Seniman Muda Diminta Kemas Budaya Lokal

Jakarta - Seniman muda diminta untuk menampilkan dan menggali dengan kemasan baru budaya lokal karena selama ini justru orang asing dominan yang melestarikan budaya tersebut.

"Tugas seniman muda sekarang untuk menampilkan dan menggali apa yang kita punya, jangan orang asing saja yang menjadi kolektor warisan budaya kita," kata seorang seniman atau perajin keramik, F Widayanto, di Jakarta, Senin.

FWidayanto menggelar pameran yang bertema "Semarak 30 Semar" yang menampilkan patung, relief, topeng, wayang kulit, dan buku tokoh pewayangan Semar di Galeri Nasional Jakarta.

Pameran tersebut juga banyak menampilkan wayang kulit dan golek milik kolektor asal Amerika Serikat, Gregary Churchill. Bahkan, dia juga memamerkan bukunya yang berjudul "Citra Semar dalam Kesenian Rakyat Indonesia".

Pameran seni patung tokoh Semar ini, kata dia, sebagai model kemasan baru untuk melestarikan salah satu budaya lokal tanpa meninggalkan filosofinya atau akarnya yang penting.

"Karena, melestarikan budaya tidak dengan kemasan baru orang akan bosan. Begitu juga dengan budaya seni batik yang banyak ditiru dan sebagai hak paten negara lain," katanya.

Menurut dia, mengambil tokoh Semar karena bagi orang Jawa digambarkan sangat sakti dan sebagai Dewa.

Para Dewa di kayangan dalam cerita pewayangan karangan orang Jawa memanggil Semar dengan sebutan "kakang" (kakak). Sebaliknya, Semar memanggil para Dewa dengan sebutan nama saja. "Semar berarti memiliki rasa dihormati oleh para Dewa," katanya.

Semar memang diturunkan ke bumi untuk mengayomi, maka dia disamarkan sebagai abdi yang jelek rupa dan bentuk yang lucu.

"Semar diambil dari kata samar atau tidak ada kejelasan masalah dia," katanya.

Konsep-konsep itu yang ditanamkan dan sekarang diperlukan orang dapat memiliki tugas mengayomi rakyat dan bumi tanpa harus diberikan kehormatan dari siapa pun.

Semar merupakan tokoh kepemimpinan yang seharusnya sebagai panutan. Semar juga rakyat sebagai simbol kekuatan dan jangan sampai orang meremehkan apa yang tersembunyi dibalik kejelekan bentuknya.

Menurut dia, Semar memiliki atribut sebagai simbol seperti anting cabai, artinya dia selalu mendengarkan suara yang pedas-pedas.

Pada patung Semar itu juga ada mutiara, artinya kata-katanya selalu bermakna dan tidak pernah menggurui.

Dia juga memiliki rambut jambol dan matanya sipit yang mengekspresikan orangtua, anak kecil, sedih, dan bahagia tidak ada kejelasan, tapi ada.

Tokoh Semar karangan orang Jawa itu bisa dimainkan di mana saja, seperti di cerita Ramayana, Maha Bharata, dan panji penyebaran agama. (Ant)

Sumber: http://oase.kompas.com