Istilah-istilah Gotong Royong di Bali

Oleh : Tim Wacana Nusantara

Dalam Bidang Ekonomi dan Mata Pencaharian
1. Mesilih-bahu
Melisih bahu berasal dari dua kata dasar, yaitu: silih = pinjam, dan bahu = bahu (secara harfiah) dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah bahu binatang ternak yang biasa digunakan dalam pertanian, semisal sapi dan kerbau. Dengan begitu, kata mesilih-bahu ini berarti saling pinjam binatang ternak antarsatu petani dengan yang lainnya, biasanya dilakukan dalam kerjasama pengolahan tanah (pertanian) di sawah maupun tegalan. Kelompok yang terlibat dalam kerjasama ini berjumlah pada umumnya dua orang petani yang rumahnya saling berdekatan satu sama lain.

Beberapa ketentuan dalam kerjasama ini yaitu saling meminjamkan ternak mereka untuk dipakai dalam pengolahan tanah sebagai penarik bajak. Selain itu ,biasanya seorang petani yang meminjamkan ternaknya pun bisa ikut membantu pengolahan tanah. Sebagai imbalan dalam hubungan timbal balik (didasari prinsip resiprositas) maka petani yang memunyai kerja (meminjam ternak temannya) biasanya menyuguhkan makanan dan minuman, dan begitu pula sebaliknya.

Bentuk kerjasama ini dapat berlangsung dalam beberapa musim tanam. Pekerjaan membajak melalui mesilih-bahu ini biasa dilakukan dari jam 5.00 sampai dengan jam 10.00 pagi) Dan setelah pekerjaan selesai maka ternak yang dipinjam dikembalikan ke yang punya.

Hasil dari kerjasama tersebut adalah lebih membantu petani yang punya kerja dan membutuhkan bantuan tambahan ternak dan selain itu akan menumbuhkan ikatan batin tertentu antar petani tersebut.

2. Meslisi
Kata ini berarti saling bergantian membantu. Pada intinya, meslisi ini sama dengan mesilih-bahu yaitu sama sama bekerja sama meminjamkan ternak dan membantu sesama petani, namun yang membedakan adalah dari jumlah peserta anggota kerjasama di mana dalam meslisi berjumlah antara 2-5 orang dan berasal dari umur yang sebaya serta tidak terpatok pada sesama desa, melainkan bisa dengan petani dari desa tetangga.

B. Dalam Bidang Teknologi dan Perlengkapan Hidup
1. Ngrombo
Kata ngrombo berasal dari kata dasar rombo yang berarti bantu. Cirri khas dari proses kerjasama ini terjadi karena suatu tingkat ketidakmampuan tertentu, misalnya karena usia lanjut, atau jenis pekerjaan terlalu berat.

Dari kata dasar rombo dapat terbentuk beberapa jenis kata bentukan lain, seperti: kerombo (artinya orang yang dibantu), pengrombo (artinya orang yang membantu), romboan (artinya menunjuk status seseorang sebagai penerima bantuan).

Dalam hal keanggotaan banjar di Bali, menurut status keanggotaannya dibedakan ke dalam dua jenis keanggotaan, yaitu: anggota ngarep (anggota penuh, anggota inti), yaitu anggota yang berstatus primer; dan ada anggota romboan (anggota tidak penuh, anggota yang perlu dibantu/berstatus sekunder). Dalam beberapa hal, sesuai dengan awig-awig (aturan) banjar, anggota romboan dibebaskan dari kewajiban tertentu.

Cakupan kegiatan ngrombo ini cukup luas, di antaranya:
- - bidang pertanian: mencangkul, menyiangi;
- - bidang persiapan perkawinan;
- - bidang religi: persiapan berbagai upacara keagamaan;
- - bidang perlengkapan hidup: membangun rumah, menggali sumur, memperbaiki tempat ibadah, membangun balai umum, dll.

Tujuan romboan adalah untuk memberi bantuan tenaga tambahan, sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang memerlukan bantuan dapat diperingan dan dipercepat.

C. Dalam Bidang Kemasyarakatan
1. Metulung
Kata ini berasal dari kata tulung yang berarti tolong atau bantu. Dalam konteksnya, metulung berarti membantu seseorang yang sedang berada dalam keadaan bencana, malapetaka, atau kecelakaan. Ciri khas dari metulung ini adalah sifatnya yang sangat spontan dan kondisi dari pihak yang ditolong memperlihatkan keprihatinan tertentu. Pihak yang ikut serta dalam metulung tergantung dari skala parahnya kejadian, bisa beberapa orang atau mungkin satu banjar.

2. Ngajakang
Kata ini berasal dari kata ajak, artinya mengajak. Ngajakang berarti menggotong-royongkan. Ciri khas dari jenis gotong royong ini adalah adanya suatu inisiatif dari pihak yang akan mengharapkan bantuan (yang memunyai kerja) untuk mengajukan permintaan (ngajak) kepada pihak-pihak yang akan membantu secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, kegiatan ini tidak menunjukkan spontanitas melainkan adalah sebagai kegiatan yang direncanakan. Jumlah anggota yang ikut serta biasanya tergantung kebutuhan dan berasal dari hubungan ikatan keluarga atau banjar. Orang yang diajak untuk membantu biasanya diberi imbalan atau kompensasi menurut jenis dan cara-cara yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.

3. Ngedeng
Kata ini berasal dari kata kedeng, artinya tarik. Ngedeng artinya menarik. Dalam konteknya, ngedeng berarti menarik bantuan, baik berupa bantuan tenaga maupun materi. Ciri khas dari ngedeng adalah bahwa pihak yang menarik (ngedeng) itu adalah termasuk anggota atau warga dari suatu kelompok tertentu. Dalam kegiatan ngedeng ini, tampak adanya dua jenis variasi, yaitu: individu ngedeng kelompok (seperti: ngedeng seka, ngedeng banjar, ngedeng patus); lalu kelompok ngedeng gabungan kelompok (seperti: banjar ngedeng soroh/desa).

Kegiatan ini berlaku dalam berbagai bidang kehidupan, seperti:
- - dalam bidang pertanian: (ngedeng seka memula, artinya menarik para anggota
dari organisasi menanam padi);
- - dalam bidang kemasyarakatan: (ngedeng patus, artinya menarik tenaga
ataupun materi dari organisasi patus dalam kegiatan ngaben);
- - dalam bidang kesenian: (ngedeng seka gong, artinya menarik organisasi
penabuh gambelan gong);
- - dalam bidang teknologi dan perlengkapan hidup: (ngedeng seka, artinya
menarik para anggota organisasi mengatap untuk membantu mengatapi rumah).

D. Dalam Bidang Religi dan Kepercayaan
1. Ngoopin
Kata ini berasal dari kata dasar oop, artinya bantu. Ngoopin artinya membantu atau menolong. Bantuan dalam kerjasama ini berbentuk tenaga kerja. Bentuk ngoopin ini sendiri bisa bersifat spontan atau direncanakan sesuai kebutuhan.

Kepustakaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Sistim Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Bali, hal. 34-60. Jakarta: Dep. P. dan K.

Sumber : http://www.wacananusantara.org/2/289/istilah-istilah-gotong-royong-di-bali