kabupaten Banyumas dan lokasi beradanya Pendopo Si Panji, maka dibangunlah Pendopo Duplikat Si Panji.

Museum Wayang Banyumas
Terletak di bagian depan kompleks Pendopo Duplikat Si Panji. Museum ini pada mulanya adalah tempat paseban (untuk menghadap) Bupati Banyumas. Dibangun menjadi musem wayang Banyumas pada tahun 1982 dan diresmikan pada 31 Desember 1982 oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi). Buka pada jam kerja mulai jam 08.00. Jika menginginkan kunjungan di luar jam kerja silakan menghubungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, atau Drs. R. Pudjianto, B.A. selaku Pamong Budaya Kec. Banyumas/koordinator: 081548277904, atau langsung ke pemandu museum Mbak Wati: 08164287261. Koleksi yang ada meliputi: wayang kulit gagrak/gaya Jogjakarta, Banyumas (kuno, peralihan, sekarang), wayang krucil, wayang golek purwa, wayang golek menak, wayang kidang kencana, wayang kancil, wayang dupara, wayang beber, wayang suket, wayang suluh, wayang Bali (akan), wayang Jawa Timuran (akan), benda arkeologi, tosan aji/pusaka-pusaka, lukisan Bupati-bupati Banyumas, gamelan slendro kuno, calung Banyumas, foto Banyumas tempo dulu.

Masjid Nur Sulaiman
Masjid ini terletak di sebelah barat Alun-alun kota lama Banyumas. Masjid Nur Sulaiman berdiri pada tahun 1725, semasa Bupati Banyumas ke VII Adipati Yudonegoro II (1708-1743), bersamaan dengan dipindahkannya ibukota Kabupaten Banyumas dari Karangkamal (sekarang Kalisube) ke timur, yaitu Grumbul Gegenduren, sekaligus dibangunnya Pendopo Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan nama Pendopo Si Panji.

Masjid Nur Sulaiman didirikan oleh Kyai Nur Sulaiman dari Gumelem dengan diarsiteki oleh Kyai Nur Daiman dari Gumelem juga. Beberapa peninggalan yang masih asli misalnya bedug, mimbar, sumur, sakaguru, dan sebagian tembok.

Komples Makam Bupati Banyumas Di Dawuhan
Terletak 5 km ke arah barat Alun-alun Kecamatan Banyumas, dan masuk wilayah Desa Dawuhan. Kompleks makam Bupati-Bupati Banyumas ini merupakan lokasi rutin kegiatan ziarah dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Banyumas setiap tahunnya. Kegiatan ziarah ini menandakan salah satu wujud penghargaan kita kepada para leluhur Banyumas dengan cara mendoakan dan melakukan ziarah ke makam leluhur, sehingga juga diharapkan mampu mengenang jasa leluhur dan meneladani sikap dan watak satria para leluhur, misalnya watak satria R. Joko Kaiman yang berkenan membagi empat Kabupaten Wirasaba, yang sebenarnya sudah dikuasakan kepada beliau, kepada saudara-saudara iparnya. Dengan demikian, Kabupaten/Kadipaten Banyumas berdiri atas dasar watak satria, watak Banyumas.

Makam Kyai Mranggi Semu di Kejawar
Terletak 5 km ke arah selatan Alun-alun Kecamatan Banyumas. Desa Kejawar merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten Banyumas. Di desa inilah, R. Joko Kahiman dibesarkan oleh paman dan bibinya (Rara Ngaisah), Kyai dan Nyai Mranggi Semu. Hal ini karena ayahanda R. Joko Kahiman (R. Banyaksosro) meninggal pada usia muda, sedangkan R. Joko Kahiman masih kecil. Kyai Mranggi Semu merupakan pembuat warangka keris. Terkait masa kecil dan dididiknya R. Joko Kahiman di Kejawar ini, maka tidak berlebihan kalau dikatakan Kyai dan Nyai Mranggi Semu sangat besar jasanya dalam menggembleng seorang satria Banyumas yang nantinya akan dikenal karena kebesaran hatinya membagi empat Kadipaten Wirasaba sehingga disebut Adipati Mrapat, Adipati Warga Utama II, Adipati Banyumas I.

Maksud diadakannya artikel tentang Kyai dan Nyai Mranggi Semu Kejawar ini, tidak lain semoga bisa sebagai salah satu cara menggugah rasa hormat dan penghargaan kepada para leluhur Banyumas, tidak hanya pemerintah serta pemerhati sejarah dan budaya, namun masyarakat Banyumas umumnya. Hormat dan menghargai leluhur bisa dengan banyak cara, silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, penuh kesungguhan dan rasa saling menghargai serta kerjasama dengan semua elemen masyarakat Banyumas.

Makam Nyai Mranggi di Binangun
Terletak 10 km ke arah barat Alun-alun Kecamatan Banyumas, atau 5 km ke arah barat Kompleks Makam Bupati Banyumas di Dawuhan. Makam Nyai Mranggi (Rara Ngaisah) ini terletak di Grumbul Wanasepi, Binangun, di atas bukit, di tengah rerindangan pohon (dahulu di tengah hutan, sehingga ada yang mengatakan Karangtengah, karena berada di atas bukit yang dikelilingi hutan). Rara Ngaisah, atau lebih dikenal sebagai Nyai Mranggi, adalah adik kandung R. Banyaksosro (ayahanda R. Joko Kahiman). Menurut cerita, setelah Kyai Mranggi Semu di Kejawar meninggal dunia, maka Nyai Mranggi mengembara di berbagai daerah sekitar Kecamatan Banyumas (kini), sampai tiba di Grumbul Wanasepi, Desa Binangun, di mana beliau meninggal dunia dan dimakamkan. Ada yang mengatakan bahwa Nyai Mranggi ini moksa (menghilang badan bersama jiwanya), sehingga di atas bukit tersebut adalah petilasan di mana Nyai Mranggi moksa.

Maksud diadakannya artikel tentang Kyai dan Nyai Mranggi Semu Kejawar ini, tidak lain semoga bisa sebagai salah satu cara menggugah rasa hormat dan penghargaan kepada para leluhur Banyumas, tidak hanya pemerintah serta pemerhati sejarah dan budaya, namun masyarakat Banyumas umumnya. Hormat dan menghargai leluhur bisa dengan banyak cara, silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, penuh kesungguhan dan rasa saling menghargai serta kerjasama dengan semua elemen masyarakat Banyumas.

