Kesenian Riau dan Perkembangannya

Oleh : Idrus Tintin dan B. M. Syamsuddin

Penulis mengemukakan berbagai bentuk dan jenis kesenian yang terdapat di Riau, yaitu teater, tari, musik, nyanyian, dan sastra. Penulis menyimpulkan bahwa para penghayat kesenian di perkotaan umumnya merasa asing terhadap kesenian tradisional. Oleh karena itu, diperlukan penghubung yang apresiatif dengan memperkenalkan segala jenis dan bentuk kesenian tradisional di perkotaan. Dengan demikian, kesenian kontemporer yang tumbuh, hidup, dan berkembang di perkotaan akan mempunyai fondasi yang kokoh dan ranggi dalam memberikan sumbangan bagi kesenian nasional.

1. Pendahuluan
Satu dasawarsa menjelang abad ke-20, berdiri Rusydiah Klub, suatu perkumpulan untuk para cendekiawan, sastrawan, dan budayawan. Perkumpulan ini berdiri di Riau, tepatnya di Pulau Penyengat yang pada waktu itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga. Pada hakekatnya, perkumpulan ini merupakan lembaga kebudayaan yang mencakup kesenian, pertunjukan, dan sastra. Kegiatannya bermula dari peringatan hari-hari besar Islam, seperti Maulud Nabi, Isra-Mikraj, Nuzulul Quran, Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain yang kemudian berkembang sampai pada penerbitan buku-buku karya anggota per­kumpulan. Semua kegiatan ditunjang oleh sarana kerajaan yang berupa perpustakaan Kutub Khanah Marhum Ahmadi dan dua buah percetakan huruf Arab-Melayu, yaitu Mathba‘at al Ahmadiyah dan Mathba‘at al Riauwiyah.

Rusydiah Klub merupakan perhimpunan cendekiawan pertama di Indonesia. Perkumpulan ini tidak disebut dalam sejarah nasional, karena kurang telitinya pengumpulan bahan sejarah, atau mungkin karena tidak adanya masukan dari pihak yang banyak mengetahui tentang hal itu. Rusydiah Klub mening­galkan pusaka kreativitas be­rupa buku-buku sastra, agama, sejarah, dan ilmu bahasa yang amat berharga. Jika Riau pada masa lalu sanggup menyediakan fa­silitas bagi kegiatan seni dan sastra, seharusnya Riau pada masa kini mampu menyediakan fasilitas yang lebih baik lagi.

Riau sejak dahulu sudah menjadi daerah lalu lintas perdagangan negara-negara tetangga, sehingga Riau melahirkan sosok dan warna budaya yang beragam. Hal ini merupakan beban, sekaligus berkah historis-geografis. Riau seakan-akan merupakan ladang perhim­pun­an berbagai potensi kesenian, yang di dalam­nya terdapat pe­nga­ruh ke­budayaan negara-negara tetangga dan kebudayaan dae­rah Indo­ne­sia lainnya. Kesenian Melayu Riau sangat beragam, ka­rena ke­lom­pok-kelompok kecil yang ada dalam masyarakat juga ber­kem­bang. Perbedaan antara Riau Lautan dan Riau Daratan me­nun­jukkan ke­anekaragaman keseni­an di Riau. Hal ini sekaligus se­bagai ciri khas Melayu Riau, ka­rena dari pembauran kelompok-kelompok itu pan­dangan tentang kesenian Riau terbentuk.

Kenyataan menunjukkan, kesenian di Riau dan kesenian di ne­gara-negara berkebudayaan Melayu seperti Malaysia, Singa­pura, dan Brunei Darussalam saling mengisi dan saling mempe­ngaruhi. De­mikian pula dengan daerah-daerah berke­budayaan Melayu se­per­ti Deli, Langkat, Serdang, dan Asahan di Sumatera Utara, Jambi, Kali­man­­tan Barat, dan lainnya, juga terpengaruh kebudayaan Mi­nang­­kabau, Mandailing, Bugis, dan Jawa. Kebu­dayaan yang da­tang dari luar Indonesia seperti India (Hindu-Budha), Arab (Islam), Cina, dan Siam juga turut mem­pengaruhi. Kelenturan ke­buda­yaan Melayu ter­­­sebut sejalan dengan perkembangan sejarah dan letak geo­grafis Riau, sehingga menjadikan Riau sangat kaya dengan ragam ekspresi kesenian. Perkembangan kebudayaan Melayu di Riau itu pada gi­lir­annya dapat memperkaya kebudayaan nasional. Namun sayang­nya tidak sedikit cabang kesenian Melayu Riau yang semakin suram dan kurang mendapat perhatian. Bentuk-ben­tuk kesenian ini hanya muncul dalam acara seremonial, seperti pada waktu ulang tahun atau ketika ada kunjungan pejabat.

