kolom budaya - Bahasa Melayu = Bahasa Indonesia (2)

oleh; Abdul Malik

PADA permulaan abad ke-19 di Singapura bersinar kepengarangan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Buah karyanya yang kesemuanya dalam bahasa Melayu, antara lain, Syair Singapura Terbakar (1830), Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura ke Kelantan (1838), Dawa ul Kulub (?), Syair Kampung Gelam Terbakar (1847), Hikayat Abdullah (1849), Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah (1854). Selain itu, karya-karya terjemahannya, antara lain, Hikayat Pancatanderan (1835), Injil Matheus (bersama Thomsen), Kisah Rasul-Rasul, dan Henry dan Pengasuhnya (bersama Paderi Keasberry). Karya-karya Abdullah itu penting artinya bagi pengembangan bahasa Melayu sebagai langkah awal menuju tradisi Melayu modern.

Di Kerajaan Riau-Lingga pada pertengahan dan akhir abad ke-19 serta awal abad ke-20 kreativitas ilmu, pengetahuan, dan budaya mengalir dengan subur. Tak berlebihanlah apabila disebut bahwa pada abad itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam. Di antara para penulis dan karya-karyanya disenaraikan berikut ini.

Raja Ali Haji (1808—1873) paling masyhur di antara kaum intelektual Riau kala itu. Beliau menulis dua buah buku dalam bidang bahasa (Melayu) yaitu Bustanul Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Buah karyanya yang lain dalam bidang hukum dan pemerintahan yaitu Tsamarat Al-Muhimmah dan Muqaddima Fi Intizam, bidang sejarah Silsilah Melayu dan Bugis (1866) dan Tuhfat Al-Nafis (1865), bidang filsafat yang berbaur dengan puisi Gurindam Dua Belas (1847), bidang sastra (puisi), yang ada juga berbaur dengan bidang agama Syair Abdul Muluk (1846), Syair Sinar Gemala Mestika Alam, Syair Suluh Pegawai, dan Syair Siti Sianah. Karyanya yang lain ialah Al-Wusta, Al-Qubra, dan Al-Sugra. Dia juga diperkirakan menulis naskah Peringatan Sejarah Negeri Johor.

Abu Muhammad Adnan menghasilkan karya asli dan terjemahan. Karyanya dalam bidang bahasa adalah Kitab Pelajaran Bahasa Melayu dengan rangkaian Penolong Bagi yang Menuntut Akan Pengetahuan yang Patut, Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah, Rencana Madah pada Mengenal Diri yang Indah. Selain itu, dia juga menulis Hikayat Tanah Suci, Kutipan Mutiara, Syair Syahinsyah, Ghayat al-Muna, dan Seribu Satu Hari. Penulis berikutnya Raja Ali Kelana. Dia menghasilkan karya dalam bidang bahasa yaitu Bughiat al-Ani Fi Huruf al-Ma’ani. Karyanya yang lain ialah Pohon Perhimpunan, Perhimpunan Pelakat, Rencana Madah, Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas, dan Percakapan Si Bakhil.

Penulis lain yang juga sangat dikenal ialah Haji Ibrahim. Dari penulis ini, Kepulauan Riau mewarisi paling tidak lima buah buku. Karyanya dalam bidang bahasa ialah Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu-Johor (dua jilid; penerbitan pertama 1868 dan kedua 1875, di Batavia). Karya-karyanya yang lain ialah Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu, Hikayat Raja Damsyik, Syair Raja Damsyik, dan Cerita Pak Belalang dan Lebai Malang.

Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahnda Raja Ali Haji menulis tiga buah buku: (1) Syair Engku Puteri, (2) Syair Perang Johor, dan (3) Syair Raksi. Dia juga mengerjakan kerangka awal buku Tuhfat al-Nafis yang kemudian disempurnakan dan diselesaikan oleh anaknya, Raja Ali Haji.
Penulis yang lain adalah Raja Haji Daud, saudara seayah Raja Ali Haji. Dia menulis buku (1) Asal Ilmu Tabib dan (2) Syair Peperangan Pangeran Syarif Hasyim. Raja Hasan, anak laki-laki Raja Ali Haji, diketahui menulis sebuah syair. Syair Burung nama gubahannya itu. Pengarang berikutnya adalah Umar bin Hasan. Dia menulis buku Ibu di dalam Rumah Tangga. Khalid Hitam, selain aktif dalam kegiatan politik, juga dikenal sebagai pengarang. Karyanya (1) Syair Perjalanan Sultan Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau Pergi ke Singapura, (2) Peri Keindahan Istana Sultan Johor yang Amat Elok, dan (3) Tsamarat al-Matlub Fi Anuar al-Qulub. Raja Haji Ahmad Tabib menulis lima buah buku. Kelima buku tersebut adalah (1) Syair Nasihat Pengajaran Memelihara Diri, (2) Syair Raksi Macam Baru, (3) Syair Tuntutan Kelakuan, (4) Syair Dalail al-Ihsan, dan (5) Syair Perkawinan di Pulau Penyengat.