Masjid Nur Sulaiman
Masjid Nur Sulaiman Banyumas dibangun tahun 1755 pada masa pemerintahan Adipati Banyumas Yoedanegara II dan diarsiteki oleh Bapak Nur Daiman Demang Gumelem I sekaligus sebagai Penghulu Masjid yang pertama. Sebagaimana konsep tata letak bangunan pada masa pemerintahan kerajaan di Jawa, posisi masjid selalu berada di sebelah barat alun-alun sebagai simbol kebaikan, berseberangan dengan letak penjara sebagai symbol kejahatan di sebelah timur alun-alun .

Secara administrasi Masjid ini berada dalam wilayah Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas kurang lebih 25 km dari kota Purwokerto.Karena tidak adanya sumber tertulis yang pasti, menurut penuturan juru Pelihara Benda Cagar Budaya Masjid Nur Sulaiman bapak Djoni M. Faried, nama Nur Sulaiman berasal dari nama Nur Daiman.

Masjid Nur Sulaiman di bangun di atas tanah seluas 4.950 m2,
Ruang utama: 22 x 15.5 m , Tinggi bangunan : 14.5 m, Ruang serambi:11 x 22 m , Ruang mihrab: 4 x 2.2 m, tinggi 5.9 m. Mimbar: 2.2 x 1.2m duwure 1.67 m. Maksura: 2.3 x 2.3 m
Masjid Nur Sulaiman memiliki ciri khusus dan keunikan antara lain ;
Denah bujur sangkar
Ada serambi
Batur tinggi
Pintu utama di sebelah timur
Mimbar berbentuk tandu
Terdapat Maksura ( tempat Shalat khusus penguasa)
Mihrab (ruang imam) ialah tajug susun 2 dilengkapi mahkota berbentuk mirip gada.
4 pilar utama (saka guru)
12 pilar pendukung (saka pengarak)

Taman Kota Banyumas
Pembangunan kota sering lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang lebih banyak ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada. Gejala pembangunan kota pada masa yang lalu mempunyai kecenderungan untuk meminimalkan ruang terbuka hijau dan juga menghilangkan wajah alam. Lahan-lahan bertumbuhan banyak dialih-fungsikan menjadi pertokoan, pemukiman, tempat rekreasi, industri dan lain-lain.

Sumber : http://www.banyumaskab.go.id

Makam Raja-Raja Kotawaringin

Pendahuluan
Kerajaan Kotawaringin adalah kerajaan Islam yang pernah ada di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah menjelang akhir abad ke 17 M hingga pertengahan abad ke 20 M. Sejak terhapusnya kerajaan tersebut untuk kemudian menjadi wilayah Republik Indo¬nesia terbagi menjadi dua wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat dengan kota Pangkalan Bun sebagai Ibu-kotanya, clan Kabupaten Kotawaringin Timur dengan kota Sampit sebagai Ibu-kotanya. Kabupa¬ten Kotawaringin Barat berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat dengan kota Pontianak sebagai inn¬kotanya. Jadi bekas Kerajaan Kotawaringin terletak di ujung Barat Propinsi Kalimantan Tengah dengan Palangka Raya sebagai Ibu-kotanya.

Kerajaan Kotawaringin semula berpusat di tempat yang dikenal sebagai Kotawaringin terletak di tepi sungai Lamandau agak jauh ke hulu. Pada awal-awal abad ke 19 pusat kerajaan dipindahkan ke kota Pangkalan Bun yang terletak di tepi sungai Arut, tidak jauh dari pertemuan sungai Arut dengan sungai Lamandau. Pertemuan ke dua sungai itu terletak tidak jauh dari muara sungai Laman¬dau, sehingga dapat dikatakan pusat kerajaan makin mendekati pantai, yaitu pantai Laut Jawa. Hal ini me¬mang perlu mengingat kelancaran hubungan perdagang¬an. Sejak kepindahan pusat kerajaan tersebut, Kotawa¬ringin lebih dikenal sebagai Kotawaringin Lama sebagai Ibu-kota Kecamatan. Namun sisa-sisa sebagai bekas pu¬sat kerajaan masih tampak juga pada kota tersebut.

Peta sejarah di dalam buku Prof. Dr. Slamet Mulyana berjudul "Negarakertagama- (1979 M) tercantum Kota¬waringin sebagai kota di tepi muara sungai Lamandau. I'eta tersebut memberi petunjuk bahwa Kotawaringin adalah pelabuhan di pantai Selatan Kalimantan yang menghadap ke Laut Jawa. Sedangkan atlas -Indonesia dan Dunia- (PT Pembina Peraga, 1990) mencantumkan Teluk Kotawaringin di dekat muara sungai Lamandau. Hal ini sesuai dengan peta sejarah tersebut di atas. Gusti Dumai, warga setempat dan anggauta dari Keluarga Ke¬rajaan Kotawaringin, menerangkan bahwa sungai kecil di areal tersebut oleh penduduk setempat di rebut sungai Kotawaringin. Tentunya pada masa sekitar tiga abad yang lampau sungai tersebut lebih besar dari keadaan sekarang.

Tiga data tersebut, tempat pemukiman, sungai dan teluk¬nya, merupakan petunjuk kuat tentang lokasi Kota¬waringin. Keterangan Gusti Dumai lebih lanjut menye¬butkan bahwa di kawasan tersebut masih ditemukan sisa¬sisa susunan batu bata yang tentunya merupakan sisa-sisa bangunan pada masa kejayaan Kotawaringin. Buku "Sulu"' Sejarah Kalimantan" (Amir Hasan Kiai Bondan, 1925-1953, Banjarmasin) antara lain mencatat : "Sejarah Banjar menyebutkan sekitar tahun 1628 M VOC menjadikan Kotawaringin sebagai tempat supply beras untuk kepentingan mereka, dan dalam tahun 1638 M terjadi perlawanan para pedagang bersama penduduk setempat dengan pembakaran kapal-kapal VOC yang sedang berlabuh di Kotawaringin karena perlakuan me¬reka yang sewenang-wenang". Catatan tersebut memberi gambaran secara jelas betapa Kotawaringin pada masa itu. Kotawaringin merupakan kota pelabuhan yang letaknya strategis sehingga VOC dapat memanfaatkan sebagai tempat supply beras. Namun sayang sekali dalam sejarahnya kota pelabuhan dan perdagangan yang ber¬potensi itu harus mengalami nasib sebagai korban kese¬rakahan bajak-laut yang merajalela di kawasan tersebut. Temuan sejumlah keramik Cina yang bertebaran ter-tutup pasir pantai memberi gambaran betapa kawasan tersebut pernah memegang peranan penting dalam kegiatan perdagangan antar bangsa.