2. Perkembangan Kesenian Di Riau
Kesenian Riau tumbuh, hidup, dan berkembang di peda­lam­an, di desa-desa terpencil, juga di kota-kota. Kesenian yang tum­buh dan hidup di pedalaman kurang berkembang dan tidak menyebar ka­rena terkurung dalam lingkungannya. Masyarakat me­­ngenal ke­senian ini bukan semata-mata sebagai hiburan, te­tapi dikaitkan de­ngan kepercayaan dan bersifat spiritual yang di­fungsikan sebagai penghubung antara manusia di alam nyata dengan penguasa di alam gaib.

Kesenian Riau di kota didukung oleh para pelajar, maha­siswa, dan seniman masa kini, sehingga dapat berkembang. Per­kem­bang­an ini menghasilkan kesenian kreasi baru yang menya­dap ke­senian tradisional dan memodifikasikannya dengan lan­das­an budaya se­tem­­pat. Jenis kesenian ini dapat diketahui dengan me­lihat sentuhan budaya nasional di dalamnya. Keseni­an kreasi baru jenis tari dan teater kontemporer tampaknya me­nunjukkan nilai seni yang beragam pula. Misalnya Sendratari Lancang Kuning mengandung nilai tarian Zapin, Cik Masani diangkat dari gerak tari Makyong, Hang Tuah me­manfaatkan beberapa gerak tari Melayu lama. Demikian pula dengan garapan baru dari beberapa teater rakyat seperti Gubang, Makyong, Mendu, dan Bangsawan. Garapan musik kreasi baru belum begitu intens dikerjakan, mes­kipun ben­tuk ghazal dan orkes Melayu masih hidup di beberapa tempat. Padahal lagu-lagu Melayu lama masih terus dinyanyikan secara luas. Bagaimanapun juga lagu-lagu Melayu lama ini lebih dikenal di desa-desa daripada di kota-kota.

Sikap masyarakat kota di Riau tidak seperti sikap masya­rakat Su­matera Barat terhadap lagu-lagu tradisionalnya. Seniman-se­ni­­man Pa­dang dan sekitarnya banyak yang masih menggarap lagu-lagu dae­rah mereka dengan penuh gairah, bahkan lagu-lagu Melayu juga digarap. Dengan kemajuan yang mereka capai, lagu-lagu Melayu sudah men­jadi seperti lagu Minang. Di Riau sendiri orang kurang peduli terhadap warisan lagu-lagu lama Melayu. Agaknya sejarah kebudayaan meng­hendaki budaya Melayu di­nikmati dan dimanfaatkan oleh suku-suku lainnya di negeri ini, seperti halnya ke­budayaan Melayu diperkokoh oleh pengaruh-pe­ngaruh yang ter­saring dari mana saja.

3. Jenis-Jenis Kesenian Riau
Salah satu kesenian Riau adalah teater. Teater merupakan sebuah karya seni yang kompleks, karena di dalamnya juga terdapat unsur-unsur kesenian lain. Di beberapa desa dan kota di Riau masih dijumpai jenis-jenis teater klasik. Bentuk kesenian ini semakin ber­kembang dan kokoh setelah mendapat kesempatan memasuki istana, sehingga bentuknya kemudian menunjukkan ciri-ciri istana yang berbeda de­ngan wujud awal­nya sebagai kesenian rakyat. Hal ini karena saat me­masuki istana, penampilan teater Makyong, Mendu, Mamanda, dan Bangsawan diperhalus.

