Bingkai: Defamilierisasi Tari Bedana


Oleh : Endri Y.
Ketua Seni Budaya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung.

DALAM acara pesta muda mudi, ketika disuruh berdiri kemudian memilih musik untuk bergembira dan menari, apa yang akan Anda pilih? Pasti mengemuka pilihan; disko, remix, dangdut, poco-poco, cha-cha, ska, atau justru meneriakkan terserah DJ!

Mustahil rasanya memilih, “Tari bedana aja!” Bahkan ketika pertanyaannya dibuat pilihan ganda sekalipun, mungkin malah muncul pertanyaan, “Apa sih Tari Bedana itu?”

Padahal Tari Bedana adalah perwujudan luapan sukacita atas wiraga (gerak badan) untuk mencapai ekstase, dalam batas-batas tertentu ketika menari diiringi gamelan khasnya, jiwa kita seperti mengembarai lembah-lembah hijau di bawah kaki Gunung Rajabasa, semua berubah indah. Riang.

Estetika tari bedana membuat kedirian kita berasa selalu muda. Penuh antusiasme. Dan pada kesempatan lain, ketika menyaksikan langsung tari bedana dipentaskan dengan sunggingan senyum manis muli-mekhanai, kita serasa diguyur air pegunungan yang atis. Secara otomatis terpancing “begitu ingin” larut dalam tari.

Tari bedana yang diyakini bernapaskan agama Islam merupakan tari tradisional, mencerminkan tata kehidupan masyarakat Lampung yang ramah dan terbuka sebagai simbol persahabatan dan pergaulan. Pada tari ini tergambar nilai akulturasi antara tata cara dan pranata sosio- kultural adat gaul anak muda Lampung dengan komitmen beragama.

Budaya dengan unsur spiritualistik yang memiliki aspek lokalitas, mulai menjadi kebutuhan terpenting untuk membentengi–meminjam bahasa Edward W. Said dalam bukunya, Kebudayaan dan Kekuasaan–imperealisme kebudayaan. Sebelum sampai pada definisi tentang seni Islam, perlu kiranya kita merujuk pada khazanah lama yang positif agar tidak terjebak pada nativisme budaya.

Penulis berharap kekayaan budaya Lampung, selain tidak ambigu, antimodernitas, dan terpenting jangan sampai budaya itu terputus. Kekhawatiran pada keterputusan budaya (cultural discontinuity) ini, perlu dirumuskan sistematika pelestarian yang terukur dan efektif. Dari sinilah permulaan dibutuhkannya al-turats atau tradisi diteliti dan diinventarisasi.

Fundamen pemikiran untuk pelestarian tari bedana, termasuk semua khazanah budaya Lampung yang lain, secara kritis harus memperhitungkan pertama, oublie (yang dilupakan). Terkait pencermatan pada pertanyaan adakah yang dilupakan dalam ragam gerak yang terstruktur pada tari bedana yang familier dikonsumsi publik kini.

Ragam satu sampai sembilan dengan komposisi gerakan; khesek gantung, khesek injing, tahtim dan penghormatan, jimpang, ayun, humbak moloh, belitut, gelek, dan gantung adalah ragam struktur gerak elegan, tetapi masih perlu kajian empirik untuk benar-benar membuktikan tidak ada yang dilupakan.

Masuk pada pertanyaan kritis kedua, travesty atau adakah yang dipalsukan dalam gerakan tari bedana? Dari sini sebenarnya penulis berusaha mengkaji fungsinya secara ideologis-filosofis. Maka refleksi dari yang dilupakan dan yang dipalsukan itulah pisau analitik sebagai alat untuk sampai pada keindahan yang lain yang belum terpikirkan (impense).

Sangat terbuka ruang kontemplatif agar embrional keramahan budaya lokal dapat lebih mempertegas bangunan peradaban Lampung di masa depan. Sebab, maraknya seni budaya yang diarahkan atau mengekor pada westernisasi, bahkan diadopsi secara sporadis, meminjam ramalan John Neisbit tentang kemungkinan yang terjadi pada banyak orang akibat derasnya arus informasi dan komunikasi tentang berpikir secara lokal, bertindak secara global (think locally, act globally).

Karena pengaruh itulah tari bedana dipastikan tergeser oleh seni koreografi (seni kontemporer) lain yang lebih terkesan modern misalnya; ciliders, dance, aerobic, dan lain sebagainya. Berikut dentingan gamelan khas yang mengiringinya, mungkinkah agar eksis perlu aransemen dan atau ditambah alat musik modern jika dinilai bebunyiannya terlalu kolot, ndesit, dan ortodoks?

