Curug Cimandi Racun


Lingkungan Alam Fisik
Curug Cimandi Racun atau sering disebut juga Curug Cibuni Racun terletak di Desa Jangkurang, Kecamatan Leles, dan di sebelah utara berbatasan dengan Desa Rancasalak, Desa Danu di sebelah barat, Desa Cikelet di sebelah selatan, dan Desa Ranca Salak di sebelah timur. Luas kawasan desa sebesar 988.602 ha, sedangkan luas objeknya sekitar 1 ha yang status kepemilikannya adalah tanah adat masyarakat Kampung Pasir Kunci dan Kampung Singkur.

Aktivitas yang dapat dilakukan di Curug Cibuni Racun ini antara lain menikmati pemandangan alam. Kawasan ini belum dikelola secara baik dan profesional. Salah satu penyebabnya karena objek ini masuk dalam area tanah adat maka penyediaan fasilitas atau prasarana tidak begitu berorientasi pada usaha.

Aspek KhususCurug Cimandi Racun mempunyai ketinggian 25 m dan sumber airnya berasal dari mata air Cimalagiri di Gunung Mandalawangi. Letak air terjun ini berada pada ketinggian 1045 di atas permukaan laut dengan reka bentuk alam berlembah disertai kemiringan lahan yang curam. Sepanjang jalan setapak menuju lokasi objek merupakan titik pandang yang cukup strategis untuk melihat pemandangan alam sekitar yang indah. Sekitar kawasan memiliki daya serap tanah yang cukup baik dengan jenis material tanah berbatu.

Kualitas dan kebersihan lingkungan yang cukup memadai ini terlihat dari sedikitnya sampah yang bertebaran. Keadaan bentang alam Curug Cibuni Racun ini tergolong baik karena tingginya air terjun tersebut ditambah hamparan alam yang hijau dan asri. Salah satu nilai tambah objek ini adalah faktor suhu atau temperatur. Temperatur kawasan yang sejuk, berkisar antara 23-25 derajat celsius sangat mendukung kegiatan wisata.

Daya tarik Curug Cibuni Racun bukan hanya karekteristik alamnya tapi juga dari legenda atau dongengnya. Dongeng yang melatarbelakangi nama dari air terjun tersebut bersumber dari cerita pada zaman kerajaan. Dongeng itu menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala terdapat suatu sayembara memperebutkan seorang putri yang cantik jelita. Para jawara atau jagoan silat harus bertarung mempertaruhkan nyawa untuk dapat menjadi pemenang dan mendapatkan sang putri sebagai hadiah kemenangannya. Ketika sayembara tersebut berlangsung, ternyata hasilnya imbang sehingga tidak ada yang berhak mendapatkan putri tersebut. Kemudian karena di antara kedua jawara tersebut tidak ada seorangpun yang berhak mendapatkan sang putri, maka putri tersebut disembunyikan dan diracun di tempat yang sekarang dikenal dengan Curug Cibuni Racun.

Di sekitar curug ini hanya tersedia 1 buah shelter dengan kondisi yang cukup baik, dan sampai saat ini belum tersedia fasilitas akomodasi. Alternatif fasilitas akomodasi terdekat yang dapat digunakan pengunjung adalah Wisma LEC yang terletak di Kecamatan Tarogong. Kemudian untuk fasilitas rumah makan, maka Rumah Makan Adika yang berada di depan Pasar Leles atau Jalan Raya Leles dapat dijadikan alternatif bagi wisatawan yang ingin mengisi perutnya.

Aksesibilitas
Untuk mencapai ke objek ini dapat menggunakan angkutan perkotaan trayek Kadungora ? Penclut dengan tarif antara Rp. 1.000 ? Rp. 1.500 atau dapat menggunakan ojeg dari Kadungora dengan tarif Rp. 4.000 atau juga dapat menggunakan transportasi mikrobus dengan trayek Bandung-Pamengpeuk, yang melewati jalan akses menuju ke objek ini. Jarak terminal angkot Kadungora dari stasiun Kadungora berjarak 5 km dari objek Curug Cibuni Racun. Dalam usaha pencapaian ke objek pengunjung akan melalui jalan raya kecamatan sejauh 3 km dengan kualitas jalan baik, lebar jalan memadai dan tidak berlubang, dan kemudian melewati jalan akses sejauh 500 m yang berbentuk foot trail, dan akhirnya menelusuri jalan setapak sejauh 300 m yang berbentuk foot trail dengan lapisan permukaan tanah berpasir. Jarak antara objek dan pusat pemerintahan kecamatan sekitar 7 km, sedangkan dengan pusat pemerintahan kabupaten berjarak 23 km, dari dengan Kabupaten Bandung berjarak 47 km serta berjarak 227 km dari ibukota provinsi, Jakarta.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://wisata.voucher-hotel.com

Paraglaiding Gn. Haruman


Objek wisata dan daya tarik olah raga Paraglading Gunung Haruman tersebut berlokasi di Desa Haruman Sari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Status kepemilikan tanah yang digunakan untuk Paraglaiding adalah tanah masyarakat yang masih belum dikelola secara khusus. Gunung Haruman memiliki ketingian lebih kurang 1300 m diatas permukaan laut dan gunung ini bukan merupakan jenis gunung berapi. Konfigurasi umum lahan adalah bergunung dengan kemiringan lahan agak curam yang daya serap tanahnya baik, satabilitas tanah baik dan jenis material tanahnya secara umum pasir berbatu. Gunung Haruman ini merupakan sebuah objek yang digunakan untuk olah raga Paraglaiding bagi orang-orang pecinta terbang layang.

Adapun landasan yang digunakan untuk terbang layang memiliki luas 40 x 15 m2 yang memiliki lapisan permukaan tanah rerumputan dengan kemiringan lahan yang landai. Untuk melakukan olah raga terbang layang, setiap pengunjung biasanya membawa peralatan sendiri, hal ini dikarenakan belum adanya pengelolaan secara khusus sehingga tidak tersedia peralatan yang dibutuhkan.

Untuk mencapai kawasan terbang layang Gunung Haruman kita dapat melalui jalan raya Garut ? Bandung yang melewati Kecamatan Kadungora. Dari Kecamatan Kadungora dapat menggunakan kendaraan pribadi atau ojeg menuju Desa Haruman Sari. Adapun jarak yang ditempuh dari Kecamatan Kadungora menuju Desa Haruman Sari berjarak lebih kurang 15 km dengan lebar jalan 2-4 m yang memiliki kualitas jalan kurang. Sedangkan untuk menuju landasan terbang layang dari Desa Haruman Sari berjarak 7-8 km, yang biasanya para pengunjung menggunakan mobil jeep atau sejenisnya, hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sangat rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui oleh mobil selain jeep.

Kegiatan wisata yang bias dilakukan di kawasan ini adalah terbang layang, traking, menikmati pemandangan dan fotografi. Pengunjung yang dating ke Gunung Haruman berasal dari Jakarta, Jateng dam Jawa Timur. Serta pengunjung mancanegara berasal dari Singapura, Belanda, Korea dan Amerika yang hendak melakukan olah raga Paraglaiding.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://3.bp.blogspot.com

Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Masyarakat Adat Kampung Dukuh, Garut, Jawa Barat

Oleh : Santhyami, Dr.Endah Sulistyawati
School of Life Science & Technology, Bandung Institute of Technology, Indonesia
Jl. Ganesa No. 10 Bandung, Indonesia 40132 Phone: +62 22 251 1575, 250 0258
Fax: +62 22 253 4107
Email: santhyami @yahoo.com or endah@sith.itb.ac.id

Abstract
This study aims to document the medicinal plants and their use for traditional healing by the people of Kampung Dukuh, Garut, West Java, Indonesia. The method used was acombination between the qualitative and quantitative approach. Qualitative approach was conducted at the beginning to observe the knowledge of the indigenous peoples about traditional healing in general. Quantitative approach was done to collect data particularly on the medicinal plant species, location where the plants were obtained and the usage. Data were collected by using semi-structured interview. Specimens were collected from the growing sites with the help of key informants. Analysis was done by two main approaches:

medicinal anthropology and medicinal ethnobotany. They classified diseases into three types: common disease, illness by magic and disease caused by food. 137 species from 52 families of plants were reported to be used by them as medicines. Most of species used for medicines was for birth curing. They obtained plants from five locations; kebon (garden), leuweung (forest), buruan (home yard), side of road, and huma (dry farm). This research indicates that they have a specific system of using medicinal plants. They can integrate the culture of using plant medicine with the conservation effort of local biodiversity.
Keywords: Medicinal plants; Ethnobotany; Kampung Dukuh

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat kampung Dukuh dan cara pemanfaatannya. Metoda yang dilakukan pada penelitian ini adalah kombinasi antara metoda penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada saat observasi awal untuk menggali pengetahuan umum penduduk kampung Dukuh tentang pengobatan tradisional. Setelah observasi awal, dilakukan penelitian kuantitatif yaitu pengumpulan data tentang tumbuhan obat kepada penduduk dengan cara wawancara semi terstruktur. Setelah pengumpulan data, dilakukan pengumpulan spesimen tumbuhan yang diambil langsung dari lokasi tumbuhnya tumbuhan didampingi oleh informan kunci. Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Bandungense SITH-ITB. Analisis dilakukan dengan dua pendekatan utama yaitu pendekatan antropologi obat dan etnobotani obat. Penduduk kampung Dukuh mengklasifikasikan penyakit menjadi tiga jenis, yaitu penyakit biasa, penyakit karena magis dan penyakit karena makanan. Tercatat 137 jenis tumbuhan dari 52 suku yang digunakan oleh penduduk kampung Dukuh sebagai obat. Tumbuhan obat paling banyak digunakan untuk perawatan ibu melahirkan. Penduduk mendapatkan 137 jenis tumbuhan obat tersebut dari lima lokasi yaitu kebon, leuweung (hutan), buruan (pekarangan rumah), pinggir jalan, dan huma.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penduduk kampung Dukuh memiliki kekhasan dalam sistem pemanfaatan tumbuhan obat dimana mereka mampu mengintegrasikan budaya pemanfaatan tumbuhan sebagai obat dengan upaya konservasi terhadap keanekaragaman hayati setempat.

1. Peuanndahul
Di negara Indonesia, sekalipun pelayanan kesehatan modern telah berkembang, jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri tanpa bantuan medis, 31,7% diantaranya menggunakan tumbuhan obat tradisional, dan 9,8% memilih cara pengobatan tradisional lainnya.

Indonesia memiliki budaya pengobatan tradisional termasuk penggunaan tumbuhan obat sejak dulu dan dilestarikan secara turun-temurun. Namun adanya modernisasi budaya dapat menyebabkan hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat (Bodeker, 2000). Kecenderungan ini juga terjadi pada komunitas tradisional di Indonesia.