Seni tari yang muncul dalam teater Mendu berupa tarian Ladun, Jalan Kunon, Air Mawar, Beremas, dan Lemak Lamun. Seni tari yang muncul dalam Makyong berupa tarian Selendang Awang, Timang Welo, Berjalan Jauh, dan tarian penutup berupa tarian Cik Milik. Dalam Bangsawan juga terdapat tari-tari hiburan seperti Jula-Juli, Zum Galiga Lizum, Mak Inang Selendang, dan jenis-jenis langkah Zapin.

Seni suara merupakan napas pertunjukan Mendu, Makyong, dan Bangasawan. Dalam Mendu terdapat lagu Lakau, Ladun, Madah, Air Mawar, Lemak Lamun, Tala Satu, Ayuhai, Nasib, dan Tala Empat. Dalam Makyong terdapat nyanyian seperti Cik Milik, Timang Bunga, Selendang Awang, Awang Nak Beradu, Puteri Nak Beradu, dan Don­dang Di Dondang. Dalam Bangsa­wan terdapat nyanyian seperti Ber­jalan Pergi, Lagu Stambul Dua, Dondang Sayang, Nyanyi Pari, Nasib, dan lain-lain.

Alat-alat musik yang dipakai dalam pertunjukan Mendu ialah gendang panjang, biola, gung, beduk, dan kaleng kosong, sedang­kan dalam pertunjukan Makyong digunakan nafiri, gen­dang, gung, mong, breng-breng, geduk-geduk, dan gedombak. Dalam Bang­sawan di­pakai peralatan orkes Melayu lengkap. Pertunjukan Mendu dan Mak­­yong sangat mengandalkan upacara yang bersifat ritual seperti buka tanah dan semah. Dalam upacara ini digunakan mantra dan serapah.

4. Rintisan Pengarang Riau Abad Ke-19 Dan Awal Abad Ke-20
Kekentalan imajinasi dan bunyi yang terkandung di dalam man­tra, serapah, dan jampi telah menarik perhatian seorang pe­nyair na­sional asal Riau, Sutardji Calzoum Bachri, untuk me­manfaatkan jiwa yang terkandung dalam warisan purba Melayu itu dalam pen­ciptaan puisi modern. Barangkali peng­gunaan bir oleh penyair terkenal ini diadaptasi dari para pengemban seni tra­disional untuk mencapai ke­adaan trance. Mantra, serapah, dan jampi juga menarik perhatian pe­­nyair lainnya, Ibrahim Sattah. Untuk mendapatkan warna lain, pe­nyair ini memusatkan perhatiannya pada sajak permainan anak-anak yang banyak ter­dapat di daerah Riau. Pola gubang yang terdapat pada Orang Laut juga dimanfaatkan oleh penulis karya pentas kon­temporer, seperti halnya dalam naskah teater Indonesia. Tahun 1980 dari Riau mun­cul naskah Warung Bulan.

Bidang sastra di Riau mempunyai landasan yang cukup ko­koh. Pada abad ke-19 para penulis daerah ini mencapai pun­cak krea­tivitasnya. Hal ini terlihat bukan saja dari jumlah karya yang dihasilkan, tetapi juga dari hasrat masyarakat untuk bersusastra, seperti yang di­jelaskan oleh Virginia Matheson dan Barbara Watson Andaya dalam tulisannya “Pikiran Islam dan Tradisi Melayu-Tulisan Raja Ali Haji dari Riau” yang dimuat dalam buku Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka.

Tampilnya Raja Ali Haji sebagai seorang sastrawan, ahli ba­hasa, pe­nulis sejarah, dan ulama menjadikan Riau terpandang dalam dunia kebudayaan. Beliau pergi meninggalkan jejak yang diikuti oleh se­deretan penulis yang juga menghasilkan karya tulis, antara lain Raja Ali Kelana. Raja Ali Kelana telah mengha­silkan buku Pohon Per­him­­punan, Percakapan Si Bakhil, dan Bughyat al Ani Fi Huruf al Ma‘ani. Jejak ini juga diikuti oleh Hitam Khalid bin Hassan, Engku Umar bin Hassan Midai, Raja Ahmad Tabib, Abu Muhammad Adnan, dan lain-lain. Para penulis wanita pun tidak ketinggalan, se­hingga Riau mengenal Raja Zaleha, Aisyah Sulaiman, Salmah binti Ambar, dan Badriyah Muhammad Taher.

