Pariwisata Flores Menunggu Payung Bersama

Oleh : Frans Sarong dan Pascal S. bin Saju

Pulau Flores dan sekitarnya seperti Pulau Lembata, Adonara, Solor, dan Komodo, dikenal kaya dengan obyek wisata yang unik, dan bernilai tinggi. Empat obyek wisata di antaranya sudah dikenal hingga mancanegara, yakni biawak raksasa komodo di Komodo, taman laut Riung, danau berwarna Kelimutu, dan perburuan paus kotaklema di Lamalera.

Obyek-obyek wisata tadi berada dalam satu lintas tujuan wisata nasional, yakni Bali dan Senggigi di Lombok (Nusa Tenggara Barat). Meski demikian, obyek wisata di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tadi belum dikelola secara maksimal. Belum bernilai ekonomis bagi daerah dan penduduknya, serta sepi kunjungan wisata.

Kiprah wisata di Flores terputus, tidak hanya dari arah barat (Bali dan Lombok), tetapi juga daratan pulau itu sendiri. Flores yang kini meliputi tujuh kabupaten, termasuk Lembata, belum memiliki payung bersama dalam mengelola pariwisatanya. Mereka masih asyik berjuang sendiri-sendiri.

Dari Komodo ke Kelimutu
Tidak dapat disangkal, biawak raksasa komodo yang menghuni kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, adalah kekhasan Indonesia. Biawak dari zaman prasejarah ini masih hidup hingga di zaman modern seperti sekarang ini, dan menjadi daya tarik satu-satunya yang dimiliki dunia saat ini.

TNK terkenal hingga pelosok dunia karena menyimpan dua objek wisata berdaya tarik tinggi. Selain kadal raksasa komodo tadi, juga bentangan kawasan perairannya yang kaya berbagai jenis biota lautnya.

Biawak komodo (Varanus komodoensis)—reptil darat terbesar di dunia—di TNK hidup menyebar di Pulau Komodo, Rinca, dan Gilimotang. Sekitar 2.000-an ekor reptil ini disebut ora oleh masyarakat setempat dan termasuk binatang pemakan bangkai dan terkadang kanibal. Mangsa yang sekaligus menjadi makanannya adalah rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar.

Kekuatan lain dari TNK adalah kekayaan kandungan air lautnya. Kawasan laut TNK seluas 132.572 hektar, memiliki kandungan biota tergolong kaya di dunia. Hasil penelitian bahkan menyebutkan terumbu karang dalam kawasan TNK sebagai terindah di dunia karena bentuk dan warnanya beraneka. Terumbu karangnya terdiri dari 260 jenis.

Di perairan TNK terdapat lebih dari 1.000 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti kerapu dan ikan napoleon (Chelinus undulatus), jenis ikan langka yang menjadi hidangan bergengsi di China.
Perairan TNK juga merupakan tempat berlindung dan bertelur berbagai jenis ikan karang, penyu hijau dan penyu sisik. Perairan yang sama merupakan jalur lintasan sekitar 10 jenis paus, enam jenis lumba-lumba dan ”ikan duyung” dugong.

Setelah mengunjungi TNK biasanya perjalanan wisata di Flores akan dilanjutkan antara lain menuju Riung di Kabupaten Ngada. Selain memiliki perairan laut yang jernih, pulau kelelawar Ontoloe, serta pulau-pula berpasir putih, Riung juga menyimpan potensi taman laut yang indah.

Perjalanan wisata ke kawasan Pulau Flores terasa tidak lengkap jika wisatawan tidak menyempatkan diri mengunjungi danau berwarna Kelimutu di Ende. Obyek wisata yang satu ini menyimpan misteri alam yang tiada duanya karena warnanya berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Danau ”ajaib” itu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius karena warna ketiga danau itu berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu. Awalnya, Kelimutu memiliki tiga danau masing-masing berwarna merah, putih, dan biru. Selalu berubah-ubah dalam setiap waktu, dan pada medio Oktober ini, dua dari tiga danau itu berwarna coklat, lainnya hijau.

Lamalera
Terletak di tepi selatan Pulau Lembata, Lamalera hanyalah sebuah kampung kecil yang berhadapan dengan Selat Ombai. Meski begitu, kampung ini sejak lama terkenal hingga ke ujung dunia. Kekuatan pencuatnya adalah tradisi penangkapan paus kotaklema atau sperm whale (Physeter macrocephalus) yang mamalia raksasa laut, serta berbagai jenis ikan besar lainnya yang dilakukan secara tradisional oleh nelayan pemburunya.