Rupanya kota perdagangan Kotawaringin sempat ter¬punahkan, namun ketenaran namanya masih sempat terselamatkan sebagai nama pusat kerajaan Islam yang didirikan oleh Keluarga Kerajaan Banjar pada masa-masa pemerintahan Sultan Ke IV Mustainubillah. Namun ke giatan bajak-laut tampaknya masih belum reda, maka lokasi pusat Kerajaan Kotawaringin dipindahkan ke hulu sungai Lamandau. Setelah kegiatan bajak-laut reda, Sul¬tan Kotawaringin Ke IX memindahkan pusat kerajaan¬nya ke arah hilir mendekati pantai Laut Jawa. Namun pemindahan tersebut tidak memilih tepian sungai Lamandau, tetapi tepian sungai Arut yang merupakan cabang sungai Lamandau. Pusat kerajaan yang kemudian disebut Pangkalan Bun itu terletak di sebelah hulu dari pertemuan sungai Lamandau dan sungai Arut. Pemilihan lokasi tersebut walaupun sudah mendekati pantai Laut Jawa namun tampaknya masih tidak terlepas dari rasa tidak aman oleh kemungkinan gangguan bajak-laut. Per¬temuan sungai Lamandau dan Arut terletak tidak jauh dari muara Lamandau di pantai Laut Jawa, sedangkan kota Pangkalan Bun terletak tidak jauh di sebelah hulu pertemuan ke dua sungai tersebut.

Kata Bun dalam nama kota Pangkalan Bun berasal dari nama penduduk setempat dari suku Dayak yang tiap hari mengumpulkan hasil hutan di lokasi Pangkalan Bun. Nama tersebut adalah "Bu'un". Itulah kisah dari ceritera tradisi mengenai asal mula nama kota Pangkalan Bun yang berasal dari istilah "Pangkalan si Bu'un".

Latar Belakang Sejarah
Sejarah Kerajaan Banjar yang wilayahnya kini menjadi wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, antara lain mencatat bahwa Kerajaan Kotawaringin berdiri atas prakarsa Sultan Banjar Ke IV yang bergelar Mustainubillah. Beliau memerintah antara 1650 M - 1678 M.

Kerajaan Banjar didirikan oleh Pangeran Samodra pada sekitar pertengahan abad ke 16 sebagai kerajaan Islam pertama di kawasan ini. Sebagai sultan pertama adalah Pangeran Samodra sendiri dengan gelar Sultan Surian-syah. Menurut ceritera tradisi, beliau adalah keturunan raja-raja sebelumnya yang masih memeluk agama Hindu¬-Budha. Hikayat Lambung Mangkurat mengkisahkan ada¬nya Kerajaan Negara Dipa dan kemudian Negara Daha. Nama "Daha" tersebut mungkin sekali tidak terlepas dari nama Kerajaan di Jawa Timur "Daha" (Kediri). Sehingga hubungan antara Jawa dengan Kalimantan, sebagaimana hubungan antara Jawa dengan Bali, adalah sejak masa¬-masa itu (abad ke XI dan ke XII) yang pada masa itu Kalimantan dikenal sebagai Tanjungpura. Pada masa itu adalah masa kejayaan Kediri di Jawa Timur dengan Kerajaan Daha dan Kahuripannya.

Sisa-sisa bangunan yang kita temukan di kawasan ini, antara lain bangunan percandian, tentunya adalah sisa-sisa dari jaman itu. Nama "Negara" pada sungai yang mengalir di kawasan tersebut memberi petunjuk pula tentang masa kejayaan daerah tersebut pada jaman itu termasuk antara lain nama tempat Margasari. Kitab "Negarakertagama" menyebutkan beberapa nama daerah di kawasan tersebut yang merupakan daerah takluk Majapahit. Dikisahkan pula bahwa Pangeran Samodra berdarah Keturunan Raja Majapahit. Kisah ini betapapun memberikan kesimpulan bahwa Pangeran Samodra masih berdarah keturunan kerabat raja Majapahit. Setidak-tidaknya sejak masa Kediri, dalam sekitar abad ke XI, sudah berlangsung hubungan antara Jawa dan Kaliman¬tan.

Ketika timbul kesulitan dalam masalah penggantian takhta, Pangeran Samodra memperoleh bantuan dari Ke¬rajaan Demak. Bantuan tersebut menuntut syarat kese¬diaan Pangeran Samodra memeluk agama Islam. Tun¬tutan tersebut di,penuhi oleh Pangeran Samodra yang juga kemudian mengganti nama dengan nama Surian¬syah. Mengenai hubungan antara Jawa dan Kalimantan, khususnya perihal Kerajaan Kotawaringin ini tidak ter¬ungkap di buku-buku sejarah umumnya. Sejauh ini hanya buku "Suluh Sejarah Kalimantan" (Amir Hasan Kiai Bondan, 1925-1953, Banjarmasin) yang mengungkapkan hal-ihwal Kalimantan, khususnya Kalimantan Selat¬an. Kecuali itu studi Iapangan banyak memberikan petunjuk ke arah hubungan tersebut, antara lain :

a. Istilah bahasa Jawa banyak digunakan dalam ucapan sehari-hari di Kalimantan Selatan, misalnya "nonton banyu" yang artinya "melihat air";
b. Seorang kerabat kerajaan Kotawaringin dapat melagu¬kan tembang atau lagu "Ilir-ilir" (bahasa Jawa) yang menurut keterangannya dipopulerkan oleh Kyai Gede, orang Jawa yang termasuk tokoh Kerajaan Kotawaringin;
c.Pertunjukan wayang-kulit merupakan salah satu pertunjukan yang digelar dalam suatu pesta keluarga.