Rintisan yang dibuat oleh para penulis Riau abad ke-19 dan awal abad ke-20 ini kelak memunculkan penulis-penulis seperti Hanafi Tsuyaku, Soeman Hs, Wan Khalidin, S.H. yang dikenal de­ngan na­ma Dass Chall, kemudian berlanjut kepada penulis masa kini yang menghasilkan karya-karya sastra berbentuk sajak cerita pendek, no­vel, naskah sandiwara, esai dan artikel budaya, serta cerita anak-anak. Semua itu menggambarkan bahwa hasrat ber­kesenian/ber­susastra di kalangan seniman dan sastrawan Melayu Riau tidak pernah padam. Sayangnya seniman dan sastrawan Riau ini kurang mendapat sambutan dan kurang dikenal di daerahnya. Mereka seperti orang asing di kampungnya sendiri.

5. Seni Bangunan Dan Seni Kerajinan
Hasil kesenian Riau yang perlu dicatat masih banyak, di antara­nya adalah seni bangunan dan seni kerajinan. Kedua seni ini juga menunjukkan ciri khas Riau. Kerajinan tenun kain, anyaman, sulaman, tekat, renda, hiasan tudung saji, terandak, dan lainnya ber­kembang dengan baik. Kerajinan tenun Riau mempunyai banyak motif, seperti motif bunga, daun, binatang, awan larat (awan ber­arak), dan ukiran kaligrafi. Kain tenun khas Riau antara lain kain tenun Siak dari Siak Sri Indrapura, kain sutera corak lintang dari Siantan, serta kain sutera petak catur dan kain mastuli dari Daik Lingga.

Seniman Tenas Effendy telah berusaha mengungkap motif-mo­tif yang dulu kurang dikenal dalam senirupa Melayu, seperti motif bunga cengkih, pucuk rebung, awan larat, wajik-wajik, bunga kiam­­bang, bunga berembang, bunga hutan, bunga melur, tampuk manggis, cempaka, kunyit-kunyit, pinang-pinang, naga-naga, lebah ber­gantung, ikan, ayam, sayap layang-layang, siku keluang, dan lain-lain. Seniman ini dikenal sebagai orang yang berikhtiar untuk me­lestarikan seni bangunan dan seni tradisional Melayu Riau lain­nya, termasuk sastra lisan. Motif-motif ukiran dalam kesenian Melayu klasik masih dapat kita lihat dalam bentuk ukiran kaligrafi dari ayat-ayat Al Quran atau syair-syair Arab pada mimbar dan mihrab masjid-masjid tua di seluruh Riau atau pada nisan-nisan lama.

Seni bangunan Melayu yang asli juga masih terdapat di seluruh Riau. Meskipun beragam dan sedikit berbeda, namun semuanya masih memperlihatkan benang merah yang menun­jukkan cikal-bakalnya pada masa lampau.

6. Sikap Orang Melayu Terhadap Tradisinya
Pada senja hari, seorang penyadap enau bersenandung atau mem­­baca serapah agar nira di banung bambunya berisi banyak. Di pinggir laut atau dalam rumah-rumah panggung yang berdempet, para nelayan berzikir, berdondang sayang, dan kadang-ka­dang ter­dengar membaca serapah sambil melempar pancing.

Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah …!
Biar putus jangan rabut

Dalam cahaya terang bulan, beberapa pemuda Orang Laut ber­dindin mendayu-dayu.

Kayuh si Muncung kayuh
Lepas seteluk setanjung pula
Muncung oi ....

Senja hari berikutnya, di bawah naungan pohon kelapa di pinggir pantai atau di teduhan ladang, nelayan dan petani duduk mengukir hulu parang atau kepala dayung dengan macam-macam motif ukir­an seperti kepala bayan, buah batun bunga Pak Mat kembang ber­dentum, dan lain-lain, sedangkan di sebuah ge­dung pertunjukan di kota, pengolah pentas siap membuat latar pertunjukan me­nyaingi teman-teman mereka di provinsi lain di Indonesia. Pe­mandangan se­perti itu menggambarkan luapan perasaan seni manusia yang dapat terjadi di mana saja. Luapan rohani itu sudah semestinya tertampung sesuai dengan kehendak manusia untuk mem­bangun pertumbuhan pribadi, baik yang bersifat hiburan mau­pun yang bertujuan mencapai efek sosial.

