Begito, Upacara Adat Melayu Mengangkat Saudara

Istana Kerajaan Pelalawan
Mendung bergayut di langit pesisir Sungai Kampar. Namun, mega yang kelam itu tidak menyurutkan minat warga Ujung Pantai Desa Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau, di tepian Sungai Kampar untuk menyaksikan upacara Begito.

Tua-muda, tuan-puan, dan dara-dara Melayu dengan mengenakan pakaian adat setempat, laki-laki dengan pakaian Teluk Belanga dan perempuan memakai Baju Kurung berduyun-duyun menuju bangunan yang merupakan rumah panggung, tepatnya di belakang kantor Camat Pelalawan.

Petang itu merupakan hari istimewa bagi masyarakat Ujung Pantai Desa Pelalawan karena akan diadakan upacara Begito antara warga eks Kerajaan Pelalawan (Riau) dan Kerajaan Melaka (Malaysia). Upacara Begito itu dilakukan antara pewaris tahta Kerajaan Pelalawan, H. Tengku Kamaruddin Harun dan Bupati Pelalawan dengan Ketua Kementerian Melaka bersama dengan masyarakat Kerajaan Negeri Melaka.

Begito sendiri merupakan upacara adat dalam "mengangkat saudara" yang terdapat dalam masyarakat Kabupaten Pelalawan. Kata "Gito" sendiri berasal dari "Gita" (Sanksekerta) yang bermakna nyanyian atau lagu.

Dahulu kala, setiap perhelatan pengangkatan atau pengakuan saudara dilakukan dengan acara dendang atau nyanyian lagu pujian-pujian yang intinya mengharapkan agar peserta upacara dalam keadaan sehat, selamat dan sejahtera.

Pelaksanaan pengangkatan saudara itu pun beragam cara. Ada dengan "bertukar darah", masing-masing menusuk jarinya kemudian saling menempelkan darah yang keluar sebagai tanda sehidup-semati, dunia-akhirat. Atau, ada juga dengan cara meneteskan darah ke dalam mangkuk. Kemudian darah tersebut diaduk bersama-sama lalu disiram ke badan atau bahkan diminum seteguk.

Cara lain pengangkatan saudara adalah dengan menempatkan kedua belah pihak yang Begito duduk di atas satu tikar, satu bantal atau disebut juga selapik seketiduran, sebantal setali darah. Kemudian keduanya mengucapkan sumpah "Pergitoan" yang intinya kedua belah pihak sudah mengangkat sumpah sebagai saudara.

H. Tenas Effendy, Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten Pelalawan, menyebutkan, upacara adat "Gito" sudah menjadi adat yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Acara adat itu tidak saja dilakukan kalangan rakyat biasa tetapi juga oleh para Raja dan Pembesar Kerajaan.

Sejarah Pelalawan mencatat, bahwa ketika Sultan Assyaidissyarif Abdurrahman (1798-1822) pernah melakukan upacara "Gito" dengan Maharaja Lela II Raja Pelalawan (1775-1798) yang beliau gantikan.

Dengan "Pergitoan" itulah pucuk-pucuk pemerintahan di Pelalawan berjalan aman dan damai. Karena semua pihak merasa hidup bagaikan "bersaudara kandung".
Para Batin, yakni pucuk-pucuk Suku di Kerajaan Pelalawan kerap juga melakukan upacara "Pergitoan" dengan puak (suku) atau kelompok lain. Bahkan sampai ke puak-puak di luar wilayah Kerajaan Pelalawan.

Bagi "Saudara Gito" yang sudah diresmikan secara adat terdapat beberapa pantangan. Pantang larang itu antara lain pantang aniaya-menganiaya, patang usik-mengusik, pantang buruk-memburukkan, pantang iri-mengiri, pantang dengki-mendengki, dan seterusnya.

"Sesama ‘Saudara Gito‘ tidak boleh kawin-mengawini (menikah). Jika memaksa juga hendaknya ditebus dengan tebusan sesuai hukum adat yang berlaku di daerah itu," tutur Tenas lagi.

Prosesi Adat Begito
Proses "Pergitoan" antara masyarakat Kabupaten Pelalawan dan masyarakat Melaka (Malaysia) pada akhir pekan lalu, berjalan cukup hidmat. Bahkan, uniknya nuansa mistis menyelimuti prosesi tersebut.

Angin kencang dan hujan deras mengguyur tempat berlangsungnya upacara pengangkatan ‘Saudara‘ itu. Namun, para pengunjung tidak bergeming dari tempat duduk mereka. Upacara "Begito" pun dimulai oleh Sekretaris Umum Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten Pelalawan, Tengku Zulmizan F. Assegaf;

"Assalammualaikun warahmatullah hi wabarakatuh… Encik-encik dan puan-puan. Yang Raja dengan daulatnya, Yang Datuk dengan tuahnya, Yang Penghulu dengan marwahnya, Yang Batin dengan martabatnya, Yang Alim Ulama dengan petuahnya, Yang Cerdik Pandai dengan amanahnya, Yang Hulubalang dengan gagahnya….

Encik-Encik, Tuan-Tuan, Puan-Puan ahli Majelis yang kami muliakan. Sudah lama langkatnya condong Barulah kini tangkainya patah Sudahlah niat dikandung Barulah kini disampaikan Allah

Ada pun niat kami adalah menyelenggarakan Adat Begito antara masyarakat Kabupaten Pelawan bersama pemerintahannya dengan masyarakat Kerajaan Negeri Melaka bersama pemerintahannya"

Setelah upacara "Pergitoan" antara masyarakat Pelalawan yang diwakili oleh Bupati Tengku Azmun Jaafar dan pewaris Kesultanan Pelalawan dengan Kerajaan Melaka diwakili oleh Yang Amat Berhormat Ketua Menteri Melaka Datuk Sri Muhammad Ali Muhammad Rasam, para "Saudara Pergitoan" itu pun ditepungtawari oleh petinggi adat, masyarakat dan para pengunjung. Usai makan bersama, upacara ditutup dengan doa.

Sumber : www.sinarharapan.co.id