Demikian antara lain yang merupakan petunjuk betapa hubungan antara daerah Jawa dengan Kalimantan Selatan. Kehadiran tokoh Khotib Dayan dan Kyai Gede dalam pemerintahan Kerajaan Banjar dan Kotawaringin merupakan fakta tentang hubungan antara ke dua daerah tersebut.

Maka perihal bantuan Kerajaan Demak untuk Sultan Suriansyah bukan hal yang tidak mungkin. Namun perihal Raja Demak masih perlu dipelajari, Raja Demak yang mana yang membantu Sultan Suriansyah untuk naik takhta. Sejarah Demak mengungkapkan tentang kegiat an yang dilakukan oleh Sultan Trenggana maupun Ratu Kalinyamat, antara lain mengirim bantuan ke negara¬negara yang mereka rasa perlu dibantu. Jadi ada dua kemungkinan, Sultan Trenggana atau Ratu Kalinyamat yang membantu Sultan Suriansyah.

Maka Suriansyah (ketika itu belum menjabat Sultan) berangkat kembali ke Negara Daha dengan disertai armada Demak. Ikut serta pula ulama yang berasal dari. Demak bernama Khatib Dayan yang kelak akan men¬dampingi Suriansyah sebagai penasehat Raja dan sekali¬gus sebagai pengembang agama Islam pertama di kawasan Kalimantan Selatan. Kalau akhirnya makam Khatib Dayan berdampingan dengan makam Rajanya, yaitu Sultan Suriansyah, adalah sebagai penghormatan sang raja terhadap gurunya. Ekspedisi tersebut menghasilkan kemenangan di fihak Demak yang berarti pula sebagai kemenangan Suriansyah dan langsung naik takhta sebagai Sultan Banjar yang pertama.

Sejak pemerintahan Suriansyah Kerajaan Banjar sudah harus menghadapi Kolonial Belanda yang pada awal abad ke 17 sudah mulai menjangkau Indonesia walaupun harus menghadapi kekuatan Portugis yang lebih dahulu mema¬suki tanah air kita Indonesia. Dengan segala daya dan upaya Kerajaan Banjar berhasil mempertahankan eksistensinya selama sekitar 2'/2 abad. Dalam situasi seperti itu, terpaksa pusat kerajaan berpindah-pindah tern pat yang berkisar di sekitar kawasan Banjarmasin-Marta¬pura. Situasi tersebut mengakibatkan makam-makam Raja Banjar beserta kerabatnya harus terpisah-pisah. Se¬perti pula kerajaan-kerajaan lain dii Indonesia ini, sedikit demi sedikit fihak Kolonial Belanda berhasil merongrong kedaulatan Kerajaan Banjar untuk akhirnya menguasai seluruh wilayah kekuasaan Banjar. Dengan demikian wi¬layah kekuasaan Belanda di Indonesia makin bertambah. Melalui surat keputusan yang dibuatnya sendiri tertang¬gal 11 Juni 1860, Belanda menghapus kedaulatan Keraja¬an Banjar. Maka setelah seluruh wilayah Indonesia di¬kuasainya, Belanda menyebut wilayah kekuasaannya ter¬sebut dengan nama "Nederlandsch Indie" atau "Hindia Belanda". Satu tahun sebelumnya, 25 Juni 1859, Belanda menurunkan Sultan Banjar Ke XIII Tarnjidillah II (Sul¬tan terakhir) dari takhtanya dan mengasingkannya ke Jakarta. Sekitar dua tahun kemudian dari penghapusan kedaulatan Kerajaan Banjar melalui surat keputusannya tersebut, 1862 M, Belanda berhasil melumpuhkan per¬lawanan kerabat Kasultanan Banjar beserta para pe¬ngikutnya yang dipimpin Pangeran Hidayat. Belanda berhasil menangkap Pangeran Hidayat dan mengasing¬kannya ke Cianjur. Sementara itu kerabat yang lain, Pangeran Antasari, wafat karena sakit di tempat per¬sembunyiannya.

Demikian perihal Kerajaan Banjar terungkapkan secara singkat Kerajaan Banjar adalah induk dari Kerajaan Kotawaringin, karena Sultan Banjar Ke IV Mustai¬nubillah (1650-1678 M) pengambilan prakarsa berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan bantuan Kyai Gede, seorang ulama yang mungkin juga berasal dari Demak seperti halnya Khatib Dayan (pendamping Sultan Surian¬syah). Sesuai dengan sejarahnya, maka perihal Kerajaan Kotawaringin (1680-1948 M), akan diuraikan dalam 3 periode :

- Periode I (Masa Persiapan)
- Masa Kyai Gede ( - 1680)
- Periode II (Masa Kotawaringin 1680 - 1811 M)
- Periode III (Masa Pangkalan Bun 1811 - 1948 M)

Kawasan yang akan menjadi wilayah Kerajaan Kota¬waringin ini merupakan kawasan yang dapat dikatakan belum siap untuk menjadi wilayah kerajaan, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Penduduknya yang belum banyak itu hidup berkelompok-kelompok saling berjauh¬an sepanjang tepi sungai.. Mereka umumnya pengumpul hasil hutan atau sungai, sedikit sekali yang bertani atau berdagang. Buminya yang luas itu sebagian besar ditum¬buhi hutan lebat dengan sungai-sungai yang berjeram. Hingga sekarang pun penanganan bumi Kalimantan masih jauh dari tuntas. Dunia perdagangan merupakan kegiatan yang lebih menonjol sebagaimana tampak di kota Pangkalan Bun yang kini menjadi Ibu-kota Kabu¬paten Kotawaringin Barat. Adanya kota Pangkalan Bun itu pun baru pada awal abad ke XIX yang sebelumnya juga berupa hutan.