Perasaan yang tak pernah padam dalam diri manusia akan me­rasa­kan betapa pincangnya pembangunan masyarakat tanpa me­nye­imbangkan pembangunan fisik dengan peradaban. Kesenian yang men­jadi ukuran kegiatan rohani sudah tentu masuk ke dalam unsur peradaban. Bagaimanapun pentingnya pembangunan fisik, jika tidak diimbangi dengan perkembangan kesenian dalam masyarakat, niscaya pembangunan tersebut akan kehilangan ima­jinasi spiritual. Padahal imajinasi spiritual di­perlukan untuk me­numbuhkan eksis­tensi dari hasil pemba­ngunan itu sendiri. Oleh karena itu, kita ha­rus terpanggil untuk mengolah kesenian agar dapat menjiwai pem­bangunan yang sedang melaju di Riau be­lakangan ini.

Hal tersebut telah diungkapkan oleh peneliti Riau, U. U. Hamidy, yang telah merekam sikap orang Melayu terhadap tradisi­nya di Riau. Hamidy (1981) mengungkapkan:

Jika konsep, pemikiran, dan gambaran mengenai dunia di­buat dalam bentuk simbol-simbol, maka dia akan terhindar dari taf­siran yang salah. Konsep itu dapat diselamatkan dari kemuna­fikan kata-kata. Konsep tentang tafsir dunia dapat aman dari penyalahgunaan yang berpangkal dari merosotnya nilai kata. Dengan usaha itu semua gagasan generasi terdahulu yang ter­tuang dalam bentuk adat dan pusaka dapat berlanjut atau diwa­riskan dengan utuh ke­­pada generasi berikutnya. Dari kenyataan seperti ini, se­orang pewaris adat dan pusaka di Rantau Kuantan dapat menemui mutiara leluhurnya dalam keadaan bening, se­telah dia kehabisan napas mencari makna kehidupan ini.

Di sisi lain, fungsi nilai-nilai spritual dalam pembangunan ter­baca dari simbol-simbol peradaban, baik di pedalaman maupun di kota-kota dalam bentuk yang agak berbeda.

7. Penutup
Secara geografis, Riau merupakan daerah yang terbuka terha­dap berbagai pengaruh dan menerima keadaan sebagai tempat per­­­himpunan potensi bermacam-macam kesenian. Di pedalaman Riau, kesenian tradisional dapat bertahan lebih kuat daripada di kota, sebagaimana yang juga terjadi pada daerah-daerah lainnya di In­donesia. Kesenian yang bernapaskan Islam bertahan dan ber­kem­bang lebih luas, terutama di desa-desa, sedangkan warna Melayu asli setengah tenggelam, sebagian lagi dilanjutkan di desa-desa, namun kurang diminati di kota.

Bentuk dan jenis kesenian yang menonjol di Riau ialah seni sastra, teater, nyanyian, dan tari. Garapan hasil sastra yang bercorak daerah terus mendapat perhatian para seniman setempat. Di bidang teater, teater kontemporer yang berlandaskan teater tradisional masih cukup kuat, namun teater Makyong dikhawatirkan bakal punah. Seni tari dan seni suara terus berkembang dengan adanya kreasi-kreasi baru. Seni hias justru semakin bangkit setelah dipakai untuk kepentingan zaman sekarang.

Dibandingkan dengan pembangunan fisik, perhatian terhadap ke­senian agak jauh tertinggal. Selain mementingkan pembangunan fisik, pembangunan spiritual di daerah ini hendaknya digalakkan pula. Melalui sandiwara dan media seni lainnya, pesan-pesan pembangunan dapat disampaikan dengan baik. Untuk itu di­perlu­kan pengadaan nas­kah-naskah yang dapat menunjang tujuan ter­­sebut.

Daftar Pustaka
Andaya, L. Y. 1975. The Structure of Power in Seventeenth Century. Kuala Lumpur: JMBRAS.

Andaya, W. dan V. Matheson. 1983. Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka. Jakarta: Grafiti Press.

