Buka Palang Pintu: Care Kawinan Betawi

Bagi etnis Betawi ada tiga hal yang dianggap sakral, yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Ada beberapa adat-istiadat yang dilewati dalam acara tersebut, seperti acara perkawinan atau pernikahan. Ada belasan prosesi adat yang harus dijalankan. Di antaranya, acara 'buka palang pintu'. Kegiatan ini terjadi ketika iring-iringan 'tuan raja mude' (panggilan untuk pengantian pria) pada sore hari hendak masuk ke rumah 'tuan putri' (pengantin perempuan).

Ketika hendak memasuki rumah, rombongan dicegat wakil tuan rumah. "Eh, ente jangan nyelonong aje!" kata juru bicara dari pihak tuan rumah sambil mencegat rombongan pengantian pria di depan pintu rumah. Menghadapi hadangan ini, rombongan pengantin pria kagak mau kalah. Tetap bekutet agar dapat masuk. Dalam acara 'buka palang pintu', kedua belah pihak disertai tukang pantun dan jago silat. "Eit brenti dulu! Maaf ni rombongan dari mane mau ke mane. Tumben amat, ada perlu apa?" Teguran pihak tuan rumah ini dijawab pihak pria dalam bentuk pantun, "Naek delman ke pasar ikan. Beli bandeng campurin teri. Aye dateng beserta rombongan. Nganter tuan raje mude nemuin tuan putri."

Dijawab tuan rumah dengan, "Anak kude naek kerete. Tukang kue naek sepede. Kalo emang itu tujuannya. Tentu ada syaratnye." Ternyata salah satu syarat yang diminta keahlian pihak tamu dalam bermain silat. Maka, terjadilah 'duel' cukup seru antara jago tuan rumah dan jago tamunya. Tentu saja yang harus 'menang' jago dari pihak tamu. Hanya dalam satu dua jurus pihak tuan rumah menyatakan, "Cukup ... cukup ....! Abang punye jago memang jempolan." Tapi, pihak pengantian pria masih belum diperbolehkan masuk ke kediaman wanita. "Belon bisa, Bang. Tuan putri minta dibacain beberapa ayat Alquran. Kalo sanggup boleh masuk, kalo gak sanggup pulang aje, deh."

Syarat ini pun dilalui dengan mulus tanpa suatu halangan karena sejak kecil anak Betawi oleh orang tuanya disuruh mengaji. Ketika mempersilakan rombongan pengantin pria memasuki kediamannya, tuan rumah sekali lagi berpantun. "Pisang batu pisang lempenang. Gado-gado kacang tane. Orang atu banyak yang pinang. Kalo jodo masa ke mane?", Silahkan masuk. Ahlan wasahlan, ya marhaban. Maka kedua belah pihak yang tadinya sedikit tegang kini saling salaman dan berpelukan.

Malam hari para tamu dan undangan dihibur kesenian tradisional Betawi lenong. Kesenian ini mulai berkembang akhir abad ke-19. Sebelumnya masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Komedi ini dimainkan oleh berbagai suku dengan menggunakan bahasa Melayu. Orang Betawi meniru pertunjukan ini yang kini disebut lenong. Perhatian masyarakat di tahun-tahun 1950'an terhadap lenong digambarkan Firman Muntaco dalam Gambang Jakarta yang dimuat sebuah surat kabar mingguan di Jakarta. "Hoooi lenong! Kapan mau maen? Mate gue pan ude lapar nih/. Perut gue ude ngantuk!" teriak penonton saking keselnya menunggu.

Orang berdempet-dempetan mengerubungi panggung lenong. Lelaki dan perempuan campur aduk, dan cecere-cecere penuhnya di sebelah depan. Barulah ketika persis pukul 09.17 mendadak gamelan lenong berbunyi santer. Mong, duk-duk mong, duk-duk mong, duk-mong, mong, duk mong sehingga bocah-bocah pada kegirangan menjerit-jerit. "Hureee... maen, lenong main!" Seorang kakek di sudut sembari melirik arlojinya berkata, "Mentang-mentang orang Indunisia, masak telat sampe tujuh belas menit ....!"

Sementara, Bang Pa'ul yang nanggap lenong repot menyambut tamu-tamu yang membanjir kondangan. "Eh, gile Bang Pa'ul," kata seorang tamu sambil salaman. ''Jempol bener eh, malemen bekerjenya kagak ujan barang seketel!" Bang Pa'ul menjawab sambil nyengir. "Keruan aje, penolaknya dong manjur ....! Kodok ane kurung di pendaringan!"

"Ane heran, Ul. Banyak betul yang datang. Berape sih ente ..?". "Pan due ribu lembar lebih ane lepas undangan," jawab Bang Pa'ul. "Ane sebarin di saban kampung. Kenal kek, enggak kek, sebodo amat. Pokoknya serean (kapala kampung) yang atur!". Sampai kini, terutama di daerah pinggiran, banyak undangan melalui RT dan RW. Yang turut mengundang namanya berjejer, mulai dari lurah, kepala kampung, RW, dan RT.

Lenong pun makin hebat mainnya. Malam itu membawakan lakon Jembatan Patah yang mengisahkan dua orang raja kakak beradik berebutan tanah hingga akhirnya mesti berkelahi di atas sebuah jembatan. Saking sengitnya sampai-sampai jembatan itu jadi patah dua. Penonton rame bersorak waktu di panggung nampak raja tengah memangku sang putri. "Jadi, Adindaku," kata sang raja. "Tak relakah kau bila Kakanda pergi berperang ke Irak untuk membantu rakyatnya melawan kezaliman AS?"

"Betul kakanda!", jawab tuan putri kolokan. "Biar bagaimana juga Adinda ogah berpisah dari Kakanda ... oh!". Sekonyong-konyong tuan putri masuk ke balik layar sambil menangis. Adegan itu pun selesai. Tapi, sang raja yang habis diduduki sang putri, tak mau bangkit-bangkit juga sehingga para penonton berteriak. "Hei, raja, mau duduk terus lu. Ayo bangun ...!"
(Alwi Shahab, Wartawan Republika)

Sumber : http://softoh-jamaah.blogspot.com