Situasi kawasan yang masih jauh dari kematangan ter¬sebut ini dirasa perlu untuk dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk tugas menyelenggarakan persiapan tersebut Sultan Mustainubillah, \Sultan Banjar Ke IV (1650-1678 M), melimpahkan kepercayaan kepada seorang tokoh yang tentunya telah dikenal benar-benar oleh Sultan tersebut. Tokoh tersebut adalah Kyai Gede, seorartg tokoh berasal dari Jawa yang diperkirakan dari Demak seperti haloya Khatib Dayan, Ulama pendamping Sultan Stiriatisyah Namun rupanya Kyai Gede bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang negarawan. Sedangkan Khatib. Dayan benar-benar hanya seorang ulama.

Sejak awal pemerintahan Ayah Sultan Mustainubillah, yaitu Sultan Hidayatullah (1641-1650 M), tahun 1641 M adalah tahun yang terakhir bagi Kerajaan Banjar me¬ngantar upeti untuk Kerajaan Mataram. Saat itu Keraja¬an Mataram dalam pemerintahan Sultan Agung dengan masa pemerintahannya antara 1613-1645 M. Hal itu memberi petunjuk bahwa hegemoni Demak atas Banjar dilanjutkan oleh Kerajaan Mataram. Jadi masa pemerin¬tahan Sultan Mustainubillah, Banjar sudah terbebas dari kewajiban mengantar upeti ke Mataram.

Rupanya Sultan Mustainubillah tidak hendak menyim¬pang dari prinsip Kerajaan Banjar bahwa agama Islam menjadi dasar kerajaan. Antara lain konsep tersebut yang menyebabkan Kyai Gede terpilih untuk pelaksanaan tugas merintis tegaknya Kerajaan Kotawaringin. Sayang sekali bahwa angka tahun pelaksanaan tugas tersebut tidak tercatat. Jelas bahwa tugas ini tidak hanya menyangkut segi agama semata-mata, tetapi juga segi sosial bahkan sosial politis. Tugas tersebut sekaligus merupakan batu ujian bagi Kyai Gede sebagai abdi negara, terutama tingkat kemampuannya. Sejarah membuktikan bahwa Kyai Gede bukah hanya seorang ulama, tetapi juga seorang negarawan. Makam Kyai Gede yang terpisah dari kompleks makam kerabat kerajaan justru mendapat perhatian masyarakat lebih dari makam raja-rajanya. Makamnya yang sederhana terlindung bangunan sederhana pula, namun tampak rapi dan bersih walaupun makam itu sendiri sudah berumur sekitar hampir tiga abad. Hal ini memberi petunjuk pula bahwa Kyai Gede juga seorang tokoh masyarakat yang dicintai dan dihor¬mati khalayak. Walau demikian, sampai akhir hayatnya Kyai Gede tetap menjabat sebagai orang ke dua sesudah raja. Ia menjabat Mangkubumi sejak dari Sultan pertama hingga wafatnya pada masa pemerintahan Sultan Ke II. Sayang sekali, angka tahun kesejarahan Kyai Gede tidak ditemukan.

Bila mengambil ancer-ancer angka tahun pemerintahan Sultan Ke IV tersebut, yaitu 1650-1678 M, dapat diper¬kirakan tahun 1655 M sebagai tahun awal Kyai Gede melaksanakan tugasnya di Kotawaringin. Sesuai dengan tugas yang dibebankan Sultan Mustainubillah sebagai raja dari kerajaan yang berdasarkan ke-Islam-an, pertama¬tama yang dilaksanakan Kyai Gede selaku seorang ulama adalah mengembangkan ajaran Islam. Setelah beberapa waktu lamanya menyusuri sungai Lamandau ke arah hulu sampai di tempat yang dihuni sekelompok suku Dayak. Pimpinan kelompok tersebut adalah Demung Tujuh Ber¬saudara yang merupakan pimpinan secara kolektif. Se¬telah berhasil mengatasi berbagai masalah dengan me¬reka, akhirnya Kyai Gede memutuskan untuk menetap di tempat tersebut yang disebut Tanjung. Pangkalan Batu. Maka langkah pertama yang Kyai Gede lakukan adalah mengembangkan agama Islam.

Dalam mengembangkan agama Islam tersebut, Kyai Gede harus menghadapi kenyataan bahwa tidak seluruh masyarakat di tempat itu menerima ajaran Islam. Se¬bagian masyarakat yang menerimanya dikenal sebagai kelompok "Nyaga", sedangkan yang tidak menerimanya terpaksa menyingkir ke pedalaman (ke arah "darat") meninggalkan tempat awal yang terletak di tepian sungai. Maka kelompok yang ke dua tersebut disebut kelompok "Dayak Darat" untuk tetap memegang keyakinan lama yang mengandung unsur-unsur Hindu dengan ke-"Majapahit"-annya itu.

Selanjutnya Kyai Gede mengembangkan tugasnya sesuai dengan yang dipercayakan Sultan Mustainubillah kepada¬nya. Dan Kyai Gede juga memutuskan untuk menetap di tempat tersebut yang di kemudian hari menjadi pusat kerajaan dan disebut Kotawaringin. Sambil menanti pe-ngangkatan raja, Kyai Gede melaksanakan tugas selaku, pemimpin daerah dengan meneruskan tradisi setempat yaitu mengantar upeti ke Kerajaan Banjar. Menurut catatan, Jajar Melahui adalah pemimpin rombongan pc¬ngantar upeti dari rakyat Dayak setempat dan sekitar¬nya untuk Raja Banjar sebelum kehadiran Kerajaan Kotawaringin.

Dalam masa-masa inilah, sesuai dengan tugasnya selaku penyiar agama Islam, Kyai Gede mendirikan masjid yang hingga kini masih juga dikenal sebagai "Masjid Kyai Gede". Bila di Palembang ada istilah "Gending Suro", maka di kawasan ini dikenal istilah "Dipati Ganding" selaku Mangkubumi dan "Dipatinggendeng" ("Dipating¬gending") selaku wakil raja. Istilah "Gending Suro" tiada lain adalah tokoh sejarah setempat Ki Gede Ing Suro yang menurunkan raja-raja Palembang. Maka istilah "Dipati Ganding" atau "Dipatinggendeng" dapat diper¬kirakan "Dipati Gede Ing" yang artinya "Dipati Gede Di" yang tentunya dapat diteruskan dengan nama tempat ("Dipati Gede Ing ...). Istilah "Dipatinggendeng" lebih dekat keucapan/dialek Jawa dari "Dipati Ganding". Dari kenyataan tersebut dapat diperkirakan bahwa maksud istilah tersebut adalah "Kyai Gede".

