Museum FK Unair, Sejarahnya Tak akan Pernah Mati


FK Unair- Menjadi kebanggaan tersendiri bagi FK Unair yang menyandang predikat sekolah kedokteran tertua ke dua di Indonesia, setelah STOVIA/G.H. di Jakarta.

Tak hanya itu, Nilai historikal yang terpancar dari bangunan- bangunan tua FK Unair yang masih kokoh berdiri sejak 85 tahun yang lalu (1923-2008) juga mendapat perhatian dari Badan Surabaya Heritage dan Kelompok Pekerja Seni Pecinta Sejarah (KPSPS).

Melalui Penghargaan yang diberikan oleh Haritage kepada FK Unair karena terpilihnya gedung FK Unair sebagai salah satu cagar budaya indonesia yang patut dilestarikan makin memperkuat keberadaan FK Unair sebagai salah satu Fakultas Kedokteran yang membawa nilai kebudayaan yang tinggi di Indonesia.

Namun dibalik itu semua, ada satu komponen penting yang merupakan urat nadi dari serangkaian perjalanan FK Unair.
keberadaan Sejarah pendidikan kedokteran di Surabaya 95 tahun yang lalu, adalah cikal bakal eksistensi FK Unair yang telah banyak menorehkan nama harum dalam sejarah negeri kita melalui para Alumninya terdahulu (NIAS-er).

Lalu, bagaimana caranya agar Aura historikal para Alumni Nederlandsch Indische Artsen Scool (NIAS) maupun Djakarta Ika Daigaku (DID) terdahulu itu tetap terpelihara dengan baik, dan tetap dapat dirasakan oleh generasi berikutnya?

Adalah Prof. Dr. Dr. Indropo Agusni, SpkK(k), Prof. Dr. Rowena G. Hoesin, MARS, SpM(K), dr. Netty Harjono, SpA(K), dan Dr. dr. Elyana Asnar Suhartono T.P., M.S. , yang mencetuskan ide pertama kali untuk mendirikan sebuah museum FK Unair dan pemasangan prasasti para Alumni NIAS dan DID pada saat itu.

Berangkat dari keinginan untuk menghormati sekaligus mengabadikan nama harum para Alumni, dan atas dukungan dari berbagai pihak, akhirnya pada tahun 2002 keinginan itu terealisasi melalui pengesahan Museum dan Prasasti FK Unair oleh Dekan FK Unair Prof. Dr. H.M.S. Wiyadi, dr., SpTHT pada tanggal 25 Mei 2002 lalu.

Selain itu, dukungan positif juga didapat dari gubernur JATIM H. Imam Utomo.Terbukti, pada tanggal 24 Juli 2005, pihak pengelola museum mendapat bantuan dana dari Gubernur JATIM untuk mengembangkan bangunan museum FK Unair.

Sejalan dengan itu semua, sebagai bukti keseriusan mereka dalam mengelola museum tersebut, hingga saat ini prof. Indropo selaku pengelola museum beserta timnya terus melakukan kontak dengan para keluarga alumni NiAS-er di di selruh kawasan Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi mereka menyumbangkan berbagai macam barang peninggalan para alumni untuk memperkaya koleksi peninggalan Museum FK Unair.

Dan alhasil, karena selalu mendapat tanggapan positif dari para pihak keluarga alumni untuk menyumbangkan berbagai benda-benda bersejarah peninggalan Alumni membuat Jumlah koleksi di museum FK Unair kian bertambah setiap tahunnya.

Meski demikian, museum yang mengoleksi berbagai gambar foto lama, ijazah, berbagai koleksi peralatan kedokteran yang digunakan pada masa itu, serta bukti outentik lainnya ternyata masih menyimpan satu permasalahan yang menghambat perkembangan Museum FK Unair sampai saat ini.

Sayangnya, semakin bertambahnya jumlah koleksi peninggalan di Museum tersebut, ternyata tidak diimbangi dengan kapasitas ruangan yang menunjang, sehingga kondisi tersebut nampak oleh sebagian barang peninggalan yang masih harus tersimpan didalam gudang, akibat keberadaan barang yang sudah penuh sesak.

Untuk itu Beliau mengharapkan adanya ekspansi terhadap museum tersebut, mengingat kapasitas tempat menjadi kendala utama berkembangnya musium kebanggaan FK Unair tersebut.
selain upaya ekspansi, prof Indropo juga berkeinginan untuk menjadikan museum ini menjadi museum yang lebih profesional , baginya istilah profesional sebuah museum meliputi pengembangan seni interior serta tata cahaya ruangannya, sehingga museum akan terlihat lebih apik dan berseni.
Selain itu ,Prof. Indropo juga menanggalkan impiannya untuk menjadikan museum FK Unair sebagai tempat rujukan pariwisata masyarakat, sehingga FK Unair semakin dikenal oleh kalangan masyarakat luas.

“namun untuk mencapai itu semua dibutuhkan dana yang tak sedikit dan akan memakan waktu banyak, dua hal itulah yang juga menjadi kendala..”ujar Prof. Indropo

Bicara tentang koleksi peninggalan di museum FK Unair, prof. Indropo melalui wawancara khusus mengungkapkan, ada kebanggan tersendiri baginya dan tim pendukung lainya, karena telah berhasil menyelamatkan berbagai bentuk peninggalan kuno dari para alumni terdahulu baik itu foto, ijazah, buku kuliah, hingga peralatan kedokteran kuno dari para alumni terdahulu yang terkesan monumental dan syarat akan nilai sejarah.

Sebagai contoh, tambahnya, diantara banyak koleksi barang peninggalan, ada satu koleksi peninggalan dari alumni NIAS yang cukup berkesan.

Adalah koleksi buku-buku pribadi milik Dr.M.H. Weydemuller, dokter wanita lulusan NIAS pertama kali, dimana dalam buku2 pribadinya yang telah berusia lebih dari 90 tahun tersebut, masih dapat ditemui goresan tulisan tangan Dr. Weydemuller di setiap sisi lembaran buku-buku pribadinya.

Didasari atas kebanggaan pada almamater serta karena kecintaanya pada seni fotografi, membuat Prof. Indropo merasa senang dan tak terbebani dalam mengelola museum kebanggan FK Unair tersebut.
(Mo)

Sumber : http://210.57.216.54