Perburuan itu dilakukan dengan hanya mengandalkan alat tangkap yang amat sederhana, yakni sejenis sampan bernama pledang. Sampan kecil bercadik ini hingga sekarang tetap menjadi andalan para nelayan memburu paus.

Cara berburu paus sebesar 15-an meter dengan bobot rata-rata 40-an ton, memang amatlah unik dan bahkan amat menantang maut. Para nelayan mendekatkan pledang dengan ikan buruan, lalu ikan raksasa itu langsung ditombaki dengan tempuling berpengait.

Caranya pun nekat. Ikan buruan ditombaki oleh seorang nelayan khusus dengan melompat dari pledangnya. Tidak jarang para nelayan bersama pledangnya terseret hingga laut lepas, bila mangsa buruan buas dan tidak cepat mati.

Perburuan paus di Lamalera terjadi antara Mei-Oktober. Selama musim ini, Lamalera menebarkan bau amis dari jemuran dendeng daging kotaklema. Hampir di setiap rumah penduduk dilengkapi ”pancuran dadakan” khusus, mengalirkan tetesan minyak dari potongan lemak dendeng yang dijemur. Sebagian tampungan minyak paus ini, dipakai sebagai bahan bakar nyala penerangan pelita di waktu malam.

Egoisme Daerah
Meski memiliki potensi unik seperti itu (yang tiada taranya di dunia), pemerintah daerah di kawasan itu belum berpikir ke arah pengembangan kawasan wisata yang terpadu satu sama lain. Masing-masing daerah hanya mempromosikan obyek wisata di daerahnya sendiri, tanpa memedulikan potensi wisata di daerah lainnya.

Wacana agar pengelolaan pariwisata Flores-Alor berada di bawah satu payung sebenarnya sudah bergulir sejak tahun 1996. Salah seorang tokoh penggagasnya, Paul Boleng, yang ketika itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai di Ruteng. Gagasan itu sudah melangkah jauh, hingga terlaksananya sebuah pertemuan yang melibatkan seluruh Kepala Dinas Pariwisata dari tujuh kabupaten di kawasan itu.

Bahkan hasil pertemuan itu langsung dibukukan dengan judul Pariwisata Flores-Alor. Paul Boleng menjelaskan, gagasan itu sebetulnya bertolak dari suatu kekhawatiran bahwa pengelolaan pariwisata di kawasan itu hanya akan berakhir dengan kesia-siaan jika dilakukan sendiri-sendiri.

Kekhawatiran itu kemudian terbukti semakin mengental di era otonomi daerah karena masing-masing daerah mengedepankan urusan daerahnya sendiri tanpa peduli akan perlunya keterkaitan dengan daerah lain di sekitarnya. Buktinya hingga kini gagasan tentang perlunya payung bersama untuk pengelolaan pariwisata di kawasan itu belum juga terwujud.

Dulunya, inti gagasan itu ialah menginginkan pembentukan Badan Pariwisata Flores-Alor, bertugas menyusun rencana induk pengembangan pariwisata. Ternyata, dalam perjalanannya tidak direspons serius seperti diharapkan. Pejabat terkait dari masing-masing daerah lebih melihatnya sebagai proyek, hingga menjadi kendala terbentuknya payung bersama tadi.

Kepentingan promosi wisata, misalnya, menjadi urusan sendiri-sendiri setiap daerah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende hanya mempromosikan danau berwarna Kelimutu, begitu juga Pemkab Manggarai Barat dengan komodonya, Ngada dengan Riung-nya dan Lembata dengan perburuan paus kotaklema di Lamalera.

Jika pemerintah di seluruh kawasan itu serius dan menyadari potensi berantai tadi, hampir pasti kunjungan wisata tidak terputus hanya pada satu obyek wisata. Seharusnya juga, agar kunjungan wisata tidak terputus seperti itu, pembangunan wisata Flores yang berada dalam satu lintasan wisata dengan Bali dan Lombok harus membangun kantor bersama di Bali.
__________
Frans Sarong dan Pascal S. bin Saju

Sumber: www.ntt-online.org