Bujang, R. 1975. Sejarah Perkembangan Drama Bangsawan di Tanah Me­layu dan Singapura. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Danandjaya, J. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Ja­karta: Grafiti Press.

Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia. 1979. Sulatus­sa­latin. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Haji, R. A. 1929. Kitab Pengetahuan Bahasa. Singapura: Al Ahmadiah Press.

––––––––––. 1965. Tuhfat al Nafis. Singapura: Malaysian Publication.

––––––––––. 1984. Tsamaratul Muhimah. Alih aksara Hasan Yunus.

Hamidy, U. U. 1981. Sikap Orang Melayu terhadap Tradisinya di Riau. Pekan­baru: Bumi Pustaka.

Proyek Pengembangan Kesenian Riau. 1982/1983. Hasil Pencatatan Data Ke­senian Daerah Riau.

Pustaka Datuk Karya Binguran. 1913. Persekutuan Hukum Kerabat Datuk Kar­ya Pulau Tujuh Ranai.

Rencana Pembentukan Dewan Kesenian Riau. 1983. Pekanbaru.

Syamsuddin, B. M. 1981. Minda Kesenian Daerah Kepulauan Natuna. Proyek Pe­­nulisan dan Penerbitan Buku Depdikbud. Jakarta: Balai Pustaka.

––––––––––. 1982. Seni Peran Makyong: Khazanah Budaya Warisan Bangsa. Pro­­­yek Pe­nulisan dan Penerbitan Buku Depdikbud. Jakarta: Balai Pustaka.

Idrus Tintin, dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Sejak kecil, oleh sanak keluarga dan kawan-kawannya, ia dipanggil Derus. Ayahanda Idrus Tintin bekerja pada Jawatan Pelayaran Indonesia kemudian dipindahtugaskan sebagai Nahkoda Kapal Patroli Pemerintah ke Laut Cina Selatan, Tarempa, Kepulauan Riau. Riwayat pendidikannya di Sekolah Rakyat Tarempa, kemudian pindah ke Sekolah Rakyat di Rengat, karena Tarempa pada waktu itu dibombardir oleh pasukan Jepang pada tanggal 14 Desember 1941. Dalam peristiwa tersebut ti­dak kurang dari 300 orang masyarakat sipil, termasuk ayahandanya, menjadi korban dan meninggal dunia pada tahun 1942. Sepeninggal ayahandanya, ia bersama keluarga akhirnya kembali ke Tanjungpinang dan meneruskan sekolah hingga selesai. Usai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat, Idrus Tintin melanjutkan pendidikan di Chugakko (sekolah tingkat pertama) milik Jepang, namun tidak selesai. Pada akhir tahun 1944 ia ke Tembilahan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Muhammadiyah, itupun tidak diselesaikannya. Tahun 1947 Idrus Tintin kembali ke Rengat dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertamanya. Ia juga pernah mengikuti kursus Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sore hari untuk program ekstranei hingga lulus. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah ke Tingkat Menengah Atas Sore Tanjungpinang.

Selama hidupnya, Idrus Tintin telah melakoni berbagai pekerjaan. Sekitar tahun 1943, ia dititipkan di asrama Dai Toa Kodomo Ryo, yaitu asrama penampungan yatim piatu milik Pemerintah Pendudukan Jepang. Karena pandai berbahasa Jepang, ia diterima bekerja di Sentral Telepon Pendudukan Jepang. Tidak lama setelah itu ia dipindahkan ke asrama Kubota dan bekerja di Biro Okhabuthai di Tanjungpinang. Ia bekerja di biro tersebut selama 5 bulan. Saat berumur 16 tahun, pada bulan Februari 1949, ia kembali lagi ke Tembilahan dan bergabung menjadi TNI. Ia juga pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di beberapa tempat antara lain; sebagai Staf Q Brigade DD Angkatan Darat TNI, Juru Tulis Kantor Camat Tarempa, Jawatan Penghubung Sosial Kewedanaan Pulau Tujuh, Tarempa dan guru honorer selama 17 tahun di Sekolah Menengah Atas SMA) Negeri 2 Pekanbaru, Riau.

