Barang Antik di Pinggir Sungai Mahakam

Oleh: Firman Hidayat

Suku Dayak di pedalaman Kalimantan menyimpan banyak kisah tentang barang kuno, dari peralatan makan, patung, hingga guci tua untuk hiasan rumah. Anda penikmat barang antik tak perlu masuk ke pedalaman Kalimantan untuk mendapatkan barang kuno itu.

Di pinggir Sungai Mahakam, tepatnya di Jalan R.E. Martadinata, Samarinda, Kalimantan Timur, ada tiga toko yang menjual barang antik. Letak toko itu tersebar di antara toko-toko di kawasan niaga tersebut.

Mari kita tengok salah satu toko itu. Toko Bahati Jaya milik Muhammad Bakri Udin, 56 tahun, ini menjual aneka barang antik, mulai dari peralatan makan atau tableware kuno sampai perhiasan manik-manik dan perunggu.

Barang-barang antik itu meninggalkan catatan sejarah tentang suku Dayak. Misalnya mangkuk besar dan piring yang terbuat dari kayu ulin yang diukir dengan gambar kepala burung enggang. "Bagi suku Dayak, burung itu dipercaya sebagai kesatria," kata Bakri.

Dua etalase di dalamnya juga memajang aneka barang antik dan manik-manik kuno. Rangkaian butiran manik-manik dari batu itu dibentuk jadi untaian kalung. Permukaan batuan itu kasar dan warnanya tak secerah manik-manik masa kini yang berwarna terang.

"Ini manik-manik asli. Usianya sudah puluhan tahun," kata Arbaina, 52 tahun, istri Bakri Udin. Lalu Arbaina menyebut angka Rp 5 juta untuk harga sebuah kalung manik-manik dari bahan batu itu.

Selain itu, ada mandau, senjata khas Dayak kuno, tombak antik, perhiasan perunggu, dan patung kuno suku Dayak, juga teko dan rantang dari bahan keramik.

Ada juga guci tua peninggalan dinasti Cina dengan berbagai ukuran, dari yang berukuran tangan orang dewasa hingga setinggi pinggang orang dewasa. "Guci-guci ini rata-rata berusia ratusan tahun," kata Arbaina.

Selasa siang pekan lalu, tak banyak konsumen yang datang ke Toko Bahati. Hanya ada seorang perempuan setengah baya. Setelah melihat-lihat koleksi di toko itu, Sarita--bukan nama sebenarnya--membeli teko keramik seharga Rp 6 juta.

Sebelum pamit, kolektor barang langka yang enggan menyebutkan identitasnya itu mengomentari sebuah guci besar. "Guci Yun Cheng ini cantik, ya," ujarnya.
Guci Yun Cheng adalah guci peninggalan dinasti Cina yang diperoleh Bakri dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Suku Dayak merupakan ras Cina yang masih menyimpan aneka guci berusia ratusan tahun.

Guci ukuran lebih dari 50 sentimeter itu dijual Rp 45 juta. Guci bermotif naga merah dan kuning yang dipadu dengan motif flora di tokonya tinggal tersisa empat unit. Saya jamin keaslian barang ini," ujarnya. "Kalau palsu, kami berani bayar dua kali lipat," dia menambahkan.

Kini, kata Bakri, perburuan barang antik jarang dilakukan. "Karena barang antik itu semakin langka," ujarnya. "Saya menjual barang stok saja," ucapnya.

Bagi Anda yang sedang mencari patung khas Dayak, Anda bisa datang ke Toko La Dolo. Toko ini berjarak tiga toko dari Toko Bahati. Di sana aneka patung suku Dayak itu tersedia dalam berbagai ukuran, mulai ukuran 20 sentimeter sampai 2 meter. Harganya dari Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta. Menurut La Dolo, 48 tahun, pemilik toko itu, patung Dayak ukuran besar biasanya dipajang di depan rumah lamin, rumah adat suku Dayak berbentuk panggung.

Sumber: www.korantempo.com