Makam Sunan Gunung Jati Disesaki Pedagang Kaki Lima

Cirebon, Kompas - Sejumlah persoalan kini merongrong kesakralan Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Selain kawasan makam itu disesaki pedagang kaki lima dan pengemis, jumlah bangunan di sekitarnya juga makin banyak dan tidak terkendali sehingga terkesan kumuh.

Untuk meningkatkan citra obyek wisata ziarah makam itu, pemerintah perlu segera menata kawasan tersebut. Penataan harus melibatkan lintas sektor sebab pemecahan permasalahan pariwisata memerlukan dukungan infrastruktur dan kondisi sosial.

"Revitalisasi kawasan makam sangat perlu dilaksanakan," ujar Kepala Bidang Pariwisata Badan Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Cirebon I Nyoman Resep, Jumat (25/8). Nyoman menambahkan, rencananya penataan kawasan makam dilakukan secara bertahap mulai tahun 2005 sampai 2008. Tahun lalu, fokus penataan adalah perbaikan lokasi parkir, yakni diberi pembatas dan diaspal hotmix. Perbaikan itu meliputi lahan parkir seluas 3.000 meter persegi. "Selain pengaspalan, anggaran tahun kemarin juga meliputi penyediaan perlengkapan pendukung, seperti pot bunga dan lampu penerangan," ungkap Nyoman. Seluruh kegiatan itu menghabiskan anggaran Rp 800 juta yang berasal dari APBD Provinsi Jawa Barat.

Perbaikan lahan parkir tahun lalu tetap belum bisa menjawab permasalahan perpakiran. Sebab, daya tampung lokasi parkir hanya sekitar 20 bus besar. Akibatnya, pada saat ramai pengunjung, kendaraan sampai diparkir di badan jalan raya Cirebon Indramayu. "Jadinya ada keluhan kemacetan jalan," ujar Nyoman.

Bagi hasil

Untuk itu, tahun ini penataan kembali difokuskan pada lahan parkir. Lahan seluas 2.000 meter persegi milik Komando Resor Militer (Korem) Cirebon akan dialihfungsikan sebagai lokasi parkir. Saat ini lahan tersebut digunakan sebagai lapangan sepak bola. Nyoman mengatakan, hasil rapat beberapa waktu lalu menghasilkan keputusan sistem bagi hasil antara pengelola kawasan wisata dan Korem Cirebon. "Tadinya ada tiga opsi yang kami ajukan, yakni pembelian lahan, tukar guling, dan bagi hasil. Ternyata Korem memilih bagi hasil," ujar Nyoman. Namun, itu masih sebatas kesepakatan awal.

Mengenai perincian sistem bagi hasil, Nyoman mengatakan masih perlu pembahasan lebih lanjut.

Satu paket dengan perluasan lahan parkir ini adalah pembangunan kios, mushala, dan tempat peristirahatan bagi pengunjung. Alokasi dana sebesar Rp 1,4 miliar juga bersumber dari APBD Provinsi Jabar. "Pemerintah Kabupaten Cirebon mendapat bagian untuk menguruk tanah sebagai tahap persiapan perluasan lahan parkir," ujar Nyoman. Namun, dia tidak mengetahui besarnya dana pengurukan sebab pemegang proyek adalah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah.

Nyoman mengakui banyak kendala dalam penataan kawasan Makam Sunan Gunung Jati. Apalagi, pembangunan suatu kawasan selalu menimbulkan potensi pro dan kontra. Rencananya, perluasan lahan parkir akan dimulai pertengahan September ini.

Budayawan Cirebon, Kartani, menyatakan, penataan kawasan Makam Sunan Gunung Jati sudah ada peningkatan dibandingkan dengan waktu- waktu sebelumnya. Namun, ia berpendapat, tetap ada kekurangan terkait pelayanan yang masih banyak dilakukan secara tradisional. "Misalnya saja pemberian informasi pada para pengunjung yang masih bercampur-baur antara sejarah dan mitos," ungkap Kartani. (LSD)

Sumber: http://www2.kompas.com