Dalam dunia seni peran/teater, berbagai pengalaman telah ia peroleh dan berbagai sumbangsih telah ia berikan. Itu dimulainya sejak tahun 1943 saat bermain drama dalam bahasa Jepang produksi Raja Khadijah. Tahun 1944 di Tanjungpinang, ia menggelar sandiwara dengan ide cerita Nosesang, dimana cerita ini bertutur tentang kehidupan petani dan nelayan. Tahun 1945 di Rengat, beberapa kali ia bermain sandiwara bersama grup Seniman Muda Indonesia (SEMI) asuhan Agus, Moeis dan Hasbullah. Pada tahun 1952, ia kembali ke Tarempa dan mendirikan sebuah sanggar sandiwara bernama “Gurinda”. Untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan seni peran yang telah ia geluti, pada tahun 1959, ia memutuskan mengembara ke Pulau Jawa. Di sinilah Idrus berkenalan dengan seniman-seniman Jawa antara lain; Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M. Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan seniman lain. Pertemuan inilah yang menjadi titik tolak perkenalan Idrus dengan seni peran/teater modern/kontemporer. Selama berada di Jawa, ia sempat menjadi peserta dalam berbagai forum diskusi para seniman, baik formal maupun non-formal, terutama yang membicarakan tentang pemeranan dan penyutradaraan.

Pada tahun 1961, Idrus Tintin kembali menetap di Rengat dan membentuk sebuah kelompok teater. Sejak menetap di Riau, setiap ada perayaan hari-hari besar, Idrus selalu tampil bermain teater. Tahun 1964, Idrus mengikuti Festival Drama di Pekanbaru yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Riau. Naskah yang dipentaskan adalah naskah Pasien. Tahun 1968, Idrus menyutradarai pertunjukan teater modern di Gedung Trikora Pekanbaru berjudul Tanda Silang. Tahun 1974, bersempena Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Idrus menyutradarai pertunjukan teater kolosal di Balai Dang Merdu Pekanbaru dengan judul Harimau Tingkis. Pada tahun yang sama, ia bersama Armawai KH. menubuhkan wadah pembinaan teater di Riau yang diberi nama “Teater Bahana.”

Sebagai sosok seniman dan budayawan, Idrus Tintin telah banyak melahirkan karya, antara lain berupa sajak dan puisi yang terangkum dalam berbagai buku yaitu: Luput, adalah kumpulan sajak Idrus Tintin, berisi 26 sajak, dituliskan kembali oleh Armawi KH (tahun 1986). Burung Waktu, adalah kumpulan puisi Idrus Tintin, berisi 37 judul puisi, diterbitkan oleh Gramitra Pekanbaru (tahun 1990). Idrus Tintin Seniman dari Riau: Kumpulan Puisi dan Telaah, adalah kumpulan tiga judul puisi Idrus Tintin yaitu: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan Tarian di Tengah Hutan (tahun 1996). Jelajah Cakrawala; Seratus Lima Belas Sajak Idrus Tintin, adalah kumpulan puisi Idrus Tintin (tahun 2003).

Selain karya-karya tersebut di atas, Idrus Tintin juga memiliki karya-karya lain berupa naskah teater dan pernah dipentaskan, yaitu: naskah cerita berjudul “Buih dan Kasih Sayang Orang Lain”, Naskah cerita berjudul “Bunga Rumah Makan”, naskah cerita berjudul “Awal dan Mira”, naskah cerita berjudul “Pa­sien”. Kesemuanya ditulis dan telah dipentaskan dalam sebuah pementasan di Tanjungpinang.

Atas semua karya dan jasa-jasanya bagi budaya dan kesenian, Idrus Tintin telah dianugerahi beberapa penghargaan, yaitu: The Best Actor dalam Festival Drama di Pekanbaru dari Pemerintah Provinsi Riau (tahun 1996), Anugerah Sagang Kategori Seniman dan Budayawan Pilihan Sagang, dari Yayasan Sagang (tahun 1996), Seniman Pemangku Negeri (SPN) kategori Seni Teater, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001).

Idrus Tintin meninggal dunia pada tanggal 14 Juli 2003 di usia 71 tahun, akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri, Mahani dan Masani. Ia dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya Rengat Indragiri Hulu.
______________________
B. M. Syamsudin, dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen di antaranya dimuat di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong. Beliau meninggal di Bukitttingi, 20 Februari 1997.
___________________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau, Indonesia.