Sebagai penyiar agama Islam, Kyai Gede tentunya me¬miliki satu keinginan yaitu mendirikan masjid. Maka pendirian masjid diperkirakan tidak terlalu jauh dari ta¬hun 1660 M, dengan catatan perkiraan Kyai Gede me¬n-tidal tugasnya di Kotawaringin sekitar tahun 1655 M. Bangunan masjid tersebut seluruhnya dari kayu sesuai de¬ngan keadaan alamnya yang banyak menghasilkan kayu sedangkan batu-batuan sulit, diperoleh. Empat tiang uta¬ma di tengah (Jawa : Saka Guru) diukir dengan gaya Jawa berpola "ukel". Duabelas tiang sekitar tiang utama polos namun diberi bentuk yang lebih artistik dari duapuluh tiang sekitar tiang duabelas tersebut. Maka tiang dua¬puluh ini merupakan deretan tiang di tepi. Dengan demi¬kian tigapuluh enam tiang berderet dalam tiga deret de¬ngan empat tiang utama yang terukir indah di tengah/ pusat. Kemudian berturut-turut ke arah tepi, deretan tiang dua belas tanpa ukir namun dibuat dalam bentuk yang indah dan akhirnya deret paling tepi adalah tiang duapuluh dalam bentuk paling sederhana. Dengan demi¬kian tersusun deretan tiang secara teratur.

Tiga deret tiang yang tersusun dalam bentuk segi-empat itu mendukung tiga atap masjid yang tersusun dari atas ke bawah dengan atap yang paling atas berbentuk pira¬mid berpuncak. Demikianlah bangunan masjid yang di¬beri nama pendirinya, masjid Kyai Gede, berbentuk arsitektur masjid tradisional yang lazim di tanah-air kita, Indonesia (arsitektur tradisional masjid Indonesia). Dengan namanya itu, masjid ini sekaligus merupakan monumen tokoh Kyai Gede sebagai seorang ulama peletak dasar yang kokoh untuk berdirinya Kerajaan Kotawaringin. Ternyata Kerajaan Kotawaringin sempat hidup selama hampir tiga abad (1680-1948 M).

Dengan prestasi dan kesetiaannya kepada raja itu, dalam pemerintahan Kerajaan Kotawaringin, Kyai Gede mene¬rima penghargaan dan kepercayaan untuk menduduki jabatan Mangkubumi. Sampai wafatnya, Kyai Gede sem¬pat memegang jabatan tersebut hingga dalam pemerin-tahan Sultan Kotawaringin yang Ke 11.

Ada catatan menyebutkan bahwa "dalam tahun 1656 M Sultan baru dari Kotawaringin mengirim utusan ke Jakarta". Yang dimaksud Sultan baru dari Kotawaringin di sini tentunya adalah Kyai Gede yang waktu itu sedang mempersiapkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin atas inisiatif Sultan Banjar Ke IV Mustainubillah. Karena Mustainubillah naik takhta pada tahun 1650, maka dapat diperkirakan Kyai Gede mulai menjalankan tugas¬nya antara tahun 1650-1656 M. Maka sementara dapat diperkirakan tahun 1653 adalah tahun permulaan Kyai Gede menjalankan tugasnya di Kotawaringin. Selanjut¬nya peran tokoh Kyai Gede dalam tugasnya membantu tegaknya Kerajaan Kotawaringin dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Kyai Gede adalah tokoh berasal dari Demak seba¬gaimana Khotib Dayan pendamping Sultan Pertama Banjar Suriansyah. Kyai Gede adalah gelar, nama Kyai Gede belum ditemukan. Kyai Gede adalah Gelar Kehormatan untuk pimpinan masyarakat di bidang pemerintahan atau/dan agama. Rupanya untuk Kyai Gede ini berlaku ke dua-duanya. Di Jawa, Kyai sering disingkat menjadi Ki, dan Gede diterjemahkan dalam bahasa halus menjadi Ageng. Namun akhirnya gelar tersebut sejak beberapa waktu akhir-akhir ini tidak lazim lagi, yang lazim adalah Kyai, itu pun hanya untuk pimpinan agama, Islam khususnya.

2. Jabatan Mangkubumi dalam pemerintahan, sementara itu gelarnya terabadikan pada masjid yang dibangun¬nya untuk keperluan rakyat, menunjukkan peran Kyai Gede dalam Kerajaan Kotawaringin. Pada tahun 1680 M Sultan Banjar meresmikan salah seorang puteranya, Pangeran Dipati Antakasuma, sebagai Raja Kotawaringin yang Ke I. Dengan demikian Kyai Gede menjalankan tugasnya di Kotawaringin selaku perintis sejak sekitar tahun 1653 adalah selama 27 tahun.

3. Selama sekitar 27 tahun Kyai Gede menjalankan tugasnya dengan mulus tanpa terjadi hal-hal yang mengganggu hubungan antara Banjar dengan Kotawa¬ringin, termasuk hubungan pribadi antara Kyai Gede dengan Keluarga Kerajaan Banjar. Peresmian Raja Kotawaringin Ke I dengan Kyai Gede selaku Mangku¬bumi berjalan mulus. Sayang, tahun wafat Kyai Gede belum diketahui.

Raja Pertama Kotawaringin ini, sesuai dengan pendam¬pingnya yaitu Kyai Gede, adalah tokoh yang berupaya mendekatkan diri ke Tuhannya. Hal itu tampaknya memang menjadi keinginan Sultan Mustainubillah, agar Kerajaan Kotawaringin tidak hanya mengutamakan tata ekonomi dan pemerintahannya, tetapi lebih dari itu ada¬lah mengembangkan agama Islam. Dasar yang diwujud¬kan dengan dwitunggal Ratu Bagawan - Kyai Gede ter-sebut sesuai dengan pendahulunya yang diwujudkan pula dengan dwitunggal Suriansyah - Khotib Dayan. Dasar ini berjalan terus sehingga Raja Ke VIII yang memerintah pada akhir abad ke 18 hingga awal abad ke 19, Pangeran Ratu Anum Kasumayuda, sering pergi ke Danau Gatal dalam rangka penyelenggaraan pendidikan agama Islam. Di tempat tersebut terdapat pesanggrahan yang diman¬faatkan untuk penyelenggaraan pesantren tersebut.