Bahkan, sebenarnya paradigma yang stigmatis, ketika tari bedana kurang bagus untuk acara pesta muda-mudi waktu pernikahan atau tari latar lagu pop alternatif. Tari Bedana dengan konsep keramahan budaya lokal seyogianya dapat membentengi atau minimal menjadi alternatif seni koreografi.

Persoalannya adalah sejauh mana tingkat sosialisasi dan berapa banyak anak muda yang menguasai wiraga itu? Seandainya seperti tari komando misalnya, yang semua anak pramuka dari penggalang, penegak, sampai pandega begitu fasih menguasai gerakan berikut improvisasi dengan iringan musik apa pun, mungkin kelestarian tari bedana bukan persoalan.

Tafsir dari ‘Khesek’ Gantung ke Gantung
Seni Islam, dari defenisinya terlalu membuat bias, cenderung dikotomis. Maka meminjam motodologi almarhum Prof. Dr. Kuntowijoyo terkait dengan budaya profetik, sebuah strategi sosial-budaya dengan meletakkan tradisi lokal dalam muatan nilai keislaman agar manunggal sebagai nafas estetika, yaitu sisi lain keindahan dan kebenaran yang mengajak ke jalan Tuhan.

Sekarang ini tari bedana boleh terkesan ndeso, kampungan atau ketinggalan zaman dibanding dengan seni tari modern semacam cha-cha, dansa, dll. (yang juga tari tradisi Brasil dan Inggris). Akan tetapi, menurut prediksi Kuntowijoyo, tahun 2020 adalah titik pangkal realisasi ide jika strategi profetik berhasil merealisasi program seni kemanusiaan sebagai kelanjutan dari berbagai aksi pembaharuan sosial-budaya berbasis kesadaran keagamaan. Jika stratak ini dilakukan, keniscayaan dan jangan heran jika nanti tari bedana sebagai ikon dan jenis tarian favorit pengiring gembira. Padahal orang yang menguasai dan paham tari bedana makin langka.

Tafsir konseptual gerak tari bedana dari ragam satu; kehesek gantung sampai pada ragam sembilan sebagai gerak penutup yang bernama gantung, memiliki makna keramahan dan kebahagiaan hidup. Sekaligus mengandung aspek moral tata laku antara bujang dan gadis, berinteraksi saling melempar senyum tetapi tidak bersentuhan, bahkan tidak saling menatap atau implisit sama-sama menundukkan pandangan (ghodob absor), anggun dan santun, barangkali inilah salah satu napas Islam dalam Tari Bedana.

Selain itu, prosesi tahtim dan penghormatan yang terletak pada posisi ragam ketiga, sebuah pembangkangan kultural atau defamilierisasi yang menarik. Akan tetapi, setelah mencermati lebih lanjut, sebelum ragam khesek injing pada posisi kedua, gerakan khesek gantung menggambarkan aturan wudu, arena bersuci untuk sampai pada ritual ibadah penyembahan pada Tuhan.

Lihatlah ketika memutar tangan (khesek gantung) yang kemudian mengayunkan tangan. Di sini tahtim dan penghormatan (seolah mengusap wajah) menjadi sinergi untuk gerakan (sistematika) wudu.

Dalam kerangka filosofis, tari ini mengandung keagungan profetik. Tari bedana memang tidak setenar poco-poco. Hal ini didasari, selain intensitas manggung, kecintaan pada khazanah budaya lokal kita sebagai masyarakat Lampung layak dikritisi.

Ini kemudian berimbas pada sosialisasi. Masuk juga produksi karya berkesenian para seniman kita yang tidak (baca; kurang berakar) pada keramahan lokal. Logikanya adalah kekuatan seni yang berbasiskan kearifan budaya lokal dengan sentuhan nilai islami ternyata sulit mendapat tempat karena bersentuhan dengan sensibilitas publik yang banyak dipecundangi nafsu.

Akan tetapi, metodologis profetik yang digunakan penafsiran budaya, sebenarnya juga sudah menjadi ilmu alat mengkaji apakah seni ini mengajak pada ketuhanan atau mengajak pada penjajaan syahwat.

Pertanyaan penting atas fenomena defemiliarisasi ini, utamanya lagu- lagu dangdut atau pop Lampung dalam video CD-nya, kenapa tak berlatar Tari Bedana? Lebih penting, pesta muda mudi ketika ada pernikahan, kenapa tidak menari Bedana saja ketimbang joget tak beraturan, lebih parah organ(an) dengan lagu goyang dombret, di mana sang biduanita bergoyang binal ke arah mikrofon dan disaksikan anak- anak usia sekolah.

Ironisnya lagi, hajatan itu di rumah tokoh adat Lampung!

Sumber : http://hipmala.wordpress.com
Foto : http://2.bp.blogspot.com