Kearifan Lokal Suku Anak Dalam


Hijau Negeri
Suatu ketika tahun 1992 saya mendapatkan kesempatan mengunjung suatu daerah di pedalaman hutan di propinsi Jambi sebagai siswa sekolah ikatan dinas di suatu departemen untuk melaksanakan praktek kerja lapangan semester I di sekolah saya itu, suatu perjalanan eksotis bagi saya. Setelah menempuh perjalanan darat dengan bis selama 2 hari dua malam dari Sukabumi kampus sekolah kami berada sampailah pada suatu kampung di pinggir sungai Batanghari.

Ketinting mengantar kami menyeberangi sungai Batanghari menuju camp persinggahan kami yang merupakan camp pemegang konsensi hak pengusahaan hutan di bakal tempat kami akan PKL selama hampir tiga bulan kedepan.

Berdasarkan penjelasan Camp manager HPH, tempat kami PKL ternyata masih 41 kilometer masuk dari pinggir sungai Batanghari tempat logpond perusahaan konsensi hutan tersebut.

Off road nih jadinya karena jalanan yang becek habis hujan, perjalanan masuk kedalam hutan diantar dengan mobil jip toyota hardtop untuk para Dosen dengan perbekalan dan ransel kami semua, sedangkan kami siswa harus siap berdesakan sebanyak 60 orang dengan dump truck. Perjalanan off road penuh sesak dalam dump truck "dengan aroma keringat menyengat" terlepas hilang dengan pemandangan keindahan hutan disepanjang kanan-kiri jalanan logging.

Pemandangan yang cukup surprise ketika terlihat rombongan jalan kaki sekelompok Suku Anak Dalam berjalan satu arah dengan kami menuju pedalaman hutan, perjumpaan pertama saya dengan Suku Anak Dalam.

Sesampai di camp 41 "istilah camp yang menunjukkan kilometer tempat camp berada" kami menginap sebelum masuk lagi ke hutan tempat kami akan PKL "timber cruising" kami beristirahat semalam.

Esok harinya kami dikumpulkan oleh pada Dosen dan mendapatkan penjelasan bahwa kami masing-masing kelompok siswa akan mendapatkan buruh yang akan membantu dalam pelaksanaan praktek sebanyak 3 orang, yang diantaranya adalah Suku Anak Dalam, oleh karena itu kami diperkenalkan dengan Tumenggung "sebutan kepala kelompok/Suku Anak Dalam" namun sebelumnya kami diberi pembekalan oleh camp manager ketika bergaul dengan mereka.

Yukau nama anak muda Suku Anak Dalam yang mengikuti kelompok kami sebagai buruh, penampilannya seperti fisik remaja umumnya cuma dia masih pakai cawat atau kain yang dililitkan untuk "maaf" menutupi organ vitalnya, tanpa baju atau pakaian lainnya dan alas kaki.

Berkumpul sekian lama dengan Anak Dalam ada hal-hal tertentu yang patut ditiru dari mereka terlepas kekurangan mereka, yaitu kearifan mereka akan lingkungan, mereka tidak akan berburu binatang sebagai bahan makanan mereka secara berlebihan, tidak menebang pohon tertentu yang buahnya dapat dimakan, pohon yang biasanya ditempati oleh lebah madu sebagai sarang.

Satu lagi mereka tidak membuang kotoran (membuang hajat) di sungai, bandingkan dengan diperkotaan (yang warganya mengklaim sebagai warga kota bukan warga anggota suku terasing) kini banyak WC helicopter di atas-atas sungai. Membuat kita sedikit malu harusnya akan kearifan mereka dalam menjaga lingkungan.

Sumber : http://hijaunegeri.blogspot.com/2009/01/kearifan-lokal-sang-anak-dalam.html
Foto : http://khairulhamdi.files.wordpress.com