Menelusuri Masjid Tua

Oleh: Alwi Shahab

Ketika sampai di Madinah, setelah hijrah dari Mekkah, Nabi Muhammad SAW membangun Masjid Quba. Dari masjid inilah Nabi berdakwah dan menggembleng para sahabatnya menjadi pemeluk Islam yang tangguh. Kini Islam telah menyebar ke segenap penjuru dunia dengan jumlah pemeluk mencapai 1,2 miliar jiwa.

Begitu pula Wali Songo, ketika menyiarkan Islam di Nusantara, menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah. Ketika Falatehan mengusir Portugis dan mendirikan Jayakarta, dia pun membangun masjid. Masjid ini terletak di sebelah selatan Hotel Omni Batavia, antara Jalan Kalibesar Barat dan Jalan Roa Malaka, Jakarta Kota. Masjid ini dibakar oleh VOC letika menaklukkan Jayakarta.

Pada saat itu semua penduduk Jayakarta meninggalkan kota ke Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di sini mereka membangun Masjid As-Shalafiah yang dijadikan sebagai markas untuk melawan penjajah. Masjid ini masih berdiri tegak, dan telah beberapa kali dilakukan perbaikan serta perluasan.

Penyebaran agama Islam di Jakarta terutama di bagian selatan Jayakarta telah dimulai sejak awal abad ke-15, sejak berdirinya Pesantren Quro di Karawang. Pesantren ini dibangun Syeikh Quro dari Kamboja, setelah beberapa lama tinggal di Timur Tengah.

Jadi, di mana masjid tertua di Jakarta? Sulit dipastikan. Yang jelas, ketika Islam menyebar di Jakarta, oleh Kerajaan Hindu yang kala itu berpusat di Galuh Pakuan (Bogor), para pengikutnya disebut kaum langgara. Karena, mereka menganut kepercayaan yang bertentangan dengan tradisi dan agama nenek moyang. Sedang tempat ibadah mereka disebut langgar.

Melacak masjid-masjid tua di Jakarta terdapat pula masjid yang dibangun oleh para tumenggung dari Mataram, pendatang dari Malabar (India), para imigran Hadramaut, keturunan Cina Islam dan kesultanan Banten.

Memasuki Jl Masjid I, Kampung Melayu Besar, Jakarta Selatan, misalnya, ada Masjid Al-Atiq. Masjid ini dipercaya peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah. Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, masjid ini berdiri bertepatan dengan berdirinya masjid yang berada di Banten dan Karang Ampel (Jawa Tengah).

Seperti juga masjid-masjid tua lainnya, masjid ini telah beberapa kali direnovasi. Luas masjid sebelumnya dapat dilihat pada batas keempat tiang yang berdiri kokoh di dalamnya. Pada tahun 1619, ketika VOC berkuasa, keadaan masjid ini sangat memprihatinkan.

Ketika pengikut Pangeran Jayakarta tengah menelusuri Batavia melalui sungai Cikliwung dengan perahu, salah satu rombongan secara kebetulan melihat sebuah masjid yang tidak terpelihara, bahkan nyaris roboh. Sebagian dari mereka lantas memutuskan menetap di wilayah itu, sekaligus memperbaiki masjid.

Konon, masjid itu merupakan tempat persembunyian Si Pitung dan Ji‘ih, jagoan Betawi yang terkenal membela rakyat kecil dan menentang kolonial Belanda setelah melarikan diri dari penjara Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1890.

Ada juga Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yang dibangun para prajurit Mataram ketika menyerang Batavia-nya JP Coen pada 1628—1629.

Ketika prajurit-prajurit Mataram mendarat di pantai Marunda mereka bersembunyi dan memugar masjid, yang telah ada sebelumnya itu, sambil mengatur siasat perlawanan terhadap Belanda. Dengan demikian masjid itu telah memainkan peranan penting sebagai tempat penggemblengan mental para gerilyawan Kerajaan Mataram.

Mengingat sejarahnya itu, tidak heran kalau pada masa revolusi fisik 1945, dari masjid tersebut dikumandangkan semangat jihad fi sabilillah oleh para ulama dan pejuang. Sehingga, daerah Marunda sangat dibanggakan dalam perjuangan RI mempertahankan kemerdekaan, karena menjadi ajang pertempuran antara pejuang dan NICA (Belanda).

Para tentara Mataram, sekalipun gagal merebut Batavia, banyak yang menetap di Jakarta. Mereka mengusir VOC dengan cara lain, dengan mendirikan masjid-massjid, sekaligus tempat pembinaan mental agama dan mengobarkan semangat menentang penjajahan. Di antara masjid yang dibangun para tumenggung Mataram, selain Al-Alam, adalah Masjid Al-Mansyur di Kampung Sawah, Kelurahan Tambora, Jakarta Barat, dan Masjid Al-Makmur di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Masjid Al-Mansyur dibangun keturunan Pangeran Tjakrajaya dari Mataram pada 1717. Masjid ini oleh KH Moh Mansyur, keturunan pendiri masjid, diperluas pada 25 Sya‘ban 1356 Hijriah (1957). Nama Mansyur hingga sekarang diabadikan untuk nama masjid tersebut. Seperti juga dilakukan pendahulu-pendahulunya, oleh KH Moh Mansyur, ulama yang dikenal luas di Betawi, masjid ini sekaligus dijadikan pula sebagai tempat penggemblengan para jamaah tentang cinta tanah air dan kewajiban membelanya.

Tanpa merasa takut terhadap ancaman Belanda, pada masa revolusi fisik di masjid ini dikibarkan Sang Saka Merah Putih. Tidak heran kalau masjid ini pernah ditembaki NICA. KH Mansyur sendiri digiring ke markas polisi Belanda. Saat diinterogasi dengan tegas ia mengatakan, ”Setiap bangsa memiliki bendera sendiri, seperti juga bangsa Belanda.”

Kawasan Glodok yang selalu ingar bingar juga banyak memiliki masjid tua. Di Jalan Pengukiran II, terdapat Masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada 1748 yang kini hanya tersisa beberapa bangunan aslinya. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan mempertahankan kemerdekaan.
______________________
Alwi Shahab, lahir di Jakarta 31 Agustus 1936, telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Ia dikenal sangat fasih menceritakan sisi-sisi menarik dari sejarah kota Jakarta, pada saat penjajahan Belanda hingga saat kemerdekaan Indonesia.

Sumber :http://alwishahab.wordpress.com