Bandung Heurin ku Tangtung

Oleh Rochajat Harun

TEMPO dulu para kasepuhan Sunda pernah meramalkan bahwa nanti Bandung bakal “Heurin ku Tangtung”. Artinya kota Bandung akan menjadi sebuah kota yang padat penduduk. Sekarang jadi kenyataan. Sebutan Bandung sebagai Parijs van Java atau Bandung Kota Kembang kini tinggal kenangan, terutama bagi sesepuh yang lahirnya sebelum tahun 50-an. Bahkan pernah kota Bandung dapat julukan sinis Bandung Pinuh ku Runtah, atau Bandung kota banjir. Sungguh memprihatinkan.

Tahun 1957, saya ngumbara ke Bandung, melanjutkan sekolah di SMA 3, karena di Garut tempat kelahiran saya belum ada SMA. Saya tinggal di pinggiran Jalan Kacapiring, cost di perumahan karyawan PJKA, pinggiran jalan kereta api. Walaupun tinggal di pinggiran lintasan kereta api, namun keadaannya cukup tenang dan nyaman. Perumahan masih jarang, kendaraan masih sepi, tak ada gaungan motor maupun mobil. Ke sekolah di jalan Belitung naik sepedah kadangkala jalan kaki. Pinggiran jalan banyak tanaman bunga dan pepohonan nan rindang. Aduh, benar-benar nostalgia terhadap kota Bandung tempo dulu yang nyaman, tenang dan aman.

Namun kini, 50 tahun kemudian, sebutan Bandung Heurin ku Tangtung itu benar-benar terasa. Tak hanya karena padatnya penduduk, namun juga karena padatnya kendaraan baik motor, maupun mobil roda empat. Memang masuknya teknologi moderen ini tak bisa dihindari. Tentunya dengan segala resiko dan dampaknya, bagi lingkungan hidup dan kehidupan penduduknya. Antara lain polusi udara yang semakin membahayakan, suhu kota Bandung jauh meningkat Tempo dulu suhu Bandung berkisar antara 20-22 derajat Celsius. Namun sekarang hampir tiap malam apalagi siang hari diatas 28 bahkan lebih dari 32 derajat celsius. Setiap malam terasa hareudang bayeungbang.

Tahun 70-an begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumoh pernah meramalkan, bahwa melihat pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, serta tidak adanya penataan dan penanganan lingkungan hidup, maka nanti pulau Jawa akan menjadi Pulau Kota. Saya teringat pula ucapan almarhum Prof Otto Sumarwoto, pakar lingkungan hidup dari ITB, yang menyarankan agar buah batu, yang dulu masih daerah persawahan, janganlah diganggu atau dijadikan daerah perumahan/ pemukiman. Sebab daerah itu merupakan cekungan wilayah Bandung untuk penampungan air tanah. Tapi sekarang? Daerah Buah Batu yang dulunya terdapat hamparan sawah kini telah ditanami dengan tanaman semen yang cukup padat. Baik berupa perumahan dinas, rumah-rumah kreditan maupun pribadi.

Demikian pula wilayah timur dan selatan Bandung, mulai Rancabolang, Bojongsoang, Cikoneng terus ke Dayeuhkolot dan sebagainya kini semakin padat dengan rumah-rumah pemukiman. Di daerah timur seperti daerah Cibiru, Pasirimpun, Cileunyi terus ke Rancaekek, kini sudah mulai dan akan terus dipadati perumahan dan bangunan pabrik. Ke sebelah utara mulai dari daerah Setiabudi, Cihideung yang dulunya merupakan daerah budidaya sayuran dan bunga-bungaan, terus ke daerah Lembang, Cisarua, Ciumbuleuit dan sebagainya, bahkan dilereng gunung Tangkuban Parahu, penuh sesak dengan berbagai tipe perumahan. Termasuk rumah-rumah mewah tempat peristirahatan yang nampaknya banyak yang tidak pernah dihuni.

Sekalipun para pakar lingkungan hidup berkoar-koar agar wilayah utara Bandung terutama didaerah perbukitan dan pinggiran hutan tidak lagi dijadikan wilayah permukiman, bahkan ada yang menyarankan agar dibongkar dan segera di hutankan kembali demi terjaminnya natural and forest conservation. Tapi, nyatanya operasi pembangunan jalan terus, semakin menjamur.

Kini Bandung Heurin ku Tangtung sudah menjadi kenyataan, tidak hanya karena padatnya penduduk, namun juga semakin banyaknya bangunan perumahan dan pabrik, juga semakin padatnya kendaraan bermotor. Saya tidak bermaksud menyalahkan pemerintah maupun siapa-siapa. Tapi inilah fakta penyebab yang menyebabkan Bandung heurin ku Tangtung, suhu udara yang semakin naik, polusi sudah semakin tinggi diatas standar. Menurut hasil penelitian pakar Lingkungan Hidup, katanya kota Bandung ini tingkat polusinya paling tinggi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnyadi Indonesia.

Akhirnya, mudah-mudahan hal ini akan menyadarkan kita semua, baik pihak pemerintah, para investor bangunan, maupun insan penduduk kota Bandung dan para pendatang dari Jakarta dan sebagainya, agar benar-benar menyadari, memperhatikan dan terus mengupayakan agar faktor-faktor yang tadi sebagian telah diuraikan, yang banyak mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup kota Bandung dan sekitarnya ini benar-benar dapat dihindari. Ini memerlukan kesadaran dan tindakan semua pihak, terutama perlunya perencanaan dan penataan lingkungan hidup yang lebih strategis, holistik dan sinergis dan workable. Semoga !***

Sumber : http://galuh-purba.com