Ratu Bagawan yang dikenal pula sebagai Ratu Kotawa¬ringin rupanya memiliki wibawa yang cukup di antara Keluarga Kerajaan Banjar. Hal ini terbukti dengan ter¬panggilnya Ratu Kotawaringin ke Banjar setiap ada peristiwa penting di Banjar. Ketika Raja Banjar Ke V Sultan Inayatullah wafat pada tahun 1685 M, Ratu Kotawaringin diminta hadir di Banjar untuk menentukan penggantinya walaupun sudah ada seorang kakaknya bergelar Pangeran/Panembahan Di Darat yang tinggal di kawasan Martapura. Dengan segala kewibawaannya se¬laku sesepuh dan penasehat Kerajaan, Ratu Kotawari¬ngin/Bagawan memutuskan bahwa Pangeran Kasuma Alam, putera Almarhum Ratu Agung (Sultan Banjar Ke V), menggantikan ayahnya tersebut selaku Sultan Banjar Ke VI dengan gelar Sultan Saidillah/Saidullah atau Ratu Anom (1685-1700 M). Dalam menjalankan tugasnya, Ratu Bagawan selalu didampingi pendampingnya, "Dipatingganding" ("Dipati Gede Ing" Kotawaringin atau Kyai Gede). Keputusan tersebut berdasarkan atas kebiasaan/tradisi sejak Sultan Pertama Suriansyah, bahwa pergantian takhta berlaku "anak mengganti ayah". Tradisi ini berlaku pula bagi Kerajaan Kotawaringin yang bertahan hingga Raja Kotawaringin Ke XI yang memerintah pada tahun 1867-1904 M. Karena tidak ber¬putera, ketika Raja Ke XI wafat, pemilihan pengganti raja jatuh pada Putera Raja Ke IX Pangeran Ratu Imanuddin (1805-1841 M) yang bergelar Pangeran Ratu Paku Sukma Negara sebagai Raja Ke XII (1904-1913 M). Selanjutnya berlaku tradisi lama hingga Raja Ke XIII yang setelah wafat digantikan puteranya sebagai Raja Ke XIV. Akhirnya Raja Ke XIV inilah merupakan Raja Kotawaringin terakhir yang meletakkan takhta berdasar¬kan Undang-Undang Pemerintah Republik Indonesia.

Salah satu peristiwa penting dalam masa pemerintahan Ratu Bagawan ini yang patut dicatat adalah perselisihan¬nya dengan salah satu kerajaan tetangganya yaitu Ke¬rajaan Sukadana. Kerajaan ini terletak di sebelah Barat Kerajaan Kotawaringin dan kini menjadi Wilayah Pro¬pinsi Kalimantan Barat. Semula dua kerajaan ini bersa¬habat oleh perkawinan antara putera Raja Sukadana ("Seridewa") dengan puteri Raja Kotawaringin ("Puteri Gelang"). Namun perkawinan tersebut berakhir dengan perceraian. Ketika perkawinan Raja Kotawaringin meng¬hadiahkan "daerah sungai Jelai", yang terletak di per¬batasan antara ke dua kerajaan tersebut, kepada mem¬pelai, setelah terjadi perceraian hadiah perkawinan ter¬sebut menjadi sengketa yang tidak kunjung selesai. Seng¬keta tersebut terjadi karena fihak Sukadana memper¬tahankan hadiah perkawinan tersebut ketika diminta kembali oleh fihak Kotawaringin. Sengketa tersebut se¬lesai dengan sendirinya pada saat terhapusnya keswa¬prajaan seluruh Indonesia (kecuali Jogyakarta) oleh Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1948.

Namun pada masa pemerintahan Belanda ("Pemerintah Hindia Belanda"), melalui Surat Keputusannya tertanggal 15 Desember 1901 Kontrolir Sampit menetapkan bahwa daerah sengketa tersebut di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Surat Keputusan ini diundangkan setelah lewat lehih dari 200 tahun dari persengketaan tersebut. Demi¬kianlah antara lain cara Belanda menguasai seluruh Indo¬nesia dengan menguasai daerah demi daerah.

Sayang sekali, akhir hayat Ratu Kotawaringin ini tidak jelas, termasuk letak makam beliau. Berbagai fihak me¬nyebutkan tentang Ratu Kotawaringin yang tewas dalam "Perang Pasir" membantu Kerajaan Banjar tanpa me-nyebutkan tempatnya dimana beliau tewas dan dima¬kamkan. Sedangkan buku "Hikayat Banjar" hanya me¬nyebutkan tentang wafatnya Sultan Saidillah (Raja Banjar Ke VI) pada tahun 1700 M, tiga tahun setelah wafatnya Ratu Kotawaringin. Buku tersebut tidak me-nyebutkan peristiwa Perang Pasir.

Penggunaan gelar "adipati" di dalam pemerintahan Ke¬rajaan Kotawaringin, tentunya adalah salah satu penga¬ruh dari Jawa yang terbawa oleh Kyai Gede. Rupanya gelar ini mulai digunakan oleh Raja Ke I Kotawaringin sebagai Pangeran Adipati Antakasuma dan Kyai Gede sendiri sebagai Mangkubumi/pendamping raja menyan¬dang gelar Adipati Gede. Bagi Kyai Gede agaknya mem¬bawa-bawa nama sendiri adalah suatu pantangan tersen-diri. Dengan gelar adipati pun ternyata gelar "gede" yang disandang, bukan namanya sendiri. Istilah "dipatinggen¬ding" atau "dipati gensing" dapat dibandingkan dengan istilah populer di dalam sejarah Palembang "gending suro". Pangeran Dipati Antakasuma yang ketika muda¬nya bergelar Pangeran Anum adalah adik Sultan Banjar Ke V Inayatullah (1678-1685 M) yang sebelumnya bergelar Pangeran Tuha. Masa itu adalah masa Kerajaan Mataram II (Islam) dalam pemerintahan Amangkurat II (1677-1703 M), cucu Sultan Agung.