Raja Ali dan Raja Abdullah, selain dikenal sebagai pemimpin kerajaan yaitu sebagai Yang Dipertuan Muda Riau, keduanya juga adalah penulis. Raja Ali menulis (1) Hikayat Negeri Johor dan (2) Syair Nasihat. Akan halnya Raja Abdullah dia menghasilkan karya (1) Syair Madi, (2) Syair Kahar Masyhur, (3) Syair Syarkan, dan (4) Syair Encik Dosman. Raja Haji Muhammad Tahir sehari-hari dikenal sebagai hakim. Walaupun begitu, dia juga menghasilkan karya sastra yaitu Syair Pintu Hantu. Raja Haji Muhammad Said dikenal sebagai penerjemah. Karya terjemahannya (1) Gubahan Permata Mutiara (terjemahan karya Ja'far al-Barzanji) dan (2) Simpulan Islam (terjemahan karya Syaikh Ibrahim Mashiri). Abdul Muthalib menghasilkan dua buah karya: (1) Tazkiratul Ikhtisar dan (2) Ilmu Firasat Orang Melayu.

Pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 dunia kepengarangan di Kerajaan Riau-Lingga juga diramaikan oleh penulis-penulis perempuan. Di antara mereka terdapat nama Raja Saliha. Dia dipercayai mengarang Syair Abdul Muluk bersama Raja Ali Haji. Raja Safiah mengarang Syair Kumbang Mengindera dan saudaranya Raja Kalsum menulis Syair Saudagar Bodoh. Kedua penulis perempuan itu adalah putri Raja Ali Haji. Pengarang perempuan yang juga sangat terkenal waktu itu adalah Aisyah Sulaiman. Cucu Raja Ali Haji itu menulis (1) Syair khadamuddin, (2) Syair Seligi Tajam Bertimbal, (3) Syamsul Anwar, dann (4) Hikayat Shariful Akhtar.

Masih ada paling tidak dua orang penulis perempuan lagi yang menulis karya asli. Pertama, Salamah binti Ambar menulis dua buku yaitu (1) Nilam Permata dan, (2) Syair Nasihat untuk Penjagaan Anggota Tubuh. Kedua, Khadijah Terung menulis buku Perhimpunan Gunawan bagi Laki-laki dan Perempuan. Penulis perempuan yang lain ialah Badriah Muhammad Thahir. Dia memusatkan perhatian dalam bidang penerjemahan. Karya terjemahannya adalah Adab al-Fatat, berupa terjemahan dari karya Ali Afandi Fikri.

Untuk mengoptimalkan kreativitas intelektual dan kultural mereka, para cendekiawan dan budayawan Kerajaan Riau-Lingga itu mendirikan pula Rusydiyah Klab pada 1880. Ini merupakan perkumpulan cendekiawan Riau-Lingga, tempat mereka membahas berbagai hal yang berkaitan dengan ihwal pekerjaan mereka itu.

Dunia kepengarangan tak akan lengkap tanpa percetakan. Sadar akan kenyataan itu, kerajaan mendirikan percetakan (1) Rumah Cap Kerajaan di Lingga, (2) Mathba’at Al-Riauwiyah di Penyengat, dan (3) Al-Ahmadiyah Press di Singapura. Dengan adanya ketiga percetakan itu, karya-karya Riau-Lingga itu dapat dicetak dengan baik, yang pada gilirannya disebarluaskan.

Bahasa Melayu yang dibina dan dikembangkan pada masa Imperium Melayu sejak abad ke-14 s.d. ke-19 itu disebut bahasa Melayu klasik. Ciri utamanya bersebatinya bahasa Melayu itu dengan Islam di bawah naungan tamadun Melayu-Islam. Dari tamadun itulah bangsa Melayu mewarisi tulisan Arab-Melayu. (Bersambung)

Sumber : http://batampos.co.id