Salah satu komunitas yang telah menunjukkan gejala degradasi pengetahuan tradisional antar generasi ini adalah masyarakat kampung Kuta, Ciamis, Jawa Barat. Menurut penelitian Dwiartama (2005), pengetahuan tradisional masyarakat kampung Kuta tentang tumbuhan obat dalam kondisi terancam punah.

Di Indonesia khususnya propinsi Jawa Barat, salah satu daerah yang masih menjaga tradisi leluhur atau karuhun adalah penduduk kampung Dukuh, Kabupaten Garut. Selain menjaga tradisi, penduduk kampung Dukuh juga sangat menghargai sekaligus berguru pada alam sehingga mereka memiliki potensi pengetahuan yang besar tentang tumbuhan obat.

Penelitian tentang pemanfaatan tumbuhan obat di kampung Dukuh ini belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga sangat berpotensi untuk menemukan jenis tumbuhan obat baru yang diharapkan dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli farmasi dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat luas.

2. Metode Penelitian
2.1 Studi Area
Penelitian dilakukan di kampung Dukuh, yang secara administratif termasuk dalam kawasan Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Jarak kampung Dukuh dari pusat pemerintahan Kabupaten Garut sekitar 100 km. Ketinggian kampung Dukuh adalah sekitar 390 m di atas permukaan laut. Kampung Dukuh berada di tanah miring, di lereng Gunung Dukuh. Secara georafis kampung Dukuh terletak pada 7° - 8° LS dan 70 - 108° BT (Lubis, 2006).

Luas keseluruhan Kampung Dukuh adalah 10 hektar yang tediri dari 7 hektar bagian dari kampung Dukuh Landeuh, 1 hektar bagian dari kampung Dukuh Tonggoh dan sisanya merupakan lahan kosong atau lahan produksi. Di dalam kampung Dukuh juga terdapat area yang disebut dengan wilayah Karomah yang merupakan area pemakaman. Penduduk kampung Dukuh terdiri dari 108 kepala keluarga dengan 520 jumlah jiwa. Mata pencaharian penduduk kampung Dukuh adalah bertani, beternak ayam dan memelihara ikan.

2.2 Survey Etnobotani
Secara garis besar metoda yang dilakukan pada penelitian ini merupakan gabungan metoda penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan cara observasi. Jenis observasi yang dilakukan adalah observasi partisipatif moderat dimana peneliti terlibat dalam beberapa kegiatan sehari-hari informan seperti berkebun dan ikut serta dalam rapat adat, namun tidak mengikuti seluruh kegiatan penduduk seharian (Sugiyono, 2007). Pada tahap ini juga dilakukan wawancara terbuka. Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam observasi awal ini adalah metoda purposive sampling yaitu teknik pemilihan informan dengan pertimbangan tertentu, dalam hal ini orang yang dianggap paling tahu tentang tumbuhan obat (Sugiyono, 2007). Tokoh yang dipilih melalui metoda ini untuk diwawancarai adalah kuncen (kepala adat kampung Dukuh) dan paraji (dukun beranak). Dari observasi awal ini diketahui data-data calon informan untuk tahap selanjutnya yang layak diwawancarai berdasarkan rekomendasi kuncen dan paraji.

Setelah observasi awal, dilakukan penelitian kuantitatif yaitu pengumpulan data tentang tumbuhan obat kepada penduduk dengan cara wawancara semi terstruktur (Martin, 1995). Pemilihan informan pada tahap wawancara ini dilakukan dengan metoda snowball sampling yaitu teknik pemilihan informan berdasarkan rekomendasi informan kunci dalam hal ini kuncen dan paraji. Informasi tentang calon informan berikutnya didapat dari informan sebelumnya (Sugiyono, 2007). Sesudah pengumpulan data, dilakukan pengumpulan spesimen tumbuhan yang diambil langsung di lokasi tumbuhnya dengan dibantu oleh seorang informan kunci. Spesimen dikoleksi, difoto dan diidentifikasi. Analisis dilakukan dalam dua bentuk pendekatan yaitu pendekatan antropologi medikal dan pendekatan etnobotani medikal.

3. Hasil
3.1 Pendekatan Antropologi Medikal
Penduduk kampung Dukuh mengklasifikasikan penyakit menjadi tiga jenis, yaitu penyakit biasa, penyakit karena magis dan penyakit karena makanan. Penyakit biasa adalah penyakit yang umum diderita oleh penduduk seperti demam, batuk, sakit badan dan sakit kepala yang timbul akibat perubahan cuaca atau kuman penyakit. Penyakit karena magis diyakini oleh penduduk timbul akibat pelanggaran tata cara hidup di alam seperti halnya penyakit gila, ayan atau lumpuh. Penyakit selanjutnya menurut penduduk kampung Dukuh disebabkan karena makanan yang tidak sehat.

Terdapat tiga bentuk pengobatan yang digunakan oleh penduduk untuk mengobati penyakit yaitu tatangkalan atau pengobatan dengan tumbuhan, obat warung, dan jampe. Untuk mengobati penyakit biasa, sebagian penduduk masih menggunakan tumbuhan obat walaupun sebagian sudah beralih pada penggunaan obat warung. Namun demikian penduduk masih mengetahui berbagai macam tumbuhan untuk pengobatan.

Tokoh yang dianggap memiliki pengetahuan yang paling baik tentang tumbuhan obat di kampung Dukuh adalah paraji. Peran paraji di kampung Dukuh bukan hanya menolong kelahiran bayi tetapi juga melayani pengobatan penyakit-penyakit yang biasa diderita oleh penduduk. Dalam pengobatannnya, paraji memberikan resep berupa komposisi ramuan tumbuhan untuk mengobati penyakit. Paraji juga sengaja menanami pekarangan rumahnya dengan tumbuhan obat untuk dimanfaatkan oleh penduduk. Penyakit karena pengaruh magis diobati penduduk dengan bantuan kuncen. Dalam melakukan penyembuhan, kuncen berdoa dan membacakan jampi-jampi. Khusus untuk kampung Dukuh, kuncen tidak menggunakan tumbuhan obat yang spesifik dalam penyembuhan penyakit. Kuncen hanya mengunakan media cai (air) dan biji beras yang telah didoakan.

3.2 Pendekatan Etnobotani Medikal
3.2.1 Tumbuhan dan Kegunaannya sebagai Obat
Dari hasil penelitian diketahui bahwa penduduk kampung Dukuh mengenal 137 jenis tumbuhan obat dari 52 suku. Jenis tumbuhan terbanyak adalah dari suku Zingiberaceae (14 jenis) dan selanjutnya dari suku Poaceae (11 jenis), suku Asteraceae (6 jenis), suku Suku Euphorbiaceae (6 jenis) dan suku Solanaceae (6 jenis). Dari 137 jenis tumbuhan total yang digunakan untuk pengobatan, proporsi jumlah jenis tumbuhan terbesar dimanfaatkan untuk perawatan kesehatan ibu melahirkan yaitu sebanyak 41 jenis tumbuhan.

3.2.2 Bagian Tumbuhan yang Digunakan dan Cara Pengolahannya
Bagian-bagian tumbuhan digunakan oleh penduduk kampung Dukuh sebagai obat adalah akar, batang, biji, buah, bunga, daun, rimpang dan umbi. Bagian yang paling banyak digunakan penduduk kampung Dukuh sebagai obat adalah bagian daun.

Bagian tumbuhan yang digunakan
Akar
Batang
Biji
Buah
Bunga
Daun
Rimpang
Semua bagian
Umbi

Sebagian besar pengobatan tradisional dengan tumbuhan di kampung Dukuh hanya menggunakan satu bagian dari suatu tumbuhan, misalnya bagian daunnya saja atau bagian umbinya saja, sedangkan bagian-bagian lain dari tumbuhan tersebut tidak digunakan. Contoh tumbuhan yang hanya dimanfaatkan satu bagian tersebut antara lain seperti Ageratum conyzoides L. (daun), Physalis angulata L. (daun), Kaempferia galanga L. (rimpang), Oryza sativa L. (var.) formaglutinosa (buah) dan Alstonia scholaris (L.)R.Br. (batang). Walaupun demikian terdapat beberapa jenis tumbuhan yang hampir semua bagian dari tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk pengobatan beberapa jenis penyakit. Tumbuhan-tumbuhan tersebut antara lain seperti Imperata cylindrica (Ness)C.E.Hubb. yang akar dan batangnya digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit seperti kencing manis, maag, nyeri pinggang, sakit badan dan tonikum. Selain itu juga dikenal Carica papaya L. yang hampir semua bagian tumbuhan ini dapat digunakan mulai dari akar, daun, getah daun, batang, buah, bahkan biji untuk pengobatan penyakit-penyakit seperti hipotensi, malaria, perawatan setelah melahirkan, melancarkan ASI, sakit badan, sakit gigi, sakit kepala dan berkhasiat sebagai tonikum.

Secara umum bentuk pengobatan di kampung Dukuh dapat dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu jenis pengobatan luar dan jenis pengobatan dalam. Jenis-jenis penyakit dengan menggunakan pengobatan luar adalah seperti sakit kulit, sakit gigi, permasalahan telinga dan sakit mata. Pengobatan dalam adalah jenis pengobatan dengan memakan atau meminum olahan dari tumbuh-tumbuhan obat. Penyakit dengan pengobatan dalam ini antara lain seperti penyakit demam dan masalah pencernaan.

Cara pengobatan luar bervariasi berdasarkan jenis penyakitnya. Umumnya jenis pengobatan luar ini menggunakan komposisi tumbuhan tunggal. Untuk luka dan sakit kulit, bagian tumbuhan yang banyak digunakan adalah daun dan dari satu jenis tumbuhan.

Sebagian besar cara pengolahan tumbuhannya hanya ditumbuk dan kemudian dilulurkan pada bagian yang sakit. Contohnya untuk penyembuhan luka karena penyakit diabetes akut. Penduduk menyembuhkan luka tersebut dengan tumbuhan Dysoxylum decandrum Merr. Beberapa orang penduduk kampung Dukuh sudah membudidayakannya di kebon dan leuweng karena mereka percaya bahwa tumbuhan ini sangat ampuh untuk mengobati penyakit luka karena diabetes.

Untuk pengobatan dalam, penduduk kampung Dukuh mengolah tumbuhan tersebut dengan dua cara, yaitu direbus atau diparut untuk kemudian diambil sari tumbuhannya. Pada umumnya, komposisi tumbuhan dalam pengobatan dalam ini lebih dari satu jenis tumbuhan. Misalnya untuk minuman tonikum, penduduk merebus berbagai jenis tumbuhan seperti rimpang empat jenis koneng yaitu Curcuma xanthorriza Roxb., Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe, Curcuma aeruginosa Roxb. dan Curcuma domestica Vahl, daun Physalis angulata L., Blumea balsamifera (L.)D.C., Orthosiphon aristatus (BI.) Miq., Eupatorium odoratum, akar Carica papaya L., Imperata cylindrica, Areca catechu L., kulit batang Allamanda cathartica L. dan batang Tinospora tubreculata Beumee.

3.2.3 Tata Cara Perawatan Kesehatan Melahirkan
Di kampung Dukuh, seorang ibu hamil akan mendatangi paraji pada masa kehamilan empat bulan. Pada masa ini, paraji menyarankan ibu hamil untuk meminum ramuan penambah stamina seperti air parutan rimpang Curcuma domestica Vahl. yang dicampur dengan madu atau telur ayam kampung. Pada masa kehamilan tujuh bulan, ibu hamil mendatangi paraji secara berkala, karena pada masa ini paraji mulai melakukan pemijatan untuk memperbaiki posisi bayi dalam rahim. Sebelum melahirkan, pasien dianjurkan untuk meminum air rebusan Ceiba petandra (L.) Gaertn.yang berkhasiat melancarkan kelahiran.

Paraji kemudian membalurkan minyak klentik serta Alium cepa L. dan Zingiber purpureum Roxb. yang telah ditumbuk ke perut pasien. Efeknya, pasien akan merasakan mulas sehingga proses kelahiran akan berlangsung lebih cepat. Satu hari setelah melahirkan, pasien diberi ramuan olahan paraji yang dikenal dengan sebutan ramuan opat puluh rupi yang terdiri dari 40 jenis tumbuhan yang telah dikeringkan dan ditumbuk halus. Ramuan ini diseduh dengan air hangat dan diminum oleh pasien sebanyak satu sendok tiga kali sehari. Tumbuhan penyusun ramuan opat puluh rupi terdiri dari berbagai jenis rimpang: Kaempferia galanga L, Zingiber officinale Roxb., Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe, Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlecht., dan Zingiber zerumbet (L.)J.E.Smith; berbagai jenis akar: Cocos nucifera L, Areca catechu L, Physalis angulata L., Stachytarpheta indica (L.) Vahl., Imperata cylindrica (Ness)C.E.Hubb. dan Arenga pinnata (Wurmb.) Merr; kulit batang: Alstonia scholaris (L.)R.Br.dan Allamanda cathartica L.; serta sejumlah jenis daun: Blumea balsamifera (L.)D.C., Dolichandrone spathecea (L.f.)K. Schum., Musaenda frondosa L., Erythrina subumbrans (Hassk.)Merr. dan Cymbopogon citratus (DC.)Stapf.. Pendarahan setelah melahirkan diatasi dengan meminum air rebusan Piper
betle dan Euphorbia hirta L. atau air bekas cucian ketan hideung Oryza sativa L. var formaglutinosa.

Ibu-ibu setelah melahirkan melakukan perawatan tubuh untuk menghindari infeksi dan merapatkan vagina dengan memanfaatkan abu bekas perapian tungku yang dibungkus daun Ricinus communis kemudian diduduki selagi hangat. Perawatan ini rutin dilakukan sampai 40 hari setelah melahirkan. Agar kulit perut kembali seperti semula, ibu melahirkan menggunakan ramuan rimpang Zingiber zerumbet (L.)J.E.Smith dan daun Eleusine indica Gaertn. yang ditumbuk dengan kapur sirih. Ramuan ini kemudian dioleskan ke kulit perut secara teratur setiap hari. Para ibu di kampung Dukuh mengenal bakal buah (jantung) tumbuhan Musa paradisiaca L, bunga Rosa hibrida dan bunga Impatiens balsamina L. sebagai tumbuhan yang bermanfaat untuk kontrasepsi.

3.2.4 Distribusi Lokasi Tumbuhan Obat
Berdasarkan lokasi diperolehnya tumbuhan obat, penduduk kampung Dukuh memperolehnya dari lima lokasi yaitu buruan (37 jenis), huma (enam jenis), kebon (72 jenis), leuweng (42 jenis), dan pinggiran jalan (25 jenis). Distribusi persebaran lokasi tumbuhan ini.

Buruan Huma Kebon Leuweung Pinggir jalan
Buruan adalah lahan halaman di sekitar tempat tinggal. Leuweng adalah daerah hutan di sekitar kampung Dukuh yang dikeramatkan, karena di lokasi tersebut dimakamkan tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang sangat dihormati. Tumbuhan obat yang diambil dari hutan umumnya juga berupa tumbuhan kayu (pohon dan perdu) seperti Alstonia scholaris (L.)R.Br., Allamanda cathartica L., Melochia umbellata O.Stapf., dan Cardiospermum halicacabum L. Huma adalah lahan pertanian penduduk yang khusus ditanami dengan tanaman konsumsi utama seperti Oryza sativa L. Berbeda dengan kebon yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman, lahan huma hanya ditanami satu jenis tanaman. Selain itu, huma tidak ditanami dengan tanaman berkayu seperti pada kebon. Kebon sendiri merupakan lahan pertanian penduduk yang ditanami berbagai jenis tumbuhan pertanian. Di kampung Dukuh, kebon berlokasi di atas perbukitan jauh dari pemukiman. Tumbuhan yang ditanam di kebon adalah berupa tanaman konsumsi dan tanaman kayu. Selain tanaman budidaya, di kebon juga terdapat banyak jenis tumbuhan liar yang bermanfaat sebagai tumbuhan obat antara lain Ageratum conyzoides L., Mikania scandens Willd. dan Euphorbia hirta L.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, sekitar 59% tumbuhan obat di kampung Dukuh merupakan tumbuhan liar dan 41% sisanya merupakan tanaman budidaya. Sebagian tumbuhan sengaja ditanam oleh penduduk. Tumbuhan obat umumnya ditanam penduduk di buruan dan kebon. Tumbuhan obat liar banyak ditemukan di kebon, pinggir jalan dan leuweung.

4. Diskusi dan Kesimpulan
Setiap daerah memiliki sistem pemanfaatan tumbuhan yang khas dan berbeda dengan daerah lainnya. Sistem pemanfaatan ini berkaitan dengan keanekaragaman tumbuhan di masing-masing daerah. Pendekatan penduduk lokal terhadap manajemen pemanfaatan ekosistem alam merupakan model jangka panjang dalam menopang kebutuhan hidup manusia (Redford dan Padoch, 1992 dalam Swanson, 1995). Selain itu, manajemen sumber daya alam tradisional mampu mempertegas hubungan antara sistem konservasi dengan pemanfaatan keanekaragaman hayati (Alcorn, 1994 dalam Swanson, 1995).

Penduduk kampung Dukuh memiliki kekhasan dalam sistem pemanfaatan tumbuhan obat. Kekhasan tersebut dilihat dari 3 aspek yaitu: (1) sumber lokasi didapatnya tumbuhan obat, (2) status budidaya tumbuhan dan (3) bagian yang digunakan sebagai obat. Di kampung Dukuh, tumbuhan obat paling banyak didapatkan dari kebon. Kebon merupakan lahan terpisah dari pemukiman penduduk yang sengaja ditanami berbagai jenis macam tanaman. Tumbuhan liar yang dianggap memiliki fungsi sebagai obat dibiarkan tumbuh di kebon sehingga sebagian besar tumbuhan obat dapat diperoleh dari lokasi ini. Konsep kebon menurut penduduk kampung Dukuh ini berbeda dengan konsep kebun masyarakat daerah lainnya. Suku Menyah di Pegunungan Arfak mengenal kebun dengan sebutan Mekeni. Mekeni merupakan kebun monokultur yang umumnya ditanami dengan pohon coklat. Suku Menyah memanfaatkan sebagian besar tumbuhan obat dari hutan primer atau Merenda (Moeljono, 1998). Penduduk kampung Dukuh juga memanfaatkan tumbuhan obat dari hutan, namun tidak dalam proporsi terbesar.

Penduduk diperbolehkan untuk mengambil hasil alam dari leuweung namun dengan kontrol dan pengawasan dari kuncen. Manajemen pengontrolan pemanfaatan alam oleh kuncen ini mampu menjaga stabilitas keanekaragaman hayati yang ada di leuweung. Salah satu penelitian yang dilakukan di daerah Dheeraa, Ethiopia, menunjukkan bahwa 92% tumbuhan obat di sana didapatkan dari daerah vegetasi alami yang mengindikasikan bahwa penduduk lokal di sana kurang mempraktekkan penanaman tumbuhan obat di area kultivasi seperti pekarangan rumah dan kebun (Wondimu et al., 2007).

Menurut penelitian Falconer et al. (1992 dalam Swanson, 1998), mayoritas ahli pengobatan tradisional di seluruh dunia tidak mempercayai bahwa ketersediaan tumbuhan obat di alam sudah menurun. Namun di kampung Dukuh, prinsip pemaanfaatan tumbuhan obat yang dilakukan penduduk sangat khas dan berbeda dengan daerah lainnya. Lebih dari 40% tumbuhan obat sudah mulai dibudidayakan sendiri oleh penduduk. Penduduk tidak hanya menggantungkan keperluan tumbuhan sepenuhnya dari apa yang ada di alam. Upaya pembudidayaan obat untuk keperluan sehari-hari ini menunjukkan bahwa penduduk kampung Dukuh masih sangat peduli dengan upaya konservasi alam.

Upaya konservasi terhadap tumbuhan obat erat kaitannya dengan penggunaan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat. Bagian yang paling banyak digunakan penduduk kampung Dukuh sebagai obat adalah bagian daun. Menurut Cunningham (1991 dalam Swanson, 1998), bagian tumbuhan yang perlu dibatasi penggunaannya dalam pengobatan adalah bagian akar, batang, kulit kayu dan umbi, karena penggunaan bagianbagian tumbuhan ini dapat langsung mematikan tumbuhan. Penggunaan daun sebagai obat tidak berdampak buruk bagi kelangsungan hidup tumbuhan.

Berdasarkan semua paparan tentang pemanfaatan tumbuhan obat di kampung Dukuh, terlihat bahwa sistem pemanfaatan tumbuhan obat di kampung Dukuh bersifat khas dan berbeda dengan daerah lainnya. Melihat ketiga aspek yang telah dipaparkan dapat diindikasikan bahwa penduduk kampung Dukuh mampu mengintegrasikan budaya pemanfaatan tumbuhan sebagai obat dengan upaya konservasi terhadap keanekaragaman hayati setempat.

References
Bodeker, G., 2000. Indigenous Medical Knowledge: The Law and Politics of Protection:

Oxford Intellectual Property Research Centre Seminar in St. Peter’s College, 25th January 2000, Oxford

Dwiartama, A., 2005. Analisis Pengetahuan Tradisional Masyarakat Adat Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis, mengenai Pemanfaatan Tumbuhan untuk Pengobatan. Skripsi Sarjana Biologi Departemen Biologi ITB, Bandung

Lubis, N.H. 2006., Uga Kampung Dukuh. Pikiran Rakyat 24 Maret 2006

Martin, G.J., 1995., Ethnobotany : A ‘People and Plant’ Conservation Manual. Chapman and Hall, London

Moeljono, S.,1998. Suatu Telaah tentang Pemanfaatan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan oleh Masyarakat Suku Menyah Di Daerah Pegunungan Arfak Kabupaten Manokwari:

Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III 5-6 Mei 1998. LIPI, Denpasar-Bali

Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta, Bandung

Swanson, T. M. 1995. Intellectual Property Rights and Biodiversity Conservation ‘An

Interdisciplinary Analysis of the Values of Medicinal Plants. Cambridge University

Press, Cambridge

Wondimu, T., Asfaw, Z., Kelbessa, E., Ethnobotanical Study of Medicinal Plants around

Dheeraa Town, Arsi Zone, Ethiopia. Journal of Ethnopharmacology

Sumber : http://www.sith.itb.ac.id

Batu Tulis Barukai


Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Bayongbong adalah terhadap sebuah prasasti di Kampung Barukai, desa Cigedug. Karena adanya prasasti tersebut Kampung Barukai sering juga disebut Kampung Batu Tulis. Bentang Alam (geomorfologis) wilayah ini merupakan pedataran tinggi bergelombang dengan ketinggian antara 1100 m sampai 1200 m di atas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terletak pada 70 20? 00? LS dan 1070 47? 50? BT. Daerah ini diapi oleh gunung Cikuray sebelah timur dan gunung Papandayan di sebelah barat.

Prasasti di kampung Bakurai berada pada sebidang kebun milik Bapak Mohamada Toha di pinggir jalan kampung. Areal berada pada suatu lereng. Disebelah barat pada jarak sekitar 100 m dari prasasti mengalir sungai Cikuray yang merupakan anak sungai Cimanuk. Areal situs merupakan ladang yang kurang terurus dan banyak ditumbuhi semak serta beberapa tanaman keras. Prasasti itu sendiri berada pada suatu cekungan sekitar 0,50 m merupakan hasil pengupasan yang dilakukan penduduk pada tahun 1927. hinggasekarang penduduk masih mengkeramatkan dan senantiasa membersihkan prasasti tersebut.

Hasil penelitian terhadap prasasti tersebut, dapat diketahui prasasti ditulis pada sebongkah batu beerbentuk persegi empat. Jenis batu ditulis pada sebongkah batu berbentuk persegi empat. Jenis batu yang dijadikan meddia merupakan batuan andesittik. Ukuran batu 130 cm x 170 cm. ketyebalan yang terukur 15 cm dari permukaan tanah. Permukaan batu yang ditulisi tidak rata. Teknik penulisan dengan sistem gores yang tidak begitu dalam. Jenis huruf yang dipakai adalah huruf Sunda Kuno.

Prasasti terdiri dari tiga baris dan berbunyi sebagai berikut :
1.bhagi bhagya
2.ka
3.nu ngaliwat (Hasan Djafar, 1991 : 16)

Pada permukaan yang ditulisi juga terdapat goresan-goresan tebal dan dalam yang terbagi dalam beberapa kotak. Di dekat prasati pada sisi barat terdapat lempengan batu yang permukaannya rata. Lempengan batu tersebut berukuran 85 cm x 70 cm, dengan ketebalan 7 cm. Sampai sekarang belum dapat diidentifiksikan kapan dan siapa yang membuat prasasti tersebut. Sulitnya karena tidak didukung oleh temuan-temuan artefak lain. Penduduk yang ti nggal didekat lokasi punbelum pernah menemukan artfak misalnya fragmen keramik atau gerabah.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Punden Berundak Pasir Lulumpang


Terletak di kampung cimareme, desa cimareme, kec. Banyuresmi. Punden berundak pasir lulumpangan termasuk penemuan yang masih baru. Punden ini baru mendapat perhatian setelah adanya laporan dari kepala seksi kebudayaan kandepdikbid kabupaten garut pada tahun 1994, dan pada tahun ini pula tim dari balai arkeologi bandung melakukan peninjauan ke lokasi. Pada tahun 1995 tim balai arkeologi bandung melakukan penelitian intensif. Berdassarkan hasil penelitian yang dilakukan tim tersebut menyebutkan bahwa pasir lulumpanag merupaka situs yang beebentuk punden dari masa megalitik (pra-sejarah). Selain bangunan punden berundak yang berjumlah dua terletak dalam satu kesatuan wilayah, selain itu juga ditemukan tiga buah batu lumpang.

Bangunanan punden berundak pasir lulumpangan memiliki teras 13 buah. Orientasi punden berundak ini kearah timur barat dengan undak teras seluruhnya berada di sebelah barat. Kemungkingan budaya tradisi megalitik pra-sejarah ini berlanjut hingga masa sejarah sampai menjelang islamisasi dan tidak mentupi terjadi dalam komunitas petani di daeah pedalaman.

Bangunan punden berundak sebagai budaya megalitik adalah suatu bangunan yang memanfaatkan sebuah bukit yang dibuat teras-teras dengan susunan batu-batu yang membantu trap-trap. Makna simbolis yang digunakan pada masa itu adalah dimana sebuah bukit merupakan replika dari sebuah tempat yang agung/tinggi dan merupakan sebuah tempat yang dekat dengan temapat arwah nenek moyang. Budaya ini terus berlanjut dan seiring denganperkembangan kepercayaan yang dianut, baik pada masa hindu, budaha< islambahkan sampai sekarang konsep tersebut oleh sebagian masyarakat masih dipercaya. Tradisi megalit ini masih dijumapi dibbrapa suku yang masih mempunyai corak kehidupan tradisional, seperti suku di nias, suku dani di irian jaya dan suku baduy di jawa barat. Dengan demikian budaya megalit tidak stagnasi tetapi terus berlanjut walaupun bukan dalam bentuk yang sama persis dengan budaya megalit pada masa lalu. Bangunan pundek berundan pasir lulumpangan sebagai suatu objek cultural heritage peninggalan periode pra-sejarah perlu dipelihara dan dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Keberadaan punden berundak situs pasir lulumpangan tidak terawat karena belum ada pemugaran dan juru pelihara yang memeliharanya.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Batu Pipisan dan Gandhik



Penelitian di Kecamatan Wanaraja yang dilakukan Tim Balai Arkeologi (Balar) Bandung ditujukan di sebuah temuan batu pipisan dan penggilingan (Jw. Gandhik). Kedua banda tersebut ditemukan di halaman rumh Bpk. Engkar bin Sugandi, Kampung Sindangsari RT 03/02, Desa Cinunuk. Lokasi penemuan merupakan suatu perkampungan padat penduduk. Secara geografis wilayah ini berada pada koordinat 70 10? 40? LS dan 1070 57? 53? BT. Bentang alam daerah tersebut merupakan pedataran vulkanik dengan ketinggian sekitar 700 m. di atas permukaan laut. Sungai yang ada adalah sungai cisangkan yang merupakan anak sungai Cimanuk yang mengalir di sebelah barat laut situs.

Batu piipisan dan batu penggilingan tersebut ditemukan Bpk. Engkar ketika menggali tanah untuk pondasi bangunan. Menurut keterangganya, ketika ditemukan nbatu pipisan dengan batu penggilingan terpisah pada jarak sekitar 50 Cm.

Kedua benda cagar budaya tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut. Permukaan batu pipisan sangat halus. Pada bagian depn berbentuk melengkung, sedangkan bagian belakang berbentuk datar. Penampang lintang berbentuk segi tiga. Pada bagian bawah terdapat dua buah kaki. Ukuran batu, panjang 31 cm, lebar 15 cm. tinggi keseluruhan 15 cm. tebal bagian atas 3 cm. tebal kaki bagian depan 3,5 cm. Sedangkan bagian belakang 5 cm. benda tersebut terbuat dari batu pasir kasar dan bersifat padu.

Batu penggilingan berbentuk silinder. Permukaanya juga sangat halus. Ukuran batu, panjang 16,5 cm. diameter 6 cm. bahan yang dipakai daribatu pasir arkose. Kedua benda tersebut sampai sekarang disimpan di Bapak Engkar. Batu pipsan dan penggilingan (gandhik) berfunsi untuk menghaluskan ramuan obat. Tanda adanya pemakaian terlihat dari permukaanya yang halus. Pada beberapa candi Jawa Tengah (misalnya ; Borobudur) terdapat relief yang menggambarkan orang meramu obat. Sampai sekarang batu pipisan dan gandhik, belum pernah ditemukan dalam satu konteks dengan tinggalan masa pra-sejarah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa benda arkeologis tersebut secara kronologis berasal dari masa klasik, mungkin dari jaman kerajaan Sunda Kuno.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id

Pantai Santolo


Salah satu pantai yang populer terdapat di Kab. Garut adalah Pantai Santolo. Terletak di kec. Cikelet, sebelah selatan pusat kota Garut, jarak tempuh dalam waktu 3,5 jam perjalanan atau sekitar 88 km.

Panati ini cukup dikenal di kota Bandung dan merupakan daerah tujuan wisata . Kawasan Pantai Santolo merupakan berkumpulnya nelayan tradisional yang akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata yang indah. Juga merupakan daerah untuk kegiatan nelayan sebagai dermaga (pelabuhan) kapal ikan atau perahu yang ada di Pameungpeuk.

Menikmati panorama pantai dan biota laut,merupakan aktivitas wisata yang dapat dilakukan. Tersedia juga sewaan perahu yang melayani wisatawan untuk menikmati deburan pantai ombak selatan yang cukup menantang. Selain itu kita bisa menikmati hidangan makanan laut yang segar dengan sajian yang sederhana. fasilitas yang dibutuhkan wisatawan cukup tersedia seperti losmen, kios-kios cinderamata dengan harga terjangkau.

Bagi yang suka pantai dan ketenangan, pantai ini cocok buat kamu. biayanya juga tidak memberatkan kantong, cukup dengan 50ribu sampai 100rb kamu bisa menginap sehari semalam, atau kalo mau menyewa rumah cukup dengan mengeluarkan antara 200ribu sampai 300ribu tergantung kualitas rumahnya. Angkutan buat menjangkaupun cukup mudah untuk didapatkan. Kita bisa menjangkaunya menggunakan angkutan pribadi maupun angkutan umum.

Perjalanan dari kota Garut menuju pantai Santolo pun sudah merupakan petualangan tersendiri, bagaimana tidak, kita harus melewati hamparan kebun teh yang sering tertutup kabut serta hutan yang masih terawat baik. meskipun melewati kebun teh dan hutan, jalan yang dilewati termasuk kategori baik dan nyaman, tapi tetep harus hati-hati lho lewatnya. Hati-hati karena kita bakal melewati rute pegunungan dan kebun teh yang berkabut tebal dengan jarak pandang 10 meter.

Kalo mau pake angkutan umum juga bisa, dari Bandung ke Garut ke Pamengpeuk bisa dicapai menggunakan mobil elf atau bus umum jurusan bandung-garut-pamengpeuk. setelah sampai di pamengpeuk bisa menggunakan kendaraan angkudes ke pantai santolo langsung.

Sumber :
http://pariwisata.garutkab.go.id
http://alifurrahman.blogspot.com
Foto : http://images.lietaz.multiply.com

Situ Bagendit Legenda dari Jawa Barat


Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dan cerita ini adalah mengenai asal-usul terbentuknya situ Bagendit.

Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”

“Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

Sementara iru Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.
“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.

Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.

“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”

Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.

“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.

Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.

“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.

Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.

“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.
“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.

Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.

Sumber : http://www.freewebs.com
Foto : http://2.bp.blogspot.com

Situ Bagendit


Lingkungan Alam Fisik
Objek wisata Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi ini merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.

Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.

Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Ajan Sobari dengan status kepemilikan berada di tangan pemerintah daerah yang kewenangannya dilimpahkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut dan pihak swasta yaitu Bapak Adang Kurnia. Berdasarkan perda no. 11 tahun 2001 harga masuk tiket ke kawasan ini Rp. 1.000/orang untuk dewasa dan Rp. 500/orang untuk anak-anak.

Aspek Khusus
Objek dan daya tarik wisata alam Situ Bagendit memiliki kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alam dalam kondisi yang baik. Bangunan-bangunan yang terdapat di kawasan, baik yang permanen maupun semi permanen, dalam kondisi terawat baik. Di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon. Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan terdapat rambu iklan.

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini yaitu penyewaan 60 buah rakit dengan tarif Rp.25.000/15 menit, 11 buah sepeda air dengan tariff Rp.10.000/15 menit yang dalam kondisi yang baik. Terdapat pula beberapa bangku taman dan 6 buah shelter yang disewakan untuk pengunjung dengan harga Rp.3.000/jam. Terdapat juga kereta api mini dengan tarif Rp.2.000 dan kolam renang dikawasan Situ Bagendit ini. Suasana di kawasan objek wisata ini tergolong cukup nyaman dikarenakan pembangunannya sudah direncanakan dengan baik oleh dinas pariwisata namun masih juga terdapat kios liar dan pedagang kaki lima yang dengan sembarangan menggelar barang dagangan mereka sehingga tingkat visabilitas di kawasan tersebut menjadi sedikit terhalang.Objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini beroperasi pukul 07.00-17.00. Kondisi bangunan yang terdapat di kawasan ini dalam kondisi yang baik dengan jenis material bangunan permanen dan semi permanen dalam tata ruang yang cukup baik dikarenakan pembangunan di kawasan Situ Bagendit ini sudah direncanakan dengan baik. Dikawasan objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alamnya dalam kondisi yang baik.di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon yang disebabkan oleh pengunjung.Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan sedikit terdapat rambu iklan.

Sumber daya listrik di kawasan ini berasal dari PLN dengan voltase 220 volt dan distribusi yang cukup. Sumber daya air bersih di kawasan ini berasal dari sumur dan PDAM dengan kualitas air yang jernih, rasa air yang tawar, dan bau air yang normal. Terkadang terdapat kendala pemanfaatan air di kawasan Situ Bagendit yaitu apabila musim kemarau air disekitarnya menyurut. Sistem pembuangan limbah di kawasan ini yaitu melalui septic tank, selokan dan melalui sistem irigasi. Kawasan wisata Situ Bagendit ini juga memiliki sistem komunikasi berupa telepondalam jumlah yang kurang memadai. Terdapat pula jalan setapa dikawasan Situ Bagendit ini yang panjangnya ?b 50m. di depan kawasan Situ Bagendit terdapat tempat parkir dengan luas 1400 m2 dengan daya tampung 30 bus, 60 kendaraan pribadi dan 180 kendaraan bermotor dalam kondisi yang cukup baik dengan lapisan permukaan berupa tanah, namun vegetasi peneduhnya kurang memadai. Terdapat sebuah pos tiket yang juga berfungsi sebagai pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik.terdapat pula sebuah toilet umum dalam kondisi bangunan dan kebersihan yang cukup. Dikawasan ini terdapat taman bermain dengan vegetasi peneduh dan dalam kondisi yang cukup. Terdapat tempat ibadah berupa Mushola dan juga terdapat 10 buah tempat sampah dikawasan wisata Situ Bagendit.

Aksesibilitas
Jarak kawasan wisata Situ Bagendit ini dari pusat kota Garut yaitu 4 km. Terdapat angkutan umum berupa angkot jurusan Terminal Guntur-Kp.Mengger dan Garut-Limbangan dengan tarif Rp.1.500 dan ojeg dengan tariff Rp.2.000.Kualitas pemandangan dan tingkat keamanan sepanjang jalan di kawasan objek dan daya tarik wisata ini cukup baik.jumlah karyawan di objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini yaitu 6 orang. Pengunjung yang berkunjung ke objek wisata ini perbulannya mencapai 400-600 orang. Pengunjug tersebut biasanya berasal dari Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Bandung dan Jakarta.

Sumber : http://pariwisata.garutkab.go.id
Foto : http://lh3.ggpht.com

Keragaman Objek Wisata Kabupaten Garut

Garut - Salah satu kabupaten yang terletak sekitar 64 km sebelah tenggara Bandung ibu kota Jawa Barat dan sekitar 250 km dari Jakarta. Garut berada pada ketinggian 0 m sampai dengan 2800 meter, berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia di sebelah selatan yang memanjang sekitar 90 km garis pantainya.

Di utara perbatasan dengan kabupaten Sumedang. Barat laut dengan kabupaten Bandung. Di barat dengan kabupaten Cianjur, dan di timur dengan kabupaten Tasikmalaya.

Garut dikenal sebagai pemasok sayuran, palawija, buah-buahan, jagung dan beras untuk kebutuhan nasional. Garut juga penghasil tanaman dengan nilai ekonomis yang tinggi yaitu akar wangi, yang merupakan bahan dasar parfum.

Garut juga terkenal karena sebagai pelopor nasional sutra alam sejak tahun 1920-an dan pelopor perkulitan tradisional nasional. Kota ini terkenal pula karena sentra peternakan domba unggulan baik untuk domba adu maupun untuk pedaging, dan industri makanan khas Dodol Garut. Pada umumnya Garut adalah daerah agraris dengan sumber air yang sangat melimpah.

Sayangnya komoditas pertanian yang tempo dulu terkenal seperti Jeruk Garut, kedele dan tembako mole, kini sudah tiada lagi. Jeruk Garut yang dulu tahun 60-an terkenal karena manis, harum dan lezatnya, kini hanya tinggal kenangan.

Musnah diserang Virus. Sekalipun almarhum pakar Virus guru besar UNPAD yaitu Prof DR Soelaeman telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan penyakit ini, ternyata tidak berhasil.

Kini di lokasi tanaman Jeruk di Karang Pawitan, Sadang dan Wanaraja, sudah tak nampak lagi hamparan tanaman jeruk seperti di tahun-tahun 60an.

Pada era 20-an, Garut dikenal sebagai Swiss van Java, karena pesona alamnya yang menakjubkan dengan kontur yang sangat eksotis dan disempurnakan dengan hawa yang sejuk dan bersih.

Bahkan pada pertengahan tahun 1950-an Garut terkenal dengan sebutan Kota Intan. Jarak yang tidak begitu jauh dari Bandung itu, menjadikan kota Garut cukup ramai di kunjungi baik oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Hal ini dapat terlihat dengan cukup padatnya kota ini terutama pada akhir minggu atau musim libur anak sekolah. Beberapa objek dan atraksi wisata yang dapat dilihat dan dikunjungi di Garut adalah, wisata budaya candi Cangkuang, situ Bagendit, makam keramat Godog, makam keramat Cinunuk, situ Kabuyutan Ciburuy, kampung Dukuh.

Dari wisata alam tampak ada Cipanas, famboyan Ngamplang, Papandayan, Kawah Talaga Bodas, Kawah Darajat, Air terjun Neglasari, Curug Orok, Sayang Heulang, Pantai Santolo, Pantai Gunung Gede, Pantai Cijeruk Indah, Pantai Manalusu, Pantai Cijayana, Pantai Rancabuaya.

Wisata minat khusus ialah Arung Jeram Sungai Cimanuk dan Cikandang, Curug Citiis, Kawah Talagabodas, Gunung Papandayan, Air terjun Neglasari, Cagar Alam Leuweung Sancang. Menurut keterangan yang diperoleh dari Dibudpar Jawa Barat, Garut memiliki sekitar 29 objek wisata.

Sungguh potensi wisata yang cukup menggembirakan, apabila dilola secara baik dan professional. Beberapa objek wisata di Kabupaten Garut yang menarik dan bisa dipasarkan kepada wisdom maupun wisman antara lain, pantai Ranca Buaya, adalah pantai yang sangat eksotis dengan tebing karang yang menjulang tinggi dihempas gelombang pantai selatan yang perkasa tempat bersarangnya burung walet pantai yang berkualitas.

Keramah tamahan adalah salah satu ciri khas warga pantai ini, walau wajah keras para pekerja laut cukup kentara. Kitapun bisa menikmati hidangan laut yang segar dan murah dengan penyajian secara kekeluargaan. Bagi penggemar selancar, mungkin pantai ini cukup cocok, terutama para wisman.

Pantai Cijayana, merupakan pantai kosong berpasir hitam sebagai pantai tempat ikan laut bertelur pada saat perubahan musim. Juga merupakan finish point untuk rafting di sungai Cikandang. Ada dua sungai yang biasa digunakan untuk rafting, yaitu sungai Cikandang dengan tingkat kesulitan IV – V yang berakhir di pantai Cijayana dan hulu sungai Cimanuk pada grade III-IV yang berakhir di Garut Kota. Kegiatan dan lokasi yang sungguh menantang, menegangkan dan mengasyikan.

Pantai Taman Manalusu yang dipopulerkan oleh cucu dari Karl Manalusu Tambunan, Administratur Perkebunan Kelapa Sawit Condong. Terletak di Kecamatan Cikelet, 96 km dari Garut Kota. Taman lautnya menakjubkan. Tidak kalah indahnya dengan taman laut Bunaken di Menado.

Pantai Santolo, Cilaut Eureun, adalah sebuah dermaga tua yang unik pada sebuah tanjung kecil. Merupakan pelabuhan nelayan tradisional dengan dermaga peninggalan Belanda pada abad 18. Hanya sekitar 84 km kearah selatan Garut.

Sayangheulang, adalah pantai berpasir putih yang bersebelahan dengan Santolo dan kita bisa menyusuri sepanjang sekitar tiga kilometer untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan ditambah semilir spoi-spoi pantai yang segar dan jauh dari polusi. Atau bisa pula kita berjalan diatas karang yang sedikit menjorok ke laut ketika laut surut sambil menikmati ikan-ikan hias pada kubangan-kubangan kecil yang diselingi deburan ombak pantai selatan yang perkasa.

Karang paranje, mirip Tanah Lot di Bali namun lebih kecil, Biasa digunakan untuk tempat memancing yang mengasyikan. Terletak di Kecamatan Cibalong, 86 km dari Garut kota.

Leuweung (hutan) Sancang berikut Pantai nya, adalah garis pantai paling timur, langsung berbatasan dengan Tasikmalaya. Sancang adalah hutan suaka alam yang dimitoskan sebagai tempat mangkatnya Prabu Siliwangi raja Pajajaran yang melegenda. Pantai yang sangat bersih tempat pemancingan favorit para petualang seringkali dipergunakan sebagai lahan penelitian lingkungan dan biologi.

Gunung / Kawah Papandayan, terletak pada ketinggian 2626 m dpl. Adalah gunung berapi aktip. Namun sangat aman untuk dikunjungi sampai ke bibir kawah sekalipun. Dan merupakan kawah dengan kaldera terluas di Asia. Jauhnya hanya 29 km dari kota Garut. Sudah terkenal terutama di kalangan pencinta alam.

Kawah Darajat, di sekitar perkebunan rakyat yang sangat subur dan kini dibuat pembangkit listrik dan berdekatan dengan kawah Kamojang di perbatasan Garut – Bandung.

Curug Orok, terletak di Perkebunan teh Papandayan dengan ketinggian 20 m. Keunikan air terjun ini adalah banyaknya aliran air dari sungai bawah tanah sehingga membentuk landscape yang menakjubkan. Terletak 30 km kearah selatan Garut.

Curug Citiis, di lembah Gunung Guntur berdekatan dengan Cipanas. Dapat dicapai dengan jalan kaki dari desa Pasawahan, kampung Rejeng, dimana para penduduknya cukup ramah. Sesuai dengan namanya, air curug ini sangat dingin namun menyegarkan.

Tidak jauh dari curug Citiis ini malah sudah banyak bangunan perumahan semacam vila, yang bisa disewa bagi yang mau nginap. Pemandangan sekitarnya cukup indah.

Memandang kearah timur akan nampak perkampungan pedesaan, yang dikelilingi persawahan penduduk, melihat kesebelah selatan akan nampak Garut Kota yang sudah semakin padat dengan berbagai bangunan.

Situ Bagendit, dengan Nyi Endit sebagai legendanya adalah situ terluas di Garut seluas 124 ha. Jarak dari Garut Kota 13 km melewati jalan yang diapit sawah sejauh mata memandang. Kita bisa mengelilingi situ ini dengan rakit bambu tradisional, sambil menikmati sepoi-sepoi angin pegunungan.

Ada banyak kedai yang menunggu kita setelah berakit selain fasilitas atraktif lainnya. Setiap tahun diadakan festifal Bagendit yang menampilkan berbagai atraksi budaya dan seni.

Candi Cangkuang, satu-satunya candi terlengkap di Jawa Barat peninggalan abad VIII. Berada di sebuah pulau ditengah Situ Cangkuang. Terdapat enam buah rumah adat, dan lokasinya dinamakan Kampung Pulo atau Kampung Adat.

Kekhasan objek wisata ini adalah adanya rakit bambu melintas Situ Cangkuang yang ditebari Teratai Merah dan Putih untuk mencapai pulau tersebut. Jarak dari Bandung 54 km. Sedangkan dari kota Garut 16 km.

Makam Godog, makam Prabu Kiansantang putera Prabu Siliwangi, kakek dari Sunan Gunung Jati Cirebon. Paling banyak dikunjungi terutama pada bulan maulud. Demikian pula Makam Pangeran Papak, penyebar agama Islam dan pejuang local melawan penjajah Belanda.

Kampung Sampireun, letaknya tak jauh dari Gunung Papandayan, tepatnya di kecamatan Samarang. Disana disewakan beberapa rumah yang punya gaya dan disain tradisional sunda. Berada di sebuah kolam luas.

Baik makanan, pelayanan, para petugas, maupun suguhan hiburan dan lain-lain, dilakukan secara budaya tradisional sunda. Banyak menarik para wisatawan asing, karena promosinya dilakukan secara professional di Jakarta, walau bayarannya pakai dolar yang cukup mahal.

Cipanas, adalah objek wisata yang paling diunggulkan. Berada 6 km dari Garut Kota di kaki Gunung Guntur yang eksotis. Memiliki sumber air panas paling bening di Indonesia yang terjadi dalam kolam renang berbagai desain.

Disinipun banyak hotel mulai dari kelas melati sampai dengan bintang tiga, kolam renang air panas, kamar rendam air panas dan beberapa restoran kecil. Kiranya dari apa yang ditampilkan dan diurai singkat beberapa objek wisata diatas walaupun tidak semua ODTW, ternyata Kabupaten Garut memiliki objek wisata yang sangat potensial untuk segera dipasarkan secara nasional maupun global/ internasional.

Penulis pernah membaca beberapa brosur dan liflet dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut yang ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggeris. Bagus, sudah mulai ada kemajuan. Tinggal upaya promosi yang lebih strategis, gencar dan koordinatif. Koordinasi baik antar dinas, maupun vertical dengan pusat. Termasuk koordinasi dengan Asosiasi-asosiasi kepariwisataan nasional maupun internasional.

Bilamana perlu media-media komunikasi dengan teknologi baru seperti internet maupun TV perlu lebih digalakkan secara istikomah dan terarah. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kemampuan kelembagaan Public Relation (PR), beserta SDM nya.

Terutama yang nanti akan langsung menangani pelayanan consumer yaitu wisatawan domestic (wisdom), maupun wisatawan mancanegara (wisman). Jadikanlah SDM yang benar-benar handal dan professional.

Akhirnya, diharapkan Garut telah memiliki Visi dan Misi Kepariwisataan yang workable untuk dioperasionalkan. Sehingga akhirnya Garut menjadi Kabupaten terunggul di Jawa Barat yang mampu bersaing sekalipun dengan dunia luar. Garut menjadi Kabupaten Pangirutan ( punya daya tarik) Wisatawan.

Sumber : http://www.kabarindonesia.com Rata Penuh

Merawat Tradisi Tenun Aceh


Oleh : Adi Warsidi

Tangan perempuan itu menari-nari lincah menata untaian benang-benang sutra yang terhampar di seperangkat alat tenun tradisional. Sembari kakinya cekatan menggerakkan mesin kayu tersebut, sesekali tangan si perempuan menyisipkan benang-benang emas sesuai dengan motif layaknya sulaman.

Perempuan itu, Ainul Mardhiah, 56 tahun, termasuk generasi pertama penenun di Kampung Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. “Saya sudah pertama sejak tempat ini ada,” ujarnya saat Tempo berkunjung ke Siem bulan lalu.

Tempat yang dimaksud Ainul adalah ruangan seperti kelas sekolah yang berukuran sekitar 6 x 15 meter persegi. Di dalamnya ada sekitar 10 mesin tenun dari kayu. Tempat seperti ini ada dua. Saat Tempo menyambanginya, terlihat lima pekerja di sana.

Selain Ainul, ada Khairani, 40 tahun, generasi selanjutnya, lalu Khairiah, 28 tahun, yang tergolong generasi termutakhir. Khairiah baru dua tahun menjadi penenun di tempat ini. Pengalamannya yang seujung kuku membuatnya tak segesit Ainul.

“Sebelum bekerja, saya mendapat pelatihan dan magang dulu di sini,” ujar Khairiah.

Semua penenun tersebut adalah para pekerja bisnis kain tenun yang mendapatkan ilmu langsung dari “suhu” Nyak Mu, 70 tahun. Rumah Nyak Mu ada di samping tempat menenun, berupa rumah panggung adat Aceh yang khas. Tak ada papan nama di tempat itu, dan mencari lokasinya juga lumayan sulit.

Nyak Mu mulai menggeluti bisnis kain tenun sejak 1970-an. Para pekerjanya datang silih berganti ke tempat itu untuk berguru. Saat ini umurnya yang sudah semakin sepuh memaksa Nyak Mu mengerem aktivitas bisnis. Dia hanya bekerja memeriksa tenun hasil racikan para pekerja.

Untuk mengerjakan selembar kain dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Itu pun jika tak ada kendala, artinya semua bahan lengkap. Soal pe masaran dipercayakan kepada anakanak dan cucu-cucunya. “Saya yang menjaga pemasarannya dan menunggu pesanan,” kata Dahlia, 48 tahun, anak Nyak Mu yang tinggal hanya 20 langkah dari tempat itu.

Dahlia juga mewarisi ilmu tenun. Dia yang merancang berbagai motif pada kain tenun yang diproduksi. Kain itu dapat dirancang dengan berbagai ukuran, umumnya panjang 1,2 meter dengan lebar 50-80 sentimeter. “Motif kami juga sering dicuri orang lain,” ujarnya.

Itu pula sebabnya, saat Tempo berniat mengambil foto produk mereka, seorang pekerja sempat menanyakan identitas Tempo. Kain yang diproduksi adalah songket dan selendang yang biasa dipakai pada pakaian pengantin. Kain itu dijual sebagai cendera mata khas Aceh dan untuk pakaian bawaan bagi pengantin pria jika ingin melamar buah hatinya.

Usaha tenun ini pernah mengalami pasang-surutnya. Kata Dahlia, bisnis mereka sangat maju pada 1980-an.

Banyak pesanan datang dari luar daerah, bahkan sering dipamerkan di tempat-tempat pameran berskala nasional.

Karena dikenal luas, nama kain songket tenun Desa Siem sudah menjadi buah bibir. Tak aneh, Nyak Mu dan Dahlia sebagai empunya kerap diundang dalam berbagai acara atau pertemuan yang berkaitan dengan bisnisnya.

“Sekitar empat bulan lalu, Nyak Mu diundang ke Jakarta dalam pertemuan penenun seluruh Indonesia,” kata Dahlia. Usaha tenun ini pernah surut saat konflik bersenjata makin panas di Aceh pada periode 19982003. Saat itu banyak tamu dari luar daerah yang gentar ke Desa Siem, yang terimbas perang.

Karena banyak yang tidak berani datang ke sana, akhirnya mereka berinisiatif membuka ruang pamer sekaligus tempat pemesanan di Kampung Laksana, Banda Aceh. Kebetulan Sabirin, abang Dahlia, tinggal di kota itu dan menjadi pengelolanya.

Perlahan usaha tenun itu berkembang lagi seusai tsunami. “Banyak tamu yang datang memesan atau langsung datang ke sini, mungkin karena sudah damai,” ujarnya.

Menurut Dahlia, mereka tidak punya tempat khusus untuk menjual kain songket hasil tenun. Semuanya dikerjakan sesuai dengan pesanan para pelanggan. Harganya beragam, tergantung motif. Selembar kain biasanya bernilai jual rata-rata Rp 1,2 juta.

Soal pesanan, Sabirin menjelaskan, datang beragam karena kain penghias itu bukanlah untuk kebutuhan primer atau sekunder. “Siapa yang ingin untuk oleh-oleh atau butuh untuk yang lain, biasanya pesan,” ujarnya.

Menurut dia, rata-rata setiap bulan ada delapan orang pemesan. Mereka kadang memesan dua lembar. Ratarata kain yang dijual per bulan mencapai 15-20 lembar. Kendala produksi juga ada, biasanya karena sulit mencari benang yang berwarna keemasan. Ini yang kerap membuat produksi kain tenun tersendat.

Kain tenun Aceh adalah tradisi yang telah ada sejak dulu. Dahulu para raja memakainya sebagai pelengkap pakaian kebesaran. Kain itu dilingkarkan pada pinggang sebatas lutut, juga dililitkan melintang badan.

Kini umumnya kain itu dipakai pengantin dalam pakaian adat. Para penenun kain khas Aceh di Desa Siem bekerja sambil merawat tradisi, yang ilmunya kian sulit didapat.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com

Kesenian Gesrek


Seni Gesrek disebut juga Seni Bubuang Pati (mempertaruhkan nyawa). Bila dikaji dengan teliti, seni Gesrek dapat dikatakan juga bersifat religius. Dengan ilmu-ilmu, mantra-mantra yang berasal dari ayat Al Qur?an pelaku seni ini bisa tahan pukulan, tidak mempan senjata tajam atau tidak mempan dibakar. Demi keutuhan/mengasah ilmu yang dimiliki pemain Gesrek perlu mengadakan pemulihan keutuhan ilmu dengan jalan ngabungbang (kegiatan ketuhanan yang dilaksanakan tiap malam tanggal 14 Maulud) yaitu mengadakan mandi suci tujuh muara yang menghadap sebelah timur sambil mandi dibacakan mantra-mantra sampai selesai atas bantuan teman atau guru apabila masih ada. Jadi dengan adanya Seni Gesrek kegiatan ritual bisa dilaksanakan secara rutin sebagai rasa persatuan dan kesatuan sesama penggemar seni yang dirasa masih langka. Setelah terciptanya Seni Gesrek timbul gagasan untuk mengkolaborasikannya dengan seni yang berkembang juga di wilayah ini yaitu seni Abah Jubleg. Seni ini dikatakan khowarikul adat (di luar kebiasaan) karena Abah Jubleg dapat mengangkat benda yang beratnya lebih dari 1 (satu) kwintal dengan menggunakan kekuatan gigi, dapat mengubah kesadaran manusia menjadi tingkah laku binatang (Babagongan/Seseroan) dan memakan benda yang tidak biasa dimakan oleh manusia.

Sumber : http://othenkinfo.blogspot.coml
Foto : http://ypptbangunan199.blogspot.com

Kesenian Debus Garut


Debus adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat Jawa Barat yang terdapat di daerah Pameungpeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira-kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama Islam. Pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama Islam disebut Mama Ajengan.

Nama Ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajaran agama Islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang dianut oleh masyarakat setempat, sedangkan ajaran agama Islam pada waktu itu masih belum dipahami dan dimengerti maknanya.

Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajengan mengumpulkan para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan Debus. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan - rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu - ilmu kekebalan/kekuatan dalam dirinya masing-masing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata , kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb. Menjalani dan mendalami berbagai ilmu - ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya.

Didalam rangka mempertunjukan kesenian Debus tersebut Mama Ajengan dan para santrinya yang telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya masuk, keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-Quran yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama Islam.

Demikianlah yang dilakukan setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan oleh Mama Ajengan dengan para santrinya dalam rangka mempopulerkan ajaran agama Islam lewat kesenian Debus sehingga berhasil meningkatkan para pengikutnya hampir di seluruh daerah dengan didirikannya pesantren-pesantren, mesjid-mesjid/surau untuk menampung pengikutnya.

Sampai sekarang secara turun-temurun kesenian Debus masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat khitanan, hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam. Yang sangat unik, sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan Mama Ajengan.

Sumber : http://garutpedia.garutkab.go.id
Foto : http://ypptbangunan199.blogspot.com

Pencak Ular


Merupakan kesenian tradisional dari Kec. Samarang. Pencak silat ini tidak jauh berbeda dengan pencak silat yang ada, hanya selain mendemontrasikan jurus-jurus silat, pesilat itu membawa ular berbisa dalam atraksi. Kelebihan lain pesilat bisa menjinakan ular-ular itu bahkan kebal terhadap gigitannya.

Sumber : http://ypptbangunan199.blogspot.com

Kesenian Hadro


HADRO adalah jenis kesenian perpaduan antara budaya Parahyangan dengan budaya Parsi atau Arab. Seni ini diperkenalkan oleh Kyai Haji Sura dan Kyai Haji Achmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Samarang Kabupaten Garut sekitar tahun 1917. kehadirannya tentu saja mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Bojong. Maka tidak heran apabila perkembangannya sungguh sangat menggembirakan.

Jenis kesenian ini memiliki ciri tertentu dalam gaya dan lagunya. Gaya/laga adalah gerak geriknya yang diambil dari jurus-jurus pencak silat yang menggambarkan kepatriotan.

Lagu / liriknya diambil dari sajak pujangga Islam Syech Jafar Al Banjanji. Alat pengiringnya terdiri dari : Rebana, Tilingtit, Kempring, Kompeang, Bangsing, Tarompet dan Bajidor.

Sedangkan para pemainnya mengenakan busana berupa baju dan celana putih yang dihiasi dengan selendang merah melilit di dada.

Seni HADRO menggambarkan kepatriotan para pejuang muslim dalam menentang kaum penjajah. Masyarakat Desa Bojong sebenarnya boleh berbangga hati karena pada saat ini seni tersebut berada pada kondisi yang masih mampu bertahan dengan kemandiriannya.

HADRO, bagaimanapun tetap HADRO, satu jenis kesenian tradisional kebanggaan masyarakat Desa Bojong Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Kita bersyukur atas kebesaran Tuhan Pencipta, yang dengan segala kemaha kuasaan-Nya telah menurunkan salah satu khasanah budaya di Kabupaten Garut tercinta.

Seni tradisional HADRO yang tumbuh dan berkembang di Desa Bojong senantiasa tampil dalam setiap kesempatan, baik dalam upacara hari besar nasional atau acara-acara penting di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, bahkan di tingkat Propinsi, disamping itu ditampilkan pula dalam acara perkawinan, khitanan dan acara keagamaan lainnya.

Sumber : http://othenkinfo.blogspot.com
Foto : http://ypptbangunan199.blogspot.com

Kesenian Surak Ibra


Surak Ibra, pada awalnya dikenal masyarakat Garut sebagai seni Boyongan atau Boboyongan yang menampilkan tokoh masyarakat yang bernama Pa Ibra (seorang pendekar silat yang memiliki kharisma di Garut). Akhirnya, Boboyongan tersebut oleh masyarakat dikenal sebagai Surak Ibra, konon sebagai penghormatan kepada Bapak Ibra.

Perkembangan
Dalam perkembangannya Surak Ibra menjadi seni pertunjukan rakyat khas Garut, karena jenis seperti ini tidak ada di daerah lain. Dalam tuturan riwayat tentang Surak Ibra, tercatat sebagai berikut:

Sekitar tahun 1910 seorang tokoh masyarakat bernama Bapak Eson mengembangkan Boboyongan dengan sebutan dari masyarakat sebagai Surak Eson. Namun setelah meninggal, Surak Eson tidak populer lagi, kembali ke Boboyongan dengan sebutan masyarakat sebagai Surak Ibra.

Pada masa lalu Surak Ibra dipertunjukan pada pesta-pesta di Garut, yang biasa dikenal sebagai "pesta Raja". Pada saat itu para dalem (bupati) Garut mengadakan hajatan. Dalam perkembangannya Surak Ibra sering ditampilkan dalam upacara hari-hari besar (khususnya hari Kemerdekaan Republik Indonesia). Khususnya di desa Cinunuk, Garut, di mana banyak masyarakat berziarah ke makam Cinunuk, untuk meningkatkan rasa solidaritas dan menggalang persatuan antar warga. Maka pada tanggal 30 Mei 1910 di Kasepuhan Cinunuk terbentuk sebuah organisasi masyarakat yang bernama Himpunan Dalem Emas (HDE) yang turut serta ngamumule, melestarikan Surak Ibra. Namun pada tahun 1948 HDE bubar, dengan pertimbangan bahwa Surak Ibra milik negara, maka sejak tahun 1948 pengelolaan Surak Ibra dilanjutkan oleh aparat desa sampai sekarang.

Dalam perkembangan selanjutnya, dari perkembangan Surak Ibra, dewasa ini Bapak Amo menjadi dikenal sebagai tokoh pewaris Surak Ibra. Di dalam pelbagai kegiatan, Bapak Amo selalu memimpin Surak Ibra dari Garut dan dipercayai masyarakat pendukung Surak Ibra sebagai sesepuh. Surak Ibra dewasa ini telah menjadi seni pertunjukan khas Garut, selain tak ada di daerah lain, juga memiliki sifat fleksibel sebagai potensi seni kemas yang kolosal, dan telah dibuktikan ketika diundang dalam Pesta Seni ITB tahun 2000, dengan mengusung patung Ganeca oleh puluhan penari Surak Ibra, yang pertunjukkannya sempat memukau penonton Pesta Seni pada waktu itu.

Bentuk pertunjukan
Pertunjukan Surak Ibra melibatkan sejumlah orang, terutama laki-laki. Pertunjukan dimulai dengan sejumlah pemuda membawa obor yang menyala lalu mengambil formasi berbanjar. Mereka menari gerakan-gerakan silat. Disusul oleh rombongan penari Surak Ibra (biasanya jumlahnya sekitar 30-60 orang) yang memakai kostum pesilat (hanya tidak menggunakan warna hitam lagi, tetapi warna kuning dan merah) bergerak dengan penuh semangat, menampilkan gerakan-gerakan pencak silat. Terdapat yang bertindak sebagai pengatur (pemberi komando), atas komandonya musik pengiring ditabuh serempak (biasanya lagu Golempang) bersambung dengan sorak-sorai yang meriah (bhs. Sunda eak-eakan), antara musik dan sorak menciptakan suasana yang meriah dan dinamis. Setelah itu mereka melakukan formasi-formasi tertentu dengan gerakan-gerakan pencak silat. Pada saat mereka membuat formasi lingkaran, salah seorang dari mereka bertindak sebagai tokoh yang akan diboyong (diangkat-angkat), ketika lingkaran semakin menyempit tokoh tadi diangkat oleh sebagian penari Surak Ibra, ia pasrah diangkat naik turun, diikuti musik dan sorak sorai yang semakin meriah. Ia di atas tangan-tangan penari Surak Ibra menari-nari dan berpindah-pindah dari tangan ke tangan yang lain, kadang tinggi sekali melambung ke atas, sorak sorai pun semakin ramai. Biasanya setelah atraksi Surak Ibra yang memukau itu, kembali ke formasi semula sebagai sebuah Helaran.

Iringan musik yang berada di formasi belakang terus mengiringi sepanjang pertunjukan, atraksi serupa dilakukan kembali pada titik-titik tertentu sepanjang perjalanan Helaran.

Musik pengiring Surak Ibra yang secara umum, sama dengan pengiring Kendang Pencak, hanya ditambah angklung dan dogdog sebagai pelengkap. Lagu-lagu pencak silat sering dipakai, seperti: Golempang, Padungdung, dll.

Makna
Beberapa makna yang terkandung dalam pertunjukan Surak Ibra di antaranya adalah

* Makna Syukuran: masyarakat sebagai komunitas biasanya memiliki cara syukuran berdasarkan caranya yang diwariskan perintisnya. Sebagaimana halnya Surak Ibra, yang bertolak dari rasa penghormatan kepada karisma Bapak Ibra sebagai pendekar Silat yang disegani di Garut pada saat itu;
* Makna teatrikal: tampilan Surak Ibra dengan jumlah pendukungnya lebih dari 60 orang, menunjukan peluang teatrikal, apalagi ketika adegan boboyongan naik turun dibarengi dengan sorak sorai serempak.

Sumber : http://id.wikipedia.org
Foto : http://ypptbangunan199.blogspot.com

Kesenian Lais Garut


Kesenian Lais diambil dari nama seseorang yang sangat terampil dalam memanjat pohon kelapa yang bernama Laisan, yang sehari-hari dipanggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yang ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman.

Kesenian lais merupakan kesenian tradisional yang memperlihatkan ketangkasan pemainnya. Kesenian ini mirip akrobat yang ditampilkan dalam acara sirkus. Orang yang mengaksikan bisa dibuat berdebar-debar karena pemain lais membuat penonton terpesona. Cara Pak Lais memanjat kelapa sangat berbeda dengan yang dilakukan kebanyakan orang. la cukup memanjat sekali saja untuk mengambil kelapa di beberapa pohon.

Caranya, setelah memanjat clan mengambil kelapa dari satu pohon, ia tidak langsung turun. Tetapi ia akan mencari pohon terdekat clan menjangkau pelepahnya untuk kemudian bergelayun pindah ke pohon lain. Demikianlah seterusnya. la akan berpindah-pindah dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya dengan cara bergelayun melalui pelepahnya.

Karena keahliannya itu, la sering dipanggil untuk diminta memetik kelepa oleh orang-orang sekampung. Caranya yang unik dalam memetik kelapa akhirnya sering menjadi tontonan masyarakat. Jika ia diminta memetik kelapa, orang suka berbondong-bondong menontonnya, terutama anak-anak. Terkadang, orang yang menonton tidak hanyak bersorak sorai, tetapi membunyikan berbagai tabuhan sambil menari-nari.

Atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat, ketangkasan Pa Lais kemudian dimodifikasi dalam bentuk lain dan ditampilkan dalam berbagai acara hiburan. Sebagai pengganti pohon kelapa, dipancangkanlah dua batang bambu setinggi ± 12 – 13 meter, dengan jarakrenggang sekitar 6 meter. Pada ujung kedua batang bambu An dipasang tali atau tambang besar untuk Pak Lais mempertontonkan ketangkasannya. Sementara untuk menyemarakan acara tersebut, disajikan berbagai tabuhan seperti dogdog, terompet, kendang, dan kempul. Selain itu, ditampilkan pula seorang pelawak yang berdialog langsung dengan pemain lais.

Dalam perkembangannya, kesenian ini ternyata disukai masyarakat. Banyak orang yang sengaja mengundang grup kesenian lais untuk berbagai acara hiburan. Bahkan kesenian ini sempat diundang oleh masyarakat di luar Garut, seperti ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Salah satu grup kesenian lais yang sampai sekarang masih hidup berasal dari Desa Cisayad, Kecamatan Cibatu, Garut. Dalam mempertunjukkan lais, grup ini mengiringinya dengan kesenian dogdog atau kendang penca. Mula-mula ditampilkan reog atau lawakan. Baru kemudian pemain lais naik ke atas bambu dan melakukan berbagai atraksi di atas tambang bertelungkup, berputar, tiduran, jungkir balik, berjalan dengan satu tangan, atau turun dari atas bambu dengan kepala di bawah.

Sumber : http://garutpedia.garutkab.go.id

Foto: http://ypptbangunan199.blogspot.com

Merajut Kisah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

Oleh Wahyu Satriani Ari

Bila Anda belajar sejarah, pasti ingat dengan peristiwa ratusan ribu penduduk Vietnam bagian selatan melarikan diri meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi ke negara lain pascaperang saudara di Vietnam sekitar 1980-an. Meski telah lama berlalu, Anda dapat melongok kembali kejadian tersebut, bahkan tanpa menggunakan mesin waktu. Saat peristiwa itu terjadi, para pengungsi ini meninggalkan negaranya menggunakan perahu-perahu yang kondisinya memprihatinkan. Dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang. Berbulan-bulan para pengungsi terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang dan Tanjung Pinang.

Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia. Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, akhirnya disepakati untuk digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi. UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi. Di tempat ini, para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979-1996, hingga akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh para pengungsi ini.

Saat ini, bekas kamp pengungsian tersebut dijadikan tempat wisata oleh pihak Otorita Batam sebagai salah satu upaya mewujudkan program Visit Batam 2010. Berkunjung ke tempat ini dapat mengingatkan Anda akan tragedi masa lalu yang menyebabkan ratusan ribu orang harus hengkang dari negaranya untuk mencari perlindungan. Di kawasan ini, pengunjung dapat melihat beberapa monumen dan sisa peninggalan dari kamp pengungsian. Dari sisa-sisa peninggalan ini, pengunjung dapat membayangkan bagaimana para pengungsi Vietnam mencoba bertahan hidup, jauh dari tanah kelahirannya. Pengunjung yang memasuki pulau ini akan disambut dengan Patung Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan. Patung ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Malu menanggung beban diperkosa, akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.

Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itulah sebuah penjara juga dibangun di tempat ini. Penjara ini digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan-tindakan kriminal tersebut, juga untuk menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri. Selain itu, bangunan penjara ini juga dijadikan markas satuan Brimob Polri yang bertugas di Pulau Galang. Tak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah. Kini, hampir setiap tahun banyak sanak keluarga dari yang meninggal ini datang ke Pulau Galang untuk berziarah.

Di pulau ini juga terdapat Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu seperti itulah mereka selama berbulan-bulan mengarungi Laut Cina Selatan, hingga akhirnya tiba di Pulau Galang dan sekitarnya. Pada tahun 1996, perahu-perahu ini dengan sengaja ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi. Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai bentuk protesnya, namun juga dengan membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah, yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.

Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Vihara Quan Am TU, merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di situ. Cat bangunan yang berwarna-warni membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan. Dalam bangunan ini, terdapat tiga patung berukuran besar dengan warna-warna yang mencolok. Di depannya terdapat patung naga raksasa yang seakan menjaga ketiga patung ini. Salah satu dari ketiga patung ini adalah Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Di bawah kaki patung sang dewi, terdapat plakat yang menceritakan bahwa dewi ini dapat memberikan hoki, jodoh, keharmonisan dalam rumah tangga, dan juga dapat memberi kepintaran serta mengabulkan cita-cita bagi anak-anak. Jika ingin mendapat berkat-berkat yang bisa diberikan oleh Dewi Guang Shi Pu Sha, maka pengunjung dapat berdoa, memohon sang dewi mengabulkan permintaan, setelah itu melemparkan koin ke arah dewi tersebut.

Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas kepada pengunjung mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR. Memasuki gedung ini, pengunjung dapat melihat foto seribu wajah pengungsi yang pernah tinggal di pulau tersebut. Selain itu, di gedung yang kini difungsikan sebagai kantor resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung, terdapat foto-foto berbagai peristiwa yang terjadi pada orang-orang Vietnam ini selama masa pengungsian. Tempat ini, terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Batam. Untuk memasuki pulau ini, pengunjung harus menyusuri Jembatan Barelang dan melewati beberapa pulau lainnya terlebih dahulu. Dari bandara Hang Nadim yang terdapat di Jalan Hang Nadim, Batu Besar Batam, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi.

Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, juga dapat menggunakan Metro Trans atau angkutan umum di Kota Batam dari Jodoh tujuan Galang dengan tarif Rp 3.000-Rp 5.000. Atau pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar bandara. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal daripada bus, tetapi pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini. Bisa juga dengan sewa mobil dengan biaya Rp 400.000-Rp 500.000 per hari. Untuk memasuki lokasi bekas kamp pengungsi Vietnam ini pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per mobil. Selain itu, berbagai tempat ibadah yang pernah dibangun pada masa pengungsian masih terawat dan dapat digunakan oleh para pengunjung hingga sekarang.
__________
Wahyu Satriani Ari, Jurnalis Surat Kabar KOMPAS

Sumber :http://travel.kompas.com