Kerajaan Kotawaringin selama berkembangnya dari menjelang akhir abad ke 17 (1680 M) hingga per¬tengahan abad ke 20 (1948 M) sempat memiliki tiga istana : Astana Luhur dan Gedung Nurhayati di Kota¬waringin (kemudian menjadi Kotawaringin Lama) dan yang terakhir adalah Lawang Agung di Pangkalan Bun. Sedangkan bangunan yang hingga sekarang masih tampak dan dikenal sebagai Astana Alnursari terletak di Kotawaringin Lama adalah rumah pribadi Raja Ke XII Pangeran Ratu Paku Sukma Negara. Karena milik raja dan didiami raja beserta para kerabatnya, maka rumah pribadi Alnursari tersebut secara umum juga disebut astana.

1. Astana Luhur
Bangunan istana ini didirikan oleh Raja Ke I Kota¬waringin Pangeran Dipati Antakasuma yang merupa¬kan istana pertama kerajaan tersebut. Istana tersebut didirikan di tempat Kyai Gede mendarat dan akhirnya bermukim bersama suku Dayak setempat yang waktu itu dikenal sebagai Tanjung Pangkalan Batu. Nama ini diganti oleh Raja tersebut menjadi Kotawaringin, na-mun dalam berbagai prasasti Kerajaan Islam Kota¬waringin disebut Kotaringin. Apakah hal ini hanya sekedar untuk membedakan antara nama kerajaan yang "Kotawaringin" dengan nama bagi Ibu-kotanya yang "Kotaringin", belum ditemukan penjelasannya.

Dari bangunan istana ini tidak tertinggal sisa-sisanya, walaupun bahannya dari kayu pilihan, terutama kayu besi. Karenanya sulit menjejaki bekas Iokasinya. Na¬rnun menurut petunjuk kerabat raja yang kini sudah meninggal, Almarhum Gusti Dumai Anas, lokasi istana tersebut terletak sekitar areal sebelah Barat makam Kyai Gede.

Astana Luhur dikenal pula dengan nama Tiang Ber¬ukir. Dari informasi diperoleh data bahwa Astana Luhur yang berukuran besar ini berbentuk "Rumah Betang" yang merupakan perwujudan arsitektur Dayak. Rumah Betang berarti rumah besar. Rumah orang Dayak memang berukuran besar, karena satu rumah dihuni sejumlah keluarga. Menghuni rumah secara beramai-ramai memang cara khas orang Dayak. Bila diserang sewaktu-waktu secara mendadak, mereka dapat mempertahankan diri atau menangkis serangan secara beramai-ramai pula. Panggung rumah Dayak berukuran tinggi antara lain untuk memper¬sulit serangan. Astana Luhur berukuran besar karena tempat kediaman raja umumnya perlu berukuran besar untuk berbagai fasilitas. Secara tehnis, rumah Dayak memang tidak terlalu sulit, yang penting me¬merlukan kayu-kayu berukuran besar. Sehingga men¬dirikan rumah Dayak relatif lebih cepat. Pada umum¬nya rumah Dayak berdenah segi-empat panjang de¬ngan atap yang berbentuk atap-pelana. Selain rumah untuk keluarga, dibangun pula rumah untuk menyim¬pan berbagai jenis benda pusaka yang disebut Pago¬ngan. Nama ini tentunya berkait dengan benda pusaka yang diantaranya berupa "gong". Lokasi Pagongan ini tidak jelas lagi, lokasi yang sekarang ini adalah baru. Kecuali itu Raja Ke I juga membangun Paseban yang tidak jelas juga di mana lokasinya. Biasanya Paseban untuk menerima tamu/pegawainya. Astana Luhur ini sempat didiami hingga Raja Ke VI.

2. Gedung Nurhayati
Bangunan istana Kotawaringin yang ke dua ini di¬bangun oleh Raja Ke VI, Pangeran Panghulu. Angka tahun pemerintahannya belum diperoleh. Gedung ini didiami Raja Ke VI sendiri hingga Raja Ke IX. Gedung Nurhayati yang dikenal pula sebagai Gedung Bundar didirikan untuk mengganti istana yang pertama As¬tana Luhur. Setelah didiami enam raja beserta keluar¬ganya secara berturut-turut, bangunan Astana Luhur mengalami proses kerapuhan walaupun terbuat dari bahan kayu pilihan. Karenanya Pangeran Panghulu, Raja Ke VI tersebut, merasa perlu menggantinya dengan mendirikan Gedung Nurhayati terletak di se-belah hilir Astana Al'Nursari yang kini masih tampak sisa-sisanya dan Astana tersebut terletak di sebelah hilir lokasi Astana Luhur. Sama dengan Astana Luhur, sisa dari Gedung Nurhayati pun tidak tampak kecuali hanya beberapa tiang saja, dan tahun pembangunan¬nya pun tidak tercatat. Raja Ke IX (1805-1841 M) meninggalkannya, jadi yang tinggal di Gedung ter sebut adalah Raja Ke VI Pangeran Panghulu, Raja Ke VII Pangeran Ratu Bagawan, Raja Ke VIII Pangeran Ratu Anum Kasumayuda dan yang terakhir adalah Pangeran Ratu Imanuddin, (Raja Ke IX). Sementara itu Raja Ke VIII yang masa kecilnya dikenal sebagai Gusti Mussadam lebih sering tinggal di pesanggrah¬annya di Danau Gatal, tidak jauh sebelah hulu Kota¬waringin. Di tempat inilah beliau menyelenggarakan pendidikan agama Islam untuk kerabat raja dan umum di samping beliau sendiri mendalami agama Islam.

3. Lawang Agung
Pangeran Ratu Imanuddin (1805-1841 M) adalah penghuni yang terakhir Gedung Nurhayati dan selama tinggal di Gedung tersebut is membangun istana yang ke tiga di Pangkalan Bun. Istana tersebut mulai di¬bangun pada tahun 1809 dan selesai pada tahun 1811 M. Sejak tahun tersebut pusat kerajaan dipindahkan dari Kotawaringin ke Pangkalan Bun dan bekas pusat kerajaan disebut Kotawaringin Lama.

Sumber :
Subdibyo Yuwono, dkk., 1996/1997, Makam Raja-Raja Kotawaringin, Jakarta, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan